Cara Merawat Diri untuk Para Ibu

Cara Merawat Diri Untuk Para Ibu

Cara merawat diri untuk para ibu. Sebagai ibu, seringkali kita mengutamakan anak dan suami serta pekerjaan rumah tangga atau kantor dibandingkan diri kita sendiri. Iya, nggak sih?

Contoh kecil saja, karena sibuk menyiapkan sarapan untuk anak dan suami yang mau berangkat sekolah dan kerja, kita jadi melewatkan sarapan. “Duh, nggak sempat ah. Sudah jam segini, harus bersih-bersih rumah dulu trus jemur baju sebelum masak. Nggak lapar juga. Nanti sajalah makannya sekalian makan siang.”

Atau, saat merasa capek dan perlu istirahat sejenak, tetap memaksakan diri untuk beraktivitas dengan normal karena berpegang teguh pada moto, “Ibu nggak boleh capek!” Hayo ngaku, siapa yang suka begitu?

Sayaaa!

Eh, itu dulu ding. Sekarang sudah mulai berkurang, karena sudah mulai sadar pentingnya seorang ibu merawat dirinya sendiri.

Cara Merawat Diri Untuk Para Ibu

Apa Sih Merawat Diri Itu?

Merawat diri atau self care adalah semua aktivitas yang dilakukan oleh seseorang dengan tujuan mencapai kesejahteraan hidup yang terdiri dari kesehatan fisik, mental dan emosional.

Atau yang menurut Agnes Wainman adalah:

Something that refuels us, rather than takes from us.

Mengapa Ibu Perlu Merawat Dirinya Sendiri?

Teman-teman pasti tahu instruksi keselamatan yang selalu diberikan oleh pramugari sebelum pesawat lepas landas yang berbunyi,

Intruksi keselamatan ini juga berlaku dalam keseharian kita sebagai seorang ibu. Kalau kita ingin menjadi ibu yang baik, maka hal pertama yang harus kita lakukan adalah memastikan diri kita dalam keadaan baik jasmani dan rohani. Karena ibu yang sehat fisiknya dan mentalnya dapat lebih fokus dan maksimal dalam menjalankan peran dan tugasnya sehari-sehari.

happy mom happy kid

Apa yang Terjadi Jika Ibu Tidak Merawat Dirinya Sendiri?

Ibu yang tidak merawat dirinya sendiri atau tidak mempedulikan kebutuhan fisik, rohani dan mentalnya, akan menjadi seperti robot yang tidak punya perasaan dan tidak punya keinginan. Ibu akan merasa hampa. Hatinya tidak bahagia dan fisiknya lelah. Mungkin dengan kondisi tersebut kita tetap bisa melaksanakan peran sebagai ibu, tapi jangan lupa bahwa anak adalah makhluk yang peka. Saat ibu merasa tidak content, anak akan lebih mudah rewel karena ia dapat merasakan ketidaknyamanan ibunya.

Ibu yang memiliki beban emosional atau mental juga akan mudah sekali melampiaskannya pada anak-anak. Coba perhatikan diri sendiri, Bu. Saat kita sedang kecewa akan sesuatu dan menyimpannya di dalam pikiran kita, biasanya kita jadi lebih mudah marah dan kesal kepada anak-anak. Iya, nggak? Nah, kita tentu nggak ingin itu terjadi terus-menerus kan? Karena lama-kelamaan hal ini akan mempengaruhi hubungan kita dengan anak-anak. Anak mana sih yang bisa dekat dengan ibunya kalau dimarahin terus. Anak mana sih yang bisa merasa nyaman dengan ibunya kalau dicemberutin terus.

Padahal, sebagai ibu perilaku kita akan dicontoh oleh anak. Ibu yang tidak baik kondisi mentalnya tentu tidak dapat memberikan contoh perilaku yang baik. Sedangkan ibu yang bahagia akan dapat mencontohkan kebiasaan-kebiasaan baik kepada anak-anak dan menjadi role model yang baik bagi anak-anak kita.

Cara Merawat Diri Sendiri

Meski merawat diri sendiri itu penting, ternyata banyak ibu yang merasa bersalah saat melakukannya. Menganggap dirinya egois saat ingin punya “me time“. Dan merasa bahwa setelah menikah dan punya anak, seharusnya seluruh waktu ibu didedikasikan untuk keluarga. Padahal ya, ibu juga manusia. Punya rasa, punya hati. Jangan samakan dengan pisau belatiii… (you sing you lose). Ibu juga berhak, bahkan harus merawat diri sendiri.

mom guilt

Agar kita tidak merasa bersalah saat “me time“, selalu tanamkan bahwa yang kita lakukan adalah untuk kebaikan kita, anak dan keluarga. Dan bahwa ini adalah salah satu cara kita bertanggung jawab atas tubuh yang diberi oleh Allah SWT.

Lagipula, cara merawat diri dengan benar bukan berarti harus pergi ke salon setiap minggu. Juga tidak berarti membeli barang-barang yang mahal untuk diri kita sendiri. Merawat diri juga tidak harus dengan pergi berlibur. Walaupun tentu saja semua itu nggak dilarang jika kita mampu. Tapi ada banyak cara sederhana yang bisa kita lakukan untuk merawat diri setelah menikah dan punya anak.

