Ruang Pulih Memandu Pulih dari Luka Masa Lalu dengan H.E.A.L

Ruang Pulih Memandu Pulih dari Luka Masa Lalu dengan H.E.A.L

“Mama, thank you for making my life easier,” ujar si bungsu ketika kami sedang duduk berhadapan di meja makan. Kalimat yang diucapkannya sambil lalu itu membuat saya tersentak.

You’re welcome, Nak. But how do I make your life easier?” tanya saya penasaran?
You know. Every time I feel stress, you always there to comfort me,” jawabnya.

Seketika tenggorokan saya terasa tercekat, seperti ada bongkahan besar yang menahan rasa haru. Sekuat tenaga saya menahan air mata yang mulai merebak.

Bungsu saya memang semanis itu. Bukan sekali ini dia berterima kasih atas hal-hal yang menurutnya berarti bagi dia, bahkan yang tidak saya sadari sekalipun. Seperti beberapa waktu lalu saya memuji keberaniannya meminta staf McDonald’s mengganti orderannya yang salah.

That’s because of you, Ma.” ucapnya waktu itu. “Hah, kok bisa? What did I do?” Tentu saja saya bertanya balik dong, ya. Yang dia jawab, “You always support me and it gives me the confidence to do it.”

Gimana enggak meleleh, kan, kalau sesuatu yang kita lakukan mungkin tanpa sadar diapresiasi seperti itu. Ucapan-ucapan si bungsu selain membuat saya bahagia sekaligus jadi sarana introspeksi bahwa sekecil apapun ucapan dan perilaku kita kepada anak-anak bisa mempengaruhi cara mereka memandang diri mereka sendiri dan dunia serta bagaimana berinteraksi dengan orang lain.

pulih dari wounded inner child

Tentu saja saya bukan ibu yang sempurna. Perilaku saya terhadap anak-anak bukan terbentuk alami saat mereka lahir. Melainkan hasil belajar yang penuh dengan jatuh bangun.

Cara saya mengasuh si bungsu sayangnya berbeda dengan cara saya mengasuh si sulung di usia yang sama. Hal ini mengakibatkan anak itu tumbuh dengan luka yang besar, yang kemudian mengantarkan kami pada berbulan-bulan sesi terapi psikologi belakangan ini.

Jangan Punya Anak Sebelum Selesai dengan Diri Sendiri

Teman-teman mungkin sudah familiar dengan judul di atas. “Jangan jadi ayah atau ibu sebelum selesai dengan diri sendiri,” yang artinya adalah sembuhkan dulu luka-luka masa kecil atau trauma masa kecil sebelum memutuskan untuk menikah dan menjadi ayah atau ibu.

Kenapa? Karena seperti yang pernah saya ceritakan di artikel lain: luka masa kecil bisa mempengaruhi perilaku atau performa kita di masa dewasa. Dan ini saya alami betul ketika mengasuh si sulung.

Tapi Allah memang Maha Baik. Anak-anak saya diselamatkan sebelum semakin terlambat dengan memberikan saya kesadaran tentang luka masa kecil saya sendiri. Salah satunya melalui program Inner Child Healing yang diadakan oleh Ruang Pulih dan Ibu-Ibu Doyan Nulis.

Saat pertama mengenal tentang luka masa lalu ini, reaksi saya adalah menyalahkan cara orang tua mengasuh saya. Lalu saya merasa tertampar ketika membaca postingan di Instagram suatu akun dakwah, maaf yaaa saya lupa nama akunnya.

Postingan itu berkata kira-kira seperti ini: orang yang belajar dan mengenal inner child atau luka masa lalu itu sebaiknya adalah orang-orang yang sedang bersiap memasuki masa ingin berumah tangga. Tujuannya untuk membereskan dulu luka-luka atau trauma yang belum selesai. Supaya kelak ketika menikah dan punya anak kita dapat secara optimal menjalani peran kita dengan baik. Agar kita enggak lagi mengulangi kesalahan-kesalahan yang sama seperti orang tua kita.

