All Posts By:

alfakurnia

  • Babbles

    Menyongsong Program Matrikulasi Ibu Profesional

    Sebenarnya nama Institut Ibu Profesional bukan hal yang asing bagi saya. Sudah sejak beberapa tahun lalu nama pendirinya, ibu Septi Peni Wulandari menghiasi linimasa media sosial saya, baik tentang kiprahnya menjadi ibu professional maupun tulisan-tulisannya yang inspiratif yang banyak dibagikan oleh teman-teman saya. Namun, sampai tahun lalu saya belum tergerak untuk mencari tahu lebih banyak tentang Institut Ibu Profesional. Mungkin karena waktu itu saya sedang dalam fase jenuh belajar parenting.

    Gimana nggak jenuh, saat itu banyak sekali pakar parenting yang saya ikuti di media sosial dengan berbagai teorinya tapi entah kenapa nggak ada satu pun yang berhasil saya terapkan secara konsisten kepada anak-anak sampai saya merasa gagal sebagai orang tua. Nggak mau berlama-lama terpuruk dalam kegagalan, saya sampai pada kesimpulan bahwa ilmu parenting itu nice to know tapi untuk penerapan dan hasilnya nggak bisa diharapkan sama untuk semua anak. Jadi, saya mundur sejenak. Saya seleksi lagi pakar-pakar parenting mana yang teorinya dapat diterapkan pada saya dan anak-anak. Saya memilih untuk mengikuti kata hati.

    Sampai tahun lalu, tiba-tiba banyak sekali teman-teman saya di media sosial yang mengikuti Program Matrikulasi Institut Ibu Profesional dan mereka secara masif membagikan hal-hal yang mereka pelajari maupun tugas-tugas yang harus mereka kerjakan di media sosial mereka. Bahkan dua orang teman saya di grup Arisan Blogger rajin sekali berbagi ilmu baik di media sosial mereka maupun di grup WA. Hal yang mereka bagi itu sedikit demi sedikit membuat saya tertarik dan penasaran, sehingga saat mbak Susi Ernawati memberi info bahwa program matrikulasi batch 6 akan dibuka, saya langsung pasang alarm di ponsel.

     

    Pada hari H, lagi-lagi mbak Susi mengingatkan saya dan teman-teman di WAG Arisan Blogger untuk siap-siap mendaftar. Saya dan beberapa teman pun mencoba peruntungan kami di detik pertama pendaftaran dibuka. Alhamdulillah, saya termasuk salah satu yang terpilih untuk mengikuti Program Matrikulasi Batch 6 kelas Luar Negeri. Antara bersyukur karena dari ribuan calon peserta yang mendaftar saya bisa terpilih. Dan deg-degan, karena meski ini bukan kelas online pertama saya, program Matrikulasi IIP ini merupakan salah satu dari dua kelas dengan durasi yang panjang yang saya ikuti.

    Begitu grup whatsapp dibentuk dan saya berkenalan dengan teman-teman observer, peserta dan fasilitator, hal yang saya rasakan adalah kagum kepada mereka. Kebanyakan dari teman-teman di WAG Matrikulasi LN Batch 6 masih muda tapi prestasinya keren-keren. Sedangkan saya termasuk salah satu yang paling tua dan gini-gini aja hahaha. Saya juga salut dengan antusias teman-teman saat materi dibagikan dan sesi tanya jawab dengan para pengajar di IIP dibuka. Pertanyaan dari teman-teman tuh suka nggak kepikiran gitu sama saya sehingga banyak sekali info baru di luar materi yang saya dapatkan dari jawaban para pengajar terhadap pertanyaan teman-teman. Sementara saya sendiri memang lebih suka mengamati jalannya diskusi daripada mengajukan pertanyaan.

    Kebiasaan inilah yang membuat saya agak khawatir dalam mengikuti program Matrikulasi ini. Karena dalam berbagai kesempatan, para observer dan fasilitator meminta peserta untuk aktif baik saat pembagian materi maupun saat diskusi. Ya, semoga saja dengan berjalannya waktu, saya bisa mengikuti ritme peserta yang lain dan dapat memaksakan diri untuk aktif bertanya dalam setiap sesi diskusi. Kekhawatiran saya yang lain adalah komitmen untuk hadir dalam setiap sesi materi dan diskusi. Kebetulan, waktu yang disepakati saat ini bertepatan dengan waktu antar jemput kakak Cinta ke sekolah Ugama. Saya sudah mencoba untuk mengantarnya lebih awal supaya saat sampai rumah tepat saat sesi online dimulai. Tapi kok kasian sama anaknya karena waktu istirahat di rumahnya jadi berkurang dan dia harus menunggu lama di sekolah. Yah, rasanya nggak adil kalau anak harus berkorban hanya supaya ibunya bisa masuk kelas kan ya. Eh, mungkin sih adil adil aja tapi saya yang nggak tega. Kalau sesekali nggak papa tapi kalau tiap hari yaaa…

    Sesi online kedua juga bertepatan dengan jam tidur anak-anak. Masa ini nggak bisa diganggu gugat atau dialihkan ke orang lain karena anak-anak maunya ya mama yang harus bacakan cerita untuk mereka, bahkan si Keenan maunya tidur dengan kepala beralaskan lengan mama hahaha hadeuuuh. Ke depannya sih berusaha memajukan jam tidur secara bertahap karena sejak jam sekolah Ugama kakak jadi semakin panjang 30 menit mulai awal bulan Juli ini, otomatis jam tidur pun ikut mundur. Tapi semoga sih semua aktivitas di malam hari bisa dimampatkan supaya jam tidur bisa kembali ke waktu semula dan saya dapat mengikuti sesi online kedua. Namun, sementara ini masuk kelas sesempatnya aja, minimal setor kehadiran, sedangkan materi dan diskusi dibaca belakangan saat ada waktu luang.

    Tapi saya tetap semangat kok mengikuti program Matrikulasi ini. Berbagai materi yang saya terima saat kelas foundation aja sudah menarik sekali. Mulai dari pengenalan tentang Ibu Profesional, teknis perkuliahan yang akan kami ikuti sampai materi manajemen gawai membuat saya betah menunggu-nunggu materi apa saja yang akan kami terima berikutnya. Semoga program matrikulasi IP ini bisa membuat saya menjadi pribadi yang lebih disiplin waktu dan produktif serta ke depannya menjadi ibu yang lebih baik bagi keluarga saya dan bermanfaat bagi orang-orang di sekitar saya.

    Teman-teman pembaca Pojok Mungil ada yang sudah atau sedang mengikuti kelas di Institut Ibu Profesional? Boleh lah sharing pengalamannya di kolom komentar. Saya tunggu ya…

  • Babbles

    Perhatikan Kebijakan YouTube Sebelum Mengunggah Video Anak

    Sebenarnya saya sudah pernah posting tentang kriteria foto anak yang sebaiknya tidak diunggah di media sosial. Dan saya pikir selama ini saya sudah cukup berhati-hati dalam mengunggah foto atau video anak-anak saya baik di media sosial maupun di YouTube. Jadi, jujur saja saya kaget dan agak nggak terima saat mendapat email dari YouTube yang menerangkan bahwa mereka menghapus salah satu video saya karena melanggar kebijakan YouTube.

    Video saya yang mereka hapus sebenarnya sudah lama sekali saya unggah, tepatnya pada 9 Januari 2011. Video yang direkam oleh adik-adik saya itu mengabadikan momen menit-menit pertama setelah setelah anak sulung saya, Cinta, dilahirkan. Jadi, saat saya masih di ruang bersalin untuk dikeluarkan ari-ari dan proses pemulihan, si bayi nggak langsung dikasih ke saya untuk disusui. Tapi dibawa oleh suster rumah sakit ke ruang periksa untuk dibersihkan, dicek suhu tubuh dan berat badan yang semua dilakukan saat si bayi dalam keadaan telanjang (ya kan baru lahir yak, masa langsung pake baju) baru kemudian dibedong.

    Nah, di ruang itulah keluarga besar saya yang menunggui proses kelahiran cucu dan keponakan mereka itu berkumpul. Dan sebagai sejarah keluarga, momen itu divideokan untuk kenang-kenangan. Karena hanya direkam dengan kamera ponsel dan takut rekamannya hilang, akhirnya saya unggah ke YouTube 3,5 tahun setelah kelahirannya. Saya pikir itu hal yang normal. Come on, apa salahnya menyimpan video bayi baru lahir di YouTube untuk kenang-kenangan kita kan. Toh nothing sexual inappropriate about that. It’s a newborn baby video for God’s sake.

    Tapi saya salah. Kesalahan yang pertama adalah video itu nggak saya set private. Kedua, saya nggak mikir kalau nggak semua orang yang berselancar di YouTube itu punya pandangan seperti saya. Dan ternyata video bayi telanjang yang tidak berdosa itu bagi beberapa orang dianggap melanggar kebijakan YouTube, so they flagged it.

