NgeRamen di Gohan Sushi

Gohan Sushi Restaurant, Japanese Food, Seria, Brunei

Setiap Sabtu siang abis jemput kakak Cinta sekolah adalah waktunya jajan alias makan siang di luar. Karena cuma punya waktu 1 jam sebelum kakak masuk sekolah Ugama, pilihan tempat makan pun terbatas hanya yang ada di sekitar Seria Plaza.

Kalau biasanya kakak Cinta yang menentukan jenis makanan apa yang ingin di santap, kali ini giliran papa yang memilih. Dan karena beliau ingin makan ramen, maka kami pun mencoba Gohan Sushi Restaurant, restoran Jepang yang baru buka cabang di Seria ini akhir tahun 2015 yang lalu.

Gohan Sushi, Seria, Brunei, Japanese Food
Gohan Sushi Restaurant Seria

Seperti kebanyakan restoran Jepang di Brunei, Gohan Sushi ini sudah punya sertifikat halal. Jadi kami nggak waswas kalau mau pesan sushi dan aneka makanan khas negara matahari terbit itu.

Kebetulan siang itu Gohan Sushi cukup sepi. Di dalam ruangan cuma ada satu keluarga selain kami yang kalau diliat dari seragam anaknya satu sekolah sama Cinta. Baru beberapa saat kemudian ada beberapa pelanggan lain yang datang.

chuka wakame, gohan sushi, japanese food, restaurant, brunei, seria
Gohan’s Chuka Wakame

Setelah memilih-milih, kami memesan Chuka Wakame, rumput laut favorit keluarga, Niku Ramen dan Niku Spicy Ramen untuk saya dan suami, Tori Katsu Cheese dan Garlic Fried Rice kesukaan Cinta dan Keenan, plus 1 porsi Ninniku Gohan, sushi yang cuma terdiri dari nasi, tobiko (flying fish roe yang berwarna oranye cerah dan biasa disajikan pada sushi) plus sedikit cheese spread di dalamnya untuk Keenan. Sengaja pilih jenis sushi itu karena Keenan suka banget makan sushi tapi nggak suka isinya. Jadi kalau order sushi di tempat lain, biasanya nasinya dimakan Keenan nah isinya mama yang makan hihihi. Berhubung tadi ada menu itu ya udah coba aja deh.

ninniku gohan, sushi, gohan sushi, japanese food, seria, brunei
Ninniku Gohan

Eh, ternyata dia suka lho menu sushi itu, begitu pula kakak. Cuma mereka kurang suka cheese spreadnya. Jadi pas makan bagian yang ada cheese spreadnya langsung dilepeh sama dia.

Tori Katsu, Japanese Food, Gohan Sushi, Restaurant, Brunei, Seria
Gohan’s Tori Katsu

Sedangkan kakak lahap makan pilihan menunya. Karena porsinya lumayan banyak bisa berdua sama Keenan juga nasi gorengnya. Rasanya cukup enak, gurih tapi nggak terlalu garlicky gitu. Tori katsunya renyah di luar dan ngeju.

ramen, niku ramen, gohan sushi, restaurant, japanese food, brunei, seria
Gohan’s Niku Ramen

Niku Ramennya enak! Kuahnya gurih dan segar. Mienya kurang berbumbu tapi justru pas dipadu dengan irisan daging tipis yang empuk dan gurih. Sukak pake banget deh. Nyicip versi pedesnya punya suami juga enak sih. Cuma saya lebih cocok yang original aja. Niku Spicy Ramen menurut saya cuma Niku Ramen yang dikasih banyak cabe bubuk hehehe.

Oya, untuk menu ramen, Gohan ini punya banyak pilihan, mulai dari yang beef atau chicken broth base seperti yang saya pesan sampai tom yam dan kimchi soup base pun ada.

Nah, minuman yang cocok untuk menemani si Ramen hangat di siang yang panas seperti kemarin ya apalagi kalau bukan Ocha dingin. Seger banget.

