Hari Pertama Sekolah, Keenan Jadi Murid Primary

K's first day at primary

Hari ini genap 2 minggu Keenan menjalani hari-harinya sebagai murid Primary 1 atau kelas 1 SD kalau di Indonesia. Jujur aja sebenarnya saya agak berat mengantarkan dia ke Primary school tahun ini. Masalah utamanya adalah umur Keenan yang belum lagi 6 tahun. Iya, pada hari pertama masuk sekolah tanggal 2 Januari kemarin, Keenan baru berusia 5 tahun 10 bulan. Terlalu muda memang.

Usia dan Tingkat Kematangan Anak Sekolah

Usia memang punya faktor penting dalam kematangan anak sekolah. Menurut situs www.klinikmylovelychild.com, kematangan masuk sekolah adalah kondisi saat anak sudah siap seusai standar fisik, intelektual, mental, keterampilan, serta perkembangan sosial yang sesuai dengan sekolah formal. Memiliki kematangan sekolah ini penting lho, agar anak benar-benar siap masuk sekolah, terutama sekolah dasar yang tuntutannya sudah berbeda dari pra sekolah. Sehingga nggak terjadi kegagalan dalam proses pendidikan, kesulitan belajar, gagal sekolah, atau mogok sekolah.

Memang sih, tiap anak berbeda. Ada anak yang belum 6 tahun tapi sudah lebih matang daripada anak-anak seusianya. Nggak usah jauh-jauh deh, 2 orang keponakan saya dan 1 anak teman saya yang lahir cuma beda 1-2 bulan lebih muda dari Keenan, sudah lebih matang secara mental, keterampilan dan perkembangan sosialnya. Mereka, di usia belum 6 tahun sudah bisa membaca kalimat sederhana, menulis dengan rapi, sudah bisa berkomunikasi dengan baik, bahkan bisa mengetik dan membuat karangan di komputer.

syarat masuk sekolah dasar

Tapi untuk kasus Keenan ya bagi saya memang dia belum punya kematangan sekolah.

Hal ini juga dipahami oleh guru-gurunya di Kindergarten, terutama class teachernya. Begitu tahu kalau Keenan adalah salah satu yang paling muda di kelas, dia langsung bisa menarik kesimpulan bahwa salah satu penyebab Keenan kewalahan mengikuti aktivitas belajar mengajar khususnya menulis adalah karena dia belum matang. “He hasn’t reach that maturity level yet. That’s why he’s still struggle to read, to write and can’t focus long enough.”

Selain usia, bisa jadi speech delay dan short attention span atau keterlambatan bicara dan tingkat konsentrasi yang pendek menjadi penyumbang faktor lambatnya kematangan Keenan. Jadi, saya sadar diri untuk nggak membandingkan Keenan dengan anak lain seusianya. Tapi saya juga sadar faktor usia mempunyai pengaruh penting dalam kesiapan anak masuk sekolah.

Baca juga: 5 Hal yang Harus Diperhatikan Sebelum Mendaftarkan Anak ke Sekolah di Usia Dini

Primary 1 di Brunei

Karena itulah, menjelang kelulusan kindergarten saya galau luar biasa. Dilema antara membiarkan Keenan lanjut ke Primary atau memintanya untuk mengulang KG3.

Lho, emang di Brunei usia nggak jadi syarat masuk sekolah dasar atau Primary? Yayaya, saya tahu bakal ada yang tanya gitu hehehe. Ada kok. Untuk masuk Primary, minimal anak berusia 6 tahun di bulan Maret. Nah, pas banget, Keenan di bulan Maret tahun ini sudah 6 tahun. Jadi dia bisa masuk. Dan semua anak yang sudah berusia minimal 6 tahun di bulan Maret tahun ajaran berlangsung wajib diterima di Primary School atau Sekolah Rendah manapun. Tanpa perlu tes macem-macem. Nggak peduli anaknya bisa baca tulis atau enggak, bisa berhitung atau enggak, masih nangis kalau ditinggal sendiri. Pokoknya udah 6 tahun udah bisa sekolah.

hari pertama sekolah

Oya, di sini anak umur 7 tahun wajib masuk sekolah (mungkin ada perkecualian untuk anak berkebutuhan khusus ya). Kalau nggak sekolah, orang tua bisa kena hukuman denda atau penjara. Jeng jeng jeng. Jadi, homeschooling in Brunei is not an option.

