Browsing Category:

Life as Mom

  • Babbles

    Kemudahan Itu Ujian yang Melenakan

    Sudah lama nggak nulis di blog nih. Kali ini mau berbagi tulisan yang saya dapat dari akun facebooknya Faizal Kunhi. Nggak apa-apa ya, sekali-kali posting copasan. Bagus kok artikelnya, sebagai pengingat bahwa ujian dari Allah itu bentuknya bermacam-macam. Termasuk yang satu ini.

    ——-

    Need to know :

    JIKA ANDA SEPERTIKU, MAKA BERUBAHLAH SEBELUM TERLAMBAT…

    Ustadz Musyaffa Ad Dariny, حفظه الله تعال

    Aku mulai lupa dengan bacaan dzikir pagi dan sore, karena telah lama aku tidak membacanya.

    Shalat sunat “rowatib” (yang dilakukan sebelum dan sesudah shalat wajib) telah kuabaikan, tidak tersisa kecuali shalat sunat fajar, itu pun tidak setiap hari.

    Tidak ada lagi bacaan Alquran secara rutin, tidak ada lagi malam yang dihidupkan dengan shalat, dan tidak ada lagi siang yang dihiasi dengan puasa.

    Sedekah, seringkali dihentikan oleh kebakhilan, keraguan, dan kecurigaan. Berdalih dengan sikap hati-hati, harus ada cadangan uang, dan puluhan bisikan setan lainnya.

    Jika pun sedekah itu keluar dari saku, nominalnya sedikit dan setelah ditunda-tunda.

    Satu dua hari, atau bahkan sepekan berlalu, tanpa ada kegiatan membaca kitab yang sungguh-sungguh.

    Seringkali sebuah majlis berakhir dan orang-orangnya bubar, mereka telah makan sepenuh perut dan tertawa sepenuh mulut, bahkan mungkin mereka telah makan daging bangkai si A dan si B, serta saling tukar info tentang harga barang dan mobil. Tapi, mereka tidak saling mengingatkan tentang satu ayat, atau hadits, atau faedah ilmu, atau bahkan doa kaffarotul majlis.

    Inilah fenomena zuhud dalam sunnah, berluas-luasan dalam perkara mubah, dan menyepelekan hal yang diharamkan.

    Sholat dhuha dan witir sekali dalam sepekan.

    Berangkat awal waktu ke jum’atan dan sholat jama’ah; jarang sekali, bahkan hampir tidak pernah.

    Berlebihan dalam makanan, pakaian, dan kendaraan tanpa rasa syukur.

    Musik selingan dalam tayangan berita dan tayangan dokumenter menjadi hal yang biasa.

    Orang seperti ini apa mungkin memberikan pengaruh di masyarakatnya, sedang pada diri dan keluarganya saja tidak.

    Orang seperti ini, apa pantas disebut pembawa perubahan, ataukah yg terbawa arus lingkungan?

    Pantasnya, dia disebut penelur prestasi atau penikmat produksi?

    Maka, hendaknya kita koreksi diri masing-masing. Semoga Allah mengampuni kita selama ini.

    Sebagian ulama mengatakan:

    “Tidaklah kepercayaan masyarakat terhadap sebagian penuntut ilmu menjadi goncang, melainkan saat melihat mereka di shaff terakhir melengkapi rekaat shalatnya yang tertinggal”.

    Ternyata ujian paling berat itu kemudahan yang melenakan

    1. Kehamilan dan persalinan yang mudah, lancar, normal cenderung tanpa kesulitan.Sering membuat mencemooh yang susah hamilnya, penuh resiko, atau bermasalah dengan kata-kata mandul, manja, dll.

    2. Anak-anak yang cenderung sehat, serba normal, penuh aktivitas, mudah diurus, penuh kasih sayang. Sering menimbulkan rasa riya’ merasa diri ibu sempurna hingga merendahkan ibu yang lain dan enggan belajar.

    3. Suami yang setia, ndak neko-neko, romantis dan begitu perhatian, membuat terlena untuk memperbaiki diri dan akhlak agar terus menjadi bidadari surga dan bukan pencela pasangan lain yang bermasalah.

    4. Keuangan yang stabil, bahkan berlebihan, kadangkala membuat terlupa menengok ke bawah, lupa rasanya bersyukur, mudah menghakimi yang lain pemalas dan tak mau kerja keras layaknya dirinya.

    5. Orangtua dan mertua yang pengasih, mudah beradaptasi, membuat kita merasa sempurna sebagai anak, sering membuat kita mudah menghakimi mereka yang bermasalah dgn orangtua dan mertua sebagai anak durhaka, tak tahu terima kasih.

    6. Ilmu yang tinggi, pengetahuan yang luas tanpa sadar membuat kita merasa lebih mumpuni, malas mengejar ilmu-ilmu yang lain, akhirnya merendahkan dan menyepelekan mereka yang kita anggap tak seluas kita ilmu dan pengetahuannya.

    7. Kemudahan dalam ibadah, sholat yang kita anggap tak pernah lalai, puasa yang tak putus, zakat milyaran rupiah, shodaqah tak terhitung, haji dan umroh berkali-kali, membuat kita merasa paling alim dan takwa, tanpa sadar tidak lagi mau belajar dengan alim ulama, enggan bergaul dengan mereka yang kita anggap pendosa.

    Kemudahan itu ujian yang berat, melenakan sering mendatangkan penyakit hati tanpa disadari.
    Berhati-hatilah.

