Komunitas Emak-Emak

Di era digital, sumber informasi kita sebagai mamah mamah muda nan kece dan menawan bisa dibilang tak terbatas. Apa coba yang nggak bisa dicari di internet? Mulai dari info kehamilan, kesehatan, ASI, MPASI, parenting sampai sharing-sharing pengalaman para mama dalam mengasuh anak-anaknya semua ada di genggaman kita.

Bingung dengan banyaknya mitos-mitos tentang pemberian ASI? Googling aja dan sekian banyak rekomendasi situs mulai dari yang resmi sampai yang abal-abal akan tersedia. Mau mulai MPASI tapi nggak tahu apa aja yang harus disiapin? Ubek-ubek deh arsip milis mpasirumahan yang super lengkap. Pengen cari rekomendasi dokter kandungan, dokter anak sampai merek cloth diaper dan sekolah yang oke bisa masuk ke forum-forum parenting. Atau kalau malas, tinggal update status aja di twitter sambil mention para ahli yang berbaik hati memberikan informasi secara cuma-cuma. See, hidup kita itu mudah sekali ya.

6 tahun lalu, waktu masih hamil Cinta selain orang tua dan teman, sumber informasi andalan saya adalah majalah-majalah dan buku-buku parenting yang jumlahnya belum terlalu banyak. Milis yang saya ikuti pun cuma Mother & Baby, Ayahbunda dan asiforbaby. Itupun belum bisa mengakomodasi semua kebutuhan saya. Setelah Cinta lahir, baru deh mulai kenal sama forum-forum parenting di internet seperti The Urban Mama dan Mommiesdaily dan keberadaan mereka sangat membantu mama baru seperti saya yang awam dengan cara-cara merawat dan mengasuh bayi. Apalagi kemudian kedua forum ini melengkapi situsnya dengan tulisan-tulisan berisi pengalaman para mama dalam merawat anak-anaknya.

Sekarang, sudah banyak sekali situs-situs dan komunitas parenting yang bermunculan dengan keunikannya masing-masing. Tinggal kita pilih sesuai dengan minat dan kebutuhan kita. Kalau favorit saya sih MomsGuideIndonesia, karena artikel-artikel yang ada di sana ditulis sesingkat mungkin sehingga nggak capek bacanya. Tip-tipnya juga praktis, baik yang diambil dari diskusi para mama via twitter atau facebook maupun hasil wawancara dengan para ahli kesehatan, keuangan, psikolog dan lain-lain.

Nah, baru-baru ini saya menemukan situs dan komunitas emak-emak baru yang mengkhususkan diri menyiapkan anak-anak untuk life ready: FabMoms Network. Suka aja baca sharing para fabmoms -sebutan untuk para membernya- tentang pengalaman mereka mengajarkan anak-anak mulai dari table manner, puasa tv sampai mempersiapkan liburan yang menyenangkan. Nggak cuma itu sih, karena ada artikel-artikel yang ditulis oleh para ahli dan wawancara dengan selebriti moms. Kita juga bisa ikut berbagi dengan komen di artikel yang disuka dengan para member lain. Seru sih bales-balesan komen di artikel hihihi. Dapat ilmu, tempat curhat sekaligus teman baru di dunia maya deh.

Kalo mommies, apa komunitas online favoritnya? Sharing yuuuk 🙂

Persembunyian Terindah

Pernahkah punya tempat pelarian saat sedang sedih atau punya masalah? Tempat yang membuat kita merasa nyaman walau sesaat, bisa membuat kita sejenak bernafas lega dan berpikir lebih jernih. Tempat di mana kita tak perlu memikirkan apa yang sedang terjadi di luar sana meski hanya sekejap. Tempat kita bisa menjadi diri sendiri atau justru berpura-pura menjadi orang lain.

Saya punya, tempat yang secara naluri dibangun oleh alam bawah sadar saya sejak berusia 10 tahun. Saat saya mulai sadar bahwa kehidupan saya tidak seindah kisah Rumah Masa Depan. Sejak itu, setiap keadaan mulai tidak menyenangkan, saya mulai lari ke tempat itu, sebuah negeri khayalan dalam sebuah cerita.

