Browsing Category:

Life as Mom

  • Life as Mom

    Komunitas Emak-Emak

    Di era digital, sumber informasi kita sebagai mamah mamah muda nan kece dan menawan bisa dibilang tak terbatas. Apa coba yang nggak bisa dicari di internet? Mulai dari info kehamilan, kesehatan, ASI, MPASI, parenting sampai sharing-sharing pengalaman para mama dalam mengasuh anak-anaknya semua ada di genggaman kita.

    Bingung dengan banyaknya mitos-mitos tentang pemberian ASI? Googling aja dan sekian banyak rekomendasi situs mulai dari yang resmi sampai yang abal-abal akan tersedia. Mau mulai MPASI tapi nggak tahu apa aja yang harus disiapin? Ubek-ubek deh arsip milis mpasirumahan yang super lengkap. Pengen cari rekomendasi dokter kandungan, dokter anak sampai merek cloth diaper dan sekolah yang oke bisa masuk ke forum-forum parenting. Atau kalau malas, tinggal update status aja di twitter sambil mention para ahli yang berbaik hati memberikan informasi secara cuma-cuma. See, hidup kita itu mudah sekali ya.

    6 tahun lalu, waktu masih hamil Cinta selain orang tua dan teman, sumber informasi andalan saya adalah majalah-majalah dan buku-buku parenting yang jumlahnya belum terlalu banyak. Milis yang saya ikuti pun cuma Mother & Baby, Ayahbunda dan asiforbaby. Itupun belum bisa mengakomodasi semua kebutuhan saya. Setelah Cinta lahir, baru deh mulai kenal sama forum-forum parenting di internet seperti The Urban Mama dan Mommiesdaily dan keberadaan mereka sangat membantu mama baru seperti saya yang awam dengan cara-cara merawat dan mengasuh bayi. Apalagi kemudian kedua forum ini melengkapi situsnya dengan tulisan-tulisan berisi pengalaman para mama dalam merawat anak-anaknya.

    Sekarang, sudah banyak sekali situs-situs dan komunitas parenting yang bermunculan dengan keunikannya masing-masing. Tinggal kita pilih sesuai dengan minat dan kebutuhan kita. Kalau favorit saya sih MomsGuideIndonesia, karena artikel-artikel yang ada di sana ditulis sesingkat mungkin sehingga nggak capek bacanya. Tip-tipnya juga praktis, baik yang diambil dari diskusi para mama via twitter atau facebook maupun hasil wawancara dengan para ahli kesehatan, keuangan, psikolog dan lain-lain.

    Nah, baru-baru ini saya menemukan situs dan komunitas emak-emak baru yang mengkhususkan diri menyiapkan anak-anak untuk life ready: FabMoms Network. Suka aja baca sharing para fabmoms -sebutan untuk para membernya- tentang pengalaman mereka mengajarkan anak-anak mulai dari table manner, puasa tv sampai mempersiapkan liburan yang menyenangkan. Nggak cuma itu sih, karena ada artikel-artikel yang ditulis oleh para ahli dan wawancara dengan selebriti moms. Kita juga bisa ikut berbagi dengan komen di artikel yang disuka dengan para member lain. Seru sih bales-balesan komen di artikel hihihi. Dapat ilmu, tempat curhat sekaligus teman baru di dunia maya deh.

    Kalo mommies, apa komunitas online favoritnya? Sharing yuuuk 🙂

  • Babbles

    Tahun Baru, Desain Blog Baru

    Tepat tanggal 1 Januari nanti, domain pojokmungil.com ini berusia 4 tahun. Huaaaa nggak terasa sudah selama itu nulis cerita macem-macem di blog ini. Meski jumlah postingannya belum terlalu banyak (230 postingan dalam 4 tahun itu sedikit kan ya?) karena penulisnya yang moody berbagai macam kesibukan yang bikin malas nggak sempat nulis, blog ini berarti banget buat saya.

    Kebetulan sejak mulai ngeblog tahun 2004, saya agak cerewet soal theme blog. Pertama kali bikin blog sih seorang teman lama berbaik hati ngajarin cara menghias blog dan kode-kodenya sampai bisa bikin desain blog (waktu itu masih di blogspot.com) sendiri. Tapi sekarang saya sudah nggak pernah lagi update ilmu sehingga akhirnya pasrah dengan themes-themes gratisan dari wordpress atau penyedia layanan template blog lain. Apalagi setelah pindahan ke wordpress.com yang mau nggak mau harus pakai themes yang sudah tersedia dan nggak bisa diutak-atik.

    Nah, rencananya tahun depan pengen kembali beli hosting untuk blog ini dengan tetap pakai platform wordpress dong, platform blog yang ternyaman menurut saya. Tapi kalau themes-nya masih gitu-gitu aja ya agak males juga sih. Untung mbak Shintaries berbaik hati bikin Giveaway: Blog Make Over, di mana pemenangnya nanti dapat didesainkan blog yang sesuai dengan keinginannya.

    Desain blog impian saya nggak ribet kok. Saya suka yang simpel-simpel aja seperti blognya mama idola keluarganugraha.net dan mbak ShintaRies sendiri. Yang penting background dasarnya putih polos dengan 2 kolom serta detil feminin dan warna-warna pastel. Tentunya lengkap dengan custom header dan icon-icon sosmed yang saya ikuti. Ya kira-kira temanya seperti yang ada di Pinterest Board saya ini.

