Browsing Category:

Life as Mom

  • Life as Mom, Parenting

    Ibu, Cinta Tanpa Akhir

    Dear Mama,

    Selamat Hari Ibu atau Hari Perempuan atau apapunlah namanya.

    Selamat atas peluncuran buku antologi-nya bersama komunitas Perempuan Menulis para alumnus Sirikit School of Writing. I’m a very proud daughter, as always.

    Mama,

    Terima kasih telah menyintaiku tanpa batas. Terima kasih selalu mengingatkanku bahwa untuk bisa menyayangi keluarga, aku harus bisa menyintai diriku sendiri. Kalau kata pramugari di maskapai penerbangan sih, “Safe yourself before helping others.”

    Terima kasih selalu menyediakan waktu untuk mendengarkan aku curhat walaupun kita dibatasi oleh laut. Untuk selalu memberiku semangat, saran dan kritik. Tak bosan menyuruhku untuk bersujud kepadaNya saat semua terasa melelahkan.

    Dear Mama,

    Mungkin semilyar kata terima kasih tak akan cukup membalas semua kasih sayangmu terhadapku maupun cucu-cucumu. Sungguh, aku bersyukur karena Tuhan mengijinkanmu membantuku melewati masa post partum depression. Entah apa yang akan terjadi padaku dan cucumu, kalau mama tak sigap menolongku waktu itu.

    Aku tahu kita tak selalu sejalan tapi cintamu yang begitu besar membuatmu mau berusaha memahami kami. Bahkan saat kami tak layak dicintai sekalipun.

    Darimu aku belajar bahwa cinta itu tidak berarti memberi semua, tidak selalu melayani. Disiplin dan tegas adalah caramu mendidik kami. Cobaan yang kita hadapi bersama dulu, menjadikanmu keras supaya kami bisa tetap hidup layak meski tanpa sosok seorang ayah mendampingi kita.

    Masih teringat saat mama membelikan sepatu bermerk untuk Keenan. “Dulu, mamamu mau beli sepatu aja susah, Nak. Alhamdulillah sekarang anak-anaknya bisa dapat semua yang bagus,” ujarmu kala itu.

    Ya, limpahan kasih kepada ketiga cucu mama mungkin merupakan caramu menebus apa yang tidak mampu kita lakukan dulu. Bukan hanya soal materi tapi juga hal yang sederhana, seperti pelukan.

    “Mama dulu kan nggak ngalamin sama kalian peluk-peluk. Ya agak kaget juga tidur sama Cinta tahu-tahu dia meluk mama. Oh, gini to rasanya dipeluk tangan kecil,” kenangmu saat mengunjungi kami di Brunei.

    Ya Ma, mungkin kita dulu tak banyak bersentuhan secara fisik. Tidak pula mengumbar kata sayang. Tapi aku tahu mama selalu menyayangi kami. Selamanya. Tanpa pernah berakhir. Semoga.

  • Family Health

    Pijat Refleksi Untuk Melancarkan ASI

    Sebagai ibu, tentu kita selalu ingin memberikan yang terbaik untuk anak tercinta ya. Salah satu yang bisa dimulai sejak awal kelahirannya adalah ASI atau air susu ibu. Nggak perlu lah saya jelaskan lagi manfaat ASI karena sudah banyak yang membahasnya. Yang pasti cairan hidup ini adalah asupan istimewa karena mengandung berbagai kebaikan untuk bayi maupun ibu.

    Tapi tidak jarang kita dihantui perasaan khawatir akan kecukupan ASI. Apalagi kalau anak nampak selalu lapar, hasil perahan lebih sedikit dibandingkan dengan mama perah yang lain dan berat badan anak sepertinya tidak bertambah secara signifikan. Padahal sih produksi ASI selalu berdasarkan permintaan dan nggak akan ada kata ASI kurang karena yang keluar sesuai dengan kebutuhan bayi.

    Untuk meningkatkan ASI banyak cara yang bisa dilakukan busui seperti minum air, jus atau sup yang lebih banyak dari biasanya. Beristirahat dan melakukan sesuatu yang menyenangkan juga bisa merangsang produksi ASI. Beberapa mama memilih mengkonsumsi suplemen atau makanan yang dipercaya mampu memperbanyak ASI.

     photo 4A010E12-8659-44D1-859C-98E0CA9237B1_zpsiam8u5wg.jpg

    Selain itu kita juga bisa coba pijat refleksi lho. Titik-titik tertentu di tubuh kita diyakini dapat merangsang diproduksinya hormon prolaktin di otak. Hormon inilah yang mempengaruhi banyak sedikitnya ASI.

