Browsing Category:

Review

  • Movies & Music

    Disney Descendants

    Sudah sebulan ini Disney Channel jor joran menayangkan iklan Disney Channel Original Movie terbaru: Descendants yang akan tayang tanggal 13 September 2015 di Disney Channel Asia. Ngeliat trailer dan cerita para pemeran utamanya sih sepertinya lumayan juga nih untuk ditonton. Cuma kok ya masih lama tayangnya.

    Tapi hari Jumat lalu waktu Cinta pulang dari playdate di rumah temannya, dia cerita abis nonton Descendants. Lha jadi penasaran kan saya. Coba nyari di filmbagus21 eh ada. Ternyata film ini memang sudah tayang tanggal 31 Juli di Amerika.

    Jadi Descendants ini bercerita tentang anak-anak para penjahat terhebatnya Disney yaitu Mal, anak perempuan dari Maleficent; Evie, putrinya The Evil Queen; Carlos, anak tunggalnya Cruella De Vil dan Jay, anaknya Jafar. Masih pada inget kan di cerita klasik Disney mana para penjahat ini muncul?

    Keempat anak yang selama ini tinggal di Isle of the Lost, pulau terasing tempat para orangtua mereka dibuang, tiba-tiba diberi kesempatan untuk sekolah dan tinggal di The United Kingdom of Auradon, kerajaan para Disney princes dan princesses. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh para evil villains untuk membalas dendam dengan memberikan misi rahasia kepada anak-anak mereka yang awalnya disambut dengan antusias.

    Ternyata setelah Mal, Evie, Carlos dan Jay tinggal di Auradon, mereka menyadari bahwa nggak mudah melaksanakan misi itu. Terutama karena kata hati mereka berperang melawan keinginan untuk membuat orangtua mereka bangga. Nah, mana yang menang? Harus liat sendiri filmnya hehehe.

    Tapi gampang ketebak kok. Ya, memang agak cheesy filmnya. Mungkin karena ditujukan untuk anak-anak ya. Karakter-karakternya juga kurang kuat kecuali Mal. Dan yang paling bikin sedih adalah those great villains look so pathetic. Hiks. Nggak ada deh sisa-sisa kepongahan dan keserakahan Jafar, kelicikan the Evil Queen dan kekejaman Cruella De Vil. Sungguh mereka tampak konyol. Karakter Maleficent agak mendingan ya meski masih kurang aura jahatnya.

    Lagi-lagi ya penonton dewasa seperti saya harus memaklumi bahwa ‘ini film anak-anak’. Meski demikian banyak kok pesan moralnya untuk para orangtua, seperti kita nggak bisa memaksakan anak untuk mengikuti jejak kita. Atau ada masa-masa di mana anak akan mengalami dilema antara mengikuti kata orangtua atau lingkungan, di saat seperti ini hubungan yang harmonis antara anak dengan ortu memegang peranan penting. Dan anak harus diberi kesempatan membuat keputusan penting, sekaligus berani menghadapi risikonya dan belajar mempertanggungjawabkan keputusannya.

    Sementara buat anak-anak film ini lumayan kok buat hiburan sekaligus memperkenalkan tokoh-tokoh film klasik Disney. Cinta bilang dia suka nontonnya, menurutnya jalan ceritanya bagus meski dia nggak kenal Cruela De Vil dan Jafar. Karakter favoritnya adalah Mal, “Because she has purple hair. No, actually because she’s the best of them all.” Lagu-lagunya juga cukup menarik terutama yang dinyanyikan solo oleh Mal. Meski kalau dibandingkan dengan High School Musical dan Teen Beach Movie masih jauh lah.

    Mungkin kalau dibuat lebih serius lagi dan dikurangi nyanyian dan tariannya (udah mirip sama film India aja gitu) film dengan jalan cerita yang unik ini bisalah tayang di bioskop. Sementara ini mumpung nontonnya nggak bayar layak kok buat tontonan di akhir pekan sambil makan popcorn rame-rame di ruang keluarga. Selamat menikmati.

  • Life in Brunei, Movies & Music

    Minions. Just Enjoy The Fun.

    [Spoiler alert]

    Sejak muncul trailernya di youtube beberapa bulan yang lalu, anak-anak terutama Cinta semangat sekali ingin nonton prekuelnya Despicable Me ini. Maklum, mereka adalah pecinta berat Gru, the girls dan para minions. Apalagi Keenan, mungkin dia sudah nonton sebanyak 77 kali film-film Despicable Me yang tersimpan di file video Galaxy Note milik papanya. Bahkan dia bisa ngomong “banana” dan “apple” saya rasa juga belajar dari para Minions ini.

