Browsing Category:

Life as Mom

  • Family Health

    Mitos-Mitos Yang Menghambat IMD dan Faktanya

    Beberapa waktu lalu, saya dapat leaflet ini dari bidan tempat saya periksa kehamilan di Suri Seri Begawan Hospital, Brunei. Isinya bagus, tentang mitos-mitos yang menghambat inisiasi menyusu dini atau IMD secara normal. Tadinya sih mau dishare via twitter tapi setelah bikin draftnya lha kok jadinya buanyak banget. Jadi mending ditulis di sini aja deh, biar sekalian ada filenya juga, siapa tahu besok-besok perlu lagi.

    Leaflet Mistaken Beliefs Barriers To Normal Breastfeeding Initiation ini dikeluarkan oleh Kementerian Kesihatan Negara Brunei Darussalam dalam menyambut World Breastfeeding Week 2007, udah lama banget ya. Jadi kalo ada yang lebih update mohon koreksinya yah.

    Mitos-Mitos yang Menghambat IMD
    (Mistaken Beliefs Barriers to Normal Breastfeeding Initiation)

    1. Bayi akan kedinginan selama proses IMD
      Fakta:
      Bayi berada pada suhu yang aman saat terjadi skin-to-skin contact dengan ibu. Bahkan yang menakjubkan, suhu di daerah payudara ibu meningkat 0,5ºC dalam waktu 2 menit begitu bayi diletakkan di dada ibu.
    2. Kolostrum tidak baik, bahkan berbahaya bagi bayi.
      Fakta:
      Kolostrum sangat penting bagi bayi agar dapat tumbuh dan berkembang secara sehat:
      * Berfungsi sebagai imunisasi pertama yang melindungi bayi dari infeksi saluran cerna dan infeksi lain
      * Berfungsi sebagai pencahar (purgative) untuk mempersering pembuangan kotoran yang berwarna kehitaman untuk mengurangi sakit kuning (jaundice) pada bayi.
    3. Bayi tidak akan mendapatkan cukup makanan atau minuman bila hanya diberi kolostrum dan ASI
      Fakta:
      Kolostrum cukup untuk makanan pertama bayi. Adalah hal yang normal bila bayi baru lahir kehilangan 3-6% dari berat badannya saat lahir. Bayi dilahirkan dengan cadangan air dan gula dalam tubuh yang digunakan di hari-hari pertamanya.
    4. Bayi baru lahir membutuhkan teh khusus atau cairan lain sebelum diberi ASI.
      Fakta:
      Cairan prelaktal apapun (yang diberikan sebelum proses menyusui dimulai) dapat meningkatkan resiko infeksi pada bayi, mengurangi keberhasilan pemberian ASI eksklusif dan memperpendek waktu menyusui.
    5. Ibu terlalu lelah setelah persalinan dan melahirkan untuk dapat segera menyusui bayinya.
      Fakta:
      Sentuhan kulit secara langsung antara bayi dan ibu serta proses IMD merangsang pengeluaran hormon oksitosin yang membuat ibu merasa tenang setelah bersalin.
    6. Terlalu banyak hal yang harus dikerjakan dan waktu yang lama untuk membantu ibu melakukan IMD.
      Fakta:
      Ketika bayi berada di dada ibunya, petugas penolong persalinan dalam melanjutkan penilaian rutin terhadap ibu dan bayinya serta pekerjaan lain. Ini akan memberikan kesempatan pada bayi untuk mencari jalan sendiri ke payudara ibunya.
    7. Ibu membutuhkan pemberian obat untuk mengurangi rasa sakit setelah persalinan.
      Fakta: Kebanyakan ibu tidak memerlukannya. Terapi pengganti dan pendamping persalinan yang suportif dapat membantu ibu menahan rasa sakit. Obat penahan sakit atau bius hanya akan menyebabkan bayi mengantuk dan memperlambat inisiasi menyusu sampai beberapa jam atau hari.

    Nah, kalau sudah tahu faktanya jadi nggak ragu lagi kan untuk meminta dokter atau bidan memberikan kita kesempatan melakukan inisiasi menyusu dini segera setelah bayi dilahirkan.

    Dulu saat melahirkan Cinta tahun 2007, saya nggak dapat IMD padahal selama dokter dan bidan mengeluarkan placenta, menjahit perineum dan melakukan pemeriksaan, bayi diberikan ke saya meski dalam keadaan sudah terbungkus selimut. Payahnya saking bingung dan excited menimang bayi yang baru lahir itu, saya cuma bisa meluk sambil ngeliatin takjub si bayi.

    Selain itu selama di rumah sakit juga nggak bisa ngasih ASI Eksklusif karena saya nggak minta! Bego ya. Padahal sudah banyak belajar melalui milis ASI. Duh, nyesel banget tiap inget masa-masa itu. Makanya, kalau dikasih kesempatan melahirkan lagi nanti, sebisa mungkin pengen bisa IMD  yang seperti di video bikinan UNICEF Indonesia ini:

    Kebetulan RS di Brunei sini, khususnya Suri Seri Begawan Hospital sangat peduli terhadap pemberian ASI Eksklusif, sehingga mereka mendorong ibu yang melahirkan di sana untuk menjalani IMD dan rawat gabung (rooming in) dengan bayi.

