Ketika Cinta (dan Mama) Belajar Kecewa

blogpost, belajar kecewa, anak belajar kecewa

Ketika anak terpilih untuk tampil dalam acara sekolah atau mewakili sekolah untuk mengikuti lomba, sebagai orangtua tentu kita bangga ya. Latihan demi latihan dan kerja keras yang harus dilakukan supaya anak tampil prima pada hari H baik sendiri atau berkelompok rasanya terbayar sudah ketika mereka berdiri di atas panggung dan mempersembahkan penampilan terbaiknya.

Tapi gimana ketika anak nggak terpilih atau nggak lulus audisi atau ditolak ketika mereka dengan sukarela dan bersemangat mengajukan dirinya? Sebagai orangtua, kita mesti gimana? Sedih, marah (-marah), ikut kecewa, menghibur, ngelabrak gurunya, nulis status peduh amarah di medsos, atau apa?

Itulah kebingungan saya setiap kali anak-anak mengalami hal yang tidak menyenangkan di sekolah. Seperti yang terjadi pada Cinta 3 tahun lalu.

Ceritanya, setiap akhir bulan Januari atau awal bulan Februari, kira-kira 1 minggu menjelang perayaan Tahun Baru Cina, sekolah Cinta selalu mengadakan acara Lion Dance Eye Opening Ceremony. Pada acara ini, selain ada lion dance yang di Indonesia lebih dikenal dengan nama Barongsai, juga ditampilkan persembahan tarian oleh murid-murid yang terpilih tiap angkatannya.

Waktu itu, Cinta baru masuk KG 3, dan dia ingin sekali ikut dalam performance, karena ketika di KG  2, hampir semua anak yang berminat selalu diberi kesempatan untuk tampil. Tapi ternyata, untuk acara ini kebijakannya berbeda. Saya sendiri nggak paham pemilihannya berdasarkan apa. Cuma berdasarkan logika saya, acara ini kan untuk merayakan Tahun Baru Cina dan sekolahnya adalah Chinese School, jadi mungkin yang diutamakan adalah anak-anak berdarah Cina. Itulah yang saya jadikan alasan ketika menghibur Cinta saat itu.

Tapi ternyata hal yang sama terulang lagi tahun lalu. Kali itu untuk perayaan ulang tahun sekolah. Dan menurut Cinta, gurunya meminta anak-anak berpartisipasi untuk tampil dalam acara tersebut. Cinta pun bersemangat mengajukan diri. Surat pemberitahuan bahwa anak akan mengikuti latihan pada waktu tertentu pun saya terima kemudian. Saya pikir semua berjalan lancar, sampai dua minggu setelah latihan pertama, saat kami mudik untuk menghadiri pemakaman mertua, Cinta ditanya papanya tentang latihan dancenya. Cinta pun hanya menjawab, “I’m fired. I can’t attend the dance practice anymore.” Jreng jreng.

Ketika saya tanya, menurut Cinta, dia nggak boleh lagi ikut dance practice karena saat latihan yang pertama dia nggak memakai baju olahraga. So she was dismissed.How do you feel?” tanya saya waktu itu. “I’m sad and angry,” jawabnya. Saya pun demikian.

Rasanya waktu itu saya sudah mau tulis status marah-marah bahwa anak saya diperlakukan nggak adil, bla bla bla. Tapi saya tahan. Saya harus ketemu dulu sama gurunya, pikir saya saat itu. Saya pun meminta ijin Cinta untuk menemui gurunya. Saya ingin tahu alasan sesungguhnya, karena nggak ada satupun pemberitahuan kepada kami bahwa anak ini, yang tadinya harus mengikuti latihan menari pada waktu tertentu, tiba-tiba diberhentikan. Untung lho, latihannya pas jam sekolah, kalau di luar itu kan, pengaruh juga sama urusan antar jemput ya.

Cinta akhirnya mengijinkan saya menemui gurunya. Sayangnya, nggak pernah ada waktu yang tepat untuk berbicara dengan beliau. Sampai akhirnya Cinta bilang, “It’s okay, Mom. I’m okay now. I’m not sad anymore. You don’t have to meet my teacher to tell her about my feeling.” Tapi kan Mama masih kesal, Kakaaaaaaak. Masih mau marah-marah ke gurunya. Cuma saya kan harus menghormati keputusan Cinta. Apalagi kemudian dia cerita sahabatnya dan teman-temannya yang lain juga banyak yang nggak tampil. I thought that was my clue to let that go. Anaknya sudah ikhlas, masa saya enggak bisa.

