Review Novel Home Sweet Loan, Pahit Manisnya Realita Hidup Milenial

Review Novel Home Sweet Loan, Pahit Manisnya Realita Hidup Milenial

Yak, sudah lama sekali sejak terakhir nulis ulasan buku di blog ini. Apa kabar, Teman-teman? Masih suka baca buku atau kena reading slump seperti saya?

Beneran deh, hampir setahun ini saya malas baca buku. Terakhir baca “Goodbye, Things”nya Fumio Sasaki aja susah payah saya selesaikan. Abis itu lebih memilih baca webtoon daripada buku fiksi maupun non-fiksi.

Tapi, gara-gara kemaduan (biar manis lah ya daripada istilah keracunan) IG storynya Aih Kusmariyadi saya jadi tertarik baca novel terbarunya Almira Bastari.

Almira Bastari bukan nama yang baru untuk saya, beberapa metropopnya sudah saya baca dan suka. Di antaranya Melbourne (Wedding) Marathon, Resign dan Ganjil Genap.

Yang saya suka dari novel-novel Almira terutama Resign dan Ganjil Genap adalah sisi komedinya. Topik-topik realistis kehidupan milenial tuh bisa dikemas dengan gaya bahasa yang kocak meski mungkin tidak dimaksudkan sebagai novel komedi.

Almira Bastari
credit foto: hot.detik.com

Jadi, waktu Aih ngasih tahu kalau Almira ngeluarin novel baru yang berjudul Home Sweet Loan, saya langsung pengen beli, dong. Sayangnya waktu itu udah ketinggalan PO sehingga harus nunggu beberapa waktu sampai bukunya keluar di Gramedia.

Alhamdulillah, rezeki emang enggak ke mana, ya. Pas mau beli novel pas poin MyValue Gramedia saya sudah cukup untuk ditukarkan voucher belanja Gramedia sebesar Rp50.000. Yeah, langsung bungkus deh Metropop ini dan bukunya Desi Anwar yang berjudul Going Offline: Menemukan Jati Diri di Dunia yang Penuh Distraksi.

Home Sweet Loan by Almira Bastari

Identitas Buku
Judul Buku: Home Sweet Loan | Penulis: Almira Bastari
ISBN: 9786020658049
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama | Tanggal Terbit: 16 Februari 2022
Jumlah halaman buku: 312 halaman | Harga: Rp95.000

Home Sweet Loan

Seperti yang sudah saya tulis di atas, novel Home Sweet Loan ini genrenya fiksi Metropop. Karya sastra ini mengangkat cerita tentang masyarakat urban menengah yang tinggal di kota-kota besar dengan segala kehidupannya. Termasuk soal karir, percintaan dan bagaimana mereka berusaha untuk memperoleh aset utama di usia 30-an, yaitu rumah.

Lika-liku generasi milenial yang bekerja di Jakarta dan ingin punya rumah inilah yang diangkat oleh Almira dalam Metropop terbarunya. Seperti apa? Simak terus, ya.

Blurb

Empat orang yang berteman sejak SMA bekerja di perusahaan yang sama meski beda nasib. Di usia 31 tahun, mereka berburu rumah idaman yang minimal… nyerempet Jakarta.

Kaluna, pegawai Bagian Umum, yang gajinya tak pernah menyentuh dua digit. Gadis ini kerja sampingan sebagai model bibir, bermimpi membeli rumah demi keluarga dari situasi tiga kepala keluarga yang bertumpuk di bawah satu atap. Di tengah perjuangannya menabung, Kaluna dirongrong oleh kekasihnya untuk pesta pernikahan mewah.

Tanisha, ibu satu anak yang menjalani Long Distance Marriage, mencari rumah murah dekat MRT yang juga bisa menampung mertuanya.

Kamamiya, yang berambisi menjadi selebgram, mencari apartemen cantik untuk diunggah ke media sosial demi memenuhi gengsinya agar bisa menikah dengan pria kaya.

Danan, anak tunggal tanpa beban yang akhirnya berpikir untuk berhenti hura-hura, dan membeli aset agar bisa pensiun dengan tenang.

Apakah keempat sahabat ini berhasil menemukan rumah yang mampu mereka cicil? Dan apakah Kaluna bisa membentuk keluarga yang ia impikan?

Reality Bites Generasi Milenial

Review Home Sweet Loan

Hidup generasi milenial di Jakarta tidak selamanya seindah penampilan mbak-mbak SCBD. Setidaknya itu yang digambarkan oleh Almira Bastari dalam Home Sweet Loan.

Kaluna, Tanisha, Kamamiya dan Danan bekerja di perusahaan yang sama, bank, tapi menduduki posisi yang berbeda dengan Kaluna yang berada di bawah ketiga temannya.