    Kombinasi Warna

     

    Inspirasi Header dan Detil Blog

    Manis kan ya tema blognya, warnanya kalem dan hangat trus detilnya meski sederhana tetap feminin. Kebayang cantiknya blog saya nanti kalau didesainkan dengan inspirasi seperti ini. Apalagi saya lihat desain-desain mbak ShintariesI garis besarnya sesuai dengan desain blog impian saya. Yaaa, semoga saya beruntung menjadi salah satu pemenang giveaway ini. Supaya di tahun baru nanti blog tercinta ini punya wajah baru yang lebih segar.

  • Family Health

    Senam Yuk Senam

    Baca ceritanya Echie tentang senam hamil jadi kangen ikut senam rame-rame sesama bumil di RSIA. Dulu waktu hamil Cinta dibela-belain pulang kantor ikut senam di YPK padahal antara GatSu ke Menteng meski deket tapi macetnya amit-amit. Pas udah mau lahiran dan mudik ke Sidoarjo pun niat banget ikut senam di RS Mitra Keluarga Darmo Satelit padahal jauuuuh 😀 Tapi ya waktu itu angin-anginan sih, kalo pengen ikut kalo enggak ya tiduran aja di rumah hehehe. Setelah Cinta lahir blas nggak pernah olahraga.

    Nah sejak di Brunei dan punya waktu luang selama Cinta sekolah jadi kepikiran buat olahraga biar badan nggak gampang lemes. Tadinya sih ikut aerobic di salah satu klub fitnes 3x seminggu tapi cuma sebulan karena bosan. Akhirnya terinspirasi beberapa teman di twitter yang hobi lari ikutan deh lari seminggu 2-3x di playground yang ada jogging tracknya. Sayang begitu hamil kegiatan ini sempat berhenti karena nggak tahu apakah aman untuk ibu yang lagi hamil di trimester pertama.

    Setelah browsing dan nanya-nanya ke bidan juga teman yang ahli di bidang olahraga, mereka bilang selama kehamilannya sehat justru bumil disarankan olahraga. Minimal jalan kaki setiap hari selama 30 menit non stop. Berhubung saya nggak selalu bisa ke taman untuk jalan, akhirnya cari-cari deh di youtube senam hamil yang bisa dilakukan sendiri di rumah. Dan dari sekian banyak video yang ada, nemu beberapa yang paling nyaman dan sering saya lakukan.

    Biasanya sekali senam langsung 1 set sekaligus, bisa 3 video dari Dr. Cathy, 3 videonya Baby Fit atau ikut panduan dari  VCD Antenatal Yoga yang saya beli dari salah satu situs hypnobirthing di Indonesia. Selang-seling aja tergantung kondisi fisik dan hati. Itupun nggak setiap hari dan nggak berani memaksakan diri, yah maksimal seminggu 4x. Kadang kalau lagi kumat malasnya kurang fit ya bisa seminggu nggak workout sama sekali.

    Meski video-video ini membantu sekali untuk latihan di rumah tapi tetap aja merasa ada yang kurang, terutama sih karena instrukturnya nggak bisa langsung lihat kita dan ngasih tahu kalau ada gerakan yang kurang tepat. Juga belum nemu nggak ada latihan pernafasan dan persiapan melahirkan. Tapi untuk sekadar supaya badan tetap bugar dan mengurangi keluhan-keluhan bumil seperti sakit pinggang, otot kaku, kaki kram, workout semacam ini lumayan sekali. Moga-moga juga bisa membantu tetap fit selama proses persalinan nanti ya.

    Kalau mommies, ikut senam hamil juga nggak? Atau olahraga apa yang dilakukan selama hamil? Sharing yuuuuk 🙂

  • Life in Brunei, Parenting, Traveling

    Movie Playdate

    Saking seringnya liat trailer film Wreck It Ralph di Disney Channel, Cinta pengen banget nonton film besutan Disney ini. “Seru lho Ma, lucu,” katanya. Saya sih jujur aja ragu Cinta mau nonton film seperti ini karena bukan kesukaannya. Wong Toy Story series, Brave sama TinkerBell and The Great Fairy Rescue aja dia nggak suka. Sejauh ini, film bioskop yang bisa dia tonton sampai habis itu yang banyak lagu dan nari-narinya, macam Happy Feet 2 dan Madagascar 3.

    Tapi berhubung bolak-balik minta nonton, saya pikir dicoba aja deh daripada nganggur liburan di rumah ini. Dan setelah dijanjikan harinya, Cinta seneng sekali plus minta ijin untuk ajak teman sekolahnya yang juga tinggal satu apartemen sama kita, Xing Yuan. Begitu diiyakan, dia langsung bikin rencana, “Nanti aku dibelikan 2 popcorn ya, biar bisa makan sama XingYuan sambil nonton pakai 3D glasses. Trus abis itu makan di tempat bowling. Aku pengen spaghetti carbonara. It would be fun, mama.” Okesip kakaaaaaak.

    Pas hari H, mungkin karena nggak sabar atau ngantuk sebelum berangkat Cinta agak rewel. Dia berantem terus sama temannya. Bahkan di perjalanan pun beberapa kali nanya, “Can I sleep first in the car?” Sementara si teman sibuk nyanyi-nyanyi menghibur dirinya sendiri.

