Panduan Menghadiri Resepsi Pernikahan Adat Melayu di Brunei

pernikahan adat melayu

Bagi foreigner seperti saya, menghadiri acara pernikahan di negara orang bisa membuat bingung. Meski sudah 8 tahun tinggal di Brunei, bisa dibilang jarang sekali kami mendapat undangan pernikahan. Seingat saya, sampai saat ini baru 5 kali diundang ke Majlis Pernikahan Adat Melayu di Brunei. Plus suami 1 kali menghadiri Chinese Wedding. Kenapa dibedakan begitu? Karena kelompok etnis di Brunei ini terdiri dari 3 besar suku, yaitu Melayu, China dan (Dayak) Iban dengan adatnya masing-masing.

Tidak seperti pesta pernikahan di Indonesia yang biasanya megah dengan aneka hiburan dan aneka makanan yang berlimpah, majlis pernikahan adat melayu atau yang biasa disebut Majlis Bersanding (Resepsi) relatif lebih sederhana. Namun, bukan berarti menjadi tidak istimewa.

Pernikahan Adat Melayu di Brunei terdiri dari banyak upacara, yang biasanya dilakukan selama 2 minggu. Secara tradisional, ritualnya adalah sebagai berikut:

  1. Mengagai atau Berjarum-jarum
  2. Menghantar Tanda Pertunang
  3. Menghantar Berian
  4. Berbedak Mandi
  5. Akad Nikah
  6. Malam Berbedak
  7. Malam Berinai/Berpacar atau Pengganggunan
  8. Majlis Bersanding
  9. Majlis Ambil-Ambilan
  10. Muleh Tiga Hari

(Sumber: Wikipedia dan Brideculture)

Namun, konon saat ini banyak pengantin modern dan keluarganya yang hanya melaksanakan beberapa upacara saja, bahkan ada yang cukup dengan Akad Nikah dan Majlis Bersanding.

Malay Wedding

Nah, akhir pekan kemarin, salah satu teman kami sesama orang Indonesia yang tinggal di Kuala Belait (KB), Brunei Darussalam menikahkan anak gadisnya dengan pemuda Brunei dan mengundang komunitas keluarga Indonesia di KB dan Seria untuk merayakan pernikahan mereka. Meski sebelumnya pernah menghadiri Brunei Malay Wedding, saya masih suka bingung tentang apa yang harus dilakukan di tempat pesta. Secara ini di negara orang gitu lho, kalau sampai salah bersikap kan bisa bikin malu ya.

Akhirnya saya dan seorang sahabat berkonsultasi dengan sahabat kami yang lebih senior dan lebih paham urusan tata cara menghadiri pesta pernikahan di Brunei, khususnya pernikahan cara Melayu. Dan inilah panduan yang kami peroleh.

Panduan Menghadiri Majlis Pernikahan Adat Melayu di Brunei

BUSANA

Di Brunei sini orang Melayu biasanya beragama Islam, jarang sekali menemukan Melayu non Muslim. Jadi saat menghadiri majlis seperti ini tamu biasanya diharapkan berpakaian sopan. Bagi orang Brunei Melayu, umumnya yang perempuan mengenakan Baju Kurung dan yang laki-laki mengenakan Baju Cara Melayu.

Baju Kurung dan Baju Cara Melayu Anak

Oya, budaya sarimbit alias mengenakan busana senada dengan pasangan atau keluarga juga ada di sini lho. Banyak sekali suami istri yang mengenakan baju kurung dan baju cara melayu senada sekaligus dengan anak-anaknya. Kadang ada yang senada warnanya aja dan ada yang benar-benar kembaran warna kain sampai motif sinjang. Bagus-bagus deh. Senang hati ini melihat parade baju kurung dan baju cara melayu.

Tapi ini nggak wajib ya. Kalau nggak punya baju kurung atau baju cara Melayu boleh pakai baju yang sopan, seperti batik, kaftan, gamis, dress, celana panjang kain, dll. Tidak harus tertutup dari atas kepala sampai kaki kok, minimal untuk perempuan ya pakai baju dengan panjang di bawah lutut dan jangan pakai baju tanpa lengan. Seperti yang kami kenakan ini misalnya. Ada yang pakai baju kurung (saya, sementara suami pakai batik, nggak matching sama sekali hahaha), ada yang pakai gamis (atau jubah disebutnya di Brunei), ada yang pakai tunik dan rok bermotif tenun Asmat, ada yang pakai celana juga. Sekali lagi yang penting sopan yaaa. Biar cuma datang ke acara pernikahan juga tetap aja kita membawa nama negara ya, kan.

Ibu Indonesia di Brunei Darussalam
Jangan remehkan emak-emak berdaster, karena kalau mereka dandan kelar lo semua!

Baca juga: Tips Hunting Kain Seragam Pernikahan di Jembatan Merah Plaza

WAKTU KEHADIRAN

Dalam undangan biasanya tertulis lengkap itinerary atau jadwal acara, mulai dari kedatangan tamu sampai pukul berapa acara di mulai. Untuk pernikahan Melayu yang umumnya diadakan siang hari, tamu diharapkan hadir mulai pukul 11.00 – 12.00. Setelah itu, baru rangkaian acara dimulai. Ketepatan waktu ini sangat penting karena acara setelah itu nggak bisa diprediksi apakah cepat atau lama. Bisa-bisa kalau telat, kita nggak bisa lihat prosesi bersandingnya pengantin atau malah kehabisan makanan. Jadi kalau diundang ke Majlis Bersanding datanglah tepat waktu ya.

MASUK KE AREA MAJLIS

Penting untuk kita tahu yang mengundang kita dari pihak pengantin laki-laki atau perempuan. Karena saat masuk tempat majlis, kita akan mendapat pertanyaan, “Jemputan (undangan) pengantin perempuan atau laki-laki?” dari penerima tamu.

Kenapa?

Karena tempat duduk tamu dari pihak pengantin perempuan ditempatkan di bagian yang berbeda dengan tamu dari pihak pengantin laki-laki.

Pernikahan Adat Melayu

Setelah itu, penerima tamu akan mengarahkan di bagian mana kita bisa duduk. Kalau pergi bareng suami atau kerabat atau teman laki-laki jangan harap bisa duduk bareng ya, karena tempat duduk perempuan dan laki-laki dipisah. Tapi tenang, di Brunei nggak pakai sekat pemisah kok, hanya dipisah kanan dan kiri atau laki-laki di bagian depan ruangan, sedangkan yang perempuan di bagian belakang. Jadi masih bisa ngintip-ngintip ke sisi sebelah kalau perlu.

