Persiapkan 5 Hal Ini Saat Anak Mengikuti Audisi Ajang Pencarian Bakat

ajang pencarian bakat anak

Ajang pencarian bakat, khususnya singing competition sekarang banyak bermunculan di Indonesia. Yang awalnya hanya ditujukan untuk dewasa pun lama-lama berkembang ke anak-anak. Seingat saya ajang pencarian bakat anak tingkat nasional yang pertama kali populer adalah Mamamia Show yang disiarkan oleh Indosiar pada tahun 2007. Acara ini cukup sukses pada waktu itu dengan menangnya Mytha Lestari di season pertama. Kalau nggak salah pemain sinetron Kiki Farrel juga pernah menjadi finalis ajang pencarian bakat ini.

Kesuksesan Indosiar dengan Mamamia Show membuat RCTI mengikuti jejaknya dengan mengadakan variety show Idola Cilik di tahun 2008. Pada tahun 2014, Indonesian Idol Junior mulai diadakan, disusul dengan The Voice Kids di tahun 2016. Di setiap seasonnya, acara-acara ini mendapat peminat yang besar sekali, baik dari sisi peserta maupun dari sisi penonton. Banyak anak dengan bakat bernyanyi istimewa yang kemudian mencoba keberuntungannya mengikuti ajang ini. Termasuk anak saya.

hotel batiqa surabaya

Well sebenarnya sebelum kembali ke Indonesia akhir tahun lalu, anak saya tidak tahu sama sekali tentang ajang pencarian bakat seperti ini. Maklumlah, kami hampir nggak pernah nonton siaran tv Indonesia saat di Brunei dulu. Dan acara variety show seperti ini bukan jenis tontonan keluarga kami. Secara anak-anak lebih suka nonton serial animasi di saluran Disney dan suami lebih memilih nonton berita atau film. Sedangkan saya yang lebih sering nggak kebagian jatah nonton tv lebih suka baca buku atau nonton film-film di Netflix lewat gawai.

Cinta dan Hobi Menyanyi

Tapi memang si kakak ini suka bernyanyi dan suaranya lumayan bagus. Di sekolah lamanya dia pernah menjuarai kompetisi bernyanyi untuk kategori Senior (kelas 4-6 SD) dan mengikuti ekstra kurikuler paduan suara. Waktu wisuda kelulusan Primary School kemarin juga dia menjadi lead vocal paduan suara kelasnya. Jadi ya dia cukup percaya diri dengan kemampuan bernyanyinya walaupun belum pernah ikut les vokal.

Sayangnya, sekolahnya sekarang nggak punya ekstra kurikuler nyanyi atau paduan suara sehingga dia nggak bisa menyalurkan hobi bernyanyinya. Tapi sepertinya sih dia tetap suka nyanyi di manapun berada karena teman sekelasnya tiba-tiba mengajaknya ikut open auditions salah satu ajang pencarian bakat edisi Surabaya awal bulan Februari 2020 lalu.

Saya mengizinkan dia ikut tanpa persiapan yang matang karena kami tahu tentang audisi ini hanya 7 hari dari hari H. Dalam 1 minggu itu pun, kami memiliki kesibukan lain yang cukup menyita waktu sehingga nggak sempat berlatih atau mencari tahu apa saja yang akan kami hadapi di sana. Saya hanya memberi gambaran sekilas kepada anak gadis bahwa saat audisi nanti dia akan bernyanyi di sebuah ruangan tertutup di depan seorang juri. Juga tentang banyaknya anak yang akan mengikuti acara tersebut dan proses audisi yang biasanya berlangsung berjam-jam.

The Open Auditions Day Ajang Pencarian Bakat

Pada hari H kami berdua bersama adik ipar dan adik sepupu saya berangkat ke Batiqa Hotel Surabaya, tempat audisi berlangsung. Kami sengaja berangkat lebih pagi dari Sidoarjo dengan harapan sebelum pukul 9 pagi sudah sampai sana sehingga anak saya bisa dapat antrian awal.

Sistem Antrian yang Kurang Teratur

Ternyata perkiraan kami meleset, saat sampai di Batiqa Hotel sudah banyak sekali anak dan orang tua yang berkumpul di sana. Padahal masih 30 menit sebelum audisi dimulai. Dan anehnya tidak ada nomer antrian atau jalur khusus antrian peserta, sehingga semua anak dan orang tua bergerombol tanpa tahu siapa saja yang datang pertama kali. Akibatnya, ketika panitia membuka kesempatan peserta untuk duduk di kursi-kursi yang sudah disediakan, semua berebut. Nggak peduli mereka datang lebih awal atau datang belakangan. Siapa cepat, dia dapat kursi. Sisanya ya kembali bergerombol menunggu kursi-kursi tersebut kosong.

open audisi ajang pencarian bakat anak
kerumunan peserta dan orang tua dalam antrian yang tidak teratur

Setelah hampir 1 jam berdiri, sementara peserta yang sudah dapat kursi belum ada yang dipanggil masuk ke dalam ruangan, anak saya mulai stres. Dia menangis sambil bilang mau menyerah saja dan minta pulang. Walaupun saya bujuk untuk bertahan sebentar lagi dia tetap pada pendiriannya untuk mundur dari audisi. Saya pun menuruti permintaannya dan membawanya keluar dari kerumunan peserta dan orang tua menuju ke pelataran parkir hotel.

