Browsing Tag:

perkembangan kepribadian

  • Life in Brunei, Parenting, Traveling

    Movie Playdate

    Saking seringnya liat trailer film Wreck It Ralph di Disney Channel, Cinta pengen banget nonton film besutan Disney ini. “Seru lho Ma, lucu,” katanya. Saya sih jujur aja ragu Cinta mau nonton film seperti ini karena bukan kesukaannya. Wong Toy Story series, Brave sama TinkerBell and The Great Fairy Rescue aja dia nggak suka. Sejauh ini, film bioskop yang bisa dia tonton sampai habis itu yang banyak lagu dan nari-narinya, macam Happy Feet 2 dan Madagascar 3.

    Tapi berhubung bolak-balik minta nonton, saya pikir dicoba aja deh daripada nganggur liburan di rumah ini. Dan setelah dijanjikan harinya, Cinta seneng sekali plus minta ijin untuk ajak teman sekolahnya yang juga tinggal satu apartemen sama kita, Xing Yuan. Begitu diiyakan, dia langsung bikin rencana, “Nanti aku dibelikan 2 popcorn ya, biar bisa makan sama XingYuan sambil nonton pakai 3D glasses. Trus abis itu makan di tempat bowling. Aku pengen spaghetti carbonara. It would be fun, mama.” Okesip kakaaaaaak.

    Pas hari H, mungkin karena nggak sabar atau ngantuk sebelum berangkat Cinta agak rewel. Dia berantem terus sama temannya. Bahkan di perjalanan pun beberapa kali nanya, “Can I sleep first in the car?” Sementara si teman sibuk nyanyi-nyanyi menghibur dirinya sendiri.

    Photobucket

    Sayangnya, begitu sampai di bioskop dan film dimulai, Cinta tegang. Belum ada separuh cerita udah sibuk bilang, “I don’t like this movie“, “I don’t want to watch this“, “Can I hug you, Mama?” “I want to get out” endebre endebre. Sedangkan XingYuan masih asik nonton sambil makan popcorn. Si mama yang lagi sensitif ini mulai kesal dan nyuekin dia sampai akhirnya pasrah duduk diem sambil ikut makan popcorn.

    Setelah 1 jam, pas lagi seru-serunya film, nengok ke kedua anak kecil itu sudah duduk lesu di kursinya masing-masing. Akhirnya diputuskan keluar dari bioskop dan lanjut makan siang. Baru deh mereka mulai tenang dan happy ngider di tempat bowling liat orang-orang main.

    Yah, ternyata memang ajak anak ke bioskop harus benar-benar pilih film yang mau ditonton ya. Kalau yang rating PG dan untuk tontonan keluarga belum tentu mereka suka, apalagi film dengan rating di atasnya, seperti Dark Night Rises, Skyfall, Breaking Dawn, dll. Pinjam istilahnya psikolog Ratih Ibrahim, film-film dengan rating PG-13, R, NC-17 cuma bikin trauma sampah kognitif pada anak-anak. Kok bisa, kan anak-anak belum ngerti apa yang dia tonton?

    Lha justru itu, fungsi kognitif anak belum matang betul untuk bisa mencerna dan paham apa yang mereka tonton. Apalagi kalau orang tua nggak berusaha menjelaskan dan mengarahkan pola pikir anak ke bagian-bagian positif dari tontonan itu. Jadi begitu liat adegan cium-ciuman, dar der dor dan berantem dengan suara keras bisa bikin trauma juga jadi sampah di kognisi mereka deh.

    Hmmm pelajaran juga pengalaman movie playdate sama anak-anak ini, harus hati-hati bawa anak ke bioskop. Yang buat kita bagus dan menghibur belum tentu bisa dinikmati anak. “You don’t know what garbage you inject to their mind,” kata mbak Ratih.

    Tapi jadi penasaran sama akhir ceritanya Wreck It Ralph nih. Apa dia beneran bisa diterima sebagai hero sama orang-orang di game Fix It Felix? Nggak sabar nunggu bisa download filmnya trus nonton sendiri deh pas Cinta tidur 😀

    Kalau anaknya suka nonton film apa, Moms di bioskop?