Bahkan, kalau misalnya di sisi perempuan penuh namun masih ada yang baru datang, akan diarahkan ke meja kosong di sisi tamu laki-laki. Yang jelas laki-laki dan perempuan nggak boleh duduk barengan di satu meja, meski suami istri sekalipun.

Oya, ketika disambut oleh penerima tamu, ada yang meminta kita menulis daftar hadir dan ada yang tidak. Tapi yang jelas tidak perlu mencari kotak tempat memasukkan amplop berisi uang atau hadiah ya. Karena umumnya memang tidak disediakan. Jadi setelah mengisi daftar tamu dan menerima suvenir, langsung aja ikuti penerima tamu yang akan menunjukkan tempat duduk kita.

ACARA

Begitu mendapat tempat duduk, silakan bergaul dengan teman di sebelah kanan dan kiri. Agak canggung memang kalau kita nggak kenal siapa-siapa di acara tersebut. Makanya kadang kalau yang diundang suami aja istri jarang ikut dan sebaliknya. Cuma kalau suami saya sih tiap ada jemputan Majlis Bersanding selalu ngajak saya meski saya nggak kenal sama yang punya acara. Jadinya ya main hape deh daripada bengong atau duduk manis mengikuti prosesi acara.

Untungnya acara resepsi adat Melayu di Brunei ini cenderung singkat dan sederhana. Baik yang diadakan di gedung maupun di rumah. Yah, setidaknya begitulah yang pernah saya hadiri. Seperti yang ada di foto ini:

Pernikahan Adat Melayu

Jadi kalaupun bengong ya nggak lama-lama amat. Begitu selesai makan langsung deh nelpon suami ngajak pulang hahaha. Minusnya jadi nggak bisa datang terlambat. Karena kalau kita masuk saat acara dimulai otomatis banyak mata memandang kan ya. Jadi makin canggung deh hehehe.

Berziarah

Berziarah di sini tidak sama artinya dengan di Indonesia yang berarti mendatangi tempat pemakaman atau tempat keramat. Berziarah dalam bahasa Melayu berarti mengunjungi atau pergi ke suatu tempat atau pergi melawat. Dalam konteks acara majlis bersanding, prosesi berziarah adalah ketika pihak keluarga (dipimpin ibu/bapak mempelai) mendatangi tamu-tamu yang datang dan mengucapkan terima kasih atas kehadiran para tamu.

Inilah salah satu alasan kenapa tetamu dari pengantin laki-laki dipisah dengan tamu-tamu dari pengantin perempuan. Jadi, ibu dan kerabat perempuan dari pengantin perempuan akan mendatangi tamu-tamu perempuan yang mereka undang. Begitu pula dengan ayah dan kerabat laki-laki dari pengantin perempuan akan berziarah ke meja tetamu laki-laki. Hal ini juga dilakukan oleh ibu/bapak dan kerabat dari pengantin laki-laki kepada tetamu jemputannya.

Majlis Bersanding

Setelah kedua orang tua pengantin selesai berziarah, giliran wakil dari keluarga pengantin memberikan sepatah dua patah kata menyambut para tamu dan bercerita tentang pengantin berdua. Biasanya ini nggak terlalu lama, paling 10-15 menit lah. Setelah itu masuk ke prosesi Majlis Bersanding.

Prosesi ini bisa berbeda di masing-masing keluarga, tergantung apakah mereka menggunakan upacara adat (macam di Jawa yang pakai lempar telur, cuci kaki, suap-suapan nasi kuning, dll) atau tidak. Tapi di semua acara majlis bersanding yang saya amati nggak ada yang pakai upacara adat jadi belum pernah liat adat tradisional bersanding ala Melayu Brunei huhuhu.

Prosesi Majlis Bersanding yang saya hadiri selama ini adalah ketika pasangan pengantin memasuki tempat resepsi diiringi oleh orang tua dan kerabat lalu duduk di pelaminan. Biasanya yang duduk di pelaminan hanyalah pasangan pengantin, sementara orang tua akan duduk bersama keluarga di meja prasmanan.

MENIKMATI JAMUAN

Seusai pengantin berdua duduk di pelaminan, keluarga dan tetamu akan mendoakan pengantin dipandu seorang Ustadz atau pihak keluarga yang dituakan. Dan kemudian tamu akan dipersilakan menikmati jamuan yang sudah dihidangkan di meja masing-masing.

View this post on Instagram

Sanding | 04.08.19 | 1200pax | ICC Hall

A post shared by HYS Tindulang (@hystindulang) on

Rata-rata hidangan ini terdiri dari nasi putih, 2 sampai 3 macam lauk, sayur, buah dan kue-kue. Minumannya air mineral, minuman bersoda atau sirup. Semua ini disajikan secara prasmanan di meja tempat kita duduk. Kita bisa mengambilnya sendiri sesuai dengan kemampuan kita makan. Usahakan jangan ambil terlalu banyak ya, selain harus berbagi dengan tamu yang lain, sayang banget kan kalau sampai makanan yang kita ambil bersisa.  Mending ambil secukupnya saja lah, Kalau kurang baru nambah lagi. Toh mejanya juga nggak jauh dari tempat duduk kita.

Begitu selesai makan, pihak keluarga pengantin akan memberi tahu bahwa seluruh rangkaian acara sudah selesai. Para tetamu akan dipersilakan berfoto bersama mempelai atau boleh meninggalkan ruangan.

HADIAH

“Trus gimana kita ngasih angpawnya?”

“Harus angpaw atau boleh ngasih hadiah?”

Pertanyaan ini benar-benar mengganggu saya saat pertama kali datang ke jemputan pernikahan. Saking bingungnya karena nggak ada kotak angpaw, akhirnya saya nggak ngasih sama sekali hihihi. Untungnya, pesta pertama yang saya hadiri waktu itu adalah pernikahan teman kantornya suami, dan teman-teman sekantornya sudah patungan untuk membelikan si pengantin baru peralatan rumah tangga. Jadi saya nggak terlalu merasa bersalah.

Baru di jemputan ketiga saya tahu kalau amplop berisi uang itu diberikan kepada ibu/bapak mempelai ketika mereka berziarah ke tempat kita duduk. Cara ngasihnya ya model salam tempel gitu. Saat kita salaman dan cipika cipiki dengan ibu dan kerabat mempelai, saat itu juga kita selipkan amplop ke tangan beliau. Kalau kita datang dengan suami, boleh masing-masing ngasih (suami ngasih ke bapaknya mempelai), boleh juga cuma salah satu aja.

Malah ada teman yang bilang kalau ngasih angpaw di acara pernikahan adat Melayu ini nggak wajib. Mostly mereka memang mengadakan pesta sebagai bentuk rasa syukur atas pernikahan ini. Sehingga nggak terlalu mengharap dapat hadiah dari tamu, apalagi kalau yang ngadain pesta orang kaya.

