Browsing Tag:

family

  • Foods and Places, Traveling

    Serunya Main Salju

    PhotobucketSejak beberapa minggu yang lalu waktu liat baliho gede Snow in BSD City di depan ruko-ruko BSD, udah pengen ngajak Cinta ke sana. Akhirnya baru kesampaian tanggal 28 Desember 2010 yang lalu (huhuhu another late posting), itupun sebagai hadiah karena dari hasil penilaian gurunya, perkembangan Cinta selama 1 semester di sekolah cukup bagus.

    Sampai di area Ocean Park BSD, kami langsung cari parkir yang dekat lokasi salju itu. Tadinya saya pikir pengunjung hari itu sudah lumayan rame karena lagi libur anak sekolah. Tapi waktu kemarin kami ke Ocean Park untuk makan di D’Cost (yang akhirnya batal karena penuh) ternyata yang mau main di salju jauh lebih banyak dari waktu kami ke sana. Mungkin karena tanggal 2 Januari 2011 itu adalah hari terakhir pertunjukan salju.

    Untuk masuk ke area salju, tiap orang dewasa dikenakan biaya Rp 50.000,00 sedangkan anak usia 1 tahun sampe yang tingginya 140 cm bayarnya Rp 40.000,00. Dengan HTM segitu bisa main sepuasnya lho dari jam 11 pagi sampai jam 8 malam. Kalo bosen di dalam atau kedinginan dan lapar bisa keluar dulu, makan Pop Mie di booth yang ada di situ trus masuk lagi.

    Karena yang datang cukup banyak, terpaksa antri untuk dapat jaket khusus, terutama anak-anak. Jadi nunggu ada yang keluar dulu baru kita dapat jaketnya. Itupun rada rebutan karena banyak yang nggak mau antri *sigh*. Melihat yang keluar dari arena tampak kedinginan dengan pipi merah-merah, saya minta suami belikan sarung tangan di stan Pop Mie untuk Cinta sementara saya antri jaket. Sepertinya sih lain kali mending bawa jaket sendiri yang tebal karena selain jaket yang ada terbatas jumlahnya, ukurannya nggak pas, juga kotor dan nggak bisa direkatkan lagi velcronya. Jangan lupa juga pake kaos kaki dan sarung tangan karena memang di dalam dingin banget. Kata petugasnya, suhu di dalam arena sampai 11 derajat Celcius.

    Sebelum masuk ke dalam ruangan saljunya, pengunjung dikumpulkan dulu sambil diberi pengarahan, termasuk larangan memotret pakai kamera atau ponsel pribadi karena di dalam sudah ada fotografernya. Dengan bayar Rp 20.000,00 bisa dapat 1 lembar foto dan file yang disimpan di CD. Setelah siap, kami dipersilakan masuk dan begitu pintu dibuka langsung terasa dinginnya.

    PhotobucketPhotobucket

    Arena saljunya remang-remang kaya di Sea World plus dingin banget, bikin Cinta agak takut dan nggak mau jalan sendiri. Jadilah dia digendong sambil kami melihat-lihat ice carving beraneka bentuk yang ada di situ. Yang jadi atraksi utama adalah arena seluncur salju dan salju yang turun seperti hujan rintik-rintik. Dengan suasana gelap gitu dan suara mesin salju yang keras jadi berasa lagi kena badai salju (imajinasi tingkat tinggi). Karena saya kedinginan banget dan Cinta nggak mau turun dari gendongan, akhirnya suami aja yang main perosotan salju. Yah, lumayan daripada cuma berdiri nonton orang main. Padahal kayanya pengunjung lain seru nyobain jalan di es tanpa sepatu khusus, perosotan, foto-foto (ada yang sembunyi-sembunyi pake kamera pribadi termasuk saya sebelum akhirnya ditegur petugas hihihi).

    Nggak sampe 30 menit kami ada di sana, Cinta sudah minta keluar. Mungkin nggak betah dinginnya atau takut gelap. Secara keseluruhan cukup menyenangkan sih, cuma sepertinya lebih cocok untuk anak yang sudah agak besar dan nggak takut gelap. Nggak sedikit juga pengunjung dewasa yang datang berkelompok. Senang juga bisa ngerasain dinginnya salju di tengah panasnya Serpong.

  • Review, Traveling

    Cinta dan Princess Fairytale di SMS

    PhotobucketBeberapa waktu yang lalu, papanya Cinta ngajak jalan-jalan ke Summarecon Mall Serpong yang ada di Gading Serpong itu. Tiap pulang ke Jakarta, si papa suka banget jalan-jalan ke sana dan memang kami ke sana cuma kalo beliau ada di sini, karena saya malas harus bermacet-macet ria di depan Giant Serpong itu. Begitu mendekati SMS, banyak sekali baliho gambar Princess dengan background pink. Cinta yang suka banget sama sesuatu yang berbau-bau princess Disney dan pink langsung semangat pengen liat Princess. Ternyata memang di SMS lagi ada acara Disney Princess Fairytale Princess mulai tanggal 2 Desember 2010 – 9 Januari 2011.

