3 film gong yoo
Movies

Tonton 3 Film Gong Yoo ini Sebelum Nonton Seo Bok

Linimasa Instagram saya belakangan ini lumayan ramai dengan promo film Seo Bok. Penggemar Park Bo Gum dan Gong Yoo pasti tahu film ini dan mungkin nggak sabar juga nunggu tayangnya di Indonesia. Sebagai pemanasan, gimana kalau kita nonton dulu 3 film Gong Yoo yang nggak kalah kerennya dengan Train to Busan.

Sebagai penikmat drakor newbie, nama Gong Yoo baru saya kenal lewat drama hits Goblin (Guardian: The Lonely and Great God). Gara-gara serial ini saya jadi jatuh cinta sama Gong Yoo. Padahal dia nggak ganteng-ganteng amat yaaa, tapi saya suka banget sama ahjussi satu ini.

Sejak itu saya jadi mencari-cari drama dan film lain yang dibintangi oleh Gong Yoo. Tentu saja salah satunya adalah Train to Busan, film Gong Yoo yang bergenre thriller tentang zombie ini sempat masuk jajaran film box office nggak cuma di Asia tapi juga di Amerika dan UK. Karena film ini juga Gong Yoo mendapat nominasi sebagai aktor terbaik di Asian Film Awards 2017. Keren banget yaaa idola saya.

Tapi, karena saya nggak suka nonton film thriller, saya pun mencari film Gong Yoo lain yang bergenre drama dan romance. Dan menemukan 3 film ini yang menurut saya bagus banget. Nggak cuma karena Gong Yoo Oppa yang main yaaa tapi juga karena jalan ceritanya yang menarik. Yuk, kita bahas satu-satu.

3 Film Gong Yoo Bergenre Drama yang Wajib Tonton

Silenced (2011)

Film Silenced diadaptasi dari novel berjudul Dokani karya penulis Gong Ji Young. Novel ini terinspirasi dari kasus nyata di sekolah khusus siswa tunarungu di Gwangju, Korea Selatan.

Plot

silenced movie

Disutradarai oleh Hwang Dong Hyuk, film Gong Yoo ini benar-benar mengaduk perasaan. Berawal dari seorang guru bernama Kang In Ho (Gong Yoo) dari Seoul yang mendapatkan pekerjaan mengajar di SLB Tuna Rungu di kota Mujin, Korea Selatan. Meninggalkan anaknya di dalam asuhan sang nenek setelah istri In Ho meninggal setahun sebelumnya.

Sejak awal, film Silenced ini sudah suram, dengan adegan seorang siswa dari sekolah itu yang berhasil kabur dan menabrakkan diri ke kereta yang tengah melaju. Ketegangan berlanjut ketika kepala sekolah dan saudara kembarnya yang menjabat sebagai kepala admin sekolah meminta Kang In Ho membayar uang iuran sekolah sebesar $50.000 sebagai tanda terima kasih karena sudah diterima bekerja di situ.

Meski demikian, In Ho tetap semangat mengampu mata pelajaran kesenian. Dan lambat laun mendapatkan kepercayaan murid-muridnya. Sampai akhirnya dia menemukan keanehan demi keanehan. Seperti teriakan seorang anak dalam kamar mandi yang terkunci dari dalam. Murid laki-laki yang selalu murung dan penuh bekas luka. Dan puncaknya In Ho menemukan kepala asrama menghukum siswa yang bernama Yeon Du dengan cara mencelupkan kepalanya ke dalam mesin cuci yang airnya penuh sampai si anak pingsan. Sinting kan.

Sejak itu, In Ho bekerja sama dengan aktivis HAM Seo Yoo-jin (Jung Yu-mi) berusaha mengungkap hal yang disembunyikan rapat oleh pihak sekolah. Yaitu kekerasan fisik dan seksual yang dilakukan oleh kepala sekolah, kepala admin dan seorang guru (kalau dalam kasus aslinya ada 6 orang guru yang terlibat, 4 di antaranya berhasil dihukum meski ringan dan sisanya dibebaskan.)

