Resep Cheese Omelette yang Gurih dan Lembut

Resep Cheese Omelette

Resep Cheese Omelette yang Gurih dan Lembut. Hari ini, Sabtu, 21 Maret 2020 adalah hari keenam anak-anak libur sekolah. Yah, sebenarnya istilah libur itu tidak tepat sih karena memang bukan waktunya liburan. Hanya saja sejak Senin kemarin anak-anak sekolah dirumahkan alias diminta belajar di rumah karena atas instruksi Gubernur Jawa Timur. Keputusan merumahkan anak-anak ini disebabkan karena merebaknya virus SARS-Cov-2 yang menyebabkan penyakit Covid-19 atau yang lebih dikenal dengan virus Corona.

Virus ini memang tidak mematikan, setidaknya death rate global hanya 4,4% tapi penyebarannya cepat dan mudah sekali. Sehingga masyarakat dihimbau untuk melakukan social distancing dengan diam di rumah dan menghindari tempat-tempat umum, termasuk sekolah.

Tugas Sekolah untuk Keenan

Karena namanya belajar di rumah, anak-anak pun mendapatkan berbagai macam tugas sebagai pengganti proses belajar mengajar di sekolah. Dan untuk tugas hari Jumat kemarin, Keenan, anak bungsu saya, mendapat tugas untuk memasak omelette alias telur dadar.

Resep Cheese Omelette

Memasak Omelette

Tugas memasak omelet keju ini tidak sekadar memasak tapi juga memasukkan pelajaran-pelajaran lain seperti:

Matematika: menjumlahkan telur.
SBDP: menghias hasil masakan dan difoto lalu diunggah di Instagram atau status WA.
IPA: mempelajari jenis-jenis protein yang dikandung oleh telur dan bahan masakan lain.
IPS: mempelajari dari mana bahan-bahan masakan tersebut dibeli.

Tugas memasak omelet ini sebenarnya merupakan tugas memasak mama dan anak. Tapi, kakak Cinta ingin membantu. Jadi kali ini tugasnya untuk kakak dan adik saja nggak papa ya, Bu Guru.

Resep Cheese Omelette

Sebenarnya, bu guru wali kelas Keenan sudah memberi resep omelet ala beliau, tentu dengan catatan bisa menggunakan bahan-bahan yang ada di rumah. Nah, karena saya sedang rindu weekend breakfast di Coffee Bean & Tea Leaf di Seria, Brunei, saya memutuskan untuk membuat resep cheese omelette saja. Tentu dengan ilmu kira-kira ya dan dimodifikasi habis-habisan sesuai bahan yang ada di rumah.

CBTL Brunei
Ekspektasi: Omelette ala CBTL Brunei

Nah berikut adalah Resep Cheese Omelette ala Mama Nia

Resep Cheese Omelette Ala Mama Nia

Bahan:

2 buah telur
1 buah sosis dipotong kecil-kecil
Bawang bombay diiris dadu tipis-tipis
Tomat diiris dadu
Keju dipotong kotak kecil-kecil
Seledri dirajang halus
Garam dan lada secukupnya
1 sdm susu UHT tawar
1 sdm margarin atau mentega untuk memasak

Cara Membuatnya:

  1. Dalam wadah campur telur dan bahan-bahan lain. Aduk sampai rata dan sedikit mengembang.

  2. Panaskan margarin atau mentega, tuang kocokan telur dan masak sampai setengah matang. Oya, supaya hasil omeletnya fluffy dan lembut, aduk-aduk sebentar bagian tengah telur yang masih basah sampai kacau aja.

    resep omelet

  3. Lipat telur menjadi setengah lingkaran, kecilkan api dan masak sampai telur matang. Angkat.

Gampang banget kan. Untuk bagian memasak kali ini diserahkan kepada kakak Cinta. Sementara Keenan kebagian mencampur semua adonan dan mencuci mangkuk-mangkuk tempat bahan masakan.

Supaya mirip dengan omelette CBTL, saya menyiapkan sayuran untuk digunakan sebagai hiasan omelet. Niatnya bikin omelet dengan salad gitu lho, biar sehat. Tapi karena anak-anak terlalu semangat meletakkan sayur dalam piring jadinya bentuknya kurang cantik hahaha.

omelet keju
Realita: Omelet Keju dan Salad made by Keenan dan Kakak

Tapi nggak apa-apa sih, toh mereka senang karena berhasil menyelesaikan sebuah resep omelet. Walaupun ada insiden sebuah telur tumpah karena Keenan terlalu semangat memecahkan telurnya hahaha. Yang penting rasa omeletnya enak dan lembut. Dimakan dengan salad yang berisi irisan daun bayam, kubis, parutan wortel, timun dan saus thousand island yang segar, omelet keju ini menjadi menu makan siang saya yang sehat dan lezat.

Yang mau nonton versi videonya bisa langsung lihat di sini:

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Alfa Kurnia (@alfakurnia) on

Semoga resep omelet ini bisa menjadi inspirasi menu sarapan atau masakan yang bisa dimasak bersama anak. Selamat mencoba.

Baca Juga: Resep Chocolate Cookies Simpel Untuk Masak Bersama Anak

Resep Banana Muffin Yang Lembut dan Mudah

muffin, banana muffin, muffin pisang, banana yoghurt muffin, muffin pisang dengan yoghurt

Resep Banana Muffin Yang Lembut dan Mudah. Saya pertama kali mencoba resep ini beberapa tahun yang lalu. Pada tanggal 23 Februari itu, suami dan anak-anak libur kerja dan sekolah karena ada peringatan National Day Brunei. Karena kebanyakan toko dan restoran tutup setengah hari, saat itu saya nggak bisa mengajak mereka untuk sarapan di luar meskipun isi kulkas kosong dan sedang kehabisan ide mau bikin apa untuk sarapan.