    Menurut Dokter Spesialis Akupunktur Rumah Sakit Umum Islam Yarsis Surakarta, dr. H.M Daris Raharjo, Akp yang dilansir oleh joglosemar.com tiga titik pijatan yang utama untuk memperlancar ASI, berada di bagian payudara sendiri; yaitu satu titik di atas puting, tepat di puting payudara, dan titik di bawah puting. Selain itu, pada titik di bawah lutut dan titik di punggung yang segaris dengan payudara juga bisa dipijat untuk memperlancar produksi ASI. Pijatan dapat dilakukan dengan cara memutar ujung jari telunjuk sebanyak 30 kali di titik-titik tersebut dan dilakukan 2-3 kali sehari.

    Tidak hanya di titik tersebut, banyak bagian lain yang jika dipijat bisa meningkatkan produksi ASI seperti gambar di bawah ini yang saya peroleh dari Irni, penulis sekaligus ibu menyusui yang tengah menanti kelahiran anak keduanya:

     photo 06E27473-651E-4142-9ECC-07EECBA22CEB_zpsk5dgbdqy.jpg

    Pemijatan pada bagian-bagian tubuh tertentu akan berdampak positif terhadap kondisi pikiran dan tubuh ibu, memberi efek tenang, menormalkan sirkulasi darah, serta meningkatkan pasokan ASI. – situs RS Universitas Airlangga

    Nggak ada salahnya kita coba ya, Ma. Apalagi kalau yang memijat suami. Selain perasaan rileks dan nyaman karena pijatan, rasa bahagia karena disayang suami juga bisa jadi breastmilk booster yang ampuh. Kita senang, ASI berlimpah, bayipun sehat. Berkat bantuan ayah ASI tersayang.

  • Babbles

    Menulis Biar Waras

    Pernah nggak sih merasa isi kepala itu penuh dengan berbagai hal tapi nggak bisa diomongin ke orang lain? Seperti abis baca berita lalu pengen komentar tapi nggak ada teman diskusi. Kesal sama pasangan tapi nggak bisa diungkapkan secara verbal. Atau sekadar mikir menu masakan hari ini yang lantas berlanjut ke harga bahan makanan yang semakin mahal, terbayang cucian alat dapur yang harus dicuci dan banyak lagi. Saya sering!

     photo E4007300-6977-410D-80A0-250A30EAF743_zpsk94q2eyg.jpg

    Terlahir sebagai orang introvert yang lebih sering menyimpan sesuatu bagi diri sendiri membuat saya sering menahan diri saat ingin berbagi hal yang ada dalam pikiran saya secara verbal. Sesekali mungkin nggak apa-apa ya. Toh memang nggak semua hal harus diucapkan. Orang pintar suka bilang, “Some things are better left unsaid.

     photo 1CE88EE0-71E0-4ADE-8706-89FA91EDCA65_zpsgdzfavvq.jpg

    Tapi kalau terus menerus dalam kondisi seperti itu, seperti halnya tempat sampah, kalau sudah terlalu penuh isinya akan berhamburan keliar tak terkontrol. Tentu nggak bagus juga ya.

    Jujur saya sering iri sama teman-teman yang outspoken. Yang bisa mengutarakan apa saja yang mereka pikirkan tanpa harus berpikir apakah hal itu benar, berguna, bermanfaat dan tidak akan menyakiti orang lain. Bisa bicara tentang apapun tanpa mengkhawatirkan reaksi orang. Sementara saya nggak bisa seperti itu.

    Maka itu saya butuh menulis. Karena dengan itulah saya bisa menuangkan isi pikiran saya dengan susunan kata lebih baik. Dengan menulis saya bisa mengubah khayalan-khayalan ajaib saya menjadi sebuah fiksi. Atau bercerita tentang pengalaman tapi diaku sebagai milik orang lain tanpa ada yang tahu.