    Video saya dilaporkan oleh salah satu atau lebih orang asing yang kebetulan menontonnya. Dan, sialnya lagi, pihak YouTube menerima laporan tersebut dan memiliki pendapat yang sama dengan pelapor. Akhirnya dihapuslah video saya itu. Ya, saya sih masih bisa menonton video tersebut tapi sudah nggak bisa diapa-apain bahkan mau mengubah settingannya menjadi Private saja sudah nggak bisa. Sebenarnya saya bisa kok mengajukan banding atas kejadian ini. Tapi sampai saat ini masih malas ngarang kata-kata untuk bikin surat bandingnya. Lagian takut sakit hati juga kan kalau ditolak.

    Nah, supaya teman-teman pembaca PojokMungil nggak mengalami hal yang sama seperti saya,

    Ada beberapa hal yang harus kita perhatikan saat akan mengunggah video terutama video anak-anak ke YouTube:

     

    • Pastikan keselamatan fisik anak di bawah umur tetap aman.
      Jangan pernah menempatkan mereka dalam situasi berbahaya yang dapat menyebabkan cedera, termasuk adegan aksi, tantangan, dan lelucon berbahaya.
    • Jangan menyebabkan gangguan emosional.
      Hindari situasi yang dapat menyebabkan tekanan emosional, seperti memperlihatkan tema dewasa kepada mereka.
    • Hormati privasi anak di bawah umur.
      Dapatkan persetujuan dari orang tua atau wali orang tua sebelum menampilkan mereka di video Anda. Pastikan partisipasi mereka dalam video Anda bersifat sukarela.
    • Atur komentar pengguna pada video Anda.
      Ada fitur yang dapat digunakan untuk memfilter dan meninjau komentar, dan Anda dapat selalu melaporkan komentar kepada kami sebagai spam atau penyalahgunaan.
    • Kelola setelan privasi dan sematan video Anda.
      Anda memiliki beberapa opsi untuk mengontrol siapa yang dapat melihat video Anda dan bagaimana video dibagikan di situs eksternal.

    Kelima hal di atas saya ambil dari laman Kebijakan YouTube yang mengatur tentang Keselamatan Anak. Nggak ada satu kata pun yang saya ubah alias saya cuma copy paste.

    Nah, berdasarkan aturan tersebut, harusnya video saya nggak melanggar kebijakan dong ya. Emmm ternyata masih ada lagi kebijakan terkait konten ketelanjangan dan seksual. Aturannya seperti ini ya:

    Beberapa pertimbangan YouTube saat menerapkan pembatasan usia pada video:

    • Apakah bagian payudara, bokong, atau alat kelamin (baik ditutupi pakaian maupun tidak) menjadi titik fokus dalam video;
    • Apakah suasana videonya menjurus ke arah seksual (mis., lokasi yang biasanya dikaitkan dengan aktivitas seksual, seperti ranjang);
    • Apakah objek digambarkan dalam pose yang dimaksudkan untuk membangkitkan berahi penonton;
    • Apakah bahasa yang digunakan dalam video tersebut vulgar dan /atau cabul;
    • Apakah tindakan subjek dalam video mengisyaratkan kesukarelaan untuk terlibat dalam aktivitas seksual (mis. berciuman, melakukan tarian yang merangsang, mencumbu); dan
    • Jika subjek berpakaian minim, apakah pakaian tersebut masuk akal dipakai di tempat umum yang sesuai (mis., pakaian renang vs. pakaian dalam).
    • Faktor lainnya mencakup:
      • Lamanya waktu gambar tersebut muncul dalam video
      • Keterpaparan sekilas vs lama terutama sehubungan dengan panjang keseluruhan video.
      • Sudut dan fokus kamera
      • Kejelasan relatif dari gambar dalam video
      • Thumbnail video, lihat kebijakan Thumbnail yang Menyesatkan

    Bhaique. Sebenarnya tidak ada satu pun isi video saya yang dihapus oleh YouTube masuk dalam pertimbangan tersebut. Bayi telanjang memang benar menjadi fokus video tersebut. Tapi toh iklan popok serta produk kosmetik bayi juga berisi hal yang sama kan ya?

    Namun sekali lagi, aturan ya aturan. Selain yang saya tulis di atas, banyak sekali kebijakan dan keamanan YouTube yang harus kita perhatikan. Ada yang mengatur tentang konten yang mengandung kebencian, konten yang merugikan atau membahayakan, konten kekerasan atau vulgar. Bahkan untuk keamanan anak saja selain faktor ketelanjangan dan seksual, ada yang mengatur tentang cyberbullying dan pelecehan. Banyaklah pokoknya. Silakan langsung baca di laman https://support.google.com/youtube/topic/2803176?hl=id&ref_topic=2676378.

    Karena itulah saya yakin YouTube memutuskan untuk menghapus video saya pasti sudah berdasarkan pertimbangan yang baik. Saya juga yakin keamanan anak saya, kenyamanan saya sebagai pemilik channel juga penonton YouTube adalah prioritas utama mereka. Lagipula, setelah saya ingat ke belakang, nggak cuma sekali saya menerima komentar kurang baik atas video itu. Mulai dari, “She’s f*cking annoying,” sampai “That baby is ugly.” Serius. Ada aja kok warganet yang sampai hati komen jahat di video bayi. Jadi, saya bisa menerima keputusan mereka. Kalaupun nanti saya mengajukan banding itu sekadar supaya video saya bisa tetap ada dalam channel saya untuk memori keluarga. Kalaupun nggak bisa ya mungkin saya akan upload ulang tapi dengan kondisi video diunlisted atau diprivate sekalian seperti saran yang diberikan oleh YouTube dalam surelnya untuk saya.

    Tapi, orang lain kok bisa mengunggah video anak-anak mereka telanjang atau berpakaian mini dan nggak dihapus oleh YouTube? Ya biarin ajalah, anak orang sih itu, bukan anak saya hahaha. Cuma ya saya suka sedih juga sih kalau liat foto anak-anak kecil telanjang atau keliatan bagian pribadinya. Sekarang sih mereka belum bisa protes ya, tapi kalau nanti sudah besar kan kasian. Kita dulu aja kalau mama kita nunjukkin foto-foto zaman kita kecil yang menurut kita memalukan banget ke teman atau saudara pasti protes kan. Gimana dengan jejak digital anak-anak kita nanti. Sampai mereka besar jangan-jangan foto-foto seperti itu bisa dengan mudah ditemui di internet. Iya kalau cuma untuk becandaan, kalau dijadikan bahan bully sama teman-temannya, bahan meme yang bisa dilihat orang sedunia atau lebih parah lagi jadi bahan yang enggak-enggak untuk para pedofil gimana. Kan kasian anak-anak kita yaaah.

    Nah, kalau kita sebagai penonton merasa konten video yang kita lihat ada anak-anak dalam kondisi yang menurut kita kurang pantas, boleh kok kita lapor ke YouTube. Gampang, tinggal klik aja tanda tiga titik () di bawah video tersebut lalu pilih Laporkan dan pilih alasan yang paling sesuai dengan pelanggaran dalam video tersebut. Setidaknya dengan aktivitas tersebut bisa membuat para konten kreator atau para orang tua lebih waspada dalam mengunggah foto atau video anak-anak ke media sosial. Tolong diingat, foto atau video anak yang kita anggap lucu, innocent, menggemaskan itu ternyata bisa membahayakan anak suatu saat nanti. Please be aware.

     

     

     

     

  • Babbles

    Happy Birthday, Dear Daughter

    When I held you for the first time,
    my life began to shine.
    I knew then this life wasn’t just mine.

    I would do what it takes,
    To help you correct your mistakes.
    To get by the challenges you may face.

    For our freedom many have fought,
    Somedays will be good, others will not.
    Always thank God for the life you got.

    The world isn’t perfect as you will see,
    Having you here made it better for me.
    When you’re in need, by your side I’ll be.

    For you are my daughter for eternity.

    Source: https://www.familyfriendpoems.com/poem/for-you-are-my-daughter-for-eternity

     

  • Beauty & Fashion, Life Hacks

    Memilih Kerudung Pashmina Yang Nyaman Untuk Ibu Berhijab

    Sebagai macan ternak alias mama cantik antar anak yang salah satu tugas utamanya adalah mengantar jemput anak-anak sekolah, after school program, main di taman, playdate ke rumah teman dan aktivitas lainnya, seringkali saya bingung memilih pakaian yang tepat, apalagi sejak saya berhijab. Kalau dulu sih gampang aja ya, pakai kaos sama celana sudah cukup untuk semua aktivitas seharian. Tapi sekarang, rasanya sudah nggak nyaman lagi pakai kaos dan celana yang cukup ketat. Sementara kemeja dan rok kadang terasa terlalu formal, belum lagi model hijab yang harus dikenakan juga harus disesuaikan dengan pakaian yang dikenakan dan aktivitas sehari-hari.

    Memakai bergo atau jilbab instan tentu lebih praktis ya. Modelnya pun sekarang sudah bervariasi. Tapi, kadang saya juga ingin tampil beda terutama kalau ada kegiatan lain setelah antar anak sekolah seperti arisan, pengajian, rapat POMG atau sekadar sarapan bareng sahabat tercinta. Boleh dong, sesekali mama tampil lebih cantik dari biasanya dengan kerudung pashmina atau kerudung segiempat. Masalahnya, nggak seperti kerudung segiempat yang lebih simpel dibentuk, kerudung pashmina kadang perlu usaha ekstra dan banyak jarum untuk membentuknya.