  • Life as Mom, Parenting

    Peran Ayah dalam Tujuan Pengasuhan

    Repost dari WA Grup Circle Moms. Thanks For Sharing, Ica

    Para Ayah dan calon Ayah.. disimak yaa

    RESUME SEMINAR : Peran Ayah dalam Tujuan Pengasuhan
    Bertempat di Sekolah Alam Cikeas, Februari 2015
    Narasumber : Elly Risman, Psi

    〰〰〰〰〰
    Ayah adalah penentu GBHK (Garis Besar Haluan Keluarga), yang bertanggungjawab :
    1. Menentukan visi misi keluarga
    2.  Menyediakan keuangan
    3. Menyediakan makanan dan pakaian
    4. Menyediakan rumah dan isinya
    5. Membimbing anak
    6. Membuat kebijakan dan peraturan
    7. Menentukan standar keberhasilan
    8. Menyediakan training dan pemantauan
    9. Menyediakan perawatan dr harta dan benda
    10. Melakukan pengontrolan
    11. Mendelegasikan tanggung jawab dan otoritas

    Survey membuktikan ayah yang terlibat aktif dalam pengasuhan, memberikan kasih sayang, perhatian dan interaksi yang cukup, akan membuat anak:
    >> Lebih sehat fisik dan mental
    >> Lebih sociable – mudah berinteraksi, berteman dan menyesuaikan diri
    >> Cenderung tumbuh menjadi orang dewasa yang pengasih
    >> Mendapat nilai yang lebih bagus di sekolah
    >> Anak lebih mendapatkan sense of independence
    >> Lebih percaya diri dan tidak cemas di tempat baru
    >> Lebih mudah beradaptasi terhadap perubahan rutinitas
    >> Lebih bisa beradaptasi dalam menghadapi kekecewaan
    >> Anak tumbuh menjadi pribadi dewasa yang suka menghibur orang lain
    >> Punya harga diri yang tinggi
    〰〰〰〰〰〰
    Apa akibat berayah ada berayah tiada? Baik ketiadaan fisik maupun emosional :
    >> mudah terlibat kriminalitas dan kekerasan
    >> Cenderung memiliki hasil tes dan prestasi rendah
    >> Remaja yang tumbuh dengan hanya ibu lebih sexually active
    >> Remaja kurang mendapat pengontrolan dan pendampingan
    >> Anak kehilangan rasa aman
    >> Anak lebih sering temper tantrum
    >> Anak 3x lebih mungkin tidak naik kelas, 4x lbh mungkin DO dari sekolah
    >> Biasanya dapat nilai lebih rendah dlm tes dan buruk dlm semua pelajaran
    >> Lebih mudah depresi
    >> Lebih antisocial — bullying or being bullied, agresif, sensitif terhadap kritik
    >> Lebih sering sakit dan buruk dalam penilaian kesehatan — emosional, fisik, psikologis, sosial.

    Hasil Riset Ibu Diah Karim, trainer senior Yayasan Kita dan Buah Hati, membuktikan bauwa kurangnya peran ayah pada :
    Anak dan remaja laki-laki, menimbulkan masalah sosial yaitu :
    ☑kenakalan remaja
    ☑agresif (kejahatan remaja)
    ☑narkoba
    ☑seks bebas
    Anak dan remaja perempuan, menimbulkan masalah :
    ☑Depresi
    ☑seks bebas

    Jika memang peran ayah sudah harus tiada, kuatkan jiwa anak dengan high quality positive parenting dengan anggota keluarga lainnya Ayah tidak aktif lebih baik daripada perceraian. Perceraian lebih baik daripada lingkungan keluarga yang selalu bertikai atau ayah yang bermasalah. Bila cerai, pertemuan dengan fisik ayah saja tidak cukup, hadirkan pula jiwanya. Perceraian itu antara ayah dengan ibu, bukan perceraian ayah dengan anak-anaknya.

    Peran kita adalah sbg BABY SITTER ALLAH, anak adalah amanah, kenikmatan, ujian & musuh. Dalam melaksanakan amanah ini, butuh perjuangan yang tidak mudah. Dibutuhkan totalitas pikir, rasa, jiwa, tenaga, waktu dan biaya.

    Miliki visi misi pengasuhan : akan lebih mudah saat akan beraksi
    – Visi pengasuhan keluarga nabi Ibrahim (QS Ibrahim: 35-37) :
    1. Penyelamatan aqidah
    2. Pembiasaan ibadah
    3. Pembentukan akhlakul qarimah
    4. Pengajaran lifeskill (kemampuan bertahan hidup dan bermanfaat bagi umat dengan profesional)

    – Visi keluarga Imran (QS Al Imran : 35) menjadi hamba Allah yang taat

    Jika anak adalah lukisan, ayah adalah penentu lukisan apa yang akan dibuat. Naturalis kah? Abstrak kah? Sketsa kah? Ayah adalah penentu tujuan pengasuhan dalam keluarga, akan dijadikan apa anak-anak dalam keluarganya. Ayah juga yang menyediakan cat, tinta, dan kuasnya. Ia yang menentukan nilai-nilai dan kultur apa saja yang disapukan pada kanvas jiwa anak-anaknya. Sesungguhnya, keindahan lukisan jiwa seseorang adalah bukti otentik amanah seorang ayah yang kelak akan dipertanggungjawabkan kepada Allah
    〰〰〰〰
    Dikembangkan dari resume volunteer Rizki Ardila, oleh Tim Yayasan Kita dan Buah Hati
    〰〰〰〰
    #GreatFather #PeranAyah.
    #fwd dari Pipi (tim YKBH)

  • Daily Stories, Life in Brunei, Recipe

    Food Challenge, Day 5

    Yaaaiiy. Sampai juga di hari terakhir #FoodChallenge.