    Setelah membaca sekilas baliho yang ada, kami langsung menuju lobi selatan SMS untuk melihat magic mirror. Booth ini menampilkan 2 buah “cermin ajaib” yang diletakkan di depan kastil kecil. Setelah daftar dan antri sebentar, giliran Cinta untuk mencoba pun tiba. Dia diminta untuk berdiri di depan cermin lalu dipakaikan semacam celemek setelah itu mbak SPG memencet-mencet semacam joystick dan voila, yang muncul di cermin adalah bayangan Cinta mengenakan baju princess lengkap dengan rambutnya. Cinta seneng banget, apalagi baju yang muncul di kaca berganti-ganti, mulai dari Snow White, Aurora, Cinderella dan Belle. Setelah Cinta selesai, SPGnya menawarkan saya untuk mencoba, ternyata nggak cuma untuk anak kecil, orang dewasa pun bisa mencoba bercentil-centil di cermin ajaib. Gratis lagi.


    PhotobucketPhotobucket

    PhotobucketPhotobucket
    Selesai ngaca, Cinta tertarik sama dekorasi kereta labu a la Cinderella yang ada di sebelah booth magic mirror. Rupanya ada stan foto a la Princess. Dengan membayar sebesar Rp 60.000,00 kita bisa foto memakai kostum princess yang sudah disediakan plus make up dan dapat hasil cetak foto sebesar 6R. Kalau mau menyimpan file-file foto di CD bisa nambah Rp 15.000,00 per 3 foto. Hasil foto dan copy CD bisa ditunggu selama 30 menit. Dasarnya Cinta emang suka banget foto apalagi a la Princess, dia pun dengan senang hati berpose di dalam kereta labu dan di depan pohon terang. Sayang, kostum untuk anak seukuran seumuran Cinta sangat terbatas, cuma ada gaun Ariel yang dipakai Cinta ini dan Snow White.

    Abis foto-foto, sambil nunggu hasilnya kami main di Timezone. Selagi Cinta dan papanya main, saya berjalan-jalan di sekeliling Timezone dan melihat ada panggung seperti istana para putri negeri dongengnya Disney di atrium SMS, bagus banget. “Istana” ini nantinya akan jadi tempat meet and greet para princess dan panggung Princess Competition. Sayang waktu kita ke sana nggak pas jadwal meet and greet yang diadakan mulai tanggal 12 Desember 2010 sampai 9 Januari 2011 tiap hari Minggu mulai jam 16.30 WIB.

    Tadinya saya pengen mendaftarkan Cinta ikut Princess Competition, kebetulan kami punya kostum Aurora yang dipakai Cinta waktu ulang tahunnya yang ke-3. Tapi ternyata lomba itu diperuntukkan untuk anak usia 6-12 tahun. Padahal hadiahnya seru, jalan-jalan ke Hongkong Disneyland. Yah, mungkin 3 tahun lagi ya Cin.

    Meski nggak bisa naik panggung karena ditutup, kami cukup puas dengan melihat-lihat dan menikmati berbagai benda-benda khas princess yang dijual di sekitar panggung. Mulai dari baju, perlengkapan sekolah dan makan sampai sandal, CD dan aksesoris. Cinta pun dapat jatah beli satu buah cincin bergambar tempel Aurora yang sayangnya sekarang sudah copot dari cincinnya. Berhubung Cinta sudah ngantuk, yang ditandai dengan tangisan meminta dibelikan buku lah, mainan lah, kami pun memutuskan untuk pulang sebelum tantrumnya bertambah hebat. Tapi saya berjanji akan mengajak Cinta ke sana lagi tanggal 9 Januari untuk meet and greet with all Princess. Sampai jumpa tahun depan Princesses.

  • Daily Stories, Parenting

    Berani Menang, Berani Juga Untuk Kalah?

    PhotobucketBeberapa hari ini topik yang lagi hangat dibicarakan ibu-ibu di sekolah Cinta adalah perlombaan dalam rangka perayaan Tahun Baru Islam hari Sabtu kemarin. Ada rumor kalau untuk lomba fashion kategori TK A, juara 1-3 nya dianulir. Beberapa ibu merasa kecewa dengan kesalahan tersebut dan merasa sekolah dan juri tidak peduli dengan perasaan anak. Ya sangat dimaklumilah, betapa sedihnya anak yang sudah dinyatakan juara ternyata belakangan pialanya diambil dan batal jadi juara. Tapi ada juga yang sengaja membeli piala untuk anaknya yang tidak jadi juara karena si anak terlanjur diiming-imingi dapat piala kalau mau ikut lomba.