Di tempat itu saya bisa berpura-pura punya keluarga bahagia yang hidup di padang rumput seperti Laura Ingalls Wilder atau berkhayal menjadi penyihir remaja yang ada di salah satu cergam Nina. Nggak jarang saya sok-sok jadi detektif, menyelidiki apa yang salah dalam keluarga saya dan berharap bisa memperbaikinya seperti anggota Lima Sekawan, STOP dan Trio Detektif.

Ya, tempat pelarian saya adalah buku. Komik, cergam, majalah, novel. Semua saya lahap saat sedang sedih. Bukulah yang membantu saya melewati masa-masa sulit. Buku pula yang menghibur ketika saya gundah atau malah membuat saya menangis dan mengeluarkan sesak di dada. Saya cukup masuk kamar dan mulai membaca, suddenly world seems brighter and more fun back then.

Sekarang sih karena berbagai macam kesibukan, saya sudah jarang tenggelam dalam suatu cerita. Paling saat membacakan cerita untuk anak atau ada novel yang bagus sekali atau buku parenting best seller yang wajib punya, saya menyempatkan bercengkerama dengan buku, benda yang pernah menjadi sahabat terbaik saya.

Namun, kenangan indah memasuki dunia fantasi bersama cerita-cerita dalam buku itu nggak akan pernah saya lupakan. Bersyukur sekali ibu saya paham kebutuhan anaknya, pun di sekitar saya tinggal saat itu banyak tempat persewaan buku, sehingga saya nggak pernah  kekurangan bacaan.

Waktu membaca postingan Shelvy Waseso tentang impiannya membuka #RuangBaca untuk anak-anak panti asuhan, saya pun tergerak untuk ikut bergabung. Ingin saya membantu anak-anak itu memiliki dunia indah dan persahabatan yang lekat dengan buku. Apalagi mengingat buku adalah jendela dunia, gudang pengetahuan. Sedangkan kondisi mereka tidak memungkinkan untuk bisa memiliki buku-buku yang beraneka ragam.

Maka bersama beberapa orang teman lain, munculah gerakan #BukuBerkaki yang bertujuan untuk memberikan akses menuju jendela ilmu itu kepada anak-anak panti asuhan dengan cara membuka taman bacaan atau semacam perpustakaan keliling. Lewat media sosial, Buku Berkaki mencoba untuk mengajak teman-teman berbagi buku-buku layak baca untuk para anak panti asuhan. Yah, semoga dengan gerakan ini makin banyak anak yang bersahabat dengan buku yang bermanfaat.

Kelak, kalau punya rumah yang lebih besar, saya pun ingin membuka taman bacaan untuk anak-anak. Membayangkan banyak anak duduk santai sambil membaca buku di garasi rumah saya yang sudah diatur seperti perpustakaan mini, lalu mendengarkan celoteh riang mereka yang bercerita tentang dunia yang baru dijelajahinya. Pasti menyenangkan sekali 🙂

Siapa tahu, perpustakaan keliling #BukuBerkaki atau taman bacaan impian saya bisa menjadi tempat persembunyian terindah bagi anak-anak yang sedang bermasalah. Tempat mereka bisa bebas tersenyum dan membangun impian. Lingkungan yang bisa membantu mereka untuk tetap kuat saat diterpa badai. Kalau kalian, apa persembunyian terindahnya?

The Urban Mama: Berbagi Dalam Perbedaan

PhotobucketSebagai keluarga yang menjalani Long Distance Marriage, tugas mengasuh anak otomatis sebagian besar menjadi tanggung jawab saya. Meski dalam mengambil keputusan penting selalu saya diskusikan dengan suami, tapi dalam menentukan pola asuh bisa dibilang saya yang memutuskan. Bukan hal yang mudah tentunya, karena saya belum pernah punya pengalaman mengasuh anak sendiri. Mau tidak mau saya pun belajar otodidak, mulai dari menggali lagi ingatan masa kuliah, buku-buku sampai situs parenting. Beruntung walaupun (tadinya) tinggal serumah dengan orang tua, beliau mendukung penuh apapun yang saya lakukan meski tetap memberikan saran demi kebaikan si kecil.