Belajar mengenali luka masa lalu bukan untuk bahan bakar membenci ayah, ibu atau keadaan kita. Bukan juga sebagai pembenaran atas perilaku kita saat ini, kek, “Ya aku tuh meledak-ledak gampang marah gini karena ibuku juga gitu.” Atau “Aku tuh emang susah percaya sama orang, karena bapakku dulu selingkuh. Jadi kamu harus nurut kalau aku larang main atau pergi-pergi biar aku bisa percaya sama kamu. Ini demi kebaikan kita.” Sama sekali bukan!

Ya, memang enggak mudah. Menerima peristiwa dan perilaku orang-orang tersayang di masa lalu dan memaafkannya itu perlu proses. Tapi kalau kita ingin hidup lebih baik dan memberikan kehidupan yang lebih indah kepada pasangan serta anak-anak, ini sebaiknya kita usahakan.

Webinar Ruang Pulih: Kecerdasan Emosi Mencipta Bahagia

Gimana caranya? Nah, dari webinar keempat Ruang Pulih yang berjudul “Kecerdasan Emosi Mencipta Kebahagiaan”, Bapak Anthony Dio Martin memberikan panduannya yang akan saya bagikan di bawah. Jadi baca terus, yaaa.

ruang pulih

Anthony Dio Martin ini adalah seorang ahli psikologi, hipnoterapi juga emotional quotation trainer. Di balik kesuksesannya saat ini, siapa sangka masa kecilnya penuh dengan kepedihan. Sebagai seorang anak yatim yang miskin, pak Anthony ini sering mengalami perundungan dari keluarga dan lingkungan sekitarnya.

Tapi yang ia syukuri adalah memiliki seorang ibu yang sangat luar biasa. Sosok ibu yang penuh cinta kepada anak-anaknya inilah yang bisa merefrain semua pengalaman buruk itu menjadi penuh hikmah. Saat mendengar cerita ini, saya berharap bisa menjadi ibu seperti ibunya pak Anthony.

Secara kita enggak bisa kan selalu melindungi anak-anak kita dari hal-hal buruk. Namun, kita bisa membantu mereka melewati dan mengatasi pengalaman tidak baik dan mencari hikmahnya.

Untuk bisa seperti ini ya kembali lagi kita harus bisa memaafkan dan membereskan apapun yang “salah” dalam diri sendiri. Lalu gimana caranya kita bisa tahu kalau ada sesuatu yang enggak beres dalam diri kita?

Tanda Bahwa ada Sesuatu yang Belum Selesai dalam Diri

Pak Anthony memberikan kita panduan mengamati diri sendiri untuk mengetahui apakah ada hal yang belum selesai dari masa lalu kita. Tanda-tandanya adalah:

Ruminating: adanya suatu pikiran yang muncul berulang-ulang.

Dampak emosional masih tinggi. Ketika kita memikirkan sebuah peristiwa, tiba-tiba air mata mengalir atau ada rasa marah yang memuncak, atau muncul keinginan untuk membalas dendam.

Ada perasaan yang muncul dan membuat kita tiba-tiba tidak terkendali.

“Emang apa sih masalahnya kalau ada luka atau masa lalu yang belum “beres” di diri kita? Kayanya sekarang saya baik-baik aja, kok.” Mungkin beberapa teman PojokMungil ada yang berpikir seperti itu.

Namun, sebuah kejadian masa lalu yang traumatis ternyata bisa memberikan dampak negatif dalam pikiran, emosi serta fisik dan energi. Inilah yang dapat me”rampok” masa depan kita.

Healing Process

Salah satu upaya pulih dari luka masalah lalu adalah dengan menjalani healing process berikut:

Have HOPE:

Temukan alasan atau harapan untuk pulih. Kenapa kita ingin pulih dari luka masa lalu? Kenapa kita memilih bahagia? Find this reason.