    Photobucket

    Sayangnya, begitu sampai di bioskop dan film dimulai, Cinta tegang. Belum ada separuh cerita udah sibuk bilang, “I don’t like this movie“, “I don’t want to watch this“, “Can I hug you, Mama?” “I want to get out” endebre endebre. Sedangkan XingYuan masih asik nonton sambil makan popcorn. Si mama yang lagi sensitif ini mulai kesal dan nyuekin dia sampai akhirnya pasrah duduk diem sambil ikut makan popcorn.

    Setelah 1 jam, pas lagi seru-serunya film, nengok ke kedua anak kecil itu sudah duduk lesu di kursinya masing-masing. Akhirnya diputuskan keluar dari bioskop dan lanjut makan siang. Baru deh mereka mulai tenang dan happy ngider di tempat bowling liat orang-orang main.

    Yah, ternyata memang ajak anak ke bioskop harus benar-benar pilih film yang mau ditonton ya. Kalau yang rating PG dan untuk tontonan keluarga belum tentu mereka suka, apalagi film dengan rating di atasnya, seperti Dark Night Rises, Skyfall, Breaking Dawn, dll. Pinjam istilahnya psikolog Ratih Ibrahim, film-film dengan rating PG-13, R, NC-17 cuma bikin trauma sampah kognitif pada anak-anak. Kok bisa, kan anak-anak belum ngerti apa yang dia tonton?

    Lha justru itu, fungsi kognitif anak belum matang betul untuk bisa mencerna dan paham apa yang mereka tonton. Apalagi kalau orang tua nggak berusaha menjelaskan dan mengarahkan pola pikir anak ke bagian-bagian positif dari tontonan itu. Jadi begitu liat adegan cium-ciuman, dar der dor dan berantem dengan suara keras bisa bikin trauma juga jadi sampah di kognisi mereka deh.

    Hmmm pelajaran juga pengalaman movie playdate sama anak-anak ini, harus hati-hati bawa anak ke bioskop. Yang buat kita bagus dan menghibur belum tentu bisa dinikmati anak. “You don’t know what garbage you inject to their mind,” kata mbak Ratih.

    Tapi jadi penasaran sama akhir ceritanya Wreck It Ralph nih. Apa dia beneran bisa diterima sebagai hero sama orang-orang di game Fix It Felix? Nggak sabar nunggu bisa download filmnya trus nonton sendiri deh pas Cinta tidur 😀

    Kalau anaknya suka nonton film apa, Moms di bioskop?

  • Life as Mom, Life in Brunei

    Our Family Is Growing By Two More Feet

    Waktu ulang tahun Cinta bulan Juni kemarin, sempat ngetwit harapan yang kira-kira isinya,

    Tahun kemarin ngerayain ulang tahun Cinta berdua aja, tahun ini komplit bertiga, tahun depan berempat?

    Eh, nggak nyangka banyak juga yang mengamini harapan itu. Dan ternyata Allaah pun berbaik hati mengabulkannya dalam waktu yang amat singkat.

    Di awal bulan Juli saya iseng pake testpack meski baru telat 2 hari dan ternyata hasilnya 1 garis merah tebal dan 1 garis merah tipis, persis seperti hasil testpack hamil Cinta dulu. Untuk meyakinkan diri, saya whatsapp adik yang dokter dan dia bilang kalo itu berarti positif hamil. Baru deh malamnya bilang ke suami yang berakhir dengan terdiam bengong bertiga dengan mata berkaca-kaca karena terharu trus peluk-pelukan. Duh, ini rejeki besar banget, pas menjelang Ramadhan lagi.

    Jujur aja meski pengen, punya anak lagi bukan prioritas utama saya saat ini. Masih banyak keraguan apakah sanggup merawat bayi lagi di saat Cinta sudah sebesar ini. Apalagi sekarang jauh dari keluarga besar dan nggak punya asisten rumah tangga. Belum lagi trauma post partum depression dan Cinta kolik dulu masih belum sembuh bener. Tapi begitu dikasih, rasanya seneng banget. Insya Allah ini yang terbaik buat kami.

    Awalnya kami nggak mau bilang-bilang dulu ke keluarga karena usia kandungan kan masih muda banget. Baru juga telat 2 hari. Kami berencana ngasih tahu keluarga saat mudik lebaran. Lagipula kami ingin pastikan ke dokter dulu. Jangan sampai udah kasih berita gembira eh ternyata false alarm.

    Jadilah setelah 1 minggu terlambat haid saya ke Pusat Kesihatan Sg. Liang untuk periksa kehamilan, sayangnya menurut tes urin hasilnya negatif. Dokter juga bilang masih terlalu dini untuk periksa dan disuruh kembali 2 minggu kemudian. Sedih banget  rasanya. Sempat kecewa juga dengan sistem di sini yang nggak kaya periksa di DSOG Indonesia, di mana baru telat sekian hari aja udah bisa USG transvaginal untuk ngeliat ada atau tidaknya kantung rahim.

    Karena penasaran sepulang dari klinik coba beli home pregnancy test digital supaya lebih akurat. Dan di hari yang sama hasil tesnya menunjukkan tanda kehamilan. Nah lhoooo hihihi… Bingung euy, yang bener yang mana coba.

