5 Manfaat Menulis Blog dan Alasan Saya Melakukannya

Manfaat Menulis Blog

Apa sih manfaat menulis blog? Kenapa akhir-akhir ini banyak sekali yang berminat belajar ngeblog dan menjadi blogger? Bahkan makin banyak yang menjadikan blogger sebagai pekerjaan paruh waktu dan penuh waktu. Dan kenapa saya masih ngeblog juga meski banyak sekali blogger yang lebih baik di sekitar saya?

Kenapa saya masih menulis blog? Apakah saya harus terus menulis blog?

Jujur saja pertanyaan itu sering terlintas di pikiran saya akhir-akhir ini. Sempat terpikir untuk berhenti ngeblog karena ya sudah nggak ada lagi semangat untuk menulis. Apalagi semakin banyak blogger-blogger yang lebih bagus, lebih berprestasi, lebih eksis, lebih… lebih… lebih… Sementara saya kok gini-gini aja. Malah pageview makin turun, DA/PA juga terjun bebas. Tawaran placement post dan job review pun nyaris tak ada lagi. Ah, untuk apa lagi saya ngeblog.

Padahal saya masih bercita-cita menjadi blogger profesional. Tapi masih bingung menentukan blog ini mau fokus ke niche apa. Dibilang lifestyle blog ya isinya bukan tentang gaya hidup yang sedang tren. Mau disebut parenting blog ya sudah nggak pernah nulis soal parenting lagi. Fokus ke liputan tentang kehidupan di Brunei pun kami jarang eksplorasi Brunei dan sebentar lagi mau kembali ke Indonesia karena pekerjaan suami di sini sudah selesai. Hiks.

Saya juga belum punya jam kerja khusus untuk menulis dan mengurus blog pojokmungil.com ini. Atau rencana kerja dan target agar blog ini bisa berkembang lebih baik. Padahal menurut Mbak Kiki Handriyani, mentor kami di kelas NulisYuk Batch 38 tema blog, untuk disebut sebagai blogger profesional ada beberapa syarat yang harus dilakukan oleh seorang blogger, yaitu:

Lakukan 8 Hal Ini Untuk Menjadi Blogger Profesional

  1. Jadikan profesi blogger sebagai profesi utama.
  2. Ketika menulis di blog, terapkan sistem kerja seperti layaknya pekerja kantoran: ada jam kerja, ada jam turun ke lapangan untuk liputan dan ada waktu untuk belajar tentang blogging dan pernak-perniknya.
  3. Lakukan personal branding di media sosial.
  4. Percaya diri saat memperkenalkan diri sebagai blogger di depan publik.
  5. Punya attitude yang baik. Hal ini ditandai dengan betul-betul untuk menyimak materi dan bekerja saat menghadiri event. Bukan menjadikan event sebagai ajang ketemuan dengan teman sesama blogger, sibuk selfie dan saat pemateri berbicara malah asyik ngobrol dengan peserta lain. Saat event selesai, tulislah liputan sesuai dengan brief pekerjaan (bila perlu berikan lebih dari apa yang dibayarkan klien).
  6. Percaya bahwa rezeki itu tidak akan tertukar dan ada waktunya. Jadi jangan suka menyerobot pekerjaan blogger lain.
  7. Belajar etika dan cara berkomunikasi yang baik dengan klien, rekan kerja maupun orang-orang yang baru dikenal.
  8. Pelajari peta perpolitikan dunia blogging karena blogger pun sudah menjadi profesi yang penuh dengan intrik.

Berat ya ternyata menjadi blogger profesional. Dan untuk bisa melakukan semua hal tersebut diperlukan komitmen dan disiplin yang tinggi. Sementara saat ini saya merasa belum mau dan sanggup menjalaninya.

Tapi apakah saya harus berhenti ngeblog total? Menurut teman-teman gimana?

Setelah berkontemplasi dengan diri sendiri dan bergabung di Rumah Belajar Literasi Ibu Profesional Asia, yang lalu dipercaya untuk mengelola blog IP Asia dan menjadi salah satu mentor untuk sesi bulanan Blogging & Writing Mentor, saya memutuskan untuk tetap menulis di blog.

Saya menyadari bahwa meski prestasi saya di bidang blogging nggak ada apa-apanya dibanding teman-teman blogger yang sudah profesional, saya masih punya sesuatu untuk dibagikan. Dan itulah tujuan awal saya menulis di blog. To share, because sharing is caring. Betul kan?

Manfaat Menulis Blog

Selain itu, saya ngeblog karena masih merasakan beberapa manfaat menulis blog yang lain sebagai berikut.

5 Manfaat Menulis Blog dan Alasan Saya Melakukannya

Melatih Kemampuan Menulis 

Quote tentang menulis

Saya suka menulis, tapi saya merasa tulisan saya nggak bagus-bagus amat. Bahkan jujur saja saya sering malas membaca kembali tulisan saya. Lha, kalau yang nulis saja nggak suka membaca tulisan sendiri gimana orang lain mau membacanya ya. Nah, menulis di blog secara teratur bisa menjadi sarana saya berlatih menulis.

Dan dengan mengikuti kelas NulisYuk Batch 38 Tema Blog ini, saya berharap bisa memperbaiki tulisan-tulisan saya di blog menjadi lebih enak dibaca. Sehingga saya sangat mengharapkan feedback dari mentor dan teman-teman satu kelas mengenai tulisan-tulisan saya di blog ini.

Berbagi Pikiran dan Pengalaman

Sharing is caring

Salah satu alasan saya menulis di blog adalah berbagi pikiran dan pengalaman. Saya ini suka overthinking. Apa-apa dipikirin. Tapi nggak pandai berkomunikasi secara lisan sehingga akhirnya sering bingung sendiri karena pikiran saya penuh dengan banyak hal. Dengan menulis di blog saya bisa menuangkan apa yang ada di pikiran saya dan mungkin mendapatkan teman berdiskusi. Kalaupun tidak, setidaknya saya sudah cukup senang karena satu beban pikiran sudah berkurang. Ada yang begitu juga nggak?

Dengan berbagi pengalaman di blog juga saya berharap orang lain bisa memperoleh manfaat atas apa yang saya alami. Misalnya salah satu artikel yang paling sering dibaca di blog ini adalah tentang Speech Delay si Keenan. Dari artikel ini banyak yang akhirnya menghubungi saya lewat email dari berbagi pengalaman mengasuh anak dengan gangguan terlambat bicara. Begitu juga artikel-artikel lain yang berhubungan dengan tinggal di Brunei.