    Jadi begitu PSB Dualplex Cinema Seria mulai menayangkan film Minions sejak tanggal 18 Juni yang lalu, kami pun mulai merencanakan untuk nonton bersama. Iya, bersama dalam arti semua ikut nonton. Termasuk Keenan. Biasanya sih cuma saya dengan Cinta, Cinta dengan papanya atau saya dengan suami (yang jarang sekali terjadi sejak punya anak. Hiks). Tapi kali ini kami ingin mengajak Keenan juga. Apalagi liat ratingnya di IMDB adalah PG atau Parental Guidance yang artinya film ini bisa ditonton oleh segala umur dengan pendampingan orang tua karena ada materi-materi yang mungkin tidak cocok untuk anak-anak terutama di bawah 13 tahun seperti adegan kekerasan, humor yang kasar atau adegan telanjang1. Jadi rasanya okelah sebagai percobaan membawa Keenan nonton bioskop untuk pertama kalinya. Toh, kalau ternyata nanti dia nggak suka salah satu dari kami bisa membawa Keenan keluar studio.

    Sengaja memilih nonton jam 16.30 dengan pertimbangan durasi film selama 91 menit memberi kami cukup waktu untuk menanti buka puasa. Sekalian ngabuburit gitulah. Sayangnya, karena masih dalam waktu puasa kami nggak bisa membelikan popcorn untuk Keenan karena ada larangan bagi muslim dan non-muslim untuk makan dan minum di dalam gedung bioskop selama fasting hours. Tapi nggak apa-apalah, toh sebelum berangkat Keenan sudah sempat makan sedikit.

    Secara keseluruhan film ini menurut saya cukup menghibur meski nggak semenarik Despicable Me walaupun digarap oleh sutradara yang sama, yaitu Pierre Coffin. Hanya saja di film Minions, Pierre bekerja sama dengan Kyle Balda, co-director film The Lorax instead of Chris Renauld seperti dua film Despicable Me.

    Minions berkisah tentang para makhluk kecil berwarna kuning yang hidup sejak mula terbentuknya bumi ini memiliki tujuan hidup mengabdi para orang-orang terjahat pada jamannya. Mulai dari T-Rex, manusia prasejarah, Anubis, Count Dracula sampai Napoleon Bonaparte (eerrr, Napoleon termasuk evil villain kah?). Sayang karena kecerobohan mereka para tokoh jahat ini tidakberumur panjang sehingga pada akhirnya para minions membangun dunia mereka sendiri dalam gua es. Sampai akhirnya kehidupan terasa tidak berarti bagi mereka dan Kevin dibantu oleh Stuart dan Bob mencoba pergi dari gua untuk mencari bos terjahat pada jaman itu.

    Trivia

    These three minions (Kevin, Stuart and Bob) were designed to resemble Gru’s daughters Margo, Agnes and Edith.2

    Dalam perjalanannya mereka bertemu dengan keluarga Nelson yang berprofesi sebagai perampok bank. Keluarga inilah yang memberi tumpangan untuk mereka ke Orlando demi menghadiri villain-con dan bertemu dengan Scarlet Overkill. Long story short, Kevin, Stuart dan Bob pun bekerja untuk Scarlet dan suaminya Herb Overkill dan diberi tugas mencuri mahkota Ratu Inggris.

    Usaha mereka melaksanakan tugas tersebut pada akhirnya justru menjadi bumerang. Minions dianggap berkhianat oleh Scarlet dan diburu oleh para penjahat lain. Kevin pun berusaha untuk melindungi teman-temannya sekaligus melawan para musuh.

    Pada awal film, Keenan nampak ketakutan tapi kemudian dia mulai menikmati suasana bioskop yang gelap dan tingkah para makhluk kuning kesukaannya sambil berpindah-pindah dari pangkuan saya ke kursi sebelah yang kosong untuk duduk sendiri. Sementara kakak Cinta seperti biasa duduk tenang menikmati film ini.

    Sejujurnya bagi saya film ini agak membosankan. Keseruan dan kelucuan sudah keluar di awal film saat menceritakan sejarah hidup para minions sampai mereka bertemu Nelson family sedangkan ke belakangnya justru terasa datar. Bahkan Scarlet Overkill yang suaranya diisi oleh Sandra Bullock pun kurang memberi kesan bagi film ini, di beberapa review bahkan menyebut ia sebagai penjahat yang membosankan yang terpaksa saya setujui. Bahkan karakter Lucy Wilde di Despicable Me 2 juga karakter Queen Elizabeth dan the Nelson family lebih menarik daripada Scarlet.

    Dalam film ini pun ada beberapa kata yang mungkin tidak pantas didengar oleh anak-anak seperti ‘imbecile3 dan beberapa becandaan yang agak kasar. Juga ada beberapa adegan para minions telanjang dan menampakkan seluruh bagian belakang tubuhnya, adegan berpelukan antara Scarlet dan Herb, salah satu minions mandi berendam sambil memeluk hidran air. Juga adegan berantemnya minions dengan para penjahat termasuk Scarlet yang meski kurang greget tapi mungkin bisa jadi pertimbangan orangtua untuk membawa anak-anak menonton film ini.

