Beradaptasi di Sekolah Baru

Sebagai ibu yang concern dengan pendidikan anak usia dini, aku cukup cerewet saat memilih sekolah untuk Cinta waktu kami masih di Indonesia. Aku percaya bahwa sampai usia 6 tahun, kewajiban anak adalah bermain. Sehingga saat memasukkan Cinta ke sekolah pun, aku mencari yang benar-benar mempraktikkan semboyan “belajar sambil bermain.” Di mana aktivitas utamanya ya main. Pelajaran mengenal huruf, angka, membaca, menulis, belajar mengaji, dll pun dilakukan dalam konteks bermain, sehingga anak nggak merasa kalau dia sedang belajar dan tetap bahagia. Bukankah anak yang bahagia akan menyerap (pelajaran) lebih banyak?!

Tapi, setelah kami pindah ke Brunei sebulan lalu dan tinggal di kota kecil, pilihan sekolah untuk Cinta nggak sebanyak di Jakarta bahkan di Sidoarjo. Selain sekolah negeri, beberapa teman menganjurkan supaya Cinta bersekolah di english school. Nah, karena sekolah negeri hanya buka pendaftaran sampai awal tahun ajaran baru yang dimulai tanggal 3 Januari 2012 lalu, maka tinggal convent school atau chinese school.

Saat akhirnya memutuskan untuk mendaftarkan Cinta di chinese school, hampir semua kriteria ideal yang kupegang dalam memilih sekolah tidak terpenuhi. Pertama, no outdoor activity, “Parents don’t like if we take children go out too much,” kata kepala sekolahnya. Dieeeng. Padahal mereka punya halaman luas penuh rumput dengan playground besar. Kedua, satu kelas berisi 26 siswa hanya dipegang oleh satu guru yang tegas dan disiplin grin. Ketiga, ada PR, keempat ADA ULANGAN setiap bulan tepok jidat.

Mau memilih sekolah yang lain pun, kondisinya bisa dipastikan hampir sama. Jadilah dengan bismillah Cinta memulai petualangannya di situ.

Awalnya aku kepikiran banget membayangkan apakah Cinta mampu beradaptasi dengan lingkungan dan aktivitas di sana. Khawatir kalau terlampau berat untuknya yang waktu sekolah di Jakarta begitu diperhatikan dan dimanja guru-guru.

But somehow she survived. Selama 2 minggu ini bersekolah belum pernah malas berangkat, malah sempat ngambek karena dilarang sekolah waktu dia pilek. Bahkan hari ini waktu diminta untuk tinggal di rumah karena mamanya sakit, dia maksa untuk berangkat berdua aja sama si papa, meskipun masih batuk. Tapi akhirnya menyerah nggak sekolah setelah batuk-batuk sampai muntah dan pusing. Mungkin karena pelajaran yang diberikan mengulang apa yang sudah pernah dia dapat di kelompok bermain dan TK A. Bisa juga karena aktivitasnya lebih menyenangkan daripada sekedar main dan nonton tv di rumah sendirian.

Namun belakangan aku mendapati Cinta kembali suka menggigit kuku dan benda-benda lain, bahkan tutup botol minum sampai gripis pinggirannya karena digigitin. Entah karena dia bosan atau sebagai ekspresi cemas dan tidak nyaman.

Cinta sendiri kalau ditanya, “Are you happy at school?” selalu menjawab, “Yes, I’m happy!” dengan semangat. Meski belum punya teman dan waktu aku tanya apakah gurunya baik, dia jawab, “not really, mom. sambil cengar-cengir. Soal kurangnya aktivitas luar ruang juga dia pernah bilang, “Main di dalam juga menyenangkan, kok.” waktu aku mengkhawatirkan dia yang nggak pernah main di luar ruang.

Hmmm… Kita lihat dululah perkembangannya sampai tahun ajaran ini berakhir. Apakah Cinta memang benar-benar cocok di sekolahnya sekarang ataukah kami harus cari sekolah lain untuk mengobati kekhawatiran ibunya ini. Well, for this time hang in there, Cinta. We’ll always by your side.

Previous Post Next Post

Yuk baca ini juga