    Tapi kalau ternyata berubah pikiran untuk melahirkan di Indonesia, sepertinya harus cari RS atau rumah bersalin di daerah Sidoarjo atau Surabaya Selatan yang mau melakukan IMD dan rawat gabung. Ada rekomendasi kah, moms/dads? Kalau moms sendiri pengalaman IMDnya dulu gimana? Cerita yuk 🙂

  • Relationship

    Karena Cinta, Katanya

    Gara-gara ngikutin kasus kisruhnya Limbad, bininya dan bini sirinya jadi ngeh kalau banyak orang yang menganggap perempuan-perempuan yang mau jadi pacar/selingkuhan/istri simpanan/istri kedua ketiga kesepuluh itu semata karena uang. Hmmm, mungkin karena yang terekspos di media massa kasus laki-lakinya pada tajir seperti Bambang Tri dan Raul Lemos ya.

    Padahal, 5 dari 6 perempuan yang saya kenal dan rela jadi madu itu alasannya pure karena cinta. Ciyuuuus? Cungguh? Miapah? plak Cuma yah kebetulan laki-laki yang punya perempuan lain ini kan kebanyakan sudah mapan secara materi dan biasanya orang yang lagi pedekate atau jatuh cinta akan rela ngasih atau beliin apa aja untuk kekasihnya. Dan yang dikasih ya seneng-seneng aja dong dapet gratisan, dari orang yang dia cinta lagi. Duh rejeki banget. Sebodo amat itu laki sudah punya istri, toh istrinya galak, nggak bisa bikin dia nyaman di rumah, lebih mentingin karir daripada suami, lebih sibuk ngurusin anak daripada suami, nggak enak dilihat alias kucel karena kalo di rumah dasteran terus nggak mau dandan, endebre endebre endebre… Kasian kan para lelaki ini, mereka korban kezaliman istri yang pantas dikasihi dan diberi cinta yang lebih baik. Gitu katanya.

    Sementara itu saat ketahuan selingkuh di depan istrinya mereka akan bilang,

    “Cewek itu kok yang ngejar-ngejar aku. Aku udah cuek, nggak nanggapin dia tapi terus gangguin. Maaf ya, aku khilaf akhirnya karena dipepet terus. Aku nyesel. Kamu masih mau kan terima aku? (tapi ternyata di belakang tetap selingkuh)”

    Ah, kasian para suami ini, jahat banget cewek-cewek jaman sekarang, hobi kok ngejar-ngejar suami orang. Nggak bisa cari yang single, apa? Coba kalo dia yang punya suami trus digituin orang, rela nggak? lalu muncul adegan labrak melabrak, cat fight, gerilya hape dan dompet suami, hack akun YM, FB, twitter suami, lakuin teror supaya si pengganggu ini nggak berani dekat-dekat lagi

    Berhasil? Belum tentu. Kata seorang teman,

    “Nggak gitu caranya kalo pengen aku balik lagi ke dia. Mestinya usaha dong untuk bisa dapetin hatiku lagi. Kalau main labrak gitu aku malah akan lebih condong belain pacarku. Kan kasian dia nggak salah kok digituin sama istriku. Aku juga males pulang ke rumah karena istriku pasti bakal marah-marah terus.”

    jorokin si teman ke jurang

    But sorry to say teman-temanku sesama istri, based on (other’s) experiences, this is true. Di mata orang yang lagi jatuh cinta, si selingkuhan ini nggak akan pernah ada salahnya. She’s to good to be true, soulmate yang telat ketemunya, seseorang yang bisa mengerti dan mencintai dia lebih baik dari istrinya. Semakin diserang, dua-duanya semakin mereka lengket dan saling melindungi, sementara jarak antara kita dan suami akan semakin jauhpukpuk ibu Atha Lemos dan mbak Susi Limbad.

    Kasus lain, suami yang lebih “gentle” akan bilang ke istrinya,

    “Aku ini punya cinta yang terlalu besar untuk satu orang, apa salahnya kalau aku bagi. Selama bisa adil kan?”

    Tapi ngomongnya setelah ketahuan selingkuh dan terjadi adegan ala ibu Halimah nabrakin mobil ke pagar rumah Mayangsari. Ini sama banget kaya twitnya Shahnaz Haque yang saya baca pagi tadi,

    Hati lelaki bagaikan hotel, banyak kamarnya untuk memasukan setiap wanita. Hati wanita hanya ada 1 kamar untuk 1 lelaki.

    Yup, memang nggak bisa dipungkiri. Hati laki-laki terlalu luas, cintanya terlalu banyak sehingga kemungkinan untuk bisa membagi itu besar sekali, meski kadarnya belum tentu sama. Sedangkan perempuan, cintanya hanya cukup untuk 1 lelaki yang akan bertambah dengan prosentase sama untuk masing-masing anaknya saat mereka lahir. Kalaupun suatu saat perempuan selingkuh dari suaminya, kebanyakan akan memilih untuk bercerai karena nggak bisa mencintai 2 pria dalam waktu bersamaan.

