Browsing Category:

Review

  • Review

    Pernik Cantik dari Lingga Classic

    Pada bulan April banyak sekali acara memperingati Hari Kartini. Mulai dari berbagai perlombaan di sekolah-sekolah sampai aneka pameran atau bazaar di mall. Seperti halnya Festival Kartini 2015 yang diselenggarakan oleh Indonesian Heritage pada tanggal 15-19 April yang akan datang di Grand City Mall, Surabaya. Acara yang bertajuk “Karya Gemilang. Different is Beautiful” ini didukung oleh beberapa desainer dan artis nasional seperti Samuel Wattimena, Arzeti Bilbina, Celia Thomas dan lain-lain.

     photo 7B5D09A0-6614-4CE0-AC16-8319256E04C2_zpsqwu7tf8a.jpg

    Dalam acara ini, Lingga Classic ikut berpartisipasi dengan berjualan produk-produk kaca lukis. Mulai dari cermin kecil, tempat tisu, kotak perhiasan sampai set baki dan toples. Peralatan rumah tangga yang unik tersebut bisa didapatkan dengan harga mulai Rp 30.000 sampai Rp 350.000.

    Lingga Classic ini sudah berdiri sejak tahun 2001 di Solo, Jawa Tengah. Berawal dari industri rumahan sederhana dengan tujuan melestarikan budaya lokal dan mengenalkannya kepada masyarakat di luar Solo sampai manca negara, Lingga Classic memproduksi kerajinan cermin dengan desain klasik. Kini produknya sudah berhasil dipasarkan sampai ke luar negeri dengan pangsa pasar terbesar di USA, Eropa, Australia dan Timur Tengah.

    Saya sendiri punya hasil kerajinan berupa jam dinding besar dari cermin dengan desain yang elegan, hadiah pernikahan 9 tahun yang lalu dari owner Lingga Classic yang kebetulan adalah sahabat mama saya. Sayang akhirnya suvenir cantik itu ditinggal di rumah mama karena takut pecah kalau dibawa berpindah-pindah.

    Dalam pameran kali ini, Lingga Classic mengeluarkan koleksi terbaru dari seri suvenir kaca lukisnya yang lebih simpel dan tak kalah menarik. Seri ini cocok sekali untuk menghias ruang tamu atau ruang keluarga kita. Cermin mungilnya pas banget untuk suvenir pernikahan. Sedangkan tempat tisu atau tatakan gelas bisa kita berikan sebagai kado housewarming bagi sahabat tercinta. Ibu atau (calon) mertua juga pasti suka lho kalau diberi kado kotak perhiasan atau set baki dan toplesnya.

     photo 804C6180-86B9-4CDF-B741-ED8836D9C199_zpsu1hcispc.png

    Kalau belum ada desain yang sesuai selera, jangan khawatir, Lingga Classic juga bisa membuat produk sesuai keinginan kita. Jangan sungkan untuk tanya-tanya di sana. Ada mama saya dan teman-temannya serta adik ipar dan sepupu saya yang cantik akan membantu memilihkan pernik kaca lukis yang sesuai untuk kita.

    Jadi jangan lewatkan Festival Kartini 2015 tanggal 15-19 April yang akan datang. Kunjungi stand Lingga Classic di depan gerai Starbucks Grand City Mall, Surabaya dan dapatkan diskon dan suvenir menarik untuk pembelian selama pameran berlangsung. Selamat berbelanja.

  • Foods and Places, Life in Brunei, Traveling

    Rescue Exhibition OGDC

    Tanggal 15 Februari yang lalu, memenuhi janji ke kakak Cinta, akhirnya kami ke OGDC lagi. Kali ini untuk lihat Rescue Exhibition yang berlangsung selama bulan Februari 2015.

    Mengingat pengalaman sebelumnya jujur saja saya tidak berharap banyak, secara tempatnya tidak terlalu besar dan isinya tidak terlalu banyak. Tapi ternyata dengan membeli tiket seharga B$ 5 untuk dewasa dan B$2 untuk anak-anak mulai usia 5-12 tahun, banyak kesenangan yang kami dapatkan di sana.

