Browsing Tag:

perkembangan kepribadian

  • Life as Mom

    Child Abuse Awareness

    “Maybe more people would take action to stop child abuse if they realized that it COULD happen to their children – BraveKidsVoices

     

    Hari Minggu tanggal 26 Juni 2011 yang lalu, acara Stop Child Abuse: Charity for Baby NF yang digagas oleh 3 perempuan hebat: Fla, Silly dan Titut Ismail sukses menggalang massa di Score, CITOS dan mengumpulkan dana ratusan juta rupiah. Sumbangan tersebut rencananya akan digunakan untuk perawatan fisik dan psikis bayi NF, korban kekerasan seksual di Bantaeng, Sulawesi Tengah dan korban lainnya.

    Kasus bayi NF sendiri sejatinya seperti fenomena gunung es, sedikit yang muncul di permukaan sementara  yang tidak terekspos banyak sekali. Nggak percaya? Coba deh baca koran, hampir tiap minggu ada berita tentang anak di bawah umur yang mengalami kekerasan seksual. Ironisnya, kebanyakan pelakunya adalah orang-orang yang dekat dengan korban, bisa ayah (kandung atau tiri), paman atau tetangga.

    Kok bisa ya mereka setega itu sama anak kecil? Justru anak kecil adalah korban yang empuk karena mereka nggak berdaya, nggak punya kekuatan untuk melawan dan nggak punya keberanian untuk mengadukan hal keji itu kepada orang lain. Sayangnya lagi ketika akhirnya hal itu diketahui orang lain, kebanyakan korban dan keluarganya nggak mau lapor ke pihak berwajib karena dianggap sebagai aib keluarga.

    Tapi yang  namanya child abuse bukan hanya berbentuk kekerasan seksual (sexual abuse), masih ada kekerasan fisik (physical abuse) seperti pukulan, cubitan atau jeweran; kekerasan emosional (emotional abuse) seperti memberi label “goblok”, “nakal”, “nyusahin orang tua”, “nggak ada yang sayang kamu”; dan penelantaran anak seperti membiarkan anak kelaparan atau mengabaikan saat anak butuh diperhatikan. Lagi-lagi pelaku kekerasan pada anak tersebut sebagian besar adalah orang tua dan keluarga besar atau guru di sekolah dengan alasan untuk mendidik dan mendisiplinkan anak. Sedih ya, saat keluarga seharusnya menjadi tempat paling aman dan nyaman bagi seorang anak, malah menjadi sumber malapetaka dan nggak mampu memberikan perlindungan yang dibutuhkan.

    Tahukah bahwa kekerasan yang di alami anak bisa mengakibatkan efek jangka panjang? Menurut Freud yang suhu dari ilmu Psikoanalisa, masa 0-5 tahun adalah masa krusial terbentuknya kepribadian anak. Sehingga segala bentuk kekerasan atau tindakan yang mengakibatkan trauma bisa menyebabkan dampak pada masa perkembangan anak. Beberapa studi mengatakan bahwa anak-anak korban kekerasan biasanya akan menunjukkan self esteem yang rendah, depresi, memendam perasaan bersalah, sulit mempercayai orang lain, gangguan pola makan, kesepian bahkan bisa menjadi sangat agresif.

    Yuk ah, mari lihat ke dalam keluarga kita dulu, jangan-jangan pola asuh kita selama ini ada yang termasuk salah satu bentuk kekerasan terhadap anak. Atau kalau mau menengok ke kanan kiri, mungkinkah di lingkungan kita ada anak mengalami kekerasan dari orang tuanya. Kalau iya, please stand up, speak out, laporkan kepada pihak yang berwajib. Jika kita sendiri yang bermasalah, datangi orang-orang yang bisa menolong kita dan menyelamatkan anak kita. Semakin dini masalah kekerasan ini bisa diatasi dan anak diberi pertolongan yang tepat, semakin baik pula pemulihan trauma psikisnya. Demi masa depan anak yang lebih baik, STOP CHILD ABUSE!

    For more information about child abuse, visit these pages:
    http://www.helpguide.org/mental/child_abuse_physical_emotional_sexual_neglect.htm
    http://www.childwelfare.gov/pubs/factsheets/whatiscan.cfm
    http://en.wikipedia.org/wiki/Child_abuse
    http://www.childabuse.com/

  • Life Hacks

    Maafkan Aku Ya, Diriku

    What have I done? I wish I could
    Away from this ship goin’ under*

    Pernah nggak sih melakukan suatu hal yang menurut kita baik tapi ternyata berakibat negatif untuk kita sendiri dan orang-orang di sekitar kita? Saya pernah. Sering malah. Baik dalam hubungan dengan suami atau anak, orangtua atau saudara, pekerjaan maupun pertemanan.

    Suatu kali, saya merasa telah melakukan suatu hal yang awalnya tidak saya sadari sebagai sebuah kesalahan, tapi lantas mengguncang biduk yang saya tumpangi dengan hebat. Parahnya lagi guncangan itu juga memberi efek kepada orang-orang yang saya sayangi.

    Untuk beberapa lama saya terbenam dalam perasaan bersalah sehingga orang-orang yang tadinya mendukung saya pun akhirnya ikut menyalahkan saya. Semua yang saya lakukan untuk memperbaiki keadaan rasanya nggak akan pernah cukup bahkan semakin memperburuk keadaan. Sampai akhirnya saya berhenti berusaha bahkan menutup diri karena takut berbuat kesalahan lagi dan kehilangan kepercayaan diri.

    Ada saat-saat, I really wish I could turn back time and try to do those things right tapi toh nggak bisa. Bahkan untuk lari dan melupakan kesalahan itu juga nggak mungkin. Yang bisa saya lakukan adalah menghadapinya. Sakit? Capek? Pasti…

    But times does heal… Pelan-pelan saya berusaha memaafkan diri saya dulu tanpa berusaha mencari pembenaran atas semua perbuatan saya. Itu yang penting. Toh, kesalahan itu nggak bisa dihapus, pacar yang sudah pergi nggak bisa kembali atau proyek yang sudah lepas dari tangan juga nggak akan didapatkan lagi. Lagipula kita sudah berusaha memperbaiki kesalahan itu meskipun ternyata tidak membuatnya menjadi lebih baik dalam waktu singkat.

