Weaning With Love

weaning with love, menyapih dengan cinta, breastfeeding, menyusui

Weaning with love.  Istilah itu pasti familiar bagi kita para ibu menyusui ya, terutama yang berencana menyapih bayinya seperti saya.

Sebenarnya apa sih weaning with love? Menurut konselor laktasi, Mia Deazy Mayangsariweaning with love adalah cara menyelesaikan atau menutup kegiatan menyusui dengan kasih sayang dan cinta. Dimana proses menyapih ini dilakukan tanpa paksaan dan tanpa memanipulasi seperti menggunakan pahit-pahitan.

Hmmm, waktu berusaha menyapih Cinta dulu saya sempat tuh pakai mengoleskan parutan kunyit ke payudara. Rasanya sampai sekarang masih terbayang ekspresi traumanya Cinta melihat payudara mamanya yang berwarna kuning saat dia minta nenen karena mengantuk. Seketika itu juga dia langsung menangis histeris sampai si mbak pengasuh turun tangan dan menggendong Cinta sampai tertidur.

Gara-gara itu ketika ditawarin nenen lagi, Cinta sempat menolak sambil bilang, “Mimik mama sakit kan.” Meski kemudian dia mau kembali menyusu sampai akhirnya berhenti sendiri beberapa bulan kemudian, perasaan bersalah itu masih tersimpan sampai sekarang. Sehingga saya bertekad untuk menyapih Keenan secara perlahan tanpa menggunakan hal-hal seperti itu lagi.

Memang jadi lebih lama sih, nggak bisa sehari jadi. Tapi kan menyapih memang butuh waktu, nggak bisa instan. Prosesnya sendiri bisa dimulai sejak bayi diperkenalkan dengan makanan padat sebagai pendamping ASI.

Biasanya setelah anak mulai makan, secara perlahan frekuensi menyusui akan berkurang sedikit demi sedikit. Nah, di usia 1 tahun, anak bisa mulai disounding dan diberi afirmasi positif sebagai ‘anak besar’.

Ketika anak sudah lebih besar dan mulai menunjukkan tanda-tanda siap disapih seperti mengurangi frekuensi menyusu dan bisa tidur sepanjang malam, berarti ibu dan anak sudah mulai bisa bersiap untuk menyapih dan disapih dengan cinta. Tapi jangan sampai keliru dengan nursing strike ya.

Proses weaning ini juga memerlukan keterlibatan ayah lho. Seluruh keluarga harus sepakat untuk tetap meneruskan atau menghentikan pemberian ASI di usia 2 tahun. Kesepakatan ini secara emosional akan sangat membantu ibu ketika ada pihak lain yang mempertanyakan ketika anaknya belum juga disapih meski sudah berusia 2 tahun. Biasanya ada tuntutan dari pihak keluarga seperti kakek dan nenek untuk menyapih anak ketika ia tepat berusia 2 tahun. Ini memang kendala yang sering dihadapi oleh ibu menyusui.

Padahal banyak sekali manfaat yang didapat oleh anak yang disusui sampai lebih dari 2 tahun. Beberapa penelitian membuktikan bahwa ASI adalah cairan hidup yang mengandung sel darah putih, zat kekebalan, enzim, hormon dan protein yang cocok untuk bayi sampai ia berhenti menyusu. Menurut Mia, ASI pada tahun kedua justru mengandung lebih banyak antibodi yang sangat berguna bagi anak karena pada usia itu anak sudah mulai bergaul dengan banyak orang dan bereksplorasi di berbagai tempat.

Berdasarkan penelitian terhadap 250 batita di Kenya bagian barat, ASI dapat memenuhi 32% dari total asupan energi yang dibutuhkan oleh anak. Studi yang dilakukan di Bangladesh juga membuktikan bahwa ASI pada tahun kedua dan ketiga menjadi sumber vitamin A yang sangat penting bagi anak. Selain itu menyusui pada tahun kedua dan ketiga juga bermanfaat bagi kecerdasan anak, perkembangan sosial dan kesehatan mentalnya.1

Jangan khawatir anak yang disusui lebih dari 2 tahun akan menjadi manja dan tergantung pada ibunya. Justru sebaliknya, kok. Menurut Elizabeth N. Baldwin, Esq. dalam “Extended Breastfeeding and the Law,

Breastfeeding is a warm and loving way to meet the needs of toddlers and young children. It not only perks them up and energizes them; it also soothes the frustrations, bumps and bruises, and daily stresses of early childhood. In addition, nursing past infancy helps little ones make a gradual transition to childhood.