  • Life in Brunei

    Cinta’s 5th Birthday

    Tiap tahun, saya selalu berangan-angan bikin acara ulang tahun yang menyenangkan untuk Cinta, rasanya bayangan jenis kue, goody bag, baju ultah, sampai tempat acara sudah melekat di kepala selama berbulan-bulan. Tapi ternyata ulang tahun yang menyenangkan menurut Cinta tidak sama dengan saya. Buat dia merayakan ulang tahun bersama keluarga saja sudah cukup dan ternyata hal ini dikabulkan oleh Allaah.

    Jadilah tahun ini sesuai dengan permintaan Cinta, kami merayakan ulang tahun ke-5 gadis kecil ini dengan penuh kesederhanaan. Hanya kami  bertiga, 2 buah kado dan kue ulang tahun pilihan Cinta, di hari Minggu, 17 Juni 2012 yang lalu. Meski sederhana bukan berarti sepi karena tak lama setelah acara tiup lilin kami dapat video call dari keluarga di Sidoarjo, telpon dari Yangti Yangkung Tuban dan tante bude. Belum lagi limpahan doa dan ucapan selamat dari teman-teman di Twitter dan Facebook. Alhamdulillaah, semoga diijabah Allaah.

    Keesokan harinya Cinta bagi-bagi cupcake untuk teman-teman di sekolah. Nggak pakai acara tiup lilin karena dia nggak mau, “Kan kemarin sudah celebrate my birthday at school, Ma. Sekarang makan kue aja rame-rame sama teman-teman,” pintanya.

    Selamat ulang, Nadja Aluna. Selamat meninggalkan masa balitamu dan menyongsong hari-hari sebagai anak besar. Terima kasih telah menjadi guru terbaik bagi kami untuk terus belajar menjadi orang tua. Semoga mama dan papa bisa membimbingmu menjadi anak sholeha, berguna bagi lingkungan, sehat dan bahagia. Aamiin 🙂

  • Daily Stories, Parenting

    Mengatasi Rasa Takut Pada Anak

    Question:

    mbak Nina, anak saya (5 thn) belakangan ini gampang takut & nangis. Liat tv yang menegangkan, ruangan gelap selalu lari. Kalau ditanya cuma bilang takut karena serem. Sebelumnya nggak ada kejadian traumatis di rumah. Kenapa ya kira-kira?

    @alfakurnia

    Answer:

    @AnnaSurtiNina

    Ada banyak kemungkinan. Kalau tidak ada kejadian besar, mungkin ada kejadian yang hanya dia yang tahu & berkesan banget. Mungkin juga dia sedang eksplorasi rasa takut or eksplorasi respon org terhadap dia, misalnya ingin tau apa aja yang dilakukan orang lain kalau dia tunjukkan takut. Bisa juga karena menikmati respon orang lain terhadap ketakutannya, misalnya tiap kali dia takut langsung dapat pelukan & Cinta suka pelukanmu yang penuh cinta 😛

    Coba lebih banyak masukkan pesan bahwa dia anak tangguh & berani. I love this way: sebelum tidur & sesaat setelah bangun bisikkan kata-kata ini, “Mama tau bahwa kamu adalah putri yang pemberani, I love you.” Setiap hari :). Beberapa bulan lagi arahkan keberanian supaya tidak berlebihan.

    Souce: tanya jawab dengan psikolog Anna Surti Nina melalui akun twitter @AnnaSurtiNina

  • Daily Stories, Parenting

    Membantu Anak Beradaptasi di Sekolah Baru

    Question:

    Anakku (5T) sudah 3 bulan ini adaptasi dengan lingkungan & bahasa baru. Dia pernah ngeluh nggak punya teman di sekolah and she looks happier at home than at school. Katanya kalo di rumah lebih menyenangkan.
    Dia di sekolah pernah dibully temen ceweknya & dijauhi. Sejak itu jadi galak banget, digoda sedikit sama teman marah padahal tadinya mereka main bareng dan dia sempat senang karena sudah punya teman. sekarang seperti ulang dari awal lagi proses adaptasi di kelas

    Gimana cara bantu dia ya mbak?

