Ringankan Gejala Flu dengan Essential Oils

Mengalami gejala flu dan selesma atau yang biasa dikenal sebagai common cold pasti bukan hal yang menyenangkan. Hidung tersumbat atau justru nggak berhenti meler, tenggorokan gatal, kadang juga disertai demam yang seringkali bikin susah tidur. Bagi orang dewasa saja kondisi ini sangat mengganggu ya apalagi jika dialami oleh batita yang ngomong aja belum lancar sehingga dia nggak bisa mengutarakan apa yang dirasakan seperti Keenan beberapa minggu yang lalu.

Meski dia masih aktif di siang hari tapi di malam hari jadi susah tidur karena hidungnya tersumbat. Padahal supaya cepat sembuh, Keenan perlu banyak istirahat. Belum lagi virusnya bisa nularin seisi rumah yang kenyataannya terjadi hanya dua hari setelah Keenan mulai pilek, papanya pun ikut sakit.

Seperti biasa untuk gejala flu yang disebabkan oleh virus, meski nggak tega lihat anaknya nggak nyaman, saya berusaha untuk nggak ngasih obat kecuali paracetamol ketika demam. Saat Keenan mulai pilek, suami pun menyarankan supaya saya sering-sering ngasih Keenan honey lemon suam terutama setiap bangun tidur untuk meningkatkan imunitasnya. Selain itu setiap mau tidur saya ajak Keenan berendam air hangat untuk mengeluarkan ingus dari hidungnya supaya dapat tidur lebih nyenyak.

 photo F7319C61-C239-4719-9C4E-A9BD9B6182F1_zpsphyekndw.jpg

Sayangnya kedua hal itu masih belum bisa mengurangi gejala flunya Keenan. Akhirnya saya menggunakan diffuser Young Living yang belakangan jarang dipakai karena anak-anak sudah jarang sakit. Seperti biasa tiap ada yang mengalami gejala flu, saya meneteskan 3 oils andalan untuk pilek, yaitu lemon, peppermint dan thieves dalam diffuser tiap waktu tidur siang dan malam, masing-masing 4 tetes.

Saya pilih ketiga oil itu karena lemon berfungsi untuk meningkatkan vitalitas dan energi jika didifuse dan dihirup. Juga mengandung antivirus yang dapat membunuh kuman-kuman dalam udara. Bermanfaat sekali saat ada anggota keluarga yang sakit kan.

Peppermint berguna untuk melegakan pernafasan dan mengencerkan dahak. Sedangkan thieves berfugsi menjaga daya tahan tubuh serta membersihkan ruangan dari bakteri dan kuman.

Alhamdulillah, aroma lemon, peppermint dan thieves yang didifuse sekaligus bisa membantu melegakan pernafasan dan membuat tidur lebih nyenyak. Nggak cuma untuk Keenan tapi juga mamanya hihihi.

Selain didifuse, campuran ini juga saya oleskan di telapak kaki anak-anak terutama pada bagian bawah jari kakinya sambil dipijat lembut untuk meningkatkan kekebalan tubuh dan mengurangi demam.

Karena campuran lemon, peppermint dan thieves paling sering saya gunakan baik didifuse atau dioles, saya mencampur ketiga oil ini ke dalam satu botol kosong yang sudah disteril dengan perbandingan 1:1:1 menggunakan pipet bersih.

Cara ini memudahkan saya saat ingin menggunakan dan tentu lebih praktis membawa satu botol ke mana-mana daripada 3 botol sekaligus ya. Apalagi saat cuaca nggak menentu di Brunei seperti sekarang. Tiap pulang sekolah saya oles ke telapak kaki kakak Cinta untuk menjaga imunitasnya sampai Keenan benar-benar sembuh.

Alhamdulillah dalam tiga hari, gejala selesma Keenan sudah berkurang. Meskipun memerlukan waktu hampir seminggu sampai benar-benar sembuh, setidaknya Keenan lebih nyaman dan bisa tidur nyenyak. Sayangnya saya kurang rajin ngedifuse dan mengoleskan oil-oil ini ke suami sehingga common cold yang dia alami lebih lama sembuhnya meski sudah minum obat bebas.

Oya, essential oils ini tidak dimaksudkan sebagai pengganti obat ya. Bagi saya dan keluarga, minyak-minyak ini hanya berguna untuk meringankan gejala penyakit. Kalau sakit terus berlanjut tetap harus berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan penanganan medis yang tepat.