Sayangnya usaha mereka nggak gampang, karena layaknya sistem bobrok (duh kan nulisnya aja pake emosi), sekolah ini dilindungi oleh pejabat-pejabat yang korup. Mulai dari polisi, departemen pendidikan, komunitas gereja sampai jaksa dan hakim.

Menegangkan tapi Gong Yoo bapakable banget.

Asli, nonton film ini tuh stres banget. Saya bahkan harus skip skip adegan yang bisa bikin kesel. Kaya di persidangan atau ketika In Hoo dan Yoo-jin diteror. Satu-satunya adegan yang bikin hangat adalah kebersamaan In Hoo, Yoo-jin dan ketiga anak yang menjadi korban. Sampai salah satu anak berharap In Hoo bisa menjadi ayahnya dan Yoo-jin jadi ibunya. Huhuhu.

quote silenced gong yoo

Film Gong Yoo ini seperti judulnya, silenced, karena banyak obrolan yang dilakukan dengan bahasa isyarat. Tapi nggak sunyi, karena musiknya bisa mengaduk-aduk emosi. Pokoknya kalau kalian suka film-film drama menegangkan kudu banget nonton. Nggak cuma jalan ceritanya yang bagus, akting para pemainnya juga juara. Terutama ketiga pemeran anak tuna rungu.

Karena film inilah kasus di sekolah khusus siswa tunarungu di Gwangju dibuka lagi. Meskipun hasilnya persidangannya masih tidak sesuai harapan, berhasil membuat parlemen Korea Selatan mengeluarkan “Dogani Bill” pada tahun 2011. Dogani Bill ini menghilangkan undang-undang pembatasan untuk kejahatan seks terhadap anak-anak di bawah 13 tahun dan perempuan penyandang cacat. Sehingga ke depannya jika ada kasus serupa (amit-amit yaaa), korban bisa mendapatkan keadilan.

A Man and A Woman (2016)

Plot

a man and a woman

Salju turun dengan lebat di Helsinki, Finlandia, ketika Ki Hong (Goang Yoo) dan Sang Min (Jeon Do-yeon) melepas anak-anak mereka pergi ke perkemahan anak berkebutuhan khusus. Bukan, Ki Hong dan Sang Min bukan suami istri, mereka adalah dua orang Korea Selatan yang bertemu di negeri orang secara nggak sengaja.

Karena khawatir dengan keadaan anaknya, Sang Min berusaha untuk ikut dalam perkemahan tersebut. Sayang ditolak oleh pengelola. Melihat Sang Min yang nampak kalut, Ki Hong menawarkan untuk mengikuti bus anak-anak sampai ke tempat mereka berlibur. Meski awalnya ragu, Sang Min pun setuju.

Dalam sebuah perjalanan yang mereka lalui bersama, muncul perasaan nyaman terhadap satu sama lain. Sehingga terjalin kisah cinta sesaat. Setelah perjalanan itu usai, mereka berpisah dan kembali negara asal ke tanpa tahu nama masing-masing.

Di Korea, Sang Min nampak sedang mengatur display butik tempatnya bekerja ketika dia melihat sosok Ki Hong memandanginya dari luar jendela. Sejak itu mereka mulai bertemu, kisah yang tadinya dianggap Sang Min sebagai intermezzo kehidupan yang akan terlupakan, ternyata membawa mereka dalam sebuah hubungan yang rumit.

Perselingkuhan Membawa Bahagia?

Iya, rumit. Karena Sang Min dan Ki Hong sudah berkeluarga. Jadi mereka berselingkuh dari pasangan masing-masing. Ki Hong jadi pebinor dan Sang Min jadi pelakor. Eaaaa (getok gemes Gong Yoo Oppa).

