Perhatikan Kebijakan YouTube Sebelum Mengunggah Video Anak

video dihapus youtube

Sebenarnya saya sudah pernah posting tentang kriteria foto anak yang sebaiknya tidak diunggah di media sosial. Dan saya pikir selama ini saya sudah cukup berhati-hati dalam mengunggah foto atau video anak-anak saya baik di media sosial maupun di YouTube. Jadi, jujur saja saya kaget dan agak nggak terima saat mendapat email dari YouTube yang menerangkan bahwa mereka menghapus salah satu video saya karena melanggar kebijakan YouTube.

Video saya yang mereka hapus sebenarnya sudah lama sekali saya unggah, tepatnya pada 9 Januari 2011. Video yang direkam oleh adik-adik saya itu mengabadikan momen menit-menit pertama setelah setelah anak sulung saya, Cinta, dilahirkan. Jadi, saat saya masih di ruang bersalin untuk dikeluarkan ari-ari dan proses pemulihan, si bayi nggak langsung dikasih ke saya untuk disusui. Tapi dibawa oleh suster rumah sakit ke ruang periksa untuk dibersihkan, dicek suhu tubuh dan berat badan yang semua dilakukan saat si bayi dalam keadaan telanjang (ya kan baru lahir yak, masa langsung pake baju) baru kemudian dibedong.

Nah, di ruang itulah keluarga besar saya yang menunggui proses kelahiran cucu dan keponakan mereka itu berkumpul. Dan sebagai sejarah keluarga, momen itu divideokan untuk kenang-kenangan. Karena hanya direkam dengan kamera ponsel dan takut rekamannya hilang, akhirnya saya unggah ke YouTube 3,5 tahun setelah kelahirannya. Saya pikir itu hal yang normal. Come on, apa salahnya menyimpan video bayi baru lahir di YouTube untuk kenang-kenangan kita kan. Toh nothing sexual inappropriate about that. It’s a newborn baby video for God’s sake.

Tapi saya salah. Kesalahan yang pertama adalah video itu nggak saya set private. Kedua, saya nggak mikir kalau nggak semua orang yang berselancar di YouTube itu punya pandangan seperti saya. Dan ternyata video bayi telanjang yang tidak berdosa itu bagi beberapa orang dianggap melanggar kebijakan YouTube, so they flagged it.

Video saya dilaporkan oleh salah satu atau lebih orang asing yang kebetulan menontonnya. Dan, sialnya lagi, pihak YouTube menerima laporan tersebut dan memiliki pendapat yang sama dengan pelapor. Akhirnya dihapuslah video saya itu. Ya, saya sih masih bisa menonton video tersebut tapi sudah nggak bisa diapa-apain bahkan mau mengubah settingannya menjadi Private saja sudah nggak bisa. Sebenarnya saya bisa kok mengajukan banding atas kejadian ini. Tapi sampai saat ini masih malas ngarang kata-kata untuk bikin surat bandingnya. Lagian takut sakit hati juga kan kalau ditolak.

Nah, supaya teman-teman pembaca PojokMungil nggak mengalami hal yang sama seperti saya,

Ada beberapa hal yang harus kita perhatikan saat akan mengunggah video terutama video anak-anak ke YouTube:

 

  • Pastikan keselamatan fisik anak di bawah umur tetap aman.
    Jangan pernah menempatkan mereka dalam situasi berbahaya yang dapat menyebabkan cedera, termasuk adegan aksi, tantangan, dan lelucon berbahaya.
  • Jangan menyebabkan gangguan emosional.
    Hindari situasi yang dapat menyebabkan tekanan emosional, seperti memperlihatkan tema dewasa kepada mereka.
  • Hormati privasi anak di bawah umur.
    Dapatkan persetujuan dari orang tua atau wali orang tua sebelum menampilkan mereka di video Anda. Pastikan partisipasi mereka dalam video Anda bersifat sukarela.
  • Atur komentar pengguna pada video Anda.
    Ada fitur yang dapat digunakan untuk memfilter dan meninjau komentar, dan Anda dapat selalu melaporkan komentar kepada kami sebagai spam atau penyalahgunaan.
  • Kelola setelan privasi dan sematan video Anda.
    Anda memiliki beberapa opsi untuk mengontrol siapa yang dapat melihat video Anda dan bagaimana video dibagikan di situs eksternal.

Kelima hal di atas saya ambil dari laman Kebijakan YouTube yang mengatur tentang Keselamatan Anak. Nggak ada satu kata pun yang saya ubah alias saya cuma copy paste.

Nah, berdasarkan aturan tersebut, harusnya video saya nggak melanggar kebijakan dong ya. Emmm ternyata masih ada lagi kebijakan terkait konten ketelanjangan dan seksual. Aturannya seperti ini ya:

Beberapa pertimbangan YouTube saat menerapkan pembatasan usia pada video:

  • Apakah bagian payudara, bokong, atau alat kelamin (baik ditutupi pakaian maupun tidak) menjadi titik fokus dalam video;
  • Apakah suasana videonya menjurus ke arah seksual (mis., lokasi yang biasanya dikaitkan dengan aktivitas seksual, seperti ranjang);
  • Apakah objek digambarkan dalam pose yang dimaksudkan untuk membangkitkan berahi penonton;
  • Apakah bahasa yang digunakan dalam video tersebut vulgar dan /atau cabul;
  • Apakah tindakan subjek dalam video mengisyaratkan kesukarelaan untuk terlibat dalam aktivitas seksual (mis. berciuman, melakukan tarian yang merangsang, mencumbu); dan
  • Jika subjek berpakaian minim, apakah pakaian tersebut masuk akal dipakai di tempat umum yang sesuai (mis., pakaian renang vs. pakaian dalam).
  • Faktor lainnya mencakup:
    • Lamanya waktu gambar tersebut muncul dalam video
    • Keterpaparan sekilas vs lama terutama sehubungan dengan panjang keseluruhan video.
    • Sudut dan fokus kamera
    • Kejelasan relatif dari gambar dalam video
    • Thumbnail video, lihat kebijakan Thumbnail yang Menyesatkan

Bhaique. Sebenarnya tidak ada satu pun isi video saya yang dihapus oleh YouTube masuk dalam pertimbangan tersebut. Bayi telanjang memang benar menjadi fokus video tersebut. Tapi toh iklan popok serta produk kosmetik bayi juga berisi hal yang sama kan ya?

Namun sekali lagi, aturan ya aturan. Selain yang saya tulis di atas, banyak sekali kebijakan dan keamanan YouTube yang harus kita perhatikan. Ada yang mengatur tentang konten yang mengandung kebencian, konten yang merugikan atau membahayakan, konten kekerasan atau vulgar. Bahkan untuk keamanan anak saja selain faktor ketelanjangan dan seksual, ada yang mengatur tentang cyberbullying dan pelecehan. Banyaklah pokoknya. Silakan langsung baca di laman https://support.google.com/youtube/topic/2803176?hl=id&ref_topic=2676378.

Karena itulah saya yakin YouTube memutuskan untuk menghapus video saya pasti sudah berdasarkan pertimbangan yang baik. Saya juga yakin keamanan anak saya, kenyamanan saya sebagai pemilik channel juga penonton YouTube adalah prioritas utama mereka. Lagipula, setelah saya ingat ke belakang, nggak cuma sekali saya menerima komentar kurang baik atas video itu. Mulai dari, “She’s f*cking annoying,” sampai “That baby is ugly.” Serius. Ada aja kok warganet yang sampai hati komen jahat di video bayi. Jadi, saya bisa menerima keputusan mereka. Kalaupun nanti saya mengajukan banding itu sekadar supaya video saya bisa tetap ada dalam channel saya untuk memori keluarga. Kalaupun nggak bisa ya mungkin saya akan upload ulang tapi dengan kondisi video diunlisted atau diprivate sekalian seperti saran yang diberikan oleh YouTube dalam surelnya untuk saya.

Tapi, orang lain kok bisa mengunggah video anak-anak mereka telanjang atau berpakaian mini dan nggak dihapus oleh YouTube? Ya biarin ajalah, anak orang sih itu, bukan anak saya hahaha. Cuma ya saya suka sedih juga sih kalau liat foto anak-anak kecil telanjang atau keliatan bagian pribadinya. Sekarang sih mereka belum bisa protes ya, tapi kalau nanti sudah besar kan kasian. Kita dulu aja kalau mama kita nunjukkin foto-foto zaman kita kecil yang menurut kita memalukan banget ke teman atau saudara pasti protes kan. Gimana dengan jejak digital anak-anak kita nanti. Sampai mereka besar jangan-jangan foto-foto seperti itu bisa dengan mudah ditemui di internet. Iya kalau cuma untuk becandaan, kalau dijadikan bahan bully sama teman-temannya, bahan meme yang bisa dilihat orang sedunia atau lebih parah lagi jadi bahan yang enggak-enggak untuk para pedofil gimana. Kan kasian anak-anak kita yaaah.

Nah, kalau kita sebagai penonton merasa konten video yang kita lihat ada anak-anak dalam kondisi yang menurut kita kurang pantas, boleh kok kita lapor ke YouTube. Gampang, tinggal klik aja tanda tiga titik () di bawah video tersebut lalu pilih Laporkan dan pilih alasan yang paling sesuai dengan pelanggaran dalam video tersebut. Setidaknya dengan aktivitas tersebut bisa membuat para konten kreator atau para orang tua lebih waspada dalam mengunggah foto atau video anak-anak ke media sosial. Tolong diingat, foto atau video anak yang kita anggap lucu, innocent, menggemaskan itu ternyata bisa membahayakan anak suatu saat nanti. Please be aware.

 

 

 

 

5 Hal Yang Perlu Diperhatikan Blogger Tentang Membuat Vlog

lemari pojok, blog lemari pojok, lemaripojok.com, retno kusumawardani, blogger perempuan, arisan link, youtuber, blogger

Jadi blogger itu harus mau mengembangkan diri ya, supaya bisa bertahan di tengah ramainya dunia blog sekarang ini. Selain kualitas tulisan yang baik (baca: enak dibaca), blogger sekarang juga dituntut untuk bisa membuat infografis dan menyajikan foto-foto yang jernih sebagai pendukung artikel-artikelnya di blog. Apalagi yang suka ikut lomba blog, dua hal itu tentu bisa jadi nilai tambah di mata juri ya.

Tapi beberapa blogger merasa belum cukup puas dengan menyajikan tulisan yang baik lengkap dengan infografis dan foto, sehingga mereka merambah ke video blog atau yang lebih dikenal dengan istilah vlog. Vlog ini biasanya digunakan blogger untuk memberikan info yang lebih jelas kepada pembacanya tentang apa yang mereka tulis, khususnya tulisan untuk launching produk, resensi dan tutorial kosmetik sampai review tempat wisata.