Inside Out: Ketika Emosi Punya Perasaan

Jujur aja meski berkali-kali lihat trailernya di Disney Channel awalnya saya nggak tertarik untuk nonton film terbaru dari Disney Pixar ini. Apalagi baca resensinya di IMDB banyak yang ngasih kurang dari 5 bintang, bahkan ada yang 1! Beberapa top review bilang film ini membosankan, nggak seperti film-film Disney Pixar yang lain. Ada juga yang mengatakan bahwa film ini bukan untuk anak-anak dan masih banyak kritikan lain.

Tapi karena di minggu pertama penayangannya di Indonesia –yang kebetulan bertepatan dengan waktu penayangan di Brunei– banyak yang posting nonton Inside Out dan rata-rata bilang film yang dibintangi oleh Amy Poehler dan Phyllis Smith ini bagus, saya pun tergoda untuk nonton. Biar kekinian gitu lah.

Karena rating film IO adalah PG1 saya coba cek dulu di Parents Guide for Inside Out di IMDB untuk mengetahui apakah ada yang kurang sesuai ditonton oleh anak seumur Cinta. Setelah yakin semuanya cukup aman baru deh saya mengajak kakak Cinta untuk movie date nonton film Inside Out di PSB Dualplex Seria.

Dan ternyata film ini menguras air mata, sodara-sodara. Asli mulai dari 15 menit film ditayangkan sampai akhir berkali-kali saya harus diam-diam mengusap mata yang basah karena terharu melihat adegan-adegan di dalamnya.

 photo AC4D118E-2DB2-473B-9D70-E1FDF6437650_zpskgfrjgru.jpg

Cerita dimulai saat Riley baru lahir dan muncul Joy yang mengontrol perasaannya bersama dengan keempat rekannya Sadness, Anger, Fear dan Disgust. Kemudian waktu pun bergulir dengan menampilkan Riley yang tumbuh menjadi gadis kecil yang ceria, punya hubungan emosional yang erat dengan ortunya, suka hoki dan melakukan hal-hal konyol berkat dominasi Joy, sampai suatu saat Riley harus pindah ke San Fransisco bersama ayah dan ibunya.

Di sinilah konflik perasaan mulai muncul. Joy, Sadness, Anger, Fear dan Disgust berganti-ganti memainkan peran pada emosi Riley yang harus beradaptasi pada banyak hal. Rumah baru, moving van yang nggak kunjung datang, sekolah baru dan pekerjaan ayah yang menyita waktunya.

Kebingungan menghadapi keadaan ini, Joy berusaha mengontrol perasaan, ia setengah memaksa teman-temannya untuk selalu bergembira. Joy meminta Fear untuk membuat daftar hal buruk yang bisa terjadi pada hari pertama sekolah dan berusaha mengantisipasinya. Bahkan ia berusaha mengisolasi Sadness yang beberapa kali membuat Riley sedih. Joy ingin Riley selalu senang apalagi saat Ibu mengatakan bahwa mereka sangat beruntung karena pada kondisi yang penuh tekanan seperti ini keceriaan Riley memberikan semangat bagi orangtuanya.

Tapi saking inginnya Joy membuat Riley merasa bahagia, kecelakaan pun terjadi. Joy dan Sadness tanpa sengaja terlempar dari markas dan terdampar di tempat penyimpangan long term memory. Mereka pun berusaha kembali ke markas dengan membawa core memories ((The core memories are objects of major importance inInside Out. Like all memory orbs, core memories represent past events of Riley‘s life. However, they have a much greater importance than usual memories. They represent key moments that have defined Riley’s current personality. Core memories appear brighter than any other memory and power each Island of Personality. – source: Pixar Wikia)) .

Dalam perjalanan ini Joy dan Riley menyaksikan bagian-bagian masa lalu Riley yang membentuk kepribadiannya runtuh satu persatu. Sementara di markas keadaan semakin memburuk karena Fear, Anger dan Disgust kebingungan dan kendali emosi membuat Riley melakukan hal-hal di luar kebiasaannya.

Kondisi inilah yang saya sadari sering muncul dalam perilaku Cinta saat ia harus menghadapi pengalaman baru atau hal-hal yang tidak menyenangkan. Perubahan kepribadian dan perilaku yang tidak biasa. Seringkali saya bilang meminta ia untuk tetap ceria, nggak terima saat dia merasa sedih atau marah, bahkan takut. Padahal semua perasaan itu ya harus diterima apa adanya.