Pokoknya siang itu kami bahagia. Selain makanan yang dipesan cocok di lidah, pelayanannya juga cepat dan ramah. Suasana tempat makannya terang dan nyaman. Total harga yang kami bayar juga nggak terlalu mahal, ya mungkin karena kami nggak pesan sushi ya. Tapi dengan menu segitu aja sudah bisa bikin perut kenyang kok. Kapan-kapan kalau waktunya lebih santai dan lagi pengen, kita coba deh sushinya. Ini aja saking keasikan makan akhirnya si Kakak jadi bolos sekolah Ugama. Maaf ya, Cikguuuu…

Gohan Sushi Restaurant
First Floor, No 23, Jalan Sultan Omar Ali, Seria
Operating hours: 11am to 10pm daily.
For enquiries, reservations or more information, call 8772377, 3221216 or 3221218.

Tea O Ping

Pertama kali menginjakkan kaki di Brunei 4 tahun yang lalu, saya sempat terbengong-bengong mendengar pelayan resto menanyakan detil minuman yang saya pesan. Suam? Ping? Hah… Teh warna pink macam mana pula itu. Suam itu juga apa varian teh seperti Earl Grey, Jasmine atau Peppermint? Dan semakin nggak paham ketika yang muncul di hadapan saya adalah segelas teh panas dengan susu di bawahnya. Padahal saya nggak minta teh tarik lho. Cuma ingin teh biasa, semacam Sariwangi, Lipton atau Dilmah.

UntitledTea Suam

tea tarikUntitled

Melihat tampang saya, barulah suami menjelaskan tentang aneka teh yang biasa disajikan di kedai-kedai makan tradisional Brunei. Ternyata si pelayan nggak salah mengantarkan minuman karena saat kita menyebut teh di sini, yang dimaksud adalah teh dengan susu. Kalau ingin teh tanpa susu silakan minta ‘Tea O‘ atau tea only. Sedangkan suam dan ping adalah suhu minumannya. Suam berarti hangat dan ping kebalikannya, alias dingin. Jadi saat memesan es teh yang biasa kita minum di Indonesia, mintalah tea o ping. Dan kalau nggak suka manis sebutkan, “tea o ping kurang manis.”

Selain itu ada juga teh dengan jahe. Orang sini menyebutnya Teh Halia dan tetap ada pilihan pakai susu atau tidak. Sebutan ini berlaku juga untuk kopi. Para pecinta kopi hitam berarti harus minta kopi o dan bukan hanya sekadar menyebut, “kopi” karena yang akan keluar pasti kopi dengan susu.

Lha kalau sama-sama mengandung susu apa bedanya teh biasa dengan teh tarik? Ternyata selain dari jenis teh yang digunakan juga terletak di proses pembuatannya. Kalau teh tarik memakai teh hitam, susu evaporasi dan ditarik-tarik gitu saat dituang di gelas sampai muncul busa. Teh yang kabarnya berasal dari Malaysia ini adalah salah satu jenis teh favorit saya, apalagi kalau gandengannya roti telur kuah kari ikan. Teh tarik suam maupun ping, enak banget untuk sarapan. Yuuumm.

Apa teh kesukaan kalian?

Uniknya Bebek Telur Asin

Surabaya itu surganya bebek goreng. Mulai dari bebek Tugu Pahlawan yang tersohor itu, bebek Kayu Tangan yang meski nyelempit di Bratang Gede tapi nggak pernah sepi sampai bebek Palupi. Tapi, kalau bebek telur asin? Hmmm…

Ceritanya sore itu saya, suami dan Cinta abis ngubek Hi Tech Mall cari komputer. Karena besoknya suami sudah harus kembali ke Brunei, kita pengen wiskul makan bebek. Tiba-tiba dia nanya, “mau nyoba bebek telur asin nggak?” “Hah, kek gimana tuh? Kalo kepiting atau cumi saus telur asin sih udah tahu. Tapi kalo bebek goreng?” Demi rasa penasaran, akhirnya kita memutuskan untuk hunting menu unik itu, berbekal alamat dari akun facebook Bebek Telur Asin.