Di tempat parkir, anak saya Cinta bertemu dengan teman sekolahnya yang mengajaknya ikut audisi dan seorang teman yang lain. Melihat Cinta menangis, si teman (sebut saja Gio dan Nur) menenangkan dan memberinya semangat.

“Kalau mau ikut audisi ya harus semangat. Nggak boleh putus asa”, kata mereka.

“Ayo, nunggu sama aku aja. Jangan pulang”, ujar kedua anak itu meyakinkan Cinta untuk tetap bertahan.

Akhirnya, kami pun kembali ke tempat antrian. Kali ini antrian sudah mulai mengular, tidak lagi bergerombol tapi tetap saja ada yang baru datang langsung ke bagian depan antrian. Sementara panitia hanya berjaga di meja pendaftaran dan sekitar kursi-kursi peserta, tanpa memedulikan peserta yang bergerombol nggak jelas ini.

Sistem Antrian Akhirnya Dibenahi

Situasi ini bertahan sampai hampir pukul 12 siang. Jadi nyaris 3 jam anak-anak itu berdiri tanpa antrian yang jelas. Beberapa kali antrian merangsek sampai ke area kursi peserta lalu oleh panitia disuruh mundur lagi sambil mereka memasang pita pembatas. Sementara para orang tua mulai resah melihat ada peserta-peserta yang baru datang bisa langsung menerobos pita pembatas dan menuju meja pendaftaran.

antrian audisi the voice kids surabaya
Setelah hampir 3 jam berdiri dalam kerumunan nggak jelas akhirnya Cinta duduk dalam barisan yang teratur, diberi formulir pendaftaran dan nomer antrian.

Mungkin karena banyak orang tua yang protes ke media sosial penyelenggara open audition atau komplain langsung ke panitia, akhirnya jam 11.40 antrian baru ditertibkan. Saat itu orang tua diminta untuk keluar dari antrian dan anak-anak diatur menjadi 5 barisan. Setelah itu mereka disuruh duduk dalam barisan dan dibagi formulir pendaftaran dan nomer antrian. Bayangkan betapa leganya saya melihat Cinta dan teman-temannya akhirnya diperlakukan lebih manusiawi setelah hampir 3 jam berdiri.

Harapan Terhadap Penyelenggara Audisi Ajang Pencarian Bakat

Seusai anak-anak mendapat nomer antrian, proses audisi berjalan lebih tertib dan nyaman untuk mereka. Saya pun beranjak ke sebuah kafe kecil di depan hotel untuk meredakan ketegangan bersama adik-adik saya dengan memesan makan siang dan es kopi.

Di kafe tersebut, kami satu ruangan dengan orang tua lain yang anaknya juga mengikuti audisi. Dan semua sepakat menganggap penyelenggara kali ini nampak tidak profesional mengingat event ini adalah untuk anak-anak dan levelnya nasional tapi sistemnya semrawut nggak karuan. Harapan saya sih ini menjadi pelajaran untuk para penyelenggara audisi sejenis ya. Sebaiknya diberi jalur khusus peserta atau sejak awal langsung diberi nomer antrian berdasarkan siapa yang datang duluan, Jadi benar-benar first come first in untuk menghargai peserta yang sudah berusaha hadir lebih pagi serta menjadikan antrian lebih rapi dan teratur.

tim suporter audisi
Tim Suporter Audisi Kakak Cinta

Peserta Fast Track Ajang Pencarian Bakat

Dari para pengantar lain saya tahu bahwa kebanyakan peserta audisi sudah sering mengikuti ajang lomba menyanyi di Surabaya dan sekitarnya. Beberapa di antaranya malah sudah profesional dan berlatih dengan lebih dari 1 pelatih vokal. Wow!

Adik-adik saya yang tadinya menunggu di kafe hotel juga bercerita bahwa banyak yang sengaja menginap di hotel supaya bisa antri sejak Subuh demi audisi ini. Tapi yang paling menarik adalah cerita tentang peserta dari jalur Fast Track. Mereka-mereka inilah yang kami lihat bisa langsung menuju meja pendaftaran tanpa harus ikut mengantri. Mereka-mereka ini juga yang membuat antrian di luar ruangan lambat majunya karena mereka bisa duluan diaudisi tanpa harus menunggu giliran. Wow lagi!

Jadi peserta fast track ini adalah peserta yang mendapat undangan khusus untuk mengikuti open audition ini. Untuk mendapatkan undangan ini, menurut salah satu peserta fast track, mereka menghubungi salah satu contact person open audition dan memberikan portofolio prestasi mereka sebagai penyanyi cilik. Portofolio ini bisa berupa link sosial media atau youtube yang berisi penampilan mereka bernyanyi. Jika penyelenggara menganggap mereka cukup bagus dari penampilan di sosial media atau youtube tersebut, mereka akan mendapatkan undangan untuk bisa audisi tanpa antri. Gitu.

Setelah mendengar pengalaman dan cerita dari para orang tua lain, saya pun menarik beberapa pelajaran yang saya ambil dalam pengalaman hari itu. Dan salah satunya adalah hal-hal yang perlu dipersiapkan saat anak mengikuti audisi ajang pencarian bakat seperti ini. Apa saja?