    Dimulai dengan sambutan sebuah robot mini di area masuk pameran, kami pun memulai keseruan hari itu. Simulator yang pertama kami coba adalah Fire Rescue, di booth tersebut tersedia empat macam alat pemadam kebakaran disertai keterangan yang digantung di dinding bahwa setiap kebakaran yang penyebabnya berbeda hanya bisa dipadamkan dengan alat tertentu. Di layar besar, saya dan Keenan pun mencoba bermain memilih mana alat pemadam yang cocok untuk jenis kebakaran yang tertera di layar, ternyata cukup menyenangkan, terutama buat Keenan yang asik naik turun sambil mencoba keempat alat pemadam tersebut.

    Setelah itu Cinta memanggil adiknya dan mengajak Keenan untuk bergabung dengannya di kolam bola berwarna biru yang dilengkapi dengan perahu karet. Pura-puranya itu adalah simulasi usaha menyelamatkan korban yang mengalami kecelakaan di laut. Ya senenglah anak-anak, berkali-kali turun ke kolam lalu naik ke perahu, bergantian menarik yang masih di kolam untuk masuk ke dalam perahu.

    Bosan di kolam bola, kami menuju booth stasiun TV yang dilengkapi dengan meja reporter dan green screen. Di situ kami bisa memilih menjadi pembawa berita atau reporter. Dengan membaca teks yang sudah disiapkan aksi kita bisa dilihat di layar televisi di booth tersebut. Hahaha lumayan lah, menyalurkan cita-cita sebagai news anchor yang gagal :))

    Puas berpura-pura jadi reporter, kami memasuki semacam smoke room, sebuah kamar yang gelap dan penuh asap sebagai tiruan ruangan yang sedang terbakar. Keluar dari kamar ada salah satu game yang jadi favorit banyak orang. Wave Rescue!. Duah buah personal watercraft dan sebuah layar besar siap dimainkan oleh para pengunjung.

    Bagi pengunjung yang suka memanjat disedikan juga wall climbing kecil untuk latihan Vertical Rescue. Ini mah senengan bapaknya anak-anak dan beberapa anak dan remaja laki-laki. Mereka asik memanjat dinding tersebut dan berpindah dari satu sisi ke sisi lain.

    Sementara anak bayi suka banget sama simulasi Helicopter Rescue yang lagi-lagi dilengkapi dengan permainan di layar besar. Helikopter yang dilengkapi sensor panas untuk mendeteksi adanya kebakaran dari udara ini bikin Keenan nggak bisa move on mainan setir sambil ngeliatin layar raksasanya. Sementara kakaknya sudah berkeliling melihat-lihat permainan yang lain.

    Selain berbagai alat menarik tersebut, penyelenggara pameran juga menyediakan tiruan ruangan tim pemadam kebakaran lengkap dengan kostum yang bisa dipakai, layar-layar kecil berisi aktivitas interaktif yang memberikan aneka informasi seperti barang-barang apa saja yang perlu dibawa saat dalam misi penyelamatan, cara menangani pasien dan lain-lain.

    Petualangan hari Minggu pun diakhiri dengan memberi makan ikan di kolamnya, OGDC. Hanya dengan membeli pakan ikan di kantin OGDC seharga 50 sen sekantung kecil, anak-anak puas mengenal makhluk-makhluk dalam kolam. Ah, terima kasih OGCC, kami tunggu pameran-pameran seru selanjutnya.

    Foto-foto lain dari OGDC Rescue Exhibition 2015

     

    Cinta belajar jadi reporter dan pembawa berita kebakaran.

     

  • Foods and Places, Kids Activities, Life in Brunei

    Belajar Science di OGDC

    Tanggal 18 Januari 2015 yang lalu, untuk pertama kalinya selama 3 tahun tinggal di Brunei akhirnya kami berkunjung ke Oil and Gas Discovery Centre Seria. Padahal ya, bangunan ini dilewatin minimal sehari dua kali dan playground serta jogging tracknya sempat jadi tempat main favorit kami. Cuma ya baru tergugah untuk eksplorasi yang ada di dalamnya baru-baru ini aja. Itupun hampir batal karena waktu mau berangkat hujan, untung nggak lama kemudian berhenti. Akhirnya dipaksakanlah mendung-mendung pergi daripada cuma bengong di rumah.

    Science Centre yang berada di Seria, Brunei Darussalam ini pertama kali dibuka pada tahun 2002 dengan tujuan awal memberikan edukasi kepada warga Brunei tentang pertambangan minyak dan gas bumi yang merupakan salah satu tulang punggung perekonomian negara. Namun seiring berjalannya waktu, Brunei Shell Petroleum sebagai pengelola mengembangkan OGDC sebagai sarana edukasi ilmu pengetahuan dan teknologi serta aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari.

