Chocolate Chip Cookies Ala Cinta

resep chocolate chip cookies
Resep Chocolate Chip Cookies yang Mudah dan Enak

Masih dalam suasana libur sekolah 2 minggu yang lalu. Sebenarnya di hari Jumat yang hujan itu, hasrat hati pengen rebahan aja karena memang lagi capek banget. Tapi kok nggak bisa gitu lihat anak-anak berkegiatan tak tentu arah. Si kakak sibuk mantengin youtube, sedangkan Keenan lari ke sana ke mari sambil sesekali lompat-lompat ke badan saya. Mungkin dalam imajinasinya badan mamanya ini semacam trampolin gitu ya.

Akhirnya coba cari resep kue kering yang gampang dan bahannya ada di rumah, secara sudah mendekati jam 12 siang dan nggak mungkin keluar rumah untuk beli bahan-bahan yang nggak ada. Maklum, setiap hari Jumat semua toko, restoran dan kantor di Brunei tutup selama 2 jam pada pukul 12-14 siang untuk memberi kesempatan bagi yang ingin melaksanakan sholat Jumat.

Akhirnya ketemu juga resep chocolate chip cookies yang lumayan gampang di situs bbcgoodfood.com. Diam-diam saya persiapkan semua peralatan perang dan bahan-bahan. Pengennya mengeksekusi sendiri gitu. Tapi ternyata kedua bocah itu benar-benar lagi haus hiburan. Mendengar mamanya ribut di dapur langsung pada nyamperin dan ikut bikin ribut juga *inhaleee exhaleeee* *oles YLEO peace and calming* sampai harus saya suruh keluar dapur dulu.

Pas saya selesai mempersiapkan bahan, kakak Cinta masuk lagi ke dapur. “Are you going to bake something?” tanyanya. “Yes, I do. Do you want to help?” ujar saya. “Yes!” balasnya penuh semangat.

Baca Juga: Masak Bola-Bola Nasi Keju bareng Anak

Biasanya sih tiap mau bikin kue saya selalu melibatkan kakak Cinta mulai dari persiapan bahan. Tapi kali ini melihat kehebohan Keenan yang juga ingin terlibat, saya bisa memperkirakan tingkat keberantakannya bakal seperti apa dan karena lagi nggak mood membereskan dapur, akhirnya langkah itu saya kerjakan sendiri.

 photo F18EC174-A18A-4746-9086-3AB528F2F151_zpsqnxlfo0h.jpg

Jadi kakak Cinta mulai terlibat pada tahap membuat adonan saja. Semua dia lakukan sendiri. Mulai dari mengocok mentega dan gula, mengayak tepung dan soda kue, mencampur bahan kering dan bahan basah sampai mencetak adonan. Keenan juga bantu sih. Bantu ngeliatin kakak mixer adonan dan mencicipi adonan yang sudah dicetak.

Alhamdulillah, meski belum seindah kukis kemasan atau yang dijual di bakery, kukis buatan kami masuk dalam kategori layak makan. Bahkan nyaris ludes dalam waktu 24 jam oleh suami. Entah karena dia doyan atau nggak ada pilihan camilan yang lain hihihi. Hanya saja waktu baru dingin rasanya sedikit terlalu manis untuk selera kami.

Setelah dievaluasi, rasa yang terlalu manis itu ternyata disebabkan penggunaan unsalted butter sementara resep asli menggunakan salted butter. Saya juga lupa memasukkan 1/2 sendok teh garam seperti yang tertulis di resep. Eaaaa.

Nah, kalau belum ada rencana akhir pekan ini, bikin kue aja sama si kecil. Ini dia resep yang sudah kami adaptasi sesuai dengan keberadaan bahan yang ada di rumah:

chocolate chip cookies
Resep Chocolate Chip Cookies 

Bahan:

150 gram unsalted butter
80 gram light brown muscovado sugar
80 gram granulated brown sugar
2 sendok teh vanila extract
1 buah telur ukuran besar (AA)
225 gram tepung terigu serbaguna
1/2 sendok teh soda kue
1/2 sendok teh garam
Chocolate chips plain secukupnya

Cara Membuat:

1. Panaskan oven pada suhu 190• C, beri alas baking paper pada loyang.
2. Kocok mentega (butter) dan gula sampai creamy. Lalu masukkan ekstrak vanila dan telur. Aduk rata.
3. Ayak campuran tepung terigu, soda kue dan garam ke dalam adonan mentega. Aduk menggunakan sendok kayu. Masukkan coklat chip lalu aduk sampai rata.
4. Ambil sesendok teh adonan dan atur di atas loyang dengan jarak yang cukup renggang. Panggang selama 9-10 menit dengan api atas bawah sampai kue nampak kecoklatan di pinggir tapi empuk di tengahnya.
5. Biarkan kue di atas loyang selama beberapa menit lalu pindahkan ke rak pendingin.