Tapi sepantasnya menghadiri undangan pesta, ya sebaiknya kita memberi hadiah. Tidak harus berupa uang kok, hadiah berupa benda juga boleh. Cuma agak repot ya kalau misalnya kita bawa misalnya bungkusan berisi sprei gitu trus dikasih ke ibu mempelai saat beliau berziarah ke meja kita. Jadi kalau kita membawa hadiah berupa barang bisa langsung dititipkan ke penerima tamu saat kita masuk ke ruangan majlis.

Begitulah sedikit panduan menghadiri Jemputan Majlis Bersanding di Brunei. Kalau teman-teman ada yang lebih paham tentang acara ini dan menemukan hal-hal yang perlu ditambahkan atau mungkin tidak tepat dari artikel ini, silakan tinggalkan pesan di kolom komentar atau hubungi saya via email.

Oya, sharing yuk pengalaman menghadiri pesta pernikahan yang paling menarik.

Credit image: Image by Janislylove from Pixabay

 

Dari Ibu Bekerja Menjadi Ibu Rumah Tangga. Siapa Takut?

working mom, stay at home mom, ibu bekerja, ibu rumah tangga, masa transisi ibu bekerja ibu rumah tangga

Saya nggak bisa lupa ketika mama saya kembali bekerja untuk menafkahi keluarga setelah perceraiannya dengan ayah saya. It was 25 years ago, I was 9 or 10, my siblings was 6 and 5 years old. Mama saya tadinya adalah ibu rumah tangga dengan berbagai aktivitas seperti terima jahitan baju, buka salon, buka katering juga kalau nggak salah. Walaupun demikian beliau selalu ada di rumah setiap saat saya membutuhkannya. Tapi hari itu, saya pulang ke rumah kakek dan nenek sepulang sekolah, tempat kami tinggal selama beberapa tahun setelah perpisahan orangtua saya, dan tidak menemukan mama saya di sana. Seketika itu juga, saya -yang terlahir sebagai drama queen- tidak berhenti menangis. Ada rasa khawatir beliau nggak akan pulang lagi ke rumah seperti ayah saya dan berbagai perasaan lain. Malamnya, sepulang kerja, beliau menasihati saya supaya memahami kondisi kami saat itu, bahwa beliau harus bekerja karena alasan yang sangat kuat. Hari pun berlalu, perlahan saya dan adik-adik terbiasa dengan status mama sebagai ibu bekerja dan beliau tetap bekerja sampai pensiun beberapa tahun lalu. I’m very proud of her, everybody does. 

Lantas, ketika saya beranjak remaja, saya menyadari bahwa saya tumbuh di lingkungan di mana para ibunya bekerja di luar rumah. Mama saya, Bude, Tante, mama tiri, juga sebagian besar sepupu mama saya bekerja di luar rumah. Iya, bahkan nenek-nenek saya adalah ibu bekerja. Jadilah saya pun tumbuh dengan mereka sebagai role model, menjadi wanita karir adalah impian saya. Cita-cita saya nggak tanggung-tanggung, diplomat dan jurnalis dengan harapan dapat bekerja secara mobile, bertemu dengan orang-orang dengan berbagai karakter dan menikmati berbagai lingkungan baru.

Saat kuliah, saya pun mulai menapaki dunia kerja, dari menjadi asisten guru di playgroup yang dikelola oleh Fakultas tempat saya belajar sampai menjadi customer service di salah satu lembaga kursus bahasa Inggris franchise yang cukup besar di Surabaya dan pertama di Sidoarjo saat itu. Dan saya menikmatinya, sampai akhirnya kuliah terbengkalai karena nggak bisa membagi waktu sehingga ayah tiri saya dan mama harus memberi ultimatum supaya saya segera menyelesaikan skripsi atau tidak lagi dibiayai kuliah. Setelah memperoleh gelar sarjana, saya berusaha mewujudkan cita-cita sebagai wanita karir meski bukan sebagai diplomat atau jurnalis.

working mom, stay at home mom, ibu bekerja, ibu rumah tangga, masa transisi ibu bekerja ibu rumah tangga

Long story short, setelah menikah dan pindah ke Jakarta untuk kedua kalinya, saya pun terpaksa mengganti blazer dengan daster sebagai seragam “kerja” sehari-hari. Seperti yang sering dirasakan kebanyakan ibu bekerja yang beralih menjadi ibu rumah tangga, satu bulan pertama sangat menyenangkan, bisa seharian di rumah, nggak harus buru-buru bangun pagi supaya nggak telat ngantor, santai (apalagi karena punya ART), bisa jalan-jalan kapanpun dan bisa main sama anak sepanjang hari. Pokoknya mah, indah dunia saat itu. Sampai kemudian dunia api menyerang saya mulai jenuh dengan rutinitas sehari-hari yang berulang, pekerjaan rumah yang tidak pernah selesai serta merasa kehilangan identitas diri karena hanya dikenal sebagai mamanya Cinta dan istrinya pak Lukito.

Apalagi karena memang nggak punya role model ibu rumah tangga dan sejak kecil terbiasa dibantu asisten rumah tangga, saya merasa bahwa pekerjaan rumah adalah pekerjaan pembantu. Jadi ada perasaan kecil hati ketika harus diam di rumah dan mengerjakan sendiri hal-hal yang biasa dilakukan si Inem. Sedihnya lagi, kok kaya nggak ada apresiasi dari suami dan anak-anak akan “pengorbanan” saya sebagai IRT. Akibatnya, saya mengalami masa transisi yang cukup berat dan walau sudah menjalani peran ini selama 6 tahun, kadang perasaan itu datang lagi, membuat saya rindu masa-masa bekerja di kantor. 

Baca Juga: Pekerjaan Saya Keren

Awalnya saya kira cuma saya yang mengalami perasaan seperti ini dan membuat saya merasa bersalah karena seakan nggak ikhlas menjalani peran sebagai ibu rumah tangga. Tapi ternyata banyak juga ibu bekerja yang merasakan hal yang sama dalam masa transisi menjadi stay at home mom. Dan ternyata lagi, meskipun gegar budaya ini mungkin tidak dapat dihindari, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk membuat masa-masa ini menjadi lebih mudah and I really wish I knew these earlier

1. Cari Support Group Baik di Dunia Nyata Maupun di Dunia Maya.

Rasanya ini mudah dilakukan ya di jaman sekarang. Banyak sekali komunitas atau grup ibu-ibu (dan ayah) rumah tangga yang dapat kita temui, nggak usah jauh-jauh, coba cari majelis taklim di sekitar kita, dekati ibu-ibu tetangga yang biasanya cuma kita sapa saat akan berangkat ke kantor. Masih nggak pede atau nggak punya banyak waktu untuk keluar rumah karena anak masih bayi? Mainlah ke forum-forum ibu-ibu di dunia maya. Walau nggak bertemu muka, kadang bisa chatting, curhat, baca candaan seru di grup bisa membuat kita lebih bersemangat. Selain itu biasanya mereka akan mengatur playdate untuk ibu dan anak di waktu tertentu.