Tiba-tiba teringat stok pisang yang sudah mulai terlalu matang. Biasanya sih saya masukin pisang yang seperti itu di rumah nggak ada yang mau makan. Daripada mubazir saya suka memotong-motong pisang tersebut menyimpannya dalam freezer untuk kemudian dimanfaatkan menjadi campuran green smoothies. Tapi karena waktu itu saya lagi malas bikin smoothies, pisang yang sudah terlalu matang harus segera diolah supaya nggak terbuang sia-sia.

Akhirnya saya memutuskan untuk membuat banana muffin dan menemukan salah satu resep muffin yang katanya lembut karena menggunakan yoghurt sebagai salah satu bahannya. Kebetulan banget ada stok yoghurt di rumah yang mendekati masa kadaluarsa.

 photo 2_zpsvdblhql5.jpg

Saya suka bikin muffin karena mudah dan praktis, nggak perlu pake mixer dan timbangan. Bahan-bahan biasanya cukup ditakar dengan cangkir (cup) dan diaduk manual pakai sendok kayu atau whisker, sehingga anak-anak pun bisa ikut bantu.

Namun kali ini saya lagi pengen me time sambil baking. Tsah, gaya banget ya, me timenya baking. Tapi emang iya sih, pernah ada masanya bikin kue itu jadi salah satu stress relieve saya. Asal nggak direcokin anak-anak hahaha. Jadi ya akhirnya bikinnya diem-diem aja di dapur sementara mereka lagi asik nonton tv sama bapaknya.

Hasil akhirnya, si banana muffin ini moist dan enak. Apalagi ditambah taburan keju parut di atasnya. Manis gurih dan ringan, cocok buat sarapan. Dan karena sudah pakai yoghurt, muffin ini jadi lebih sedikit menggunakan minyak dan tanpa butter sehingga lebih sehat. Yuk, coba bareng untuk sarapan hari Minggu besok. Ini resep yang saya adaptasi dari food.com.

Banana Muffin

Bahan:

1 1/4 cups gula
1/2 cup butter atau 1/2 cup margarin, haluskan.
2 telur ukuran besar.
3-4 pisang ukuran besar, haluskan.
170 gram vanilla yogurt.
2 1/2 cups tepung terigu serbaguna.
1 sdt baking soda.
1 sdt garam.
Keju parut secukupnya.

Cara Membuat:

  1. Panaskan oven pada suhu 175 der C dan letakkan rak panggangan di bagian paling bawah.

  2. Siapkan loyang muffin dan paper cup atau paper liner.

  3. Kocok gula dan butter dalam mangkuk besar sampai teksturnya seperti krim.

  4. Masukkan telur dan aduk dengan mixer sampai tercampur rata.

  5. Tambahkan pisang dan yogurt, aduk sampai halus.

  6. Masukkan tepung dan aduk balik sampai tercampur rata dan lembut.

  7. Isi paper cup/paper liner dengan adonan muffin sampai 3/4 penuh.

  8. Beri taburan keju parut.

  9. Panggang selama 20 menit di rak bawah.

Banana Muffin

Nah, gampang kan? Selain buat sarapan, banana muffin ini juga bisa untuk bekal sekolah anak-anak nih. Tinggal dipanaskan aja di microwave supaya hangat saat akan dibawa ke sekolah. Kalau mau dimodifikasi dengan menambahkan irisan kacang mente, almond atau chocolate chip juga bisa banget. Sesuaikan saja dengan favorit keluarga.

Baca Juga: Baking is Science

Anak-anak juga bisa lho diajak membuat banana muffin ini. Mereka pasti senang mengaduk adonan dan menuangnya di loyang muffin sambil berdebar-debar menunggu adonan mengembang di dalam oven. Seru ya, bisa jadi kegiatan menyenangkan bersama si kecil di akhir pekan.

Selamat mencoba!

 

Cara Membuat Stik Keju Nikmat untuk Suguhan Lebaran

resep stik keju

Sudah masuk bulan kedua tahun 2020 ya dan nggak terasa Hari Raya Idul Fitri sudah tinggal beberapa bulan lagi. Selain menyiapkan fisik dan mental untuk menjalani bulan Ramadan, biasanya ibu-ibu juga mulai berpikir tentang suguhan hari raya. Mulai dari makanan berat seperti opor, lontong sayur dan kawan-kawannya, juga kue-kue kering serta camilan yang enak. Dan stik keju adalah salah satu camilan yang selalu ada di meja sebagai suguhan untuk para tamu dan keluarga. Rasanya yang gurih membuatnya menjadi favorit banyak orang termasuk saya.

resep stik keju

Meskipun camilan ini banyak dijual di pasaran, sebenarnya kita juga bisa membuatnya sendiri dengan mudah lho. Mau mencoba? Berikut resepnya.

Resep Stik Keju Nikmat untuk Suguhan Lebaran

Bahan-bahan:

250 gram tepung terigu.
½ sdm maizena.
100 gram tepung sagu.
50 gram mentega.
180 gram keju parmesan, parut.
2 butir telur ayam.
100 ml air matang.
½ sdt baking powder.
½ sdt kaldu ayam.
Garam secukupnya.

stik keju toko wahab

Cara Membuat:

  1. Masukkan tepung terigu, tepung maizena dan tepung sagu sambil diayak ke dalam wadah. Setelah itu aduk sampai semua bahan tepung tersebut tercampur secara merata.

  2. Tambahkan baking powder, garam dan juga kaldu bubuk. Aduk-aduk kembali semuanya sampai rata.

  3. Masukkan air dan juga tambahkan keju parmesan ke dalam adonan tersebut. Aduk sampai rata sambil diuleni sampai adonan berubah menjadi kalis.

