Browsing Category:

Life as Mom

  • Life as Mom

    Diam atau Lerai?

    Cerita tentang anak yang dikasarin sama pengasuhnya sepertinya sudah sering sekali terdengar. Saya sendiri sudah beberapa kali lihat anak yang dicubit atau dipukul sama ART atau babysitternya. Dan kemarin kok ya pagi-pagi sudah dikasih kesempatan jadi saksi mata kejadian serupa di sekolah Cinta. Adik kelasnya Cinta diseret-seret, didorong sampai kena tiang trus didudukan dengan kasar sambil dibentak oleh amahnya (sebutan untuk asisten rumah tangga di Brunei) karena dia kabur dari kelas untuk ngejar ibunya yang sudah jalan ke parkiran mobil.

    Meski ini bukan pertama kalinya berada dalam situasi seperti itu, tetap saja saya bingung harus ngapain. Mau negur takut si pengasuh malah makin marah (ke anak dan ke kita) tapi diam saja pun kasihan sama anaknya. Biasanya sih saya akhirnya berusaha cuek sambil memerhatikan kalau makin kasar baru ikut campur seperti yang saya lakukan kemarin. Cuma kok hati kecil ini masih bertanya-tanya apa iya yang saya lakukan itu sudah benar?

    Akhirnya saya minta pendapat ke teman-teman di facebook dan twitter mengenai apa yang sebaiknya dilakukan kalau menemui kejadian itu lagi dan begini tanggapan mereka,

    Photobucket Pictures, Images and Photos

    Ditegur, nggak usah berlebihan negurnya ntar dikira ikut campur. – Indah

    Ditegur, “Kenapa?” gitu aja… Biar yang kasar nggak keterusan kasarnya dan nggak terlalu ikut campur. – Ina

    Klo orangtuanya teman qta, baiknya ditegur n tanya. kalo pengasuh, selain ditegur kayaknya bilangin ke orang tuanya lebih bagus.. soalnya kasian anaknya, orang tuanya blom tentu tau ulah pengasuhnya.. – Lina

    Laporkan ke komnas perlindungan anak… – Fais

    Kalo pengasuhnya yg ngasarin, kyknya aku bakal ikut campur deh mba… tp pasti pengasuhnya g peduli jg ya. pasti bkl ngeloyor gitu kan. trus kita sakit ati.. hahahaha.. dibiarin aja lah slma ga mukul – Ratu

    Pura-pura nggak liat dan belagak bego. Semoga si anak baik-baik aja – Yudith

    Dibilangkan k gurunya aja.. Di skul nya anakku jg ada yg gitu. – Wenika

    Kalo kenal ortunya, gimana kalo kasih tau ortunya aja, mbak? Dengan hati hati jg ofkors :3 – Mitra

    Tanyain gurunya kontak ortunya mbak. Aduin. Biar ada tindakan preventif. Kasihan, udh dibayar koq gitu *pengen ngacak2 muka amah – Yayas

    “Ya dibilangin to, ‘Sabar mbak, kasihan anaknya’ gitu.” – suami

    Kalau kalian, tindakan apa yang akan dilakukan saat berada pada situasi seperti itu?

  • Relationship

    Rumput Tetangga Tidak Selalu Lebih Hijau

    Ngobrol sama mama, khususnya selama beliau berkunjung ke Brunei kemarin, selalu memberikan pencerahan-pencerahan baru. Terutama dalam hal relasi dengan pasangan. Selama ini, sering saya merasa bahwa pernikahan orang-orang di sekitar saya lebih hangat dan menyenangkan. Kadang juga suka iri melihat pasangan-pasangan yang sudah menikah lebih lama tapi masih tampak mesra dan hangat. Sementara saya dan suami masih terus beradaptasi satu sama lain yang nggak jarang menimbulkan friksi atau sesekali merasa, “Ini orang cinta nggak sih sama saya?”

    Tapi ternyata halaman tetangga memang nggak selalu lebih indah. Kalaupun terlihat lebih hijau kita juga nggak tahu perjuangan apa saja yang mereka lakukan untuk merawat tanaman-tanaman itu supaya nampak segar dari luar. Bisa jadi mereka juga bertengkar menentukan pupuk apa yang mau dipakai, siapa yang harus menyiram bunga dan menyiangi rumput secara rutin. Atau meski terlihat indah, bukan nggak mungkin di dalamnya banyak ulat yang pelan-pelan menggerogoti dedaunan dan akarnya mulai rapuh. Makanya nggak heran kalau lantas banyak pasangan yang pernikahannya keliatannya baik-baik saja tiba-tiba bercerai atau terlibat berbagai macam masalah.

    Siapa yang sangka kawan yang selalu mesra dengan suaminya saat di depan orang lain ternyata suaminya sudah bertahun-tahun selingkuh dengan rekan kerja dan mertuanya selalu menyalahkan dia. Sementara di rumah lain, seorang saudara yang berlimpah materi, dikaruniai anak-anak pintar yang cantik dan ganteng ternyata nggak bahagia karena suaminya hanya mau berhubungan jika ia yang memulai lebih dulu. Atau ada yang bermasalah dengan kebiasaan suaminya minum minuman keras dan merokok sementara si istri ingin di usia yang semakin tua bisa lebih taat menjalankan perintah agama.