    Salah satu yang bagus dari Minions adalah pelajaran untuk menyayangi dan melindungi serta berkorban bagi orang-orang yang kita sayangi. Bagaimana kita harus bekerja keras untuk memperbaiki bukan hanya hidup kita tapi juga orang banyak dan meski kadang nggak mudah kita nggak boleh putus asa. Juga betapa mudahnya media membuat kita mengambil asumsi dan mempercayainya tanpa berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Serta obsesi yang berlebihan seringkali membuat kita pada akhirnya kehilangan segala yang telah diusahakan bertahun-tahun.

    But however, film ini cukup menghibur terutama bagi pecinta Minions. Tapi di luar itu, saya sarankan nonton mini moviesnya aja deh. Bisa dibeli di iTunes atau nonton di youtube. Lebih lucu dan menghibur menurut saya hehehe. Enjoy!

    1. http://www.parentalguide.org/movieratingsguide.html []
    2. http://www.imdb.com/title/tt2293640/trivia?ref_=tt_trv_trv []
    3. meaning: stupid; idiotic []
  • Review

    Pernik Cantik dari Lingga Classic

    Pada bulan April banyak sekali acara memperingati Hari Kartini. Mulai dari berbagai perlombaan di sekolah-sekolah sampai aneka pameran atau bazaar di mall. Seperti halnya Festival Kartini 2015 yang diselenggarakan oleh Indonesian Heritage pada tanggal 15-19 April yang akan datang di Grand City Mall, Surabaya. Acara yang bertajuk “Karya Gemilang. Different is Beautiful” ini didukung oleh beberapa desainer dan artis nasional seperti Samuel Wattimena, Arzeti Bilbina, Celia Thomas dan lain-lain.

     photo 7B5D09A0-6614-4CE0-AC16-8319256E04C2_zpsqwu7tf8a.jpg

    Dalam acara ini, Lingga Classic ikut berpartisipasi dengan berjualan produk-produk kaca lukis. Mulai dari cermin kecil, tempat tisu, kotak perhiasan sampai set baki dan toples. Peralatan rumah tangga yang unik tersebut bisa didapatkan dengan harga mulai Rp 30.000 sampai Rp 350.000.

    Lingga Classic ini sudah berdiri sejak tahun 2001 di Solo, Jawa Tengah. Berawal dari industri rumahan sederhana dengan tujuan melestarikan budaya lokal dan mengenalkannya kepada masyarakat di luar Solo sampai manca negara, Lingga Classic memproduksi kerajinan cermin dengan desain klasik. Kini produknya sudah berhasil dipasarkan sampai ke luar negeri dengan pangsa pasar terbesar di USA, Eropa, Australia dan Timur Tengah.

    Saya sendiri punya hasil kerajinan berupa jam dinding besar dari cermin dengan desain yang elegan, hadiah pernikahan 9 tahun yang lalu dari owner Lingga Classic yang kebetulan adalah sahabat mama saya. Sayang akhirnya suvenir cantik itu ditinggal di rumah mama karena takut pecah kalau dibawa berpindah-pindah.

    Dalam pameran kali ini, Lingga Classic mengeluarkan koleksi terbaru dari seri suvenir kaca lukisnya yang lebih simpel dan tak kalah menarik. Seri ini cocok sekali untuk menghias ruang tamu atau ruang keluarga kita. Cermin mungilnya pas banget untuk suvenir pernikahan. Sedangkan tempat tisu atau tatakan gelas bisa kita berikan sebagai kado housewarming bagi sahabat tercinta. Ibu atau (calon) mertua juga pasti suka lho kalau diberi kado kotak perhiasan atau set baki dan toplesnya.

     photo 804C6180-86B9-4CDF-B741-ED8836D9C199_zpsu1hcispc.png

    Kalau belum ada desain yang sesuai selera, jangan khawatir, Lingga Classic juga bisa membuat produk sesuai keinginan kita. Jangan sungkan untuk tanya-tanya di sana. Ada mama saya dan teman-temannya serta adik ipar dan sepupu saya yang cantik akan membantu memilihkan pernik kaca lukis yang sesuai untuk kita.

    Jadi jangan lewatkan Festival Kartini 2015 tanggal 15-19 April yang akan datang. Kunjungi stand Lingga Classic di depan gerai Starbucks Grand City Mall, Surabaya dan dapatkan diskon dan suvenir menarik untuk pembelian selama pameran berlangsung. Selamat berbelanja.

  • Foods and Places, Life in Brunei, Traveling

    Rescue Exhibition OGDC

    Tanggal 15 Februari yang lalu, memenuhi janji ke kakak Cinta, akhirnya kami ke OGDC lagi. Kali ini untuk lihat Rescue Exhibition yang berlangsung selama bulan Februari 2015.

