Aturan Bermain di Taman Bermain yang Harus Dipahami Anak

Aturan Bermain di Taman Bermain, aturan bermain di playground

Taman bermain, baik di luar ruangan maupun dalam ruangan adalah tempat favorit anak-anak. Di sana mereka dapat bermain apa saja dengan bebas. Namun, demi keamanan, keselamatan dan kenyamanan seluruh pengguna, ada beberapa aturan bermain di taman bermain yang harus dipahami oleh anak dan orang tua.

Kemarin saya nggak sengaja melihat cuplikan video tentang seorang bapak (sebut saja bapak A) yang menendang anak kecil di sebuah taman bermain dalam ruangan. Penasaran dengan kronologi peristiwanya saya pun menelusuri media sosial dan dengan mudah mendapatkan rekaman CCTV dari taman bermain tersebut.

Jadi, ada dua anak laki-laki kira-kira usia SD yang sedang main ayunan. Dari rekaman sih kecepatan ayunan tersebut standar aja ya, nggak terlalu kencang atau tinggi. Tiba-tiba dari belakang kedua anak tersebut, muncul seorang anak perempuan usia batita yang berjalan sangat dekat dengan ayunan. Karena jarak si anak perempuan dengan ayunan sangat dekat, otomatis anak itu terkena ayunan yang sedang berayun ke belakang dan jatuh.

Ayah si anak perempuan kemudian nampak berlari mendekati si anak setelah sempat menendang anak laki-laki yang sedang bermain ayunan itu. Ketika dikonfrontasi oleh ibu si anak laki-laki, bapak A merasa tindakannya benar dan justru menyalahkan si anak laki-laki yang tidak berhati-hati saat bermain ayunan.

Tapi warganet rupanya banyak yang nggak sependapat dengan bapak A. Dari ratusan komen dari beberapa post serupa di media sosial, mayoritas nggak terima dengan cara bapak A memperlakukan si anak yang lagi main ayunan.

Ya, saya paham sih, mungkin bapak A panik liat anaknya terjatuh karena kena senggol ayunan. Saya juga kalau bawa anak-anak main di playground indoor suka ngeri kalau banyak anak-anak usia di atas 7 tahun yang badannya besar-besar dan bermain nggak lihat-lihat situasi sekitarnya. Nggak cuma sekali saya melihat anak balita terinjak di arena trampolin oleh anak-anak yang lebih besar. Sedihnya, si anak-anak besar ini nggak ada tuh usaha untuk menghentikan lompatan mereka, padahal anak-anak yang lebih kecil sudah susah payah berusaha untuk bangun.

aturan bermain di taman bermain, aturan bermain di playground

Belum lagi kalau pada main kejar-kejaran ya, kadang anak-anak yang besar-besar ini nggak bisa berhati-hati. Mereka seolah nggak peduli kalau ada anak-anak yang lebih kecil di sekitar mereka. Makanya saat anak-anak masih batita saya selalu ngekorin ke manapun mereka berada saat di taman bermain. Bahkan kalau di taman bermain itu ada arena khusus untuk toddler saya lebih memilih mengajak mereka main di sana daripada bercampur dengan anak-anak yang lebih besar.

Yang nggak bisa ditolerir dari kejadian yang saya ceritakan di awal tulisan ini adalah, perilaku bapak A yang menendang anak laki-laki tersebut. Sama sekali nggak dibenarkan tuh.

Saat berada di taman bermain, baik di dalam ruangan maupun di luar ruangan, selalu ada resiko kecelakaan besar atau kecil, sengaja atau tidak sengaja. Jadi saat anak mengalami kecelakaan, fokus pertama adalah menolong si korban dan memastikan kondisinya. Sementara si pelaku baik sengaja atau tidak cukup ditegur dengan baik, diminta untuk lebih berhati-hati dan disuruh minta maaf. Kalau anaknya cuek ya laporin ke orang tuanya. Kalau orang tuanya nggak peduli, bicara dengan pengelola taman bermain atau pihak keamanan. Bukan main hukuman fisik.

Ya namanya anak-anak bermain rame-rame pasti ada resikonya. Pengennya sih bisa main sendiri di taman bermain supaya bebas mau ngapain aja. Tapi main sendiri juga nggak seru deh. Keenan itu kalau nggak ada temennya nggak betah berlama-lama di playground. Sebaliknya dia bisa betah berjam-jam di sana kalau banyak anak yang main bareng dia. Nah, supaya anak-anak bisa bermain dengan aman dan nyaman di taman bermain, ada baiknya kita ajak mereka untuk memahami aturan bermain di taman bermain.