    Saya butuh ngeblog, untuk bercerita tentang hal-hal yang saya alami sehari-hari tanpa harus mengganggu telinga orang lain yang mungkin tak mau mendengar. Bebas mengeluh tanpa harus berpikir apakah orang yang saya curhatin ini sedang lapang hati mendengar keluhan saya atau sebaliknya. Atau berpendapat tentang sesuatu tanpa takut dihakimi. Yah, macam buku harianlah. Hanya saja bentuknya berbeda.

    Banyak yang bilang, blog saya isinya remeh temeh. It’s okay. Saya memang nggak pernah berniat membuat blog saya sebagai bacaan berat, kok. Ini sekadar sarana katarsis saya. Tempat saya mengosongkan isi kepala. Ben waras; cek ora edan kalau orang Surabaya bilang. Yah, syukur-syukur dari cerita sehari-hari itu ada yang bisa diambil hikmahnya sama orang lain.

    Kalau kamu, tipe yang lebih ekspresif dalam tulisan atau lebih suka berkomunikasi secara verbal?

  • Relationship

    Lucky Number Seven

     photo 07BE2380-3D8A-4D54-B992-49D3A576EB15-17436-00000D2812811E34_zpsc061f0d5.jpg

    Thank you for choosing me every day, to be your wife.
    Thank you for growing with me and covering me.
    Every single day, I am grateful for you

  • Life as Mom, Life in Brunei

    Family Day Celebration

    Setiap minggu pertama di bulan Mei, Brunei memperingati Hari Keluarga Kebangsaan atau National Family Day. Nah, untuk merayakannya sekaligus Mother’s Day yang jatuh di minggu kedua Mei, sekolahnya Cinta bikin aktivitas yang melibatkan anak dan orangtua.

    Children's Crafts

    Bertempat di aula sekolah, anak-anak, orangtua dan guru berkumpul untuk menikmati beberapa penampilan dari para murid KG 1, 2 dan 3. Dimulai dengan mengucapkan salam untuk para guru dan dilanjutkan dengan morning exercise yang dipandu oleh guru-guru dan diikuti orangtua dan siswa. Hihihi seru sih, sayang masih banyak orangtua yang malu-malu atau malas ngikutin gerakannya. Kita sih pede aja goyang-goyang sambil gendong si Keenan dalam Bobita wrap.

     greeting to teachersteachers doing morning exercise on the stage

    parents and children doing togetherteachers and students doing morning exercise together

    kg 2 students performs songs and poem on the stagei love you mother and father

    On The StageUnder the Stage

    Setelah itu beberapa murid dari KG 2 naik panggung untuk baca puisi dan nyanyi tentang cinta pada orang tua dan keluarga. Lucu liat anak-anak kecil semangat perform meski suaranya nggak kedengeran sampai bangku tempat kita duduk di belakang.

    Aktivitas di dalam aula ditutup oleh penampilan beberapa anak KG 1 and KG 3 yang nyanyi sebuah lagu cina. Meski Cinta sering nyanyi juga di rumah tapi nggak paham lagunya tentang apa, wong dia tiap ditanya selalu dengan cueknya jawab, “Aku nggak tahu.”

    Setelah itu orangtua dan murid-murid KG 3 yang ikut aktivitas menghias kue berkumpul di depan aula yang sudah tertata rapi meja-meja dan perlengkapan menghias kue. Lainnya kembali ke kelas untuk makan snack pagi dan melanjutkan pelajaran seperti biasa.

    patiently waiting for the instruction while the baby sleeping peacefully inside his bobita wrapStart with her favorite shape: heart

    Cake Decoration ActivityA Little Help from Daddies

    UntitledtadaaaaThis is it. Mother's day cake by Cinta

    Anak-anak semangat banget menghias kuenya, sampai pada langsung tancap gas meski belum disuruh mulai dan bikin staf Sunny Bee Bakery berkali-kali bilang, “Please wait for the instruction. Don’t start before we ask you to start.” Tapi ya namanya anak-anak (dan orangtua juga sih) tetap aja ada yang curi-curi mainan icing, tempel-tempel hiasan dan colek-colek kue hihihi.

