Karena Cinta, Katanya

Gara-gara ngikutin kasus kisruhnya Limbad, bininya dan bini sirinya jadi ngeh kalau banyak orang yang menganggap perempuan-perempuan yang mau jadi pacar/selingkuhan/istri simpanan/istri kedua ketiga kesepuluh itu semata karena uang. Hmmm, mungkin karena yang terekspos di media massa kasus laki-lakinya pada tajir seperti Bambang Tri dan Raul Lemos ya.

Padahal, 5 dari 6 perempuan yang saya kenal dan rela jadi madu itu alasannya pure karena cinta. Ciyuuuus? Cungguh? Miapah? plak Cuma yah kebetulan laki-laki yang punya perempuan lain ini kan kebanyakan sudah mapan secara materi dan biasanya orang yang lagi pedekate atau jatuh cinta akan rela ngasih atau beliin apa aja untuk kekasihnya. Dan yang dikasih ya seneng-seneng aja dong dapet gratisan, dari orang yang dia cinta lagi. Duh rejeki banget. Sebodo amat itu laki sudah punya istri, toh istrinya galak, nggak bisa bikin dia nyaman di rumah, lebih mentingin karir daripada suami, lebih sibuk ngurusin anak daripada suami, nggak enak dilihat alias kucel karena kalo di rumah dasteran terus nggak mau dandan, endebre endebre endebre… Kasian kan para lelaki ini, mereka korban kezaliman istri yang pantas dikasihi dan diberi cinta yang lebih baik. Gitu katanya.

Sementara itu saat ketahuan selingkuh di depan istrinya mereka akan bilang,

“Cewek itu kok yang ngejar-ngejar aku. Aku udah cuek, nggak nanggapin dia tapi terus gangguin. Maaf ya, aku khilaf akhirnya karena dipepet terus. Aku nyesel. Kamu masih mau kan terima aku? (tapi ternyata di belakang tetap selingkuh)”

Ah, kasian para suami ini, jahat banget cewek-cewek jaman sekarang, hobi kok ngejar-ngejar suami orang. Nggak bisa cari yang single, apa? Coba kalo dia yang punya suami trus digituin orang, rela nggak? lalu muncul adegan labrak melabrak, cat fight, gerilya hape dan dompet suami, hack akun YM, FB, twitter suami, lakuin teror supaya si pengganggu ini nggak berani dekat-dekat lagi

Berhasil? Belum tentu. Kata seorang teman,

“Nggak gitu caranya kalo pengen aku balik lagi ke dia. Mestinya usaha dong untuk bisa dapetin hatiku lagi. Kalau main labrak gitu aku malah akan lebih condong belain pacarku. Kan kasian dia nggak salah kok digituin sama istriku. Aku juga males pulang ke rumah karena istriku pasti bakal marah-marah terus.”

jorokin si teman ke jurang

But sorry to say teman-temanku sesama istri, based on (other’s) experiences, this is true. Di mata orang yang lagi jatuh cinta, si selingkuhan ini nggak akan pernah ada salahnya. She’s to good to be true, soulmate yang telat ketemunya, seseorang yang bisa mengerti dan mencintai dia lebih baik dari istrinya. Semakin diserang, dua-duanya semakin mereka lengket dan saling melindungi, sementara jarak antara kita dan suami akan semakin jauhpukpuk ibu Atha Lemos dan mbak Susi Limbad.

Kasus lain, suami yang lebih “gentle” akan bilang ke istrinya,

“Aku ini punya cinta yang terlalu besar untuk satu orang, apa salahnya kalau aku bagi. Selama bisa adil kan?”

Tapi ngomongnya setelah ketahuan selingkuh dan terjadi adegan ala ibu Halimah nabrakin mobil ke pagar rumah Mayangsari. Ini sama banget kaya twitnya Shahnaz Haque yang saya baca pagi tadi,

Hati lelaki bagaikan hotel, banyak kamarnya untuk memasukan setiap wanita. Hati wanita hanya ada 1 kamar untuk 1 lelaki.

Yup, memang nggak bisa dipungkiri. Hati laki-laki terlalu luas, cintanya terlalu banyak sehingga kemungkinan untuk bisa membagi itu besar sekali, meski kadarnya belum tentu sama. Sedangkan perempuan, cintanya hanya cukup untuk 1 lelaki yang akan bertambah dengan prosentase sama untuk masing-masing anaknya saat mereka lahir. Kalaupun suatu saat perempuan selingkuh dari suaminya, kebanyakan akan memilih untuk bercerai karena nggak bisa mencintai 2 pria dalam waktu bersamaan.