    Saya sendiri awalnya tidak terlalu antusias dengan perlombaan ini karena tema model fashionnya adalah peragaan busana muslim kreasi. Ealah, wong saya ini orang paling nggak kreatif kok disuruh bikin begituan, meski cuma sekedar aksesoris yang unik. Tapi saya tahu kalau Cinta suka sekali tampil di depan umum. Sering dia iseng naik panggung kosong yang ada di mall cuma untuk merasakan jalan di atas panggung. Nggak jarang juga dia minta nyanyi atau pura-pura nyanyi di panggung yang ada microphone dan musical keyboard. It happened since she was 2 years old. Ketika itu dia berani nyanyi di panggung dan ikut joget bersama orang dewasa dalam sebuah acara kantor mama saya. Jadi saya pikir ini adalah kesempatan bagi Cinta untuk melakukan hal yang dia suka, menyanyi dengan mic pakai iringan musik dan berlenggak lenggok di panggung.

    Bukannya mau merendahkan kemampuan Cinta, tapi saya dari awal memang tidak berharap dia akan jadi juara. Sehingga saya tidak menjanjikan bahwa dia akan mendapatkan sebuah piala jika mau ikut lomba. Saya hanya bilang, it would be fun up there, walking at the runway, wearing the best clothes you have, singing with your friends, holding a microphone. Maka ikutlah kami perlombaan itu, sekedar untuk bersenang-senang. Baju yang dipilih pun bukan khusus baju muslim, melainkan terusan baru kesukaannya yang dipadukan dengan kemeja lengan panjang, jilbab, dan stocking. Aksesoris yang dipakai pun cuma bando. Tapi kami berdua cukup puas dengan tampilan itu.

    PhotobucketPhotobucket

    Pagi itu justru saya yang heboh akhirnya, memakaikan dia bedak, lipstik sementara Cintanya kalem banget. Malah mukanya cemberut dan tampak tidak tertarik. Tapi ternyata ketika kelas kelompok bermain diminta untuk menyanyi bersama, dia dengan semangat memegang mic dan bernyanyi dengan fasih. Padahal lagu yang mereka nyanyikan baru dipelajari selama 3 hari sebelum lomba. Malah ketika mic yang dia pegang diminta oleh gurunya untuk diberikan kepada teman lain, Cinta malah cemberut dan mulai nggak konsen. Saya pikir, oke nggak apa-apa. Cinta nggak demam panggung aja saya sudah senang sekali. Ternyata, kejutan baru diberikan Cinta saat lomba fashion. Dengan centil dan lincahnya dia berjalan di atas panggung. Kasih salam, melambaikan tangan, tersenyum like she already do that many times. Saya dan papanya Cinta nggak bisa menyembunyikan rasa bangga kami. Sungguh, mungkin muka saya udah kaya kena sinar lampu ratusan watt. Ini pertama kalinya anak kami tampil di panggung sungguhan meski masih di lingkungan sekolah tapi sudah selincah itu.

    Photobucket

    Banyak orang yang memuji penampilan Cinta, nggak sedikit juga yang bilang dia pasti akan dapat juara. Dalam hati saya pun punya keyakinan seperti itu. Tapi yang kami katakan adalah kami sangat bangga karena Cinta berani di atas panggung, kami senang karena dia sudah memberikan usaha yang terbaik. Saya ingin Cinta punya pemahaman bahwa yang penting adalah sudah berusaha sebaik mungkin dalam melakukan sesuatu yang dia sukai. Dan kami akan selalu bangga pada Cinta apapun hasilnya nanti. Karena, saya tahu sekali betapa sedihnya ketika kita sudah berusaha semaksimal mungkin dan mendapat hasil yang baik menurut kita, tapi tidak dihargai malah masih dianggap kurang baik oleh orang yang paling ingin kita buat bangga.

