Jumat Pagi di Sudut Seria Bersama Keenan

Seria, Brunei Darussalam, My Booney Cafe, Sri Selera Seria

Nggak seperti Indonesia yang sekolah libur di hari Sabtu dan Minggu, di Brunei sekolah kerajaan dan swasta lokal libur di hari Jumat dan Minggu. Namun, hari Jumat kemarin kakak Cinta harus latihan di sekolah untuk acara Sports Day 2 minggu lagi. Jadi kalau biasanya kami bermalas-malasan di Jumat pagi kali ini harus bersiap-siap untuk mengantar kakak sekolah. Tapi tetap aja sih kebiasaan bangun agak siang di hari Jumat nggak bisa hilang, sehingga Keenan nggak sempat sarapan di rumah. Akhirnya setelah mengantar kakak ke sekolah dia minta diajak sarapan di dekat sekolah kakak.

Seria, Brunei Darussalam, My Booney Cafe, Sri Selera Seria
Foto ini diambil pada Jumat siang ketika semua aktivitas perekonomian di Seria berhenti setiap pukul 12 – 2 siang supaya orang Muslim bisa melakukan ibadah sholat Jumat.

Sekolah kakak dan rumah kami terletak di mukim Seria, sekitar 80 km dari Bandar Seri Begawan. Seria adalah kota kecil yang menjadi pusat eksplorasi minyak dan gas bumi, sumber kekayaan negerinya Sultan Hassanal Bolkiah. Dari rumah ke sekolah kakak dan Keenan berjarak 8 km yang biasanya kalau nggak macet bisa ditempuh dalam waktu 15 menit. Nggak banyak yang bisa dilihat dari Seria ini, pusat kotanya terletak di area yang bisa dikelilingi selama 15 menit dengan berjalan kaki. Mulai dari aneka tempat makan, bank, hotel, terminal bus, toko buku, deretan penjahit, kedai gunting rambut dan toko baju ada di sini. Meskipun nggak besar dan berkesan kota tua, aneka makanan enak ada di lokasi itu. Sebut saja resto sushi halal Kaizen Sushi favorit yang selalu penuh di jam makan siang dan malam dan Gohan Sushi yang nggak kalah enaknya. Restoran fast food modern seperti Jollibee, KFC, Burger King dan SugarBun bersebelahan dengan kedai-kedai masakan khas India dan Brunei yang sudah buka selama beberapa generasi. Nggak terlalu jauh dari area ini ada kantor polisi yang berseberangan dengan kantor pos.

Bingung juga awalnya mau makan apa karena jam segitu tempat makan yang menyediakan menu fast food favoritnya belum ada yang buka. Tadinya berencana ajak dia makan roti telur a la kedai India aja, kebetulan Keenan memang suka sama roti-rotian semacam itu. Tapi dipikir-pikir kok nggak kenyang ya dan saya lagi malas mencium aroma kari-karian hihihi. Setelah muter-muter di area Plaza Seria yang kebetulan dekat sekali sama sekolah kakak, akhirnya memutuskan untuk makan di My Booney Cafe aja.  

My Booney Cafe, Seria, Brunei Darussalam, halal food
My Booney Cafe & Restaurant di Seria

Seperti biasa, tiap makan di My Booney, Keenan selalu order dimsum siomay. Sayangnya pagi itu, siomay kesukaannya sudah habis. Setelah melihat aneka dimsum yang disajikan di meja, akhirnya dia milih siomay udang. Trus saya tawarin kolomee. Eh, dia mau.

Kolomee, Kolomee Seria, Seria, Brunei local food, Brunei halal food, Brunei Darussalam, kolomee wonton
Wonton Kolomee. Edisi sarapan porsinya lebih kecil.

Kolomee itu kalau di Indonesia mungkin sejenis mie ayam, tapi di sini isinya kita bisa pilih mulai dari daging/ayam cincang, wonton rebus, roasted chicken dan masih banyak lagi. Rasanya juga agak beda sih, namun buat saya kolomee di My Booney Seria ini yang paling cocok di lidah saya dari beberapa kolomee yang pernah saya coba di Brunei ini karena bumbunya berasa banget sampai ke mienya dan rasanya cenderung gurih asin. Meskipun kadang terlalu medok dan kalau makan porsi gede agak eneq. Untungya di kafe ini kalau mulai dari jam 6 sampai 11 pagi ada menu sarapan yang porsi kolomeenya lumayan kecil. Jadi nggak khawatir nggak habis deh. Sementara saya yang tadinya nggak mau order karena udah ada siomay udang akhirnya tergoda untuk memesan set roti dan telur setengah matang plus teh hangat. Duh, apa kabar #menujulangsing2017?