Persiapkan 5 Hal Ini Saat Anak Mengikuti Audisi Ajang Pencarian Bakat

ajang pencarian bakat anak

1. Portofolio

Kalau kita tahu anak kita punya bakat khusus seperti bernyanyi, melukis, olahraga, dsb. Dokumentasikan setiap aktivitas mereka yang berkaitan dengan bakat tersebut, terutama saat mereka mengikuti lomba. Menang kalah nggak jadi masalah. Bagaimana kalau anak nggak pernah ikut lomba menyanyi? Buatlah video cover. Lalu unggah ke satu akun sosial media khusus atau channel Youtube. Jika beruntung, portofolio ini bisa menjadi jalan khusus ketika anak ikut open audisi. Walaupun tidak menjamin kemenangannya tapi setidaknya bisa audisi tanpa harus menunggu giliran selama 9 jam, ya kan.

2. Persiapkan Materi yang Ingin Ditunjukkan Dengan Baik

Untuk ajang lomba nyanyi seperti yang diikuti Cinta ini, alangkah baiknya anak sudah mempersiapkan dirinya terlebih dahulu dengan cara berlatih dan menghafalkan lagu-lagu favoritnya. Baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris.

3. Persiapkan Mental dan Fisik Anak

Ini yang paling penting sih. Kesalahan saya adalah menganggap acara ini seperti lomba-lomba menyanyi anak-anak level sekolahan atau ya tingkat kota kecil yang pesertanya tidak terlalu banyak dan sudah dipersiapkan dengan baik oleh panitia sesuai dengan kondisi anak-anak. Sehingga ketika mendapati kenyataannya tidak seperti harapan kami, Cinta pun kaget. Dia tidak siap mental.

peserta audisi ajang pencarian bakat
peserta audisi seperti ini bisa sampai 300 orang.

Jadi sebaiknya cari tahu lebih dulu bagaimana sistem audisi yang akan diikuti. Hubungi sosial media atau contact person penyelenggara acara tersebut. Tanyakan bagaimana sistem antriannya, apa saja proses yang harus dijalani anak-anak selama audisi, apakah orang tua bisa mendampingi, dan lain sebagainya. Pokoknya tanya dengan jelas. Dan sampaikan kepada anak kemungkinan-kemungkinan terburuk agar ia siap mental.

Siapkan juga mental anak untuk kalah. Sebagai orang tua, kita memang harus memberi support kepada anak untuk melakukan usaha yang terbaik agar dapat mencapai hasil maksimal. Tapi, di setiap ajang kompetisi, anak-anak lain juga pasti akan berusaha sebaik mungkin. Jadi kemungkinan kalah itu selalu ada. Bukan karena anak tidak cukup bagus tapi karena ada yang lebih bagus dari dia.

Pastikan juga anak dalam keadaan sehat. Kemarin ada anak yang terpaksa bernyanyi dalam keadaan batuk sehingga gagal, padahal dia sudah antri berjam-jam. Kan kasihan ya. Anak yang kurang sehat juga nggak akan menikmati proses audisi yang panjang itu. Bahkan bisa jadi akan makin sakit. Jadi benar-benar jaga kondisi anak sebelum mengikuti audisi dengan cara memberi vitamin, olahraga yang cukup serta banyak minum dan istirahat.

4. Bawa Perlengkapan Pendukung

Kursi lipat kecil, kipas mini, air minum, baju ganti, pulpen, gadget atau buku menurut saya wajib sekali dibawa saat open audition seperti kemarin. Ketika antrian belum teratur kursi lipat kecil yang dibawa Gio dan Nurul dipakai bergantian oleh mereka dan Cinta sehingga nggak terlalu capek. Dan saat nggak kuat lagi berdiri, saya mengizinkan Cinta duduk di lantai sambil baca buku atau main gadget supaya moodnya tetap terjaga.

antrian audisi the voice kids surabaya
duduk di lantai sambil main gadget karena capek berdiri

Pastikan anak dalam keadaan kenyang sebelum berangkat audisi. Bawakan juga dia snack dan minuman serta minta dia untuk banyak minum air putih selama menunggu. Jika harus melewati jam makan siang, bawakan atau belikan makanan kesukaannya agar dia tetap mau makan. Sehingga tetap segar dan sehat sampai proses audisi selesai.

5. Waktu

Saat mengikuti audisi terbuka begini, kita harus mempersiapkan waktu setidaknya satu hari khusus. Kalau memungkinkan, menginaplah di dekat tempat audisi agar bisa sepagi mungkin antri. Namun jika tidak memungkinkan datanglah pada saat yang nyaman bagi anak. Hanya saja, semakin siang kita datang, semakin besar pula nomer antrian yang kita peroleh, sehingga bisa jadi semakin malam anak akan selesai audisi. Jadi persiapkan waktu dengan matang agar nyaman untuk anak dan pengantar.

Suporter Audisi
Cinta dan Opa yang khusus datang menemani audisi

Cinta sendiri selesai diaudisi pada pukul 5.30 sore, sesaat setelah adzan Maghrib Surabaya berkumandang, setelah 9 jam menunggu. Hasilnya sebenarnya sudah sesuai dugaan, yaitu dia gagal melanjutkan ke tahap selanjutnya. Bukan karena saya meragukan kemampuan anak saya ya. Hanya saja saya tahu bahwa ada banyak sekali anak yang lebih berbakat dan lebih berpengalaman ikut lomba semacam ini. Sehingga dari awal saya sudah menyiapkan mental Cinta untuk kalah.

Baca Juga: Berani Menang, Berani Juga Untuk Kalah

Dan saya bersyukur sekali Cinta bisa menghadapi dengan dewasa. Bahkan dia memuji juri yang menurutnya sangat baik.

