Browsing Tag:

Keenan

  • Review

    Cloth Diaper Week, Day 2: Cluebebe Coveria Petite

    Di hari kedua Cloth Diaper Week, saya memakaikan Keenan popok kain modern dari Cluebebe. Kalau kemarin modelnya pocket diaper, kali ini pakai yang diaper cover. Popok kain jenis ini lebih cocok sebenarnya untuk orangtua yang punya newborn yang masih sering pipis dan pup karena cukup mengganti innernya saat basah atau kotor selama lapisan luarnya nggak kotor. Tapi sebaiknya sih waktu ganti inner, covernya dilap juga lalu diangin-angin sebentar untuk kemudian dipakai lagi.

    CDW Day 2: Cluebebe coveria petite

    Salah satu hal yang saya suka dari Cluebebe Coveria Petite ini adalah ukurannya yang kecil sehingga saat dipakai nggak bulky. Selain itu covernya yang terbuat dari true waterproof Polyurethane Laminate (PUL) dan bersifat breathable bikin kulit bayi tetap kering dan sejuk. Bahan PUL ini juga lentur sekali serta cepat kering saat dicuci. Sedangkan stay dry insertnya tahan dipakai sampai sekitar 2-3 jam. Dalam meresensi popok kain modern saya memang menggunakan patokan jam karena nggak tahu berapa kali anak bayi pipis sampai clodinya terasa lembab. Pokoknya saat Keenan sudah mulai gelisah dan merasa nggak nyaman ya saya ganti popoknya.

    Hari ini adalah kali kesekian saya memakaikan Cluebebe Coveria Petite pada Keenan. Selama ini masih suka bocor samping meski outer sudah menggunakan leg gusset atau jahitan kerut di daerah paha yang berfungsi menjaga lingkar paha tertutup sempurna untuk mencegah kebocoran samping. Mungkin karena kurang pas saat memakaikan atau bisa juga karena insertnya sudah jenuh sehingga nggak bisa lagi menyerap pipis. Insert bawaan dari Cluebebe coveria petite ini dibuat dari 3 lapis microfiber yang dijahit menyatu dengan 1 helai microfleece (stay dry soaker pad) dan dilengkapi kancing supaya nggak mudah bergeser. Tapi kalau mau bisa juga digunakan dengan insert merek lain atau alas ompol yang dilipat-lipat sehingga lebih ekonomis.

    cluebebecluebebe

    Tapi pagi tadi alhamdulillah lancar. Nggak bocor samping dan selama 2,5 jam pemakaian baik cover bagian luar nggak basah serta microfleece tetap kering. Keenan pun tetap nyaman dalam wrapnya, nggak risih atau kepanasan. Namun, karena harus jemput kakaknya sekolah clodinya saya ganti dengan pospak. Maklum belum pede pakai clodi untuk pergi-pergi, secara harus nyetir sendiri dan nggak punya asisten untuk bantuin Keenan kalau harus ganti popok di jalan. Juga khawatir popoknya bocor lalu membasahi carseat.

    Ternyata setelah clodi dibuka baru ketahuan kalau lapisan microfiber dan bagian dalam cover sudah basah kuyup hehehe. Mungkin itu ya untungnya mengganti popok minimal 3 jam sekali, anak jadi terhindar dari perasaan risih karena basah juga mengurangi resiko infeksi saluran kencing. Akhirnya jadi membandingkan deh kalau menerapkan sistem ganti tiap tiga jam saat pakai pospak, bisa sehari minimal 8 popok, sebulan 240 popok. Wheeew, selain sampahnya yang menggunung berapa pengeluaran kita sebulan ya, Moms.