Setelah makan, Keenan tiba-tiba ngajak ngasih makan burung. Di dekat My Booney ada terminal bus yang nggak terlalu besar dan di salah satu sudutnya suka banyak burung ngumpul. Nah, kadang orang-orang iseng kasih makan burung di situ. Karena masih pagi, meskipun sudah lumayan panas, saya iyakan saja permintaan Keenan. 

bus station, Seria, Brunei Darussalam
Terminal Bus dan Tempat Parkir Taxi, Seria, Brunei Darussalam

Sebelumnya kami nyeberang dulu dari My Booney ke deretan kedai runcit di depan terminal bus untuk beli makanan burung. Hampir semua kedai runcit di situ jual makanan burung, jadi nggak susah milihnya. Dengan uang B$ 1, kami sudah bisa dapat 1 kg jagung kering. 

Seria, Brunei Darussalam
Deretan kedai runcit (toko kelontong) di Seria

Anak 4 tahun yang merasa sudah besar dan mandiri itu, langsung berinisiatif membawa sendiri tas plastik berisi jagung itu. Baru saja mau nyebrang ke terminal, eh tasnya jatuh di jalan. Jadilah jagung berhamburan di jalan raya dan langsung dikerubuti burung, sementara Keenan mau nangis ngeliat bawaannya jatuh :)) Akhirnya kami kembali lagi ke kedai dan membeli 1 kantong jagung lagi demi niat memberi makan burung terlaksana.

Sampai di terminal, Keenan seneng banget bisa melempar-lempar jagung ke kawanan burung sambil sesekali berlari berusaha menangkap burung. Hihihi, kebahagiaan anak kecil itu sederhana ya. Alhamdulillah di sudut terminal bus yang itu nggak banyak mobil lewat, ada beberapa yang datang dan pergi untuk parkir namun masih aman untuk anak-anak ngasih makan burung di situ.

Simply happiness

Cukup lama juga kita nongkrong di situ, nggak peduli diliatin orang lewat. Bahkan ada sepasang kakek nenek yang sampai senyum-senyum ngeliatin si Keenan. Begitu jagungnya habis, eh malah minta beli jagung lagi. Karena sayanya sudah kepanasan saya tawarin beli permen lollipop aja untuk dimakan di rumah. Untungnya dia setuju. Tapi begitu sampai di kedai langsung minta es krim. “It’s very hot, Mom. I want to eat ice cream,” katanya. Ya sudahlah, kami beli es krim trus nyebrang lagi ke Kompleks Sri Selera Seria untuk numpang duduk makan es krim.

Seria, food court, Seria food court, halal food in Brunei, non halal food in Brunei, Brunei Darussalam, Seria local food, Brunei local food
Food court di Seria dengan sisi sebelah kanan untuk aneka gerai makanan halal dan sisi sebelah kiri untuk gerai makanan non halal

Kompleks Sri Selera Seria ini semacam food court. Cukup besar tempatnya dengan dua sisi berseberangan yang menyediakan makanan halal dan non halal. Pagi ini sisi makanan non halal lebih ramai daripada sisi makanan halal. Keadaan biasanya berbalik di waktu makan siang dan malam. Di sisi makanan halal, menu yang tersedia beragam, mulai dari sate, pecel, aneka gorengan, bakso, sayur-sayuran sampai sup tulang, salah satu menu khas Brunei. Kadang kalau lagi kangen masakan Indonesia sederhana atau gorengan tapi terlalu malas bikin sendiri saya suka beli di sini meski rasanya ya sudah disesuaikan dengan selera masyarakat setempat. Misalnya soto rasa sup atau bebek goreng yang ukuran bebeknya gede banget.

Sementara untuk sisi makanan non halal saya nggak tahu isinya apa aja, nggak pede juga mau nengok-nengok ke sana karena di setiap sisi dindingnya ada papan kecil merah bertuliskan, “Bukan Tempat Makan Orang Muslim.” Kalau pakai kerudung kaya saya melipir ke sebelah sana pasti diliatin deh hihihi. Pokoknya mah, nggak usah khawatir cari makan di Brunei. Gerai dan rumah makan yang menyajikan masakan non halal pasti akan memasang papan kecil tersebut di dekat pintu masuk atau minimal di tempat yang mudah terlihat. Kalau nggak ada tandanya, insyaAllah masakannya halal.

Salah satu sudut Seria yang menunjukkan deretan kedai runcit dan tampak belakang Plaza Seria diambil dari depan Komplek Sri Selera Seria

Kencan di Jumat pagi bersama Keenan di Seria berakhir setelah es krimnya habis. Perutnya yang kenyang dan hatinya yang riang karena sempat bermain di luar memudahkan saya untuk mengajaknya pulang sambil berjanji lain waktu akan membawanya memberi makan burung lagi dengan anggota keluarga yang lebih lengkap.

Keenan, Speech Delay dan Sekolah di Usia Dini

speech delay, perkembangan anak, lambat bicara, sekolah usia dini

2 minggu yang lalu menjelang libur Idul Adha, rumah kami kedatangan petugas sensus. Seperti biasa si petugas bertanya tentang siapa saja yang tinggal di rumah dan data-data pribadi lain. Yang nggak biasa adalah petugasnya masih muda, taksiran saya usia anak-anak baru lulus SMA gitu deh, cewek lagi. Dan seperti biasanya lagi saya yang bertugas menjawab pertanyaan mbak-mbak sensus ini.

