Cara Membuat Stik Keju Nikmat untuk Suguhan Lebaran

resep stik keju

Sudah masuk bulan kedua tahun 2020 ya dan nggak terasa Hari Raya Idul Fitri sudah tinggal beberapa bulan lagi. Selain menyiapkan fisik dan mental untuk menjalani bulan Ramadan, biasanya ibu-ibu juga mulai berpikir tentang suguhan hari raya. Mulai dari makanan berat seperti opor, lontong sayur dan kawan-kawannya, juga kue-kue kering serta camilan yang enak. Dan stik keju adalah salah satu camilan yang selalu ada di meja sebagai suguhan untuk para tamu dan keluarga. Rasanya yang gurih membuat stik keju menjadi favorit banyak orang termasuk saya.

resep stik keju

Meskipun camilan ini banyak dijual di pasaran, sebenarnya kita juga bisa membuat stik keju sendiri dengan mudah lho. Mau mencoba? Berikut resepnya.

Resep Stik Keju Nikmat untuk Suguhan Lebaran

Bahan-bahan:

250 gram tepung terigu.
½ sdm maizena.
100 gram tepung sagu.
50 gram mentega.
180 gram keju parmesan, parut.
2 butir telur ayam.
100 ml air matang.
½ sdt baking powder.
½ sdt kaldu ayam.
Garam secukupnya.

stik keju toko wahab

Cara Membuat:

  1. Masukkan tepung terigu, tepung maizena dan tepung sagu sambil diayak ke dalam wadah. Setelah itu aduk sampai semua bahan tepung tersebut tercampur secara merata.

  2. Tambahkan baking powder, garam dan juga kaldu bubuk. Aduk-aduk kembali semuanya sampai rata.

  3. Masukkan air dan juga tambahkan keju parmesan ke dalam adonan tersebut. Aduk sampai rata sambil diuleni sampai adonan berubah menjadi kalis.

  4. Tambahkan mentega ke dalam adonan tersebut, kemudian campur lagi semuanya sampai rata.

  5. Kemudian giling adonan tersebut agar lebih lembut dan mendapatkan ketebalan yang sama, yaitu sekitar 10 cm. Lalu potong-potong sesuai dengan selera.

  6. Panaskan minyak, setelah itu goreng adonan yang sudah dibentuk tersebut sampai kecoklatan atau dirasa cukup matang. Tiriskan stik keju dan siap untuk dihidangkan. Simpan stik keju dalam toples yang tertutup rapat agar tetap renyah.

Nah, mudah kan membuat stik keju sendiri. Bagian paling berat memang saat menguleni adonan lalu memotongnya. Kita juga harus sabar saat menggoreng adonan. Tapi hasilnya sih sepadan dengan perjuangannya yah. Selain jumlah yang kita dapatkan lebih banyak daripada beli sendiri, stik keju buatan rumah juga lebih terjamin kesehatannya karena kita pasti akan menggunakan bahan-bahan yang berkualitas.

Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan stik keju ini bisa kita dapatkan secara online di TokoWahab.com. Ada begitu banyak pilihan merek berkualitas yang mereka jual dan harganya bersaing dengan toko lainnya kok. Jadi, yuk mulai belanja dan membuat stik keju, supaya saat lebaran nanti kita sudah semakin ahli membuat stik keju nikmat untuk suguhan bagi tamu dan keluarga.

5 Manfaat Menulis Blog dan Alasan Saya Melakukannya

Manfaat Menulis Blog

Apa sih manfaat menulis blog? Kenapa akhir-akhir ini banyak sekali yang berminat belajar ngeblog dan menjadi blogger? Bahkan makin banyak yang menjadikan blogger sebagai pekerjaan paruh waktu dan penuh waktu. Dan kenapa saya masih ngeblog juga meski banyak sekali blogger yang lebih baik di sekitar saya?

Kenapa saya masih menulis blog? Apakah saya harus terus menulis blog?

Jujur saja pertanyaan itu sering terlintas di pikiran saya akhir-akhir ini. Sempat terpikir untuk berhenti ngeblog karena ya sudah nggak ada lagi semangat untuk menulis. Apalagi semakin banyak blogger-blogger yang lebih bagus, lebih berprestasi, lebih eksis, lebih… lebih… lebih… Sementara saya kok gini-gini aja. Malah pageview makin turun, DA/PA juga terjun bebas. Tawaran placement post dan job review pun nyaris tak ada lagi. Ah, untuk apa lagi saya ngeblog.

Padahal saya masih bercita-cita menjadi blogger profesional. Tapi masih bingung menentukan blog ini mau fokus ke niche apa. Dibilang lifestyle blog ya isinya bukan tentang gaya hidup yang sedang tren. Mau disebut parenting blog ya sudah nggak pernah nulis soal parenting lagi. Fokus ke liputan tentang kehidupan di Brunei pun kami jarang eksplorasi Brunei dan sebentar lagi mau kembali ke Indonesia karena pekerjaan suami di sini sudah selesai. Hiks.

Saya juga belum punya jam kerja khusus untuk menulis dan mengurus blog pojokmungil.com ini. Atau rencana kerja dan target agar blog ini bisa berkembang lebih baik. Padahal menurut Mbak Kiki Handriyani, mentor kami di kelas NulisYuk Batch 38 tema blog, untuk disebut sebagai blogger profesional ada beberapa syarat yang harus dilakukan oleh seorang blogger, yaitu:

Lakukan 8 Hal Ini Untuk Menjadi Blogger Profesional

  1. Jadikan profesi blogger sebagai profesi utama.
  2. Ketika menulis di blog, terapkan sistem kerja seperti layaknya pekerja kantoran: ada jam kerja, ada jam turun ke lapangan untuk liputan dan ada waktu untuk belajar tentang blogging dan pernak-perniknya.
  3. Lakukan personal branding di media sosial.
  4. Percaya diri saat memperkenalkan diri sebagai blogger di depan publik.
  5. Punya attitude yang baik. Hal ini ditandai dengan betul-betul untuk menyimak materi dan bekerja saat menghadiri event. Bukan menjadikan event sebagai ajang ketemuan dengan teman sesama blogger, sibuk selfie dan saat pemateri berbicara malah asyik ngobrol dengan peserta lain. Saat event selesai, tulislah liputan sesuai dengan brief pekerjaan (bila perlu berikan lebih dari apa yang dibayarkan klien).
  6. Percaya bahwa rezeki itu tidak akan tertukar dan ada waktunya. Jadi jangan suka menyerobot pekerjaan blogger lain.
  7. Belajar etika dan cara berkomunikasi yang baik dengan klien, rekan kerja maupun orang-orang yang baru dikenal.
  8. Pelajari peta perpolitikan dunia blogging karena blogger pun sudah menjadi profesi yang penuh dengan intrik.