    Begitu diperbolehkan mulai langsung semua beraksi. Ada yang nggak mau dibantuin termasuk Cinta, ada juga yang heboh menghias adalah ibu atau neneknya! Iya, nenek. Namapun family day ya, nenek pun termasuk keluarga kan. Apalagi di sini karena kebanyakan kedua orangtua kerja, sehari-hari anak ya diasuh dan antarjemput ke sekolah sama nenek kakeknya.

    Hasilnya, keliatan deh mana yang murni buatan anak atau hanya dengan sedikit bantuan papa mamanya dengan yang banyak dibantu. Ah, tapi yang penting bersenang-senang sama keluarga ya. Bahkan anak bayi pun banyak yang dibawa merayakan hari keluarga ini termasuk Keenan yang selama hampir 3 jam tidur terus meski suasananya ramai.

    Bagus deh sekolahnya Cinta bikin acara beginian. Sederhana tapi berkesan. Anak senang, papa mamapun hepi karena bisa terlibat dalam kegiatan bersama-sama di sekolah. Happy Family Day, parents and happy Mother’s Day.

    Some pictures taken from CCMS KG’s FB page and my friend’s collection. See more pictures here.

  • Family Health, Life in Brunei

    6-in-1

    Kemarin setelah nemenin Cinta makan siang di Fratini’s Pizza Seria lalu anter dia lagi ke sekolah untuk ikut after school program, Keenan kontrol rutin 1 bulanan sekaligus vaksinasi di maternity & child health (MCH) Clinic, Pusat Kesihatan Sg. Liang. Meski terlambat 15 menit dari jadwal perjanjian dan nunggu untuk daftar di resepsionis klinik selama 20 menit karena implementasi program Bru-HIMS yang belum lancar, ternyata yang antri di MCH masih sedikit.

    Setelah ditimbang, ukur tinggi badan & lingkar kepala dengan hasil 5,7 kg; 56 cm dan 37,5 cm, duduk sebentar untuk nunggu giliran ketemu bidan. Sempat ditanya-tanya juga sama suster di ruang timbangan soal Bobita Wrap yang saya pakai untuk menggendong Keenan. Menurut mereka gendongannya unik dan nyaman. Bahkan dipuji, “Pandai kamu bungkus dia seperti itu. Tidak sejuk (kedinginan).”

    Sambil nunggu dan nyusuin Keenan dalam Bobita wrapnya, browsing lagi soal vaksinasi yang akan dia dapat hari ini. Jujur aja agak ragu awalnya karena sejak dikasih jadwal vaksin bulan lalu belum pernah tahu tentang vaksinasi 6-in-1 yang terdiri dari DTaP-HiB-IPV-Hep B ini.

    Terakhir kali saya tahu 4 tahun lalu kombinasi vaksin masih 4-in-1 DTaP-HiB plus polio oral atau Pediarix dan Pentacel. Ternyata sekarang adalagi yang 6 vaksin dalam satu suntikan. Sempat terpikir juga apa itu kombinasi Pentacel yang dijadikan 1 suntikan dengan single dose of Hep B. Baru setelah browsing tahu kalau memang ada 6-in-1 vaccine keluaran GlaxoSmithKline Australia dengan nama dagang Infanrix Hexa. Hmmm… Di Indonesia harganya berapa ya? Masih inget aja dulu tiap vaksin DTaP dan HiB di RS Swasta tuh bisa habis lebih dari Rp 500.000 termasuk jasa dokternya.

    Lumayan lama nunggu diperiksa bidan sampai Keenan mulai rewel dan lebih lama lagi saat antri dokter karena ada masalah data online pasien yang sudah diinput suster nggak bisa diakses dokter. Sampai akhirnya dipanggil dokter pun, bukannya konsultasi soal kesehatan Keenan, malah dia curhat tentang kacaunya implementasi Bru-HIMS. Mana Keenannya sudah nangis jejeritan karena ngantuk. Hadeeuuh :))

    Setelah dicek dokter dan dinyatakan cukup sehat untuk menerima imunisasi meski sedang pilek, pindah ke Bilik Suntikan dan disuntiklah paha kanan anak lanang diiringi tangisnya yang melengking. Abis itu dikasih paracetamol dan alat ukurnya buat jaga-jaga kalau demam sembari diingatkan untuk nggak ngasih minyak, salep atau apapun di bekas suntikannya semisal bengkak, “Cukup diusap pakai air hangat saja di sekitar bengkaknya.”