Nah, waktu si mbak mendata umur dan sekolah anak-anak, dia sempat tertegun waktu saya menyebut usia dan sekolah Keenan, lalu bertanya, “3 tahun sudah sekolah?” yang cuma saya jawab dengan senyuman.

speech delay, perkembangan anak, lambat bicara, sekolah usia dini

Sebenarnya nggak cuma sekali ini saya mendapat pertanyaan seperti itu. Rupanya menurut beberapa orang usia Keenan masih terlalu muda untuk sekolah, apalagi ketika ia memulai hari pertamanya di tahun ajaran 2016 ini, usianya masih 2 tahun 9 bulan. Nggak sedikit juga ahli parenting yang tidak setuju dengan ada anak masuk sekolah di usia dini seperti Keenan.

“Umur segitu anak lebih baik di rumah belajar dengan ibunya.” 

“Anak balita belum perlu bersosialisasi dengan orang lain selain orangtuanya.”

“Jangan paksa anak untuk belajar di usia terlalu dini, nanti dia bisa stres dan mogok sekolah di tahun-tahun berikutnya.”

Dan masih banyak lagi deretan komentar kontra pendidikan di usia dini baik dari sesama orangtua maupun dari pakar-pakar parenting.

Saya pun tadinya ragu, antara tega dan nggak tega melepas Keenan sekolah karena menurut saya anak ini masih bayi banget hahaha. Beda gitu deh sama kakaknya yang sudah nampak lebih matang di usia sama seperti Keenan sehingga waktu itu saya mantap-mantap aja masukin Cinta ke baby school di usia 1,5 tahun.

Tapi, setelah berkonsultasi dengan dokter yang menangani tumbuh kembangnya Keenan sejak ia lahir, kami pun sepakat untuk mendaftarkan Keenan ke sekolah sebagai pengganti terapi okupasi yang harusnya ia jalani. 

Keenan dan Speech Delay

Kenapa Keenan perlu terapi okupasi? Jadi gini ceritanya… 

Sejak lahir, seperti anak-anak lain yang lahir di Brunei, Keenan diperiksa tumbuh kembangnya secara berkala oleh bidan di Pusat Kesihatan tempat saya periksa kehamilan dulu serta oleh dokter anak di RS Suri Seri Begawan tempat saya melahirkan. Alhamdulillah sejauh ini imunisasinya lengkap dan kesehatannya baik-baik saja meski berat badan yang selalu berada di bawah persentil 25. Tapi bidan dan dokter anak nggak pernah mempermasalahkan berat badannya, paling cuma disuruh nambah variasi makan, minum susu, mengurangi asupan gula dan sebagainya. Pokoknya pola makan gizi seimbang lah.

Tapi, setelah Keenan berusia 1,5 tahun, saya mulai curiga karena untuk anak seusianya, bicaranya Keenan jauh tertinggal. Keenan baru bisa mengucapkan satu kata dan walaupun cerewet bahasanya masih bahasa planet. Sementara menurut milestone seusia Keenan harusnya menggabungkan 2 kata sederhana dan mulai membeo. Selain itu Keenan juga sepertinya belum memahami ucapan saya, papanya atau kakak. Sayang, keterlambatan ini saya anggap wajar karena pertama dia anak laki-laki yang biasanya lebih cepat berjalan daripada bicara. Dan kedua karena kami terbiasa berbicara dalam 2 bahasa di rumah, jadi mungkin Keenan mengalami kebingungan sehingga jadi lebih lambat ngomongnya.

perkembangan bicara anak usia 18-24 bulan, speech delay, lambat bicara, milestone, perkembangan bahasa pada anak

Bulan April 2015, ketika jadwal berkunjung ke Paediatric Clinic Suri Seri Begawan Hospital, Keenan yang biasanya diperiksa oleh dokter anak umum, karena kesalahan suster nulis lingkar kepala tiba-tiba diperiksa oleh Dr. Musheer dari Child Development Center (CDC) atau klinik tumbuh kembang gitulah. Dokter Musheer ini yang pertama kali memeriksa Keenan setelah keluar dari rumah sakit dan mengalami jaundice selama beberapa waktu. Oleh dokter Musheer, Keenan diajak ngobrol berdua sambil main lego di meja kecil, trus dites warna, gambar binatang dan diajak main lempar tangkap bola. Selama proses pemeriksaan yang berjalan santai dan seperti main-main itu, Dr. Musheer benar-benar fokus ke Keenan dan baru ngajak ngobrol saya setelah pemeriksaan selesai. Jadi Keenan benar-benar enjoy dan nyaman sekali dengan dokter (yang dari fisik dan logat bahasanya saya kira) berasal dari India ini.

Dari hasil pemeriksaan baru deh ketahuan kalau memang ada milestone yang tertinggal. Meski demikian dokter tetap menyarankan supaya kami santai karena menganggap faktor keterlambatan bicara ini adalah efek bilingual dan kurangnya stimulasi. Akhirnya kami memutuskan untuk berbicara hanya satu bahasa dengan Keenan, yaitu bahasa Inggris, dengan pertimbangan lingkungan di sekitar kami lebih banyak berbahasa Inggris daripada bahasa Indonesia atau Melayu. Dokter juga ngasih handout yang membantu saya memahami tentang perkembangan bahasa pada anak dan stimulasinya.