    #Day5FoodChallenge

    Kemarin makan siangnya kesorean1, karena sejak jam 9.30 pagi sudah mondar mandir kaya setrikaan ngelengkapin keperluan Cinta untuk hari pertamanya masuk sekolah Ugama, hiks. Padahal masakannya sudah siap dari pagi. Bahkan kaldunya telah dimasak dari semalam pakai slow cooker. Saking singkatnya waktu, Cinta pun terpaksa makan siang di mobil antara waktu pulang sekolah pagi dan masuk sekolah Ugama.

    Sekolah Ugama ini semacam madrasah di Indonesia yang dikelola resmi oleh Kementerian Hal Ehwal Ugama di bawah Jabatan Pengajian Islam negara Brunei Darussalam. Menurut guru besar2 sekolah Ugama tempat Cinta belajar, sejak tahun 2013 yang lalu, Sultan Hassanal Bolkiah mewajibkan setiap anak yang kedua orang tua atau salah satunya merupakan penduduk atau permanent resident negara Melayu Islam Beraja Brunei Darussalam dan telah berusia 7 tahun pada bulan Januari di tiap tahun ajaran untuk mengikuti sekolah Ugama.

    Baginda Sultan berharap dengan berjalannya undang-undang ini, “insya-Allah, tidaklah akan ada lagi kanak-kanak Islam di negara ini yang akman tercicir dari memahami dan mengetahui ilmu asas pendidikan Islam. Tidak akan ada lagi orang yang tidak pandai sembahyang dan membaca Al-Qur’an”, titah baginda Sultan sempena Majlis Sambutan Hari Guru Ke-22 bagi Tahun 1433 Hijrah/2012 Masihi pada 8 Zulkaedah 1433 bersamaan 24 September 2012.3

    Foreigner seperti kami tentu tidak wajib ikut tapi tidak ada salahnya kan menambah pengetahuan tentang agama yang tidak bisa didapat di sekolah pagi maupun di rumah.

    Habis mengantar Cinta ke sekolah Ugama nggak bisa langsung pulang karena ada taklimat4 dari guru besar sekolah untuk para orang tua siswa. Setelah taklimat selesai, saya berencana makan siang di Plaza Seria saja sama Keenan sambil nunggu kakak pulang karena sekolahnya cuma berlangsung selama 2 jam. Tapi ternyata di tengah-tengah pertemuan Keenan pup dan saya nggak bawa popok ganti. Akhirnya memutuskan untuk pulang aja. Untung perjalanan dari sekolah ke rumah cuma 10 menit. Sampai rumah hanya ada waktu 30 menit sebelum sekolah selesai. Ya cuma sempat mandiin dan nyuapin Keenan trus langsung berangkat lagi deh.

    Jam 4 sore sampai rumah langsung beres-beresin barang-barang sekolah Cinta, duduk sebentar tarik nafas baru ambil makan. Menu sore ini adalah homemade risotto5 tuna keju plus honey lemon tea. Berhubung kehabisan lemon jadi ya nyoba pakai lemon essential oil6 Young Living yang baru diterima tadi pagi. Makasih ya, Anggy :* Lumayanlah buat menyegarkan badan yang mulai remek dan meredakan gejala-gejala flu yang mulai melanda.

    Risotto kali ini rasanya pas sama selera anak-anak. Cukup creamy dan cheesy tapi nggak bikin eneg. Bikinnya juga gampang. Thanks to my super rice cooker hehehe. Resepnya sederhana aja, hasil gabung-gabungin dari berbagai resep di google. Kalau mau nyoba juga, ini dia resep dengan takaran suka-suka.

     photo 65EE0762-EAD9-411C-AC64-F4C77F6D3AB1_zpsg6pxuswm.jpg

    Risotto Tuna Keju ala Mama Nia

    Bahan:
    2 cangkir beras, cuci bersih
    1/2 bagian bawang bombay, dipotong kecil-kecil
    1 siung bawang putih dicincang
    Sejumput garlic granule7 (optional)
    Sejumput mixed herbs8 (optional)
    Garam
    1 buah wortel, dipotong dadu kecil-kecil
    Brokoli sesuai selera
    500 ml kaldu ayam (atau sesuai kebutuhan)
    1 cup susu uht plain
    Tuna kaleng sesuai selera
    1 sdm Margarin untuk menumis
    75 gram keju cheddar parut

    Cara membuat:
    • Tumis bawang bombay dan bawang putih sampai harum.
    • Masukan beras yang sudah dicuci, aduk rata.
    • Tuang 3-4 sendok sayur kaldu, aduk sampai beras terendam kaldu. Masukan wortel, mixed herbs, garam dan garlic granule. Aduk sampai kaldu meresap.
    • Tuang beras ke dalam rice cooker, tambahkan kaldu sampai batas yang dibutuhkan untuk memasak nasi. Aduk dan masak di rice cooker.
    • Menjelang matang, masukan tuna, brokoli, sebagian keju dan susu uht. Aduk rata dan tutup lagi rice cooker sampai matang.
    • Sajikan dengan taburan keju parut.