Resep asli oleh Valerie Barret yang dimuat oleh situs bbcgoodfood.

Selamat mencoba ya.

Frittata Muffins. Sarapan Mudah Bergizi.

 photo 955E7D8A-8EB9-4FA2-A78E-6F66251C7724_zpscume7xtz.jpg

Frittata Muffins. Beberapa waktu yang lalu, saat lagi cari ide menu sarapan praktis yang sekaligus bisa dibawa sebagai potluck acara silaturahim ibu-ibu komunitas oil & gas di KB-Seria, Brunei Darussalam, saya melihat resep frittata ini muncul di newsfeed akun Facebook saya. Dan menurut saya resep dari Health.com itu sesuai dengan kriteria penganan yang saya cari. Bahannya mudah, bergizi, masaknya simpel dan tingkat keberhasilan memasaknya tinggi.

Frittata sendiri sebenarnya adalah makanan berbahan dasar telur yang berasal dari Italia yang digoreng (fried). Bentuk dan isinya mirip dengan omelet. Hanya saja adonan telur resep ini dipanggang dalam loyang muffin sehingga disebut frittata muffin.

Untuk resep ini ada beberapa bahan yang saya tambahkan, ada pula yang tidak saya pakai. Bisa juga diutak atik sesuai selara dan keberadaan bahan yang ada di rumah. Hanya saja telur sebagai bahan utamanya harus ada ya, namanya juga telur panggang hehehe.

Supaya lebih mudah, bahan-bahan frittata saya siapkan sore sebelumnya, jadi di pagi hari tinggal siapkan adonan telur, tumis dan panggang. Total waktu yang diperlukan sekitar 45 menit saja.

Mau coba juga? Ini dia resepnya. Kalau mau resep asli bisa langsung meluncur ke sini ya. Di sana juga ada video pembuatannya. Selamat menikmati!

 

Bahan:

1 sdm olive oil.
1/2 bawang bombay, potong dadu
1/2 paprika, potong dadu
100 gr jamur kancing, iris tipis
100 gr dada ayam, potong dadu
6 butir telur
2 sdm susu cair
3 sdm keju parut
Garam, merica

Cara Pembuatan:

1. Panaskan oven dalam suhu 175• C
2. Olesi loyang muffin dengan minyak
3. Kocok telur dengan susu cair, garam dan merica
4. Tumis bawang bombay sampai harum, masukkan paprika, jamur dan ayam. Masak sampai matang.
5. Tuang 1 sdm tumisan ke dalam loyang muffin
6. Tuang telur sampai loyang muffin penuh
7. Taburi keju parut
8. Panggang selama 15-17 menit
9. Setelah 5 menit lepaskan frittata dari loyang. Siap dinikmati.

Untuk 8 porsi
Diadaptasi dari: Health.com

Baking is a Science

 photo 1E84D4AF-D524-436B-8458-A79BED87F4D9_zps5hnyqmzt.jpg

Baking is a science. Ada yang pernah dengar ungkapan itu? Tepatnya sih, cooking is an art and baking is a science. Kenapa baking atau memanggang kue, pie dan roti dianggap sebagai science? Itu yang jadi pertanyaan saya ketika membaca jadwal science program untuk liburan sekolah yang diadakan oleh Oil and Gas Discovery Center (OGDC), Seria kali ini.

Baking bad at OGDC. An experimental activity where you learn the science in baking muffins and what happens when you don’t follow the recipe!

Begitulah deskripsi aktivitas yang kami lakukan pada tanggal 9 September 2015 kemarin. Menarik ya. Kalau biasanya kita harus mengikuti resep saat memanggang kue, kali ini justru sebaliknya. Hmmm, jadi penasaran kan bakal jadi apa hasil eksperimen dengan bahan-bahan membuat kue itu.