Cara Menjaga Kesehatan Rohani

Cara menjaga kesehatan rohani kita adalah dengan mendekatkan diri kepada Allah SWT bagi teman-teman muslimah, yaitu dengan:

  1. Salat 5 waktu.
    Nikmatilah tiap-tiap salat kita dan jadikanlah waktu itu sebagai waktu kita relaks. Jangan hanya salat sekadar untuk menggugurkan kewajiban dan jangan berdoa sambil memikirkan hal-hal duniawi yang akan atau harus kita lakukan. Tapi manfaatkan waktu salat ini semaksimal mungkin sebagai me time kita dengan Allah SWT.
  2. Membangun koneksi dengan Allah SWT dengan penuh kesadaran dan ketenangan.
    Saat bermunajat kepada Allah, carilah tempat yang tenang. Fokuskan pikiran dan ingat kepada siapa kita berbicara dan apa yang sedang kita lakukan. Bayangkan apa saja rahmat-rahmat Allah SWT yang telah diberikan kepada kita.
  3. Zikir dan doa.
  4. Membaca Al Quran setiap hari.
  5. Menghadiri majelis taklim dan bergabung dalam perkumpulan dengan teman-teman salehah.

Untuk ibu-ibu yang punya bayi dan balita mungkin agak sulit melakukan hal-hal di atas ya. Jangankan mau menghadiri majelis taklim, kadang mau salat aja harus buru-buru. Tapi usahakanlah, Bu. Titipkan anak pada suami sementara saat kita mau salat selepas suami kembali dari masjid. Atau biarkan saja mereka bermain di satu kamar yang sudah kita amankan dari benda-benda berbahaya, sementara kita salat di kamar kita atau di ruang keluarga.

Bagi teman-teman non musim bisa menggunakan waktu ibadahnya sebagai me time juga. Fokuskan energi dan waktu kita untuk berkomunikasi dengan Sang Pencipta.

Baca juga: Counting the (Small) Blessings

Cara Merawat Fisik

Banyak cara sederhana yang bisa kita lakukan untuk merawat fisik, antara lain:

  1. Makan makanan yang bergizi. Disunnahkan makan-makanan yang disukai Rasulullah SAW seperti kurma, madu, barley, dsb.
  2. Berolahraga. Sempatkanlah berolahraga setiap hari meski hanya 10 menit!
  3. Cukup tidur. Disunnahkan untuk tidur atau istirahat siang (qailulah).
  4. Minum cukup air agar tubuh terhidrasi dengan baik.

Tidur siang itu nggak harus lama ya, Ibu-ibu. 10-20 menit pun cukup. Waktu ini juga bisa kita manfaatkan sebagai waktu istirahat bersama anak. Kalau nggak bisa tidur pun bisa dengan rebahan atau duduk bersantai tanpa melakukan apa-apa. Anak-anak bisa diminta untuk membaca buku atau bermain dengan tenang dengan puzzle atau sekadar mewarnai di kamarnya.

Ibu harus merawat kesehatan fisiknya, karena kalau anak dan suami sakit ada ibu yang akan merawat mereka. Tapi, kalau ibu yang sakit, duh, biasanya urusan keluarga langsung jadi kacau balau. Betul? Jadi, pandai-pandailah membaca kebutuhan tubuh, ya.

Cara Menjaga Kesehatan Emosi

Supaya tidak ada emosi negatif yang menumpuk dan bisa meledak sewaktu-waktu, kita harus belajar menyalurkan emosi kita dengan cara yang sehat. Caranya adalah:

  1. Belajar mengenali dan mengekspresikan emosi kita: “Aku merasa sedih,” “Aku merasa frustasi.”
    Ceritakan perasaan kita kepada suami dan menangislah jika perlu.
  2. Buat afirmasi positif terhadap diri sendiri: “Saya adalah ibu yang menyenangkan,” “Saya berhasil memberi makan anak-anak.”
  3. Membuat jurnal untuk merekam semua perasaan kita baik yang positif maupun yang negatif.
    menulis jurnal
  4. Belajar untuk mengontrol emosi kita. Misalnya, ketika merasa marah, lakukan anger appointment. Ini adalah cara menarik diri dari hal-hal yang membuat kita marah, salah satunya dengan mengikuti cara Rasulullah yaitu duduk dan berbaring. Cara yang lain adalah dengan mengenali emosi yang sedang kita rasakan saat itu dan menghadapinya.
  5. Lakukan hal-hal yang bisa memperbaiki suasana hati kita seperti mandi dengan sabun favorit, minum secangkir teh kesukaan, mencoba resep masakan baru, jalan-jalan di taman, dsb.
  6. Berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater atau para ahli kejiwaan secara teratur jika perlu.