    Biasanya saat libur sekolah, OGDC punya kegiatan menarik untuk anak-anak, mulai dari lab science activity sampai cooking class dan traffic games. Tapi sayangnya belum punya kesempatan untuk mencoba, mungkin libur sekolah Maret yang akan datang kalau ada aktivitas menarik mau daftarin Cinta ikut secara dia suka sekali segala sesuatu yang berbau science dan kebetulan nggak ada rencana pergi ke mana-mana.

    Saat kami ke sana hari Minggu, ternyata sedang ada aktivitas di exhibition hall. Sekelompok anak usia SMP asik menyaksikan salah satu petugas OGDC mendemonstrasikan serunya aplikasi science dalam berbagai permainan. Tapi cuma sempat ikut liat sebentar karena Cinta sudah nggak sabar pengen masuk ruang Oil & Gas.

    Sebenarnya setelah menulis nama di buku tamu, resepsionis menawarkan apakah kami butuh bantuan pemandu atau mau jalan-jalan sendiri. Berhubung ruangan yang hendak dieksplorasi tidak terlalu besar kami memutuskan untuk berjalan-jalan sendiri. Namun dalam praktiknya, para petugas OGDC nggak segan membantu dan menjelaskan kepada kami hal-hal yang menarik dalam setiap ruangan. Mungkin karena pada hari itu selain rombongan pelajar, pengunjungnya cuma kami sekeluarga hihihi.

    Oil & Gas Room, OGDC Seria, Brunei

    Di ruang Oil & Gas yang berisi tentang berbagai pengetahuan tentang ilmu pertambangan, anak-anak paling suka menyusun pipa-pipa dan membolak-balik kaca yang berisi bebatuan dan minyak, sementara saya membaca sejarah pertambangan di Brunei.

    Puzzle & Illusion Room, OGDC Seria, Brunei

    Kemudian kami pindah ke ruang Puzzle and Illusion. Nah, udah deh, nggak yang besar nggak yang kecil semua heboh mencoba satu per satu alat peraga yang ada di situ. Mulai dari menyalakan listrik pakai kayuhan sepeda, menyusun puzzle raksasa sampai berbagai tipuan mata yang bikin berdecak, “Kok bisa ya.”

    Meski isinya nggak terlalu banyak tapi anak-anak saya betah sekali main di sini sampai susah diajak pulang. Rencananya bulan ini kami akan ke sana lagi untuk melihat Rescue Exhibition yang diadakan di bulan Februari. Tunggu cerita seru di OGDC selanjutnya 🙂

    Informasi

    HTM/Admission Charges:

    PRE SCHOOL (5 years old and below) : Free of Charge
    CHILD (5 – 12 years old) : BND 1
    TEEN (13-17 years old) : BND 2
    ADULT (18 – 55 years old) : BND 5
    SENIOR CITIZEN (55 years old and above) : BND 3
    FAMILY PACKAGE (2 adults + 4 children) : BND 12

    Operating Hours:

    Monday to Saturday : 8:30am to 5:00pm
    Sunday : 9:30am to 6:00pm
    Public Holiday : CLOSED

  • Books

    Thea Stilton: The Secret of The Snow

     photo 34F31562-DD8B-42DC-9C4F-B9C8AAD39032_zpsddoxucw0.jpgJudul Buku: Thea Stilton: The Secret of The Snow
    Penulis: Thea Stilton
    Penerbit: Scholastic
    Jumlah Halaman: 308 hal.
    Harga: U$ 14.99 (B$ 19.90)
    Bahasa: Inggris

    Di libur musim dingin kali ini, Thea Sisters yang terdiri dari Collete, Nicky, Violet, Pamela dan Paulina mendapat kesempatan dari Institute of Incredible Stories (I.I.S)1 untuk belajar bahasa yang digunakan oleh para makhluk ajaib di negeri fantasi. Kesempatan ini tentu tidak disia-siakan oleh murid-murid kesayangan Thea Stilton, koresponden istimewa koran nomer satu di Mouse Island, The Rodent’s Gazette sekaligus dosen tamu di Mouseford Academy yang mengajar adventure journalism.

