Mengapa Memaafkan Luka Masa Kecil Itu Susah?

Mengapa Memaafkan Luka Masa Kecil Itu Susah?

“Kenapa ya, kita tuh cenderung mudah terluka oleh perilaku orang-orang terdekat kita?”
“Kenapa juga sulit sekali memaafkan orang tua yang sudah bikin kita punya luka masa kecil kek gini?”

Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin pernah muncul dalam benak kita. Terutama yang merasa punya luka masa kecil atau wounded inner child. Saya pun pernah mempertanyakan hal itu. Kenapa orang tua saya kok tega pilih kasih? Kenapa ibu saya bisa mukulin saya cuma karena hal yang sepele (menurut saya)? Dan masih banyak lagi.

Dan kenapa setelah dewasa, sulit sekali bisa memaafkan orang tua saya atas perilaku yang membuat saya terluka? Akibatnya saya jadi “malas” berbuat baik pada orang tua. Padahal saya tahu bahwa menurut agama yang saya anut berbakti kepada orang tua, bagaimanapun perlakuannya kepada kita, adalah kewajiban.

Sekian lama saya menyimpan perasaan bersalah karena tidak bisa memaafkan diri saya yang masih menyimpan luka masa kecil. Apalagi seperti yang pernah saya ceritakan di sini, ketika mengikuti sebuah sesi terapi inner child secara daring, secara sadar saya menolak memaafkan.

Sampai ketika saya mengikuti webinar ke-4 dalam rangkaian Parade Happy Inner Child yang diselenggarakan oleh Ruang Pulih. Pada webinar keempat ini saya senang sekali saat mengetahui bahwa salah satu narasumbernya adalah ibu Naftalia Kusumawardhani, seorang Psikolog Klinis.

webinar ruang pulih

Bukan hanya karena beliau satu almamater dengan saya di Fakultas Psikologi Ubaya (meski beda angkatan lumayan jauh), tapi karena saya pernah mengikuti sharing session bareng beliau di forum alumni. Dan cara beliau menerangkan itu menyenangkan dan insightful banget.

The One You Love Hurt You The Most

Pernah membaca kutipan itu? The person you love the most, will hurt you the most. Benarkah? Menurut bu Naftalia itu bisa saja terjadi. Kenapa? Karena kita punya harapan dan komitmen dengan orang tersebut, jadi ketika harapan kita enggak terpenuhi atau komitmen tersebut diingkari ya tentu aja kita akan terluka.

Ini nggak hanya berlaku pada pasangan tapi juga pada orang tua. Sebagai anak kita tentu berharap orang tua menjadi sosok yang paling menyayangi serta mampu merawat dan melindungi kita. Tapi, ketika yang kita terima adalah bentakan, pukulan, dan pola asuh lain yang menyakitkan tentu enggak mudah untuk menyembuhkan luka, apalagi memaafkan.

Mengapa Sulit Memaafkan Orang Tua yang Memberi Luka Masa Kecil?

Alih-alih menghakimi para anak yang kesulitan memaafkan orang tua yang pernah memberi mereka luka masa kecil, Bu Naftalia justru memahami kesulitan tersebut. Ada dua alasan yang menyebabkan memaafkan itu sulit, yaitu:

  1. Sebenarnya kita enggak tahu apa yang harus dimaafkan. Misalnya kita diminta untuk memaafkan orang tua, apa nih yang harus dimaafkan? Perbuatannya kah atau perasaannya?
  2. Tidak tahu harus mulai dari mana memaafkannya apalagi kalau sudah terlalu banyak trauma seperti misalnya dianiaya sejak kecil. Dan tahukah teman-teman kalau luka masa kecil itu bisa bermula sejak kita masih dalam kandungan. Dari 4 webinar yang saya ikuti, saya mendengar banyak sekali kasus wounded inner child yang berawal ketika seseorang itu masih menjadi janin dalam perut ibunya.