Lebih Banyak Membaca dan Belajar

Stephen King quote

Manfaat menulis di blog yang lain adalah membuat saya lebih semangat membaca dan belajar. Membaca di sini nggak cuma buku-buku tentang blogging ya, justru saya lebih suka membaca buku fiksi yang ringan-ringan lho. Dari banyak membaca, saya jadi belajar bagaimana merangkai kalimat yang enak dibaca. Dan tentu saja jadi punya bahan untuk dijadikan tulisan di blog.

Supaya ilmu blogging tetap update, saya juga berusaha untuk tetap belajar. Baik dari sharing dengan teman-teman blogger maupun ikut kelas-kelas blogging. Sebenarnya sih saya lebih suka belajar offline ya, tapi karena keterbatasan ya belajar secara online pun saya ikuti juga. Baik dalam bentuk kelas-kelas interaktif di whatsapp group maupun kelas satu arah lewat video dan podcast di Udemy.

Membangun Networking

Dengan menulis di blog, kita akan berkenalan dengan orang-orang baru. Mulai dari para pembaca blog kita sampai ke sesama blogger. Beberapa di antara mereka bisa menjadi sahabat kita suatu hari nanti. Ini sudah saya buktikan sendiri. Dari networking inilah kita bisa mendapatkan informasi tentang proyek menulis, tawaran job review atau placement post serta ilmu-ilmu baru tentang blogging.

Sebagai Jurnal Pribadi

Blog bisa juga berfungsi sebagai jurnal pribadi kita. Dengan menulis di blog, kita bisa melihat bagaimana tulisan kita berubah, bagaimana kehidupan kita berkembang, bagaimana kepribadian kita bertumbuh. Blog juga bisa menjadi catatan digital kehidupan kita dari masa ke masa. Di usia 10 tahun blog ini pada bulan Desember nanti, saya sudah menuliskan banyak sekali kisah saya dan keluarga mulai dari anak baru 1 sampai sekarang jadi 2. Mulai dari kisah mereka saat balita sampai sekarang salah seorangnya menjelang remaja. Mungkin suatu saat nanti, blog ini akan menjadi sarana bagi anak-anak saya untuk mengenal pikiran dan perasaan ibunya saat saya sudah tidak lagi bersama mereka.

Nah, kalau menurut teman-teman sendiri, apa sih manfaat menulis blog yang kalian rasakan selama ini? Silakan sharing di kolom komentar ya.

Credit: Photo by Christin Hume on Unsplash

Semangat Menulis, Bagaimana Cara Mengembalikannya?

semangat menulis, bagaimana cara mengembalikannya

Jack of all trades, master of none – William Shakespeare

Kutipan itu sempat menjadi isi profil Instagram saya selama lebih dari setahun karena saya bingung menjelaskan jati diri saya. Jack of all trades, master of none adalah idiom yang menggambarkan seseorang yang bisa melakukan banyak hal tapi tidak ahli dalam satu hal pun. Dan itu menggambarkan diri saya dengan tepat.

I mean, I can do a lot of thingslike baking, writing, blogging, making DIY toys, crafting, and crochetingBut nothing, not even one that I am really good or have expertise on.

Pada suatu masa, saya suka sekali belajar public speaking yang kemudian ini membantu sekali dalam pekerjaan saya sebagai front liner di sebuah bank. Namun, setelah tidak lagi bekerja, keahlian itu pun sirna.

Saya dan Memasak

Lalu saya belajar memasak makanan bayi dan baking demi Cinta yang masih balita. Bahkan saya sempat bergabung dengan komunitas masak terbesar pada saat itu, NCC (Natural Cooking Club), dan mengikuti pelatihan bikin kukis saat kopdar akbar di Surabaya!

barbie cake
9 tahun lalu, saya bisa membuat Barbie Cake ini from scratch untuk ulang tahun ke-3 Cinta.

Tapi kemudian saya sadar bahwa cooking is not my strong suit. Saya bisa masak seadanya, sambil melihat resep. Namun saya nggak suka karena memasak itu memerlukan energi yang besar sekali mulai dari memikirkan menu masakannya, mengolah bahan mentahnya, menghidangkannya hasilnya ke meja makan dan mencuci peralatan dapurnya. Memasak adalah salah satu pekerjaan rumah tangga yang sangat ingin sekali saya serahkan ke pihak ketiga seandainya bisa. Lagipula memasak nggak membuat saya bahagia.

Saya dan Ilmu Parenting

Saat saya dan Cinta pindah ke Jakarta dari Sidoarjo, saya suka sekali ikut seminar dan komunitas parenting. Mulai yang temanya kesehatan sampai pola asuh anak. Bahkan sampai niat nyetir sendiri ke Jakarta dari Parung hanya berbekal GPS karena benar-benar buta jalan.

Tapi lantas saya mengalami tsunami informasi saking banyaknya ilmu yang saya peroleh. Saya overload sampai-sampai hanya sedikit sekali dari teori-teori parenting itu yang akhirnya dapat saya terapkan ke anak-anak. Dan sampai saat ini saya masih merasa fed up sehingga belum tergerak lagi untuk mengikuti pelatihan pola asuh walaupun sering galau menghadapi perilaku anak-anak.

Saya dan Crafting

Aktivitas lain yang saya sukai adalah crafting alias kerajinan tangan. Saat Cinta dan Keenan masih kecil, saya suka mengajaknya membuat aneka prakarya dan mainan DIY. Mulai dari rumah boneka dari kardus sampai membuat playdough yang aman untuk batita. Namun anak-anak semakin besar dan tidak berminat lagi bikin prakarya, saya juga semakin malas membereskan rumah yang berantakan setelah kami bebikinan.

Setelah saya pindah ke Brunei, saya pun bergabung dengan grup crafting ibu-ibu Indonesia. Di sini saya belajar crochet. Kegiatan belajar crochet bersama yang diadakan secara rutin dan kelompok yang suportif membuat saya lumayan betah melakukan aktivitas ini. Cukup banyak juga hasil crochet saya. Bahkan tiap mudik ke Surabaya saya suka sekali hunting hakpen dan benang di toko yang jual perlengkapan rajut di Plaza Surabaya. Atau mampir ke Hokko di Bandar Seri Begawan sekadar membeli benang atau kain.

crochet
Salah satu hasil crochet yang masih tersimpan sampai saat ini

Sayangnya seiring dengan krisis migas dunia beberapa tahun lalu, komunitas keluarga Indonesia di Seria & Kuala Belait pun terkena dampaknya. Banyak teman saya di grup crafting yang kembali ke Indonesia atau pindah ke negara lain. Lama-lama grup crafting pun bubar dan saya kehilangan motivasi untuk crocheting sampai akhirnya berhenti sama sekali. Padahal perlengkapan crochet yang sudah dibeli pun nggak sedikit, begitu juga benang dan buku yang akhirnya dibagikan ke teman-teman yang masih rajin merajut daripada mubazir.

