Browsing Category:

Life as Mom

  • Family Health

    Combo DPaT & IPV

    Doctors do not yet have drugs to cure diseases caused by viruses. But they can give you shots to prevent some of these diseases.”
    Germs Make Me Sick – by Melvin Berger, Ilustrated by Marylin Hafner.

    Usia 5 tahun adalah waktunya Cinta mendapatkan booster imunisasi DPT, Polio dan MMR. Jauh hari sebelumnya saya sudah memberitahu Cinta tentang hal ini yang selalu mengakibatkan dia histeris karena masih trauma saat imunisasi Typhoid dan Hep. A tahun kemarin. Entah kenapa semakin besar, anak-anak semakin takut disuntik, padahal sampai usia 2 tahun si bocah ini anteng-anteng aja tiap waktunya imunisasi.

    Berdasarkan hasil konsultasi dengan mbak Anna Surti Nina melalui akun twitternya, saya pun mencoba berbicara lagi dengan Cinta. Tepat di hari ulang tahunnya yang ke-5, setelah makan malam saya bilang, “Kak, kan sekarang sudah 5 tahun nih, berarti waktunya untuk…” “Imunisasi ya Ma? dia balik bertanya. “Iya, sudah waktunya untuk imunisasi,” jawab saya. “Oke Ma, sekarang?” Huoooo jawaban yang sama sekali nggak saya duga. “Enggak kak, kita pilih sama-sama yuk tanggalnya, kapan kakak mau imunisasi,” saran saya.

    Akhirnya ditentukanlah tanggal 23 Juni 2012 yang jatuh di hari Sabtu. Beberapa hari sebelumnya saya bertanya-tanya ke mbak Suci, teman sesama warga negara Indonesia yang tinggal di Brunei dan Fey, resepsionis apartemen kami mengenai di mana kami bisa mendapatkan imunisasi untuk anak-anak. Mereka pun menyarankan ke Pusat Kesihatan. Dan kebetulan di dekat apartemen ada Pusat Kesihatan (semacam puskesmas kalau di Indonesia sih) yang bagus.
    Sepulang Cinta sekolah, kami pun ke Pusat Kesihatan Sg. Liang yang sayangnya sedang tutup karena istirahat makan siang. Akhirnya diputuskan untuk kembali lagi sore hari. Saat kembali, ternyata kami belum beruntung karena klinik anak tidak lagi menerima pasien imunisasi di Sabtu sore dan kami diminta kembali di hari Kamis, tanggal 28 Juni 2012.

    Awalnya mereka nggak mau lho memberikan vaksinasi setelah tahu kami bukan penduduk lokal atau permanent resident Brunei. “Sebaiknya imunisasi di Indon sajalah, kan bulan delapan kamu mau pulang toh?” kira-kira begitulah ujar salah satu suster, tentu saja dalam bahasa Melayu. Baiklah kakaaaaak. Tapi suster yang lain sambil memeriksa kartu imunisasi Cinta (yang untungnya selalu saya bawa ke mana-mana sampai lecek) terus bertanya banyak hal, sampai akhirnya memutuskan Cinta bisa dapat imunisasi di sana karena ia bersekolah di Brunei.

    Dibantu satu orang suster senior yang sangat ramah, suster muda yang baik ini mengisikan kartu medis untuk Cinta. Didata lagi imunisasi apa saja yang pernah didapat dari lahir. Lalu menuliskan waktu perjanjian dan tata cara bertemu dokter. Selama itu Cinta merengek-rengek di pelukan papanya karena takut disuntik dan akhirnya tersenyum lega karena batal.

    Sesuai saran mbak Anna, pada tanggal 28 Juni, apapun yang terjadi kami kembali ke Pusat Kesihatan. Setelah ambil nomer antrian, dicek data dan kondisi kesehatan oleh suster, kami pun antri di bagian suntik untuk mendapatkan imunisasi DPaT dan IPV. Cinta yang kali ini cuma pergi sama saya nggak tampak cemas sama sekali. Malah asik main sampai namanya dipanggil. Dipikir-pikir, ini bocah cuma ngalem kalo ada papanya.