Video-video yang diunggah di YouTube dan disematkan di tulisan pada blog ini juga bisa dimonetize lho, sehingga blogger dapat memperoleh penghasilan tambahan dari video yang dilihat oleh pembaca blognya. Selain itu vlog juga dapat mendukung branding kita sebagai blogger, meningkatkan traffic blog serta menambah subscriber atau follower blog. Menarik ya. Hal inilah yang dilakukan oleh Retno Kusumawardani, blogger Malang yang aktif menulis di blog http://www.lemaripojok.com.

Berawal dari sekadar iseng, Retno membuat akun di YouTube untuk menyimpan video-video dari akun Smule-nya. Kemudian ibu dari Atha, Ai dan Aksa ini mengunggah video untuk diikutsertakan ke Giveaway yang diadakan oleh Pakde Cholik, pemilik blog www.abdulcholik.com. Sejak itu, Retno mulai rajin mengunggah video di YouTube untuk kemudian disematkan ke artikel blognya seperti review Redwin Sorbolene Moisturizer dan Romantisnya Westlake Resort Jogja. Selain itu ada beberapa video menarik yang diunggah Retno tapi sayangnya nggak ditulis di blog, padahal sudah ditonton sebanyak lebih dari 2000 kali di YouTube, yaitu tutorial membuat pigura dari kertas ala mas Atha.

Tanpa video pun, blog Lemari Pojok sudah cukup menarik. Berkategori lifestyle yang fokus pada review dan parenting, tulisan Retno menarik untuk dibaca. Tema blognya pun enak dilihat dan cukup mudah untuk mencari artikel yang kita inginkan karena label tiap tulisan tersusun rapi di sisi kanan blog. Yang paling saya suka dari blog Lemari Pojok ini adalah blogpost berlabel beauty. Mungkin karena bukan beauty bloher, semua yang ditulis Retno mudah saya pahami sebagai emak-emak yang awam di dunia skin care dan kosmetik. Semua informasi yang saya butuhkan tersaji di situ.

Artikel yang memiliki banyak viewer di blog lemaripojok nggak jauh-jauh dari tempat wisata dan multivitamin untuk anak. Khas blog bertema parenting ya. Tapi yang nggak kalah menarik adalah artikel-artikel yang berisi resep masakan dengan label camilan, mulai dari yang sulit (bagi saya) seperti roti sampai tahu aci favorit saya. Duh, bikin pengen langsung main ke Malang dan minta dibikinin gitu hahaha. Coba deh aneka resep ini dibikin video sederrhana langkah-langkah masaknya trus diupload ke YouTube mungkin akan semakin banyak pembaca tulisan itu ya.

retno kusumawardani, blogger, youtuber, blogger perempuan, arisan link, lemaripojok.com, lemari pojok, blog lemari pojok

Menurut Retno, bikin vlog itu susah susah gampang, apalagi untuk ibu-ibu sok rempong macam kami. Mengatur mood dan waktu untuk ngeblog aja sudah ngos-ngosan apalagi harus ditambah dengan vlog yang memang cukup menyita waktu. Tapi bagi teman-teman pembaca Pojok Mungil yang ingin merambah dunia vlogging, beberapa tips yang berhasil saya kumpulkan dari beberapa sumber ini mungkin bisa dipraktikkan. Yuk belajar sama-sama:

lemari pojok, blog lemari pojok, lemaripojok.com, retno kusumawardani, blogger perempuan, arisan link, youtuber, blogger

5 Hal yang Harus Diperhatikan Blogger Tentang Membuat Vlog.

  1. Tujuan Lo Apa?

Seperti menentukan kategori blog, kita juga harus punya tujuan saat akan membuat kanal YouTube. Tentunya yang mendukung konten blog kita ya. Misalnya sebagai beauty blogger, kita khususkan vlog kita pada review kosmetik, skin care dan tutorial make up. Food blogger bisa mengunggah resep-resep yang ia praktikkan atau tempat makan yang dicoba. Atau emak-emak blogger parenting kaya saya dan Retno misalnya bisa mengisi vlognya dengan tutorial bikin mainan anak atau ya review buku bacaan untuk anak, tempat wisata dan event khusus di sekolah anak. Yang penting vlog ini harus bermanfaat bagi blog kita. Kalau enggak rugi lho, secara bikin vlog itu melelahkan hehehe.

  1. Maksimalkan Penggunaan Gadget Kita

Punya mirrorless atau kamera DSLR yang memiliki fungsi merekam video tentu jadi nilai plus karena video yang dihasilkan pasti akan bagus. Tapi ada istilah it’s the man behind the gun. Jadi jangan kecil hati kalau nggak punya gadget canggih. Ponsel jaman sekarang pun dilengkapi dengan fitur video, dan itu bisa kita manfaatkan untuk bikin vlog. Untuk mendapatkan video yang baik pelajari juga teknik lighting dan cara-cara merekam video dengan ponsel. Banyak tutorialnya di YouTube maupun webinar yang bisa kita ikuti.

