Mempersiapkan Anak Pindah Tempat Tinggal Baru

Mempersiapkan Anak Pindah Ke Tempat Baru

Pindah tempat tinggal sebenarnya bukan hal yang baru bagi keluarga kami. Sejak menikah 13 tahun yang lalu, saya sudah pindah rumah sebanyak 6 kali. Pertama adalah dari Sidoarjo ke Jakarta. Lalu pindah lagi ke Sidoarjo. Setelah itu ke Parung. Dari Parung kembali lagi ke Sidoarjo beberapa bulan sebelum pindah ke Brunei. Di Brunei sendiri kami pindah rumah sebanyak 2 kali.

Tapi pindahan kali ini terasa lebih spesial, karena kali ini kami akan kembali ke Indonesia setelah 8 tahun tinggal di Brunei.

Krisis minyak dunia yang melanda industri migas sejak beberapa tahun ini memang menyebabkan beberapa perusahaan yang bergerak di bidang ini terpaksa mengurangi pegawainya agar dapat bertahan. Setelah belasan teman harus kembali ke Indonesia atau pindah ke negara lain akibat krisis ini mulai 4 tahun lalu, tahun ini keluarga kami mendapat gilirannya.

Tentu ini bukan hal yang mudah ya. Brunei, khususnya Seria dan Kuala Belait sudah menjadi rumah kami selama 8 tahun ini. Meninggalkan teman-teman rasa saudara dan kenyamanan easy life di sini juga nggak akan mudah rasanya.

Meski keluarga ada di sana tapi kehangatan persaudaraan sesama orang Indonesia di Brunei yang saya rasakan jauh lebih hangat daripada hubungan antar tetangga di Parung dulu. Mungkin karena merasa senasib ya, jauh dari kampung halaman dan keluarga membuat kami menjadi dekat dan saling bergantung. Bagaimanapun juga, kalau ada apa-apa ya sahabat-sahabat saya inilah yang bisa diandalkan, bukan keluarga yang jauh di Indonesia.

Indonesia di Brunei
Ready for our next adventure. Latar belakang: Billionth Barrel Monument, Seria, Brunei Darussalam

Kalau untuk saya yang sudah dewasa saja pindah tempat tinggal itu berat, apalagi untuk anak-anak. Keenan lahir dan besar di Brunei, sedangkan Cinta menghabiskan lebih dari separuh usianya di negara ini. Pasti berat bagi mereka untuk meninggalkan rumah, sekolah, teman-teman dan segala rutinitas di Brunei untuk tinggal di Indonesia. Meski itu adalah kampung halaman kami, tapi adalah tempat baru bagi anak-anak.

Breaking the News

Karena itulah, kami berusaha berhati-hati sekali saat memberi tahu anak-anak bahwa kami harus pindah ke Indonesia untuk selamanya. Awalnya kami berencana untuk menunda pemberitahuan itu sambil menunggu suasana yang lebih baik karena Cinta si sulung akan menjalani PSR (Penilaian Sekolah Rendah). Kami tidak ingin konsentrasinya terganggu karena hal ini.

Tapi, emosi akhirnya membuat saya mengumumkan kepindahan kami dalam waktu dan cara yang tidak tepat. Akibatnya tentu fatal. Cinta terpukul sekali dan berita ini membuatnya menangis semalaman. Sedangkan Keenan berkali-kali bilang, “I don’t want to go back to Indonesia. I like Brunei. I don’t like Indonesia.” Hiks.

Malam itu kami lalui dengan suasana yang tidak menyenangkan. Kepala saya penuh dengan berbagai hal dan anak-anak tidur dengan hati yang sedih. Bahkan Cinta tidak mau keluar kamar, tidak mengizinkan kami masuk atau menghiburnya dan tertidur setelah lelah menangis.

Beberapa hari setelah insiden itu, baru kami mengajak anak-anak berbicara dari hati ke hati. Suami saya yang memimpin percakapan malam itu dengan memberikan alasan kenapa kami harus pindah, apa rencana kami ke depannya, dan bagaimana kami akan melalui masa ini bersama-sama. Anak-anak sudah tidak menangis lagi meski mereka masih nampak sedih, malah kami yang berusaha menahan air mata melihat kesedihan di wajah mereka.

moving away quote

Sungguh, bagian break the news ini merupakan salah satu hal terberat. Mungkin teman-teman pembaca Pojok Mungil yang sering mengalami mutasi pekerjaan dari satu kota ke kota tahu perasaan ini.