    Lalu kenapa banyak perempuan yang masih mau menjalin hubungan sama pria beristri, bahkan sampai berharap dinikahi? Well, menurut pengamatan saya sih karena pria-pria ini nampak lebih matang dan dewasa. Mereka juga lebih ngerti cara memperlakukan perempuan dan terbukti berkualitas, tuh ada perempuan yang sudah mau jadi istrinya. Lagipula kesempatan mendapatkan lelaki beristri pun konon lebih mudah karena ia hanya bersaing dengan 1 orang, ya istrinya itu. Sedangkan untuk dapetin pria lajang selain harus bersaing dengan sesama perempuan juga laki-laki lain.

    Saya nulis ini bukan karena mau ngebelain salah satu atau dua pihak sih, cuma membeberkan fakta kalau perselingkuhan terjadi bukan melulu karena uang. Itu cuma kebetulan kok. Wong tukang becak langganan saya di Indonesia aja bisa punya 2 istri.

    Kata para ahli, perselingkuhan bisa terjadi karena kesalahan 3 pihak, suami, istri dan orang ketiga. Penyebabnya permasalahan dalam rumah tangga yang nggak selesai karena komunikasi yang nggak baik antara suami istri atau ya sederhana aja, cinta yang datang pada waktu yang salah.

    Cuma sejujurnya nih, kalau emang karena cinta, saya lebih suka kalau para pria ini gentle mengakui di depan pasangan resminya sebelum mereka tahu dari sumber yang lain. Dan harus siap dengan segala resikonya, termasuk si istri minta cerai atau justru keukeuh mempertahankan pernikahan mereka dan meminta dia berpisah dengan kekasihnya. Semua cuma soal pilihan kok, mana yang lebih buruk di antara 2 hal yang nggak menyenangkan.

    Kalau memang benar-benar jantan dan dewasa, pasti berani kecewa karena harus menjalani sesuatu yang nggak enak. Hanya anak kecil yang nggak berani kecewa dan memilih sembunyi dalam kebohongan entah sampai kapan. Lagipula kalau memang cinta, masa iya tega bikin orang lain terluka demi kebahagiaannya sendiri?

  • Babbles, Life Hacks

    Think Twice Before You Tweet

    Belakangan ini, teman saya suhu Yohanes Hans lagi rajin ngetwit setelah sekian lama menghilang dari linimasa. Dan topiknya tentang awareness di sosial media, asli bikin saya merasa tertampar tamparbalik.

    Intinya sih, beliau mengingatkan kalau di era digital begini orang yang mau berbuat jahat bisa dengan mudah mengumpulkan informasi pribadi dari hal-hal yang kita bagi di internet, terutama twitter. Seringkali tanpa sadar kita menuliskan hal-hal yang bisa digunakan orang untuk mengumpulkan data, menganalisa dan membuat profiling tentang kita (langsung berasa nonton Criminal Minds). Huaaaa masa sih?

    Serius lho, pernah nggak sih kita ngetwit:

    Selamat ulang tahun mamaku tersayang, ibu (nama lengkap) yang ke-65.

    Tahu nggak kalau nama ibu kandung itu adalah informasi penting yang digunakan oleh bank dan kartu kredit untuk verifikasi data. Once people know about our mother’s name; bank yang kita gunakan dari status seperti:

    Lagi antri nih di Bank Capek Antri, kalo nggak perlu buat online shop, males deh punya tabungan di sini

    alamat rumah:

    Bu ibu, jangan lupa ya ntar sore dateng arisan ke rumah gue. Alamatnya: Jalan xxxxxx

    dan tanggal lahir kita:

    alhamdulillah, udah tambah lagi umur gue hari ini. 25 is great, right?

    bisa mereka jadikan alat untuk bobol rekening kita di bank. Serem yeuuuh.

    Menurut suhu Yo, twit tentang kondisi kita di suatu keadaan tertentu juga bisa digunakan orang untuk merancang situasi yang bisa bikin kita lengah, dia contohin beberapa status:

    Duh, naik sepeda malem-malem keluar kompleks gini bikin bingung dan takut.

    lagi di taksi, tidur dulu ah

    tiap pakai high heels selalu pusing dan mau pingsan

    tiap hisap asap rokok, pikiran selalu blank.

    Dengan ngumpulin twit seperti ini, orang tinggal perlu cari konsistensi dari perilaku kita terhadap kondisi itu untuk menjadikan kita korban kejahatannya.

    Yang saya jadikan highlight dari beberapa twitnya om suhu (sebenarnya banyak contoh-contoh lain, silakan mampir di akun twitternya @yohanes_hans yah) adalah betapa seringnya kita eh saya ding, berbagi data tentang keluarga, terutama anak. Siapa namanya, berapa umurnya, di mana sekolahnya plus check in tiap jemput anak di foursquare, siapa nama gurunya, kelas berapa sampai berapa kali kita terlambat jemput mereka di sekolah. Ternyata itu bahaya banget sodara-sodara. Kepikiran nggak dengan data-data itu yang bisa dilacak dengan mudah di twitter, foursquare, google maps, orang yang emang niat jahat bisa gampang menculik anak di sekolah.