    Sudah selesai? Belum! Masih harus balik lagi ke bilik timbangan untuk bikin jadwal perjanjian bulan depan. Ribet ya? Biar deh, namapun gratis kan jadi ya dinikmati sajah hehehe. Untung bisa minta tolong teman seapartemen supaya setelah after school program Cinta bisa pulang bareng dia dan anaknya yang satu sekolah sama Cinta sehingga nggak perlu lagi jemput ke sana.

    Alhamdulillah sampai hari ini belum ada tanda-tanda ada KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) meski sedikit rewel akibat pilek. Bahkan semalam tidur cukup nyenyak begitu juga sesiangan ini walaupun beberapa kali maunya tidur dalam Hanaroo Wrap hadiah dari sister in law. Sehat terus ya, Nak.

  • Life as Mom

    Diam atau Lerai?

    Cerita tentang anak yang dikasarin sama pengasuhnya sepertinya sudah sering sekali terdengar. Saya sendiri sudah beberapa kali lihat anak yang dicubit atau dipukul sama ART atau babysitternya. Dan kemarin kok ya pagi-pagi sudah dikasih kesempatan jadi saksi mata kejadian serupa di sekolah Cinta. Adik kelasnya Cinta diseret-seret, didorong sampai kena tiang trus didudukan dengan kasar sambil dibentak oleh amahnya (sebutan untuk asisten rumah tangga di Brunei) karena dia kabur dari kelas untuk ngejar ibunya yang sudah jalan ke parkiran mobil.

    Meski ini bukan pertama kalinya berada dalam situasi seperti itu, tetap saja saya bingung harus ngapain. Mau negur takut si pengasuh malah makin marah (ke anak dan ke kita) tapi diam saja pun kasihan sama anaknya. Biasanya sih saya akhirnya berusaha cuek sambil memerhatikan kalau makin kasar baru ikut campur seperti yang saya lakukan kemarin. Cuma kok hati kecil ini masih bertanya-tanya apa iya yang saya lakukan itu sudah benar?

    Akhirnya saya minta pendapat ke teman-teman di facebook dan twitter mengenai apa yang sebaiknya dilakukan kalau menemui kejadian itu lagi dan begini tanggapan mereka,

    Photobucket Pictures, Images and Photos

    Ditegur, nggak usah berlebihan negurnya ntar dikira ikut campur. – Indah

    Ditegur, “Kenapa?” gitu aja… Biar yang kasar nggak keterusan kasarnya dan nggak terlalu ikut campur. – Ina

    Klo orangtuanya teman qta, baiknya ditegur n tanya. kalo pengasuh, selain ditegur kayaknya bilangin ke orang tuanya lebih bagus.. soalnya kasian anaknya, orang tuanya blom tentu tau ulah pengasuhnya.. – Lina

    Laporkan ke komnas perlindungan anak… – Fais

    Kalo pengasuhnya yg ngasarin, kyknya aku bakal ikut campur deh mba… tp pasti pengasuhnya g peduli jg ya. pasti bkl ngeloyor gitu kan. trus kita sakit ati.. hahahaha.. dibiarin aja lah slma ga mukul – Ratu

    Pura-pura nggak liat dan belagak bego. Semoga si anak baik-baik aja – Yudith

    Dibilangkan k gurunya aja.. Di skul nya anakku jg ada yg gitu. – Wenika

    Kalo kenal ortunya, gimana kalo kasih tau ortunya aja, mbak? Dengan hati hati jg ofkors :3 – Mitra

    Tanyain gurunya kontak ortunya mbak. Aduin. Biar ada tindakan preventif. Kasihan, udh dibayar koq gitu *pengen ngacak2 muka amah – Yayas

    “Ya dibilangin to, ‘Sabar mbak, kasihan anaknya’ gitu.” – suami

    Kalau kalian, tindakan apa yang akan dilakukan saat berada pada situasi seperti itu?

  • Relationship

    Rumput Tetangga Tidak Selalu Lebih Hijau

    Ngobrol sama mama, khususnya selama beliau berkunjung ke Brunei kemarin, selalu memberikan pencerahan-pencerahan baru. Terutama dalam hal relasi dengan pasangan. Selama ini, sering saya merasa bahwa pernikahan orang-orang di sekitar saya lebih hangat dan menyenangkan. Kadang juga suka iri melihat pasangan-pasangan yang sudah menikah lebih lama tapi masih tampak mesra dan hangat. Sementara saya dan suami masih terus beradaptasi satu sama lain yang nggak jarang menimbulkan friksi atau sesekali merasa, “Ini orang cinta nggak sih sama saya?”