Setelah anak-anak diberi tahu, kami mulai mempersiapkan semua hal yang diperlukan untuk memperlancar kepindahan ini. Tapi ternyata memang tidak semudah itu bagi anak-anak untuk menerima kenyataan bahwa waktu kami untuk tinggal di Brunei tinggal sebentar lagi. Sesekali Cinta masih menangis sebelum tidur. Nggak jarang juga Keenan bilang nggak mau pindah ke Indonesia. Ya nggak apa-apa, ini adalah fase yang harus kami hadapi.

Kalau ada yang bilang anak itu mudah beradaptasi dan menyepelekan proses pindah tempat tinggal. Wah, mereka salah besar. Pindah dari tempat yang mereka kenal baik ke tempat baru yang benar-benar asing bagi anak itu cukup menakutkan. Tapi jangan khawatir, ada kok yang bisa kita lakukan untuk membantu anak beradaptasi dengan proses pindahan ini.

Mempersiapkan Anak Untuk Pindah Tempat Tinggal ke Kota atau Negara Baru

Sebagai perantau, saya mengamati kondisi anak-anak teman saya yang pindah ke Brunei atau pindah dari Brunei. Sebagian besar memiliki kesamaan, menolak untuk pindah dari tempat asal ke tempat yang baru. Memang sih, pindah tempat tinggal itu menakutkan. Mereka harus meninggalkan comfort zone mereka ke lingkungan yang benar-benar asing.

“Gimana kalau nanti teman-temanku melupakan aku?”

“Gimana kalau aku nggak bisa dapat teman baru yang sama baiknya dengan teman-teman di sini.”

“Gimana kalau rumah baru nanti nggak senyaman di sini?”

Ini hanyalah sedikit dari sekian banyak kekhawatiran anak saat harus meninggalkan rumahnya menuju tempat baru.

Mempersiapkan Anak Pindah Ke Tempat Baru

Tapi, jangan cemas. Ada kok yang bisa kita lakukan untuk membantu mempersiapkan mental mereka pindah tempat tinggal.

1. Beri Tahu Jauh-Jauh Hari

Jangan beri tahu hanya dalam hitungan hari sebelum kita pindah. Begitu kita tahu bahwa kita harus meninggalkan tempat kita tinggal saat ini, sebaiknya langsung cari waktu dan suasana yang baik untuk memberi tahu anak-anak. Dengan demikian mereka punya waktu untuk memproses kabar tersebut.

Cinta sebenarnya sudah tahu bahwa kami tidak akan selamanya tinggal di Brunei. Dia melihat sendiri teman-temannya satu per satu pergi dari Brunei untuk kembali ke Indonesia atau pindah ke negara lain. Dia dan Keenan juga mengerti bahwa kami tinggal di Brunei hanya karena ayah mereka bekerja di sini, sehingga saat pekerjaan beliau selesai ya kami harus kembali ke Indonesia.

Tapi, ketika diberi tahu bahwa kami akan segera pergi dari Brunei, Cinta dan Keenan tetap kaget, marah dan menolak. It’s oke. Itu wajar. Dengan mereka tahu kabar ini 1,5 bulan sebelum kami benar-benar pindah, anak-anak jadi bisa mempersiapkan diri dan mental mereka lebih baik.

2. Validasi Perasaannya

Wajar sekali kalau anak merasa sedih, khawatir, marah dan kecewa saat harus pindah tempat tinggal baru. Jangan anggap remeh perasaan tersebut dengan berkata, “Nanti juga di sana dapat teman baru, nggak usah sedih.”

It’s a big NO. Sebaiknya kita katakan, “Mama ngerti kok, kamu pasti sedih nggak bisa ketemu lagi sama temen-temen kamu di sini. Kamu takut ya mereka akan ngelupain kamu?”

Untuk beberapa anak ini adalah hal yang besar dan bisa membuat mereka tidak nyaman dan stres. Dengan kita memahami perasaan mereka, anak bisa lebih nyaman.