Cara Merawat Kesehatan Mental

Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk merawat kesehatan mental kita antara lain:

  1. Sempatkan untuk membaca atau belajar sesuatu yang baru.
    Untuk membaca, kalau tidak suka membaca buku fiksi atau non fiksi setidaknya bacalah satu hadits setiap hari. Dan kita tidak perlu keluar rumah untuk mempelajari hal baru. Saat ini banyak sekali kelas-kelas online khusus wanita yang bisa kita ikuti, seperti kelas merajut, coding, menulis, kajian Islam, bisnis, keuangan keluarga, dll.
  2. Menonton video-video motivasi.
  3. Lakukan aktivitas yang melatih otak seperti mengerjakan sudoku, teka-teki silang, atau merakit puzzle.
  4. Selesaikan pekerjaan-pekerjaan yang tertunda secara perlahan. Buat ‘to-do-list’ setiap hari tapi jangan menuliskan terlalu banyak tugas dalam 1 hari.
  5. Ajari anak-anak melakukan sesuatu yang baru setiap harinya, seperti memasak makanan yang mudah, melipat baju, membuat prakarya, sebuah doa, dll.

Cara Memenuhi Kebutuhan untuk Bersosialisasi

Banyak ibu yang merasa kesepian setelah menikah dan punya anak, terutama ibu rumah tangga yang memiliki anak balita. Kesibukan kita sehari-hari membuat kita jadi jarang keluar rumah dan bertemu dengan teman. Teman pun biasanya semakin berkurang seiring dengan bertambahnya usia kita. Akibatnya ibu merasa kehilangan koneksi dan terisolasi yang lama-kelamaan bisa menyebabkan masalah mental. Untuk menghindari hal tersebut, lakukanlah hal-hal ini:

ibu bersosialisasi

  1. Telepon teman kita untuk bercakap-cakap dan saling berbagi cerita.
  2. Ikuti komunitas atau support group seperti misalnya grup parenting, book club, grup ibu menyusui, dll.
  3. Pergi keluar dengan teman-teman atau keluarga tanpa suami dan anak-anak.
  4. Mengunjungi kerabat.
  5. Mencari koneksi baru.

Jadilah ibu yang sehat dan bahagia dengan merawat diri sendiri sebaik mungkin.

Nah, sebenarnya nggak sulit kan ya merawat diri itu. Sempatkanlah untuk melakukan hal-hal tersebut di atas jika diperlukan. Jangan merasa egois ketika kita perlu me time karena ibu memang perlu merawat dirinya sendiri agar dapat mengurus keluarganya dengan optimal. Ibu juga perlu tumbuh menjadi pribadi yang produktif dan bermanfaat bagi keluarga dan lingkungan di sekitarnya.

Ibu harus mencintai dan menghargai dirinya sendiri, mengenali kelebihan dan kekurangannya serta menerima hal tersebut sambil tetap berusaha meningkatkan potensi dirinya. Dengan demikian, kita akan tumbuh menjadi ibu yang sehat dan bahagia dan dapat mendidik anak-anak menjadi pribadi yang baik dan bahagia pula.

Disarikan secara bebas dari Kobar Islamic Lectures: Self-Care for Mothers (Speaker: Sr. Aliyaa Bashir)

 

7 Cara Agar Resolusi Tahun Baru Berhasil Dilaksanakan

resolusi tahun baru

Yak, siapa yang tiap akhir tahun bersemangat bikin resolusi tahun baru tapi selalu gagal melakukannya di tengah jalan?

Sayaaa!!!

Eh, bener nih cuma saya aja? Yakin? Atau nggak mau ngaku aja? Hayooo…

Tapi yah begitulah. Saya mah orangnya suka semangat saat bikin resolusinya, menggebu-gebu banget lah. Pengennya semua hal yang jelek dari diri saya diubah dan diganti dengan yang lebih baik dalam waktu sekejap. Namun, saya lupa kalau kebiasaan-kebiasaan yang sudah terbentuk bertahun-tahun itu nggak mungkin dihilangkan hanya dalam waktu 1 bulan. Jadi, ketika saya nggak berhasil melakukan salah satu hal dalam daftar resolusi saya, misalnya skip olahraga 1 kali dari target 3 kali seminggu, langsung patah semangat. Dan akhirnya memutuskan untuk berhenti melakukan resolusi tersebut.

Baca juga: Resolusi terakhir yang pernah saya buat dan gagal.

Karena itulah beberapa tahun belakangan ini saya nggak lagi membuat resolusi tahun baru. Males euy, paling juga gagal lagi seperti tahun-tahun sebelumnya. Lagipula kalau saya niat memperbaiki diri nggak perlu nunggu tahun baru lah. Kapan aja saya mau pasti bisa. Iya nggak?

resolusi tahun baru, ika natassa quote, the architecture of love

Tapi tema nulis bareng RB Literasi Ibu Profesional Asia bulan ini seakan menantang saya untuk mencoba membuat lagi resolusi tahun baru. Tadinya sih pengen nulis yang biasa-biasa aja ya. Seperti: pengen kurus, lebih sabar, pengen umroh, pengen bisa lebih sering nulis di blog dan baca buku. Gitu-gitu deh.

Cuma, kalau begitu doang naga-naganya bakal gagal di minggu kedua bulan Februari nih. Jadi saya mencoba menulis resolusi tahun 2019 dengan lebih serius dengan harapan bisa konsisten menjalankannya sampai akhir tahun.

Resolusi Tahun Baru

Sebenarnya apa sih resolusi itu? Dan apa pentingnya bikin resolusi di akhir atau awal tahun?