She’s so nice. First she asked if I want her to talk to me in English or in Bahasa which of course I choose English. She’s even said sorry many times that she can’t pass me to the next step. I like her“.

Kata Cinta menurut juri dia punya bakat tapi dia bernyanyi terlalu pelan seolah-olah hanya bernyanyi untuk dirinya sendiri. Ini yang menyebabkan Cinta gagal. Untuk itu dia diminta berlatih vokal dengan pelatih profesional dan mencoba lagi tahun depan.

Hmmm… Apakah kami akan kembali lagi tahun depan? Entahlah. Kalaupun iya, sepertinya harus mulai ikut les vokal, lomba nyanyi dan bikin portofolio nih.

Adakah yang anak atau keponakannya suka mengikuti ajang Idol seperti ini atau lomba adu bakat lainnya? Share yuk di kolom komentar persiapan apa saja yang dilakukan.

 

 

 

 

Istiadat Perarakan 50 Tahun Sultan Brunei Bertahta

Hari Kamis, 5 Oktober 2017, rakyat Brunei merayakan salah satu hari yang kelak akan tercatat dalam sebuah sejarah negara ini. Di hari itu, raja tercinta rakyat Brunei, Kebawah Duli Yang Mulia Paduka Seri Baginda Sultan Haji Hassanal Bolkiah Mu’izzadi Waddaulah ibni almarhum Sultan Haji Omar ‘Ali Saifuddien Sa’adul Khairi Waddien, genap 50 tahun bertahta sebagai Sultan dan Yang Di-Pertuan Negara Brunei Darussalam.

Tepat pada tanggal 5 Oktober 1967, Sultan Hassanal Bolkiah dinobatkan menjadi Sultan Brunei ke-69 setelah ayahandanya, almarhum Sultan Haji Omar ‘Ali Saifuddien Sa’adul Khairi Waddien turun tahta di tahun yang sama. Selama memimpin negara kecil yang kaya akan kandungan minyaknya ini, Sultan Hassanal Bolkiah sangat dicintai oleh rakyatnya. 

Kecintaan rakyat Brunei kepada pemimpinnya ini nampak dari antusiasme mereka dalam setiap perayaan hari kebangsaan, hari keputeraan (perayaan ulang tahun Sultan) dan terutama hari-hari bersejarah seperti peringatan jubli perak (25 tahun menaiki tahta).

Photo Credit: Borneo Bulletin

Perayaan Jubli Emas kemarin pun menjadi sejarah bagi rakyat Brunei. Diperkirakan hampir 60ribu penduduk Brunei memadati jalan-jalan di Bandar Seri Begawan yang dilewati oleh Usungan Diraja. Saya dan keluarga termasuk salah satu di antaranya.

Awalnya kami nggak terlalu antusias untuk pergi, karena seperti biasa tiap ada perayaan di Bandar pasti jalanan akan ditutup, sehingga macet dan susah cari parkir. Tapi, berhubung kakak Cinta terpilih sebagai salah satu dari 47 siswa di sekolahnya yang ikut sebagai pelambai bendera di Bandar, akhirnya kami memutuskan untuk ikut menyaksikan Istiadat Perarakan Mengelilingi Bandar Seri Begawan.

Photo Credit: CCMS Primary Seria

Dari rumah kami berangkat pukul 5.15 pagi, selepas sholat Subuh. Mengantar kakak ke meeting point dulu untuk naik bus bareng teman-teman sekolahnya ke Bandar. Setelah bus kakak dan rombongan berangkat, jam 6 pagi, saya, suami dan Keenan menyusul. Kami sampai di Bandar jam 7.30 pagi dan sudah banyak orang yang memadati jalan yang akan dilalui perarakan. Sempat keliling cukup lama dan kena macet sampai akhirnya kami dapat tempat parkir di atas trotoar :)) Itupun masih harus jalan kaki cukup jauh ke lokasi perarakan.

Pukul 8.30 kami sudah sampai di Yayasan dan cuaca mulai panas. Kami berusaha untuk jalan ke Istana Nurul Iman. Tapi baru 500 meter, Keenan yang belum sarapan mulai rewel, bekal air minum mulai menipis, saya kebelet pipis dan harus antri 15 menit untuk menggunakan toilet di Masjid Omar Ali Saifuddien. Rasanya sudah pengen pulang aja.

Setelah bertanya sama teman yang sudah menunggu di Bomba BSB, tempat start perarakan, kami memutuskan untuk jalan ke arah sana aja. Nggak jauh dari Yayasan, cuma 1,5 km dan 15 menit jalan kaki. Eh, sebelum sampai di sana alhamdulillah ketemu pedagang makanan dan minuman. Saya sempat berkomentar ke suami, “Ini kalau di Indonesia, trotoar sepanjang jalan ini pasti sudah dipenuhi aneka jualan makanan dan minuman nih. Nggak sampai kepayahan cari-cari seperti ini.” Tapi ada baiknya juga pedagang minuman dan makanan dilokalisasi seperti kemarin, sehingga trotoar benar-benar dimanfaatkan sebagai tempat berjalan dan berdiri. Bahkan akhirnya kami pun memutuskan untuk duduk di trotoar bersama rombongan dari Persatuan Masyarakat Indonesia di Brunei Darussalam (PERMAI) yang berdandan dengan cantiknya memakai baju adat dan sebagian ibu memakai seragam dari kain jumputan sementara bapak-bapak berseragam batik.

brunei darussalam, indonesia family in brunei darussalam, golden jubilee brunei darussalam, hmjubliemas

Setelah menunggu cukup lama. akhirnya perarakan pun dimulai. Orang-orang yang tadinya duduk di pinggir jalan langsung memadati separator jalan agar bisa melihat rombongan Sultan dari dekat. Awalnya saya sempat nggak dapat tempat saking penuhnya orang, nggak bisa juga ikut berdesakan karena saya menggendong Keenan. Sampai seorang bapak yang berdiri di separator memberikan tempatnya untuk saya, sementara beliau turun ke depan. Alhamdulillah dari tempat saya berdiri saya bisa melihat perarakan dan mengambil video dengan cukup jelas. 