    Karena itu, saya mengutamakan kenyamanan saat memilih kerudung pashmina sebagai paduan busana sehari-hari, di saat harus menghadiri acara setelah mengantar anak sekolah. Padahal tadinya saya suka asal aja memilih kerudung yang pada akhirnya numpuk di lemari karena ternyata nggak nyaman dipakai. Supaya nggak mengulangi kesalahan yang sama, saya membuat panduan untuk diri saya sendiri dalam memilih kerudung pashmina untuk paduan busana sehari-hari saya, seperti ini:

    1. Bahan

    Karena biasanya kerudung akan saya gunakan dari pagi sampai anak-anak pulang sekolah sekitar pukul 1 siang, saya memilih bahan yang adem, nggak tipis tapi nggak terlalu tebal dan mudah dibentuk seperti katun, diamond crepe atau rayon. Bahan tersebut cocok untuk cuaca di hutan tropis yang bisa mencapai 35 derajat Celcius di siang hari.

    kerudung pashmina, matahari mall

    Apalagi di tempat saya tinggal nggak ada tempat makan atau kumpul-kumpul yang mewah, sehingga bahan seperti chiffon, sutera atau maxmara agak berlebihan untuk aktivitas sehari-hari. Tapi saya tetap punya kok kerudung pashmina dengan bahan istimewa tersebut untuk dikenakan pada acara-acara spesial.

    2. Warna

    Warna hitam, merah, krem, dan warna pastel jadi pilihan saya dalam menentukan kerudung yang akan saya pakai agar mudah dipadu padankan dengan koleksi pakaian saya. Warna-warna tersebut juga cocok dengan warna kulit saya agak agak gelap sehingga nggak keliatan kusam.

    kerudung pashmina, matarahi mall

    Untuk kulit putih, menurut para ahli busana, sebaiknya menggunakan kerudung berwarna gelap dan terang dan menghindari warna nude dan pastel. Sedangkan pemilik warna kulit kuning langsat disarankan menggunakan kerudung berwarna pink, kuning atau biru muda yang dapat membuat wajah nampak lebih cerah dan menghindari warna coklat gelap, krem atau hijau daun. Dan sahabat PojokMungil yang berkulit sawo matang lebih cocok menggunakan warna pastel dan gelap seperti hitam, biru tua atau merah tua supaya tampak lebih cantik serta hindari warna coklat yang mirip dengan warna kulit.

    3. Style

    Sebagai ibu-ibu yang rempong di pagi hari ngurusin sarapan, bekal, mandikan si bungsu, dan memastikan rumah sedikit rapi sebelum ditinggal pergi, saya nggak punya banyak waktu untuk menggunakan kerudung dengan model yang aneh-aneh. Mending sisa waktu yang ada saya gunakan untuk mengaplikasikan produk perawatan wajah yang sekian langkah itu sampai meresap sempurna. Jadi, saya lebih suka memilih model yang ringkas dan hanya membutuhkan nggak lebih dari tiga jarum atau peniti, seperti yang ada dalam video dari Sunsilk Indonesia ini:



    Dengan tiga pertimbangan tersebut di atas, saya pun menyortir koleksi kerudung saya dan hanya menyimpan yang sesuai kriteria tersebut. Sedangkan sisanya saya hibahkan ke mbak yang kerja part time di rumah. Setelah disortir saya jadi lebih mudah lo, memilih kerudung yang akan saya kenakan. Nggak perlu lagi menghabiskan waktu berlama-lama di cermin untuk memadukan jilbab dengan pakaian, lumayan menghemat waktu banget.

    Kalau sahabat PojokMungil biasanya punya pertimbangan apa dalam memilih kerudung untuk sehari-hari? Yuk share di kolom komen.

  • Aturan Bermain di Taman Bermain, aturan bermain di playground
    Life Hacks, Parenting

    Aturan Bermain di Taman Bermain yang Harus Dipahami Anak

    Taman bermain, baik di luar ruangan maupun dalam ruangan adalah tempat favorit anak-anak. Di sana mereka dapat bermain apa saja dengan bebas. Namun, demi keamanan, keselamatan dan kenyamanan seluruh pengguna, ada beberapa aturan bermain di taman bermain yang harus dipahami oleh anak dan orang tua.

    Kemarin saya nggak sengaja melihat cuplikan video tentang seorang bapak (sebut saja bapak A) yang menendang anak kecil di sebuah taman bermain dalam ruangan. Penasaran dengan kronologi peristiwanya saya pun menelusuri media sosial dan dengan mudah mendapatkan rekaman CCTV dari taman bermain tersebut.

    Jadi, ada dua anak laki-laki kira-kira usia SD yang sedang main ayunan. Dari rekaman sih kecepatan ayunan tersebut standar aja ya, nggak terlalu kencang atau tinggi. Tiba-tiba dari belakang kedua anak tersebut, muncul seorang anak perempuan usia batita yang berjalan sangat dekat dengan ayunan. Karena jarak si anak perempuan dengan ayunan sangat dekat, otomatis anak itu terkena ayunan yang sedang berayun ke belakang dan jatuh.

    Ayah si anak perempuan kemudian nampak berlari mendekati si anak setelah sempat menendang anak laki-laki yang sedang bermain ayunan itu. Ketika dikonfrontasi oleh ibu si anak laki-laki, bapak A merasa tindakannya benar dan justru menyalahkan si anak laki-laki yang tidak berhati-hati saat bermain ayunan.

    Tapi warganet rupanya banyak yang nggak sependapat dengan bapak A. Dari ratusan komen dari beberapa post serupa di media sosial, mayoritas nggak terima dengan cara bapak A memperlakukan si anak yang lagi main ayunan.

    Ya, saya paham sih, mungkin bapak A panik liat anaknya terjatuh karena kena senggol ayunan. Saya juga kalau bawa anak-anak main di playground indoor suka ngeri kalau banyak anak-anak usia di atas 7 tahun yang badannya besar-besar dan bermain nggak lihat-lihat situasi sekitarnya. Nggak cuma sekali saya melihat anak balita terinjak di arena trampolin oleh anak-anak yang lebih besar. Sedihnya, si anak-anak besar ini nggak ada tuh usaha untuk menghentikan lompatan mereka, padahal anak-anak yang lebih kecil sudah susah payah berusaha untuk bangun.

    aturan bermain di taman bermain, aturan bermain di playground

    Belum lagi kalau pada main kejar-kejaran ya, kadang anak-anak yang besar-besar ini nggak bisa berhati-hati. Mereka seolah nggak peduli kalau ada anak-anak yang lebih kecil di sekitar mereka. Makanya saat anak-anak masih batita saya selalu ngekorin ke manapun mereka berada saat di taman bermain. Bahkan kalau di taman bermain itu ada arena khusus untuk toddler saya lebih memilih mengajak mereka main di sana daripada bercampur dengan anak-anak yang lebih besar.

    Yang nggak bisa ditolerir dari kejadian yang saya ceritakan di awal tulisan ini adalah, perilaku bapak A yang menendang anak laki-laki tersebut. Sama sekali nggak dibenarkan tuh.

    Saat berada di taman bermain, baik di dalam ruangan maupun di luar ruangan, selalu ada resiko kecelakaan besar atau kecil, sengaja atau tidak sengaja. Jadi saat anak mengalami kecelakaan, fokus pertama adalah menolong si korban dan memastikan kondisinya. Sementara si pelaku baik sengaja atau tidak cukup ditegur dengan baik, diminta untuk lebih berhati-hati dan disuruh minta maaf. Kalau anaknya cuek ya laporin ke orang tuanya. Kalau orang tuanya nggak peduli, bicara dengan pengelola taman bermain atau pihak keamanan. Bukan main hukuman fisik.

    Ya namanya anak-anak bermain rame-rame pasti ada resikonya. Pengennya sih bisa main sendiri di taman bermain supaya bebas mau ngapain aja. Tapi main sendiri juga nggak seru deh. Keenan itu kalau nggak ada temennya nggak betah berlama-lama di playground. Sebaliknya dia bisa betah berjam-jam di sana kalau banyak anak yang main bareng dia. Nah, supaya anak-anak bisa bermain dengan aman dan nyaman di taman bermain, ada baiknya kita ajak mereka untuk memahami aturan bermain di taman bermain.

    Aturan Bermain di Taman Bermain, aturan bermain di playground

    Aturan Yang Harus Dipahami Anak Saat Bermain di Taman Bermain

    Jangan Naik Tempat Meluncur Dari Sisi yang Licin

    aturan bermain di taman bermain, aturan bermain di playground

    Ih, ini aktivitas favoritnya Keenan banget. Kalau main seluncuran, setelah meluncur dia akan langsung naik lagi dari sisi yang dipakai untuk meluncur. Lebih fun daripada naik dari tangga. Ya kalau playgroundnya lagi sepi sih nggak apa-apa tapi kalau lagi banyak anak tentu berbahaya dan bisa mengganggu anak lain. Jadi sekarang saya selalu bilang sama Keenan, kalau lagi main sama teman-teman setelah meluncur harus naik dari tangga supaya nggak kena tendang temannya yang meluncur setelah dia. Alhamdulillah sih selama ini dia nurut ya, kecuali saat teman mainnya sama-sama iseng. Bisa tuh mereka merangkak naik ke atas perosotan dari sisi yang licin bergantian. Giliran emaknya aja yang dag dig dug sambil berkali-kali meminta mereka berhati-hati.

