Browsing Tag:

daily life

  • Life as Mom

    Daur Ulang Masakan

    Sebagai ibu yang merangkap koki atau minimal mengatur soal makanan di rumah, lumayan sering saya mendapati makanan yang tidak dapat dihabiskan dalam sekali makan atau dalam satu hari. Biasanya sih karena yang dimasakin (atau dibelikan) makanan enggak terlalu selera dengan menu yang tersedia atau lagi kepingin jajan di luar padahal sudah terlanjur masak atau karena masak terlalu banyak.

    Mengatasi masalah ini gampang-gampang susah sih karena mau dibuang sayang. Jujur aja kalau sudah capek masak terus terpaksa harus buang sisa makanan itu sakitnya di sini *tunjuk dada dan dompet*. Dulu waktu masih tinggal di rumah mama sih enggak pernah merasa seperti itu. Nggak doyan makan ya minta dibuatin embak menu lain, udah terlanjur ambil lauk banyak ternyata rasanya enggak cocok ya sisanya taruh aja di piring untuk diberesin bibik. Gitu deh. Baru setelah punya rumah sendiri, ngatur duit belanja sendiri, masak sendiri terasa banget sedihnya, lihat hasil jerih payah masak dan cari duit terbuang sia-sia gitu.

    Sekarang biasanya masakan yang tersisa saya masukkan dalam wadah kedap udara lalu disimpan di kulkas untuk dimakan lagi besok atau besoknya lagi. Cuma seringkali anak-anak enggak mau lagi makan makanan yang sama dengan hari sebelumnya. Apalagi kalau sebenarnya mereka enggak terlalu doyan.

    Tantangannya di situ deh, gimana caranya supaya masakan yang tersisa ini bisa diolah lagi jadi sesuatu yang baru yang lebih cocok di lidah keluarga. Sebenarnya ini sudah biasa kita lakukan ya. Seperti sisa nasi hari ini, besoknya bisa kita tambahin bumbu, kasih telur, suwiran ayam atau sosis, jadi deh nasi goreng. Dan olahan nasi ini memang paling gampang sebenarnya. Selain nasi goreng, bisa juga dibuat frittata nasi dan bitterballen nasi. Selain lebih enak, biasanya anak-anak juga lebih semangat makannya. Apalagi kalau dikasih keju, susu, trus dalamnya diisi sayur yang sudah dicincang. Jadi deh one dish meal atau camilan yang bergizi.

    Yang juga lumayan sering dipraktikkan adalah daging ayam atau sapi sisa semur atau kari semalam setelah kuahnya dibuang bisa digoreng untuk disantap keesokan paginya. Bumbu dari kuah semur dan kari yang sudah meresap ke ayam atau daging bikin rasanya makin mantap. Atau suwiran ayam yang masih banyak dari sisa Soto bisa ditumis bersama sambal balado dan potongan kentang yang sudah digoreng. Jadi deh suwir ayam balado hihihi.  Dimakan pakai nasi hangat plus tumisan sayur bisa jadi menu sarapan yang praktis dan cepat.

    Pernah juga nih mencoba isi sup dijadikan isi makaroni schottel seperti yang pernah diajarin mamakokihandal yang kemudian menginspirasi saya untuk memanfaatkan sisa spageti dan saus bolognese yang belum tercampur menjadi spageti panggang. Itu yah, si Keenan bisa habis 3 potong sendiri sekali makan, sedangkan Cinta dengan hepinya bilang, “You make the most delicious spaghetti pizza, ever‘” Ihiiiiy. Padahal mah, resepnya gampang banget. Cuma bawang bombay ditumis lalu dicampur dengan saus bolognese, susu, telur, keju dan spageti sampai kental, dan kemudian dipanggang di rice cooker!

    Spageti Panggang Favorit Bocah

    Sisa saus bolognese ini juga sering saya makan bersama roti diisi keju, lettuce dan telur mata sapi untuk brunch atau makan siang. Asli kenyang dan enak. Konon makan telur mata sapi saat sarapan bisa bikin kita kenyang lebih lama. Nah, apalagi ditambah roti ya. Alhamdulillah.

