Hari Pertama Sekolah, Keenan Jadi Murid Primary

K's first day at primary

Hari ini genap 2 minggu Keenan menjalani hari-harinya sebagai murid Primary 1 atau kelas 1 SD kalau di Indonesia. Jujur aja sebenarnya saya agak berat mengantarkan dia ke Primary school tahun ini. Masalah utamanya adalah umur Keenan yang belum lagi 6 tahun. Iya, pada hari pertama masuk sekolah tanggal 2 Januari kemarin, Keenan baru berusia 5 tahun 10 bulan. Terlalu muda memang.

Usia dan Tingkat Kematangan Anak Sekolah

Usia memang punya faktor penting dalam kematangan anak sekolah. Menurut situs www.klinikmylovelychild.com, kematangan masuk sekolah adalah kondisi saat anak sudah siap seusai standar fisik, intelektual, mental, keterampilan, serta perkembangan sosial yang sesuai dengan sekolah formal. Memiliki kematangan sekolah ini penting lho, agar anak benar-benar siap masuk sekolah, terutama sekolah dasar yang tuntutannya sudah berbeda dari pra sekolah. Sehingga nggak terjadi kegagalan dalam proses pendidikan, kesulitan belajar, gagal sekolah, atau mogok sekolah.

Memang sih, tiap anak berbeda. Ada anak yang belum 6 tahun tapi sudah lebih matang daripada anak-anak seusianya. Nggak usah jauh-jauh deh, 2 orang keponakan saya dan 1 anak teman saya yang lahir cuma beda 1-2 bulan lebih muda dari Keenan, sudah lebih matang secara mental, keterampilan dan perkembangan sosialnya. Mereka, di usia belum 6 tahun sudah bisa membaca kalimat sederhana, menulis dengan rapi, sudah bisa berkomunikasi dengan baik, bahkan bisa mengetik dan membuat karangan di komputer.

syarat masuk sekolah dasar

Tapi untuk kasus Keenan ya bagi saya memang dia belum punya kematangan sekolah.

Hal ini juga dipahami oleh guru-gurunya di Kindergarten, terutama class teachernya. Begitu tahu kalau Keenan adalah salah satu yang paling muda di kelas, dia langsung bisa menarik kesimpulan bahwa salah satu penyebab Keenan kewalahan mengikuti aktivitas belajar mengajar khususnya menulis adalah karena dia belum matang. “He hasn’t reach that maturity level yet. That’s why he’s still struggle to read, to write and can’t focus long enough.”

Selain usia, bisa jadi speech delay dan short attention span atau keterlambatan bicara dan tingkat konsentrasi yang pendek menjadi penyumbang faktor lambatnya kematangan Keenan. Jadi, saya sadar diri untuk nggak membandingkan Keenan dengan anak lain seusianya. Tapi saya juga sadar faktor usia mempunyai pengaruh penting dalam kesiapan anak masuk sekolah.

Baca juga: 5 Hal yang Harus Diperhatikan Sebelum Mendaftarkan Anak ke Sekolah di Usia Dini

Primary 1 di Brunei

Karena itulah, menjelang kelulusan kindergarten saya galau luar biasa. Dilema antara membiarkan Keenan lanjut ke Primary atau memintanya untuk mengulang KG3.

Lho, emang di Brunei usia nggak jadi syarat masuk sekolah dasar atau Primary? Yayaya, saya tahu bakal ada yang tanya gitu hehehe. Ada kok. Untuk masuk Primary, minimal anak berusia 6 tahun di bulan Maret. Nah, pas banget, Keenan di bulan Maret tahun ini sudah 6 tahun. Jadi dia bisa masuk. Dan semua anak yang sudah berusia minimal 6 tahun di bulan Maret tahun ajaran berlangsung wajib diterima di Primary School atau Sekolah Rendah manapun. Tanpa perlu tes macem-macem. Nggak peduli anaknya bisa baca tulis atau enggak, bisa berhitung atau enggak, masih nangis kalau ditinggal sendiri. Pokoknya udah 6 tahun udah bisa sekolah.

hari pertama sekolah

Oya, di sini anak umur 7 tahun wajib masuk sekolah (mungkin ada perkecualian untuk anak berkebutuhan khusus ya). Kalau nggak sekolah, orang tua bisa kena hukuman denda atau penjara. Jeng jeng jeng. Jadi, homeschooling in Brunei is not an option.

Nah, karena itu, class teacher dan KG supervisor Keenan nggak membiarkan dia ‘menahan’ alias mengulang kelas, meskipun dia belum punya kematangan sekolah. “It’s oke, Mummy. Let him try year 1. If he can’t cope this year, he can stay at year 1 the next year,” gitu saran dari guru kelasnya. Ya sudah sik, akhirnya itu jadi salah satu pertimbangan saya mendaftarkan Keenan ke Primary 1. Walaupun rasa cemas itu tetap ada. Wajar kan ya. Iya, nggak?

Baca juga: Keenan: Speech Delay dan Sekolah di Usia Dini

Mengatasi Kecemasan Masuk Sekolah Dasar

Meski akhirnya saya memutuskan Keenan masuk Primary 1 (suami sebenarnya ingin Keenan ngulang KG 3 aja), hati saya tetap nggak tenang. Dan di hari pertama sekolah, saya yang stres. Anaknya sih agak takut tapi begitu lihat beberapa temannya dari KG ada di kelas yang sama, dia langsung tenang.

Saya sendiri khawatir dia nggak bisa mengikuti proses belajar mengajar dengan baik di sekolah. Karena di sekolah dasar kan anak-anak sudah belajar beneran.Di mana, mereka harus mencatat pelajaran dari gurunya juga ada PR dan ulangan. Saya takut Keenan nggak bisa memahami instruksi gurunya, nggak bisa mencatat, atau nggak berani ke toilet sendiri. Pokoknya mah mamak ini cemas aja bawaannya.

