From A Mother’s Eye

Ngikutin berita tentang aksi Suster Ngesot yang ditendang satpam akhir-akhir ini bikin saya geleng-geleng kepala. Bukan, saya nggak mau ikut-ikutan ngebully si Mega atau membela pak satpam. Buat saya jelas, Mega yang salah. Titik! #sikap.

Dalam kasus Mega, sebagai seorang ibu, saya pun memetik banyak pelajaran dari kejadian itu. Bahwa ada orang yang mudah sekali mengambil keputusan untuk melakukan sesuatu hanya karena dia ingin, tanpa memikirkan sisi positif dan negatifnya, apalagi efeknya untuk orang lain.

Ketika perbuatannya itu dianggap salah, seribu satu alasan pun keluar. Ia pun tidak menyadari kesalahan yang dia buat. Kalau nggak sadar dia salah, gimana mau minta maaf ke orang yang benar-benar sudah dia rugikan. Bahkan memposisikan diri sebagai korban.

Satu lagi, meskipun anak adalah harta yang paling berharga, orang yang paling kita sayangi, saat dia salah ya kita harus menerima kenyataan itu. Tegur dia, ajak dia minta maaf dan membimbing mereka untuk memperbaiki kesalahannya. Bukannya tutup mata dan mati-matian membela anak atas nama cinta.

Toh, sayang anak tidak berarti melimpahinya dengan materi, memanjakannya dengan mengiyakan semua keinginan dan membela setiap perilakunya. Sebagai orang tua, tugas kita mengarahkan anak mana yang bermanfaat, mana yang benar dan salah. PR kita juga mengajarkan anak berpikir bahwa setiap perbuatan ada risikonya, ajak mereka mempertimbangkan matang-matang segala kemungkinan yang bisa terjadi sebelum melakukan sesuatu.

Yah, semoga kasus suster ngesotnya Mega ini, nggak semakin merugikan pak satpam dan keluarganya. Jangan sampai karena ulah konyol anak baru gede ini membuat sebuah keluarga kehilangan periuk nasinya.

Child Abuse Awareness

“Maybe more people would take action to stop child abuse if they realized that it COULD happen to their children – BraveKidsVoices”

 

Hari Minggu tanggal 26 Juni 2011 yang lalu, acara Stop Child Abuse: Charity for Baby NF yang digagas oleh 3 perempuan hebat: Fla, Silly dan Titut Ismail sukses menggalang massa di Score, CITOS dan mengumpulkan dana ratusan juta rupiah. Sumbangan tersebut rencananya akan digunakan untuk perawatan fisik dan psikis bayi NF, korban kekerasan seksual di Bantaeng, Sulawesi Tengah dan korban lainnya.

Kasus bayi NF sendiri sejatinya seperti fenomena gunung es, sedikit yang muncul di permukaan sementara  yang tidak terekspos banyak sekali. Nggak percaya? Coba deh baca koran, hampir tiap minggu ada berita tentang anak di bawah umur yang mengalami kekerasan seksual. Ironisnya, kebanyakan pelakunya adalah orang-orang yang dekat dengan korban, bisa ayah (kandung atau tiri), paman atau tetangga.

Kok bisa ya mereka setega itu sama anak kecil? Justru anak kecil adalah korban yang empuk karena mereka nggak berdaya, nggak punya kekuatan untuk melawan dan nggak punya keberanian untuk mengadukan hal keji itu kepada orang lain. Sayangnya lagi ketika akhirnya hal itu diketahui orang lain, kebanyakan korban dan keluarganya nggak mau lapor ke pihak berwajib karena dianggap sebagai aib keluarga.