    Dari sharing cerita-cerita seperti inilah saya banyak belajar bahwa yang namanya memanage kehidupan berumah tangga itu sama seperti mengasuh anak. Nggak ada sekolahnya dan nggak ada habisnya. Kadang, saat kita sudah mulai nyaman ada saja ujian-ujian baru yang kalau berhasil kita lewati akan membawa kita ke level yang lebih tinggi.

    Jadi nggak usah iri sama pernikahan orang lain dan sibuk membanding-bandingkan dengan keluarga kita. Fokus aja memperbaiki dan terus menjaga supaya pernikahan kita nyaman untuk semua pihak. Seperti kata mak Henny di status Facebooknya:

    Ngga usah pusing & iri soal rumput tetangga yang keliatan lebih hijau, yang terpenting menjaga rumput kita supaya nyaman untuk kita sendiri.

    Dan buat kamu yang sedang berjuang mempertahankan keutuhan pernikahannya, yes you know who you are, dearBe strong, this too shall pass. Apa yang telah terjadi akan mengubah rasa dan makna pernikahan itu sendiri. Rasa sakit yang dialami sekarang mungkin nggak akan pernah hilang. But please remember, there’s always a rainbow right after the storm. Tapi kalaupun sudah nggak sanggup lagi berjuang, maybe it’s time to let goAnd we always be there for you.

  • family dinner, makan malam bersama keluarga
    Parenting

    6 Manfaat Makan Bersama Keluarga

    Adakah yang keluarganya punya rutinitas makan bersama di rumah sambil berbagi pengalaman dan perasaan mereka? Di keluarga saya rutinitas itu dimulai 20 tahun yang lalu, ketika kami menempati rumah sendiri setelah bertahun-tahun tinggal di rumah almarhum Opa dan Mami.

    Hampir setiap malam -dan kalau akhir pekan ketambahan waktu sarapan dan makan siang- kami duduk dan makan bersama. Ngobrol ngalor ngidul tentang apa saja. Mulai dari kejadian di sekolah, pengalaman di kantor, supir angkot yang rese, kejadian lucu bersama pacar masing-masing sampai mengatur kegiatan untuk keesokan harinya.

    Buat saya, rutinitas sederhana ini sangat berarti. Maklum, kedua orang tua saya bekerja dan di momen makan bersama inilah quality time kami sebagai keluarga terjaga. Saya dan adik-adik bisa ketemu dan berkomunikasi dengan orang tua, beliau juga tetap bisa memantau perkembangan kami sehari-hari.

    Setelah beranjak dewasa, jenis obrolan pun berubah. Bukan melulu kegiatan sehari-hari tapi juga rencana masa depan, pengalaman-pengalaman inspiratif, masalah-masalah yang sedang dihadapi masing-masing anggota keluarga, sharing ilmu parenting sampai gosip artis, politik, ekonomi dan hal-hal yang lagi ramai dibicarakan media massa.

    Apalagi ketika saya masih tinggal di rumah setelah melahirkan Cinta, cerita-cerita dari mama dan adik-adik adalah penghubung saya dengan dunia luar. Pengobat rindu akan dinamika kantor.

    Dari meja makanlah saya tahu gedung anu sedang direnovasi, jalan di dekat kantor itu rusak parah sampai menimbulkan kemacetan berkilo-kilo meter, adik saya yang bungsu sedang bertengkar dengan sahabat-sahabatnya, si tengah mau resign dari pekerjaannya, bagaimana usaha mama dan timnya menghadapi orang-orang yang melakukan demonstrasi di kantor, saudara yang ini mau menikah atau bercerai dan masih banyak lagi.

    Banyak permasalahan yang selesai di meja makan, nggak sedikit juga air mata yang tumpah saat sesak hati terbagi di sana tapi canda dan tawa pun acap kali mengalir manis. Meski makanan di piring sudah habis, obrolan akan terus berlanjut sampai ada yang memulai beranjak dari kursi.

    Sekarang, setelah merantau jauh dari rumah, ketukan lembut di pintu kamar dan suara si bibik yang memanggil, “Mbak, diajak makan sama Ibu,” yang diikuti suara pintu-pintu terbuka menandakan penghuninya keluar kamar masing-masing serta riuh kursi yang digeret dan denting sendok beradu dengan piring adalah salah satu hal yang paling saya rindukan. Karena setelah itulah keseruan dimulai.

    Sayang, kebiasaan itu belum bisa rutin saya terapkan setelah berumah tangga sendiri, karena seringkali saya dan anak-anak makan sendiri-sendiri sementara suami belum pulang kerja. Tapi sebisa mungkin saya membiasakan ngobrol sama anak-anak saat mereka makan (walaupun kadang sambil diselingi nonton tv hehehe). Baik tentang cerita tv yang dia tonton, kejadian di sekolahnya sampai imajinasi-imajinasinya yang heboh.