    Berhati-hati Dengan Anak Yang Lebih Kecil

    Seperti yang sudah saya ceritakan di awal, nggak jarang liat anak-anak besar yang nggak peduli dengan aturan bermain di taman bermain, sehingga mereka main sesuka hati mereka dan nggak aware bahwa di sekitarnya banyak anak yang lebih kecil. Karena itu, anak-anak harus diajarin untuk berhati-hati dengan sekitarnya. Terutama saat berlari atau main trampolin. Mereka perlu tahu bahwa tenaga mereka jauh lebih besar daripada babies and toddler jadi kalau mereka nggak sengaja nabrak anak yang lebih kecil bisa membuat si adik terluka.

    Berhati-hati Saat Menggunakan Ayunan

    Minta anak-anak untuk memperhatikan sekitarnya saat akan bermain ayunan. Ajari mereka mengontrol laju ayunannya ketika ada orang yang mendekati arena ayunan. Kalau mama atau papa yang mengayun anak, jangan ditinggal main hape sih. Fokus aja ke ayunan demi keselamatan anak yang diayun atau pengguna playground lain. Anak-anak juga diminta untuk nggak berjalan dekat ayunan yang sedang digunakan. Dan mama papa jangan sekali-kali melepas anak batita berlari ke arah arena ayunan tanpa pengawasan.

    Jangan Melempar Apapun Kecuali Bola Plastik

    Aturan bermain di taman bermain yang satu ini berlaku di outdoor playground. Kadang ada aja yang suka main lempar pasir, kerikil, atau kayu. Beri tahu anak bahayanya melempar benda-benda tersebut seperti dapat masuk ke mata atau melukai orang lain.

    Jangan Bermain Pedang-Pedangan Dengan Kayu atau Ranting Pohon

    Dududu, ini Keenan banget. Kalau di playground suka tiba-tiba aja mungut ranting pohon trus diacung-acungkan ke anak lain. Ngajak main pedang-pedangan ceritanya. Tapi setelah beberapa kali dia ditegur sama orang (karena nggak peduli dengan teguran saya) baru deh dia insaf meski sesekali masih suka mungutin ranting pohon. Sebenarnya nggak masalah sih kalau mereka memang benar-benar main pedang-pedangan dari ranting pohon dari jarak yang aman. Yang bahaya itu kalau nggak sengaja batang kayu tersebut kena mukanya orang. Namanya anak-anak kan kalau main suka nggak kekontrol ya saking semangatnya. Jadi mending cari amannya aja deh.

    Minta Maaf Atas Perbuatan Yang Kurang Baik Atau Kecelakaan Yang Mereka Akibatkan

    Tahun lalu, waktu Cinta masih di Year 4, tiba-tiba saya mendapat telfon dari sekolah. Kepala SDnya bercerita bahwa terjadi kecelakaan saat istirahat antara Cinta dan temannya yang mengakibatkan kepala Cinta benjol sebesar telur. Beliau meyakinkan bahwa Cinta sudah dirawat dengan baik dan nggak ada hal serius yang terjadi. Lalu, ibu kepala meminta temannya Cinta untuk meminta maaf kepada saya melalui telpon. “Saya mau anak-anak belajar bertanggungjawab atas apa yang mereka lakukan, meskipun itu nggak sengaja.” Tentu saja saya memaafkan sambil mewanti-wanti supaya lain kali dia lebih hati-hati.

    Sejak itu, saya berusaha menjadikan perilaku ini sebagai aturan bermain di taman bermain bagi anak-anak saya. Yes, accident happens, tapi anak juga harus tahu bahwa kecelakaan terjadi karena salah satu tidak berhati-hati, dan ada konsekuensi yang harus dibayar untuk perbuatan tersebut. Iya, monmaap saya memang #mamagalak.

    Awasi Anak Anda

    Ini memang tugas yang sangat berat. Kalau anak-anak bermain di outdoor playground biasanya saya lebih ketat ngawasinnya. Sedangkan di taman bermain dalam ruangan, jujur saja saya suka lengah. Apalagi sekarang anak sudah besar-besar ya, saya anggap mereka sudah tahu aturan bermain di taman bermain. Sehingga seringkali saya lepas aja main sendiri sementara saya duduk di bangku atau di lantai tak jauh dari arena bermain. Saya beri mereka kesempatan untuk mengeksplorasi tempat bermain dan berteman dengan anak lain, sementara saya memanfaatkan waktu itu untuk main hape atau baca buku. Paling saya titip ke Cinta untuk mengawasi adiknya. Atau sesekali meninggalkan tempat duduk saya untuk mengecek keberadaan mereka.

    Ternyata nggak cuma saya sih yang seperti itu, waktu saya bawa anak-anak main di Kidzoona TP 6, kebanyakan orang tua cukup duduk manis sementara anak-anaknya yang sudah cukup besar asik bermain sendiri. Padahal sudah ada aturan tertulisnya tuh kalau anak harus selalu dalam pengawasan orang tua karena nggak ada staf Kidzoona yang mengawasi masing-masing arena bermain.

    aturan bermain di taman bermain, aturan bermain di playground

    Menurut saya sih, boleh kok membiarkan anak-anak besar bermain sendiri tapi jangan sampai kita benar-benar lepas pengawasan. Namanya di tempat umum ya, banyak kejadian tak terduga. Mungkin nggak sengaja jatuh dari perosotan, ada anak yang kasar atau tiba-tiba anak keluar dari tempat bermain seperti yang pernah saya alami. Kalau anak di bawah 3 tahun ya harus benar-benar diikutin ya, apalagi kalau tempatnya besar dan sedang ramai. No excuse.

    Be Nice To Other Kids

    aturan bermain di taman bermain, aturan bermain di playground

    Ini berlaku untuk anak dan penjaganya. Ajak anak untuk bermain dengan baik saat di taman bermain, jangan kasar; mukul; nendang atau berteriak-teriak kepada anak lain. Minta mereka untuk sabar menunggu giliran bermain kalau alat tersebut sedang dipakai anak lain. Jangan menguasai satu permainan terlalu lama. Di lain sisi kita juga boleh menegur anak lain yang misalnya menguasai ayunan selama belasan menit tanpa mau gantian atau menutup akses ke perosotan just because. Kita juga bisa mengingatkan anak kita dan anak lain untuk berhati-hati. Tentu dengan cara yang baik ya, bukan pakai hukuman fisik. Bayangkan kalau anak kita yang nakal misalnya trus diperlakukan kasar oleh orang tua lain, pasti nggak terima kan yaaa.

    Jangan Memaksa Anak Untuk Berbagi

    Nggak jarang sih saya lihat anak-anak yang mau menguasai permainan sendirian tapi nggak perlulah sampai memaksa mereka untuk berbagi. Kalau saya lihat yang seperti itu, biasanya saya bilang ke si anak, “5 menit lagi gantian ya mainnya.” Lalu mengajak anak saya bermain di arena yang lain. Kalau anak saya ngotot nggak mau pergi baru saya minta baik-baik, “Mainnya sama-sama ya, kan seneng kalau ada temannya.” Kadang cara ini berhasil, kadang enggak. Kalau nggak berhasil ya sudah, yang waras ngalah ajalah. Mungkin si anak sedang perlu me time, dan kita ajak anak lain untuk mengeksplorasi mainan lainnya di tempat tersebut.

    Sebenarnya mungkin masih banyak lagi aturan bermain di taman bermain yang harus dipahami oleh anak dan kita. Namun intinya adalah peduli dengan lingkungan sekitar. Ya, secara mereka kan nggak main sendirian ya, jadi penting sekali untuk bijaksana dalam berinteraksi dan berperilaku saat bermain di tempat umum. Awalnya mungkin susah, tapi kalau satu persatu aturan bermain di taman bermain ini diterapkan ke anak, insyaAllah mereka akan paham dan terbiasa.

    Dan tulisan ini nggak bermaksud untuk menggurui orang tua kok. Namanya taman bermain pasti maunya kita anak-anak bisa bebas beraktivitas. But better save than sorry, right. Nggak ada salahnya menerapkan aturan bermain di tempat bermain ini pada kita dan anak-anak demi keamanan dan kenyamanan seluruh pengguna taman bermain. Sekaligus menghindari kejadian si bapak A yang saya ceritakan di awal tulisan ini terulang lagi.