Tapi yang  namanya child abuse bukan hanya berbentuk kekerasan seksual (sexual abuse), masih ada kekerasan fisik (physical abuse) seperti pukulan, cubitan atau jeweran; kekerasan emosional (emotional abuse) seperti memberi label “goblok”, “nakal”, “nyusahin orang tua”, “nggak ada yang sayang kamu”; dan penelantaran anak seperti membiarkan anak kelaparan atau mengabaikan saat anak butuh diperhatikan. Lagi-lagi pelaku kekerasan pada anak tersebut sebagian besar adalah orang tua dan keluarga besar atau guru di sekolah dengan alasan untuk mendidik dan mendisiplinkan anak. Sedih ya, saat keluarga seharusnya menjadi tempat paling aman dan nyaman bagi seorang anak, malah menjadi sumber malapetaka dan nggak mampu memberikan perlindungan yang dibutuhkan.

Tahukah bahwa kekerasan yang di alami anak bisa mengakibatkan efek jangka panjang? Menurut Freud yang suhu dari ilmu Psikoanalisa, masa 0-5 tahun adalah masa krusial terbentuknya kepribadian anak. Sehingga segala bentuk kekerasan atau tindakan yang mengakibatkan trauma bisa menyebabkan dampak pada masa perkembangan anak. Beberapa studi mengatakan bahwa anak-anak korban kekerasan biasanya akan menunjukkan self esteem yang rendah, depresi, memendam perasaan bersalah, sulit mempercayai orang lain, gangguan pola makan, kesepian bahkan bisa menjadi sangat agresif.

Yuk ah, mari lihat ke dalam keluarga kita dulu, jangan-jangan pola asuh kita selama ini ada yang termasuk salah satu bentuk kekerasan terhadap anak. Atau kalau mau menengok ke kanan kiri, mungkinkah di lingkungan kita ada anak mengalami kekerasan dari orang tuanya. Kalau iya, please stand up, speak out, laporkan kepada pihak yang berwajib. Jika kita sendiri yang bermasalah, datangi orang-orang yang bisa menolong kita dan menyelamatkan anak kita. Semakin dini masalah kekerasan ini bisa diatasi dan anak diberi pertolongan yang tepat, semakin baik pula pemulihan trauma psikisnya. Demi masa depan anak yang lebih baik, STOP CHILD ABUSE!

For more information about child abuse, visit these pages:
http://www.helpguide.org/mental/child_abuse_physical_emotional_sexual_neglect.htm
http://www.childwelfare.gov/pubs/factsheets/whatiscan.cfm
http://en.wikipedia.org/wiki/Child_abuse
http://www.childabuse.com/

Maafkan Aku Ya, Diriku

What have I done? I wish I could
Away from this ship goin’ under*

Pernah nggak sih melakukan suatu hal yang menurut kita baik tapi ternyata berakibat negatif untuk kita sendiri dan orang-orang di sekitar kita? Saya pernah. Sering malah. Baik dalam hubungan dengan suami atau anak, orangtua atau saudara, pekerjaan maupun pertemanan.

Suatu kali, saya merasa telah melakukan suatu hal yang awalnya tidak saya sadari sebagai sebuah kesalahan, tapi lantas mengguncang biduk yang saya tumpangi dengan hebat. Parahnya lagi guncangan itu juga memberi efek kepada orang-orang yang saya sayangi.

Untuk beberapa lama saya terbenam dalam perasaan bersalah sehingga orang-orang yang tadinya mendukung saya pun akhirnya ikut menyalahkan saya. Semua yang saya lakukan untuk memperbaiki keadaan rasanya nggak akan pernah cukup bahkan semakin memperburuk keadaan. Sampai akhirnya saya berhenti berusaha bahkan menutup diri karena takut berbuat kesalahan lagi dan kehilangan kepercayaan diri.

Ada saat-saat, I really wish I could turn back time and try to do those things right tapi toh nggak bisa. Bahkan untuk lari dan melupakan kesalahan itu juga nggak mungkin. Yang bisa saya lakukan adalah menghadapinya. Sakit? Capek? Pasti…

But times does heal… Pelan-pelan saya berusaha memaafkan diri saya dulu tanpa berusaha mencari pembenaran atas semua perbuatan saya. Itu yang penting. Toh, kesalahan itu nggak bisa dihapus, pacar yang sudah pergi nggak bisa kembali atau proyek yang sudah lepas dari tangan juga nggak akan didapatkan lagi. Lagipula kita sudah berusaha memperbaiki kesalahan itu meskipun ternyata tidak membuatnya menjadi lebih baik dalam waktu singkat.