Berat ya ternyata menjadi blogger profesional. Dan untuk bisa melakukan semua hal tersebut diperlukan komitmen dan disiplin yang tinggi. Sementara saat ini saya merasa belum mau dan sanggup menjalaninya.

Tapi apakah saya harus berhenti ngeblog total? Menurut teman-teman gimana?

Setelah berkontemplasi dengan diri sendiri dan bergabung di Rumah Belajar Literasi Ibu Profesional Asia, yang lalu dipercaya untuk mengelola blog IP Asia dan menjadi salah satu mentor untuk sesi bulanan Blogging & Writing Mentor, saya memutuskan untuk tetap menulis di blog.

Saya menyadari bahwa meski prestasi saya di bidang blogging nggak ada apa-apanya dibanding teman-teman blogger yang sudah profesional, saya masih punya sesuatu untuk dibagikan. Dan itulah tujuan awal saya menulis di blog. To share, because sharing is caring. Betul kan?

Manfaat Menulis Blog

Selain itu, saya ngeblog karena masih merasakan beberapa manfaat menulis blog yang lain sebagai berikut.

5 Manfaat Menulis Blog dan Alasan Saya Melakukannya

Melatih Kemampuan Menulis 

Quote tentang menulis

Saya suka menulis, tapi saya merasa tulisan saya nggak bagus-bagus amat. Bahkan jujur saja saya sering malas membaca kembali tulisan saya. Lha, kalau yang nulis saja nggak suka membaca tulisan sendiri gimana orang lain mau membacanya ya. Nah, menulis di blog secara teratur bisa menjadi sarana saya berlatih menulis.

Dan dengan mengikuti kelas NulisYuk Batch 38 Tema Blog ini, saya berharap bisa memperbaiki tulisan-tulisan saya di blog menjadi lebih enak dibaca. Sehingga saya sangat mengharapkan feedback dari mentor dan teman-teman satu kelas mengenai tulisan-tulisan saya di blog ini.

Berbagi Pikiran dan Pengalaman

Sharing is caring

Salah satu alasan saya menulis di blog adalah berbagi pikiran dan pengalaman. Saya ini suka overthinking. Apa-apa dipikirin. Tapi nggak pandai berkomunikasi secara lisan sehingga akhirnya sering bingung sendiri karena pikiran saya penuh dengan banyak hal. Dengan menulis di blog saya bisa menuangkan apa yang ada di pikiran saya dan mungkin mendapatkan teman berdiskusi. Kalaupun tidak, setidaknya saya sudah cukup senang karena satu beban pikiran sudah berkurang. Ada yang begitu juga nggak?

Dengan berbagi pengalaman di blog juga saya berharap orang lain bisa memperoleh manfaat atas apa yang saya alami. Misalnya salah satu artikel yang paling sering dibaca di blog ini adalah tentang Speech Delay si Keenan. Dari artikel ini banyak yang akhirnya menghubungi saya lewat email dari berbagi pengalaman mengasuh anak dengan gangguan terlambat bicara. Begitu juga artikel-artikel lain yang berhubungan dengan tinggal di Brunei.

Lebih Banyak Membaca dan Belajar

Stephen King quote

Manfaat menulis di blog yang lain adalah membuat saya lebih semangat membaca dan belajar. Membaca di sini nggak cuma buku-buku tentang blogging ya, justru saya lebih suka membaca buku fiksi yang ringan-ringan lho. Dari banyak membaca, saya jadi belajar bagaimana merangkai kalimat yang enak dibaca. Dan tentu saja jadi punya bahan untuk dijadikan tulisan di blog.

Supaya ilmu blogging tetap update, saya juga berusaha untuk tetap belajar. Baik dari sharing dengan teman-teman blogger maupun ikut kelas-kelas blogging. Sebenarnya sih saya lebih suka belajar offline ya, tapi karena keterbatasan ya belajar secara online pun saya ikuti juga. Baik dalam bentuk kelas-kelas interaktif di whatsapp group maupun kelas satu arah lewat video dan podcast di Udemy.

Membangun Networking

Dengan menulis di blog, kita akan berkenalan dengan orang-orang baru. Mulai dari para pembaca blog kita sampai ke sesama blogger. Beberapa di antara mereka bisa menjadi sahabat kita suatu hari nanti. Ini sudah saya buktikan sendiri. Dari networking inilah kita bisa mendapatkan informasi tentang proyek menulis, tawaran job review atau placement post serta ilmu-ilmu baru tentang blogging.

Sebagai Jurnal Pribadi

Blog bisa juga berfungsi sebagai jurnal pribadi kita. Dengan menulis di blog, kita bisa melihat bagaimana tulisan kita berubah, bagaimana kehidupan kita berkembang, bagaimana kepribadian kita bertumbuh. Blog juga bisa menjadi catatan digital kehidupan kita dari masa ke masa. Di usia 10 tahun blog ini pada bulan Desember nanti, saya sudah menuliskan banyak sekali kisah saya dan keluarga mulai dari anak baru 1 sampai sekarang jadi 2. Mulai dari kisah mereka saat balita sampai sekarang salah seorangnya menjelang remaja. Mungkin suatu saat nanti, blog ini akan menjadi sarana bagi anak-anak saya untuk mengenal pikiran dan perasaan ibunya saat saya sudah tidak lagi bersama mereka.

Nah, kalau menurut teman-teman sendiri, apa sih manfaat menulis blog yang kalian rasakan selama ini? Silakan sharing di kolom komentar ya.