Sesuai jadwal kami tiba di OGDC pas jam 9 pagi. Setelah isi buku tamu saya mengutarakan niat untuk mendaftarkan anak-anak ikut science experiment dan resepsionis meminta saya untuk bayar di lobi. Eh, alhamdulillah ya, sesampainya di tempat pendaftaran yang seharusnya bayar B$3 jadi gratis. Senangnya!

Awalnya saya kira kami akan beraktivitas di ruang pameran seperti biasanya tapi ternyata kali ini anak-anak dan saya diajak ke lantai 3 gedung utama OGDC. Di sana kami disambut oleh pemandu kegiatan masak memasak hari itu yang memperkenalkan dirinya sebagai chef dan meja berisi telur, tepung, gula, tapioka, ragi, baking powder, minyak sayur dan susu.

Sebelum memulai kegiatan, anak-anak diberi penjelasan mengapa baking is a science. Hal ini disebabkan karena dalam memanggang kue, masing-masing bahan yang digunakan memiliki fungsi yang nggak bisa digantikan. Tepung misalnya, sebagai dasar dari adonan dia mengandung protein yang berfungsi untuk mengikat dan menciptakan gluten sehingga kue bisa kokoh. Telur berguna untuk mengikat adonan, sedangkan baking powder dan soda kue jika dicampur dengan bahan-bahan yang lain menghasilkan gelembung karbon dioksida di dalam adonan dan membuatnya mengembang. Oleh karena itu penting sekali mencampur bahan terutama bahan kering dengan cara yang benar supaya dapat menghasilkan kue, pie, roti yang bagus.

 photo 2988F898-25E7-4546-80A4-10E56926D408_zpsuuygfil0.jpg

Tapi kali ini anak-anak dibebaskan untuk mencampur bahan-bahan yang tersedia sesuai dengan kemauan mereka untuk melihat apakah yang akan terjadi saat campuran bahan tersebut dipanggang (dalam kegiatan ini panggangan diganti dengan microwave untuk menghemat waktu). Serulah mereka mencampur semua bahan yang ada. Bahkan kakak-kakak dan abang pemandu OGDC pun ikut bergabung melakukan eksperimen bersama Cinta dan kakak Reyva.

Ada yang membuat adonan dari telur, gula dan minyak sayur; ada juga yang mencampur telur, susu, minyak sayur, tepung, tapioka, baking powder dan gula; ada yang menggunakan tepung, gula, susu dan minyak; ada pula yang membuat adonan dari semua bahan yang ada kecuali tapioka dan ragi. Setelah semua adonan siap, masing-masing dipanggang selama 2-3 menit. Dan hasilnya ternyata bermacam-macam. Adonan telur, minyak sayur dan gula menjadi omelet, adonan tanpa telur menjadi remah-remah yang teksturnya mirip dengan pie crust. Sedangkan adonan yang menggunakan tapioka menjadi padat dan liat. Bahkan ada yang saking padatnya sampai bisa digunakan sebagai spon untuk cuci piring hihihi.

 photo 8A1081CA-3831-444F-BE82-D01D530B4878_zpstn5tsie4.jpg

Setelah semua percobaan selesai dilakukan dan anak-anak mengerti perbedaan hasil dari masing-masing adonan yang berbeda, mereka diajak untuk membuat muffin dengan bahan dan cara yang benar. Ternyata resep yang sama saat diolah oleh tangan yang berbeda, hasilnya bisa berbeda pula. Hal ini biasanya disebabkan perbedaan interpretasi bahan. Misalnya dalam resep ada satuan sendok makan, ada yang menganggap sendok makan peres (rata dengan permukaan sendok), sedangkan yang lain menganggap sendok makan munjung.

Seru juga lho ternyata belajar science dari kegiatan memanggang kue. Anak-anak pun pulang dengan semangkuk kue, hati riang dan pengetahuan baru. Terima kasih, OGDC!

Resep Risotto Tuna Keju

resep risotto

Yaaaiiy. Sampai juga di hari terakhir #FoodChallenge.

#Day5FoodChallenge

Kemarin makan siangnya kesorean1, karena sejak jam 9.30 pagi sudah mondar mandir kaya setrikaan ngelengkapin keperluan Cinta untuk hari pertamanya masuk sekolah Ugama, hiks. Padahal masakannya sudah siap dari pagi. Bahkan kaldunya telah dimasak dari semalam pakai slow cooker. Saking singkatnya waktu, Cinta pun terpaksa makan siang di mobil antara waktu pulang sekolah pagi dan masuk sekolah Ugama.