Lalu kenapa banyak perempuan yang masih mau menjalin hubungan sama pria beristri, bahkan sampai berharap dinikahi? Well, menurut pengamatan saya sih karena pria-pria ini nampak lebih matang dan dewasa. Mereka juga lebih ngerti cara memperlakukan perempuan dan terbukti berkualitas, tuh ada perempuan yang sudah mau jadi istrinya. Lagipula kesempatan mendapatkan lelaki beristri pun konon lebih mudah karena ia hanya bersaing dengan 1 orang, ya istrinya itu. Sedangkan untuk dapetin pria lajang selain harus bersaing dengan sesama perempuan juga laki-laki lain.

Saya nulis ini bukan karena mau ngebelain salah satu atau dua pihak sih, cuma membeberkan fakta kalau perselingkuhan terjadi bukan melulu karena uang. Itu cuma kebetulan kok. Wong tukang becak langganan saya di Indonesia aja bisa punya 2 istri.

Kata para ahli, perselingkuhan bisa terjadi karena kesalahan 3 pihak, suami, istri dan orang ketiga. Penyebabnya permasalahan dalam rumah tangga yang nggak selesai karena komunikasi yang nggak baik antara suami istri atau ya sederhana aja, cinta yang datang pada waktu yang salah.

Cuma sejujurnya nih, kalau emang karena cinta, saya lebih suka kalau para pria ini gentle mengakui di depan pasangan resminya sebelum mereka tahu dari sumber yang lain. Dan harus siap dengan segala resikonya, termasuk si istri minta cerai atau justru keukeuh mempertahankan pernikahan mereka dan meminta dia berpisah dengan kekasihnya. Semua cuma soal pilihan kok, mana yang lebih buruk di antara 2 hal yang nggak menyenangkan.

Kalau memang benar-benar jantan dan dewasa, pasti berani kecewa karena harus menjalani sesuatu yang nggak enak. Hanya anak kecil yang nggak berani kecewa dan memilih sembunyi dalam kebohongan entah sampai kapan. Lagipula kalau memang cinta, masa iya tega bikin orang lain terluka demi kebahagiaannya sendiri?

Karma Does Exist?

A: Kayanya aku harus makin rajin ngegym deh, pengen kurusan lagi nih. Apa muka bagian sini (tunjuk-tunjuk) dibotox aja sekalian gitu ya biar makin cantik dan disayang suami.

B: Emang kenapa? Lu takut suami lu nggak sayang trus cari bini lagi kalo lu nggak kurus dan nggak cantik? Rempong amat.

C: Ya iyalah dia takut. Punya suami juga dapet ngambil laki orang ini.

Pfffftttt…

overheard suatu pagi di sebuah salon kecantikan di Surabaya.

 People pay for what they do, and still more, for what they have allowed themselves to become. And they pay for it simply: by the lives they lead. 

Edith Wharton

Walk A Mile in His Shoes

Saat hosting akun twitter majalah parenting online tempat saya kerja dan menulis rangkumannya, saya merasa tersentil dengan saran-saran tentang mendukung karir suami. Banyak ibu yang berusaha melakukan hal terbaik untuk mendukung pasangannya dalam meraih karir. Di saat yang nyaris bersamaan, di FB saya muncul status-status bernada komplain dari beberapa teman karena suaminya terlalu sibuk bekerja sampai nyaris tak ada waktu untuk keluarga.

Jujur saja, saya dulu pun termasuk yang suka ngomel kalau suami pulang malam, tiba-tiba disuruh bekerja di hari Sabtu atau dikirim ke proyek di luar kota bahkan luar negeri. Sementara saat itu saya sedang dalam keadaan hamil. Kesal karena harus periksa kehamilan dan senam hamil sendiri, sementara ibu-ibu lain tampak bahagia didampingi suaminya.

Pun, waktu suami yang sudah ditempatkan di proyek Brunei tiba-tiba harus supervisi proyek di Cikarang selama 2 minggu, saya kesal setengah mati karena harusnya itu jatah liburnya. Bayangkan, sudahlah LDR, cuma ketemu 2 bulan sekali eee bukannya menghabiskan waktu sama keluarga malah disuruh kerja. Akhirnya saya minta dia pulang-pergi Parung – Cikarang dan ngomel setiap kali dia sampai rumah di atas jam 8 malam. Suami pun lama-lama kesal karena sudah capek-capek kerja, stres nyetir di tengah jalanan yang padat eh disambut dengan wajah cemberut instead of senyuman. Sampai akhirnya saya mencoba beberapa nasihat dari Mama dan teman-teman ini:

walk a mile in his shoes

Walk A Mile in His Shoes

Kadang Tuhan bekerja dengan cara yang lucu untuk menyadarkan kita. Suatu hari ketika ke Bandung, kami melewati rute yang dilalui suami setiap harinya, Serpong – Cikarang, pp. Ternyata selain sangat jauh juga macet. Pulang pergi harus ditempuh dalam waktu 3 jam. Bisa lebih kalau macetnya parah. Sejak itu saya berusaha untuk mengurangi keluhan atas kesibukan suami. Berusaha memahami yang ia lalui setiap harinya untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Mencari Aktivitas Yang Menyenangkan