Intinya sih, menurut teori psikososial, perilaku bayi pada usia 0-2 tahun didorong oleh rasa percaya dan tidak percaya anak terhadap lingkungan sekitarnya. Dan menyusui adalah salah satu cara yang dapat dilakukan orangtua untuk memberikan rasa aman dan nyaman yang dibutuhkan anak dalam membentuk kepercayaan tersebut. Anak yang memiliki rasa percaya bahwa dunia sosialnya adalah tempat yang aman dan orang-orang yang ia temui dapat dipercaya dan saling menyayangi akan lebih mudah beradaptasi pada lingkungan baru dan lebih mandiri.

Jadi nggak perlu buru-buru menyapih anak apalagi dengan cara paksa. Hal ini justru akan membuat anak menjadi rewel berhari-hari seperti yang dialami Keenan, payudara ibu bengkak dan secara psikologis dapat membuat anak merasa ditolak oleh ibunya.

Kalau masih ada keluarga yang meminta ibu untuk menyapih bayinya hanya karena sudah berusia 2 tahun, ayah bisa maju untuk memberikan penjelasan. Yah, secara ibu kan biasanya lebih emosional apalagi soal menyusui. Sedangkan ayah diharapkan bisa lebih tenang dan logis saat memberikan pengertian tentang manfaat extended breastfeeding ini.

Ayah juga dapat membantu ibu saat kesepakatan untuk menghentikan proses menyusu ini sudah tercapai. Misalnya dengan mengencourage anak bahwa dia sudah besar, sudah waktunya minum menggunakan gelas. Atau ketika anak terbangun tengah malam untuk nenen, ayah bisa menggendong atau menidurkannya lagi. Memang proses weaning with love ini panjang dan melelahkan ya sepertinya, tapi percaya deh worth to fight kok. Yuk, berusaha sama-sama! Semangat!

  1. Referensi: Artikel Breastfeeding Past Infancy: Fact Sheet By Kelly Bonyata, BS, IBCLC – http://kellymom.com/ages/older-infant/ebf-benefits/ []

Menyapih, Bukan Proses Instan

Menyapih, bukan proses instan. Weaning should be a process, rather than an event. Begitu kutipan yang saya peroleh dari situs Breastfeedingbasic.com saat sedang mencari tip untuk menyapih batita. Cocok banget dengan kondisi saya yang sedang berusaha menyapih Keenan. Iya, di usianya ke 2,7 tahun ini saya sudah 2 kali gagal saat mencoba menyapih Keenan.

Percobaan pertama saya lakukan ketika Keenan persis berusia dua tahun, gagal karena kemudian dia demam dan sakit. Percobaan kedua dilakukan beberapa bulan yang lalu. Kali ini saya lebih siap secara mental. Apalagi dokter spesialis anak juga mendukung saya menyapih Keenan karena berat badan Keenan yang nggak beranjak dari angka 10kg.

Saat itu saya sengaja memilih long weekend dengan harapan suami bisa membantu saat Keenan tantrum minta nenen di malam hari. Dan benar saja, selain tantrum setiap minta nenen nggak dikasih, Keenan pun jadi mogok makan dan susah tidur. Akibatnya dia jadi cranky. Dikit-dikit marah, dikit-dikit bete. Setelah 68 jam tanpa nenen akhirnya proses menyapih itu saya hentikan. Nggak tega rasanya melihat Keenan nggak nyaman hanya karena nggak bisa menyusu.

Padahal sebenarnya kadang saya sudah merasa nggak nyaman lagi menyusui. Sering kesal karena setiap Keenan terbangun tengah malam selalu minta nenen. Apalagi biasanya bisa terjadi lebih dari 3 kali dalam semalam. I need my beauty sleep. Hiks. Lagipula seringkali dia nggak nenen beneran alias cuma ngempeng. And that’s annoying. Duh.