Sekolah Ugama ini semacam madrasah di Indonesia yang dikelola resmi oleh Kementerian Hal Ehwal Ugama di bawah Jabatan Pengajian Islam negara Brunei Darussalam. Menurut guru besar2 sekolah Ugama tempat Cinta belajar, sejak tahun 2013 yang lalu, Sultan Hassanal Bolkiah mewajibkan setiap anak yang kedua orang tua atau salah satunya merupakan penduduk atau permanent resident negara Melayu Islam Beraja Brunei Darussalam dan telah berusia 7 tahun pada bulan Januari di tiap tahun ajaran untuk mengikuti sekolah Ugama.

Baginda Sultan berharap dengan berjalannya undang-undang ini, “insya-Allah, tidaklah akan ada lagi kanak-kanak Islam di negara ini yang akman tercicir dari memahami dan mengetahui ilmu asas pendidikan Islam. Tidak akan ada lagi orang yang tidak pandai sembahyang dan membaca Al-Qur’an”, titah baginda Sultan sempena Majlis Sambutan Hari Guru Ke-22 bagi Tahun 1433 Hijrah/2012 Masihi pada 8 Zulkaedah 1433 bersamaan 24 September 2012.3

Foreigner seperti kami tentu tidak wajib ikut tapi tidak ada salahnya kan menambah pengetahuan tentang agama yang tidak bisa didapat di sekolah pagi maupun di rumah.

Habis mengantar Cinta ke sekolah Ugama nggak bisa langsung pulang karena ada taklimat4 dari guru besar sekolah untuk para orang tua siswa. Setelah taklimat selesai, saya berencana makan siang di Plaza Seria saja sama Keenan sambil nunggu kakak pulang karena sekolahnya cuma berlangsung selama 2 jam. Tapi ternyata di tengah-tengah pertemuan Keenan pup dan saya nggak bawa popok ganti. Akhirnya memutuskan untuk pulang aja. Untung perjalanan dari sekolah ke rumah cuma 10 menit. Sampai rumah hanya ada waktu 30 menit sebelum sekolah selesai. Ya cuma sempat mandiin dan nyuapin Keenan trus langsung berangkat lagi deh.

Jam 4 sore sampai rumah langsung beres-beresin barang-barang sekolah Cinta, duduk sebentar tarik nafas baru ambil makan. Menu sore ini adalah homemade risotto5 tuna keju plus honey lemon tea. Berhubung kehabisan lemon jadi ya nyoba pakai lemon essential oil6 Young Living yang baru diterima tadi pagi. Makasih ya, Anggy :* Lumayanlah buat menyegarkan badan yang mulai remek dan meredakan gejala-gejala flu yang mulai melanda.

Risotto kali ini rasanya pas sama selera anak-anak. Cukup creamy dan cheesy tapi nggak bikin eneg. Bikinnya juga gampang. Thanks to my super rice cooker hehehe. Resepnya sederhana aja, hasil gabung-gabungin dari berbagai resep di google. Kalau mau nyoba juga, ini dia resep dengan takaran suka-suka.

 photo 65EE0762-EAD9-411C-AC64-F4C77F6D3AB1_zpsg6pxuswm.jpg

Risotto Tuna Keju ala Mama Nia

Bahan:
2 cangkir beras, cuci bersih
1/2 bagian bawang bombay, dipotong kecil-kecil
1 siung bawang putih dicincang
Sejumput garlic granule7 (optional)
Sejumput mixed herbs8 (optional)
Garam
1 buah wortel, dipotong dadu kecil-kecil
Brokoli sesuai selera
500 ml kaldu ayam (atau sesuai kebutuhan)
1 cup susu uht plain
Tuna kaleng sesuai selera
1 sdm Margarin untuk menumis
75 gram keju cheddar parut

Cara membuat:
• Tumis bawang bombay dan bawang putih sampai harum.
• Masukan beras yang sudah dicuci, aduk rata.
• Tuang 3-4 sendok sayur kaldu, aduk sampai beras terendam kaldu. Masukan wortel, mixed herbs, garam dan garlic granule. Aduk sampai kaldu meresap.
• Tuang beras ke dalam rice cooker, tambahkan kaldu sampai batas yang dibutuhkan untuk memasak nasi. Aduk dan masak di rice cooker.
• Menjelang matang, masukan tuna, brokoli, sebagian keju dan susu uht. Aduk rata dan tutup lagi rice cooker sampai matang.
• Sajikan dengan taburan keju parut.

