Pijat Refleksi Untuk Melancarkan ASI

Sebagai ibu, tentu kita selalu ingin memberikan yang terbaik untuk anak tercinta ya. Salah satu yang bisa dimulai sejak awal kelahirannya adalah ASI atau air susu ibu. Nggak perlu lah saya jelaskan lagi manfaat ASI karena sudah banyak yang membahasnya. Yang pasti cairan hidup ini adalah asupan istimewa karena mengandung berbagai kebaikan untuk bayi maupun ibu.

Tapi tidak jarang kita dihantui perasaan khawatir akan kecukupan ASI. Apalagi kalau anak nampak selalu lapar, hasil perahan lebih sedikit dibandingkan dengan mama perah yang lain dan berat badan anak sepertinya tidak bertambah secara signifikan. Padahal sih produksi ASI selalu berdasarkan permintaan dan nggak akan ada kata ASI kurang karena yang keluar sesuai dengan kebutuhan bayi.

Untuk meningkatkan ASI banyak cara yang bisa dilakukan busui seperti minum air, jus atau sup yang lebih banyak dari biasanya. Beristirahat dan melakukan sesuatu yang menyenangkan juga bisa merangsang produksi ASI. Beberapa mama memilih mengkonsumsi suplemen atau makanan yang dipercaya mampu memperbanyak ASI.

 photo 4A010E12-8659-44D1-859C-98E0CA9237B1_zpsiam8u5wg.jpg

Selain itu kita juga bisa coba pijat refleksi lho. Titik-titik tertentu di tubuh kita diyakini dapat merangsang diproduksinya hormon prolaktin di otak. Hormon inilah yang mempengaruhi banyak sedikitnya ASI.

Menurut Dokter Spesialis Akupunktur Rumah Sakit Umum Islam Yarsis Surakarta, dr. H.M Daris Raharjo, Akp yang dilansir oleh joglosemar.com tiga titik pijatan yang utama untuk memperlancar ASI, berada di bagian payudara sendiri; yaitu satu titik di atas puting, tepat di puting payudara, dan titik di bawah puting. Selain itu, pada titik di bawah lutut dan titik di punggung yang segaris dengan payudara juga bisa dipijat untuk memperlancar produksi ASI. Pijatan dapat dilakukan dengan cara memutar ujung jari telunjuk sebanyak 30 kali di titik-titik tersebut dan dilakukan 2-3 kali sehari.

Tidak hanya di titik tersebut, banyak bagian lain yang jika dipijat bisa meningkatkan produksi ASI seperti gambar di bawah ini yang saya peroleh dari Irni, penulis sekaligus ibu menyusui yang tengah menanti kelahiran anak keduanya:

 photo 06E27473-651E-4142-9ECC-07EECBA22CEB_zpsk5dgbdqy.jpg

Pemijatan pada bagian-bagian tubuh tertentu akan berdampak positif terhadap kondisi pikiran dan tubuh ibu, memberi efek tenang, menormalkan sirkulasi darah, serta meningkatkan pasokan ASI. – situs RS Universitas Airlangga

Nggak ada salahnya kita coba ya, Ma. Apalagi kalau yang memijat suami. Selain perasaan rileks dan nyaman karena pijatan, rasa bahagia karena disayang suami juga bisa jadi breastmilk booster yang ampuh. Kita senang, ASI berlimpah, bayipun sehat. Berkat bantuan ayah ASI tersayang.

To Judge or To Support

Baca curhatnya Yayas yang baru melahirkan 2 minggu yang lalu soal perjuangannya menyusui Nja, saya jadi teringat pengalaman sendiri menyusui Cinta 5,5 tahun yang lalu.

Di saat ibu-ibu lain bisa menyusui dengan mudah, saya justru mengalami hal yang sebaliknya. Mulai dari ASI yang keluar sedikit sampai Cinta harus menyusu hampir tiap jam dan bisa 30 menit sekali saat growth spurt, nipple crack karena pelekatan yang nggak sempurna dan rasanya aduhai sekali, baby blues, mastitis dan kurangnya support dari lingkungan terdekat.