     

     

  • manfaat-membaca-buku-untuk-anak, manfaat-read-aloud-bersama-anak
    Parenting

    Manfaat Membacakan Buku Untuk Anak

    Kemarin waktu jemput Keenan pulang dari sekolah, salah seorang temannya ngambek setelah memeriksa jurnal sekolahnya. Rupanya dia sedih karena bu guru belum mengganti buku cerita yang sudah selesai dia baca dengan buku yang baru. Memang, sejak tahun lalu, sekolah Keenan punya program ‘read aloud with your child‘ di mana setiap hari anak-anak dipinjamkan satu buku milik perpustakaan sekolah yang sudah disediakan di kelas. Bukunya sih bukan buku-buku pop up atau ensiklopedia canggih yang lagi banyak diburu mamah muda millenial. Buku cerita sederhana aja yang kebanyakan bertema perkembangan moral dan bertujuan mengembangkan kosakata terbitan Scholastic, Usborne atau terbitan lokal yang disesuaikan dengan usia anak TK. Tapi, program ini rupanya disukai oleh anak-anak yang selalu menanti adanya buku baru di dalam jurnal sekolah mereka setiap pulang sekolah.

    Sebelum ada program ini, saya sendiri sudah terbiasa membacakan buku untuk Keenan (dan Cinta sebelum dia lancar membaca) hampir setiap malam. Tapi, karena koleksi buku kami nggak terlalu banyak, akhirnya ya yang dibaca itu-itu aja.

    Dengan adanya program read aloud with your child ini, hampir setiap hari Keenan membawa pulang buku dengan judul yang berbeda-beda untuk dibaca setiap malam. Sampai-sampai guru kelasnya tahun lalu bilang, “There’s no more new book for Keenan. He had read all the books we have.” Beliau lalu bertanya apakah Keenan mau membaca ulang buku-buku yang ada. Yang tentunya diiyakan dengan antusias oleh Keenan.

    Bagi saya, buku-buku dari sekolah lebih ringan dibaca karena hanya berisi 10-20 halaman yang berisi 2-3 kalimat per halaman. Nggak seperti buku koleksinya di rumah yang bisa di atas 30 halaman dengan huruf yang kecil-kecil. Jadi dia minta baca 2-3 kali dalam semalam pun saya masih oke. Walaupun kalau sudah ngantuk banget saya biasanya cuma membacakan 1 kali, itupun kadang juga cuma 2-3 lembar.

    Selain itu, karena temanya tentang kehidupan sehari-hari, saya jadi bisa memasukkan satu dua pesan tentang kebiasaan baik seperti misalnya kalau bermain itu harus sharing dan gantian, kalau sukanya ngerebut mainan teman bisa-bisa nanti nggak ada yang mau main bareng lagi. Atau ke dokter itu sepertinya menakutkan, tapi sebenarnya enggak, seperti yang dialami tokoh di dalam buku.

    Nggak mau kalah dengan divisi Kindergartennya, sekolah Cinta juga ikut semangat membuat program meningkatkan minat baca anak-anak. Sejak tahun kemarin saya mendapat surat edaran dari sekolah mereka untuk membawa beberapa buku bacaannya untuk ditinggal di sekolah. Rupanya mereka membuat book corner di kelas, sehingga di waktu istirahat atau jam pelajaran kosong, anak-anak punya pilihan untuk membaca selain bermain di luar kelas.

    Ketika saya tanya ke kakak mengenai buku apa yang akan dia bawa, dia menjawab, “Thea Stilton. Because I don’t read it anymore.” Cinta memang pernah punya banyak sekali koleksi buku Thea Stilton, hampir setiap kali ke toko buku atau supermarket yang jual buku selalu seri itu yang dia beli dan tentu mama yang harus bacakan meski waktu itu umurnya sudah 8 tahun dan sudah bisa baca sendiri. Sampai suatu saat nggak mau baca buku itu lagi dan beralih ke buku-buku ensiklopedia untuk anak yang penuh gambar. Saya pikir karena dia bosan dan lebih memilih untuk membaca buku yang lain. Tapi setelah ditanya bukan itu alasannya lo, ternyata bagi dia nggak seru lagi baca Thea Stilton ketika mama sudah nggak punya waktu untuk membacakan buku itu untuk dia.

    I like when you read Thea Stilton to me. I like the way you tell the stories. When I read it by myself, I try to read it like you. But I can’t. So, I don’t like it anymore.”

    Beneran saya nggak nyangka. Kegiatan sederhana seperti membacakan buku favoritnya sebelum tidur ternyata jadi kenangan manis buat kakak. Waktu dia ngomong gitu, hati saya jadi hangat 🙂

    Saya bukan ibu yang sempurna yang selalu tersenyum, sabar dan penuh kasih sayang. Ada masa-masa saya merasa sebagai ibu paling buruk sedunia. Namun mengetahui bahwa setidaknya anak-anak punya satu memori indah akan kebersamaannya dengan saya itu bikin saya bahagia.

    “It’s so important to start reading from Day One,” she says. “The sound of your voice, the lyrical quality of the younger [books] are poetic … It’s magical, even at 8 weeks old they focus momentarily, they’re closer to your heart.” – Liza Baker, the executive editorial director at Scholastic,

    Dan selain memberikan kenangan indah bagi anak, membaca buku setiap malam untuk mereka itu punya banyak manfaat lain, seperti ini:

    1. Meningkatkan Minat Baca Pada Anak.

    Membacakan untuk anak dapat membuat anak tertarik dengan buku, apalagi kalau kita membaca dengan cara yang menarik, misalnya dengan mengeluarkan suara yang berbeda untuk setiap karakter. Di sekolah Keenan ada sesi storytelling oleh guru dan orang tua. Kadang mereka menggunakan alat bantu berupa boneka atau wayang kertas tapi lebih sering ya baca buku aja. Namun, anak-anak usia 4-6 tahun itu bisa betah lho mendengarkan orang dewasa itu bercerita, bahkan ikut semangat berinteraksi dengan penceritanya.

    Manfaat Membacakan Buku Untuk Anak

    Nah, kalau anak sudah tahu serunya membaca buku bersama orang tua, lama-lama dia akan merasa bahwa buku itu menarik sehingga mau membaca sendiri sampai akhirnya membaca menjadi kebiasaan baik seumur hidupnya.

    2. Mengembangkan Kemampuan Bahasanya

    Psikolog Jessica Montag, seperti yang ditulis di melbournechildpsychology.com.au, mengatakan bahwa anak yang terbiasa dibacakan buku cenderung memiliki kemampuan bahasa yang lebih baik, karena bahasa yang ada di dalam buku lebih terstruktur dan memiliki kosakata lebih banyak daripada bahasa yang digunakan dalam percakapan sehari-hari. Beberapa hasil penelitian juga sepakat bahwa membacakan buku untuk anak bermanfaat membentuk kemampuan literasi dasar pada anak seperti memahami jalannya suatu cerita, mengenal suara dan huruf, mengenal lebih banyak variasi kosakata, dan meningkatkan kemampuan mendengarkan. Di mana semua keahlian ini akan sangat dibutuhkan saat anak mulai sekolah dan belajar membaca nanti. Dan kemampuan literasi yang baik sangat mendukung kesuksesan seseorang di semua bidang pekerjaan yang digelutinya.

    Sahabat PojokMungil tentu sering membaca atau mendengar keluhan orang tua tentang anak-anaknya yang lebih suka main gadget daripada baca buku, atau para dosen yang kesal karena menerima pesan singkat atau email yang kurang beretika dari mahasiswanya. Nah, harapan saya sih supaya anak-anak nggak kaya gitu, karena meski teknologi sudah canggih, tetap kemampuan literasi ini penting. Sayang kan kalau sampai gara-gara nggak bisa nulis laporan yang baik kesempatan promosi jabatan jadi melayang atau nggak diterima saat melamar pekerjaan hanya karena nggak tahu cara menulis surat lamaran di badan email yang bagus.

    Kemarin pas suami buka lowongan arsitek, gampang aja dia nyeleksinya. Pokoknya yang di badan email nggak ada basa-basi atau kalimat sapaan dan hanya kirim lampiran portofolio aja, otomatis udah didiskualifikasi. – Arinta, blogger di kayusirih.com…  Pssst, tulisannya tentang Reward & Punishment untuk anak di blog kayusirih menarik lo untuk disimak.

     

    Lamaran kerja ditolak karena nggak ada surat pengantarnya itu berat. Kamu nggak akan kuat. Makanya belajar menulis yang baik.

     

    3. Sarana Bonding Dengan Anak

    Membacakan buku adalah salah satu sarana untuk mengeratkan ikatan kita dengan anak-anak. Seperti kutipan dari Liza Baker di atas, pelukan hangat kita, suara kita dan kalimat dalam buku cerita yang puitis dan berima itu istimewa sekali bagi anak, sehingga kalau dilakukan secara rutin dengan sepenuh hati dapat membuat anak menjadi lebih dekat secara emosional dengan orang tuanya.

    Jadi buat para orang tua yang merasa kurang meluangkan waktu untuk anaknya, manfaatkan momen membacakan buku untuk anak ini sebagai quality time. Misalnya ayah membacakan koran sambil memangku si kecil di pagi hari sebelum berangkat bekerja atau mama membacakan buku cerita atau majalah anak sebelum mereka tidur akan jadi kenangan manis bagi anak-anak lo.