  4. Tambahkan mentega ke dalam adonan tersebut, kemudian campur lagi semuanya sampai rata.

  5. Kemudian giling adonan tersebut agar lebih lembut dan mendapatkan ketebalan yang sama, yaitu sekitar 10 cm. Lalu potong-potong sesuai dengan selera.

  6. Panaskan minyak, setelah itu goreng adonan yang sudah dibentuk tersebut sampai kecoklatan atau dirasa cukup matang. Tiriskan stik keju dan siap untuk dihidangkan. Simpan stik keju dalam toples yang tertutup rapat agar tetap renyah.

Nah, mudah kan membuat stik keju sendiri. Bagian paling berat memang saat menguleni adonan lalu memotongnya. Kita juga harus sabar saat menggoreng adonan. Tapi hasilnya sih sepadan dengan perjuangannya yah. Selain jumlah yang kita dapatkan lebih banyak daripada beli sendiri, camilan buatan rumah juga lebih terjamin kesehatannya karena kita pasti akan menggunakan bahan-bahan yang berkualitas.

Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan stik keju ini bisa kita dapatkan secara online di TokoWahab.com. Ada begitu banyak pilihan merek berkualitas yang mereka jual dan harganya bersaing dengan toko lainnya kok. Jadi, yuk mulai belanja dan membuat stik keju, supaya saat lebaran nanti kita sudah semakin ahli membuat stik keju nikmat untuk suguhan bagi tamu dan keluarga.

Baca juga: Resep Chocolate Chip Cookies Favorit Keluarga Pojok Mungil

5 Manfaat Menulis Blog dan Alasan Saya Melakukannya

Manfaat Menulis Blog

Apa sih manfaat menulis blog? Kenapa akhir-akhir ini banyak sekali yang berminat belajar ngeblog dan menjadi blogger? Bahkan makin banyak yang menjadikan blogger sebagai pekerjaan paruh waktu dan penuh waktu. Dan kenapa saya masih ngeblog juga meski banyak sekali blogger yang lebih baik di sekitar saya?

Kenapa saya masih menulis blog? Apakah saya harus terus menulis blog?

Jujur saja pertanyaan itu sering terlintas di pikiran saya akhir-akhir ini. Sempat terpikir untuk berhenti ngeblog karena ya sudah nggak ada lagi semangat untuk menulis. Apalagi semakin banyak blogger-blogger yang lebih bagus, lebih berprestasi, lebih eksis, lebih… lebih… lebih… Sementara saya kok gini-gini aja. Malah pageview makin turun, DA/PA juga terjun bebas. Tawaran placement post dan job review pun nyaris tak ada lagi. Ah, untuk apa lagi saya ngeblog.

Padahal saya masih bercita-cita menjadi blogger profesional. Tapi masih bingung menentukan blog ini mau fokus ke niche apa. Dibilang lifestyle blog ya isinya bukan tentang gaya hidup yang sedang tren. Mau disebut parenting blog ya sudah nggak pernah nulis soal parenting lagi. Fokus ke liputan tentang kehidupan di Brunei pun kami jarang eksplorasi Brunei dan sebentar lagi mau kembali ke Indonesia karena pekerjaan suami di sini sudah selesai. Hiks.

Saya juga belum punya jam kerja khusus untuk menulis dan mengurus blog pojokmungil.com ini. Atau rencana kerja dan target agar blog ini bisa berkembang lebih baik. Padahal menurut Mbak Kiki Handriyani, mentor kami di kelas NulisYuk Batch 38 tema blog, untuk disebut sebagai blogger profesional ada beberapa syarat yang harus dilakukan oleh seorang blogger, yaitu:

Lakukan 8 Hal Ini Untuk Menjadi Blogger Profesional

  1. Jadikan profesi blogger sebagai profesi utama.
  2. Ketika menulis di blog, terapkan sistem kerja seperti layaknya pekerja kantoran: ada jam kerja, ada jam turun ke lapangan untuk liputan dan ada waktu untuk belajar tentang blogging dan pernak-perniknya.
  3. Lakukan personal branding di media sosial.
  4. Percaya diri saat memperkenalkan diri sebagai blogger di depan publik.
  5. Punya attitude yang baik. Hal ini ditandai dengan betul-betul untuk menyimak materi dan bekerja saat menghadiri event. Bukan menjadikan event sebagai ajang ketemuan dengan teman sesama blogger, sibuk selfie dan saat pemateri berbicara malah asyik ngobrol dengan peserta lain. Saat event selesai, tulislah liputan sesuai dengan brief pekerjaan (bila perlu berikan lebih dari apa yang dibayarkan klien).
  6. Percaya bahwa rezeki itu tidak akan tertukar dan ada waktunya. Jadi jangan suka menyerobot pekerjaan blogger lain.
  7. Belajar etika dan cara berkomunikasi yang baik dengan klien, rekan kerja maupun orang-orang yang baru dikenal.
  8. Pelajari peta perpolitikan dunia blogging karena blogger pun sudah menjadi profesi yang penuh dengan intrik.

Berat ya ternyata menjadi blogger profesional. Dan untuk bisa melakukan semua hal tersebut diperlukan komitmen dan disiplin yang tinggi. Sementara saat ini saya merasa belum mau dan sanggup menjalaninya.

Tapi apakah saya harus berhenti ngeblog total? Menurut teman-teman gimana?

Setelah berkontemplasi dengan diri sendiri dan bergabung di Rumah Belajar Literasi Ibu Profesional Asia, yang lalu dipercaya untuk mengelola blog IP Asia dan menjadi salah satu mentor untuk sesi bulanan Blogging & Writing Mentor, saya memutuskan untuk tetap menulis di blog.

Saya menyadari bahwa meski prestasi saya di bidang blogging nggak ada apa-apanya dibanding teman-teman blogger yang sudah profesional, saya masih punya sesuatu untuk dibagikan. Dan itulah tujuan awal saya menulis di blog. To share, because sharing is caring. Betul kan?