    Lantas saya jadi mikir sendiri, kalau begitu sama dong dengan status-status:

    si Ayah nih nggak pulang-pulang dari kantor, udah ngantuk banget nungguinnya.

    paling nggak suka kalau suami dinas luar kaya gini. pusing ngurusin rumah sendirian, takut juga kalau malam.

    duh, ayang nih, selalu terlambat jemput kantornya. Jadi bengong bego deh di tempat abang siomay. Mana sendirian lagi.

    yang memberikan informasi bahwa di hari-hari tertentu kita sedang sendiri dan merasa tidak nyaman dalam kondisi tersebut. Tinggal tunggu informasi selanjutnya dan konsistensinya aja, misal si ayang telat jemputnya hari apa aja sih, suami dinas luar berapa minggu sekali dan berapa hari, juga si ayah telat pulang hari apa aja biasanya. Jadi deh kita calon korban yang empuk. Jeng jeeeeng….

    Memang sih, kita bebas mau nulis apapun di sosial media tapi juga harus tahu resiko yang dihadapi itu apa aja. Kalau kata suhu Yo, “Disarankan untuk tidak menulis alamat rumah kita, nomor mobil kita dan kebiasaan buruk kita yang berhubungan dengan semua hal itu.” Nggak ada ruginya kok lebih berhati-hati saat eksis di dunia maya sekarang, apalagi om suhu bilang, “Belakangan saya punya firasat kuat kalo sindikat perdagangan wanita & anak di Indonesia udah semakin paham memakai info di dunia maya.”

    Oya, satu lagi pesannya, “Yang juga penting adalah men-setting agar foto foto bersifat personal di akun Facebook kita tidak ‘open for public‘ yg artinya bisa dilihat oleh semua orang yg tidak masuk dalam friend list kita. Foto foto yg disetting ‘open for public‘ hanya disarankan utk item atau produk dagangan yg diperjualbelikan. Kita bisa melihat kesalahan semacam ini dilakukan oleh para remaja putri ABG sekarang yg settingan foto di akun Facebook mereka bisa dilihat oleh semua orang asing yang bukan teman mereka. Untuk jaman sekarang hal seperti itu kurang baik karena mengundang hal yang beresiko, yang kita tidak tahu apa yang bisa dimanfaatkan dari foto foto tersebut.”

    Uh well, better safe than sorry kan yah?

  • Family Health

    Combo DPaT & IPV

    Doctors do not yet have drugs to cure diseases caused by viruses. But they can give you shots to prevent some of these diseases.”
    Germs Make Me Sick – by Melvin Berger, Ilustrated by Marylin Hafner.

    Usia 5 tahun adalah waktunya Cinta mendapatkan booster imunisasi DPT, Polio dan MMR. Jauh hari sebelumnya saya sudah memberitahu Cinta tentang hal ini yang selalu mengakibatkan dia histeris karena masih trauma saat imunisasi Typhoid dan Hep. A tahun kemarin. Entah kenapa semakin besar, anak-anak semakin takut disuntik, padahal sampai usia 2 tahun si bocah ini anteng-anteng aja tiap waktunya imunisasi.

    Berdasarkan hasil konsultasi dengan mbak Anna Surti Nina melalui akun twitternya, saya pun mencoba berbicara lagi dengan Cinta. Tepat di hari ulang tahunnya yang ke-5, setelah makan malam saya bilang, “Kak, kan sekarang sudah 5 tahun nih, berarti waktunya untuk…” “Imunisasi ya Ma? dia balik bertanya. “Iya, sudah waktunya untuk imunisasi,” jawab saya. “Oke Ma, sekarang?” Huoooo jawaban yang sama sekali nggak saya duga. “Enggak kak, kita pilih sama-sama yuk tanggalnya, kapan kakak mau imunisasi,” saran saya.

    Akhirnya ditentukanlah tanggal 23 Juni 2012 yang jatuh di hari Sabtu. Beberapa hari sebelumnya saya bertanya-tanya ke mbak Suci, teman sesama warga negara Indonesia yang tinggal di Brunei dan Fey, resepsionis apartemen kami mengenai di mana kami bisa mendapatkan imunisasi untuk anak-anak. Mereka pun menyarankan ke Pusat Kesihatan. Dan kebetulan di dekat apartemen ada Pusat Kesihatan (semacam puskesmas kalau di Indonesia sih) yang bagus.
    Sepulang Cinta sekolah, kami pun ke Pusat Kesihatan Sg. Liang yang sayangnya sedang tutup karena istirahat makan siang. Akhirnya diputuskan untuk kembali lagi sore hari. Saat kembali, ternyata kami belum beruntung karena klinik anak tidak lagi menerima pasien imunisasi di Sabtu sore dan kami diminta kembali di hari Kamis, tanggal 28 Juni 2012.

    Awalnya mereka nggak mau lho memberikan vaksinasi setelah tahu kami bukan penduduk lokal atau permanent resident Brunei. “Sebaiknya imunisasi di Indon sajalah, kan bulan delapan kamu mau pulang toh?” kira-kira begitulah ujar salah satu suster, tentu saja dalam bahasa Melayu. Baiklah kakaaaaak. Tapi suster yang lain sambil memeriksa kartu imunisasi Cinta (yang untungnya selalu saya bawa ke mana-mana sampai lecek) terus bertanya banyak hal, sampai akhirnya memutuskan Cinta bisa dapat imunisasi di sana karena ia bersekolah di Brunei.