    PhotobucketSaat pengumuman pemenang, ternyata Cinta dapat juara 2 untuk kategori Kelompok Bermain. Bukan main senangnya kami, Cinta yang nggak menyangka dapat piala pun tampak senang memeluk pialanya. Bahkan sampai hari ini masih ada aja yang memuji penampilan Cinta di lomba kemarin. Tapi saya berusaha untuk tidak berlebihan karena saya tahu banget ada beberapa anak dan orangtua yang kecewa karena nggak dapat piala. Hingga malam ini pun saya suka berpikir, jika waktu itu Cinta nggak menang pasti kami akan kecewa meski kebanggaan kami kepadanya tidak akan berkurang. Tapi akankah kami dengan sengaja membeli piala sendiri hanya untuk menyenangkan dia? Bisa nggak saya mengajarkan kepada Cinta sejak dini bahwa dalam sebuah perlombaan pasti akan ada yang menang dan kalah. And it’s oke to lose sometimes, karena itu berarti meski kita sudah berusaha sebaik mungkin, masih ada peserta lain yang jauh lebih baik dari kita. Tapi akan lebih baik jika kekalahan itu memacu kita untuk belajar lebih baik lagi supaya di perlombaan berikutnya bisa menang atau minimal mengalahkan rekor pribadi kita.

    Sepertinya sebelum saya mengajarkan nilai-nilai itu ke Cinta, saya harus menanamkan ke diri sendiri bahwa hasil akhir bukanlah segalanya. Menikmati sebuah perjalanan, menghayati perjuangan dan usaha yang kita lakukan, dan mendapatkan pelajaran dari semua itu lebih penting dari apapun. Sehingga ketika akhirnya memenangkan sesuatu, kepuasan dan kebanggaannya akan berlipat ganda.

    -foto-foto adalah koleksi pribadi-

  • Life as Mom, Parenting

    The Urban Mama: Berbagi Dalam Perbedaan

    PhotobucketSebagai keluarga yang menjalani Long Distance Marriage, tugas mengasuh anak otomatis sebagian besar menjadi tanggung jawab saya. Meski dalam mengambil keputusan penting selalu saya diskusikan dengan suami, tapi dalam menentukan pola asuh bisa dibilang saya yang memutuskan. Bukan hal yang mudah tentunya, karena saya belum pernah punya pengalaman mengasuh anak sendiri. Mau tidak mau saya pun belajar otodidak, mulai dari menggali lagi ingatan masa kuliah, buku-buku sampai situs parenting. Beruntung walaupun (tadinya) tinggal serumah dengan orang tua, beliau mendukung penuh apapun yang saya lakukan meski tetap memberikan saran demi kebaikan si kecil.

    Saya kenal The Urban Mama sebenarnya sudah hampir setahun ini, bermula dari kehebohan di timeline Twitter yang ngomongin tentang situs baru ini. Awalnya saya kira sama aja sama beberapa situs parenting yang sudah lebih dulu ada, tapi ternyata The Urban Mama memang berbeda. Salah satu perbedaannya adalah adanya forum tempat para urban mama dan papa berbagi cerita dan ilmu. Sehingga situs ini tidak hanya bersifat satu arah. Bahkan artikel-artikel di situs TUM sendiri banyak diisi oleh para pembaca atau anggota forum.

    Jujur aja pertama kali bergabung di forum TUM ini benar-benar membuat saya terkejut. Meskipun saya juga bergabung dalam sebuah forum gosip dan beberapa forum yang membahas sebuah gadget, untuk ilmu parenting saya banyak mengandalkan beberapa milis yang diikuti oleh peer group saya. Sehingga tuntunan dan dunia yang saya tahu dalam mengasuh anak ya seputar milis tersebut. Apa yang tidak sesuai dengan itu saya anggap aneh. Sampai suatu ketika saya sendiri merasa inferior berada di lingkungan tersebut karena tidak bisa sehebat para ibu yang lain.

    Banyak kekurangan saya dalam membesarkan si semata wayang. Hal ini seringkali membuat saya merasa bersalah karena tidak bisa memberikan Cinta kondisi yang ideal atau merasa “kalah” dari ibu-ibu lain. Sampai ketika sedang browsing, saya menemukan salah satu topik di TUM yang membahas tentang “mistake we made“, dari situ saya sadar kalau saya nggak sendirian. Banyak juga para ibu yang kalau bisa mengulang waktu akan berusaha lebih baik dalam memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Everybody made mistake but it’s oke coz we’re human. And it’s fine not to be a perfect mom nor a super mom. Saya, suami dan Cinta adalah tiga individu yang sedang belajar menjalani peran kami masing-masing sebagai istri dan ibu, suami dan ayah dan anak. Inilah sekolah kami yang sesungguhnya dengan mata pelajaran seumur hidup sebagai orang tua. Mungkin kami tidak akan pernah dapat nilai 100 untuk pelajaran ini tapi yang penting selalu berusaha untuk menjadi pribadi dan orang tua yang lebih baik.