  1. Belajar Basic Video Editing

Bikin vlog yang bagus nggak cuma rekam trus unggah ke YouTube. Coba deh lihat video-video di YouTube yang kita suka dan betah ngeliatnya, pasti kualitasnya bagus dan sudah diedit dengan baik. Mengedit video sebenarnya paling bagus pakai laptop dengan aplikasi seperti iMovie, Windows Movie Maker atau Final Cut Pro X dan Adobe Premier yang hampir semuanya berbayar. Tapi kita juga bisa menggunakan aplikasi di ponsel seperti iMovie dan Viva Video, tentunya kalau beli edisi premium bisa lebih bagus pilihan editingnya. Kalau mau yang gratis, langsung aja pakai YouTube editor.

  1. Tulis Blogpost yang Bisa Memuat Video Kita atau Sebaliknya, Buat Video yang Mendukung Blogpost Kita.

Kalau tujuan kita membuat video di YouTube untuk meningkatkan view blogpost, jangan lupa tuliskan link artikel kita di deskripsi video, begitu juga dengan link semua media sosial kita. Sebaliknya jangan lupa ajak pembaca blog kita untuk subscribe dan like video kita untuk meningkatkan viewer kanal YouTube. Seperti video Retno tentang membuat pigura dari bubur kertas itu kalau dibuat blogpost dan linknya dicantumkan di deskripsi video tentu akan membuat penonton vlog mengunjungi blognya dan meningkatkan trafficnya.

  1. Konsisten

Kalau ini PR banget nggak sih? Jangankan bikin vlog, ngeblog aja masih moody hihihi. Tapi percaya deh blogger yang konsisten menulis di blog tentu akan punya pembaca setia, begitupun vlog. Menurut blogger/vlogger yang sudah profesional, minimal 1 bulan sekali deh kita bikin vlog untuk disematkan ke blogpost kita. Semakin sering bikin vlog, semakin mudah juga katanya. Dari yang tadinya bingung mau ngomong apa jadi lebih terbiasa dan nggak gagap lagi. Yang awalnya videonya ala kadarnya jadi lebih semangat untuk belajar editing supaya lebih menarik dan enak dilihat. Jadi nggak boleh ada kata malas ya! Practice makes perfect! *ngomong sama kaca*

 

 

Menjadi Penulis Konten Plus Ala Rahayu Pawitri

rahayu pawitri, blogger perempuan, lifestyle blogger, content writer, penulis konten, arisan link

Kenapa sih blog pojokmungil sering membahas tentang content writer?

Padahal yang punya blog juga nggak jago-jago amat nulis kontennya.

Ya, karena kebanyakan blogger selain memonetize blognya, juga mengembangkan keahlian menulisnya dengan menulis untuk konten web lain. Seperti teman-teman blogger saya di grup V arisan link Blogger Perempuan. Salah satunya adalah pemilik blog http://rahayupawitriblog.com.

Wiwit, panggilan kesayangan kami untuk ibu satu anak ini, memiliki blog berniche lifestyle. Namun, ibu satu ini nggak berpuas diri hanya dengan menjadi seorang blogger. Berawal dari kesukaannya menulis dan belajar hal baru, Wiwit pun mengembangkan dirinya menjadi content writer dan transalator. Bukan hal yang istimewa mungkin, karena sekarang banyak sekali content writer di Indonesia. Namun, Wiwit nggak mau jadi content writer biasa. Ia bertekad untuk menjadi content writer plus plus alias penulis konten yang juga menguasai banyak hal untuk menunjang profesinya tersebut.

rahayu pawitri, blogger perempuan, lifestyle blogger, content writer, penulis konten, arisan link

Apa saja sih yang diperlukan untuk menjadi penulis konten paket lengkap? Ini dia yang dimiliki oleh ibu dari Hana ini:

  1. Mampu Menulis dengan Baik

Menulis dengan baik itu nggak mudah. Selain harus menguasai EYD, penulis konten juga harus dapat merangkai tulisannya supaya menarik perhatian dan mempersuasi pembaca. Hal ini bisa kita temui di artikel-artikel dalam blog rahayupawitriblog.com. Tulisan yang padat dan langsung mengena pada intinya membuat kita mudah memahami maksud yang hendak beliau sampaikan. Maklum sih, Wiwit berpengalaman menulis untuk web parenting The Asian Parent Indonesia.

  1. Menguasai SEO

Menulis dengan baik saja ternyata belum cukup bagi seorang penulis konten. Ia pun harus mampu menghubungkan aneka kata kunci atau keyword pada tulisannya agar mudah dikenali oleh mesin pencari sehingga tulisan mereka selalu berada di halaman pertama search engine. Hal ini biasanya kita kenal dengan istilah SEO (Search Engine Optimation) atau proses peningkatan visibilitas sebuah website di mesin pencari. Kalau saya masih tertatih-tatih mempelajari hal ini, berbeda dengan Wiwit yang sudah terlatih menggunakan pakem-pakem SEO yang ia pelajari saat menjadi penulis untuk The Asian Parent Indonesia.

  1. Menguasai Bahasa Inggris atau Bahasa Asing Lain

Menguasai bahasa asing tentu menjadi nilai plus bagi penulis konten, apalagi kalau kita memang berniat mengembangkan sayap ke dunia digital international. Meskipun kemampuan bahasa Inggrisnya sudah cukup baik yang dibuktikan dengan pekerjaannya sebagai translator, Wiwit tetap berusaha mengasahnya dengan mengikuti kursus bahasa Inggris secara online dengan memanfaatkan teknologi Whatsapp.