    Dibantu satu orang suster senior yang sangat ramah, suster muda yang baik ini mengisikan kartu medis untuk Cinta. Didata lagi imunisasi apa saja yang pernah didapat dari lahir. Lalu menuliskan waktu perjanjian dan tata cara bertemu dokter. Selama itu Cinta merengek-rengek di pelukan papanya karena takut disuntik dan akhirnya tersenyum lega karena batal.

    Sesuai saran mbak Anna, pada tanggal 28 Juni, apapun yang terjadi kami kembali ke Pusat Kesihatan. Setelah ambil nomer antrian, dicek data dan kondisi kesehatan oleh suster, kami pun antri di bagian suntik untuk mendapatkan imunisasi DPaT dan IPV. Cinta yang kali ini cuma pergi sama saya nggak tampak cemas sama sekali. Malah asik main sampai namanya dipanggil. Dipikir-pikir, ini bocah cuma ngalem kalo ada papanya.

    Begitu masuk ruang suntik, bidannya ngecek lagi umurnya Cinta dan memastikan kami ke situ untuk mendapatkan suntikan bagi anak usia 5 tahun sesuai yang ditulis suster di bagian pendaftaran. Setelah siap, saya diminta memangku Cinta yang sudah mulai menangis heboh. Sekian detik kemudian imunisasi pun selesai dan kami dipersilahkan pulang tanpa harus membayar sepeser pun. Hah, lunas sudah hutang imunisasi tahap pertama. Tinggal nanti saat mudik mau melengkapi booster MMR dan Hep. A.

    Oya, tadinya saat membujuk Cinta untuk imunisasi saya menjanjikan Cinta membelikan mainan apa saja yang ia inginkan tapi selalu ditolak. Nah, setelah selesai vaksin, saya kembali bertanya apa yang Cinta inginkan sebagai hadiah karena sudah berani disuntik dan dia bilang cuma mau tidur sambil dipeluk mama sambil baca buku “Germs Make Me Sick” karangan Melvin Berger dan Marylin Hafner terbitan Scholastic favoritnya yang ada adegan anak diimunisasi.

    Jadilah siang itu kami tidur berpelukan, sambil membaca tak lupa saya puji dan ucapkan terima kasih atas kesediaannya melakukan imunisasi. Saya juga bilang, “Insya Allaah setelah ini kakak makin sehat dan kuat, karena imunisasi tadi akan membentuk kekebalan tubuh di badan kakak.” Aamiin…

    Selamat hari Jumat, semua…. Sudahkah imunisasi anak-anak dilengkapi? Yuk cek jadwal imunisasi IDAI 2012 atau jika berencana pindah ke luar negeri cek jadwal imunisasi CDC atau WHO. Jangan lupa selalu bawa kartu medis atau medical record anak ya, minimal kartu imunisasinya. It would come in handy when you visit a doctor or need to catch up their vaccination.

    Jadwal vaksinasi CDC untuk Usia 0 – 6 Tahun (PDF)
    Jadwal vaksinasi CDC untuk Usia 7 – 18 Tahun (PDF)

  • Daily Stories, Life in Brunei, Parenting

    Adaptasi di Sekolah Baru

    Hari Sabtu kemarin, saya dan pak suami menghadiri acara Parents’ Day di sekolahnya Cinta. Yah, semacam pembagian report card tengah semester gitu lah. Aneh juga sih, bagi-bagi raportnya justru setelah liburan sekolah bukan sebelumnya seperti yang biasa di Indonesia. Tapi setelah dipikir-pikir agenda ujian dan libur sekolah kan sudah ditetapkan sama pemerintah dalam kalender nasional Brunei, di mana semua sekolah ya masa ujian dan liburnya barengan, nah padahal belum tentu sekolah itu sudah selesai bikin laporan hasil kegiatan belajar mengajar muridnya. Jadi akhirnya gitu deh, libur dulu baru terima raport sotoy.

    Jujur aja saya agak deg-degan akan penilaian gurunya terhadap Cinta, secara bulan pertama dan kedua kami (Cinta, kami orangtuanya dan gurunya) mengalami masa-masa penyesuaian yang cukup berat.

    Yah nggak heran, banyak sekali hal baru yang harus dihadapi Cinta saat itu. Dari gaya mengajar guru yang jauh berbeda dengan guru-guru sekolah lamanya di Indonesia yang lembut penuh kasih dan telaten. Guru di sini lebih tegas, disiplin dan nggak jarang menggunakan nada tinggi saat menegur anak-anak. Sampai harus belajar berkomunikasi dengan bahasa Melayu, Cina dan Inggris.

    Saking beratnya proses adaptasi itu, Cinta pun berontak. Mulai dari susah bangun pagi, gampang marah dan bersikap agresif di kelas dan di rumah, nilai spelling test yang dapat 20 sampai tantrum setiap mau berangkat sekolah.

    Sampai suatu pagi ketika tantrum di mobil, saya diamkan sambil terus nyetir. Setelah tangisnya reda kami mampir ke toko roti langganan untuk beli bekal dan sambil menunggu dia makan, saya ajak dia ngobrol di mobil.