    Update 2/9/2016

    Namun, sejak kakak Cinta mulai puasa, kami selalu berusaha untuk berbuka puasa bersama di meja makan. Meskipun hanya makan untuk takjil. Dan ternyata hal ini menjadi pengalaman yang menyenangkan untuk Cinta dan Keenan. Setiap adzan Maghrib berbunyi, mereka langsung berlari ke meja makan dan duduk manis menyantap camilan di sana sambil ngobrol dan merencanakan menu untuk buka puasa keesokan harinya. Ketika Ramadan akan berakhir, kakak Cinta sempat merasa sedih karena akan merindukan momen makan bersama di meja makan. Ternyata hal sederhana seperti itu berarti sekali ya buat anak-anak.

    family dinner, makan malam bersama keluarga

    Selain itu, banyak sekali manfaat yang bisa kita dapatkan dari makan bersama keluarga di meja makan dan ini beberapa di antaranya:

    1. Mengeratkan Ikatan Batin Antar Anggota Keluarga

    Obrolan saat makan bersama meningkatkan bonding antar anggota keluarga. Kesempatan ini bisa kita gunakan untuk berbagi informasi dan berita yang terjadi hari ini yang pasti dianggap penting oleh si pencerita, membuat rencana akhir pekan, memberikan perhatian ekstra kepada anak-anak setelah hari yang sibuk di sekolah dan tempat les. Kebiasaan ini jika dirutinkan dapat memberikan perasaan hangat, aman, dicintai dan saling memiliki, hal yang dibutuhkan anak untuk tumbuh menjadi pribadi yang solid dan tidak mudah terpengaruh hal buruk di luar sana.

    2. Sarana Belajar Etika

    Waktu makan bersama keluarga bisa jadi kesempatan yang baik untuk mengajarkan anak tentang tata krama di meja makan serta etika makan yang baik yang berguna untuk kemampuan sosialisasinya kelak. Tentu suasananya harus dibuat nyaman sih, jangan dikit-dikit dimarahin kalau ada yang tumpah atau anak makan pakai tangan kiri atau mengambil sendok yang salah. Berikan saja contoh. Ingat, anak belajar dari meniru.

    3. Kesempatan Untuk Mengenalkan Makanan Baru

    Si kecil dan suami picky eater? Nah, makan bersama ini bisa kita pergunakan untuk mengenalkan satu jenis makanan baru bagi mereka. Sajikan bersama menu lain yang sudah familiar dan ajak anak untuk mencicipinya. Pertama kali ditolak itu biasa, konon perlu 8-10 kali pengenalan terhadap satu jenis makanan sampai anak mau mencobanya. Manfaat mengenal makanan baru ini seperti memulai hobi baru, dapat mengembangkan pengetahuan, pengalaman dan ketrampilan anak dengan cara:

    1. Coba masakan dari budaya atau negara yang berbeda.
    2. Pilih sayuran segar dari penjual sayur di pasar.
    3. Minta anak memilih sendiri masakan yang ingin dia coba dari buku resep, situs penyedia resep masakan, majalah atau buku ceritanya.

    4. Memberikan Gizi Yang Seimbang

    Sebenarnya malu nulis yang ini karena jujur aja, menu masakan di rumah saya belum seimbang banget. Tapi setidaknya masakan rumah lebih sehat dari makanan cepat saji karena biasanya dibuat dengan bahan-bahan terbaik dan kurang bahan pengawet atau penyedap rasa. 

    5. Mengajarkan Anak Untuk Mandiri

    Dengan mengajak anak untuk menyiapkan makan malam, meskipun jadi lebih lambat dan berantakan, biasanya anak akan lebih lahap makannya. Selain itu, mereka juga jadi mengamati bagaimana makanan bisa sampai di meja makan sehingga diharapkan nggak lagi membuang-buang makanan. Bikinnya susah, bok. Ketrampilan menyiapkan makanan ini tentu akan bermanfaat saat mereka besar dan harus hidup mandiri nanti ya. Jadi ajak aja si batita menyobek daun selada untuk salad, memetik kacang panjang (ssstt, bisa melatih motorik halusnya juga lho), atau mengatur alas piring di meja makan. Sementara kakak yang sudah SD dapat membantu mengupas buah atau membuat adonan. Sedangkan si remaja dapat diberi tugas untuk mengiris bumbu, membumbui lauk, menggoreng, dan memanggang. Hmmm, trus mama tinggal jadi mandor aja yaaa hihihi. Senang kan.

    6. Mengurangi Perilaku Buruk dan Meningkatkan Nilai Akademis

    family dinner, makan malam bersama keluarga

    it’s messy but it works

    Ini lho yang belakangan ini sering disuarakan oleh para pakar parenting. Mereka mengajak para orangtua, terutama ayah untuk meluangkan waktu makan bersama anak-anaknya di rumah, karena ternyata penelitian membuktikan bahwa anak yang secara rutin makan malam bersama keluarga minimal 5 kali dalam seminggu memiliki kecenderungan lebih rendah terlibat narkoba, merokok dan minum minuman keras. Kenapa? Kembali ke poin pertama, saat anak merasa nyaman dan dicintai, mereka nggak akan cari pengakuan di luar rumah kan. Dengan demikian mereka akan lebih bersemangat untuk belajar dan berprestasi di sekolah. Tapi gimana kalau nggak bisa 5 kali dalam seminggu? Ya sesempatnya saja, tapi jadikan itu hal yang rutin dan pastikan acara makan bersama menjadi ajang yang menyenangkan, bukan tempat anak dimarahin, diberi nasihat atau dihakimi. 