3. Kenalkan Pada Lingkungan Baru

Salah seorang teman yang baru pindah dari Brunei ke Jakarta tahun lalu, membawa anak-anaknya untuk melihat rumah baru mereka beberapa bulan sebelum mereka pindah. Ia juga mengajak mereka survey  sekolah dan memperlihatkan hal-hal menarik yang ada di sekolah baru. Teman saya itu sering berpromosi tentang apa saja yang bisa mereka lakukan di sana. Sehingga anak-anak merasa excited dan nggak sabar untuk pindah.

Saya berusaha mengikuti yang dilakukan teman saya itu, kecuali bagian sekolah. Memang belum terlalu nampak hasilnya tapi setidaknya anak-anak punya gambaran akan apa saja yang bisa mereka lakukan di tempat baru nanti.

Kalau tidak memungkinkan membawa anak ke calon rumah barunya nanti, kita bisa lho browsing di internet tentang lingkungan baru kita nanti. Apakah di sana ada klub futsal yang bisa diikuti anak, atau di manakah kedai es krim favorit yang bisa dicoba di sana, dan masih banyak lagi.

pindah tempat tinggal

4. Keeping in Touch with Old Friends

Meninggalkan sahabat-sahabat yang sudah dikenalnya sejak kecil pastinya berat bagi anak. Tapi di zaman sekarang, bisa diatasi dengan teknologi. Memang, anak nggak bisa lagi hang out atau playdate dengan teman-temannya. Namun mereka tetap bisa ngobrol lewat whatsapp dan mengikuti perkembangan satu sama lain melalui sosial media.

Jadi, ajak anak untuk mengumpulkan alamat, no telepon dan akun media sosial teman-temannya jika ada. Dan beri mereka kesempatan untuk saling berkomunikasi, agar anak tidak terlalu merasa kehilangan.

5. Bawa Benda Favoritnya

Ajak anak untuk memilah barang-barang mana yang mau mereka bawa ke rumah baru dan mana yang bisa disumbangkan atau dijual sebelum pindah. Bila mereka memaksa untuk membawa semua mainan atau bukunya, beri batasan berapa banyak yang dapat mereka bawa.

6. Beri Waktu Beristirahat Sebelum Memulai Sekolah Baru

Menurut Psikolog Anak dan Keluarga, Anna Surti Nina, seperti yang dikutip dari lifestyle.bisnis.com, sebaiknya anak diberi kesempatan untuk beristirahat sebentar setelah pindahan. Setelah anak merasa nyaman, baru deh kita bawa mereka mengenal lingkungan dan sekolah baru.

Supaya anak tidak merasa tertekan saat mulai sekolah baru, Anna memberikan trik untuk menghindari hari pertama sekolah di awal pekan.

“Jarak dari awal pekan ke akhir pekan itu agak jauh. Kalau misalnya hari pertama masuk pada Kamis atau Jumat, besoknya kan ada libur. Nah, saat libur itu, dia masih ada waktu buat ‘ambil nafas’ dulu agar nyaman,” terangnya.

7. Pertahankan Rutinitas dalam Keseharian Anak

Perubahan lingkungan bisa membuat anak stres dan tidak nyaman. Untuk mengatasinya sebisa mungkin kita tetap mempertahankan aktivitas yang biasa kita lakukan saat di rumah lama, seperti sarapan bersama atau membaca dongeng sebelum tidur.

8. Beri Perhatian Ekstra

Pindahan itu benar-benar melelahkan dan bikin stres. Seringkali membuat kita mengabaikan anak karena sibuk mengurus berbagai hal seperti dokumen sekolah, ekspedisi barang, packing, dll. Begitu sampai di tempat baru kita akan lebih sibuk lagi cari sekolah baru, membersihkan dan menata rumah baru, unpacking, dll. Padahal di saat seperti inilah anak memerlukan perhatian kita.

Sering-sering lah ajak anak ngobrol. Tanyakan kepada mereka apa kira-kira yang bisa kita lakukan untuk membuat mereka nyaman di tempat baru. Dengarkan perkataan mereka dan beri nasihat hanya jika dibutuhkan.