    Saya bilang, “Kak, Mama tahu kakak lebih suka di rumah karena bisa nonton tivi dan main iPad seharian kan?” yang disambut dengan anggukan dan mulut penuh roti. “Iya, Mama juga suka di rumah main sama Cinta. Tapi, kakak tahu kan kalau kakak ini anak pintar? Mama tahu. Kakak suka belajar, ya kan? Belajar tentang serangga, tubuh manusia, belajar berhitung, menggambar, bikin prakarya. Nah, Mama merasa nggak bisa ngajarin Cinta sendirian. Jadi mama butuh bantuan guru-guru di sekolah yang lebih ngerti untuk anak seumur  Cinta ini sebaiknya belajar apa, supaya kepintarannya kakak bisa berkembang. Mungkin berat ya buat kakak belajar di sekolah, sampai kakak selalu marah-marah. Mama tahu Cinta capek. Tapi kan ada Mama sama Papa yang selalu bantu Cinta kalau ada yang susah. Don’t worry.

    Nggak tahu deh waktu itu Cinta mengerti atau tidak, atau menurut para ahli ilmu parenting itu benar atau tidak tapi jujur aja waktu itu saya sudah nyaris putus asa karena setiap hari menghadapi tantrumnya Cinta. Dan itulah satu-satunya cara yang terpikir. Tak disangka, jawaban Cinta saat itu, “I’m a smart girl ya Ma? Smart girl goes to school , ya? Oke, now let’s go to school.” adalah titik balik dari “pemberontakan”nya.

    Tentu nggak lantas semuanya jadi mudah. Sempat beberapa kali saya konsultasi online ke beberapa psikolog anak termasuk pak Toge Apriliyanto dan mbak Anna Surti Nina via twitter seperti yang saya tulis di sini. Terpikir juga untuk pindah sekolah yang bukan chinese school dengan harapan lebih sesuai dengan kepribadian Cinta. Tapi setelah diskusi panjang dengan suami, kami memutuskan untuk bersabar dulu, saling mendukung dan membantu Cinta melalui proses adaptasinya di Chung Ching Kindergarten.

    Toh, di Brunei pindah sekolah bukan hal yang mudah karena selain sekolah lain jaraknya bisa 30 km dari rumah (yang sekarang aja sudah 20 km) juga harus mengurus student pass di imigrasi yang membutuhkan proses yang lama.

    Akhirnya kami pun berusaha membuat berangkat sekolah menjadi hal yang menyenangkan, seperti memutar lagu-lagunya Sherina saat bangun pagi, mampir di pantai dekat kantor suami tiap pagi sekadar untuk melihat ombak, bunga, rumput dan menghirup udara segar. Atau ke toko-toko yang berbeda tiap pagi untuk  membeli snack atau roti. Kami juga belajar lebih sabar dan memahami kondisi Cinta karena memang cuma itu kuncinya, sabar.

    Lama-lama tantrum pun berkurang, Cinta sudah lebih ceria di sekolah. Bu Guru yang tadinya curhat kalau Cinta (meski bisa tapi) nggak mau mengikuti instruksinya di kelas bilang kalau sekarang sudah jauh membaik. Sudah mampu dan mau bermain sama teman-teman, bahkan tiap pagi datang ke kelas selalu dikerubutin teman-temannya untuk diajak main. “But sometime she’s too playful, so time after time I had to separate her from Avvani or they will disturb the other kids,” said teacher. Cinta juga dipercaya jadi anggota group dance kelasnya untuk acara ultah sekolah Oktober/November nanti, “She’s good at singing, dancing and following the rythim.” kata gurunya di pembagian raport kemarin. Duh, terharu sekali dengernya.

    Sekarang Cinta jadi lebih bersemangat belajar, meski belum bisa membaca tapi keinginannya untuk bisa membaca dan menulis besar sekali. Begitu pula berhitung, semua-mua maunya dihitung. Aaah, alhamdulillaah senang sekali rasanya. Akhirnya kerja keras kami mulai ada hasilnya. Cinta pun memberi kami bonus dengan meraih peringkat ketiga di kelasnya saat pembagian raport kemarin. Semua berkat pertolongan Allaah melalui usaha keras Cinta, kesabaran Teacher Yee membantu Cinta menyesuaikan diri di kelas dan tentu saja ketelatenan pak suami untuk  belajar bahasa Cina bersama Cinta.

    Oya, ada satu hal yang saya suka dari buku raport Cinta. Di halaman belakangnya ada reminder  dari pihak sekolah yang berbunyi seperti ini:

    This report shows the performance of your child in the activities at Chung Ching kindergarten. Evaluation and grading are done carefully, but in some way it mau not be fully valid or accurate. Parents shall not reprimand or punish the children based on the results given in this report as it may affect his/her interest and performance at school.

    Each child is different and special. Your child has his/her own strenghts and weakness and therefore is incomparable with other children. During the Kindergarten years, your child undergoes rapid changes and development. Appreciate and praise your child if his/her skills are appropriate and in place; on the other hand assist and support your child if he/she is manifesting delayed skills. Giving too much pressure to your child to perform according to your high expectation may be sometimes counterproductive and retard his/her development.

    Selamat hari Senin, bagaimana raport anak-anak kemarin? Sudah mengucapkan selamat dan terima kasih atas usaha keras mereka di sekolah kan?