    Tapi ternyata halaman tetangga memang nggak selalu lebih indah. Kalaupun terlihat lebih hijau kita juga nggak tahu perjuangan apa saja yang mereka lakukan untuk merawat tanaman-tanaman itu supaya nampak segar dari luar. Bisa jadi mereka juga bertengkar menentukan pupuk apa yang mau dipakai, siapa yang harus menyiram bunga dan menyiangi rumput secara rutin. Atau meski terlihat indah, bukan nggak mungkin di dalamnya banyak ulat yang pelan-pelan menggerogoti dedaunan dan akarnya mulai rapuh. Makanya nggak heran kalau lantas banyak pasangan yang pernikahannya keliatannya baik-baik saja tiba-tiba bercerai atau terlibat berbagai macam masalah.

    Siapa yang sangka kawan yang selalu mesra dengan suaminya saat di depan orang lain ternyata suaminya sudah bertahun-tahun selingkuh dengan rekan kerja dan mertuanya selalu menyalahkan dia. Sementara di rumah lain, seorang saudara yang berlimpah materi, dikaruniai anak-anak pintar yang cantik dan ganteng ternyata nggak bahagia karena suaminya hanya mau berhubungan jika ia yang memulai lebih dulu. Atau ada yang bermasalah dengan kebiasaan suaminya minum minuman keras dan merokok sementara si istri ingin di usia yang semakin tua bisa lebih taat menjalankan perintah agama.

    Dari sharing cerita-cerita seperti inilah saya banyak belajar bahwa yang namanya memanage kehidupan berumah tangga itu sama seperti mengasuh anak. Nggak ada sekolahnya dan nggak ada habisnya. Kadang, saat kita sudah mulai nyaman ada saja ujian-ujian baru yang kalau berhasil kita lewati akan membawa kita ke level yang lebih tinggi.

    Jadi nggak usah iri sama pernikahan orang lain dan sibuk membanding-bandingkan dengan keluarga kita. Fokus aja memperbaiki dan terus menjaga supaya pernikahan kita nyaman untuk semua pihak. Seperti kata mak Henny di status Facebooknya:

    Ngga usah pusing & iri soal rumput tetangga yang keliatan lebih hijau, yang terpenting menjaga rumput kita supaya nyaman untuk kita sendiri.

    Dan buat kamu yang sedang berjuang mempertahankan keutuhan pernikahannya, yes you know who you are, dearBe strong, this too shall pass. Apa yang telah terjadi akan mengubah rasa dan makna pernikahan itu sendiri. Rasa sakit yang dialami sekarang mungkin nggak akan pernah hilang. But please remember, there’s always a rainbow right after the storm. Tapi kalaupun sudah nggak sanggup lagi berjuang, maybe it’s time to let goAnd we always be there for you.

  • family dinner, makan malam bersama keluarga
    Parenting

    6 Manfaat Makan Bersama Keluarga

    Adakah yang keluarganya punya rutinitas makan bersama di rumah sambil berbagi pengalaman dan perasaan mereka? Di keluarga saya rutinitas itu dimulai 20 tahun yang lalu, ketika kami menempati rumah sendiri setelah bertahun-tahun tinggal di rumah almarhum Opa dan Mami.

    Hampir setiap malam -dan kalau akhir pekan ketambahan waktu sarapan dan makan siang- kami duduk dan makan bersama. Ngobrol ngalor ngidul tentang apa saja. Mulai dari kejadian di sekolah, pengalaman di kantor, supir angkot yang rese, kejadian lucu bersama pacar masing-masing sampai mengatur kegiatan untuk keesokan harinya.

    Buat saya, rutinitas sederhana ini sangat berarti. Maklum, kedua orang tua saya bekerja dan di momen makan bersama inilah quality time kami sebagai keluarga terjaga. Saya dan adik-adik bisa ketemu dan berkomunikasi dengan orang tua, beliau juga tetap bisa memantau perkembangan kami sehari-hari.