Aturan Bermain di Taman Bermain, aturan bermain di playground

Aturan Yang Harus Dipahami Anak Saat Bermain di Taman Bermain

Jangan Naik Tempat Meluncur Dari Sisi yang Licin

aturan bermain di taman bermain, aturan bermain di playground

Ih, ini aktivitas favoritnya Keenan banget. Kalau main seluncuran, setelah meluncur dia akan langsung naik lagi dari sisi yang dipakai untuk meluncur. Lebih fun daripada naik dari tangga. Ya kalau playgroundnya lagi sepi sih nggak apa-apa tapi kalau lagi banyak anak tentu berbahaya dan bisa mengganggu anak lain. Jadi sekarang saya selalu bilang sama Keenan, kalau lagi main sama teman-teman setelah meluncur harus naik dari tangga supaya nggak kena tendang temannya yang meluncur setelah dia. Alhamdulillah sih selama ini dia nurut ya, kecuali saat teman mainnya sama-sama iseng. Bisa tuh mereka merangkak naik ke atas perosotan dari sisi yang licin bergantian. Giliran emaknya aja yang dag dig dug sambil berkali-kali meminta mereka berhati-hati.

Berhati-hati Dengan Anak Yang Lebih Kecil

Seperti yang sudah saya ceritakan di awal, nggak jarang liat anak-anak besar yang nggak peduli dengan aturan bermain di taman bermain, sehingga mereka main sesuka hati mereka dan nggak aware bahwa di sekitarnya banyak anak yang lebih kecil. Karena itu, anak-anak harus diajarin untuk berhati-hati dengan sekitarnya. Terutama saat berlari atau main trampolin. Mereka perlu tahu bahwa tenaga mereka jauh lebih besar daripada babies and toddler jadi kalau mereka nggak sengaja nabrak anak yang lebih kecil bisa membuat si adik terluka.

Berhati-hati Saat Menggunakan Ayunan

Minta anak-anak untuk memperhatikan sekitarnya saat akan bermain ayunan. Ajari mereka mengontrol laju ayunannya ketika ada orang yang mendekati arena ayunan. Kalau mama atau papa yang mengayun anak, jangan ditinggal main hape sih. Fokus aja ke ayunan demi keselamatan anak yang diayun atau pengguna playground lain. Anak-anak juga diminta untuk nggak berjalan dekat ayunan yang sedang digunakan. Dan mama papa jangan sekali-kali melepas anak batita berlari ke arah arena ayunan tanpa pengawasan.

Jangan Melempar Apapun Kecuali Bola Plastik

Aturan bermain di taman bermain yang satu ini berlaku di outdoor playground. Kadang ada aja yang suka main lempar pasir, kerikil, atau kayu. Beri tahu anak bahayanya melempar benda-benda tersebut seperti dapat masuk ke mata atau melukai orang lain.

Jangan Bermain Pedang-Pedangan Dengan Kayu atau Ranting Pohon

Dududu, ini Keenan banget. Kalau di playground suka tiba-tiba aja mungut ranting pohon trus diacung-acungkan ke anak lain. Ngajak main pedang-pedangan ceritanya. Tapi setelah beberapa kali dia ditegur sama orang (karena nggak peduli dengan teguran saya) baru deh dia insaf meski sesekali masih suka mungutin ranting pohon. Sebenarnya nggak masalah sih kalau mereka memang benar-benar main pedang-pedangan dari ranting pohon dari jarak yang aman. Yang bahaya itu kalau nggak sengaja batang kayu tersebut kena mukanya orang. Namanya anak-anak kan kalau main suka nggak kekontrol ya saking semangatnya. Jadi mending cari amannya aja deh.