    Sampai sekarang, tradisi makan bersama keluarga di meja makan, masih lestari di rumah mama saya. Meja makan yang sudah menemani kami makan selama lebih dari 20 tahun itu menjadi saksi bisu kehangatan, pertengkaran dan keriuhan keluarga kami. Saking betahnya, kadang selepas makan pun kami nggak langsung beranjak, apalagi setelah saling berjauhan seperti saat ini. Obrolan terus berlanjut sampai anak-anak meminta perhatian kami orangtuanya.

    Jadi, apa topik obrolan meja makanmu hari ini?

  • Life as Mom

    Komunitas Emak-Emak

    Di era digital, sumber informasi kita sebagai mamah mamah muda nan kece dan menawan bisa dibilang tak terbatas. Apa coba yang nggak bisa dicari di internet? Mulai dari info kehamilan, kesehatan, ASI, MPASI, parenting sampai sharing-sharing pengalaman para mama dalam mengasuh anak-anaknya semua ada di genggaman kita.

    Bingung dengan banyaknya mitos-mitos tentang pemberian ASI? Googling aja dan sekian banyak rekomendasi situs mulai dari yang resmi sampai yang abal-abal akan tersedia. Mau mulai MPASI tapi nggak tahu apa aja yang harus disiapin? Ubek-ubek deh arsip milis mpasirumahan yang super lengkap. Pengen cari rekomendasi dokter kandungan, dokter anak sampai merek cloth diaper dan sekolah yang oke bisa masuk ke forum-forum parenting. Atau kalau malas, tinggal update status aja di twitter sambil mention para ahli yang berbaik hati memberikan informasi secara cuma-cuma. See, hidup kita itu mudah sekali ya.

    6 tahun lalu, waktu masih hamil Cinta selain orang tua dan teman, sumber informasi andalan saya adalah majalah-majalah dan buku-buku parenting yang jumlahnya belum terlalu banyak. Milis yang saya ikuti pun cuma Mother & Baby, Ayahbunda dan asiforbaby. Itupun belum bisa mengakomodasi semua kebutuhan saya. Setelah Cinta lahir, baru deh mulai kenal sama forum-forum parenting di internet seperti The Urban Mama dan Mommiesdaily dan keberadaan mereka sangat membantu mama baru seperti saya yang awam dengan cara-cara merawat dan mengasuh bayi. Apalagi kemudian kedua forum ini melengkapi situsnya dengan tulisan-tulisan berisi pengalaman para mama dalam merawat anak-anaknya.

    Sekarang, sudah banyak sekali situs-situs dan komunitas parenting yang bermunculan dengan keunikannya masing-masing. Tinggal kita pilih sesuai dengan minat dan kebutuhan kita. Kalau favorit saya sih MomsGuideIndonesia, karena artikel-artikel yang ada di sana ditulis sesingkat mungkin sehingga nggak capek bacanya. Tip-tipnya juga praktis, baik yang diambil dari diskusi para mama via twitter atau facebook maupun hasil wawancara dengan para ahli kesehatan, keuangan, psikolog dan lain-lain.

    Nah, baru-baru ini saya menemukan situs dan komunitas emak-emak baru yang mengkhususkan diri menyiapkan anak-anak untuk life ready: FabMoms Network. Suka aja baca sharing para fabmoms -sebutan untuk para membernya- tentang pengalaman mereka mengajarkan anak-anak mulai dari table manner, puasa tv sampai mempersiapkan liburan yang menyenangkan. Nggak cuma itu sih, karena ada artikel-artikel yang ditulis oleh para ahli dan wawancara dengan selebriti moms. Kita juga bisa ikut berbagi dengan komen di artikel yang disuka dengan para member lain. Seru sih bales-balesan komen di artikel hihihi. Dapat ilmu, tempat curhat sekaligus teman baru di dunia maya deh.

    Kalo mommies, apa komunitas online favoritnya? Sharing yuuuk 🙂

  • Babbles

    Tahun Baru, Desain Blog Baru

    Tepat tanggal 1 Januari nanti, domain pojokmungil.com ini berusia 4 tahun. Huaaaa nggak terasa sudah selama itu nulis cerita macem-macem di blog ini. Meski jumlah postingannya belum terlalu banyak (230 postingan dalam 4 tahun itu sedikit kan ya?) karena penulisnya yang moody berbagai macam kesibukan yang bikin malas nggak sempat nulis, blog ini berarti banget buat saya.

    Kebetulan sejak mulai ngeblog tahun 2004, saya agak cerewet soal theme blog. Pertama kali bikin blog sih seorang teman lama berbaik hati ngajarin cara menghias blog dan kode-kodenya sampai bisa bikin desain blog (waktu itu masih di blogspot.com) sendiri. Tapi sekarang saya sudah nggak pernah lagi update ilmu sehingga akhirnya pasrah dengan themes-themes gratisan dari wordpress atau penyedia layanan template blog lain. Apalagi setelah pindahan ke wordpress.com yang mau nggak mau harus pakai themes yang sudah tersedia dan nggak bisa diutak-atik.