Dengan memaafkan diri sendiri, lama kelamaan kita jadi lebih kuat dan lebih jernih dalam memandang suatu persoalan. Lalu berusaha mencari solusinya. Gampang? Siapa bilang? Dalam kasus saya 2 tahun lamanya proses itu. Jatuh bangun jatuh lagi. Namun kalau tidak diusahakan kita akan terus menerus terbebani perasaan bersalah sehingga sulit untuk maju dan melanjutkan hidup. Akhirnya malah kita akan jadi orang yang menyedihkan karena selalu menyesali kesalahan yang pernah kita buat. Maukah? Saya sih enggak.

Sampai saat ini pun saya masih berusaha, meski memang nggak bisa kembali ke keadaan normal tapi saya yakin proses ini adalah salah satu ujian untuk menempa saya menjadi pribadi yang lebih kuat, matang dan bijaksana. Dan kalau saya tidak menyerah, kelak keadaan akan pasti akan jadi lebih baik dan saat itu tiba kesalahan fatal itu akan jadi sebuah pengalaman yang saya ingat dengan senyuman.

*lirik lagu Get It Right yang dinyanyikan oleh Glee Cast

Gambar diambil dari gettyimages.com

Belajar Lewat Lagu

Sejak bayi, Cinta paling suka kalau diajak “ngobrol” dengan suara yang dilagukan seperti bernyanyi, ngaji atau dibacakan doa-doa dan surat pendek. Jadi meskipun saya ini buta nada dan bersuara fals nggak mengurangi kepercayaan diri ketika bernyanyi untuk Cinta, apalagi menurut beberapa sumber yang pernah saya baca, bagi bayi suara ibunya adalah suara yang paling merdu. Yah, walaupun fals kan nyanyinya penuh cinta ya ngeles.

Saya sendiri yang awalnya cuma nyanyi lagu-lagu anak yang sudah umum sebagai cara berkomunikasi dan menghibur Cinta, akhirnya jadi iseng mengganti lirik lagu-lagu itu dan menjadikannya sarana penyampai pesan atau belajar sesuai dengan kebutuhan dan keadaan kami saat itu. Misalnya lagu Nina Bobo yang sudah sangat kondang itu, diganti liriknya jadi “Cinta bobo… oh Cinta bobo, hari sudah malam, waktunya tidur. Bobo bobo Cintaku sayang, besok pagi kita bermain lagi” untuk mengenalkan konsep pagi dan malam.

Lagu yang sama juga bisa diganti liriknya menjadi, “Cinta cantik, oh Cinta pintar, kalau sudah besar jadi anak sholehah. Mama sayang dan papa sayang, anak baik hati si Nadja Aluna” sebagai doa sekaligus menanamkan afirmasi positif. Dua lagu itu jadi lagu pengantar tidur wajib dan kesukaan Cinta sejak dia masih bayi banget. Selain itu juga bisa menenangkan saat saya sudah lelah, sedih dan marah karena Cinta yang kolik suka nangis nggak brenti-brenti waktu malam. Dengan menyanyikan lagu itu sambil mengayun-ayunkan dia di gendongan, saya bisa ikut tenang. Dan ketika saya tenang, biasanya Cinta juga ikut berhenti nangis lalu tertidur. See, bahkan sebuah lagu sederhana pun bisa membawa efek yang luar biasa.