    4. Buku Adalah Jendela Dunia

    Pepatah yang mungkin sudah kita hafal di luar kepala itu juga berlaku bagi anak-anak. Nggak semua anak beruntung memiliki kesempatan untuk pergi ke berbagai tempat di seluruh dunia. Jangankan merasakan naik Shinkasen di Jepang, jalan-jalan naik bis kota di daerah tempat tinggal mereka saja mungkin belum pernah, apalagi untuk anak-anak balita yang memang lingkup jalan-jalannya masih terbatas. Nah, di sinilah kita bisa menggunakan buku untuk memperluas wawasan mereka tentang tempat-tempat yang belum pernah mereka kunjungi, benda-benda yang belum pernah mereka lihat, sampai mungkin masa yang sudah lalu dalam buku cerita dengan latar belakang sejarah.

    Lalu gimana caranya supaya anak tertarik saat kita membacakan buku untuk mereka?

    Ini adalah beberapa langkah read aloud yang pernah diajarkan oleh seorang storyteller saat parents teacher meeting di sekolah Cinta beberapa tahun yang lalu:

    1. Sisihkan waktu yang cukup untuk membaca, bisa 15-20 menit sebelum tidur atau saat santai sore. Selain untuk membaca, gunakan waktu ini untuk menikmati gambar dalam buku dan berdiskusi dengan anak tentang isi bukunya.
    2. Pilih buku yang menarik minat anak. Untuk batita, buku-buku dengan gambar yang bagus mungkin lebih menyenangkan bagi mereka. Sedangkan untuk anak yang lebih besar, jalan cerita yang menarik, karakter yang kuat dan bahasa yang mengugah bisa mengikat perhatian anak.
    3. Buka buku bersama-sama dengan anak dari halaman depan sampai belakang, sambil berkata, “Yuk sini, kita lihat di buku ini ada apa saja ya?”
    4. Tunjukkan bagian-bagian yang menarik tanpa membaca satu tulisan pun di dalam buku tersebut, Tarik perhatian anak dengan interaksi yang menarik, seperti, “Eh, ada harimau, Dek. Harimau tuh suaranya gimana ya? Auuuumm. Wah, di sini ada tikus warnanya abu-abu. Hmmm, kenapa ya harimau dan tikusnya ini?”
    5. Setelah anak mulai tertarik, kembali ke awal buku dan mulai membaca. Supaya anak nggak bosan, gunakan ekspresi. Nggak usah terlalu drastis atau ngoyo, nanti kita capek sendiri trus malas ngelanjutinnya. Cukup dengan membedakan intonasi atau menaikturunkan volume suara saat membacakan buku biasanya sudah dapat membuat anak tertarik untuk mendengarkan.
    6. Jangan membaca terlalu cepat. Beri anak waktu untuk mencerna setiap kalimat yang kita ucapkan, mengamati gambar dalam buku dan berkomentar.
    7. Anak yang sudah besar bisa diajak untuk menebak jalannya cerita. “Wah, harimaunya marah karena tikus mengganggu tidurnya. Aduh, abis ini tikusnya diapain ya sama harimau?” Beri pujian pada setiap jawaban anak baik yang sesuai dengan jalan cerita maupun yang tidak sesuai dengan mengatakan, “Hmmm, bisa jadi ya begitu. Yuk kita baca sama-sama, kalau menurut penulisnya apa yang dilakukan oleh harimau,” atau “Itu ide yang menarik lo, apa yang bikin kamu berpikir seperti itu?”
    8. Saat cerita selesai, diskusikan bagian mana yang paling menarik bagi kita dan bagi anak dalam buku tersebut. Jawaban nggak harus sama lo, makin seru kalau berbeda. Apresiasi semua pandangan anak.
    9. Dan yang paling penting adalah menikmati momen tersebut. Nggak perlu melakukan semua langkah yang sudah saya tulis di atas kalau yang dibutuhkan oleh anak adalah suara hangat mama bercerita sederhana sebagai pengantar tidurnya, apalagi ketika anak sudah ngantuk banget. Bisa-bisa dia cuma bakal jawab, “Aku nggak tahu,” trus kita kesel akhirnya marah-marah. Gagal deh hepi momennya :))

    Nah, selamat membaca buku untuk anak, Sahabat PojokMungil. Yuk share, buku cerita apa sih yang paling sering dibacakan untuk anak?

  • Garuda Wisnu Kencana, traveloka, wisata Bali ramah anak
    Foods and Places, Traveling

    Wisata Budaya Impian Bersama Keluarga di Garuda Wisnu Kencana Bali

    Bali adalah salah satu tempat wisata impian saya. Sudah lama sekali saya nggak ke Bali. Terakhir ke sana bersama keluarga kira-kira 9 tahun yang lalu, saat kakak Cinta berusia lebih kurang 1 tahun. Banyak kenangan manis yang kami peroleh saat berwisata ke Bali bersama Cinta termasuk pengalaman pertamanya bermain di pantai dan menolak terkena pasir pantai.

    9 tahun setelah itu, Cinta (dan Keenan tentu saja) tumbuh menjadi anak pantai. Mereka senang sekali kalau diajak ke pantai, padahal pantai di Kuala Belait tempat kami tinggal sekarang meskipun bersih tapi masih kalah indah dari Kuta. Apalagi sekarang katanya banyak spot pantai di Bali yang ramah anak.

    Selain ke bermain ke pantai, ada beberapa tempat yang ingin saya kunjungi bersama keluarga di Bali seperti Bali Safari & Marine Park, Alas Kedaton, Bali Bird Park serta tentu saja situs budaya Garuda Wisnu Kencana.

    Garuda Wisnu Kencana, traveloka, wisata Bali ramah anak

    Gambar diambil dari situs resmi GWK

    Apalah arti mengunjungi pulau Dewata yang keindahannya terkenal ke seluruh penjuru dunia itu kalau nggak sekaligus mempelajari budayanya, ya kan? Nah, salah satu alasan saya ingin mengunjungi taman budaya Garuda Wisnu Kencana ini, karena banyaknya ulasan positif di berbagai situs travel online.

    “Taman Garuda Wisnu Kencana sepertinya adalah taman budaya terbaik yang pernah saya kunjungi. Terletak di Badung, GWK terkenal dengan patung raksasa dewa Hindu, Wisnu dan tunggangannya, Garuda.” – Michelle Frank Lee dalam blog pribadinya.

    Meskipun proses pembangunan Garuda Wisnu Kencana belum benar-benar selesai, taman budaya yang didesain dan dibangun oleh Nyoman Nuarta, salah satu pemahat hebat di Indonesia ini sudah menarik perhatian wisatawan lokal dan mancanegara. Terutama bagi mereka yang memang suka dengan wisata budaya Hindu. Selain patung Wisnu dan Garuda, banyak atraksi yang bisa kita nikmati dan lakukan di area GWK. Mungkin memang agak membosankan untuk anak ya, apalagi kalau mereka nggak biasa ke tempat wisata budaya semacam ini. Tapi, saya tetap ingin mengajak anak-anak ke sini jika kami berlibur ke Bali karena berbagai manfaat ini:

    3 MANFAAT BERWISATA KE TAMAN BUDAYA GARUDA WISNU KENCANA BALI

    1. Edukatif

    GWK memang didesain untuk mengenalkan budaya Hindu pada khususnya serta budaya Bali pada umumnya. Selain bisa belajar tentang mitologi Hindu yang diwakili oleh patung Wisnu dan Garuda, kita juga dapat menyaksikan berbagai pertunjukan kesenian khas Bali, seperti Tari Bali, Tari Barong Keris, instrument Rindik, Joged Bumbung, Kecak Garuda Wisnu dan sebagainya.

    “Kami sangat menikmati pertunjukan tari tradisional di amphitheatre, di mana para penarinya mengundang pengunjung untuk menari bersama mereka. Anak saya juga menyukai suguhan film pendek yang bercerita tentang Garuda.” – Jofarjo, turis dari Perth dalam TripAdvisor.

    1. Menikmati Pemandangan yang Indah

    Di era Instagram ini, salah satu alasan memilih tempat tujuan wisata adalah apakah dia instagramable atau enggak. Iya kan? Iyain aja deh ya biar saya senang :))

    Garuda Wisnu Kencana, traveloka, wisata Bali ramah anak

    Gambar diambil dari situs resmi GWK

    Di GWK banyak sekali spot foto yang instagramable saking indahnya pemandangannya. Setelah puas antri foto di depan patung dewa Wisnu dan Garuda, konon berfoto di Lotus Pond is a must. Tebing batu kapur ini tadinya adalah area yang nggak terurus dengan baik, setelah GWK mulai dibangun, justru area ini menjadi salah satu tempat favorit para turis yang berkunjung ke GWK karena keindahannya yang eksotis dan artistik.