    Nah, rencananya tahun depan pengen kembali beli hosting untuk blog ini dengan tetap pakai platform wordpress dong, platform blog yang ternyaman menurut saya. Tapi kalau themes-nya masih gitu-gitu aja ya agak males juga sih. Untung mbak Shintaries berbaik hati bikin Giveaway: Blog Make Over, di mana pemenangnya nanti dapat didesainkan blog yang sesuai dengan keinginannya.

    Desain blog impian saya nggak ribet kok. Saya suka yang simpel-simpel aja seperti blognya mama idola keluarganugraha.net dan mbak ShintaRies sendiri. Yang penting background dasarnya putih polos dengan 2 kolom serta detil feminin dan warna-warna pastel. Tentunya lengkap dengan custom header dan icon-icon sosmed yang saya ikuti. Ya kira-kira temanya seperti yang ada di Pinterest Board saya ini.

    Kombinasi Warna

     

    Inspirasi Header dan Detil Blog

    Manis kan ya tema blognya, warnanya kalem dan hangat trus detilnya meski sederhana tetap feminin. Kebayang cantiknya blog saya nanti kalau didesainkan dengan inspirasi seperti ini. Apalagi saya lihat desain-desain mbak ShintariesI garis besarnya sesuai dengan desain blog impian saya. Yaaa, semoga saya beruntung menjadi salah satu pemenang giveaway ini. Supaya di tahun baru nanti blog tercinta ini punya wajah baru yang lebih segar.

  • Family Health

    Senam Yuk Senam

    Baca ceritanya Echie tentang senam hamil jadi kangen ikut senam rame-rame sesama bumil di RSIA. Dulu waktu hamil Cinta dibela-belain pulang kantor ikut senam di YPK padahal antara GatSu ke Menteng meski deket tapi macetnya amit-amit. Pas udah mau lahiran dan mudik ke Sidoarjo pun niat banget ikut senam di RS Mitra Keluarga Darmo Satelit padahal jauuuuh 😀 Tapi ya waktu itu angin-anginan sih, kalo pengen ikut kalo enggak ya tiduran aja di rumah hehehe. Setelah Cinta lahir blas nggak pernah olahraga.

    Nah sejak di Brunei dan punya waktu luang selama Cinta sekolah jadi kepikiran buat olahraga biar badan nggak gampang lemes. Tadinya sih ikut aerobic di salah satu klub fitnes 3x seminggu tapi cuma sebulan karena bosan. Akhirnya terinspirasi beberapa teman di twitter yang hobi lari ikutan deh lari seminggu 2-3x di playground yang ada jogging tracknya. Sayang begitu hamil kegiatan ini sempat berhenti karena nggak tahu apakah aman untuk ibu yang lagi hamil di trimester pertama.

    Setelah browsing dan nanya-nanya ke bidan juga teman yang ahli di bidang olahraga, mereka bilang selama kehamilannya sehat justru bumil disarankan olahraga. Minimal jalan kaki setiap hari selama 30 menit non stop. Berhubung saya nggak selalu bisa ke taman untuk jalan, akhirnya cari-cari deh di youtube senam hamil yang bisa dilakukan sendiri di rumah. Dan dari sekian banyak video yang ada, nemu beberapa yang paling nyaman dan sering saya lakukan.

    Biasanya sekali senam langsung 1 set sekaligus, bisa 3 video dari Dr. Cathy, 3 videonya Baby Fit atau ikut panduan dari  VCD Antenatal Yoga yang saya beli dari salah satu situs hypnobirthing di Indonesia. Selang-seling aja tergantung kondisi fisik dan hati. Itupun nggak setiap hari dan nggak berani memaksakan diri, yah maksimal seminggu 4x. Kadang kalau lagi kumat malasnya kurang fit ya bisa seminggu nggak workout sama sekali.

    Meski video-video ini membantu sekali untuk latihan di rumah tapi tetap aja merasa ada yang kurang, terutama sih karena instrukturnya nggak bisa langsung lihat kita dan ngasih tahu kalau ada gerakan yang kurang tepat. Juga belum nemu nggak ada latihan pernafasan dan persiapan melahirkan. Tapi untuk sekadar supaya badan tetap bugar dan mengurangi keluhan-keluhan bumil seperti sakit pinggang, otot kaku, kaki kram, workout semacam ini lumayan sekali. Moga-moga juga bisa membantu tetap fit selama proses persalinan nanti ya.

    Kalau mommies, ikut senam hamil juga nggak? Atau olahraga apa yang dilakukan selama hamil? Sharing yuuuuk 🙂

  • Life in Brunei, Parenting, Traveling

    Movie Playdate

    Saking seringnya liat trailer film Wreck It Ralph di Disney Channel, Cinta pengen banget nonton film besutan Disney ini. “Seru lho Ma, lucu,” katanya. Saya sih jujur aja ragu Cinta mau nonton film seperti ini karena bukan kesukaannya. Wong Toy Story series, Brave sama TinkerBell and The Great Fairy Rescue aja dia nggak suka. Sejauh ini, film bioskop yang bisa dia tonton sampai habis itu yang banyak lagu dan nari-narinya, macam Happy Feet 2 dan Madagascar 3.