Credit: Photo by Christin Hume on Unsplash

Semangat Menulis, Bagaimana Cara Mengembalikannya?

semangat menulis, bagaimana cara mengembalikannya

Jack of all trades, master of none – William Shakespeare

Kutipan itu sempat menjadi isi profil Instagram saya selama lebih dari setahun karena saya bingung menjelaskan jati diri saya. Jack of all trades, master of none adalah idiom yang menggambarkan seseorang yang bisa melakukan banyak hal tapi tidak ahli dalam satu hal pun. Dan itu menggambarkan diri saya dengan tepat.

I mean, I can do a lot of thingslike baking, writing, blogging, making DIY toys, crafting, and crochetingBut nothing, not even one that I am really good or have expertise on.

Pada suatu masa, saya suka sekali belajar public speaking yang kemudian ini membantu sekali dalam pekerjaan saya sebagai front liner di sebuah bank. Namun, setelah tidak lagi bekerja, keahlian itu pun sirna.

Saya dan Memasak

Lalu saya belajar memasak makanan bayi dan baking demi Cinta yang masih balita. Bahkan saya sempat bergabung dengan komunitas masak terbesar pada saat itu, NCC (Natural Cooking Club), dan mengikuti pelatihan bikin kukis saat kopdar akbar di Surabaya!

barbie cake
9 tahun lalu, saya bisa membuat Barbie Cake ini from scratch untuk ulang tahun ke-3 Cinta.

Tapi kemudian saya sadar bahwa cooking is not my strong suit. Saya bisa masak seadanya, sambil melihat resep. Namun saya nggak suka karena memasak itu memerlukan energi yang besar sekali mulai dari memikirkan menu masakannya, mengolah bahan mentahnya, menghidangkannya hasilnya ke meja makan dan mencuci peralatan dapurnya. Memasak adalah salah satu pekerjaan rumah tangga yang sangat ingin sekali saya serahkan ke pihak ketiga seandainya bisa. Lagipula memasak nggak membuat saya bahagia.

Saya dan Ilmu Parenting

Saat saya dan Cinta pindah ke Jakarta dari Sidoarjo, saya suka sekali ikut seminar dan komunitas parenting. Mulai yang temanya kesehatan sampai pola asuh anak. Bahkan sampai niat nyetir sendiri ke Jakarta dari Parung hanya berbekal GPS karena benar-benar buta jalan.

Tapi lantas saya mengalami tsunami informasi saking banyaknya ilmu yang saya peroleh. Saya overload sampai-sampai hanya sedikit sekali dari teori-teori parenting itu yang akhirnya dapat saya terapkan ke anak-anak. Dan sampai saat ini saya masih merasa fed up sehingga belum tergerak lagi untuk mengikuti pelatihan pola asuh walaupun sering galau menghadapi perilaku anak-anak.

Saya dan Crafting

Aktivitas lain yang saya sukai adalah crafting alias kerajinan tangan. Saat Cinta dan Keenan masih kecil, saya suka mengajaknya membuat aneka prakarya dan mainan DIY. Mulai dari rumah boneka dari kardus sampai membuat playdough yang aman untuk batita. Namun anak-anak semakin besar dan tidak berminat lagi bikin prakarya, saya juga semakin malas membereskan rumah yang berantakan setelah kami bebikinan.

Setelah saya pindah ke Brunei, saya pun bergabung dengan grup crafting ibu-ibu Indonesia. Di sini saya belajar crochet. Kegiatan belajar crochet bersama yang diadakan secara rutin dan kelompok yang suportif membuat saya lumayan betah melakukan aktivitas ini. Cukup banyak juga hasil crochet saya. Bahkan tiap mudik ke Surabaya saya suka sekali hunting hakpen dan benang di toko yang jual perlengkapan rajut di Plaza Surabaya. Atau mampir ke Hokko di Bandar Seri Begawan sekadar membeli benang atau kain.

crochet
Salah satu hasil crochet yang masih tersimpan sampai saat ini

Sayangnya seiring dengan krisis migas dunia beberapa tahun lalu, komunitas keluarga Indonesia di Seria & Kuala Belait pun terkena dampaknya. Banyak teman saya di grup crafting yang kembali ke Indonesia atau pindah ke negara lain. Lama-lama grup crafting pun bubar dan saya kehilangan motivasi untuk crocheting sampai akhirnya berhenti sama sekali. Padahal perlengkapan crochet yang sudah dibeli pun nggak sedikit, begitu juga benang dan buku yang akhirnya dibagikan ke teman-teman yang masih rajin merajut daripada mubazir.

Saya dan Fotografi

Setelah sekian lama nggak punya hobi produktif dan hanya menghabiskan waktu luang dengan membaca dan bermain media sosial. Akhirnya saya tertarik pada fotografi karena ingin memiliki feed instagram yang bagus dengan foto-foto berkualitas tinggi. Untuk mendukung hobi ini, selain ikut workshop online, saya juga mengikuti workshop offline memotret model yang diselenggarakan oleh Benchlab Brunei beberapa waktu lalu.

;

Hanya saja, minat saya terhadap fotografi nggak berkembang. Nggak ada keinginan untuk terus menerus berlatih agak bisa menguasai kamera dan teknik-teknik fotografi. Bahkan sekarang sudah mulai malas membawa kamera ke manapun saya pergi dan kembali mengandalkan kamera telepon genggam. Untung suami saya paham sekali istrinya yang moody ini sehingga ia merasa cukup membelikan saya kamera mirrorless dengan fitur untuk pemula daripada kamera canggih yang mahal seperti di foto ini hahaha. Takut rugi dia.

Begitulah, hobi saya berganti mengikuti apa yang sedang ‘in’ di sekitar saya. Mungkin karena saya orangnya tipe follower banget atau malah mungkin tingkat FOMO, fear of missing out saya tinggi ya. Jadi ketika orang-orang sedang suka dengan aktivitas tertentu ya saya ikuti. Setelah merasa bisa dan bosan karena merasa nggak berkembang, ya sudahlah ditinggal lagi.

Sampai akhirnya saya mengikuti kelas Matrikulasi Ibu Profesional. Pada materi pertama yang diberikan, yaitu Adab Sebelum Ilmu, mengajarkan kita fokus belajar atau melakukan aktivitas yang benar-benar kita sukai saja agar tidak terjebak dalam tsunami informasi dengan mantera, “Menarik, Tapi Tidak Tertarik.” Padahal awalnya saya memutuskan untuk mengikuti Matrikulasi Ibu Profesional ini juga karena FOMO, lho hehehe.