Saat ingin menyampaikan sesuatu seperti pentingnya gosok gigi, asiknya mandi dan sudah kehabisan cara karena dikasih tahu tetap nggak mau mandi misalnya, saya ajak aja nyanyi lagu “Aku Gigi” yang jadi jingle Pepsodent atau “Bangun tidur”. Sering juga mengganti lirik lagu Mandi Pagi menjadi “Mandi pagi cibang cibung, pakai sabun asik banget. Cuci muka, gosok badan, jangan lupa pake shampo.” Kalau lagi belajar mengenal huruf dan membaca selain menyanyi lagu “ABC” yang sudah umum itu, kami juga suka bernyanyi lagu “I N I ini, I B U ibu, B U bu D I di Budi, dibaca Ini Ibu Budi” Kadang kami mengarang lagu sendiri dengan nada suka-suka sesuai dengan abjad dan kosakata yang lagi dipelajari. Jadi aneh emang, maklum wong bukan komposer lagu tapi tetap seru lho. Lagipula bernyanyi bisa bikin suasana ceria buat kami berdua dan aktivitas jadi sangat menyenangkan.

Karena terbiasa bernyanyi, mendengar lagu dan mengganti-ganti lirik lagu, Cinta jadi suka juga melakukan hal serupa. Musik yang sekali dua kali dia dengar bisa diganti-ganti liriknya sesuai apa yang sedang dia pikirkan. Cinta juga pede aja nyanyi lagu ciptaannya sendiri di depan orang banyak sambil nari-nari a la ballerina. Nggak nyangka deh, dari aktivitas sederhana seperti bernyanyi dengan hati bisa mengasah kreativitas, keberanian dan kepercayaan diri.

Belakangan saya baru tahu kalau informasi yang disampaikan lewat lagu dan musik lebih mudah dicerna dan diingat oleh bayi dan balita. Mungkin nih ya karena saat bernyanyi kita biasanya dalam keadaan senang dan (mengutip kata-kata ibu Elly Risman) otak menyerap lebih banyak saat hati senang. Jadi jangan heran kalau anak lebih banyak diajak menyanyi dan menari sama guru-gurunya di kelompok bermain dan taman kanak-kanak, karena itu memang cara belajar yang paling efektif sekaligus menyenangkan. Kok bisa? Secara ilmiahnya, tingkat konsentrasi anak-anak usia balita masih rendah dan mereka mudah sekali teralih perhatiannya ke hal-hal yang lebih menarik. Nah dengan menyanyikan sebuah lagu yang sesuai dengan tema pelajaran membuat anak jadi tertarik untuk terlibat dalam proses belajar mengajar.

Bernyanyi sama anak juga bisa meningkatkan ikatan batin antara orangtua atau pengasuh dengan anak lho. Serta membuat anak merasa nyaman akan dirinya sendiri karena mereka bisa mengekspresikan perasaan dan melatih komunikasi. Jadi lupakan suara fals, anak nggak peduli kok, yang penting bersenang-senang bersama. Mari bernyanyi 🙂

Komunikasi dalam Mengasuh Anak

Mama: “Dedek, jangan loncat-loncat di tempat tidur nanti jatuh.”
Dedek: *tetep loncat-loncat di tempat tidur*
Mama: *suara naik 3 oktaf* “Dedek, mama bilang jangan loncat-loncat di tempat tidur! Nanti kamu jatuh!”
Dedek: *cengar cengir* *tetep loncat-loncat di tempat tidur*
Mama: *suara naik 10 oktaf* “Dedeeeeeeek! Dikasih tau kok nggak mau denger sih! Awas ya nanti kalo jatuh mama nggak mau nolongin! Anak kok bandel amat!”
Dedek: *brruuukkk… jatuh* *nangis* “Huaaaaa sakit ma… Sakit”
Mama: “Nah, kan mama bilang apa. Sudah dikasih tahu nggak boleh loncat-loncat. Salahnya sendiri nggak mau dengerin. Jatuh kan sekarang. Kualat kamu sama mama!”
Dedek: *nangis makin kenceng* “Sakit maaaaa…”
Mama: “Aaah, cuma gini aja kok. Nggak sakit ini. Sini mama kasih obat luka.”
Dedek: “Nggak mau obat luka, Ma. Pediiiiih. Sakit. Nggak mauuuu.”
Mama: “Eh, sini mama kasih. Ntar tambah parah lho lukanya. Mau kamu? Sakit sedikit. Besok juga sembuh! Makanya kalau dikasih tahu orang tua itu didengerin. Kapok kan kamu sekarang!”