    Sayangnya enggak semua hasil daur ulang ini sukses sih. Seperti kemarin saya bikin puding ubi ungu, memanfaatkan ubi ungu kukus yang jadi camilan di hari Minggu, ternyata cuma saya yang doyan. Padahal enak lho, teksturnya  spongy seperti cake lembut gitu. Cuma mungkin anak-anak saya enggak biasa makan puding seperti itu. Jadi ya terpaksa masak-masak sendiri, makan-makan sendiri, eh berdua ding sama suami tapi tetap porsi saya yang paling banyak *sembunyiin timbangan*.

    Puding Ubi Kukus dan Vla Vanila

    Sedihnya, enggak semua bahan bisa didaur ulang, seperti bayam. Kalau enggak habis ya terpaksa dibuang. Itupun setelah enggak sanggup lagi menghabiskan sendirian. Maklum orang rumah enggak terlalu doyan bayam, apalagi kalau dibuat sayur bening. Padahal saya suka sekali. Hujan-hujan makan sayur bening dengan nasi hangat dan perkedel jagung plus sambal terasi dan kerupuk. Nikmatnyoooo…

    Nah, PR saya sekarang adalah sisa ubi kukus dan pancake dari sarapan hari Minggu kemarin. Si ubi sih sudah ada rencana untuk diolah jadi cake marmer ubi kukus untuk potluck rapat Indonesian Bazaar besok dengan catatan enggak malas, karena seperti biasa tiap hari Selasa seperti sekarang dari siang sampai sore mondar-mandir antar jemput si Kakak sekolah dan tuition.

    Didaur ulang jadi apa ya pancake ini?

    Tapi pancake ini nih masih belum ada bayangan mau diapain. Sudah berusaha cari sontekan di google, sayang belum ada yang pas di hati. Sekarang sih masih tersimpan manis di freezer. Mungkin teman-teman bisa kasih ide?

  • Parenting

    Gimana Gaya Salimmu?

    Gegara grup yang lagi hits itu, beberapa hari ini hobi banget mantengin Facebook sambil senyum-senyum sendiri mengenang kegokilan masa lalu. Rasanya tumbuh besar di tahun 80-90an itu seru dan menyenangkan sekali.

    Nah, kemarin ada postingan yang bikin saya tergelitik untuk komen panjang dan serius. Padahal biasanya sih komen haha hihi aja. Isi postingannya tentang cara cium tangan atau biasa disebut salim anak dulu (generasi saya) dan anak sekarang (usia 15 tahun ke bawah). Nggak cuma soal perbedaan cara tapi juga caption dan komen-komen yang menyebutkan bahwa cara salim anak sekarang kelihatan nggak sopan. Seperti apa sih? Ini dia

    Perbedaan cara salim anak jaman dulu (kiri) dan anak jaman sekarang (kanan)

    Kebetulan saya bukan penggemar fanatik budaya salim ini. Buat saya pribadi cium tangan hanya dilakukan kepada orang-orang yang saya kenal dekat dan hormati, seperti kakek, nenek, ayah, ibu, bude, tante, mertua dan suami. Oh iya, plus guru sekolah jaman kecil dulu. Begitu juga akhirnya saya mengajarkan ke anak-anak saya. Mereka cuma wajib salim ke orang-orang tersebut. Kalau ke teman-teman saya atau suami ya terserah anak-anak aja, mau salim (biasanya karena yang tua yang menyodorkan tangan terlebih dahulu) silakan, nggak juga nggak apa-apa.

    Cara cium tangan mereka setelah saya perhatikan adalah dengan menempelkan ujung hidung ke tangan. Malah Keenan si 18 bulan mencium tangan dengan bibirnya dan berbunyi, “Muaaah.” Tapi saya sendiri lebih suka kalau anak-anak menempelkan keningnya ke tangan yang diajak salim. Bukan apa-apa, masalah higienitas saja. Kalau ke saya atau suami sih biasanya salim hanya saat akan berpamitan berangkat sekolah atau pergi dan dalam kondisi tangan saya atau suami bersih. Tapi kalau orang lain kan kita nggak tahu apakah dia sedang sehat atau sakit, habis pegang sesuatu yang kotor atau bau dan belum cuci tangan. Bayangkan kalau bakteri dan virus-virus yang ada di tangan itu langsung masuk ke saluran pernafasan dan menyebabkan sakit. Belum lagi kalau yang tangannya dicium habis ngerokok atau pegang rokok, eaaaa baunya itu lho hehehe.