Minta Maaf Atas Perbuatan Yang Kurang Baik Atau Kecelakaan Yang Mereka Akibatkan

Tahun lalu, waktu Cinta masih di Year 4, tiba-tiba saya mendapat telfon dari sekolah. Kepala SDnya bercerita bahwa terjadi kecelakaan saat istirahat antara Cinta dan temannya yang mengakibatkan kepala Cinta benjol sebesar telur. Beliau meyakinkan bahwa Cinta sudah dirawat dengan baik dan nggak ada hal serius yang terjadi. Lalu, ibu kepala meminta temannya Cinta untuk meminta maaf kepada saya melalui telpon. “Saya mau anak-anak belajar bertanggungjawab atas apa yang mereka lakukan, meskipun itu nggak sengaja.” Tentu saja saya memaafkan sambil mewanti-wanti supaya lain kali dia lebih hati-hati.

Sejak itu, saya berusaha menjadikan perilaku ini sebagai aturan bermain di taman bermain bagi anak-anak saya. Yes, accident happens, tapi anak juga harus tahu bahwa kecelakaan terjadi karena salah satu tidak berhati-hati, dan ada konsekuensi yang harus dibayar untuk perbuatan tersebut. Iya, monmaap saya memang #mamagalak.

Awasi Anak Anda

Ini memang tugas yang sangat berat. Kalau anak-anak bermain di outdoor playground biasanya saya lebih ketat ngawasinnya. Sedangkan di taman bermain dalam ruangan, jujur saja saya suka lengah. Apalagi sekarang anak sudah besar-besar ya, saya anggap mereka sudah tahu aturan bermain di taman bermain. Sehingga seringkali saya lepas aja main sendiri sementara saya duduk di bangku atau di lantai tak jauh dari arena bermain. Saya beri mereka kesempatan untuk mengeksplorasi tempat bermain dan berteman dengan anak lain, sementara saya memanfaatkan waktu itu untuk main hape atau baca buku. Paling saya titip ke Cinta untuk mengawasi adiknya. Atau sesekali meninggalkan tempat duduk saya untuk mengecek keberadaan mereka.

Ternyata nggak cuma saya sih yang seperti itu, waktu saya bawa anak-anak main di Kidzoona TP 6, kebanyakan orang tua cukup duduk manis sementara anak-anaknya yang sudah cukup besar asik bermain sendiri. Padahal sudah ada aturan tertulisnya tuh kalau anak harus selalu dalam pengawasan orang tua karena nggak ada staf Kidzoona yang mengawasi masing-masing arena bermain.

aturan bermain di taman bermain, aturan bermain di playground

Menurut saya sih, boleh kok membiarkan anak-anak besar bermain sendiri tapi jangan sampai kita benar-benar lepas pengawasan. Namanya di tempat umum ya, banyak kejadian tak terduga. Mungkin nggak sengaja jatuh dari perosotan, ada anak yang kasar atau tiba-tiba anak keluar dari tempat bermain seperti yang pernah saya alami. Kalau anak di bawah 3 tahun ya harus benar-benar diikutin ya, apalagi kalau tempatnya besar dan sedang ramai. No excuse.

Be Nice To Other Kids

aturan bermain di taman bermain, aturan bermain di playground

Ini berlaku untuk anak dan penjaganya. Ajak anak untuk bermain dengan baik saat di taman bermain, jangan kasar; mukul; nendang atau berteriak-teriak kepada anak lain. Minta mereka untuk sabar menunggu giliran bermain kalau alat tersebut sedang dipakai anak lain. Jangan menguasai satu permainan terlalu lama. Di lain sisi kita juga boleh menegur anak lain yang misalnya menguasai ayunan selama belasan menit tanpa mau gantian atau menutup akses ke perosotan just because. Kita juga bisa mengingatkan anak kita dan anak lain untuk berhati-hati. Tentu dengan cara yang baik ya, bukan pakai hukuman fisik. Bayangkan kalau anak kita yang nakal misalnya trus diperlakukan kasar oleh orang tua lain, pasti nggak terima kan yaaa.

Jangan Memaksa Anak Untuk Berbagi

Nggak jarang sih saya lihat anak-anak yang mau menguasai permainan sendirian tapi nggak perlulah sampai memaksa mereka untuk berbagi. Kalau saya lihat yang seperti itu, biasanya saya bilang ke si anak, “5 menit lagi gantian ya mainnya.” Lalu mengajak anak saya bermain di arena yang lain. Kalau anak saya ngotot nggak mau pergi baru saya minta baik-baik, “Mainnya sama-sama ya, kan seneng kalau ada temannya.” Kadang cara ini berhasil, kadang enggak. Kalau nggak berhasil ya sudah, yang waras ngalah ajalah. Mungkin si anak sedang perlu me time, dan kita ajak anak lain untuk mengeksplorasi mainan lainnya di tempat tersebut.