    @alfakurnia – 24 April 2012

    Answer:

    @AnnaSurtiNina

    Biasanya anak yg masih adaptasi dengan lingkungan bener-bener baru memang stres banget, cenderung nyari situasi aman. Syukurlah itu adalah rumah.

    Mau gak mau emang trus diperkenalkan dgn lingkungan & bahasa baru ini, dengan menyenangkan, supaya dia bisa adaptasi lebih baik

    Tentang temen-temennya, kasih tahu bahwa temen-temennya mungkin malu untuk mengajak dia berteman, misalnya karena bingung mau bicara apa, bukan tidak mau.

    Jadi ajarkan untuk banyak senyum di sekolah, supaya teman-teman mau mendekat & ajak dia bermain. Dorong anak untuk ikuti permainan teman

    Kalau ada komunitas menyenangkan yang bisa diikuti bersama anak, ikuti aja, biar dia belajar bergaul dengan senang.

    Untuk diperkenalkan budaya & bahasa baru itu bisa banyak-banyak jalan-jalan ke pasar tradisional di sana, ikut kegiatan-kegiatan masyarakat, dll

    Bantu carikan kegiatan-kegiatan masyarakat daerah yang banyak anak-anaknya & bantu dia utk ikut terlibat di sana. Lama-lama bisa adaptasi lebih ok

    Gak papa, lebih baik ulang lagi proses adaptasi daripada dipaksa tp nggak bagus hasilnya. Prinsipnya kayak terapi, yang masih kurang dikuasai perlu diulang belajarnya dengan benar. Ditemenin aja dalam proses adaptasi ulang ini, lebih banyak lagi kenalin temen lain.

    (Source: tanya jawab dengan psikolog Anna Surti Nina melalui akun twitternya @AnnaSurtiNina)

  • Life as Mom, Parenting

    Soon to be Five: Pojok Mungil’s Giveaway

    Nggak terasa bocah kecil saya sebentar lagi akan meninggalkan masa balitanya. 5 tahun sudah saya ditempa oleh guru terhebat ini untuk menjadi pribadi yang lebih baik, supaya layak menyandang gelar orang tua. Selama 5 tahun ini pula, banyak sekali pelajaran mengenai pola asuh anak yang saya peroleh dari buku, internet, teman dan tentu saja orang tua.

    Meskipun kadang merasa bahwa cara orang tua mengasuh kita dulu sudah tidak cocok lagi diterapkan saat ini, ternyata masih banyak yang masih bisa ditiru. Salah satu yang saya pelajari dari mama adalah menyayangi anak bukan berarti selalu memanjakan dan menuruti apa yang ia mau. Dan saat kita tidak dapat memenuhi keinginan anak, sampaikan terus terang alasannya, tentu dengan bahasa yang mereka mengerti.

    Nah, dalam rangka ulang tahun ke-5 Cinta, saya ingin mengadakan giveaway untuk pembaca PojokMungil. Caranya gampang banget, cukup menceritakan apa saja ajaran, pesan atau pola asuh yang dipelajari dari orang tua kita dan diterapkan dalam mengasuh anak saat ini di kolom komentar. Untuk 2 orang yang beruntung akan mendapat masing-masing 1 buah MomLit Rumah Cokelat karangan Sitta Karina dan 1 paket buku anak seri “Sejuta Warna Pelangi” karangan Clara Ng.

    Yuk, mari berbagi cerita… Ditunggu sampai tanggal 13 Juni 2012 ya, pengumuman pemenang akan dilakukan pada hari ulang tahun Cinta tanggal 17 Juni 2012.

    Ps: gambar buku anak seri “Sejuta Warna Pelangi” diambil dari situs kutukutubuku.com

  • Life as Mom

    Flesh and Blood

    part of me wants to call you up and talk to you like a friend. but there’s a part of me that wants to shut you out and never see your face again. how can we be like enemies when we’re only flesh and blood? – Flesh and Blood by Wilson Phillips

    Abis baca twit mbak @AlissaWahid dan postingan mamak Kopi di Ngerumpi sore ini, aku jadi sadar kalau nggak semua orang punya hubungan indah dengan orang tuanya.