    Tapi berhubung bolak-balik minta nonton, saya pikir dicoba aja deh daripada nganggur liburan di rumah ini. Dan setelah dijanjikan harinya, Cinta seneng sekali plus minta ijin untuk ajak teman sekolahnya yang juga tinggal satu apartemen sama kita, Xing Yuan. Begitu diiyakan, dia langsung bikin rencana, “Nanti aku dibelikan 2 popcorn ya, biar bisa makan sama XingYuan sambil nonton pakai 3D glasses. Trus abis itu makan di tempat bowling. Aku pengen spaghetti carbonara. It would be fun, mama.” Okesip kakaaaaaak.

    Pas hari H, mungkin karena nggak sabar atau ngantuk sebelum berangkat Cinta agak rewel. Dia berantem terus sama temannya. Bahkan di perjalanan pun beberapa kali nanya, “Can I sleep first in the car?” Sementara si teman sibuk nyanyi-nyanyi menghibur dirinya sendiri.

    Photobucket

    Sayangnya, begitu sampai di bioskop dan film dimulai, Cinta tegang. Belum ada separuh cerita udah sibuk bilang, “I don’t like this movie“, “I don’t want to watch this“, “Can I hug you, Mama?” “I want to get out” endebre endebre. Sedangkan XingYuan masih asik nonton sambil makan popcorn. Si mama yang lagi sensitif ini mulai kesal dan nyuekin dia sampai akhirnya pasrah duduk diem sambil ikut makan popcorn.

    Setelah 1 jam, pas lagi seru-serunya film, nengok ke kedua anak kecil itu sudah duduk lesu di kursinya masing-masing. Akhirnya diputuskan keluar dari bioskop dan lanjut makan siang. Baru deh mereka mulai tenang dan happy ngider di tempat bowling liat orang-orang main.

    Yah, ternyata memang ajak anak ke bioskop harus benar-benar pilih film yang mau ditonton ya. Kalau yang rating PG dan untuk tontonan keluarga belum tentu mereka suka, apalagi film dengan rating di atasnya, seperti Dark Night Rises, Skyfall, Breaking Dawn, dll. Pinjam istilahnya psikolog Ratih Ibrahim, film-film dengan rating PG-13, R, NC-17 cuma bikin trauma sampah kognitif pada anak-anak. Kok bisa, kan anak-anak belum ngerti apa yang dia tonton?

    Lha justru itu, fungsi kognitif anak belum matang betul untuk bisa mencerna dan paham apa yang mereka tonton. Apalagi kalau orang tua nggak berusaha menjelaskan dan mengarahkan pola pikir anak ke bagian-bagian positif dari tontonan itu. Jadi begitu liat adegan cium-ciuman, dar der dor dan berantem dengan suara keras bisa bikin trauma juga jadi sampah di kognisi mereka deh.

    Hmmm pelajaran juga pengalaman movie playdate sama anak-anak ini, harus hati-hati bawa anak ke bioskop. Yang buat kita bagus dan menghibur belum tentu bisa dinikmati anak. “You don’t know what garbage you inject to their mind,” kata mbak Ratih.

    Tapi jadi penasaran sama akhir ceritanya Wreck It Ralph nih. Apa dia beneran bisa diterima sebagai hero sama orang-orang di game Fix It Felix? Nggak sabar nunggu bisa download filmnya trus nonton sendiri deh pas Cinta tidur 😀

    Kalau anaknya suka nonton film apa, Moms di bioskop?

  • Life as Mom, Life in Brunei

    Our Family Is Growing By Two More Feet

    Waktu ulang tahun Cinta bulan Juni kemarin, sempat ngetwit harapan yang kira-kira isinya,

    Tahun kemarin ngerayain ulang tahun Cinta berdua aja, tahun ini komplit bertiga, tahun depan berempat?

    Eh, nggak nyangka banyak juga yang mengamini harapan itu. Dan ternyata Allaah pun berbaik hati mengabulkannya dalam waktu yang amat singkat.

    Di awal bulan Juli saya iseng pake testpack meski baru telat 2 hari dan ternyata hasilnya 1 garis merah tebal dan 1 garis merah tipis, persis seperti hasil testpack hamil Cinta dulu. Untuk meyakinkan diri, saya whatsapp adik yang dokter dan dia bilang kalo itu berarti positif hamil. Baru deh malamnya bilang ke suami yang berakhir dengan terdiam bengong bertiga dengan mata berkaca-kaca karena terharu trus peluk-pelukan. Duh, ini rejeki besar banget, pas menjelang Ramadhan lagi.