Kita nggak bisa terus-menerus menekan dan menyembunyikan kesedihan, nggak bagus juga menahan marah dan takut. Konon merepresi perasaan negatif ini akan membuat kita mudah sakit ya.

Ternyata boleh kok merasa sedih, marah dan takut, hanya saja harus disalurkan dalam perilaku yang aman dan nyaman.

Saat berduka boleh sedih dan menangis karena itu akan membuat kita lebih tenang. Seperti yang dilakukan oleh Sadness ketika Bing Bong merasa sedih. Alih-alih mengabaikan kesedihannya seperti yang dilakukan Joy, Sadness berempati dan menggali kesedihan Bing Bong sambil duduk di sampingnya sampai Bing Bong merasa lega. Persis pekerjaan psikolog.

Film ini benar-benar jadi pengingat bagi saya. Setelah beberapa waktu lalu membaca cuplikan buku “Kata Siapa Tidak Boleh Marah” karya Zhizhi Siregar di Instagram fufuelmart tentang perbedaan reaksi anak ketika ia marah dan diabaikan dengan dipeluk saat ia merasa marah. Kali ini saya diajari untuk menerima perasaan sedih. Tahu nggak benang merahnya adalah pada acceptance.

Menerima dan mengenali perasaan diri kita dan anak adalah hal yang penting. Sesungguhnya yang diperlukan saat kita berada pada kondisi yang tidak nyaman adalah, “Hey, saya mengerti kamu sedih/marah/takut/kecewa. Wajar kok kamu merasa seperti ini. Saya juga pasti akan merasakan hal yang sama,” plus pelukan hangat. Seringkali sebuah pelukan erat tanpa kata-kata saja sudah bisa mengungkapkan hal tersebut. Dan itu cukup.

Buat mahasiswa psikologi wajib banget deh nonton ini. Kalian akan tahu tentang short term memories, long term memories, subconcious, sampai imaginary friend yang selama ini nampak abstrak. Buat para orangtua film ini bagus untuk memahami kondisi emosi anak. Sedangkan untuk anak-anak, mereka akan terhibur dengan cerita penuh warna, mengetahui pulau-pulau yang ada dalam peta emosi mereka. Cinta pun terpesona sambil bilang, “Is this what really happen inside my brain?”

Bahkan dia bisa merecall salah satu pulau ketika kami bepergian hari Minggu kemarin dan Keenan asik menunjuk-nunjuk keluar mobil sambil mengoceh, “Dinosaurs.” Saat saya dan papanya mengomentari hal tersebut, Cinta berujar, “He’s imaginating you know. Kids do that.” “Oh iya, seperti Imagination Land-nya Riley ya, Kak.” “Yes, it’s a fun land,” jawabnya.

9 bintang deh buat film Inside Out.

Kalau menurut kalian bagaimana?

  1. Parental Guidance Suggested: Parents urged to give “parental guidance.” May contain some materials parents might not like for their young children []

Bisakah Pernikahan Jarak Jauh Berhasil?

Huhuhu dari tulisan sebelumnya, kayanya berat banget ya long distance marriage itu. Hmmm, iya sih tapi positifnya pasangan suami istri jadi lebih mandiri dalam berbagai macam hal. Terutama urusan domestik seperti yang saya tulis dalam postingan sebelumnya, ibu-ibu mau nggak mau harus bisa angkat galon sendiri ke dispenser, sigap memperbaiki sendiri atau mencari tukang untuk memperbaiki genteng bocor misalnya, mengelola keuangan dengan lebih baik supaya asap dari dandang di dua dapur ini bisa mengepul.

Sementara para bapak kalau nggak mau sering makan di luar ya jadi belajar masak, membersihkan rumah, menyuci baju sendiri. Keuntungan lainnya, saat bertemu pasangan biasanya jadi lebih mesra dan jarang bertengkar. Ayah dan ibu pun selalu berusaha menciptakan waktu berkualitas bersama pasangan dan anak-anak.

Obviously, a long distance relationship is hard. But, like anything work having, you make it work. – Leona Lewis

Lalu bagaimana supaya kita bisa menjalani pernikahan jarak jauh ini dengan lebih mudah?

Menurut psikolog lulusan Universitas Surabaya, Fini Rahmatika, M.Psi, Psikolog yang biasa disapa Fini ini banyak yang harus dilakukan agar pernikahan jarak jauh dapat berjalan seimbang hingga mencapai suatu well being atau keselarasan di mana kedua pasangan merasa nyaman, bahagia dan sehat lahir batin dengan keadaan tersebut.