Yah, akhirnya tuntas sudah tantangan kali ini. Baru sekarang lho saya berhasil menyelesaikan lagi tantangan di sosial media kaya gini setelah 30 Day Green Smoothie Challenge-nya Simple Green Smoothies setahun yang lalu. Dan sebagai penutup saya mau ngoper tongkat estafet ke Lina Florida atau teman-teman yang berminat ikut tantangan ini. Yuk, posting foto makanan 5 hari berturut-turut. Boleh masakan sendiri atau wisata kuliner. Boleh foto lama atau baru. Asal jangan foto lontong kupang pak Misari ya. Kasian nanti saya ngences hahaha. Trus tag 1 teman setiap harinya. Selamat berkreasi!

  1. tantangan ini mulai saya upload di FB dan IG hari Minggu tanggal 5 Januari, jadi tiap postingan di blog mundur sehari []
  2. kepala sekolah []
  3. Titah “Pendidikan Ugama Wajib 2012” dikutip dari laman web Aspirasi NDP []
  4. perbuatan atau peristiwa pemberian arahan atau informasi yang tepat, KBBI []
  5. 1. rice cooked with broth and sprinkled with grated cheese, Arti Kata []
  6. an oil having the odor or flavor of the plant from which it comes; used in perfume and flavorings – Arti Kata []
  7. A dried form of garlic that has been ground into granules rather than powder. Granulated garlic can be used much the same as garlic powder, but has about half the flavoring power as the same measure of garlic powder and like powder, the granules lack in providing the garlic texture of a fresh garlic. 1 teaspoon of granulated garlic equals 1/2 teaspoon of garlic powder. []
  8. Mixed herbs is a common mix of different dried herbs, ready for use without needing to measure out individual quantities. A typical mix includes equal parts of basil, marjoram, oregano, rosemary, sage, thyme []

Food Challenge, Day 2

Tantangan terbesar saya tiap ditodong untuk ikut tantangan adalah menyelesaikannya. Entah sudah berapa tantangan yang putus di tengah jalan. Biasanya sih karena enggak ada waktu dan malas hahaha. Nah, mumpung masih bisa mengerjakan food challenge hari kedua, mari dipamerkan sekalian :))

#Day2FoodChallenge

 photo CADAFAED-DCD2-496C-8EC4-ECA022AFB56B_zps2pwv9inc.jpg

Salah satu yang saya suka dari slow cooker adalah bisa bikin bubur nggak pakai repot. Tinggal masukin beras, air, garlic granule, garam lalu set low dan tinggal tidur deh. Besok pagi tambahin labu, jagung dan ubi ke dalamnya, set ke high. Sambil nunggu empuk rebus kangkung, goreng ikan asin jambal roti. Jadi deh Bubur Manado ala ala untuk sarapan.

Anak lanang suka banget menu ini, sampai ludes dan nangis waktu mangkuknya diangkat untuk diisi lagi.
Untuk mamanya, biar makin sedap tambahin sambal roa Oshin Healthy Food yang direkomendasiin Pianggy. Yummyyyy…

Resep Bubur Manado saya contek dari situs majalah Femina, sebagai berikut:

Bubur Manado
Bahan:
200 g beras, cuci bersih, tiriskan
2 L air
1 1/2 sdt garam
100 g ubi jalar merah, kupas, potong dadu 1 cm
100 g labu kuning, kupas, potong dadu 1 cm
300 g jagung muda pipilan
50 g daun melinjo muda, cuci bersih
50 g daun kangkung, cuci bersih
25 g daun kemangi, cuci bersih
Pelengkap:
150 g ikan asin jambal, potong dadu ½ cm, cuci, goreng hingga kering.

Cara membuat:
• Masak beras bersama air dan garam hingga setengah matang. Masukkan ubi merah, labu kuning, dan jagung, aduk rata. Masak kembali hingga lunak.
• Tambahkan sisa sayuran, sambil aduk perlahan hingga matang dan kental. Angkat.
• Sajikan bubur dengan pelengkap dan sambal. (f)

Untuk 6 porsi

Seperti biasa resep di atas saya modifikasi sedikit sesuai selera. Nah untuk tantangan berikut saya persilakan bun @fiki0102 operan tongkat estafet #FoodChallenge #Day2. Syaratnya masih sama seperti yang kemarin:
1. Posting foto makanan 5 hari berturut-turut.
2. Boleh bikin sendiri atau beli.
3. Boleh foto lama atau baru.
4. Tag 1 teman untuk setiap harinya.