Bila anak masih merasa tidak nyaman dan stres, boleh juga dicoba berkonsultasi dengan psikolog anak. Jangan malu untuk minta bantuan profesional saat dibutuhkan, ya. Namanya juga ikhtiar demi anak. Kalau anak bahagia berada di tempat baru, tentu kita juga lebih tenang beraktivitas.

Mohon doanya untuk kami ya. Semoga kami dan teman-teman yang sedang atau akan pindah ke tempat baru diberi kelancaran dan kemudahan. Mungkin ada saran supaya anak cepat beradaptasi di tempat baru? Boleh share di komen ya.

 

 

 

28 Replies to “Mempersiapkan Anak Pindah Tempat Tinggal Baru”

  1. Baca ini, aku kok ikut sedih untuk Cinta dan Keenan, ya Mbak. Pastilah sangat tak mudah bagi mereka. Bahkan bagi Mbak Nia sendiri.
    Baiknya mulai ajarkan anak membuat memorial book dengan teman-teman, berisi foto, pesan mereka, no kontak yang bisa dihubungi, dsb. Setelah itu ajarkan anak memiliki sahabat pena.

    Saat sudah di Indonesia, nanti mereka sering diajak jalan-jalan ya, kenalkan pada indahnya sekitar mereka. Dan yang terpenting menurutku, segera jembatani persahabatan baru dengan teman yang pertama, kedua, atau ketiga menyapanya.

    1. Nanti anak-anak lama lama juga akan bisa dan terbiasa. Memaksakan diri tinggal di luar negeri juga gak mungkin kan?
      Saya rasa ini tergantung kepada kebiasaan serta pemahaman keluarga saja. Pada umumnya anak kan mengikuti orang tua. Apalagi tahu kalau pekerjaan orang tua apa.

    2. alfakurnia says:

      Betul, Mbak. Kita sebagai orang tua yang harus pinter-pinter ngasih pemahaman ke anak.

    3. alfakurnia says:

      Nah, iya ini lagi mau diajak membuat buku kenangan. Semoga sih nanti di Indonesia bisa cepat dapat teman biar mereka cepat betah.

  2. Cinta dan Keenan pasti sangat sedih ya beberapa kali harus pindah rumah. Kita orang dewasa saja sedih, apalagi anak-anak.

    Tapi ada keuntungannya. Mereka lebih banyak pengalaman, lebih banyak teman, lebih mudah beradaptasi, hidup mereka lebih ‘kaya’ dan berwarna, meski melewati masa perpindahan itu memang sulit.

    1. alfakurnia says:

      Iya, pengalaman ini InsyaAllah memperkaya mereka.

  3. Ya ampuuuunn. pindah2 kontrakan aja capek, ya apalagi harus pindah yang menjadi bagian rutinitas alias pekerjaan.

    Baca tulisan ini aku baru kepikiran ttg psikologi anak. Dulu-dulu aku hanya memikirkan adaptasi mereka ke depannya, dengan lingkungan baru. Nggak pernah kepikiran dengan memori2 masa lalu yang juga sulit dilupakan sama anak-anak. Huhuhu semoga Cinta dan Keenan mudah beradaptasi di Indonesia, ya. Karena biar bagaimanapun negeri sendiri, rumah sendiri paling best 🙂

    1. alfakurnia says:

      Aamiin. InsyaAllah mereka lama-lama akan cinta juga dengan tanah airnya, apalagi kalau sudah punya teman nanti.

  4. Emang sih bukan cuman anak kecil, kadang aku juga yg udah dewasa masih suka sedih kalo harus pindah atau harus memulai sesuatu yg baru, terlalu nyaman di tempat yg lama jd susah move on, perlu persiapan lama, cocok bgt nih pelajaran bgt buat aku teh hehe

    1. Memang agak susah ya mbak kalo pindah-pindah tempat tinggal apalagi kalo udah ada anak. Saudaraku juga ada yg bertahun-tahun tinggal di Bangkok terus tiba-tiba balik ke Indonesia dan anaknya susah nerima karena takut gak diterima di lingkungan barunya. Tapi alhamdulillah sekarang dia udah krasan disini dan punya banyak temen juga

    2. alfakurnia says:

      Alhamdulillah. Memang harus pelan-pelan ya dan disupport biar mudah diterima di lingkugnan barunya.