Apakah sejak itu Cinta kapok mengajukan diri untuk ikut performance di sekolah? Ternyata enggak. Tahun ini dia cerita kepingin ikut Lion Dance club. Duh, meskipun kagum sama determinasinya, saya mah inginnya nggak usah ajalah. Saya takut dia kecewa lagi kalau nggak terpilih. Malah kalau bisa saya inginnya dia nggak perlu merasakan kecewa atau sedih (kecuali karena nggak dibelikan mainan atau buku atau apalah oleh kami, itu nggak papa kecewa hehehe).

Tapi menurut penulis buku Raising Resilient Children, Robert Brooks, PhD, membiarkan anak belajar menghadapi kondisi yang membuatnya sedih dan kecewa itu bermanfaat ketika mereka beranjak dewasa. Justru kalau orangtua berusaha keras selalu melindungi anak dari rasa kecewa, sebenarnya secara tidak langsung telah menghambat keterampilan emosional anak.

anak belajar kecewa, how to help a child handle disappointment, psikologi, parenting, mengatasi kecewa pada anak, quote about disappointment

Hal senada juga diucapkan oleh Madeline Levine, PhD, penulis buku The Price of Privilege: How Parental Pressure and Material Advantage are Creating a Generation of Disconnected and Unhappy Kids. Menurut Madeline, saat anak mengalami kegagalan, bisa kita manfaatkan sebagai sarana mengembangkan karakteristik kunci yang dibutuhkan untuk menjadi pribadi yang sukses, seperti keterampilan coping, ketahanan emosional, berpikir kreatif dan kemampuan untuk berkolaborasi.

Parents see failure as a source of pain for their child instead of an opportunity for him to say, ‘I can deal with this. I’m strong,'” says Madeline Levine, Ph.D.

Nah, berarti yang perlu kita lakukan adalah membantu anak mengatasi emosinya (dan emosi kita sendiri tentunya) ketika mereka mengalami kegagalan. Dengan cara apa? Beberapa hal ini mungkin bisa membantu:

Beri Waktu Untuk Berduka

Beberapa anak, seperti Cinta, meskipun kelihatannya cuek, sebenarnya mereka sensitif dan lebih suka menyimpan sendiri perasaannya. Sehingga ketika dia merasa overload, kekecewaan kecil pun bisa membuatnya meledak. Tugas saya adalah harus peka melihat perubahan emosinya dan memberinya sedikit ruang untuk mengendalikan rasa sedih dan kecewanya. Kecuali untuk hal-hal yang sifatnya darurat seperti anak mengalami kecelakaan, pelecehan atau bullying, saya memilih menunggu sampai ia bisa mengendalikan perasaannya dan mau berbagi cerita.

Berhati-Hati Dalam Berbicara

Jangan seperti saya yang keliru memberikan alasan ketika Cinta nggak terpilih tampil dalam perayaan Tahun Baru Cina. Sebaiknya kita lebih bijaksana lagi dalam menghibur dan memilih kalimat yang membangun, bukan menyalahkan pihak lain. “Iya, Mama tahu kakak sekarang sedih karena nggak terpilih. Tapi sepertinya sekarang bukan waktu yang tepat. Tetap tekun berusaha, lain kali kita coba lagi, ya,” kedengarannya lebih baik ya?

mengatasi rasa kecewa pada anak, membantu anak mengatasi rasa kecewa, how to help a child handle disappointment, parenting, psikologi
tulisan dikutip dari parentsdotcom

Memberikan Pelukan

Nggak ada yang lebih menghangatkan hati selain pelukan erat dan usapan di punggung yang memberi isyarat bahwa kita memahami kekecewaannya dan ikut merasakan kesedihannya.