Manfaat Menulis Blog

Selain itu, saya ngeblog karena masih merasakan beberapa manfaat menulis blog yang lain sebagai berikut.

5 Manfaat Menulis Blog dan Alasan Saya Melakukannya

Melatih Kemampuan Menulis 

Quote tentang menulis

Saya suka menulis, tapi saya merasa tulisan saya nggak bagus-bagus amat. Bahkan jujur saja saya sering malas membaca kembali tulisan saya. Lha, kalau yang nulis saja nggak suka membaca tulisan sendiri gimana orang lain mau membacanya ya. Nah, menulis di blog secara teratur bisa menjadi sarana saya berlatih menulis.

Dan dengan mengikuti kelas NulisYuk Batch 38 Tema Blog ini, saya berharap bisa memperbaiki tulisan-tulisan saya di blog menjadi lebih enak dibaca. Sehingga saya sangat mengharapkan feedback dari mentor dan teman-teman satu kelas mengenai tulisan-tulisan saya di blog ini.

Berbagi Pikiran dan Pengalaman

Sharing is caring

Salah satu alasan saya menulis di blog adalah berbagi pikiran dan pengalaman. Saya ini suka overthinking. Apa-apa dipikirin. Tapi nggak pandai berkomunikasi secara lisan sehingga akhirnya sering bingung sendiri karena pikiran saya penuh dengan banyak hal. Dengan menulis di blog saya bisa menuangkan apa yang ada di pikiran saya dan mungkin mendapatkan teman berdiskusi. Kalaupun tidak, setidaknya saya sudah cukup senang karena satu beban pikiran sudah berkurang. Ada yang begitu juga nggak?

Dengan berbagi pengalaman di blog juga saya berharap orang lain bisa memperoleh manfaat atas apa yang saya alami. Misalnya salah satu artikel yang paling sering dibaca di blog ini adalah tentang Speech Delay si Keenan. Dari artikel ini banyak yang akhirnya menghubungi saya lewat email dari berbagi pengalaman mengasuh anak dengan gangguan terlambat bicara. Begitu juga artikel-artikel lain yang berhubungan dengan tinggal di Brunei.

Lebih Banyak Membaca dan Belajar

Stephen King quote

Manfaat menulis di blog yang lain adalah membuat saya lebih semangat membaca dan belajar. Membaca di sini nggak cuma buku-buku tentang blogging ya, justru saya lebih suka membaca buku fiksi yang ringan-ringan lho. Dari banyak membaca, saya jadi belajar bagaimana merangkai kalimat yang enak dibaca. Dan tentu saja jadi punya bahan untuk dijadikan tulisan di blog.

Supaya ilmu blogging tetap update, saya juga berusaha untuk tetap belajar. Baik dari sharing dengan teman-teman blogger maupun ikut kelas-kelas blogging. Sebenarnya sih saya lebih suka belajar offline ya, tapi karena keterbatasan ya belajar secara online pun saya ikuti juga. Baik dalam bentuk kelas-kelas interaktif di whatsapp group maupun kelas satu arah lewat video dan podcast di Udemy.

Membangun Networking

Dengan menulis di blog, kita akan berkenalan dengan orang-orang baru. Mulai dari para pembaca blog kita sampai ke sesama blogger. Beberapa di antara mereka bisa menjadi sahabat kita suatu hari nanti. Ini sudah saya buktikan sendiri. Dari networking inilah kita bisa mendapatkan informasi tentang proyek menulis, tawaran job review atau placement post serta ilmu-ilmu baru tentang blogging.

Sebagai Jurnal Pribadi

Blog bisa juga berfungsi sebagai jurnal pribadi kita. Dengan menulis di blog, kita bisa melihat bagaimana tulisan kita berubah, bagaimana kehidupan kita berkembang, bagaimana kepribadian kita bertumbuh. Blog juga bisa menjadi catatan digital kehidupan kita dari masa ke masa. Di usia 10 tahun blog ini pada bulan Desember nanti, saya sudah menuliskan banyak sekali kisah saya dan keluarga mulai dari anak baru 1 sampai sekarang jadi 2. Mulai dari kisah mereka saat balita sampai sekarang salah seorangnya menjelang remaja. Mungkin suatu saat nanti, blog ini akan menjadi sarana bagi anak-anak saya untuk mengenal pikiran dan perasaan ibunya saat saya sudah tidak lagi bersama mereka.

Nah, kalau menurut teman-teman sendiri, apa sih manfaat menulis blog yang kalian rasakan selama ini? Silakan sharing di kolom komentar ya.

Credit: Photo by Christin Hume on Unsplash

Semangat Menulis, Bagaimana Cara Mengembalikannya?

semangat menulis, bagaimana cara mengembalikannya

Jack of all trades, master of none – William Shakespeare

Kutipan itu sempat menjadi isi profil Instagram saya selama lebih dari setahun karena saya bingung menjelaskan jati diri saya. Jack of all trades, master of none adalah idiom yang menggambarkan seseorang yang bisa melakukan banyak hal tapi tidak ahli dalam satu hal pun. Dan itu menggambarkan diri saya dengan tepat.

I mean, I can do a lot of thingslike baking, writing, blogging, making DIY toys, crafting, and crochetingBut nothing, not even one that I am really good or have expertise on.

Pada suatu masa, saya suka sekali belajar public speaking yang kemudian ini membantu sekali dalam pekerjaan saya sebagai front liner di sebuah bank. Namun, setelah tidak lagi bekerja, keahlian itu pun sirna.