    Jujur aja meski pengen, punya anak lagi bukan prioritas utama saya saat ini. Masih banyak keraguan apakah sanggup merawat bayi lagi di saat Cinta sudah sebesar ini. Apalagi sekarang jauh dari keluarga besar dan nggak punya asisten rumah tangga. Belum lagi trauma post partum depression dan Cinta kolik dulu masih belum sembuh bener. Tapi begitu dikasih, rasanya seneng banget. Insya Allah ini yang terbaik buat kami.

    Awalnya kami nggak mau bilang-bilang dulu ke keluarga karena usia kandungan kan masih muda banget. Baru juga telat 2 hari. Kami berencana ngasih tahu keluarga saat mudik lebaran. Lagipula kami ingin pastikan ke dokter dulu. Jangan sampai udah kasih berita gembira eh ternyata false alarm.

    Jadilah setelah 1 minggu terlambat haid saya ke Pusat Kesihatan Sg. Liang untuk periksa kehamilan, sayangnya menurut tes urin hasilnya negatif. Dokter juga bilang masih terlalu dini untuk periksa dan disuruh kembali 2 minggu kemudian. Sedih banget  rasanya. Sempat kecewa juga dengan sistem di sini yang nggak kaya periksa di DSOG Indonesia, di mana baru telat sekian hari aja udah bisa USG transvaginal untuk ngeliat ada atau tidaknya kantung rahim.

    Karena penasaran sepulang dari klinik coba beli home pregnancy test digital supaya lebih akurat. Dan di hari yang sama hasil tesnya menunjukkan tanda kehamilan. Nah lhoooo hihihi… Bingung euy, yang bener yang mana coba.

    Seminggu kemudian saya coba periksa lagi ke klinik dokter umum swasta yang menunjukkan hasilnya positif. Dan pas di hari ulang tahun saya, hasil tes urine di Pusat Kesihatan di Sg. Liang juga menunjukkan tanda positif hamil. Alhamdulillaaaah ya akhirnyaaaa ada kepastian juga. Baru deh woro-woro ke keluarga di Indonesia.

    Sekarang sih kehamilannya sudah masuk usia 22 minggu. Alhamdulillah nggak ada gangguan berarti meski di trimester pertama sempat nggak doyan makan dan sekarang pun suka merasa capek dan mual. Tapi ya dinikmati aja lah, namanya juga lagi hamil. Toh, ada suami yang selalu ngasih suport bahkan rela mijetin dan gosokin punggung istrinya hampir tiap malam. Cinta pun tampak sayang banget sama adeknya. Walaupun ya adalah perubahan sikap yang menjurus ke arah sindrom anak-tunggal-mau-punya adek 😀

    PR selanjutnya adalah menjaga kehamilan agar tetap sehat sampai waktunya melahirkan nanti; memastikan mau melahirkan di Brunei atau di Indonesia sebelum usia kandungan memasuki trimester 3 dan menyiapkan fisik dan mental diri sendiri, suami  terutama Cinta akan kehadiran anggota keluarga baru nanti. Minta doa supaya semuanya lancar ya. Terima kasih 🙂

  • Family Health

    To Judge or To Support

    Baca curhatnya Yayas yang baru melahirkan 2 minggu yang lalu soal perjuangannya menyusui Nja, saya jadi teringat pengalaman sendiri menyusui Cinta 5,5 tahun yang lalu.

    Di saat ibu-ibu lain bisa menyusui dengan mudah, saya justru mengalami hal yang sebaliknya. Mulai dari ASI yang keluar sedikit sampai Cinta harus menyusu hampir tiap jam dan bisa 30 menit sekali saat growth spurt, nipple crack karena pelekatan yang nggak sempurna dan rasanya aduhai sekali, baby blues, mastitis dan kurangnya support dari lingkungan terdekat.

    Ya sih saya tahu, banyak yang mengalami hal yang sama dan tetap berhasil menyusui. Tapi saat disertai kondisi bayi yang kolik hampir tiap hari sehingga saya harus puasa makan daging ayam serta seafood selama hampir 6 bulan dan suami yang jauh serta post partum depression, membuat saya hampir menyerah. Bahkan di bulan pertama, sempat Cinta diberi susu formula sebagai tambahan ASI. Ini juga salah satu penyesalan terbesar saya selama menyusui.

    Meski akhirnya di bulan-bulan berikutnya bisa terus menyusui tanpa susu tambahan sampai usia 6 bulan dan lanjut sampai 2 tahun, pengalaman tersebut menjadikan saya untuk nggak mudah menghakimi para mama yang hampir atau akhirnya menyerah menyusui bayinya. Apalagi kalau saya hanya kenal di dunia maya dan tidak tahu bagaimana perjuangan mereka sebenarnya.

    Saya paham betul bahwa yang dibutuhkan saat berada dalam situasi seperti itu bukanlah ceramah, “Cuma sekian persen ibu di dunia ini yang secara medis ASInya nggak keluar. Sisanya pasti bisa, cuma nggak mau usaha aja.” Uh yeah, mungkin yang ngomong gitu belum ngerasain total tidur cuma 1 jam sehari selama beberapa hari berturut-turut karena terus-terusan menyusui bayinya.