“Nggak ada stimulasi yang lebih baik dari bermain dengan ibunya.”

– Devi Sani, M.Psi, Psi

Setelah 5 bulan berlalu, ternyata perkembangannya masih kurang baik, mungkin karena kurang stimulasi, bisa juga karena terlalu banyak screen time atau faktor-faktor lain saya nggak tahu. Dokter Musheer pun akhirnya mendiagnosa Keenan mengalami speech delay. Tapi, sekali lagi saya hanya diminta untuk memperbanyak stimulasi di rumah dan mengajak Keenan untuk bermain dengan teman-teman sebayanya karena menurut beliau biasanya anak lebih cepat belajar dari situasi bermain bersama teman-temannya. Bersosialisasi ini juga menurut dokternya Keenan bisa membantu membentuk perilaku baik pada anak seperti berbagi mainan, bergantian, saling peduli dengan teman dan sebagainya. Karena, kalau anak cuma bermain sama orangtua, yang sering terjadi adalah orangtua akan mengalah ketika anak meminta sesuatu, atau membiarkan anak menang hanya supaya dia senang. 

http://i736.photobucket.com/albums/xx4/pojokmungil/KeenanSpeech%20Delay%20dan%20Sekolah%20di%20Usia%20Dini%202_zpsk1wr4wc3.jpg

Pada pertemuan berikutnya 5 bulan kemudian, mulai ada perkembangan. Mungkin karena waktu itu saya mulai rajin ngasih dia sensory play atau permainan ala Montessori yang banyak ditemukan di internet dan instagram, mungkin juga karena dia mulai tertarik untuk berkomunikasi. Keenan mulai bisa menggabungkan 2 kata sederhana saat menginginkan sesuatu. Tapi, pengucapannya masih belum jelas, baik bahasa Inggris maupun bahasa Indonesia. Mirip seperti anak 1,5 tahun yang baru mulai bicara, sementara saat itu umur Keenan sudah 2 tahun 8 bulan. Dan ternyata saat itu Keenan juga memiliki short span attention. Sederhananya, anak kicik ini gampang bosan, jadi dia lebih suka aktif bergerak daripada mengerjakan sesuatu yang memerlukan koordinasi motorik halus seperti mewarna, memegang pensil, membaca (dibacakan buku). 

Baca juga: Permainan Sensoris

http://i736.photobucket.com/albums/xx4/pojokmungil/KeenanSpeech%20Delay%20dan%20Sekolah%20di%20Usia%20Dini%203_zpsx9ujhpwo.png

Kebetulan waktu itu sekolah-sekolah sudah mulai buka pendaftaran untuk tahun ajaran 2016 dan teman-teman mainnya Keenan di komunitas ibu-ibu KB Seria sudah mulai sekolah sehingga dia nggak punya temen main lagi kalau dibawa ke acara komunitas, saya akhirnya meminta saran dokter tentang kemungkinan Keenan bersekolah. Nggak nyangka ternyata dokter setuju, malah dia bilang kalau tadinya dia mau ngasih terapi okupasi seminggu sekali tapi sekolah justru lebih baik menurutnya. Jadi begitulah, akhirnya kami memutuskan untuk mendaftarkan Keenan masuk ke KG (Kindergarten) 1 atau setara playgroup di Indonesia.

Keenan dan Sekolah

Sebenarnya selain sekolah, waktu itu dokter juga mendaftarkan Keenan untuk terapi hanya saja kami diminta bersabar karena tempat terapi di Kuala Belait hanya ada 1 dan itu penuh jadi harus ada sesi wawancara untuk memastikan apakah Keenan perlu diterapi atau enggak. Sampai kunjungan berikutnya ke dokter, kami belum mendapat telepon dari tempat terapi untuk diwawancara dan dokter pun akhirnya membatalkan rencana tersebut karena melihat perkembangan bicara Keenan yang membaik.

Iya, sejak sekolah memang perkembangan bicara Keenan mulai membaik, bahkan dia mulai bisa berinteraksi dengan teman-temannya. Sekarang Keenan sudah bisa merangkai 5 kata sederhana dalam bahasa Inggris seperti, “Mami, I want to eat.” Sudah mampu mengkomunikasikan keinginan dan perasaaannya seperti lapar, haus, marah, sedih, nggak mau sekolah, nggak mau pake sepatu, nggak mau mandi karena masih mau tidur dan kalimat sederhana sehari-hari. Dia juga mulai mengenal pagi, siang, sore dan malam. Juga aneka binatang, panas dingin, bentuk dan warna walau masih suka terbalik. 

Tapi, semua itu nggak datang dengan mudah. Setidaknya nggak bagi saya meski saya anggap ini adalah bagian dari resiko menyekolahkan anak di usia sangat muda.