Saya dan Memasak

Lalu saya belajar memasak makanan bayi dan baking demi Cinta yang masih balita. Bahkan saya sempat bergabung dengan komunitas masak terbesar pada saat itu, NCC (Natural Cooking Club), dan mengikuti pelatihan bikin kukis saat kopdar akbar di Surabaya!

barbie cake
9 tahun lalu, saya bisa membuat Barbie Cake ini from scratch untuk ulang tahun ke-3 Cinta.

Tapi kemudian saya sadar bahwa cooking is not my strong suit. Saya bisa masak seadanya, sambil melihat resep. Namun saya nggak suka karena memasak itu memerlukan energi yang besar sekali mulai dari memikirkan menu masakannya, mengolah bahan mentahnya, menghidangkannya hasilnya ke meja makan dan mencuci peralatan dapurnya. Memasak adalah salah satu pekerjaan rumah tangga yang sangat ingin sekali saya serahkan ke pihak ketiga seandainya bisa. Lagipula memasak nggak membuat saya bahagia.

Saya dan Ilmu Parenting

Saat saya dan Cinta pindah ke Jakarta dari Sidoarjo, saya suka sekali ikut seminar dan komunitas parenting. Mulai yang temanya kesehatan sampai pola asuh anak. Bahkan sampai niat nyetir sendiri ke Jakarta dari Parung hanya berbekal GPS karena benar-benar buta jalan.

Tapi lantas saya mengalami tsunami informasi saking banyaknya ilmu yang saya peroleh. Saya overload sampai-sampai hanya sedikit sekali dari teori-teori parenting itu yang akhirnya dapat saya terapkan ke anak-anak. Dan sampai saat ini saya masih merasa fed up sehingga belum tergerak lagi untuk mengikuti pelatihan pola asuh walaupun sering galau menghadapi perilaku anak-anak.

Saya dan Crafting

Aktivitas lain yang saya sukai adalah crafting alias kerajinan tangan. Saat Cinta dan Keenan masih kecil, saya suka mengajaknya membuat aneka prakarya dan mainan DIY. Mulai dari rumah boneka dari kardus sampai membuat playdough yang aman untuk batita. Namun anak-anak semakin besar dan tidak berminat lagi bikin prakarya, saya juga semakin malas membereskan rumah yang berantakan setelah kami bebikinan.

Setelah saya pindah ke Brunei, saya pun bergabung dengan grup crafting ibu-ibu Indonesia. Di sini saya belajar crochet. Kegiatan belajar crochet bersama yang diadakan secara rutin dan kelompok yang suportif membuat saya lumayan betah melakukan aktivitas ini. Cukup banyak juga hasil crochet saya. Bahkan tiap mudik ke Surabaya saya suka sekali hunting hakpen dan benang di toko yang jual perlengkapan rajut di Plaza Surabaya. Atau mampir ke Hokko di Bandar Seri Begawan sekadar membeli benang atau kain.

crochet
Salah satu hasil crochet yang masih tersimpan sampai saat ini

Sayangnya seiring dengan krisis migas dunia beberapa tahun lalu, komunitas keluarga Indonesia di Seria & Kuala Belait pun terkena dampaknya. Banyak teman saya di grup crafting yang kembali ke Indonesia atau pindah ke negara lain. Lama-lama grup crafting pun bubar dan saya kehilangan motivasi untuk crocheting sampai akhirnya berhenti sama sekali. Padahal perlengkapan crochet yang sudah dibeli pun nggak sedikit, begitu juga benang dan buku yang akhirnya dibagikan ke teman-teman yang masih rajin merajut daripada mubazir.

Saya dan Fotografi

Setelah sekian lama nggak punya hobi produktif dan hanya menghabiskan waktu luang dengan membaca dan bermain media sosial. Akhirnya saya tertarik pada fotografi karena ingin memiliki feed instagram yang bagus dengan foto-foto berkualitas tinggi. Untuk mendukung hobi ini, selain ikut workshop online, saya juga mengikuti workshop offline memotret model yang diselenggarakan oleh Benchlab Brunei beberapa waktu lalu.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Alfa Kurnia (@alfakurnia) on

;

Hanya saja, minat saya terhadap fotografi nggak berkembang. Nggak ada keinginan untuk terus menerus berlatih agak bisa menguasai kamera dan teknik-teknik fotografi. Bahkan sekarang sudah mulai malas membawa kamera ke manapun saya pergi dan kembali mengandalkan kamera telepon genggam. Untung suami saya paham sekali istrinya yang moody ini sehingga ia merasa cukup membelikan saya kamera mirrorless dengan fitur untuk pemula daripada kamera canggih yang mahal seperti di foto ini hahaha. Takut rugi dia.

Begitulah, hobi saya berganti mengikuti apa yang sedang ‘in’ di sekitar saya. Mungkin karena saya orangnya tipe follower banget atau malah mungkin tingkat FOMO, fear of missing out saya tinggi ya. Jadi ketika orang-orang sedang suka dengan aktivitas tertentu ya saya ikuti. Setelah merasa bisa dan bosan karena merasa nggak berkembang, ya sudahlah ditinggal lagi.

Sampai akhirnya saya mengikuti kelas Matrikulasi Ibu Profesional. Pada materi pertama yang diberikan, yaitu Adab Sebelum Ilmu, mengajarkan kita fokus belajar atau melakukan aktivitas yang benar-benar kita sukai saja agar tidak terjebak dalam tsunami informasi dengan mantera, “Menarik, Tapi Tidak Tertarik.” Padahal awalnya saya memutuskan untuk mengikuti Matrikulasi Ibu Profesional ini juga karena FOMO, lho hehehe.