Ya sih saya tahu, banyak yang mengalami hal yang sama dan tetap berhasil menyusui. Tapi saat disertai kondisi bayi yang kolik hampir tiap hari sehingga saya harus puasa makan daging ayam serta seafood selama hampir 6 bulan dan suami yang jauh serta post partum depression, membuat saya hampir menyerah. Bahkan di bulan pertama, sempat Cinta diberi susu formula sebagai tambahan ASI. Ini juga salah satu penyesalan terbesar saya selama menyusui.

Meski akhirnya di bulan-bulan berikutnya bisa terus menyusui tanpa susu tambahan sampai usia 6 bulan dan lanjut sampai 2 tahun, pengalaman tersebut menjadikan saya untuk nggak mudah menghakimi para mama yang hampir atau akhirnya menyerah menyusui bayinya. Apalagi kalau saya hanya kenal di dunia maya dan tidak tahu bagaimana perjuangan mereka sebenarnya.

Saya paham betul bahwa yang dibutuhkan saat berada dalam situasi seperti itu bukanlah ceramah, “Cuma sekian persen ibu di dunia ini yang secara medis ASInya nggak keluar. Sisanya pasti bisa, cuma nggak mau usaha aja.” Uh yeah, mungkin yang ngomong gitu belum ngerasain total tidur cuma 1 jam sehari selama beberapa hari berturut-turut karena terus-terusan menyusui bayinya.

Atau, “Anak manusia itu minumnya ya susu manusia, bukan susu sapi. Yang minum susu sapi ya anak sapi.” Bahkan, “ASI is the best, sufor itu racun. Kamu tega apa ngeracunin anak sendiri dengan nggak mau ngasih ASI.” Nggak mau katanya, nggak tahu sini sudah jungkir balik mencoba berbagai cara supaya ASInya cukup untuk si bayi.

“Banyak sedikitnya ASI itu cuma soal state of mind. Kamu harus yakin kalo ASImu cukup!” Tentu mudah dilakukan kalo nggak harus mendengar, “Sudahlah, ASImu itu nggak cukup. Liat anakmu nangis terus karena lapar. Mana berat badannya nggak naik-naik. Nggak usahlah sok ASI eksklusif-eksklusifan kalau bikin anak menderita gitu,” hampir tiap hari.

Apalagi saat ibu-ibu lain dengan bangganya bercerita indahnya proses menyusui, ASI yang berlimpah sampai merembes-rembes di BH, sementara kami harus berjuang supaya hasil perahan di kantor bisa lebih dari 100cc tiap kalinya agar bisa dibawa pulang untuk minum si bayi. Asli, yang seperti itu sangat tidak membantu, bahkan nggak jarang bisa membuat kami makin down, akibatnya produksi ASI menurun karena stres.

Tentu, banyak momen-momen indah yang dialami saat menyusui, melihat bayi mungil lahap menyusu dan tertidur dengan lelap setelah kenyang; eye to eye dan skin to skin contact yang meningkatkan hormon oksitosin dan terus merangsang let down reflex sehingga ASI keluar banyak menjadikan semua perjuangan itu terbayar lunas. Kebahagiaan melihat anak tumbuh sehat hanya dari ASI yang sekadar cukup (boro-boro mau donor ASI, bisa memenuhi stok untuk kejar tayang tiap hari aja sudah bersyukur sekali) membuat kami ikhlas harus menjalani semua itu.

Hanya saja, seringkali dalam proses tersebut banyak hal yang dilakukan ibu-ibu lain atas dasar kepedulian dan niat baik malah justru bikin perjuangan kami makin berat karena cara yang kurang tepat.

Yang kami butuhkan adalah telinga untuk mendengar, hati yang besar untuk bisa memahami kesulitan yang dialami serta penghargaan atas kemajuan usaha kami. Sederhana memang tapi nggak semua orang bisa melakukannya.

Instead of saying things like I meant before, please kindly ask, “What can I do to help your breastfeeding process easier?” and mean it. Tawarkan solusi, bukan teori.