Nggak lama kemudian, bertepatan dengan World Breastfeeding Week 2015, kami pergi ke Mobahai Shopping Complex yang kebetulan sedang mengadakan acara World Breastfeeding Day. Di sana saya bertemu dengan para konsultan laktasi dari Jabatan Kesehatan Brunei. Nah, kesempatan ini saya pergunakan untuk berkonsultasi tentang proses menyapih. Saat saya bertanya cara menyapih, beliau malah bertanya, “Why do you want to wean him? Are you expecting a new baby?“. Saya pun menjelaskan bahwa Keenan sudah lebih dari 2 tahun dan alasan-alasan lain. Beliau justru menjawab bahwa nggak perlu menyapih Keenan, tunggu saja sampai dia menyapih dirinya sendiri. Sayang waktu itu saya nggak sempat ngobrol lebih lama karena anak-anak sudah heboh minta pulang.

Akhirnya saya curhat dong ke Path dan ke teman-teman sesama (mantan) busui. Kebanyakan memberikan saran yang sama. Dan satu hal yang harus digaris bawahi adalah saat menyapih yang penting adalah kesiapan kedua belah pihak, terutama ibu. Kalau ibu ragu sedikit saja biasanya anak juga akan merasa, sehingga ya kejadian seperti Keenan itu deh, tantrum, rewel dan sebagainya. Akhirnya saya memutuskan untuk mengikuti kesiapan Keenan saja sambil terus disounding kalau Keenan sudah besar, sudah waktunya berhenti nenen, nenen hanya untuk bayi, mama tetap sayang meski Keenan nggak nenen lagi dan sebagainya.

Lagipula sebenarnya Keenan pun sudah mulai menyapih dirinya sendiri. Sejak usia 2 tahun dia hanya minta menyusu saat ingin tidur. Selebihnya sudah nggak pernah minta lagi. Mungkin karena sejak lahir saya selalu menyusui dia saat mau tidur, sehingga Keenan berasumsi bahwa menyusu adalah cara ternyaman untuk membuatnya tidur. Sepertinya PR saya adalah mencari cara untuk mengantarkan Keenan tidur selain dengan menyusu. Dan sampai sekarang belum berhasil hihihi. Tapi memang menyapih sebaiknya nggak dilakukan secara instan dan perlu usaha banyak pihak, sama seperti saat kita mulai menyusui dulu. Diawali dengan baik harus diakhiri dengan indah juga kan.

Untuk memantapkan hati, saya pun meminta saran kepada seorang teman yang juga konselor laktasi dan anggota aktif Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) Jatim, Mia Deazy Mayangsari. Saran-saran dari Mia tentang weaning with love dan self weaning serta beberapa bacaan yang dia sarankan akan saya tulis dalam postingan berikutnya. Sementara itu boleh dong, sharing pengalaman menyapihnya, Moms.

Bermain Dengan Makanan. Ya atau Tidak?

Sensory play, sensory bin, sensoy bin ideas, playing with foods, bermain dengan makanan,

Bermain dengan makanan selalu jadi dilema bagi saya. Saking galaunya beberapa waktu yang lalu saya pernah pasang status tentang perasaan saya melihat makanan atau bahan makanan yang dipakai sebagai alat permainan untuk anak-anak, khususnya batita.

Kalau liat DIY mainan anak-anak yang berbahan beras, pasta, biji-bijian gitu tiap mau ikutan bikin rasanya kok eman-eman ya. Pernah ding beberapa kali bikin beras dan makaroni yang sudah hampir kadaluwarsa diwarnain, spaghetti yang sudah dimasak juga dikasih pewarna, trus buah dipotong-potong jadi stempel. Mainnya sih seru, giliran beberes terus ngebuang makanan-makanan itu jadi nyesel. Sayang aja gitu. Sama kek buang makanan sisa. Sedih.

Status ini saya buat karena sering sekali melihat permainan sensoris yang menggunakan makanan atau bahan makanan sebagai alatnya. Seperti beras warna-warni, pasta (mentah maupun dimasak), tepung, kacang-kacangan dan sebagainya. Saya mengerti sih, alasan memakai bahan makanan adalah untuk keamanan anak dan kepraktisan.