Sampai pagi itu saya ketemu dengan kepala Primary yang sudah lama saya kenal sejak kakak sekolah di situ. Curhatlah saya ke beliau tentang Keenan yang belum bisa baca tulis dengan baik dan semua kekhawatiran saya.

Eh, responnya baik sekali. Beliau menyarankan saya untuk ngobrol ke guru kelasnya Keenan, “Tell the teachers about that, so they can talk slower to him. But I told the teachers who teach at this class actually. Because this class is special. Some of them are still young and can’t write or read properly. That’s why we put them together at one class instead of mixing them with the good (at writing, reading and more mature) ones,” ujarnya memenangkan saya. Beliau juga bilang kalau sekolah akan berusaha semaksimal mungkin dalam membantu anak-anak yang belum bisa baca tulis agar dapat mengikuti pelajaran dengan baik.

Duh, rasanya pundak saya langsung terasa lebih ringan karena tahu saya nggak akan berjuang sendirian. Nggak masalah bagi saya kalau Keenan ditempatkan di kelas spesial. Justru dengan begitu dia nggak akan dipaksa lari untuk mengikuti ritme teman-temannya karena mereka berada di pace yang sama. Guru-guru juga akan lebih sabar dalam mengajari anak-anak ini.

Mengatasi Kecemasan Orangtua

Berkenalan dengan guru atau kepala sekolah dan berbicara kepada mereka tentang kekhawatiran kita cara terbaik untuk mengatasi rasa cemas saat anak akan masuk sekolah dasar.

Selain itu beberapa cara ini dapat membantu mengurangi kecemasan orangtua saat anaknya masuk sekolah dasar:

1. Berkenalan dengan orangtua lain.

Punya teman sesama orangtua yang anaknya juga baru masuk sekolah bikin kita lebih tenang karena ada teman senasib. Kita bisa saling curhat dan saling menjaga anak-anak di minggu pertama mereka bersekolah.

Karena Keenan bersekolah di tempat yang sama dengan TKnya dulu, otomatis sebagian besar temannya dari TK yang sama. Sehingga saya sudah kenal dengan sebagian besar ortu teman-teman Keenan di Primary School. Jadi di hari pertama anak-anak sekolah, kami ngobrol dan curhat di depan kelas anak-anak. Dan ternyata memang nggak cuma saya yang punya kekhawatiran tersebut. Akhirnya malah kami saling support. Kecemasan saya sedikit berkurang.

Berkenalan dengan orangtua murid yang lebih senior juga nggak ada salahnya, lho. Mereka biasanya sudah lebih paham sistem di sekolah tersebut. Jadi kalau kita bingung nggak tahu harus bagaimana saat anak mengalami kesulitan, mereka biasanya bisa memberi saran. Itu yang saya alami saat Cinta awal-awal masuk Primary School dulu.

2. Bergabung dengan kegiatan di sekolah.

Banyak orang tua yang malas terlibat di kegiatan sekolah termasuk saya. Padahal dengan cara ini kita bisa lebih mengenal guru-guru dan teman-teman anak di sekolah tersebut. Kita juga bisa mengamati cara guru berinteraksi dengan orangtua dan siswa di luar kelas. Sehingga kita tahu apakah anak nyaman atau tidak di sekolah tersebut.

Oya dengan kita terlibat dengan kegiatan sekolah atau ikut persatuan orangtua murid dan guru, anak juga akan merasa didukung oleh orangtua, lho. Tapi juga jangan berlebihan sampai kita menginterupsi cara belajar dan mengajar guru di kelas ya. Nanti jadi helicopter parent dong kita. No no no. Cukup mengamati dari jauh. Beri bantuan dan dukungan kepada para guru agar mereka tahu bahwa kita bisa diandalkan untuk bekerja sama meningkatkan kemajuan pendidikan anak-anak.

3. Tanya anak tentang aktivitas dan perasaannya di hari pertama sekolah.

Dengan menanyakan pengalaman hari pertama anak di sekolah dasar, kita bisa tahu kesan pertama anak terhadap perannya sebagai anak SD. Karena tentu berbeda sekali dengan anak TK. Dengan begitu kita mengerti apa yang disukai dan tidak disukai anak. Atau apa yang membuatnya senang atau sedih. Sehingga kita bisa membuat anak nyaman dan rasa cemas kita berkurang. Tapi ya nggak usah diinterogerasi juga anaknya. Nggak semua anak suka bercerita. Ada yang kalau ditanya, “Gimana tadi sekolahnya?” cuma jawab, “Oke.” ya nggak papa juga. Coba ganti pertanyaannya dengan yang lebih spesifik lagi.

Baca juga: 20 Pertanyaan Tentang Keseharian Anak Sepulang Sekolah

 

2 Minggu di Primary 1

Jadi, setelah 2 minggu di Primary 1 saya lihat Keenan mulai bisa beradaptasi. Kalau ditanya soal pelajaran dia bisa jawab, bahkan mulai bisa menghafal beberapa kata (iya, bagi dia lebih mudah menghafal bentuk kata daripada mengeja kata karena anak ini ingatannya bagus sekali). Walaupun kalau lagi nggak mood di pagi hari ya kumat juga malesnya belajar sekolah. Tapi, sejauh ini sih saya lihat Keenan cukup oke. Saya tanya ke guru kelasnya juga mereka nggak ada komplain tentang ketidakmampuan atau perilaku Keenan di sekolah. Alhamdulillah. Semoga ke depannya akan semakin membaik ya. Tolong doakan kami.