Untungnya warung bebek Pak Joss yang terletak di jalan raya Ngagel Jaya itu gampang dicari. Sore itu pun kami berhasil membawa pulang 2 porsi bebek saus telur asin untuk dimakan di rumah.

Ternyata pilihan suami nggak salah. Bebek gorengnya empuk. Nggak ada amisnya sama sekali. Saya yang emang doyan segala sesuatu berbau telur asin, puas banget sama sausnya. Di makan sama sambal hijaunya yang pedas itu benar-benar bikin lupa diet.

Dan itu bukan pengalaman terakhir sama si bebek unik itu. Beberapa minggu kemudian, seusai menemani adik keliling survey vendor untuk acara pernikahannya, kami mampir di warung bebek Pak Joss ini lagi.

Bebek Saus Telur Asin Pak Joss

Ternyata, makan di tempat selagi hangat rasanya lebih puas. Bumbunya terasa banget sampai ke daging-dagingnya yang empuk. Bahkan nggak perlu sambal untuk menikmati enaknya bebek dan saus telur asinnya. Tapi buat yang doyan pedes, makan pakai sambelnya pun tetap nggak mengurangi enaknya rasa bebek. Bahkan kalo belum sampe ngrikiti tulangnya rasanya belum puas aslinya nggragas :)) Apalagi warungnya nyaman dan bersih. Wuiih, meski yang makan 3 perempuan bertubuh mungil (kalo dibandingin sama Hulk sih), porsi yang cukup besar itu tandas oleh kami bertiga.

Lebih senang lagi setelah tahu si bebek telor asin ini bisa delivery ke luar kota Surabaya. Adik saya sudah 2 kali pesan untuk dimakan sendiri dan untuk rekan sejawatnya para dokter di RS. Risa Sentra Medika, Mataram. Saya sendiri pernah mencoba delivery ke Sidoarjo karena pas lagi pengen makan bebek tapi malas ke Surabaya.

Kalau pengen nyoba sensasi lain dari sajian bebek goreng, Bebek Telur Asin Pak Joss ini cocok banget jadi pilihan.

Buntut Tom Yam dan Soto Betawi Rumah Mode

Waktu ke Bandung 2 minggu yang lalu sebelum belanja belanji di Rumah Mode, kami menyempatkan makan di Food Courtnya. Karena baru pertama kali ke situ, saya bertanya kepada pramusaji makanan apa yang jadi favorit di sana dan ia menyarankan Buntut Tom Yam. Sedangkan mama dan Cinta makan Soto Betawi semangkuk berdua. Kebetulan waktu itu sedang hujan deras sehingga makanan berkuah hangat rasanya pas untuk mengisi perut yang keroncongan dan kedinginan.

Buntut Tom Yam

eatandbake

Dari tampilan dan baunya serta asap yang mengebul dari mangkuk sepertinya Buntut Tom Yam ini rasanya enak. Apalagi disajikan dengan nasi hangat di tengah dinginnya kota Bandung. Menjanjikan sekali. Pertama kali mencicipi kuahnya rasanya cukup segar, mirip dengan seafood tom yam tapi terasa pahit. Awalnya agak samar tapi setelah diaduk malah rasa pahit itu semakin kuat. Malah rasa khas tom yamnya tertutup oleh pahitnya. Entah memang begitu rasanya atau ada kesalahan dalam peracikan bumbu hari itu. Tapi daging buntutnya enak, gurih dan empuk sekali jadi rasa aneh karena makan kuah pahit jadi terobati dengan banyak makan dagingnya.

Buntut Tom Yam

Soto Betawi

Soto Betawi

Mama saya suka sekali Soto Betawi sehingga di tempat ini tanpa pikir panjang langsung pilih menu ini. Begitu datang langsung menyuapi Cinta yang lahap sekali makan nasi dan kuah Soto sampai habis lebih dari separuh porsi nasi. Setelah Cinta selesai makan, kami mencoba Soto Betawi ini yang ternyata rasanya mirip Opor bukannya seperti kebanyakan Soto Betawi di Jakarta.

Ulasan ini merupakan pendapat pribadi dan tidak bermaksud mendiskreditkan pihak-pihak tertentu.