Intinya, bergaulah dengan sesama ibu rumah tangga, nggak usah ambil peduli dengan stereotipe yang menyebut IRT hobinya cuma ngegosip. Sungguh, IRT jaman sekarang jauh lebih canggih dari itu lho. Nggak sedikit dari komunitas ibu rumah tangga ini yang membuat berbagai kegiatan menarik seperti seminar parentingcooking class dan sejenisnya. Jadi beredarlah di dunia nyata atau maya.

working mom, stay at home mom, ibu bekerja menjadi ibu rumah tangga, adaptasi ibu bekerja menjadi ibu rumah tangga
cari support group yang isinya penuh cinta ya

Oh, ya. Di masa transisi ini, hindarilah segala perdebatan yang bertema ibu bekerja vs ibu rumah tangga. Sesungguhnya ini cuma bikin kita makin galau dan mudah emosi. Mau membela ibu bekerja kok ya sudah nggak kerja lagi, tapi mau membela ibu rumah tangga toh ya kita masih jadi IRT newbie. Juga hindari dulu teman-teman dan keluarga yang hobinya mengomentari segala hal secara negatif. Yang ada kita makin baper kalau dibilang, “Duh, sayang amat. Kerjaan bagus-bagus kok ditinggal. Nggak sayang tuh sama gaji dan bonusnya? Nanti kalau sudah bosen jadi ibu rumah tangga susah lho mau cari kerjaan seperti itu lagi.” Please deh.

2. Tekuni Hobi Kita

Masak, fotografi, blogging, yoga, merajut, tenis, renang. Apa saja asalkan itu positif. Kemungkinannya bisa tak terbatas. Pastikan saja kita punya aktivitas tertentu yang kita sukai dan dapat kita tekuni, minimal 30 menit sehari saja cukup. Ada waktu luang untuk melakukannya lebih lama? Lebih bagus lagi. Namun, usahakan dilakukan secara rutin. Karena ada penelitian yang membuktikan bahwa, hobi yang ditekunin selama 30 menit setiap hari secara rutin akan memberikan hasil yang signifikan dari yang hanya dilakukan sesempatnya.

working mom, stay at home mom, ibu bekerja menjadi ibu rumah tangga, adaptasi ibu bekerja menjadi ibu rumah tangga
tapi jangan sampai kaya gini yah

Aktivitas ini dapat membantu kita untuk mengisi waktu luang, mengurangi kejenuhan daaaan membuat kita tetap memiliki identitas dan kebanggaan pribadi. Oya, nggak sedikit dari teman-teman saya yang akhirnya memperoleh penghasilan dari hobinya ini lho. Berawal dari sekadar bikin kue untuk anak-anak  lalu dibagi ke tetangga, sekarang bisa jadi bakul kue rumahan dengan omset jutaan rupiah setiap bulan. Niatnya cuma menyalurkan hobi berenang eh lantas diminta menjadi pelatih renang untuk ibu-ibu dan anak-anak. Tadinya hanya belajar decoupage dan lettering untuk dekorasi rumah sendiri, sekarang kewalahan menerima pesanan. Nah, lumayan banget kan. Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui.

Baca Juga: Kisekii. Jadilah Diri Sendiri dan Temukan Keajaibannya

3. Jangan Berharap Terlalu Tinggi, Terutama Di Awal Masa Transisi

Mungkin, di hari pertama berhenti kerja, kita membayangkan diri kita seperti Martha Stewart yang dapat menghidangkan aneka masakan sehat dan lezat; membuat berbagai kerajinan tangan sebagai alat belajar dan bermain anak-anak, sekaligus Dr. Sears dan personil Nanny 911 yang dapat memahami segala perilaku anak lantas membuat mereka berperilaku baik dan tenang seharian. Lalu di akhir hari, suami dan anak-anak akan membuatkan kita piagam atau medali sebagai ibu terbaik di dunia.

working mom, stay at home mom, ibu bekerja menjadi ibu rumah tangga, adaptasi ibu bekerja menjadi ibu rumah tangga
hmmm yayaya

Harapan yang tinggi seringkali membuat kita jadi kecewa luar biasa ketika nggak teraih, Makanya kita perlu menyadari bahwa perlu waktu untuk dapat melakukan peran sebagai ibu rumah tangga dengan lancar, terutama bagi yang tadinya terbiasa dibantu asisten rumah tangga. Kacau dan bingung di awal itu wajar. Sama wajarnya ketika anak-anak dan suami seakan-akan tidak menghargai hasil kerja kita. Tapi percaya deh, kehadiran kita di rumah, makanan hangat yang tersedia di meja, senyum riang kita saat menemani anak-anak bermain dan suami nonton tv, terutama dukungan serta kasih sayang kita sangat berarti bagi mereka meski mungkin nggak diucapkan.

4. Temukan Kenyamanan Kita Sendiri

Pakai celana yoga atau daster untuk anter anak sekolah karena nggak sempat dandan? Nggak masalah.
Bikin stok nugget, chicken roll, dan segala makanan siap goreng di kala sempat supaya praktis ketika menyiapkan bekal suami dan anak-anak. Silakan!
Merasa nggak pandai masak dan lebih memilih menggunakan jasa katering harian supaya suami dan anak-anak terjamin makannya sambil kita belajar masak? Nggak ada yang ngelarang juga.
Pakai laundry kiloan? Boleh!
Rumah berantakan dengan mainan dan hasil karya anak-anak? Yah, nggak papa juga.

Atur rumah dan aktivitas sehari-hari sepraktis dan senyaman mungkin bagi mama dan keluarga. Tempatkan breakfast/snack station di salah satu sudut rumah supaya anak-anak dapat mengambil sendiri sarapan dan camilannya tanpa harus mengotori dapur. Jika memungkinkan siapkan satu area khusus untuk tempat bermain anak-anak agar nggak mengotori seluruh rumah.

Kalaupun mama merasa sanggup memasak, membuat hasta karya, mencuci dan setrika baju, membersihkan rumah serapi mungkin dan anak-anak dapat menjaganya, itu bagus banget. Tapi sekali lagi, nggak semua mama mampu menjadi seperti Astri Nugraha. Yang penting mama, suami dan anak-anak nyaman, sehat dan bahagia. Nothing else matter.