Sebenarnya mungkin masih banyak lagi aturan bermain di taman bermain yang harus dipahami oleh anak dan kita. Namun intinya adalah peduli dengan lingkungan sekitar. Ya, secara mereka kan nggak main sendirian ya, jadi penting sekali untuk bijaksana dalam berinteraksi dan berperilaku saat bermain di tempat umum. Awalnya mungkin susah, tapi kalau satu persatu aturan bermain di taman bermain ini diterapkan ke anak, insyaAllah mereka akan paham dan terbiasa.

Dan tulisan ini nggak bermaksud untuk menggurui orang tua kok. Namanya taman bermain pasti maunya kita anak-anak bisa bebas beraktivitas. But better save than sorry, right. Nggak ada salahnya menerapkan aturan bermain di tempat bermain ini pada kita dan anak-anak demi keamanan dan kenyamanan seluruh pengguna taman bermain. Sekaligus menghindari kejadian si bapak A yang saya ceritakan di awal tulisan ini terulang lagi.

 

 

Hate Comments dan Media Sosial untuk Anak

anak dan media sosial

Kemarin sore saya baca postingannya Ira tentang seseartis yang sering sekali dibully hatersnya di media sosial. Nggak nyangka juga euy kalau hate comments yang dia terima di setiap postingannya di media sosial ternyata bisa berakibat seburuk itu untuk keluarganya, terutama anak-anaknya yang beranjak remaja. Nah, kalau diamat-amati ternyata nggak cuma artis yang diceritakan Ira dalam blognya itu yang sering dapat hate comment, banyak banget tokoh publik yang bernasib sama.

Coba aja tengok instagramnya teteh princess Syahrini atau Marshanda atau nggak usah artis deh, tokoh-tokoh negara yang harusnya kita hormati seperti Presiden Jokowi atau pendahulunya pak SBY pun nggak kurang-kurang hatersnya di media sosial. Sampai seringkali saya suka mikir, itu tangannya kok pada lemes banget ya nulis hal-hal seperti itu.

Sayangnya, hate comments ternyata nggak mengenal status sosial dan jenis postingan. Iya, dulu pernah ada yang bilang kalau status kontroversilah yang paling sering menuai hate comments tapi ternyata enggak juga lho. Saya kebetulan follow akun IG @cutegirlshairstyles dan anak-anaknya. Awalnya komen-komen di postingan mereka selalu positif karena kebetulan followernya adalah abege-abege yang sepertinya memang perlu role model positif. Tapi belakangan ini, ketika follower mereka sudah ribuan mulai ada beberapa yang suka komen, “You look so ugly,” “That outfit is ugly,” gitu-gitu deh. Padahal kalau diliat profilnya ya kebanyakan yang nulis gitu anak remaja lho. Kan jadi ngeri yah. Ini anak diajarin apa sama emak bapaknya kok bisa-bisanya komen seperti itu di akun media sosial orang yang nggak mereka kenal secara pribadi.

Makanya saya jadi maju mundur mau ngasih kakak Cinta akun media sosial pribadi meski sifatnya parent runs account. Bahkan upload videonya anak-anak di Youtube aja sekarang mikirnya berkali-kali lipat. Padahal dia sudah lama pengen punya channel Youtube atau minimal videonya diupload di channel Youtube saya, karena sering liat video-video keren yang dibawakan oleh anak-anak seusianya.

Lha gimana nggak ragu, wong video tentang menit-menit pertama setelah Cinta lahir aja ada yang iseng kasih komen jelek. Saya kan jadi takut kalau misalnya nanti video yang dia buat dengan susah payah tiba-tiba dikomen nggak enak. Saya nggak yakin dia sudah siap mental, jangankan dia, saya aja nggak siap. Ya, maklumin aja ya, namapun bukan seleb, dapat komen negatif di postingan blog sendiri aja sudah baper apalagi kalau anak yang dikomen.

komen yang saya terima di video Newborn Cinta

Iya sih, di dunia maya itu selalu ada troll, orang-orang yang emang hobi banget komen jelek di postingan siapa aja. Dan benar juga, adalah tugas saya untuk memfilter semua komen yang masuk sebelum anak baca. Plus nggak salah kalau ada yang bilang, kita nggak bisa selalu melindungi anak dari hal-hal negatif, termasuk komen di media sosial. Tapiiii, untuk saat ini saya memilih untuk menghindari sajalah.