Pertama, di bulan-bulan pertama sekolah Keenan selalu menangis waktu mau saya tinggal. Ya, saya maklum, anak ini sejak lahir hampir 24 jam selalu bersama emaknya. Jadi bagi saya wajar kalau Keenan merasa nggak nyaman harus berpisah dari saya meski hanya beberapa jam di tempat yang nggak dia kenal sebelumnya.  

Sayangnya, pihak sekolah nggak mengijinkan saya untuk menemani Keenan di kelas sampai ia siap ditinggal sendiri, guru-gurunya meminta saya untuk pergi supaya Keenan terbiasa dan teman-temannya yang lain nggak rewel ngeliat Keenan ditungguin. Jujur aja saya nggak tega, di minggu-minggu pertama juga rasanya berat sekali ngeliat Keenan nangis nggak mau sekolah. Chaos banget deh suasana kelas saat itu. Anak-anak kecil nangis-nangis, guru-guru yang nampak kebingungan juga para orangtua yang nggak tega tapi harus menegakan diri. Tapi lama-lama ya dia terbiasa sih ditinggal di sekolah meski sampai sekarang saya kadang masih merasa bersalah.

Kedua, bulan-bulan awal sekolah Keenan nggak mau pake seragam dan cuma mau pake sandal Crocks. Jadi saya sering sekali ditegur gurunya karena masalah ini. Plus, hampir setiap kali saya menjemput Keenan gurunya laporan kalau, “Keenan nggak mau duduk diam,” “Keenan suka mukul temannya,” “Keenan nggak mau mewarna,” “Keenan nggak mau berbagi mainan,” “Keenan begini… Keenan begitu…” yang isinya jelek-jelek semua. *lap keringet*

Sampai saya sedih lho, anak saya ini kok gitu banget ya. Jangan-jangan sebenernya saya salah nih nyekolahin Keenan semuda ini. Maklum kalau urusan anak, saya emang orangnya baperan hehehe. Tapi kebaperan ini lama-lama hilang karena ternyata bukan saya seorang yang suka dilaporin gitu hahaha. Yah, mungkin bu guru lelah.

Ketiga, sampai sekarang pun kalau dibangunin pagi hari Keenan selalu nangis nggak mau mandi dan sekolah. Padahal kalau sudah sampai di sekolah ya dia happy aja gitu masuk ke ruang kelas dan nggak nengok-nengok mamanya lagi. Kan capek ya kalau tiap hari selalu ngadepin anak rewel gitu.

Waktu saya konsultasikan ke dokternya bulan Juli lalu, beliau justru senang liat perkembangannya Keenan, baik dari segi bahasa maupun perilaku. Memang sih, perilaku agresifnya Keenan jadi jauh berkurang, kecuali ke kakaknya. Trus ngomongnya juga jadi lebih banyak dan jelas. Keenan sudah mulai ngerti kalau ditanya sesuatu dan bisa ngasih jawaban yang sesuai juga sesekali ngasih alasan. Misalnya kalau dulu dia bilang, “I no want shoes.” Trus ditanya kenapa, ya jawabnya hanya, “I no want shoes!” sambil jerit-jerit frustasi karena menganggap emaknya ini nggak bisa ngertiin dia. Sekarang dia bisa jawab, “Because my feet hurts. I want Light shoes.” Tinggal daya konsentrasinya ini yang masih terus dilatih.

Soal laporan-laporan dari gurunya, pak dokter menenangkan saya dengan menjelaskan kalau tujuan kami (orangtua dan dokter) memasukkan Keenan ke sekolah kan awalnya sebagai pengganti terapi okupasi, yaitu memperbaiki lifeskillnya dan hasilnya sudah cukup baik. Tapi kita juga harus paham kalau guru punya target yang berbeda jadi ya nggak perlu sakit hati kalau dilaporin yang jelek-jelek terus. Sementara kalau dilihat dari laporan pendidikannya, sebenarnya banyak sekali peningkatan yang dialami Keenan di sekolah seperti mewarnanya mulai rapi dan di dalam garis, meski pegang pensil belum sempurna tapi sudah bisa tahan lebih lama, di rumah suka bernyanyi mengulangi lagu-lagu yang diajarin di sekolah dan dia jadi suka main sekolah-sekolahan ngikutin gaya gurunya kalau ngajar. Role play istilah kerennya mah. 

Pak dokter juga ngasih tahu alasan kenapa Keenan sering malas bangun pagi adalah karena tidurnya nggak cukup. “Kalau anak tidur cukup, dia akan bangun dengan segar dan berangkat sekolah dengan riang. Tapi kalau tidurnya nggak cukup, ya wajar kalau mandi aja nangis, trus nggak mau sarapan sehingga akhirnya di sekolah pun jadi moody.” Dan memang setelah saya observasi kalau Keenan tidur lebih awal dan bangun pagi sendiri, lebih mudah ngajak dia mandi dan sarapan lalu berangkat sekolah.