“Menjalani LDM itu memang bukan hal yang mudah,” ujar ibu dari duo sholeh dan sholeha Firdaus dan Bilqis. “Perlu kesiapan mental, kemampuan berpikir positif, mengatur emosi, mengambil keputusan dan lain-lain untuk menghadapi tekanan-tekanan yang ada baik dari dalam maupun dari luar diri kita,” tambahnya.

Bagaimana kita tahu bahwa kita telah mencapai kondisi keselarasan psikologi sebagai landasan mengarungi pernikahan jarak jauh? Fini yang juga menjalani pernikahan jarak jauh sejak awal menikah menjelaskan bahwa berdasarkan teori Ryff, seseorang yang memiliki psychological well being yang baik mampu merealisasikan potensi dirinya secara kontinyu, dapat menerima dirinya apa adanya, sanggup membentuk hubungan yang hangat dengan orang lain, memiliki kemandirian terhadap tekanan sosial, memiliki arti diri serta mampu mengontrol lingkungan eksternalnya.

Jika kita sudah bisa melalui ini semua atau setidaknya dapat menjalaninya, maka akan lebih mudah untuk melakukan hal-hal di bawah ini:

  • Membuat komitmen dan menjaga kepercayaan
  • Sebisa mungkin jangan menghakimi atau menuduh hanya berdasarkan prasangka kepada pasangan saat ada masalah.
  • Mampu berpikir positif dan kompromi.
  • Mengelola perasaan . Jangan reaktif saat menerima hal yang membuat tidak nyaman, carilah cara membuat diri kita rileks.
  • Ciptakan aktivitas positif. Salah satu keuntungan LDM adalah me time yang sedikit lebih banyak loh. Misalnya merawat badan dan wajah saat anak-anak tidur atau sekolah supaya saat ketemu suami keliatan segar dan menyenangkan, baca novel, melakukan hobi, dll.
  • Tanggap mengambil keputusan. Ini adalah ketrampilan yang wajib dimiliki dan sangat dibutuhkan saat situasi gawat darurat.
  • Saat bertemu, ciptakan suasana yang menyenangkan , meskipun begitu banyak yang ingin dikeluhkan. Nanti tetap ad”Setelah berdoaa waktunya untuk bercerita (bisa setelah lepas kangen dan tubuh serta fikiran menjadi lebih rileks). Kesempatan ini bisa menjadi ajang saling menguatkan atau recharge

Tambahan dari saya hal paling penting dilakukan dalam menjalani pernikahan jarak jauh adalah doa. Minta kepada Allah SWT untuk menjaga pasangan kita, meridhoi rumah tangga ini dan selalu diberikan yang terbaik. “Supaya hati tetap tenang, selalu ikhlas dan pasrahkan saja kepada Allah. Kita titipkan pasangan kita kepada Allah, karena DIAlah  sebaik-baiknya penjaga. Allah Maha Menjaga,” pesan Fini. Doa terbaik dari kami berdua untuk para teman dan sahabat yang sedang menjalani LDM, semoga selalu dikuatkan dalam cinta dan komitmen. Percayalah kalian pasti bisa menjalaninya.

__________________

Fini Rahmatika, M.Psi, Psikolog adalah ibu dari 2 anak yang selama usia pernikahannya menjalani LDM dengan suami tercinta. Di sela-sela kesibukan mengurus putra-putri tercinta, Fini yang menyelesaikan pendidikan psikologinya di almamater tercinta kami Universitas Surabaya juga bekerja sebagai independent psychologist. Fini pernah bergabung sebagai associate di beberapa lembaga konsultan di Jakarta dan Surabaya; Psikolog Keluarga, Anak, Remaja, PraNikah di Pusat Layanan Keluarga Sejahtera BKKBN Perwakilan Prov. Jatim; Psikolog pendamping anak eks Lapas di Shelter Rumah Hati Jombang, Jatim; Trainer soft skill untuk mahasiswa di Universitas Surabaya serta menjadi narasumber di berbagai talkshow dan artikel parenting.

Mudahkah Menjalani Pernikahan Jarak Jauh?

Berdasarkan pengalaman, menjalani pernikahan jarak jauh bukanlah hal yang mudah. Bahkan mungkin bisa dibilang tantangan yang dihadapi dua kali daripada pasutri yang tinggal serumah. Salah satunya adalah saat ada masalah yang harus diselesaikan. Kalau suami istri yang tinggal serumah bisa membicarakan hal-hal penting dengan duduk semeja atau mungkin sekalian bertengkar sampai menemukan solusi lalu tidur berpelukan, kami para pelaku LDM ini nggak bisa begitu.