    Begitu masuk ruang suntik, bidannya ngecek lagi umurnya Cinta dan memastikan kami ke situ untuk mendapatkan suntikan bagi anak usia 5 tahun sesuai yang ditulis suster di bagian pendaftaran. Setelah siap, saya diminta memangku Cinta yang sudah mulai menangis heboh. Sekian detik kemudian imunisasi pun selesai dan kami dipersilahkan pulang tanpa harus membayar sepeser pun. Hah, lunas sudah hutang imunisasi tahap pertama. Tinggal nanti saat mudik mau melengkapi booster MMR dan Hep. A.

    Oya, tadinya saat membujuk Cinta untuk imunisasi saya menjanjikan Cinta membelikan mainan apa saja yang ia inginkan tapi selalu ditolak. Nah, setelah selesai vaksin, saya kembali bertanya apa yang Cinta inginkan sebagai hadiah karena sudah berani disuntik dan dia bilang cuma mau tidur sambil dipeluk mama sambil baca buku “Germs Make Me Sick” karangan Melvin Berger dan Marylin Hafner terbitan Scholastic favoritnya yang ada adegan anak diimunisasi.

    Jadilah siang itu kami tidur berpelukan, sambil membaca tak lupa saya puji dan ucapkan terima kasih atas kesediaannya melakukan imunisasi. Saya juga bilang, “Insya Allaah setelah ini kakak makin sehat dan kuat, karena imunisasi tadi akan membentuk kekebalan tubuh di badan kakak.” Aamiin…

    Selamat hari Jumat, semua…. Sudahkah imunisasi anak-anak dilengkapi? Yuk cek jadwal imunisasi IDAI 2012 atau jika berencana pindah ke luar negeri cek jadwal imunisasi CDC atau WHO. Jangan lupa selalu bawa kartu medis atau medical record anak ya, minimal kartu imunisasinya. It would come in handy when you visit a doctor or need to catch up their vaccination.

    Jadwal vaksinasi CDC untuk Usia 0 – 6 Tahun (PDF)
    Jadwal vaksinasi CDC untuk Usia 7 – 18 Tahun (PDF)

  • Daily Stories, Life in Brunei, Parenting

    Adaptasi di Sekolah Baru

    Hari Sabtu kemarin, saya dan pak suami menghadiri acara Parents’ Day di sekolahnya Cinta. Yah, semacam pembagian report card tengah semester gitu lah. Aneh juga sih, bagi-bagi raportnya justru setelah liburan sekolah bukan sebelumnya seperti yang biasa di Indonesia. Tapi setelah dipikir-pikir agenda ujian dan libur sekolah kan sudah ditetapkan sama pemerintah dalam kalender nasional Brunei, di mana semua sekolah ya masa ujian dan liburnya barengan, nah padahal belum tentu sekolah itu sudah selesai bikin laporan hasil kegiatan belajar mengajar muridnya. Jadi akhirnya gitu deh, libur dulu baru terima raport sotoy.

    Jujur aja saya agak deg-degan akan penilaian gurunya terhadap Cinta, secara bulan pertama dan kedua kami (Cinta, kami orangtuanya dan gurunya) mengalami masa-masa penyesuaian yang cukup berat.

    Yah nggak heran, banyak sekali hal baru yang harus dihadapi Cinta saat itu. Dari gaya mengajar guru yang jauh berbeda dengan guru-guru sekolah lamanya di Indonesia yang lembut penuh kasih dan telaten. Guru di sini lebih tegas, disiplin dan nggak jarang menggunakan nada tinggi saat menegur anak-anak. Sampai harus belajar berkomunikasi dengan bahasa Melayu, Cina dan Inggris.