Jadi itulah alasan Keenan bersekolah di usia dini selain supaya emaknya punya lebih banyak me time, pasti ada plus minusnya tapi untuk saat ini buat kami lebih banyak plusnya daripada minusnya. Apalagi sekolahnya sekarang termasuk santai sebenarnya karena sedikit mengadopsi sistem Montessori yang lebih banyak mengajarkan lifeskill daripada mengejar-ngejar untuk bisa calistung. Di sekolah juga Keenan belajar untuk lebih percaya diri karena sering ada performance kelas yang disaksikan orangtua. Juga di sekolah ini ada playground yang cukup luas dan sand box untuk anak-anak bermain.

Tapi, tahun depan karena berbagai macam alasan Keenan sepertinya nggak akan lanjut di sekolah ini dan kami sedang mencari sekolah lain yang sama atau bahkan lebih baik dari sekolahnya sekarang dan bisa menerima kondisi Keenan serta membantu kami mendidik Keenan menjadi lebih baik. Doakan yaaa. 

MPASI Keenan

Mulai tanggal 5 September 2013 kemarin, masa ASI Eksklusif Keenan berakhir sudah. Di usianya yang genap 6 bulan, Keenan mulai berkenalan dengan makanan pendamping ASI. Alhamdulillah, selama 10 hari ini semuanya masih lancar dalam arti Keenan semangat sekali mencoba makanan baru.

Nggak cuma itu, si kakak Cinta juga ikut heboh nyemangatin adiknya makan. Bahkan sering ngingetin mamanya untuk menyiapkan bubur saat waktu makan Keenan tiba. Cinta juga suka ingin bantu nyuapin adik.

3 hari pertama, menu mpasinya adalah bubur dari tepung beras merah Gasol. Sengaja pilih serealia karena menurut berbagai referensi termasuk bidan di klinik tempat biasa Keenan kontrol tumbuh kembang tiap bulan, beras sebagai makanan pokok kita paling jarang menimbulkan reaksi alergi. Karena perut Keenan agak sensitif berusaha untuk pilih makanan yang seaman mungkin. Beras merah juga mengandung zat besi yang dibutuhkan bayi. Kenapa Gasol? Ya biar praktis aja nggak perlu bikin tepung beras sendiri hehehe.

Keenan lumayan doyan sih makan bubur beras merahnya. Di percobaan pertama dibuat seencer mungkin dan dari 2 sendok makan bubur dia bisa habis 3/4 porsi. Hari kedua dan ketiga tekstur bubur mulai dibuat lebih kental. Tetap lahap meski porsi makannya berkurang. Nggak apa-apa, namanya baru kenalan sama tekstur baru ya.

Selama 3 hari ngasih mpasi nggak ada tanda-tanda alergi seperti diare, bentol-bentol, sesak nafas, sembelit, dll. Hari berikutnya coba tambah menu baru dan sayur yang dipilih adalah brokoli. Nah, si Keenan juga suka menu ini. Porsi makannya sudah lebih banyak, dari 3 sendok makan bubur beras merah + puree brokoli bisa habis 1/2 sampai 3/4 porsi. Juga nggak ada reaksi alergi. Semua oke sampai di hari kelima baca panduan di buku MPASI Perdana Cihuy! yang menyebutkan kalau pemberian brokoli sebaiknya di usia 8 bulan *tepokjidat*. Aaaak, kenapa bisa lupa sik!

Di hari ke-7, mulai nyoba buah-buahan. Pir adalah pilihan pertama karena paling gampang didapat. Tinggal koprol ke supermarket bawah aja. Sayang Keenan nggak doyan. Mungkin karena teksturnya yang lebih kasar meski sudah dibuat agak encer. Malamnya abis mandiin Keenan, tiba-tiba lihat bintik-bintik merah di pipinya dan berasumsi itu muncul setelah makan pir sore sebelumnya. Akhirnya diputuskan untuk putus hubungan sama pir sampai bulan depan. Dan benar aja, setelah nggak makan pir, bintik-bintik merahnya hilang.

Makan brokoli salah, pir alergi. Balik lagi ke karbohidrat aja deh. Kali ini nyoba oatmeal. Pakai quaker oat yang quick cooking, disaring dan diencerkan sedikit. Keenan suka banget. Paling lahap deh makannya pakai menu ini. Tapi lantas perutnya kembung. Curiga antara nggak cocok sama tekstur oatmeal yang masih terlalu kental atau karena saya kebanyakan makan KitKat Bites di hari yang sama. Kasian banget jadi nggak nyenyak tidurnya semalaman.

http://youtu.be/fyWN0LvubjY

Hari ini coba lagi makan oatmeal tapi lebih encer dari kemarin. Saya juga berhenti makan coklat. Alhamdulillah makan tetap semangat dan kembungnya berkurang. Di hari ke-10 ini juga Keenan mulai mau minum air putih lebih dari 3 sendok bayi. Dia pun mulai makan 2 kali sehari.

Terima kasih sudah mau sama-sama belajar makan, Keenan. Semoga tetap semangat mencoba menu-menu baru selanjutnya!