    Seminggu kemudian saya coba periksa lagi ke klinik dokter umum swasta yang menunjukkan hasilnya positif. Dan pas di hari ulang tahun saya, hasil tes urine di Pusat Kesihatan di Sg. Liang juga menunjukkan tanda positif hamil. Alhamdulillaaaah ya akhirnyaaaa ada kepastian juga. Baru deh woro-woro ke keluarga di Indonesia.

    Sekarang sih kehamilannya sudah masuk usia 22 minggu. Alhamdulillah nggak ada gangguan berarti meski di trimester pertama sempat nggak doyan makan dan sekarang pun suka merasa capek dan mual. Tapi ya dinikmati aja lah, namanya juga lagi hamil. Toh, ada suami yang selalu ngasih suport bahkan rela mijetin dan gosokin punggung istrinya hampir tiap malam. Cinta pun tampak sayang banget sama adeknya. Walaupun ya adalah perubahan sikap yang menjurus ke arah sindrom anak-tunggal-mau-punya adek 😀

    PR selanjutnya adalah menjaga kehamilan agar tetap sehat sampai waktunya melahirkan nanti; memastikan mau melahirkan di Brunei atau di Indonesia sebelum usia kandungan memasuki trimester 3 dan menyiapkan fisik dan mental diri sendiri, suami  terutama Cinta akan kehadiran anggota keluarga baru nanti. Minta doa supaya semuanya lancar ya. Terima kasih 🙂

  • Family Health

    To Judge or To Support

    Baca curhatnya Yayas yang baru melahirkan 2 minggu yang lalu soal perjuangannya menyusui Nja, saya jadi teringat pengalaman sendiri menyusui Cinta 5,5 tahun yang lalu.

    Di saat ibu-ibu lain bisa menyusui dengan mudah, saya justru mengalami hal yang sebaliknya. Mulai dari ASI yang keluar sedikit sampai Cinta harus menyusu hampir tiap jam dan bisa 30 menit sekali saat growth spurt, nipple crack karena pelekatan yang nggak sempurna dan rasanya aduhai sekali, baby blues, mastitis dan kurangnya support dari lingkungan terdekat.

    Ya sih saya tahu, banyak yang mengalami hal yang sama dan tetap berhasil menyusui. Tapi saat disertai kondisi bayi yang kolik hampir tiap hari sehingga saya harus puasa makan daging ayam serta seafood selama hampir 6 bulan dan suami yang jauh serta post partum depression, membuat saya hampir menyerah. Bahkan di bulan pertama, sempat Cinta diberi susu formula sebagai tambahan ASI. Ini juga salah satu penyesalan terbesar saya selama menyusui.

    Meski akhirnya di bulan-bulan berikutnya bisa terus menyusui tanpa susu tambahan sampai usia 6 bulan dan lanjut sampai 2 tahun, pengalaman tersebut menjadikan saya untuk nggak mudah menghakimi para mama yang hampir atau akhirnya menyerah menyusui bayinya. Apalagi kalau saya hanya kenal di dunia maya dan tidak tahu bagaimana perjuangan mereka sebenarnya.

    Saya paham betul bahwa yang dibutuhkan saat berada dalam situasi seperti itu bukanlah ceramah, “Cuma sekian persen ibu di dunia ini yang secara medis ASInya nggak keluar. Sisanya pasti bisa, cuma nggak mau usaha aja.” Uh yeah, mungkin yang ngomong gitu belum ngerasain total tidur cuma 1 jam sehari selama beberapa hari berturut-turut karena terus-terusan menyusui bayinya.

    Atau, “Anak manusia itu minumnya ya susu manusia, bukan susu sapi. Yang minum susu sapi ya anak sapi.” Bahkan, “ASI is the best, sufor itu racun. Kamu tega apa ngeracunin anak sendiri dengan nggak mau ngasih ASI.” Nggak mau katanya, nggak tahu sini sudah jungkir balik mencoba berbagai cara supaya ASInya cukup untuk si bayi.

    “Banyak sedikitnya ASI itu cuma soal state of mind. Kamu harus yakin kalo ASImu cukup!” Tentu mudah dilakukan kalo nggak harus mendengar, “Sudahlah, ASImu itu nggak cukup. Liat anakmu nangis terus karena lapar. Mana berat badannya nggak naik-naik. Nggak usahlah sok ASI eksklusif-eksklusifan kalau bikin anak menderita gitu,” hampir tiap hari.

    Apalagi saat ibu-ibu lain dengan bangganya bercerita indahnya proses menyusui, ASI yang berlimpah sampai merembes-rembes di BH, sementara kami harus berjuang supaya hasil perahan di kantor bisa lebih dari 100cc tiap kalinya agar bisa dibawa pulang untuk minum si bayi. Asli, yang seperti itu sangat tidak membantu, bahkan nggak jarang bisa membuat kami makin down, akibatnya produksi ASI menurun karena stres.

    Tentu, banyak momen-momen indah yang dialami saat menyusui, melihat bayi mungil lahap menyusu dan tertidur dengan lelap setelah kenyang; eye to eye dan skin to skin contact yang meningkatkan hormon oksitosin dan terus merangsang let down reflex sehingga ASI keluar banyak menjadikan semua perjuangan itu terbayar lunas. Kebahagiaan melihat anak tumbuh sehat hanya dari ASI yang sekadar cukup (boro-boro mau donor ASI, bisa memenuhi stok untuk kejar tayang tiap hari aja sudah bersyukur sekali) membuat kami ikhlas harus menjalani semua itu.