Banyak orang di luar sana yang beranggapan kalau mereka berhak komen apapun di setiap postingan orang, kenal atau tidak. “Ya, kalau sudah berani posting harus terima resiko dikomen apa aja, dong!” Gitu biasanya pembelaan mereka. Padahal, sebenarnya kita kan selalu punya pilihan ya, mau komen atau tidak. Kalau nggak suka liat postingan orang bisa ditutup aja, unfollow atau apalah. Bukankah kita selalu diajarin untuk diam kalau tidak bisa berkata baik. Benar?

Maka itu saya sementara ini memilih untuk menunda ngasih Cinta main di media sosial. Kebetulan juga teman-temannya sekarang belum ada yang punya akun medsos. Entahlah kalau 2-3 tahun lagi.

Saya baru ngasih dia main Line dan BBM untuk komunikasi dengan keluarg. Dan memang dalam akun tersebut cuma ada keluarga di daftar temannya. Itupun nggak sering dia pakai karena Cinta lebih suka nonton tv dan youtube daripada chatting. Baru beberapa hari ini aja dia whatsapp-an sama sahabatnya di sekolah pakai akun WA saya di hp saya. Jadi semuanya bisa terkontrol.

Sembari menunggu waktu yang tepat mengijinkan Cinta menggunakan media sosial, berikut adalah beberapa PR yang harus saya selesaikan bareng Cinta untuk menyiapkan dia menghadapi “unik”nya interaksi di dunia maya.

1. Mengenalkan Cinta ke akun-akun populer termasuk komen-komen negatif di dalamnya.

Dengan begini Cinta bisa punya bayangan apa saja yang bisa dia hadapi saat posting sesuatu di dunia maya tanpa harus mengalaminya sendiri. Kami juga bisa berdiskusi tentang perasaan yang kira-kira dialami oleh pemilik akun saat membaca komen-komen negatif tersebut. Harapannya, kelak Cinta bisa lebih kuat mental, tidak melakukan hal yang sama (hate commnet) dan berpikir terlebih dahulu sebelum posting atau komen.

2. Set up the rules

Seperti tidak berteman dengan orang asing, harus lapor kalau dapat inbox dari orang tak dikenal, block teman yang suka komen negatif, be nice to people, nggak posting atau kirim pesan yang bisa mempermalukan orang lain dan berpikir sebelum posting. Ini penting lho, di jaman digital seperti sekarang orang bisa dengan mudah menilai kepribadian kita hanya dengan status-status di media sosial. Jadi ya sejak awal pengennya Cinta dan Keenan bisa lebih berhati-hati saat posting sesuatu. Berlaku juga untuk saya sih. Sebisa mungkin nggak posting sesuatu yang bisa bikin mereka malu.

aturan di media sosial untuk anak, media sosial untuk anak, anak dan media sosial

3. Mengajarkan Cinta tentang Privacy Setting.

Kapan hari saya baca di status FBnya mbak Chichi Utami kalau ABG sekarang lagi hobi tukeran password akun medsos dengan teman segengnya. Nah, bayangkan bahayanya kalau si teman ternyata nggak amanah misalnya, trus posting atau kirim pesan yang kurang baik atas nama si pemilik akun. Duh, saya kok jadi parnoan gini ya. Tapi nggak apa-apa, jadi pelajaran juga buat saya untuk selalu mengamankan password, setting postingan hanya untuk teman dan keluarga demi keamanan bersama. Better safe than sorry, right?

4. Jadi Contoh

Children see, children do. Kalau kita nggak bisa ngasih contoh bermedia sosial yang santun, gimana anak mau niru. Saya suka tuh ngintipin akun IGnya anak-anak artis seperti anaknya Ersamayori, Mona Ratuliu dan yang lagi ngetop sekarang Nauranya Nola Be3. Nah, ada aja lho komentator anak-anak yang suka nanya, “Eh, kamu sekolahnya di (sekolah Islam) tapi kok bajunya kaya gitu,” “Ih, gayanya nggak banget deh,” atau apalah komen-komen kepo nggak penting. Jadi ngebayangin jangan-jangan bapak ibunya juga gitu ya kalau di dunia nyata atau maya. Kepoan trus suka ngejudge pilihan orang yang berbeda. Aduh, amit-amit deh. Jangan lah yaaa.