5. Aplikasikan Keahlian dan Ketrampilan Kita di Kantor Dulu Dalam Mengatur Rumah dan Keluarga

working mom, stay at home mom, ibu bekerja menjadi ibu rumah tangga, adaptasi ibu bekerja menjadi ibu rumah tangga

Menjadi ibu rumah tangga pun memerlukan manajemen waktu dan emosi yang baik. Dan pengalaman kita sebagai ibu bekerja dapat membantu pekerjaan rumah menjadi lebih efektif dan efisien dengan membuat to do list dan skala prioritas. Tapi kalaupun meleset dari jadwal ya sudah, namapun kita mengurus anak ya, bukan benda mati, nikmati saja. Dan seperti para pekerja di kantor, kita juga perlu meningkatkan ketrampilan seperti ikut kursus masak, seminar parenting, update info-info terkini soal pendidikan anak, kemampuan bahasa asing dan sebagainya supaya dapat memberikan yang terbaik bagi keluarga.

6. Saling Dukung Dengan Pasangan

working mom, stay at home mom, ibu bekerja menjadi ibu rumah tangga, adaptasi ibu bekerja menjadi ibu rumah tangga

Ketika kita berhenti bekerja, otomatis pasangan kita menjadi pencari nafkah tunggal bagi keluarga. Buat sebagian keluarga mungkin bukan masalah besar, tapi bagi sebagian lain tertutupnya satu sumur bisa jadi menimbulkan problem baru. Oleh karena itu, sebelum memutuskan untuk berhenti bekerja, sebaiknya kita diskusi dengan pasangan, bagaimana mengatasi hal ini. Begitu juga dengan pembagian pekerjaan rumah. Karena merasa sebagai pencari nafkah, ada yang merasa tidak perlu lagi membantu di rumah. Kalau kita merasa nggak masalah dengan hal itu ya nggak papa. Tapi, di awal masa transisi, bisa jadi kita merasa kelelahan karena tidak biasa mengerjakan semua hal sendiri. Oleh karena itu dukungan dari pasangan sangat diperlukan di masa ini. Baik bagi yang bertugas mencari nafkah di luar rumah maupun untuk yang bertanggungjawab mengurus rumah tangga. Bicarakan harapan sampai kecemasan kita dengan pasangan dan cari jalan keluarnya. Dengan demikian masa transisi menjadi ibu rumah tangga akan menjadi lebih mudah dijalani.

Setelah beberapa bulan, biasanya kita sudah mulai bisa menguasai medan perang peran baru kita dengan lebih baik dan menikmatinya. Jadi tak perlu khawatir berganti peran. Menjadi ibu rumah tangga mungkin nggak semenarik pekerja kantoran tapi percayalah, kita tetap bisa bersenang-senang serta menjadi versi terbaik dari diri kita dengan peran tersebut.

5 Manfaat Menjalani Pernikahan Jarak Jauh

rian luthfi, relationship, long distance marriage, pernikahan jarak jauh, relationship, family, blogger, arisan llink, blogger perempuan

Menjalani pernikahan jarak jauh alias suami istri tinggal di kota atau negara yang berbeda mungkin bukan pilihan yang populer bagi pasangan suami istri. Tapi, seperti yang telah saya tulis di sini, banyak alasan mengapa pasangan suami istri akhirnya memutuskan untuk menjalani pernikahan jarak jauh. Seperti yang dilakukan oleh teman saya dari Grup V Arisan Link Blogger PerempuanRian Rosita Luthfi. Rian, pemilik blog bernama unik Kompor Mledug ini, telah menjalani pernikahan jarak jauh sejak awal menikah. Bahkan sejak mereka pacaran, dengan total 5 tahun.

Pasangan yang dikaruniai seorang anak laki-laki lucu berusia 1,5 tahun ini terpaksa berpisah kota karena pekerjaan mereka sebagai abdi negara. Meskipun penuh perjuangan dengan segala suka dukanya, pernikahan jarak jauh ternyata memiliki berbagai manfaat bagi pelakunya. Berikut adalah lima di antaranya:

2

5 Manfaat Menjalani Pernikahan Jarak Jauh

1. Menguji Kepercayaan dan Komitmen

Kepercayaan dan komitmen adalah fondasi sebuah hubungan. Untuk itu diperlukan usaha kedua belah pihak untuk dapat mempertahankan kepercayaan dan komitmen pasangannya supaya hubungan tersebut dapat berhasil. Karakter yang terbangun saat menjalani pernikahan jarak jauh ini dapat membantu pasangan suami istri tetap kokoh setelah tidak lagi melakukan long distance marriage.

2. Belajar Komunikasi dan Menyelesaikan Konflik Secara Efektif

Jarak yang jauh, kadang ditambah dengan perbedaan waktu dan kesibukan yang berbeda, membuat pasangan berusaha untuk menghargai setiap waktu yang tersedia dengan belajar berkomunikasi dengan baik serta menyelesaikan konflik secara efektif. Biasanya, suami istri yang menjalani pernikahan jarak jauh memiliki interaksi yang lebih bermakna dan dalam. Pertengkaran pun lebih jarang terjadi mengingat perjuangan yang tidak mudah untuk dapat bertemu. Komunikasi dalam pernikahan jarak jauh juga dapat dipermanis dengan sesekali mengirimkan kutipan-kutipan kata romantis kepada pasangan seperti yang ada di situs Canva: https://www.canva.com/id_id/kutipan/kata-kata-romantis/.

3. Menciptakan Momen Berkesan

rian luthfi, blogger, arisan blog, komplor mleduk, superduperlebay, blog

Ketika memiliki waktu untuk bertemu, pasangan LDR ini biasanya akan memanfaatkan waktu semaksimal mungkin untuk menciptakan momen yang berharga. Seperti yang dilakukan Rian dan suami. Mereka berusaha melakukan hal-hal yang berkualitas seperti jalan-jalan atau sekadar cuddling di rumah. Dengan cara itu, meski suami hanya dapat bertemu dengan anak 1 kali dalam sebulan, Keenan, putra Rian, tetap dekat dengan ayahnya.

4. Melatih Kesabaran dan Kemandirian

Tidak mudah menjadi seorang ibu muda yang bekerja untuk mengurus sendiri batitanya, namun ini dianggap Rian sebagai latihan kesabaran dan kemandirian. Walaupun sebenarnya pemilik blog yang beralamat di http://superduperlebay.wordpress.com ini sudah terbiasa hidup mandiri karena menjalani masa pendidikan SMA dan D3nya di sekolah berasrama jauh dari orang tua. Sejak menikah dan jauh dari suami, Rian terbiasa untuk menangani permasalahan yang terjadi dalam rumah sendirian, seperti mengurus anak sakit sampai naik toren untuk mengecek persediaan air seperti yang ditulisnya dalam postingan berjudul “Menjadi Multitasking“.