    3. alfakurnia says:

      Terima kasih ya. Betul, kalau sudah terlalu nyaman di tempat lama makin susah move on.

  5. Kalau pindahan itu untuk yang sudah berkeluarga gak hanya mempersiapkan tempat dan barangnya saja, tapi juga mental ya karena kan harus mulai beradaptasi lagi dengan yang baru

    1. alfakurnia says:

      Betul, Mbak. Dan nggak cuma mental kita yang harus disiapkan tapi juga mental anak-anak.

  6. Wah menjadi seorang bunda challenging banget ya kak, bener2 harus bisa mengerti perasaan anak dan emosi sang anak harus memberi pengertian dan pendekatan yg benar bahkan kalu kita slah bisa jadi mereka mengurungkan diri untuk bersosialisasi dengan lingkungan baruj, Semangat ya kak pindahannya

    1. alfakurnia says:

      Terima kasih, Kak. Betul, di masa-masa seperti ini harus benar-benar berusaha memahami perasaan anak.

  7. Pasti berat ya Mbak buat anak-anak untuk pindah dan meninggalkan semua kenangannya di sana.. Jadi inget film Petualangan Sherina dimana ia marah dan sedih karena keluarganya harus pindah ke Bandung 🙁

    1. alfakurnia says:

      Nah, iyaaa. Jadi tahu sekarang perasaan Sherina dulu gimana hehehe.

  8. Kalau udah terlanjur cinta sama tempat tinggal yang lama emang pasti susah berpaling ya ke tempat yang baru, apalagi anak² harus beradaptasi lagi.

    1. alfakurnia says:

      Iya, Mbak. Semoga nanti anak-anak mudah beradaptasi.

  9. Waah aku pun suka bayangin kalau nanti menikah dan punya kehidupan sendiri, mau nggak mau harus mengikuti suami ke mana pun. Yang pasti bakalan meninggalkan rumah. Duh berat banget rasanya, apalagi ini anak-anak yang ngalamin. Pasti kasih pengertiannya kudu ekstra. Semoga sehat, dilancarkan dan dimudahkan kepindahannya ya, Mbak. Bantu doa aja dari Bandung. Hehe.

    1. alfakurnia says:

      Aamiin… Aamiin. Makasih doanya, Mbak Nesa.

  10. semoga anak-anak betah di Indonesia ya Mbak, bisa dapat teman-teman yang membuat mereka nyaman juga, pasti berat ya buat mereka apalagi lahir dan besarnya malah di Brunei, tanah tumpah darah mereka disana dong ya 🙂

    1. alfakurnia says:

      Aamiin. Makasih doanya, Mbak Diah. Hahaha iyaaa, pokoknya mereka cinta banget sama Brunei. Tapi InsyaAllah lama-lama bisa juga betah di Indonesia.

  11. Aku jadi ikutan sedih baca tulisan ini. I feel you mbak.. Aku pernah punya sahabat yang harus pindah jauh saat SMA padahal kami udah deket banget kayak sodara.. haduuh sedih tak berujung haha 2 bulanan masih berasa kehilangan tapi bisa move on setelah itu.. dia juga begitu katanya.. Kehilangan teman2 itu pasti yang paling ditakuti sama Cinta deh.. Semangat kembali ke tanah air ya mbak dan keluarganya.

    1. alfakurnia says:

      Iya, kehilangan teman itu yang paling sulit. Kasian sih, tahu banget rasanya takut nggak punya teman yang bisa menerima kita di tempat baru. Makasih, Mbak Retno.

  12. Hiks, aku jadi kebawa baper mba. Karena, saya pribadi merasa proses adaptasi itu cukup sulit lho bagi orang dewasa seperti saya. Bagaimana dengan anakk-anak saat dihadapkan dengan lingkungan yg baru. Bagus nih mbaa pembasannya, itung-itung buat prepare nanti kalau sewaktu-waktu mesti pindah rumah huhu

    1. alfakurnia says:

      Betul, Mbak. Kalau kita yang orang dewasa aja masih suka merasa sulit beradaptasi di tempat baru, apalagi anak-anak. Semoga bisa membantu anak-anak untuk lebih gampang beradaptasi ya.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.