Tentu saja hubungan yang complicated ini jadi poin utama film Gong Yoo yang bergenre romance. Dan sepanjang film hati saya ikut sakit. You know, dalam pernikahan itu rasa nyaman, komunikasi dan komitmen lah yang bisa membuat pasangan bersama. Kalau tiga itu aja dipegang segala masalah saya rasa bisa dihadapi bersama.

Sang Min dan Ki Hong berselingkuh karena mereka nggak lagi menemukan rasa nyaman dalam rumah tangga mereka. Ki Hong memiliki istri alkoholik dengan suicidal thoughts. Anak mereka satu-satunya depresif. Ki Hong merasa nggak lagi punya hubungan yang romantis dengan istrinya karena sibuk mengurus anak, menjaga istri dan bekerja sebagai arsitek.

Bahkan sang istri bilang kalau dia merasa dirinya itu lebih sebagai pasiennya Ki Hong. Dan dia tahu Ki Hong bertahan dengan dirinya hanya karena tanggung jawab sebagai seorang suami dan ayah, bukan karena dia adalah istri yang dicintai suaminya. Sediiiiih.

Sang Min sendiri adalah CEO dari sebuah UKM fashion yang punya beban mengurus anak dengan autismnya. Meskipun pernikahan dengan suaminya baik-baik aja, Sang Min merasa jauh secara emosional dengan suaminya yang cuek.

a man and a woman movie
Jeon Do Yeon yang dipandangi penuh cinta gini, saya yang deg-degan.

Lalu apakah perselingkuhan ini membuat mereka bahagia? Physically, yes. These two share lots of romantic and erotic moments together. Mereka juga saling memberikan kenyamanan bagi masalah masing-masing. Adegan sembunyi-sembunyi pegangan tangan di tempat umum dan telepon-telepon rahasia hanya karena, “I just want to hear your voice,” manis sekaligus menyakitkan.

Dan terasa banget kegalauan di antara mereka. Akting Gong Yoo dan Jeon Do-yeon sebagai seorang laki-laki dan perempuan yang nggak bahagia dengan pernikahan dan cinta sama orang lain tapi nggak tahu harus gimana tuh dapet banget deh.

Trus akhirnya gimana? Sutradara Lee Yon Ki sepertinya bukan pendukung perselingkuhan. Bahkan kaya ingin menunjukkan bahwa perselingkuhan cuma akan membawa kesedihan. Tonton aja deh. Endingnya bikin galau antara mau bersyukur atau kasian sama mereka.

Kim Ji-Young, Born 1982

Ini adalah film terakhir Gong Yoo sebelum Seo Bok. Dan film ketiga Gong Yoo bareng Jung Yu-mi setelah Silenced dan Train to Busan. Dan kabarnya mereka akan ketemu lagi juga di film Wonderland sama Park Bo-Gum juga yang bakal rilis tahun 2021. Banyak yang bilang Gong Yoo dan Jung Yu-mi sering main film bareng karena mereka satu agensi. Sama seperti dengan Park Bo-Gum. Jadi kaya paket hemat gitu?

Tapi emang sih mungkin karena beberapa kali main film bareng, chemistry Gong Yoo dan Jung Yu-mi itu dapet banget. Dan di film Kim Ji-Young, Born 1982, terasa banget Gong Yoo sebagai suami yang sayang istri.

Film Gong Yoo bergenre drama ini tayang tahun 2019 dan sempat menimbulkan pro kontra karena mengangkat isu feminisme yang masih tabu di Korea Selatan. Padahal sih kalau ditonton ya, ceritanya realita banget. Mulai dari pelecehan seksual di kantor sampai standar ganda terhadap para perempuan bekerja. Di satu sisi mereka dianggap nggak bisa ngurus anak tapi di sisi lain karirnya nggak bisa naik meski berprestasi karena dirasa nggak bisa fleksibel untuk posisi tinggi karena harus mengurus keluarga.

quote kim ji young born 1982

Sedangkan di sektor domestik diceritakan juga soal pola asuh yang patriarki, yaitu anak perempuan harus ngalah sama anak laki-laki yang dilayani bak raja. Sementara nggak jarang mereka harus menjadi tulang punggung keluarga besar (iya, perempuan, bukan laki-laki ya). Juga soal kehidupan perempuan yang berubah total ketika mereka menjadi seorang ibu. Sedangkan laki-laki enggak.