Saya dan Fotografi

Setelah sekian lama nggak punya hobi produktif dan hanya menghabiskan waktu luang dengan membaca dan bermain media sosial. Akhirnya saya tertarik pada fotografi karena ingin memiliki feed instagram yang bagus dengan foto-foto berkualitas tinggi. Untuk mendukung hobi ini, selain ikut workshop online, saya juga mengikuti workshop offline memotret model yang diselenggarakan oleh Benchlab Brunei beberapa waktu lalu.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Alfa Kurnia (@alfakurnia) on

;

Hanya saja, minat saya terhadap fotografi nggak berkembang. Nggak ada keinginan untuk terus menerus berlatih agak bisa menguasai kamera dan teknik-teknik fotografi. Bahkan sekarang sudah mulai malas membawa kamera ke manapun saya pergi dan kembali mengandalkan kamera telepon genggam. Untung suami saya paham sekali istrinya yang moody ini sehingga ia merasa cukup membelikan saya kamera mirrorless dengan fitur untuk pemula daripada kamera canggih yang mahal seperti di foto ini hahaha. Takut rugi dia.

Begitulah, hobi saya berganti mengikuti apa yang sedang ‘in’ di sekitar saya. Mungkin karena saya orangnya tipe follower banget atau malah mungkin tingkat FOMO, fear of missing out saya tinggi ya. Jadi ketika orang-orang sedang suka dengan aktivitas tertentu ya saya ikuti. Setelah merasa bisa dan bosan karena merasa nggak berkembang, ya sudahlah ditinggal lagi.

Sampai akhirnya saya mengikuti kelas Matrikulasi Ibu Profesional. Pada materi pertama yang diberikan, yaitu Adab Sebelum Ilmu, mengajarkan kita fokus belajar atau melakukan aktivitas yang benar-benar kita sukai saja agar tidak terjebak dalam tsunami informasi dengan mantera, “Menarik, Tapi Tidak Tertarik.” Padahal awalnya saya memutuskan untuk mengikuti Matrikulasi Ibu Profesional ini juga karena FOMO, lho hehehe.

Sejak itu, saya mulai memilah prioritas saya. Dan setelah menelusuri berbagai aktivitas yang pernah saya lakukan ada satu yang tetap saya lakukan sejak dulu sekali, yaitu menulis. Baik itu menulis di buku harian, menulis di blog sejak tahun 2004 dan menulis konten untuk beberapa situs parenting (hei, hasil seminar-seminar parenting yang dulu sering saya ikut ternyata nggak sia-sia, lho). Walaupun aktivitas yang terakhir ini sudah nggak lagi saya jalani, saya tetap menulis, terutama di blog dan instagram.

Hambatan dalam Menulis

Sayangnya, semangat menulis saya naik turun. Kalau sedang rajin, dalam sebulan blog ini bisa terisi seminggu sekali. Namun, kalau semangat menulis saya sedang turun, bisa lebih dari 3 bulan blog ini nggak saya update. Saya sendiri nggak tahu kenapa sering sekali kehilangan semangat menulis.

Kalau dibilang kehabisan ide, enggak juga sih. Di blog ini saja ada beberapa draft tulisan yang belum saya selesaikan. Di jurnal saya ada daftar ide tulisan yang menunggu dieksekusi. Bahkan saat saya menulis blogpost ini, setidaknya ada 2 ide yang menari-nari di kepala saya, yaitu perjalanan kami ke Kota Kinabalu dan rangkuman materi tips menulis agar tetap enak dibaca dari sesi Blogging & Writing Mentor Ibu Profesional Asia bulan lalu. Satu naskah untuk antologi RB Literasi IP Asia juga sudah mengendap di kepala menuntut dituangkan ke dalam bentuk tulisan.

Mungkin soal waktu? Ya sebenarnya kalau mau diadakan ya pasti adalah waktu untuk menulis. 1 jam dalam sehari pasti saya bisa meluangkannya. Tapi toh, akhirnya waktu itu lebih sering saya gunakan untuk scrolling instagram dan facebook daripada menulis.

Satu-satunya alasan yang bisa saya temukan adalah karena saya jenuh. Saat menulis di blog, apalagi karena saya sedang berusaha menjadi blogger profesional, saya ingin setiap postnya ini sempurna. Ya dengan memilih niche yang tepat,  tata bahasa yang baik, ilustrasi berkualitas, konten yang bermanfaat sampai SEO yang baik.

Jadi setiap akan menulis di blog saya harus membuat outlinenya dulu, lalu melakukan keyword research dan membuat ilustrasi yang baik. Itu menghabiskan waktu terlalu banyak hanya untuk menulis 1 blogpost dan seringkali terasa melelahkan. Untuk menulis blogpost ini saja saya membutuhkan waktu 2 jam sampai akhirnya dipublish, lho. Belum lagi nanti harus memantau pageview dan adsense. Padahal, aktivitas saya ya nggak cuma ngeblog kan.

Baca Juga: Hal yang Perlu Diperhatikan Untuk Menjadi Penulis Konten

Bagaimana Mengembalikan Semangat Menulis?

Lalu apa yang harus saya lakukan untuk mengembalikan semangat menulis? Saya masih cinta menulis dan ngeblog. Bahkan 2 bulan ini saya juga masih rutin mengisi blognya Ibu Profesional Asia dan saya sangat menikmatinya. Rasanya lebih mudah menulis di sana daripada mengisi blog sendiri. Mungkin karena materinya sudah tersedia dan saya hanya tinggal merangkai kata agar lebih nyaman dibaca?