Nah, karena itu, class teacher dan KG supervisor Keenan nggak membiarkan dia ‘menahan’ alias mengulang kelas, meskipun dia belum punya kematangan sekolah. “It’s oke, Mummy. Let him try year 1. If he can’t cope this year, he can stay at year 1 the next year,” gitu saran dari guru kelasnya. Ya sudah sik, akhirnya itu jadi salah satu pertimbangan saya mendaftarkan Keenan ke Primary 1. Walaupun rasa cemas itu tetap ada. Wajar kan ya. Iya, nggak?

Baca juga: Keenan: Speech Delay dan Sekolah di Usia Dini

Mengatasi Kecemasan Masuk Sekolah Dasar

Meski akhirnya saya memutuskan Keenan masuk Primary 1 (suami sebenarnya ingin Keenan ngulang KG 3 aja), hati saya tetap nggak tenang. Dan di hari pertama sekolah, saya yang stres. Anaknya sih agak takut tapi begitu lihat beberapa temannya dari KG ada di kelas yang sama, dia langsung tenang.

Saya sendiri khawatir dia nggak bisa mengikuti proses belajar mengajar dengan baik di sekolah. Karena di sekolah dasar kan anak-anak sudah belajar beneran.Di mana, mereka harus mencatat pelajaran dari gurunya juga ada PR dan ulangan. Saya takut Keenan nggak bisa memahami instruksi gurunya, nggak bisa mencatat, atau nggak berani ke toilet sendiri. Pokoknya mah mamak ini cemas aja bawaannya.

Sampai pagi itu saya ketemu dengan kepala Primary yang sudah lama saya kenal sejak kakak sekolah di situ. Curhatlah saya ke beliau tentang Keenan yang belum bisa baca tulis dengan baik dan semua kekhawatiran saya.

Eh, responnya baik sekali. Beliau menyarankan saya untuk ngobrol ke guru kelasnya Keenan, “Tell the teachers about that, so they can talk slower to him. But I told the teachers who teach at this class actually. Because this class is special. Some of them are still young and can’t write or read properly. That’s why we put them together at one class instead of mixing them with the good (at writing, reading and more mature) ones,” ujarnya memenangkan saya. Beliau juga bilang kalau sekolah akan berusaha semaksimal mungkin dalam membantu anak-anak yang belum bisa baca tulis agar dapat mengikuti pelajaran dengan baik.

Duh, rasanya pundak saya langsung terasa lebih ringan karena tahu saya nggak akan berjuang sendirian. Nggak masalah bagi saya kalau Keenan ditempatkan di kelas spesial. Justru dengan begitu dia nggak akan dipaksa lari untuk mengikuti ritme teman-temannya karena mereka berada di pace yang sama. Guru-guru juga akan lebih sabar dalam mengajari anak-anak ini.

Mengatasi Kecemasan Orangtua

Berkenalan dengan guru atau kepala sekolah dan berbicara kepada mereka tentang kekhawatiran kita cara terbaik untuk mengatasi rasa cemas saat anak akan masuk sekolah dasar.

Selain itu beberapa cara ini dapat membantu mengurangi kecemasan orangtua saat anaknya masuk sekolah dasar:

1. Berkenalan dengan orangtua lain.

Punya teman sesama orangtua yang anaknya juga baru masuk sekolah bikin kita lebih tenang karena ada teman senasib. Kita bisa saling curhat dan saling menjaga anak-anak di minggu pertama mereka bersekolah.

Karena Keenan bersekolah di tempat yang sama dengan TKnya dulu, otomatis sebagian besar temannya dari TK yang sama. Sehingga saya sudah kenal dengan sebagian besar ortu teman-teman Keenan di Primary School. Jadi di hari pertama anak-anak sekolah, kami ngobrol dan curhat di depan kelas anak-anak. Dan ternyata memang nggak cuma saya yang punya kekhawatiran tersebut. Akhirnya malah kami saling support. Kecemasan saya sedikit berkurang.