Memang sih, rumah jadi terasa lebih menyenangkan kalau ada suami. Tapi toh nggak bisa juga terus-terusan menggantungkan kesenangan hanya pada satu orang bisa bikin kita (kitaaaa? iya iyaaa, saya maksudnya) mudah kecewa saat harapan tidak terpenuhi.

Coba cari kesibukan deh. Bikin kue, gaul sama ibu-ibu di sekolah anak, main game online, membaca, aktif di komunitas online, ikut seminar ini itu atau menulis. Aktivitas-aktivitas inilah yang mencuri waktu saya, selain mengurus anak dan rumah tentunya (pencitraan, padahal semua itu dilakukan si mbak). Selain menyenangkan, ilmu dan teman pun bertambah. Malah akhirnya saya bisa menghasilkan uang tambahan dari kegiatan itu. Meski masih hobi “absen” suami dan menanyakan kapan ia pulang, setidaknya sudah tidak lagi jarang marah-marah setiap ia sampai rumah.

Mencari Alternatif Solusi

Kesal karena suami selalu bekerja rodi? Kantornya terlalu jauh? Coba minta suami mengurangi jam kerjanya atau dukung dia untuk mencari pekerjaan baru yang lebih baik. Kalau memungkinkan coba cari rumah yang dekat dengan kantor.

Nggak mungkin? Mari berdoa supaya diberi tempat kerja yang lebih baik, lebih banyak waktu luang bersama keluarga. And it worked for me, lho. Alhamdulillah. Setelah 4 tahun sabar menjalani long distance marriage, kami bisa berkumpul, punya rumah yang dekat dengan kantor dengan jam kerja suami yang memungkinkan untuk makan siang bersama dan sampai rumah paling lambat pukul 6 sore.

Berhenti Mengeluh di Sosial Media

Percaya deh, mengeluh tentang suami yang terlalu sibuk bekerja di status facebook, berkali-kali, tidak akan menimbulkan simpati dari orang lain. Malah tidak mungkin orang lain akan menuduh kita kurang bersyukur. Belum lagi kalau dibaca teman bahkan atasan pasangan. Bisa-bisa malah ia jadi mendapat image negatif. Kesannya kita mau duitnya aja tapi nggak mau terima konsekuensi dari pekerjaannya.

Kalau mau curhat, lebih baik cari sahabat yang bisa dipercaya, keluarga yang mau mendengarkan. Pilih yang bisa membuat kita lebih tenang.

Komunikasi

Last but not least, malah menurut saya yang paling penting nih, bicara baik-baik dengan suami dalam suasana yang tenang dan menyenangkan tentang kebutuhan kita akan kehadirannya bersama keluarga. Biasanya sih pasangan lebih mau mendengarkan saat hatinya senang dan tenang.

Kalau dia pulang cepat bisa bilang, “Seneng deh Ayah jam segini sudah di rumah. Jadi lebih banyak waktu main sama bunda dan kakak. Eh, bisa nonton balapan juga lho Yah, itu di channel olahraga bentar lagi mulai.” daripada, “Ih, tumben amat jam segini sudah sampe rumah. Nggak salah nih, Yah? Kesambet jin mana?” Eaaaa, pulang telat salah, pulang cepat dituduh kesambet jin.

Intinya, coba untuk mengurangi keluhan. Bagaimanapun juga pasangan bekerja toh untuk keluarga. Lebih bagus lagi kalau dia juga bekerja untuk kesenangannya sendiri. Kalau pasangan bahagia dalam pekerjaannya kan makin produktif dan karirnya jadi lebih bagus.

Saya tidak bermaksud menggurui sih, sekedar berbagi cerita dan saran, karena saya tahu banyak yang senasib sama saya dulu, diduakan oleh kesibukan bekerja di kantor. Kalau nggak berkenan, maaf yaaaa… Boleh kok protes atau ikutan kasih saran. Saya tunggu 🙂

#IstimewaItuKamu

Bagi gue, rumah adalah dia. Karena dia adalah tempat gue pulang. Karena, orang terbaik buat kita itu seperti rumah yang sempurna. Sesuatu yang bisa melindungi kita dari gelap, hujan, dan menawarkan kenyamanan. – Raditya Dika, Manusia Setengah Salmon

Untuk Suamiku,

Seperti mencari rumah yang cocok, menemukanmu di antara begitu banyak pilihan di luar sana tidaklah mudah. Tapi begitu mengenalmu, aku seakan tak ingin berpaling. Seakan yakin bahwa kamulah shelter terakhirku. Tempatku berlabuh. Rumahku.