  1. Mengerti Seluk Beluk Website

Apalah istimewaanya seorang blogger dan penulis konten kalau hanya bisa menulis. Selain harus dapat membuat infografis atau menyuguhkan foto-foto yang menarik sebagai penunjang tulisannya, penulis konten sebaiknya juga memahami tentang seluk beluk website agar web yang ia kelola menarik bagi pembacanya.

  1. Memahami Seluk Beluk Digital Marketing

Seorang penulis konten sebaiknya juga memahami seluk beluk digital marketing agar tulisannya menarik calon pembeli. Salah satunya adalah dengan menjaga kualitas dan kuantitas artikel supaya mendapatkan traffic dari search engine. Hal ini tengah dipelajari oleh Wiwit yang sedang sibuk memasarkan training online dari Indscript.

rahayu pawitri, blogger perempuan, lifestyle blogger, content writer, penulis konten, arisan link

Duh, artikel kali ini banyak istilah teknis ya? Kalau ingin mempelajari lebih banyak tentang dunia penulisan konten dan digital marketing atau pengen tahu tentang suka duka penulis konten freelance,  langsung aja kepoin blognya Rahayu atau main-main ke blogging cornernya. Di sana banyak sekali artikel bermanfaat tentang dunia blogging yang bisa kita pelajari.

7 Kategori Menarik di Blog Ria The Chocolicious

ria tumimomor, ria the chocolicious, arisan link, blogger perempuan, lifestyle blog

Setiap membuat resensi blog dari teman-teman grup 5 Arisan Link Blog Perempuan, hal pertama yang saya lakukan adalah membuka satu per satu kategori dalam blog tersebut, memindai secara cepat tulisan-tulisan yang kiranya menarik, lantas mencari hal unik yang menjadi keistimewaan blog atau si empunya blog. Tapi, untuk kali ini saya kesulitan melakukannya. Bukan karena blog tersebut tidak bagus, justru karena hampir semua kategori di dalamnya sangat menarik untuk dijelajahi.

Yup, blog gado-gado yang lebih dikenal dengan istilah lifestyle blog milik Ria Tumimomor memang memiliki konten yang menarik bagi saya. Mulai dari kategori foto, review, culinary, fashion, travel, life dan interview layak untuk dijelajahi satu per satu karena isi masing-masing kategori berbeda. Nggak kaya punya *ehm* saya yang satu tulisan bisa masuk dalam beberapa kategori hehehe. Apa saja sih? Yuk, kita bahas satu persatu kategori di blog Ria The Chocolicious.

ria tumimomor, ria the chocolicious, arisan link, blogger perempuan, lifestyle blog

FOTO

Di kategori ini, Ria menulis tentang pengalaman dan pengetahuannya di bidang fotografi. Mulai dari tips foto yang keren sampai photography preference yang terbagi dalam 3 tulisan. Semuanya bagus dan bikin pengetahuan saya bertambah saat membacanya.

REVIEW

Di sinilah, Ria meletakkan semua resensinya mulai dari film, aplikasi telepon pintar sampai blog teman-teman dari grup 5 Arisan Link Blogger Perempuan. Dengan gaya tulisan yang to the point, artikel-artikel tersebut nggak membosankan untuk dibaca dan membuat saya ingin mencoba benda-benda yang diresensikan.

CULINARY

Pernah nggak sih pengen makan di suatu restoran tapi takut apakah makanannya halal atau enggak. Kalau di Brunei selama restoran tersebut nggak memasang plang warna merah bertuliskan Bukan Tempat Makan Orang Muslim, biasanya sudah memiliki sertifikat halal. Bahkan di foodcourt sisi penjual makanan halal dan non halal dibedakan. Jadi ya, santai aja.

Hal berbeda terjadi saat saya mudik ke Indonesia. Banyak tempat makan yang memang mengakomodasi kepentingan orang-orang yang tidak keberatan dengan halal tidaknya makanan tersebut. Sehingga harus benar-benar hati-hati dalam memilih atau bertanya langsung kepada pelayan restoran apakah kami bisa makan di tempat tersebut.

Nah, di blog Ria The Chocolicious, saya menemukan beberapa restoran yang menyajikan masakan non halal. Tentu ini sangat bermanfaat bagi pembacanya. Baik yang non muslim maupun muslim. Karena ternyata setelah saya membaca tulisan di kategori tersebut, teman-teman non muslim pun nggak jarang kesulitan mencari menu masakan tertentu di sebuah restoran. Dan aneka tempat makan yang diresensi Ria membuat kami mudah memutuskan untuk makan atau tidak makan di tempat tersebut tanpa ragu lagi.

FASHION

Setelah punya anak 2 dan berat badan bertambah 10kg sejak menikah 10 tahun yang lalu, saya menjadi buta fashion. Memilih mode baju pun rasanya serba salah. Pakai kaos dan jeans kok ya rasanya udah nggak sesuai umur, pakai gamis dan khimar kok kaya mau ke pengajian, pakai blouse dan celana model tertentu kok keliatan gemuk banget. Makanya saya jarang mau difoto seluruh badan sendirian. Nggak pede, cyyyn.

Tapi, artikel-artikel di kategori fashion blog Ria The Chocolicious membuat saya percaya bahwa apapun bentuk tubuh dan usia kita, akan selalu ada style yang cocok dan membuat kita tampil lebih menarik dan percaya diri. Minimal nggak malu-maluin kalau jalan bareng suami dan anak-anak di akhir pekan.