    Tapi sesampainya di I.I.S, alih-alih mencoba teknologi transfer informasi terbaru milik Seven Roses Unit2 bersama agen Will Mystery3, Thea Sisters justru harus bertualang di Land of Minwa. Negeri fantasi yang terletak di Jepang ini sedang dalam bahaya. Bunga Teratai yang sangat penting bagi kehidupan makhluk-makhluk ajaib di sana perlahan-lahan menghilang.

    Lotus flowers are very special, even if they grow out of mud. They remind us that it doesn’t matter what our condition is. Everyone can make something beautiful and be helpful to others. Lotus flowers remind us of this, and they give us courage. – Setsuko

    Berupaya memecahkan teka-teki yang diberikan oleh Tanuki, binatang serupa rakun yang bisa berubah wujud dalam mitologi Jepang yang mereka jumpai di hutan Sakura, Will Mystery, Colette, Pam dan Paulina menuju Sungai Kristal untuk mencari Peri Salju. Sedangkan Thea Stilton, Nicky dan Violet pergi menuju lautan untuk bertemu dengan Isonade, hiu bersirip tiga yang diduga sebagai pelaku dibalik menghilangnya bunga-bunga Teratai.

    Rage can make you do senseless things. In the end, your anger ends up hurting you more than others. – Isonade

     photo D6AC5A2A-446A-4246-96E9-E4F389C5BCA6_zpskms7hh64.png Petualangan menarik yang dilengkapi dengan ilustrasi alam Land of Minwa yang fantastis membuat saya menyelesaikan buku ini dalam beberapa jam saja. Sekaligus menuntaskan 3 tantangan dalam 2015 Reading Challenge, yaitu “a book you can finish in a day“, “a book with magic” dan “a book with non human character“. Aha!

    Memang sih, buku ketiga dalam serial Thea Stilton edisi hardcover ini sebenarnya buku anak-anak. Tapi sah juga kok sebagai hiburan orang dewasa hahaha. Ceritanya ringan, penuh imajinasi tapi juga sarat pelajaran akan persahabatan, teamwork dan etika.

    Buku ini adalah salah satu seri petualangan Thea dan kelima muridnya bersama agen-agen I.I.S, Selain itu juga ada serial petualangan Thea Stilton dan Thea Sisters yang lain di berbagai penjuru dunia. Buku-buku tersebut cocok sekali untuk anak-anak dan remaja atau bahkan orang dewasa yang ingin melancarkan bahasa Inggris mereka tapi belum pede baca buku bahasa Inggris dengan rating dewasa. Fontnya cukup besar, berwarna-warni dan kosakata serta grammarnya sederhana dan mudah dipahami. Serunya lagi di setiap petualangan Thea Sisters yang mengambil lokasi kota-kota besar di dunia selalu disertai keterangan tentang obyek-obyek penting di kota tersebut. Jadi selain menghibur juga menambah pengetahuan kitaanak-anak.

     photo 4A4BAA3B-3962-437D-8036-CE9248FF67D0_zpstih0kzlu.jpg

    Cuma ada satu hal yang saya kurang suka. Di setiap petualangannya selalu ada kisah salah satu anggota Thea Sisters ini menjalin persahabatan khusus dengan lawan jenisnya. Didukung dengan ilustrasi yang menunjukkan keakraban seperti orang pacaran gitu.

    Tapi saya ingat salah seorang psikolog berkata kalau ingin menghindarkan anak dari konten-konten negatif saat membaca buku atau menonton televisi, fokuskan saja pada hal-hal positifnya. Jadi instead of membahas soal pacaran ini, saya lebih suka ajak Cinta diskusi soal serunya petualangan mereka. Biasanya sih, serial ini saya bacakan untuk Cinta sebagai pengantar tidurnya. Setiap hari 3 bab. Kadang kalau ceritanya lagi seru ya nambah apalagi kalau akhir pekan. Dan tiap satu buku habis, Cinta pasti nggak sabar untuk membeli judul yang baru. Ada yang ikutan 2015 reading challenge juga? Sudah buku apa saja? Lumayan ya buat memotivasi diri sendiri untuk tetap membaca buku di sela-sela kesibukan sehari-hari. Hmmm… Abis ini baca buku apalagi ya? Ada rekomendasi?