Maklum, anak usia di bawah 3 tahun memang masih sering memasukkan sesuatu ke mulutnya sehingga diperlukan permainan yang aman. Untuk itu biasanya orangtua membuatkan alat permainan dari makanan yang dipercaya lebih aman untuk anak. Ya, maksudnya sih nggak beracun gitu, kalau bahaya tersedak atau tertelan sepertinya masih tetap ada.

Bermain dengan makanan juga lebih praktis bagi orangtua ketimbang mengumpulkan batu-batuan, pasir, daun-daunan kering, beads dan benda-benda lain. Sementara tepung, beras, kacang-kacangan, cereal, pewarna makanan, agar-agar, oatmeal, pasta adalah bahan-bahan yang biasanya tersedia di dapur. Jadi kalau perlu tinggal ambil saja untuk diolah sebagai alat permainan.

Selain itu sebenarnya bermain dengan (bahan) makanan sudah biasa dilakukan oleh anak-anak pra sekolah sejak dulu, ya setidaknya sejak saya masih TK lah. Masih ingat kah teman-teman membuat prakarya dengan menempel beraneka kacang-kacangan di atas kertas yang sudah ada template gambarnya? Atau membuat karya seni dari potongan kentang, bengkuang atau buah belimbing yang diberi pewarna? Aktivitas serupa juga saya lakukan saat masih jadi asisten guru di Sanggar Kreativitas yang dikelola oleh fakultas tempat saya kuliah sekian belas tahun yang lalu. And it was super fun for the kids and the teachers.

Ada manfaat yang bisa didapat dari kegiatan bermain dengan makanan ini. Pertama, anak bisa bereksplorasi dengan aman sekaligus mengenal bahan-bahan makanan yang biasa dimakan. Hal ini dipercaya bisa mengurangi kecenderungan picky eater. Kedua, anak dapat belajar science dengan menggunakan buah atau sayur sebagai pewarna alami. Ketiga, juga dilakukan dengan benar, anak juga dapat belajar keterampilan dasar di dapur seperti mencuci beras, membersihkan sayuran, mengupas buah-buah also how to stay safe in the kitchen.

Namun entah kenapa saya pribadi selalu memiliki perasaan bersalah setiap kali mencoba bermain dengan bahan makanan, khususnya beras dan pasta. Mungkin karena dua benda ini adalah bahan makanan pokok untuk sebagian besar orang. Apalagi dengan kondisi ekonomi seperti sekarang di mana semakin banyak orang yang susah untuk makan sehari-hari rasanya saya nggak bisa membuang-buang beras atau pasta.

Kalau tepung-tepungan, biji-bijian dan bumbu dapur sih masih oke karena belum berhasil menemukan bahan pengganti untuk membuat playdough dan aneka dough lain. Lagipula saya mikirnya kalau tepung kan harus diolah dulu dengan bahan lain untuk dijadikan makanan, begitu juga biji-bijian. Rasanya jarang menemukan orang makan kacang hijau rebus begitu saja kan.

Solusinya sih sementara ini saya berusaha memakai bahan makanan yang memang sudah tidak layak dimakan, misalnya mendekati tanggal kedaluwarsa. Atau sudah lama dibuka dari kemasannya tapi sisa yang belum terpakai masih banyak sementara saran penggunaan maksimal beberapa minggu setelah kemasan dibuka.

Tapi, seminggu yang lalu saya tergoda untuk membuat beras warna warni memakai beras baru. Senang deh bikinnya, apalagi karena berhasil membuat warna-warna yang cantik dan beras tetap kering. Keenan pun senang mainnya karena selama ini memang dia suka sekali mainan beras yang ada di dalam tempat penyimpanan beras. Persis seperti kakak Cinta dulu. Saya pikir biar deh sekali ini dibikinkan mainan khusus dari beras yang bisa dipegang-pegang tanpa harus saya larang. Lagipula harapan saya bisa disimpan untuk berkali-kali pakai. Ternyata kenyataannya nggak seperti itu. Saat dipakai main beras berwarna-warni itu langsung dicampur-campur dan berhamburan ke lantai. Alhamdulillah sih sebagian besar berhasil diselamatkan tapi sebagian lain terpaksa harus dibuang.