    Saking beratnya proses adaptasi itu, Cinta pun berontak. Mulai dari susah bangun pagi, gampang marah dan bersikap agresif di kelas dan di rumah, nilai spelling test yang dapat 20 sampai tantrum setiap mau berangkat sekolah.

    Sampai suatu pagi ketika tantrum di mobil, saya diamkan sambil terus nyetir. Setelah tangisnya reda kami mampir ke toko roti langganan untuk beli bekal dan sambil menunggu dia makan, saya ajak dia ngobrol di mobil.

    Saya bilang, “Kak, Mama tahu kakak lebih suka di rumah karena bisa nonton tivi dan main iPad seharian kan?” yang disambut dengan anggukan dan mulut penuh roti. “Iya, Mama juga suka di rumah main sama Cinta. Tapi, kakak tahu kan kalau kakak ini anak pintar? Mama tahu. Kakak suka belajar, ya kan? Belajar tentang serangga, tubuh manusia, belajar berhitung, menggambar, bikin prakarya. Nah, Mama merasa nggak bisa ngajarin Cinta sendirian. Jadi mama butuh bantuan guru-guru di sekolah yang lebih ngerti untuk anak seumur  Cinta ini sebaiknya belajar apa, supaya kepintarannya kakak bisa berkembang. Mungkin berat ya buat kakak belajar di sekolah, sampai kakak selalu marah-marah. Mama tahu Cinta capek. Tapi kan ada Mama sama Papa yang selalu bantu Cinta kalau ada yang susah. Don’t worry.

    Nggak tahu deh waktu itu Cinta mengerti atau tidak, atau menurut para ahli ilmu parenting itu benar atau tidak tapi jujur aja waktu itu saya sudah nyaris putus asa karena setiap hari menghadapi tantrumnya Cinta. Dan itulah satu-satunya cara yang terpikir. Tak disangka, jawaban Cinta saat itu, “I’m a smart girl ya Ma? Smart girl goes to school , ya? Oke, now let’s go to school.” adalah titik balik dari “pemberontakan”nya.

    Tentu nggak lantas semuanya jadi mudah. Sempat beberapa kali saya konsultasi online ke beberapa psikolog anak termasuk pak Toge Apriliyanto dan mbak Anna Surti Nina via twitter seperti yang saya tulis di sini. Terpikir juga untuk pindah sekolah yang bukan chinese school dengan harapan lebih sesuai dengan kepribadian Cinta. Tapi setelah diskusi panjang dengan suami, kami memutuskan untuk bersabar dulu, saling mendukung dan membantu Cinta melalui proses adaptasinya di Chung Ching Kindergarten.

    Toh, di Brunei pindah sekolah bukan hal yang mudah karena selain sekolah lain jaraknya bisa 30 km dari rumah (yang sekarang aja sudah 20 km) juga harus mengurus student pass di imigrasi yang membutuhkan proses yang lama.

    Akhirnya kami pun berusaha membuat berangkat sekolah menjadi hal yang menyenangkan, seperti memutar lagu-lagunya Sherina saat bangun pagi, mampir di pantai dekat kantor suami tiap pagi sekadar untuk melihat ombak, bunga, rumput dan menghirup udara segar. Atau ke toko-toko yang berbeda tiap pagi untuk  membeli snack atau roti. Kami juga belajar lebih sabar dan memahami kondisi Cinta karena memang cuma itu kuncinya, sabar.

    Lama-lama tantrum pun berkurang, Cinta sudah lebih ceria di sekolah. Bu Guru yang tadinya curhat kalau Cinta (meski bisa tapi) nggak mau mengikuti instruksinya di kelas bilang kalau sekarang sudah jauh membaik. Sudah mampu dan mau bermain sama teman-teman, bahkan tiap pagi datang ke kelas selalu dikerubutin teman-temannya untuk diajak main. “But sometime she’s too playful, so time after time I had to separate her from Avvani or they will disturb the other kids,” said teacher. Cinta juga dipercaya jadi anggota group dance kelasnya untuk acara ultah sekolah Oktober/November nanti, “She’s good at singing, dancing and following the rythim.” kata gurunya di pembagian raport kemarin. Duh, terharu sekali dengernya.