    Waktu kecil-remaja, wajar bila ada org yang tak suka pada orangtuanya. Wajarnya orang dewasa, tak suka itu berubah menjadi tak setuju saja. – Alissa Wahid

    Bahkan aku pun saat remaja punya masa-masa nggak suka dengan orang tua. Lebih memilih dekat dengan teman yang menurutku lebih bisa memahami gejolak masa muda daripada Mama, Dad dan Papa yang suka ngelarang ini itu.

    Kalau kita sudah dewasa & masih tidak suka kepada orangtua kita, ada baiknya kita tengok diri. We have a real problem.. Mengapa real problem? Ya karena ‘tidak menyukai orangtua’ menunjukkan bahwa kita tak bisa membedakan ‘tidak setuju’ dengan ‘tidak suka’. – Alissa Wahid

    Tapi setelah menginjak middle 20’s apalagi setelah menikah, hidup sendiri dan punya anak, hubungan dengan orang tua jadi jauh lebih baik. Aku jadi bisa memahami kenapa mereka dulu bersikap seperti orang tua, karena sekarang aku pun begitu terhadap Cinta. Pun saat ada masalah, larinya ya ke Mama, ketika teman or they so called best friends itu menghilang karena sudah lelah mendengarkan keluh kesah tak berujungku.

    Orang yang matang bisa membedakan antara perilaku dengan orang. Terhadap orangtua, kalau kita melihat orangtua sangat buruk, itu tidak sehat. – Alissa Wahid

    Mungkin karena pada usia itu, cara pandangku sudah mulai berubah dari remaja labil menjadi perempuan (lebih) dewasa yang sedang belajar bertanggungjawab akan diri dan hidupnya. Mama dan Dad sebagai orang tua juga seiring dengan bertambahnya usia dan makin banyaknya pengalaman juga berubah.

    Pada usia dewasa muda itu, peran orang tua sebenarnya juga mulai berubah. Dari pendidik menjadi penyokong, pendukung anaknya. Hal ini juga yang bisa membuat kami lebih banyak bicara saat menghadapi suatu masalah. Konflik tetap ada, tapi seringkali salah satu mengalah.

    Kita lebih sibuk menuntut hak kita, berusaha menjamin semua pihak lain memenuhinya. Lupa bahwa kita pun berkontribusi. Kita kadang terlalu sibuk dengan kewajiban orangtua terhadap hak kita sebagai anak. ‘Orangtuaku harusnya bla3x..’ dan melupakan sebaliknya. – Alissa Wahid

    Setelah ada anak, justru kasih sayang orang tua lebih terasa. Betapa mereka begitu memperhatikan Cinta, mengurus aku yang mengalami post partum depression, menyediakan telinga dan bahu ketika butuh tempat bersandar. Dan tiba-tiba aku menyadari bahwa belum ada seujung kukupun semua kebaikan itu kubalas.

    Most parents did the best, with whatever they had, for the children. If it’s wrong? They just didn’t know any better. – Alissa Wahid

    Jadi orang tua itu nggak mudah, now I feel it. Lihat Cinta tantrum, membentak-bentak saat dia kesal aja aku sudah patah hati. Nah, berkonflik dengan orang tua sampai lari dan menjauh dari mereka tentu menyakitkan. Makanya aku suka sedih melihat teman-teman yang berantem sama ibunya karena nggak sepakat tentang pemberian ASI, MPASI, pengasuhan anak lalu benci sama ibu atau mertuanya. Bayangkan betapa terlukanya para nenek ini.

    In the end, let’s just remember: walau tidak 100% seperti harapan, our parents did what they thought the best for their children. – Alissa Wahid

    Apapun masalahnya, jangan sampai deh saat orang tua nggak ada baru kita menyesal pernah membenci mereka. Karena permintaan maaf, pelukan erat, suara tegas namun hangat itu nggak akan bisa kita dapatkan lagi.

     

  • Daily Stories, Parenting

    Beradaptasi di Sekolah Baru

    Sebagai ibu yang concern dengan pendidikan anak usia dini, aku cukup cerewet saat memilih sekolah untuk Cinta waktu kami masih di Indonesia. Aku percaya bahwa sampai usia 6 tahun, kewajiban anak adalah bermain. Sehingga saat memasukkan Cinta ke sekolah pun, aku mencari yang benar-benar mempraktikkan semboyan “belajar sambil bermain.” Di mana aktivitas utamanya ya main. Pelajaran mengenal huruf, angka, membaca, menulis, belajar mengaji, dll pun dilakukan dalam konteks bermain, sehingga anak nggak merasa kalau dia sedang belajar dan tetap bahagia. Bukankah anak yang bahagia akan menyerap (pelajaran) lebih banyak?!