Keenan’s Field Trip To BSP Fire Station

Pemadam Kebakaran, Field Trip, BSP Fire Station, Panaga Brunei

Tanggal 22 November 2017 yang lalu, Keenan dan teman-temannya dari KG 2 CCMS diajak jalan-jalan atau istilah bulenya Field Trip ke Brunei Shell Petroleum Co Sdn Bhd (BSP) Fire Brigade. Murid-murid dari 4 kelas KG dibagi 2 sesi, jam 8 dan jam 10. Kebetulan Keenan dapat yang sesi siang. Acara ini dilakukan setelah ujian akhir tahun 2017, sebagai reward atas kerja keras anak-anak belajar dalam satu tahun tersebut.

Pada hari H, saya, Keenan dan kakak Cinta mendatangi BSP Fire Station yang terletak di Jalan Tengah, Panaga. Sempat bingung di mana bisa parkir mobil, karena lokasinya yang persis terletak di jalan besar dan nggak nampak ada mobil parkir di pelataran depannya. Setelah mengikuti mobil lain, baru tahu kalau ada gedung-gedung kecil dan tempat parkir di belakang bomba (sebutan fire station dalam bahasa Melayu). Keenan pun antusias sekali kepingin segera masuk ke dalam area bomba dan bergabung dengan teman-temannya yang sudah lebih dahulu datang.

pemadam kebakaran, bsp fire station, panaga brunei, field trip
Duduk manis mendengarkan safety briefing dari officer BSP Fire and Emergency Response

Sesampainya di dalam, anak-anak masih harus menunggu beberapa saat sebelum sesi siang dimulai. Kakak Cinta yang sudah pernah mengikuti acara serupa di stasiun pemadam kebakaran Seria pun mulai merasa bosan karena nggak ada temannya. Untuk mengusir kebosanannya, kakak pun ikut duduk di samping Keenan dan teman-temannya serta mengikuti berbagai aktivitas yang diberikan oleh para petugas dan officer BSP Fire Station.

Aktivitas dimulai dengan membagi murid-murid sesi siang ini ke dalam dua kelompok. Kelompoknya Keenan diajak untuk melihat aneka peralatan yang dipakai oleh para pemadam kebakaran, mulai dari baju sampai aneka selang. Anak-anak juga diberi kesempatan untuk mengenakan seragam pemadam kebakaran. Lucu deh, ada yang semangat seperti Keenan, ada yang mau coba lebih dari sekali, ada juga yang nggak mau.

pemadam kebakaran, bsp fire station, field trip
Aneka perlengkapan yang digunakan oleh pemadam kebakaran

Setelah itu, anak-anak diajak melihat truk pemadam kebakaran dan ambulance. Ternyata banyak sekali panel dan perlengkapan di fire truck ya. Saking banyaknya sampai saya nggak bisa mengikuti satu persatu penjelasan petugas tentang fungsi panel-panel tersebut. Fix lah jadi pemadam kebakaran itu selain perlu fisik yang kuat juga perlu keahlian khusus.

fire truck, bsp fire station, panaga brunei, field trip, pemadam kebakaran
Bagian dari BSP Fire Truck

Anak-anak juga diajak duduk di dalam ambulance sambil melihat isi di dalamnya. Jadi ingat pengalaman naik ambulance waktu lagi hamil besar Keenan bareng kakak Cinta hihihi. Setelah itu, kedua kelompok anak, guru dan orangtua dikumpulkan di pelataran belakang untuk melihat demonstrasi truk pemadam kebakaran mengeluarkan air dari selangnya.

BSP Fire Truck, mobil pemadam kebakaran, pemadam kebakaran, fire station, Panaga Brunei, field trip
Demo truk pemadam kebakaran

Acara berakhir pada pukul 11 dengan pembagian snack dan minum sambil mendengarkan sedikit cerita dari officer BSP Fire Station. Terima kasih CCMS dan BSP Fire Station. We had fun. Dan terima kasih untuk Borneo Bulletin yang sudah meliput acara kunjungan ke BSP Fire Station, kami jadi punya kenang-kenangan nih. Yaiy.

field trip, ide studi wisata, studi wisata anak TK, Panaga Fire Station, Seria, brunei
Studi wisata ke Panaga Fire Station diliput oleh Borneo Bulletin

Keseruan Field Trip ke Panaga Fire Station dalam video:

Suka Duka Tahun Ajaran Sekolah 2017

Alhamdulillah, tahun ajaran 2017 sudah berakhir hari ini. Kakak Cinta tahun ini menyelesaikan Year 4 dan Keenan berhasil mengikuti pelajaran di KG 2. Insya Allah, pada bulan Januari 2018, Keenan akan duduk di bangku KG 3 dan kakak akan mulai mengikuti pelajaran di kelas 5.

Awal tahun ajaran di Brunei memang berbeda dengan di Indonesia yang mulai pada bulan Juli. Sedangkan seperti Malaysia dan Singapura, Brunei memulai tahun ajaran barunya di bulan Januari.

Tahun 2017 ini alhamdulillah banyak sekali pengalaman menarik yang dialami oleh Cinta dan Keenan di sekolah. Baik dari segi akademis maupun non akademis. Padahal, kami mengawali tahun ini dengan penuh kekhawatiran bagi Keenan dan penuh kepasrahan untuk Kakak.

Maklum, tahun 2016 kemarin, saya dan Keenan merasa tidak nyaman di sekolah yang lama, yang akhirnya membuat saya dan suami memutuskan untuk mengeluarkan Keenan dari sekolah itu dan memindahkannya ke sekolah yang sekarang. Ketika berdiskusi dengan kepala KG yang sekarang mengenai kondisinya Keenan, kami ragu bahwa Keenan akan mampu mengikuti pelajaran di KG2, bahkan sempat ada wacana supaya Keenan mengulang KG1. Tapi akhirnya Keenan diperkenankan untuk masuk KG2 dengan masa percobaan 1 term, lebih kurang 4 bulan, atau caturwulan kalau di Indonesia.