Mengajarkan Anak Untuk Menenangkan Dirinya Sendiri

Dengan cara:

  • Fisik seperti jogging, bersepeda, berenang, lompat tali atau apapun yang dapat mengeluarkan energi mereka asal nggak merugikan orang lain.
  • Bernafas dalam-dalam.
  • Berbicara dengan orang lain yang mereka percaya dan dapat mendengarkan dengan baik tanpa menghakimi atau berusaha memperbaiki segala hal seperti orangtua, guru atau nenek, tante, om.
  • Positive self-talk.
  • Mendengarkan musik.
  • Membaca buku.
  • Menggambar. Ini favorit Cinta, dalam keadaan emosi apapun biasanya dia melampiaskannya dengan menggambar karena bisa bikin dia fokus dan tenang.
  • Mandi air hangat.
  • Nonton film lucu.

Berikan Contoh Positif

Huhuhu ini nih paling susah. Saya aja kalau kecewa sering marah-marah. Tapi sepertinya memang harus diawali dari orangtua ya. Tahan diri dan tunjukkan perilaku positif. Yakinkan anak kalau kekecewaan ini akan berlalu dan keadaan akan jadi lebih baik. Bercerita tentang pengalaman kita mengatasi rasa kecewa juga mungkin bisa membantu. Sehingga anak yakin bahwa dia nggak sendirian melalui perasaan sedih dan kecewanya. Ingat, monkey see eh children see children do, Mama!

Weeew, banyak amat PR jadi orangtua, ah. Tapi kalau dipikir-pikir lagi kayanya memang lebih gampang mendampingi mereka melalui proses ini ya daripada melindungi mereka dari semua hal yang bisa menyebabkan kecewa dan sedih. Toh, belum tentu kita bisa selamanya menjadi pelindung anak-anak. Umur siapa yang tahu, kan? Lagian nggak adil juga kalau kita boleh membuat mereka kecewa tapi ketika pihak lain mengecewakan mereka trus kita jadi marah-marah, hihihi.

Buat Cinta, “Jangan menyerah ya, Nak. Mungkin sekarang kakak belum dipercaya untuk tampil di panggung sekolah. Tapi kalau terus berusaha kuat di bidang yang kakak sukai dan selalu berdoa, siapa tahu, Nak, Insya Allah, 5  atau 10 atau 15 tahun lagi kakak bisa tampil di panggung yang lebih besar dan megah. Aamiin.”

Bisakah Pernikahan Jarak Jauh Berhasil?

Huhuhu dari tulisan sebelumnya, kayanya berat banget ya long distance marriage itu. Hmmm, iya sih tapi positifnya pasangan suami istri jadi lebih mandiri dalam berbagai macam hal. Terutama urusan domestik seperti yang saya tulis dalam postingan sebelumnya, ibu-ibu mau nggak mau harus bisa angkat galon sendiri ke dispenser, sigap memperbaiki sendiri atau mencari tukang untuk memperbaiki genteng bocor misalnya, mengelola keuangan dengan lebih baik supaya asap dari dandang di dua dapur ini bisa mengepul.

Sementara para bapak kalau nggak mau sering makan di luar ya jadi belajar masak, membersihkan rumah, menyuci baju sendiri. Keuntungan lainnya, saat bertemu pasangan biasanya jadi lebih mesra dan jarang bertengkar. Ayah dan ibu pun selalu berusaha menciptakan waktu berkualitas bersama pasangan dan anak-anak.

Obviously, a long distance relationship is hard. But, like anything work having, you make it work. – Leona Lewis

Lalu bagaimana supaya kita bisa menjalani pernikahan jarak jauh ini dengan lebih mudah?

Menurut psikolog lulusan Universitas Surabaya, Fini Rahmatika, M.Psi, Psikolog yang biasa disapa Fini ini banyak yang harus dilakukan agar pernikahan jarak jauh dapat berjalan seimbang hingga mencapai suatu well being atau keselarasan di mana kedua pasangan merasa nyaman, bahagia dan sehat lahir batin dengan keadaan tersebut.

“Menjalani LDM itu memang bukan hal yang mudah,” ujar ibu dari duo sholeh dan sholeha Firdaus dan Bilqis. “Perlu kesiapan mental, kemampuan berpikir positif, mengatur emosi, mengambil keputusan dan lain-lain untuk menghadapi tekanan-tekanan yang ada baik dari dalam maupun dari luar diri kita,” tambahnya.