Istiadat Perarakan Mengelilingi Bandar Seri Begawan itu dimulai dari Bandar Seri Begawan Fire and Rescue Station. Baginda Sultan dan rombongan tiba di Bomba mengendarai mobil yang disambut oleh sekitar 22ribu pelajar, termasuk Cinta di antaranya, yang melambaikan bendera Brunei di pinggir jalan sepanjang Istana Nurul Iman kediaman keluarga diraja sampai ke Bomba Bandar Seri Begawan. Dari Bomba, Sultan, Raja Isteri, Pengiran Muda Mahkota Pengiran Muda Al-Muhtadee Billah, Pengiran Anak Puteri Hajah Shaleha, Pengiran Muda Abdul Malik, Pengiran Muda Haji Abdul ‘Azim, Pengiran Muda Abdul ‘Mateen dan Pengiran Muda Abdul Wakeel menaiki Usungan Diraja atau Royal Chariot yang sehari-hari disimpan dalam musium Royal Regalia. Anggota keluarga diraja yang lain mengikuti perarakan dengan menggunakan koleksi mobil mewah mereka. Oya, Prince Edward, Earl of Wessex dan istrinya Sophie, Countess of Wessex juga mengikuti perarakan sebagai wakil undangan dari Kerajaan Inggris.

Leading the Royal Procession was the Grand Chamberlain followed by marching bands from the Royal Brunei Armed Forces and Royal Brunei Police Force.

Following closely behind was a special customised vehicle carrying a Changkah (huge two-pronged spear) and guarded by a Pateh and Damong, as well as 40 bearers of Sinipit (decorated spears) and Taming (decorated shields).

Walking ahead of the Royal Chariot were two Panglimas (decorated army officers): the Panglima Raja who carried a Pemuras (a large gun), and the Panglima Asgar who carried a Kalasak (shield) and a Kampilan (dagger). There were also 16 bearers of Pedang (swords) and Perisai (shields) as well as 16 bearers of the Tombok Benderangan (gold-plated spears). Also part of the Royal Procession was the Gendang Arak-Arakan, a vehicle which carried an ensemble of royal musical instruments.

-Borneo Bulletin, Thousands line up in capital to cheer Golden Jubilee Royal Procession, Oct 6, 2017-

Saking senangnya melihat Sultan secara langsung sampai rasanya terharu sekali. Ketika usungan diraja lewat tanpa menunggu rombongan yang lain selesai melintas, saya dan suami ikut berjalan cepat mengejar kereta beliau supaya Keenan bisa melihat usungan lebih dekat. Sepanjang jalan tersebut, saya nyaris menangis dan merinding melihat suka cita rakyat berseru, “Daulat Tuan Patik!” dan melantunkan asma Allah serta salawat mendoakan pemimpinnya. Masya Allah, begitu dicintainya raja satu ini oleh rakyatnya.

Yah, alhamdulillah, saya merasa beruntung sekali bisa menjadi bagian dari sejarah negara Brunei Darussalam. Once in a lifetime moment, karena nggak banyak pemimpin yang bisa memimpin sampai 50 tahun kan. Nggak sia-sia semua pengorbanan yang harus dilalui ‘hanya’ untuk bisa menyaksikan Istiadat Perarakan Mengelilingi Bandar Seri Begawan ini, termasuk kena macet hampir 1 jam untuk bisa keluar dari Bandar dan ngebut sepanjang lebuh raya supaya nggak terlalu telat menjemput kakak di meeting point-nya di Seria. 

Daulat Kebawah Duli Tuan Patik. Kekal Qarar Memerintah Di Atas Takhta.

Teacher’s Day

Sejujurnya dulu saya ragu mengirim Keenan ke sekolahnya yang sekarang ini, karena bagi saya terlalu serius dan kompetitif.

Cinta yang memang dasarnya mudah beradaptasi saja, dulu sempat mengalami masa-masa drama disuruh bikin PR dan belajar untuk ujian. Apalagi Keenan, yang waktu itu belum lancar bicara, susah konsentrasi dan jago kandang.

Jadi ketika Keenan disarankan untuk sekolah di usia 3 tahun, saya pilih sekolah lain yang menurut saya lebih ‘ringan’. But it turned out to be a mistake. A big one.

Akhirnya di tahun berikutnya, nggak pakai ragu, saya kembali ke sekolah ini. Meski sudah survey ke beberapa sekolah lain, hati saya sudah mantap di sini. Sekolah yang kami kenal sejak 5 tahun yang lalu saat baru pindah ke Brunei. 