“Aku ada kenalan konselor laktasi, kita ke sana yuk siapa tahu kamu bisa terbantu.”
“Kamu mau ke dokter anak kenalanku yang pro ASI? Ajak ibumu sekalian biar bisa dukung kamu kasih ASI Eksklusif.”
“Ini ada cara pijat payudara, siapa tahu bisa membantu melancarkan ASImu, bikin rileks juga lho.”
“Temenku juga ada yang harus berjuang menyusui kaya kamu gini. Mau ngobrol sama dia? Ntar aku kenalin, siapa tahu dia bisa kasih tips-tips yang bisa membantu.”
“Ada lho, grup ibu-ibu menyusui di daerah kita ini, ikutan gabung yuk pas kumpul-kumpul. Pasti seneng deh kalo bisa curhat di sana.”

Bahkan seringkali mendengarkan kami curhat tanpa lantas memberi ceramah, menghibur, atau sekadar ngobrolin hal-hal lucu tentang kejadian sehari-hari bisa menjadi salah satu bentuk support yang efektif. Seperti yang dilakukan teman saya dulu, sesama busui yang menjalani long distance marriage dengan suami yang sering terbangun dini hari untuk menyusui.

Meski dia jauh lebih beruntung karena ASInya berlimpah tak sekalipun menyombongkan diri. Bahkan kami saling bertukar info tentang krim yang bisa menyembuhkan nipple crack sampai menghilangkan stretch mark, saling curhat karena nggak bisa enak makan ayam dan seafood, tuker-tukeran resep sayur atau makanan yang bisa ngeboost volume ASI dan banyak hal sederhana lain. I was so grateful to have her as one of my support system beside my mom, husband dan kumpulan busui yang kemudian jadi cikal bakal terbentuknya asosiasi ibu menyusui di Surabaya.

Kalau ada tetangga, saudara atau teman kantor yang sedang hamil ajak ikut seminar-seminar atau pelatihan laktasi. Kasih brosur atau buku-buku tentang menyusui tanpa embel-embel, “Harus bisa kasih ASI ya, itu kewajiban ibu, blablabla.” Just let it be their choice. Yang penting kita sudah berusaha.

Seandainya sudah benar-benar nggak tahan pengen ngejudge karena segala usaha sebaik dan sehalus apapun yang kita lakukan nggak berhasil, sebisa mungkin simpan untuk diri sendiri atau ngobrolah dengan suami. Jadikan bahan pelajaran supaya kita siap dan tahu harus bagaimana seandainya hal seperti itu terjadi sama kita atau orang-orang terdekat.

Stop judging, start supporting.

Mitos-Mitos Yang Menghambat IMD dan Faktanya

Beberapa waktu lalu, saya dapat leaflet ini dari bidan tempat saya periksa kehamilan di Suri Seri Begawan Hospital, Brunei. Isinya bagus, tentang mitos-mitos yang menghambat inisiasi menyusu dini atau IMD secara normal. Tadinya sih mau dishare via twitter tapi setelah bikin draftnya lha kok jadinya buanyak banget. Jadi mending ditulis di sini aja deh, biar sekalian ada filenya juga, siapa tahu besok-besok perlu lagi.

Leaflet Mistaken Beliefs Barriers To Normal Breastfeeding Initiation ini dikeluarkan oleh Kementerian Kesihatan Negara Brunei Darussalam dalam menyambut World Breastfeeding Week 2007, udah lama banget ya. Jadi kalo ada yang lebih update mohon koreksinya yah.

Mitos-Mitos yang Menghambat IMD
(Mistaken Beliefs Barriers to Normal Breastfeeding Initiation)