Sayangnya kegiatan ini sebentar lagi pun harus saya lepaskan karena saya akan pindah dari Brunei kembali ke Indonesia, yang artinya keanggotaan saya sebagai member Ibu Profesional akan dimutasi dari IP Asia ke IP regional baru nanti. Hiks.

semangat menulis, bagaimana cara mengembalikannya

Untuk itulah saya mulai lagi belajar mengembalikan semangat menulis di blog ini dengan cara:

Cara Mengembalikan Semangat Menulis

  1. Mengikuti kelas menulis Belajar Menulis di Blog yang diselenggarakan oleh NulisYuk.
    mengembalikan semangat menulis
  2. Belajar membebaskan diri dalam menulis seperti yang disampaikan oleh mbak Kiki Handriyani, pemateri di kelas tersebut, “Tulis aja, tulis lagi, tulis terus sampai kamu menemukan tema apa yang cocok dengan dirimu.”
  3. “Fokus nulis, nulis dan memperbaiki tulisan. Rejeki akan datang ketika kita sudah siap mental, pikiran dan fisik,” pesan Mbak Kiki.
  4. Mendobrak kemalasan. Lagi-lagi ini wejangan dari Mbak Kiki. Hambatan utama saya adalah malas. Jadi yang harus dilakukan ya harus melawan kemalasan itu.
  5. Jaga mood dengan cara mencari kegiatan lain yang mendorong kita untuk tetap semangat menulis, seperti aktif di komunitas dan bertemu dengan orang lain yang memiliki passion yang sama.
  6. Targetkan seminggu sekali 1 tulisan artikel atau 2 hari sekali menulis status di Facebook. Mbak Kiki menantang kami untuk menulis status yang sesuai minat di Facebook. Tapi saya nggak suka main Facebook, so I will stick on blogpost sajalah.
  7. Fokuskan pada tujuan kita menulis untuk apa? Ingin jadi blogger profesional? Ingin mendapatkan pageview ribuan? Dapat uang dari adsense dan placement post? Atau berbagi dan menginspirasi? Apapun tujuannya ya harus mau bekerja keras untuk menulis kan? Semangat!
  8. Banyak membaca. Penulis nggak bisa menulis dengan baik kalau nggak suka membaca.

Begitulah sementara ini kesimpulan yang bisa saya peroleh dari sesi pertama kelas menulis online Belajar Menulis di Blog oleh Mbak Kiki Handrayani.

Harapan saya, setelah materi berakhir, saya dapat mengumpulkan lagi semangat menulis di blog sehingga blog Pojokmungil ini bisa saya update dengan teratur. Saya juga berharap tulisan saya menjadi lebih baik dan enak dibaca dengan feedback dari pemateri. Dan yang terakhir adalah mengembangkan networking sebagai blogger.

Teman-teman blogger ada yang pernah mengalami patah semangat dalam menulis? Atau writer’s block mungkin? Boleh dong berbagi tipsnya di kolom komentar. Ditunggu ya…

7 Cara Agar Resolusi Tahun Baru Berhasil Dilaksanakan

resolusi tahun baru

Yak, siapa yang tiap akhir tahun bersemangat bikin resolusi tahun baru tapi selalu gagal melakukannya di tengah jalan?

Sayaaa!!!

Eh, bener nih cuma saya aja? Yakin? Atau nggak mau ngaku aja? Hayooo…

Tapi yah begitulah. Saya mah orangnya suka semangat saat bikin resolusinya, menggebu-gebu banget lah. Pengennya semua hal yang jelek dari diri saya diubah dan diganti dengan yang lebih baik dalam waktu sekejap. Namun, saya lupa kalau kebiasaan-kebiasaan yang sudah terbentuk bertahun-tahun itu nggak mungkin dihilangkan hanya dalam waktu 1 bulan. Jadi, ketika saya nggak berhasil melakukan salah satu hal dalam daftar resolusi saya, misalnya skip olahraga 1 kali dari target 3 kali seminggu, langsung patah semangat. Dan akhirnya memutuskan untuk berhenti melakukan resolusi tersebut.

Baca juga: Resolusi terakhir yang pernah saya buat dan gagal.

Karena itulah beberapa tahun belakangan ini saya nggak lagi membuat resolusi tahun baru. Males euy, paling juga gagal lagi seperti tahun-tahun sebelumnya. Lagipula kalau saya niat memperbaiki diri nggak perlu nunggu tahun baru lah. Kapan aja saya mau pasti bisa. Iya nggak?

resolusi tahun baru, ika natassa quote, the architecture of love

Tapi tema nulis bareng RB Literasi Ibu Profesional Asia bulan ini seakan menantang saya untuk mencoba membuat lagi resolusi tahun baru. Tadinya sih pengen nulis yang biasa-biasa aja ya. Seperti: pengen kurus, lebih sabar, pengen umroh, pengen bisa lebih sering nulis di blog dan baca buku. Gitu-gitu deh.

Cuma, kalau begitu doang naga-naganya bakal gagal di minggu kedua bulan Februari nih. Jadi saya mencoba menulis resolusi tahun 2019 dengan lebih serius dengan harapan bisa konsisten menjalankannya sampai akhir tahun.

Resolusi Tahun Baru

Sebenarnya apa sih resolusi itu? Dan apa pentingnya bikin resolusi di akhir atau awal tahun?

Menurut Wikipedia:

Resolusi tahun baru adalah sebuah tradisi yang dilakukan di akhir tahun atau awal tahun. Di mana seseorang memutuskan untuk mengubah sifat atau perilaku yang nggak disukai di tahun sebelumnya, untuk mencapai tujuan pribadi atau memperbaiki kehidupan mereka.

Karena ini adalah tradisi jadi boleh dilakukan boleh enggak. Bebas aja ya. Meski ternyata membuat resolusi tahun baru sebenarnya cara yang baik dan produktif untuk menetapkan tujuan dan niat untuk tahun baru. Sebab, dengan membuat resolusi, kita bisa:

  1. Punya motivasi untuk menyambut tahun baru.
  2. Punya target yang jelas tentang hal yang ingin kita capai.
  3. Punya pengingat saat kita mulai melenceng.
  4. Punya bahan evaluasi atas hal-hal yang sudah kita lakukan di tahun tersebut.

Nah, supaya resolusi kita saya nggak gagal di tengah jalan seperti tahun-tahun sebelumnya, saya mencoba mencari tahu apa saja yang harus dilakukan saat membuat resolusi tahun baru. Dan inilah cara yang bisa kita terapkan supaya resolusi yang kita rencanakan itu berhasil.

7 Cara Agar Resolusi Tahun Baru Berhasil Dilaksanakan

1. Tulis Resolusi Tersebut.

Menurut Elizabeth Ward, PhD yang dikutip oleh self.com, orang yang menuliskan resolusi mereka akan punya rasa tanggung jawab yang lebih besar untuk melaksanakannya. Sehingga mereka memiliki kesempatan yang lebih banyak juga untuk mencapai tujuan mereka.

2. Mulai Dari Hal Yang Kecil

Punya resolusi untuk turun berat badan 10 kg dalam 3 bulan atau nggak pernah marah sama sekali ke anak-anak itu impian saya. Tapi saya sadar kok kalau itu nggak mungkin dicapai dalam waktu singkat.