    1. The I.I.S, the Institute of Incredible Stories adalah tempat penelitian berbagai macam misteri yang tidak terpecahkan. Markasnya tersembunyi di bawah gunung es Antartika []
    2. The Seven Roses Unit adalah departemen paling rahasia di I.I.S. Mereka mempelajari dunia fantasi yang terdiri dari makhluk-makhluk dari mitologi atau legenda dunia []
    3. Kepala The Seven Roses Unit []
  • Books

    Mendobrak Label Diri Bersama Ara

    Judul Buku: Gadis Kecil itu Bernama Ara
    Penulis: Bunda Ve
    Penerbit: PT Elex Media Komputindo
    Cetakan: Pertama, 2014
    Tebal: 203 halaman
    Harga: Rp 58.800,-
    Dapat dibeli online di Gramedia Online

    Jujur saja, sudah lama sekali saya tidak membaca buku-buku parenting. Malas. Isinya begitu-begitu saja. Menggurui. Tapi, saat strolling di rak buku Gramedia waktu mudik ke Surabaya bulan Desember lalu, saya tertarik dengan buku ini. Mungkin karena judulnya yang tidak berbau keparentingan bahkan lebih seperti novel fiksi. Mungkin juga karena kutipan yang ada di sampul buku ini yang rasanya cocok sekali dengan kondisi saya yang merasa susah memotivasi si sulung untuk lebih bersemangat di sekolah. Atau bisa jadi karena gambar sampulnya yang manis. Entahlah. Pokoknya langsung jatuh cinta pada pandangan pertama dengan buku ini.

    Kegagalan anak usia sekolah, baik dalam bidang akademis atau bidang lainnya, bukan karena mereka bodoh, melainkan karena mereka kurang percaya diri. (Prof. Sumantri)

    Ternyata pilihan saya enggak salah. Buku yang mengisahkan pengalaman pribadi penulis dalam mendampingi kliennya yang bernama Ara ini sangat menarik untuk dibaca. Bagaimana Ara yang tadinya didiagnosa sebagai anak dengan fungsi kecerdasan terbatas atau slow learner1 dan selalu mendapatkan nilai akademis di bawah rata-rata kelas bahkan nyaris tidak naik kelas ini dengan pendampingan yang dilakukan Bunda Ve dan tim serta dukungan dari orang tuanya, mampu mematahkan diagnosa tersebut. Kisah ini dituliskan dalam bahasa yang menarik dan alur waktu yang runut, benar-benar seperti membaca sebuah novel.

    Aktivitas yang dilakukan Bunda Ve, nama panggilan dari Dra. Vincentia Dwiyani, penulis buku ini dalam sesi-sesi pendampingannya bersama Ara dan ibunya dijelaskan secara detil lengkap dengan tujuan dan manfaat yang dicapai. Berguna sekali buat pembaca yang ingin mempraktikannya di rumah. Eksplorasi penulis tentang latar belakang ibu Maryam yang selalu menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang dialami Ara dan adik-adiknya, juga ketakutan Ara untuk bergerak secara spontan memberikan pemahaman bahwa hal-hal kecil yang mungkin dilakukan suami kepada istrinya atau orang tua kepada anaknya ternyata bisa memberi dampak psikologis yang besar sekali.

    Boleh jadi, ada banyak orang tua yang tanpa disadari menolak keberadaan anaknya. Penolakan ini sesungguhnya bisa tercermin dalam keseharian. (Bunda Ve)

    Bab favorit saya adalah “Ujian Cinta” di mana ibu Maryam dalam keadaan tenang diminta untuk membayangkan Ara dan memeluknya. Ternyata meski di bibir kita mengucap, “Tentu, saya sangat mencintai anak saya.” Ketika diminta untuk membuktikannya tidak semudah itu. Hohoho sepertinya saya tertarik untuk mencoba, demi membuktikan apakah benar saya mencintai anak-anak saya dari lubuk hati terdalam *wink*

    Sayang, dalam buku ini tidak diceritakan peran ayah Ara dalam proses pendampingan tersebut. Hanya terfokus pada Ara dan ibu Maryam. Sosok ayah Ara yang bekerja di luar kota dan hanya berkumpul dengan keluarganya di akhir minggu cuma diceritakan pada awal dan akhir pendampingan, seolah sebagai pelengkap saja. Padahal parenting masa kini banyak menekankan pentingnya peran ayah dalam mendidik anak.

    Tapi secara keseluruhan buku parenting ini cukup menyegarkan di antara berbagai buku bertema sama. Apalagi bagi saya yang hanya bisa membaca di sela-sela waktu luang rasanya buku ini bisa menambah wawasan baru tentang pengasuhan anak tanpa terkesan menggurui. Jadi enggak sabar menunggu terbitnya Serial Senandung Hati yang lain.