Saya kenal The Urban Mama sebenarnya sudah hampir setahun ini, bermula dari kehebohan di timeline Twitter yang ngomongin tentang situs baru ini. Awalnya saya kira sama aja sama beberapa situs parenting yang sudah lebih dulu ada, tapi ternyata The Urban Mama memang berbeda. Salah satu perbedaannya adalah adanya forum tempat para urban mama dan papa berbagi cerita dan ilmu. Sehingga situs ini tidak hanya bersifat satu arah. Bahkan artikel-artikel di situs TUM sendiri banyak diisi oleh para pembaca atau anggota forum.

Jujur aja pertama kali bergabung di forum TUM ini benar-benar membuat saya terkejut. Meskipun saya juga bergabung dalam sebuah forum gosip dan beberapa forum yang membahas sebuah gadget, untuk ilmu parenting saya banyak mengandalkan beberapa milis yang diikuti oleh peer group saya. Sehingga tuntunan dan dunia yang saya tahu dalam mengasuh anak ya seputar milis tersebut. Apa yang tidak sesuai dengan itu saya anggap aneh. Sampai suatu ketika saya sendiri merasa inferior berada di lingkungan tersebut karena tidak bisa sehebat para ibu yang lain.

Banyak kekurangan saya dalam membesarkan si semata wayang. Hal ini seringkali membuat saya merasa bersalah karena tidak bisa memberikan Cinta kondisi yang ideal atau merasa “kalah” dari ibu-ibu lain. Sampai ketika sedang browsing, saya menemukan salah satu topik di TUM yang membahas tentang “mistake we made“, dari situ saya sadar kalau saya nggak sendirian. Banyak juga para ibu yang kalau bisa mengulang waktu akan berusaha lebih baik dalam memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Everybody made mistake but it’s oke coz we’re human. And it’s fine not to be a perfect mom nor a super mom. Saya, suami dan Cinta adalah tiga individu yang sedang belajar menjalani peran kami masing-masing sebagai istri dan ibu, suami dan ayah dan anak. Inilah sekolah kami yang sesungguhnya dengan mata pelajaran seumur hidup sebagai orang tua. Mungkin kami tidak akan pernah dapat nilai 100 untuk pelajaran ini tapi yang penting selalu berusaha untuk menjadi pribadi dan orang tua yang lebih baik.

Saat ini saya dan Cinta sedang belajar untuk hidup mandiri, jauh dari nenek dan kakeknya juga ayahnya. Selain itu kami masih berjuang dengan toilet training di usia Cinta yang hampir 3,5 tahun. Hah! Yang bener aja! Juga berusaha mengenalkan makanan lain terutama sayur kepada bocah kesayangan saya dan berdamai dengan GTM. Berhubung Cinta sudah masuk usia pra sekolah, saya dan dia juga mulai belajar tentang metode pendidikan yang paling cocok untuk diterapkan di rumah atau memilih sekolah yang bagus. Belum lagi beradaptasi dengan sekolah baru di lingkungan baru. Meski belum sepenuhnya berhasil dan masih ups and downs, but I always try not to push her or myself.

PR saya sebagai orang tua masih banyak sekali. Dan dari The Urban Mama, meskipun hanya sebagai silent reader karena jarang posting di forum, saya banyak dapat ilmu yang bisa saya serap dan terapkan apa yang saya rasa cocok untuk Cinta. Tapi yang terpenting adalah di TUM, saya belajar untuk menerima kekurangan saya sebagai ibu, berusaha menerapkan pola asuh yang sesuai dengan karakter saya dan Cinta tanpa takut akan dihakimi karena berbeda. Sebaliknya saya juga berusaha untuk tidak menganggap orang tua lain yang memiliki pola asuh berbeda dengan kami, sebagai sesuatu yang aneh. Because there is always a different story in every parenting style. Selamat ulang tahun pertama The Urban Mama, terima kasih telah menjadi inspirasi bagi saya sekaligus teman yang bisa diandalkan dalam mengasuh anak.