    Hanya saja, seringkali dalam proses tersebut banyak hal yang dilakukan ibu-ibu lain atas dasar kepedulian dan niat baik malah justru bikin perjuangan kami makin berat karena cara yang kurang tepat.

    Yang kami butuhkan adalah telinga untuk mendengar, hati yang besar untuk bisa memahami kesulitan yang dialami serta penghargaan atas kemajuan usaha kami. Sederhana memang tapi nggak semua orang bisa melakukannya.

    Instead of saying things like I meant before, please kindly ask, “What can I do to help your breastfeeding process easier?” and mean it. Tawarkan solusi, bukan teori.

    “Aku ada kenalan konselor laktasi, kita ke sana yuk siapa tahu kamu bisa terbantu.”
    “Kamu mau ke dokter anak kenalanku yang pro ASI? Ajak ibumu sekalian biar bisa dukung kamu kasih ASI Eksklusif.”
    “Ini ada cara pijat payudara, siapa tahu bisa membantu melancarkan ASImu, bikin rileks juga lho.”
    “Temenku juga ada yang harus berjuang menyusui kaya kamu gini. Mau ngobrol sama dia? Ntar aku kenalin, siapa tahu dia bisa kasih tips-tips yang bisa membantu.”
    “Ada lho, grup ibu-ibu menyusui di daerah kita ini, ikutan gabung yuk pas kumpul-kumpul. Pasti seneng deh kalo bisa curhat di sana.”

    Bahkan seringkali mendengarkan kami curhat tanpa lantas memberi ceramah, menghibur, atau sekadar ngobrolin hal-hal lucu tentang kejadian sehari-hari bisa menjadi salah satu bentuk support yang efektif. Seperti yang dilakukan teman saya dulu, sesama busui yang menjalani long distance marriage dengan suami yang sering terbangun dini hari untuk menyusui.

    Meski dia jauh lebih beruntung karena ASInya berlimpah tak sekalipun menyombongkan diri. Bahkan kami saling bertukar info tentang krim yang bisa menyembuhkan nipple crack sampai menghilangkan stretch mark, saling curhat karena nggak bisa enak makan ayam dan seafood, tuker-tukeran resep sayur atau makanan yang bisa ngeboost volume ASI dan banyak hal sederhana lain. I was so grateful to have her as one of my support system beside my mom, husband dan kumpulan busui yang kemudian jadi cikal bakal terbentuknya asosiasi ibu menyusui di Surabaya.

    Kalau ada tetangga, saudara atau teman kantor yang sedang hamil ajak ikut seminar-seminar atau pelatihan laktasi. Kasih brosur atau buku-buku tentang menyusui tanpa embel-embel, “Harus bisa kasih ASI ya, itu kewajiban ibu, blablabla.” Just let it be their choice. Yang penting kita sudah berusaha.

    Seandainya sudah benar-benar nggak tahan pengen ngejudge karena segala usaha sebaik dan sehalus apapun yang kita lakukan nggak berhasil, sebisa mungkin simpan untuk diri sendiri atau ngobrolah dengan suami. Jadikan bahan pelajaran supaya kita siap dan tahu harus bagaimana seandainya hal seperti itu terjadi sama kita atau orang-orang terdekat.

    Stop judging, start supporting.

  • Family Health

    Mitos-Mitos Yang Menghambat IMD dan Faktanya

    Beberapa waktu lalu, saya dapat leaflet ini dari bidan tempat saya periksa kehamilan di Suri Seri Begawan Hospital, Brunei. Isinya bagus, tentang mitos-mitos yang menghambat inisiasi menyusu dini atau IMD secara normal. Tadinya sih mau dishare via twitter tapi setelah bikin draftnya lha kok jadinya buanyak banget. Jadi mending ditulis di sini aja deh, biar sekalian ada filenya juga, siapa tahu besok-besok perlu lagi.

    Leaflet Mistaken Beliefs Barriers To Normal Breastfeeding Initiation ini dikeluarkan oleh Kementerian Kesihatan Negara Brunei Darussalam dalam menyambut World Breastfeeding Week 2007, udah lama banget ya. Jadi kalo ada yang lebih update mohon koreksinya yah.

    Mitos-Mitos yang Menghambat IMD
    (Mistaken Beliefs Barriers to Normal Breastfeeding Initiation)

