Ada Kutil di Kulit si Anak? Mungkin itu Molluscum Contagiosum. 

Menjelang akhir tahun 2016 saya melihat ada bintik-bintik kecil di kakinya Keenan. Awalnya saya pikir cuma efek kulit sensitifnya yang kering dan bakal hilang sendiri karena nggak merah dan nggak berair. Tapi setelah beberapa minggu nggak hilang suami mulai aware dan beberapa kali tanya tentang bintik-bintik itu. Saya masih tetap santai karena ketika ditanyakan ke Keenan dia jawab nggak sakit dan nggak gatal.

Sebulan kemudian saat saya membawa Keenan periksa ke dokter karena batuk pilek yang berkepanjangan, sekalian saya tanya tentang bintik-bintiknya. Beberapa pertanyaan yang diajukan dokter, yaitu:

“Sudah berapa lama?” “Sebulan lebih.”

“Terasa gatal, sakit atau panas nggak?” “Enggak.”

“Sebelum bintik-bintiknya muncul apa Keenan berenang di kolam renang umum?” “Iya, kebetulan 2 bulan sebelumnya kami berenang di sebuah waterpark dan pantai.”

molluscum contagiosum, kutil pada anak, penyakit kulit pada anak

Dari hasil pemeriksaan dan pertanyaan, dokter menyimpulkan bahwa Keenan terkena virus HPV yang menular lewat air di kolam renang umum. Virus HPV tipe yang menyebabkan kutil ini nggak berbahaya, bahkan cukup umum dialami oleh anak dan orang dewasa khususnya laki-laki. Karena penyebabnya virus ya bisa sembuh sendiri dalam 2-3 bulan tanpa perlu mengkonsumsi obat. Hanya saja kalau imunitas tubuh Keenan sedang turun bisa terinfeksi virus itu lagi.

Okelah, alhamdulillah penjelasan dokter membuat saya tenang. PR saya waktu itu hanyalah meningkatkan daya tahan tubuh Keenan supaya bisa melawan virusnya.

Tapi setelah lebih dari 4 bulan, kutilnya nggak menghilang. Malah muncul beberapa lagi di dada dan perutnya. Keenan pun mulai sering menggaruk bagian kakinya yang berkutil, apalagi saat kulitnya kering. Kulit Keenan ini memang gampang kering sejak bayi, sampai dia hanya bisa pakai Sebamed bayi. Sabun lain bakal bikin kulitnya makin kering. Susahnya lagi dia nggak suka minum air. Dalam 1 hari paling mentok 2 botol air minum kapasitas 450ml. Jadi, kondisi seperti ini semakin membuatnya nggak nyaman dan saya kekhawatiran saya muncul lagi.

Nah, sebelum bulan Ramadhan 2017, kami dapat kesempatan untuk ke dokter lain. Waktu itu, kakak Cinta dapat rekomendasi dari dokter sekolah untuk bertemu dengan dokter di Pusat Kesihatan Sg. Liang. Sekalian deh saya periksakan Keenan ke dokter.

Senada dengan dokter sebelumnya, dokter ini juga bilang kena virus tanpa menyebutkan nama virusnya dan bakal bisa hilang sendiri. Beliau meresepkan salep anti gatal yang sayangnya saat itu sedang nggak tersedia di sana. Saya coba bersabar lagi sambil tetap mengoleskan body lotion khusus untuk bayi ke kulitnya yang kering.

Waktu mudik ke Sidoarjo untuk merayakan Idul Fitri 2017, saya dan suami mencoba memeriksakan Keenan ke dokter spesialis anak di salah satu klinik ibu dan anak di Sidoarjo. Dokter yang baik dan ramah itu menyimpulkan kutil tersebut disebabkan oleh alergi. Beliau meresepkan 2 buah salep, 1 lotion untuk melembabkan kulit kering dan 1 sirup untuk mengurangi efek alerginya.

Setelah pemakaian hampir seminggu, nggak ada tanda-tanda kutilnya membaik. Tapi alhamdulillah memang kulit Keenan jadi lebih lembab sehingga dia nggak terlalu merasa gatal. Akhirnya kami hentikan pemakaian salepnya karena hydrocortisone kan memang nggak boleh untuk pemakaian jangka panjang. Lalu memutuskan untuk konsultasi ke dokter spesialis kulit.

Karena masih dalam rangka libur lebaran, nggak gampang cari dokter spesialis kulit yang praktik di hari Sabtu, alhamdulillah ada di RS Mitra Keluarga Waru, Sidoarjo. Dokter spesialis kulit kelamin yang saya lupa namanya itu (maaf, Dok), memeriksa kutil di kulit Keenan dan mendengarkan penjelasan kami dengan sabar. Kemudian beliau menerangkan bahwa penyebab kutil yang dimiliki Keenan bukanlah virus HPV melainkan infeksi viral yang disebut Molluscum Contagiosum. Wah, saya baru sekali ini dengar namanya meskipun ternyata cukup umum dialami oleh anak-anak usia 1-12 tahun.

Molluscum Contagiosum adalah infeksi viral yang menyebabkan bintik-bintik kecil pada kulit yang penampakannya mirip dengan kutil dan biasanya berwarna putih (seperti punya Keenan), pink atau sewarna dan kulit. Bintik mollusca ini biasanya halus, mengkilat seperti mutiara dan kadang penyok atau berisi di tengahnya. Dan umumnya terdapat di dada, perut, lengan, ketiak, kaki, area genital dan wajah.

Molluscum Contagiosum, kutil pada anak, menyembuhkan kutil pada anak, penyebab kutil pada anak, penyakit kulit pada anak

Penyebab penyakit ini adalah virus molluscum contagiosum (MCV) yang masih bagian dari poxvirus. Menurut kidshealth.org, anak terinfeksi MCV ketika virus memasuki bagian kulit yang terluka. Banyak orang yang tubuhnya secara otomatis membangun kekebalan untuk melawan virus ini ketika terinfeksi sehinggga nggak muncul bintik molluscanya. Tapi bagi sebagian yang nggak kebal, pertumbuhan mollusca atau kutil muncul 2 sampai 7 minggu setelah terinfeksi MCV.

Biasanya virus ini menyebar di daerah yang hangat, lembab dan padat penduduk. Agak aneh sih karena meski hangat dan lembab tapi tempat kami tinggal nggak padat penduduk. Tapi bisa juga tertular lewat teman-teman di kelas ya.

Anak-anak dapat terinfeksi virus molluscum contagiosum melalui skin-to-skin contact atau menyentuh benda yang sudah terpapar virus tersebut seperti mainan, baju, handuk dan alas tidur. Dan mollusca bisa menyebar ke bagian tubuh lainnya ketika tangan yang digunakan untuk menyentuh atau menggaruk mollusca menyentuh bagian tubuh yang lain.

Menurut dokter SPKK dari Mitra Keluarga Waru Sidoarjo itu, satu-satunya cara menghilangkan kutil pada anak ini  dengan mengeluarkan isinya dengan alat seperti pinset. Tapi karena prosesnya sakit dan dapat menimbulkan trauma pada anak, dokter nggak melakukannya saat itu juga. Beliau hanya memberikan lotion untuk mengurangi gatalnya dan obat anti virus untuk meningkatkan imunitas tubuhnya supaya kutilnya nggak semakin banyak menyebar.

Sejak itu saya mulai rutin memakaikan lotion rekomendasi dokter ke kulitnya Keenan setiap habis mandi atau setiap kali dia merasa gatal. Perlahan, kondisi kulitnya mulai membaik meski kutilnya tetap ada. Tapi, suami rupanya masih gemas melihat kutil di kulitnya Keenan dan berusaha untuk mengeluarkannya sendiri dengan menekannya seperti mengeluarkan isi jerawat. Awalnya saya nggak setuju, takut Keenan kesakitan dan khawatir kutilnya makin parah.

Namun suami tetap keukeuh dan akhirnya saya biarkan saja, apalagi melihat Keenan sering menggaruk kutilnya sendiri hingga berdarah.  Memang sih dia mengeluh sakit tiap kali papanya memencet si kutil tapi begitu isinya keluar ya sudah santai aja dia. Proses mengeluarkan kutil-kutil ini tentu nggak dilakukan sekaligus melainkan satu persatu. Dalam waktu beberapa bulan saja, alhamdulillah akhirnya kulit Keenan sudah bebas dari kutil.