Mungkin membuang bahan makanan buat sebagian orang bukanlah hal yang luar biasa. Saya pun dulu begitu. Kalau makan nggak habis baik di rumah atau di restoran ya sudah ditinggal saja. Ada sisa masakan pun langsung dibuang. Tapi setelah bekerja dan merasakan suka duka mencari uang sendiri serta capeknya masak mulai dari mikir menu, ngerajang bumbu, mengolah bahan sampai nyuci perkakas masaknya, pelan-pelan perilaku seperti itu berkurang. Yang ada sekarang kalau anak-anak nggak habis makannya ya terpaksa saya yang makan. Atau kalau ada sisa masakan disimpan untuk dimakan lagi besok atau didaur ulang menjadi makanan baru.

Lagipula dengan memakai makanan sebagai bahan permainan sensoris, terutama yang sudah dimasak, saya khawatir Keenan akan menganggap kalau makanan memang BOLEH dibuat mainan. Dan ini sudah terjadi beberapa kali. Akhir-akhir ini Keenan sudah semakin pandai mengambil sesuatu dari tempat yang tinggi dan membuka sendiri pintu lemari dapur yang telah diamankan dengan “kunci” khusus. Nggak jarang tiba-tiba dia sudah ambil container isi tepung dari dalam lemari atau susu bubuk dari atas rak lalu dibuat mainan. Tadi sore saat saya menghaluskan tahu untuk dimasak, tiba-tiba ada tangan mungil berusaha meraih piring isi tahu dan setelah berhasil dia ikut memasukkan tangannya ke dalam piring dan meremas-remas tahu.

Benar sih, dia cuma ingin tahu apa yang sedang mamanya masak dan bagaimana tekstur benda-benda tersebut. Begitu dia mengerti kalau tahu itu dingin dan lembut ya sudah nggak tertarik untuk bermain lebih jauh. Lain halnya dengan tepung yang bisa bikin dia betah mainnya. Belum lagi makanan di piring yang kadang dimasukkan ke dalam gelas, memindahkan isi minuman dalam gelas satu ke gelas lain. Hadeh, gemes aja gitu lihatnya.

Maka itu sekarang saya berusaha lebih membatasi penggunaan makanan mentah apalagi matang untuk mainan. Meski repot mengumpulkannya, masih banyak benda lain yang bisa digunakan untuk isi meja sensoris seperti water beads, sobekan kertas, batu akuarium, pasir, dedaunan dan ranting pohon atau manik-manik. Tentu sesekali saya nggak keberatan Keenan mengenal bahan-bahan makanan selama itu dalam konteks membantu saya memasak atau membuat kue, bukan khusus untuk bermain.

Dan ternyata setelah lebih rajin browsing ke sana ke mari, masih banyak benda yang bisa digunakan sebagai filling sensory bin selain makanan. Seperti di bawah ini:

Earth sensory bin with water beads.

Earth Sensory Bin Earth Day Activity

Frozen blocks of ice.

Favourite non-food sensory play ideas shared by http://youclevermonkey.com

Kalau menurut teman-teman, oke kah bermain dengan bahan makanan?

Chocolate Chip Cookies Ala Cinta

chocolate chip cookies

Masih dalam suasana libur sekolah 2 minggu yang lalu. Sebenarnya di hari Jumat yang hujan itu, hasrat hati pengen rebahan aja karena memang lagi capek banget. Tapi kok nggak bisa gitu lihat anak-anak berkegiatan tak tentu arah. Si kakak sibuk mantengin youtube, sedangkan Keenan lari ke sana ke mari sambil sesekali lompat-lompat ke badan saya. Mungkin dalam imajinasinya badan mamanya ini semacam trampolin gitu ya.

Akhirnya coba cari resep kue kering yang gampang dan bahannya ada di rumah, secara sudah mendekati jam 12 siang dan nggak mungkin keluar rumah untuk beli bahan-bahan yang nggak ada. Maklum, setiap hari Jumat semua toko, restoran dan kantor di Brunei tutup selama 2 jam pada pukul 12-14 siang untuk memberi kesempatan bagi yang ingin melaksanakan sholat Jumat.