    Yah, akhirnya tuntas sudah tantangan kali ini. Baru sekarang lho saya berhasil menyelesaikan lagi tantangan di sosial media kaya gini setelah 30 Day Green Smoothie Challenge-nya Simple Green Smoothies setahun yang lalu. Dan sebagai penutup saya mau ngoper tongkat estafet ke Lina Florida atau teman-teman yang berminat ikut tantangan ini. Yuk, posting foto makanan 5 hari berturut-turut. Boleh masakan sendiri atau wisata kuliner. Boleh foto lama atau baru. Asal jangan foto lontong kupang pak Misari ya. Kasian nanti saya ngences hahaha. Trus tag 1 teman setiap harinya. Selamat berkreasi!

    1. tantangan ini mulai saya upload di FB dan IG hari Minggu tanggal 5 Januari, jadi tiap postingan di blog mundur sehari []
    2. kepala sekolah []
    3. Titah “Pendidikan Ugama Wajib 2012” dikutip dari laman web Aspirasi NDP []
    4. perbuatan atau peristiwa pemberian arahan atau informasi yang tepat, KBBI []
    5. 1. rice cooked with broth and sprinkled with grated cheeseArti Kata []
    6. an oil having the odor or flavor of the plant from which it comes; used in perfume and flavorings – Arti Kata []
    7. A dried form of garlic that has been ground into granules rather than powder. Granulated garlic can be used much the same as garlic powder, but has about half the flavoring power as the same measure of garlic powder and like powder, the granules lack in providing the garlic texture of a fresh garlic. 1 teaspoon of granulated garlic equals 1/2 teaspoon of garlic powder. []
    8. Mixed herbs is a common mix of different dried herbs, ready for use without needing to measure out individual quantities. A typical mix includes equal parts of basil, marjoram, oregano, rosemary, sage, thyme []
  • Recipe

    Food Challenge, Day 2

    Tantangan terbesar saya tiap ditodong untuk ikut tantangan adalah menyelesaikannya. Entah sudah berapa tantangan yang putus di tengah jalan. Biasanya sih karena enggak ada waktu dan malas hahaha. Nah, mumpung masih bisa mengerjakan food challenge hari kedua, mari dipamerkan sekalian :))

    #Day2FoodChallenge

     photo CADAFAED-DCD2-496C-8EC4-ECA022AFB56B_zps2pwv9inc.jpg

    Salah satu yang saya suka dari slow cooker adalah bisa bikin bubur nggak pakai repot. Tinggal masukin beras, air, garlic granule, garam lalu set low dan tinggal tidur deh. Besok pagi tambahin labu, jagung dan ubi ke dalamnya, set ke high. Sambil nunggu empuk rebus kangkung, goreng ikan asin jambal roti. Jadi deh Bubur Manado ala ala untuk sarapan.

    Anak lanang suka banget menu ini, sampai ludes dan nangis waktu mangkuknya diangkat untuk diisi lagi.
    Untuk mamanya, biar makin sedap tambahin sambal roa Oshin Healthy Food yang direkomendasiin Pianggy. Yummyyyy…

    Resep Bubur Manado saya contek dari situs majalah Femina, sebagai berikut:

    Bubur Manado
    Bahan:
    200 g beras, cuci bersih, tiriskan
    2 L air
    1 1/2 sdt garam
    100 g ubi jalar merah, kupas, potong dadu 1 cm
    100 g labu kuning, kupas, potong dadu 1 cm
    300 g jagung muda pipilan
    50 g daun melinjo muda, cuci bersih
    50 g daun kangkung, cuci bersih
    25 g daun kemangi, cuci bersih
    Pelengkap:
    150 g ikan asin jambal, potong dadu ½ cm, cuci, goreng hingga kering.

    Cara membuat:
    • Masak beras bersama air dan garam hingga setengah matang. Masukkan ubi merah, labu kuning, dan jagung, aduk rata. Masak kembali hingga lunak.
    • Tambahkan sisa sayuran, sambil aduk perlahan hingga matang dan kental. Angkat.
    • Sajikan bubur dengan pelengkap dan sambal. (f)

    Untuk 6 porsi

    Seperti biasa resep di atas saya modifikasi sedikit sesuai selera. Nah untuk tantangan berikut saya persilakan bun @fiki0102 operan tongkat estafet #FoodChallenge #Day2. Syaratnya masih sama seperti yang kemarin:
    1. Posting foto makanan 5 hari berturut-turut.
    2. Boleh bikin sendiri atau beli.
    3. Boleh foto lama atau baru.
    4. Tag 1 teman untuk setiap harinya.

  • Recipe

    Food Challenge, Day 1

    #Day1FoodChallenge

     photo 26729F76-579D-44DD-98DF-BA688C774BA8_zpsrmbitizz.jpg

    Memberanikan diri menerima tongkat estafet dari ibuknya Kika dalam rangka meramaikan kehebohan #FoodChallenge di sosial media. Berhubung ibu kreatif ini mintanya makanan Brunei, untuk tantangan hari pertama saya pajang menu maksi yang populer di Brunei ini. Kalau di Indonesia disebutnya Mie Ayam, di Brunei (dan Sarawak) dikenal dengan nama Kolo Mee atau Mi Kolok. Menu sederhana dan murah ini bisa dijumpai di kedai makan lokal. Tapi siang ini pengen nyoba bikin sendiri mumpung kemarin di supermarket nemu fresh kolomee noodles.