    1. Bayi akan kedinginan selama proses IMD
      Fakta:
      Bayi berada pada suhu yang aman saat terjadi skin-to-skin contact dengan ibu. Bahkan yang menakjubkan, suhu di daerah payudara ibu meningkat 0,5ºC dalam waktu 2 menit begitu bayi diletakkan di dada ibu.
    2. Kolostrum tidak baik, bahkan berbahaya bagi bayi.
      Fakta:
      Kolostrum sangat penting bagi bayi agar dapat tumbuh dan berkembang secara sehat:
      * Berfungsi sebagai imunisasi pertama yang melindungi bayi dari infeksi saluran cerna dan infeksi lain
      * Berfungsi sebagai pencahar (purgative) untuk mempersering pembuangan kotoran yang berwarna kehitaman untuk mengurangi sakit kuning (jaundice) pada bayi.
    3. Bayi tidak akan mendapatkan cukup makanan atau minuman bila hanya diberi kolostrum dan ASI
      Fakta:
      Kolostrum cukup untuk makanan pertama bayi. Adalah hal yang normal bila bayi baru lahir kehilangan 3-6% dari berat badannya saat lahir. Bayi dilahirkan dengan cadangan air dan gula dalam tubuh yang digunakan di hari-hari pertamanya.
    4. Bayi baru lahir membutuhkan teh khusus atau cairan lain sebelum diberi ASI.
      Fakta:
      Cairan prelaktal apapun (yang diberikan sebelum proses menyusui dimulai) dapat meningkatkan resiko infeksi pada bayi, mengurangi keberhasilan pemberian ASI eksklusif dan memperpendek waktu menyusui.
    5. Ibu terlalu lelah setelah persalinan dan melahirkan untuk dapat segera menyusui bayinya.
      Fakta:
      Sentuhan kulit secara langsung antara bayi dan ibu serta proses IMD merangsang pengeluaran hormon oksitosin yang membuat ibu merasa tenang setelah bersalin.
    6. Terlalu banyak hal yang harus dikerjakan dan waktu yang lama untuk membantu ibu melakukan IMD.
      Fakta:
      Ketika bayi berada di dada ibunya, petugas penolong persalinan dalam melanjutkan penilaian rutin terhadap ibu dan bayinya serta pekerjaan lain. Ini akan memberikan kesempatan pada bayi untuk mencari jalan sendiri ke payudara ibunya.
    7. Ibu membutuhkan pemberian obat untuk mengurangi rasa sakit setelah persalinan.
      Fakta: Kebanyakan ibu tidak memerlukannya. Terapi pengganti dan pendamping persalinan yang suportif dapat membantu ibu menahan rasa sakit. Obat penahan sakit atau bius hanya akan menyebabkan bayi mengantuk dan memperlambat inisiasi menyusu sampai beberapa jam atau hari.

    Nah, kalau sudah tahu faktanya jadi nggak ragu lagi kan untuk meminta dokter atau bidan memberikan kita kesempatan melakukan inisiasi menyusu dini segera setelah bayi dilahirkan.

    Dulu saat melahirkan Cinta tahun 2007, saya nggak dapat IMD padahal selama dokter dan bidan mengeluarkan placenta, menjahit perineum dan melakukan pemeriksaan, bayi diberikan ke saya meski dalam keadaan sudah terbungkus selimut. Payahnya saking bingung dan excited menimang bayi yang baru lahir itu, saya cuma bisa meluk sambil ngeliatin takjub si bayi.

    Selain itu selama di rumah sakit juga nggak bisa ngasih ASI Eksklusif karena saya nggak minta! Bego ya. Padahal sudah banyak belajar melalui milis ASI. Duh, nyesel banget tiap inget masa-masa itu. Makanya, kalau dikasih kesempatan melahirkan lagi nanti, sebisa mungkin pengen bisa IMD  yang seperti di video bikinan UNICEF Indonesia ini:

    Kebetulan RS di Brunei sini, khususnya Suri Seri Begawan Hospital sangat peduli terhadap pemberian ASI Eksklusif, sehingga mereka mendorong ibu yang melahirkan di sana untuk menjalani IMD dan rawat gabung (rooming in) dengan bayi.

    Tapi kalau ternyata berubah pikiran untuk melahirkan di Indonesia, sepertinya harus cari RS atau rumah bersalin di daerah Sidoarjo atau Surabaya Selatan yang mau melakukan IMD dan rawat gabung. Ada rekomendasi kah, moms/dads? Kalau moms sendiri pengalaman IMDnya dulu gimana? Cerita yuk 🙂

  • Relationship

    Karena Cinta, Katanya

    Gara-gara ngikutin kasus kisruhnya Limbad, bininya dan bini sirinya jadi ngeh kalau banyak orang yang menganggap perempuan-perempuan yang mau jadi pacar/selingkuhan/istri simpanan/istri kedua ketiga kesepuluh itu semata karena uang. Hmmm, mungkin karena yang terekspos di media massa kasus laki-lakinya pada tajir seperti Bambang Tri dan Raul Lemos ya.

    Padahal, 5 dari 6 perempuan yang saya kenal dan rela jadi madu itu alasannya pure karena cinta. Ciyuuuus? Cungguh? Miapah? plak Cuma yah kebetulan laki-laki yang punya perempuan lain ini kan kebanyakan sudah mapan secara materi dan biasanya orang yang lagi pedekate atau jatuh cinta akan rela ngasih atau beliin apa aja untuk kekasihnya. Dan yang dikasih ya seneng-seneng aja dong dapet gratisan, dari orang yang dia cinta lagi. Duh rejeki banget. Sebodo amat itu laki sudah punya istri, toh istrinya galak, nggak bisa bikin dia nyaman di rumah, lebih mentingin karir daripada suami, lebih sibuk ngurusin anak daripada suami, nggak enak dilihat alias kucel karena kalo di rumah dasteran terus nggak mau dandan, endebre endebre endebre… Kasian kan para lelaki ini, mereka korban kezaliman istri yang pantas dikasihi dan diberi cinta yang lebih baik. Gitu katanya.