Sejak itu, saya mulai memilah prioritas saya. Dan setelah menelusuri berbagai aktivitas yang pernah saya lakukan ada satu yang tetap saya lakukan sejak dulu sekali, yaitu menulis. Baik itu menulis di buku harian, menulis di blog sejak tahun 2004 dan menulis konten untuk beberapa situs parenting (hei, hasil seminar-seminar parenting yang dulu sering saya ikut ternyata nggak sia-sia, lho). Walaupun aktivitas yang terakhir ini sudah nggak lagi saya jalani, saya tetap menulis, terutama di blog dan instagram.

Hambatan dalam Menulis

Sayangnya, semangat menulis saya naik turun. Kalau sedang rajin, dalam sebulan blog ini bisa terisi seminggu sekali. Namun, kalau semangat menulis saya sedang turun, bisa lebih dari 3 bulan blog ini nggak saya update. Saya sendiri nggak tahu kenapa sering sekali kehilangan semangat menulis.

Kalau dibilang kehabisan ide, enggak juga sih. Di blog ini saja ada beberapa draft tulisan yang belum saya selesaikan. Di jurnal saya ada daftar ide tulisan yang menunggu dieksekusi. Bahkan saat saya menulis blogpost ini, setidaknya ada 2 ide yang menari-nari di kepala saya, yaitu perjalanan kami ke Kota Kinabalu dan rangkuman materi tips menulis agar tetap enak dibaca dari sesi Blogging & Writing Mentor Ibu Profesional Asia bulan lalu. Satu naskah untuk antologi RB Literasi IP Asia juga sudah mengendap di kepala menuntut dituangkan ke dalam bentuk tulisan.

Mungkin soal waktu? Ya sebenarnya kalau mau diadakan ya pasti adalah waktu untuk menulis. 1 jam dalam sehari pasti saya bisa meluangkannya. Tapi toh, akhirnya waktu itu lebih sering saya gunakan untuk scrolling instagram dan facebook daripada menulis.

Satu-satunya alasan yang bisa saya temukan adalah karena saya jenuh. Saat menulis di blog, apalagi karena saya sedang berusaha menjadi blogger profesional, saya ingin setiap postnya ini sempurna. Ya dengan memilih niche yang tepat,  tata bahasa yang baik, ilustrasi berkualitas, konten yang bermanfaat sampai SEO yang baik.

Jadi setiap akan menulis di blog saya harus membuat outlinenya dulu, lalu melakukan keyword research dan membuat ilustrasi yang baik. Itu menghabiskan waktu terlalu banyak hanya untuk menulis 1 blogpost dan seringkali terasa melelahkan. Untuk menulis blogpost ini saja saya membutuhkan waktu 2 jam sampai akhirnya dipublish, lho. Belum lagi nanti harus memantau pageview dan adsense. Padahal, aktivitas saya ya nggak cuma ngeblog kan.

Baca Juga: Hal yang Perlu Diperhatikan Untuk Menjadi Penulis Konten

Bagaimana Mengembalikan Semangat Menulis?

Lalu apa yang harus saya lakukan untuk mengembalikan semangat menulis? Saya masih cinta menulis dan ngeblog. Bahkan 2 bulan ini saya juga masih rutin mengisi blognya Ibu Profesional Asia dan saya sangat menikmatinya. Rasanya lebih mudah menulis di sana daripada mengisi blog sendiri. Mungkin karena materinya sudah tersedia dan saya hanya tinggal merangkai kata agar lebih nyaman dibaca?

Sayangnya kegiatan ini sebentar lagi pun harus saya lepaskan karena saya akan pindah dari Brunei kembali ke Indonesia, yang artinya keanggotaan saya sebagai member Ibu Profesional akan dimutasi dari IP Asia ke IP regional baru nanti. Hiks.

semangat menulis, bagaimana cara mengembalikannya

Untuk itulah saya mulai lagi belajar mengembalikan semangat menulis di blog ini dengan cara:

Cara Mengembalikan Semangat Menulis

  1. Mengikuti kelas menulis Belajar Menulis di Blog yang diselenggarakan oleh NulisYuk.
    mengembalikan semangat menulis
  2. Belajar membebaskan diri dalam menulis seperti yang disampaikan oleh mbak Kiki Handriyani, pemateri di kelas tersebut, “Tulis aja, tulis lagi, tulis terus sampai kamu menemukan tema apa yang cocok dengan dirimu.”
  3. “Fokus nulis, nulis dan memperbaiki tulisan. Rejeki akan datang ketika kita sudah siap mental, pikiran dan fisik,” pesan Mbak Kiki.
  4. Mendobrak kemalasan. Lagi-lagi ini wejangan dari Mbak Kiki. Hambatan utama saya adalah malas. Jadi yang harus dilakukan ya harus melawan kemalasan itu.
  5. Jaga mood dengan cara mencari kegiatan lain yang mendorong kita untuk tetap semangat menulis, seperti aktif di komunitas dan bertemu dengan orang lain yang memiliki passion yang sama.
  6. Targetkan seminggu sekali 1 tulisan artikel atau 2 hari sekali menulis status di Facebook. Mbak Kiki menantang kami untuk menulis status yang sesuai minat di Facebook. Tapi saya nggak suka main Facebook, so I will stick on blogpost sajalah.
  7. Fokuskan pada tujuan kita menulis untuk apa? Ingin jadi blogger profesional? Ingin mendapatkan pageview ribuan? Dapat uang dari adsense dan placement post? Atau berbagi dan menginspirasi? Apapun tujuannya ya harus mau bekerja keras untuk menulis kan? Semangat!
  8. Banyak membaca. Penulis nggak bisa menulis dengan baik kalau nggak suka membaca.

Begitulah sementara ini kesimpulan yang bisa saya peroleh dari sesi pertama kelas menulis online Belajar Menulis di Blog oleh Mbak Kiki Handrayani.