Resep Kolo Mee ala Brunei

resep kolo mee brunei ala pojokmungil

Kolo mee. Mie ayam ala Brunei.

Memberanikan diri menerima tongkat estafet dari ibuknya Kika dalam rangka meramaikan kehebohan #FoodChallenge di sosial media. Berhubung ibu kreatif ini mintanya makanan Brunei, untuk tantangan hari pertama saya pajang menu makan siang yang populer di Brunei ini. Kalau di Indonesia disebutnya Mie Ayam, di Brunei (dan Sarawak) dikenal dengan nama Kolo Mee atau Mi Kolok. Menu sederhana dan murah ini bisa dijumpai di kedai makan lokal. Tapi siang ini pengen nyoba bikin sendiri mumpung kemarin di supermarket nemu fresh kolomee noodles.

Kolo Mee ala MyBooney Restaurant
Kolo Mee ala MyBooney Restaurant

Versi asli (dan halal) kolo mee disajikan bersama irisan ayam saus barbecue/rebus. Tapi di sini saya cukup menumis dada ayam dengan bumbu minimalis karena saus kolo mee sendiri sudah penuh dengan MSG hehehe. Dan seharusnya sih mie yang biasa disajikan untuk kolo mee ini tipis-tipis tapi karena saya ngerebusnya lebih lama dari instruksi jadi ya ngembang gendut-gendut kaya yang masak gitu. Hasilnya malah enak, lembut dan saus kolo mee jadi lebih meresap sehingga anak-anak doyan makannya.

Resep Kolo Mee sederhana ini saya ambil dari hasil pencarian di google yang saya modifikasi sesuai dengan bahan yang ada di rumah dan selera. Gampang kok kalau mau nyoba. Ini bahan dan cara bikinnya:

resep kolo mee brunei ala pojokmungil

 

Resep Kolo Mee ala Brunei

Bahan-bahan:

– Daging ayam cincang (saya pakai daging sapi cincang)
– 1/2 ekor ayam, potong kecil-kecil (optional. Saya pakai fillet dada ayam)
– Fresh kolo mee noodles

Saus kolo mee:

*Takaran bahan sesuai selera*
Saus tiram
Saus kedelai (saya pakai kecap manis)
Merica
Gula
Minyak wijen
(Campur semua bahan, sisihkan sedikit untuk rendaman daging cincang)

Bawang goreng untuk taburan
Daun bawang untuk taburan

Cara membuat:

• Pertama, bumbui fillet dada ayam dengan minyak wijen, garam dan mixed herbs. Diamkan selama 15 menit atau sampai bumbu meresap lalu potong sesuai selera dan tumis dengan sedikit minyak sampai matang.

• Rendam daging cincang dalam saus selama 15 menit. Lalu tumis sampai matang.

• Masak saus dengan sedikit air sampai mendidih dan kental. Sisihkan.

• Rebus mie dalam air mendidih selama 1-2 menit, buang airnya lalu bilas dengan air dingin yang mengalir. Kemudian rendam dalam air panas sebentar untuk menghangatkan mie.

• Letakkan mie dalam mangkuk besar, siram dengan saus dan aduk rata. Pindahkan ke piring, sajikan dengan daging ayam, daging cincang, daun bawang dan bawang goreng. Sajikan segera.

Biasanya sih Kolo mee yang di restoran disajikan dengan sup kosong alias kuah kaldu. Tapi saya nggak pakai karena nggak bisa bikinnya hiks. Padahal anak-anak saya tuh suka banget nyeruputin kuah kaldu itu. Semoga kapan-kapan bisa cari resep yang pas untuk direcook deh.

Nah, ada yang mau menerima tongkat estafet selanjutnya? Di FB dan IG sih sudah saya serahkan ke pemilik toko kue online Antique’s Cake. Tapi kalau ada yang berani terima tantangan ini sih boleh aja ikutan. Aturannya gampang kok:
1. Posting foto makanan selama 5 hari berturut-turut
2. Boleh bikinan sendiri atau wisata kuliner
3. Boleh foto baru atau lama
4. Tag 1 teman setiap harinya untuk meneruskan tantangan selanjutnya.

Yuk ikut. Kan lumayan buat nambah postingan blog tiap hari #eh. Happy cooking or eating, Teman.