Seperti umumnya anak baru masuk sekolah, minggu-minggu pertama terasa berat bagi Keenan. Terutama takut dengan gurunya. Maklum, guru-guru di sekolah ini terkenal dengan kedisiplinan dan cara mengajar yang agak keras. Bukan lembut macam sekolah taman kanak-kanan di Indonesia. Tapi bukan keras yang ngawur juga. Karena cara mengajarnya menyenangkan. Sehingga lambat laun sebagai salah satu murid termuda di kelasnya dengan keterbatasannya, he’s improving.

Anak yang tadinya bicara aja nggak jelas, sekarang bisa bicara 2 bahasa dan bisa mulai hafal huruf Cina. Dia jadi senang berhitung, berani ngomong sama gurunya, main sama teman-temannya, dan masih banyak lagi.

Yang penting, dia nggak lagi takut pergi ke sekolah. Nggak ada drama ngumpet di antara jok mobil sambil histeris bilang takut sama teacher. Memang masih sering nangis nggak mau sekolah, tapi menurut saya lebih karena dia pengen main di rumah aja. Bukan karena sekolah dan guru menakutkan baginya.

Nggak ada juga yang tiap hari mengeluhkan segala keburukan Keenan di hari itu tanpa sekalipun mengapresiasi pencapaiannya. Yang ada adalah guru-guru yang menyambut murid-muridnya dengan senyum meski sesekali menegur mereka dengan suara keras jika salah. Guru yang menunjukkan kemajuan Keenan sambil memberikan saran untuk memperbaiki kekurangannya.

Happy Teacher’s Day. Thank you for helping our children to grow.

Tentu masih banyak yang harus dikejar Keenan supaya tidak tertinggal terlalu jauh dengan teman-teman sekelas dan seangkatannya. But I don’t mind to running slow, following his pace. Sambil terus berusaha memotivasinya supaya lebih gigih berusaha, seperti yang dilakukan guru-gurunya.

Alhamdulillah, Allah kirimkan guru-guru yang sesuai dengan kebutuhan Keenan di sekolah ini. Terima kasih, Cikgu. Xie xie, Lao tse.

Selamat Hari Guru. Happy teacher’s day.

Mooncake Festival di CCMS

mooncake festival, chinese culture, live in brunei, chinese school, midautumn festival

Karena Cinta bersekolah di sekolah Cina, otomatis kita belajar mengenali budaya-budayanya. Minimal tradisi dan perayaan hari-hari istimewa yang dirayakan di sekolah. Salah satunya adalah mooncake festival yang diadakan di hari ke-15 bulan ke-8 menurut kalender Cina, yang tahun ini jatuh pada tanggal 15 September 2016. Oya, penanggalan Cina ini mengikuti sistem peredaran bulan lho, sama seperti kalender Hijriyah.

Kenapa perayaan yang juga dikenal dengan sebutan Mid Autumn Festival jatuh pada hari ke-15 bulan ke-8? Menurut beberapa sumber bulan ke-8 kalender Cina adalah bulan kedua musim gugur dan karena 1 musim terdiri dari 3 bulan, maka tanggal 15 bulan 8 tepat berada di pertengahan musim gugur. Pada tanggal ini juga biasanya bulan sudah penuh dan terang. Bahkan dipercaya sebagai bulan purnama yang paling terang dalam 1 tahun. Sehingga kesempatan ini juga dimanfaatkan untuk kumpul keluarga, makan bersama dan menikmati keindahan bulan serta kelezatan mooncake, kue tradisional masyarakat Cina. Pada saat yang sama, biasanya para petani juga mulai memasuki masa panen, sehingga festival ini juga bermaksud sebagai perayaan panen sekaligus mempersembahkan rasa syukur kepada Tuhan.

Selain mooncake, perayaan mid autumn identik pula dengan lampion. Pada jaman dulu, lampion digunakan oleh para perantau untuk menerangi jalan mereka yang mereka lalui saat mudik ke kampung halaman di pertengahan musim gugur ini. Konon lampion dipercaya untuk mengusir roh halus dan mencegah datangnya hal-hal buruk pada malam festival berlangsung. Sekarang, meski jalanan di mana-mana sudah terang dan orang-orang nggak perlu lagi jalan kaki untuk pulang ke kampung, tradisi lampion tetap dilestarikan. Bahkan semakin seru dengan aneka model lampion yang cantik. Waktu Cinta masih ikindergarten dulu malah ada lomba bikin lampion lho, terus diterbangkan ramai-ramai di malam perayaan festival bulan ini.

mooncake festival, chinese culture, live in brunei, chinese school, midautumn festival

Tapi, tahun ini sekolahnya Cinta memutuskan untuk mengadakan perayaan yang lebih sederhana dan diadakan di pagi hari sekolah. Tepatnya hari Sabtu, 24 September yang lalu. Iya, di Brunei anak sekolah (kecuali sekolah internasional) dan pegawai kerajaan (civil servant) masuk di hari Sabtu dan libur di hari Jumat serta Minggu. Kebetulan juga, waktu itu mertua dan kakak ipar sedang berkunjung ke sini, jadi deh kami ajak untuk menikmati mooncake celebration festival sekaligus lihat-lihat sekolahnya Cinta.