Pengennya saya Cinta dan Keenan nanti bisa menghormati apa saja postingan temennya di dunia maya (kecuali pornografi, harus diblock tanpa ampun), nggak perlu ikut-ikutan posting sesuatu yang lagi tren kalau nggak sesuai dengan norma keluarga dan masyarakat, nggak share sesuatu yang belum bisa dipastikan keakuratannya. Jadi ya sekarang saya pun harus belajar bermedia sosial seperti itu. Berat? Iya. Seperti yang ditulis seseblogger tentang FoMO, pasti ada ketakutan untuk ketinggalan tren di media sosial. Takut dianggap nggak gaul. Tapi ya sudahlah, nggak semua yang lagi hits itu keren kok. Pinter-pinternya milih aja.

Ribet ya sepertinya. Mau ngasih anak main media sosial aja banyak PRnya. Dan jujur saya yakin sebenarnya dunia media sosial nggak sekejam itu. Banyak kok orang dan anak-anak santun yang pinter berinteraksi di dunia maya. Seperti di akun anak-anak artis itu. Banyak abege yang ngingetin teman-temannya yang ngasih komen negatif dengan cara yang baik.

Nah, itu jadi salah satu parenting goals saya di era digital ini. Menghasilkan anak melek teknologi digital yang tetap smart dan santun di dunia nyata dan maya. Repot banyak ya gapapa, memang resiko jadi orangtua. Semoga sih bisa. Aamiin.

Teaching Men Not To Rape

Selama ini…

Kita ajarin anak perempuan pakai pakaian yang sopan, tapi kita anggap lucu anak laki-laki yang ngintip celana dalam teman perempuannya pakai kaca. “Namanya juga anak-anak,” kita bilang.

Kita suruh anak perempuan menundukkan pandangan, tapi kita biarkan anak lelaki kita dan temen-temennya nyuit-nyuitin kawan perempuannya. “Ah, pinter. Udah tahu aja cewek cantik,” gitu kita banggakan ke orang-orang.

Kita ajarin anak perempuan kita bela diri, tapi nggak kita ajarin anak lelaki kita untuk menjauhkan tangannya dari tubuh perempuan. “Cuma becanda. Lucu-lucuan aja kok. Nggak usah dimasukin hati,” bela kita saat si buyung menyolek bagian pribadi saudara perempuannya.

Kita suruh anak-anak perempuan baca buku-buku bermuatan positif, tapi kita tidak menjauhkan anak-anak lelaki dari majalah-majalah pria dewasa atau situs-situs porno.

Padahal dari situlah para anak lelaki belajar untuk tidak menghargai perempuan. Dari hal yang nampaknya remeh. Dari dini sekali.

Yuk ah, lets start teaching men not to rape. Mulai dari mengajarkan anak-anak lelaki kesayangan kita ini cara menghargai perempuan dan dirinya sendiri. Ingat, real men don’t rape.

*tutup twitter*
*masukin kepala ke kulkas*

Makasih bun An untuk status FBnya yang inspiratif malam ini.

 

Diam atau Lerai?

Cerita tentang anak yang dikasarin sama pengasuhnya sepertinya sudah sering sekali terdengar. Saya sendiri sudah beberapa kali lihat anak yang dicubit atau dipukul sama ART atau babysitternya. Dan kemarin kok ya pagi-pagi sudah dikasih kesempatan jadi saksi mata kejadian serupa di sekolah Cinta. Adik kelasnya Cinta diseret-seret, didorong sampai kena tiang trus didudukan dengan kasar sambil dibentak oleh amahnya (sebutan untuk asisten rumah tangga di Brunei) karena dia kabur dari kelas untuk ngejar ibunya yang sudah jalan ke parkiran mobil.

Meski ini bukan pertama kalinya berada dalam situasi seperti itu, tetap saja saya bingung harus ngapain. Mau negur takut si pengasuh malah makin marah (ke anak dan ke kita) tapi diam saja pun kasihan sama anaknya. Biasanya sih saya akhirnya berusaha cuek sambil memerhatikan kalau makin kasar baru ikut campur seperti yang saya lakukan kemarin. Cuma kok hati kecil ini masih bertanya-tanya apa iya yang saya lakukan itu sudah benar?