Bagaimana kita tahu bahwa kita telah mencapai kondisi keselarasan psikologi sebagai landasan mengarungi pernikahan jarak jauh? Fini yang juga menjalani pernikahan jarak jauh sejak awal menikah menjelaskan bahwa berdasarkan teori Ryff, seseorang yang memiliki psychological well being yang baik mampu merealisasikan potensi dirinya secara kontinyu, dapat menerima dirinya apa adanya, sanggup membentuk hubungan yang hangat dengan orang lain, memiliki kemandirian terhadap tekanan sosial, memiliki arti diri serta mampu mengontrol lingkungan eksternalnya.

Jika kita sudah bisa melalui ini semua atau setidaknya dapat menjalaninya, maka akan lebih mudah untuk melakukan hal-hal di bawah ini:

  • Membuat komitmen dan menjaga kepercayaan
  • Sebisa mungkin jangan menghakimi atau menuduh hanya berdasarkan prasangka kepada pasangan saat ada masalah.
  • Mampu berpikir positif dan kompromi.
  • Mengelola perasaan . Jangan reaktif saat menerima hal yang membuat tidak nyaman, carilah cara membuat diri kita rileks.
  • Ciptakan aktivitas positif. Salah satu keuntungan LDM adalah me time yang sedikit lebih banyak loh. Misalnya merawat badan dan wajah saat anak-anak tidur atau sekolah supaya saat ketemu suami keliatan segar dan menyenangkan, baca novel, melakukan hobi, dll.
  • Tanggap mengambil keputusan. Ini adalah ketrampilan yang wajib dimiliki dan sangat dibutuhkan saat situasi gawat darurat.
  • Saat bertemu, ciptakan suasana yang menyenangkan , meskipun begitu banyak yang ingin dikeluhkan. Nanti tetap ad”Setelah berdoaa waktunya untuk bercerita (bisa setelah lepas kangen dan tubuh serta fikiran menjadi lebih rileks). Kesempatan ini bisa menjadi ajang saling menguatkan atau recharge

Tambahan dari saya hal paling penting dilakukan dalam menjalani pernikahan jarak jauh adalah doa. Minta kepada Allah SWT untuk menjaga pasangan kita, meridhoi rumah tangga ini dan selalu diberikan yang terbaik. “Supaya hati tetap tenang, selalu ikhlas dan pasrahkan saja kepada Allah. Kita titipkan pasangan kita kepada Allah, karena DIAlah  sebaik-baiknya penjaga. Allah Maha Menjaga,” pesan Fini. Doa terbaik dari kami berdua untuk para teman dan sahabat yang sedang menjalani LDM, semoga selalu dikuatkan dalam cinta dan komitmen. Percayalah kalian pasti bisa menjalaninya.

__________________

Fini Rahmatika, M.Psi, Psikolog adalah ibu dari 2 anak yang selama usia pernikahannya menjalani LDM dengan suami tercinta. Di sela-sela kesibukan mengurus putra-putri tercinta, Fini yang menyelesaikan pendidikan psikologinya di almamater tercinta kami Universitas Surabaya juga bekerja sebagai independent psychologist. Fini pernah bergabung sebagai associate di beberapa lembaga konsultan di Jakarta dan Surabaya; Psikolog Keluarga, Anak, Remaja, PraNikah di Pusat Layanan Keluarga Sejahtera BKKBN Perwakilan Prov. Jatim; Psikolog pendamping anak eks Lapas di Shelter Rumah Hati Jombang, Jatim; Trainer soft skill untuk mahasiswa di Universitas Surabaya serta menjadi narasumber di berbagai talkshow dan artikel parenting.

Mudahkah Menjalani Pernikahan Jarak Jauh?

Berdasarkan pengalaman, menjalani pernikahan jarak jauh bukanlah hal yang mudah. Bahkan mungkin bisa dibilang tantangan yang dihadapi dua kali daripada pasutri yang tinggal serumah. Salah satunya adalah saat ada masalah yang harus diselesaikan. Kalau suami istri yang tinggal serumah bisa membicarakan hal-hal penting dengan duduk semeja atau mungkin sekalian bertengkar sampai menemukan solusi lalu tidur berpelukan, kami para pelaku LDM ini nggak bisa begitu.