Di film karya sutradara Kim Do-Young, Jung Yu-mi berperan sebagai Kim Ji-young. Seorang perempuan yang dibesarkan oleh ibu yang berusaha memperlakukan 2 anak perempuan dan 1 anak laki-lakinya dengan adil. Meski di mata ayahnya yang paling berharga adalah anak laki-laki.

Plot

kim ji young born 1982

Sebelum menikah, Kim Ji-young adalah staf yang berprestasi di sebuah agensi kehumasan. Dan setelah menikah, dia dan suaminya Jung Dae-Hyun (Gong Yoo) sepakat menunda punya anak karena ingin berkarir. Tapi tekanan keluarga Dae-Hyun membuat mereka membatalkan kesepakatan itu, meski Ji-young sempat menyampaikan keberatannya karena merasa hidupnya nanti pasti akan berubah total setelah punya anak. Yang kemudian membuat Dae-Hyun berjanji akan membantu mengurus anak.

Janji ini ditepati Dae-Hyun. Di awal film tampak adegan Gong Yoo tergesa-gesa pulang dari kantor supaya bisa memandikan anaknya. Tapi Ji-young yang terpaksa berhenti bekerja sejak ia hamil dan menjadi ibu rumah tangga rupanya mengalami post partum depression. Terjebak dengan rutinitas dan mendengar ucapan nyinyir para pegawai kantoran yang bilang kalau dia tuh enak banget cuma ngabisin duit suami. Dan betapa mengganggunya keberadaan dia dan anaknya di sebuah kedai kopi. Padahal orang-orang ini nggak kenal dengan Ji-Young.

Baca Juga: Dari Ibu Bekerja Menjadi Ibu Rumah Tangga. Siapa Takut?

Lama-kelamaan, Ji-young jadi sering berhalusinasi dan mulai berbicara seakan dia orang lain. Dae-Hyun yang khawatir dengan keadaan istrinya pun mengunjungi psikiater untuk mengetahui apa yang bisa dia lakukan untuk membantu istrinya. Papah muda ini juga menyuruh istrinya berkonsultasi yang ditolak Ji-young karena merasa biaya ke psikiater itu mahal banget.

Saking suportifnya sang suami, ketika Ji-young dapat tawaran untuk kembali bekerja, Dae-Hyun mengusulkan agar dia mengambil unpaid paternity leave supaya bisa menjaga anak. Usul ini ditolak mentah-mentah oleh ibu Dae-Hyun karena merasa sayang dengan karir anaknya.

Film yang diadaptasi dari novel berjudul sama ini berakhir dengan bahagia. Setidaknya bagi keluarga kecil mereka. Tone film yang awalnya suram berubah menjadi hangat mulai dari sepertiga film terakhir.

Karakter Gong Yoo Selalu Sedih?

Dari ketiga film Gong Yoo yang sudah saya tonton ini plus Goblin, saya merasa benang merah karakter yang diperankan oleh Gong Yoo adalah pria-pria yang sedih. Dan saya merasa lebih suka liat Gong Yoo di ketiga film ini daripada di Goblin atau Coffee Prince, lebih membumi gitu. Karena karakter dia ya orang-orang biasa. Pegawai kantoran. Bukan orang super kaya.