Mencari waktu untuk bisa berkomunikasi dalam suasana yang tepat saja sudah menjadi kendala, belum lagi bahasa yang digunakan dalam video call, surat elektronik/sms/WA yang seringkali mudah disalahartikan. Ketika ada kesempatan untuk bertemu pun biasanya nggak tega dipakai untuk bertengkar. Akhirnya masalah pun mengendap atau ketika dibicarakan pun mungkin salah satu nggak puas tapi terpaksa mengalah karena nggak mau merusak momen langka kebersamaan. Masalah-masalah tak terselesaikan inilah yang nantinya bisa jadi api dalam sekam.

Itu baru satu dari sekian banyak risiko pernikahan jarak jauh. Saat memilih hubungan seperti ini sebaiknya kita selalu siap akan risikonya. Kesalahan saya dulu adalah nggak mau tahu akan kendala-kendala dalam tersebut. Saya maunya meski berjauhan semua harus berjalan seperti saat bersama tanpa memahami bahwa keadaannya berbeda. Ketika terjadi masalah lantas sibuk menyalahkan sana sini termasuk diri sendiri. Bukannya menyadari bahwa, “Oke, ini adalah risiko dari pilihan kita yang seharusnya sudah diantisipasi sejak awal.”

Membuka mata dan hati terhadap risiko-risiko ini saat memilih bentuk rumah tangga jarak jauh bisa membuat kita dan pasangan bekerja sama lebih baik dalam mengantisipasi sebelum terjadi dan mengatasi bersama-sama saat telah terjadi.

Distance is not for the fearful, it is for the bold. It’s for those whose willing to spend a lot of time alone in exchange for a little time with the one they love. It’s for those knowing good thing when they see it, even if they don’t see it nearly enough.

Fini Rahmatika, M.Psi, Psikolog yang telah menjalani pernikahan jarak jauh selama 10 tahun mengungkapkan beberapa hal lain yang dapat menjadi gangguan dalam menjalani long distance marriage, di antaranya:

  1. Biaya
    Suami istri yang tinggal terpisah otomatis memiliki pengeluaran rumah tangga yang lebih besar dari pasangan yang tinggal serumah. Mulai dari besarnya ongkos transportasi, biaya komunikasi  dan terutama biaya hidup dua dapur. Sementara nggak sedikit yang hanya mengandalkan satu sumber mata pencaharian. Tapi menurut Fini, kalau kita bisa menikmatinya, Insya Allah segalanya akan terasa ringan. “Ada saja kok rezekinya. Kemampuan mengelola finansial dan kreativitas untuk menjemput rezeki dari arah yang berbeda akan tercipta. Jangan lupa perbanyak sholat dhuha, banyak sedekah dan berbuat kebaikan dalam hal apapun. Niscaya Allah SWT juga akan senantiasa mempermudah urusan kita, termasuk mengatasi kendala dalam LDM ini. Kalo dihitung-hitung, suka nggak sampai logika kita dengan urusan hitungan materi yang kita pegang dengan yang Allah limpahkan. Jadi, tetap percaya dengan keajaiban dari Allah,” pesan ibu dari Firdaus dan Bilqis ini.
  1. Omongan orang.
    Nggak sedikit pasangan yang sebenarnya merasa nggak masalah dengan bentuk keluarga seperti ini tapi kemudian merasa nggak nyaman karena orang-orang di sekitarnya yang terus menerus mempertanyakan alasan mereka untuk nggak berkumpul. Apalagi pakai ancaman, “Suami yang nggak diurusin istrinya nanti selingkuh lho” atau “Nanti anak-anak nggak kenal bapaknya.” Apalagi budaya kita di Indonesia ini, suka kepo yaaaa sama urusan orang. Belum lagi jika dikaitkan dengan budaya patriarki yang menuntut perempuan harus senantiasa melayani suaminya.
  1. Merasa seperti orang tua tunggal.
    Karena pasangan nggak selalu ada di rumah, semua harus dilakukan sendiri. Iya, termasuk angkat galon air mineral ke dispenser, benerin rumah yang rusak, mobil mogok. Tapi yang paling berat biasanya saat anak sakit atau ada urusan yang mendesak namun suami/istri sulit dihubungi karena nggak ada sinyal atau sedang rapat sehingga harus mengambil keputusan sendiri .
  1. Adanya perasaan kesepian, emptyness, moody , mudah cemburu dan takut akan penghianatan.
    Kadang kala perasaan ini muncul saat kita berada dalam situasi yang tidak nyaman dan membuat sedikit tertekan (bisa karena omongan orang, saat harus pisah lagi, saat lagi kangen, saat lagi ada masalah atau lagi PMS hehehehe).
  2. Sering merasa cemas saat pasangan sulit dihubungi (kayaknya ini nggak hanya dirasakan oleh pasangan LDM yaaa…hihihihihi…).