Dengan gaji yang enggak sampai dua digit, Kaluna punya mimpi untuk beli dan pindah ke rumah sendiri dengan cara mengatur keuangannya dan hidup sangat hemat. Yang saya suka dari karakter Kaluna adalah kehidupannya relate dengan banyak orang di usia awal 30-an.

Struggle dengan karir yang gitu-gitu aja dengan gaji yang cukup untuk kebutuhan hidup tapi enggak untuk menopang gaya hidup. Ikut membantu keuangan keluarga besar sambil berusaha mengikuti keinginan calon mertua yang membebaninya.

“Kalau dari pacaran saja keluarga calon mertua sudah sinetron, jangan harap pas nikah jadi baik. Yang ada malah jadi sinetron Azab!”

halaman 99

Enggak cuma Kaluna yang ingin punya rumah sendiri. Kedua sahabatnya Tanisha dan Miya pun punya cita-cita sama dengan alasan yang berbeda. Tanish ingin punya rumah yang lebih nyaman untuk keluarganya. Demi inilah ia rela menjalani peran ganda sebagai ibu bekerja dan menjalin hubungan jarak jauh dengan suaminya.

Memiliki anak yang lucu, suami yang baik (dengan aib yang hanya dia dan Tuhan yang tahu), posisi dan gaji yang cukup ternyata tidak membuat hidup Tanisha indah. Masalah dengan mertua, babysitter yang enggak bertahan lama dan proses pencarian rumah yang rumit menjadi bagian hidupnya.

“Gue tuh ya, kalau nggak ada Dri, mungkin gue nyesel banget sih nikah muda. Gue capek kerja, capek harus berhemat, terus pulang ke rumah bawaannya juga stres. Gue bingung gue hidup untuk apa.”

Tanisha, Home Sweet Loan, halaman 297

Yup, Home Sweet Loan memang tidak hanya menyorot tentang perjuangan memperoleh rumah impian. Ada juga berbagai konflik pahit manisnya kehidupan generasi milenial khususnya tema pernikahan dan percintaan.

Review Home Sweet Loan

Topik yang diangkat oleh Almira memang lebih serius dari novel-novel sebelumnya. Tapi tetap dituliskan dengan bahasa yang ringan khas Almira.

Penokohan dan percakapan dalam metropop ini menurut saya relate dengan kehidupan sehari-hari rakyat jelata. Alur yang mengalir dengan santai membuat baca buku ini seperti melihat teman sepermainan lagi ngobrol.

Meski ringan, bukan berarti novel ini kurang berisi. Banyak hal yang bisa dipelajari khususnya soal literasi keuangan. Di antara gempuran hedonisme pada generasi milenial, masih ada sosok seperti Kaluna yang benar-benar mengatur keuangannya demi mewujudkan mimpi.

resensi novel almira bastari

Tips mencari rumah impian pun bertebaran tanpa pembaca merasa digurui. Seperti harus waspada dengan harga rumah yang murah padahal lokasi dan bangunannya bagus. Atau jangan percaya dengan iklan “5 menit dari MRT”.

Masalah parenting pun jadi isu menarik yang dibahas secara implisit. Gara-gara pola asuh helicopter parent ibu Kaluna yang selalu mengakomodir kebutuhan anak-anaknya meski sudah dewasa lah, keluarga mereka terjebak dalam kesulitan finansial. Yang mengakibatkan Kaluna harus mengambil keputusan berat dalam hidupnya.

“Banyak yang berjuang setengah mati, tapi belum bisa keluar dari masalah finansial, karena harus menanggung keluarganya.”

halaman 225

Tapi ada sedikit yang mengganggu untuk saya, yaitu roasting terhadap seorang karakter yang berlebihan dan berulang. Juga timeline yang terlalu cepat. Terutama untuk percintaan Kaluna yang terlalu mulus dan manis di akhir. Mirip dengan drakor dengan tema Cinderella.

Akhir cerita Kaluna dan sahabat-sahabatnya seolah menggantung. Enggak seperti umumnya di mana semua tokoh mendapatkan penyelesaian yang baik. Tapi mungkin ya begitulah hidup, ya. Ketika kita mendapatkan yang kita impikan ternyata belum tentu membawa kebahagiaan. Bisa jadi awal dari masalah baru (puk puk Tanisha).

Lalu, apakah Kaluna akhirnya bisa memperoleh rumah impiannya? Baca aja sendiri. Worth to buy, kok. Bukunya bisa dibeli di toko buku offline maupun online. Sayang belum ada buku versi digital yang legal. Semoga sih segera tersedia di Gramedia Digital.

Suka dengan artikel ini? Yuk bagikan :)

alfakurnia

Lifestyle blogger yang suka berbagi tentang review produk, kisah sehari-hari, pengalaman parenting dan banyak lagi. Juga suka menulis resensi buku dan produk skincare di blog alfakurnia.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Back to top