    Sekarang Cinta jadi lebih bersemangat belajar, meski belum bisa membaca tapi keinginannya untuk bisa membaca dan menulis besar sekali. Begitu pula berhitung, semua-mua maunya dihitung. Aaah, alhamdulillaah senang sekali rasanya. Akhirnya kerja keras kami mulai ada hasilnya. Cinta pun memberi kami bonus dengan meraih peringkat ketiga di kelasnya saat pembagian raport kemarin. Semua berkat pertolongan Allaah melalui usaha keras Cinta, kesabaran Teacher Yee membantu Cinta menyesuaikan diri di kelas dan tentu saja ketelatenan pak suami untuk  belajar bahasa Cina bersama Cinta.

    Oya, ada satu hal yang saya suka dari buku raport Cinta. Di halaman belakangnya ada reminder  dari pihak sekolah yang berbunyi seperti ini:

    This report shows the performance of your child in the activities at Chung Ching kindergarten. Evaluation and grading are done carefully, but in some way it mau not be fully valid or accurate. Parents shall not reprimand or punish the children based on the results given in this report as it may affect his/her interest and performance at school.

    Each child is different and special. Your child has his/her own strenghts and weakness and therefore is incomparable with other children. During the Kindergarten years, your child undergoes rapid changes and development. Appreciate and praise your child if his/her skills are appropriate and in place; on the other hand assist and support your child if he/she is manifesting delayed skills. Giving too much pressure to your child to perform according to your high expectation may be sometimes counterproductive and retard his/her development.

    Selamat hari Senin, bagaimana raport anak-anak kemarin? Sudah mengucapkan selamat dan terima kasih atas usaha keras mereka di sekolah kan?

  • Family Health, Recipe

    Sore Throat Remedies

    Beberapa waktu yang lalu saya mengalami sakit tenggorokan yang sakitnya terasa menusuk-nusuk sampai telinga, nggak enak banget. Mau makan susah, nggak makan laper. Ditambah demam bikin badan lemas selama beberapa hari. Saya tahu sakit tenggorokan kebanyakan disebabkan oleh virus sehingga akan sembuh dengan sendirinya tapi rasanya nggak dosa kan ya kalau mencari cara meringankan gejala supaya tetap dapat beraktivitas seperti biasa.

    Setelah browsing dan menemukan serta mencoba beberapa cara seperti kumur-kumur pakai air hangat dan garam, minum air jeruk hangat sampai makan mie instan super pedas dan belum menunjukkan tanda-tanda tenggorokan mulai membaik, akhirnya saya mencoba bertanya kepada teman-teman di twitter. Mereka pun berbaik hati memberikan saya beberapa cara home treatment untuk meringankan sakit tenggorokan. Berikut saya copas twit teman-teman, siapa tahu ada yang membutuhkan:

    @hildayie: strepsils ma air putih anget. Trus tidurnya agak tinggi kpalanya, klo gak pasti guatel dan memicu batuk

    @as3pram: minum anget2 ama ndusel bojo

    @_plukz: makan indomi pedes pake bubuk cabe banyak juga membantu. kasi telor setengah mateng dan suwiran ayam

    @cahyayu: coldizo tablet! Tablet kunyah yg mengandung ekstrak tumbuhan..obgyn di RS sy suka meresepkan bwt bumil

    @yohanes_hans: masalah tenggorokan yg paling enak minum jeruk panas. yg agak ekstrim ngunyah jahe 😀

    @kabarburung: Kumur dg larutan garam dan air hangat ..