    1. Beraktivitas Outdoor yang Seru

    Anak-anak seumur Cinta dan Keenan mungkin akan bosan ya kalau cuma diajak jalan keliling taman melihat patung dan tebing. Tapi, menurut info tentang Garuda Wisnu Kencana di blog Traveloka, ada berbagai aktivitas outdoor yang bisa dilakukan untuk membuat mereka senang. Mulai dari mengelilingi area Lotus Pond menggunakan Segway serta mencoba flying fox di area yang sama, sampai mencoba ketangkasan rappelling & rock climbing, marine bridge serta bertualang menggunakan ATV.

    Garuda Wisnu Kencana, traveloka, wisata Bali ramah anak

    gambar diambil dari situs resmi GWK

    Sepertinya berwisata ke Garuda Wisnu Kencana nggak akan cukup kalau hanya sebentar ya. Menurut beberapa resensi yang saya baca masih banyak atraksi di sekitar GWK yang juga dapat kita nikmati dan banyak penginapan di sekitar GWK yang dapat kita jadikan pilihan bermalam saat berkunjung ke Bali.

    Untuk kemudahan pemesanan tiket dan hotel, kita dapat menggunakan layanan baru Traveloka yaitu pemesanan tiket dan hotel yang dapat dilakukan dalam 1 paket. Dengan menggunakan layanan pesan tiket dan hotel secara bersamaan, kita bisa lebih hemat sampai 20% tanpa harus menggunakan kode promo apapun dibandingkan dengan memesan tiket pesawat dan hotel secara terpisah. Liburan senang dan hemat tentu impian kita semua ya. Selamat berwisata ke Bali. Semoga saya bisa segera menyusul ke sana.

  • Ganti paspor anak di kbri bandar seri begawan, syarat paspor anak, pembuatan paspor anak di kbri bandar seri begawan, daftar online pembuatan paspor anak, alur pembuatan paspor berbasis simkim
    Life in Brunei

    Ganti Paspor Anak di KBRI Bandar Seri Begawan

    Gimana sih prosedur ganti paspor untuk anak? Dan dokumen apa saja yang harus disertakan?

    Meskipun sudah beberapa kali ganti paspor anak-anak, tetap saja pertanyaan itu jadi pikiran saya. Maklum, kan bukannya tiap tahun kami membuat paspor baru untuk anak-anak. Apalagi sejak kuartal kedua 2017, ada penerapan sistem pembuatan paspor baru di KBRI Bandar Seri Begawan menjadi Sistem Informasi Manajemen Keimigrasian (SIMKIM).

    Perbedaan utama dari sistem baru ini adalah pemohon diwajibkan datang untuk pengambilan foto, data biometrik berupa sidik jari dan wawancara.

    – Situs Kemenlu.go.id/bandarseribegawan

    Dengan sistem ini, pembuatan paspor baru yang tadinya bisa dilakukan dalam 1 kali antrian di satu hari kerja berubah menjadi 2 kali antrian, dan kalau sedang kurang beruntung tidak bisa dilakukan dalam satu hari kerja. Saat sistem ini diujicobakan, beberapa teman harus kembali 1 bulan setelah proses validasi data untuk foto dan wawancara. Bahkan ada yang sampai 2 bulan hahaha. Jadi sempat ricuh lah di grup komunitas soal sistem pembuatan paspor baru ini di awal penerapannya.

    Kalau diingat kok jadi mirip dengan sistem pembuatan paspor baru di kantor imigrasi Indonesia saat saya bikin paspor untuk Cinta 9 tahun lalu, di mana setelah validasi kelengkapan dokumen kita harus kembali lagi beberapa hari kemudian untuk foto dan wawancara, lalu kembali lagi untuk ambil paspor.

    Tapi, setahu saya, berdasarkan pengalaman teman-teman, sistem di kantor imigrasi sekarang dengan pendaftaran online jadi lebih praktis. Berkas divalidasi saat pendaftaran online, jadi pemohon cukup datang di jadwal yang sudah ditentukan untuk wawancara, foto dan biometrik. Betul nggak? Ada yang bisa share pengalaman bikin paspor baru di kantor imigrasi Indonesia?

    Ganti paspor anak di kbri bandar seri begawan, syarat paspor anak, pembuatan paspor anak di kbri bandar seri begawan, daftar online pembuatan paspor anak, alur pembuatan paspor berbasis simkim

    Jadi, ketika paspor Keenan tinggal 2 lembar dan paspor Cinta akan habis masa berlakunya pada bulan November yang akan datang, saya pun mencoba mencari informasi tentang pembuatan paspor baru di KBRI Bandar Seri Begawan. Sebenarnya kalau nggak salah ingat, KBRI sudah pernah melakukan sosialisasi pembuatan paspor baru berbasis SIMKIM ini untuk WNI yang tinggal di Kuala Belait. Cuma ya gitu deh, saya orangnya suka menganggap sepele masalah seperti ini sehingga nggak hadir saat sosialisasi. Akhirnya waktu butuh ya bingung sendiri. Alhamdulillah setelah ngubek FPnya KBRI Bandar Seri Begawan, saya menemukan video yang menjelaskan tentang alur pembuatan paspor berbasis SIMKIM di KBRI BSB.

    Begitu tahu alurnya, saya pun mencari tahu apa bisa langsung datang atau harus daftar online dulu seperti di kantor imigrasi Indonesia. Dari hasil ngepoin satu per satu post di FP KBRI Bandar Seri Begawan, saya menemukan memutuskan untuk daftar online lebih dulu untuk menghindari resiko antri lebih dari 1 hari untuk proses pembuatan paspor. Maklum, jauh bok. Malas kalau harus bolak-balik Kuala Belait – BSB hanya untuk bikin paspor.

    Lagipula bagi saya lebih praktis daftar online, karena:

    1. Bisa memastikan jadwal temu.
    2. Dapat informasi tentang persyaratan dokumen yang harus disertakan.
    3. Ada link untuk mengunduh formulir yang harus diisi sehingga saat datang ke KBRI nggak perlu lagi mengisi formulir dan bisa langsung ambil nomer antrian untuk proses pemeriksaan persyaratan dokumen.

    Pendaftaran online ini bisa dilakukan dengan mengunduh aplikasi android M-KBRIBSB di Play Store (belum tersedia aplikasi untuk iOS) atau akses melalui browser internet yang beralamat di: https://m.kbribsb.org. Untuk alur pendaftaran online bisa dilihat di video ini:

    Setelah melakukan pendaftaran online, pada jadwal yang ditentukan saya dan rombongan sirkus pun menuju KBRI. Niat berangkat jam 7.30, nyatanya baru bisa jalan dari rumah satu jam kemudian. Alhasil sampai di KBRI sudah siang aja dong, hiks. Sesampainya di depan ruang layanan konsuler, saya pun terheran-heran karena barcode antrian online yang harusnya ditunjukkan ke petugas untuk langsung dapat nomer antrian sama sekali nggak ditanya. Malah alih-alih masuk ke ruang layanan konsuler, saya diarahkan ke hall gedung konsuler KBRI, di mana sudah ada puluhan orang yang sedang menunggu panggilan verifikasi berkas. Belakangan saya baru tahu bahwa pada saat itu sedang ada program Pelayanan Percepatan Pembuatan Paspor, di mana staf layanan konsuler KBRI dibantu oleh tim Perbantuan Teknis (Perbanis) dari Dirjen Imigrasi dan Kementerian Luar Negeri RI.

    Dipandu oleh petugas dari KBRI, saya meletakkan berkas anak-anak di meja panjang yang telah disediakan lalu duduk manis menunggu panggilan. Sambil menunggu, anak-anak sempat makan camilan berupa pisang goreng yang disediakan oleh KBRI, bahkan Cinta makan 2 potong. Katanya pisang gorengnya enak :)) Sementara saya karena stres melihat banyaknya orang yang antri, nggak berselera untuk makan.

    Setelah menunggu lebih dari 30 menit, akhirnya nama Cinta dan Keenan dipanggil. Setelah petugas memastikan bahwa formulir dan dokumen persyaratan lengkap, mereka mendapat nomer antrian SIMKIM 220 dan 223. Petugas menyarankan agar kami kembali pukul 15.00 untuk proses SIMKIM sementara saat itu baru menjelang pukul 10.30.

    persyaratan pembuatan paspor anak

    Dokumen yang DIperlukan Untuk Pembuatan Paspor Anak

    Saya mulai galau, suami ngajak pulang tapi saya kasihan sama anak-anak kalau harus menempuh total sekitar 4 jam-an untuk kembali ke KB, istirahat sebentar di rumah, berangkat lagi ke Bandar dan kembali lagi ke Kuala Belait. Ngebayanginnya aja sudah lelah. Meski ajakan suami pulang sebenarnya juga masuk akal, karena saat itu hari Jumat. There’s nothing we can do at Bandar to kill the time, karena sesuai peraturan, semuaaaaa tutup mulai jam 12 siang sampai jam 2 sore untuk istirahat sholat Jumat.