Mencari waktu untuk bisa berkomunikasi dalam suasana yang tepat saja sudah menjadi kendala, belum lagi bahasa yang digunakan dalam video call, surat elektronik/sms/WA yang seringkali mudah disalahartikan. Ketika ada kesempatan untuk bertemu pun biasanya nggak tega dipakai untuk bertengkar. Akhirnya masalah pun mengendap atau ketika dibicarakan pun mungkin salah satu nggak puas tapi terpaksa mengalah karena nggak mau merusak momen langka kebersamaan. Masalah-masalah tak terselesaikan inilah yang nantinya bisa jadi api dalam sekam.

Itu baru satu dari sekian banyak risiko pernikahan jarak jauh. Saat memilih hubungan seperti ini sebaiknya kita selalu siap akan risikonya. Kesalahan saya dulu adalah nggak mau tahu akan kendala-kendala dalam tersebut. Saya maunya meski berjauhan semua harus berjalan seperti saat bersama tanpa memahami bahwa keadaannya berbeda. Ketika terjadi masalah lantas sibuk menyalahkan sana sini termasuk diri sendiri. Bukannya menyadari bahwa, “Oke, ini adalah risiko dari pilihan kita yang seharusnya sudah diantisipasi sejak awal.”

Membuka mata dan hati terhadap risiko-risiko ini saat memilih bentuk rumah tangga jarak jauh bisa membuat kita dan pasangan bekerja sama lebih baik dalam mengantisipasi sebelum terjadi dan mengatasi bersama-sama saat telah terjadi.

Distance is not for the fearful, it is for the bold. It’s for those whose willing to spend a lot of time alone in exchange for a little time with the one they love. It’s for those knowing good thing when they see it, even if they don’t see it nearly enough.

Fini Rahmatika, M.Psi, Psikolog yang telah menjalani pernikahan jarak jauh selama 10 tahun mengungkapkan beberapa hal lain yang dapat menjadi gangguan dalam menjalani long distance marriage, di antaranya:

  1. Biaya
    Suami istri yang tinggal terpisah otomatis memiliki pengeluaran rumah tangga yang lebih besar dari pasangan yang tinggal serumah. Mulai dari besarnya ongkos transportasi, biaya komunikasi  dan terutama biaya hidup dua dapur. Sementara nggak sedikit yang hanya mengandalkan satu sumber mata pencaharian. Tapi menurut Fini, kalau kita bisa menikmatinya, Insya Allah segalanya akan terasa ringan. “Ada saja kok rezekinya. Kemampuan mengelola finansial dan kreativitas untuk menjemput rezeki dari arah yang berbeda akan tercipta. Jangan lupa perbanyak sholat dhuha, banyak sedekah dan berbuat kebaikan dalam hal apapun. Niscaya Allah SWT juga akan senantiasa mempermudah urusan kita, termasuk mengatasi kendala dalam LDM ini. Kalo dihitung-hitung, suka nggak sampai logika kita dengan urusan hitungan materi yang kita pegang dengan yang Allah limpahkan. Jadi, tetap percaya dengan keajaiban dari Allah,” pesan ibu dari Firdaus dan Bilqis ini.
  1. Omongan orang.
    Nggak sedikit pasangan yang sebenarnya merasa nggak masalah dengan bentuk keluarga seperti ini tapi kemudian merasa nggak nyaman karena orang-orang di sekitarnya yang terus menerus mempertanyakan alasan mereka untuk nggak berkumpul. Apalagi pakai ancaman, “Suami yang nggak diurusin istrinya nanti selingkuh lho” atau “Nanti anak-anak nggak kenal bapaknya.” Apalagi budaya kita di Indonesia ini, suka kepo yaaaa sama urusan orang. Belum lagi jika dikaitkan dengan budaya patriarki yang menuntut perempuan harus senantiasa melayani suaminya.
  1. Merasa seperti orang tua tunggal.
    Karena pasangan nggak selalu ada di rumah, semua harus dilakukan sendiri. Iya, termasuk angkat galon air mineral ke dispenser, benerin rumah yang rusak, mobil mogok. Tapi yang paling berat biasanya saat anak sakit atau ada urusan yang mendesak namun suami/istri sulit dihubungi karena nggak ada sinyal atau sedang rapat sehingga harus mengambil keputusan sendiri .
  1. Adanya perasaan kesepian, emptyness, moody , mudah cemburu dan takut akan penghianatan.
    Kadang kala perasaan ini muncul saat kita berada dalam situasi yang tidak nyaman dan membuat sedikit tertekan (bisa karena omongan orang, saat harus pisah lagi, saat lagi kangen, saat lagi ada masalah atau lagi PMS hehehehe).
  2. Sering merasa cemas saat pasangan sulit dihubungi (kayaknya ini nggak hanya dirasakan oleh pasangan LDM yaaa…hihihihihi…).