Sejak itu, saya mulai memilah prioritas saya. Dan setelah menelusuri berbagai aktivitas yang pernah saya lakukan ada satu yang tetap saya lakukan sejak dulu sekali, yaitu menulis. Baik itu menulis di buku harian, menulis di blog sejak tahun 2004 dan menulis konten untuk beberapa situs parenting (hei, hasil seminar-seminar parenting yang dulu sering saya ikut ternyata nggak sia-sia, lho). Walaupun aktivitas yang terakhir ini sudah nggak lagi saya jalani, saya tetap menulis, terutama di blog dan instagram.

Hambatan dalam Menulis

Sayangnya, semangat menulis saya naik turun. Kalau sedang rajin, dalam sebulan blog ini bisa terisi seminggu sekali. Namun, kalau semangat menulis saya sedang turun, bisa lebih dari 3 bulan blog ini nggak saya update. Saya sendiri nggak tahu kenapa sering sekali kehilangan semangat menulis.

Kalau dibilang kehabisan ide, enggak juga sih. Di blog ini saja ada beberapa draft tulisan yang belum saya selesaikan. Di jurnal saya ada daftar ide tulisan yang menunggu dieksekusi. Bahkan saat saya menulis blogpost ini, setidaknya ada 2 ide yang menari-nari di kepala saya, yaitu perjalanan kami ke Kota Kinabalu dan rangkuman materi tips menulis agar tetap enak dibaca dari sesi Blogging & Writing Mentor Ibu Profesional Asia bulan lalu. Satu naskah untuk antologi RB Literasi IP Asia juga sudah mengendap di kepala menuntut dituangkan ke dalam bentuk tulisan.

Mungkin soal waktu? Ya sebenarnya kalau mau diadakan ya pasti adalah waktu untuk menulis. 1 jam dalam sehari pasti saya bisa meluangkannya. Tapi toh, akhirnya waktu itu lebih sering saya gunakan untuk scrolling instagram dan facebook daripada menulis.

Satu-satunya alasan yang bisa saya temukan adalah karena saya jenuh. Saat menulis di blog, apalagi karena saya sedang berusaha menjadi blogger profesional, saya ingin setiap postnya ini sempurna. Ya dengan memilih niche yang tepat,  tata bahasa yang baik, ilustrasi berkualitas, konten yang bermanfaat sampai SEO yang baik.

Jadi setiap akan menulis di blog saya harus membuat outlinenya dulu, lalu melakukan keyword research dan membuat ilustrasi yang baik. Itu menghabiskan waktu terlalu banyak hanya untuk menulis 1 blogpost dan seringkali terasa melelahkan. Untuk menulis blogpost ini saja saya membutuhkan waktu 2 jam sampai akhirnya dipublish, lho. Belum lagi nanti harus memantau pageview dan adsense. Padahal, aktivitas saya ya nggak cuma ngeblog kan.

Bagaimana Mengembalikan Semangat Menulis?

Lalu apa yang harus saya lakukan untuk mengembalikan semangat menulis? Saya masih cinta menulis dan ngeblog. Bahkan 2 bulan ini saya juga masih rutin mengisi blognya Ibu Profesional Asia dan saya sangat menikmatinya. Rasanya lebih mudah menulis di sana daripada mengisi blog sendiri. Mungkin karena materinya sudah tersedia dan saya hanya tinggal merangkai kata agar lebih nyaman dibaca?

Sayangnya kegiatan ini sebentar lagi pun harus saya lepaskan karena saya akan pindah dari Brunei kembali ke Indonesia, yang artinya keanggotaan saya sebagai member Ibu Profesional akan dimutasi dari IP Asia ke IP regional baru nanti. Hiks.

semangat menulis, bagaimana cara mengembalikannya

Untuk itulah saya mulai lagi belajar mengembalikan semangat menulis di blog ini dengan cara:

Cara Mengembalikan Semangat Menulis

  1. Mengikuti kelas menulis Belajar Menulis di Blog yang diselenggarakan oleh NulisYuk.
    mengembalikan semangat menulis
  2. Belajar membebaskan diri dalam menulis seperti yang disampaikan oleh mbak Kiki Handriyani, pemateri di kelas tersebut, “Tulis aja, tulis lagi, tulis terus sampai kamu menemukan tema apa yang cocok dengan dirimu.”
  3. “Fokus nulis, nulis dan memperbaiki tulisan. Rejeki akan datang ketika kita sudah siap mental, pikiran dan fisik,” pesan Mbak Kiki.
  4. Mendobrak kemalasan. Lagi-lagi ini wejangan dari Mbak Kiki. Hambatan utama saya adalah malas. Jadi yang harus dilakukan ya harus melawan kemalasan itu.
  5. Jaga mood dengan cara mencari kegiatan lain yang mendorong kita untuk tetap semangat menulis, seperti aktif di komunitas dan bertemu dengan orang lain yang memiliki passion yang sama.
  6. Targetkan seminggu sekali 1 tulisan artikel atau 2 hari sekali menulis status di Facebook. Mbak Kiki menantang kami untuk menulis status yang sesuai minat di Facebook. Tapi saya nggak suka main Facebook, so I will stick on blogpost sajalah.
  7. Fokuskan pada tujuan kita menulis untuk apa? Ingin jadi blogger profesional? Ingin mendapatkan pageview ribuan? Dapat uang dari adsense dan placement post? Atau berbagi dan menginspirasi? Apapun tujuannya ya harus mau bekerja keras untuk menulis kan? Semangat!
  8. Banyak membaca. Penulis nggak bisa menulis dengan baik kalau nggak suka membaca.

Begitulah sementara ini kesimpulan yang bisa saya peroleh dari sesi pertama kelas menulis online Belajar Menulis di Blog oleh Mbak Kiki Handrayani.

Harapan saya, setelah materi berakhir, saya dapat mengumpulkan lagi semangat menulis di blog sehingga blog Pojokmungil ini bisa saya update dengan teratur. Saya juga berharap tulisan saya menjadi lebih baik dan enak dibaca dengan feedback dari pemateri. Dan yang terakhir adalah mengembangkan networking sebagai blogger.