    Mengingat pengalaman sebelumnya jujur saja saya tidak berharap banyak, secara tempatnya tidak terlalu besar dan isinya tidak terlalu banyak. Tapi ternyata dengan membeli tiket seharga B$ 5 untuk dewasa dan B$2 untuk anak-anak mulai usia 5-12 tahun, banyak kesenangan yang kami dapatkan di sana.

    Dimulai dengan sambutan sebuah robot mini di area masuk pameran, kami pun memulai keseruan hari itu. Simulator yang pertama kami coba adalah Fire Rescue, di booth tersebut tersedia empat macam alat pemadam kebakaran disertai keterangan yang digantung di dinding bahwa setiap kebakaran yang penyebabnya berbeda hanya bisa dipadamkan dengan alat tertentu. Di layar besar, saya dan Keenan pun mencoba bermain memilih mana alat pemadam yang cocok untuk jenis kebakaran yang tertera di layar, ternyata cukup menyenangkan, terutama buat Keenan yang asik naik turun sambil mencoba keempat alat pemadam tersebut.

    Setelah itu Cinta memanggil adiknya dan mengajak Keenan untuk bergabung dengannya di kolam bola berwarna biru yang dilengkapi dengan perahu karet. Pura-puranya itu adalah simulasi usaha menyelamatkan korban yang mengalami kecelakaan di laut. Ya senenglah anak-anak, berkali-kali turun ke kolam lalu naik ke perahu, bergantian menarik yang masih di kolam untuk masuk ke dalam perahu.

    Bosan di kolam bola, kami menuju booth stasiun TV yang dilengkapi dengan meja reporter dan green screen. Di situ kami bisa memilih menjadi pembawa berita atau reporter. Dengan membaca teks yang sudah disiapkan aksi kita bisa dilihat di layar televisi di booth tersebut. Hahaha lumayan lah, menyalurkan cita-cita sebagai news anchor yang gagal :))

    Puas berpura-pura jadi reporter, kami memasuki semacam smoke room, sebuah kamar yang gelap dan penuh asap sebagai tiruan ruangan yang sedang terbakar. Keluar dari kamar ada salah satu game yang jadi favorit banyak orang. Wave Rescue!. Duah buah personal watercraft dan sebuah layar besar siap dimainkan oleh para pengunjung.

    Bagi pengunjung yang suka memanjat disedikan juga wall climbing kecil untuk latihan Vertical Rescue. Ini mah senengan bapaknya anak-anak dan beberapa anak dan remaja laki-laki. Mereka asik memanjat dinding tersebut dan berpindah dari satu sisi ke sisi lain.

    Sementara anak bayi suka banget sama simulasi Helicopter Rescue yang lagi-lagi dilengkapi dengan permainan di layar besar. Helikopter yang dilengkapi sensor panas untuk mendeteksi adanya kebakaran dari udara ini bikin Keenan nggak bisa move on mainan setir sambil ngeliatin layar raksasanya. Sementara kakaknya sudah berkeliling melihat-lihat permainan yang lain.

    Selain berbagai alat menarik tersebut, penyelenggara pameran juga menyediakan tiruan ruangan tim pemadam kebakaran lengkap dengan kostum yang bisa dipakai, layar-layar kecil berisi aktivitas interaktif yang memberikan aneka informasi seperti barang-barang apa saja yang perlu dibawa saat dalam misi penyelamatan, cara menangani pasien dan lain-lain.

    Petualangan hari Minggu pun diakhiri dengan memberi makan ikan di kolamnya, OGDC. Hanya dengan membeli pakan ikan di kantin OGDC seharga 50 sen sekantung kecil, anak-anak puas mengenal makhluk-makhluk dalam kolam. Ah, terima kasih OGCC, kami tunggu pameran-pameran seru selanjutnya.

    Foto-foto lain dari OGDC Rescue Exhibition 2015

     

    Cinta belajar jadi reporter dan pembawa berita kebakaran.

     

  • Foods and Places, Kids Activities, Life in Brunei

    Belajar Science di OGDC

    Tanggal 18 Januari 2015 yang lalu, untuk pertama kalinya selama 3 tahun tinggal di Brunei akhirnya kami berkunjung ke Oil and Gas Discovery Centre Seria. Padahal ya, bangunan ini dilewatin minimal sehari dua kali dan playground serta jogging tracknya sempat jadi tempat main favorit kami. Cuma ya baru tergugah untuk eksplorasi yang ada di dalamnya baru-baru ini aja. Itupun hampir batal karena waktu mau berangkat hujan, untung nggak lama kemudian berhenti. Akhirnya dipaksakanlah mendung-mendung pergi daripada cuma bengong di rumah.

    Science Centre yang berada di Seria, Brunei Darussalam ini pertama kali dibuka pada tahun 2002 dengan tujuan awal memberikan edukasi kepada warga Brunei tentang pertambangan minyak dan gas bumi yang merupakan salah satu tulang punggung perekonomian negara. Namun seiring berjalannya waktu, Brunei Shell Petroleum sebagai pengelola mengembangkan OGDC sebagai sarana edukasi ilmu pengetahuan dan teknologi serta aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari.