Lebih baik kita mulai dari hal-hal yang kita yakin bisa kita capai. Ubah 1 perilaku dalam 1 waktu. Misalnya, turun BB 5 kg dalam 1 tahun dengan cara olahraga rutin 3x seminggu dan memperbanyak makan sayur sepertinya lebih mungkin dilakukan.

3. SMART (Spesific, Measurable, Achievable, Realistic, Timely)

Metode yang diperkenalkan oleh George T. Doran ini saya pelajari di kelas Matrikulasi Ibu Profesional. Cara ini InsyaAllah membantu kita dalam membuat resolusi tahun baru yang bisa kita lakukan sepanjang tahun.

resolusi tahun baru, smart

Baca juga deg-degannya saya saat akan mengikuti program matrikulasi Ibu Profesional Batch 6.

4. Bikin Plan atau Jadwal

Setelah kita menuliskan semua hal yang ingin kita capai di tahun depan dengan SMART, waktunya kita menyusun rencana. Masukkan aktivitas yang harus kita lakukan untuk mencapai tujuan tersebut dalam agenda harian kita.

Misalnya saya ingin menjadi blogger profesional. Tahap pertama adalah rutin blogging, minimal 1 kali dalam 1 minggu. Untuk itu saya perlu mengalokasikan waktu 1 jam sehari untuk blogging dengan rincian aktivitas sebagai berikut:

blog weekly planner, resolusi tahun baru

Silakan unduh template rencana blogging mingguan ini di: http://bit.ly/blogplannerAlfa

Atau saya ingin olahraga 3 kali seminggu tapi juga ingin puasa sunnah 2 kali seminggu, dengan menuliskan di jadwal mingguan, dua aktivitas itu bisa dilakukan di hari yang berbeda. Karena lari saat puasa tentu menyiksa diri saya, kalau dipaksakan di hari yang sama bisa-bisa keduanya nggak akan saya lakukan.

5. Jangan Memaksakan Diri

Kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT (dan warganet yang maha benar). Jadi meski kita sudah menyusun resolusi seSMART mungkin dengan jadwal sebaik mungkin, siapkan mental kita untuk hal-hal yang terburuk. Sebagai orang yang (agak) perfeksionis, saya sering merasa kecewa saat rencana yang saya buat nggak berjalan sesuai keinginan saya. Karena itulah suami saya sering mengingatkan, always hope for the best but prepare for the worst.  Begitu juga saat menjalankan resolusi tahun baru kita.

Akan ada saat kita sakit sehingga nggak bisa olahraga selama satu minggu. Atau suasana hati sedang buruk sekali sehingga setelah 3 hari sukses nggak marah ke anak-anak, hari ini kelepasan marahin mereka. Bisa juga gagal makan sayur dan buah secara rutin karena pergi liburan yang nggak memungkinkan kita menjalankan pola makan seperti saat di rumah. Atau ya lagi males aja gitu. Nggak papa. Jangan lantas merasa seluruh usaha kita menjalankan resolusi itu gagal.

resolusi tahun baru

Semua orang punya pasang surutnya kok. Jadi ketimbang berhenti di tengah jalan, lebih baik kita catat dan pelajari penyebab kesalahan itu. Lalu kembali lagi ke jalan yang benar sambil berusaha menghindari penyebab kegagalan tersebut.

6. Evaluasi

Evaluasi aktivitas kita dan hasil yang kita capai setiap beberapa waktu. Idealnya 3 bulan sekali. Seperti anak sekolah ya, tiap term ada evaluasinya. Begitu juga dengan resolusi tahun baru kita. Dengan melakukan evaluasi, kita jadi tahu mana resolusi yang sesuai track dan bisa diteruskan sampai akhir tahun, mana yang sebaiknya kita tunda di tahun berikutnya.

7. Minta Dukungan Dari Orang Lain

Kalau kita sendiri merasa kewalahan atau merasa nggak mampu mencapai tujuan kita seorang diri, mintalah dukungan dari orang-orang terdekat. Hal itu akan membuat kita akan lebih termotivasi untuk menyelesaikan resolusi yang kita buat. Atau kita juga bisa meminta bantuan profesional seperti psikolog. Jangan takut berkonsultasi ke psikolog. Mereka nggak cuma membantu orang-orang yang memiliki masalah kesehatan mental kok. Justru psikolog bisa membantu kita menyusun strategi untuk mencapai tujuan kita.

Nah dengan mempraktikkan 7 cara tersebut, InsyaAllah resolusi tahun baru kita nggak cuma angan-angan semu di awal tahun ya.

Resolusi 2019 Ala Saya

Saya sendiri akhirnya memutuskan nggak bikin resolusi yang benar-benar baru untuk tahun depan. Sekadar memperbaiki indikator ibu profesional serta misi hidup dan produktivitas yang saya buat untuk Nice Homework #2 dan #8 program matrikulasi Ibu Profesional. Karena menurut saya itu sudah mencakup tujuan utama saya, yaitu menjadi pribadi, istri dan ibu yang sehat, bahagia, produktif dan bermanfaat bagi keluarga.

resolusi tahun baru

 

Untuk tahun 2019 ini, prioritas utama saya adalah mendampingi anak-anak belajar karena si kakak akan menjalani PSR (Peperiksaan Sekolah Rendah) di akhir tahun 2019. Sementara adik tahun ini masuk Primary School di usianya yang masih terlalu muda sebenarnya. Sehingga mereka pasti memerlukan kehadiran saya lebih intens lagi.

Selain itu saya juga ingin fokus meningkatkan ketrampilan saya di bidang blogging sehingga bisa menjadi blogger profesional. Dalam arti bisa mendapatkan penghasilan secara rutin lagi dari menulis blog dan konten yang beberapa tahun ini saya tinggalkan.

But once again, meski tradisinya resolusi ini dibuat di akhir tahun untuk dilaksanakan sepanjang tahun depan, saya nggak ngoyo untuk memulai semua ini serentak di hari pertama bulan Januari 2019. Euforia tahun baru yang bertepatan dengan hari pertama anak masuk sekolah di tahun ajaran baru bisa membuat saya hilang fokus. Ya, meskipun saya nggak merayakan tahun baru, sudah nggak kuat euy begadang demi nungguin detik-detik pergantian tahun. Bagi saya pribadi, akan lebih baik kalau kita memilih hari di mana kita cukup istirahat, semangat dan dikelilingi oleh orang-orang yang positif sebagai titik awal pelaksanaan resolusi.