    Sementara itu saat ketahuan selingkuh di depan istrinya mereka akan bilang,

    “Cewek itu kok yang ngejar-ngejar aku. Aku udah cuek, nggak nanggapin dia tapi terus gangguin. Maaf ya, aku khilaf akhirnya karena dipepet terus. Aku nyesel. Kamu masih mau kan terima aku? (tapi ternyata di belakang tetap selingkuh)”

    Ah, kasian para suami ini, jahat banget cewek-cewek jaman sekarang, hobi kok ngejar-ngejar suami orang. Nggak bisa cari yang single, apa? Coba kalo dia yang punya suami trus digituin orang, rela nggak? lalu muncul adegan labrak melabrak, cat fight, gerilya hape dan dompet suami, hack akun YM, FB, twitter suami, lakuin teror supaya si pengganggu ini nggak berani dekat-dekat lagi

    Berhasil? Belum tentu. Kata seorang teman,

    “Nggak gitu caranya kalo pengen aku balik lagi ke dia. Mestinya usaha dong untuk bisa dapetin hatiku lagi. Kalau main labrak gitu aku malah akan lebih condong belain pacarku. Kan kasian dia nggak salah kok digituin sama istriku. Aku juga males pulang ke rumah karena istriku pasti bakal marah-marah terus.”

    jorokin si teman ke jurang

    But sorry to say teman-temanku sesama istri, based on (other’s) experiences, this is true. Di mata orang yang lagi jatuh cinta, si selingkuhan ini nggak akan pernah ada salahnya. She’s to good to be true, soulmate yang telat ketemunya, seseorang yang bisa mengerti dan mencintai dia lebih baik dari istrinya. Semakin diserang, dua-duanya semakin mereka lengket dan saling melindungi, sementara jarak antara kita dan suami akan semakin jauhpukpuk ibu Atha Lemos dan mbak Susi Limbad.

    Kasus lain, suami yang lebih “gentle” akan bilang ke istrinya,

    “Aku ini punya cinta yang terlalu besar untuk satu orang, apa salahnya kalau aku bagi. Selama bisa adil kan?”

    Tapi ngomongnya setelah ketahuan selingkuh dan terjadi adegan ala ibu Halimah nabrakin mobil ke pagar rumah Mayangsari. Ini sama banget kaya twitnya Shahnaz Haque yang saya baca pagi tadi,

    Hati lelaki bagaikan hotel, banyak kamarnya untuk memasukan setiap wanita. Hati wanita hanya ada 1 kamar untuk 1 lelaki.

    Yup, memang nggak bisa dipungkiri. Hati laki-laki terlalu luas, cintanya terlalu banyak sehingga kemungkinan untuk bisa membagi itu besar sekali, meski kadarnya belum tentu sama. Sedangkan perempuan, cintanya hanya cukup untuk 1 lelaki yang akan bertambah dengan prosentase sama untuk masing-masing anaknya saat mereka lahir. Kalaupun suatu saat perempuan selingkuh dari suaminya, kebanyakan akan memilih untuk bercerai karena nggak bisa mencintai 2 pria dalam waktu bersamaan.

    Lalu kenapa banyak perempuan yang masih mau menjalin hubungan sama pria beristri, bahkan sampai berharap dinikahi? Well, menurut pengamatan saya sih karena pria-pria ini nampak lebih matang dan dewasa. Mereka juga lebih ngerti cara memperlakukan perempuan dan terbukti berkualitas, tuh ada perempuan yang sudah mau jadi istrinya. Lagipula kesempatan mendapatkan lelaki beristri pun konon lebih mudah karena ia hanya bersaing dengan 1 orang, ya istrinya itu. Sedangkan untuk dapetin pria lajang selain harus bersaing dengan sesama perempuan juga laki-laki lain.

    Saya nulis ini bukan karena mau ngebelain salah satu atau dua pihak sih, cuma membeberkan fakta kalau perselingkuhan terjadi bukan melulu karena uang. Itu cuma kebetulan kok. Wong tukang becak langganan saya di Indonesia aja bisa punya 2 istri.

    Kata para ahli, perselingkuhan bisa terjadi karena kesalahan 3 pihak, suami, istri dan orang ketiga. Penyebabnya permasalahan dalam rumah tangga yang nggak selesai karena komunikasi yang nggak baik antara suami istri atau ya sederhana aja, cinta yang datang pada waktu yang salah.

    Cuma sejujurnya nih, kalau emang karena cinta, saya lebih suka kalau para pria ini gentle mengakui di depan pasangan resminya sebelum mereka tahu dari sumber yang lain. Dan harus siap dengan segala resikonya, termasuk si istri minta cerai atau justru keukeuh mempertahankan pernikahan mereka dan meminta dia berpisah dengan kekasihnya. Semua cuma soal pilihan kok, mana yang lebih buruk di antara 2 hal yang nggak menyenangkan.

    Kalau memang benar-benar jantan dan dewasa, pasti berani kecewa karena harus menjalani sesuatu yang nggak enak. Hanya anak kecil yang nggak berani kecewa dan memilih sembunyi dalam kebohongan entah sampai kapan. Lagipula kalau memang cinta, masa iya tega bikin orang lain terluka demi kebahagiaannya sendiri?