Lho, apakah gangguan orang ketiga nggak termasuk dalam kendala berumah tangga jarak jauh. Oh, pasti. Tapi kebanyakan kehadiran orang ketiga ini disebabkan oleh faktor nomor tiga dan empat. Suami atau istri yang nggak bisa mengelola dengan baik perasaan kesepiannya atau lelah karena harus melakukan semuanya sendiri dan mendapatkan yang ia butuhkan dari orang lain yang ada di dekatnya cenderung mudah untuk mendua. Namun, to be fair gangguan orang ketiga ini tidak hanya berlaku untuk para pasangan yang menjalani LDM ya. Pada pasangan yang serumah pun seringkali terjadi hal serupa.

Lalu dengan sekian banyaknya risiko dalam long distance marriage, apakah nggak ada kemungkinan untuk bertahan dan berhasil menjalaninya? Tentu ada. Banyak kok pasangan yang mampu mengarungi kehidupan seperti ini.

Temukan tips-tipsnya di postingan selanjutnya ya…

__________

Fini Rahmatika, M.Psi, Psikolog adalah ibu dari 2 anak yang selama usia pernikahannya menjalani LDM dengan suami tercinta. Di sela-sela kesibukan mengurus putra-putri tercinta, Fini yang menyelesaikan pendidikan psikologinya di Universitas Surabaya juga bekerja sebagai independent psychologist. Fini pernah bergabung sebagai associate di beberapa lembaga konsultan di Jakarta dan Surabaya; Psikolog Keluarga, Anak, Remaja, PraNikah di Pusat Layanan Keluarga Sejahtera BKKBN Perwakilan Prov. Jatim; Psikolog pendamping anak eks Lapas di Shelter Rumah Hati Jombang, Jatim; Trainer soft skill untuk mahasiswa di Universitas Surabaya serta menjadi narasumber di berbagai talkshow dan artikel parenting.

A Tell-Tale

Barusan baca lagi Upper Forth at Malory Towers dan menyadari kalau Enid Blyton punya tema khusus yang dibahas di setiap bukunya. Seperti di buku yang mengisahkan kehidupan Darell Rivers dan kawan-kawannya sebagai siswa tahun ke-empat di Malory Towers ini temanya adalah a tell-tale.

tell·tale
ˈtelˌtāl/Submit
adjective
1.
revealing, indicating, or betraying something.
“the telltale bulge of a concealed weapon”
synonyms: revealing, revelatory, suggestive, meaningful, significant, meaning; informalgiveaway
“the telltale blush on her face”
noun
noun: telltale; plural noun: telltales; noun: tell-tale; plural noun: tell-tales
1.
a person, especially a child, who reports others’ wrongdoings or reveals their secrets.
synonyms: revealing, revelatory, suggestive, meaningful, significant, meaning; informalgiveaway
“the telltale blush on her face”
2.
a device or object that automatically gives a visual indication of the state or presence of something.
(on a sailboat) a piece of string or fabric that shows the direction and force of the wind.

Kalau bahasa Indonesianya, tell-tale itu berarti tukang ngadu. Dalam hal ini tentu yang diaduin adalah kesalahan-kesalahan atau kejelekan-kejelekan orang lain. Ya contohnya kalau anak-anak berantem terus salah satu datang ke orang tuanya dan bilang, “Mah, adek itu gangguin aku terus.”

Banyak hal yang menjadi penyebab seseorang mengadu. Antara lain untuk curhat, menggalang dukungan, meningkatkan percaya diri dan mendapatkan perhatian. Atau bisa juga seperti yang dilakukan June dalam buku di atas, mengadukan pesta tengah malamnya anak-anak kelas senior untuk membalas dendam.

Apapun itu, asal tahu aja, enggak semua orang suka sama si tukang ngadu ini. Percaya deh, mereka-mereka yang seperti ini beresiko kehilangan teman. Padahal mah nyari teman aja sudah susah ya.