Akhirnya ketemu juga resep chocolate chip cookies yang lumayan gampang di sini. Diam-diam saya persiapkan semua peralatan perang dan bahan-bahan. Pengennya mengeksekusi sendiri gitu. Tapi ternyata kedua bocah itu benar-benar lagi haus hiburan. Mendengar mamanya ribut di dapur langsung pada nyamperin dan ikut bikin ribut juga *inhaleee exhaleeee* *oles peace and calming* sampai harus saya suruh keluar dapur dulu.

Pas saya selesai mempersiapkan bahan, kakak Cinta masuk lagi ke dapur. “Are you going to bake something?” tanyanya. “Yes, I do. Do you want to help?” ujar saya. “Yes!” balasnya penuh semangat.

Biasanya sih tiap mau bikin kue saya selalu melibatkan kakak Cinta mulai dari persiapan bahan. Tapi kali ini melihat kehebohan Keenan yang juga ingin terlibat, saya bisa memperkirakan tingkat keberantakannya bakal seperti apa dan karena lagi nggak mood membereskan dapur, akhirnya langkah itu saya kerjakan sendiri.

 photo F18EC174-A18A-4746-9086-3AB528F2F151_zpsqnxlfo0h.jpg

Jadi kakak Cinta mulai terlibat pada tahap membuat adonan saja. Semua dia lakukan sendiri. Mulai dari mengocok mentega dan gula, mengayak tepung dan soda kue, mencampur bahan kering dan bahan basah sampai mencetak adonan. Keenan juga bantu sih. Bantu ngeliatin kakak mixer adonan dan mencicipi adonan yang sudah dicetak.

Alhamdulillah, meski belum seindah kukis kemasan atau yang dijual di bakery, kukis buatan kami masuk dalam kategori layak makan. Bahkan nyaris ludes dalam waktu 24 jam oleh suami. Entah karena dia doyan atau nggak ada pilihan camilan yang lain hihihi. Hanya saja waktu baru dingin rasanya sedikit terlalu manis untuk selera kami.

Setelah dievaluasi, rasa yang terlalu manis itu ternyata disebabkan penggunaan unsalted butter sementara resep asli menggunakan salted butter. Saya juga lupa memasukkan 1/2 sendok teh garam seperti yang tertulis di resep. Eaaaa.

Nah, kalau belum ada rencana akhir pekan ini, bikin kue aja sama si kecil. Ini dia resep yang sudah kami adaptasi sesuai dengan keberadaan bahan yang ada di rumah:

chocolate chip cookies
Chocolate Chip Cookies Ala Cinta

Bahan:

150 gram unsalted butter
80 gram light brown muscovado sugar
80 gram granulated brown sugar
2 sendok teh vanila extract
1 buah telur ukuran besar (AA)
225 gram tepung terigu serbaguna
1/2 sendok teh soda kue
1/2 sendok teh garam
Chocolate chips plain secukupnya

Cara Membuat:

1. Panaskan oven pada suhu 190• C, beri alas baking paper pada loyang.
2. Kocok mentega (butter) dan gula sampai creamy. Lalu masukkan ekstrak vanila dan telur. Aduk rata.
3. Ayak campuran tepung terigu, soda kue dan garam ke dalam adonan mentega. Aduk menggunakan sendok kayu. Masukkan coklat chip lalu aduk sampai rata.
4. Ambil sesendok teh adonan dan atur di atas loyang dengan jarak yang cukup renggang. Panggang selama 9-10 menit dengan api atas bawah sampai kue nampak kecoklatan di pinggir tapi empuk di tengahnya.
5. Biarkan kue di atas loyang selama beberapa menit lalu pindahkan ke rak pendingin.

Resep asli oleh Valerie Barret yang dimuat oleh situs bbcgoodfood.

Selamat mencoba ya.