Molluscum contagiosum, kutil pada anak, penyakit kulit pada anak

Sekarang sudah 1 tahun sejak Keenan terinveksi virus Molluscum Contagiosum dan alhamdulillah sudah sembuh, tinggal bekas-bekasnya saja yang masih ada sedikit. Semoga sih nggak muncul-muncul lagi virusnya. Aamiin. Karena penularan virus ini adalah melalui direct skin-to-skin contact dan menyentuh benda yang terinfeksi virus, tentu lebih aman jika kita biasakan anak-anak mencuci tangan dengan sabun atau cairan pembersih tangan setiap kali mereka keluar dari arena bermain atau menggunakan fasilitas umum. Jangan biasakan anak untuk bertukar handuk, lap atau baju terutama jika tinggal di daerah yang lembab.

Nah, untuk sahabat pojokmungil yang ingin tahu lebih jauh tentang Molluscum Contagiosum atau yang sering dikenal juga dengan kutil pada anak, berikut beberapa situs yang bisa dibaca untuk referensi. Tapi sebaiknya langsung ke dokter spesialis kulit untuk kepastian diagnosanya jika ada kutil di kulit si kecil ya. Stay healthy, sahabat pojokmungil.

The Royal Children Hospital Melbourne.
KidsHealth.org

Merawat Anak Demam Saat Traveling

Anak Demam, Anak demam saat traveling, tempra syrup

Hai, Sahabat PojokMungil. Hari ini, kita sudah memasuki awal tahun 2018. Beberapa dari kita mungkin sudah mulai bersiap-siap dengan aktivitas normal setelah libur panjang sekolah dan akhir tahun. Anak-anak saya juga sudah masuk sekolah lagi setelah libur lebih dari satu bulan.

Iya, di Brunei tahun ajaran sekolah berakhir di akhir bulan November. Sehingga anak-anak libur kenaikan kelas mulai dari awal Desember sampai awal Januari. Tapi tahun ini saya dan anak-anak memulai liburan lebih awal demi tiket mudik yang lebih murah.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, setiap libur panjang akhir tahun kami selalu berusaha untuk mudik ke Sidoarjo, walaupun 2 tahun belakangan ini suami nggak bisa ikut karena sibuk dengan pekerjaannya. Alhamdulillah, meski cuma berangkat bertiga, perjalanan kami cukup lancar. Anak-anak kooperatif sekali selama di pesawat. Bahkan kali ini Keenan yang biasanya sangat aktif, bisa duduk tenang sambil main gadget selama di pesawat. Mereka juga nggak mengeluh saat harus berjalan cukup jauh menuju tempat pemeriksaan imigrasi dan menunggu bagasi. Mungkin karena mereka sangat bersemangat untuk berlibur di rumah neneknya ya.

Maklum, liburan di rumah nenek memang selalu menyenangkan. Selain bisa jalan-jalan ke mall dan tempat-tempat bermain, mereka juga bisa main bareng paman, tante dan sepupu-sepupunya.

Hanya saja, kesibukan selama mudik nggak jarang bikin anak-anak kecapekan dan sakit. Seperti yang dialami Keenan waktu liburan kemarin. Tiba-tiba saja suatu sore sepulang kami dari suatu tempat, badannya demam, padahal nggak ada tanda-tanda batuk atau pilek. Saya pikir cuma masuk angin, jadi setelah mandi sore saya oleskan minyak kayu putih dan perbanyak minum karena dia menolak untuk makan.

anak demam, anak sakit saat traveling. tempra syrup

Menjelang malam, demam Keenan makin tinggi, saya pun akhirnya meminta supir mama untuk membelikan obat penurun panas. Mama saya menganjurkan untuk beli Tempra, “Kalian dulu kalau panas juga mama kasih Tempra kok,” ujarnya.

Meski ada adegan salah beli varian Tempra, akhirnya tersedia 1 botolTempra SyrupParacetamol di rumah. Tempra menjadi pilihan kami karena aman di lambung, tidak perlu dikocok karena larut 100% dan memiliki dosis yang tepat asal digunakan sesuai petunjuk dalam kemasan.

Di hari pertama demam, selain memperbanyak asupan cairan saya juga memberikan Keenan Tempra setiap 4 jam untuk membantunya merasa nyaman karena demamnya mencapai 38,5 derajat C. Alhamdulillah, dengan kandungan 150mg paracetamol pada setiap 5ml Tempra, obat ini bekerja sebagai antipiretika yang berfungsi menurunkan panas dengan cepat dan meningkatkan ambang rasa sakit sehingga dapat mengurangi rasa nyeri saat demam dan membantu Keenan untuk tidur lebih nyenyak.

Di hari kedua, demamnya mulai turun dan Keenan mulai ceria. Tapi saya belum bisa bernafas lega karena tiba-tiba saat malam hari Keenan kembali demam.

Demam yang dialami Keenan tentu membuat saya menunda beberapa acara. Tapi untungnya kakak Cinta nggak ikut mati gaya karena paman dan tantenya mengajak dia dan sepupunya untuk menginap di apartemen mereka. Sementara Keenan harus tinggal di rumah sampai benar-benar fit lagi.

Di hari ketiga, karena demamnya masih naik turun dan Keenan mulai lemas karena nggak mau makan, akhirnya saya memutuskan untuk membawa Keenan ke dokter. Setelah diperiksa, dokter mengatakan bahwa amandelnya Keenan radang dan beliau memberikan 2 buah obat untuk dikonsumsi Keenan. Obat pertama saya tolak karena berupa puyer penurun demam dan pereda nyeri. Keenan nggak biasa minum puyer sih, daripada malah nggak terminum saya meminta alternatif lain. Lalu dokter menganjurkan saya meneruskan konsumsi obat penurun panas yang saya punya, dengan catatan jika sampai hari kelima masih ada demamnya, maka Keenan harus kembali untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Alhamdulillah di hari keempat Keenan sudah mulai membaik, meski sesekali bilang pengen pulang ke rumah Brunei dan kangen sama papanya. Setelah Keenan benar-benar pulih, baru saya berani mengajak dia melanjutkan agenda-agenda yang sempat tertunda.

Anak sakit saat kita sedang bepergian memang bisa bikin perasaan jadi nggak karuan ya. Tapi, karena hal ini cukup sering terjadi pada kami, saya punya beberapa tips yang biasa saya lakukan:

Tips Merawat Anak Demam Saat Traveling

1. Mencari Akses Kesehatan Terdekat

Sebelum berangkat ke tempat tujuan, saya cari info dulu tentang klinik kesehatan atau RS terdekat dari hotel atau tempat kami menginap dan bagaimana menuju ke sana, terutama jika kami nggak bawa kendaraan sendiri.

2. Membawa First Aid Travel Kit

anak demam, first aid travel kit, obat yang harus dibawa saat bepergian, tempra syrup

Ini adalah bawaan yang wajib ada di dalam bagpack saya tiap kali kami bepergian. Isinya plester luka, obat luka, oralit atau pedialit, paracetamol dan obat maag untuk saya, minyak kayu putih, termometer dan obat penurun demam untuk anak-anak. Biasanya saya membawa Tempra Syrup. Kemasannya yang anti pecah dengan tutup yang nggak gampang terbuka membuatnya aman diletakkan di dalam tas. Saya juga nggak takut disuruh membuang Tempra Syrup jika naik pesawat. Volumenya yang cuma 60ml masih di bawah standar maksimal cairan yang boleh dibawa masuk ke dalam kabin pesawat.

3. Istirahat

Saat anak mulai merasa nggak enak badan, langsung batalkan semua agenda dan biarkan anak beristirahat. Anak yang sakit perlu istirahat yang cukup untuk memulihkan kondisi badannya. Kalau dipaksakan, perjalanan juga jadi nggak menyenangkan karena anak akan rewel dan kita jadi nggak tenang. Jika kita pergi sekeluarga, biarkan suami yang membawa anak-anak lain jalan-jalan sementara kita menemani dan merawat anak yang sakit di tempat penginapan atau sebaliknya.