Cloth Diaper Week, Day 3: Zigie Zag

Akhirnya hari ini memberanikan diri memakaikan clodi ke Keenan untuk pergi keluar rumah. Meski cuma mengantar suami ke kantor dan Cinta ke sekolah, jaraknya cukup jauh. Selama 1,5 jam perjalanan, kira-kira 45 km lah total jarak yang kami lalui pergi dan pulang.

 zigie zag

Sebagai percobaan pertama saya pilih clodi Zigie Zag hadiah kuis dari @milispopokkain beberapa waktu lalu karena bahan outernya yang waterproof. Pertama kali pegang popok nampaknya besar dan terbayang akan bulky saat dipakai. Tapi ternyata enggak lho. Meski cuttingnya besar, Zigie Zag cukup tipis sehingga nggak kebesaran waktu dipakai. Cuma ya memang kelihatan sedikit mengkangkang gitu lah kaki si bayi. Daya serapnya juga cukup bagus. Biasanya sih baru bocor setelah minimal 2 jam dan selama ini nggak pernah mengalami bocor samping karena ada leg gussetnya.

zigie zag

zigie zag

Untuk jaga-jaga, pagi tadi saya meletakkan alas ompol di atas carseat. Tapi ternyata aman sampai kami kembali ke rumah. Popok baru basah setelah lebih dari 3 jam pemakaian. Selama pemakaian Keenan juga nyaman. Nggak merasa panas.

Sayang di antara kelebihannya itu saya pribadi kurang suka karena pesing. Entah ya, mungkin karena sudah terlalu lama pakainya atau karena pipisnya terlalu banyak. Insertnya yang terbuat dari juga agak kaku dan meleot setelah beberapa kali cuci. Memang sih nyucinya pakai mesin cuci tapi sudah dimasukkan dalam laundry net. Apa faktor pencucian yang hanya menggunakan laundry deterjennya Pigeon dan bukan sabun khusus untuk clodi ya?

Oya, karena clodi ini hadiah dan saat saya cari spesifikasi motif yang seperti punya saya nggak ada, daripada salah info kalau ada yang ingin tahu lebih jelas tentang Zigie Zag cloth diaper silakan langsung ke web Zigie Zag aja ya.

Hari ini si kecil pakai clodi apa, Moms?

Cloth Diaper Week, Day 2: Cluebebe Coveria Petite

Di hari kedua Cloth Diaper Week, saya memakaikan Keenan popok kain modern dari Cluebebe. Kalau kemarin modelnya pocket diaper, kali ini pakai yang diaper cover. Popok kain jenis ini lebih cocok sebenarnya untuk orangtua yang punya newborn yang masih sering pipis dan pup karena cukup mengganti innernya saat basah atau kotor selama lapisan luarnya nggak kotor. Tapi sebaiknya sih waktu ganti inner, covernya dilap juga lalu diangin-angin sebentar untuk kemudian dipakai lagi.

CDW Day 2: Cluebebe coveria petite

Salah satu hal yang saya suka dari Cluebebe Coveria Petite ini adalah ukurannya yang kecil sehingga saat dipakai nggak bulky. Selain itu covernya yang terbuat dari true waterproof Polyurethane Laminate (PUL) dan bersifat breathable bikin kulit bayi tetap kering dan sejuk. Bahan PUL ini juga lentur sekali serta cepat kering saat dicuci. Sedangkan stay dry insertnya tahan dipakai sampai sekitar 2-3 jam. Dalam meresensi popok kain modern saya memang menggunakan patokan jam karena nggak tahu berapa kali anak bayi pipis sampai clodinya terasa lembab. Pokoknya saat Keenan sudah mulai gelisah dan merasa nggak nyaman ya saya ganti popoknya.

Hari ini adalah kali kesekian saya memakaikan Cluebebe Coveria Petite pada Keenan. Selama ini masih suka bocor samping meski outer sudah menggunakan leg gusset atau jahitan kerut di daerah paha yang berfungsi menjaga lingkar paha tertutup sempurna untuk mencegah kebocoran samping. Mungkin karena kurang pas saat memakaikan atau bisa juga karena insertnya sudah jenuh sehingga nggak bisa lagi menyerap pipis. Insert bawaan dari Cluebebe coveria petite ini dibuat dari 3 lapis microfiber yang dijahit menyatu dengan 1 helai microfleece (stay dry soaker pad) dan dilengkapi kancing supaya nggak mudah bergeser. Tapi kalau mau bisa juga digunakan dengan insert merek lain atau alas ompol yang dilipat-lipat sehingga lebih ekonomis.

cluebebecluebebe

Tapi pagi tadi alhamdulillah lancar. Nggak bocor samping dan selama 2,5 jam pemakaian baik cover bagian luar nggak basah serta microfleece tetap kering. Keenan pun tetap nyaman dalam wrapnya, nggak risih atau kepanasan. Namun, karena harus jemput kakaknya sekolah clodinya saya ganti dengan pospak. Maklum belum pede pakai clodi untuk pergi-pergi, secara harus nyetir sendiri dan nggak punya asisten untuk bantuin Keenan kalau harus ganti popok di jalan. Juga khawatir popoknya bocor lalu membasahi carseat.