    Setelah cover dilap, saya jemur dan ditinggal pergi. Sedangkan innernya dikucek dan dimasukkan keranjang pakaian kotor untuk dicuci besok. Sore tadi cover yang sudah kering saya pakai lagi dengan menggunakan insert bamboo terry yang terdiri dari 1 layer serat bamboo alami + 3 layer microfiber terry produksi Pumpkins Baby Cloth Diaper. Dan aman sampai 3 jam lho. Insertnya nggak bergeser karena bayi 2 bulan 4 minggu juga belum terlalu banyak gerak ya. Tapi mau tidur tadi saya ganti lagi dengan pospak. Yah, lumayan hari ini saya mengurangi 2 sampah pospak. Semoga besok bisa lebih banyak lagi.

    Bagaimana pengalaman berclodi ria hari ini, Moms?

  • Review

    Cloth Diaper Week, Day 1: GG Original Clodi

    Dalam rangka Cloth Diaper Weeknya milis popokkain, saya ikutan nyoba memakaikan 1 popok kain modern atau yang bahasa kerennya clodi (cloth diaper) selama seminggu. Sebenarnya sebelum ini pun sudah pernah dipakai tapi emak pemalas sibuk ini nggak punya waktu untuk mendokumentasikannya. Lagipula masih lebih sering pakai pospak alias popok sekali pakai daripada si clodi karena lebih praktis hehehe.

    Minggu-minggu pertama usia Keenan, saya sempat rajin memakaikan clodi ini tapi lama-lama nggak kuat juga bolak-balik ganti dan nyuci popok karena pipis dan pupnya masih sering sekali. Sehingga Keenan tidurnya kurang akibat risih dengan popok basahnya. Yang lucu, seringkali popoknya kering tapi baju dan alas tidurnya basah kena air kencing. Nha lho, keluar lewat mana coba airnya. Akhirnya kembali deh pakai pospak.

    Berhubung sekarang umurnya sudah 2 bulan, pipis dan pupnya pun sudah nggak terlalu sering meski termasuk heavy weter, saya kepingin mulai rutin pake clodi secara harga pospak lama-lama terasa juga menggerogoti uang belanja. Eh, kebetulan milis popokkain bikin acara CDW, ya udah biar semangat ikutan sekalian deh diposting di blog pengalaman sekaligus review pakai clodi selama 1 minggu ini. Mommies yang punya cerita tentang merek yang sama, boleh lho berbagi di kolom komentar.

    CDW Day 1

    Nah, untuk hari pertama saya memakaikan Keenan GG Clodi Original. Clodi ini merek lokal dan hampir semua clodi yang saya punya buatan dalam negeri. Sengaja milih itu karena bugdet nggak cukup untuk beli clodi import untuk menghargai hasil karya anak bangsa sekaligus memperpendek jejak karbon, sesuai tujuan memakai popok kain yaitu Go Green.

    Kembali ke GG, clodi berbentuk pocket diaper ini termasuk favorit saya karena daya serapnya bagus dan nggak bulky. Keenan juga nyaman pakainya karena lapisan dalam yang bersifat stay dry bisa tetap kering selama 3 jam meski dia sering pipis dan terasa lembab di bagian luar clodi. Awalnya saya kira pasti sudah basah semua nih tapi ternyata enggak, cuma di bagian belakang insert yang terbuat dari microfiber. Menurut produsennya sih GG tipe ini bisa menampung sampai 220 ml cairan. Dan lapisan dalamnya lembut serta mudah dibersihkan. Pengalaman pakai ini waktu Keenan pup sih tinggal semprot kotorannya ke dalam kloset trus dikucek sedikit sudah hilang tak berbekas.

    Ukuran GG yang nggak terlalu besar karena diperuntukkan bayi dengan berat kurang dari 15kg; memiliki lingkar perut maksimal 55cm serta lingkar paha lebih kecil dari 32cm, pas banget untuk si Keenan yang termasuk mungil. Dan selama beberapa kali pakai ini belum pernah mengalami bocor samping seperti yang saya singgung sebelumnya.