  1. Bayi akan kedinginan selama proses IMD
    Fakta:
    Bayi berada pada suhu yang aman saat terjadi skin-to-skin contact dengan ibu. Bahkan yang menakjubkan, suhu di daerah payudara ibu meningkat 0,5ºC dalam waktu 2 menit begitu bayi diletakkan di dada ibu.
  2. Kolostrum tidak baik, bahkan berbahaya bagi bayi.
    Fakta:
    Kolostrum sangat penting bagi bayi agar dapat tumbuh dan berkembang secara sehat:
    * Berfungsi sebagai imunisasi pertama yang melindungi bayi dari infeksi saluran cerna dan infeksi lain
    * Berfungsi sebagai pencahar (purgative) untuk mempersering pembuangan kotoran yang berwarna kehitaman untuk mengurangi sakit kuning (jaundice) pada bayi.
  3. Bayi tidak akan mendapatkan cukup makanan atau minuman bila hanya diberi kolostrum dan ASI
    Fakta:
    Kolostrum cukup untuk makanan pertama bayi. Adalah hal yang normal bila bayi baru lahir kehilangan 3-6% dari berat badannya saat lahir. Bayi dilahirkan dengan cadangan air dan gula dalam tubuh yang digunakan di hari-hari pertamanya.
  4. Bayi baru lahir membutuhkan teh khusus atau cairan lain sebelum diberi ASI.
    Fakta:
    Cairan prelaktal apapun (yang diberikan sebelum proses menyusui dimulai) dapat meningkatkan resiko infeksi pada bayi, mengurangi keberhasilan pemberian ASI eksklusif dan memperpendek waktu menyusui.
  5. Ibu terlalu lelah setelah persalinan dan melahirkan untuk dapat segera menyusui bayinya.
    Fakta:
    Sentuhan kulit secara langsung antara bayi dan ibu serta proses IMD merangsang pengeluaran hormon oksitosin yang membuat ibu merasa tenang setelah bersalin.
  6. Terlalu banyak hal yang harus dikerjakan dan waktu yang lama untuk membantu ibu melakukan IMD.
    Fakta:
    Ketika bayi berada di dada ibunya, petugas penolong persalinan dalam melanjutkan penilaian rutin terhadap ibu dan bayinya serta pekerjaan lain. Ini akan memberikan kesempatan pada bayi untuk mencari jalan sendiri ke payudara ibunya.
  7. Ibu membutuhkan pemberian obat untuk mengurangi rasa sakit setelah persalinan.
    Fakta: Kebanyakan ibu tidak memerlukannya. Terapi pengganti dan pendamping persalinan yang suportif dapat membantu ibu menahan rasa sakit. Obat penahan sakit atau bius hanya akan menyebabkan bayi mengantuk dan memperlambat inisiasi menyusu sampai beberapa jam atau hari.

Nah, kalau sudah tahu faktanya jadi nggak ragu lagi kan untuk meminta dokter atau bidan memberikan kita kesempatan melakukan inisiasi menyusu dini segera setelah bayi dilahirkan.

Dulu saat melahirkan Cinta tahun 2007, saya nggak dapat IMD padahal selama dokter dan bidan mengeluarkan placenta, menjahit perineum dan melakukan pemeriksaan, bayi diberikan ke saya meski dalam keadaan sudah terbungkus selimut. Payahnya saking bingung dan excited menimang bayi yang baru lahir itu, saya cuma bisa meluk sambil ngeliatin takjub si bayi.

Selain itu selama di rumah sakit juga nggak bisa ngasih ASI Eksklusif karena saya nggak minta! Bego ya. Padahal sudah banyak belajar melalui milis ASI. Duh, nyesel banget tiap inget masa-masa itu. Makanya, kalau dikasih kesempatan melahirkan lagi nanti, sebisa mungkin pengen bisa IMD  yang seperti di video bikinan UNICEF Indonesia ini:

[youtube=http://youtu.be/Fl8GaEPOW3Q]

Kebetulan RS di Brunei sini, khususnya Suri Seri Begawan Hospital sangat peduli terhadap pemberian ASI Eksklusif, sehingga mereka mendorong ibu yang melahirkan di sana untuk menjalani IMD dan rawat gabung (rooming in) dengan bayi.

Tapi kalau ternyata berubah pikiran untuk melahirkan di Indonesia, sepertinya harus cari RS atau rumah bersalin di daerah Sidoarjo atau Surabaya Selatan yang mau melakukan IMD dan rawat gabung. Ada rekomendasi kah, moms/dads? Kalau moms sendiri pengalaman IMDnya dulu gimana? Cerita yuk 🙂

Pemberian ASI Ibu Bekerja

Ceritanya, kemarin saya periksa kesehatan di Eka Hospital, BSD. Waktu lagi ambil nomer antrian, saya melihat brosur “Pemberian ASI Ibu Bekerja” ini di meja pendaftaran. Iseng saya ambil dan baca. Ternyata isinya (menurut saya lho) cukup lengkap dan informatif.