    Versi asli (dan halal) kolo mee disajikan bersama irisan ayam saus barbecue/rebus. Tapi di sini saya cukup menumis dada ayam dengan bumbu minimalis karena saus kolo mee sendiri sudah penuh dengan msg XD Dan seharusnya sih mie yang biasa disajikan untuk kolo mee ini tipis-tipis tapi karena saya ngerebusnya lebih lama dari instruksi jadi ya ngembang gendut-gendut kaya yang masak gitu. Hasilnya malah enak, lembut dan saus kolo mee jadi lebih meresap sehingga anak-anak doyan makannya.

    Resep Kolo Mee sederhana ini saya ambil dari sini yang saya modifikasi sesuai dengan bahan yang ada di rumah dan selera. Gampang kok kalau mau nyoba. Ini bahan dan cara bikinnya:

    Bahan-bahan:
    Daging ayam cincang (saya pakai daging sapi cincang)
    1/2 ekor ayam, potong kecil-kecil (optional. Saya pakai fillet dada ayam)
    Fresh kolo mee noodles

    Saus kolo mee:
    *Takaran bahan sesuai selera*
    Saus tiram
    Saus kedelai (saya pakai kecap manis)
    Merica
    Gula
    Minyak wijen
    (Campur semua bahan, sisihkan sedikit untuk rendaman daging cincang)

    Bawang goreng untuk taburan
    Daun bawang untuk taburan

    Cara membuat:

    • Pertama, bumbui fillet dada ayam dengan minyak wijen, garam dan mixed herbs. Diamkan selama 15 menit atau sampai bumbu meresap lalu potong sesuai selera dan tumis dengan sedikit minyak sampai matang.
    • Rendam daging cincang dalam saus selama 15 menit. Lalu tumis sampai matang.
    • Masak saus dengan sedikit air sampai mendidih dan kental. Sisihkan.
    • Rebus mie dalam air mendidih selama 1-2 menit, buang airnya lalu bilas dengan air dingin yang mengalir. Kemudian rendam dalam air panas sebentar untuk menghangatkan mie.
    • Letakkan mie dalam mangkuk besar, siram dengan saus dan aduk rata. Pindahkan ke piring, sajikan dengan daging ayam, daging cincang, daun bawang dan bawang goreng. Sajikan segera.

    Ada yang mau menerima tongkat estafet selanjutnya? Di FB dan IG sih sudah saya serahkan ke pemilik toko kue online Antique’s Cake. Tapi kalau ada yang berani terima tantangan ini sih boleh aja ikutan. Aturannya gampang kok:
    1. Posting foto makanan selama 5 hari berturut-turut
    2. Boleh bikinan sendiri atau wisata kuliner
    3. Boleh foto baru atau lama
    4. Tag 1 teman setiap harinya untuk meneruskan tantangan selanjutnya.

    Yuk ikut. Kan lumayan buat nambah postingan blog tiap hari #eh. Happy cooking or eating, teman.

  • Life as Mom, Parenting

    Tentang Rapor

    Sejak minggu lalu banyak teman yang menulis status tentang rapor anak-anaknya dalam sosial medianya. Sebagian ada yang mengeluh karena ketiadaan nilai dalam rapor, hanya deskripsi perilaku anak di kelas. Guru-guru pun sepertinya belum terbiasa dengan rapor tanpa nilai dan ranking ini. “Seperti rapor anak TK,” demikian komentar yang sering saya dengar dalam pembicaraan tentang bentuk rapor baru tersebut.

    Iya sih, memang benar seperti rapor anak TK atau mungkin kelompok bermain. Belasan tahun yang lalu, waktu masih jadi asisten di TK yang dikelola kampus tempat saya kuliah dulu, kami terbiasa bikin rapor dengan sistem seperti itu. Jujur saja rapor seperti itu lebih menantang dan membutuhkan perhatian lebih karena kami sebagai pengajar harus benar-benar dekat dan memperhatikan anak-anak untuk bisa memberikan deskripsi yang sesuai.

    2 tahun belakangan ini juga rapor anak saya enggak ada ranking, cuma berisi rata-rata nilai yang diambil dari ujian, PR dan tugas-tugas sekolah. Selain itu masing-masing guru matpel ngasih deskripsi pencapaian berdasarkan skala 1-3 untuk anak. Persis seperti yang saya bikin dulu. Namun, seperti yang dijelaskan oleh gurunya Cinta, guru tetap pegang ranking cuma nggak dikasih tahu ke orang tua murid kecuali yang ranking 1-3 dari satu angkatan. Murid-murid inilah yang akan menerima trofi saat perayaan kelulusan murid TK dan primary school yang diadakan tiap akhir tahun ajaran.

     photo C377B32C-F896-4A3F-ACF5-F5F9E224903D_zpstgknbh96.jpg

    Saya pribadi lebih suka sistem seperti ini karena informatif dan membantu orang tua melihat lebih jelas kelebihan dan kekurangan anak dalam masing-masing mata pelajaran. Dengan begini ke depannya bisa lebih fokus mengawal anak memperbaiki apa yang dirasa kurang dan mengapresiasi prestasinya sekecil apapun itu.

    Guru pun akan lebih memahami kekuatan dan kelemahan siswa-siswanya baik secara akademis maupun proses belajar. Sehingga dapat mendorong guru dalam mencari strategi mengajar yang lebih tepat untuk memaksimalkan potensi anak-anak. Yah, idealnya sih begitu meski saya yakin masih banyak sekolah yang belum peduli dengan hal ini *grin*.

