Pengaruh Wounded Inner Child Terhadap Performa Masa Dewasa

Pengaruh Wounded Inner Child Terhadap Performa Masa Dewasa

Judulnya udah kaya judul makalah atau proposal skripsi, belum? Kira-kira kalau jadi skripsi ini bakal pake metode penelitian kualitatif atau kuantitatif, ya?

Sayangnya, zaman saya kuliah psikologi 20 tahun lalu, materi inner child ini belum banyak dieksplor. Waktu itu yang lagi ngetren adalah terapi musik untuk kecerdasan anak. Banyak banget yang ambil topik ini. Saya sendiri topiknya tentang fear of success pada perempuan yang berkarir.

Baru sekarang setelah mengenal lebih jauh tentang inner child, perkembangan kognitif dan psikodinamika jadi tertarik untuk mempelajari ini. Untungnya, saya ikut program InnerChild Healing Blog dari Ruang Pulih, sehingga berkesempatan mendapat ilmu dari webinar-webinar yang diadakan dalam rangkaian Parade Happy Inner Child Ruang Pulih.

Salah satunya adalah yang berjudul “Inner Child Menghambat dan Menghebatkan Masa Dewasa” dengan narasumber Dr. Dr. Adi W. Gunawan, ST., MPd, CCH (R). Beliau adalah Ketua Umum Asosiasi Hipnoterapi Klinis Indonesia.

Webinar yang dipandu oleh para penulis buku Luka, Performa, Bahagia, mbak Intan Maria Lee dan mas Adi Prayuda ini terdiri dari 2 sesi. Dan sesi keduanya diisi oleh Drs. Asep Haerul Gani, seorang psikolog, human capital coach dan master trainer.

Pada webinar ini, Pak Adi dan Pak Asep banyak bercerita tentang contoh-contoh kasus pengaruh inner child yang menghambat performa atau perilaku seseorang di masa dewasa. Dan menurut saya ini menarik banget untuk dibagikan, karena ya siapa tahu bisa jadi insight untuk memahami kenapa seseorang memiliki perilaku tertentu.

Kenapa Wounded Inner Child Bisa Menghambat Performa Masa Dewasa?

Menurut pak Adi, manusia adalah makhluk dengan tubuh fisik yang dijalankan oleh banyak bagian diri atau ego personality. Kira-kira ada 15 macam ego personality atau ego state dan salah satunya adalah inner child.

Nah, inner child ini muncul dari berbagai pengalaman seseorang yang terjadi sejak ia berada dalam kandungan sampai berusia 10 tahun. Kalau yang dia alami adalah hal-hal yang membahagiakan, maka yang akan dia miliki adalah happy inner child. Sebaliknya, jika dalam masa itu terjadi peristiwa-peristiwa yang traumatis akan mengakibatkan munculnya wounded inner child.

Supaya manusia nggak lagi mengalami luka yang sama seperti yang dialaminya saat kecil, ia memiliki sistem pertahanan diri yang dikontrol oleh pikiran bawah sadar. Pikiran bawah sadar ini berkomunikasi dengan pikiran sadar lewat salah satu dari 5 cara berikut:

  1. Perasaan atau emosi.
  2. Sensasi fisik.
  3. Suara yang muncul di kepala kita.
  4. Mimpi.
  5. Intuisi.

Lalu bagaimana wounded inner child bisa menghambat performa masa dewasa? Berikut beberapa contoh kasus yang diceritakan pak Adi dan pak Asep.

webinar inner child ruang pulih

Contoh Kasus Trauma atau Fobia yang Secara Tidak Sadar Bisa Menghambat Performa Seseorang.

1. Tidak Kunjung Menikah karena Menyaksikan Pertengkaran Orang Tua

Kasus pertama yang diceritakan pak Adi adalah tentang seseorang yang tidak kunjung menikah sampai usia 40-an, padahal karirnya bagus. Setelah dirunut ke belakang, pak Adi menemukan kalau saat berusia 4 tahun, orang ini pernah menyaksikan orang tuanya bertengkar sampai terjadi kekerasan.

Rupanya ketika melihat kejadian itu, sebagai seorang anak dia merasakan dirinya terluka. Sehingga pikiran bawah sadarnya memproteksi supaya orang ini tidak menderita seperti ibunya. Dengan cara memunculkan perasaan tidak nyaman setiap kali berhubungan dengan lawan jenis.

2. Seorang Suami Selalu Minta Konfirmasi Istrinya Saat Ingin Melakukan Sesuatu

Kasus kedua adalah kasus yang ditangani oleh pak Asep. Di mana seorang suami selalu meminta konfirmasi istrinya saat ingin melakukan sesuatu yang bahkan yang tidak relevan sekalipun. Mungkin bagi sebagian orang ini adalah hal yang biasa ya. Tapi ternyata bagi sang klien kebiasaan ini mengganggu hidupnya. Masa dikit-dikit harus nanya istri gitu, lho. Kaya nggak bisa mengambil keputusan sendiri.

Setelah pak Asep melakukan teknik hipnosis sederhana dengan kalimat sugesti, kalimat yang terucap dari si klien adalah, “Ibu, kenapa ibu selalu nanya ke kakak dan adik, sih? Kok aku nggak pernah ditanya?”