    Biasanya saat libur sekolah, OGDC punya kegiatan menarik untuk anak-anak, mulai dari lab science activity sampai cooking class dan traffic games. Tapi sayangnya belum punya kesempatan untuk mencoba, mungkin libur sekolah Maret yang akan datang kalau ada aktivitas menarik mau daftarin Cinta ikut secara dia suka sekali segala sesuatu yang berbau science dan kebetulan nggak ada rencana pergi ke mana-mana.

    Saat kami ke sana hari Minggu, ternyata sedang ada aktivitas di exhibition hall. Sekelompok anak usia SMP asik menyaksikan salah satu petugas OGDC mendemonstrasikan serunya aplikasi science dalam berbagai permainan. Tapi cuma sempat ikut liat sebentar karena Cinta sudah nggak sabar pengen masuk ruang Oil & Gas.

    Sebenarnya setelah menulis nama di buku tamu, resepsionis menawarkan apakah kami butuh bantuan pemandu atau mau jalan-jalan sendiri. Berhubung ruangan yang hendak dieksplorasi tidak terlalu besar kami memutuskan untuk berjalan-jalan sendiri. Namun dalam praktiknya, para petugas OGDC nggak segan membantu dan menjelaskan kepada kami hal-hal yang menarik dalam setiap ruangan. Mungkin karena pada hari itu selain rombongan pelajar, pengunjungnya cuma kami sekeluarga hihihi.

    Oil & Gas Room, OGDC Seria, Brunei

    Di ruang Oil & Gas yang berisi tentang berbagai pengetahuan tentang ilmu pertambangan, anak-anak paling suka menyusun pipa-pipa dan membolak-balik kaca yang berisi bebatuan dan minyak, sementara saya membaca sejarah pertambangan di Brunei.

    Puzzle & Illusion Room, OGDC Seria, Brunei

    Kemudian kami pindah ke ruang Puzzle and Illusion. Nah, udah deh, nggak yang besar nggak yang kecil semua heboh mencoba satu per satu alat peraga yang ada di situ. Mulai dari menyalakan listrik pakai kayuhan sepeda, menyusun puzzle raksasa sampai berbagai tipuan mata yang bikin berdecak, “Kok bisa ya.”

    Meski isinya nggak terlalu banyak tapi anak-anak saya betah sekali main di sini sampai susah diajak pulang. Rencananya bulan ini kami akan ke sana lagi untuk melihat Rescue Exhibition yang diadakan di bulan Februari. Tunggu cerita seru di OGDC selanjutnya 🙂

    Informasi

    HTM/Admission Charges:

    PRE SCHOOL (5 years old and below) : Free of Charge
    CHILD (5 – 12 years old) : BND 1
    TEEN (13-17 years old) : BND 2
    ADULT (18 – 55 years old) : BND 5
    SENIOR CITIZEN (55 years old and above) : BND 3
    FAMILY PACKAGE (2 adults + 4 children) : BND 12

    Operating Hours:

    Monday to Saturday : 8:30am to 5:00pm
    Sunday : 9:30am to 6:00pm
    Public Holiday : CLOSED

  • Books

    Thea Stilton: The Secret of The Snow

     photo 34F31562-DD8B-42DC-9C4F-B9C8AAD39032_zpsddoxucw0.jpgJudul Buku: Thea Stilton: The Secret of The Snow
    Penulis: Thea Stilton
    Penerbit: Scholastic
    Jumlah Halaman: 308 hal.
    Harga: U$ 14.99 (B$ 19.90)
    Bahasa: Inggris

    Di libur musim dingin kali ini, Thea Sisters yang terdiri dari Collete, Nicky, Violet, Pamela dan Paulina mendapat kesempatan dari Institute of Incredible Stories (I.I.S)1 untuk belajar bahasa yang digunakan oleh para makhluk ajaib di negeri fantasi. Kesempatan ini tentu tidak disia-siakan oleh murid-murid kesayangan Thea Stilton, koresponden istimewa koran nomer satu di Mouse Island, The Rodent’s Gazette sekaligus dosen tamu di Mouseford Academy yang mengajar adventure journalism.

    Tapi sesampainya di I.I.S, alih-alih mencoba teknologi transfer informasi terbaru milik Seven Roses Unit2 bersama agen Will Mystery3, Thea Sisters justru harus bertualang di Land of Minwa. Negeri fantasi yang terletak di Jepang ini sedang dalam bahaya. Bunga Teratai yang sangat penting bagi kehidupan makhluk-makhluk ajaib di sana perlahan-lahan menghilang.