Examine Your Life Line:

luka masa kecil

Buatlah garis hidup dari awal, perhatikan tahun-tahun atau momen-momen di mana kita merasa terpuruk dan ketika perasaan atau hidup kita membaik. Life line ini dapat membantu kita melihat bahwa:
– Hidup ini tidak pernah statis. Apapun yang terjadi saat ini that too shall pass.
– Keputusan yang kita buat saat ini akan berpengaruh pada kehidupan kita di masa depan.
– Saat kita ada di atas waspada untuk turun dan ketika kita di bawah optimis lah bahwa kita akan dapat naik.
– Ada beberapa kejadian dalam hidup yang mungkin enggak kita pahami tapi ternyata mempersiapkan kita menjalani hidup di kemudian hari.
– Pengalaman masa lalu dapat membuat kita terpuruk tapi juga membuat kita lebih sukses. Mana yang ingin kita pilih?

Assist Your Wounded Inner Child:

Belajar menjadi pendamping diri kita yang terluka. Saat membuat life line, lihat lagi peristiwa yang membuat kita trauma di masa lalu. Lalu “temui” si kecil yang sedang terluka itu dan seolah-olah kita sedang melakukan konseling dengannya dengan cara: self writing, self talking atau self educating untuk menguatkannya.

Live for Others:

Kita tidak boleh terus menerus egois berada atau mencari ke dalam diri sendiri. Kita bisa pulih jika berani keluar dari kepompong dan memberikan energi kita untuk orang lain. Jadi belajarlah untuk memikirkan orang atau berempati dengan orang lain. Dengan menolong orang lain kita juga menolong diri sendiri.

Dengan cara proses HEAL itulah, pak Anthony membantu kita untuk pulih dari luka masa lalu. Tentu semuanya enggak bisa dituliskan lengkap di sini. Akan lebih baik kalau teman-teman langsung nonton webinarnya aja di channel YouTube Ruang Pulih Mahadaya. Percaya, deh, banyak sekali insight yang dapat kita peroleh tentang luka masa lalu dan cara pemulihannya.

Saya bersyukur banget mengikuti rangkaian acara Inner Child Healing yang diselenggarakan oleh Ruang Pulih dan Ibu-Ibu Doyan Nulis. Mbak Intan Maria dan Mas Adi Prayuda enggak cuma menyediakan webinar-webinar yang menarik. Tapi juga menulis buku Luka, Performa, Bahagia yang bagus sekali. Nanti di artikel selanjutnya saya review buku ini, ya.

Mereka juga memandu dan menfasilitasi kami para blogger untuk berkonsultasi dan menjalani sesi konseling dan latihan bersama para ahli. Meski agak menyesal karena enggak memanfaatkan hal tersebut dengan maksimal, saya tetap berterima kasih. Kesadaran yang saya peroleh mengikuti acara ini membuat saya lebih mindful terhadap diri sendiri. Sehingga bisa mendampingi anak-anak lebih baik.

Semoga suatu saat nanti, anak-anak saya bisa mengenang saya seperti pak Anthony mengenang ibunya. Semoga teman-teman yang masih memiliki luka masa lalu juga terketuk untuk memulihkannya.

Saya sendiri belum sepenuhnya pulih. Masih sesekali muncul tanda-tanda yang saya sebutkan di atas. Namun, saya menjalaninya dengan lebih sadar diri bahwa apapun yang terjadi di masa lalu saya, adalah cara Allah untuk menjadikan saya pribadi yang lebih baik dan kuat. InsyaAllah.

Suka dengan artikel ini? Yuk bagikan :)

alfakurnia

Lifestyle blogger yang suka berbagi tentang review produk, kisah sehari-hari, pengalaman parenting dan banyak lagi. Juga suka menulis resensi buku dan produk skincare di blog alfakurnia.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Back to top