Meskipun sederhana dan hanya berlangsung selama 1 jam, acara perayaan musim gugur yang diadakan di sekolahnya Cinta cukup seru dan menyenangkan. Tepat jam 7.30, murid-murid dan guru-guru sudah duduk manis di lapangan sekolah, sementara orangtua yang datang berdiri di selasar depan kelas. Acara dibuka dengan sambutan dan cerita tentang mooncake festival yang (sayangnya) disampaikan dalam bahasa Cina (sehingga saya nggak ngerti sama sekali, hiks). Dilanjutkan dengan pertunjukan Chinese Drama yang juga berbahasa Cina (yaeyalaah, masa berbahasa Korea). Pada sesi ini, penampilan salah satu siswa lower primary mencuri perhatian penonton karena totalitas dan semangatnya memerankan seorang murid dari sebuah perguruan jaman dulu.

Sembari menunggu pertunjukan selanjutnya, beberapa guru memberikan teka-teki tentang lampion yang memang menjadi salah satu simbol mid autumn festival. Yang kemudian diteruskan oleh pembacaan puisi oleh murid-murid. Tak lama, Wushu, yang menjadi atraksi favorit saya di pagi itu tampil. Melihat kelincahan anak-anak dari berbagai kelas memperagakan bela diri khas Cina, bikin saya ingin si kakak ikut Wushu untuk kegiatan ekstrakurikulernya tahun depan. Tapi waktu anaknya ditanya dia jawab mau ikut cooking club dan scout aja. Padahal kan penting ya anak perempuan bisa bela diri hihihi. Tetep deh emaknya usaha. 

Istirahat sejenak, beberapa guru kembali mengadakan kuis untuk para siswa dan kali ini Cinta serta teman-temannya dari kelas bahasa Cina C & D ikut maju. Di sekolah Cinta, kelas bahasa Cina dibagi dalam beberapa bagian berdasarkan kefasihan murid berbahasa Cina. Sayang sih, belum beruntung dapat hadiah, wong anaknya juga bingung sendiri nggak ngerti pertanyaannya hehehe.

Setelah itu pertunjukan diabolo atau yoyo tradisional Cina menghibur kami semua. Kagum deh melihat ketrampilan anak-anak ini main yoyo karena menurut saya itu nggak gampang ya. Saya yakin mereka pasti latihan dengan giat sampai bisa menampilkan pertunjukan keren seperti yang ada dalam video di atas.

Acara hari itu ditutup dengan vocal group dan kemudian anak-anak kembali ke kelas masing-masing untuk belajar dan orangtua pulang ke rumah. Begitu saja, sederhana, ringkas tapi mengesankan. Hanya saja mungkin tahun depan saya harus berdiri dekat dengan teman saya yang bisa berbahasa Cina supaya paham apa saja yang ditampilkan.

Oya, pernah makan mooncake, teman? Rasa apa favoritmu?

Emoji Weekend

Akhir pekan lalu, KB Sentral Mall mengadakan event yang bertema “Emoji Weekend”. Acara ini berlangsung tanggal 3-6 September 2015.

 photo D2597485-BAE2-452F-A876-63848EA1D8D5_zpszulshnnf.jpg

Sesuai temanya, beberapa aktivitas yang diadakan menggunakan atribut emoji yang sudah akrab dengan pengguna pesan instan di telepon pintar. Aktivitas ini antara lain adalah lomba menggambar emoji, lomba mewarnai emoji serta mini games seperti bowling, balloon pop, ring toss, emoji shooting dan guess the emoji. Kalau nggak pengen ikut lomba, pengunjung tetap bisa seseruan dengan foto-foto di photo booth menggunakan atribut emoji. Oya, bagi pengguna Instagram ada lomba foto wajah atau gaya semirip mungkin dengan emoji. 

 photo 1618B28D-D15F-464D-B2F3-E734FA54C603_zpswbyymujm.jpg

Untuk berbagai macam lomba dan photo booth peserta tidak dikenai biaya alias gratis. Tapi bagi yang pengen seseruan main games tinggal bayar B$3 untuk setiap 2 permainan. 

Cinta sendiri kali ini ikut lomba mewarnai emoji yang diperuntukkan anak usia 8-12 tahun. Semangat banget dia. Saking semangatnya sampai sempat kesal karena ternyata warna crayon yang dia bawa nggak lengkap. Akhirnya mama deh lari-lari ke supermarket belikan crayon disertai drama tangisan Keenan yang nggak mau keluar dari supermarket *tutup muka dan telinga*

 photo 510EC5C6-BB86-4185-8DAE-A53BC1C19FB9_zpsljkvt7dy.png

Sambil nunggu Cinta lomba, saya dan Keenan muter-muter di arena lomba. Keenan juga sempat foto-foto sama calon mobil barunya, Mercedes Benz 1.8 *aamiin*. Eh, ketemu juga sama salah satu teman Facebook, sesama orang Indonesia yang baru tinggal di Brunei sejak awal Januari. Yaiy, tambah lagi satu orang anggota komunitas KB – Seria.

Meski akhirnya nggak menang tapi saya senang Cinta mau ikut berpartisipasi dalam acara kompetisi seperti ini. Dan saya bangga karena kali ini dia bisa menyalurkan kekecewaannya dengan cara selain menangis dan marah, meski tetap manyun. Gapapa ya, namanya juga lagi belajar mengelola emosi. Jadi begitu tahu nggak menang dia langsung minta main games pop balloon sama emoji shooting. Lumayan dapat lollipop. Trus ikut Keenan main di playground, puas deh loncat-loncat di trampolin. Memang kadang cara terbaik menyalurkan perasaan negatif adalah dengan beraktivitas fisik ya. 