Menurut Wikipedia:

Resolusi tahun baru adalah sebuah tradisi yang dilakukan di akhir tahun atau awal tahun. Di mana seseorang memutuskan untuk mengubah sifat atau perilaku yang nggak disukai di tahun sebelumnya, untuk mencapai tujuan pribadi atau memperbaiki kehidupan mereka.

Karena ini adalah tradisi jadi boleh dilakukan boleh enggak. Bebas aja ya. Meski ternyata membuat resolusi tahun baru sebenarnya cara yang baik dan produktif untuk menetapkan tujuan dan niat untuk tahun baru. Sebab, dengan membuat resolusi, kita bisa:

  1. Punya motivasi untuk menyambut tahun baru.
  2. Punya target yang jelas tentang hal yang ingin kita capai.
  3. Punya pengingat saat kita mulai melenceng.
  4. Punya bahan evaluasi atas hal-hal yang sudah kita lakukan di tahun tersebut.

Nah, supaya resolusi kita saya nggak gagal di tengah jalan seperti tahun-tahun sebelumnya, saya mencoba mencari tahu apa saja yang harus dilakukan saat membuat resolusi tahun baru. Dan inilah cara yang bisa kita terapkan supaya resolusi yang kita rencanakan itu berhasil.

7 Cara Agar Resolusi Tahun Baru Berhasil Dilaksanakan

1. Tulis Resolusi Tersebut.

Menurut Elizabeth Ward, PhD yang dikutip oleh self.com, orang yang menuliskan resolusi mereka akan punya rasa tanggung jawab yang lebih besar untuk melaksanakannya. Sehingga mereka memiliki kesempatan yang lebih banyak juga untuk mencapai tujuan mereka.

2. Mulai Dari Hal Yang Kecil

Punya resolusi untuk turun berat badan 10 kg dalam 3 bulan atau nggak pernah marah sama sekali ke anak-anak itu impian saya. Tapi saya sadar kok kalau itu nggak mungkin dicapai dalam waktu singkat.

Lebih baik kita mulai dari hal-hal yang kita yakin bisa kita capai. Ubah 1 perilaku dalam 1 waktu. Misalnya, turun BB 5 kg dalam 1 tahun dengan cara olahraga rutin 3x seminggu dan memperbanyak makan sayur sepertinya lebih mungkin dilakukan.

3. SMART (Spesific, Measurable, Achievable, Realistic, Timely)

Metode yang diperkenalkan oleh George T. Doran ini saya pelajari di kelas Matrikulasi Ibu Profesional. Cara ini InsyaAllah membantu kita dalam membuat resolusi tahun baru yang bisa kita lakukan sepanjang tahun.

resolusi tahun baru, smart

Baca juga deg-degannya saya saat akan mengikuti program matrikulasi Ibu Profesional Batch 6.

4. Bikin Plan atau Jadwal

Setelah kita menuliskan semua hal yang ingin kita capai di tahun depan dengan SMART, waktunya kita menyusun rencana. Masukkan aktivitas yang harus kita lakukan untuk mencapai tujuan tersebut dalam agenda harian kita.

Misalnya saya ingin menjadi blogger profesional. Tahap pertama adalah rutin blogging, minimal 1 kali dalam 1 minggu. Untuk itu saya perlu mengalokasikan waktu 1 jam sehari untuk blogging dengan rincian aktivitas sebagai berikut:

blog weekly planner, resolusi tahun baru

Silakan unduh template rencana blogging mingguan ini di: http://bit.ly/blogplannerAlfa

Atau saya ingin olahraga 3 kali seminggu tapi juga ingin puasa sunnah 2 kali seminggu, dengan menuliskan di jadwal mingguan, dua aktivitas itu bisa dilakukan di hari yang berbeda. Karena lari saat puasa tentu menyiksa diri saya, kalau dipaksakan di hari yang sama bisa-bisa keduanya nggak akan saya lakukan.

5. Jangan Memaksakan Diri

Kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT (dan warganet yang maha benar). Jadi meski kita sudah menyusun resolusi seSMART mungkin dengan jadwal sebaik mungkin, siapkan mental kita untuk hal-hal yang terburuk. Sebagai orang yang (agak) perfeksionis, saya sering merasa kecewa saat rencana yang saya buat nggak berjalan sesuai keinginan saya. Karena itulah suami saya sering mengingatkan, always hope for the best but prepare for the worst.  Begitu juga saat menjalankan resolusi tahun baru kita.

Akan ada saat kita sakit sehingga nggak bisa olahraga selama satu minggu. Atau suasana hati sedang buruk sekali sehingga setelah 3 hari sukses nggak marah ke anak-anak, hari ini kelepasan marahin mereka. Bisa juga gagal makan sayur dan buah secara rutin karena pergi liburan yang nggak memungkinkan kita menjalankan pola makan seperti saat di rumah. Atau ya lagi males aja gitu. Nggak papa. Jangan lantas merasa seluruh usaha kita menjalankan resolusi itu gagal.

resolusi tahun baru

Semua orang punya pasang surutnya kok. Jadi ketimbang berhenti di tengah jalan, lebih baik kita catat dan pelajari penyebab kesalahan itu. Lalu kembali lagi ke jalan yang benar sambil berusaha menghindari penyebab kegagalan tersebut.