TRAVEL

Di sinilah Ria menuliskan kisah perjalanan di kota-kota yang ia kunjungi. Selain cara penulisan yang apik dan runut, tulisan tentang travel ini juga dilengkapi oleh foto-foto yang berkualitas bagus. Seolah-olah kita ikut berjalan-jalan bersama si pemilik blog ke tempat tersebut.

LIFE

Temukan segala yang berhubungan dengan pendapat Ria tentang isu yang sedang hangat saat ini atau tips mengurus administrasi yang diperlukan saat orangtua kita meninggal seperti penutupan rekening, pembuatan akta kematian, IPTM. Bagi saya itu penting untuk diketahui karena tahu sendiri kan ya, birokrasi di layanan kependudukan Indonesia masih agak ribet. Serius lho, untuk pindah KK aja dari Tuban saya diminta untuk ngasih foto, akta kelahiran, surat nikah dan dokumen lain yang sudah diminta kelurahan saat kami mendaftarkan diri sebagai penduduk kota Tuban. Coba, buat apa punya dokumen dobel-dobel gitu? Ribet banget kan? *curcol detected*

INTERVIEW

This one is really interesting. Biasanya kita hanya mengetahui sebuah akun media sosial, start up, brand fashion, buku tanpa tahu siapa yang ada di baliknya. Nah, di kategori ini kita bisa mengulik orang-orang tersebut dan mengenalnya lebih dalam. Belum banyak sih tapi seru. I really love to read about people, how they start somehing and how they could inspire others. Jarang-jarang ada blog yang menulis tentang ini apalagi dalam format tanya jawab, ini membantu sekali untuk saya yang susah fokus membaca tulisan panjang kali lebar dalam satu kali duduk. So, this category is my favorite.

Oya, untuk bisa membaca tulisan-tulisan tersebut dengan mudah, Ria meletakkan labelnya di bagian atas blog yang dapat terbaca begitu kita membuka halaman depan. Nggak cuma itu, bahkan blog ini punya aplikasinya sendiri lho. Pemilik gadget keluaran Apple bisa mengunduh aplikasi blog Ria The Chocolicious secara gratis via AppStore. Keren kan. Langsung aja main ke http://riatumimomor.com.

ria tumimomor, ria the chocolicious, arisan link, blogger perempuan, lifestyle blog

5 Tips Menjadi Ibu Produktif ala Ayu Novanti

life hacks, ibu produktif, ayu novanti, blogger, arisan link, blogger perempuan

Beberapa waktu lalu saya membaca status salah seorang blogger yang mencari ibu-ibu yang memiliki pekerjaan sampingan baik fulltime maupun parttime di luar aktivitas mereka sebagai ibu rumah tangga. Ternyata yang komen banyak sekali. Ada yang menjalankan usaha online shop, penulis, menjahit, menerima pesanan kue dan masih banyak lagi. Hebat banget ya ibu-ibu jaman sekarang, masih bisa meluangkan waktu untuk berkarya  di sela-sela kesibukan mengurus suami, anak-anak dan rumah. Teman saya Dahlian Ayu Novanti, salah satunya.

life hacks, ibu produktif, ayu novanti, blogger, arisan link, blogger perempuan

Pemilik blog ayunovanti dan toko online jahitanibu ini termasuk ibu rumah tangga yang berkarya di usianya yang masih sangat muda. Dan semuanya itu ia lakukan dari rumah lho. Nah, bagaimana kiatnya menjadi ibu yang berkarya dari rumah? Yuk, simak tips dari Vanti berikut ini.

Find Your Passion

Temukan hal kita sukai. Baik itu menulis, menjahit, membuat kue, desain web, desain baju, dan masih banyak lagi pilihannya. Vanti sendiri sebenarnya sudah ngeblog sejak SMA, namun baru tahun November 2014 memutuskan untuk menulis lagi karena suaminya membelikan website sebagai kado ulang tahun ke-24. Hal ini memacu semangatnya untuk kembali menulis, menyalurkan hobi lamanya.

Terbuka Dengan Tantangan Baru

Awalnya, blog ayunovanti.com hanya digunakan sebagai sarana curhat atau sekadar menuangkan isi kepalanya. Tapi setelah sempat bekerja di public relation agency, yang kebanyakan proyeknya melibatkan blogger, ia berusaha menulis lebih serius dan menjajaki kemungkinan memperoleh penghasilan tambahan dengan menjadi blogger profesional. Sekarang melalui blognya yang berkategori lifestyle blog, Vanti mulai mendapatkan tawaran kerjasama seperti job review dan menjadi content writer. Ia pun tak segan mengikuti lomba blog untuk mengasah kemampuan menulisnya.

Jangan Takut Jenuh

Namanya ibu-ibu yang baru belajar menghasilkan uang sendiri, seringkali kita merasa jenuh dan kemudian malas melanjutkan sesuatu yang sudah dirintis tersebut. Tapi sebaiknya perasaan bosan jangan dihindari. Kalau sedang jenuh dengan suatu kegiatan ya jangan dipaksakan untuk melakukan hal tersebut. Seperti yang dilakukan Vanti. Ibu yang baru melahirkan anak pertamanya pada bulan Agustus 2015 lalu ini, mencoba mengatasi perasaan bosan ngeblognya dengan cara rajin menengok ke komunitas blogger supaya dapat ilham menulis. Ketika kejenuhan belum teratasi, ia pun mencari proyek lain yang bisa menggugah semangatnya seperti Jahitan Ibu yang dirintisnya bersama sang mama.