Lho, apakah gangguan orang ketiga nggak termasuk dalam kendala berumah tangga jarak jauh. Oh, pasti. Tapi kebanyakan kehadiran orang ketiga ini disebabkan oleh faktor nomor tiga dan empat. Suami atau istri yang nggak bisa mengelola dengan baik perasaan kesepiannya atau lelah karena harus melakukan semuanya sendiri dan mendapatkan yang ia butuhkan dari orang lain yang ada di dekatnya cenderung mudah untuk mendua. Namun, to be fair gangguan orang ketiga ini tidak hanya berlaku untuk para pasangan yang menjalani LDM ya. Pada pasangan yang serumah pun seringkali terjadi hal serupa.

Lalu dengan sekian banyaknya risiko dalam long distance marriage, apakah nggak ada kemungkinan untuk bertahan dan berhasil menjalaninya? Tentu ada. Banyak kok pasangan yang mampu mengarungi kehidupan seperti ini.

Temukan tips-tipsnya di postingan selanjutnya ya…

__________

Fini Rahmatika, M.Psi, Psikolog adalah ibu dari 2 anak yang selama usia pernikahannya menjalani LDM dengan suami tercinta. Di sela-sela kesibukan mengurus putra-putri tercinta, Fini yang menyelesaikan pendidikan psikologinya di Universitas Surabaya juga bekerja sebagai independent psychologist. Fini pernah bergabung sebagai associate di beberapa lembaga konsultan di Jakarta dan Surabaya; Psikolog Keluarga, Anak, Remaja, PraNikah di Pusat Layanan Keluarga Sejahtera BKKBN Perwakilan Prov. Jatim; Psikolog pendamping anak eks Lapas di Shelter Rumah Hati Jombang, Jatim; Trainer soft skill untuk mahasiswa di Universitas Surabaya serta menjadi narasumber di berbagai talkshow dan artikel parenting.

Serunya Menyusui Sambil Bekerja

Disclaimer: Menyusui adalah pengalaman personal bagi setiap ibu. Cerita yang ditampilkan di tulisan ini hanya bertujuan untuk berbagi pengalaman dan semangat bahwa apapun kondisinya yang penting adalah usaha ibu untuk dapat memberikan ASI bagi buah hati.

 

Sesuai dengan tema ‘Pekan ASI Sedunia” yang berlangsung dari tanggal 1-7 Agustus setiap tahunnya, kali ini saya ingin berbagi cerita tentang pengalaman beberapa teman yang menyusui sambil bekerja (di kantor). Saya sendiri sempat menyusui sambil bekerja selama tiga bulan saja pada tahun 2008, waktu Cinta umur 7 bulan dan berhenti memompa ASI di kantor saat dia berusia 10 bulan. Meski demikian saya tetap menyusui langsung dan memompa sesempatnya di rumah sampai ia berusia 2 tahun. Banyak faktor yang menyebabkan kegagalan ini, salah satunya adalah kurangnya tepatnya manajemen asi perah.

Alhamdulillah sekarang saya melihat semakin banyak ibu-ibu yang berhasil menyusui sambil bekerja di kantor. Rupanya kesibukan menjalani aktivitas profesional mereka nggak menghalangi usaha untuk memberikan air susu ibu bagi bayinya.

Seperti yang dilakukan oleh teman baik saya, Indah Purnamawati. Ipung, panggilan akrabnya setiap hari membawa Zyzy ke kantor supaya bisa menyusui secara langsung karena anak ketiganya itu menolak minum ASIP dari dot maupun sendok. Selain itu Ipung merasa setiap kali memompa setelah Zyzy habis menyusu secara langsung, hasilnya kurang banyak.