    Dengan memaafkan diri sendiri, lama kelamaan kita jadi lebih kuat dan lebih jernih dalam memandang suatu persoalan. Lalu berusaha mencari solusinya. Gampang? Siapa bilang? Dalam kasus saya 2 tahun lamanya proses itu. Jatuh bangun jatuh lagi. Namun kalau tidak diusahakan kita akan terus menerus terbebani perasaan bersalah sehingga sulit untuk maju dan melanjutkan hidup. Akhirnya malah kita akan jadi orang yang menyedihkan karena selalu menyesali kesalahan yang pernah kita buat. Maukah? Saya sih enggak.

    Sampai saat ini pun saya masih berusaha, meski memang nggak bisa kembali ke keadaan normal tapi saya yakin proses ini adalah salah satu ujian untuk menempa saya menjadi pribadi yang lebih kuat, matang dan bijaksana. Dan kalau saya tidak menyerah, kelak keadaan akan pasti akan jadi lebih baik dan saat itu tiba kesalahan fatal itu akan jadi sebuah pengalaman yang saya ingat dengan senyuman.

    *lirik lagu Get It Right yang dinyanyikan oleh Glee Cast

    Gambar diambil dari gettyimages.com

  • Daily Stories, Parenting

    Belajar Lewat Lagu

    Sejak bayi, Cinta paling suka kalau diajak “ngobrol” dengan suara yang dilagukan seperti bernyanyi, ngaji atau dibacakan doa-doa dan surat pendek. Jadi meskipun saya ini buta nada dan bersuara fals nggak mengurangi kepercayaan diri ketika bernyanyi untuk Cinta, apalagi menurut beberapa sumber yang pernah saya baca, bagi bayi suara ibunya adalah suara yang paling merdu. Yah, walaupun fals kan nyanyinya penuh cinta ya ngeles.

    Saya sendiri yang awalnya cuma nyanyi lagu-lagu anak yang sudah umum sebagai cara berkomunikasi dan menghibur Cinta, akhirnya jadi iseng mengganti lirik lagu-lagu itu dan menjadikannya sarana penyampai pesan atau belajar sesuai dengan kebutuhan dan keadaan kami saat itu. Misalnya lagu Nina Bobo yang sudah sangat kondang itu, diganti liriknya jadi “Cinta bobo… oh Cinta bobo, hari sudah malam, waktunya tidur. Bobo bobo Cintaku sayang, besok pagi kita bermain lagi” untuk mengenalkan konsep pagi dan malam.

    Lagu yang sama juga bisa diganti liriknya menjadi, “Cinta cantik, oh Cinta pintar, kalau sudah besar jadi anak sholehah. Mama sayang dan papa sayang, anak baik hati si Nadja Aluna” sebagai doa sekaligus menanamkan afirmasi positif. Dua lagu itu jadi lagu pengantar tidur wajib dan kesukaan Cinta sejak dia masih bayi banget. Selain itu juga bisa menenangkan saat saya sudah lelah, sedih dan marah karena Cinta yang kolik suka nangis nggak brenti-brenti waktu malam. Dengan menyanyikan lagu itu sambil mengayun-ayunkan dia di gendongan, saya bisa ikut tenang. Dan ketika saya tenang, biasanya Cinta juga ikut berhenti nangis lalu tertidur. See, bahkan sebuah lagu sederhana pun bisa membawa efek yang luar biasa.

    Saat ingin menyampaikan sesuatu seperti pentingnya gosok gigi, asiknya mandi dan sudah kehabisan cara karena dikasih tahu tetap nggak mau mandi misalnya, saya ajak aja nyanyi lagu “Aku Gigi” yang jadi jingle Pepsodent atau “Bangun tidur”. Sering juga mengganti lirik lagu Mandi Pagi menjadi “Mandi pagi cibang cibung, pakai sabun asik banget. Cuci muka, gosok badan, jangan lupa pake shampo.” Kalau lagi belajar mengenal huruf dan membaca selain menyanyi lagu “ABC” yang sudah umum itu, kami juga suka bernyanyi lagu “I N I ini, I B U ibu, B U bu D I di Budi, dibaca Ini Ibu Budi” Kadang kami mengarang lagu sendiri dengan nada suka-suka sesuai dengan abjad dan kosakata yang lagi dipelajari. Jadi aneh emang, maklum wong bukan komposer lagu tapi tetap seru lho. Lagipula bernyanyi bisa bikin suasana ceria buat kami berdua dan aktivitas jadi sangat menyenangkan.

    Karena terbiasa bernyanyi, mendengar lagu dan mengganti-ganti lirik lagu, Cinta jadi suka juga melakukan hal serupa. Musik yang sekali dua kali dia dengar bisa diganti-ganti liriknya sesuai apa yang sedang dia pikirkan. Cinta juga pede aja nyanyi lagu ciptaannya sendiri di depan orang banyak sambil nari-nari a la ballerina. Nggak nyangka deh, dari aktivitas sederhana seperti bernyanyi dengan hati bisa mengasah kreativitas, keberanian dan kepercayaan diri.

    Belakangan saya baru tahu kalau informasi yang disampaikan lewat lagu dan musik lebih mudah dicerna dan diingat oleh bayi dan balita. Mungkin nih ya karena saat bernyanyi kita biasanya dalam keadaan senang dan (mengutip kata-kata ibu Elly Risman) otak menyerap lebih banyak saat hati senang. Jadi jangan heran kalau anak lebih banyak diajak menyanyi dan menari sama guru-gurunya di kelompok bermain dan taman kanak-kanak, karena itu memang cara belajar yang paling efektif sekaligus menyenangkan. Kok bisa? Secara ilmiahnya, tingkat konsentrasi anak-anak usia balita masih rendah dan mereka mudah sekali teralih perhatiannya ke hal-hal yang lebih menarik. Nah dengan menyanyikan sebuah lagu yang sesuai dengan tema pelajaran membuat anak jadi tertarik untuk terlibat dalam proses belajar mengajar.