    Lotus flowers are very special, even if they grow out of mud. They remind us that it doesn’t matter what our condition is. Everyone can make something beautiful and be helpful to others. Lotus flowers remind us of this, and they give us courage. – Setsuko

    Berupaya memecahkan teka-teki yang diberikan oleh Tanuki, binatang serupa rakun yang bisa berubah wujud dalam mitologi Jepang yang mereka jumpai di hutan Sakura, Will Mystery, Colette, Pam dan Paulina menuju Sungai Kristal untuk mencari Peri Salju. Sedangkan Thea Stilton, Nicky dan Violet pergi menuju lautan untuk bertemu dengan Isonade, hiu bersirip tiga yang diduga sebagai pelaku dibalik menghilangnya bunga-bunga Teratai.

    Rage can make you do senseless things. In the end, your anger ends up hurting you more than others. – Isonade

     photo D6AC5A2A-446A-4246-96E9-E4F389C5BCA6_zpskms7hh64.png Petualangan menarik yang dilengkapi dengan ilustrasi alam Land of Minwa yang fantastis membuat saya menyelesaikan buku ini dalam beberapa jam saja. Sekaligus menuntaskan 3 tantangan dalam 2015 Reading Challenge, yaitu “a book you can finish in a day“, “a book with magic” dan “a book with non human character“. Aha!

    Memang sih, buku ketiga dalam serial Thea Stilton edisi hardcover ini sebenarnya buku anak-anak. Tapi sah juga kok sebagai hiburan orang dewasa hahaha. Ceritanya ringan, penuh imajinasi tapi juga sarat pelajaran akan persahabatan, teamwork dan etika.

    Buku ini adalah salah satu seri petualangan Thea dan kelima muridnya bersama agen-agen I.I.S, Selain itu juga ada serial petualangan Thea Stilton dan Thea Sisters yang lain di berbagai penjuru dunia. Buku-buku tersebut cocok sekali untuk anak-anak dan remaja atau bahkan orang dewasa yang ingin melancarkan bahasa Inggris mereka tapi belum pede baca buku bahasa Inggris dengan rating dewasa. Fontnya cukup besar, berwarna-warni dan kosakata serta grammarnya sederhana dan mudah dipahami. Serunya lagi di setiap petualangan Thea Sisters yang mengambil lokasi kota-kota besar di dunia selalu disertai keterangan tentang obyek-obyek penting di kota tersebut. Jadi selain menghibur juga menambah pengetahuan kitaanak-anak.

     photo 4A4BAA3B-3962-437D-8036-CE9248FF67D0_zpstih0kzlu.jpg

    Cuma ada satu hal yang saya kurang suka. Di setiap petualangannya selalu ada kisah salah satu anggota Thea Sisters ini menjalin persahabatan khusus dengan lawan jenisnya. Didukung dengan ilustrasi yang menunjukkan keakraban seperti orang pacaran gitu.

    Tapi saya ingat salah seorang psikolog berkata kalau ingin menghindarkan anak dari konten-konten negatif saat membaca buku atau menonton televisi, fokuskan saja pada hal-hal positifnya. Jadi instead of membahas soal pacaran ini, saya lebih suka ajak Cinta diskusi soal serunya petualangan mereka. Biasanya sih, serial ini saya bacakan untuk Cinta sebagai pengantar tidurnya. Setiap hari 3 bab. Kadang kalau ceritanya lagi seru ya nambah apalagi kalau akhir pekan. Dan tiap satu buku habis, Cinta pasti nggak sabar untuk membeli judul yang baru. Ada yang ikutan 2015 reading challenge juga? Sudah buku apa saja? Lumayan ya buat memotivasi diri sendiri untuk tetap membaca buku di sela-sela kesibukan sehari-hari. Hmmm… Abis ini baca buku apalagi ya? Ada rekomendasi?

    1. The I.I.S, the Institute of Incredible Stories adalah tempat penelitian berbagai macam misteri yang tidak terpecahkan. Markasnya tersembunyi di bawah gunung es Antartika []
    2. The Seven Roses Unit adalah departemen paling rahasia di I.I.S. Mereka mempelajari dunia fantasi yang terdiri dari makhluk-makhluk dari mitologi atau legenda dunia []
    3. Kepala The Seven Roses Unit []
  • Books

    Mendobrak Label Diri Bersama Ara

    Judul Buku: Gadis Kecil itu Bernama Ara
    Penulis: Bunda Ve
    Penerbit: PT Elex Media Komputindo
    Cetakan: Pertama, 2014
    Tebal: 203 halaman
    Harga: Rp 58.800,-
    Dapat dibeli online di Gramedia Online

    Jujur saja, sudah lama sekali saya tidak membaca buku-buku parenting. Malas. Isinya begitu-begitu saja. Menggurui. Tapi, saat strolling di rak buku Gramedia waktu mudik ke Surabaya bulan Desember lalu, saya tertarik dengan buku ini. Mungkin karena judulnya yang tidak berbau keparentingan bahkan lebih seperti novel fiksi. Mungkin juga karena kutipan yang ada di sampul buku ini yang rasanya cocok sekali dengan kondisi saya yang merasa susah memotivasi si sulung untuk lebih bersemangat di sekolah. Atau bisa jadi karena gambar sampulnya yang manis. Entahlah. Pokoknya langsung jatuh cinta pada pandangan pertama dengan buku ini.