    Atau, “Anak manusia itu minumnya ya susu manusia, bukan susu sapi. Yang minum susu sapi ya anak sapi.” Bahkan, “ASI is the best, sufor itu racun. Kamu tega apa ngeracunin anak sendiri dengan nggak mau ngasih ASI.” Nggak mau katanya, nggak tahu sini sudah jungkir balik mencoba berbagai cara supaya ASInya cukup untuk si bayi.

    “Banyak sedikitnya ASI itu cuma soal state of mind. Kamu harus yakin kalo ASImu cukup!” Tentu mudah dilakukan kalo nggak harus mendengar, “Sudahlah, ASImu itu nggak cukup. Liat anakmu nangis terus karena lapar. Mana berat badannya nggak naik-naik. Nggak usahlah sok ASI eksklusif-eksklusifan kalau bikin anak menderita gitu,” hampir tiap hari.

    Apalagi saat ibu-ibu lain dengan bangganya bercerita indahnya proses menyusui, ASI yang berlimpah sampai merembes-rembes di BH, sementara kami harus berjuang supaya hasil perahan di kantor bisa lebih dari 100cc tiap kalinya agar bisa dibawa pulang untuk minum si bayi. Asli, yang seperti itu sangat tidak membantu, bahkan nggak jarang bisa membuat kami makin down, akibatnya produksi ASI menurun karena stres.

    Tentu, banyak momen-momen indah yang dialami saat menyusui, melihat bayi mungil lahap menyusu dan tertidur dengan lelap setelah kenyang; eye to eye dan skin to skin contact yang meningkatkan hormon oksitosin dan terus merangsang let down reflex sehingga ASI keluar banyak menjadikan semua perjuangan itu terbayar lunas. Kebahagiaan melihat anak tumbuh sehat hanya dari ASI yang sekadar cukup (boro-boro mau donor ASI, bisa memenuhi stok untuk kejar tayang tiap hari aja sudah bersyukur sekali) membuat kami ikhlas harus menjalani semua itu.

    Hanya saja, seringkali dalam proses tersebut banyak hal yang dilakukan ibu-ibu lain atas dasar kepedulian dan niat baik malah justru bikin perjuangan kami makin berat karena cara yang kurang tepat.

    Yang kami butuhkan adalah telinga untuk mendengar, hati yang besar untuk bisa memahami kesulitan yang dialami serta penghargaan atas kemajuan usaha kami. Sederhana memang tapi nggak semua orang bisa melakukannya.

    Instead of saying things like I meant before, please kindly ask, “What can I do to help your breastfeeding process easier?” and mean it. Tawarkan solusi, bukan teori.

    “Aku ada kenalan konselor laktasi, kita ke sana yuk siapa tahu kamu bisa terbantu.”
    “Kamu mau ke dokter anak kenalanku yang pro ASI? Ajak ibumu sekalian biar bisa dukung kamu kasih ASI Eksklusif.”
    “Ini ada cara pijat payudara, siapa tahu bisa membantu melancarkan ASImu, bikin rileks juga lho.”
    “Temenku juga ada yang harus berjuang menyusui kaya kamu gini. Mau ngobrol sama dia? Ntar aku kenalin, siapa tahu dia bisa kasih tips-tips yang bisa membantu.”
    “Ada lho, grup ibu-ibu menyusui di daerah kita ini, ikutan gabung yuk pas kumpul-kumpul. Pasti seneng deh kalo bisa curhat di sana.”

    Bahkan seringkali mendengarkan kami curhat tanpa lantas memberi ceramah, menghibur, atau sekadar ngobrolin hal-hal lucu tentang kejadian sehari-hari bisa menjadi salah satu bentuk support yang efektif. Seperti yang dilakukan teman saya dulu, sesama busui yang menjalani long distance marriage dengan suami yang sering terbangun dini hari untuk menyusui.

    Meski dia jauh lebih beruntung karena ASInya berlimpah tak sekalipun menyombongkan diri. Bahkan kami saling bertukar info tentang krim yang bisa menyembuhkan nipple crack sampai menghilangkan stretch mark, saling curhat karena nggak bisa enak makan ayam dan seafood, tuker-tukeran resep sayur atau makanan yang bisa ngeboost volume ASI dan banyak hal sederhana lain. I was so grateful to have her as one of my support system beside my mom, husband dan kumpulan busui yang kemudian jadi cikal bakal terbentuknya asosiasi ibu menyusui di Surabaya.

    Kalau ada tetangga, saudara atau teman kantor yang sedang hamil ajak ikut seminar-seminar atau pelatihan laktasi. Kasih brosur atau buku-buku tentang menyusui tanpa embel-embel, “Harus bisa kasih ASI ya, itu kewajiban ibu, blablabla.” Just let it be their choice. Yang penting kita sudah berusaha.

    Seandainya sudah benar-benar nggak tahan pengen ngejudge karena segala usaha sebaik dan sehalus apapun yang kita lakukan nggak berhasil, sebisa mungkin simpan untuk diri sendiri atau ngobrolah dengan suami. Jadikan bahan pelajaran supaya kita siap dan tahu harus bagaimana seandainya hal seperti itu terjadi sama kita atau orang-orang terdekat.

    Stop judging, start supporting.