Untuk itu saya memilih untuk mengerjakan satu per satu dalam periode waktu tertentu. Seperti yang saya tulis di atas, one step at a time, start small.

Mohon doanya supaya saya bisa konsisten melaksanakan resolusi tahun baru saya ini, ya. Kalau resolusi teman-teman-teman untuk tahun 2019 apa aja nih?

 

5 Hal Yang Perlu Diperhatikan Blogger Tentang Membuat Vlog

lemari pojok, blog lemari pojok, lemaripojok.com, retno kusumawardani, blogger perempuan, arisan link, youtuber, blogger

Jadi blogger itu harus mau mengembangkan diri ya, supaya bisa bertahan di tengah ramainya dunia blog sekarang ini. Selain kualitas tulisan yang baik (baca: enak dibaca), blogger sekarang juga dituntut untuk bisa membuat infografis dan menyajikan foto-foto yang jernih sebagai pendukung artikel-artikelnya di blog. Apalagi yang suka ikut lomba blog, dua hal itu tentu bisa jadi nilai tambah di mata juri ya.

Tapi beberapa blogger merasa belum cukup puas dengan menyajikan tulisan yang baik lengkap dengan infografis dan foto, sehingga mereka merambah ke video blog atau yang lebih dikenal dengan istilah vlog. Vlog ini biasanya digunakan blogger untuk memberikan info yang lebih jelas kepada pembacanya tentang apa yang mereka tulis, khususnya tulisan untuk launching produk, resensi dan tutorial kosmetik sampai review tempat wisata.

Video-video yang diunggah di YouTube dan disematkan di tulisan pada blog ini juga bisa dimonetize lho, sehingga blogger dapat memperoleh penghasilan tambahan dari video yang dilihat oleh pembaca blognya. Selain itu vlog juga dapat mendukung branding kita sebagai blogger, meningkatkan traffic blog serta menambah subscriber atau follower blog. Menarik ya. Hal inilah yang dilakukan oleh Retno Kusumawardani, blogger Malang yang aktif menulis di blog http://www.lemaripojok.com.

Berawal dari sekadar iseng, Retno membuat akun di YouTube untuk menyimpan video-video dari akun Smule-nya. Kemudian ibu dari Atha, Ai dan Aksa ini mengunggah video untuk diikutsertakan ke Giveaway yang diadakan oleh Pakde Cholik, pemilik blog www.abdulcholik.com. Sejak itu, Retno mulai rajin mengunggah video di YouTube untuk kemudian disematkan ke artikel blognya seperti review Redwin Sorbolene Moisturizer dan Romantisnya Westlake Resort Jogja. Selain itu ada beberapa video menarik yang diunggah Retno tapi sayangnya nggak ditulis di blog, padahal sudah ditonton sebanyak lebih dari 2000 kali di YouTube, yaitu tutorial membuat pigura dari kertas ala mas Atha.

Tanpa video pun, blog Lemari Pojok sudah cukup menarik. Berkategori lifestyle yang fokus pada review dan parenting, tulisan Retno menarik untuk dibaca. Tema blognya pun enak dilihat dan cukup mudah untuk mencari artikel yang kita inginkan karena label tiap tulisan tersusun rapi di sisi kanan blog. Yang paling saya suka dari blog Lemari Pojok ini adalah blogpost berlabel beauty. Mungkin karena bukan beauty bloher, semua yang ditulis Retno mudah saya pahami sebagai emak-emak yang awam di dunia skin care dan kosmetik. Semua informasi yang saya butuhkan tersaji di situ.

Artikel yang memiliki banyak viewer di blog lemaripojok nggak jauh-jauh dari tempat wisata dan multivitamin untuk anak. Khas blog bertema parenting ya. Tapi yang nggak kalah menarik adalah artikel-artikel yang berisi resep masakan dengan label camilan, mulai dari yang sulit (bagi saya) seperti roti sampai tahu aci favorit saya. Duh, bikin pengen langsung main ke Malang dan minta dibikinin gitu hahaha. Coba deh aneka resep ini dibikin video sederrhana langkah-langkah masaknya trus diupload ke YouTube mungkin akan semakin banyak pembaca tulisan itu ya.

retno kusumawardani, blogger, youtuber, blogger perempuan, arisan link, lemaripojok.com, lemari pojok, blog lemari pojok

Menurut Retno, bikin vlog itu susah susah gampang, apalagi untuk ibu-ibu sok rempong macam kami. Mengatur mood dan waktu untuk ngeblog aja sudah ngos-ngosan apalagi harus ditambah dengan vlog yang memang cukup menyita waktu. Tapi bagi teman-teman pembaca Pojok Mungil yang ingin merambah dunia vlogging, beberapa tips yang berhasil saya kumpulkan dari beberapa sumber ini mungkin bisa dipraktikkan. Yuk belajar sama-sama:

lemari pojok, blog lemari pojok, lemaripojok.com, retno kusumawardani, blogger perempuan, arisan link, youtuber, blogger

5 Hal yang Harus Diperhatikan Blogger Tentang Membuat Vlog.

  1. Tujuan Lo Apa?

Seperti menentukan kategori blog, kita juga harus punya tujuan saat akan membuat kanal YouTube. Tentunya yang mendukung konten blog kita ya. Misalnya sebagai beauty blogger, kita khususkan vlog kita pada review kosmetik, skin care dan tutorial make up. Food blogger bisa mengunggah resep-resep yang ia praktikkan atau tempat makan yang dicoba. Atau emak-emak blogger parenting kaya saya dan Retno misalnya bisa mengisi vlognya dengan tutorial bikin mainan anak atau ya review buku bacaan untuk anak, tempat wisata dan event khusus di sekolah anak. Yang penting vlog ini harus bermanfaat bagi blog kita. Kalau enggak rugi lho, secara bikin vlog itu melelahkan hehehe.

  1. Maksimalkan Penggunaan Gadget Kita

Punya mirrorless atau kamera DSLR yang memiliki fungsi merekam video tentu jadi nilai plus karena video yang dihasilkan pasti akan bagus. Tapi ada istilah it’s the man behind the gun. Jadi jangan kecil hati kalau nggak punya gadget canggih. Ponsel jaman sekarang pun dilengkapi dengan fitur video, dan itu bisa kita manfaatkan untuk bikin vlog. Untuk mendapatkan video yang baik pelajari juga teknik lighting dan cara-cara merekam video dengan ponsel. Banyak tutorialnya di YouTube maupun webinar yang bisa kita ikuti.

