Membangkitkan Kesadaran Diri untuk Performa Bahagia

Membangkitkan Kesadaran Diri untuk Performa Bahagia

Hey, Mom, I know we’re getting old.
And the lines on our hands have changed.
But you still look at me the same.

Hey, Mom, guess what? You’re really tough.
And I know you did all you could.
Just to make sure my life was good.

Sorry for the fights and the tone of my voice.
Sorry for the nights when I made up the wrong choice.

LANY – If This is The Last Time

Lirik lagu ini saya dengar dengan seksama saat sedang jalan pagi. Persis setelah malamnya saya selesai menulis artikel Wounded Inner Child dan Langkah Untuk Pulih beberapa minggu lalu.

Padahal saya sudah cukup sering mendengar lagu ini dalam playlist yang selalu menemani saya jogging. Tapi entah kenapa pagi itu saya tergerak untuk memperhatikan liriknya begitu mendengar kalimat, “I don’t wanna cry, I’m bad at goodbye if this is the last time.” Tiba-tiba saja pagi itu rutinitas jalan pagi saya terasa lebih berat karena saya berjalan sambil mengatur nafas supaya nggak nangis.

Kehilangan orang tua mungkin sebuah mimpi buruk bagi sebagian besar orang. Gelombang kedua Covid-19 yang berlangsung mulai bulan Juli kemarin membuat banyak sekali orang yang saya kenal kehilangan orang tua mereka.

Berita duka yang datang silih berganti membangkitkan kesadaran diri bahwa anything could happen at this moment. Salah satu dari kami bisa saja pergi lebih dulu. Dan saya nggak mau berpisah saat hati sedang menyimpan ganjalan kepada orang-orang terkasih. Khususnya orang tua.

Membangkitkan Kesadaran Diri

Momen ini membuat saya ingin mengubah hubungan kami menjadi hubungan yang, meminjam istilah coach Fena Wijaya, “didasari oleh rasa gratitude” bukan hanya sekadar “hak dan kewajiban”. Yaitu kewajiban saya sebagai anak untuk berbakti kepada orang tua dan hak orang tua untuk diurus dan dirawat oleh anaknya. Bukan.

Saya ingin punya hubungan di mana saya melakukan sesuatu untuk orang tua karena cinta, sebagai bentuk rasa syukur atas kehadiran mereka. Karena saya pun ingin memiliki hubungan seperti itu dengan anak-anak saya. Hubungan yang saya impikan saya miliki dengan orang tua saat saya masih kecil. Karena seperti lirik lagu di atas, “If this is the last time, please come close. I love you with all my heart, you know.”

Yup, naturenya anak adalah mencintai orang tua. Kalau ada yang bilang cinta orang tua kepada anak adalah unconditional, menurut saya setelah mengamati anak-anak saya, justru sebaliknya. Anak itu mau dimarahin, diabaikan, dipukuli, tetap ada cinta di hatinya.

Tapi, saya pun membenarkan kata-kata mas Adi Prayuda saat memandu zoominar kedua Parade Happy Inner Child yang bertema “Bangkit dari Luka Menuju Performa“. Saat itu mas Adi bilang bahwa anak akan sulit menyayangi orang yang terus memarahi mereka. Karena penerimaan mereka berbeda dari orang dewasa.

Ketika anak dimarahi, dia memahami itu sebagai kesalahan mereka, padahal belum tentu seperti itu. Akhirnya mereka terluka dan luka yang tidak dipulihkan akan menghambat performa seseorang ketika dewasa.

Baca Juga: Anak Berkata Kasar, Apakah Dia Anak Nakal?

Oya, intermezzo sedikit, ketika saya berusaha menyelesaikan tulisan ini (yang membutuhkan waktu lebih dari seminggu), pas ketika terhenti di bagian ini, saya membaca postingan dari akun instagram @rabbitholeid yang menurut saya relevan dengan tulisan ini. Mungkin ini yang namanya law attraction? So I decided to share it here.

Lalu bagaimana memulihkan luka masa lalu supaya bisa memberikan performa optimal di masa saat ini? Apakah kita harus melakukan inner child therapy?

Inilah rangkuman yang saya peroleh dari webinar 1 dan 2 rangkaian Parade Happy Inner Child dari narasumber-narasumber keren, yaitu: Adjie Santosoputro, dr. I Gusti Rai, SpKJ, Prasetya M. Brata dan Fena Wijaya. Oya, ini saya olah dengan kata-kata saya sendiri berdasarkan persepsi saya ya, jadi mungkin tidak persis sama dengan yang diutarakan oleh para guru tersebut.

Teman-teman yang ini menonton webinarnya bisa langsung ke channel Youtube Ruang Pulih. Ada 5 video dalam rangkaian Parade Happy Inner Child yang dapat membantu kita memahami luka masa lalu dan menuntun kita untuk berproses pulih.

berdamai dengan inner child

Cara Pulih atau Bangkit dari Luka Masa Lalu

1. Sadari Luka

Kadang kita nggak tahu sebenarnya apa sih yang terjadi pada diri kita. Kenapa kita tuh reaktif sekali saat marah? Kenapa kita mati-matian mencari pengakuan atau cinta sampai rela dimanfaatkan oleh orang lain? Kenapa kita nggak bisa terikat dalam suatu hubungan dalam waktu yang lama? Dan banyak kondisi lain yang mempengaruhi kita saat ini.