Masa percobaan itu kami lalui dengan penuh kecemasan. Pindah dari sekolah yang banyak mainnya ke sekolah yang lebih serius belajarnya dengan guru yang sangat disiplin dan tegas jadi ujian berat untuk Keenan. Sampai 2 minggu pertama sekolah, Keenan masih nggak mau saya tinggal. Namun, alhamdulillah sekolahnya yang baru ini punya kebijakan untuk membiarkan anak ditemani oleh orangtua atau pengasuhnya sampai mereka merasa nyaman. Jadi, pada 1 minggu pertama, hampir semua anak di kelas Keenan dan kelas bawahnya masih ditungguin orangtua atau pengasuhnya. Pada minggu kedua, Keenan mulai mau saya tunggui di luar kelas. Sampai pada minggu ketiga dia benar-benar mau ditinggal.

Sejak saat itu, banyak sekali kemajuan yang dicapai oleh Keenan. Mulai dari perkembangan kemampuan bahasanya, sosialisasinya sampai kemampuan akademisnya. Keenan yang tadinya sempat didiagnosa lambat bicara, sekarang alhamdulillah jadi cerewet sekali. Memang, jika dibandingkan dengan anak-anak yang tidak mengalami speech delay masih cukup tertinggal, tapi jika dibandingkan dengan tahun lalu, wah sudah jauh berbeda. Tingkat konsentrasinya perlahan-lahan mulai membaik, untuk hal-hal yang dia sukai, Keenan mulai betah untuk duduk diam dan mengerjakannya selama lebih dari 10 menit.

Latihan-latihan rutin yang diberikan oleh guru kelasnya, membuat Keenan dapat mengenal dan menghafal angka 1-50. Penjumlahan sampai 5 dan sekitar 20 kata dalam huruf Cina. Bagi saya itu merupakan prestasi tersendiri. Keenan juga nampak menikmati bergaul dan bermain bersama teman-teman kelasnya, hafal satu per satu nama temannya di kelas dan dapat mengikuti instruksi dari gurunya.

Satu hal yang membuat saya tenang adalah, sampai hari terakhir sekolah, meskipun seringkali dia bilang nggak mau berangkat sekolah, begitu sampai di kelas dan bertemu teman-temannya, langsung lupa dengan rewelnya dan dengan senang hati menyuruh saya pulang. Berbeda sekali dengan tahun lalu yang seringkali histeris saat tiba di depan sekolah lamanya. Sampai di bulan-bulan terakhir sekolah tahun lalu, Keenan benar-benar nggak mau turun dari mobil dan sembunyi di balik kursi pengemudi supaya saya nggak bisa memaksanya turun. Hiks.

Sedangkan bagi kakak Cinta, tahun 2017 adalah tahun yang penuh dengan pengalaman baru. Dan hal itu berawal dari kesukaannya berbagai aktivitasnya di Year 3. Mulai dari mengikuti ICAS (International Competitions and Assessments for Schools) sejak Year 3, tahun ini kakak Cinta berhasil meraih nilai High Distinction dan mendapat Gold Medal untuk mata pelajaran ICT dan Distinction untuk pelajaran Bahasa Inggris.

Keberaniannya mengikuti lomba menyanyi di Year 3 juga membuat kakak percaya diri mengikuti Co Curricular Activities Choir dan mengantarkannya tampil di acara 79th School Anniversary Performance dan dipercaya mendapatkan bagian menyanyi solo di lagu Greatest Love of All yang dipopulerkan oleh Whitney Houston.

Nggak cuma itu, kakak juga berhasil memperoleh juara ke-2 untuk lomba mewarnai yang diselenggarakan sekolah bekerjasama dengan jaringan resto fastfood Jollibee dalam rangka perayaan Children Day.

Prestasinya ini membuat kakak jadi lebih dikenal oleh para guru, sehingga ia dipilih sebagai salah satu wakil sekolah untuk mengikuti Perarakan Jubli Emas Sultan Brunei Bertahta. Meskipun ternyata kakak dan teman-temannya gagal bertemu langsung dengan Sultan, tapi pengalaman tersebut menjadi kenangan manis bagi Cinta.

Photo Credit: CCMS Primary Seria

Dari segi akademis tidak banyak perubahan tapi ada perbaikan di beberapa mata pelajaran yang berbahasa Melayu. Cinta mulai lebih lancar dan percaya diri berbicara dan menulis dalam Bahasa Melayu dan tulisan Jawi sehingga nilai pelajaran Ugama dan Melayu Islam Beraja (MIB)nya meningkat dari tahun lalu.

Dari segi sosialisasi, Cinta juga mulai membuka diri untuk berteman dengan lebih banyak orang. Dari yang tadinya hanya punya 1 teman baik dari kelas 1, sekarang teman segengnya sudah lebih dari 3 orang. Begitu juga dengan teman di sekolah Ugama dan les mengaji.

Namun, meski banyak hal baik yang dialami oleh Cinta dan Keenan di tahun ajaran 2017, banyak juga hal-hal yang membuat mereka (dan mamanya) patah hati.

Bagi kakak, hal yang terparah adalah ketika dibully oleh teman-teman sekelasnya di Sekolah Ugama. Memang sejak masuk sekolah Ugama 3 tahun yang lalu, kakak nggak punya teman dekat. Dia selalu merasa teman-temannya menganggap dia aneh dan nggak mau berteman dengan dia. Tapi selama ini dia berusaha untuk nggak peduli meskipun beberapa kali mengadu diganggu oleh temannya.