Saat menyerahkan nomer antrian ke poliklinik yang saya tuju, brosur ini juga terpampang jelas dan manis. Selama saya menunggu giliran masuk ke ruang periksa, cukup banyak ibu hamil yang mengambil brosur tersebut. Yah, meski ada poin yang harus diperbaiki (misalnya soal kapan sebaiknya mulai memompa ASI), semoga dengan adanya brosur itu yang diletakkan di tempat yang mudah dijangkau di sebuah rumah sakit, bisa membantu ibu hamil dan ibu menyusui yang bekerja untuk tetap memberikan ASI kepada buah hatinya.

Untuk info yang lebih lengkap tentang manajemen pemberian ASI Ibu Bekerja, kita bisa lho ikut kelas-kelas pelatihan ASI yang sudah banyak dilakukan oleh konsultan-konsultan laktasi yang tergabung dalam AIMI (cek agendanya di sini) ataupun KLASI YOP. Selain ilmunya lebih banyak juga diajarkan teknik-teknik memerah atau memompa ASI yang baik. Berguna sekali untuk para ibu bekerja.

Kalau kurang jelas silakan diklik gambar brosurnya untuk versi gambar yang lebih besar. Atau sila baca salinannya berikut:

Pemberian ASI Ibu Bekerja

Ibu sibuk bekerja ataupun banyak beraktifitas bukanlah alasan untuk tidak memberikan ASI eksklusif kepada buah hatinya, karena ASI dapat disimpan terlebih dahulu.

Selain itu ASI sangat besar manfaatnya bagi bayi, maka dari itu pemberian ASI adalah suatu kewajiban. ASI tidak dapat diganti dengan susu yang mempunyai formula terbaik sekalipun.

Manfaat ASI

  • Sebagai sumber nutrisi untuk bayi
  • Meningkatkan kecerdasan anak
  • Meningkatkan jalinan kasih sayang antara ibu dan anak
  • Meningkatkan daya tahan tubuh anak

Ketahanan ASI Terhadap Suhu

  1. Suhu ruangan:
    Tahan kurang lebih 4 jam (apabila ASI tidak digunakan dalam waktu 4 jam, masukkan ke dalam lemari pendingin)
  2. Lemari Pendingin:
    – ASI dapat bertahan 48 jam (apabila dimasukkan ke dalam freezer, ASI dapat bertahan lebih dari 48 jam)
    – ASI lebih baik ditempatkan di bagian dalam lemari pendingin (jangan disimpan di dekat pintu lemari pendingin)
  3.  Freezer (suhu lebih rendah dari -20 derajat C)
    – ASI dapat bertahan kurang lebih 4 bulan
    – ASI lebih baik ditempatkan di bagian dalam lemari pendingin (jangan disimpan di dekat pintu lemari pendingin)
  4. Freezer (suhu lebih rendari dari -70 derajat C)
    – ASI dapat bertahan 6-12 bulan

Hal Yang Harus Diperhatikan Bila ASI Telah Dihangatkan

  1. ASI hanya bertahan kurang lebih 1 jam (disimpan di suhu ruangan setelah dihangatkan)
  2. Dari lemari pendingin/freezer: Tahan hingga 24 jam (jangan lupa ubah label sesuai tanggal & waktu penghangatan)
  3. ASI jangan dibekukan lagi

Hal Yang Harus Diperhatikan Untuk Memperbanyak Produksi ASI

  1. Berikan ASI minimal 12 kali dalam 24 jam
  2. Berikan ASI setiap anak Anda menginginkannya
  3. Lakukan teknik menyusui dengan benar
  4. Ibu makan makanan bergizi
  5. Minum air putih sebelum dan sesudah menyusui
  6. Ibu istirahat/tidur yang cukup (kurang lebih 8 jam sehari)
  7. Ibu harus yakin dapat memberikan ASI

Memompa ASI

  1. ASI sudah mulai dipompa 3 hari sebelum ibu mulai bekerja dan disimpan di lemari pendingin
  2. Saat di tempat bekerja, lakukan pemompaan setiap 2-3 jam
  3. Simpan ASI yang sudah dipompa di botol yang telah direbus
  4. Gunakan pemompa yang dapat disterilkan di bagian yang terkena ASI

Cara Menghangatkan ASI

  1. Bila disimpan di suhu ruangan, tidak perlu dihangatkan
  2. Bila dalam lemari pendingin/freezer, diamkan di suhu ruangan selama 30 menit kemudian rendam dengan air hangat
  3. Tidak boleh dihangatkan menggunakan microwave, di atas kompor atau di dalam air panas karena dapat menurunkan nilai gizi ASI

ASI is The Best

“Dan apakah ASI pasti jadi pilihan yang paling tepat?”