    1. A slow learner can be described as a student who has the ability to learn necessary academic skills, but at a rate and depth below average when compared to their peers. In order to grasp new concepts, a slow learner needs more time, a number of repetitions, patience and often more resources from teachers to be successful. In children with this condition, reasoning skills are typically delayed, which makes new concepts difficult to learn and grasp. – Surabhi Verma, director, Sparsh for Children. Taken from The Health Site []
  • Movies & Music

    Indahnya Dongeng Naura

    Sudah sebulanan ini saya suka sekali dengar lagu-lagunya Naura yang ada di album “Dongeng”. Bahkan sampai rela beli albumnya via iTunes untuk didownload di iPhone supaya bisa didengar di mobil bersama anak-anak.

    Awal mengenal Naura ketika saya hadir di Citos, Jakarta dalam acara pengumpulan dana untuk bayi NF, bayi yang mengalami penyiksaan seksual beberapa tahun yang lalu. Waktu itu Naura, anak dari Nola B3 menyanyikan lagu “Somewhere Over the Rainbow” dengan cukup bagus untuk anak seusianya. Yah, maklum sih ibunya adalah seorang Nola yang bersama Widi dan Lusy di AB3 semasa remajanya malang melintang di berbagai festival menyanyi internasional. Dan sampai sekarang masih kukuh sebagai penyanyi trio wanita berkualitas di Indonesia meski Lusy sudah digantikan oleh Cynthia Lamusu.

    Beberapa tahun kemudian saya menemukan saluran youtubenya Nola dan melihat beberapa video Naura sedang bernyanyi. Dalam hati saya berkata, “Coba deh Naura ini bikin album anak-anak, pasti bagus.” Eh, tak lama kemudian saya melihat halaman Facebook pak Toge Aprilianto yang mempromosikan album Dongengnya Naura.

    Penasaran dong, saya kunjungi lagi youtubenya Nola lalu menemukan video klip lagu Semesta Cinta. Wah, bagus banget. Padahal waktu itu album Dongeng belum dipasarkan melalui distributor besar, baru buka PO secara online. Tapi video klipnya sudah digarap secara profesional. Salut deh buat Nola dan Naura.

     

    Dari yang tadinya hanya naksir lagu Semesta Cinta begitu albumnya dirilis di iTunes langsung deh beli. Murah lho, Rp 39,000. Dan langsung jatuh cinta sama semua lagunya, bagus banget. Favorit saya di album ini adalah lagu Satu Selimut, Panca Indera, Cahaya Hatiku, eh semua aja kalau gitu hihihi.

    Jujur tadinya musik dan warna suara Naura di album ini mengingatkan saya pada Sherina di album Petualangan Sherina. Mirip. Tapi yang membuat lagu-lagu Naura istimewa adalah terlibatnya ibu Nola dan adik Neona di dalamnya. Mendengar lagu di album ini terasa sekali kehangatan keluarga mereka. Seakan-akan kita dibawa masuk ke dalam rumah mereka menyaksikan mereka ngobrol dalam bentuk musikal.

    Seperti lagu Dongeng, misalnya. Saya merasa melihat Nola sedang bercengkerama bersama Naura dan Neona dan ngobrol tentang nenek sihir, raksasa, dan dari mana asalnya dongeng. Begitu juga di lagu Satu Selimut, seolah saya sedang bersama Naura dan Neona yang lagi ngobrol sebelum tidur saling mengingatkan bahwa mereka saling menyayangi walaupun kelak tidak lagi hidup bersama. Trus ngeliat bocah-bocah berdua yang lagi tidur umpel-umpelan di samping saya dan mewek deh.

    Terima kasih ya Naura dan ibu Nola, sudah memberi hadiah indah bagi saya, anak-anak saya dan anak-anak Indonesia dengan beredarnya album Dongeng. Setidaknya selain albumnya Sherina, sekarang anak saya punya tambahan koleksi lagu anak-anak yang bisa dinikmati saat sedang berkendara bersama saya.

    Semoga bisa menginspirasi anak-anak dan membuat mereka menikmati masa kanak-kanaknya yang polos dan indah. Terus berkarya ya, Naura 🙂

  • Beauty & Fashion

    Apa Sepatu Favoritmu?