4. Rehidrasi

Saat anak demam, perbanyak asupan cairannya. Minum air mineral yang banyak atau oralit jika perlu supaya ia tidak dehidrasi.

5. Waspadai Tanda Kegawatdaruratan Demam

Anak dikatakan demam kalau suhu tubuhnya mencapai 38 derajat celcius. Demam biasanya disebabkan karena tubuh anak sedang melawan kuman yang berusaha menginfeksi tubuh. Sebagian besar demam tidak berbahaya. Tapi kita juga nggak boleh menyepelekan demam begitu saja. Pelajari kapan kita harus membawa anak ke RS saat dia demam.

6. Dampingi Anak Saat Ia Demam

Beberapa anak tetap ceria dan aktif saat ia demam, tapi anak-anak saya biasanya jadi lesu dan nggak bersemangat ketika suhu tubuhnya meninggi. Saat-saat seperti ini biasanya saya memilih untuk mendampingi mereka, meskipun harus mengorbankan agenda liburan saya. Saat anak-anak masih bayi, saya suka melakukan skin-to-skin contact dan membiarkan mereka berbaring di atas dada saya untuk membuat mereka nyaman. Berendam di air hangat juga sering jadi pilihan untuk membantu menurunkan suhu tubuhnya. Banyak yang menyarankan supaya memakaikan anak baju yang sejuk saat demam, tapi anak-anak saya justru lebih memilih baju yang hangat atau tidur dengan selimut di ruangan yang sejuk saat mereka demam. Ketika suhu tubuh anak mencapai 38 derajat Celcius dan ia jadi rewel dan nggak nyaman karena demamnya baru deh dikasih obat penurun panas.

merawat anak demam, anak sakit saat traveling, tempra syrup

Anak yang sakit saat demam memang bisa membuat agenda traveling berantakan. Apalagi kalau rencana kita berkunjung di tempat tersebut hanya beberapa hari dan ingin mengeksplorasi daerah tersebut. Kehilangan 1-2 hari karena anak sakit tentu sedikit banyak bikin kecewa. Untuk itu kita bisa melakukan hal ini agar anak tetap fit selama traveling:

1. Atur agenda traveling sesuai dengan ritme tubuh anak. Jangan paksakan bepergian sepanjang hari sehingga anak kurang istirahat, terutama jika usianya masih sangat muda atau baru pertama kali bepergian jauh. Beri kesempatan anak untuk beristirahat dengan nyaman sehingga tetap fit.

2. Banyak minum dan makan yang teratur. Selalu sediakan air minum dan bekal makanan di dalam tas agar mudah dikonsumsi anak. Kadang jadwal bepergian membuat kita nggak bisa makan tepat waktu, bekal makanan berupa roti atau buah bisa mengisi perut anak agar dia nggak kelaparan.

3. Minum suplemen makanan atau vitamin jika perlu. Kadang saat bepergian, makanan yang kita santap nggak bisa seideal saat kita sedang di rumah, sehingga anak-anak kekurangan vitamin yang dibutuhkan tubuh. Untuk mengatasinya kita boleh memberikan mereka tablet vitamin atau suplemen makanan sesuai yang direkomendasikan oleh dokter anak.

4. Selalu cuci tangan dengan sabun atau cairan antiseptik sebelum dan sesudah makan untuk mencegah kuman masuk ke dalam tubuh anak.

Saya mungkin bukan ibu yang sempurna dan penuh kelembutan. Tapi insyaAllah saat anak-anak membutuhkan, saya akan berada di sisi mereka, terutama saat mereka sakit. Setidaknya ini salah satu cara saya menunjukkan bahwa selalu ada cinta di hati saya untuk mereka.

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Tempra.

Menenangkan Bayi Rewel Karena Kolik dengan Alat Pembersih Debu

Kemarin waktu beres-beres file di komputer, saya menemukan banyak sekali foto-foto Cinta semasa bayi. Maklum ya, namanya juga anak pertama. Pasti setiap langkahnya nggak lewat dari jepretan kamera walaupun hasilnya masih ala kadarnya. Menyenangkan juga nostalgia ke masa dia bayi. Mengenang masa-masa saya masih awam dengan dunia peribuan dan masih suka bingung menghadapi bayi yang tiba-tiba nangis nggak berhenti mulai maghrib sampai menjelang tengah malam.

Akibat kebingungan itu, Cinta sempat berkali-kali kami bawa ke dokter yang berakhir dengan gebokan obat yang harus dikonsumsinya dan instruksi diet untuk saya karena masih menyusui. Konon, menurut dokter, makanan yang dikonsumsi ibu menyusui juga bisa berpengaruh terhadap pencernaan anak. Jadi waktu itu saya harus mengurangi makan daging ayam, ikan, telur, juga sayuran yang bisa menyebabkan perut kembung seperti kubis.

Tapi ternyata episode menangis di malam hari sambil menekuk tubuhnya seolah-olah perutnya sakit itu masih sering berlangsung. Sampai akhirnya saya menemukan jawabannya di buku The Baby Book karangan William Sears, MD yang setebal batu bata. Dari buku itulah saya mengetahui kalau gejala yang dialami oleh Cinta itu berjudul kolik. Walaupun kemudian Dr. Sears bilang sebenarnya nggak mudah mendiagnosa bayi mengalami kolik. Dan beliau lebih suka menyebut bayi yang terus menerus menangis dalam periode tertentu itu sebagai, ‘the hurting baby‘. Tapi sebagian besar dokter anak dan situs-situs kesehatan sudah terlanjur mengenal gejala tersebut sebagai kolik. 

apa dan bagaimana kolik

Dengan mengandalkan koneksi internet yang masih terbatas waktu itu dan sumber informasi yang belum sebanyak sekarang, saya coba berbagai metode yang dipercaya untuk menenangkan bayi yang terus menerus menangis karena gangguan perut yang nggak diketahui penyebabnya ini. Mulai dari menggosok perut pakai minyak telon, pijat bayi, diayun-ayun, gendong kanguru sampai yang sepintas nggak masuk akal seperti menyalakan hair dryer dan alat pembersih debu. 

Tapi yang dua terakhir ini cukup efektif lho buat Cinta dulu. Ternyata alat pembersih debu termasuk salah satu alat elektronik yang mengeluarkan white noise, selain hair dryer. White noise adalah suara bising yang mengandung banyak frekuensi dengan intensitas yang sama dan dapat menenggelamkan suara yang lain. Menurut beberapa sumber yang dapat dipercaya, bayi terutama yang baru lahir, suka sekali dengan white noise karena mirip dengan suara yang mereka dengar selama berada di dalam rahim. 

Nah, karena itulah suara dari alat pembersih debu dapat menenangkan bayi, terutama yang belum terbiasa dengan keriuhan dunia luar. Kalau bayi tenang, otomatis dia bisa tidur dengan mudah kan ya. Jadi meskipun aneh, metode ini cukup masuk akal juga dipraktikkan, bahkan salah seorang blogger luar negeri pernah cerita saking seringnya bayinya rewel karena kembung, dia jadi tergantung sama alat pembersih debu ini sampai mesinnya rusak karena terlalu sering dinyalakan. Jadi lumayan ya, selain untuk membersihkan rumah, alat pembersih debu juga bermanfaat menenangkan bayi yang rewel.

 

 

7-tips-menenangkan-bayi-rewel-3

Tentunya, selain dengan white noise dari alat pembersih debu, hair dryer, kipas angin, humidifier dan suara yang dihasilkan ketika siaran TV habis trus cuma keliatan layar berbintik-bintik seperti semut, ada banyak metode yang bisa kita lakukan saat anak rewel karena merasa nggak nyaman dengan kondisi tubuhnya atau lingkungannya. Ini dia 7 di antaranya:

1. Bedong

Membungkus bayi dalam kain bedong kayanya sekarang sudah mulai ditinggalkan karena banyak yang bilang nggak baik untuk kesehatan anak. Tapi dalam beberapa kasus, seperti bayi yang rewel terus karena kolik, dibedong bagi mereka seperti berada dalam rahim. Menenangkan dan nyaman. Hanya saja pastikan bedong nggak terlalu kencang, sekadar agar tangan dan kaki anak nggak bisa keluar.