    Namun, ada anak dan orang tua yang menganggap nilai dan ranking itu penting. Dengan adanya ranking bisa memacu mereka untuk lebih semangat belajar dan meraih prestasi lebih baik. Jadi sistem rapor deskripsi seperti itu tentu tidak cocok.

    Mana saja sama baiknya asal sesuai dengan kebutuhan anak dan orang tua. Asal tidak membuat anak menjadi tertekan dengan hasil yang ia peroleh. Asal tidak membuat orang tua membanding-bandingkan anaknya dengan siswa lain yang mendapat nilai lebih baik tanpa mau melihat usaha yang telah mereka lakukan. Asal tidak menjadi satu-satunya alat penilaian siswa. Karena siswa bukan karyawan yang tiap tahun perlu dinilai hasil kerjanya untuk kemudian diputuskan apakah ia layak dipertahankan sebagai karyawan, layak mendapatkan merit increase atau dipecat.

    Anak adalah individu yang sedang berkembang. Mereka belajar dari mana saja, menyerap apa saja lantas mengolahnya sesuai dengan kemampuan dan minatnya. Hasil yang tertera dalam rapor bukan hanya tanggung jawab anak semata tapi juga ada peran orang tua dan guru di dalamnya.

    Lalu bagaimana cara membaca nilai rapor? Apa sih makna sebenarnya yang tercantum di dalam rapor dan bagaimana sebaiknya kita menyikapi isi rapor tersebut. Silakan disimak tips dari Psikolog Anak & Remaja – Pendidikan yang juga kepala sekolah TK Bestariku, Alzena Masykouri, M.Psi dalam gambar di bawah ini. Semoga bisa membantu yaaa…

  • Parenting

    A Tell-Tale

    Barusan baca lagi Upper Forth at Malory Towers dan menyadari kalau Enid Blyton punya tema khusus yang dibahas di setiap bukunya. Seperti di buku yang mengisahkan kehidupan Darell Rivers dan kawan-kawannya sebagai siswa tahun ke-empat di Malory Towers ini temanya adalah a tell-tale.

    tell·tale
    ˈtelˌtāl/Submit
    adjective
    1.
    revealing, indicating, or betraying something.
    “the telltale bulge of a concealed weapon”
    synonyms: revealing, revelatory, suggestive, meaningful, significant, meaning; informalgiveaway
    “the telltale blush on her face”
    noun
    noun: telltale; plural noun: telltales; noun: tell-tale; plural noun: tell-tales
    1.
    a person, especially a child, who reports others’ wrongdoings or reveals their secrets.
    synonyms: revealing, revelatory, suggestive, meaningful, significant, meaning; informalgiveaway
    “the telltale blush on her face”
    2.
    a device or object that automatically gives a visual indication of the state or presence of something.
    (on a sailboat) a piece of string or fabric that shows the direction and force of the wind.

    Kalau bahasa Indonesianya, tell-tale itu berarti tukang ngadu. Dalam hal ini tentu yang diaduin adalah kesalahan-kesalahan atau kejelekan-kejelekan orang lain. Ya contohnya kalau anak-anak berantem terus salah satu datang ke orang tuanya dan bilang, “Mah, adek itu gangguin aku terus.”

    Banyak hal yang menjadi penyebab seseorang mengadu. Antara lain untuk curhat, menggalang dukungan, meningkatkan percaya diri dan mendapatkan perhatian. Atau bisa juga seperti yang dilakukan June dalam buku di atas, mengadukan pesta tengah malamnya anak-anak kelas senior untuk membalas dendam.

    Apapun itu, asal tahu aja, enggak semua orang suka sama si tukang ngadu ini. Percaya deh, mereka-mereka yang seperti ini beresiko kehilangan teman. Padahal mah nyari teman aja sudah susah ya.

    Lalu gimana caranya supaya anak nggak jadi tukang ngadu?

    Pertama, kita harus pastikan dulu tujuan si anak mengadu ini untuk apa? Sekadar nyari perhatian kah atau memang memberi tahu sesuatu yang berbahaya. Tentu berbeda kan antara anak bilang, “Maaa, adek nih rebut-rebut mainanku terus.” dengan, “Ma, adek naik-naik kursi nih. Sudah mau jatuh.” Yang pertama namanya ngadu, yang kedua pemberitahuan.

    Anak balita yang kemampuan komunikasinya belum terlalu baik mungkin belum mengerti perbedaan tersebut, bisa jadi ia tidak menyadari bahwa pengaduannya itu bisa mengadu domba orang lain atau teman sebayanya. Untuk itu sebaiknya kita mengapresiasi saat dia ‘memberi tahu’ dan abaikan ketika anak mulai mengadu (domba). Sambil pelan-pelan dijelaskan bagaimana cara memberi tahu yang baik.

    Kedua, ajarkan anak untuk mengatasi masalah dengan cara selain mengadu. Ada beberapa orang tua yang tidak mau terlibat dalam pertengkaran antar saudara, ini bagus. Tapi saat situasi mulai membahayakan tentu kita harus turun tangan. Untuk itu perlu kita beri mereka pilihan solusi dalam menyelesaikan masalah setelah sebelumnya diajak bersama-sama memahami masalah yang terjadi.

    Ketiga, jangan memihak. Tentu ini berat ya, apalagi sebagai orang tua bawaannya pasti mau belain anak. Tapi kalau kita memihak akan meningkatkan perilaku mengadu ini karena anak tahu orang tuanya akan selalu melindungi dia.