5. Memiliki Banyak Waktu Untuk Melakukan Hal Lain

Rian adalah perempuan yang aktif. Menjadi istri dan ibu yang bekerja tidak mengurangi keaktifannya. Pernikahan jarak jauh memberinya waktu untuk melakukan berbagai kegiatan seperti kursus bikin kue, berkomunitas dengan ibu-ibu dari forum The Urban Mama, membuat sendiri permainan sensori untuk Keenan, blogging sampai berolahraga.

rian luthfi, blogger, arisan blog, komplor mleduk, superduperlebay, blog

Menulis di blog adalah salah satu aktivitas Rian di sela-sela waktu luangnya sejak tahun 2009. Dengan desain yang sederhana dan mobile friendly, blog Kompor Mledug ini memanjakan mata pembacanya. Apalagi Rian menulis dengan gaya yang menarik, ringan dan enak dibaca. Blog ini juga menggambarkan perubahaan dalam perjalanan hidup seorang Rian. Dari seorang gadis cuek yang meledak-ledak menjadi sosok ibu muda yang lebih kalem meski tetap smart, aktif, mandiri, kuat, lucu dan apa adanya. Benar-benar menghibur, terutama bagi saya, pembaca kepo yang menggemari blog curhat seperti blognya Rian ini.

Ingin mengenal ibu muda ini lebih dalam lagi? Baca saja cerita-cerita menariknya dalam blog atau kunjungi IGnya di @rianluthfi.

Bisakah Long Distance Marriage Berhasil?

long distance marriage

Huhuhu dari tulisan sebelumnya, kayanya berat banget ya long distance marriage itu. Hmmm, iya sih tapi positifnya pasangan suami istri jadi lebih mandiri dalam berbagai macam hal. Terutama urusan domestik seperti yang saya tulis dalam postingan sebelumnya. Ibu-ibu mau nggak mau harus bisa angkat galon sendiri ke dispenser, sigap memperbaiki sendiri atau mencari tukang untuk memperbaiki genteng bocor misalnya, mengelola keuangan dengan lebih baik supaya asap dari dandang di dua dapur ini bisa mengepul.

Sementara para bapak kalau nggak mau sering makan di luar ya jadi belajar masak, membersihkan rumah, menyuci baju sendiri. Keuntungan lainnya, saat bertemu pasangan biasanya jadi lebih mesra dan jarang bertengkar. Ayah dan ibu pun selalu berusaha menciptakan waktu berkualitas bersama pasangan dan anak-anak.

Obviously, a long distance relationship is hard. But, like anything work having, you make it work. – Leona Lewis

Lalu bagaimana supaya kita bisa menjalani long distance marriage ini dengan lebih mudah?

Menurut psikolog lulusan Universitas Surabaya, Fini Rahmatika, M.Psi, Psikolog yang biasa disapa Fini ini banyak yang harus dilakukan agar pernikahan jarak jauh dapat berjalan seimbang hingga mencapai suatu well being atau keselarasan di mana kedua pasangan merasa nyaman, bahagia dan sehat lahir batin dengan keadaan tersebut.

“Menjalani long distance marriage itu memang bukan hal yang mudah,” ujar ibu dari duo sholeh dan sholeha Firdaus dan Bilqis. “Perlu kesiapan mental, kemampuan berpikir positif, mengatur emosi, mengambil keputusan dan lain-lain untuk menghadapi tekanan-tekanan yang ada baik dari dalam maupun dari luar diri kita,” tambahnya.

Bagaimana kita tahu bahwa kita telah mencapai kondisi keselarasan psikologi sebagai landasan mengarungi pernikahan jarak jauh? Fini yang juga menjalani pernikahan jarak jauh sejak awal menikah menjelaskan bahwa berdasarkan teori Ryff, seseorang yang memiliki psychological well being yang baik mampu merealisasikan potensi dirinya secara kontinyu, dapat menerima dirinya apa adanya, sanggup membentuk hubungan yang hangat dengan orang lain, memiliki kemandirian terhadap tekanan sosial, memiliki arti diri serta mampu mengontrol lingkungan eksternalnya.

7  Langkah Keberhasilan Long Distance Marriage

Jika kita sudah bisa melalui ini semua atau setidaknya dapat menjalaninya, maka akan lebih mudah untuk melakukan hal-hal di bawah ini:

  • Membuat komitmen dan menjaga kepercayaan
  • Sebisa mungkin jangan menghakimi atau menuduh hanya berdasarkan prasangka kepada pasangan saat ada masalah.
  • Mampu berpikir positif dan kompromi.
  • Mengelola perasaan . Jangan reaktif saat menerima hal yang membuat tidak nyaman, carilah cara membuat diri kita rileks.
  • Ciptakan aktivitas positif. Salah satu keuntungan LDM adalah me time yang sedikit lebih banyak loh. Misalnya merawat badan dan wajah saat anak-anak tidur atau sekolah supaya saat ketemu suami keliatan segar dan menyenangkan, baca novel, melakukan hobi, dll.
  • Tanggap mengambil keputusan. Ini adalah ketrampilan yang wajib dimiliki dan sangat dibutuhkan saat situasi gawat darurat.
  • Saat bertemu, ciptakan suasana yang menyenangkan , meskipun begitu banyak yang ingin dikeluhkan. Nanti tetap ad”Setelah berdoaa waktunya untuk bercerita (bisa setelah lepas kangen dan tubuh serta fikiran menjadi lebih rileks). Kesempatan ini bisa menjadi ajang saling menguatkan atau recharge

Tambahan dari saya hal paling penting dilakukan dalam menjalani pernikahan jarak jauh adalah doa. Minta kepada Allah SWT untuk menjaga pasangan kita, meridhoi rumah tangga ini dan selalu diberikan yang terbaik. “Supaya hati tetap tenang, selalu ikhlas dan pasrahkan saja kepada Allah. Kita titipkan pasangan kita kepada Allah, karena DIAlah  sebaik-baiknya penjaga. Allah Maha Menjaga,” pesan Fini. Doa terbaik dari kami berdua untuk para teman dan sahabat yang sedang menjalani LDM, semoga selalu dikuatkan dalam cinta dan komitmen. Percayalah kalian pasti bisa menjalaninya.