    Bernyanyi sama anak juga bisa meningkatkan ikatan batin antara orangtua atau pengasuh dengan anak lho. Serta membuat anak merasa nyaman akan dirinya sendiri karena mereka bisa mengekspresikan perasaan dan melatih komunikasi. Jadi lupakan suara fals, anak nggak peduli kok, yang penting bersenang-senang bersama. Mari bernyanyi 🙂

  • Life as Mom, Parenting

    Komunikasi dalam Mengasuh Anak

    Mama: “Dedek, jangan loncat-loncat di tempat tidur nanti jatuh.”
    Dedek: *tetep loncat-loncat di tempat tidur*
    Mama: *suara naik 3 oktaf* “Dedek, mama bilang jangan loncat-loncat di tempat tidur! Nanti kamu jatuh!”
    Dedek: *cengar cengir* *tetep loncat-loncat di tempat tidur*
    Mama: *suara naik 10 oktaf* “Dedeeeeeeek! Dikasih tau kok nggak mau denger sih! Awas ya nanti kalo jatuh mama nggak mau nolongin! Anak kok bandel amat!”
    Dedek: *brruuukkk… jatuh* *nangis* “Huaaaaa sakit ma… Sakit”
    Mama: “Nah, kan mama bilang apa. Sudah dikasih tahu nggak boleh loncat-loncat. Salahnya sendiri nggak mau dengerin. Jatuh kan sekarang. Kualat kamu sama mama!”
    Dedek: *nangis makin kenceng* “Sakit maaaaa…”
    Mama: “Aaah, cuma gini aja kok. Nggak sakit ini. Sini mama kasih obat luka.”
    Dedek: “Nggak mau obat luka, Ma. Pediiiiih. Sakit. Nggak mauuuu.”
    Mama: “Eh, sini mama kasih. Ntar tambah parah lho lukanya. Mau kamu? Sakit sedikit. Besok juga sembuh! Makanya kalau dikasih tahu orang tua itu didengerin. Kapok kan kamu sekarang!”

    Ternyata keesokan harinya luka si Dedek belum sembuh, dia bingung karena kata mamanya besok lukanya sudah sembuh tapi kok belum. Trus katanya nggak sakit. Lalu yang sakit itu yang seperti apa. Udahlah dimarahin, diancam, dicap bandel, didoain jelek, dibohongin lagi.

    Hmmm… Familiar nggak sih sama kejadian kaya gitu? Honestly, saya juga pernah ngomong gitu ke Cinta tapi nggak pake acara kualat, sukurin lho… 2 kalimat pertama lah. Tahu nggak kalo dalam kalimat-kalimat yang diucapkan si Mama ke Dedek itu mengandung banyak sekali kesalahan komunikasi yang bisa mempengaruhi konsep diri si Dedek kelak? Serius? Iya, begitulah kata Bu Elly Risman dalam Seminar Pengasuhan Anak yang bertema “Komunikasi Pengasuhan Anak” yang diselenggarakan oleh komunitas Supermoms Indonesia, hari Sabtu, 26 Februari 2011 yang lalu.

    Selama mengasuh anak, seringkali kita melakukan kekeliruan dalam komunikasi. Mostly sih nggak sengaja, ya karena kebiasaan sehari-hari begitu, karena cara orangtua kita dulu berkomunikasi dengan kita ya seperti itu. Padahal kekeliruan itu bisa berakibat fatal terhadap perkembangan kepribadian anak. Antara lain bisa:

    • Melemahkan konsep diri
    • Membuat anak diam, melawan, menentang, tidak peduli, sulit diajak kerjasama
    • Menjatuhkan harga dan kepercayaan diri anak
    • Kemampuan berfikir menjadi rendah
    • Tidak terbiasa memilih dan mengambil keputusan bagi diri sendiri
    • Iri terus

    Kalau kita kembali ke percakapan di atas udah ada berapa banyak kesalahan komunikasi yang dibuat si Mama ya? Ada ancaman, memberi cap/label, meniadakan perasaan anak, berbohong, dll. Padahal itu baru 1 kejadian lho. Bayangkan berapa banyak hal yang kita alami selama 1 hari. Anak telat bangun tidur padahal harus sekolah, kita omelin. Anak pulang sekolah dengan muka kusut karena dibully temannya, capek, banyak PR bukannya disambut dengan senyuman, disuruh makan dulu, ditanya baik-baik eeeeh diomelin cuma karena nggak lepas sepatu dan ngotorin lantai rumah yang sudah kita pel sampe mengkilat. Ulangan anak dapat nilai 80 kita marahin karena kita pengennya dia dapet 100, lha padahal dari 20 soal itu dia betul 16 lho, cuma salah 4. Kenapa nggak kita apresiasi dulu keberhasilannya menjawab 16 soal yang mungkin kita juga belum tentu bisa jawab itu. Baru pelan-pelan ditanya 4 soal yang salah. Bila hati senang, otak menyerap lebih banyak lho. Anak yang bahagia biasanya lebih baik prestasinya, lebih bagus konsep dirinya, lebih mudah beradaptasi dengan lingkungannya.

    Bukan mau nakutin nih, tapi kata Ibu Elly Risman, anak jaman sekarang itu udah kebanyakan beban yang bisa bikin mereka bored, lazy, angry/affraid, stress, tired (BLAST). Keharusan mempelajari 16 mata pelajaran di sekolah yang mungkin belum tentu ia butuhkan untuk kelak bertahan hidup, hanya dinilai berdasarkan nilai yang berupa angka adalah sedikit dari penyebab BLAST itu. Belum lagi ketidakpedulian orang tua akan perasaan dan kebutuhan anak, yang penting nilai harus bagus, peer pressure dan masih banyak lagi bisa menimbulkan banyak masalah yang tidak terpecahkan, antara lain: pacaran di usia dini, seks bebas, aborsi, putus sekolah, nikah muda, bercerai, narkoba, HIV/AIDS.

    Jadi kita musti gimana dong? Semua itu berawal dari komunikasi. Yuk, kita perbaiki gaya komunikasi kita dengan anak dan pasangan dengan cara:

    1. Bicara jangan tergesa-gesa. Ajak anak untuk belajar membuat rencana, belajar berpikir, memilih dan mengambil keputusan supaya dia bisa mandiri dan bertanggungjawab. Misalnya: tiap minggu bikin daftar menu, kakak mau sarapan pake apa, adik apa. Lalu ajak mereka untuk berbelanja, suruh pilih sendiri bahan-bahan yang mereka perlukan untuk sarapannya selama 1 minggu itu. Konsekuensinya kalau suatu hari dia nggak mau makan apa yang sudah dipilihnya ya biarin aja.
    2. Belajar untuk mengenali diri kita dan mengenali lawan bicara kita (anak, suami, ART, ortu, saudara, tetangga, teman kerja). Coba kita lihat diri kita sendiri, apakah pola asuh orangtua kita dulu memberikan efek positif atau negatif. Seandainya kita diperlakukan seperti contoh di atas, gimana perasaan kita.
    3. Ingat: setiap individu itu UNIK. Iyalah kita aja pasti nggak suka kan kalo pasangan banding-bandingin kita sama istri temennya. Nah, anak juga begitu. Jangankan sama anak tetangga, yang keluar dari rahimnya bareng alias kembar aja beda.
    4. Pahami bahwa Kebutuhan dan Kemauan: BERBEDA. Seringkali kita memaksakan kemauan kita kepada anak, padahal apa yang dia butuhkan bukan itu. Contoh sederhana ketika anak bilang,
      Anak: “Haus ma,”
      Mama: “Minum susu.”
      Anak: “Nggak mau susu, ma. Es teh aja, aku pengen yang seger-seger.”
      Mama: “Eh, mama bilang minum susu. Ntar kuntet kamu nggak mau minum susu!”
    5. Baca bahasa tubuh: ketahui bahwa action speaks louder than words dan bahasa tubuh nggak pernah bohong. Misalnya: anak pulang sekolah mukanya cemberut, buka sepatu sambil dilempar. Kita tanya, “Kenapa kak?” Dia jawab, “Nggak papa!” lantas masuk kamar sambil banting pintu. Itu bukan berarti dia beneran nggak apa-apa lho. Pasti kenapa-kenapa. Dan kita nggak boleh cuek.
    6. Dengarkanlah perasaan. Tandai pesan yang terlihat, jangkau rasa, buka komunikasi, namain perasaan yang tampak pada pesan itu. Misalnya dalam kasus no. 5: lihat anak pulang sekolah dengan wajah cemberut kita bisa bilang,
      Mama:  “Wah, anak mama udah pulang nih. Kenapa kok cemberut gitu (menandai pesan)? Kakak capek ya (menjangkau rasa)?”
      Anak: “Enggak papa!” *lempar tas*
      Mama: “Ooooh, kakak laper ya (buka komunikasi)”
      Anak: “Enggak kok. Nggak laper!”
      Mama: “Oooo, anak mama lagi kesel banget ya (menamakan perasaan)”
      Anak: “Enggak maaaaa! Aku tuh lagi benciiiiiiiii!”
      Mama: “Kakak lagi benci ya. Benci sama siapa?”
      Anak: “Tadi ya ma, PRku kan ketinggalan. Trus aku distrap di depan kelas.”
      Mama: “Wah, malu banget dong kak.”
      Anak: “Nggak cuma itu aja ma, waktu aku distrap, si Edi tuh masak julurin lidah ke aku.”
      Mama: “Kesel dong kak, digituin”
      Anak: “Iya ma… blablabla”
      Teruskan sampai anak tuntas bercerita. Jangan dipotong, disalahkan bahkan dinasehati. Pancing aja terus dengan mengungkapkan perasaan-perasaan yang tersirat dalam setiap ucapannya.
    7. Hindari 12 Gaya Populer dalam berkomunikasi yaitu: memerintah, menyalahkan, meremehkan, membandingkan, mencap/label, mengancam, menasehati, membohongi, menghibur, mengeritik, menyindir dan menganalisa. Hal-hal ini akan mengakibatkan anak tidak percaya akan perasaannya sendiri, sehingga ia bisa merasa nggak percaya diri. Konsep dirinya hancur, nggak bisa menghargai dirinya sendiri. Selain itu kalau kita berbohong, jiwa anak akan goyang alias labil yang akhirnya bisa mengakibatkan mentally breakdown.
    8. Tentukan: Masalah Siapa? Masalah anak atau ortu? Dibantu atau dibiarkan? Hidup adalah pilihan dan pilihan. Misalnya: anak ketinggalan PR -> masalah anak, dibantu atau dibiarkan -> dibiarkan. Kenapa? Supaya anak belajar konsekuensi ketinggalan PR itu apa.
    9. Mendengarkan secara aktif. To listen atau mendengarkan berbeda dengan to hear atau mendengar. Mendengarkan secara aktif berarti melibatkan perasaan. Jadilah cermin, pilih kata-kata yang menunjukkan kita mengerti apa yang dirasakan orang yang sedang bicara dengan kita. Seperti: “Oooo… gitu.” “Sedih bener dong, kamu.” “Kecewa ya?” Seringkali orang curhat itu hanya karena ia ingin didengarkan, bukan untuk dinasehati apalagi disalahkan.
    10. Sampaikan PESAN SAYA. Marah itu boleh banget, kalo enggak nanti bisa stroke. Tapi gunakan pesan “Saya”, misalnya: bilang, “Mama kesal kalau kakak pulang sekolah copot sepatu di dalam rumah karena lantai jadi kotor.” instead of “Ya ampun kakak, nggak bisa apa copot sepatu dulu! Liat deh, lantai jadi kotor! Kamu ini bandel banget, nggak tau apa mama capek ngepel lantai” Dueeeenng!

    Yah, selama seminar itu saya sempat beberapa kali mau nangis sih, mengingat banyaknya kesalahan komunikasi yang saya lakukan ke Cinta. Sampai di rumah berusaha banget untuk memperbaiki hal itu. Tapi ternyata sulit. Kebiasaan selama hampir 4 tahun ternyata nggak bisa dihilangkan hanya dalam 1 malam. Bahkan selama 1 minggu ini masih harus tetap belajar untuk memperbaiki komunikasi. Asli nggak gampang, kadang kalo lagi capek ya kalimat-kalimat negatif suka keluar. Tapi ya harus konsisten, ulang dari awal lagi dan memang tantangannya di situ.

    Saya belajar tentang hal ini dan berusaha supaya berhasil, karena kepengen bisa menjalin komunikasi yang baik dengan Cinta (dan adek-adeknya kalo dikasih). Supaya kalau dia remaja nanti tetap saya yang jadi tempatnya curhat seperti Lorelai dan Rory Gilmore di serial tv favorit Gilmore Girls. Bukannya curhat ke sesama anak baru gede yang juga lagi mencari identitas diri. Doakan saya ya.

    Eh ya, menurut ibu Elly, it takes a village to raise a child. Maksudnya, untuk menghasilkan anak Indonesia yang berkepribadian tangguh, memiliki konsep diri yang baik dan tidak mudah terpengaruh hal-hal buruk dibutuhkan kerjasama dari seluruh keluarga di Indonesia. Jadi mari sama-sama belajar berkomunikasi yang baik dengan keluarga demi anak Indonesia yang sehat fisik dan mentalnya.

    Disarikan dari Seminar “Komunikasi Pengasuhan Anak” oleh Ibu Elly Risman, Psi dari Yayasan Kita dan Buah Hati yang diselenggarakan oleh Supermoms Indonesia, sebuah komunitas mommies peduli pengasuhan anak.