Harapan saya, setelah materi berakhir, saya dapat mengumpulkan lagi semangat menulis di blog sehingga blog Pojokmungil ini bisa saya update dengan teratur. Saya juga berharap tulisan saya menjadi lebih baik dan enak dibaca dengan feedback dari pemateri. Dan yang terakhir adalah mengembangkan networking sebagai blogger.

Teman-teman blogger ada yang pernah mengalami patah semangat dalam menulis? Atau writer’s block mungkin? Boleh dong berbagi tipsnya di kolom komentar. Ditunggu ya…

7 Cara Agar Resolusi Tahun Baru Berhasil Dilaksanakan

resolusi tahun baru

Yak, siapa yang tiap akhir tahun bersemangat bikin resolusi tahun baru tapi selalu gagal melakukannya di tengah jalan?

Sayaaa!!!

Eh, bener nih cuma saya aja? Yakin? Atau nggak mau ngaku aja? Hayooo…

Tapi yah begitulah. Saya mah orangnya suka semangat saat bikin resolusinya, menggebu-gebu banget lah. Pengennya semua hal yang jelek dari diri saya diubah dan diganti dengan yang lebih baik dalam waktu sekejap. Namun, saya lupa kalau kebiasaan-kebiasaan yang sudah terbentuk bertahun-tahun itu nggak mungkin dihilangkan hanya dalam waktu 1 bulan. Jadi, ketika saya nggak berhasil melakukan salah satu hal dalam daftar resolusi saya, misalnya skip olahraga 1 kali dari target 3 kali seminggu, langsung patah semangat. Dan akhirnya memutuskan untuk berhenti melakukan resolusi tersebut.

Baca juga: Resolusi terakhir yang pernah saya buat dan gagal.

Karena itulah beberapa tahun belakangan ini saya nggak lagi membuat resolusi tahun baru. Males euy, paling juga gagal lagi seperti tahun-tahun sebelumnya. Lagipula kalau saya niat memperbaiki diri nggak perlu nunggu tahun baru lah. Kapan aja saya mau pasti bisa. Iya nggak?

resolusi tahun baru, ika natassa quote, the architecture of love

Tapi tema nulis bareng RB Literasi Ibu Profesional Asia bulan ini seakan menantang saya untuk mencoba membuat lagi resolusi tahun baru. Tadinya sih pengen nulis yang biasa-biasa aja ya. Seperti: pengen kurus, lebih sabar, pengen umroh, pengen bisa lebih sering nulis di blog dan baca buku. Gitu-gitu deh.

Cuma, kalau begitu doang naga-naganya bakal gagal di minggu kedua bulan Februari nih. Jadi saya mencoba menulis resolusi tahun 2019 dengan lebih serius dengan harapan bisa konsisten menjalankannya sampai akhir tahun.

Resolusi Tahun Baru

Sebenarnya apa sih resolusi itu? Dan apa pentingnya bikin resolusi di akhir atau awal tahun?

Menurut Wikipedia:

Resolusi tahun baru adalah sebuah tradisi yang dilakukan di akhir tahun atau awal tahun. Di mana seseorang memutuskan untuk mengubah sifat atau perilaku yang nggak disukai di tahun sebelumnya, untuk mencapai tujuan pribadi atau memperbaiki kehidupan mereka.

Karena ini adalah tradisi jadi boleh dilakukan boleh enggak. Bebas aja ya. Meski ternyata membuat resolusi tahun baru sebenarnya cara yang baik dan produktif untuk menetapkan tujuan dan niat untuk tahun baru. Sebab, dengan membuat resolusi, kita bisa:

  1. Punya motivasi untuk menyambut tahun baru.
  2. Punya target yang jelas tentang hal yang ingin kita capai.
  3. Punya pengingat saat kita mulai melenceng.
  4. Punya bahan evaluasi atas hal-hal yang sudah kita lakukan di tahun tersebut.

Nah, supaya resolusi kita saya nggak gagal di tengah jalan seperti tahun-tahun sebelumnya, saya mencoba mencari tahu apa saja yang harus dilakukan saat membuat resolusi tahun baru. Dan inilah cara yang bisa kita terapkan supaya resolusi yang kita rencanakan itu berhasil.

7 Cara Agar Resolusi Tahun Baru Berhasil Dilaksanakan

1. Tulis Resolusi Tersebut.

Menurut Elizabeth Ward, PhD yang dikutip oleh self.com, orang yang menuliskan resolusi mereka akan punya rasa tanggung jawab yang lebih besar untuk melaksanakannya. Sehingga mereka memiliki kesempatan yang lebih banyak juga untuk mencapai tujuan mereka.

2. Mulai Dari Hal Yang Kecil

Punya resolusi untuk turun berat badan 10 kg dalam 3 bulan atau nggak pernah marah sama sekali ke anak-anak itu impian saya. Tapi saya sadar kok kalau itu nggak mungkin dicapai dalam waktu singkat.

Lebih baik kita mulai dari hal-hal yang kita yakin bisa kita capai. Ubah 1 perilaku dalam 1 waktu. Misalnya, turun BB 5 kg dalam 1 tahun dengan cara olahraga rutin 3x seminggu dan memperbanyak makan sayur sepertinya lebih mungkin dilakukan.

3. SMART (Spesific, Measurable, Achievable, Realistic, Timely)

Metode yang diperkenalkan oleh George T. Doran ini saya pelajari di kelas Matrikulasi Ibu Profesional. Cara ini InsyaAllah membantu kita dalam membuat resolusi tahun baru yang bisa kita lakukan sepanjang tahun.

resolusi tahun baru, smart

Baca juga deg-degannya saya saat akan mengikuti program matrikulasi Ibu Profesional Batch 6.

4. Bikin Plan atau Jadwal

Setelah kita menuliskan semua hal yang ingin kita capai di tahun depan dengan SMART, waktunya kita menyusun rencana. Masukkan aktivitas yang harus kita lakukan untuk mencapai tujuan tersebut dalam agenda harian kita.