Pertemanan Maya

womens-group-735907_1280

Perempuan itu menghela nafas panjang, hatinya gundah, jemarinya lincah bermain di atas keyboard netbook, menuliskan beberapa baris komentar di blog temannya. Percakapan virtual hari ini terasa begitu panas, sebuah topik dilemparkan dan memicu banyak reaksi positif dan negatif. Entahlah, batas antara bangga dan pamer memang tipis sekali.

Ia baru tahu kalau ada yang menganggap menulis di jejaring sosial merupakan sebuah persaingan. Si A bisa begini, si B abis beli itu, si C masak anu. Gerah ia melihat pergaulan di dunia maya sudah mirip dengan di dunia nyata. Padahal inilah tempat pelariannya dari kumpulan tetangga yang suka bergunjing.

Ah, ibu-ibu. Berteman dengan mereka memang rumit. Ngomongin anak tetangga yang diasuh babysitter aja bisa jadi awal perang dunia.

Ngerumpi. Tapi Pakai Hati

Semalam mendadak terbangun karena mimpi buruk, saat melihat jam ternyata baru pukul 00.47 WIB, masih 3 jam lagi menuju waktu sahur. Sambil mencoba untuk tidur lagi seperti biasa buka-buka si Odette, cek timeline twitter, buka facebook, browsing sana sini. Tapi mata masih tetap nggak mau tertutup, melek dan terang benderang. Sementara si bocah di sebelah tertidur dengan pulasnya. Nonton TV ada 2 film barat yang saya tonton sambil pindah-pindah channel maklum nggak punya tv kabel. Lalu membuka bookmarks mobile browser dan menemukan link ke rumah ini.

Saya lupa kapan terakhir membaca satu persatu artikel di sana, memberi rating dan menuliskan beberapa kata di kolom komentar. Terakhir menulis di Ngerumpi sebulan yang lalu, dalam rangka Pekan Menyusui Sedunia. Itupun karena tergelitik membaca komen seorang warga di postingan uni Sabai si empunya blog About Life On and Off Screen. Setelah menulis, balas-balas komen yang masuk, kembali menghilang dari peredaran warga Ngerumpi. Pernah suatu kali membuka dan membaca beberapa artikel tapi kemudian lewat begitu saja. Sampai tadi malam, insomnia membuat saya “pulang” ke rumah itu. Tempat pelarian saya sejak hampir setahun yang lalu, menuliskan luka-luka hati saya, menguraikan benang kusut di kepala.

Ngerumpi

Terpaku membaca cerpennya Elia Bintang membuat saya menelusuri artikel-artikel yang ada di headline, senyum senyum sendiri baca kisah staf yang mau nraktir makan bosnya karena si bos nggak punya uang untuk bayar THR. Manggut manggut baca definisi prosa sampai terharu baca kisah cinta salah satu anak ngerumpi yang ditulis dengan manis oleh satu dari tiga moderatornya. Siang ini pun kembali menitikkan air mata haru karena postingan seorang ibu di hari ultah anaknya dan kerinduan seseorang kepada Bundanya.

kopdar

Ya, di tempat ini memang nggak sembarang ngerumpi. Semua ditulis pakai hati, berkomentar dan merusuh pun pakai hati. Hangat walau kadang panas. Kisah-kisah indah yang inspiratif, cerita yang menggoda dan menggemaskan, tulisan lucu semua ada di situs ini. Rumah maya kedua saya.  Bahkan keakrabannya pun tidak hanya terjalin di dunia maya, saat kopdar mini yang cuma dihadiri beberapa orang di mana saya nekat aja datang pun terasa hangat. Padahal yang hadir di sana adalah para dedengkot alias sesepuhnya Ngerumpi sementara saya cuma member biasa yang datang dan pergi sesuka hati. Tapi toh tetap diterima dengan baik, sehangat sambutan para warga terhadap semua tulisan member.