    Saya sendiri nggak pernah mewajibkan anak orang untuk salim ke saya, meski keponakan sendiri. Kecuali kalau lagi iseng pengen godain. Kalau ada yang minta salim dan sadar tangan saya nggak bersih juga biasanya saya tolak. Kasian jeh, anak orang kalau sakit nanti emaknya yang repot kan, bukan saya.

    Tapi, saya tetap senang lihat anak yang salim dengan cara mencium takzim tangan orang yang dijabatnya. Apalagi kalau masih kecil, lucu aja gitu kecil-kecil bisa salim. Cuma, buat saya itu bukan tolak ukur kesopanan seseorang. Nggak ada hubungannya malah. Banyak kok yang cium tangan dengan sikap sempurna tapi nggak mau antri atau nggak mau kasih tempat duduk di kendaraan umum atau ngomongnya kasar ke orang lain atau ngebego-begoin orang di sosial media. Sementara yang nggak terbiasa salim malah lebih santun.

    Jadi janganlah soal cium tangan ini dijadikan alasan untuk menghakimi anak itu sopan atau enggak. Apalagi lantas menganggap sebuah generasi lebih baik dari generasi lain. Ini hanya soal pilihan dan selalu ada alasan di baliknya. Hargai saja.

    Kalau kamu, gimana gaya salimmu?

    *Foto diambil dari grup FB Hits From The 80s & 90s

  • Life in Brunei

    Good People Around Me

    Lelaki setengah baya itu asik bercerita tentang anak-anaknya sambil sesekali bertanya tentang kami, tamunya. Sementara sang istri sibuk menawarkan teh dan kue kering yang tak lama kemudian dicomot Cinta satu persatu. Dalam ruang tamu yang besar dan nyaman, kami pun tenggelam dalam percakapan yang menyenangkan. Sejenak mengingatkan saya pada kedua mertua yang berada di seberang lautan.

    Pertama kali bertegur sapa dengan bapak ini di sekolah Cinta, pikiran saya langsung tertuju kepada yangkungnya Cinta. Perawakan, keramahan dan keaktifan beliau di usia senjanya mirip sekali dengan mertua.

    Suatu kali beliau bertanya dari mana saya berasal, pertanyaan yang wajar karena memang banyak pendatang dari negara lain di Brunei ini. Awalnya beliau mengira saya orang Filipina, entahlah mungkin karena saya tidak mengenakan kerudung seperti layaknya kebanyakan orang Indonesia yang tinggal di Brunei atau karena saya berkomunikasi dengan bahasa Inggris.

    Dalam sebuah percakapan sambil lalu saya bercerita sedang mencari rumah di daerah dekat sekolah Cinta supaya tidak terlalu lama menghabiskan waktu di jalan untuk antar jemput. Rupanya beliau ingat hal itu dan suatu hari saat nggak sengaja jumpa di parkiran apartemen, ia langsung mengundang kami ke rumahnya untuk melihat salah satu rumah tetangganya yang disewakan.

    Meski pada akhirnya rumah itu belum jadi jodoh kami, senang sekali rasanya bisa ketemu dengan orang seramah dan sebaik itu di negeri orang. Selain beliau, banyak sekali orang-orang baik yang saya temui selama merantau hampir setahun ini. Mulai dari mbak-mbak kasir supermarket dan pelayan resto di bawah apartemen yang sayang sekali sama Cinta sampai guru Cinta di sekolah. Kepeduliannya sangat membantu Cinta beradaptasi di awal tahun pelajaran dan saat dia sedang mengalami masa-masa sulit karena mau punya adik. Bahkan saking baiknya, Cinta sampai bercita-cita jadi guru seperti Teacher Yee.

    Nggak cuma itu, sejak merantau ke Jakarta 2 tahun lalu saya selalu beruntung mendapatkan tetangga yang baik dan peduli satu sama lain. Di Brunei pun, kami bertetangga dengan keluarga dari Jepang yang kebetulan anaknya bersekolah di tempat yang sama dengan Cinta, satu kelas lagi. Tetangga kami itu sering sekali membantu saya menjaga Cinta atau menjemput dia di sekolah sekalian jemput anaknya saat saya berhalangan. Nggak jarang juga tiba-tiba saya dapat bingkisan buah atau kue. Sampai sering merasa nggak enak saking baiknya mereka. I’m so lucky to have them as my neighbour.