    @merkrisnanti: Teh crysanthium Mbak

    @DyahYantie: Biasanya aku minum air rebusan daun pecut kuda,cespleng. FG Troches malah bikin batuk Mbak

    @faroex: 1. minum pke air hangat ex: lemon tea/teh hangat+madu

    @faroex: 2. Kumur2 dg air garam hangat (1/2 sndok teh garam dlarutkan dlm 1 gelas air), kumur2 2-3x shari

    @ndutyke: mie direbus bareng ama tomat dibelah 4 jg enak. Jadinya asem2 seger gt 🙂 enak klo pas lg idung buntu.

    @ndutyke: kalo #sorethroatremedies, coba konsumsi habbatussauda, jeng. Manjur kalo buat aku n suami, so far sih ya..

    Kalau cara kalian gimana?

  • Daily Stories, Family Health, Parenting

    Membujuk Anak untuk Imunisasi

    Semakin besar, Cinta semakin susah diajak imunisasi. Mungkin karena dia tahu disuntik itu sakit dan pernah pengalaman diimunisasi paksa, sehingga tiap diingetin jadwalnya imunisasi selalu histeris dan menolak meski sudah diiming-imingi berbagai macam reward. Nah, bulan ini pas ulang tahunnya ke-5, waktunya dia booster DTP, MMR dan Hep. A tapi masih bingung cara bujuknya. Nanya ke twitternya mbak @AnnaSurtiNina seorang psikolog anak dan keluarga, beliau memberikan saran seperti ini:

    Kalau masih histeris emang susah. Kalau dipaksa, bisa, tapi resikonya akan semakin nolak imunisasi berikut, juga nolak pergi ke dokter karena dokter kemudian diasosiasikan dengan ‘makhluk mengerikan’ / ‘yang bikin susah’. Padahal kita masih sangat perlu dokter kan. Jadi yang paling pas tetap dibujuk, tapi tarik ulur ya. Dalam hal ini, diiming-imingi boleh kok :D. Pakai sistem ‘kalender’, tunjuk tanggal, sepakati di hari H ya tetep pergi apapun yg terjadi. Setelah itu jangan lupa iming-imingnya diberi. Ohya, supaya lebih positif, bisa juga beri pujian ‘wah kamu pasti tambah kuat & sehat sekarang’ atau ‘mama bangga sama kamu’.

    Saran ini sedang saya praktikkan dan tadi malam sudah menemukan kesepakatan tanggal berangkat imunisasinya, yaitu.hari Sabtu 23 Juni 2012 sepulang sekolah. Doakan kami berhasil di hari H ya 😀

  • Parenting

    What We Learn From Our Mom

    Dulu, jaman saya remaja, saya sering menganggap mama saya tuh nggak gaul karena sering menasihati ini itu atau melarang begitu begini. Mama saya juga suka bilang kalau anak-anak generasi saya (dan adik-adik) beda sekali dengan beliau waktu kecil dulu. Selera musik yang aneh, skala prioritas.yang bukan lagi soal pelajaran, dan masih banyak lagi. Semakin dewasa, semakin jauh gap antara saya dan mama sampai akhirnya saya menikah dan punya anak.

    Nggak sedikit pertentangan yang saya alami dengan mama soal merawat bayi, meskipun banyak sekali yang saya pelajari dari beliau, misalnya soal memandikan bayi, cara membedong anak sampai cara menggendong anak. Yang paling seru (menurut saya nih ya) ya soal ASI vs sufor dan pengobatan. Generasi mama saya masih percaya bahwa susu formula adalah asupan terbaik bagi anak, sedangkan saya merasa sebaliknya. Begitu pula dengan pengobatan, setelah belajar dari sebuah milis dan sharing dengan beberapa teman, saya berusaha mengadopsi sistem rational use medicine, sedangkan orang tua saya ya masih beranggapan bahwa bayi sakit wajib hukumnya ke dokter.