Akhirnya saya minta pendapat ke teman-teman di facebook dan twitter mengenai apa yang sebaiknya dilakukan kalau menemui kejadian itu lagi dan begini tanggapan mereka,

Photobucket Pictures, Images and Photos

Ditegur, nggak usah berlebihan negurnya ntar dikira ikut campur. – Indah

Ditegur, “Kenapa?” gitu aja… Biar yang kasar nggak keterusan kasarnya dan nggak terlalu ikut campur. – Ina

Klo orangtuanya teman qta, baiknya ditegur n tanya. kalo pengasuh, selain ditegur kayaknya bilangin ke orang tuanya lebih bagus.. soalnya kasian anaknya, orang tuanya blom tentu tau ulah pengasuhnya.. – Lina

Laporkan ke komnas perlindungan anak… – Fais

Kalo pengasuhnya yg ngasarin, kyknya aku bakal ikut campur deh mba… tp pasti pengasuhnya g peduli jg ya. pasti bkl ngeloyor gitu kan. trus kita sakit ati.. hahahaha.. dibiarin aja lah slma ga mukul – Ratu

Pura-pura nggak liat dan belagak bego. Semoga si anak baik-baik aja – Yudith

Dibilangkan k gurunya aja.. Di skul nya anakku jg ada yg gitu. – Wenika

Kalo kenal ortunya, gimana kalo kasih tau ortunya aja, mbak? Dengan hati hati jg ofkors :3 – Mitra

Tanyain gurunya kontak ortunya mbak. Aduin. Biar ada tindakan preventif. Kasihan, udh dibayar koq gitu *pengen ngacak2 muka amah – Yayas

“Ya dibilangin to, ‘Sabar mbak, kasihan anaknya’ gitu.” – suami

Kalau kalian, tindakan apa yang akan dilakukan saat berada pada situasi seperti itu?

Ketika Hal Buruk Terjadi

financial planning

Kemarin mamak Astri Kunto melalui akun twitternya ngomongin tentang perempuan yang hidupnya tergantung penuh pada suami, alias nggak punya penghasilan sendiri. Yang dibahas adalah, bagaimana seandainya suami meninggal lebih dahulu? Ini tentu berat karena untuk ibu rumah tangga seperti saya kehilangan suami selain kehilangan pasangan hidup, orang yang saya cintai, berarti hilang juga pencari nafkah utama dalam keluarga.

financial planning

Akhir-akhir ini jujur saja hal itu sering terlintas dalam pikiran saya. Hidup cuma bertiga di negeri orang dengan kendali penuh rekening keluarga pada suami, gimana kalau terjadi sesuatu padanya. How will we survive? Can we?

Begitu juga seandainya suami memutuskan untuk menikah lagi dengan perempuan lain dan kita memilih hidup dengan anak-anak daripada menjalani poligami (amit-amit jabang bayi *ketok meja 3x), sampai kapan kita mampu bertahan hidup dari harta gono gini.

Maka itu penting sekali merencanakan safety steps dalam menghadapi keadaan darurat ini. Toh, yang namanya umur dan jodoh itu meski kita sudah berusaha sebaik mungkin tetap saja ada kemungkinan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Apa saja sih? Ini adalah beberapa yang terpikir oleh saya, silakan menambahkan jika ada yang kurang:


Bekerja

Bekerja nggak harus di kantor. Membuat online shop seperti yang banyak dilakukan ibu rumah tangga belakangan ini, menggeluti MLM, menjadi paid blogger juga termasuk bekerja. Istilah kerennya working at home mom. Minimal kita punya penghasilan sendiri yang rutin agar tidak 100% tergantung secara finansial kepada suami.

Nggak tahu mau kerja apa? Nah hobinya apa? Masak? Bikin kue? Fotografi? Nulis? Ngetwit dan punya ribuan follower? Semua itu bisa jadi lahan pekerjaan lho kalau ditekuni dengan serius. Suka masak bisa bikin katering, hobi bikin kue bisa dikembangkan jadi toko kue online. Nggak sedikit kok ibu-ibu yang sukses di bidang ini.