  • Family Health, Recipe

    Sore Throat Remedies

    Beberapa waktu yang lalu saya mengalami sakit tenggorokan yang sakitnya terasa menusuk-nusuk sampai telinga, nggak enak banget. Mau makan susah, nggak makan laper. Ditambah demam bikin badan lemas selama beberapa hari. Saya tahu sakit tenggorokan kebanyakan disebabkan oleh virus sehingga akan sembuh dengan sendirinya tapi rasanya nggak dosa kan ya kalau mencari cara meringankan gejala supaya tetap dapat beraktivitas seperti biasa.

    Setelah browsing dan menemukan serta mencoba beberapa cara seperti kumur-kumur pakai air hangat dan garam, minum air jeruk hangat sampai makan mie instan super pedas dan belum menunjukkan tanda-tanda tenggorokan mulai membaik, akhirnya saya mencoba bertanya kepada teman-teman di twitter. Mereka pun berbaik hati memberikan saya beberapa cara home treatment untuk meringankan sakit tenggorokan. Berikut saya copas twit teman-teman, siapa tahu ada yang membutuhkan:

    @hildayie: strepsils ma air putih anget. Trus tidurnya agak tinggi kpalanya, klo gak pasti guatel dan memicu batuk

    @as3pram: minum anget2 ama ndusel bojo

    @_plukz: makan indomi pedes pake bubuk cabe banyak juga membantu. kasi telor setengah mateng dan suwiran ayam

    @cahyayu: coldizo tablet! Tablet kunyah yg mengandung ekstrak tumbuhan..obgyn di RS sy suka meresepkan bwt bumil

    @yohanes_hans: masalah tenggorokan yg paling enak minum jeruk panas. yg agak ekstrim ngunyah jahe 😀

    @kabarburung: Kumur dg larutan garam dan air hangat ..

    @merkrisnanti: Teh crysanthium Mbak

    @DyahYantie: Biasanya aku minum air rebusan daun pecut kuda,cespleng. FG Troches malah bikin batuk Mbak

    @faroex: 1. minum pke air hangat ex: lemon tea/teh hangat+madu

    @faroex: 2. Kumur2 dg air garam hangat (1/2 sndok teh garam dlarutkan dlm 1 gelas air), kumur2 2-3x shari

    @ndutyke: mie direbus bareng ama tomat dibelah 4 jg enak. Jadinya asem2 seger gt 🙂 enak klo pas lg idung buntu.

    @ndutyke: kalo #sorethroatremedies, coba konsumsi habbatussauda, jeng. Manjur kalo buat aku n suami, so far sih ya..

    Kalau cara kalian gimana?

  • Daily Stories, Family Health, Parenting

    Membujuk Anak untuk Imunisasi

    Semakin besar, Cinta semakin susah diajak imunisasi. Mungkin karena dia tahu disuntik itu sakit dan pernah pengalaman diimunisasi paksa, sehingga tiap diingetin jadwalnya imunisasi selalu histeris dan menolak meski sudah diiming-imingi berbagai macam reward. Nah, bulan ini pas ulang tahunnya ke-5, waktunya dia booster DTP, MMR dan Hep. A tapi masih bingung cara bujuknya. Nanya ke twitternya mbak @AnnaSurtiNina seorang psikolog anak dan keluarga, beliau memberikan saran seperti ini:

    Kalau masih histeris emang susah. Kalau dipaksa, bisa, tapi resikonya akan semakin nolak imunisasi berikut, juga nolak pergi ke dokter karena dokter kemudian diasosiasikan dengan ‘makhluk mengerikan’ / ‘yang bikin susah’. Padahal kita masih sangat perlu dokter kan. Jadi yang paling pas tetap dibujuk, tapi tarik ulur ya. Dalam hal ini, diiming-imingi boleh kok :D. Pakai sistem ‘kalender’, tunjuk tanggal, sepakati di hari H ya tetep pergi apapun yg terjadi. Setelah itu jangan lupa iming-imingnya diberi. Ohya, supaya lebih positif, bisa juga beri pujian ‘wah kamu pasti tambah kuat & sehat sekarang’ atau ‘mama bangga sama kamu’.

    Saran ini sedang saya praktikkan dan tadi malam sudah menemukan kesepakatan tanggal berangkat imunisasinya, yaitu.hari Sabtu 23 Juni 2012 sepulang sekolah. Doakan kami berhasil di hari H ya 😀

  • Parenting

    What We Learn From Our Mom

    Dulu, jaman saya remaja, saya sering menganggap mama saya tuh nggak gaul karena sering menasihati ini itu atau melarang begitu begini. Mama saya juga suka bilang kalau anak-anak generasi saya (dan adik-adik) beda sekali dengan beliau waktu kecil dulu. Selera musik yang aneh, skala prioritas.yang bukan lagi soal pelajaran, dan masih banyak lagi. Semakin dewasa, semakin jauh gap antara saya dan mama sampai akhirnya saya menikah dan punya anak.

    Nggak sedikit pertentangan yang saya alami dengan mama soal merawat bayi, meskipun banyak sekali yang saya pelajari dari beliau, misalnya soal memandikan bayi, cara membedong anak sampai cara menggendong anak. Yang paling seru (menurut saya nih ya) ya soal ASI vs sufor dan pengobatan. Generasi mama saya masih percaya bahwa susu formula adalah asupan terbaik bagi anak, sedangkan saya merasa sebaliknya. Begitu pula dengan pengobatan, setelah belajar dari sebuah milis dan sharing dengan beberapa teman, saya berusaha mengadopsi sistem rational use medicine, sedangkan orang tua saya ya masih beranggapan bahwa bayi sakit wajib hukumnya ke dokter.