Rupanya tahun ini gangguannya semakin parah, beberapa teman perempuan mulai melakukan gangguan secara fisik dan verbal. Mulai dari menyebut kata-kata yang tidak pantas kepada Cinta, menarik kerudungnya sampai terakhir sebelum sekolah berakhir, hadiah ulang tahun yang dia siapkan untuk temannya dan dia simpan di tas hilang. Cukup sering saya mendapati dia menangis saat saya jemput sekolah Ugama. Namun selalu saya beri semangat dan menguatkan mentalnya. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk bicara dengan guru kelasnya.

Alhamdulillah, cikgu cepat tanggap dan berjanji menegur para pelakunya (and she did) bahkan meminta maaf karena dia nggak tahu bahwa selama ini Cinta diganggu oleh teman-teman sekelasnya. Sejak itu, menurut Cinta, teman-temannya nggak ada yang mengganggu dia. Tapi tetap saja, dia lebih nyaman bersama teman baiknya dari kelas sebelah atau bersama kakak-kakak kelas yang nggak dia kenal saat menunggu saya menjemputnya pulang sekolah.

Dari segi pelajaran, ada penurunan nilai yang cukup signifikan untuk pelajaran Matematika. Biang keladinya adalah kurang konsentrasi dan kurang latihan. Sehingga saat ulangan atau ujian, banyak kesalahan remeh yang dia lakukan. Untuk itu, saya berencana untuk menambah waktu belajarnya tahun depan dan mengaktifkan lagi belajar online menggunakan IXL.

Satu lagi yang benar-benar membuat kakak patah hati adalah tahun ini dia kehilangan tiga teman baiknya sesama orang Indonesia. Mereka baru dekat sekitar setahun belakangan, ketika Cinta bergabung di grup ngaji anak-anak Indonesia. Meski berbeda sekolah, keempat anak ini (dan adik-adik mereka) cepat sekali akrabnya. Setiap selesai mengaji, biasanya mereka akan bermain bersama barang 1-2 jam sebelum pulang. Salah seorang temannya, kembali lebih dulu ke Indonesia pada bulan Mei dan menyusul 2 orang lagi di bulan November ini. Habis sudah sahabat baiknya sesama  orang Indonesia di Brunei ini. Hiks.

Sedangkan bagi Keenan, hal yang kurang menyenangkan adalah ketika harus mengikuti kelas tambahan untuk pelajaran Bahasa Melayu dan Bahasa Inggris. Bersyukurnya kedua guru untuk mata pelajaran tersebut adalah guru-guru favoritnya sehingga dia cukup dapat beradaptasi dengan harus tinggal di sekolah lebih lama saat teman-teman lainnya boleh pulang. Namun, namanya juga anak-anak, ada saatnya dia capek dan akhirnya tantrum saat harus mengikuti kelas tambahan.

Karena harus ikut remedial ini juga, Keenan nggak bisa ikut grup tari untuk pentas 79th School Anniversary sebab waktu latihan bentrok dengan jadwal ekstra classes. Awalnya dia sedih, tapi waktu nonton teman-temannya rehearsal, Keenan ikut semangat dan senang untuk mereka. Sayang dia nggak bisa ikut nonton grup paduan suara kakak dan grup tari teman-temannya tampil di acara 79th School Anniversary Dinner karena sakit dan harus tinggal di rumah.

Yah, begitulah suka duka di tahun ajaran 2017 ini. Tentu masih banyak hal yang nggak saya tuliskan di sini. Tapi ini cukuplah sebagai catatan penting, kenang-kenangan dan bahan evaluasi untuk tahun ajaran berikutnya. Saya bersyukur sekali tahun ini berdampingan dengan guru-guru yang sangat komunikatif dan suportif membimbing anak-anak di sekolah. Semoga dengan berbagai prestasi di tahun ini, kakak Cinta dan Keenan semakin semangat untuk menghadapi tahun ajaran 2018.  

 

5 Manfaat Berkebun Bagi Anak

Manfaat Berkebun Bagi Anak, Manfaat bercocok tanam bagi anak, benefit of gardening for children

Beberapa bulan yang lalu, saya mendapat surat pemberitahuan dari sekolahnya Keenan bahwa anak-anak akan belajar berkebun di sekolah. Untuk itu kami diminta membayar sejumlah uang untuk membeli tanah berpupuk, bibit tanaman, starter seed, pot dan perlengkapan pendukung lainnya. Wah, langsung semangat dong saya. Kebayang Keenan pasti senang sekali belajar berkebun bareng teman-teman sekolahnya, secara di rumah dia yang paling rajin menyirami tanaman-tanaman saya.

Ketika rencana kegiatan ini saya ceritakan ke kakak Cinta, dia mengingatkan bahwa waktu bersekolah TK di tempat yang sama dengan Keenan 5 tahun yang lalu, dia pun melakukan hal yang sama bersama guru dan teman-teman TKnya. Bahkan ketika kakak Cinta kelas 3 tahun lalu, dia juga sempat mengikuti kelas berkebun di sekolah. Peminatnya banyak lho ternyata, dan menurut kakak kegiatan yang dilakukan seminggu sekali itu cukup seru, menyenangkan dan banyak hal yang mereka pelajari. Tapi kalau jaman kakak Cinta dulu guru-gurunya memilih untuk menanam sayur-sayuran di sebuah lahan kosong di halaman sekolah, kali ini angkatannya Keenan memilih menanam bunga.

Sebelum kegiatan ini dimulai, guru kelas Keenan sudah mengenalkan anak-anak akan kegiatan bercocok tanam dengan menanam bibit bawang merah. Beliau meletakkan pot pot dari bekas botol air mineral berisi tanah dan bawang di pelataran depan kelas, lalu anak-anak diminta bergiliran menyirami tanaman tersebut. Mungkin melihat antusiasme anak-anak, dari kegiatan satu kelas itu lantas diadopsi menjadi kegiatan kolektif satu sekolah dengan jenis tanaman yang berbeda.