    Kegagalan anak usia sekolah, baik dalam bidang akademis atau bidang lainnya, bukan karena mereka bodoh, melainkan karena mereka kurang percaya diri. (Prof. Sumantri)

    Ternyata pilihan saya enggak salah. Buku yang mengisahkan pengalaman pribadi penulis dalam mendampingi kliennya yang bernama Ara ini sangat menarik untuk dibaca. Bagaimana Ara yang tadinya didiagnosa sebagai anak dengan fungsi kecerdasan terbatas atau slow learner1 dan selalu mendapatkan nilai akademis di bawah rata-rata kelas bahkan nyaris tidak naik kelas ini dengan pendampingan yang dilakukan Bunda Ve dan tim serta dukungan dari orang tuanya, mampu mematahkan diagnosa tersebut. Kisah ini dituliskan dalam bahasa yang menarik dan alur waktu yang runut, benar-benar seperti membaca sebuah novel.

    Aktivitas yang dilakukan Bunda Ve, nama panggilan dari Dra. Vincentia Dwiyani, penulis buku ini dalam sesi-sesi pendampingannya bersama Ara dan ibunya dijelaskan secara detil lengkap dengan tujuan dan manfaat yang dicapai. Berguna sekali buat pembaca yang ingin mempraktikannya di rumah. Eksplorasi penulis tentang latar belakang ibu Maryam yang selalu menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang dialami Ara dan adik-adiknya, juga ketakutan Ara untuk bergerak secara spontan memberikan pemahaman bahwa hal-hal kecil yang mungkin dilakukan suami kepada istrinya atau orang tua kepada anaknya ternyata bisa memberi dampak psikologis yang besar sekali.

    Boleh jadi, ada banyak orang tua yang tanpa disadari menolak keberadaan anaknya. Penolakan ini sesungguhnya bisa tercermin dalam keseharian. (Bunda Ve)

    Bab favorit saya adalah “Ujian Cinta” di mana ibu Maryam dalam keadaan tenang diminta untuk membayangkan Ara dan memeluknya. Ternyata meski di bibir kita mengucap, “Tentu, saya sangat mencintai anak saya.” Ketika diminta untuk membuktikannya tidak semudah itu. Hohoho sepertinya saya tertarik untuk mencoba, demi membuktikan apakah benar saya mencintai anak-anak saya dari lubuk hati terdalam *wink*

    Sayang, dalam buku ini tidak diceritakan peran ayah Ara dalam proses pendampingan tersebut. Hanya terfokus pada Ara dan ibu Maryam. Sosok ayah Ara yang bekerja di luar kota dan hanya berkumpul dengan keluarganya di akhir minggu cuma diceritakan pada awal dan akhir pendampingan, seolah sebagai pelengkap saja. Padahal parenting masa kini banyak menekankan pentingnya peran ayah dalam mendidik anak.

    Tapi secara keseluruhan buku parenting ini cukup menyegarkan di antara berbagai buku bertema sama. Apalagi bagi saya yang hanya bisa membaca di sela-sela waktu luang rasanya buku ini bisa menambah wawasan baru tentang pengasuhan anak tanpa terkesan menggurui. Jadi enggak sabar menunggu terbitnya Serial Senandung Hati yang lain.

    1. A slow learner can be described as a student who has the ability to learn necessary academic skills, but at a rate and depth below average when compared to their peers. In order to grasp new concepts, a slow learner needs more time, a number of repetitions, patience and often more resources from teachers to be successful. In children with this condition, reasoning skills are typically delayed, which makes new concepts difficult to learn and grasp. – Surabhi Verma, director, Sparsh for Children. Taken from The Health Site []
  • Movies & Music

    Indahnya Dongeng Naura

    Sudah sebulanan ini saya suka sekali dengar lagu-lagunya Naura yang ada di album “Dongeng”. Bahkan sampai rela beli albumnya via iTunes untuk didownload di iPhone supaya bisa didengar di mobil bersama anak-anak.

    Awal mengenal Naura ketika saya hadir di Citos, Jakarta dalam acara pengumpulan dana untuk bayi NF, bayi yang mengalami penyiksaan seksual beberapa tahun yang lalu. Waktu itu Naura, anak dari Nola B3 menyanyikan lagu “Somewhere Over the Rainbow” dengan cukup bagus untuk anak seusianya. Yah, maklum sih ibunya adalah seorang Nola yang bersama Widi dan Lusy di AB3 semasa remajanya malang melintang di berbagai festival menyanyi internasional. Dan sampai sekarang masih kukuh sebagai penyanyi trio wanita berkualitas di Indonesia meski Lusy sudah digantikan oleh Cynthia Lamusu.