    Saat ini saya dan Cinta sedang belajar untuk hidup mandiri, jauh dari nenek dan kakeknya juga ayahnya. Selain itu kami masih berjuang dengan toilet training di usia Cinta yang hampir 3,5 tahun. Hah! Yang bener aja! Juga berusaha mengenalkan makanan lain terutama sayur kepada bocah kesayangan saya dan berdamai dengan GTM. Berhubung Cinta sudah masuk usia pra sekolah, saya dan dia juga mulai belajar tentang metode pendidikan yang paling cocok untuk diterapkan di rumah atau memilih sekolah yang bagus. Belum lagi beradaptasi dengan sekolah baru di lingkungan baru. Meski belum sepenuhnya berhasil dan masih ups and downs, but I always try not to push her or myself.

    PR saya sebagai orang tua masih banyak sekali. Dan dari The Urban Mama, meskipun hanya sebagai silent reader karena jarang posting di forum, saya banyak dapat ilmu yang bisa saya serap dan terapkan apa yang saya rasa cocok untuk Cinta. Tapi yang terpenting adalah di TUM, saya belajar untuk menerima kekurangan saya sebagai ibu, berusaha menerapkan pola asuh yang sesuai dengan karakter saya dan Cinta tanpa takut akan dihakimi karena berbeda. Sebaliknya saya juga berusaha untuk tidak menganggap orang tua lain yang memiliki pola asuh berbeda dengan kami, sebagai sesuatu yang aneh. Because there is always a different story in every parenting style. Selamat ulang tahun pertama The Urban Mama, terima kasih telah menjadi inspirasi bagi saya sekaligus teman yang bisa diandalkan dalam mengasuh anak.

  • Life as Mom, Parenting

    Anakku Guruku

    family Baca postingan bundanya Padma di blog rame-rame kami CeritaBundas, benar-benar mengingatkan saya akan apa yang saya dan Cinta alami selama hampir 3,5 tahun usianya. Mungkin waktu hamil Cinta saya hanya membayangkan yang indah soal punya anak. Lupa bahwa mengasuh anak itu bukan cuma soal senyuman yang menggemaskan. Maka, di hari pertama bayi mungil itu tiba di rumah setelah sempat di fototerapi selama 2 hari karena bilirubin yang rendah, saya pun terkaget-kaget. Baby blues bahkan bisa dibilang postpartum depression, ASI yang cuma keluar sedikit sementara “tekanan” untuk bisa memberi ASIX berbenturan dengan desakan untuk memberi sufor, colic adalah sedikit dari hal-hal yang sering bikin saya terduduk lemas dan ikut menangis bersama Cinta.

    Semakin besar, tantangannya semakin banyak. Ya, saya memang tipe orang yang hidup di masa sekarang. Tidak mempersiapkan diri untuk apa-apa yang kiranya akan terjadi saat Cinta bertambah usia. Maka ketika berhadapan dengan masa-masa batita itu mulai punya keinginan sendiri, lagi-lagi saya terkejut. Padahal ilmu psikologi perkembangan anak sudah saya pelajari saat kuliah. Entah kenapa saat mengasuh anak sendiri, semua ilmu itu lenyap begitu saja.

    Saya adalah orang yang keras, selalu berusaha mendapatkan apa yang saya inginkan dan mengatur orang. Ternyata bocah kecil kesayangan saya pun mewarisi sifat itu. Yup, sifat keras itu memang genetik, diturunkan langsung dari generasi ke generasi keluarga besar saya. Maka terjadilah adu ego dan emosi, dia berontak, saya keras. Dia mempertahankan keinginannya, saya tidak kalah keras kepala. Biasanya berakhir dengan (lagi-lagi) tangisan dan pelukan.

    Sampai beberapa bulan belakangan ini, entah mungkin karena sudah usai masa tantrumnya atau pola asuh yang saya terapkan sudah mulai menunjukkan hasil, sikap Cinta mulai melunak. Dia sudah jarang ngamuk karena keinginannya tidak terpenuhi, bisa menerima saat keadaan tidak seperti yang dia inginkan. Bahkan saat saya mulai marah karena dia tidak menuruti perkataan saya, Cinta akan bilang, “Ma, senyum aja Ma, jangan marah.”

    Seringkali saya berpikir, anak 3,5 tahun ini sudah belajar mengendalikan diri dan emosinya di usia sangat muda. Kenapa saya yang 27 tahun lebih tua dari dia, tidak bisa lebih baik dari itu. Bersyukurnya saya, dikaruniai anak yang mengajarkan saya banyak hal. Memang jadi ibu itu pelajaran seumur hidup. Bukan cuma belajar mengurus anak, tapi juga belajar menjadi pribadi yang lebih baik.