2. Nyalakan White Noise

Masih dengan alasan yang sama seperti bedong, suara-suara ‘putih’ yang dikeluarkan oleh alat pembersih debu, pengering rambut, pencuci piring mirip dengan yang didengar bayi saat dalam kandungan. Suara-suara itu dikenal sebagai soothing sound yang dapat membuat bayi lebih tenang. 

3. Shh!

Bukan, ini buat suara shhh dalam nada membentak ya. Ini suara shhh yang kita gunakan untuk menimang bayi, kebayang kan? Nah, gendong bayi dalam posisi berdiri trus bisikkan shhhh panjang ke dekat telinganya dengan volume yang lebih keras dari suara tangisannya.

4. Naik Mobil

Kalau punya mobil, cara ini lumayan ampuh lho untuk menenangkan bayi yang rewel. Dulu juga kalau Cinta rewel semaleman, adik-adik dan sepupu saya yang tinggal di rumah (mama saya) bergantian nyetirin mobil keliling komplek perumahan sampai dia tertidur. Biasanya sih, nggak sampai 5 menit muter Cinta sudah tidur. Menurut WebMD, cara ini efektif karena sejak dalam kandungan, bayi terbiasa ikut bergerak. Jadi kalau kita bawa naik mobil, diayun, kita pangku sambil duduk di kursi goyang atau didudukkan dalam kursi bayi yang punya mode getar, bisa membuat bayi nyaman karena mengingatkannya pada keadaan saat dalam kandungan.

5. Pijat Bayi

Menurut penelitian, bayi yang dipijat cenderung jarang menangis dan mudah tidur nyenyak. Nah, awalnya saya kira pijat bayi yang paling efektif adalah di tempat terapis pijat bayi gitu. Tapi ternyata itu nggak berlaku untuk Cinta. Setiap dipijat dia selalu menangis heboh meskipun setelah itu bisa tidur dengan tenang dan nyaman.

Akhirnya saya coba belajar pijat bayi sendiri lewat buku dan VCD, ternyata Cinta suka banget. Sentuhan lembut kulit kita dengan si bayi selain menenangkan bayi ternyata juga menenangkan kita. Dan bisa meningkatkan bonding ibu dan bayi serta dapat mengeluarkan gas di dalam perut yang biasanya membuat bayi kesakitan.

6. Sendawakan Bayi

Satu cara yang sering dianjurkan oleh para dokter yang kami kunjungi dalam periode tangisan tak berujung ini adalah rajin menyendawakan bayi setelah dia minum susu atau menangis. Seringkali, udara yang ikut masuk saat anak minum susu atau menangis menyebabkan perutnya kembung dan bergas, sehingga semakin parah rewelnya.

7. Kunjungi Dokter

Banyak faktor yang menyebabkan anak menangis tiada henti, sehingga untuk menentukan faktor penyebabnya dan menemukan cara terbaik untuk membuatnya nyaman adalah dengan berkonsultasi dengan dokter anak langganan kita. Takutnya ada kondisi medis yang memerlukan penanganan lebih lanjut. Selain itu menurut pengalaman pribadi, setiap kali merasa galau dengan kondisi anak, berkunjung dan berkonsultasi dengan dokter bisa membuat kita lebih tenang. Tentu pilih dokter yang mau diajak berdiskusi ya, bukan yang hanya periksa 1 menit langsung kasih obat.

Hal yang terpenting dalam menghadapi bayi yang rewel karena kolik ini adalah kita harus tetap tenang dan pastikan bahwa rewelnya anak bukan karena lapar atau mengantuk. Nggak gampang memang, saya tahu banget itu. Tapi semakin kita bingung dan panik yang berujung marah-marah, bayi juga jadi makin nggak nyaman sehingga makin rewel. Kalau sudah benar-benar nggak tahan dengan kerewelan bayi, letakkan dia di tempat yang aman atau titipkan pada orang rumah sementara kita minum teh, makan atau mandi supaya segar. Dan yakinlah ini semua akan berakhir kok. Biasanya setelah 6 bulan, bayi akan lebih tenang dan jarang menangis terus menerus. So, hang in there, Mom.

Ritual Pagi Untuk Mood Yang Lebih Baik

morning routine for busy mom, morning routine, mom, lifehack

Moms, pernah nggak sih merasa bad mood berkepanjangan? 

Malas bangun dari tempat tidur, malas ngapa-ngapain, kehilangan minat untuk melakukan hal-hal yang disukai, kepala rasanya penuh dengan berbagai pikiran harus mengerjakan ini dan itu tapi kemudian semuanya berantakan. Menjalani kegiatan sehari-hari pun menjadi sekadar rutinitas tanpa arti. Seakan-akan tubuh dan pikiran nggak nyambung, badannya di mana, pikirannya sudah berkelana ke mana-mana. Moody, bawaannya pengen makan tapi trus nyesel karena kebanyakan makan, akhirnya uring-uringan lagi. Hal-hal kecil bisa bikin kita emosi dan pengennya seharian itu sendiri, tiduran, main hape atau baca buku. Ya, perasaan semacam itulah? Pernah?

Saya sedang mengalaminya dan kondisi ini sudah berlangsung selama beberapa minggu. Sampai suami saya menyuruh saya ke dokter karena melihat saya yang nampak nggak seperti biasanya. Padahal saya tahu secara fisik saya sehat, never been this fit, thanks to the Body Balance class yang saya ikuti seminggu 2 kali belakangan ini. Bahkan mulai minggu lalu sesi “olahraga” bertambah karena di sore hari anak-anak suka minta ke Billionth Barrel Monument untuk cari Pokemon :))

 

Karena kondisi ini banyak pekerjaan yang terbengkalai, termasuk urusan ngeblog. Banyak hutang tulisan yang belum saya lunasi, kalaupun akhirnya saya posting saya merasa nggak memberikan 100% usaha saya untuk menulis hal itu. 

Periode vakum ngeblog ini memang selalu saya alami. Ada saat-saat saya sangat produktif, bisa posting beberapa kali dalam seminggu dengan banyak sekali ide tulisan yang bermunculan. Masih sempat juga untuk berkontribusi di situs-situs lain di sela-sela aktivitas rutin seperti ngurus rumah, antar jemput anak-anak, masak, bergaul, berkomunitas, olahraga dan sebagainya. Kadang memang merasa seperti sprint karena harus mengerjakan sesuatu dengan cepat, sehingga tiap abis Maghrib sering merasa kelelahan tapi saya happy. 

Lalu muncul periode seperti yang sedang saya alami saat ini. And I feel unhappy

Kemudian, saya mulai membaca satu per satu blog teman-teman yang tergabung dalam grup V Arisan Link Blogger Perempuan. Lantas mengagumi betapa produktifnya mereka, betapa cerianya nada dalam tulisan mereka. Dan saya semakin merasa down hahaha. Iya, kok saya nggak bisa seperti itu. Katanya pengen jadi blogger profesional, mengalahkan mood saja nggak bisa. Duh.

Baca juga: Working At Home Mom: Blogger Profesional

Apalagi ngeliat blog dan aktivitasnya Tia Marty, seorang blogger dan penulis yang sangat produktif menurut saya. Ya, gimana enggak, selain rajin menulis aneka reportase dari berbagai event yang ia kunjungi sebagai blogger, Tia juga berprofesi sebagai scriptwriter untuk serial Bro and Bray, Laundry Kiloan, Kos-kosan Jogja, Lovepedia: Dilema Sahabat, dan layar unggulan: Cinta Seutuhnya. Keren yaa. Profesinya sebagai penulis skrip ini memungkinkan Tia untuk berkenalan dengan para artis, lho. Seru liat foto-foto Tia bareng beberapa pemain sinetron di akun Instagramnya.