    *Gambar diambil dari sini*

  • Life as Mom, Parenting

    Aku Sudah Besar, Ma

    PhotobucketSiang ini, saya lagi mengedit beberapa foto di laptop dan Cinta sedang bermain dengan boneka-boneka dan buku-bukunya. Tiba-tiba dia memanggil,

    “Ma, tolong ambilin gunting.”
    “Buat apa, Cin?”
    “Ini lho, buat gunting gambar yang di majalah Elmo (majalah Sesame Street)”

    Setelah ngambil gunting, saya kembali berkutat dengan laptop sedangkan Cinta asik dengan majalahnya. Nggak lama kemudian dia ke lemari mencari sesuatu. Karena tempatnya tinggi dia ambil kursi dan naik ke atasnya. Tapi ternyata yang dicari nggak ada. Lalu dia menghampiri saya.

    “Ma. lemnya Cinta abis. Cinta beli di warung Opa ya. Minta uang buat beli lem.”
    “Mama anterin ya?”
    “Nggak usah, Cinta aja.”
    “Berani?”
    “Berani dong. Kan Cinta udah besar.”

    Akhirnya saya bawakan uang Rp 5.000,00 lalu saya antar sampai depan pagar dan Cinta pergi sendiri ke warung yang cuma berjarak 2 rumah dari rumah kami. Nggak lama kemudian dia kembali dengan lem kertas dan sebotol Yakult dingin 🙂

    Cinta pergi ke warung sendiri memang bukan untuk yang pertama kalinya sih, tapi kalimatnya yang menegaskan bahwa dia sudah besar dan bisa pergi sendiri entah kenapa mengusik saya siang ini. Nggak terasa anak kecil itu tahun ini akan berusia 4 tahun dan akan masuk TK. Jujur aja selama ini saya memang agak protektif dan terlalu banyak membantu dia dalam hampir setiap aktivitasnya. Bukan apa-apa sih, cuma karena saya suka nggak sabar atau takut kotor kalau dia melakukan sesuatu sendiri.

    Padahal, menurut teori perkembangan psikososialnya Erik Erikson, anak usia  18 bulan – 3-4 tahun berada pada fase Otonomi vs Perasaan Malu/Ragu-ragu. Di mana tugas yang harus diselesaikan pada tahap ini adalah kemandirian. Sebagai orangtua seharusnya saya memberikan lebih banyak kesempatan buat Cinta untuk mengeksplorasi lingkungan dan kemampuannya sendiri, supaya dia bisa mengembangkan rasa percaya diri bahwa dia mampu melakukan sesuatu. Tentunya dengan batasan-batasan tertentu. Kalau tahap ini berhasil dengan baik, anak akan mandiri. Sedangkan kalau orangtua nggak memanfaatkan momen ini dengan baik, anak akan cenderung merasa dirinya nggak bisa melakukan sesuatu dan tergantung pada orang lain.

    Untungnya sejak sekolah Cinta terbiasa untuk melakukan beberapa hal sendiri dan itu terbawa sampai di rumah, sehingga saya pun akhirnya belajar untuk membiarkan Cinta melakukan hal-hal sederhana tanpa bantuan. Misalnya memilih dan memakai baju atau sepatu, menyabuni badannya dan sikat gigi sendiri saat mandi, ambil minum, sendok, bermain sendiri dan lain-lain. Walaupun akhirnya waktu yang dibutuhkan jadi lebih lama atau rumah jadi lebih berantakan. Agak terlambat sih memang tapi better late than never kan ya 😀

  • Daily Stories, Parenting

    Berani Menang, Berani Juga Untuk Kalah?

    PhotobucketBeberapa hari ini topik yang lagi hangat dibicarakan ibu-ibu di sekolah Cinta adalah perlombaan dalam rangka perayaan Tahun Baru Islam hari Sabtu kemarin. Ada rumor kalau untuk lomba fashion kategori TK A, juara 1-3 nya dianulir. Beberapa ibu merasa kecewa dengan kesalahan tersebut dan merasa sekolah dan juri tidak peduli dengan perasaan anak. Ya sangat dimaklumilah, betapa sedihnya anak yang sudah dinyatakan juara ternyata belakangan pialanya diambil dan batal jadi juara. Tapi ada juga yang sengaja membeli piala untuk anaknya yang tidak jadi juara karena si anak terlanjur diiming-imingi dapat piala kalau mau ikut lomba.

    Saya sendiri awalnya tidak terlalu antusias dengan perlombaan ini karena tema model fashionnya adalah peragaan busana muslim kreasi. Ealah, wong saya ini orang paling nggak kreatif kok disuruh bikin begituan, meski cuma sekedar aksesoris yang unik. Tapi saya tahu kalau Cinta suka sekali tampil di depan umum. Sering dia iseng naik panggung kosong yang ada di mall cuma untuk merasakan jalan di atas panggung. Nggak jarang juga dia minta nyanyi atau pura-pura nyanyi di panggung yang ada microphone dan musical keyboard. It happened since she was 2 years old. Ketika itu dia berani nyanyi di panggung dan ikut joget bersama orang dewasa dalam sebuah acara kantor mama saya. Jadi saya pikir ini adalah kesempatan bagi Cinta untuk melakukan hal yang dia suka, menyanyi dengan mic pakai iringan musik dan berlenggak lenggok di panggung.

    Bukannya mau merendahkan kemampuan Cinta, tapi saya dari awal memang tidak berharap dia akan jadi juara. Sehingga saya tidak menjanjikan bahwa dia akan mendapatkan sebuah piala jika mau ikut lomba. Saya hanya bilang, it would be fun up there, walking at the runway, wearing the best clothes you have, singing with your friends, holding a microphone. Maka ikutlah kami perlombaan itu, sekedar untuk bersenang-senang. Baju yang dipilih pun bukan khusus baju muslim, melainkan terusan baru kesukaannya yang dipadukan dengan kemeja lengan panjang, jilbab, dan stocking. Aksesoris yang dipakai pun cuma bando. Tapi kami berdua cukup puas dengan tampilan itu.

    PhotobucketPhotobucket

    Pagi itu justru saya yang heboh akhirnya, memakaikan dia bedak, lipstik sementara Cintanya kalem banget. Malah mukanya cemberut dan tampak tidak tertarik. Tapi ternyata ketika kelas kelompok bermain diminta untuk menyanyi bersama, dia dengan semangat memegang mic dan bernyanyi dengan fasih. Padahal lagu yang mereka nyanyikan baru dipelajari selama 3 hari sebelum lomba. Malah ketika mic yang dia pegang diminta oleh gurunya untuk diberikan kepada teman lain, Cinta malah cemberut dan mulai nggak konsen. Saya pikir, oke nggak apa-apa. Cinta nggak demam panggung aja saya sudah senang sekali. Ternyata, kejutan baru diberikan Cinta saat lomba fashion. Dengan centil dan lincahnya dia berjalan di atas panggung. Kasih salam, melambaikan tangan, tersenyum like she already do that many times. Saya dan papanya Cinta nggak bisa menyembunyikan rasa bangga kami. Sungguh, mungkin muka saya udah kaya kena sinar lampu ratusan watt. Ini pertama kalinya anak kami tampil di panggung sungguhan meski masih di lingkungan sekolah tapi sudah selincah itu.