6. Evaluasi

Evaluasi aktivitas kita dan hasil yang kita capai setiap beberapa waktu. Idealnya 3 bulan sekali. Seperti anak sekolah ya, tiap term ada evaluasinya. Begitu juga dengan resolusi tahun baru kita. Dengan melakukan evaluasi, kita jadi tahu mana resolusi yang sesuai track dan bisa diteruskan sampai akhir tahun, mana yang sebaiknya kita tunda di tahun berikutnya.

7. Minta Dukungan Dari Orang Lain

Kalau kita sendiri merasa kewalahan atau merasa nggak mampu mencapai tujuan kita seorang diri, mintalah dukungan dari orang-orang terdekat. Hal itu akan membuat kita akan lebih termotivasi untuk menyelesaikan resolusi yang kita buat. Atau kita juga bisa meminta bantuan profesional seperti psikolog. Jangan takut berkonsultasi ke psikolog. Mereka nggak cuma membantu orang-orang yang memiliki masalah kesehatan mental kok. Justru psikolog bisa membantu kita menyusun strategi untuk mencapai tujuan kita.

Nah dengan mempraktikkan 7 cara tersebut, InsyaAllah resolusi tahun baru kita nggak cuma angan-angan semu di awal tahun ya.

Resolusi 2019 Ala Saya

Saya sendiri akhirnya memutuskan nggak bikin resolusi yang benar-benar baru untuk tahun depan. Sekadar memperbaiki indikator ibu profesional serta misi hidup dan produktivitas yang saya buat untuk Nice Homework #2 dan #8 program matrikulasi Ibu Profesional. Karena menurut saya itu sudah mencakup tujuan utama saya, yaitu menjadi pribadi, istri dan ibu yang sehat, bahagia, produktif dan bermanfaat bagi keluarga.

resolusi tahun baru

 

Untuk tahun 2019 ini, prioritas utama saya adalah mendampingi anak-anak belajar karena si kakak akan menjalani PSR (Peperiksaan Sekolah Rendah) di akhir tahun 2019. Sementara adik tahun ini masuk Primary School di usianya yang masih terlalu muda sebenarnya. Sehingga mereka pasti memerlukan kehadiran saya lebih intens lagi.

Selain itu saya juga ingin fokus meningkatkan ketrampilan saya di bidang blogging sehingga bisa menjadi blogger profesional. Dalam arti bisa mendapatkan penghasilan secara rutin lagi dari menulis blog dan konten yang beberapa tahun ini saya tinggalkan.

But once again, meski tradisinya resolusi ini dibuat di akhir tahun untuk dilaksanakan sepanjang tahun depan, saya nggak ngoyo untuk memulai semua ini serentak di hari pertama bulan Januari 2019. Euforia tahun baru yang bertepatan dengan hari pertama anak masuk sekolah di tahun ajaran baru bisa membuat saya hilang fokus. Ya, meskipun saya nggak merayakan tahun baru, sudah nggak kuat euy begadang demi nungguin detik-detik pergantian tahun. Bagi saya pribadi, akan lebih baik kalau kita memilih hari di mana kita cukup istirahat, semangat dan dikelilingi oleh orang-orang yang positif sebagai titik awal pelaksanaan resolusi.

Untuk itu saya memilih untuk mengerjakan satu per satu dalam periode waktu tertentu. Seperti yang saya tulis di atas, one step at a time, start small.

Mohon doanya supaya saya bisa konsisten melaksanakan resolusi tahun baru saya ini, ya. Kalau resolusi teman-teman-teman untuk tahun 2019 apa aja nih?

 

Kemudahan Itu Ujian yang Melenakan

Sudah lama nggak nulis di blog nih. Kali ini mau berbagi tulisan yang saya dapat dari akun facebooknya Faizal Kunhi. Nggak apa-apa ya, sekali-kali posting copasan. Bagus kok artikelnya, sebagai pengingat bahwa ujian dari Allah itu bentuknya bermacam-macam. Termasuk yang satu ini.

——-

Need to know :

JIKA ANDA SEPERTIKU, MAKA BERUBAHLAH SEBELUM TERLAMBAT…

Ustadz Musyaffa Ad Dariny, حفظه الله تعال

Aku mulai lupa dengan bacaan dzikir pagi dan sore, karena telah lama aku tidak membacanya.

Shalat sunat “rowatib” (yang dilakukan sebelum dan sesudah shalat wajib) telah kuabaikan, tidak tersisa kecuali shalat sunat fajar, itu pun tidak setiap hari.

Tidak ada lagi bacaan Alquran secara rutin, tidak ada lagi malam yang dihidupkan dengan shalat, dan tidak ada lagi siang yang dihiasi dengan puasa.

Sedekah, seringkali dihentikan oleh kebakhilan, keraguan, dan kecurigaan. Berdalih dengan sikap hati-hati, harus ada cadangan uang, dan puluhan bisikan setan lainnya.

Jika pun sedekah itu keluar dari saku, nominalnya sedikit dan setelah ditunda-tunda.

Satu dua hari, atau bahkan sepekan berlalu, tanpa ada kegiatan membaca kitab yang sungguh-sungguh.