  • Daily Stories

    Rapor Pertamanya Cinta

    Sabtu tanggal 30 Oktober yang lalu, saya dapat undangan untuk menghadiri pembagian rapor dan parent-teacher interview di sekolah Cinta. Agak kelabakan juga hari itu karena sudah ada 2 acara yang rencananya saya hadiri dan dua-duanya terletak di Jakarta. Supaya bisa dateng ke semua acara itu on time, jam 7.30 pas, saya sudah ada di sekolah, nunggu sebentar sampai akhirnya tiba giliran saya bercakap-cakap dengan gurunya Cinta.

    Sebenarnya setiap mengantar dan menjemput Cinta sekolah, saya selalu menyempatkan diri untuk berkomunikasi dengan para Bunda mengenai aktivitas Cinta hari itu. Jadi apa yang kami bicarakan Sabtu kemarin cuma kesimpulan atas perkembangan Cinta selama 3 bulan terakhir. Bunda Lia bilang Cinta bisa berbaur dengan mudah ke dalam lingkungan teman-teman sekolahnya yang sudah lebih dulu dekat sejak di Kelompok Bermain Kecil, sampai mereka: Aca, Chika, Cinta, dan si kembar Zarra Zeeva dijuluki geng Rumpi sama bunda-bundanya saking kemana-mana berlima. Cinta juga bisa main bareng temen-temen cowoknya, malah sebelum dekat dengan cewek-cewek itu dia lebih dulu sering main bareng Jethro, Ilya, Falah dan Dzaky. Syukurlah, senang sekali dengar Cinta mudah bergaul, nggak seperti emaknya 🙂

    Memang sejak sekolah saya amati banyak sekali perubahannya Cinta, dia jadi lebih aktif, berani, kritis dan jarang tantrum di rumah. Seringkali sambil main di rumah atau mewarnai, dia melafalkan surat Wal Ashri yang biasa dibaca setiap mau pulang sekolah atau menyanyikan lagu-lagu yang diajarkan di sekolah. Padahal para bunda sering cerita kalau Cinta lagi nggak mood dia sering nggak mau ngikutin kegiatan di kelas, malah ngajakin temen-temennya main yang lain. Hal itu juga saya sampaikan ke guru-gurunya, bagaimana saya khawatir melihat Cinta yang sering kurang fokus dalam mengerjakan sesuatu. Kata gurunya sih wajar, anak seusia Cinta memang ada yang masih belum bisa fokus terlalu lama. Bisa konsentrasi penuh 5 menit aja sudah bagus banget. Makanya kegiatan di kelompok bermain lebih ditekankan pada Bermain Sambil Belajar jadi anak nggak jenuh dan tetap tertarik untuk mengikuti kegiatan.

    Sayang karena harus buru-buru ke tempat lain untuk ikut seminar Menyiapkan Anak Tangguh di Era Digital di Kemang dan masih banyak wali murid yang antri nggak bisa berlama-lama ngobrol sama Bunda-Bunda. Nah, sekarang saya bingung mengisi catatan orang tua yang ada di rapornya Cinta. Enaknya saya tulis apa ya?

  • Life as Mom, Parenting

    Kiddos 2.0: Menyiapkan Anak Tangguh di Era Digital

    seminarSekitar 5 tahun yang lalu, saya sempat terkejut mendengar cerita anak-anak kelas 6 SD swasta ternama di Surabaya sudah diharuskan membawa laptop sendiri untuk pelajaran komputer. Padahal waktu itu harga laptop termurah masih hampir 3x lipat gaji saya sebagai pegawai di sebuah bank swasta. Masih belum habis rasa penasaran mengapa sekolah itu meminta muridnya membawa laptop padahal mereka punya laboratorium komputer, saya kembali terkagum-kagum melihat anak-anak SD sudah membawa telepon genggam dengan fasilitas lengkap ke sekolah. Makin geleng-geleng kepala ketika mengetahui bahwa tidak sedikit anak usia 10-12 tahun itu sudah dibekali Blackberry  dan anak SMP diberi iPad yang saya mimpi punya aja nggak berani oleh orangtuanya.

    Ya, saat ini kita memang hidup di era digital, di mana banyak sekali gadget atau perangkat teknologi yang bisa mempermudah kegiatan kita sehari-hari dan akses menuju sumber informasi. Apalagi sekarang perangkat tersebut bisa didapatkan dengan harga yang tidak terlalu mahal. Sebut saja, telepon genggam, play station, laptop, televisi, vcd yang hampir ada di setiap rumah kelas menengah. Bahkan mungkin tidak sedikit yang masing-masing penghuni rumah memiliki ke-5 perangkat tersebut di kamarnya. Sayangnya, penggunaan media hiburan dan informasi ini seringkali tidak dibarengi dengan kecerdasan dan pengawasan dari orang dewasa. Hal inilah yang membuat saya mengikuti seminar “Menyiapkan Anak Tangguh di Era Digital” hari Sabtu, 30 Oktober 2010 yang lalu di Kemang Village.