    Agak nyesel juga sih cuma beli satu karena pengalaman pakai diaper cover Lil G dari produsen yang sama agak kurang memuaskan. Tapi GG pocket diaper ini lumayan banget deh buat bayi kecil mulai usia newborn. Apalagi harganya nggak bikin kantong bolong hehehe. Kalau sudah memutuskan untuk pakai popok kain modern sepenuhnya, mungkin akan memperbanyak koleksi si GG original clodi.

    Hmmm… Besok pakai clodi yang mana ya?

  • Family Health, Life in Brunei

    6-in-1

    Kemarin setelah nemenin Cinta makan siang di Fratini’s Pizza Seria lalu anter dia lagi ke sekolah untuk ikut after school program, Keenan kontrol rutin 1 bulanan sekaligus vaksinasi di maternity & child health (MCH) Clinic, Pusat Kesihatan Sg. Liang. Meski terlambat 15 menit dari jadwal perjanjian dan nunggu untuk daftar di resepsionis klinik selama 20 menit karena implementasi program Bru-HIMS yang belum lancar, ternyata yang antri di MCH masih sedikit.

    Setelah ditimbang, ukur tinggi badan & lingkar kepala dengan hasil 5,7 kg; 56 cm dan 37,5 cm, duduk sebentar untuk nunggu giliran ketemu bidan. Sempat ditanya-tanya juga sama suster di ruang timbangan soal Bobita Wrap yang saya pakai untuk menggendong Keenan. Menurut mereka gendongannya unik dan nyaman. Bahkan dipuji, “Pandai kamu bungkus dia seperti itu. Tidak sejuk (kedinginan).”

    Sambil nunggu dan nyusuin Keenan dalam Bobita wrapnya, browsing lagi soal vaksinasi yang akan dia dapat hari ini. Jujur aja agak ragu awalnya karena sejak dikasih jadwal vaksin bulan lalu belum pernah tahu tentang vaksinasi 6-in-1 yang terdiri dari DTaP-HiB-IPV-Hep B ini.

    Terakhir kali saya tahu 4 tahun lalu kombinasi vaksin masih 4-in-1 DTaP-HiB plus polio oral atau Pediarix dan Pentacel. Ternyata sekarang adalagi yang 6 vaksin dalam satu suntikan. Sempat terpikir juga apa itu kombinasi Pentacel yang dijadikan 1 suntikan dengan single dose of Hep B. Baru setelah browsing tahu kalau memang ada 6-in-1 vaccine keluaran GlaxoSmithKline Australia dengan nama dagang Infanrix Hexa. Hmmm… Di Indonesia harganya berapa ya? Masih inget aja dulu tiap vaksin DTaP dan HiB di RS Swasta tuh bisa habis lebih dari Rp 500.000 termasuk jasa dokternya.

    Lumayan lama nunggu diperiksa bidan sampai Keenan mulai rewel dan lebih lama lagi saat antri dokter karena ada masalah data online pasien yang sudah diinput suster nggak bisa diakses dokter. Sampai akhirnya dipanggil dokter pun, bukannya konsultasi soal kesehatan Keenan, malah dia curhat tentang kacaunya implementasi Bru-HIMS. Mana Keenannya sudah nangis jejeritan karena ngantuk. Hadeeuuh :))

    Setelah dicek dokter dan dinyatakan cukup sehat untuk menerima imunisasi meski sedang pilek, pindah ke Bilik Suntikan dan disuntiklah paha kanan anak lanang diiringi tangisnya yang melengking. Abis itu dikasih paracetamol dan alat ukurnya buat jaga-jaga kalau demam sembari diingatkan untuk nggak ngasih minyak, salep atau apapun di bekas suntikannya semisal bengkak, “Cukup diusap pakai air hangat saja di sekitar bengkaknya.”