Ternyata keesokan harinya luka si Dedek belum sembuh, dia bingung karena kata mamanya besok lukanya sudah sembuh tapi kok belum. Trus katanya nggak sakit. Lalu yang sakit itu yang seperti apa. Udahlah dimarahin, diancam, dicap bandel, didoain jelek, dibohongin lagi.

Hmmm… Familiar nggak sih sama kejadian kaya gitu? Honestly, saya juga pernah ngomong gitu ke Cinta tapi nggak pake acara kualat, sukurin lho… 2 kalimat pertama lah. Tahu nggak kalo dalam kalimat-kalimat yang diucapkan si Mama ke Dedek itu mengandung banyak sekali kesalahan komunikasi yang bisa mempengaruhi konsep diri si Dedek kelak? Serius? Iya, begitulah kata Bu Elly Risman dalam Seminar Pengasuhan Anak yang bertema “Komunikasi Pengasuhan Anak” yang diselenggarakan oleh komunitas Supermoms Indonesia, hari Sabtu, 26 Februari 2011 yang lalu.

Selama mengasuh anak, seringkali kita melakukan kekeliruan dalam komunikasi. Mostly sih nggak sengaja, ya karena kebiasaan sehari-hari begitu, karena cara orangtua kita dulu berkomunikasi dengan kita ya seperti itu. Padahal kekeliruan itu bisa berakibat fatal terhadap perkembangan kepribadian anak. Antara lain bisa:

  • Melemahkan konsep diri
  • Membuat anak diam, melawan, menentang, tidak peduli, sulit diajak kerjasama
  • Menjatuhkan harga dan kepercayaan diri anak
  • Kemampuan berfikir menjadi rendah
  • Tidak terbiasa memilih dan mengambil keputusan bagi diri sendiri
  • Iri terus

Kalau kita kembali ke percakapan di atas udah ada berapa banyak kesalahan komunikasi yang dibuat si Mama ya? Ada ancaman, memberi cap/label, meniadakan perasaan anak, berbohong, dll. Padahal itu baru 1 kejadian lho. Bayangkan berapa banyak hal yang kita alami selama 1 hari. Anak telat bangun tidur padahal harus sekolah, kita omelin. Anak pulang sekolah dengan muka kusut karena dibully temannya, capek, banyak PR bukannya disambut dengan senyuman, disuruh makan dulu, ditanya baik-baik eeeeh diomelin cuma karena nggak lepas sepatu dan ngotorin lantai rumah yang sudah kita pel sampe mengkilat. Ulangan anak dapat nilai 80 kita marahin karena kita pengennya dia dapet 100, lha padahal dari 20 soal itu dia betul 16 lho, cuma salah 4. Kenapa nggak kita apresiasi dulu keberhasilannya menjawab 16 soal yang mungkin kita juga belum tentu bisa jawab itu. Baru pelan-pelan ditanya 4 soal yang salah. Bila hati senang, otak menyerap lebih banyak lho. Anak yang bahagia biasanya lebih baik prestasinya, lebih bagus konsep dirinya, lebih mudah beradaptasi dengan lingkungannya.

