Mitos-Mitos Yang Menghambat IMD dan Faktanya

Beberapa waktu lalu, saya dapat leaflet ini dari bidan tempat saya periksa kehamilan di Suri Seri Begawan Hospital, Brunei. Isinya bagus, tentang mitos-mitos yang menghambat inisiasi menyusu dini atau IMD secara normal. Tadinya sih mau dishare via twitter tapi setelah bikin draftnya lha kok jadinya buanyak banget. Jadi mending ditulis di sini aja deh, biar sekalian ada filenya juga, siapa tahu besok-besok perlu lagi.

Leaflet Mistaken Beliefs Barriers To Normal Breastfeeding Initiation ini dikeluarkan oleh Kementerian Kesihatan Negara Brunei Darussalam dalam menyambut World Breastfeeding Week 2007, udah lama banget ya. Jadi kalo ada yang lebih update mohon koreksinya yah.

Mitos-Mitos yang Menghambat IMD
(Mistaken Beliefs Barriers to Normal Breastfeeding Initiation)

  1. Bayi akan kedinginan selama proses IMD
    Fakta:
    Bayi berada pada suhu yang aman saat terjadi skin-to-skin contact dengan ibu. Bahkan yang menakjubkan, suhu di daerah payudara ibu meningkat 0,5ºC dalam waktu 2 menit begitu bayi diletakkan di dada ibu.
  2. Kolostrum tidak baik, bahkan berbahaya bagi bayi.
    Fakta:
    Kolostrum sangat penting bagi bayi agar dapat tumbuh dan berkembang secara sehat:
    * Berfungsi sebagai imunisasi pertama yang melindungi bayi dari infeksi saluran cerna dan infeksi lain
    * Berfungsi sebagai pencahar (purgative) untuk mempersering pembuangan kotoran yang berwarna kehitaman untuk mengurangi sakit kuning (jaundice) pada bayi.
  3. Bayi tidak akan mendapatkan cukup makanan atau minuman bila hanya diberi kolostrum dan ASI
    Fakta:
    Kolostrum cukup untuk makanan pertama bayi. Adalah hal yang normal bila bayi baru lahir kehilangan 3-6% dari berat badannya saat lahir. Bayi dilahirkan dengan cadangan air dan gula dalam tubuh yang digunakan di hari-hari pertamanya.
  4. Bayi baru lahir membutuhkan teh khusus atau cairan lain sebelum diberi ASI.
    Fakta:
    Cairan prelaktal apapun (yang diberikan sebelum proses menyusui dimulai) dapat meningkatkan resiko infeksi pada bayi, mengurangi keberhasilan pemberian ASI eksklusif dan memperpendek waktu menyusui.
  5. Ibu terlalu lelah setelah persalinan dan melahirkan untuk dapat segera menyusui bayinya.
    Fakta:
    Sentuhan kulit secara langsung antara bayi dan ibu serta proses IMD merangsang pengeluaran hormon oksitosin yang membuat ibu merasa tenang setelah bersalin.
  6. Terlalu banyak hal yang harus dikerjakan dan waktu yang lama untuk membantu ibu melakukan IMD.
    Fakta:
    Ketika bayi berada di dada ibunya, petugas penolong persalinan dalam melanjutkan penilaian rutin terhadap ibu dan bayinya serta pekerjaan lain. Ini akan memberikan kesempatan pada bayi untuk mencari jalan sendiri ke payudara ibunya.
  7. Ibu membutuhkan pemberian obat untuk mengurangi rasa sakit setelah persalinan.
    Fakta: Kebanyakan ibu tidak memerlukannya. Terapi pengganti dan pendamping persalinan yang suportif dapat membantu ibu menahan rasa sakit. Obat penahan sakit atau bius hanya akan menyebabkan bayi mengantuk dan memperlambat inisiasi menyusu sampai beberapa jam atau hari.

Nah, kalau sudah tahu faktanya jadi nggak ragu lagi kan untuk meminta dokter atau bidan memberikan kita kesempatan melakukan inisiasi menyusu dini segera setelah bayi dilahirkan.

Dulu saat melahirkan Cinta tahun 2007, saya nggak dapat IMD padahal selama dokter dan bidan mengeluarkan placenta, menjahit perineum dan melakukan pemeriksaan, bayi diberikan ke saya meski dalam keadaan sudah terbungkus selimut. Payahnya saking bingung dan excited menimang bayi yang baru lahir itu, saya cuma bisa meluk sambil ngeliatin takjub si bayi.

Selain itu selama di rumah sakit juga nggak bisa ngasih ASI Eksklusif karena saya nggak minta! Bego ya. Padahal sudah banyak belajar melalui milis ASI. Duh, nyesel banget tiap inget masa-masa itu. Makanya, kalau dikasih kesempatan melahirkan lagi nanti, sebisa mungkin pengen bisa IMD  yang seperti di video bikinan UNICEF Indonesia ini:

[youtube=http://youtu.be/Fl8GaEPOW3Q]

Kebetulan RS di Brunei sini, khususnya Suri Seri Begawan Hospital sangat peduli terhadap pemberian ASI Eksklusif, sehingga mereka mendorong ibu yang melahirkan di sana untuk menjalani IMD dan rawat gabung (rooming in) dengan bayi.

Tapi kalau ternyata berubah pikiran untuk melahirkan di Indonesia, sepertinya harus cari RS atau rumah bersalin di daerah Sidoarjo atau Surabaya Selatan yang mau melakukan IMD dan rawat gabung. Ada rekomendasi kah, moms/dads? Kalau moms sendiri pengalaman IMDnya dulu gimana? Cerita yuk 🙂

One Reply to “Mitos-Mitos Yang Menghambat IMD dan Faktanya”

  1. ari anindya says:

    bun, waktu kapten melon lahir di HCOS pake imd kok, suster sama dokternya (brahmana askandar) support, disampein aja.
    trus ini nanti dedek apple mau di RSIA Kendangsari, sama much fachry, klo dari pengalaman kakak dan browsing2, RSnya juga support imd – rooming in, ada kelasinya juga, klo g salah salah dokter anaknya ada yg aktifis AIMI hehehee.. due kapan bun?

Komentar ditutup.