__________________

Fini Rahmatika, M.Psi, Psikolog adalah ibu dari 2 anak yang selama usia pernikahannya menjalani LDM dengan suami tercinta. Di sela-sela kesibukan mengurus putra-putri tercinta, Fini yang menyelesaikan pendidikan psikologinya di almamater tercinta kami Universitas Surabaya juga bekerja sebagai independent psychologist. Fini pernah bergabung sebagai associate di beberapa lembaga konsultan di Jakarta dan Surabaya; Psikolog Keluarga, Anak, Remaja, PraNikah di Pusat Layanan Keluarga Sejahtera BKKBN Perwakilan Prov. Jatim; Psikolog pendamping anak eks Lapas di Shelter Rumah Hati Jombang, Jatim; Trainer soft skill untuk mahasiswa di Universitas Surabaya serta menjadi narasumber di berbagai talkshow dan artikel parenting.

Mengapa Memilih Long Distance Marriage?

long distance marriage

Adakah pasangan suami istri yang ketika akan menikah bercita-cita menjalani long distace marriage?

Menjalani kehidupan sebagai keluarga pada umumnya yaitu tinggal pada satu rumah bersama dengan anak-anak, hanya berpisah pada pagi hari saat ayah dan ibu bekerja dan anak-anak bersekolah lalu berkumpul lagi pada sore hari, mungkin merupakan hal yang didambakan oleh setiap pasangan. Dan bentuk keluarga seperti inilah yang dianggap ideal bagi sebagian besar masyarakat. Lalu bagaimana dengan long distance marriage?

Pada kenyataannya saat ini mulai banyak kita kenal bentuk keluarga lain yaitu anak hidup bersama orang tua tunggal. Baik karena perceraian maupun salah satu orang tua meninggal dunia; pasangan suami istri mengasuh anak-anak kerabat atau yatim piatu; maupun suami istri yang tinggal terpisah kota atau negara atau yang lazim dikenal menjalani Long Distance Marriage (LDM).

long distance marriage
True love doesn’t mean being inseparable; it means being separated and nothing changes. – Wayne Dyer

Beberapa tahun yang lalu saya pernah menulis pengalaman beberapa mama hebat pelaku pernikahan jarak jauh ini. Tulisan tersebut dimuat di situs MomsGuideIndonesia yang sayangnya saat ini sudah nggak aktif lagi. Kebetulan saat itu sekitar awal tahun 2012 saya baru hidup bersama lagi dengan suami setelah 4 tahun menjalani long distance marriage.

Mengapa Memilih Long Distance Marriage?

Sebenarnya pernikahan jarak jauh ini bukanlah hal yang asing, tapi entah mengapa masih banyak orang yang berpandangan miring terhadap pasangan yang memutuskan menjalani pernikahan seperti ini. Padahal seperti yang diutarakan oleh Fini Rahmatika, M.Psi. Psikolog, psikolog independen yang pernah menjadi associate di beberapa lembaga konsultan di Jakarta dan Surabaya, banyak hal yang mendasari terjadinya long distance marriage ini. Di antaranya adalah:

  • Pasangan sedang menjalani pendidikan di luar kota atau di luar negeri dan nggak bisa membawa keluarganya.
  • Pekerjaan pasangan nggak memungkinkan suami dan istri selalu tinggal bersama-sama, seperti:
    • Dinas Militer (TNI), mereka harus meninggalkan keluarganya saat harus bertugas keluar negeri, berlayar dll).
    • PNS (suami istri yang punya ikatan dinas atau harus menerima penempatan di daerah yang berbeda, ini dialami bisa dari pihak perempuan ataupun laki-laki).
    • Suami/istri yang berprofesi pelaut.
    • Suami yang bekerja di ranah tambang, kehutanan, offshore dll.
    • Suami yang bekerja di perusahaan asing dan ditempatkan di luar negeri dalam jangka waktu tertentu tanpa bisa membawa keluarga.
  • Anak
    • Memiliki anak berkebutuhan khusus (ABK), sementara daerah tempat suami bekerja tidak memiliki fasilitas untuk mengembangkan potensi anak.
    • Memiliih domisil di daerah tertentu karena memahami daerah dimana suami bekerja berpotensi merusak mental /moral anak.
  • Orangtua
    • Orangtua dari salah satu pasangan sudah lanjut usia dan membutuhkan teman.
    • Orangtua sakit.

Long Distance Marriage bisa berhasil?

Tentu memilih untuk menjalani long distance marriage bukanlah hal mudah yang bisa diputuskan dalam satu malam ya. Sebagai pasangan suami istri pasti ada keinginan untuk bisa selalu berdekatan dengan keluarga. Tapi ketika itu adalah pilihan yang terbaik di antara yang terburuk, maka yang bisa dilakukan adalah meminimalkan resiko dan berusaha sekuat mungkin menjaga keutuhan rumah tangga mereka meski nggak tinggal bersama. Gimana caranya? Tunggu bagian kedua yaaa…

____________________

Fini Rahmatika, M.Psi, Psikolog adalah ibu dari 2 anak yang selama usia pernikahannya menjalani LDM dengan suami tercinta. Di sela-sela kesibukan mengurus putra-putri tercinta, Fini yang menyelesaikan pendidikan psikologinya di almamater tercinta kami Universitas Surabaya juga bekerja sebagai independent psychologist. Fini pernah bergabung sebagai associate di beberapa lembaga konsultan di Jakarta dan Surabaya; Psikolog Keluarga, Anak, Remaja, PraNikah di Pusat Layanan Keluarga Sejahtera BKKBN Perwakilan Prov. Jatim; Psikolog pendamping anak eks Lapas di Shelter Rumah Hati Jombang, Jatim; Trainer soft skill untuk mahasiswa di Universitas Surabaya serta menjadi narasumber di berbagai talkshow dan artikel parenting.

Kredit foto:

  1. Teacherslove.org
  2. Photo by Photos by Lanty on Unsplash

Nyaman Menghadiri Pesta Pernikahan

Beberapa kali saya membaca curhatan tentang tamu-tamu yang merasa diperlakukan kurang menyenangkan oleh panitia penyelenggara saat menghadiri pernikahan. Mulai dari antrian untuk salaman yang terlalu panjang, makanan yang terbatas sampai ruang VIP yang hanya boleh dipakai oleh orang-orang tertentu.

http://i736.photobucket.com/albums/xx4/pojokmungil/WEDDINGINV_zps32125b35.jpg

Berdasarkan pengalaman dan pengamatan saya, beberapa hal di bawah ini bisa jadi perhatian supaya bisa nyaman dan menikmati pesta pernikahan.