Bukan mau nakutin nih, tapi kata Ibu Elly Risman, anak jaman sekarang itu udah kebanyakan beban yang bisa bikin mereka bored, lazy, angry/affraid, stress, tired (BLAST). Keharusan mempelajari 16 mata pelajaran di sekolah yang mungkin belum tentu ia butuhkan untuk kelak bertahan hidup, hanya dinilai berdasarkan nilai yang berupa angka adalah sedikit dari penyebab BLAST itu. Belum lagi ketidakpedulian orang tua akan perasaan dan kebutuhan anak, yang penting nilai harus bagus, peer pressure dan masih banyak lagi bisa menimbulkan banyak masalah yang tidak terpecahkan, antara lain: pacaran di usia dini, seks bebas, aborsi, putus sekolah, nikah muda, bercerai, narkoba, HIV/AIDS.

Jadi kita musti gimana dong? Semua itu berawal dari komunikasi. Yuk, kita perbaiki gaya komunikasi kita dengan anak dan pasangan dengan cara:

  1. Bicara jangan tergesa-gesa. Ajak anak untuk belajar membuat rencana, belajar berpikir, memilih dan mengambil keputusan supaya dia bisa mandiri dan bertanggungjawab. Misalnya: tiap minggu bikin daftar menu, kakak mau sarapan pake apa, adik apa. Lalu ajak mereka untuk berbelanja, suruh pilih sendiri bahan-bahan yang mereka perlukan untuk sarapannya selama 1 minggu itu. Konsekuensinya kalau suatu hari dia nggak mau makan apa yang sudah dipilihnya ya biarin aja.
  2. Belajar untuk mengenali diri kita dan mengenali lawan bicara kita (anak, suami, ART, ortu, saudara, tetangga, teman kerja). Coba kita lihat diri kita sendiri, apakah pola asuh orangtua kita dulu memberikan efek positif atau negatif. Seandainya kita diperlakukan seperti contoh di atas, gimana perasaan kita.
  3. Ingat: setiap individu itu UNIK. Iyalah kita aja pasti nggak suka kan kalo pasangan banding-bandingin kita sama istri temennya. Nah, anak juga begitu. Jangankan sama anak tetangga, yang keluar dari rahimnya bareng alias kembar aja beda.
  4. Pahami bahwa Kebutuhan dan Kemauan: BERBEDA. Seringkali kita memaksakan kemauan kita kepada anak, padahal apa yang dia butuhkan bukan itu. Contoh sederhana ketika anak bilang,
    Anak: “Haus ma,”
    Mama: “Minum susu.”
    Anak: “Nggak mau susu, ma. Es teh aja, aku pengen yang seger-seger.”
    Mama: “Eh, mama bilang minum susu. Ntar kuntet kamu nggak mau minum susu!”
  5. Baca bahasa tubuh: ketahui bahwa action speaks louder than words dan bahasa tubuh nggak pernah bohong. Misalnya: anak pulang sekolah mukanya cemberut, buka sepatu sambil dilempar. Kita tanya, “Kenapa kak?” Dia jawab, “Nggak papa!” lantas masuk kamar sambil banting pintu. Itu bukan berarti dia beneran nggak apa-apa lho. Pasti kenapa-kenapa. Dan kita nggak boleh cuek.
  6. Dengarkanlah perasaan. Tandai pesan yang terlihat, jangkau rasa, buka komunikasi, namain perasaan yang tampak pada pesan itu. Misalnya dalam kasus no. 5: lihat anak pulang sekolah dengan wajah cemberut kita bisa bilang,
    Mama:  “Wah, anak mama udah pulang nih. Kenapa kok cemberut gitu (menandai pesan)? Kakak capek ya (menjangkau rasa)?”
    Anak: “Enggak papa!” *lempar tas*
    Mama: “Ooooh, kakak laper ya (buka komunikasi)”
    Anak: “Enggak kok. Nggak laper!”
    Mama: “Oooo, anak mama lagi kesel banget ya (menamakan perasaan)”
    Anak: “Enggak maaaaa! Aku tuh lagi benciiiiiiiii!”
    Mama: “Kakak lagi benci ya. Benci sama siapa?”
    Anak: “Tadi ya ma, PRku kan ketinggalan. Trus aku distrap di depan kelas.”
    Mama: “Wah, malu banget dong kak.”
    Anak: “Nggak cuma itu aja ma, waktu aku distrap, si Edi tuh masak julurin lidah ke aku.”
    Mama: “Kesel dong kak, digituin”
    Anak: “Iya ma… blablabla”
    Teruskan sampai anak tuntas bercerita. Jangan dipotong, disalahkan bahkan dinasehati. Pancing aja terus dengan mengungkapkan perasaan-perasaan yang tersirat dalam setiap ucapannya.
  7. Hindari 12 Gaya Populer dalam berkomunikasi yaitu: memerintah, menyalahkan, meremehkan, membandingkan, mencap/label, mengancam, menasehati, membohongi, menghibur, mengeritik, menyindir dan menganalisa. Hal-hal ini akan mengakibatkan anak tidak percaya akan perasaannya sendiri, sehingga ia bisa merasa nggak percaya diri. Konsep dirinya hancur, nggak bisa menghargai dirinya sendiri. Selain itu kalau kita berbohong, jiwa anak akan goyang alias labil yang akhirnya bisa mengakibatkan mentally breakdown.
  8. Tentukan: Masalah Siapa? Masalah anak atau ortu? Dibantu atau dibiarkan? Hidup adalah pilihan dan pilihan. Misalnya: anak ketinggalan PR -> masalah anak, dibantu atau dibiarkan -> dibiarkan. Kenapa? Supaya anak belajar konsekuensi ketinggalan PR itu apa.
  9. Mendengarkan secara aktif. To listen atau mendengarkan berbeda dengan to hear atau mendengar. Mendengarkan secara aktif berarti melibatkan perasaan. Jadilah cermin, pilih kata-kata yang menunjukkan kita mengerti apa yang dirasakan orang yang sedang bicara dengan kita. Seperti: “Oooo… gitu.” “Sedih bener dong, kamu.” “Kecewa ya?” Seringkali orang curhat itu hanya karena ia ingin didengarkan, bukan untuk dinasehati apalagi disalahkan.
  10. Sampaikan PESAN SAYA. Marah itu boleh banget, kalo enggak nanti bisa stroke. Tapi gunakan pesan “Saya”, misalnya: bilang, “Mama kesal kalau kakak pulang sekolah copot sepatu di dalam rumah karena lantai jadi kotor.” instead of “Ya ampun kakak, nggak bisa apa copot sepatu dulu! Liat deh, lantai jadi kotor! Kamu ini bandel banget, nggak tau apa mama capek ngepel lantai” Dueeeenng!