Seringkali sebuah majlis berakhir dan orang-orangnya bubar, mereka telah makan sepenuh perut dan tertawa sepenuh mulut, bahkan mungkin mereka telah makan daging bangkai si A dan si B, serta saling tukar info tentang harga barang dan mobil. Tapi, mereka tidak saling mengingatkan tentang satu ayat, atau hadits, atau faedah ilmu, atau bahkan doa kaffarotul majlis.

Inilah fenomena zuhud dalam sunnah, berluas-luasan dalam perkara mubah, dan menyepelekan hal yang diharamkan.

Sholat dhuha dan witir sekali dalam sepekan.

Berangkat awal waktu ke jum’atan dan sholat jama’ah; jarang sekali, bahkan hampir tidak pernah.

Berlebihan dalam makanan, pakaian, dan kendaraan tanpa rasa syukur.

Musik selingan dalam tayangan berita dan tayangan dokumenter menjadi hal yang biasa.

Orang seperti ini apa mungkin memberikan pengaruh di masyarakatnya, sedang pada diri dan keluarganya saja tidak.

Orang seperti ini, apa pantas disebut pembawa perubahan, ataukah yg terbawa arus lingkungan?

Pantasnya, dia disebut penelur prestasi atau penikmat produksi?

Maka, hendaknya kita koreksi diri masing-masing. Semoga Allah mengampuni kita selama ini.

Sebagian ulama mengatakan:

“Tidaklah kepercayaan masyarakat terhadap sebagian penuntut ilmu menjadi goncang, melainkan saat melihat mereka di shaff terakhir melengkapi rekaat shalatnya yang tertinggal”.

Ternyata ujian paling berat itu kemudahan yang melenakan

1. Kehamilan dan persalinan yang mudah, lancar, normal cenderung tanpa kesulitan.Sering membuat mencemooh yang susah hamilnya, penuh resiko, atau bermasalah dengan kata-kata mandul, manja, dll.

2. Anak-anak yang cenderung sehat, serba normal, penuh aktivitas, mudah diurus, penuh kasih sayang. Sering menimbulkan rasa riya’ merasa diri ibu sempurna hingga merendahkan ibu yang lain dan enggan belajar.

3. Suami yang setia, ndak neko-neko, romantis dan begitu perhatian, membuat terlena untuk memperbaiki diri dan akhlak agar terus menjadi bidadari surga dan bukan pencela pasangan lain yang bermasalah.

4. Keuangan yang stabil, bahkan berlebihan, kadangkala membuat terlupa menengok ke bawah, lupa rasanya bersyukur, mudah menghakimi yang lain pemalas dan tak mau kerja keras layaknya dirinya.

5. Orangtua dan mertua yang pengasih, mudah beradaptasi, membuat kita merasa sempurna sebagai anak, sering membuat kita mudah menghakimi mereka yang bermasalah dgn orangtua dan mertua sebagai anak durhaka, tak tahu terima kasih.

6. Ilmu yang tinggi, pengetahuan yang luas tanpa sadar membuat kita merasa lebih mumpuni, malas mengejar ilmu-ilmu yang lain, akhirnya merendahkan dan menyepelekan mereka yang kita anggap tak seluas kita ilmu dan pengetahuannya.

7. Kemudahan dalam ibadah, sholat yang kita anggap tak pernah lalai, puasa yang tak putus, zakat milyaran rupiah, shodaqah tak terhitung, haji dan umroh berkali-kali, membuat kita merasa paling alim dan takwa, tanpa sadar tidak lagi mau belajar dengan alim ulama, enggan bergaul dengan mereka yang kita anggap pendosa.

Kemudahan itu ujian yang berat, melenakan sering mendatangkan penyakit hati tanpa disadari.
Berhati-hatilah.

One Step At A Time

Sebelum pindah, suami sudah wanti-wanti kalau nanti di sini kita nggak bisa punya ART seperti di Indonesia. Awalnya saya pikir nggak masalah, semua pasti bisa ditangani dengan baik. Yang penting bisa pindah dan kumpul dengan suami dan anak.

Tapiiiiii… Ternyata buat perempuan yang dibesarkan dengan fasilitas ART dan dimanjakan dengan oleh support system yang mudah didapat di Indonesia, nggak mudah untuk mengerjakan semua urusan rumah tangga plus ngurus anak sendiri. Belum lagi ngatur waktu untuk nulis. Rasanya ngos-ngosan.

Seminggu pertama sih masih santai, makan selalu diluar, Cinta juga gampang tidur dan makannya. Masih sering pergi jadi nggak suntuk di rumah. Masuk minggu kedua, mulai stres karena setrikaan numpuk, rumah berantakan terus, Cinta sudah mulai bosen pergi dan maunya nonton tv aja di rumah. Mau masak cari bumbu dapur dan bahan yang fresh susah, begitu dapet bingung mau masak apa. Makan di luar selain lama-lama tekor juga bosen terus-terusan makan masakan Cina dan India. Sekalinya nemu nasi bebek eh rasanya bikin pengen nangis. Aaarrrgghhh…

Di minggu kedua ini jadi sering marah-marah, pas lagi PMS pula. Cinta jadi makin nggak keurus dan ikut sering tantrum karena diomelin mulu. Hadeuuuhh. Super sutris.