    Ternyata nggak cuma saya yang mengalami pertentangan seperti itu dengan orang tua. Banyak lho, mamah mamah muda yang bernasib sama. Bahkan sampai ada yang benar-benar bertengkar dan memusuhi ibunya karena perbedaan pendapat ini. Sedih banget ya. Saya pun dulu sering merasa kesal karena pada pagi hari tiba-tiba Cinta sudah selesai mandi dan diberi susu formula oleh mama dan nenek saya, padahal saya ingin sekali bisa ASI eksklusif. Atau saat batuk pilek baru sehari dua hari sudah disuruh-suruh ke dokter. Tapi, setelah kami bisa berbicara dari hati ke hati, alasan beliau adalah kasihan melihat saya yang lelah karena begadang semalaman mengurus Cinta. Atau nggak tega melihat bayi kecil terus-terusan sakit. Ternyata semua itu beliau lakukan sebagai bentuk sayangnya pada kami berdua kok.

    Sejak itu saya berusaha mencari jalan terbaik untuk bisa berkompromi dengan mama. Menunjukkan artikel-artikel tentang ASI, mencari dokter anak yang se”aliran” dengan saya. Hebatnya, mama saya juga seakan berusaha untuk bisa mengerti dan memahami keinginan saya, sampai akhirnya beliau menjadi salah satu pendukung ASI yang hebat dan bahkan bisa ikut mempromosikan kebaikan ASI di kantornya. My mom is cool, right?

    Di ulang tahun Cinta ini, saya mengenang kembali perjalanan 5 tahun menjadi ibu dan menyadari bahwa mama saya (dan suami tentu saja) adalah sosok terpenting di belakang perjuangan kami menjalani peran sebagai ibu dan anak. Tanpa beliau mungkin saya tidak bisa survive dari post partum depression, tanpa beliau juga mungkin saya tidak bisa maksimal untuk berusaha memberikan yang terbaik bagi Cinta. 

    Untuk itulah, saya membuat giveaway  bertemakan ajaran orang tua yang masih kita gunakan dalam mengasuh anak-anak kita sekarang. Sekadar mengingatkan bahwa meskipun masa berganti, ilmu berubah dan kita saat ini merasa lebih pintar dari ibu, masih banyak ajaran-ajaran beliau yang timeless. Mengasuh anak bukan cuma soal ASI vs sufor, RUM vs IRUM, MPASI rumahan vs MPASI instan. Masih banyak hal yang harus kita pelajari dan seringkali orang tua adalah guru terbaik.

    Dan saya terharu sekali melihat banyak wisdom dari para nenek atau kakek yang diamalkan oleh mamah papah jaman sekarang. Semuanya bagus menurut saya, seperti mengajarkan kejujuran, kemandirian, menghargai barang atau makanan, menghindari labeling sampai soal mengajarkan sebab akibat pada anak. Itu adalah ilmu-ilmu parenting yang mungkin dipelajari mama-papa kita secara otodidak, dilakukan dari hati dan sekarang dianut oleh banyak ahli parenting.

    Karena semuanya bagus sehingga saya bingung memilih pemenang, akhirnya saya menggunakan caranya om Warm untuk menentukan 2 orang yang mendapatkan paket buku “Rumah Cokelat” dan seri buku anak “Sejuta Warna Pelangi“. Dan yang beruntung adalah Myra Anastasia dan Titut Ismail, silakan kirim alamat pengiriman ke: alfa(dot)kurnia(at)ymail(dot)com atau via akun FB/Twitter. Terima kasih banyak atas partisipasi dan ucapan teman-teman semua untuk Cinta, doa terbaik untuk semua 🙂

  • Daily Stories, Parenting

    Mengatasi Rasa Takut Pada Anak

    Question:

    mbak Nina, anak saya (5 thn) belakangan ini gampang takut & nangis. Liat tv yang menegangkan, ruangan gelap selalu lari. Kalau ditanya cuma bilang takut karena serem. Sebelumnya nggak ada kejadian traumatis di rumah. Kenapa ya kira-kira?