Yah, selama seminar itu saya sempat beberapa kali mau nangis sih, mengingat banyaknya kesalahan komunikasi yang saya lakukan ke Cinta. Sampai di rumah berusaha banget untuk memperbaiki hal itu. Tapi ternyata sulit. Kebiasaan selama hampir 4 tahun ternyata nggak bisa dihilangkan hanya dalam 1 malam. Bahkan selama 1 minggu ini masih harus tetap belajar untuk memperbaiki komunikasi. Asli nggak gampang, kadang kalo lagi capek ya kalimat-kalimat negatif suka keluar. Tapi ya harus konsisten, ulang dari awal lagi dan memang tantangannya di situ.

Saya belajar tentang hal ini dan berusaha supaya berhasil, karena kepengen bisa menjalin komunikasi yang baik dengan Cinta (dan adek-adeknya kalo dikasih). Supaya kalau dia remaja nanti tetap saya yang jadi tempatnya curhat seperti Lorelai dan Rory Gilmore di serial tv favorit Gilmore Girls. Bukannya curhat ke sesama anak baru gede yang juga lagi mencari identitas diri. Doakan saya ya.

Eh ya, menurut ibu Elly, it takes a village to raise a child. Maksudnya, untuk menghasilkan anak Indonesia yang berkepribadian tangguh, memiliki konsep diri yang baik dan tidak mudah terpengaruh hal-hal buruk dibutuhkan kerjasama dari seluruh keluarga di Indonesia. Jadi mari sama-sama belajar berkomunikasi yang baik dengan keluarga demi anak Indonesia yang sehat fisik dan mentalnya.