    Ternyata nggak cuma saya yang mengalami pertentangan seperti itu dengan orang tua. Banyak lho, mamah mamah muda yang bernasib sama. Bahkan sampai ada yang benar-benar bertengkar dan memusuhi ibunya karena perbedaan pendapat ini. Sedih banget ya. Saya pun dulu sering merasa kesal karena pada pagi hari tiba-tiba Cinta sudah selesai mandi dan diberi susu formula oleh mama dan nenek saya, padahal saya ingin sekali bisa ASI eksklusif. Atau saat batuk pilek baru sehari dua hari sudah disuruh-suruh ke dokter. Tapi, setelah kami bisa berbicara dari hati ke hati, alasan beliau adalah kasihan melihat saya yang lelah karena begadang semalaman mengurus Cinta. Atau nggak tega melihat bayi kecil terus-terusan sakit. Ternyata semua itu beliau lakukan sebagai bentuk sayangnya pada kami berdua kok.

    Sejak itu saya berusaha mencari jalan terbaik untuk bisa berkompromi dengan mama. Menunjukkan artikel-artikel tentang ASI, mencari dokter anak yang se”aliran” dengan saya. Hebatnya, mama saya juga seakan berusaha untuk bisa mengerti dan memahami keinginan saya, sampai akhirnya beliau menjadi salah satu pendukung ASI yang hebat dan bahkan bisa ikut mempromosikan kebaikan ASI di kantornya. My mom is cool, right?

    Di ulang tahun Cinta ini, saya mengenang kembali perjalanan 5 tahun menjadi ibu dan menyadari bahwa mama saya (dan suami tentu saja) adalah sosok terpenting di belakang perjuangan kami menjalani peran sebagai ibu dan anak. Tanpa beliau mungkin saya tidak bisa survive dari post partum depression, tanpa beliau juga mungkin saya tidak bisa maksimal untuk berusaha memberikan yang terbaik bagi Cinta. 

    Untuk itulah, saya membuat giveaway  bertemakan ajaran orang tua yang masih kita gunakan dalam mengasuh anak-anak kita sekarang. Sekadar mengingatkan bahwa meskipun masa berganti, ilmu berubah dan kita saat ini merasa lebih pintar dari ibu, masih banyak ajaran-ajaran beliau yang timeless. Mengasuh anak bukan cuma soal ASI vs sufor, RUM vs IRUM, MPASI rumahan vs MPASI instan. Masih banyak hal yang harus kita pelajari dan seringkali orang tua adalah guru terbaik.

    Dan saya terharu sekali melihat banyak wisdom dari para nenek atau kakek yang diamalkan oleh mamah papah jaman sekarang. Semuanya bagus menurut saya, seperti mengajarkan kejujuran, kemandirian, menghargai barang atau makanan, menghindari labeling sampai soal mengajarkan sebab akibat pada anak. Itu adalah ilmu-ilmu parenting yang mungkin dipelajari mama-papa kita secara otodidak, dilakukan dari hati dan sekarang dianut oleh banyak ahli parenting.

    Karena semuanya bagus sehingga saya bingung memilih pemenang, akhirnya saya menggunakan caranya om Warm untuk menentukan 2 orang yang mendapatkan paket buku “Rumah Cokelat” dan seri buku anak “Sejuta Warna Pelangi“. Dan yang beruntung adalah Myra Anastasia dan Titut Ismail, silakan kirim alamat pengiriman ke: alfa(dot)kurnia(at)ymail(dot)com atau via akun FB/Twitter. Terima kasih banyak atas partisipasi dan ucapan teman-teman semua untuk Cinta, doa terbaik untuk semua 🙂

  • Daily Stories, Parenting

    Mengatasi Rasa Takut Pada Anak

    Question:

    mbak Nina, anak saya (5 thn) belakangan ini gampang takut & nangis. Liat tv yang menegangkan, ruangan gelap selalu lari. Kalau ditanya cuma bilang takut karena serem. Sebelumnya nggak ada kejadian traumatis di rumah. Kenapa ya kira-kira?

    @alfakurnia

    Answer:

    @AnnaSurtiNina

    Ada banyak kemungkinan. Kalau tidak ada kejadian besar, mungkin ada kejadian yang hanya dia yang tahu & berkesan banget. Mungkin juga dia sedang eksplorasi rasa takut or eksplorasi respon org terhadap dia, misalnya ingin tau apa aja yang dilakukan orang lain kalau dia tunjukkan takut. Bisa juga karena menikmati respon orang lain terhadap ketakutannya, misalnya tiap kali dia takut langsung dapat pelukan & Cinta suka pelukanmu yang penuh cinta 😛

    Coba lebih banyak masukkan pesan bahwa dia anak tangguh & berani. I love this way: sebelum tidur & sesaat setelah bangun bisikkan kata-kata ini, “Mama tau bahwa kamu adalah putri yang pemberani, I love you.” Setiap hari :). Beberapa bulan lagi arahkan keberanian supaya tidak berlebihan.

    Souce: tanya jawab dengan psikolog Anna Surti Nina melalui akun twitter @AnnaSurtiNina