Permainan Sensoris

sensory play quotes

Permainan sensoris atau sensory play akhir-akhir ini sering sekali muncul di linimasa akun media sosial saya. Mulai dari yang sederhana dengan bahan seadanya sampai yang canggih. Tapi sebenarnya apa sih sensory play itu? Kenapa saya baru dengar sekarang? Kayanya jaman Cinta kecil dulu nggak ada mainan seperti ini. Atau saya aja yang kudet ya? Hihihi.

Setelah browsing ke sana ke mari, saya mendapat sebuah penjelasan yang cukup lengkap tentang permainan ini dari situs PBS. Dalam artikel di situs itu (link ada di akhir tulisan ini) disebutkan bahwa sensory play atau permainan sensoris adalah aktivitas yang dapat menstimulasi panca indra balita kita: yaitu indra penglihat, pendengar, pencium, perasa dan peraba. Dan ternyata tanpa kita sadari, banyak kegiatan anak-anak yang bisa digolongkan dalam sensory play. Seperti, lompat-lompat di atas tempat tidur atau minum dari sedotan yang dapat menstimulasi indra peraba. Sedangkan bermain bayangan di dinding dengan bantuan lilin atau senter juga aktivitas mewarna serta main cilukba termasuk aktivitas yang bisa menstimulasi indra penglihat.

sensory play infographic

Kalau mau flashback ke jaman kita kecil, sebenarnya banyak permainan kita yang termasuk dalam sensory play ini. Jalan-jalan telanjang kaki di taman berumput atau di jalanan depan rumah sambil menemani ibu belanja; bermain di pantai; menyusun balok-balok kayu sampai finger painting dari lem kanji dan pewarna makanan. Ingat kan?

Kok bisa ya aktivitas sederhana itu digolongkan dalam permainan sensoris? Menurut Sue Gasgoyne dalam bukunya Sensory Play (Play in the EYFS), saat sedang berjalan dengan telanjang kaki di taman, kita akan merasakan tekstur rumput, tanah, bebatuan juga hembusan angin menerpa kulit kita. Kita akan mencium aroma rumput, melihat aneka warna alami alam dan mendengar berbagai suara yang ada di sekitar kita. Saat bermain di pantai kita akan merasakan lembutnya pasir pantai, asinnya air laut dan hangatnya sinar matahari. Kita juga belajar membuat sesuatu dari pasir.

Sedangkan saat melakukan finger painting, indra peraba kita akan mengenal lem kanji yang dingin dan lengket. Lalu indra penglihat akan mempelajari aneka warna dasar dan perpaduannya saat diulaskan ke kertas. Bahkan dari menyusun balok kayu yang sederhana itu kita belajar mengenal bentuk dan mengembangkan imajinasi kita dalam membangun kastil, rumah, kereta yang distimulasi dari bentuk, tekstur dan warna balok kayu.

Selain menstimulasi perkembangan panca indra anak, permainan sensoris ini juga berfungsi melatih motorik kasar dan halusnya. Penelitian juga membuktikan bahwa aktivitas ini membangun sambungan syaraf di otak yang dapat membantu anak melakukan tugas-tugas yang lebih kompleks. Bermain sensoris sangat bermanfaat untuk mengembangkan imajinasi serta kemampuan berbahasa. Anak juga belajar untuk bersosialisasi dan memecahkan masalah.

Seiring dengan perkembangan jaman, ibu-ibu sekarang lebih kreatif dalam menyajikan permainan yang menarik bagi balitanya. Salah satunya adalah dengan membuat sensory table yang dapat memfasilitasi anak untuk belajar tentang proses ilmiah sambil belajar dan berkreasi.

Kotak inilah yang sering saya lihat di akun instagram para ibu muda yang rajin dan kreatif. Biasanya sih kotak ini berisi dengan bahan-bahan yang dapat digunakan untuk belajar sensoris seperti air, pasir, beras, manik-manik yang bisa disentuh, disendok, dituang, diayak, dicetak dan sebagainya.

Meskipun sangat menyenangkan, jujur aja setelah beberapa kali mencoba membuat kotak sensoris untuk Keenan, saya merasa kerepotan karena banyak yang harus dipersiapkan dan berantakannya itu bikin stres. Tapi melihat manfaat dan kegembiraan Keenan saat bermain dengan kotak sensorisnya meski seringkali cuma bertahan 15 menit, membuat saya senang mencari ide permainan sensoris sederhana. Seperti ini:

Sensory Bottle Top “Bubble” Soap

Sensory Bubble Bottle Top Soup

Rainbow Rice Bags

Wave Bottle

Shake shake shake the wave bottle!