Teman-teman blogger ada yang pernah mengalami patah semangat dalam menulis? Atau writer’s block mungkin? Boleh dong berbagi tipsnya di kolom komentar. Ditunggu ya…

7 Cara Agar Resolusi Tahun Baru Berhasil Dilaksanakan

resolusi tahun baru

Yak, siapa yang tiap akhir tahun bersemangat bikin resolusi tahun baru tapi selalu gagal melakukannya di tengah jalan?

Sayaaa!!!

Eh, bener nih cuma saya aja? Yakin? Atau nggak mau ngaku aja? Hayooo…

Tapi yah begitulah. Saya mah orangnya suka semangat saat bikin resolusinya, menggebu-gebu banget lah. Pengennya semua hal yang jelek dari diri saya diubah dan diganti dengan yang lebih baik dalam waktu sekejap. Namun, saya lupa kalau kebiasaan-kebiasaan yang sudah terbentuk bertahun-tahun itu nggak mungkin dihilangkan hanya dalam waktu 1 bulan. Jadi, ketika saya nggak berhasil melakukan salah satu hal dalam daftar resolusi saya, misalnya skip olahraga 1 kali dari target 3 kali seminggu, langsung patah semangat. Dan akhirnya memutuskan untuk berhenti melakukan resolusi tersebut.

Baca juga: Resolusi terakhir yang pernah saya buat dan gagal.

Karena itulah beberapa tahun belakangan ini saya nggak lagi membuat resolusi tahun baru. Males euy, paling juga gagal lagi seperti tahun-tahun sebelumnya. Lagipula kalau saya niat memperbaiki diri nggak perlu nunggu tahun baru lah. Kapan aja saya mau pasti bisa. Iya nggak?

resolusi tahun baru, ika natassa quote, the architecture of love

Tapi tema nulis bareng RB Literasi Ibu Profesional Asia bulan ini seakan menantang saya untuk mencoba membuat lagi resolusi tahun baru. Tadinya sih pengen nulis yang biasa-biasa aja ya. Seperti: pengen kurus, lebih sabar, pengen umroh, pengen bisa lebih sering nulis di blog dan baca buku. Gitu-gitu deh.

Cuma, kalau begitu doang naga-naganya bakal gagal di minggu kedua bulan Februari nih. Jadi saya mencoba menulis resolusi tahun 2019 dengan lebih serius dengan harapan bisa konsisten menjalankannya sampai akhir tahun.

Resolusi Tahun Baru

Sebenarnya apa sih resolusi itu? Dan apa pentingnya bikin resolusi di akhir atau awal tahun?

Menurut Wikipedia:

Resolusi tahun baru adalah sebuah tradisi yang dilakukan di akhir tahun atau awal tahun. Di mana seseorang memutuskan untuk mengubah sifat atau perilaku yang nggak disukai di tahun sebelumnya, untuk mencapai tujuan pribadi atau memperbaiki kehidupan mereka.

Karena ini adalah tradisi jadi boleh dilakukan boleh enggak. Bebas aja ya. Meski ternyata membuat resolusi tahun baru sebenarnya cara yang baik dan produktif untuk menetapkan tujuan dan niat untuk tahun baru. Sebab, dengan membuat resolusi, kita bisa:

  1. Punya motivasi untuk menyambut tahun baru.
  2. Punya target yang jelas tentang hal yang ingin kita capai.
  3. Punya pengingat saat kita mulai melenceng.
  4. Punya bahan evaluasi atas hal-hal yang sudah kita lakukan di tahun tersebut.

Nah, supaya resolusi kita saya nggak gagal di tengah jalan seperti tahun-tahun sebelumnya, saya mencoba mencari tahu apa saja yang harus dilakukan saat membuat resolusi tahun baru. Dan inilah cara yang bisa kita terapkan supaya resolusi yang kita rencanakan itu berhasil.

7 Cara Agar Resolusi Tahun Baru Berhasil Dilaksanakan

1. Tulis Resolusi Tersebut.

Menurut Elizabeth Ward, PhD yang dikutip oleh self.com, orang yang menuliskan resolusi mereka akan punya rasa tanggung jawab yang lebih besar untuk melaksanakannya. Sehingga mereka memiliki kesempatan yang lebih banyak juga untuk mencapai tujuan mereka.

2. Mulai Dari Hal Yang Kecil

Punya resolusi untuk turun berat badan 10 kg dalam 3 bulan atau nggak pernah marah sama sekali ke anak-anak itu impian saya. Tapi saya sadar kok kalau itu nggak mungkin dicapai dalam waktu singkat.

Lebih baik kita mulai dari hal-hal yang kita yakin bisa kita capai. Ubah 1 perilaku dalam 1 waktu. Misalnya, turun BB 5 kg dalam 1 tahun dengan cara olahraga rutin 3x seminggu dan memperbanyak makan sayur sepertinya lebih mungkin dilakukan.

3. SMART (Spesific, Measurable, Achievable, Realistic, Timely)

Metode yang diperkenalkan oleh George T. Doran ini saya pelajari di kelas Matrikulasi Ibu Profesional. Cara ini InsyaAllah membantu kita dalam membuat resolusi tahun baru yang bisa kita lakukan sepanjang tahun.

resolusi tahun baru, smart

Baca juga deg-degannya saya saat akan mengikuti program matrikulasi Ibu Profesional Batch 6.

4. Bikin Plan atau Jadwal

Setelah kita menuliskan semua hal yang ingin kita capai di tahun depan dengan SMART, waktunya kita menyusun rencana. Masukkan aktivitas yang harus kita lakukan untuk mencapai tujuan tersebut dalam agenda harian kita.

Misalnya saya ingin menjadi blogger profesional. Tahap pertama adalah rutin blogging, minimal 1 kali dalam 1 minggu. Untuk itu saya perlu mengalokasikan waktu 1 jam sehari untuk blogging dengan rincian aktivitas sebagai berikut:

blog weekly planner, resolusi tahun baru

Silakan unduh template rencana blogging mingguan ini di: http://bit.ly/blogplannerAlfa

Atau saya ingin olahraga 3 kali seminggu tapi juga ingin puasa sunnah 2 kali seminggu, dengan menuliskan di jadwal mingguan, dua aktivitas itu bisa dilakukan di hari yang berbeda. Karena lari saat puasa tentu menyiksa diri saya, kalau dipaksakan di hari yang sama bisa-bisa keduanya nggak akan saya lakukan.