Meskipun awalnya ragu membawa Zyzy ke kantornya yang terletak di daerah industri, kondisi ini membuat Ipung terpaksa melakukannya. Zyzy mulai ikut kerja usia 2,5 bulan, setelah cuti melahirkan selesai. “Alhamdulillah anaknya anteng. Setelah kenyang didorong-dorong di stroller langsung tidur,” ujarnya. Kondisi ini berlangsung selama 8 bulan, “Kalau aku kerja sama orang lain pasti aku lebih milih resign daripada menjalani seperti itu. Tapi karena kerja bantuin perusahaan Bapak ya terpaksa dijalani,” imbuh ibu dari 2 putra dan 1 putri ini.

Tapi, kondisi ini jadi pengalaman berharga baginya. “Di kantorku jadi seperti boyongan. Ada stroller, mainan bayi, karpet dan celemek menyusui,” ceritanya. “Tapi senang bisa bawa anak ke kantor dan menyusui langsung meski kita bekerja. Kita jadi tahu perkembangannya setiap hari dan alhamdulillah selama itu Zyzy nggak pernah sakit meski batuk pilek sekalipun. Menurut dokter sih karena Zyzy full ASI jadi badannya kuat,”  jelasnya menutup perbincangan kami melalui whatsapp malam itu.

Mantan teman sekerja saya dulu, Yoke Pratiwi yang bekerja di bank menghadapi tantangan yang nggak kalah serunya selama menyusui. Namun keinginannya untuk dapat memberikan asupan gizi yang terbaik bagi Keanu sangat kuat sehingga Yoke dengan gigih memompa ASI di sela-sela jam kerjanya. “Saya sadar bahwa saya adalah ibu bekerja yang nggak bisa selalu bersama dengan anak saya. Hal yang bisa saya berikan dan nggak bisa digantikan dengan orang lain yang mengasuh anak saya adalah ASI. Alhamdulillah nggak ada kendala yang bisa membuat saya untuk berhenti memberikan ASI hingga usia Keanu berusia 2 tahun, bahkan nyatanya sampe 3 tahun.”

Saat cuti melahirkan Yoke mulai menabung stok ASI perah baik dengan memompa setiap 2 jam juga dengan menyusui secara langsung. “Saat Keanu menyusu, saya memompa juga di PD1 satunya. Kadang saya rela nggak tidur supaya dapat memompa ASI ketika bayi saya tidur,” kenang Yoke. Dan terbukti caranya berhasil. Saat ia kembali bekerja stok ASInya dapat mencukupi kebutuhan Keanu.

Meski demikian di kantor, ibu satu anak ini tetap semangat memompa. Setiap 2-3 jam sekali ia pergi ke ruang meeting untuk memompa ASI. “Kalau ruangannya dipakai ya saya mompa di kamar mandi,” ujarnya. Tapi kondisi ini nggak bikin Yoke patah semangat. “Teman sekantor juga sangat mendukung dan nggak keberatan saya tinggal tiap 2-3 jam untuk memompa ASI. Toh dengan menggunakan pompa elektrik bisa cepat dan hasilnya lumayan banyak. Nggak sampai 15 menit biasanya dapat 100 ml.”

 photo 0A11F22A-5967-4F9D-BA4A-1570AED59CB0_zpsysjtb0ze.jpg
Yoke dan Keanu

Karena mengumpulkan stok ASI perah di kantor, Yoke pun kemana-mana membawa cooler bag lengkap dengan ice gel dan botol kaca. Termasuk saat outing ke luar kota atau bepergian ke tempat wisata. “Oleh-oleh berharga untuk si bocah,” katanya.

Yoke pun berhenti memompa ASI setelah Keanu berusia 2 tahun. “Saya rasa sudah cukup ya waktu untuk menyusui dan sudah capek juga memompa hehehe.” Namun ia tetap menyusui sampai Keanu berusia 3 tahun.

“Saya harap ibu-ibu bekerja tetap semangat dan selalu percaya bahwa pasti bisa menyusui sambil bekerja selagi kita masih diberi kesehatan dan kemampuan untuk menjalaninya. Tipsnya adalah rajin memompa atau memerah serta follow akun-akun yang mendukung pemberian ASI seperti ayahasi,” pesannya.

Nantikan tips-tips sukses menyusui sambil bekerja di postingan berikutnya yaaa….

  1. payudara []

Mengapa Memilih Long Distance Marriage?