    Sambil nunggu nasi matang, mumpung anak-anak sudah tidur, iseng buka Pinterest. Lantas tertarik dengan pin tentang berbagai jenis sepatu perempuan.

    Ternyata banyak sekali model dan sebutan untuk sepatu yang sering dipakai kaum hawa ini. Bahkan boots saja ada lebih dari 5 jenis. Mulai dari thigh high boots, knee high boots, Wellington boots, cowboy boots dan Ugg boots.

    Begitu pula dengan flat shoes. Selain Mary Jane dan ballerina flats yang tersohor itu juga ada mocassin, loafer, slip on, dockside sampai flip flops alias sandal jepit.

    Apalagi high heels. Ternyata nggak hanya pump dan stilleto. Peep toe, wedges, platform, d’orsay, ankle strap serta cone, salah satunya mungkin ada di lemari sepatu kita.

    Sebagai perempuan, pasti punya sandal atau sepatu minimal 3 pasang deh. Hayooo, iya kan? Sekarang sih saya lagi demen pakai model mary jane dari Crocs serta ballerina flats karena nyaman buat naik turun tangga 2 lantai dan kendaraan sambil gendong bayi, bawa tas saya dan Cinta, kadang nenteng belanjaan juga.

    Untuk sandal lagi-lagi pilihan jatuh ke Crocs. Bahannya yang dari karet dengan sol tebal dipadu model yang lumayan manis bikin nyaman untuk saat santai dan nggak pegal dipakai jalan jauh. Hidup Crocs deh hihihi.

    Cuma sekarang mulai bosan berkaret ria. Pengen yang sedikit modis dan mulai melirik sandal wedges atau sepatu kitten heels yang ringan, sayang belum nemu yang cocok nih.

    Ada yang bisa kasih saran merek apa yang modelnya canti, nyaman serta ringan dipakai tapi tetap ramah di kantong?

    Kalau kalian paling suka pakai sepatu atau sandal model apa nih?

    Gambar diambil dari Pinterest.

  • Books, Life as Mom

    Satu Hari untuk Ibu

    Hari Minggu kemarin, saya dan Cinta juga adik dan adik ipar, nemenin mama datang ke acara Hari Ibu yang diselenggarakan komunitas Perempuan Menulis, sekaligus launching buku antologi mereka di Royal Plaza, Surabaya. Komunitas ini terdiri dari para alumni Sirikit School of Writing yang didirikan oleh seorang sastrawan, jurnalis dan peneliti idola saya, Sirikit Syah. Bu Sirikit ini 10 tahun yang lalu pernah menjadi dosen penguji tamu saat saya sidang skripsi. Dan dulu saya mengidolakan ibu yang super aktif ini, makanya seneng banget bisa ketemu beliau lagi. Apalagi beliau juga ingat saya sebagai salah satu mahasiswa yang pernah diujinya, meski universitas tempat beliau mengajar berbeda dengan tempat saya belajar.

    Oke, kembali ke topik. Di acara ini banyak kegiatan menarik. Ada lomba menggambar, yang kemudian diprotes Cinta karena menurutnya, “This is not a drawing competition. This is a coloring competition!”

    Sambil nunggu anak-anaknya menggambar mewarnai, para orang tua diajak mendengarkan talkshow tentang pengasuhan anak oleh Psikolog dari sebuah rumah sakit swasta di Surabaya yang juga ikut berpartisipasi dalam antologi “Let’s Talk About Mom.” Lumayan lah, buat refreshing karena sudah lamaaaaaa sekali nggak ikut talkshow gitu.

    Setelah acara untuk anak selesai dan sambil menunggu pengumuman pemenang lomba, ada talkshow tentang kecantikan dan kesehatan kulit dengan topik, “Apakah Kulit Putih Identik dengan Sehat dan Cantik?” dari Derma Estethic Centre. Tapi saya nggak ikut nih karena Cinta dan Yasmine, sepupunya pengen foto-foto di fotobox yang ada di sekitar area tersebut.

    Saat saya dan mama yang juga jadi panitia acara peringatan Hari Ibu ini kembali dari makan siang, talkshow “Membentuk Karakter Anak Lewat Menulis” yang dibawakan oleh pak Sutanto Leo sudah berlangsung hampir separuh jalan. Pak Sutanto Leo adalah penulis dari Bandung yang sudah menelurkan banyak buku. Beliau juga writing trainer dan konsultan penerbitan.