Tentu berkebun dengan anak nggak mudah. Memberikan penjelasan kepada anak-anak usia TK bagaimana sebuah biji kelak dapat tumbuh menjadi tanaman yang sehat, segar dan indah bukannya sederhana. Belum lagi antusiasme anak dalam memelihara tanaman yang hilang dan timbul bisa membuat tanaman nggak terawat dengan baik. Ya, namanya anak-anak ya, hari ini mereka semangat sekali menyiram tanaman sampai airnya berlebih dan menggenangi pot, eh besoknya mereka bosan dan lebih memilih bermain yang lain sehingga tanaman kekurangan air.

Alhamdulillah, guru-guru di sekolah Keenan telaten membantu anak-anak mengurus tanamannya. Yah, kalau nggak telaten mungkin nggak jadi guru TK ya.

Tahap pertama yang dilakukan oleh gurunya Keenan adalah memberikan penjelasan tentang aktivitas yang akan mereka lakukan. Lalu, ibu guru menyediakan flower garden starter kit dan meminta anak-anak memasukkan tanah dan bibit bunga milik mereka ke dalam box masing-masing. Setelah itu pot disiram dan disimpan di teras belakang kelas yang terkena cahaya matahari.

5 manfaat berkebun bagi anak, manfaat bercocok tanam bersama anak
pic credit: Keenan’s school

Setiap pagi para guru mengingatkan dan mengajak anak-anak menengok tanaman mereka untuk diberi air. Ada juga kelas anak-anak lebih besar yang menyediakan botol spray berisi air di dekat pot-pot tanaman supaya anak dapat mengairi tanamannya bersama ibu atau ayah yang mengantarnya ke sekolah hari pagi itu.

Saya sih mendukung sekali kegiatan ini, karena dari kegiatan yang nampaknya sederhana tersebut banyak sekali manfaat yang dapat diperoleh anak. Berikut 5 di antaranya.

Manfaat Berkebun Bagi Anak, Manfaat bercocok tanam bagi anak, benefit of gardening for children

5 Manfaat Berkebun Bagi Anak

  1. Anak mengenal siklus hidup tanaman dan apa saja yang dibutuhkan tanaman agar dapat tumbuh sehat. Ini sama saja anak belajar IPA ya, tentu lebih menyenangkan dengan cara praktik langsung kan seperti ini kan daripada hanya membaca dari buku.
  2. Anak belajar bertanggungjawab dengan mengurus tanaman mereka agar dapat tumbuh sehat. Mereka juga belajar sabar menunggu dan melihat proses tumbuhnya tanaman.
  3. Berkebun dapat menstimulasi panca indera anak. Anak dapat mengenal tekstur tanah, biji dan bunga, melihat aneka warna bunga dan daun yang tumbuh, mendengar suara sayuran yang dipetik atau desir angin saat berkebun di luar rumah, dan mencium wangi bunga dan segarnya tanah saat disiram dengan air.
  4. Anak belajar untuk mencintai alam dengan cara yang sederhana namun menyenangkan.
  5. Menumbuhkan kebiasaan makan makanan yang sehat. Waktu Cinta masih TK dulu, kelas mereka menanam kangkung, cabe dan okra atau lady finger. Setelah berbuah, dibagikan ke masing-masing anak. Cinta antusias sekali menyuruh saya untuk memasak sayurannya dan menyicipi hasil masakannya, walaupun akhirnya dia nggak doyan juga hahaha. 

5 manfaat berkebun bagi anak. manfaat bercocok tanam bersama anak

Bulan September yang lalu, tanaman anak-anak di sekolah Keenan mulai tumbuh. Guru-guru pun memindahkan ke pot yang lebih besar, diberi nama masing-masing anak dan ditata dengan cantik di teras belakang kelas. Anak-anak pun makin rajin menyiram tanaman mereka dan memamerkannya ke orangtuanya. Setelah berbunga cukup besar, beberapa kelas mengizinkan anak-anak membawa tanamannya pulang, sedangkan guru-guru kelas lain memilih untuk membuat sebuah petak khusus dan memindahkan tanaman-tanaman tersebut ke sana. Sekarang, sekolah Keenan punya taman bunga cantik yang dibanggakan oleh murid-murid karena ada hasil kerja keras mereka di situ. Hmmm, bisa juga ya diterapkan di rumah. Pasti anak-anak senang punya taman kecil dari hasil tangan mereka sendiri. 

5 manfaat berkebun bagi anak. manfaat bercocok tanam bersama anak

Teman Pojok Mungil ada yang suka berkebun juga? Boleh dong dibagi tips memilih tanaman yang mudah dirawat oleh anak. Terima kasih sebelumnya yaa…

20+ Pertanyaan Tentang Keseharian Anak Sepulang Sekolah

20+ Pertanyaan Tentang Aktivitas Keseharian Anak yang Bisa Kita Ajukan Sepulang Sekolah

“I’m fine. (My day at school) is good.

Kalimat itu suatu hari terucap begitu kakak memasuki mobil saat saya menjemputnya sepulang sekolah.

That’s what you always ask, right? ‘How are you? How’s your day at school?’ Now, I just answered it so you don’t have to ask the questions anymore.” Jelasnya kemudian.

Eaaa…

Kejadian serupa juga pernah saya alami dengan Keenan di bulan-bulan pertama dia bersekolah tahun ini. Padahal saya merasa pertanyaan saya sudah cukup variatif seperti, “Are you happy at school? What did you do at school today?” Yang dia jawab dengan cukup singkat, “Yes, I’m happy. I draw/I learn at school.”