    Beberapa tahun kemudian saya menemukan saluran youtubenya Nola dan melihat beberapa video Naura sedang bernyanyi. Dalam hati saya berkata, “Coba deh Naura ini bikin album anak-anak, pasti bagus.” Eh, tak lama kemudian saya melihat halaman Facebook pak Toge Aprilianto yang mempromosikan album Dongengnya Naura.

    Penasaran dong, saya kunjungi lagi youtubenya Nola lalu menemukan video klip lagu Semesta Cinta. Wah, bagus banget. Padahal waktu itu album Dongeng belum dipasarkan melalui distributor besar, baru buka PO secara online. Tapi video klipnya sudah digarap secara profesional. Salut deh buat Nola dan Naura.

     

    Dari yang tadinya hanya naksir lagu Semesta Cinta begitu albumnya dirilis di iTunes langsung deh beli. Murah lho, Rp 39,000. Dan langsung jatuh cinta sama semua lagunya, bagus banget. Favorit saya di album ini adalah lagu Satu Selimut, Panca Indera, Cahaya Hatiku, eh semua aja kalau gitu hihihi.

    Jujur tadinya musik dan warna suara Naura di album ini mengingatkan saya pada Sherina di album Petualangan Sherina. Mirip. Tapi yang membuat lagu-lagu Naura istimewa adalah terlibatnya ibu Nola dan adik Neona di dalamnya. Mendengar lagu di album ini terasa sekali kehangatan keluarga mereka. Seakan-akan kita dibawa masuk ke dalam rumah mereka menyaksikan mereka ngobrol dalam bentuk musikal.

    Seperti lagu Dongeng, misalnya. Saya merasa melihat Nola sedang bercengkerama bersama Naura dan Neona dan ngobrol tentang nenek sihir, raksasa, dan dari mana asalnya dongeng. Begitu juga di lagu Satu Selimut, seolah saya sedang bersama Naura dan Neona yang lagi ngobrol sebelum tidur saling mengingatkan bahwa mereka saling menyayangi walaupun kelak tidak lagi hidup bersama. Trus ngeliat bocah-bocah berdua yang lagi tidur umpel-umpelan di samping saya dan mewek deh.

    Terima kasih ya Naura dan ibu Nola, sudah memberi hadiah indah bagi saya, anak-anak saya dan anak-anak Indonesia dengan beredarnya album Dongeng. Setidaknya selain albumnya Sherina, sekarang anak saya punya tambahan koleksi lagu anak-anak yang bisa dinikmati saat sedang berkendara bersama saya.

    Semoga bisa menginspirasi anak-anak dan membuat mereka menikmati masa kanak-kanaknya yang polos dan indah. Terus berkarya ya, Naura 🙂

  • Beauty & Fashion

    Apa Sepatu Favoritmu?

    Sambil nunggu nasi matang, mumpung anak-anak sudah tidur, iseng buka Pinterest. Lantas tertarik dengan pin tentang berbagai jenis sepatu perempuan.

    Ternyata banyak sekali model dan sebutan untuk sepatu yang sering dipakai kaum hawa ini. Bahkan boots saja ada lebih dari 5 jenis. Mulai dari thigh high boots, knee high boots, Wellington boots, cowboy boots dan Ugg boots.

    Begitu pula dengan flat shoes. Selain Mary Jane dan ballerina flats yang tersohor itu juga ada mocassin, loafer, slip on, dockside sampai flip flops alias sandal jepit.

    Apalagi high heels. Ternyata nggak hanya pump dan stilleto. Peep toe, wedges, platform, d’orsay, ankle strap serta cone, salah satunya mungkin ada di lemari sepatu kita.

    Sebagai perempuan, pasti punya sandal atau sepatu minimal 3 pasang deh. Hayooo, iya kan? Sekarang sih saya lagi demen pakai model mary jane dari Crocs serta ballerina flats karena nyaman buat naik turun tangga 2 lantai dan kendaraan sambil gendong bayi, bawa tas saya dan Cinta, kadang nenteng belanjaan juga.

    Untuk sandal lagi-lagi pilihan jatuh ke Crocs. Bahannya yang dari karet dengan sol tebal dipadu model yang lumayan manis bikin nyaman untuk saat santai dan nggak pegal dipakai jalan jauh. Hidup Crocs deh hihihi.

    Cuma sekarang mulai bosan berkaret ria. Pengen yang sedikit modis dan mulai melirik sandal wedges atau sepatu kitten heels yang ringan, sayang belum nemu yang cocok nih.

    Ada yang bisa kasih saran merek apa yang modelnya canti, nyaman serta ringan dipakai tapi tetap ramah di kantong?

    Kalau kalian paling suka pakai sepatu atau sandal model apa nih?

    Gambar diambil dari Pinterest.