    Akhirnya diputuskan ke Mabohai mall dulu yang dekat dengan KBRI untuk makan siang di Misato Teppanyaki Restaurant dan lihat-lihat Toys R Us, mumpung masih ada waktu 1,5 jam. Di Mabohai juga ada Starbucks dan toko buku Best Eastern. Menurut saya ya okelah buat menghabiskan waktu. Lha emang bukan rezekinya kami ya, sampai di sana kok restorannya tutup. Sementara Keenan sudah mulai tantrum karena nggak diizinkan membeli Thomas & Friends Busy Book dan semakin menjadi tantrumnya ketika nggak dikasih beli mainan yang dia mau di Toys R Us. Rencana berantakan total. Keenan diangkut ke mobil dalam keadaan masih tantrum berat. Mungkin ini tantrum terhebohnya Keenan dalam hampir 5 tahun usianya.

    Dalam kondisi emosi semua, suami melarikan mobil ke arah pulang. Di tengah perjalanan, saya minta untuk berhenti di Mc Donald’s Jerudong Park. Keenan yang awalnya nggak mau ke McD, akhirnya mau ikut turun dan reda tantrumnya setelah main sebentar di playground McD. Abis makan, kami kembali ke Bandar untuk sholat Jumat. Suami dan Keenan pergi ke masjid Sultan Omar Ali Saifuddien, sementara saya dan Cinta menunggu di parkiran. Baru saja azan sholat selesai berkumandang, Keenan sudah dianter balik ke mobil karena dia bilang capek nungguin di masjid. Setelah suami selesai sholat, kami berkeliling Bandar sebentar dan memutuskan untuk main Pokemon Go di parkiran Stadium Hassanal Bolkiah sambil menunggu KBRI buka kembali jam 2 siang.

    Jam 2.15 kami sudah sampai di ruang layanan konsuler KBRI. Nomer antrian masih di angka 190an. Saya pikir lumayan nih, tinggal 30an orang. Perkiraan saya sebelum pukul 3 sudah dipanggil karena ada 2 meja untuk input data dan 3 ruang foto dan biometrik. Ternyata perkiraan saya salah ::cry cry::. Menjelang pukul 3.30 sore baru nomer antrian Cinta dipanggil ke ruang input data, alhamdulillah waktu tahu saya bawa dua nomer antrian, petugasnya memutuskan berkas Cinta dan Keenan diproses sekalian biar nggak antri lagi. Alhamdulillah lagi, petugasnya ramah dan ngajak becanda jadi stres karena antri sekian lama itu agak berkurang. Proses input data ini sekitar 5 – 15 menitan karena 2 orang sekaligus yang masuk.

    Setelah itu antri lagi untuk foto dan biometrik. Kali ini nggak pakai nomer antrian, paspor lama anak-anak ditumpuk di meja layanan konsuler dan antrian dipanggil berdasarkan tumpukan paspor paling atas. Alhamdulillah selama tahap antri ini anak-anak dapat kenalan baru jadi mereka ngobrol dan main bareng. Keenan juga sempat ngajak main hide and seek di teras gedung karena bosan menunggu di dalam ruangan. Yah, daripada rewel saya turutin aja deh. Udah kaya orang aneh lah saya dan Keenan main petak umpet di antara banyaknya pemohon paspor sore itu :))

    alur pembuatan paspor berbasis simkim, pembuatan paspor di kbri bandar seri begawan

    Alur Pembuatan Paspor Berbasis SIMKIM, difoto dari ruang konsuler KBRI BSB

    alur pembuatan paspor berbasis simkim, pembuatan paspor di kbri bandar seri begawan

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

    Akhirnya jam 4 lebih baru nama Cinta dan Keenan dipanggil bareng. Setelah diperiksa data dan wawancara, Cinta difoto dan diambil sidik jarinya lebih dulu. Merasa sudah besar dan bisa tanda tangan, saat ditanya oleh ibu petugas, Cinta setuju untuk menandatangani berkasnya sendiri. Agak terharu lah mamaknya ini, anak saya sudah bisa tanda tangan berkas penting sendiri. Mbok jangan cepet-cepet besarnya, Nak.

    Begitu giliran Keenan, dia kooperatif sekali saat difoto, bahkan dengan semangat ikut rekam sidik jari meskipun harus beberapa kali diulang karena nggak masuk, ibu petugasnya sampai nyeletuk, “Your finger’s so tiny.” :)) Sambil nunggu cetak tanda terima, saya sempat bertanya apakah biasanya memang pelayanan pembuatan paspor sampai sore seperti itu. Beliau menerangkan bahwa ini kondisi khusus karena sedang ada program Pelayanan Percepatan Pembuatan Paspor bekerja sama dengan tim dari Jakarta. Wah, pantesan.

    Berarti saya beruntung karena meski sampai sore, prosesnya bisa selesai dalam 1 hari. Seandainya jam pelayanan berlaku seperti biasanya, kemungkinan besar kami harus kembali lagi kemudian hari untuk proses foto dan biometrik meskipun sudah daftar online.

    Jadi untuk para warga negara Indonesia yang berencana membuat paspor baru di KBRI Bandar Seri Begawan, berikut tips dari saya:

    1. Daftar online.
    2. Pastikan formulir diisi di rumah dan dokumen persyaratan lengkap dibawa asli dan fotokopinya. Persyaratan dokumen bisa dilihat di aplikasi M-KBRIBSB atau web KBRI Bandar Seri Begawan atau telpon ke KBRI: +673 2330180
    3. Datang sepagi mungkin. Kalau perlu jam 8.30 pagi sudah sampai di KBRI supaya dapat nomer antrian awal sehingga proses bisa selesai dalam 1 hari. Ini penting terutama bagi yang rumahnya nggak di daerah Bandar seperti saya atau yang mengandalkan orang lain untuk datang ke KBRI. Kalau bolak-balik kan repot juga ya, bok.
    4. Batas waktu ambil nomer antrian adalah pukul 10.30 pagi. Jadi datanglah sebelum waktu itu.
    5. Bagi yang tinggal di luar Bandar, sebaiknya nggak pilih hari Jumat. Karena kalau dapat antrian foto setelah istirahat sholat Jumat akan susah cari tempat nongkrong atau aktivitas selama menunggu KBRI istirahat sholat Jumat, kecuali ada rumah teman yang bisa dituju.
    6. Bagi yang tinggal di daerah Tutong dan Belait, kalau nggak mendesak sekali, sebaiknya tunggu KBRI mengadakan layanan konsuler di kota Anda. Biasanya setahun 2 kali KBRI turun ke dua kota tersebut. Pada masa ini pembuatan paspor biasanya bisa selesai dalam 2 hari, masukin berkas dan input data di hari Sabtu, hari Minggu paspornya bisa diambil. Lebih praktis, hemat waktu dan tenaga.
    7. Paspor selesai dalam 3 hari kerja. Meskipun dalam tanda terima pembayaran tercantum tanggal pengambilan paspor, sebaiknya telpon dulu ke KBRI untuk ngecek apakah paspor kita sudah siap atau belum.
    8. Siapkan surat kuasa untuk pengambilan paspor kalau kita nggak bisa ambil sendiri. Satu surat kuasa untuk satu paspor.
    9. Follow akun FB KBRI Bandar Seri Begawan untuk info-info layanan konsuler dan simpan nomer penting KBRI ini:

    nomer penting kbri bandar seri begawan, nomer hotline kbri bandar seri begawan, kbri brunei

    Oke lanjut lagi ceritanya. Setelah selesai foto dan biometrik, suami antri lagi untuk bayar bea pembuatan paspor. Totalnya $40 untuk paspor 48 halaman dengan rincian $34 untuk paspor dan $6 untuk biaya biometrik. Kami diminta kembali Jumat minggu berikutnya untuk mengambil paspor. Saat suami tanya apakah pengambilan paspor bisa diwakilkan seperti biasanya, petugas meminta kami untuk menyertakan surat kuasa dan tanda terima pembayaran kepada orang yang mengambilkan paspor. Padahal dulu bisa cuma bawa tanda terima pembayaran aja, ternyata sekarang aturannya lebih ketat. Mungkin untuk menghindari paspor jatuh ke tangan yang tidak bertanggungjawab ya.

    Sayangnya, pada hari yang ditentukan, suami nggak bisa menemani ambil paspor ke Bandar karena ada jadwal meeting, sementara saya nggak pede jalan sendiri ke Bandar bawa anak-anak dan nggak ada dari kantor yang bisa diminta tolong untuk ambil karena nggak ada jadwal jalan ke Bandar hari itu. Akhirnya paspor bisa kami ambil hari Senin kemarin. Alhamdulillah semua data benar, foto anak-anak juga bagus secara motretnya pakai kamera DSLR :))

    Yah, begitulah pengalaman kami membuat paspor baru berbasis SIMKIM untuk anak-anak di KBRI Bandar Seri Begawan. Meski capek karena harus menunggu seharian, kami mengapresiasi kerja keras staf layanan konsuler KBRI yang melayani ratusan permohonan pembuatan paspor setiap harinya. Semoga ke depannya bisa ditemukan sistem yang lebih mudah, praktis dan nyaman baik untuk pemohon paspor dan staf KBRI.

    Sahabat pojokmungil punya pengalaman seru saat mengurus paspor di kantor imigrasi Indonesia atau KBRI di negara sahabat tinggal saat ini? Sharing yuk. Boleh di kolom komen atau di blog masing-masing dan tag saya ya.