    Photobucket

    Banyak orang yang memuji penampilan Cinta, nggak sedikit juga yang bilang dia pasti akan dapat juara. Dalam hati saya pun punya keyakinan seperti itu. Tapi yang kami katakan adalah kami sangat bangga karena Cinta berani di atas panggung, kami senang karena dia sudah memberikan usaha yang terbaik. Saya ingin Cinta punya pemahaman bahwa yang penting adalah sudah berusaha sebaik mungkin dalam melakukan sesuatu yang dia sukai. Dan kami akan selalu bangga pada Cinta apapun hasilnya nanti. Karena, saya tahu sekali betapa sedihnya ketika kita sudah berusaha semaksimal mungkin dan mendapat hasil yang baik menurut kita, tapi tidak dihargai malah masih dianggap kurang baik oleh orang yang paling ingin kita buat bangga.

    PhotobucketSaat pengumuman pemenang, ternyata Cinta dapat juara 2 untuk kategori Kelompok Bermain. Bukan main senangnya kami, Cinta yang nggak menyangka dapat piala pun tampak senang memeluk pialanya. Bahkan sampai hari ini masih ada aja yang memuji penampilan Cinta di lomba kemarin. Tapi saya berusaha untuk tidak berlebihan karena saya tahu banget ada beberapa anak dan orangtua yang kecewa karena nggak dapat piala. Hingga malam ini pun saya suka berpikir, jika waktu itu Cinta nggak menang pasti kami akan kecewa meski kebanggaan kami kepadanya tidak akan berkurang. Tapi akankah kami dengan sengaja membeli piala sendiri hanya untuk menyenangkan dia? Bisa nggak saya mengajarkan kepada Cinta sejak dini bahwa dalam sebuah perlombaan pasti akan ada yang menang dan kalah. And it’s oke to lose sometimes, karena itu berarti meski kita sudah berusaha sebaik mungkin, masih ada peserta lain yang jauh lebih baik dari kita. Tapi akan lebih baik jika kekalahan itu memacu kita untuk belajar lebih baik lagi supaya di perlombaan berikutnya bisa menang atau minimal mengalahkan rekor pribadi kita.

    Sepertinya sebelum saya mengajarkan nilai-nilai itu ke Cinta, saya harus menanamkan ke diri sendiri bahwa hasil akhir bukanlah segalanya. Menikmati sebuah perjalanan, menghayati perjuangan dan usaha yang kita lakukan, dan mendapatkan pelajaran dari semua itu lebih penting dari apapun. Sehingga ketika akhirnya memenangkan sesuatu, kepuasan dan kebanggaannya akan berlipat ganda.

    -foto-foto adalah koleksi pribadi-

  • Life as Mom, Parenting

    Kiddos 2.0: Menyiapkan Anak Tangguh di Era Digital

    seminarSekitar 5 tahun yang lalu, saya sempat terkejut mendengar cerita anak-anak kelas 6 SD swasta ternama di Surabaya sudah diharuskan membawa laptop sendiri untuk pelajaran komputer. Padahal waktu itu harga laptop termurah masih hampir 3x lipat gaji saya sebagai pegawai di sebuah bank swasta. Masih belum habis rasa penasaran mengapa sekolah itu meminta muridnya membawa laptop padahal mereka punya laboratorium komputer, saya kembali terkagum-kagum melihat anak-anak SD sudah membawa telepon genggam dengan fasilitas lengkap ke sekolah. Makin geleng-geleng kepala ketika mengetahui bahwa tidak sedikit anak usia 10-12 tahun itu sudah dibekali Blackberry  dan anak SMP diberi iPad yang saya mimpi punya aja nggak berani oleh orangtuanya.

    Ya, saat ini kita memang hidup di era digital, di mana banyak sekali gadget atau perangkat teknologi yang bisa mempermudah kegiatan kita sehari-hari dan akses menuju sumber informasi. Apalagi sekarang perangkat tersebut bisa didapatkan dengan harga yang tidak terlalu mahal. Sebut saja, telepon genggam, play station, laptop, televisi, vcd yang hampir ada di setiap rumah kelas menengah. Bahkan mungkin tidak sedikit yang masing-masing penghuni rumah memiliki ke-5 perangkat tersebut di kamarnya. Sayangnya, penggunaan media hiburan dan informasi ini seringkali tidak dibarengi dengan kecerdasan dan pengawasan dari orang dewasa. Hal inilah yang membuat saya mengikuti seminar “Menyiapkan Anak Tangguh di Era Digital” hari Sabtu, 30 Oktober 2010 yang lalu di Kemang Village.

    Seperti yang saya utarakan di atas, anak SD sudah dikasih blackberry, telepon genggam canggih, laptop dengan akses internet tak terbatas merupakan hal yang umum kita jumpai saat ini. Padahal, Ibu Elly Risman mengingatkan bahwa banyak orang tua yang tidak awas akan banyaknya ancaman pornografi yang bisa diakses anak dari perangkat-perangkat tersebut. Bahkan games seperti The Sims atau film kartun macam Naruto pun mengandung konten pornografi dan kekerasan yang tidak pantas dimainkan atau ditonton oleh anak tapi tetap kita biarkan mereka menonton dan memainkannya. Padahal menurut data yang dihimpun oleh Kelompok Peduli Anak dan Buah Hati, pornografi bisa merusak 5 bagian otak anak, dan selama ini kita mengira bahwa narkoba lah ancaman terbesar bagi generasi muda.

    Nggak ada salahnya kok memberikan perangkat canggih kepada anak selama kita yakin bahwa bagian prefrontal cortex yang berfungsi sebagai direkturnya otak sudah benar-benar matang. Karena di bagian otak inilah tempat dibuatnya moral dan nilai-nilai. Masih menurut ibu Elly, untuk mematangkan direktur ini, kita sebagai orang tua harus mengasuh anak dengan benar, yaitu dengan komunikasi yang baik, hangat dan mengutamakan perasaan. Selama ini mungkin banyak orang tua yang cuma peduli apakah anak sudah mengerjakan PR atau belum, ranking berapa di sekolah, kalo belum bikin PR atau ulangan dapat 80 dan bukannya 100 langsung dimarahin. Padahal anak butuh validasi atau penerimaan, penghargaan dan pujian atas usaha yang telah ia lakukan. Mereka perlu kita memahami perasaannya.