Bergabung Dengan Komunitas Serupa

Untuk menjaga semangat dalam melakukan pekerjaan kita, sebaiknya bergabung dalam komunitas yang sejalan dengan kegiatan kita. Misalnya grup memasak, grup blogger, grup MLM, grup menjahit dan sebagainya. Manfaat lainnya adalah kita dapat memperoleh ilmu-ilmu baru, mendapatkan info-info terkini serta memperluas jaringan dan membuka rejeki.

Utamakan Keluarga

Sebagai ibu rumah tangga, tugas utama kita adalah mengurus suami, anak dan rumah. Sehingga kita harus mengatur waktu sebaik mungkin supaya kebutuhan anak dan suami tetap terpenuhi meski kita memiliki kesibukan lain. Begitu pula yang dilakukan oleh Vanti. Misalnya ketika harus meninggalkan anak untuk belanja kain, Vanti akan menyiapkan ASI perah bagi bayinya.

ayu novanti, ayunovanti.com, arisan link

Ternyata nggak susah kan ya menjadi ibu yang produktif? Intinya adalah menemukan passion dan pandai mengatur waktu aja sih. Vanti sudah membuktikannya walaupun menurutnya sampai saat ini, ia pun masih terus berusaha mengatur waktunya lebih baik.

Nah, untuk tips parenting lain serta serba-serbi kehidupan seorang ibu, yuk langsung main aja ke blog ayunovanti.com. Meskipun baru mulai ngeblog lagi sejak tahun 2014, blog Vanti memiliki konten yang menarik dan cara penulisan yang apik. Gaya bahasanya pun khas ibu muda jaman sekarang. Santai namun nggak alay sehingga membuat betah yang membacanya.

Hate Comments dan Media Sosial untuk Anak

anak dan media sosial

Kemarin sore saya baca postingannya Ira tentang seseartis yang sering sekali dibully hatersnya di media sosial. Nggak nyangka juga euy kalau hate comments yang dia terima di setiap postingannya di media sosial ternyata bisa berakibat seburuk itu untuk keluarganya, terutama anak-anaknya yang beranjak remaja. Nah, kalau diamat-amati ternyata nggak cuma artis yang diceritakan Ira dalam blognya itu yang sering dapat hate comment, banyak banget tokoh publik yang bernasib sama.

Coba aja tengok instagramnya teteh princess Syahrini atau Marshanda atau nggak usah artis deh, tokoh-tokoh negara yang harusnya kita hormati seperti Presiden Jokowi atau pendahulunya pak SBY pun nggak kurang-kurang hatersnya di media sosial. Sampai seringkali saya suka mikir, itu tangannya kok pada lemes banget ya nulis hal-hal seperti itu.

Sayangnya, hate comments ternyata nggak mengenal status sosial dan jenis postingan. Iya, dulu pernah ada yang bilang kalau status kontroversilah yang paling sering menuai hate comments tapi ternyata enggak juga lho. Saya kebetulan follow akun IG @cutegirlshairstyles dan anak-anaknya. Awalnya komen-komen di postingan mereka selalu positif karena kebetulan followernya adalah abege-abege yang sepertinya memang perlu role model positif. Tapi belakangan ini, ketika follower mereka sudah ribuan mulai ada beberapa yang suka komen, “You look so ugly,” “That outfit is ugly,” gitu-gitu deh. Padahal kalau diliat profilnya ya kebanyakan yang nulis gitu anak remaja lho. Kan jadi ngeri yah. Ini anak diajarin apa sama emak bapaknya kok bisa-bisanya komen seperti itu di akun media sosial orang yang nggak mereka kenal secara pribadi.

Makanya saya jadi maju mundur mau ngasih kakak Cinta akun media sosial pribadi meski sifatnya parent runs account. Bahkan upload videonya anak-anak di Youtube aja sekarang mikirnya berkali-kali lipat. Padahal dia sudah lama pengen punya channel Youtube atau minimal videonya diupload di channel Youtube saya, karena sering liat video-video keren yang dibawakan oleh anak-anak seusianya.

Lha gimana nggak ragu, wong video tentang menit-menit pertama setelah Cinta lahir aja ada yang iseng kasih komen jelek. Saya kan jadi takut kalau misalnya nanti video yang dia buat dengan susah payah tiba-tiba dikomen nggak enak. Saya nggak yakin dia sudah siap mental, jangankan dia, saya aja nggak siap. Ya, maklumin aja ya, namapun bukan seleb, dapat komen negatif di postingan blog sendiri aja sudah baper apalagi kalau anak yang dikomen.

komen yang saya terima di video Newborn Cinta

Iya sih, di dunia maya itu selalu ada troll, orang-orang yang emang hobi banget komen jelek di postingan siapa aja. Dan benar juga, adalah tugas saya untuk memfilter semua komen yang masuk sebelum anak baca. Plus nggak salah kalau ada yang bilang, kita nggak bisa selalu melindungi anak dari hal-hal negatif, termasuk komen di media sosial. Tapiiii, untuk saat ini saya memilih untuk menghindari sajalah.

Banyak orang di luar sana yang beranggapan kalau mereka berhak komen apapun di setiap postingan orang, kenal atau tidak. “Ya, kalau sudah berani posting harus terima resiko dikomen apa aja, dong!” Gitu biasanya pembelaan mereka. Padahal, sebenarnya kita kan selalu punya pilihan ya, mau komen atau tidak. Kalau nggak suka liat postingan orang bisa ditutup aja, unfollow atau apalah. Bukankah kita selalu diajarin untuk diam kalau tidak bisa berkata baik. Benar?