Erat pelukmu, seolah memastikan bahwa aku akan selalu terlindungi. Berlabuh di dadamu, tanpa banyak bicara membuatku merasa nyaman dan aman. Sikap tenangmu, menunjukkan kedewasaan dan matang cara berpikir. Terpadu sempurna. Bagai sebuah rumah mungil yang kokoh dan hangat.

Caramu merawatku saat sakit, kesungguhanmu bermain dengan si kecil meski sedang lelah, kesabaranmu menemaninya membuat pekerjaan rumah, senyum jahil dan tingkah konyolmu menghangatkan hati. Dan di tiap malamku, kehadiranmu menyempurnakan hari.

Selamat ulang tahun suamiku, seribu doa terbaik selalu mengiringi langkahmu, lelaki istimewa yang dipilihkan Tuhan untuk mendampingiku. Menjadi rumahku 🙂

He’s Here

Siang ini, liat Cinta dan suami lagi tidur siang bareng tiba-tiba merasa mellow. Antara seneng akhirnya bisa kumpul bertigaan lagi setelah dua bulan pisah sama sedih keinget bakal pisah lagi minggu depan. Boleh nggak ya berharap waktu berjalan sangat lambat supaya hari Minggu nggak cepet dateng.

Jujur aja ya, suasana di rumah jauh lebih menyenangkan kalau lagi ada suami. Cinta seneng karena ada temennya main, saya juga nggak uring-uringan terus karena ada yang diajak ngobrol, curhat, berbagi tugas dan dipeluk-peluk kalau lagi galau. Apalagi kalau beliaunya pas pulang ke Jakarta gini cuti alias nggak disuruh commisioning atau kerja sama kantornya yang di sini. Waaah, itu bisa 24 jam barengan terus. Menyenangkan sekali.

Ada yang bilang, “don’t be a woman that needs a man but be a woman that man needs.” Well, kayanya saya belum bisa kaya gini. Ada saat-saat tertentu yang saya ngerasa keberadaan dia di rumah sangat dibutuhkan, seperti ketika Cinta atau saya sakit. Waktu harus pergi ke tempat yang saya nggak tahu jalan atau bahkan saat sekedar ingin berbagi cerita.  Emang sih ada YM, skype, telpon tapi tetap aja nggak bisa menggantikan saat suami ada di sini secara fisik.

Pengennya sih bisa kumpul kaya gini terus, bertigaan, satu rumah. Tapi entah kenapa kok ada aja kendalanya, yang terakhir adalah ketika saya sama Cinta nggak bisa dapat visa tinggal di Brunei dan cuma dapat visa kunjungan yang harus diperbarui tiap 3 bulan. Booo, berat di ongkos pesawatnya deh kalo musti bolak-balik Jakarta-Brunei tiap 3 bulan. Insya Allah sih tugas suami di Brunei akan selesai bulan Juni ini, semoga aja nggak diperpanjang lagi. Kalaupun diperpanjang, semoga saya dan Cinta bisa ikut pindah ke sana. Sementara ini mari dinikmati dulu kebersamaan selama seminggu ini sebelum berpisah lagi untuk 2 bulan ke depan 🙂

Happy (Belated) Anniversary

4 tahun yang lalu tanggal 17 di bulan ini, saat dua tangan berjabat erat dan terucap ikrar dari salah satu pemilik tangan itu bahwa ia menikahiku dan di terima oleh ayahku sebagai pemilik tangan yang satunya lagi, i thought it would be forever, we’ll live happily ever after. But then shit happened and I still can’t believe we can go through that storm.

Bukan hal yang mudah melalui itu semua, aku dan kamu sama-sama tahu betapa beratnya usaha yang kita lakukan untuk tetap bertahan. Ada masa terasa lelah, ingin menyerah dan melepaskan genggaman tangan ketika tampaknya itu adalah hal yang termudah. Air mata seringkali membuat perih luka yang terbuka.

Hampir 2 tahun berlalu dari saat itu, walaupun bekas-bekas luka itu sudah hampir hilang, kadang sakitnya masih terasa. Seringkali kita tertawa bersama namun sesekali tangis datang menyapa. Saat ini aku tak bisa menjanjikanmu kebersamaan abadi dan kehidupan penuh cinta dan kebahagiaan. Tapi yakinlah, aku tak akan menyerah semudah itu asalkan saat aku lelah berjuang, tanganmu setia menopang tubuhku.

Happy belated wedding anniversary, dear hubby.