  • Babbles, Life Hacks

    Think Twice Before You Tweet

    Belakangan ini, teman saya suhu Yohanes Hans lagi rajin ngetwit setelah sekian lama menghilang dari linimasa. Dan topiknya tentang awareness di sosial media, asli bikin saya merasa tertampar tamparbalik.

    Intinya sih, beliau mengingatkan kalau di era digital begini orang yang mau berbuat jahat bisa dengan mudah mengumpulkan informasi pribadi dari hal-hal yang kita bagi di internet, terutama twitter. Seringkali tanpa sadar kita menuliskan hal-hal yang bisa digunakan orang untuk mengumpulkan data, menganalisa dan membuat profiling tentang kita (langsung berasa nonton Criminal Minds). Huaaaa masa sih?

    Serius lho, pernah nggak sih kita ngetwit:

    Selamat ulang tahun mamaku tersayang, ibu (nama lengkap) yang ke-65.

    Tahu nggak kalau nama ibu kandung itu adalah informasi penting yang digunakan oleh bank dan kartu kredit untuk verifikasi data. Once people know about our mother’s name; bank yang kita gunakan dari status seperti:

    Lagi antri nih di Bank Capek Antri, kalo nggak perlu buat online shop, males deh punya tabungan di sini

    alamat rumah:

    Bu ibu, jangan lupa ya ntar sore dateng arisan ke rumah gue. Alamatnya: Jalan xxxxxx

    dan tanggal lahir kita:

    alhamdulillah, udah tambah lagi umur gue hari ini. 25 is great, right?

    bisa mereka jadikan alat untuk bobol rekening kita di bank. Serem yeuuuh.

    Menurut suhu Yo, twit tentang kondisi kita di suatu keadaan tertentu juga bisa digunakan orang untuk merancang situasi yang bisa bikin kita lengah, dia contohin beberapa status:

    Duh, naik sepeda malem-malem keluar kompleks gini bikin bingung dan takut.

    lagi di taksi, tidur dulu ah

    tiap pakai high heels selalu pusing dan mau pingsan

    tiap hisap asap rokok, pikiran selalu blank.

    Dengan ngumpulin twit seperti ini, orang tinggal perlu cari konsistensi dari perilaku kita terhadap kondisi itu untuk menjadikan kita korban kejahatannya.

    Yang saya jadikan highlight dari beberapa twitnya om suhu (sebenarnya banyak contoh-contoh lain, silakan mampir di akun twitternya @yohanes_hans yah) adalah betapa seringnya kita eh saya ding, berbagi data tentang keluarga, terutama anak. Siapa namanya, berapa umurnya, di mana sekolahnya plus check in tiap jemput anak di foursquare, siapa nama gurunya, kelas berapa sampai berapa kali kita terlambat jemput mereka di sekolah. Ternyata itu bahaya banget sodara-sodara. Kepikiran nggak dengan data-data itu yang bisa dilacak dengan mudah di twitter, foursquare, google maps, orang yang emang niat jahat bisa gampang menculik anak di sekolah.

    Lantas saya jadi mikir sendiri, kalau begitu sama dong dengan status-status:

    si Ayah nih nggak pulang-pulang dari kantor, udah ngantuk banget nungguinnya.

    paling nggak suka kalau suami dinas luar kaya gini. pusing ngurusin rumah sendirian, takut juga kalau malam.

    duh, ayang nih, selalu terlambat jemput kantornya. Jadi bengong bego deh di tempat abang siomay. Mana sendirian lagi.

    yang memberikan informasi bahwa di hari-hari tertentu kita sedang sendiri dan merasa tidak nyaman dalam kondisi tersebut. Tinggal tunggu informasi selanjutnya dan konsistensinya aja, misal si ayang telat jemputnya hari apa aja sih, suami dinas luar berapa minggu sekali dan berapa hari, juga si ayah telat pulang hari apa aja biasanya. Jadi deh kita calon korban yang empuk. Jeng jeeeeng….

    Memang sih, kita bebas mau nulis apapun di sosial media tapi juga harus tahu resiko yang dihadapi itu apa aja. Kalau kata suhu Yo, “Disarankan untuk tidak menulis alamat rumah kita, nomor mobil kita dan kebiasaan buruk kita yang berhubungan dengan semua hal itu.” Nggak ada ruginya kok lebih berhati-hati saat eksis di dunia maya sekarang, apalagi om suhu bilang, “Belakangan saya punya firasat kuat kalo sindikat perdagangan wanita & anak di Indonesia udah semakin paham memakai info di dunia maya.”

    Oya, satu lagi pesannya, “Yang juga penting adalah men-setting agar foto foto bersifat personal di akun Facebook kita tidak ‘open for public‘ yg artinya bisa dilihat oleh semua orang yg tidak masuk dalam friend list kita. Foto foto yg disetting ‘open for public‘ hanya disarankan utk item atau produk dagangan yg diperjualbelikan. Kita bisa melihat kesalahan semacam ini dilakukan oleh para remaja putri ABG sekarang yg settingan foto di akun Facebook mereka bisa dilihat oleh semua orang asing yang bukan teman mereka. Untuk jaman sekarang hal seperti itu kurang baik karena mengundang hal yang beresiko, yang kita tidak tahu apa yang bisa dimanfaatkan dari foto foto tersebut.”

    Uh well, better safe than sorry kan yah?