    Dan yang terpenting adalah menghadirkan Tuhan dalam diri anak. Sebagai orang tua, kita harus menanamkan pada diri sendiri bahwa anak adalah amanah dan ajaran agama juga moral harus kita lakukan sendiri, bukannya menyerahkan sepenuhnya kepada sekolah berbasis agama, guru agama, tempat pendidikan agama dan sebagainya. Pola pengasuhan Dual Parenting pun sangat diperlukan bagi perkembangan pribadi anak yang matang. Peran Ayah sama pentingnya dengan peran ibu sehingga ayah juga harus hadir secara emosional dan spiritual. Dalam seminarnya, ibu Elly Risman memberi contoh anak laki-laki yang tidak memiliki komunikasi yang baik dengan ayahnya akan cenderung agresif, sedangkan anak perempuan yang tidak mendapatkan penerimaan dari ayah akan mencari kasih sayang dari laki-laki lain di sekitarnya dengan membabi buta.

    Latih anak untuk mampu berpikir kritis dan memiliki konsep diri yang kuat dengan selalu menanyakan pendapat anak tentang sesuatu yang berkaitan dengan dirinya. Penerimaan, cinta kasih sayang dan penghargaan adalah sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh anak. Dan jadilah teladan yang baik karena anak belajar dari contoh bukan ucapan. Pemberian fasilitas kepada anak pun harus jelas tujuannya, jangan cuma karena “semua temennya juga pake” atau “biar gampang hubungin anak”. Capai kesepakatan dengan anak mengenai aturan penggunaannya, dan jelaskan dampak positif dan negatif gadget tersebut. Biarkan anak berpikir, memilih dan mengambil keputusan mengenai perangkat tersebut.

    Nggak mudah jadi orang tua di era digital ini, banyak sekali ancaman dan tantangannya. Nggak sekedar sekolah mahal tapi juga pergaulan yang semakin menggila. Anak sekarang jauh lebih pintar dari orang tuanya tapi kita sebagai orang tua juga harus lebih kreatif dalam memahami anak. Selamat menjadi orang tua 2.0 yang cerdas dan tanggap 🙂

  • Parenting

    (Bukan tentang) Kak Ros dan Opah

    upin ipinSiapa yang tak kenal dengan 2 tokoh di samping? Ya, kak Ros dan Opah adalah kakak dan nenek dari budak budak badung nan comel Upin dan Ipin. Seperti yang kita tahu, Upin dan Ipin adalah anak yatim piatu yang tinggal bersama kakak perempuannya Ros dan neneknya yang biasa mereka panggil Opah. Karakter Ros dan Opah dalam mengasuh Upin Ipin ini, mengingatkan saya akan karakter khas seorang ibu dan nenek dalam pengasuhan seorang anak. Ros, meskipun sebenarnya adalah kakak dari Upin Ipin tapi seakan mewakili seorang ibu muda yang galak dan tegas kepada anak-anaknya. Sedangkan Opah, seperti lazimnya seorang nenek, suka memberi petuah, sabar daaaaaann kadang memanjakan cucu-cucunya. Sikap Opah yang seperti itu kadang membuat kak Ros gemas karena pada akhirnya dua bocah itu lebih nurut kepada Opah yang memanjakan mereka daripada Ros yang sering melarang ini dan itu.

    Familiar kah dengan situasi seperti itu? Saya sih akrab banget huehehehe. Dan rasanya ini masalah klasik yang dihadapi setiap orangtua yang ingin mendidik dan mengasuh anaknya sesuai dengan idealisme masing-masing namun seringkali berbenturan dengan kasih sayang nenek-kakek yang kerap memanjakan. Sayangnya, niat baik para nenek dan kakek membuat orangtua berada pada posisi yang serba salah, malah nggak jarang bikin anak jadi bingung karena sama papa mama nggak boleh kok sama opa oma boleh. Kondisi tersebut membuat anak yang pintar akan berstrategi, kalau pengen apa-apa yang dia tahu bakal dilarang sama ayah ibu, maka larilah dia ke eyang-eyangnya karena tahu bakal dikabulkan. Efek negatifnya, lama lama bisa membuat anak meremehkan peraturan yang dibuat orangtuanya.

    Nggak cuma apa yang boleh dan apa yang enggak, cara menghadapi anak yang tantrum karena keinginannya tidak terpenuhi pun juga sering berbeda. Kita, karena sering nonton Super Nanny, Nanny 911, serta ikut seminar-seminar dan membaca buku-buku parenting mungkin merasa bahwa timeout adalah cara efektif untuk meredakan tantrum dan kemudian memberi pengertian kenapa kita tidak memenuhi keinginannya. Sementara opa dan oma yang tidak tega melihat cucu kesayangannya menangis biasanya akan memberi apa yang mereka inginkan dengan alasan, “kasian lihat cucuku nangis terus.”

    Beberapa bulan yang lalu, saya pernah ngetwit soal ini dan ditanggapi oleh Ayah Air, menurut beliau sebaiknya kita sebagai orangtua bilang secara asertif kepada yang membela anak saat kita sedang menegakkan peraturan atau disiplin untuk membiarkan kita pegang kendali. Awalnya memang susah, tapi harus dicoba. Langkah awalnya, begitu ada yang belain, kasih isyarat tangan untuk stop dan tatap matanya, lalu bilang “ntar ya kita bicara.” Setelah kejadian dan anak sudah tenang ajak yang ngebelain untuk ngomong, bicarakan dengan tegas, tenang dan apresiatif. Nah, bicara ini yang mungkin agak sulit ya, apalagi jika yang melakukan adalah keluarga pasangan. Solusinya ya, ayah dan ibu harus satu suara sehingga kita bisa minta pasangan yang bicara kepada orangtua atau saudara-saudaranya untuk nggak ngebelain anak.