Maka itu saya sementara ini memilih untuk menunda ngasih Cinta main di media sosial. Kebetulan juga teman-temannya sekarang belum ada yang punya akun medsos. Entahlah kalau 2-3 tahun lagi.

Saya baru ngasih dia main Line dan BBM untuk komunikasi dengan keluarg. Dan memang dalam akun tersebut cuma ada keluarga di daftar temannya. Itupun nggak sering dia pakai karena Cinta lebih suka nonton tv dan youtube daripada chatting. Baru beberapa hari ini aja dia whatsapp-an sama sahabatnya di sekolah pakai akun WA saya di hp saya. Jadi semuanya bisa terkontrol.

Sembari menunggu waktu yang tepat mengijinkan Cinta menggunakan media sosial, berikut adalah beberapa PR yang harus saya selesaikan bareng Cinta untuk menyiapkan dia menghadapi “unik”nya interaksi di dunia maya.

1. Mengenalkan Cinta ke akun-akun populer termasuk komen-komen negatif di dalamnya.

Dengan begini Cinta bisa punya bayangan apa saja yang bisa dia hadapi saat posting sesuatu di dunia maya tanpa harus mengalaminya sendiri. Kami juga bisa berdiskusi tentang perasaan yang kira-kira dialami oleh pemilik akun saat membaca komen-komen negatif tersebut. Harapannya, kelak Cinta bisa lebih kuat mental, tidak melakukan hal yang sama (hate commnet) dan berpikir terlebih dahulu sebelum posting atau komen.

2. Set up the rules

Seperti tidak berteman dengan orang asing, harus lapor kalau dapat inbox dari orang tak dikenal, block teman yang suka komen negatif, be nice to people, nggak posting atau kirim pesan yang bisa mempermalukan orang lain dan berpikir sebelum posting. Ini penting lho, di jaman digital seperti sekarang orang bisa dengan mudah menilai kepribadian kita hanya dengan status-status di media sosial. Jadi ya sejak awal pengennya Cinta dan Keenan bisa lebih berhati-hati saat posting sesuatu. Berlaku juga untuk saya sih. Sebisa mungkin nggak posting sesuatu yang bisa bikin mereka malu.

aturan di media sosial untuk anak, media sosial untuk anak, anak dan media sosial

3. Mengajarkan Cinta tentang Privacy Setting.

Kapan hari saya baca di status FBnya mbak Chichi Utami kalau ABG sekarang lagi hobi tukeran password akun medsos dengan teman segengnya. Nah, bayangkan bahayanya kalau si teman ternyata nggak amanah misalnya, trus posting atau kirim pesan yang kurang baik atas nama si pemilik akun. Duh, saya kok jadi parnoan gini ya. Tapi nggak apa-apa, jadi pelajaran juga buat saya untuk selalu mengamankan password, setting postingan hanya untuk teman dan keluarga demi keamanan bersama. Better safe than sorry, right?

4. Jadi Contoh

Children see, children do. Kalau kita nggak bisa ngasih contoh bermedia sosial yang santun, gimana anak mau niru. Saya suka tuh ngintipin akun IGnya anak-anak artis seperti anaknya Ersamayori, Mona Ratuliu dan yang lagi ngetop sekarang Nauranya Nola Be3. Nah, ada aja lho komentator anak-anak yang suka nanya, “Eh, kamu sekolahnya di (sekolah Islam) tapi kok bajunya kaya gitu,” “Ih, gayanya nggak banget deh,” atau apalah komen-komen kepo nggak penting. Jadi ngebayangin jangan-jangan bapak ibunya juga gitu ya kalau di dunia nyata atau maya. Kepoan trus suka ngejudge pilihan orang yang berbeda. Aduh, amit-amit deh. Jangan lah yaaa.

Pengennya saya Cinta dan Keenan nanti bisa menghormati apa saja postingan temennya di dunia maya (kecuali pornografi, harus diblock tanpa ampun), nggak perlu ikut-ikutan posting sesuatu yang lagi tren kalau nggak sesuai dengan norma keluarga dan masyarakat, nggak share sesuatu yang belum bisa dipastikan keakuratannya. Jadi ya sekarang saya pun harus belajar bermedia sosial seperti itu. Berat? Iya. Seperti yang ditulis seseblogger tentang FoMO, pasti ada ketakutan untuk ketinggalan tren di media sosial. Takut dianggap nggak gaul. Tapi ya sudahlah, nggak semua yang lagi hits itu keren kok. Pinter-pinternya milih aja.

Ribet ya sepertinya. Mau ngasih anak main media sosial aja banyak PRnya. Dan jujur saya yakin sebenarnya dunia media sosial nggak sekejam itu. Banyak kok orang dan anak-anak santun yang pinter berinteraksi di dunia maya. Seperti di akun anak-anak artis itu. Banyak abege yang ngingetin teman-temannya yang ngasih komen negatif dengan cara yang baik.

Nah, itu jadi salah satu parenting goals saya di era digital ini. Menghasilkan anak melek teknologi digital yang tetap smart dan santun di dunia nyata dan maya. Repot banyak ya gapapa, memang resiko jadi orangtua. Semoga sih bisa. Aamiin.