    Tapi, setelah kami pindah ke Brunei sebulan lalu dan tinggal di kota kecil, pilihan sekolah untuk Cinta nggak sebanyak di Jakarta bahkan di Sidoarjo. Selain sekolah negeri, beberapa teman menganjurkan supaya Cinta bersekolah di english school. Nah, karena sekolah negeri hanya buka pendaftaran sampai awal tahun ajaran baru yang dimulai tanggal 3 Januari 2012 lalu, maka tinggal convent school atau chinese school.

    Saat akhirnya memutuskan untuk mendaftarkan Cinta di chinese school, hampir semua kriteria ideal yang kupegang dalam memilih sekolah tidak terpenuhi. Pertama, no outdoor activity, “Parents don’t like if we take children go out too much,” kata kepala sekolahnya. Dieeeng. Padahal mereka punya halaman luas penuh rumput dengan playground besar. Kedua, satu kelas berisi 26 siswa hanya dipegang oleh satu guru yang tegas dan disiplin grin. Ketiga, ada PR, keempat ADA ULANGAN setiap bulan tepok jidat.

    Mau memilih sekolah yang lain pun, kondisinya bisa dipastikan hampir sama. Jadilah dengan bismillah Cinta memulai petualangannya di situ.

    Awalnya aku kepikiran banget membayangkan apakah Cinta mampu beradaptasi dengan lingkungan dan aktivitas di sana. Khawatir kalau terlampau berat untuknya yang waktu sekolah di Jakarta begitu diperhatikan dan dimanja guru-guru.

    But somehow she survived. Selama 2 minggu ini bersekolah belum pernah malas berangkat, malah sempat ngambek karena dilarang sekolah waktu dia pilek. Bahkan hari ini waktu diminta untuk tinggal di rumah karena mamanya sakit, dia maksa untuk berangkat berdua aja sama si papa, meskipun masih batuk. Tapi akhirnya menyerah nggak sekolah setelah batuk-batuk sampai muntah dan pusing. Mungkin karena pelajaran yang diberikan mengulang apa yang sudah pernah dia dapat di kelompok bermain dan TK A. Bisa juga karena aktivitasnya lebih menyenangkan daripada sekedar main dan nonton tv di rumah sendirian.

    Namun belakangan aku mendapati Cinta kembali suka menggigit kuku dan benda-benda lain, bahkan tutup botol minum sampai gripis pinggirannya karena digigitin. Entah karena dia bosan atau sebagai ekspresi cemas dan tidak nyaman.

    Cinta sendiri kalau ditanya, “Are you happy at school?” selalu menjawab, “Yes, I’m happy!” dengan semangat. Meski belum punya teman dan waktu aku tanya apakah gurunya baik, dia jawab, “not really, mom. sambil cengar-cengir. Soal kurangnya aktivitas luar ruang juga dia pernah bilang, “Main di dalam juga menyenangkan, kok.” waktu aku mengkhawatirkan dia yang nggak pernah main di luar ruang.

    Hmmm… Kita lihat dululah perkembangannya sampai tahun ajaran ini berakhir. Apakah Cinta memang benar-benar cocok di sekolahnya sekarang ataukah kami harus cari sekolah lain untuk mengobati kekhawatiran ibunya ini. Well, for this time hang in there, Cinta. We’ll always by your side.