Lalu gimana caranya supaya anak nggak jadi tukang ngadu?

Pertama, kita harus pastikan dulu tujuan si anak mengadu ini untuk apa? Sekadar nyari perhatian kah atau memang memberi tahu sesuatu yang berbahaya. Tentu berbeda kan antara anak bilang, “Maaa, adek nih rebut-rebut mainanku terus.” dengan, “Ma, adek naik-naik kursi nih. Sudah mau jatuh.” Yang pertama namanya ngadu, yang kedua pemberitahuan.

Anak balita yang kemampuan komunikasinya belum terlalu baik mungkin belum mengerti perbedaan tersebut, bisa jadi ia tidak menyadari bahwa pengaduannya itu bisa mengadu domba orang lain atau teman sebayanya. Untuk itu sebaiknya kita mengapresiasi saat dia ‘memberi tahu’ dan abaikan ketika anak mulai mengadu (domba). Sambil pelan-pelan dijelaskan bagaimana cara memberi tahu yang baik.

Kedua, ajarkan anak untuk mengatasi masalah dengan cara selain mengadu. Ada beberapa orang tua yang tidak mau terlibat dalam pertengkaran antar saudara, ini bagus. Tapi saat situasi mulai membahayakan tentu kita harus turun tangan. Untuk itu perlu kita beri mereka pilihan solusi dalam menyelesaikan masalah setelah sebelumnya diajak bersama-sama memahami masalah yang terjadi.

Ketiga, jangan memihak. Tentu ini berat ya, apalagi sebagai orang tua bawaannya pasti mau belain anak. Tapi kalau kita memihak akan meningkatkan perilaku mengadu ini karena anak tahu orang tuanya akan selalu melindungi dia.

Keempatteach them a lesson. Segala cara sudah dicoba tapi anak masih suka mengadu? Yah, biarkan saja lingkungan yang mengajarkan dia. Kita cukup mengingatkan resiko apa saja yang bisa dialami oleh orang yang suka mengadu domba.

Namun, perlu diingat juga kalau perilaku mengadu ini sebenarnya cukup kompleks. Anak harus punya perasaan aman untuk menceritakan apa saja atau minta bantuan kepada orang tua, terutama untuk hal-hal yang bisa membahayakan dirinya, meski itu termasuk membicarakan keburukan orang lain. Oleh karena itu kembali lagi ke poin pertama, bijaksanalah dalam mendengarkan pengaduan anak dan meresponnya. Sulit? Mungkin iya? Tapi lebih baik repot di awal daripada kelak orang lain yang kerepotan menghadapi anak dewasa kita masih suka mengadu domba rekannya. Betul? 😉

Movie Playdate

Saking seringnya liat trailer film Wreck It Ralph di Disney Channel, Cinta pengen banget nonton film besutan Disney ini. “Seru lho Ma, lucu,” katanya. Saya sih jujur aja ragu Cinta mau nonton film seperti ini karena bukan kesukaannya. Wong Toy Story series, Brave sama TinkerBell and The Great Fairy Rescue aja dia nggak suka. Sejauh ini, film bioskop yang bisa dia tonton sampai habis itu yang banyak lagu dan nari-narinya, macam Happy Feet 2 dan Madagascar 3.

Tapi berhubung bolak-balik minta nonton, saya pikir dicoba aja deh daripada nganggur liburan di rumah ini. Dan setelah dijanjikan harinya, Cinta seneng sekali plus minta ijin untuk ajak teman sekolahnya yang juga tinggal satu apartemen sama kita, Xing Yuan. Begitu diiyakan, dia langsung bikin rencana, “Nanti aku dibelikan 2 popcorn ya, biar bisa makan sama XingYuan sambil nonton pakai 3D glasses. Trus abis itu makan di tempat bowling. Aku pengen spaghetti carbonara. It would be fun, mama.” Okesip kakaaaaaak.

Pas hari H, mungkin karena nggak sabar atau ngantuk sebelum berangkat Cinta agak rewel. Dia berantem terus sama temannya. Bahkan di perjalanan pun beberapa kali nanya, “Can I sleep first in the car?” Sementara si teman sibuk nyanyi-nyanyi menghibur dirinya sendiri.