Hadeeuuuh nasib punya anak-anak yang irit ngomongnya kaya bapaknya :))

Padahal kan pengen denger mereka berceloteh detil seharian ngapain aja. Kalau perlu minute by minute gitu ya. Siapa tahu ada kejadian menarik, pengumuman penting atau gosip-gosip seru #eh.

20 Pertanyaan Tentang Aktivitas Keseharian Anak Yang Bisa Diajukan Sepulang Sekolah
Lorelai & Rory Gilmore di serial Gilmore Girls. Pic credit: digitalspy.com

Bagi saya ngobrol dengan anak tentang aktivitasnya saat nggak bersama saya itu penting supaya kalau ada apa-apa mereka merasa nyaman dan aman untuk berbicara ke saya atau papanya. Pengennya tuh, komunikasi saya dengan anak-anak seperti Lorelai dan Rory Gilmore, sepasang ibu dan anak dalam serial Gilmore Girls. Hubungan Lorelai dan Rory sebagai orangtua dan anak tuh idaman saya banget sejak pertama kali nonton serial itu belasan tahun yang lalu. Karena, hubungan saya dengan orangtua saya nggak sedekat itu. Saya tahu orangtua saya sangat menyayangi saya dan selalu ingin yang terbaik bagi saya dan adik-adik. Kami pun punya kebiasaan untuk bertukar cerita saat makan malam bersama di meja makan. Tapi toh, selain dasarnya saya memang cenderung introvert, nggak semua hal bisa saya ceritakan ke mereka, khususnya tentang perasaan saya. Nah, itu yang nggak saya inginkan terjadi ke anak-anak saya. Saya ingin sekali mereka bebas mengungkapkan perasaan kepada kami. Nggak mudah memang, apalagi dengan si pra remaja yang mulai lebih suka ngobrol sama temannya daripada dengan ibunya.

Tapi saya nggak menyerah, nggak ada kata terlambat untuk memulai hal baik. Dan sekarang pertanyaan saya sudah lebih variatif yang membuat anak-anak biasanya menjawabnya dengan lebih antusias. Harapan saya sih lama kelamaan tanpa harus dipancing pertanyaan lebih dulu, anak-anak akan terbiasa untuk bercerita tentang aktivitas dan berbagi perasaannya kepada saya.

20 Pertanyaan Tentang Aktivitas Keseharian Anak Sepulang Sekolah

 

20+ Pertanyaan Yang Dapat Diajukan Ke Anak Setelah Pulang Sekolah

  1. Tadi waktu istirahat main apa? Sama siapa saja?
  2. Permainan apa yang paling menarik dimainkan sama teman-teman di sekolah?
  3. Apa yang bikin kamu paling bahagia di sekolah tadi? (Yang paling bikin bete)
  4. Siapa yang paling lucu di kelas? (Yang paling menyebalkan)
  5. Ada yang kena hukuman dari guru hari ini?
  6. Peraturan apa dari guru yang paling susah kamu ikuti?
  7. Pelajaran apa yang paling menarik hari ini? (Yang paling membosankan)
  8. Kalau kamu lagi bosan, apa yang kamu lakukan di kelas?
  9. Kalau seandainya kamu jadi guru, kamu bakal jadi guru seperti apa? (Ada nggak di sekolah guru yang seperti itu)
  10. Siapa guru yang paling seru mengajarnya hari ini? (Siapa yang paling galak, siapa yang paling membosankan)
  11. Info atau fakta menarik apa yang kamu dengar hari ini dari teman atau guru?
  12. Hal baik apa yang kamu lakukan hari ini?
  13. Hal paling susah yang kamu lakukan hari ini menurutmu apa?
  14. Tugas piket apa yang paling sering kamu kerjakan? Kenapa?
  15. Waktu istirahat makan snack di kantin, duduk di sebelah mana? Sama siapa aja?
  16. Ada nggak teman yang main dan makan sendiri di kelas hari ini? Kenapa?
  17. Jajanan apa yang paling banyak dibawa atau dibeli oleh teman-temanmu?
  18. Makanan apa di kantin yang paling ingin kamu coba? Paling kamu suka?
  19. Apa yang bikin kamu bangga sama dirimu sendiri hari ini?
  20. Apakah ada teman yang berbuat baik padamu hari ini?
  21. Apakah ada yang ingin kamu ubah dari ruang kelasmu supaya lebih menarik dan nyaman?
  22. Di mana tempat paling menyenangkan di sekolah?

Selain tentang keseharian anak di sekolah, kita juga bisa lho bertanya tentang fasilitas-fasilitas yang disediakan oleh sekolah seperti perpustakaan, kantin, toilet, ruang olahraga, bahkan sick bay atau Unit Kesehatan Sekolah. Berikut beberapa contoh pertanyaan yang dapat kita ajukan ke anak untuk memancing cerita tentang kegiatannya di sekolah hari ini.

Perpustakaan:

  1. Buku apa yang paling sering kamu baca di perpustakaan?
  2. Biasanya pergi ke perpustakaan sama siapa?
  3. Bagian mana dari perpustakaan yang paling nyaman bagimu?
  4. Apakah pustakawannya baik kepadamu?
  5. Siapa temanmu yang paling sering kamu lihat pergi ke perpustakaan?

Toilet:

  1. Biasanya pergi ke toilet sendiri atau sama teman?
  2. Seandainya kamu pergi pergi ke toilet di tengah waktu pelajaran, berani nggak bilang ke guru?
  3. Menurutmu toilet di sekolah bersih nggak? Siapa yang membersihkan toilet di sekolah?

Saat bertanya tentang toilet, coba sisipkan pesan di bawah ini ke anak supaya dia waspada dengan lingkungannya, mengingat banyak hal buruk menimpa anak saat dia di toilet sendirian:

“Kalau ada yang terasa aneh di toilet misalnya, ada lawan jenis di dalamnya, ada yang diam aja di toilet padahal tempat pipisnya kosong, ada anak bergerombol tapi nggak ngapa-ngapain dan semacamnya langsung aja lapor guru ya.”