Nah, itu cerita #weekenddimall saya. Gimana cerita akhir pekanmu? Pasti nggak kalah seru ya. Semoga bisa memberi energi untuk menjalani hari-hari sibuk minggu ini. Selamat hari Senin!

Bertemu Pak Joko Widodo di Brunei

Tanggal 8-9 Februari yang lalu, Presiden RI ke-7, Joko Widodo mengadakan lawatan ke Brunei Darussalam. Beberapa minggu sebelumnya beredar undangan di grup bapak-bapak KB Seria untuk ramah tamah bersama pak Presiden dan rombongan dari Jakarta di Kedutaan Indonesia di Bandar Seri Begawan. Berhubung malas jauh-jauh ke Bandar, kami pun melewatkan kesempatan itu.

Tak dinyana, 3 hari sebelum hari H, suami dapat kabar dari temannya kalau pak Jokowi akan mengunjungi Brunei LNG (BLNG) plant di Lumut. Nggak cuma itu beliau juga ngajak suami untuk datang. Setelah ditimbang-timbang, akhirnya kami memutuskan untuk ikut menyambut kehadiran pak Jokowi di BLNG dengan membawa serta dua krucil.

Pas hari H, sesampainya di BLNG, kami diminta untuk meninggalkan tas di mobil dan menunggu di bawah tenda di depan main hall BLNG. Saat itu lumayan sepi. Hanya ada 4 keluarga dari KB Seria dan beberapa pekerja profesional Indonesia yang kerja di BSP, BLNG dan kontraktornya hadir di sana.

Setelah menunggu hampir 1 jam, tiba-tiba datanglah rombongan BMI entah dari mana dengan jumlah yang lumayan banyak, ikut menyambut kedatangan Presiden RI. Menurut cerita suami sih, karena penyambutnya sedikit akhirnya Public Relation BLNG mengunjungi sebuah staff house suatu perusahaan yang terletak di depan jalan masuk BLNG dan mengajak pekerja berkebangsaan Indonesia untuk memeriahkan penyambutan beliau.

 photo D504A0AE-FA61-424B-987B-3BCC633FCA95_zpsu5aosxne.jpg  photo 47309E7E-3048-4473-BBA8-364A4FA380F9_zpsr7enkznq.jpg  photo F699E900-73C9-4BE7-BAD5-4F0EE6B25E26_zpsentdq8lm.jpg

Saking lamanya nunggu, beberapa orang mulai menikmati hidangan yang sudah disediakan staf BLNG, sementara Keenan sudah bangun dari tidurnya dan mulai berlari-lari di sekitar area parkir.

Tak lama kemudian rombongan mobil dinas kedutaan dan tamu kerajaan mulai berdatangan. Kami pun mulai sibuk menerka di mobil yang mana pak Jokowi berada. Sayangnya sampai semua mobil parkir tak ada tanda-tanda pak Presiden turun dari mobil. Beredar kabar kalau sebenarnya pak Jokowi sudah tiba sebelum kami datang lantas keliling plant dulu dan saat itu sudah berada di main hall untuk berbincang-bincang dengan petinggi-petinggi BLNG.

Setelah 1,5 jam sejak kami sampai BLNG akhirnya kami diminta berbaris di pinggir pintu masuk main hall (iya, di luar pintu masuk!) karena pak Jokowi akan segera keluar dan menemui kita sebelum naik kendaraan dinasnya kembali ke Bandar. Oh, Mak. Jadi nunggu sekian lama itu cuma buat ketemu sekilasan doang. Tapi nggak papalah yang penting bisa liat dan salaman sama pak Presiden. Kapan lagi gitu kan. Kesempatan langka ini.

Jadi diatur oleh security BLNG, berbaris dengan manis lah kita, dan saya serta 3 orang ibu-ibu yang lain (yang mana ibu-ibunya ya cuma kami berempat) berbaris dekat pintu keluar. Cari posisi strategis biar gampang salamannya. Beberapa belas menit kemudian yang diisi dengan tangisan Keenan, pak Presiden akhirnya keluar dari main hall dan mulai menghampiri kami. Beliau berusaha menyambut uluran tangan beberapa orang sambil bertanya, "Sudah berapa lama di sini?" dan "Ada kesulitan apa selama di sini?" Ternyata kesempatan beliau berhenti sejenak untuk ngobrol ini membuat barisan acak adul. Para BMI merangsek mendekati pak Jokowi dan berebut salaman dan foto bareng. Kami pun merasa kalah tenaga akhirnya mundur dengan teratur.

Beberapa security yang tahu kami sudah datang lamaaaaa sekali berusaha membantu supaya bisa bertatap muka dengan pak Presiden. Tapi ya mungkin belum rejeki ya, susah menembus kerumunan dengan menggendong anak. Akhirnya pasrah aja menjauh dari kerumunan sambil ngomel-ngomel bertiga hahaha.

Setelah gagal foto-foto dengan pak Jokowi, kami pun memutuskan foto dengan petingginya BLNG dan berfoto di depan gedung BLNG. Sayang ih, karena suami yang ambil foto jadi nggak ada dia di foto bersama ini. Padahal bisa jadi kenang-kenangan ya secara selama 4 tahun kantornya mengerjakan proyek di BLNG. Tapi alhamdulillah di tengah-tengah padatnya kerumunan orang, suami sempat memotret pak Jokowi, bahkan seorang teman dapat berfoto bersama beliau. Haaaa, lucky her not so lucky us hahaha.