Kidal atau Tidak?

Sejak bayi, Cinta lebih banyak menggunakan tangan kirinya untuk beraktivitas. Sampai guru-gurunya di Baby School dulu bertanya apakah Cinta ada kecenderungan kidal. Kami pun pernah menduga demikian, tapi dari beberapa referensi yang pernah saya baca, batita memang punya kecenderungan untuk menggunakan kedua tangannya secara aktif yang menunjukkan bahwa otak kanan yang berkaitan dengan kemampuan matematik dan otak kirinya yang mempengaruhi kemampuan tata bahasa sedang berkembang. Tapi di usia 2-3 tahun mulai tampak tangan mana yang lebih dominan dan akan permanen di usia 6 tahun. Bahkan ada yang menyebutkan ciri-ciri anak kidal sudah ada sejak ia berusia 6-7 bulan, sementara kecenderungannya sudah terbentuk ketika anak dalam kandungan, walaupun nantinya lingkungan juga berpengaruh.

Namun, sejak masuk sekolah saya perhatikan Cinta lebih banyak menggunakan tangan kanan untuk melakukan sesuatu yang berhubungan dengan motorik halusnya seperti menggunting, membentuk sesuatu dari playdoh, memegang alat tulis, dsb. Tapi untuk melempar, memegang atau membawa sesuatu yang agak berat masih dengan tangan kiri. Mungkin karena pengaruh guru dan teman-temannya di sekolah atau karena memang dia lebih nyaman dengan cara seperti itu.

Saya dan keluarga sendiri tidak pernah mempermasalahkan tangan sebelah mana yang lebih dominan di Cinta. Hanya saja pelan-pelan dan tanpa paksaan, kami mengajarkan Cinta untuk bersalaman, memberi dan menerima sesuatu, juga makan dengan tangan kanan karena budaya di sini masih menganggap tangan kanan sebagai “tangan manis”. Apapun jadinya nanti, mau kidal atau tidak, yang penting Cinta nyaman dengan dirinya dan bahagia dengan keadaannya ūüôā

Posted with WordPress for BlackBerry.

Pekerjaan Saya Keren

 

playmobil-199904_1920

Baca postingan di Ngerumpi.com tentang Pekerjaan yang Keren, saya jadi ingat beberapa pekerjaan yang pernah saya jalani dan yang sekarang saya lakoni. Sebagai lulusan S1 Psikologi tentunya saya berharap bisa berkecimpung di bidang ke HRD-an atau lembaga-lembaga konsultasi psikologi tapi nyatanya dari sekian tahun masa kerja cuma 1 tahun yang saya habiskan sebagai HR officer.

Lulus kuliah, saya lantas menebarkan CV kemana-mana. Bank, perkantoran, biro-biro tes psikologi, dll. Anehnya eh dasar rejeki saya disana, yang sering menanggapi lamaran saya adalah Bank, ada 3 bank besar yang siap menerima saya dalam waktu bersamaan untuk posisi frontliner alias CS dan Teller. Yang satu saya tolak karena penempatannya di derah terpencil Jawa Timur, yang satunya tidak saya tanda tangani kontrak kerjanya karena tidak melihat adanya jenjang karir bagi frontliner. Yah, masa hidup mati mau jadi CS/Teller terus pikir saya waktu itu. Akhirnya saya pun menambatkan hati di bank yang berdominasi merah itu.

Di pekerjaan pertama ini saya merasa keren dengan seragam blazer & rok span pas badan merah dan abu-abu yang seksi itu. Plus make up lengkap, tatanan rambut rapi dan high heels cantik menghiasi kaki saya. Apalagi ketika dapat tugas jaga cabang kecil di sebuah kampus teknik negeri yang terkenal di kota saya. Ihiy, kesempatan tampil lebih cantik. Maklum, masih lajang. Siapa tahu ada mahasiswa atau dosen lajang yang “nyantol”.

Dua tahun mengabdi disana, saya berhenti karena mendapat kesempatan menggapai cita-cita sebagai HR Officer di sebuah gedung perkantoran elit di daerah Gatot Subroto Jakarta. Seragam merah seksi itu berganti dengan setelah celana panjang dan blazer rapi, kadang kemeja dan rok pas badan atau mini dress rangkap cardigan dipadu dengan high heels & tas yang serasi. Harus rapi dan cantik karena titel lebih keren dan satu gedung dengan perempuan-perempuan Jakarta yang super cantik-cantik itu.

Saat akan melahirkan, saya pulang ke kota kecil dimana orangtua saya tinggal. Beberapa bulan kemudian kembali bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan swasta. Penampilan tetap rapi walaupun arahnya sudah mulai berubah. Celana panjang, kemeja cantik, sesekali blazer dan rok panjang menjadi andalan saya saat itu.

Sekarang? Saya menjadi pekerja domestik. Kemeja dan celana panjang berubah menjadi kaos dan celana jins, blazer dan rok span digantikan oleh daster. High heels berganti menjadi sandal teplek atau sepatu karet buaya. Diaper bag atau postman bag menggantikan tas cantik nan modis favorit saya.

Rapat dengan bos sekarang berarti bermain dengan pensil warna, buku gambar, crayon. Bertemu klien atau nasabah berganti dengan arisan ibu-ibu playgroup. Ruang kerja saya bukan lagi kubikel mungil melainkan seluruh ruangan di rumah.

Jabatan saya sekarang adalah koki, supir, babysitter, guru, manajer keuangan, tukang cuci dan setrika dan masih banyak lagi. Jam kerja bukan hanya 9 jam tapi 24 jam, tanpa gaji, tanpa asuransi kesehatan, tanpa tunjangan. Pekerjaan saya sekarang adalah pekerjaan yang sering diremehkan orang (termasuk saya dulu), sama sekali nggak keren. Tapi saya merasa nyaman dan mencintai profesi seumur hidup ini. Yah, saya hanyalah seorang ibu rumah tangga.