Ternyata setelah clodi dibuka baru ketahuan kalau lapisan microfiber dan bagian dalam cover sudah basah kuyup hehehe. Mungkin itu ya untungnya mengganti popok minimal 3 jam sekali, anak jadi terhindar dari perasaan risih karena basah juga mengurangi resiko infeksi saluran kencing. Akhirnya jadi membandingkan deh kalau menerapkan sistem ganti tiap tiga jam saat pakai pospak, bisa sehari minimal 8 popok, sebulan 240 popok. Wheeew, selain sampahnya yang menggunung berapa pengeluaran kita sebulan ya, Moms.

Setelah cover dilap, saya jemur dan ditinggal pergi. Sedangkan innernya dikucek dan dimasukkan keranjang pakaian kotor untuk dicuci besok. Sore tadi cover yang sudah kering saya pakai lagi dengan menggunakan insert bamboo terry yang terdiri dari 1 layer serat bamboo alami + 3 layer microfiber terry produksi Pumpkins Baby Cloth Diaper. Dan aman sampai 3 jam lho. Insertnya nggak bergeser karena bayi 2 bulan 4 minggu juga belum terlalu banyak gerak ya. Tapi mau tidur tadi saya ganti lagi dengan pospak. Yah, lumayan hari ini saya mengurangi 2 sampah pospak. Semoga besok bisa lebih banyak lagi.

Bagaimana pengalaman berclodi ria hari ini, Moms?

Cloth Diaper Week, Day 1: GG Original Clodi

Dalam rangka Cloth Diaper Weeknya milis popokkain, saya ikutan nyoba memakaikan 1 popok kain modern atau yang bahasa kerennya clodi (cloth diaper) selama seminggu. Sebenarnya sebelum ini pun sudah pernah dipakai tapi emak pemalas sibuk ini nggak punya waktu untuk mendokumentasikannya. Lagipula masih lebih sering pakai pospak alias popok sekali pakai daripada si clodi karena lebih praktis hehehe.

Minggu-minggu pertama usia Keenan, saya sempat rajin memakaikan clodi ini tapi lama-lama nggak kuat juga bolak-balik ganti dan nyuci popok karena pipis dan pupnya masih sering sekali. Sehingga Keenan tidurnya kurang akibat risih dengan popok basahnya. Yang lucu, seringkali popoknya kering tapi baju dan alas tidurnya basah kena air kencing. Nha lho, keluar lewat mana coba airnya. Akhirnya kembali deh pakai pospak.

Berhubung sekarang umurnya sudah 2 bulan, pipis dan pupnya pun sudah nggak terlalu sering meski termasuk heavy weter, saya kepingin mulai rutin pake clodi secara harga pospak lama-lama terasa juga menggerogoti uang belanja. Eh, kebetulan milis popokkain bikin acara CDW, ya udah biar semangat ikutan sekalian deh diposting di blog pengalaman sekaligus review pakai clodi selama 1 minggu ini. Mommies yang punya cerita tentang merek yang sama, boleh lho berbagi di kolom komentar.

CDW Day 1

Nah, untuk hari pertama saya memakaikan Keenan GG Clodi Original. Clodi ini merek lokal dan hampir semua clodi yang saya punya buatan dalam negeri. Sengaja milih itu karena bugdet nggak cukup untuk beli clodi import untuk menghargai hasil karya anak bangsa sekaligus memperpendek jejak karbon, sesuai tujuan memakai popok kain yaitu Go Green.

Kembali ke GG, clodi berbentuk pocket diaper ini termasuk favorit saya karena daya serapnya bagus dan nggak bulky. Keenan juga nyaman pakainya karena lapisan dalam yang bersifat stay dry bisa tetap kering selama 3 jam meski dia sering pipis dan terasa lembab di bagian luar clodi. Awalnya saya kira pasti sudah basah semua nih tapi ternyata enggak, cuma di bagian belakang insert yang terbuat dari microfiber. Menurut produsennya sih GG tipe ini bisa menampung sampai 220 ml cairan. Dan lapisan dalamnya lembut serta mudah dibersihkan. Pengalaman pakai ini waktu Keenan pup sih tinggal semprot kotorannya ke dalam kloset trus dikucek sedikit sudah hilang tak berbekas.

Ukuran GG yang nggak terlalu besar karena diperuntukkan bayi dengan berat kurang dari 15kg; memiliki lingkar perut maksimal 55cm serta lingkar paha lebih kecil dari 32cm, pas banget untuk si Keenan yang termasuk mungil. Dan selama beberapa kali pakai ini belum pernah mengalami bocor samping seperti yang saya singgung sebelumnya.

Agak nyesel juga sih cuma beli satu karena pengalaman pakai diaper cover Lil G dari produsen yang sama agak kurang memuaskan. Tapi GG pocket diaper ini lumayan banget deh buat bayi kecil mulai usia newborn. Apalagi harganya nggak bikin kantong bolong hehehe. Kalau sudah memutuskan untuk pakai popok kain modern sepenuhnya, mungkin akan memperbanyak koleksi si GG original clodi.

Hmmm… Besok pakai clodi yang mana ya?