Pertanyaan tentang fasilitas sekolah ini mungkin kedengarannya nggak penting, tapi bagi saya pribadi penting untuk mengetahui seberapa jauh anak mengenal sekolahnya, apa saja yang dapat mereka lakukan di sekolah dan bagaimana mereka mengisi waktu kosongnya di sekolah.

Untuk anak yang lebih kecil, seperti anak saya Keenan yang belum bisa menjawab dalam kalimat lengkap, mungkin lebih sulit ya. Eh, saya jadi inget, dulu jaman Cinta masih di kelompok bermain sebuah PG/TK Islam di Parung, Bogor, ibu-ibu wali murid suka komplain ke guru-gurunya karena setiap anaknya ditanya, “Tadi di sekolah ngapain aja?” jawaban mayoritasnya adalah, “Main,” dan “Nggak tahu.” Akhirnya setiap menjelang berakhirnya jam sekolah, para guru mengajak anak mereview kegiatan mereka seharian di sekolah sambil berpesan, “Nanti kalau ditanya bunda jawabnya hari ini begini begitu ya :))

Nah, kalau guru si pra sekolah nggak ngasih review harian seperti guru-gurunya Cinta dulu, pertanyaan-pertanyaan ringan ini bisa kita ajukan ke mereka.

10 pertanyaan tentang aktivitas anak tk sepulang sekolah, 20 pertanyaan tentang aktivitas keseharian anak sepulang sekolah

 

Yang perlu diingat, perhatikan suasana hati anak saat pulang sekolah sebelum membombardirnya dengan aneka pertanyaan. Kalau anak nampak lelah, kesal atau nggak mood, beri anak-anak ruang untuk menenangkan diri dulu. Beri camilan dan segelas susu dingin atau izinkan mereka sekadar membaca buku cerita favorit dan memejamkan mata sejenak. Biasanya setelah lebih tenang dan suasana hatinya baik, mereka akan dengan senang hati bercerita tentang aktivitasnya kepada kita.

Parents need to understand that it is “less important what you say, and more important that you listen.

How to Communicate With and Listen to Your Teen – HealthyChildren.org

Oya, satu lagi, don’t judge quickly saat anak sedang bercerita.  Aduh, ini susah banget memang. Tantangan besar bagi saya untuk nggak memotong cerita mereka dan berceramah. Tapi kalau kita dikit-dikit memotong cerita mereka lama-lama anak bakal malas juga untuk ngobrol sama kita. Jadi ya, sekarang saya sedang berusaha keras untuk nggak melakukannya.

Teacher’s Day

Sejujurnya dulu saya ragu mengirim Keenan ke sekolahnya yang sekarang ini, karena bagi saya terlalu serius dan kompetitif.

Cinta yang memang dasarnya mudah beradaptasi saja, dulu sempat mengalami masa-masa drama disuruh bikin PR dan belajar untuk ujian. Apalagi Keenan, yang waktu itu belum lancar bicara, susah konsentrasi dan jago kandang.

Jadi ketika Keenan disarankan untuk sekolah di usia 3 tahun, saya pilih sekolah lain yang menurut saya lebih ‘ringan’. But it turned out to be a mistake. A big one.

Akhirnya di tahun berikutnya, nggak pakai ragu, saya kembali ke sekolah ini. Meski sudah survey ke beberapa sekolah lain, hati saya sudah mantap di sini. Sekolah yang kami kenal sejak 5 tahun yang lalu saat baru pindah ke Brunei. 

Seperti umumnya anak baru masuk sekolah, minggu-minggu pertama terasa berat bagi Keenan. Terutama takut dengan gurunya. Maklum, guru-guru di sekolah ini terkenal dengan kedisiplinan dan cara mengajar yang agak keras. Bukan lembut macam sekolah taman kanak-kanan di Indonesia. Tapi bukan keras yang ngawur juga. Karena cara mengajarnya menyenangkan. Sehingga lambat laun sebagai salah satu murid termuda di kelasnya dengan keterbatasannya, he’s improving.

Anak yang tadinya bicara aja nggak jelas, sekarang bisa bicara 2 bahasa dan bisa mulai hafal huruf Cina. Dia jadi senang berhitung, berani ngomong sama gurunya, main sama teman-temannya, dan masih banyak lagi.

Yang penting, dia nggak lagi takut pergi ke sekolah. Nggak ada drama ngumpet di antara jok mobil sambil histeris bilang takut sama teacher. Memang masih sering nangis nggak mau sekolah, tapi menurut saya lebih karena dia pengen main di rumah aja. Bukan karena sekolah dan guru menakutkan baginya.

Nggak ada juga yang tiap hari mengeluhkan segala keburukan Keenan di hari itu tanpa sekalipun mengapresiasi pencapaiannya. Yang ada adalah guru-guru yang menyambut murid-muridnya dengan senyum meski sesekali menegur mereka dengan suara keras jika salah. Guru yang menunjukkan kemajuan Keenan sambil memberikan saran untuk memperbaiki kekurangannya.

Happy Teacher’s Day. Thank you for helping our children to grow.

Tentu masih banyak yang harus dikejar Keenan supaya tidak tertinggal terlalu jauh dengan teman-teman sekelas dan seangkatannya. But I don’t mind to running slow, following his pace. Sambil terus berusaha memotivasinya supaya lebih gigih berusaha, seperti yang dilakukan guru-gurunya.

Alhamdulillah, Allah kirimkan guru-guru yang sesuai dengan kebutuhan Keenan di sekolah ini. Terima kasih, Cikgu. Xie xie, Lao tse.

Selamat Hari Guru. Happy teacher’s day.