5. Jangan Memaksakan Diri

Kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT (dan warganet yang maha benar). Jadi meski kita sudah menyusun resolusi seSMART mungkin dengan jadwal sebaik mungkin, siapkan mental kita untuk hal-hal yang terburuk. Sebagai orang yang (agak) perfeksionis, saya sering merasa kecewa saat rencana yang saya buat nggak berjalan sesuai keinginan saya. Karena itulah suami saya sering mengingatkan, always hope for the best but prepare for the worst.  Begitu juga saat menjalankan resolusi tahun baru kita.

Akan ada saat kita sakit sehingga nggak bisa olahraga selama satu minggu. Atau suasana hati sedang buruk sekali sehingga setelah 3 hari sukses nggak marah ke anak-anak, hari ini kelepasan marahin mereka. Bisa juga gagal makan sayur dan buah secara rutin karena pergi liburan yang nggak memungkinkan kita menjalankan pola makan seperti saat di rumah. Atau ya lagi males aja gitu. Nggak papa. Jangan lantas merasa seluruh usaha kita menjalankan resolusi itu gagal.

resolusi tahun baru

Semua orang punya pasang surutnya kok. Jadi ketimbang berhenti di tengah jalan, lebih baik kita catat dan pelajari penyebab kesalahan itu. Lalu kembali lagi ke jalan yang benar sambil berusaha menghindari penyebab kegagalan tersebut.

6. Evaluasi

Evaluasi aktivitas kita dan hasil yang kita capai setiap beberapa waktu. Idealnya 3 bulan sekali. Seperti anak sekolah ya, tiap term ada evaluasinya. Begitu juga dengan resolusi tahun baru kita. Dengan melakukan evaluasi, kita jadi tahu mana resolusi yang sesuai track dan bisa diteruskan sampai akhir tahun, mana yang sebaiknya kita tunda di tahun berikutnya.

7. Minta Dukungan Dari Orang Lain

Kalau kita sendiri merasa kewalahan atau merasa nggak mampu mencapai tujuan kita seorang diri, mintalah dukungan dari orang-orang terdekat. Hal itu akan membuat kita akan lebih termotivasi untuk menyelesaikan resolusi yang kita buat. Atau kita juga bisa meminta bantuan profesional seperti psikolog. Jangan takut berkonsultasi ke psikolog. Mereka nggak cuma membantu orang-orang yang memiliki masalah kesehatan mental kok. Justru psikolog bisa membantu kita menyusun strategi untuk mencapai tujuan kita.

Nah dengan mempraktikkan 7 cara tersebut, InsyaAllah resolusi tahun baru kita nggak cuma angan-angan semu di awal tahun ya.

Resolusi 2019 Ala Saya

Saya sendiri akhirnya memutuskan nggak bikin resolusi yang benar-benar baru untuk tahun depan. Sekadar memperbaiki indikator ibu profesional serta misi hidup dan produktivitas yang saya buat untuk Nice Homework #2 dan #8 program matrikulasi Ibu Profesional. Karena menurut saya itu sudah mencakup tujuan utama saya, yaitu menjadi pribadi, istri dan ibu yang sehat, bahagia, produktif dan bermanfaat bagi keluarga.

resolusi tahun baru

 

Untuk tahun 2019 ini, prioritas utama saya adalah mendampingi anak-anak belajar karena si kakak akan menjalani PSR (Peperiksaan Sekolah Rendah) di akhir tahun 2019. Sementara adik tahun ini masuk Primary School di usianya yang masih terlalu muda sebenarnya. Sehingga mereka pasti memerlukan kehadiran saya lebih intens lagi.

Selain itu saya juga ingin fokus meningkatkan ketrampilan saya di bidang blogging sehingga bisa menjadi blogger profesional. Dalam arti bisa mendapatkan penghasilan secara rutin lagi dari menulis blog dan konten yang beberapa tahun ini saya tinggalkan.

But once again, meski tradisinya resolusi ini dibuat di akhir tahun untuk dilaksanakan sepanjang tahun depan, saya nggak ngoyo untuk memulai semua ini serentak di hari pertama bulan Januari 2019. Euforia tahun baru yang bertepatan dengan hari pertama anak masuk sekolah di tahun ajaran baru bisa membuat saya hilang fokus. Ya, meskipun saya nggak merayakan tahun baru, sudah nggak kuat euy begadang demi nungguin detik-detik pergantian tahun. Bagi saya pribadi, akan lebih baik kalau kita memilih hari di mana kita cukup istirahat, semangat dan dikelilingi oleh orang-orang yang positif sebagai titik awal pelaksanaan resolusi.

Untuk itu saya memilih untuk mengerjakan satu per satu dalam periode waktu tertentu. Seperti yang saya tulis di atas, one step at a time, start small.

Mohon doanya supaya saya bisa konsisten melaksanakan resolusi tahun baru saya ini, ya. Kalau resolusi teman-teman-teman untuk tahun 2019 apa aja nih?

 

Serunya Belajar Futsal Bareng Balbalan Futsal Sidoarjo

balbalan futsal sidoarjo, futsal anak

Kira-kira 2 minggu menjelang keberangkatan saya dan anak-anak mudik ke Sidoarjo, saya membaca sebuah post di Instagram tentang trial futsal anak di Sidoarjo yang diselenggarakan oleh balbalan futsal Sidoarjo. Trial ini dalam rangka pembukaan kelas futsal anak balbalan futsal Sidoarjo, setelah sudah cukup terkenal di Surabaya. Nama klubnya sendiri cukup earcatching ya. Tahu kan kalau balbalan dalam bahasa Jawa artinya main bola.

Kebetulan, tanggal trialnya pas banget saat kami sudah di sana dan kelas yang dibuka waktu itu untuk usia 3-6 tahun. Saya pikir ini kesempatan bagus untuk Keenan mengenal salah satu olahraga favorit cowok. Jadi saya mendaftarkan Keenan untuk mengikuti free trial di tanggal 26 November itu.