  1. Belajar Basic Video Editing

Bikin vlog yang bagus nggak cuma rekam trus unggah ke YouTube. Coba deh lihat video-video di YouTube yang kita suka dan betah ngeliatnya, pasti kualitasnya bagus dan sudah diedit dengan baik. Mengedit video sebenarnya paling bagus pakai laptop dengan aplikasi seperti iMovie, Windows Movie Maker atau Final Cut Pro X dan Adobe Premier yang hampir semuanya berbayar. Tapi kita juga bisa menggunakan aplikasi di ponsel seperti iMovie dan Viva Video, tentunya kalau beli edisi premium bisa lebih bagus pilihan editingnya. Kalau mau yang gratis, langsung aja pakai YouTube editor.

  1. Tulis Blogpost yang Bisa Memuat Video Kita atau Sebaliknya, Buat Video yang Mendukung Blogpost Kita.

Kalau tujuan kita membuat video di YouTube untuk meningkatkan view blogpost, jangan lupa tuliskan link artikel kita di deskripsi video, begitu juga dengan link semua media sosial kita. Sebaliknya jangan lupa ajak pembaca blog kita untuk subscribe dan like video kita untuk meningkatkan viewer kanal YouTube. Seperti video Retno tentang membuat pigura dari bubur kertas itu kalau dibuat blogpost dan linknya dicantumkan di deskripsi video tentu akan membuat penonton vlog mengunjungi blognya dan meningkatkan trafficnya.

  1. Konsisten

Kalau ini PR banget nggak sih? Jangankan bikin vlog, ngeblog aja masih moody hihihi. Tapi percaya deh blogger yang konsisten menulis di blog tentu akan punya pembaca setia, begitupun vlog. Menurut blogger/vlogger yang sudah profesional, minimal 1 bulan sekali deh kita bikin vlog untuk disematkan ke blogpost kita. Semakin sering bikin vlog, semakin mudah juga katanya. Dari yang tadinya bingung mau ngomong apa jadi lebih terbiasa dan nggak gagap lagi. Yang awalnya videonya ala kadarnya jadi lebih semangat untuk belajar editing supaya lebih menarik dan enak dilihat. Jadi nggak boleh ada kata malas ya! Practice makes perfect! *ngomong sama kaca*

 

 

Menjadi Penulis Konten Plus Ala Rahayu Pawitri

rahayu pawitri, blogger perempuan, lifestyle blogger, content writer, penulis konten, arisan link

Kenapa sih blog pojokmungil sering membahas tentang content writer?

Padahal yang punya blog juga nggak jago-jago amat nulis kontennya.

Ya, karena kebanyakan blogger selain memonetize blognya, juga mengembangkan keahlian menulisnya dengan menulis untuk konten web lain. Seperti teman-teman blogger saya di grup V arisan link Blogger Perempuan. Salah satunya adalah pemilik blog http://rahayupawitriblog.com.

Wiwit, panggilan kesayangan kami untuk ibu satu anak ini, memiliki blog berniche lifestyle. Namun, ibu satu ini nggak berpuas diri hanya dengan menjadi seorang blogger. Berawal dari kesukaannya menulis dan belajar hal baru, Wiwit pun mengembangkan dirinya menjadi content writer dan transalator. Bukan hal yang istimewa mungkin, karena sekarang banyak sekali content writer di Indonesia. Namun, Wiwit nggak mau jadi content writer biasa. Ia bertekad untuk menjadi content writer plus plus alias penulis konten yang juga menguasai banyak hal untuk menunjang profesinya tersebut.

rahayu pawitri, blogger perempuan, lifestyle blogger, content writer, penulis konten, arisan link

Apa saja sih yang diperlukan untuk menjadi penulis konten paket lengkap? Ini dia yang dimiliki oleh ibu dari Hana ini:

  1. Mampu Menulis dengan Baik

Menulis dengan baik itu nggak mudah. Selain harus menguasai EYD, penulis konten juga harus dapat merangkai tulisannya supaya menarik perhatian dan mempersuasi pembaca. Hal ini bisa kita temui di artikel-artikel dalam blog rahayupawitriblog.com. Tulisan yang padat dan langsung mengena pada intinya membuat kita mudah memahami maksud yang hendak beliau sampaikan. Maklum sih, Wiwit berpengalaman menulis untuk web parenting The Asian Parent Indonesia.

  1. Menguasai SEO

Menulis dengan baik saja ternyata belum cukup bagi seorang penulis konten. Ia pun harus mampu menghubungkan aneka kata kunci atau keyword pada tulisannya agar mudah dikenali oleh mesin pencari sehingga tulisan mereka selalu berada di halaman pertama search engine. Hal ini biasanya kita kenal dengan istilah SEO (Search Engine Optimation) atau proses peningkatan visibilitas sebuah website di mesin pencari. Kalau saya masih tertatih-tatih mempelajari hal ini, berbeda dengan Wiwit yang sudah terlatih menggunakan pakem-pakem SEO yang ia pelajari saat menjadi penulis untuk The Asian Parent Indonesia.

  1. Menguasai Bahasa Inggris atau Bahasa Asing Lain

Menguasai bahasa asing tentu menjadi nilai plus bagi penulis konten, apalagi kalau kita memang berniat mengembangkan sayap ke dunia digital international. Meskipun kemampuan bahasa Inggrisnya sudah cukup baik yang dibuktikan dengan pekerjaannya sebagai translator, Wiwit tetap berusaha mengasahnya dengan mengikuti kursus bahasa Inggris secara online dengan memanfaatkan teknologi Whatsapp.

  1. Mengerti Seluk Beluk Website

Apalah istimewaanya seorang blogger dan penulis konten kalau hanya bisa menulis. Selain harus dapat membuat infografis atau menyuguhkan foto-foto yang menarik sebagai penunjang tulisannya, penulis konten sebaiknya juga memahami tentang seluk beluk website agar web yang ia kelola menarik bagi pembacanya.

  1. Memahami Seluk Beluk Digital Marketing

Seorang penulis konten sebaiknya juga memahami seluk beluk digital marketing agar tulisannya menarik calon pembeli. Salah satunya adalah dengan menjaga kualitas dan kuantitas artikel supaya mendapatkan traffic dari search engine. Hal ini tengah dipelajari oleh Wiwit yang sedang sibuk memasarkan training online dari Indscript.

rahayu pawitri, blogger perempuan, lifestyle blogger, content writer, penulis konten, arisan link

Duh, artikel kali ini banyak istilah teknis ya? Kalau ingin mempelajari lebih banyak tentang dunia penulisan konten dan digital marketing atau pengen tahu tentang suka duka penulis konten freelance,  langsung aja kepoin blognya Rahayu atau main-main ke blogging cornernya. Di sana banyak sekali artikel bermanfaat tentang dunia blogging yang bisa kita pelajari.