Tapi masuk minggu ketiga tiba-tiba semuanya terasa lebih ringan. Nggak tahu deh kenapa. Padahal sering bangun kesiangan juga tapi selalu sempat bikin sarapan, setrika, masak untuk makan siang dan malam. Kamar meski nggak kinclong-kinclong amat (kecuali kalau abis dibersihin sama cleaning service) tapi juga nggak berantakan banget. Masih punya waktu juga untuk nulis artikel buat MomsGuide, hosting twitternya dan main di twitter dan facebook (terutama The Sims Social 😀 ). Pas suami sudah berangkat kerja dan Cinta belum bangun malah bisa nge “me time” sambil sarapan sendiri. Enak banget rasanya 🙂

Mungkin yah, karena sudah mulai beradaptasi dengan waktu. Juga memanfaatkan kemampuan multitasking yang dikasih Allah ke perempuan. Jadi sambil nungguin kompor listrik panas untuk bikin sarapan sederhana seperti nasi goreng atau manggang roti capati atau ngerebus spaghetti, cepat-cepat ngerendam underwear, cuci piring dan gelas yang abis dipakai ngopi, buang sampah. Sebelum mandi ngucek rendaman dan bilas trus mandi sekalian mandiin Cinta. Abis itu masukin baju ke mesin cuci lanjut sarapan sambil nyuapin si bocah.

Pengalaman di minggu kedua, saat setrikaan numpuk banget dan bikin putus asa. Mulai minggu ketiga ini berusaha setrika setiap hari. Mending dikit-dikit daripada sutris liat baju numpuk. Nggak licin-licin amat sih, yang penting kena setrikaan.

Kalau lagi nggak waktunya kamar dibersihkan, masak untuk siang dan malam sekaligus. 2 menu aja sih, sayur dan lauk. Tapi kalau pas malas masak ya goreng telur aja atau sosis dan nugget untuk siang. Ntar sore baru masak untuk malam. Setelah selesai makan malam, sambil cuci piring untuk kesepuluh kalinya dalam sehari, minta tolong suami ajak Cinta beberes mainannya trus bersiap tidur. Fffiiiuh, another busy day is over.

Suka bersyukur sih karena sementara ini kami tinggal di serviced apartment yang ada fasilitas cleaning servicenya meski nggak tiap hari juga. Jadi saya nggak harus tiap hari nyapu ngepel kamar. Alhamdulillah juga Cinta anaknya cukup mandiri, jadi nggak harus selalu ditemenin main. Buat dia yang penting mamanya keliatan ada di sekitarnya. Plus, suami yang nggak segan untuk bantu-bantu dan selalu menghabiskan apapun yang saya masak, bagaimanapun rasanya. Itupun suami kalau pagi bikin kopi sendiri karena harus berangkat pagi-pagi sementara saya seringnya belum bangun XD

Memang sih jadinya nggak seperti mamah-mamah idola yang bisa ngerjain semua pekerjaan RT dengan sempurna. Inipun banyak hal yang saya “terpaksa” kompromikan dengan idealisme, seperti Cinta makan nugget dan sosis siap pakai, nonton TV hampir sepanjang hari. Begitu juga memanfaatkan fasilitas yang meringankan pekerjaan seperti saus spaghetti instan, bumbu hainan rice instan, molto sekali bilas.

Minggu depan rencananya akan belajar untuk bangun dan menyiapkan sarapan lebih pagi karena Cinta akan masuk sekolah. Belum lagi mengatur waktu mengantar jemput sekolah dan melakukan pekerjaan sehari-hari dengan baik.

Yah, pelan-pelan lah berusaha mengalokasikan waktu lebih baik. Karena kalau sudah tinggal di rumah sendiri tentu lebih banyak lagi pekerjaan rumah yang harus dilakukan. Saya akui deh, para mama yang ARTless tapi tetap bisa bikin rumah kinclong, masakan homemade semua, anak sehat dan terawat, suami bahagia itu super hebat.

Boleh dong mommies saya dibagi tips untuk bisa handle semua tugas RT tapi tetap punya waktu untuk main dan belajar sama anak plus bisa gaul dan aktif di sosmed *serakahmode: on*.

Foto koleksi pribadi, difoto oleh: Awie R

Semakin Bijaksana, Bukan Semakin Hebat

Lama-lama capek juga ngikutin twitwarnya Marissa Haque dan keluarga Addie MS (iya iya emang nggak ada yang nyuruh kok, saya aja yang terlalu kepo). Dari yang awalnya semangat bacain blog dan twitternya tante doktor sampai akhirnya memutuskan untuk report as spam akun twitternya.

Terlepas dari keraguan apakah blog dan akun itu benar-benar milik beliau, postingan yang sudah menyerang pribadi orang lain dan spam lama-lama bikin gerah juga. Apalagi meski nggak follow ibu hebat itu tapi masih aja sliweran retweetannya di timeline.

Kehebohan beliau dan reaksi orang-orangpun bikin saya berharap jangan sampai kelak saya seperti itu. Yah, memang levelnya beda sih, dia lulusan S3 dari 2 universitas ternama di Indonesia, belum lagi gelar S2nya yang berderet-deret. Selain artis hebat di jamannya juga mantan anggota DPR RI. Sementara saya cuma ibu rumah tangga yang lulusan S1. Dan masih jadi mahasiswa abadi di universitas kehidupan, fakultas ilmu parenting.