Lagipula, menurut Bu Naftalia, memaafkan adalah langkah terakhir dalam proses healing. Dan proses ini nggak bisa selesai dalam sekali sesi terapi.

luka masa kecil

Proses Healing pada Wounded Inner Child

Menerima

Yang pertama adalah acceptance atau menerima bahwa peristiwa itu terjadi dalam hidup kita. Ini aja enggak mudah sebenarnya. Kita cenderung untuk menolak hal-hal buruk dan merepresinya ke alam bawah sadar karena enggak mau berurusan dengan perasaan sedih, marah, takut dan sejenisnya yang mengikuti peristiwa tersebut.

“Kenapa kok saya, ya Tuhan, yang mengalami ini? Anak lain bisa dapat keluarga yang bahagia kok saya enggak?” “Kenapa kok ibu saya lebih sayang ke adik daripada saya? Adik dimanja kok saya dimarahi terus?” Perasaan-perasaan seperti itu yang akan diolah sampai kita benar-benar bisa menerima, “Oke, waktu kecil benar saya mengalami peristiwa ini.”

Mengakui Perasaan

Lalu, tahap kedua adalah mengakui perasaan terhadap peristiwa tersebut. Contohnya, “Iya, aku takut sekali ketika ibu memukulku. Rasanya juga sangat sakit.” atau “Aku sakit hati, kecewa dan marah sekali karena perlakuan orang tuaku.”

Nah, ketika mendeskripsikan perbuatan atau perilaku orang tua, kita harus bisa memisahkan antara perilaku dan orangnya. Saat kita dapat memisahkan antara perilaku dan orang tua, kita bisa melihat bahwa perilaku tersebut muncul karena orang tua kita mungkin sebenarnya tidak sehat secara mental.

Dan untuk orang tua generasi baby boomers, pola asuh yang mereka ketahui dan terapkan adalah 2M, yaitu marah dan maksa. Jadi, perilaku orang tua tersebut bukan karena mereka benci tapi karena mereka tahunya ya begitu. Secara zaman dulu kan belum ada kelas-kelas parenting, ya.

Bentakan, paksaan, pukulan yang kita terima mungkin itu adalah bentuk cinta, ketakutan atau kekhawatiran mereka. Atau bisa jadi mereka juga sebenarnya punya luka atau masalah sendiri yang belum terselesaikan sehingga ya muncul pada cara mereka mengasuh anak.

Ketika kita bisa mengakui ini, akan muncul pemahaman bahwa orang tua tidak selalu salah dan anak tidak selalu benar. Sehingga ya pada akhirnya tidak ada yang perlu dimaafkan. Dan masuk ke tahap berikutnya, yaitu melepaskan perasaan terhadap peristiwa tersebut.

Melepaskan Perasaan

Jadi yang dilepaskan adalah emotional bonding terhadap peristiwa yang sudah terjadi di masa lalu. Dengan begitu saat kita mengingat lagi peristiwa itu nggak ada lagi perasaan takut, marah atau kecewa. Bahkan mungkin kalau kita punya selera humor yang baik, kita bisa menertawakan kejadian yang menyakitkan tersebut yang menandakan bahwa kita sudah bisa move on.

Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, proses healing ini bukan proses instan. Kita bisa melakukannya sendiri dengan bantuan buku-buku self-development atau healing seperti buku Luka, Pulih, Bahagia yang ditulis oleh Mbak Intan Maria Lee dan mas Adi Prayuda. Atau meminta bantuan tenaga profesional.

Jangan malu minta pertolongan ketika kita merasa bermasalah. Luka masa kecil bisa mengakibatkan kita memiliki perilaku yang merugikan diri sendiri atau orang lain. Jangan sampai anak-anak kita mengalami luka yang sama, ya. Jadi mari berproses untuk pulih dari luka masa kecil demi performa masa dewasa yang lebih baik.

Suka dengan artikel ini? Yuk bagikan :)

alfakurnia

Lifestyle blogger yang suka berbagi tentang review produk, kisah sehari-hari, pengalaman parenting dan banyak lagi. Juga suka menulis resensi buku dan produk skincare di blog alfakurnia.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Back to top