    Seperti yang saya utarakan di atas, anak SD sudah dikasih blackberry, telepon genggam canggih, laptop dengan akses internet tak terbatas merupakan hal yang umum kita jumpai saat ini. Padahal, Ibu Elly Risman mengingatkan bahwa banyak orang tua yang tidak awas akan banyaknya ancaman pornografi yang bisa diakses anak dari perangkat-perangkat tersebut. Bahkan games seperti The Sims atau film kartun macam Naruto pun mengandung konten pornografi dan kekerasan yang tidak pantas dimainkan atau ditonton oleh anak tapi tetap kita biarkan mereka menonton dan memainkannya. Padahal menurut data yang dihimpun oleh Kelompok Peduli Anak dan Buah Hati, pornografi bisa merusak 5 bagian otak anak, dan selama ini kita mengira bahwa narkoba lah ancaman terbesar bagi generasi muda.

    Nggak ada salahnya kok memberikan perangkat canggih kepada anak selama kita yakin bahwa bagian prefrontal cortex yang berfungsi sebagai direkturnya otak sudah benar-benar matang. Karena di bagian otak inilah tempat dibuatnya moral dan nilai-nilai. Masih menurut ibu Elly, untuk mematangkan direktur ini, kita sebagai orang tua harus mengasuh anak dengan benar, yaitu dengan komunikasi yang baik, hangat dan mengutamakan perasaan. Selama ini mungkin banyak orang tua yang cuma peduli apakah anak sudah mengerjakan PR atau belum, ranking berapa di sekolah, kalo belum bikin PR atau ulangan dapat 80 dan bukannya 100 langsung dimarahin. Padahal anak butuh validasi atau penerimaan, penghargaan dan pujian atas usaha yang telah ia lakukan. Mereka perlu kita memahami perasaannya.

    Dan yang terpenting adalah menghadirkan Tuhan dalam diri anak. Sebagai orang tua, kita harus menanamkan pada diri sendiri bahwa anak adalah amanah dan ajaran agama juga moral harus kita lakukan sendiri, bukannya menyerahkan sepenuhnya kepada sekolah berbasis agama, guru agama, tempat pendidikan agama dan sebagainya. Pola pengasuhan Dual Parenting pun sangat diperlukan bagi perkembangan pribadi anak yang matang. Peran Ayah sama pentingnya dengan peran ibu sehingga ayah juga harus hadir secara emosional dan spiritual. Dalam seminarnya, ibu Elly Risman memberi contoh anak laki-laki yang tidak memiliki komunikasi yang baik dengan ayahnya akan cenderung agresif, sedangkan anak perempuan yang tidak mendapatkan penerimaan dari ayah akan mencari kasih sayang dari laki-laki lain di sekitarnya dengan membabi buta.

    Latih anak untuk mampu berpikir kritis dan memiliki konsep diri yang kuat dengan selalu menanyakan pendapat anak tentang sesuatu yang berkaitan dengan dirinya. Penerimaan, cinta kasih sayang dan penghargaan adalah sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh anak. Dan jadilah teladan yang baik karena anak belajar dari contoh bukan ucapan. Pemberian fasilitas kepada anak pun harus jelas tujuannya, jangan cuma karena “semua temennya juga pake” atau “biar gampang hubungin anak”. Capai kesepakatan dengan anak mengenai aturan penggunaannya, dan jelaskan dampak positif dan negatif gadget tersebut. Biarkan anak berpikir, memilih dan mengambil keputusan mengenai perangkat tersebut.

    Nggak mudah jadi orang tua di era digital ini, banyak sekali ancaman dan tantangannya. Nggak sekedar sekolah mahal tapi juga pergaulan yang semakin menggila. Anak sekarang jauh lebih pintar dari orang tuanya tapi kita sebagai orang tua juga harus lebih kreatif dalam memahami anak. Selamat menjadi orang tua 2.0 yang cerdas dan tanggap 🙂

  • Parenting

    (Bukan tentang) Kak Ros dan Opah

    upin ipinSiapa yang tak kenal dengan 2 tokoh di samping? Ya, kak Ros dan Opah adalah kakak dan nenek dari budak budak badung nan comel Upin dan Ipin. Seperti yang kita tahu, Upin dan Ipin adalah anak yatim piatu yang tinggal bersama kakak perempuannya Ros dan neneknya yang biasa mereka panggil Opah. Karakter Ros dan Opah dalam mengasuh Upin Ipin ini, mengingatkan saya akan karakter khas seorang ibu dan nenek dalam pengasuhan seorang anak. Ros, meskipun sebenarnya adalah kakak dari Upin Ipin tapi seakan mewakili seorang ibu muda yang galak dan tegas kepada anak-anaknya. Sedangkan Opah, seperti lazimnya seorang nenek, suka memberi petuah, sabar daaaaaann kadang memanjakan cucu-cucunya. Sikap Opah yang seperti itu kadang membuat kak Ros gemas karena pada akhirnya dua bocah itu lebih nurut kepada Opah yang memanjakan mereka daripada Ros yang sering melarang ini dan itu.