    Setelah beranjak dewasa, jenis obrolan pun berubah. Bukan melulu kegiatan sehari-hari tapi juga rencana masa depan, pengalaman-pengalaman inspiratif, masalah-masalah yang sedang dihadapi masing-masing anggota keluarga, sharing ilmu parenting sampai gosip artis, politik, ekonomi dan hal-hal yang lagi ramai dibicarakan media massa.

    Apalagi ketika saya masih tinggal di rumah setelah melahirkan Cinta, cerita-cerita dari mama dan adik-adik adalah penghubung saya dengan dunia luar. Pengobat rindu akan dinamika kantor.

    Dari meja makanlah saya tahu gedung anu sedang direnovasi, jalan di dekat kantor itu rusak parah sampai menimbulkan kemacetan berkilo-kilo meter, adik saya yang bungsu sedang bertengkar dengan sahabat-sahabatnya, si tengah mau resign dari pekerjaannya, bagaimana usaha mama dan timnya menghadapi orang-orang yang melakukan demonstrasi di kantor, saudara yang ini mau menikah atau bercerai dan masih banyak lagi.

    Banyak permasalahan yang selesai di meja makan, nggak sedikit juga air mata yang tumpah saat sesak hati terbagi di sana tapi canda dan tawa pun acap kali mengalir manis. Meski makanan di piring sudah habis, obrolan akan terus berlanjut sampai ada yang memulai beranjak dari kursi.

    Sekarang, setelah merantau jauh dari rumah, ketukan lembut di pintu kamar dan suara si bibik yang memanggil, “Mbak, diajak makan sama Ibu,” yang diikuti suara pintu-pintu terbuka menandakan penghuninya keluar kamar masing-masing serta riuh kursi yang digeret dan denting sendok beradu dengan piring adalah salah satu hal yang paling saya rindukan. Karena setelah itulah keseruan dimulai.

    Sayang, kebiasaan itu belum bisa rutin saya terapkan setelah berumah tangga sendiri, karena seringkali saya dan anak-anak makan sendiri-sendiri sementara suami belum pulang kerja. Tapi sebisa mungkin saya membiasakan ngobrol sama anak-anak saat mereka makan (walaupun kadang sambil diselingi nonton tv hehehe). Baik tentang cerita tv yang dia tonton, kejadian di sekolahnya sampai imajinasi-imajinasinya yang heboh.

    Update 2/9/2016

    Namun, sejak kakak Cinta mulai puasa, kami selalu berusaha untuk berbuka puasa bersama di meja makan. Meskipun hanya makan untuk takjil. Dan ternyata hal ini menjadi pengalaman yang menyenangkan untuk Cinta dan Keenan. Setiap adzan Maghrib berbunyi, mereka langsung berlari ke meja makan dan duduk manis menyantap camilan di sana sambil ngobrol dan merencanakan menu untuk buka puasa keesokan harinya. Ketika Ramadan akan berakhir, kakak Cinta sempat merasa sedih karena akan merindukan momen makan bersama di meja makan. Ternyata hal sederhana seperti itu berarti sekali ya buat anak-anak.

    family dinner, makan malam bersama keluarga

    Selain itu, banyak sekali manfaat yang bisa kita dapatkan dari makan bersama keluarga di meja makan dan ini beberapa di antaranya:

    1. Mengeratkan Ikatan Batin Antar Anggota Keluarga

    Obrolan saat makan bersama meningkatkan bonding antar anggota keluarga. Kesempatan ini bisa kita gunakan untuk berbagi informasi dan berita yang terjadi hari ini yang pasti dianggap penting oleh si pencerita, membuat rencana akhir pekan, memberikan perhatian ekstra kepada anak-anak setelah hari yang sibuk di sekolah dan tempat les. Kebiasaan ini jika dirutinkan dapat memberikan perasaan hangat, aman, dicintai dan saling memiliki, hal yang dibutuhkan anak untuk tumbuh menjadi pribadi yang solid dan tidak mudah terpengaruh hal buruk di luar sana.

    2. Sarana Belajar Etika

    Waktu makan bersama keluarga bisa jadi kesempatan yang baik untuk mengajarkan anak tentang tata krama di meja makan serta etika makan yang baik yang berguna untuk kemampuan sosialisasinya kelak. Tentu suasananya harus dibuat nyaman sih, jangan dikit-dikit dimarahin kalau ada yang tumpah atau anak makan pakai tangan kiri atau mengambil sendok yang salah. Berikan saja contoh. Ingat, anak belajar dari meniru.