A Tub Full of Seeds

Cloud Dough

cloud dough

Untuk mengantisipasi berantakannya, biasanya Keenan saya ajak main di halaman belakang, sekalian berjemur di pagi hari gitu. Malah, kadang kalau lagi nggak sempat menyiapkan apa-apa, saya biarkan saja Keenan main di halaman belakang dengan perlengkapan berkebunnya sambil menemani saya menjemur pakaian. Dia dengan asik akan menyiram rumput, mencongkel tanah lalu membawa mini figur dinosaurusnya untuk bermain di tanah. Atau kalau cuaca atau situasi sedang  nggak memungkinkan ya bikin kotak sensoris yang nggak bikin kotor. Banyak sekali idenya di Pinterest atau instagram. Tinggal cari saja ‘sensory play ideas‘ dan keluarlah berbagai macam pilihan yang bisa ditiru atau dimodifikasi sesuai bahan yang tersedia di rumah. Selamat bermain!

Sumber:

<

p style=”text-align: justify;”>PBS.org
Homeschoolingmama
Sensory Play (Play in the EYFS) by Sue Gasgoyne. Penerbit: Practical Pre-School Books, A Division of MA Education Ltd.

Frittata Muffins. Sarapan Mudah Bergizi.

 photo 955E7D8A-8EB9-4FA2-A78E-6F66251C7724_zpscume7xtz.jpg

Frittata Muffins. Beberapa waktu yang lalu, saat lagi cari ide menu sarapan praktis yang sekaligus bisa dibawa sebagai potluck acara silaturahim ibu-ibu komunitas oil & gas di KB-Seria, Brunei Darussalam, saya melihat resep frittata ini muncul di newsfeed akun Facebook saya. Dan menurut saya resep dari Health.com itu sesuai dengan kriteria penganan yang saya cari. Bahannya mudah, bergizi, masaknya simpel dan tingkat keberhasilan memasaknya tinggi.

Frittata sendiri sebenarnya adalah makanan berbahan dasar telur yang berasal dari Italia yang digoreng (fried). Bentuk dan isinya mirip dengan omelet. Hanya saja adonan telur resep ini dipanggang dalam loyang muffin sehingga disebut frittata muffin.

Untuk resep ini ada beberapa bahan yang saya tambahkan, ada pula yang tidak saya pakai. Bisa juga diutak atik sesuai selara dan keberadaan bahan yang ada di rumah. Hanya saja telur sebagai bahan utamanya harus ada ya, namanya juga telur panggang hehehe.

Supaya lebih mudah, bahan-bahan frittata saya siapkan sore sebelumnya, jadi di pagi hari tinggal siapkan adonan telur, tumis dan panggang. Total waktu yang diperlukan sekitar 45 menit saja.

Mau coba juga? Ini dia resepnya. Kalau mau resep asli bisa langsung meluncur ke sini ya. Di sana juga ada video pembuatannya. Selamat menikmati!

 

Bahan:

1 sdm olive oil.
1/2 bawang bombay, potong dadu
1/2 paprika, potong dadu
100 gr jamur kancing, iris tipis
100 gr dada ayam, potong dadu
6 butir telur
2 sdm susu cair
3 sdm keju parut
Garam, merica

Cara Pembuatan:

1. Panaskan oven dalam suhu 175• C
2. Olesi loyang muffin dengan minyak
3. Kocok telur dengan susu cair, garam dan merica
4. Tumis bawang bombay sampai harum, masukkan paprika, jamur dan ayam. Masak sampai matang.
5. Tuang 1 sdm tumisan ke dalam loyang muffin
6. Tuang telur sampai loyang muffin penuh
7. Taburi keju parut
8. Panggang selama 15-17 menit
9. Setelah 5 menit lepaskan frittata dari loyang. Siap dinikmati.

Untuk 8 porsi
Diadaptasi dari: Health.com