1. Jika dalam undangan ada tulisan RSVP1, maka konfirmasikan kehadiran kita paling lambat 2 minggu sebelumnya.

Biasanya undangan semacam ini dilakukan jika pesta dalam bentuk duduk di meja makan. Konfirmasi kehadiran diperlukan supaya pihak penyelenggara dapat memastikan jumlah hidangan yang harus disediakan dan pengaturan tempat duduk yang nyaman bagi masing-masing tamunya.

2. Kenakan pakaian yang rapi, sopan tapi nyaman.

Sebenarnya mudah memilih busana yang pas untuk menghadiri pesta pernikahan. Kecuali ada dress codenya, kita selalu bisa mengenakan pakaian tradisional daerah asal kita atau busana nasional negara setempat. Saat berada dalam sebuah pesta, wajar sih kalau kita ingin tampil semaksimal mungkin, apalagi perempuan ya. Tapi mengenakan kebaya dengan korset yang terlalu ketat dipadu dengan stiletto kadang bisa membuat kita tidak nyaman. Pakailah busana rapi yang bisa menyembunyikan kekurangan tubuh kita, menyerap keringat dengan baik dan tidak terlalu mencolok. Ingat, fokus dalam acara ini seharusnya adalah pengantin, bukan kita.

Oya, ini berlaku juga untuk anak-anak. Jangan sampai supaya mereka tampil lucu dan menggemaskan dipakaikan baju yang membuat mereka tidak nyaman. Bisa-bisa baru 15 menit berada di tempat pesta, anak-anak sudah merengek minta pulang karena kegerahan.

3. Makan secukupnya sebelum berangkat.

Meski kita tahu bahwa di acara nanti akan tersedia banyak hidangan yang bisa kita santap tapi sebaiknya isi perut sebelum berangkat. Roti, susu, buah atau apa sajalah yang bisa membuat kita tidak kelaparan selama perjalanan menuju tempat pernikahan.

Hal ini juga berlaku bagi keluarga mempelai. Biasanya jika acara diadakan pagi hari, panitia akan menyediakan sarapan dalam bentuk nasi kotak bagi keluarga atau among tamu yang sudah harus siap dirias pagi-pagi buta. Tapi ada baiknya juga kita mempersiapkan diri sendiri, terutama kalau bawa anak-anak. Enggak semua makanan yang dipesankan oleh panitia bisa dimakan oleh anak kita. Supaya mereka nggak cranky karena lapar, yang akhirnya bisa bikin kita emosi, lebih baik siapkan saja makanan yang biasa mereka makan.

Begitu pula jika acara diadakan di siang atau malam hari. Intinya sih ojo njagakne. Buang jauh-jauh pikiran, “Ah, nanti makan di tempat acara aja.” Urusan perut ini sensitif. Lapar bisa bikin kita emosi sementara prosesi pernikahan yang panjang seringkali membuat kita harus menunggu sebelum bisa menyantap hidangan yang disediakan tuan rumah. Belum lagi kalau ternyata yang tersaji tidak sesuai selera. Jadi sebaiknya datanglah dengan perut terisi dan hati yang senang.

Lagipula, menghadiri pesta dengan perut terisi membuat kita tidak lapar mata saat melihat aneka hidangan dan bisa menahan diri untuk mengambil makanan secukupnya.

4. Hargai Ruang VIP.

Apapun hubungan kita dengan mempelai; entah itu sepupu, ipar, kakek, nenek, sahabat, atau bos, sebaiknya tidak memasuki ruang VIP kecuali dipersilahkan oleh among tamu atau event organizer (EO). Ingat, penggunaan ruang VIP dan siapa saja yang bisa masuk di dalamnya adalah hak mempelai dan orang tua mereka. Jangan karena merasa sebagai keluarga dekat lantas bisa masuk begitu saja.

Selain tempatnya lebih kecil, hidangan yang ada dalam ruang VIP biasanya sudah diperhitungkan sedemikian rupa sehingga hanya orang-orang yang sudah tercantum dalam daftar yang bisa masuk. Kalaupun kita yakin bahwa rombongan kita termasuk dalam daftar tersebut, bicaralah dengan EO atau among tamu yang menjaga tempat tersebut. Enggak susah rasanya kan bertanya, “Mas/mbak, kami dari keluarga A, sepupu mempelai wanita. Boleh kami duduk di sini?” Bisa jadi kita tidak dipersilakan duduk di ruang VIP karena EO atau among tamu tidak mengenali wajah kita.

Tapi pengalaman saya pribadi menghadiri pernikahan adik-adik kandung, saudara ipar dan sepupu-sepupu, justru kami malas duduk di ruang VIP sebelum mempelai dan orang tuanya turun dari pelaminan. Lebih seru rasanya berbaur dan ngobrol dengan tamu undangan lain sambil menyicipi berbagai hidangan yang ada.

5. Mengambil hidangan dengan bertanggungjawab.

Sering sekali saya menyaksikan piring-piring yang masih penuh dengan sisa makanan tergeletak di meja sementara pemiliknya mungkin sudah sibuk memilih menu yang lain. Sayang sekali. Apalagi kalau ada yang membuang begitu saja menu yang jadi incaran orang banyak. Haduuuuh, itu rasanya pengen nabok orangnya pake clucth deh.

Nah, untuk menghindari makanan terbuang sia-sia, ambil saja secukupnya. Ukur kemampuan perut kita menampung makanan dan pikirkan apakah benar-benar perlu mengambil semua menu yang ada. Kalaupun memang benar-benar lapar mata, ajak pasangan atau teman untuk mengambil menu yang berbeda supaya bisa saling menyicipi isi piring masing-masing.

6. Hargai tuan rumah and enjoy the party!

Sebagai penyelanggara hajat, tentu pengantin dan keluarga sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyenangkan tamu-tamunya. Mulai dari dekorasi ruangan yang indah, makanan yang terpilih rasa dan menunya sampai susunan acara yang diharapkan selain sakral juga bisa menghibur para undangan. Tapi, tentu mereka tidak bisa menyenangkan SEMUA orang yang hadir. Jadi kitalah yang harus pandai membawa diri menikmati semua hasil kerja keras orang-orang yang terlibat dalam pesta tersebut.

Kalaupun ada beberapa hal yang kurang berkenan di hati enggak perlulah diumbar ke sana kemari, terutama melalui sosial media. Jagalah perasaan pengundang yang mungkin bisa membaca keluhan kita di facebook atau blog. Jangan sampai hanya karena rasa makanan yang tidak sesuai dengan lidah kita misalnya, jadi merusak hubungan persaudaraan.

Selamat bersenang-senang di pesta pernikahan!

  1.  In the context of social invitations, RSVP is a request for a response from the invited person or people. It is an initialism derived from the French phrase Répondez s’il vous plaît, literally “Reply if it pleases you” or “Reply please” []