Di hari H, Keenan semangat sekali pergi ke Althea Futsal Sidoarjo, meski saat kami sampai di sana peserta yang datang cuma 4 orang. Alhamdulillah ada 2 anak pemilik klub balbalan futsal yang ikut bergabung dengan latihan pagi itu jadi agak rame mainnya.

 

balbalan futsal sidoarjo, futsal anak

Serunya Main Futsal

Meski pesertanya cuma sedikit, para pelatih dari Balbalan Futsal tetap semangat lho. Dengan kesabaran luar biasa, mereka mengajak anak-anak kecil itu berlatih main futsal. Mulai dari pemanasan, belajar melompati halangan, menendang dan mengoper bola jadi materi futsal pagi itu. Tentu semua dilakukan dengan cara yang menyenangkan. Para pelatih nggak pelit dalam memberi semangat dan ketika anak berhasil menyelesaikan satu challenge, mereka selalu diajak high five. Kan anak-anak jadi makin semangat ya.

Saking senangnya, 1 jam latihan jadi nggak terasa. Meski kulitnya jadi merah dan penuh keringat, Keenan keluar dari lapangan dengan wajah riang. Akhirnya, saya pun memutuskan untuk mendaftarkan Keenan sebagai member balbalan futsal biar dapat baju bola ada kegiatan selama mudik di Sidoarjo. Lumayan lah, ada 4 kali latihan yang bisa diikuti Keenan sebelum kami kembali ke Brunei kemarin.

Pada latihan kedua, Keenan sudah dapat seragam bolanya. Pas sepupunya juga ikut trial. Jadi dia semakin semangat latihan, meski mulai susah diajak berangkat dari rumah :))

Yang menarik menurut saya adalah melihat Keenan belajar mengikuti instruksi berbahasa Indonesia dan ternyata dia bisa, meski pelatihnya harus mengulang beberapa kali. Keenan juga belajar menunggu giliran, bekerja sama dengan teman dan punya kesempatan untuk berlari tanpa dilarang di lapangan futsal.

Di minggu keempat, Keenan mungkin satu-satunya yang rajin datang latihan tiap minggu. Kali ini yang latihan cuma 2 orang :)) Mungkin karena sudah mulai libur sekolah ya, jadi sudah pada bepergian. Tapi kata omnya yang nganter Keenan latihan, dia tetap semangat. Minggu ini adalah kali terakhir Keenan ikut latihan futsal bareng balbalan futsal Sidoarjo, karena tanggal 19 Desember kemarin kami sudah kembali lagi ke Brunei.

Sebenarnya saya berharap Keenan bisa melanjutkan latihan futsalnya karena mama berambisi jadi soccermom. Sayang, di tempat saya tinggal sekarang belum nemu klub futsal anak-anak yang nggak harus jadi member Sports Club dulu. Padahal, banyak sekali lho manfaat yang bisa didapat anak dari bermain futsal. Di antaranya adalah:

  • Menyalurkan Energi

Anak yang aktif seringkali perlu menyalurkan energinya. Olahraga atau bermain di alam terbuka bisa jadi pilihan yang tepat. Sayang kalau di kota besar sudah jarang ya ada taman bermain luar ruangan yang punya fasilitas untuk anak-anak berolahraga. Jadi ikut klub futsal bisa jadi salah satu pilihan anak untuk beraktivitas.

  • Melatih Kemampuan Motorik

Dalam futsal, anak-anak nggak cuma lari-lari ngejar bola. Mereka juga belajar keseimbangan tubuh, melatih refleks juga ketepatan menendang bola. Anak juga secara bertahap terlatih untuk menguasai bola, belajar ketepatan waktu mengoper dan menerima bola serta konsentrasi. Tentu ini nggak bisa didapat dalam 4 kali latihan seperti yang sudah dilakukan Keenan ya. Melainkan harus kontinu supaya bisa memperoleh manfaatnya.

  • Bersosialisasi

Futsal adalah olahraga tim. Dibutuhkan kerjasama yang baik antara pelatih dan pemain. Di sini anak-anak belajar untuk mendengarkan dan mengikuti instruksi pelatihnya, juga bekerjasama dengan temannya. Ya, untuk kelompok seumur Keenan mungkin belum bisa disuruh main bareng masukin bola ke dalam gawang sebagai tim. Pengalaman kemarin yang ada malah mereka rebutan bola untuk ditendang sendiri :)) Tapi, selalu ada sesi di mana pelatih minta anak-anak untuk belajar mengoper bola ke teman. Jadi ke depannya diharapkan mereka bisa main bersama, bukan lagi rebutan bola, yes.

Semoga kalau ada kesempatan, Keenan bisa main lagi sama teman-teman dan pelatih di balbalan futsal Sidoarjo. Untuk sekarang ini, sepertinya harus cari aktivitas lain untuk menyalurkan energi anak kecil yang seperti nggak ada habisnya ini. Bagi mama dan papa di Sidoarjo yang berminat mengikutkan anak-anaknya main futsal bareng balbalan futsal Sidoarjo tiap hari Minggu jam 9-10 pagi di Althea Futsal Sidoarjo, ikuti saja akun instagram @balbalanfutsal. Bisa langsung tanya ke sana juga untuk info pendaftarannya. Nggak nyesel deh ikutan futsal bareng balbalan futsal, seru.

Bros Dari Pita Ala Ibu-Ibu KB Seria

Yang namanya kumpul-kumpul sambil arisan kayanya nggak lepas dari keseharian ibu-ibu Indonesia ya. Coba deh mulai dari arisan di perumahan, arisan bareng ibu-ibu di sekolah anak (kalau anaknya 2, arisannya bisa ikut dua kelompok), arisan sama ibu-ibu seprofesi, you name it. Jenis arisannya sendiri sekarang makin banyak. Kalau jaman mama kita dulu mungkin cuma arisan uang dan arisan panci, jaman digital gini ada dong arisan emas, arisan buku, arisan iPhone dan kamera mirrorles, arisan jalan-jalan dan masih banyak lagi yang dikelola secara online. Asli deh, yang kaya gini ini diperlukan modal kepercayaan yang besar ya. Setor uang ke orang-orang yang secara fisik belum pernah kita temui di dunia nyata. 

