Ketika Suap Diajarkan

Posted in Babbles by

Postingan ini adalah salin tempel alias copy paste dari blog saya di Multiply dulu. Kejadiannya hampir 1 tahun yang lalu tapi masih membekas di hati dan ingatan saya.

*****

Mei 2009

Pagi ini saya antar adik ke kecamatan untuk foto KTP, walaupun judulnya cuma menemani tapi karena pengalaman foto KTP sendiri beberapa waktu yang lalu yang amat sangat ribet membuat saya menyiapkan mental dan mengingatkan adik untuk tetap tenang dan sabar kalau ada hal-hal diluar perkiraan.

Setelah menyerahkan berkas dan mendapatkan nomor antrian foto, duduklah kami di tempat yang sudah disediakan. Sekitar 15 menit kami menunggu nggak ada 1 pun nomor antrian yang dipanggil. Karena penasaran adik saya masuk ke ruang foto dan menanyakan no berapa yang sedang diproses, ternyata baru nomor 2 sedangkan dia dapat nomor 7. Okay menunggu lagi dengan sabar lah kami.
Tiba-tiba datanglah seorang bapak bertubuh tinggi, berambut keriting, berkumis tebal & berbaju safari biru keabu-abuan bersama 2 orang perempuan muda, langsung masuk ke ruang foto. Entah apa yang dibicarakan di dalam lalu keluarlah petugas dan bapak berbaju safari itu dan menuju ke loket berbicara dengan anak magang yang bertugas melayani warga yang punya keperluan di kecamatan. Berhubung tempat duduk saya hanya berjarak beberapa langkah dari loket jadi pembicaraan mereka terdengar cukup jelas. Intinya kedua perempuan itu belum melengkapi dokumen untuk persyaratan foto KTP lalu bapak bersafari dan oknum petugas menyuruh anak magang untuk mengisikan dokumen-dokumen itu. Dilihat dari raut wajahnya sepertinya anak magang itu kebingungan dan ragu-ragu. Lantas bapak bersafari bilang, “Wis tah garapen ae, arep entuk duwik ga?” (Sudahlah, kerjakan aja, mau dapat uang nggak?) Sementara si anak magang masih bingung, mereka kembali keruang foto dan 5 menit kemudian keluar dengan membawa KTP yang sudah jadi di tangan.

Ffffiiiuuuhhh, sebenarnya hal itu sudah merupakan hal yang biasa ya di lingkungan birokrasi pemerintahan kita. Tapi yang bikin saya miris adalah bagaimana bapak-bapak itu mengajarkan anak muda untuk mendapatkan uang secara “cepat”. Saya nggak tahu perasaan anak magang itu. Kalau saya sih mungkin ada pertentangan batin antara melaksanakan perintah dan takut. Awalnya begitu tapi lama-lama kalau sudah terbiasa dengan keadaan, bisa-bisa “perang batin” itu nggak ada lagi. Malah menjadi satu lagi calon oknum pegawai pemerintahan yang “money oriented“.

Gimana bisa negara kita benar-benar bebas dari KKN dan uang suap kalau begini caranya.
Memang sih itu cuma 1 kejadian sementara yang benar-benar mengurus KTP melalui jalur dan prosedur yang benar juga banyak sekali. Yah, semoga tidak ada lagi generasi tua yang mengajarkan hal seperti itu ke jiwa-jiwa muda yang masih idealis, calon pegawai pemerintahan yang bersih dan benar-benar melakukan pengabdian pada masyarakat.

Apr 25, 2010
Previous Post Next Post

Yuk baca ini juga