Masih belum puas, Tia yang bergabung dalam berbagai komunitas penulis dan blogger seperti IIDN (Ibu Ibu Doyan Nulis), Blogger Reporter Indonesia, Blogger Perempuan dan Writer Blogger juga sudah menerbitkan beberapa buku fiksi maupun non fiksi. Hiaaa, produktif banget kan. Trus masih sempat juga jalan-jalan dan menyalurkan hobi memotretnya sambil mempromosikan hasil karyanya di media sosial.

Tia Marty, tiamarty.com, arisan link, blogger perempuan, profil blogger, blogger, scriptwriter
Buku-buku karya Tia Marty

Ketika saya mencoba mengorek rahasianya, Tia mengaku nggak punya kiat khusus untuk menjaga moodnya supaya tetap produktif dalam berkreasi. Dia hanya berusaha membuat skala prioritas dalam setiap kegiatannya. 

“Aku utamakan yang deadline dulu yang aku kerjakan, misalnya menjelang deadlineskrip, aku fokus di situ. Kalau sudah selesai baru ganti fokus nulis buku atau blog.”

Untuk blog sendiri, walau rajin datang ke event dan mendapat job review, Tia nggak punya target khusus. “Aku jalaninnya santai. Sesempatnya saja,” ujarnya. Meski demikian ternyata beberapa tulisan di blog tiamarty.com sudah berhasil menjadi juara di beberapa kompetisi blog, lho. Itu yang namanya sersan kali ya, serius tapi santai. Maklum, bagi Tia, dunia penulisan ini adalah hal yang dia sukai sehingga ia mengerjakannya dengan senang hati. “Kalau lagi nggak moodya aku tinggalin sebentar buat nonton, jalan-jalan, makan, tidur.”

Tia Marty, tiamarty.com, arisan link, blogger perempuan, blogger, scriptwriter

Nah, mungkin itu ya, rahasia supaya periode demotivasi saya ini nggak makin berlarut-larut. Melakukan sesuatu yang saya suka. Tapi, untuk ibu-ibu dengan aktivitas random seperti saya ini, agak susah menjaga mood mungkin ya. Lagi hepi masak di dapur, eh udah waktunya jemput anak sekolah. Lagi nulis, eh, si kecil udah ngoceh-ngoceh minta ditemenin main. Mau ngopi-ngopi cantik sama temen-temen kok ya kerjaan rumah menuntut diselesaikan. Ya udahlah, saya mah tidur aja akhirnya :))

Namun, ternyata masalah ini nggak cuma saya sendiri yang menghadapi kelelahan mental seperti itu dan menurut beberapa contekan yang saya baca salah satu obatnya adalah melakukan rutinitas rutin tiap pagi supaya seharian dapat melakukan aktivitas dengan tubuh dan pikiran yang segar. Apa aja sih?

morning routine for busy mom, morning routine, mom, lifehack

1. Bangun Lebih Dulu dari Penghuni Rumah Lainnya

Iya, ini pasti sudah rutin dilakukan emak-emak ya. Tidur paling malam (kecuali suami begadang nonton film atau pertandingan olahraga) dan bangun paling pagi. Etapi karena jujur saja saya ini bukan morning person, biasanya suami saya bangun lebih dulu sih, mungkin mesti dicoba deh bangun lebih pagi dari dia.

2. Minum Segelas Air Hangat dan Perasan Lemon

Banyak sekali manfaat yang dapat kita peroleh dengan minum segelas air hangat dan perasan lemon setelah bangun tidur dan sebelum minum teh, kopi atau susu. Air dengan perasan lemon dapat merehidrasi tubuh kita yang kekurangan cairan karena tidur selama 6-8 jam, meningkatkan imunitas tubuh dengan vitamin C yang terdapat dalam lemon, menutrisi sel-sel otak kita dengan potasium, membantu liver mengeluarkan racun dari tubuh, dan masih banyak lagi. Ini adalah salah satu cara efektif untuk meningkatkan energi di pagi hari. 

3. Ibadah

Sholat Subuh atau doa pagi atau ritual apa saja yang bisa mendekatkan kita kepada Sang Pencipta. Dengan khusyu’ berdoa, dapat membantu kita untuk fokus pada hal-hal yang perlu kita lakukan di hari itu serta mengurangi stres. Setelah beribadah, luangkan waktu untuk mensyukuri hal-hal yang kita terima di pagi itu. Bisa bangun dalam keadaan sehat, anak-anak yang tidur nyenyak semalam, atau apa saja. Mungkin kita juga bisa membuat jurnal kebahagiaan dengan mencatat 3 hal yang membuat kita bersyukur hari itu. Bersyukur ternyata dapat meningkatkan mood dan energi kita secara natural lho. Huhuhu, mungkin iya ya, selama ini saya kurang bersyukur dan lebih banyak mengeluh sehingga mood tak kunjung membaik.

4. Regangkan Tubuh

Saya tuh suka merasa pegel dan kaku tiap bangun tidur. Mungkin karena posisi tidur yang kurang tepat kali ya, soalnya sambil ngelonin anak lanang sih. Kalau sudah gitu, badan jadi nggak enak banget untuk memulai aktivitas di pagi hari. Tapi setelah mulai ikut kelas body balance, keluhan itu mulai berkurang, dan ternyata memaksakan diri untuk berolahraga ringan, minimal meregangkan tubuh di pagi hari bisa membuat kita lebih segar sepanjang hari. Nggak usah susah-susah, cukup dengan berbaring di tempat tidur sambil menarik lutut ke arah dada lalu dipeluk sambil menggoyangkan tubuh ke kanan dan kiri untuk meregangkan tulang belakang dan melepaskan cadangan energi.

Begitu bangun dari tempat tidur, regangkan tubuh semaksimal mungkin. Rentangkan tangan ke atas sambil menggoyangkan jari-jari dan berdiri jinjit supaya tubuh bagian bawah juga ikut meregang. Enak banget rasanya, aliran darah jadi terasa lancar.

ritual pagi untuk mood yang lebih baik. lifehack, mom'slife, morning routine for mom

5. Hirup Udara Segar

Kalau lagi nggak buru-buru, sebelum menyiapkan sarapan anak-anak, saya suka keluar ke halaman belakang sambil membawa tumpukan baju kotor untuk dimasukkan ke mesin cuci yang terletak di teras belakang. Segar sekali menghirup udara pagi, merasakan rerumputan basah di telapak kaki dan memandangi langit yang pelan-pelan menerang. Supaya lebih mantap, sekalian duduk di luar sambil minum air lemon hangat itu tadi. 1-2 menit saja sudah cukup membuat kita fresh.

6. Jalan Pagi

Jalan pagi dapat membantu mengurangi stres, melemaskan otot-otot, menurunkan berat badan dan menjernihkan pikiran kita. Cukup 10-15 menit sehari keliling kompleks perumahan konon sih bisa memberi efek menakjubkan bagi kesehatan tubuh, jiwa dan pikiran kita.

7. Cek Agenda Kegiatan dan Buat Prioritas

Nah, ini! Membuat to-do-list atau daily planner akan memudahkan kita membuat skala prioritas hal-hal yang harus kita lakukan segera dan mana yang bisa menunggu. Catatan ini juga dapat mengurangi beban otak kita yang harus terus-menerus mengingat dan berpikir tentang rencana harian kita. Kalau semua tercatat dengan rapi pasti akan lebih mudah bagi kita memastikan apakah kita berada di jalur yang benar hari ini. 

Begitulah 7 ritual pagi yang bisa membantu kita menjalani hari-hari sibuk dan melelahkan dengan lebih semangat dan pikiran yang jernih. Kalau dilihat semua sepertinya berat ya dan berarti harus bangun lebih pagi. Jadi, nggak masalah kok kalau kita mau memulai satu ritual dulu sampai terbiasa lantas ditambah lagi dengan ritual yang lain. One small step at a time lebih baik daripada terus-menerus berada dalam kondisi mental yang tidak produktif ini. Yuk, dicoba bareng-bareng. Atau mungkin mama ada ritual yang selalu dilakukan tiap pagi untuk meningkatkan mood? Ditunggu sharingnya ya.