    Keempatteach them a lesson. Segala cara sudah dicoba tapi anak masih suka mengadu? Yah, biarkan saja lingkungan yang mengajarkan dia. Kita cukup mengingatkan resiko apa saja yang bisa dialami oleh orang yang suka mengadu domba.

    Namun, perlu diingat juga kalau perilaku mengadu ini sebenarnya cukup kompleks. Anak harus punya perasaan aman untuk menceritakan apa saja atau minta bantuan kepada orang tua, terutama untuk hal-hal yang bisa membahayakan dirinya, meski itu termasuk membicarakan keburukan orang lain. Oleh karena itu kembali lagi ke poin pertama, bijaksanalah dalam mendengarkan pengaduan anak dan meresponnya. Sulit? Mungkin iya? Tapi lebih baik repot di awal daripada kelak orang lain yang kerepotan menghadapi anak dewasa kita masih suka mengadu domba rekannya. Betul? 😉

  • Life as Mom

    Daur Ulang Masakan

    Sebagai ibu yang merangkap koki atau minimal mengatur soal makanan di rumah, lumayan sering saya mendapati makanan yang tidak dapat dihabiskan dalam sekali makan atau dalam satu hari. Biasanya sih karena yang dimasakin (atau dibelikan) makanan enggak terlalu selera dengan menu yang tersedia atau lagi kepingin jajan di luar padahal sudah terlanjur masak atau karena masak terlalu banyak.

    Mengatasi masalah ini gampang-gampang susah sih karena mau dibuang sayang. Jujur aja kalau sudah capek masak terus terpaksa harus buang sisa makanan itu sakitnya di sini *tunjuk dada dan dompet*. Dulu waktu masih tinggal di rumah mama sih enggak pernah merasa seperti itu. Nggak doyan makan ya minta dibuatin embak menu lain, udah terlanjur ambil lauk banyak ternyata rasanya enggak cocok ya sisanya taruh aja di piring untuk diberesin bibik. Gitu deh. Baru setelah punya rumah sendiri, ngatur duit belanja sendiri, masak sendiri terasa banget sedihnya, lihat hasil jerih payah masak dan cari duit terbuang sia-sia gitu.

    Sekarang biasanya masakan yang tersisa saya masukkan dalam wadah kedap udara lalu disimpan di kulkas untuk dimakan lagi besok atau besoknya lagi. Cuma seringkali anak-anak enggak mau lagi makan makanan yang sama dengan hari sebelumnya. Apalagi kalau sebenarnya mereka enggak terlalu doyan.

    Tantangannya di situ deh, gimana caranya supaya masakan yang tersisa ini bisa diolah lagi jadi sesuatu yang baru yang lebih cocok di lidah keluarga. Sebenarnya ini sudah biasa kita lakukan ya. Seperti sisa nasi hari ini, besoknya bisa kita tambahin bumbu, kasih telur, suwiran ayam atau sosis, jadi deh nasi goreng. Dan olahan nasi ini memang paling gampang sebenarnya. Selain nasi goreng, bisa juga dibuat frittata nasi dan bitterballen nasi. Selain lebih enak, biasanya anak-anak juga lebih semangat makannya. Apalagi kalau dikasih keju, susu, trus dalamnya diisi sayur yang sudah dicincang. Jadi deh one dish meal atau camilan yang bergizi.

    Yang juga lumayan sering dipraktikkan adalah daging ayam atau sapi sisa semur atau kari semalam setelah kuahnya dibuang bisa digoreng untuk disantap keesokan paginya. Bumbu dari kuah semur dan kari yang sudah meresap ke ayam atau daging bikin rasanya makin mantap. Atau suwiran ayam yang masih banyak dari sisa Soto bisa ditumis bersama sambal balado dan potongan kentang yang sudah digoreng. Jadi deh suwir ayam balado hihihi.  Dimakan pakai nasi hangat plus tumisan sayur bisa jadi menu sarapan yang praktis dan cepat.

    Pernah juga nih mencoba isi sup dijadikan isi makaroni schottel seperti yang pernah diajarin mamakokihandal yang kemudian menginspirasi saya untuk memanfaatkan sisa spageti dan saus bolognese yang belum tercampur menjadi spageti panggang. Itu yah, si Keenan bisa habis 3 potong sendiri sekali makan, sedangkan Cinta dengan hepinya bilang, “You make the most delicious spaghetti pizza, ever‘” Ihiiiiy. Padahal mah, resepnya gampang banget. Cuma bawang bombay ditumis lalu dicampur dengan saus bolognese, susu, telur, keju dan spageti sampai kental, dan kemudian dipanggang di rice cooker!

    Spageti Panggang Favorit Bocah

    Sisa saus bolognese ini juga sering saya makan bersama roti diisi keju, lettuce dan telur mata sapi untuk brunch atau makan siang. Asli kenyang dan enak. Konon makan telur mata sapi saat sarapan bisa bikin kita kenyang lebih lama. Nah, apalagi ditambah roti ya. Alhamdulillah.

    Sayangnya enggak semua hasil daur ulang ini sukses sih. Seperti kemarin saya bikin puding ubi ungu, memanfaatkan ubi ungu kukus yang jadi camilan di hari Minggu, ternyata cuma saya yang doyan. Padahal enak lho, teksturnya  spongy seperti cake lembut gitu. Cuma mungkin anak-anak saya enggak biasa makan puding seperti itu. Jadi ya terpaksa masak-masak sendiri, makan-makan sendiri, eh berdua ding sama suami tapi tetap porsi saya yang paling banyak *sembunyiin timbangan*.

