To Judge or To Support

Baca curhatnya Yayas yang baru melahirkan 2 minggu yang lalu soal perjuangannya menyusui Nja, saya jadi teringat pengalaman sendiri menyusui Cinta 5,5 tahun yang lalu.

Di saat ibu-ibu lain bisa menyusui dengan mudah, saya justru mengalami hal yang sebaliknya. Mulai dari ASI yang keluar sedikit sampai Cinta harus menyusu hampir tiap jam dan bisa 30 menit sekali saat growth spurt, nipple crack karena pelekatan yang nggak sempurna dan rasanya aduhai sekali, baby blues, mastitis dan kurangnya support dari lingkungan terdekat.

Ya sih saya tahu, banyak yang mengalami hal yang sama dan tetap berhasil menyusui. Tapi saat disertai kondisi bayi yang kolik hampir tiap hari sehingga saya harus puasa makan daging ayam serta seafood selama hampir 6 bulan dan suami yang jauh serta post partum depression, membuat saya hampir menyerah. Bahkan di bulan pertama, sempat Cinta diberi susu formula sebagai tambahan ASI. Ini juga salah satu penyesalan terbesar saya selama menyusui.

Meski akhirnya di bulan-bulan berikutnya bisa terus menyusui tanpa susu tambahan sampai usia 6 bulan dan lanjut sampai 2 tahun, pengalaman tersebut menjadikan saya untuk nggak mudah menghakimi para mama yang hampir atau akhirnya menyerah menyusui bayinya. Apalagi kalau saya hanya kenal di dunia maya dan tidak tahu bagaimana perjuangan mereka sebenarnya.

Saya paham betul bahwa yang dibutuhkan saat berada dalam situasi seperti itu bukanlah ceramah, “Cuma sekian persen ibu di dunia ini yang secara medis ASInya nggak keluar. Sisanya pasti bisa, cuma nggak mau usaha aja.” Uh yeah, mungkin yang ngomong gitu belum ngerasain total tidur cuma 1 jam sehari selama beberapa hari berturut-turut karena terus-terusan menyusui bayinya.

Atau, “Anak manusia itu minumnya ya susu manusia, bukan susu sapi. Yang minum susu sapi ya anak sapi.” Bahkan, “ASI is the best, sufor itu racun. Kamu tega apa ngeracunin anak sendiri dengan nggak mau ngasih ASI.” Nggak mau katanya, nggak tahu sini sudah jungkir balik mencoba berbagai cara supaya ASInya cukup untuk si bayi.

“Banyak sedikitnya ASI itu cuma soal state of mind. Kamu harus yakin kalo ASImu cukup!” Tentu mudah dilakukan kalo nggak harus mendengar, “Sudahlah, ASImu itu nggak cukup. Liat anakmu nangis terus karena lapar. Mana berat badannya nggak naik-naik. Nggak usahlah sok ASI eksklusif-eksklusifan kalau bikin anak menderita gitu,” hampir tiap hari.

Apalagi saat ibu-ibu lain dengan bangganya bercerita indahnya proses menyusui, ASI yang berlimpah sampai merembes-rembes di BH, sementara kami harus berjuang supaya hasil perahan di kantor bisa lebih dari 100cc tiap kalinya agar bisa dibawa pulang untuk minum si bayi. Asli, yang seperti itu sangat tidak membantu, bahkan nggak jarang bisa membuat kami makin down, akibatnya produksi ASI menurun karena stres.

Tentu, banyak momen-momen indah yang dialami saat menyusui, melihat bayi mungil lahap menyusu dan tertidur dengan lelap setelah kenyang; eye to eye dan skin to skin contact yang meningkatkan hormon oksitosin dan terus merangsang let down reflex sehingga ASI keluar banyak menjadikan semua perjuangan itu terbayar lunas. Kebahagiaan melihat anak tumbuh sehat hanya dari ASI yang sekadar cukup (boro-boro mau donor ASI, bisa memenuhi stok untuk kejar tayang tiap hari aja sudah bersyukur sekali) membuat kami ikhlas harus menjalani semua itu.

Hanya saja, seringkali dalam proses tersebut banyak hal yang dilakukan ibu-ibu lain atas dasar kepedulian dan niat baik malah justru bikin perjuangan kami makin berat karena cara yang kurang tepat.

Yang kami butuhkan adalah telinga untuk mendengar, hati yang besar untuk bisa memahami kesulitan yang dialami serta penghargaan atas kemajuan usaha kami. Sederhana memang tapi nggak semua orang bisa melakukannya.

Instead of saying things like I meant before, please kindly ask, “What can I do to help your breastfeeding process easier?” and mean it. Tawarkan solusi, bukan teori.

“Aku ada kenalan konselor laktasi, kita ke sana yuk siapa tahu kamu bisa terbantu.”
“Kamu mau ke dokter anak kenalanku yang pro ASI? Ajak ibumu sekalian biar bisa dukung kamu kasih ASI Eksklusif.”
“Ini ada cara pijat payudara, siapa tahu bisa membantu melancarkan ASImu, bikin rileks juga lho.”
“Temenku juga ada yang harus berjuang menyusui kaya kamu gini. Mau ngobrol sama dia? Ntar aku kenalin, siapa tahu dia bisa kasih tips-tips yang bisa membantu.”
“Ada lho, grup ibu-ibu menyusui di daerah kita ini, ikutan gabung yuk pas kumpul-kumpul. Pasti seneng deh kalo bisa curhat di sana.”

Bahkan seringkali mendengarkan kami curhat tanpa lantas memberi ceramah, menghibur, atau sekadar ngobrolin hal-hal lucu tentang kejadian sehari-hari bisa menjadi salah satu bentuk support yang efektif. Seperti yang dilakukan teman saya dulu, sesama busui yang menjalani long distance marriage dengan suami yang sering terbangun dini hari untuk menyusui.

Meski dia jauh lebih beruntung karena ASInya berlimpah tak sekalipun menyombongkan diri. Bahkan kami saling bertukar info tentang krim yang bisa menyembuhkan nipple crack sampai menghilangkan stretch mark, saling curhat karena nggak bisa enak makan ayam dan seafood, tuker-tukeran resep sayur atau makanan yang bisa ngeboost volume ASI dan banyak hal sederhana lain. I was so grateful to have her as one of my support system beside my mom, husband dan kumpulan busui yang kemudian jadi cikal bakal terbentuknya asosiasi ibu menyusui di Surabaya.

Kalau ada tetangga, saudara atau teman kantor yang sedang hamil ajak ikut seminar-seminar atau pelatihan laktasi. Kasih brosur atau buku-buku tentang menyusui tanpa embel-embel, “Harus bisa kasih ASI ya, itu kewajiban ibu, blablabla.” Just let it be their choice. Yang penting kita sudah berusaha.

Seandainya sudah benar-benar nggak tahan pengen ngejudge karena segala usaha sebaik dan sehalus apapun yang kita lakukan nggak berhasil, sebisa mungkin simpan untuk diri sendiri atau ngobrolah dengan suami. Jadikan bahan pelajaran supaya kita siap dan tahu harus bagaimana seandainya hal seperti itu terjadi sama kita atau orang-orang terdekat.

Stop judging, start supporting.

One Reply to “To Judge or To Support”

  1. ya mereka ngomong karena ga ngerti persoalan, tiap orang kan emang beda, dlm hal apapun, juga dalam hal mnyusui, niat dan usaha keras utk memberikan yg terbaik utk anak itu, sudah lebih dr cukup 🙂

Komentar ditutup.