Disarikan dari Seminar “Komunikasi Pengasuhan Anak” oleh Ibu Elly Risman, Psi dari Yayasan Kita dan Buah Hati yang diselenggarakan oleh Supermoms Indonesia, sebuah komunitas mommies peduli pengasuhan anak.

*Gambar diambil dari sini*

Aku Sudah Besar, Ma

PhotobucketSiang ini, saya lagi mengedit beberapa foto di laptop dan Cinta sedang bermain dengan boneka-boneka dan buku-bukunya. Tiba-tiba dia memanggil,

“Ma, tolong ambilin gunting.”
“Buat apa, Cin?”
“Ini lho, buat gunting gambar yang di majalah Elmo (majalah Sesame Street)”

Setelah ngambil gunting, saya kembali berkutat dengan laptop sedangkan Cinta asik dengan majalahnya. Nggak lama kemudian dia ke lemari mencari sesuatu. Karena tempatnya tinggi dia ambil kursi dan naik ke atasnya. Tapi ternyata yang dicari nggak ada. Lalu dia menghampiri saya.

“Ma. lemnya Cinta abis. Cinta beli di warung Opa ya. Minta uang buat beli lem.”
“Mama anterin ya?”
“Nggak usah, Cinta aja.”
“Berani?”
“Berani dong. Kan Cinta udah besar.”

Akhirnya saya bawakan uang Rp 5.000,00 lalu saya antar sampai depan pagar dan Cinta pergi sendiri ke warung yang cuma berjarak 2 rumah dari rumah kami. Nggak lama kemudian dia kembali dengan lem kertas dan sebotol Yakult dingin 🙂

Cinta pergi ke warung sendiri memang bukan untuk yang pertama kalinya sih, tapi kalimatnya yang menegaskan bahwa dia sudah besar dan bisa pergi sendiri entah kenapa mengusik saya siang ini. Nggak terasa anak kecil itu tahun ini akan berusia 4 tahun dan akan masuk TK. Jujur aja selama ini saya memang agak protektif dan terlalu banyak membantu dia dalam hampir setiap aktivitasnya. Bukan apa-apa sih, cuma karena saya suka nggak sabar atau takut kotor kalau dia melakukan sesuatu sendiri.

Padahal, menurut teori perkembangan psikososialnya Erik Erikson, anak usia  18 bulan – 3-4 tahun berada pada fase Otonomi vs Perasaan Malu/Ragu-ragu. Di mana tugas yang harus diselesaikan pada tahap ini adalah kemandirian. Sebagai orangtua seharusnya saya memberikan lebih banyak kesempatan buat Cinta untuk mengeksplorasi lingkungan dan kemampuannya sendiri, supaya dia bisa mengembangkan rasa percaya diri bahwa dia mampu melakukan sesuatu. Tentunya dengan batasan-batasan tertentu. Kalau tahap ini berhasil dengan baik, anak akan mandiri. Sedangkan kalau orangtua nggak memanfaatkan momen ini dengan baik, anak akan cenderung merasa dirinya nggak bisa melakukan sesuatu dan tergantung pada orang lain.

Untungnya sejak sekolah Cinta terbiasa untuk melakukan beberapa hal sendiri dan itu terbawa sampai di rumah, sehingga saya pun akhirnya belajar untuk membiarkan Cinta melakukan hal-hal sederhana tanpa bantuan. Misalnya memilih dan memakai baju atau sepatu, menyabuni badannya dan sikat gigi sendiri saat mandi, ambil minum, sendok, bermain sendiri dan lain-lain. Walaupun akhirnya waktu yang dibutuhkan jadi lebih lama atau rumah jadi lebih berantakan. Agak terlambat sih memang tapi better late than never kan ya 😀