    Acara diakhiri dengan bagi-bagi doorprize dan foto bersama para panitia dan pembicara. Senang juga seharian ikut mama di acara komunitasnya. Jadi ikut tahu orang-orang baru. Bangga melihat mama dengan aktivitas barunya menjelang pensiun ini. Selamat Hari Perempuan, Indonesia. Semoga semakin banyak para perempuan yang mewariskan kearifan dan nilai-nilai hidupnya melalui tulisan.

  • Life Hacks, Review

    Perpanjang SIM, Nggak Repot Lagi

    Yelloooow… *lap lap blog*

    Huaaa sudah lama ya nggak nulis di sini. Sebenarnya banyak banget yang mau diceritain tapi apa daya antara keluarnya ide sama ketersediaan waktu untuk nulis tuh jarang sinkron (baca: malas). Tapi mumpung lagi mudik nih dan banyak santai karena nggak harus berkutat dengan antar jemput sekolah, laundry dan rumah dan piring kotor mau coba nulis dikit-dikit lagi.

    Kali ini mau cerita tentang pengalaman perpanjangan SIM alias surat ijin mengemudi yang akan habis masa berlakunya bulan Juli 2014. Masih lama sih tapi mumpung mudik lah jadi diurus sekalian daripada nunggu tahun depan takut keburu mati malah repot.

    Jujur aja sebenarnya agak malas ngurus kartu-kartu identitas yang berhubungan dengan pegawai pemerintahan atau aparat keamanan. Berdasarkan pengalaman nggak ada tuh yang cepat, nyaman dan menyenangkan. Apalagi ingat pas suami ngurus SIM yang sudah mati beberapa tahun dan alamat di SIM lama berbeda dengan alamat di KTP sekarang. Beuuuuh, harus cabut berkas lah, masukin berkas, lantas disuruh bikin baru, tes tulis, tes praktik, nggak lulus. Ulang tes lagi. Sampai akhirnya minta tolong “orang dalam” untuk urusin baru deh dapat tuh SIM.

    Makanya supaya nggak kejadian seperti itu saya berusaha perpanjang sebelum habis masa berlaku. Dan supaya cepat saya cari informasi tentang SIM corner atau SIM keliling karena banyak yang bilang proses di sana lebih mudah dan bebas calo.

     photo 1279B596-D9C7-43C9-95B9-F3A247EDF409_zpsse11qtll.jpg

    Masalahnya alamat di SIM lama saya masih Sidoarjo, sementara e-KTP sudah ikut alamat mertua di Tuban. Padahal kalau mudik ya domisilinya lebih sering di Sidoarjo daripada Tuban. Ketika saya coba tanya ke twitter @polressidoarjo disarankan untuk mutasi SIM aja ke alamat baru. Walah, repot bener sih. Mana ke Tubannya juga belum jelas kapan.

    Tiba-tiba saya teringat masih punya KTP beralamat Sidoarjo yang memang sengaja saya simpan meski pernah berKTP Bogor dan sekarang punya e-KTP Tuban. Setelah dicek alhamdulillah masih berlaku sampai tahun depan. Hahaiii, nekat lah berangkat ke SIM Corner di Sun City Sidoarjo untuk perpanjang surat ijin mengemudi.

    Alhamdulillah sampai di sana, counter yang saya tuju sepi. Langsung kasih SIM lama dan KTP ke petugas pendaftaran untuk dicatat dan dilampirkan ke formulir lalu bayar asuransi sebesar Rp 55.000,- Setelah itu formulir beserta lampirannya diserahkan ke petugas yang lain untuk diproses dan bayar Rp 80.000,- untuk biaya perpanjangan SIM A. Sebentar kemudian disuruh masuk ke ruangan untuk kelengkapan data, tanda tangan, cap jempol dan foto. Nggak sampai 5 menit setelah itu SIM sudah jadi dan saya bisa pulang. Huaaaa seneng banget. Cepat, nyaman dan praktis.

    Salut untuk kepolisian yang berusaha memudahkan masyarakat untuk mengurus SIM. Dengan adanya SIM keliling dan SIM corner nggak harus panas-panas antri di Polres setempat dan berebut dengan para calo. Pelayanan yang diberikan pun cepat. Biaya yang harus dibayar juga jelas tanpa ada pungutan liar.

    Ada yang punya pengalaman bikin SIM baru atau perpanjangan SIM juga? Mau dong baca ceritanya 🙂