7 Kategori Menarik di Blog Ria The Chocolicious

ria tumimomor, ria the chocolicious, arisan link, blogger perempuan, lifestyle blog

Setiap membuat resensi blog dari teman-teman grup 5 Arisan Link Blog Perempuan, hal pertama yang saya lakukan adalah membuka satu per satu kategori dalam blog tersebut, memindai secara cepat tulisan-tulisan yang kiranya menarik, lantas mencari hal unik yang menjadi keistimewaan blog atau si empunya blog. Tapi, untuk kali ini saya kesulitan melakukannya. Bukan karena blog tersebut tidak bagus, justru karena hampir semua kategori di dalamnya sangat menarik untuk dijelajahi.

Yup, blog gado-gado yang lebih dikenal dengan istilah lifestyle blog milik Ria Tumimomor memang memiliki konten yang menarik bagi saya. Mulai dari kategori foto, review, culinary, fashion, travel, life dan interview layak untuk dijelajahi satu per satu karena isi masing-masing kategori berbeda. Nggak kaya punya *ehm* saya yang satu tulisan bisa masuk dalam beberapa kategori hehehe. Apa saja sih? Yuk, kita bahas satu persatu kategori di blog Ria The Chocolicious.

ria tumimomor, ria the chocolicious, arisan link, blogger perempuan, lifestyle blog

FOTO

Di kategori ini, Ria menulis tentang pengalaman dan pengetahuannya di bidang fotografi. Mulai dari tips foto yang keren sampai photography preference yang terbagi dalam 3 tulisan. Semuanya bagus dan bikin pengetahuan saya bertambah saat membacanya.

REVIEW

Di sinilah, Ria meletakkan semua resensinya mulai dari film, aplikasi telepon pintar sampai blog teman-teman dari grup 5 Arisan Link Blogger Perempuan. Dengan gaya tulisan yang to the point, artikel-artikel tersebut nggak membosankan untuk dibaca dan membuat saya ingin mencoba benda-benda yang diresensikan.

CULINARY

Pernah nggak sih pengen makan di suatu restoran tapi takut apakah makanannya halal atau enggak. Kalau di Brunei selama restoran tersebut nggak memasang plang warna merah bertuliskan Bukan Tempat Makan Orang Muslim, biasanya sudah memiliki sertifikat halal. Bahkan di foodcourt sisi penjual makanan halal dan non halal dibedakan. Jadi ya, santai aja.

Hal berbeda terjadi saat saya mudik ke Indonesia. Banyak tempat makan yang memang mengakomodasi kepentingan orang-orang yang tidak keberatan dengan halal tidaknya makanan tersebut. Sehingga harus benar-benar hati-hati dalam memilih atau bertanya langsung kepada pelayan restoran apakah kami bisa makan di tempat tersebut.

Nah, di blog Ria The Chocolicious, saya menemukan beberapa restoran yang menyajikan masakan non halal. Tentu ini sangat bermanfaat bagi pembacanya. Baik yang non muslim maupun muslim. Karena ternyata setelah saya membaca tulisan di kategori tersebut, teman-teman non muslim pun nggak jarang kesulitan mencari menu masakan tertentu di sebuah restoran. Dan aneka tempat makan yang diresensi Ria membuat kami mudah memutuskan untuk makan atau tidak makan di tempat tersebut tanpa ragu lagi.

FASHION

Setelah punya anak 2 dan berat badan bertambah 10kg sejak menikah 10 tahun yang lalu, saya menjadi buta fashion. Memilih mode baju pun rasanya serba salah. Pakai kaos dan jeans kok ya rasanya udah nggak sesuai umur, pakai gamis dan khimar kok kaya mau ke pengajian, pakai blouse dan celana model tertentu kok keliatan gemuk banget. Makanya saya jarang mau difoto seluruh badan sendirian. Nggak pede, cyyyn.

Tapi, artikel-artikel di kategori fashion blog Ria The Chocolicious membuat saya percaya bahwa apapun bentuk tubuh dan usia kita, akan selalu ada style yang cocok dan membuat kita tampil lebih menarik dan percaya diri. Minimal nggak malu-maluin kalau jalan bareng suami dan anak-anak di akhir pekan.

TRAVEL

Di sinilah Ria menuliskan kisah perjalanan di kota-kota yang ia kunjungi. Selain cara penulisan yang apik dan runut, tulisan tentang travel ini juga dilengkapi oleh foto-foto yang berkualitas bagus. Seolah-olah kita ikut berjalan-jalan bersama si pemilik blog ke tempat tersebut.

LIFE

Temukan segala yang berhubungan dengan pendapat Ria tentang isu yang sedang hangat saat ini atau tips mengurus administrasi yang diperlukan saat orangtua kita meninggal seperti penutupan rekening, pembuatan akta kematian, IPTM. Bagi saya itu penting untuk diketahui karena tahu sendiri kan ya, birokrasi di layanan kependudukan Indonesia masih agak ribet. Serius lho, untuk pindah KK aja dari Tuban saya diminta untuk ngasih foto, akta kelahiran, surat nikah dan dokumen lain yang sudah diminta kelurahan saat kami mendaftarkan diri sebagai penduduk kota Tuban. Coba, buat apa punya dokumen dobel-dobel gitu? Ribet banget kan? *curcol detected*

INTERVIEW

This one is really interesting. Biasanya kita hanya mengetahui sebuah akun media sosial, start up, brand fashion, buku tanpa tahu siapa yang ada di baliknya. Nah, di kategori ini kita bisa mengulik orang-orang tersebut dan mengenalnya lebih dalam. Belum banyak sih tapi seru. I really love to read about people, how they start somehing and how they could inspire others. Jarang-jarang ada blog yang menulis tentang ini apalagi dalam format tanya jawab, ini membantu sekali untuk saya yang susah fokus membaca tulisan panjang kali lebar dalam satu kali duduk. So, this category is my favorite.

Oya, untuk bisa membaca tulisan-tulisan tersebut dengan mudah, Ria meletakkan labelnya di bagian atas blog yang dapat terbaca begitu kita membuka halaman depan. Nggak cuma itu, bahkan blog ini punya aplikasinya sendiri lho. Pemilik gadget keluaran Apple bisa mengunduh aplikasi blog Ria The Chocolicious secara gratis via AppStore. Keren kan. Langsung aja main ke http://riatumimomor.com.

ria tumimomor, ria the chocolicious, arisan link, blogger perempuan, lifestyle blog