Kutipan itu saya ambil dari sebuah tulisan di salah satu media online yang sedang membahas tentang ASI vs Sufor. Yayaya topik itu memang nggak ada matinya, yes. Di tengah gencarnya kampanye bawah tanah tentang pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan dan dilanjutkan sampai 2 tahun, kubu sebaliknya juga nggak mau kalah. Semakin banyak iklan-iklan susu formula dengan formatnya yang bikin ibu-ibu meyakini bahwa sufor pun tak kalah baiknya dari ASI. Bahkan nggak sedikit tenaga kesehatan dan rumah sakit yang langsung memberikan susu formula kepada bayi baru lahir tanpa persetujuan ibunya dengan alasan air susu ibu belum keluar sampai bayi kuning.

Kenapa saya bilang kampanye ASI adalah gerakan bawah tanah? Karena meski didukung oleh dinas kesehatan tapi pelaksanaannya masih berupa sosialisasi dari mulut ke mulut. Via penyuluhan di posyandu, kelas-kelas edukasi oleh organisasi nirlaba pendukung pemberian ASI, support group dan media online. Belum ada dana besar yang dikucurkan untuk pembuatan iklan ASI eksklusif seperti halnya susu formula.

Saya sendiri nggak anti susu formula, Cinta juga nggak sukses-sukses amat ASI eksklusifnya karena 2 minggu pertama masih minum susu formula. Bahkan ketika saya bekerja, di usia 9 bulan, Cinta terpaksa diberi tambahan susu formula karena stok ASI Perah saya nggak cukup. Kesalahan yang saya sesali adalah tidak mempersiapkan stok ASIP ini dari awal, sehingga meski dalam perjalanan berangkat kerja, di kantor dan pulang kerja saya bisa memompa 4x tapi tetap saja nggak bisa memenuhi kebutuhannya akan susu.

Saya setuju bahwa tidak bisa memberikan ASI bukan berarti saya ibu yang kurang baik dibandingkan ibu-ibu yang sukses memberikan air susunya untuk bayi mereka. Masih banyak faktor lain yang harus diperhitungkan untuk menilai seorang ibu itu ibu yang baik atau bukan. Ada pola asuh, pemberian nutrisi & asupan gizi, dll. Dan menurut saya yang berhak menilai pun anaknya sendiri, bukan sesama orang tua. Apa yang baik menurut kita belum tentu cocok untuk diterapkan di keluarga lain, bukan.

Para ibu yang sudah berusaha memberi ASI namun gagal juga tak perlu rendah diri. Yang penting kita sudah berusaha semampu kita. Tapi saya tetap percaya bahwa ASI adalah pilihan yang terbaik. No question, about it. Kegagalan sekarang bisa jadi pemacu untuk belajar lebih banyak lagi tentang ilmu dan manajemen ASI. Apalagi saat ini sudah semakin banyak konselor laktasi yang siap membantu. Semangat!

Menyusui di Tempat Umum

Seperti kata @sabai di sini, minggu ini adalah World Breastfeeding Week dimana organisasi ibu menyusui di seluruh dunia termasuk AIMI (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia) menggunakan momen ini untuk berkampanye semaksimal mungkin mengenai manfaat-manfaat menyusui bagi ibu dan anak. Tahun ini tema kampanye WBW yang diusung oleh AIMI adalah “Menyusui: Sepuluh Langkah Menuju Sayang Bayi,” dengan slogan “Sayang Bayi, Beri ASI”.