Menjalani kehidupan sebagai keluarga pada umumnya yaitu tinggal pada satu rumah bersama dengan anak-anak, hanya berpisah pada pagi hari saat ayah dan ibu bekerja dan anak-anak bersekolah lalu berkumpul lagi pada sore hari, mungkin merupakan hal yang didambakan oleh setiap pasangan. Dan bentuk keluarga seperti inilah yang dianggap ideal bagi sebagian besar masyarakat.

Tapi, pada kenyataannya saat ini mulai banyak kita kenal bentuk keluarga lain yaitu anak hidup bersama orang tua tunggal baik karena perceraian maupun salah satu orang tua meninggal dunia; pasangan suami istri mengasuh anak-anak kerabat atau yatim piatu; maupun suami istri yang tinggal terpisah kota atau negara atau yang lazim dikenal menjalani Long Distance Marriage (LDM).

True love doesn’t mean being inseparable; it means being separated and nothing changes. – Wayne Dyer

Beberapa tahun yang lalu saya pernah menulis pengalaman beberapa mama hebat pelaku pernikahan jarak jauh ini. Tulisan tersebut dimuat di situs MomsGuideIndonesia yang sayangnya saat ini sudah nggak aktif lagi. Kebetulan saat itu sekitar awal tahun 2012 saya baru hidup bersama lagi dengan suami setelah 4 tahun menjalani long distance marriage.

Sebenarnya pernikahan jarak jauh ini bukanlah hal yang asing, tapi entah mengapa masih banyak orang yang berpandangan miring terhadap pasangan yang memutuskan menjalani pernikahan seperti ini. Padahal seperti yang diutarakan oleh Fini Rahmatika, M.Psi. Psikolog, psikolog independen yang pernah menjadi associate di beberapa lembaga konsultan di Jakarta dan Surabaya, banyak hal yang mendasari terjadinya long distance marriage ini. Di antaranya adalah:

  • Pasangan sedang menjalani pendidikan di luar kota atau di luar negeri dan nggak bisa membawa keluarganya.
  • Pekerjaan pasangan nggak memungkinkan suami dan istri selalu tinggal bersama-sama, seperti:
    • Dinas Militer (TNI), mereka harus meninggalkan keluarganya saat harus bertugas keluar negeri, berlayar dll).
    • PNS (suami istri yang punya ikatan dinas atau harus menerima penempatan di daerah yang berbeda, ini dialami bisa dari pihak perempuan ataupun laki-laki).
    • Suami/istri yang berprofesi pelaut.
    • Suami yang bekerja di ranah tambang, kehutanan, offshore dll.
    • Suami yang bekerja di perusahaan asing dan ditempatkan di luar negeri dalam jangka waktu tertentu tanpa bisa membawa keluarga.
  • Anak
    • Memiliki anak berkebutuhan khusus (ABK), sementara daerah tempat suami bekerja tidak memiliki fasilitas untuk mengembangkan potensi anak.
    • Memiliih domisil di daerah tertentu karena memahami daerah dimana suami bekerja berpotensi merusak mental /moral anak.
  • Orangtua
    • Orangtua dari salah satu pasangan sudah lanjut usia dan membutuhkan teman.
    • Orangtua sakit.

Tentu memilih untuk menjalani long distance marriage bukanlah hal mudah yang bisa diputuskan dalam satu malam ya. Sebagai pasangan suami istri pasti ada keinginan untuk bisa selalu berdekatan dengan keluarga. Tapi ketika itu adalah pilihan yang terbaik di antara yang terburuk, maka yang bisa dilakukan adalah meminimalkan resiko dan berusaha sekuat mungkin menjaga keutuhan rumah tangga mereka meski nggak tinggal bersama. Gimana caranya? Tunggu bagian kedua yaaa…

____________________

Fini Rahmatika, M.Psi, Psikolog adalah ibu dari 2 anak yang selama usia pernikahannya menjalani LDM dengan suami tercinta. Di sela-sela kesibukan mengurus putra-putri tercinta, Fini yang menyelesaikan pendidikan psikologinya di almamater tercinta kami Universitas Surabaya juga bekerja sebagai independent psychologist. Fini pernah bergabung sebagai associate di beberapa lembaga konsultan di Jakarta dan Surabaya; Psikolog Keluarga, Anak, Remaja, PraNikah di Pusat Layanan Keluarga Sejahtera BKKBN Perwakilan Prov. Jatim; Psikolog pendamping anak eks Lapas di Shelter Rumah Hati Jombang, Jatim; Trainer soft skill untuk mahasiswa di Universitas Surabaya serta menjadi narasumber di berbagai talkshow dan artikel parenting.