Buat sebagian ibu (baca: khususnya saya) jumlah arisan nggak penting, yang penting ngumpulnya, karena acara ngumpul inilah yang sebenarnya seru. Makanya saya jarang ikut arisan dengan jumlah besar, selain sayang uangnya juga karena tujuan utamanya bukan itu.

Tapi sebagian lain, memanfaatkan arisan sebagai kesempatan untuk nabung. Masuk akal juga sih, dengan ikut arisan mau nggak mau kan kita menyisihkan sejumlah tertentu uang belanja yang bisa diambil kemudian saat tiba waktunya. Sebenarnya tabungan formal jenis ini sudah ada di beberapa bank, seperti CIMB Niaga dengan nama Tabungan Mapan, di mana kita setor ke bank jumlah tertentu setiap bulan dalam jangka waktu tertentu. Dan setelah waktunya berakhir, dana kita bisa langsung cair ke tabungan utama. Kenapa saya ngasih contohnya tabungan dari bank CIMB Niaga? Ya karena saya tahunya itu, secara mantan pegawai gitu :))

Cuma, sepertinya tabungan jenis ini masih kalah pamornya dengan arisan ya. Setidaknya di lingkungan saya sih seperti itu, ibu-ibunya lebih memilih ikut arisan atau menginvestasikan uangnya ke asuransi unit link dan reksadana. Nah, sejak merantau ke Brunei saya kira nggak akan ketemu lagi sama yang namanya arisan tapi ternyata saya salah. Hari pertama saya gabung dengan komunitas ibu-ibu Indonesia di wilayah Seria dan Kuala Belait (biasa disebut ibu-ibu KB Seria), langsung diajak arisan yang baru memulai putaran barunya. Jadilah, sejak saat itu sampai sekarang saya sudah ikut 3 putaran arisan di komunitas ini. Dan, sahabat-sahabat saya di Jakarta, para mamak bundar alias Circle Moms, rencananya akan mulai juga arisan putaran baru bulan ini setelah lama vakum. Tujuan kedua arisan ini sama, supaya bisa ngumpul secara rutin dan mempererat persaudaraan antar anggotanya.

View this post on Instagram

Indonesian ladies in KB – Seria

A post shared by Alfa Kurnia (@alfakurnia) on

Karena tujuan itulah, arisan di komunitas KB Seria bukan jadi acara utama setiap kali kami berkumpul di hari Rabu, minggu pertama bulan berjalan, sehingga yang nggak ikut arisan pun sangat diperbolehkan untuk bergabung. Dan sejak 2 tahun lalu, pada acara yang diberi judul silaturahmi ini selalu ada sharing session dari salah seorang ibu yang ditunjuk karena memiliki keahlian sesuai tema bulanan. Jadi misalnya bulan Januari temanya cooking class ya dicari seorang ibu yang mau berbagi ketrampilan memasaknya. Sejauh ini sudah pernah ada kelas investasi, bikin cireng, dekor kue, kesehatan organ intim wanita, bikin bunga dari manik-manik dan masih banyak lagi. Nggak harus sulit kok, sederhana pun nggak apa-apa yang penting bermanfaat dan acara silaturahmi nggak sekadar menjadi ajang bertukar gosip. 

Nah, pada hari Rabu kemarin kegiatan silaturahmi ibu-ibu KB Seria selain arisan juga diisi dengan crafty class membuat bros dari pita.

Pengajarnya adalah mbak Yulisma Jamalin yang biasa kita panggil mbak Uun. Mbak Uun ini memang terkenal kreatif. Selain pandai crochet tanpa pola, cross stitch, bikin bunga dari manik-manik juga akhir-akhir ini merambah ke bidang doodling dan coloring yang lagi ngetren itu. Jadi nggak heran lah kalau beliau yang ditunjuk untuk mengisi crafty class.

View this post on Instagram

Silaturahmi ibu-ibu KB Seria bulan September 2016

A post shared by Alfa Kurnia (@alfakurnia) on

 

Karena keterbatasan waktu, maklum, ibu-ibu KB Seria kan bagaikan Cinderella, jam 12 teng sudah harus bergegas memacu kendaraan masing-masing untuk menjemput anak-anaknya pulang sekolah, menyiapkan makanan untuk para suami yang pulang makan siang di rumah, dan aktivitas lain, maka mbak Uun pun memilihkan ketrampilan sederhana untuk kami. Selain mudah dibuat, bahannya pun gampang dicari. Jadi, kami pun bisa ngajarin anak-anak untuk membuat sendiri di rumah. Senang lah. Pas banget untuk isi kegiatan libur sekolah minggu depan.

Bros Dari Pita

Bahan:

4 buah pita hijau dengan panjang berbeda
3 buah pita perak dengan panjang berbeda
(Selisih antara ketujuh pita ini masing-masing 1 cm)
Kain keras dipotong kotak untuk alas pin
Pin
Manik-manik
Lem tembak

 

Cara Membuat:

1. Lipat masing-masing pita menjadi dua bagian sama panjang sampai terbentuk garis lipatan di tengah pita, lalu buka lagi.
2. Bubuhkan lem panas ke garis lipatan di tengah pita, lalu bawa ujung kanan kiri pita ke tengah, tempel. Lakukan hal yang sama pada semua pita.
3. Susun pita dari yang paling panjang di bawah sampai yang paling pendek di atas sesuai selera. Setelah puas dengan susunan pita, lem bagian belakang masing-masing pita agar menempel satu sama lain.
4. Bubuhkan lem ke bagian tengah pita paling atas, susun manik-manik di atasnya.
5. Tempel kain keras di bagian paling belakang pita, lalu tempel pin di atas kain keras.
6. Bros dari pita siap digunakan.

Catatan:

Kalau nggak ada lem tembak, bisa juga dijahit dan saya pribadi sepertinya lebih suka dijahit karena manik-maniknya gampang lepas kalau cuma ditempel dengan lem tembak.

Nah, gampang kan? Rencananya mau ajak Cinta bikin ini juga setelah dia pulang dari Science Camp minggu depan. Lumayan untuk isi liburan sekolah. Yuk coba yuk.