    Yah, memang benar ya kalau rejeki itu nggak selalu berupa limpahan uang atau barang. Kehadiran orang-orang baik di sekitar kita pun harus disyukuri. Sekaligus jadi pengingat untuk berbuat hal yang sama ke orang lain, ya kalaupun belum bisa menolong minimal nggak berbuat jahat atau sombong ke tetangga.

    So, adakah pengalaman berkesan dengan orang-orang di sekitarmu yang patut disyukuri?

  • Life in Brunei

    Mendadak Opname

    Seminggu yang lalu, sepulang jemput Cinta sekolah seperti biasa saya menyiapkan makan siang untuk kami berdua. Karena sedang malas makan dan Cinta juga mengaku masih kenyang, saya hanya bikin roti isi tuna dan telur dan banana split untuk Cinta. Setelah semua siap, saya ajak Cinta membersihkan tangan dan bersiap-siap untuk makan.

    Sambil menunggu Cinta selesai makan, saya pun membersihkan diri dan tiba-tiba menyadari ada sedikit flek. Saya langsung teringat pesan dokter yang meminta untuk segera ke rumah sakit jika terjadi perdarahan meskipun hanya sedikit. Secepat mungkin saya mengabari suami. Ia pun menawarkan diri untuk menemani ke rumah sakit. Tapi kemudian saya berubah pikiran dan memilih untuk pergi ke Pusat Kesihatan Sg. Liang tempat saya biasa periksa kandungan yang berada di dekat rumah.

    Sampai di sana, suster Mother and Child Health Centre langsung menyuruh saya bertemu dengan outpatient doctor di lantai atas. Setelah dicatat segala keluhan, dokter meminta saya kembali ke MCH bertemu dokter kandungan di klinik bawah. Begitu ketemu dokter obgyn langsung aja dia mengomeli saya karena seperti yang saya sebut di atas, dia sudah wanti-wanti supaya saya langsung ke rumah sakit jika terjadi sesuatu. Dia sudah memprediksi hal ini karena letak plasenta bayi yang ada di bawah (low lying placenta). Dokter pun kemudian memberi rujukan supaya saya dirawat di rumah sakit Suri Seri Begawan yang terletak di Kuala Belait dan dibawa ke sana dengan ambulan sesuai prosedur klinik. Huaaa, heboh banget deh rasanya.

    Alhamdulillah selama proses mondar-mandir di klinik itu, Cinta bisa diajak bekerja sama. Dia tahu bahwa mama dan babycinno sedang kurang sehat. Bahkan dia menyibukkan dirinya sendiri dengan melipat-lipat brosur kesehatan yang tersedia di klinik. Cinta juga semangat sekali begitu tahu saya mau dibawa dengan ambulan, sehingga waktu suami datang dan menawarkan Cinta untuk ikut mobilnya dia menolak.

    Jadilah sepanjang perjalanan ke rumah sakit itu Cinta menemani saya di ambulan sambil asik mengamati peralatan di dalamnya dan berceloteh menikmati pengalaman berada di dalam mobil besar itu. Sesampainya di rumah sakit, saya langsung diobservasi oleh suster dan diminta untuk menjalani rawat inap sesuai dengan peraturan kesehatan di Brunei.

    Lucu juga lah pengalaman menginap di rumah sakit Suri Seri Begawan ini. Kamar yang tersedia terdiri dari 4 tempat tidur, 1 toilet dan 1 kamar mandi di dalam. Jarak antara 1 tempat tidur dengan yang lain cukup lapang dan hari itu hanya ada 1 pasien lagi selain saya. Suster sempat menawarkan kamar first class saat menerangkan fasilitas-fasilitas yang akan saya dapatkan di kamar tersebut. Tapi kemudian dia menambahkan bahwa kamar yang biasa pun sudah cukup karena tidak banyak perbedaaannya dengan kamar kelas 1. Akhirnya sesuai saran suster kami pun memilih kamar biasa.