    Puding Ubi Kukus dan Vla Vanila

    Sedihnya, enggak semua bahan bisa didaur ulang, seperti bayam. Kalau enggak habis ya terpaksa dibuang. Itupun setelah enggak sanggup lagi menghabiskan sendirian. Maklum orang rumah enggak terlalu doyan bayam, apalagi kalau dibuat sayur bening. Padahal saya suka sekali. Hujan-hujan makan sayur bening dengan nasi hangat dan perkedel jagung plus sambal terasi dan kerupuk. Nikmatnyoooo…

    Nah, PR saya sekarang adalah sisa ubi kukus dan pancake dari sarapan hari Minggu kemarin. Si ubi sih sudah ada rencana untuk diolah jadi cake marmer ubi kukus untuk potluck rapat Indonesian Bazaar besok dengan catatan enggak malas, karena seperti biasa tiap hari Selasa seperti sekarang dari siang sampai sore mondar-mandir antar jemput si Kakak sekolah dan tuition.

    Didaur ulang jadi apa ya pancake ini?

    Tapi pancake ini nih masih belum ada bayangan mau diapain. Sudah berusaha cari sontekan di google, sayang belum ada yang pas di hati. Sekarang sih masih tersimpan manis di freezer. Mungkin teman-teman bisa kasih ide?

  • Parenting

    Gimana Gaya Salimmu?

    Gegara grup yang lagi hits itu, beberapa hari ini hobi banget mantengin Facebook sambil senyum-senyum sendiri mengenang kegokilan masa lalu. Rasanya tumbuh besar di tahun 80-90an itu seru dan menyenangkan sekali.

    Nah, kemarin ada postingan yang bikin saya tergelitik untuk komen panjang dan serius. Padahal biasanya sih komen haha hihi aja. Isi postingannya tentang cara cium tangan atau biasa disebut salim anak dulu (generasi saya) dan anak sekarang (usia 15 tahun ke bawah). Nggak cuma soal perbedaan cara tapi juga caption dan komen-komen yang menyebutkan bahwa cara salim anak sekarang kelihatan nggak sopan. Seperti apa sih? Ini dia

    Perbedaan cara salim anak jaman dulu (kiri) dan anak jaman sekarang (kanan)

    Kebetulan saya bukan penggemar fanatik budaya salim ini. Buat saya pribadi cium tangan hanya dilakukan kepada orang-orang yang saya kenal dekat dan hormati, seperti kakek, nenek, ayah, ibu, bude, tante, mertua dan suami. Oh iya, plus guru sekolah jaman kecil dulu. Begitu juga akhirnya saya mengajarkan ke anak-anak saya. Mereka cuma wajib salim ke orang-orang tersebut. Kalau ke teman-teman saya atau suami ya terserah anak-anak aja, mau salim (biasanya karena yang tua yang menyodorkan tangan terlebih dahulu) silakan, nggak juga nggak apa-apa.

    Cara cium tangan mereka setelah saya perhatikan adalah dengan menempelkan ujung hidung ke tangan. Malah Keenan si 18 bulan mencium tangan dengan bibirnya dan berbunyi, “Muaaah.” Tapi saya sendiri lebih suka kalau anak-anak menempelkan keningnya ke tangan yang diajak salim. Bukan apa-apa, masalah higienitas saja. Kalau ke saya atau suami sih biasanya salim hanya saat akan berpamitan berangkat sekolah atau pergi dan dalam kondisi tangan saya atau suami bersih. Tapi kalau orang lain kan kita nggak tahu apakah dia sedang sehat atau sakit, habis pegang sesuatu yang kotor atau bau dan belum cuci tangan. Bayangkan kalau bakteri dan virus-virus yang ada di tangan itu langsung masuk ke saluran pernafasan dan menyebabkan sakit. Belum lagi kalau yang tangannya dicium habis ngerokok atau pegang rokok, eaaaa baunya itu lho hehehe.

    Saya sendiri nggak pernah mewajibkan anak orang untuk salim ke saya, meski keponakan sendiri. Kecuali kalau lagi iseng pengen godain. Kalau ada yang minta salim dan sadar tangan saya nggak bersih juga biasanya saya tolak. Kasian jeh, anak orang kalau sakit nanti emaknya yang repot kan, bukan saya.

    Tapi, saya tetap senang lihat anak yang salim dengan cara mencium takzim tangan orang yang dijabatnya. Apalagi kalau masih kecil, lucu aja gitu kecil-kecil bisa salim. Cuma, buat saya itu bukan tolak ukur kesopanan seseorang. Nggak ada hubungannya malah. Banyak kok yang cium tangan dengan sikap sempurna tapi nggak mau antri atau nggak mau kasih tempat duduk di kendaraan umum atau ngomongnya kasar ke orang lain atau ngebego-begoin orang di sosial media. Sementara yang nggak terbiasa salim malah lebih santun.

    Jadi janganlah soal cium tangan ini dijadikan alasan untuk menghakimi anak itu sopan atau enggak. Apalagi lantas menganggap sebuah generasi lebih baik dari generasi lain. Ini hanya soal pilihan dan selalu ada alasan di baliknya. Hargai saja.

    Kalau kamu, gimana gaya salimmu?

    *Foto diambil dari grup FB Hits From The 80s & 90s