    Nggak gampang, apalagi kaya saya nih, kalo ada yang ngebelain Cinta saat saya melarang atau memberi timeout biasanya malah tambah kesal karena merasa otoritas sebagai ibu dilanggar dan malah melampiaskan ke Cinta alias jadi marah marah ke anaknya. Salah banget kan itu. Akhirnya belakangan kalau Cinta tantrum dan muncul tanda-tanda ada yang mau belain, cepat-cepat saya bawa masuk kamar dan tidak membiarkan siapapun masuk. Saya peluk anaknya, kadang kalau dia lagi super kesel dan nggak mau dipeluk saya duduk aja di sebelahnya dan membiarkan dia menangis sampai selesai. Setelah puas, baru saya peluk sampai benar-benar berhenti nangisnya. Kemudian saya terangkan baik-baik kenapa itu nggak boleh, kenapa saya melarang dia melakukan sesuatu, kenapa saya me-timeout dia dan sebagainya. Hasilnya, alhamdulillah Cinta juga sudah mulai berkurang tantrumnya, kalaupun marah cuma sebentar dan lama-lama mengerti. Saya pun jadi lebih mudah mengontrol emosi.

    Lalu bagaimana dengan kak Ros dan Opah? Well, berhubung Upin Ipin hanyalah serial kartun saya cuma berharap semoga di episode-episode selanjutnya, kak Ros bisa lebih berdaya dalam menghadapi Opah yang memanjakan adik-adiknya ya. Karena sayang bukan berarti selalu menuruti atau memberikan semua kemauan anak atau membiarkan anak melanggar peraturan. Justru disiplin yang diterapkan dengan hati dan kasih sayang yang akan mendidik anak menjadi pribadi lebih baik.

  • Wounded children, broken home, divorce
    Life as Mom, Parenting

    I Thought I’m a Survivor

    Baca kultwitnya mba @AlissaWahid tentang #brokenhome seakan membuka kembali lembaran lama yang sudah saya tutup rapat-rapat.

    Wounded children, broken home, divorce

    Selama ini saya selalu berujar, “I was a broken home child BUT I’m proud of it coz it makes me stronger. I’m a survivor.

    Saya menganggap diri saya adalah seorang survivor yang sukses karena tidak terjerumus dalam hal-hal negatif seperti menjadi pecandu obat-obatan terlarang, kabur dari rumah dan sebagainya. Saya hidup normal, mulai dari SD sampai kuliah beberapa kali memperoleh penghargaan akademis walaupun bukan yang terbaik. Mengikuti berbagai kegiatan, berprestasi dan memiliki banyak teman yang saya sayangi dan menyayangi saya. Bekerja, menikah dan memiliki anak, lalu menjadi ibu rumah tangga. Membangun keluarga kecil saya sendiri. Semua baik-baik saja, orang tua saya walaupun berpisah tetap berhubungan baik. Adik-adik saya juga tidak ada yang bermasalah. We’re aaaaaall good.

    Sampai semalam membaca dampak-dampak yang dialami para “korban” broken home dan tersadar bahwa ternyata saya termasuk salah satu produk gagal. Secara kasat mata mungkin ya saya baik-baik saja, nothing’s wrong with me tapi ternyata saya selama ini gagal mengelola emosi dan memiliki ego yang tidak sehat sehingga selalu merasa insecure terhadap apapun yang saya miliki.

    Dari sebelum menikah, saya selalu merasa bahwa hubungan yang saya miliki dengan pasangan tidak akan bertahan lama. Kalaupun bertahan lebih dari 2 tahun (saya pernah pacaran selama 4 tahun dan akhirnya putus) selalu punya khayalan somehow ini bakal berakhir juga. Entah karena dia yang selingkuh atau saya.

    alissa wahid broken home

    Saya juga selalu merasa orang lain lah yang harus bertanggung jawab atas kebahagiaan saya. Baik itu pasangan, teman, saudara dan orang tua. Padahal pribadi yang sehat seharusnya bisa bertanggungjawab atas kebahagiaannya sendiri. Happiness is only a state of mind, right? Dan itu sebenarnya melelahkan karena setiap kali keadaan mulai tidak menyenangkan, saya lari. Selingkuh dari pacar, putus dan ganti baru, pindah dari kerjaan dan masih banyak lagi.

    Hurting-people hurts people.. Ungkapan ini paling pas utk menggambarkan para produk gagal dr keluarga #brokenhome – @AlissaWahid

    Yes, it’s true. I do become the one who hurt people who love me. How? By being so overprotective and self oriented. Mudah marah dan emosional terhadap orang-orang terdekat. Di bawah alam sadar, I’m testing their limits, sampai sejauh mana mereka bisa bertahan. Ketika ada yang pergi saya pun merasa mereka tidak mencintai saya sepenuhnya, karena kalau benar menyayangi saya sepenuhnya seharusnya bisa menerima saya apa adanya.

    Sepanjang yang saya ingat, saya tidak pernah menyalahkan orang tua saya atas apa yang terjadi. Mereka sudah cukup punya masalahnya sendiri dan sudah berjuang mengatasinya. Saya menyayangi mereka apapun kekurangannya dan keadaan keluarga kami. Tapi ternyata belum cukup. Mungkin saya masih harus berjuang lagi, lebih keras. Demi diri sendiri dan keluarga kecil saya. Sehingga suatu saat saya bisa berkata, “I was a broken home child AND I’m proud of it.

    moving from Failure to Success from #brokenhome starts with focusing on the ego.. Ego kita mencari kedamaian. Damai dimulai dr titik nol

    Titik nol adl titik dimana kita let go of segala hal yg telah tjd dlm kehidupan kita. Everything happens for a reason, tmsk #brokenhome kita

    di titik nol, kita belajar utk memaknai #brokenhome sbg cara Tuhan menyampaikan pesan pd kita. kita terima rasa sakit itu sbg .. (1)

    kita terima rasa sakit akibat #brokenhome itu sbg bagian baik dlm hidup kita, krn kita justru lbh bijak dr org2 lain karenanya

    bekali diri dg lingkungan jiwa yg tepat: teman2, buku2 yg membuat kita menambah input ttg survivor yg sukses

    “I never found anyone who could fill my needs, so I learned to depend on me” dr Greatest Love of All itu bener banget#brokenhome

    sooner or later, all of us learn that we can only depend on ourselves. you, from #brokenhome families have the chance to learn the hard way

    merelakan “kesalahan” orangtua #brokenhome.. mrk tak hendak melukai kita. mrk hanya tdk tahu bgmn memberi yg terbaik pd kita ..

    stl bdamai dg diri sendiri di titiknol #brokenhome, start your journey to build a healthy ego .. Learn to love yourself. klise, tapiii

    Love yourself. You are someone special, that’s why God blesses you with a burden, that is #brokenhome .. you are stronger than you think!

    bcoz you have left the hurts on point zero of #brokenhome you can now focus to strengthen your character & talents..

    focusing on empowering yrself instead of the hurts & confusion#brokenhome will make you feel good abt yourself. it’s good for your ego

    By: @AlissaWahid