    Benar saja, kamar tersebut cukup nyaman selain itu karena pasien nggak boleh ditungguin dan hanya bisa dijenguk saat jam besuk, kami pun bisa beristirahat dengan tenang. Selama perawatan suster melakukan observasi dengan CTG, memberikan obat, mengukur suhu badan, mengambil contoh darah dan urine setiap beberapa jam. Lampu kamar dimatikan jam 10 malam sehingga suasana benar-benar sepi. Alhamdulillah lho ambil kamar yang biasa dan ada temennya, daripada di first class cuma sendirian malah bisa nggak tidur karena takut hehehe.

    Jam 5.30 pagi sudah dibangunin untuk cek tensi, suntik dosis kedua dexamethasone, CTG dan minum susu. Suntikan tersebut diperlukan untuk menguatkan paru-paru si bayi karena dengan kondisi low lying placenta dan riwayat perdarahan seperti ini, dikhawatirkan ada kemungkinan babycinno lahir lebih awal.

    Karena babycinno sudah bangun dari jam 4 pagi, waktu di CTG dia tidur lagi sehingga hasilnya kurang bagus sampai disuruh duduk, miring ke kanan kiri, makan coklat supaya si bayi bangun. Setelah hampir 1 jam CTG, hasil grafiknya mulai membaik sehingga waktu dokter visite sudah diperbolehkan pulang hari itu juga. Horeeeee…

    Sayang karena waktu masuk hari Kamis kemarin kita belum masukin deposit akibat bagian keuangan sudah tutup dan di hari Jumat instansi pemerintahan libur termasuk bagian administrasi rumah sakit, suster pun belum berani memulangkan saya. Tapi setelah berunding kami memutuskan untuk meninggalkan uang sejumlah B$ 200 yang diminta suster sebagai deposit dan settlementnya diambil hari Sabtu. Yah, daripada nginep sehari lagi di rumah sakit kan ya, seenak-enaknya juga tetap lebih enak di rumah.

    Untungnya selama saya di rumah sakit suami sigap banget mengurus Cinta dan rumah, malah waktu whatsappan sekitar jam 10 malam dia baru selesai bebersih rumah sementara Cinta sudah tidur karena kelelahan mondar-mandir rumah – klinik – rumah sakit – rumah – rumah sakit – rumah dan sesorean menangis karena membayangkan malam itu nggak tidur sama mamanya. Saya jadi tenang malam itu meninggalkan Cinta di rumah saja sama papanya.

    Alhamdulillah dari hasil observasi semuanya oke, nggak ada hal yang perlu dikhawatirkan. Flek diakibatkan oleh vaginal discharge aja bukan karena gesekan plasenta. Tapi tetap diminta untuk lebih banyak istirahat di rumah, banyak makan dan minum air putih karena hemoglobin rendah. Dan yang bikin seneng, setelah terima settlement tagihan rumah sakit ternyata habisnya cuma B$ 20, sodara-sodara, kira-kira sekitar Rp 150,000. Murah banget kan ya. Cuma dihitung biaya kamar yang sudah termasuk tindakan suster dan dokter. Sedangkan tes darah, pap smear, USG, obat, ambulan, semua nggak dihitung. Sampai susternya bilang, “You’re very lucky.” Alhamdulillah lagiiiii…

    Sayang dokter rumah sakit nggak ngasih tahu apakah letak plasenta masih di bawah atau sudah pindah, sehingga waktu kontrol ke obgyn di klinik hari Selasa kemarin dia nggak bisa memastikan apakah saya bisa melahirkan normal atau harus caesar. Malah jadwal USG berikutnya yang seharusnya di minggu ke-36 diundur ke minggu 38. Yah, moga-moga nggak keburu lahir aja deh babycinno.

    Jujur sempat kecewa dengan kurang informatifnya dokter-dokter ini, karena keterbatasan informasi bikin saya kepikiran lagi. Harapannya sih sekarang kan sudah trimester ketiga, mbok ya segera dipastikan dan direncanakan proses lahiran yang aman. Kalau memang harus caesar ya nggak apa-apa tapi setidaknya ada kepastian gitu, bukannya nunggu nggak jelas gini. Sebagai orang yang terbiasa well prepared situasi seperti ini bikin stres. Tapi ya sudahlah, memang keadaannya harus begini, there’s nothing I can do. Mau pindah dokter atau minta second opinion di dokter obgyn yang praktik swasta kok ya selain jauh (cuma ada di Jerudong) toh nantinya balik lagi periksa di klinik situ dan melahirkannya di rumah sakit itu.