Menghindari Baby Blues Sejak Masa Kehamilan

baby blues, post partum depression, kehamilan

Saat anak pertama saya lahir 8,5 tahun yang lalu, saya mengalami post partum depression. Rasanya gado-gado deh. Titik terendah adalah ketika saya menangis di kamar mandi karena merasa nggak bisa jadi ibu yang baik dan membayangkan bahwa akan lebih baik kalau saya nggak ada aja. Dan ini sering terjadi, nggak cuma sekali dua kali.

fakta baby blues, fakta postpartum depression

Sebenarnya, kalau diingat-ingat lagi sekarang, dulu tuh sebenarnya saya nggak susah-susah banget kok. Yang terjadi waktu itu hanyalah ASI nggak lancar sehingga harus ditambah sufor. Pemberian sufor ini ternyata bikin Cinta kolik dan menyebabkan dia menangis terus-menerus tiap malam. Keadaan tersebut memaksa kami berkali-kali ke dokter, sehingga dia harus mengkonsumsi antibiotik di usianya yang baru beberapa hari itu. Belum cukup Cinta yang minum obat, sayapun harus diet ayam dan seafood dan harus makan sayur yang tadinya saya nggak suka. Lantas dia kena ruam popok dan macam-macam masalah kesehatan ringan lainnya. Selain itu Cinta baik-baik aja, dia lincah, menyenangkan, lucu. Namun, saat itu keadaan seperti itu saja sudah dapat membuat saya merasa gagal jadi ibu. Sementara suami saya bekerja di luar kota dan nggak selalu bisa pulang setiap bulan.

Akibatnya, saya kesal pada Cinta karena menganggap dia merampas semua dari saya: zona nyaman, waktu, perhatian keluarga, pekerjaan bahkan tubuh saya. Saya nggak bisa mandi meskipun badan sudah lengket karena dia cuma ingin digendong, badan dan baju saya selalu bau ASI, gumoh dan pipis. Dan itu membuat saya semakin nggak nyaman.

Perasaan ini membuat saya sering memarahi bayi belum 6 bulan itu hanya karena dia menangis dan saya nggak bisa menenangkannya atau ketika saya harus berkali-kali mengganti popoknya juga saat dia terus-menerus minta nyusu. Saya sendiri nggak tahu kenapa bisa merasa seperti itu. Masa-masa itu rasanya hampa aja. Nggak merasa bahagia, kalaupun senang ya cuma sesaat. Hal-hal yang biasanya membuat saya ceria cuma mampu bertahan selama beberapa saat. Kemudian murung lagi, marah lagi, sedih lagi. Tapi saya nggak bisa bilang apa-apa ke siapapun. Semua orang yang ada di rumah seperti mama, nenek, adik-adik bahkan bibik ART sudah berusaha semaksimal mungkin meringankan saya mengurus anak. Bahkan bisa dibilang, karena waktu itu masih tinggal di rumah mama, tugas saya ya cuma mengurus Cinta. Titik. 24 jam bersamanya. Tapi nggak bisa saya nikmati. Semua dilakukan sebagai rutinitas aja.

Saya tahu saya mengalami baby blues saat itu tapi saya pikir akan berlalu sendiri. Dan ketika keadaan semakin memburuk dan sempat tercetus keinginan untuk konsultasi ke psikolog, ada yang berkomentar, “Kamu kan anak psikologi, masa iya nggak bisa menyembuhkan diri sendiri.” Duh, dokter aja kalau sakit pun perlu berkonsultasi dengan rekan sejawatnya ya. Apalagi saya yang cuma lulusan S1 Psikologi. Tapi ya sudah, nggak semua orang bisa memahami bahwa depresi itu harus dibantu. Jadi ya saya berusaha berproses sendiri.

Sampai kemudian ketika Cinta berusia 6 bulan, mama saya memutuskan menyewa babysitter dan beberapa bulan setelahnya saya kembali bekerja di luar rumah. Baru deh depresi itu berkurang. Saya mulai bisa melihat lucunya Cinta, mulai bisa menikmati hari-hari saya bersamanya dan peran saya sebagai ibu meskipun bergantung sepenuhnya kepada mbak babysitter untuk menjadi partner saya. Mood swing pun masih sering terjadi bahkan sampai sekarang, setelah 8,5 tahun dan 2 anak, terutama saat lelah dan banyak pikiran.

Karena itulah saya takut punya anak lagi. Sampai 3 tahun yang lalu Keenan lahir. Selisih 5,5 tahun dengan Cinta. Selama itulah saya berusaha menghilangkan ketakutan mengalami post partum depression lagi. Tapi alhamdulillah, masa-masa itu nggak terulang lagi. Ya, nggak separah dulu. Masih mengalami baby blues, namun setelah beberapa minggu sudah berkurang.

Belakangan ini, menjelang ulang tahun ketiganya Keenan, saya jadi berpikir, bisa nggak sih baby blues itu dihindari? Sindrom ini seakan-akan jadi momok bagi ibu yang baru melahirkan lho. Menurut penelitian, 80% ibu mengalami baby blues dan 10% di antara yang 80% itu mengalami post partum depression. Dan keadaan ini bisa dialami oleh ibu dengan berbagai kondisi kehamilan, bahkan ibu yang hamilnya sehat bahagia sekalipun.

Sayangnya, sampai sekarang belum ada yang bisa menjelaskan secara pasti penyebab baby blues itu apa. Hormonkah? Kelelahankah? Apa? Nggak jelas. Semua bisa jadi penyebabnya. Tapi setelah melihat lagi pengalaman mengurus 2 bayi dan beberapa pengalaman teman, sepertinya ada beberapa hal yang bisa dilakukan ibu hamil untuk menghindari baby blues, seperti berikut:

baby blues, post partum depression, masa kehamilan, kesehatan ibu hamil

Siapkan Diri Untuk Hal-Hal yang Tidak Terduga

Having a baby is not always rainbows and butterflies. Ya, memang menyenangkan, tapi sekaligus melelahkan dan bisa bikin dunia kita jungkir balik. Saya ingat sekali, waktu masih dirawat di rumah sakit setelah melahirkan Cinta, seorang Budhe bilang, “Dinikmati mumpung masih di rumah sakit. Banyak-banyak istirahat. Nanti kalau sudah di rumah apa-apa harus sendiri.”

Dan, benar aja. Malam pertama keluar dari rumah sakit, saya mengetok pintu kamar nenek saya jam 10 malam sambil menangis karena nggak tahu lagi harus ngapain menghadapi Cinta yang terus menerus menangis meski sudah disusui dan diganti popoknya berkali-kali. Ajaibnya, begitu dipegang yuyutnya, Cinta bisa tidur dengan tenang.

Saat saya hamil, nggak ada tuh yang bilang ke saya kalau induksi itu sakitnya luar biasa dan ketika punya bayi itu kita harus ganti popok kain tiap 15-30 menit sekali. Nggak ada yang ngasih tahu kalau posisi latch on yang nggak tepat itu bisa bikin ASI nggak lancar dan payudara lecet. Nggak ada juga yang cerita kalau begadang setiap malam itu melelahkan lahir dan batin. Bahkan dokter pun nggak bilang kalau kemungkinan golongan darah yang berbeda antara anak dan ibu bisa mengakibatkan bilirubin bayi tinggi sehingga harus fototerapi. Eh, masih alhamdulillah kalau “cuma” fototerapi. Lha kalau harus transfusi darah segala?

Salahnya saya dulu adalah saya nggak mencari tahu tentang hal-hal tersebut saat kehamilan. Mungkin juga nggak mau tahu. Saya cuma mau dengar berita-berita baik tentang kehamilan dan kelahiran karena tiap dengar hal buruk pasti langsung stres. Saya hanya berkonsentrasi pada kondisi kehamilan saya saat itu. Padahal, kemungkinan-kemungkinan ini yang harus kita cari tahu. Bukan negative thinking, tapi seperti suami saya sering bilang, “Hope for the best but always prepare for the worst.” Dengan kita tahu apa aja yang bisa terjadi saat dan setelah melahirkan, kita jadi bisa bikin rencana untuk menghadapinya berdua kan? Dengan demikian saat benar-benar terjadi kita lebih siap. Tapi kalau semuanya benar-benar lancar dan menyenangkan ya alhamdulillah banget.