Misalnya saya ingin menjadi blogger profesional. Tahap pertama adalah rutin blogging, minimal 1 kali dalam 1 minggu. Untuk itu saya perlu mengalokasikan waktu 1 jam sehari untuk blogging dengan rincian aktivitas sebagai berikut:

blog weekly planner, resolusi tahun baru

Silakan unduh template rencana blogging mingguan ini di: http://bit.ly/blogplannerAlfa

Atau saya ingin olahraga 3 kali seminggu tapi juga ingin puasa sunnah 2 kali seminggu, dengan menuliskan di jadwal mingguan, dua aktivitas itu bisa dilakukan di hari yang berbeda. Karena lari saat puasa tentu menyiksa diri saya, kalau dipaksakan di hari yang sama bisa-bisa keduanya nggak akan saya lakukan.

5. Jangan Memaksakan Diri

Kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT (dan warganet yang maha benar). Jadi meski kita sudah menyusun resolusi seSMART mungkin dengan jadwal sebaik mungkin, siapkan mental kita untuk hal-hal yang terburuk. Sebagai orang yang (agak) perfeksionis, saya sering merasa kecewa saat rencana yang saya buat nggak berjalan sesuai keinginan saya. Karena itulah suami saya sering mengingatkan, always hope for the best but prepare for the worst.  Begitu juga saat menjalankan resolusi tahun baru kita.

Akan ada saat kita sakit sehingga nggak bisa olahraga selama satu minggu. Atau suasana hati sedang buruk sekali sehingga setelah 3 hari sukses nggak marah ke anak-anak, hari ini kelepasan marahin mereka. Bisa juga gagal makan sayur dan buah secara rutin karena pergi liburan yang nggak memungkinkan kita menjalankan pola makan seperti saat di rumah. Atau ya lagi males aja gitu. Nggak papa. Jangan lantas merasa seluruh usaha kita menjalankan resolusi itu gagal.

resolusi tahun baru

Semua orang punya pasang surutnya kok. Jadi ketimbang berhenti di tengah jalan, lebih baik kita catat dan pelajari penyebab kesalahan itu. Lalu kembali lagi ke jalan yang benar sambil berusaha menghindari penyebab kegagalan tersebut.

6. Evaluasi

Evaluasi aktivitas kita dan hasil yang kita capai setiap beberapa waktu. Idealnya 3 bulan sekali. Seperti anak sekolah ya, tiap term ada evaluasinya. Begitu juga dengan resolusi tahun baru kita. Dengan melakukan evaluasi, kita jadi tahu mana resolusi yang sesuai track dan bisa diteruskan sampai akhir tahun, mana yang sebaiknya kita tunda di tahun berikutnya.

7. Minta Dukungan Dari Orang Lain

Kalau kita sendiri merasa kewalahan atau merasa nggak mampu mencapai tujuan kita seorang diri, mintalah dukungan dari orang-orang terdekat. Hal itu akan membuat kita akan lebih termotivasi untuk menyelesaikan resolusi yang kita buat. Atau kita juga bisa meminta bantuan profesional seperti psikolog. Jangan takut berkonsultasi ke psikolog. Mereka nggak cuma membantu orang-orang yang memiliki masalah kesehatan mental kok. Justru psikolog bisa membantu kita menyusun strategi untuk mencapai tujuan kita.

Nah dengan mempraktikkan 7 cara tersebut, InsyaAllah resolusi tahun baru kita nggak cuma angan-angan semu di awal tahun ya.

Resolusi 2019 Ala Saya

Saya sendiri akhirnya memutuskan nggak bikin resolusi yang benar-benar baru untuk tahun depan. Sekadar memperbaiki indikator ibu profesional serta misi hidup dan produktivitas yang saya buat untuk Nice Homework #2 dan #8 program matrikulasi Ibu Profesional. Karena menurut saya itu sudah mencakup tujuan utama saya, yaitu menjadi pribadi, istri dan ibu yang sehat, bahagia, produktif dan bermanfaat bagi keluarga.

resolusi tahun baru

 

Untuk tahun 2019 ini, prioritas utama saya adalah mendampingi anak-anak belajar karena si kakak akan menjalani PSR (Peperiksaan Sekolah Rendah) di akhir tahun 2019. Sementara adik tahun ini masuk Primary School di usianya yang masih terlalu muda sebenarnya. Sehingga mereka pasti memerlukan kehadiran saya lebih intens lagi.

Selain itu saya juga ingin fokus meningkatkan ketrampilan saya di bidang blogging sehingga bisa menjadi blogger profesional. Dalam arti bisa mendapatkan penghasilan secara rutin lagi dari menulis blog dan konten yang beberapa tahun ini saya tinggalkan.

But once again, meski tradisinya resolusi ini dibuat di akhir tahun untuk dilaksanakan sepanjang tahun depan, saya nggak ngoyo untuk memulai semua ini serentak di hari pertama bulan Januari 2019. Euforia tahun baru yang bertepatan dengan hari pertama anak masuk sekolah di tahun ajaran baru bisa membuat saya hilang fokus. Ya, meskipun saya nggak merayakan tahun baru, sudah nggak kuat euy begadang demi nungguin detik-detik pergantian tahun. Bagi saya pribadi, akan lebih baik kalau kita memilih hari di mana kita cukup istirahat, semangat dan dikelilingi oleh orang-orang yang positif sebagai titik awal pelaksanaan resolusi.

Untuk itu saya memilih untuk mengerjakan satu per satu dalam periode waktu tertentu. Seperti yang saya tulis di atas, one step at a time, start small.

Mohon doanya supaya saya bisa konsisten melaksanakan resolusi tahun baru saya ini, ya. Kalau resolusi teman-teman-teman untuk tahun 2019 apa aja nih?