  • Life Hacks

    Resolusi 2012

    Selamat tahun baru 2012!
    Kalau akhir tahun biasanya digunakan untuk mengevaluasi achievement kita selama setahun, di awal tahun waktunya bikin resolusi, dong. Nah, ini dia punya saya:
    • Punya smartphone baru, karena si Stormy sudah sering hang, error dan boros baterai. Pengennya sih iPhone 4S. Ihiiiy 😀
    • Multi Power Kitchen. Kitchenware keluaran DRTV ini menggugah hati bener deh. Bayangpun, dia bisa jadi juicer, blender, mixer, giling daging dan bumbu, sampai bikin sosis dan pasta.
    • Kamera DSLR
    • Sekolah lagi ambil Magister Profesi Psikologi
    • Kerja kantoran di bidang Psikologi dan/atau Rekruitmen

    Hihihi, kayanya itu wishlist ya. Kalau resolusi beneran yang tampaknya lebih achievable aja deh. Apa tuh:

    1. Makan sayur dan buah, minimal sehari sekali.
    2. Jogging atau fitness, 3x seminggu
    3. Sholat tepat waktu dan nggak bolong-bolong
    4. Mengurangi jalan ke mall jadi sebulan sekali aja.
    5. Mengatur waktu lebih baik lagi dengan cara:
      1. Mematikan gadget saat akan tidur.
      2. Kembali membacakan buku sebelum tidur untuk Cinta
      3. Meluangkan waktu minimal 30 menit sehari untuk belajar bareng Cinta
      4. Jatah waktu menulis & online maksimal 2 jam/hari (termasuk ngetwit & main game FB)
      5. No more deadline rush. Selesaikan pekerjaan maksimal 1 hari sebelum deadline.
    6. Fokus pada keluarga.
    7. Banyak bergaul di dunia nyata, perbanyak teman terutama di lingkungan baru nanti.
    8. Lebih sabar
    9. Lebih sabar
    10. Lebih sabar

    Yak, resolusinya nggak keren ya. Nggak ada sesuatu yang wah. Tapi di bawah bayangan isu kiamat akhir tahun 2012, saya jadi ingin lebih fokus ke perbaikan diri dan keluarga. Insya Allah, yang lain akan menyusul.

    Sebenarnya ingin menambahkan “punya anak kedua” di daftar di atas. Cuma, masih banyak keraguan. Usahanya sih sudah dimulai dengan lepas IUD, jadi sekarang benar-benar tinggal nunggu keputusan Allah aja. Apapun yang terbaik kami terima 🙂

    Kalau resolusi kalian apa?

    Picture taken from here.

  • Life as Mom, Parenting

    From A Mother’s Eye

    Ngikutin berita tentang aksi Suster Ngesot yang ditendang satpam akhir-akhir ini bikin saya geleng-geleng kepala. Bukan, saya nggak mau ikut-ikutan ngebully si Mega atau membela pak satpam. Buat saya jelas, Mega yang salah. Titik! #sikap.

    Dalam kasus Mega, sebagai seorang ibu, saya pun memetik banyak pelajaran dari kejadian itu. Bahwa ada orang yang mudah sekali mengambil keputusan untuk melakukan sesuatu hanya karena dia ingin, tanpa memikirkan sisi positif dan negatifnya, apalagi efeknya untuk orang lain.

    Ketika perbuatannya itu dianggap salah, seribu satu alasan pun keluar. Ia pun tidak menyadari kesalahan yang dia buat. Kalau nggak sadar dia salah, gimana mau minta maaf ke orang yang benar-benar sudah dia rugikan. Bahkan memposisikan diri sebagai korban.

    Satu lagi, meskipun anak adalah harta yang paling berharga, orang yang paling kita sayangi, saat dia salah ya kita harus menerima kenyataan itu. Tegur dia, ajak dia minta maaf dan membimbing mereka untuk memperbaiki kesalahannya. Bukannya tutup mata dan mati-matian membela anak atas nama cinta.

    Toh, sayang anak tidak berarti melimpahinya dengan materi, memanjakannya dengan mengiyakan semua keinginan dan membela setiap perilakunya. Sebagai orang tua, tugas kita mengarahkan anak mana yang bermanfaat, mana yang benar dan salah. PR kita juga mengajarkan anak berpikir bahwa setiap perbuatan ada risikonya, ajak mereka mempertimbangkan matang-matang segala kemungkinan yang bisa terjadi sebelum melakukan sesuatu.

    Yah, semoga kasus suster ngesotnya Mega ini, nggak semakin merugikan pak satpam dan keluarganya. Jangan sampai karena ulah konyol anak baru gede ini membuat sebuah keluarga kehilangan periuk nasinya.