Photobucket

Sayangnya, begitu sampai di bioskop dan film dimulai, Cinta tegang. Belum ada separuh cerita udah sibuk bilang, “I don’t like this movie“, “I don’t want to watch this“, “Can I hug you, Mama?” “I want to get out” endebre endebre. Sedangkan XingYuan masih asik nonton sambil makan popcorn. Si mama yang lagi sensitif ini mulai kesal dan nyuekin dia sampai akhirnya pasrah duduk diem sambil ikut makan popcorn.

Setelah 1 jam, pas lagi seru-serunya film, nengok ke kedua anak kecil itu sudah duduk lesu di kursinya masing-masing. Akhirnya diputuskan keluar dari bioskop dan lanjut makan siang. Baru deh mereka mulai tenang dan happy ngider di tempat bowling liat orang-orang main.

Yah, ternyata memang ajak anak ke bioskop harus benar-benar pilih film yang mau ditonton ya. Kalau yang rating PG dan untuk tontonan keluarga belum tentu mereka suka, apalagi film dengan rating di atasnya, seperti Dark Night Rises, Skyfall, Breaking Dawn, dll. Pinjam istilahnya psikolog Ratih Ibrahim, film-film dengan rating PG-13, R, NC-17 cuma bikin trauma sampah kognitif pada anak-anak. Kok bisa, kan anak-anak belum ngerti apa yang dia tonton?

Lha justru itu, fungsi kognitif anak belum matang betul untuk bisa mencerna dan paham apa yang mereka tonton. Apalagi kalau orang tua nggak berusaha menjelaskan dan mengarahkan pola pikir anak ke bagian-bagian positif dari tontonan itu. Jadi begitu liat adegan cium-ciuman, dar der dor dan berantem dengan suara keras bisa bikin trauma juga jadi sampah di kognisi mereka deh.

Hmmm pelajaran juga pengalaman movie playdate sama anak-anak ini, harus hati-hati bawa anak ke bioskop. Yang buat kita bagus dan menghibur belum tentu bisa dinikmati anak. “You don’t know what garbage you inject to their mind,” kata mbak Ratih.

Tapi jadi penasaran sama akhir ceritanya Wreck It Ralph nih. Apa dia beneran bisa diterima sebagai hero sama orang-orang di game Fix It Felix? Nggak sabar nunggu bisa download filmnya trus nonton sendiri deh pas Cinta tidur 😀

Kalau anaknya suka nonton film apa, Moms di bioskop?

Cinta’s 5th Birthday

Tiap tahun, saya selalu berangan-angan bikin acara ulang tahun yang menyenangkan untuk Cinta, rasanya bayangan jenis kue, goody bag, baju ultah, sampai tempat acara sudah melekat di kepala selama berbulan-bulan. Tapi ternyata ulang tahun yang menyenangkan menurut Cinta tidak sama dengan saya. Buat dia merayakan ulang tahun bersama keluarga saja sudah cukup dan ternyata hal ini dikabulkan oleh Allaah.

Jadilah tahun ini sesuai dengan permintaan Cinta, kami merayakan ulang tahun ke-5 gadis kecil ini dengan penuh kesederhanaan. Hanya kami  bertiga, 2 buah kado dan kue ulang tahun pilihan Cinta, di hari Minggu, 17 Juni 2012 yang lalu. Meski sederhana bukan berarti sepi karena tak lama setelah acara tiup lilin kami dapat video call dari keluarga di Sidoarjo, telpon dari Yangti Yangkung Tuban dan tante bude. Belum lagi limpahan doa dan ucapan selamat dari teman-teman di Twitter dan Facebook. Alhamdulillaah, semoga diijabah Allaah.

Keesokan harinya Cinta bagi-bagi cupcake untuk teman-teman di sekolah. Nggak pakai acara tiup lilin karena dia nggak mau, “Kan kemarin sudah celebrate my birthday at school, Ma. Sekarang makan kue aja rame-rame sama teman-teman,” pintanya.

Selamat ulang, Nadja Aluna. Selamat meninggalkan masa balitamu dan menyongsong hari-hari sebagai anak besar. Terima kasih telah menjadi guru terbaik bagi kami untuk terus belajar menjadi orang tua. Semoga mama dan papa bisa membimbingmu menjadi anak sholeha, berguna bagi lingkungan, sehat dan bahagia. Aamiin 🙂