    Sudah selesai? Belum! Masih harus balik lagi ke bilik timbangan untuk bikin jadwal perjanjian bulan depan. Ribet ya? Biar deh, namapun gratis kan jadi ya dinikmati sajah hehehe. Untung bisa minta tolong teman seapartemen supaya setelah after school program Cinta bisa pulang bareng dia dan anaknya yang satu sekolah sama Cinta sehingga nggak perlu lagi jemput ke sana.

    Alhamdulillah sampai hari ini belum ada tanda-tanda ada KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) meski sedikit rewel akibat pilek. Bahkan semalam tidur cukup nyenyak begitu juga sesiangan ini walaupun beberapa kali maunya tidur dalam Hanaroo Wrap hadiah dari sister in law. Sehat terus ya, Nak.

  • Daily Stories, Life in Brunei

    Gundul Gundul Pacul

    Sejak kecil (ya, sekarang masih kecil juga sih menurut emaknya) Cinta itu nggak suka banget lihat papanya dicukur gundul. Sementara suami sukanya cukur gundul meski nggak sampai plontos. Gara-gara perbedaan selera ini Cinta pernah nggak mau deket-deket si papa karena nekat cukur gundul, padahal waktu itu masih jarang ketemu akibat long distance marriage. Sejak itu tiap mau potong rambut suami selalu minta ijin anak gadisnya supaya dibolehin cukur cepak. Untungnya, beranjak besar Cinta sudah mulai cuek sama rambut papanya jadi nggak terlalu cerewet lagi ngelarang si papa gundul.

    Nah, menjelang Keenan 2 bulan kami mulai kasak kusuk berencana memotong rambutnya. Awalnya mama mertua nyaranin untuk potong di tukang cukur aja bareng sama suami yang langsung ditolak karena dia pengen nyukur sendiri rambut anak-anaknya. Rupanya suami belum kapok dengan pengalaman mencukur rambut Cinta dengan gunting dan cukuran kumis hampir 5,5 tahun lalu yang makan waktu 1 jam. Asli yang nggendong dan nyusuin sampai pegel karena nggak selesai-selesai.

    Belajar dari situ dan cerita papa mertua tentang ponakan yang digundul bapaknya pakai alat cukur elektrik, kami pun hunting alat pencukur rambut dan menemukan benda ini di Soon Lee Megamart, Kuala Belait seharga B$ 39. A bit pricey sih menurut saya tapi dengan pertimbangan bisa buat potong rambut Keenan selanjutnya akhirnya dibeli juga Pritech Hair Trimmer Child-Spesific itu.

    Pas tanggal 5 Mei kemarin, di usia Keenan yang tepat dua bulan, tanpa diawali prosesi apapun -nggak kaya Cinta yang acara potong rambutnya dibarengkan sama akikahnya-, dengan anak bayi digendong yangtinya yang nggak berhenti mengucap basmallah dan tasbih, suami mencukur rambut anak lanang kesayangannya. Alhamdulillah, lancar banget prosesnya dan selesai hanya dalam waktu 15 menit. Lebih cepat dari durasi mandinya Cinta pagi itu, sehingga dia nggak sempat lihat adeknya dicukur.

    Kata suami, alat cukurnya enak banget, mudah dibersihkan dan aman. Kebetulan selama dicukur Keenan cuma gerak sedikit jadi nggak ada yang luka. Hasil cukurannya juga rapi. Puas deh sama si Pritech ini.

    Rambut yang dicukur, setelah dikira-kira beratnya untuk mengeluarkan sedekah seharga emas sesuai berat rambut, dititipkan ke mertua untuk ditanam di halaman depan rumah mereka seperti rambut cucu laki-lakinya yang lain. Sedangkan rambut Cinta dulu karena anak perempuan ditanam di halaman belakang. Nggak tahu juga sih alasan perbedaan depan belakang ini, kepercayaan orang Jawa aja katanya.

    Selamat ulang bulan ke-2, Keenan Aditya. Sehat terus, makin kuat, cepat besar dan tambah pintar.