    @alfakurnia

    Answer:

    @AnnaSurtiNina

    Ada banyak kemungkinan. Kalau tidak ada kejadian besar, mungkin ada kejadian yang hanya dia yang tahu & berkesan banget. Mungkin juga dia sedang eksplorasi rasa takut or eksplorasi respon org terhadap dia, misalnya ingin tau apa aja yang dilakukan orang lain kalau dia tunjukkan takut. Bisa juga karena menikmati respon orang lain terhadap ketakutannya, misalnya tiap kali dia takut langsung dapat pelukan & Cinta suka pelukanmu yang penuh cinta 😛

    Coba lebih banyak masukkan pesan bahwa dia anak tangguh & berani. I love this way: sebelum tidur & sesaat setelah bangun bisikkan kata-kata ini, “Mama tau bahwa kamu adalah putri yang pemberani, I love you.” Setiap hari :). Beberapa bulan lagi arahkan keberanian supaya tidak berlebihan.

    Souce: tanya jawab dengan psikolog Anna Surti Nina melalui akun twitter @AnnaSurtiNina

  • Daily Stories, Parenting

    Membantu Anak Beradaptasi di Sekolah Baru

    Question:

    Anakku (5T) sudah 3 bulan ini adaptasi dengan lingkungan & bahasa baru. Dia pernah ngeluh nggak punya teman di sekolah and she looks happier at home than at school. Katanya kalo di rumah lebih menyenangkan.
    Dia di sekolah pernah dibully temen ceweknya & dijauhi. Sejak itu jadi galak banget, digoda sedikit sama teman marah padahal tadinya mereka main bareng dan dia sempat senang karena sudah punya teman. sekarang seperti ulang dari awal lagi proses adaptasi di kelas

    Gimana cara bantu dia ya mbak?

    @alfakurnia – 24 April 2012

    Answer:

    @AnnaSurtiNina

    Biasanya anak yg masih adaptasi dengan lingkungan bener-bener baru memang stres banget, cenderung nyari situasi aman. Syukurlah itu adalah rumah.

    Mau gak mau emang trus diperkenalkan dgn lingkungan & bahasa baru ini, dengan menyenangkan, supaya dia bisa adaptasi lebih baik

    Tentang temen-temennya, kasih tahu bahwa temen-temennya mungkin malu untuk mengajak dia berteman, misalnya karena bingung mau bicara apa, bukan tidak mau.

    Jadi ajarkan untuk banyak senyum di sekolah, supaya teman-teman mau mendekat & ajak dia bermain. Dorong anak untuk ikuti permainan teman

    Kalau ada komunitas menyenangkan yang bisa diikuti bersama anak, ikuti aja, biar dia belajar bergaul dengan senang.

    Untuk diperkenalkan budaya & bahasa baru itu bisa banyak-banyak jalan-jalan ke pasar tradisional di sana, ikut kegiatan-kegiatan masyarakat, dll

    Bantu carikan kegiatan-kegiatan masyarakat daerah yang banyak anak-anaknya & bantu dia utk ikut terlibat di sana. Lama-lama bisa adaptasi lebih ok

    Gak papa, lebih baik ulang lagi proses adaptasi daripada dipaksa tp nggak bagus hasilnya. Prinsipnya kayak terapi, yang masih kurang dikuasai perlu diulang belajarnya dengan benar. Ditemenin aja dalam proses adaptasi ulang ini, lebih banyak lagi kenalin temen lain.

    (Source: tanya jawab dengan psikolog Anna Surti Nina melalui akun twitternya @AnnaSurtiNina)

  • Life as Mom, Parenting

    Soon to be Five: Pojok Mungil’s Giveaway

    Nggak terasa bocah kecil saya sebentar lagi akan meninggalkan masa balitanya. 5 tahun sudah saya ditempa oleh guru terhebat ini untuk menjadi pribadi yang lebih baik, supaya layak menyandang gelar orang tua. Selama 5 tahun ini pula, banyak sekali pelajaran mengenai pola asuh anak yang saya peroleh dari buku, internet, teman dan tentu saja orang tua.