Olahraga

olahraga ibu hamil, baby blues, post partum depression, ibu hamil, kehamilan

Yoga, jogging, senam hamil atau sekadar jalan santai atau apa saja selama membuat badan kita bergerak, menghirup udara segar dan keluar rumah selain membuat badan kita sehat selama kehamilan juga menyiapkan stamina kita untuk proses persalinan dan setelah kelahiran si bayi.

Waktu hamil Keenan saya lumayan rajin olahraga, terutama setelah trimester kedua, meskipun sempat berhenti karena low lying placenta. Selain ngikutin senam hamil dari youtube, saya juga jogging di luar rumah. Alasan utamanya dulu supaya berat badan nggak naik terlalu banyak dan menghindari kebosanan karena terkurung di apartemen, tapi ternyata memang lumayan membantu untuk kesehatan mental dan kesiapan fisik.

Bekali Diri Dengan Ilmu Kesehatan Dasar Tentang Masalah yang Biasa Dialami oleh Bayi Baru Lahir

8,5 tahun yang lalu, saya nggak ngerti apa-apa tentang kesehatan bayi baru lahir. Semuanya manut dokter. Ada bagusnya, karena vaksinasi Cinta jadi lengkap dan tepat waktu. Tapi jeleknya saya jadi gampang panik.

Begitu lahir, Cinta kuning. Bilirubinnya tinggi karena golongan darah saya dan dia beda sehingga harus masuk inkubator selama 4 hari. Begitu pulang ke rumah, nafasnya bunyi. Saya takut. Bawa ke dokter. Nggak lama berselang, dia selalu gumoh setiap minum susu, tiap Maghrib bisa nangis berjam-jam sampai malam. Saya panik. Bawa ke dokter. Lama-lama saya merasa semakin nggak becus jadi ibu. Anak kok sakit terus. Anak kok nangis melulu.

Baru kemudian kenal sebuah milis tentang kesehatan anak-anak, dari situ banyak belajar. Setelah Keenan lahir, selama dua minggu dia kuning. Tapi dokternya santai, bidan yang tiap hari datang ke rumah untuk ngecek kondisi saya dan Keenan pun santai. Cuma berpesan untuk banyak disusui dan terkena sinar matahari.

Dengan kita punya pengetahuan dasar tentang kesehatan bayi baru lahir dan tanda-tanda kegawatdaruratannya, kita jadi nggak gampang panik. Kepanikan ini yang bikin kita stres dan stres bisa memperburuk baby blues.

Pilih Partner Menyusui yang Bijaksana

“Anakmu nangis terus lapar itu. ASInya nggak cukup tuh. Wis, kamu nggak bisa ASI Eksklusif kalau gini caranya.”

Kalimat itu dilontarkan seorang saudara di suatu malam saat Cinta sedang rewel dan terus-menerus menangis. 8,5 tahun berlalu dan masih teringat jelas. Dalam pikiran saya, gagal lah cita-cita saya menjadi ibu yang baik karena nggak bisa ngasih ASI Eksklusif. Saya down, marah dan kecewa.

Ibu jaman sekarang sudah lebih paham tentang pentingnya ASI dan semakin banyak yang menyusui bayinya dibanding jaman saya melahirkan Cinta dulu. Cuma, nggak sedikit yang karena merasa lancar menyusui lantas jadi menghakimi ibu-ibu yang mengalami kesulitan instead of membantunya. Padahal, nggak semua mengalami proses yang sama. Jadi, pilihlah seorang atau segrup teman sesama ibu menyusui yang suportif, yang nggak segan membantu kita saat merasa kesulitan.

Sungguh, menyusui bayi yang lagi growth spourt tiap setengah jam itu seringkali melelahkan. Apalagi ketika payudara kita lecet karena latch on yang salah. Pernah suatu malam dalam keadaan ngantuk berat dan payudara luka, sementara Keenan menuntut disusui terus menerus, saya bilang ke suami, “Sudah. Aku nggak mau lagi nyusuin Keenan. Sakit. Capek. Bosan. Kasih aja dia susu botol.”

Beruntung saat itu masih ada bidan yang rutin home visit ke rumah. Beliau pun mengajari saya latch on yang benar sampai saya bisa. Juga suami selalu siaga mencari yang saya butuhkan seperti salep untuk nipple crack. Selain itu teman-teman yang saya kenal di Brunei, baik sesama orang Indonesia, orang lokal maupun berkebangsaan asing, sudah terbiasa dengan breastfeeding. Sehingga saya nggak segan curhat kalau ada kesulitan, nggak susah mencari tempat menyusui ketika sedang berada di luar rumah meski hanya modal baju menyusui yang tertutup. Jadi ya, dibandingkan dengan saat Cinta dulu, masa-masa menyusui Keenan memang lebih lancar dan menyenangkan karena nggak ada yang dikit-dikit menghakimi saya hehehe.

Pelajari Teknik Relaksasi
relaksasi ibu hamil, baby blues, post partum depression, ibu hamil, kehamilan

Bisa dzikir, yoga, hypnobirthing, meditasi atau apa saja yang bisa membuat kita rileks.

Konon, bayi akan lebih tenang dan nyaman kalau ibu atau pengasuhnya rileks. Ya, kaya cerita saya di atas itu, Cinta bayi selalu mendadak anteng dan bisa tidur dengan nyenyak kalau dipegang sama yuyutnya. Begitupun Keenan. Di tangan dan gendongan yangti dengan alunan sholawat yang dinyanyikan beliau atau di dalam baby boxnya ditemani yangkung sambil didengerin murotal dari Al Quran digital, pasti tenang dan nyenyak tidurnya.

Jadi memang lebih baik kita jadikan relaksasi kebiasaan baik sejak masa kehamilan. Ibu yang rileks juga menciptakan bonding lebih baik dengan bayinya. Dan menurut Diane Sanford, Ph.D., pengarang buku Postpartum Survival Guide, ibu yang terbiasa melakukan relaksasi ini, meski hanya 10-15 menit, lebih mampu mengatasi stres dalam mengasuh bayi daripada yang tidak melakukan.

Oh ya, kebanyakan ibu yang mengalami baby blues atau postpartum depression mengalami kesulitan tidur, seperti saya. Jadi saat si bayi tidur, yang harusnya bisa dimanfaatkan untuk ikut istirahat, yang ada malah melek dan mikir macem-macem. Padahal, kurang tidur nggak bagus untuk kesehatan fisik dan mental kita. Dengan belajar teknik relaksasi, kita bisa lebih mudah untuk tidur sebentar. Lumayan lho, kalau bisa melakukan power nap meski hanya 30 menit di awal-awal usai melahirkan. Karena kalau kita istirahat dengan cukup, akan meminimalkan resiko mengalami mood swing.

Buat Persiapan dan Rencana Mengatur Urusan Rumah Tangga

Selain perlengkapan bayi, sebaiknya kita juga menyiapkan mental dan berbagai hal seputar urusan rumah. Bayangkan nanti saat si bayi lahir, kebanyakan waktu kita hanya akan habis untuk menyusui bayi, menggantikan popok, menidurkannya, memandikan, menyusui bayi, mengganti popok, menidurkannya, memandikan, menyusui dan begitu terus. Sebagian besar kita yang nggak punya ART akan kewalahan mengerjakan tugas rumah yang lain.

Jadi sebaiknya sih kita siapkan stok makanan yang bisa disimpan di freezer selama 2-3 minggu, atau mulai mencari katering harian. Siapkan juga no telpon laundry kiloan langganan dan minta ia untuk datang setiap 2 hari. Dengan begini kita bisa menghemat waktu untuk memasak dan mencuci baju dan memperbanyak waktu untuk memulihkan kondisi fisik dan psikis kita setelah melahirkan nanti.

Nah, itulah beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menghindari baby blues sejak dalam masa kehamilan. Ya, memang nggak menjamin 100% berhasil sih. Tapi mungkin dapat meminimalkan resikonya. Lagipula, menyiapkan diri untuk hal yang terburuk kan nggak ada salahnya ya. Jadi ketika terjadi pun kita nggak akan kaget lagi. Selamat mencoba.