    3. Kesempatan Untuk Mengenalkan Makanan Baru

    Si kecil dan suami picky eater? Nah, makan bersama ini bisa kita pergunakan untuk mengenalkan satu jenis makanan baru bagi mereka. Sajikan bersama menu lain yang sudah familiar dan ajak anak untuk mencicipinya. Pertama kali ditolak itu biasa, konon perlu 8-10 kali pengenalan terhadap satu jenis makanan sampai anak mau mencobanya. Manfaat mengenal makanan baru ini seperti memulai hobi baru, dapat mengembangkan pengetahuan, pengalaman dan ketrampilan anak dengan cara:

    1. Coba masakan dari budaya atau negara yang berbeda.
    2. Pilih sayuran segar dari penjual sayur di pasar.
    3. Minta anak memilih sendiri masakan yang ingin dia coba dari buku resep, situs penyedia resep masakan, majalah atau buku ceritanya.

    4. Memberikan Gizi Yang Seimbang

    Sebenarnya malu nulis yang ini karena jujur aja, menu masakan di rumah saya belum seimbang banget. Tapi setidaknya masakan rumah lebih sehat dari makanan cepat saji karena biasanya dibuat dengan bahan-bahan terbaik dan kurang bahan pengawet atau penyedap rasa. 

    5. Mengajarkan Anak Untuk Mandiri

    Dengan mengajak anak untuk menyiapkan makan malam, meskipun jadi lebih lambat dan berantakan, biasanya anak akan lebih lahap makannya. Selain itu, mereka juga jadi mengamati bagaimana makanan bisa sampai di meja makan sehingga diharapkan nggak lagi membuang-buang makanan. Bikinnya susah, bok. Ketrampilan menyiapkan makanan ini tentu akan bermanfaat saat mereka besar dan harus hidup mandiri nanti ya. Jadi ajak aja si batita menyobek daun selada untuk salad, memetik kacang panjang (ssstt, bisa melatih motorik halusnya juga lho), atau mengatur alas piring di meja makan. Sementara kakak yang sudah SD dapat membantu mengupas buah atau membuat adonan. Sedangkan si remaja dapat diberi tugas untuk mengiris bumbu, membumbui lauk, menggoreng, dan memanggang. Hmmm, trus mama tinggal jadi mandor aja yaaa hihihi. Senang kan.

    6. Mengurangi Perilaku Buruk dan Meningkatkan Nilai Akademis

    family dinner, makan malam bersama keluarga

    it’s messy but it works

    Ini lho yang belakangan ini sering disuarakan oleh para pakar parenting. Mereka mengajak para orangtua, terutama ayah untuk meluangkan waktu makan bersama anak-anaknya di rumah, karena ternyata penelitian membuktikan bahwa anak yang secara rutin makan malam bersama keluarga minimal 5 kali dalam seminggu memiliki kecenderungan lebih rendah terlibat narkoba, merokok dan minum minuman keras. Kenapa? Kembali ke poin pertama, saat anak merasa nyaman dan dicintai, mereka nggak akan cari pengakuan di luar rumah kan. Dengan demikian mereka akan lebih bersemangat untuk belajar dan berprestasi di sekolah. Tapi gimana kalau nggak bisa 5 kali dalam seminggu? Ya sesempatnya saja, tapi jadikan itu hal yang rutin dan pastikan acara makan bersama menjadi ajang yang menyenangkan, bukan tempat anak dimarahin, diberi nasihat atau dihakimi. 

    Sampai sekarang, tradisi makan bersama keluarga di meja makan, masih lestari di rumah mama saya. Meja makan yang sudah menemani kami makan selama lebih dari 20 tahun itu menjadi saksi bisu kehangatan, pertengkaran dan keriuhan keluarga kami. Saking betahnya, kadang selepas makan pun kami nggak langsung beranjak, apalagi setelah saling berjauhan seperti saat ini. Obrolan terus berlanjut sampai anak-anak meminta perhatian kami orangtuanya.

    Jadi, apa topik obrolan meja makanmu hari ini?