    Familiar kah dengan situasi seperti itu? Saya sih akrab banget huehehehe. Dan rasanya ini masalah klasik yang dihadapi setiap orangtua yang ingin mendidik dan mengasuh anaknya sesuai dengan idealisme masing-masing namun seringkali berbenturan dengan kasih sayang nenek-kakek yang kerap memanjakan. Sayangnya, niat baik para nenek dan kakek membuat orangtua berada pada posisi yang serba salah, malah nggak jarang bikin anak jadi bingung karena sama papa mama nggak boleh kok sama opa oma boleh. Kondisi tersebut membuat anak yang pintar akan berstrategi, kalau pengen apa-apa yang dia tahu bakal dilarang sama ayah ibu, maka larilah dia ke eyang-eyangnya karena tahu bakal dikabulkan. Efek negatifnya, lama lama bisa membuat anak meremehkan peraturan yang dibuat orangtuanya.

    Nggak cuma apa yang boleh dan apa yang enggak, cara menghadapi anak yang tantrum karena keinginannya tidak terpenuhi pun juga sering berbeda. Kita, karena sering nonton Super Nanny, Nanny 911, serta ikut seminar-seminar dan membaca buku-buku parenting mungkin merasa bahwa timeout adalah cara efektif untuk meredakan tantrum dan kemudian memberi pengertian kenapa kita tidak memenuhi keinginannya. Sementara opa dan oma yang tidak tega melihat cucu kesayangannya menangis biasanya akan memberi apa yang mereka inginkan dengan alasan, “kasian lihat cucuku nangis terus.”

    Beberapa bulan yang lalu, saya pernah ngetwit soal ini dan ditanggapi oleh Ayah Air, menurut beliau sebaiknya kita sebagai orangtua bilang secara asertif kepada yang membela anak saat kita sedang menegakkan peraturan atau disiplin untuk membiarkan kita pegang kendali. Awalnya memang susah, tapi harus dicoba. Langkah awalnya, begitu ada yang belain, kasih isyarat tangan untuk stop dan tatap matanya, lalu bilang “ntar ya kita bicara.” Setelah kejadian dan anak sudah tenang ajak yang ngebelain untuk ngomong, bicarakan dengan tegas, tenang dan apresiatif. Nah, bicara ini yang mungkin agak sulit ya, apalagi jika yang melakukan adalah keluarga pasangan. Solusinya ya, ayah dan ibu harus satu suara sehingga kita bisa minta pasangan yang bicara kepada orangtua atau saudara-saudaranya untuk nggak ngebelain anak.

    Nggak gampang, apalagi kaya saya nih, kalo ada yang ngebelain Cinta saat saya melarang atau memberi timeout biasanya malah tambah kesal karena merasa otoritas sebagai ibu dilanggar dan malah melampiaskan ke Cinta alias jadi marah marah ke anaknya. Salah banget kan itu. Akhirnya belakangan kalau Cinta tantrum dan muncul tanda-tanda ada yang mau belain, cepat-cepat saya bawa masuk kamar dan tidak membiarkan siapapun masuk. Saya peluk anaknya, kadang kalau dia lagi super kesel dan nggak mau dipeluk saya duduk aja di sebelahnya dan membiarkan dia menangis sampai selesai. Setelah puas, baru saya peluk sampai benar-benar berhenti nangisnya. Kemudian saya terangkan baik-baik kenapa itu nggak boleh, kenapa saya melarang dia melakukan sesuatu, kenapa saya me-timeout dia dan sebagainya. Hasilnya, alhamdulillah Cinta juga sudah mulai berkurang tantrumnya, kalaupun marah cuma sebentar dan lama-lama mengerti. Saya pun jadi lebih mudah mengontrol emosi.

    Lalu bagaimana dengan kak Ros dan Opah? Well, berhubung Upin Ipin hanyalah serial kartun saya cuma berharap semoga di episode-episode selanjutnya, kak Ros bisa lebih berdaya dalam menghadapi Opah yang memanjakan adik-adiknya ya. Karena sayang bukan berarti selalu menuruti atau memberikan semua kemauan anak atau membiarkan anak melanggar peraturan. Justru disiplin yang diterapkan dengan hati dan kasih sayang yang akan mendidik anak menjadi pribadi lebih baik.