    Moga-moga kita sehat terus ya babycinno, semuanya lancar sesuai dengan yang diharapkan. Can’t wait to see you in 7 weeks.

  • Life in Brunei, Parenting, Traveling

    Movie Playdate

    Saking seringnya liat trailer film Wreck It Ralph di Disney Channel, Cinta pengen banget nonton film besutan Disney ini. “Seru lho Ma, lucu,” katanya. Saya sih jujur aja ragu Cinta mau nonton film seperti ini karena bukan kesukaannya. Wong Toy Story series, Brave sama TinkerBell and The Great Fairy Rescue aja dia nggak suka. Sejauh ini, film bioskop yang bisa dia tonton sampai habis itu yang banyak lagu dan nari-narinya, macam Happy Feet 2 dan Madagascar 3.

    Tapi berhubung bolak-balik minta nonton, saya pikir dicoba aja deh daripada nganggur liburan di rumah ini. Dan setelah dijanjikan harinya, Cinta seneng sekali plus minta ijin untuk ajak teman sekolahnya yang juga tinggal satu apartemen sama kita, Xing Yuan. Begitu diiyakan, dia langsung bikin rencana, “Nanti aku dibelikan 2 popcorn ya, biar bisa makan sama XingYuan sambil nonton pakai 3D glasses. Trus abis itu makan di tempat bowling. Aku pengen spaghetti carbonara. It would be fun, mama.” Okesip kakaaaaaak.

    Pas hari H, mungkin karena nggak sabar atau ngantuk sebelum berangkat Cinta agak rewel. Dia berantem terus sama temannya. Bahkan di perjalanan pun beberapa kali nanya, “Can I sleep first in the car?” Sementara si teman sibuk nyanyi-nyanyi menghibur dirinya sendiri.

    Photobucket

    Sayangnya, begitu sampai di bioskop dan film dimulai, Cinta tegang. Belum ada separuh cerita udah sibuk bilang, “I don’t like this movie“, “I don’t want to watch this“, “Can I hug you, Mama?” “I want to get out” endebre endebre. Sedangkan XingYuan masih asik nonton sambil makan popcorn. Si mama yang lagi sensitif ini mulai kesal dan nyuekin dia sampai akhirnya pasrah duduk diem sambil ikut makan popcorn.

    Setelah 1 jam, pas lagi seru-serunya film, nengok ke kedua anak kecil itu sudah duduk lesu di kursinya masing-masing. Akhirnya diputuskan keluar dari bioskop dan lanjut makan siang. Baru deh mereka mulai tenang dan happy ngider di tempat bowling liat orang-orang main.

    Yah, ternyata memang ajak anak ke bioskop harus benar-benar pilih film yang mau ditonton ya. Kalau yang rating PG dan untuk tontonan keluarga belum tentu mereka suka, apalagi film dengan rating di atasnya, seperti Dark Night Rises, Skyfall, Breaking Dawn, dll. Pinjam istilahnya psikolog Ratih Ibrahim, film-film dengan rating PG-13, R, NC-17 cuma bikin trauma sampah kognitif pada anak-anak. Kok bisa, kan anak-anak belum ngerti apa yang dia tonton?

    Lha justru itu, fungsi kognitif anak belum matang betul untuk bisa mencerna dan paham apa yang mereka tonton. Apalagi kalau orang tua nggak berusaha menjelaskan dan mengarahkan pola pikir anak ke bagian-bagian positif dari tontonan itu. Jadi begitu liat adegan cium-ciuman, dar der dor dan berantem dengan suara keras bisa bikin trauma juga jadi sampah di kognisi mereka deh.

    Hmmm pelajaran juga pengalaman movie playdate sama anak-anak ini, harus hati-hati bawa anak ke bioskop. Yang buat kita bagus dan menghibur belum tentu bisa dinikmati anak. “You don’t know what garbage you inject to their mind,” kata mbak Ratih.

    Tapi jadi penasaran sama akhir ceritanya Wreck It Ralph nih. Apa dia beneran bisa diterima sebagai hero sama orang-orang di game Fix It Felix? Nggak sabar nunggu bisa download filmnya trus nonton sendiri deh pas Cinta tidur 😀

    Kalau anaknya suka nonton film apa, Moms di bioskop?