Kenapa menyusui saja perlu dikampanyekan dan disosialisasi? Bukankah menyusui itu proses alamiah seorang ibu memberi makan untuk anaknya? Well, banyak alasan kenapa banyak ibu yang tidak mau menyusui, mulai dari ASI-nya tidak keluar, takut bentuk payudaranya berubah menjadi tidak bagus, promosi susu formula yang berlebihan sampai malas karena tidak praktis. Tidak praktis? Iya, antara lain karena ibu harus membawa anaknya kemana-mana supaya dapat disusui setiap si anak menginginkan, malu jika harus menyusui di tempat umum sehingga ia harus “terkurung” di rumah sampai anak disapih, padahal yang namanya menyusui nggak cuma sampai ASI Eksklusif 6 bulan tapi berlanjut sampai 2 tahun atau lebih tergantung kesepakatan anak dan ibu.

Soal menyusui di tempat umum ini yang paling sering dipersoalkan oleh banyak pihak, bahkan dari kaum perempuan sendiri seringkali memandang risih kegiatan ini. Bahkan ada juga yang menganggap menyusui di tempat umum dan tanpa sengaja memperlihatkan payudara adalah pornoaksi. Padahal, banyak ibu yang mau tidak mau harus menyusui di tempat umum karena terbatasnya ruangan ibu dan anak atau nursery room. Anak yang minum ASI tidak seperti anak yang diberi susu formula yang bisa diperkirakan waktu minum susunya. Kadang anak minta menyusu bukan saja karena ia haus atau lapar tapi juga karena merasa tidak nyaman.

Sebagai mantan ibu menyusui yang tidak menggunakan jasa babysitter sampai Cinta berusia 6 bulan, sejak ia berusia 1 bulan sudah saya ajak kemana-mana; bank, mall, arisan, dsb. Kalau dibilang egois ya bolehlah. Tapi sekedar membela diri, saya pun tidak bisa hanya diam di rumah sampai anak saya selesai masa menyusui. Bahkan seorang ibu pun punya hak untuk melihat dunia luar kan? Sementara anak tidak bisa ditinggal di rumah karena tidak ada yang menjaga.

Awalnya tentu saya merasa risih harus menyusui di tempat umum, sayangnya tidak semua lokasi yang saya datangi menyediakan tempat khusus menyusui. Di Surabaya, hanya 2 mall yang ada nursery roomnya di tiap lantai, yaitu di Galaxy Mal dan CITO (City of Tomorrow) itu pun yang di Galaxy Mal jadi satu dengan toilet untuk anak. Untuk mengantisipasi hal itu biasanya Cinta saya susui dulu di mobil selama perjalanan dan menyelesaikan segala urusan sebelum tiba saat menyusu berikutnya. Tapi kadang tidak selalu berjalan lancar, saat sedang makan atau belanja tiba-tiba dia menangis minta minum, mau tidak mau harus diberi. Saking malunya, saya beberapa kali menyusui Cinta di toilet umum tapi kemudian saya sadar bahwa anak saya tidak layak menyusu di tempat seperti itu. Hei, kita pun nggak mau kan makan di kamar mandi? Memerah ASI dan menyimpannya di botol untuk diberikan saat di tempat umum juga pernah saya lakukan, sayang Cinta lebih suka minum ASI langsung dari kemasan aslinya daripada botol.

Sampai akhirnya saya berusaha masa bodoh, saat anak minta disusui dimanapun saya berada pasti berusaha mencari tempat senyaman mungkin untuk menyusui. Pakai baju yang cukup sopan sehingga ketika dibuka tidak (terlalu) menampakkan tubuh, ditutupin pakai selimut, mojok, dan masih banyak trik-trik lain. Lalu berkenalanlah saya dengan nursing apron, nursing dress, nursing shirt yang membuat saya bisa menyusui kapanpun, dimanapun tanpa khawatir ada bagian tubuh saya yang akan terekspos. Yayaya, tidak dipungkiri beberapa kali saya mendapatkan tatapan yang kurang bersahabat, tapi saya tak peduli. Yang penting anak nyaman, kenyang & bahagia karena mendapatkan kebutuhannya.

Selamat merayakan Pekan ASI Sedunia, semoga semakin banyak anak Indonesia yang memperoleh haknya yaitu ASI dan semakin banyak ibu yang tahu trik-trik menyusui di tempat umum dengan elegan.