Berkenalan dengan orangtua murid yang lebih senior juga nggak ada salahnya, lho. Mereka biasanya sudah lebih paham sistem di sekolah tersebut. Jadi kalau kita bingung nggak tahu harus bagaimana saat anak mengalami kesulitan, mereka biasanya bisa memberi saran. Itu yang saya alami saat Cinta awal-awal masuk Primary School dulu.

2. Bergabung dengan kegiatan di sekolah.

Banyak orang tua yang malas terlibat di kegiatan sekolah termasuk saya. Padahal dengan cara ini kita bisa lebih mengenal guru-guru dan teman-teman anak di sekolah tersebut. Kita juga bisa mengamati cara guru berinteraksi dengan orangtua dan siswa di luar kelas. Sehingga kita tahu apakah anak nyaman atau tidak di sekolah tersebut.

Oya dengan kita terlibat dengan kegiatan sekolah atau ikut persatuan orangtua murid dan guru, anak juga akan merasa didukung oleh orangtua, lho. Tapi juga jangan berlebihan sampai kita menginterupsi cara belajar dan mengajar guru di kelas ya. Nanti jadi helicopter parent dong kita. No no no. Cukup mengamati dari jauh. Beri bantuan dan dukungan kepada para guru agar mereka tahu bahwa kita bisa diandalkan untuk bekerja sama meningkatkan kemajuan pendidikan anak-anak.

3. Tanya anak tentang aktivitas dan perasaannya di hari pertama sekolah.

Dengan menanyakan pengalaman hari pertama anak di sekolah dasar, kita bisa tahu kesan pertama anak terhadap perannya sebagai anak SD. Karena tentu berbeda sekali dengan anak TK. Dengan begitu kita mengerti apa yang disukai dan tidak disukai anak. Atau apa yang membuatnya senang atau sedih. Sehingga kita bisa membuat anak nyaman dan rasa cemas kita berkurang. Tapi ya nggak usah diinterogerasi juga anaknya. Nggak semua anak suka bercerita. Ada yang kalau ditanya, “Gimana tadi sekolahnya?” cuma jawab, “Oke.” ya nggak papa juga. Coba ganti pertanyaannya dengan yang lebih spesifik lagi.

Baca juga: 20 Pertanyaan Tentang Keseharian Anak Sepulang Sekolah

 

2 Minggu di Primary 1

Jadi, setelah 2 minggu di Primary 1 saya lihat Keenan mulai bisa beradaptasi. Kalau ditanya soal pelajaran dia bisa jawab, bahkan mulai bisa menghafal beberapa kata (iya, bagi dia lebih mudah menghafal bentuk kata daripada mengeja kata karena anak ini ingatannya bagus sekali). Walaupun kalau lagi nggak mood di pagi hari ya kumat juga malesnya belajar sekolah. Tapi, sejauh ini sih saya lihat Keenan cukup oke. Saya tanya ke guru kelasnya juga mereka nggak ada komplain tentang ketidakmampuan atau perilaku Keenan di sekolah. Alhamdulillah. Semoga ke depannya akan semakin membaik ya. Tolong doakan kami.

3 Replies to “Hari Pertama Sekolah, Keenan Jadi Murid Primary”

  1. Kalau di Indonesia sekarang di bawah 6 tahun harus ada surat rekomendasi dari psikolog kalau mau masuk SD mbak. Ada tes kesiapan belajar gitu. Kalo engga, sekolah boleh menolak. Makanya sekarang banyak TK yang pas semester genap ngadain tes kesiapan belajar.

    Di Brunei belum seperti itu yah, kayaknya?

    1. alfakurnia says:

      Belum, Win. Kalau sudah lulus TK dan umurnya cukup (sudah umur 6 tahun di bulan Maret tahun ajaran berlangsung) wajib diterima di sekolah manapun hehehe. Jadi banyak banget anak bayik kaya si K ini udah masuk SD XD

  2. waah keren mbak. belum 6 tahun sudah masuk SD. Keenan sepertinya juga cerdas. Pendidikan juga mendukung ya di sana. coba di Indonesia menerapkan seperti itu juga. Tidak ada pembatasan umur seperti jaman kita dulu yang sekarang sudah emak-emak ini. Memang tak bisa ngapa-ngapain kalau sudah ngomongin pendidikan di Indonesia. Makasih sharingnya ya mbak. bermanfaat sekali

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.