Mendadak Opname

Seminggu yang lalu, sepulang jemput Cinta sekolah seperti biasa saya menyiapkan makan siang untuk kami berdua. Karena sedang malas makan dan Cinta juga mengaku masih kenyang, saya hanya bikin roti isi tuna dan telur dan banana split untuk Cinta. Setelah semua siap, saya ajak Cinta membersihkan tangan dan bersiap-siap untuk makan.

Sambil menunggu Cinta selesai makan, saya pun membersihkan diri dan tiba-tiba menyadari ada sedikit flek. Saya langsung teringat pesan dokter yang meminta untuk segera ke rumah sakit jika terjadi perdarahan meskipun hanya sedikit. Secepat mungkin saya mengabari suami. Ia pun menawarkan diri untuk menemani ke rumah sakit. Tapi kemudian saya berubah pikiran dan memilih untuk pergi ke Pusat Kesihatan Sg. Liang tempat saya biasa periksa kandungan yang berada di dekat rumah.

Sampai di sana, suster Mother and Child Health Centre langsung menyuruh saya bertemu dengan outpatient doctor di lantai atas. Setelah dicatat segala keluhan, dokter meminta saya kembali ke MCH bertemu dokter kandungan di klinik bawah. Begitu ketemu dokter obgyn langsung aja dia mengomeli saya karena seperti yang saya sebut di atas, dia sudah wanti-wanti supaya saya langsung ke rumah sakit jika terjadi sesuatu. Dia sudah memprediksi hal ini karena letak plasenta bayi yang ada di bawah (low lying placenta). Dokter pun kemudian memberi rujukan supaya saya dirawat di rumah sakit Suri Seri Begawan yang terletak di Kuala Belait dan dibawa ke sana dengan ambulan sesuai prosedur klinik. Huaaa, heboh banget deh rasanya.

Alhamdulillah selama proses mondar-mandir di klinik itu, Cinta bisa diajak bekerja sama. Dia tahu bahwa mama dan babycinno sedang kurang sehat. Bahkan dia menyibukkan dirinya sendiri dengan melipat-lipat brosur kesehatan yang tersedia di klinik. Cinta juga semangat sekali begitu tahu saya mau dibawa dengan ambulan, sehingga waktu suami datang dan menawarkan Cinta untuk ikut mobilnya dia menolak.

Jadilah sepanjang perjalanan ke rumah sakit itu Cinta menemani saya di ambulan sambil asik mengamati peralatan di dalamnya dan berceloteh menikmati pengalaman berada di dalam mobil besar itu. Sesampainya di rumah sakit, saya langsung diobservasi oleh suster dan diminta untuk menjalani rawat inap sesuai dengan peraturan kesehatan di Brunei.

Lucu juga lah pengalaman menginap di rumah sakit Suri Seri Begawan ini. Kamar yang tersedia terdiri dari 4 tempat tidur, 1 toilet dan 1 kamar mandi di dalam. Jarak antara 1 tempat tidur dengan yang lain cukup lapang dan hari itu hanya ada 1 pasien lagi selain saya. Suster sempat menawarkan kamar first class saat menerangkan fasilitas-fasilitas yang akan saya dapatkan di kamar tersebut. Tapi kemudian dia menambahkan bahwa kamar yang biasa pun sudah cukup karena tidak banyak perbedaaannya dengan kamar kelas 1. Akhirnya sesuai saran suster kami pun memilih kamar biasa.

Benar saja, kamar tersebut cukup nyaman selain itu karena pasien nggak boleh ditungguin dan hanya bisa dijenguk saat jam besuk, kami pun bisa beristirahat dengan tenang. Selama perawatan suster melakukan observasi dengan CTG, memberikan obat, mengukur suhu badan, mengambil contoh darah dan urine setiap beberapa jam. Lampu kamar dimatikan jam 10 malam sehingga suasana benar-benar sepi. Alhamdulillah lho ambil kamar yang biasa dan ada temennya, daripada di first class cuma sendirian malah bisa nggak tidur karena takut hehehe.

Jam 5.30 pagi sudah dibangunin untuk cek tensi, suntik dosis kedua dexamethasone, CTG dan minum susu. Suntikan tersebut diperlukan untuk menguatkan paru-paru si bayi karena dengan kondisi low lying placenta dan riwayat perdarahan seperti ini, dikhawatirkan ada kemungkinan babycinno lahir lebih awal.

Karena babycinno sudah bangun dari jam 4 pagi, waktu di CTG dia tidur lagi sehingga hasilnya kurang bagus sampai disuruh duduk, miring ke kanan kiri, makan coklat supaya si bayi bangun. Setelah hampir 1 jam CTG, hasil grafiknya mulai membaik sehingga waktu dokter visite sudah diperbolehkan pulang hari itu juga. Horeeeee…

Sayang karena waktu masuk hari Kamis kemarin kita belum masukin deposit akibat bagian keuangan sudah tutup dan di hari Jumat instansi pemerintahan libur termasuk bagian administrasi rumah sakit, suster pun belum berani memulangkan saya. Tapi setelah berunding kami memutuskan untuk meninggalkan uang sejumlah B$ 200 yang diminta suster sebagai deposit dan settlementnya diambil hari Sabtu. Yah, daripada nginep sehari lagi di rumah sakit kan ya, seenak-enaknya juga tetap lebih enak di rumah.

Untungnya selama saya di rumah sakit suami sigap banget mengurus Cinta dan rumah, malah waktu whatsappan sekitar jam 10 malam dia baru selesai bebersih rumah sementara Cinta sudah tidur karena kelelahan mondar-mandir rumah – klinik – rumah sakit – rumah – rumah sakit – rumah dan sesorean menangis karena membayangkan malam itu nggak tidur sama mamanya. Saya jadi tenang malam itu meninggalkan Cinta di rumah saja sama papanya.

Alhamdulillah dari hasil observasi semuanya oke, nggak ada hal yang perlu dikhawatirkan. Flek diakibatkan oleh vaginal discharge aja bukan karena gesekan plasenta. Tapi tetap diminta untuk lebih banyak istirahat di rumah, banyak makan dan minum air putih karena hemoglobin rendah. Dan yang bikin seneng, setelah terima settlement tagihan rumah sakit ternyata habisnya cuma B$ 20, sodara-sodara, kira-kira sekitar Rp 150,000. Murah banget kan ya. Cuma dihitung biaya kamar yang sudah termasuk tindakan suster dan dokter. Sedangkan tes darah, pap smear, USG, obat, ambulan, semua nggak dihitung. Sampai susternya bilang, “You’re very lucky.” Alhamdulillah lagiiiii…

Sayang dokter rumah sakit nggak ngasih tahu apakah letak plasenta masih di bawah atau sudah pindah, sehingga waktu kontrol ke obgyn di klinik hari Selasa kemarin dia nggak bisa memastikan apakah saya bisa melahirkan normal atau harus caesar. Malah jadwal USG berikutnya yang seharusnya di minggu ke-36 diundur ke minggu 38. Yah, moga-moga nggak keburu lahir aja deh babycinno.

Jujur sempat kecewa dengan kurang informatifnya dokter-dokter ini, karena keterbatasan informasi bikin saya kepikiran lagi. Harapannya sih sekarang kan sudah trimester ketiga, mbok ya segera dipastikan dan direncanakan proses lahiran yang aman. Kalau memang harus caesar ya nggak apa-apa tapi setidaknya ada kepastian gitu, bukannya nunggu nggak jelas gini. Sebagai orang yang terbiasa well prepared situasi seperti ini bikin stres. Tapi ya sudahlah, memang keadaannya harus begini, there’s nothing I can do. Mau pindah dokter atau minta second opinion di dokter obgyn yang praktik swasta kok ya selain jauh (cuma ada di Jerudong) toh nantinya balik lagi periksa di klinik situ dan melahirkannya di rumah sakit itu.

Moga-moga kita sehat terus ya babycinno, semuanya lancar sesuai dengan yang diharapkan. Can’t wait to see you in 7 weeks.