Bagaimanapun, saya berterima kasih sama tante Icha karena twit-twitnya menunjukan nggak semua orang siap memiliki ilmu dan gelar yang bejibun. Bahwa pohon tinggi yang angkuh lebih rentan tumbang dan merugikan orang banyak ketimbang padi yang selalu merunduk saat isinya makin berat.

Saya juga belajar banyak dari twitwar dan blog beliau, kadang orang yang mengaku dirinya hebat belum tentu dihargai orang lain.  Sedangkan orang bijaksana dan bermanfaat bagi orang lain selalu memberi warna indah bagi lingkungannya. Bukankah sebaik-baiknya manusia adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain.

Dan ini memicu saya supaya terus introspeksi diri. Berusaha melakukan sesuatu yang berguna bagi lingkungan dan dibanggakan oleh anak-anak saya. Memikirkan betul tiap langkah dan keputusan yang saya ambil agar tak mempermalukan orang tua, suami dan anak-anak. Thank you 🙂

Impian

sunlight-166733_1920

Dari jaman masih kuliah dulu saya punya sebuah cita-cita besar untuk diri dan karir saya. Tadinya mau diwujudkan langsung setelah lulus kuliah tapi ternyata saya tergoda untuk kerja dulu, apalagi biaya untuk mewujudkan impian itu cukup besar bagi saya dan orangtua. Saya memutuskan untuk menabung dulu sambil bekerja supaya bisa melakukan itu dengan biaya sendiri. Sampai 1,5 tahun bekerja ternyata dana yang dibutuhkan tidak juga terkumpul. Maklum, euforia pekerja yang baru punya uang sendiri, maunya spending money aja. Lantas, saya menikah, hamil dan punya anak. Akhirnya sampai hari ini impian itu masih terkunci dengan rapi dalam sebuah kotak di hati dan pikiran saya.

Sudah sejak tahun kemarin saya kembali memikirkan cita-cita itu, apalagi sejak saya tidak lagi bekerja dan total menghabiskan waktu mengurus anak. Sayangnya karena satu dan lain hal masih belum bisa terwujud, saat saya meminta ijin kepada suami untuk mewujudkan mimpi itu dia hanya tersenyum tanpa mengatakan sesuatu. Saya sendiri jujur merasa ragu apakah dengan kondisi saya sekarang akan mampu melakukannya, karena selain biaya juga butuh usaha yang nggak mudah.

Banyak teman yang sudah lebih dulu melalui tahapan itu akhirnya memutuskan untuk berhenti sejenak karena tidak sanggup membagi waktu antara mengejar mimpinya dan mengurus rumah dan anak, apalagi bagi para working mom. Belum lagi kapasitas otak saya yang sudah lama tidak dipakai memikirkan sesuatu selain mengatur keuangan keluarga, menu masakan atau perkembangan anak. Saya sudah terlanjur menikmati sekaligus membenci comfort zone ini. Menikmati karena bisa bermalas-malasan di rumah, online seharian untuk ngeblog, bersosialisasi di social network dan main game di Facebook. Tapi juga benci karena tidak punya pilihan selain terkungkung 24 jam sehari di rumah.

Kadang saya berpikir, apakah sudah takdirnya cita-cita itu hanya akan menjadi mimpi yang tidak akan pernah terwujud. Kalau pun saya bersikeras ingin mengejarnya, sanggup kah saya, barokah nggak kalau tanpa restu. Atau haruskah saya menggantinya dengan membuat impian lain yang mungkin bisa dikompromikan dengan keadaan saya sekarang.

Jujur, deep inside i really want to chase that dream. Cuma tinggal itu mimpi yang saya punya untuk saya pribadi, saya butuh itu untuk merasa hidup, lepas dari peran sebagai istri dan ibu. Saya ingin punya sesuatu yang bisa saya kerjakan dan banggakan atas nama saya sendiri. Mungkin kesannya saya egois dan tidak puas dengan keadaan yang saya punya saat ini. Tapi sungguh, di balik status saya saat ini, saya adalah seorang individu yang punya harapan dan keinginan pribadi.

Dilema itu selalu ada di hati dan pikiran saya, membuat saya ragu dan maju mundur. Namun kejadian baru-baru ini menguatkan saya untuk membuat keputusan. Saya akan mengejar mimpi itu, minimal saya berusaha untuk meraihnya. Selangkah demi selangkah dengan penuh keyakinan berusaha mencari pintu kesempatan untuk mewujudkannya. Kalaupun gagal setidaknya saya bisa membuktikan kepada diri sendiri kalau dalam satu waktu di hidup ini, saya sudah melakukan sesuatu untuk mewujudkan cita-cita itu.

Seperti kata Donny Dirghantoro dalam novelnya 5 cm, “Apa yang mau kamu kejar taruh di sini, biarkan dia menggantung, mengambang 5 centimeter di depan kening kamu. Dan sehabis itu yang kamu perlu cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat ke atas. Lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja, dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya serta mulut yang akan selalu berdoa.”