    Meskipun kadang merasa bahwa cara orang tua mengasuh kita dulu sudah tidak cocok lagi diterapkan saat ini, ternyata masih banyak yang masih bisa ditiru. Salah satu yang saya pelajari dari mama adalah menyayangi anak bukan berarti selalu memanjakan dan menuruti apa yang ia mau. Dan saat kita tidak dapat memenuhi keinginan anak, sampaikan terus terang alasannya, tentu dengan bahasa yang mereka mengerti.

    Nah, dalam rangka ulang tahun ke-5 Cinta, saya ingin mengadakan giveaway untuk pembaca PojokMungil. Caranya gampang banget, cukup menceritakan apa saja ajaran, pesan atau pola asuh yang dipelajari dari orang tua kita dan diterapkan dalam mengasuh anak saat ini di kolom komentar. Untuk 2 orang yang beruntung akan mendapat masing-masing 1 buah MomLit Rumah Cokelat karangan Sitta Karina dan 1 paket buku anak seri “Sejuta Warna Pelangi” karangan Clara Ng.

    Yuk, mari berbagi cerita… Ditunggu sampai tanggal 13 Juni 2012 ya, pengumuman pemenang akan dilakukan pada hari ulang tahun Cinta tanggal 17 Juni 2012.

    Ps: gambar buku anak seri “Sejuta Warna Pelangi” diambil dari situs kutukutubuku.com

  • Daily Stories, Parenting

    Renungan Saat Hujan di Pagi Hari

    Hadiah yang ditunggu-tunggu anak adalah kesabaran: “Aku akan berusaha memperlambat langkah agar aku bisa berjalan di sebelahmu & biarkanmu jadi diri sendiri.” – @donobaswardono

    image

    *setelah naik turun tangga apartemen untuk kedua kalinya dan sudah terlambat berangkat sekolah*

    Cinta: *turun tangga pelan-pelan sambil nyanyi-nyanyi*
    Me: Go… Go… Go… We’re running late *dengan nada tinggi*
    Cinta: *berhenti nyanyi* Mami, aku kaget kalau ngomongnya keras gitu
    Me: Mama harus bicara keras karena tadi mama bicara pelan nggak didengerin sama kakak.
    Cinta: ….
    *setelah setengah perjalanan turun tangga*
    Cinta: Yah! Aku lupa bawa bandoku!
    Me: *membayangkan tantrum di pagi hari* Trus gimana? Masa mau naik lagi ambil bando? (dengan nada tinggi)
    Cinta: Eh, kan aku sudah pakai baju cantik ya jadi nggak papa nggak pakai bando.
    Me: *serasa disiram segalon air es*

    Pernah nggak menghadapi situasi seperti itu? Saat kita sedang emosi dan nggak bisa mengontrol nada suara atau ekspresi wajah eh korban pelampiasan emosi kita malah menunjukkan sikap tenang dan tersenyum.

    Saya sering sih, justru saat seperti itu Cinta menunjukkan sikap yang jauh lebih dewasa daripada mamanya yang berusia 6x lebih tua dari dia. Saat saya meragukan kemampuannya mengatasi kecewa malah bocah kecil ini membuktikan sebaliknya.

    Memang benar yah, anak itu guru bagi orang tuanya. Dari merekalah kita belajar memberi, percaya dan mengolah diri supaya layak menjadi orang tua. Dan selama hampir 5 tahun jadi ibu, entah kenapa belakangan ini saya merasa sering sekali menuntut Cinta untuk bersikap atau melakukan apa yang saya mau bukannya mendampingi dia untuk belajar menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri. And suddenly I feel that I’m not good enough to be a mother and I’m so lucky to have such a wonderful girl who still loves me no matter how bad I treat her.

    Ya, modal utama jadi orang tua memang cinta tak bersyarat, kesediaan memberi dan kesabaran. Sekarang saya jadi ragu, apakah saya sudah punya ketiga hal itu?