Kalau saya titik kesadaran ini ketika berkeluarga. Mulai dari hubungan dengan suami, cara saya mengasuh anak-anak sampai rasa tidak ikhlas ketika harus membantu orang tua. Semua hubungan ini hanya berdasarkan pada hak dan kewajiban. Ketika saya merasa tidak memperoleh hak sesuai yang saya inginkan, saya bisa sangat kecewa berlarut-larut sampai kehabisan cinta.

Baca Juga: You’re a Good Mum

Lalu saya cari penyebabnya. Karena saat itu saya tidak tinggal di Indonesia dan akses untuk ke psikolog tidak cukup mudah, jadi andalan saya adalah buku-buku psikologi, diskusi dengan teman yang psikolog sampai postingan-postingan tentang psikologi di internet.

Sampai saya menyadari, “Oh, saya begini karena memang ada yang luka yang belum pulih dari masa kecil saya.” Sayang, seperti yang saya ceritakan di postingan sebelumnya, bukannya mencari bantuan untuk pulih, saya tenggelam dalam drama. Saya menikmati luka ini dan menjadikannya pembenaran atas perilaku yang bisa melukai orang-orang tercinta.

2. Menyadari Kenyataan Masa Lalu dan Saat Ini

Pada webinar pertama, coach Adjie Santosoputro mengajak kita untuk menyadari bahwa meskipun yang terjadi pada kita di masa lalu itu nyata, saat ini itu sebenarnya sudah menjadi kenangan. Kalau kita masih memiliki masalah dengan luka masa lalu, berarti kita sedang berhadapan dengan kenangan masa lalu.

Ini senada dengan pemaparan pak Prasetya M. Brata. Beliau mengingatkan untuk menjalani masa sekarang tanpa ada bayang-bayang masa lalu. Supaya kita bisa menikmati dan hadir secara utuh pada masa yang sedang kita jalani tanpa membandingkan dengan pengalaman yang telah lampau.

Lalu bagaimana caranya?

3. Maknai Ulang Peristiwa Masa Lalu

Cara untuk bisa move on dari trauma masa kecil adalah dengan menyadari dan menerima setiap emosi yang kita rasakan. Baik itu emosi positif maupun negatif, biarkan tampil secukupnya. Begitu juga dengan trauma masa lalu. Jangan dipendam dan tidak perlu dilupakan tapi juga jangan didramatisir.

Coach Adjie dan Pak Pras meminta kita untuk menyadari bahwa orang tua kita pada zamannya mungkin tidak tahu cara yang baik mengasuh anak. Mereka hanya mengikuti apa yang dilakukan oleh orang tua mereka atau lingkungan sekitar. Dan menurut mereka itu adalah yang terbaik tanpa menyadari bahwa ada hal-hal yang bisa menyakiti anak-anaknya.

Dengan menyadari hal tersebut, kita juga bisa memahami bahwa orang tua tidak selalu salah. They just don’t know better. Untuk orang tua yang kita anggap toxic atau menyakitkan, mungkin mereka sendiri juga sedang terluka saat mengasuh kita. Karena menurut mas Adi Prayuda, orang yang terluka berpotensi melukai orang lain.

Saat kita bisa memaknai ulang peristiwa masa lalu, kita jadi bisa memandang peristiwa tersebut secara berbeda. Alih-alih merutuk masa kecil yang kurang bahagia, kita bisa juga bersyukur. Bersyukur bahwa masa lalu tersebut bisa membuat kita lebih kuat dan menjadi pribadi seperti sekarang.

Tentu saja ini bukan hal yang mudah. Banyak proses yang harus kita lalui sampai bisa benar-benar memulihkan si wounded inner child. Kalau merasa tidak mampu memulihkan sendiri, yuk kita minta bantuan profesional untuk melakukan inner child therapy. Saat ini akses ke tenaga ahli kesehatan mental sudah mudah kan ya.

Atau bisa seperti yang sedang saya lakukan, membaca buku Luka, Performa, Bahagia yang ditulis oleh mbak Intan Maria Lie dan mas Adi Prayuda. Juga menonton webinar-webinar Parade Happy Inner Child yang bisa memberikan banyak sekali pencerahan.

Dan nikmatilah perjalanannya. Saat ini saya belum pulih tentunya. Jujur aja saya termasuk lambat prosesnya nih. Sekarang saya baru belajar menyadari perasaan dan menyalurkannya secara tepat. Perjalanannya masih panjang, alhamdulillah masih didampingi oleh Mbak Intan dan Ruang Pulih bersama teman-teman blogger lain.

Semoga usaha ini akan ada hasilnya suatu hari nanti. Doakan saya ya.

Suka dengan artikel ini? Yuk bagikan :)

alfakurnia

Lifestyle blogger yang suka berbagi tentang review produk, kisah sehari-hari, pengalaman parenting dan banyak lagi. Juga suka menulis resensi buku dan produk skincare di blog alfakurnia.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Back to top