Ternyata waktu kelas 3 SD si klien ini pernah pergi ke pasar bersama ibu, kakak dan adiknya. Di situ, ibunya hanya bertanya ke saudara-saudaranya apa yang mereka inginkan, tapi nggak nanya ke dia. Sederhana ya? Bagi kita sebagai orang tua mungkin hal itu biasa ya, kita cenderung memberi perhatian lebih kepada anak-anak yang “rewel” daripada yang “anteng”. Tapi buat anak ternyata bisa menjadi pengalaman yang traumatis.

Baca Juga: Anak Bungsu Lebih Disayang oleh Orang Tua. Benarkah?

Pak Asep menyebutkan bahwa menurut teori Psikodinamika, ada satu atau lebih dari 5 kebutuhan dasar anak yang nggak terpenuhi di situ. Bisa jadi itu kebutuhan untuk disayangi atau kebutuhan merasa diri berharga atau kebutuhan berekspresi. Nah, tidak tercapainya kebutuhan itu pada waktu anak-anak dapat menyebabkan trauma.

happy inner child

3. Seorang Anak Membenci Pelajaran Tertentu Karena Trauma

Ini mungkin kasus yang sering terjadi kalau mengamati sekitar. Mungkin kita sendiri pernah mengalami, ya. Jadi anak ini tidak menyukai pelajaran tertentu karena merasa tidak bisa, bodoh dan selalu merasa malu dan takut salah.

Setelah dicari penyebabnya adalah waktu kecil ia pernah salah ucap dan ditertawakan oleh banyak orang, termasuk teman dan guru. Bagi sebagian anak mungkin ini adalah hal yang biasa, tapi bagi sebagian lagi bisa jadi pengalaman yang traumatis.

Makanya beberapa ahli parenting moderen meminta orang tua untuk tidak mengolok-olok kesalahan atau kekonyolan anak meski kita anggap itu lucu. Ya, karena bisa mengakibatkan anak memiliki diri yang terluka.

Sebenarnya sih, masih ada beberapa kasus lagi yang diceritakan oleh pak Adi dan pak Asep. Tapi saya rasa ini sudah cukup untuk menggambarkan bagaimana wounded inner child melalui pikiran bawah sadar bisa menghambat performa di masa dewasa.

Kalau masih penasaran dengan kasus-kasus lain, terutama tentang pengaruh inner child dalam relasi suami dan istri teman-teman bisa nonton tayangan YouTube ini:

Wounded vs Happy Inner Child

Sebenarnya sepanjang usia kanak-kanak, seseorang nggak mungkin hanya mengalami kejadian traumatis, kan. Pasti ada hal-hal yang membahagiakan. Tapi, diri yang terluka ini lebih kuat dari diri yang bahagia karena menurut pak Adi, itulah sifat dari diri kita sebagai manusia. Mungkin mirip dengan peribahasa nila setitik rusak susu sebelanga, ya?

Hal ini disebabkan karena:

  • Manusia tercipta untuk kebaikan atau hal-hal yang sifatnya baik. Sehingga kalau mengalami hal-hal yang tidak baik, harus diselesaikan. Karena ketika kita terluka, luka itu tidak akan bisa sembuh dengan sendirinya tapi perlu proses.
  • Time won’t heal the wound. Sehingga kalau nggak segera dituntaskan, luka bisa terepresi ke alam bawah sadar.

Jadi wounded inner child itu lebih kuat dari happy inner child karena sebenarnya itu merupakan cara pikiran bawah sadar meminta supaya luka itu disembuhkan sampai tuntas.

Cara Memproses Inner Child

Lalu bagaimana cara supaya luka masa kecil itu bisa sembuh? Menurut pak Adi, yang pertama ya harus punya kesadaran diri bahwa ada masalah yang harus diselesaikan. Lalu cari metode yang tepat, antara lain:

  • Self-therapy
  • Meminta bantuan profesional (psikolog/psikiater/hipnoterapis)

Proses terapi ini dilakukan dengan menghadirkan nurturing inner parent yang dibutuhkan si inner child. Apa sih yang paling dibutuhkan seorang anak? Ya rasa aman. Itulah yang harus diberikan oleh inner parent untuk memulihkan luka di masa lalu.

Selain itu juga bisa dengan menghadirkan happy inner child, gali masa-masa yang membahagiakan di masa kecil. Sehingga tubuh akan bereaksi positif karena otak memproduksi dopamin, oksitosin, serotonin dan endorfin yang dapat membuat kita merasa nyaman.

Lalu, apakah wounded inner child ini hanya punya pengaruh negatif dalam performa masa dewasa? Nah, nanti saya tuliskan lagi insight yang saya dapat dari webinar Parade Happy Inner Child berikutnya.

Nah, setelah membaca artikel ini, apakah teman-teman merasa ada pengalaman masa kecil yang membuat trauma dan berpengaruh terhadap perilaku atau kehidupan di masa sekarang? Boleh yuk share di kolom komentar.

Suka dengan artikel ini? Yuk bagikan :)

alfakurnia

Lifestyle blogger yang suka berbagi tentang review produk, kisah sehari-hari, pengalaman parenting dan banyak lagi. Juga suka menulis resensi buku dan produk skincare di blog alfakurnia.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Back to top