Selain itu juga Gong Yoo terlihat bapakable banget. Kelihatan hangatnya dia kalau sama anak-anak. Trus cara dia memandang pasangannya di film (dan drakor) itu loooo, bikin meleleh. Yang dipandang siapa, yang tersipu-sipu yang nonton. Gong Yoo Oppa, sarangheo…

Nah, di antara ketiga film yang saya ceritakan di atas adakah yang sudah teman-teman tonton? Atau mungkin ada rekomendasi film Gong Yoo lain yang harus saya tonton? Kalau Seo Bok mungkin sih nggak ikutan nonton, karena kurang suka film genre begitu. Tapi liat reviewnya dulu deh. Kalau bagus baru nonton.

Author

alfa.kurnia@ymail.com
Lifestyle blogger yang suka berbagi tentang review produk, kisah sehari-hari, pengalaman parenting dan banyak lagi. Juga suka menulis resensi buku dan produk skincare di blog alfakurnia.com

Comments

Des 13, 2020 at 12:07 PM

Yang Born 1982 belum kuliat, penasaran sih tapi masih mager mau nonton hahaha alesan doang.
Dan yang A Man And A Woman ini biyuh-biyuuuh hahahaha beneran dah, duh x_x



Des 14, 2020 at 11:22 AM

Zatu²nya fim Gong Yo yang pernah aku tonton cuma Train to Busan doang, Goblin yg orang² bilang bagus blm nonton nih 🙂



Des 14, 2020 at 12:02 PM

Aku nonton semuanya…dan emang bikin mellow…huhuhu…
Mungkin didukung tatapan mata Gong Yo yang juga sedih jadi cocok semua. Salut sih sama aktingnya dia.



    Des 16, 2020 at 8:47 AM

    Belum nonton semuanya nih aku mbak, karena biasanya kalau mau nonton nunggu viralnya dulu aku, kek yg kemarin itu cerita perselingkuhan yg sempat viral



Des 14, 2020 at 5:14 PM

Dengan tema feminisme aku kok tertarik sama Kim Ji-Young, Born 1982….
Btw, peran Gong Yo yang membumi memang lebih nyangkut di hati ya. Ditambah terlihat Bapakable ..makin meleleh pasti



Des 15, 2020 at 12:36 PM

Aku familiar sama film2 di atas, dan ceritanya itu megobok-obok perasaan yaa. TApi keren2 ektingnya berhasil membuat yang nonton berkesan



Des 15, 2020 at 12:55 PM

AKu belum pernah nonton semua hihihihi 🙂 Jadi bingung euy 🙂 AKu taunya Endless Love doang, mbak 😀 Cerita2 perselingkuhan kayak gini biasanya banyak digemari karena kepo sama prosesnya dan gimana endingnya. Kalau keduanya bersatu karena memang jodoh ya mungkiiiiin oke ya tapi gimana dengan anak2 mereka?



Des 15, 2020 at 2:30 PM

Kim Ji Young, aku nggak terlalu suka. Kurang dalem ceritanya. Mungkin karena adaptasi novel trus terbatas durasi jadi nggak bisa menampilkan detail gt. Klaau suka Gong Yoo nonton drama lamanya kayak Coffee Prince dan BIG deh mbak. Bagus itu.



Des 16, 2020 at 8:49 AM

Baca rwview film yang di atas, yang ada sekolah – SLB, perkuangan HAM, dan perselingkuhan. Apalagi kisah tragis di sekolah adalah kisah nyata … duh, hatiku tercabik2, Mbak Alfa.

Gimana nontonnya. 🙈



Des 16, 2020 at 8:54 AM

Pas banget ya temanya sedih semua ini jadi maju mundur mau nontonnya, hihi suka Gong Yoo tapi kede nonton drama dan film sedihhh



    Des 16, 2020 at 3:07 PM

    Ganteng sih mak segitu mah wkwkwkw…
    Gak ganteng2 amat mungkin sm bintang2 K yg muda2…
    Tp klo aku mah lbh suka yg kyk gini bapakabke n mature gt sih
    Eh hahaha