Saving for Rainy Days

Dilarang bekerja oleh suami? Marilah kita menyisihkan sebagian uang belanja untuk ditabung. Tentu harus didiskusikan lebih dulu sama suami ya, karena saya baru diingatkan seorang teman bahwa harta suami yang diamanahkan ke kita itu akan diminta pertanggungjawabannya kelak di akhirat.

Tabungan ini penting. WAJIB punya, apalagi kalau kendali keuangan sepenuhnya dipegang oleh suami. Usahakan minimal kita punya tabungan minimal sebesar 3 kali pengeluaran bulanan. Masukkan dalam pos dana darurat yang hanya bisa digunakan benar-benar saat keadaan darurat. Ingat, The Great Singapore Sale saat lagi bokek berat bukan termasuk kondisi darurat, meski tas idaman diskon 70% dan yang kita punya sudah butut sekalipun.

Keadaan darurat ya berarti yang saya sebutkan di atas, saat kehilangan pencari nafkah (suami di PHK, meninggal atau bercerai) atau orang tua sakit dan butuh biaya perawatan.

Asuransi Jiwa

Ketika pencari nafkah utama kita meninggal dalam kondisi kita tidak bekerja, uang yang didapat dari asuransi jiwa ini bisa kita gunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sementara sampai kita mendapatkan pekerjaan. Please remember bahwa nggak mudah mendapatkan pekerjaan saat ini, apalagi kalau sudah sekian tahun tidak bekerja. Dengan adanya asuransi jiwa ini minimal kita nggak akan langsung jatuh miskin meski pasti harus mengetatkan beberapa pos pengeluaran. Biaya anak-anak sekolah pun tetap bisa tercover.

Nah, yuk mari berdiskusi dengan suami, menyiapkan tindakan preventif jika terjadi kondisi darurat. Belajar mengatur keuangan sebaik mungkin, jangan boros untuk hal-hal yang sifatnya tersier *ngomong sama kaca*.

Sedangkan untuk para suami yang lebih suka istrinya di rumah, total menjadi ibu rumah tangga mengurus Anda dan anak, please make sure orang-orang yang menyayangi Anda ini tidak terlantar saat Anda diPHK, meninggal atau memilih untuk bercerai.

Semakin Bijaksana, Bukan Semakin Hebat

Lama-lama capek juga ngikutin twitwarnya Marissa Haque dan keluarga Addie MS (iya iya emang nggak ada yang nyuruh kok, saya aja yang terlalu kepo). Dari yang awalnya semangat bacain blog dan twitternya tante doktor sampai akhirnya memutuskan untuk report as spam akun twitternya.

Terlepas dari keraguan apakah blog dan akun itu benar-benar milik beliau, postingan yang sudah menyerang pribadi orang lain dan spam lama-lama bikin gerah juga. Apalagi meski nggak follow ibu hebat itu tapi masih aja sliweran retweetannya di timeline.

Kehebohan beliau dan reaksi orang-orangpun bikin saya berharap jangan sampai kelak saya seperti itu. Yah, memang levelnya beda sih, dia lulusan S3 dari 2 universitas ternama di Indonesia, belum lagi gelar S2nya yang berderet-deret. Selain artis hebat di jamannya juga mantan anggota DPR RI. Sementara saya cuma ibu rumah tangga yang lulusan S1. Dan masih jadi mahasiswa abadi di universitas kehidupan, fakultas ilmu parenting.

Bagaimanapun, saya berterima kasih sama tante Icha karena twit-twitnya menunjukan nggak semua orang siap memiliki ilmu dan gelar yang bejibun. Bahwa pohon tinggi yang angkuh lebih rentan tumbang dan merugikan orang banyak ketimbang padi yang selalu merunduk saat isinya makin berat.

Saya juga belajar banyak dari twitwar dan blog beliau, kadang orang yang mengaku dirinya hebat belum tentu dihargai orang lain.  Sedangkan orang bijaksana dan bermanfaat bagi orang lain selalu memberi warna indah bagi lingkungannya. Bukankah sebaik-baiknya manusia adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain.

Dan ini memicu saya supaya terus introspeksi diri. Berusaha melakukan sesuatu yang berguna bagi lingkungan dan dibanggakan oleh anak-anak saya. Memikirkan betul tiap langkah dan keputusan yang saya ambil agar tak mempermalukan orang tua, suami dan anak-anak. Thank you 🙂