Des 16, 2020 at 11:59 AM

SILENCED INI BAGUS BANGET!!!!
salah satu film yang bikin termehek-mehek dan kepikiran berhari-hari. Pasalnya ceritanya ini deket banget dengan kehidupan sehari-hari :((( apalagi dia based on true story. jadi kepikiran bangeeetttt



Des 16, 2020 at 2:46 PM

aku jadi inget pas post foto sama suamik trus ada yang bilang suamiku mirip sama gong yoo, dan berhubung aku bukan pecinta korea banget-banget, googling lah aku, dan pas liat lah ini mah cakepan gong yoo hhaahha monmaap pak suamik



Des 16, 2020 at 6:37 PM

Yang Born 1982 kayaknya seru banget deh, Mbak. Seperti cerita real kehidupan kita. Yang perempuan, lagi kerja, terus menikah, terus hamil, resign, dinyinyirin, terus depresi. Banyak fakta yang begini. Jadi pengen nonton nih.



Des 16, 2020 at 8:48 PM

saya belum nonton drama/film2 korea. Semula alasannya takut kecanduan
Namun, kemarin2 saya coba nonton drama taiwan, bagus juga ceritanya
mungkin jadi akan mulai nonton film/drakor nih 🙂



Des 16, 2020 at 9:51 PM

Hihiii… Mba saya mau jujur nih.. Belum pernah nonton semuanya… jadi biar bisa mendalami Seo bok harus nonton semua dulu ya biar dapet feelnya dan bisa melihat kehebatan dan seo bok. Dan sepertinya born 1982 bakal jadi yang pertama nih ditonton, jadi penasaran alurnya. “gue banget ga ya… ” 🙂



Des 16, 2020 at 11:07 PM

Perbendaharaan kata eh nama aktris dan aktor Korea saya belum banyak nih. Heuheuehu. Dan ku tak tahu lho, si Gong Yoo ini wkwkwk. #jangandibully. Tahunya Hyun Bin, Kim Tae Pyung, Hyun Bin, Kim Tae Pyung..ealah itu mah orang yang sama ya hahaha



Des 16, 2020 at 11:51 PM

Jeon Do-yeon sekilas aku pikir Han Ji-min, hihii…
Gong Yoo memang bapakable banget.
Dan dia termasuk yang berani mengambil banyak karakter dalam drama dan film.
Saluuutt.



Des 17, 2020 at 4:55 AM

Aku suka cara Mba Alfa menuliskan review drakor gini. Biasanya aku pusing banget baca review karena ceritanya meloncat-loncat, seakan-akan yang nulis tuh nulis untuk dirinya sendiri hehehe… Maklum mba, aku awam banget tentang perdrakoran.

Tau Gong Yoo ya karena dia pernah jadi BA ASUS. Kalem sih emang wajahnya ya. Pada ketiga film yang Mba Alfa ceritakan ini, perannya emang kebapakan sekaleee…



Des 17, 2020 at 7:50 PM

Sy belum pernah nonton film Gong Yo…tahu film Train to busan dan Goblin tapi belum sempat nonton. Pengen nih nonton Train to Busan karena filmnya cuma 2 jam an ya ga bersambung



Des 17, 2020 at 8:38 PM

Aku jatuh cinta saat Gong Yoo main di Goblin itu mba iya sih memang karakternya Selalu Sedih,, tapi Suka kalau lihat dia lagi bicara sama jalan🤦



Des 18, 2020 at 11:19 AM

Huhuhuhu kalau nonton film-film yang aktor aktrisnya harusnya bisa bahagia trus ga jadi bahagia, akhirnya suka kebawa gemes dan sedihnya ya.



Des 21, 2020 at 7:20 AM

Wah ternyata banyak juga filmnya Gong Yoo selain Train to Busan…Aku baru nonton Train to Busan aja nih..hahah..Itu juga nontonnya di tipi. 3 film ini bakal tayang di tipi juga gak ya…



Des 22, 2020 at 10:26 PM

Train To Busan ampek sekarang belum berani nonton aku tu. Horrornya serem kan?



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.