  • Daily Stories, Parenting

    Mengatasi Rasa Takut Pada Anak

    Question:

    mbak Nina, anak saya (5 thn) belakangan ini gampang takut & nangis. Liat tv yang menegangkan, ruangan gelap selalu lari. Kalau ditanya cuma bilang takut karena serem. Sebelumnya nggak ada kejadian traumatis di rumah. Kenapa ya kira-kira?

    @alfakurnia

    Answer:

    @AnnaSurtiNina

    Ada banyak kemungkinan. Kalau tidak ada kejadian besar, mungkin ada kejadian yang hanya dia yang tahu & berkesan banget. Mungkin juga dia sedang eksplorasi rasa takut or eksplorasi respon org terhadap dia, misalnya ingin tau apa aja yang dilakukan orang lain kalau dia tunjukkan takut. Bisa juga karena menikmati respon orang lain terhadap ketakutannya, misalnya tiap kali dia takut langsung dapat pelukan & Cinta suka pelukanmu yang penuh cinta 😛

    Coba lebih banyak masukkan pesan bahwa dia anak tangguh & berani. I love this way: sebelum tidur & sesaat setelah bangun bisikkan kata-kata ini, “Mama tau bahwa kamu adalah putri yang pemberani, I love you.” Setiap hari :). Beberapa bulan lagi arahkan keberanian supaya tidak berlebihan.

    Souce: tanya jawab dengan psikolog Anna Surti Nina melalui akun twitter @AnnaSurtiNina

  • Daily Stories, Parenting

    Membantu Anak Beradaptasi di Sekolah Baru

    Question:

    Anakku (5T) sudah 3 bulan ini adaptasi dengan lingkungan & bahasa baru. Dia pernah ngeluh nggak punya teman di sekolah and she looks happier at home than at school. Katanya kalo di rumah lebih menyenangkan.
    Dia di sekolah pernah dibully temen ceweknya & dijauhi. Sejak itu jadi galak banget, digoda sedikit sama teman marah padahal tadinya mereka main bareng dan dia sempat senang karena sudah punya teman. sekarang seperti ulang dari awal lagi proses adaptasi di kelas

    Gimana cara bantu dia ya mbak?

    @alfakurnia – 24 April 2012

    Answer:

    @AnnaSurtiNina

    Biasanya anak yg masih adaptasi dengan lingkungan bener-bener baru memang stres banget, cenderung nyari situasi aman. Syukurlah itu adalah rumah.

    Mau gak mau emang trus diperkenalkan dgn lingkungan & bahasa baru ini, dengan menyenangkan, supaya dia bisa adaptasi lebih baik

    Tentang temen-temennya, kasih tahu bahwa temen-temennya mungkin malu untuk mengajak dia berteman, misalnya karena bingung mau bicara apa, bukan tidak mau.

    Jadi ajarkan untuk banyak senyum di sekolah, supaya teman-teman mau mendekat & ajak dia bermain. Dorong anak untuk ikuti permainan teman

    Kalau ada komunitas menyenangkan yang bisa diikuti bersama anak, ikuti aja, biar dia belajar bergaul dengan senang.

    Untuk diperkenalkan budaya & bahasa baru itu bisa banyak-banyak jalan-jalan ke pasar tradisional di sana, ikut kegiatan-kegiatan masyarakat, dll

    Bantu carikan kegiatan-kegiatan masyarakat daerah yang banyak anak-anaknya & bantu dia utk ikut terlibat di sana. Lama-lama bisa adaptasi lebih ok

    Gak papa, lebih baik ulang lagi proses adaptasi daripada dipaksa tp nggak bagus hasilnya. Prinsipnya kayak terapi, yang masih kurang dikuasai perlu diulang belajarnya dengan benar. Ditemenin aja dalam proses adaptasi ulang ini, lebih banyak lagi kenalin temen lain.

    (Source: tanya jawab dengan psikolog Anna Surti Nina melalui akun twitternya @AnnaSurtiNina)

  • Life in Brunei

    My Heartwarming Moment

    Terbangun di dini hari dengan perasaan tak nyaman, lalu mendapati dua orang yang sangat berarti ini tidur dengan lelapnya. Begitu damai, begitu besar rasa syukur akan kehadiran mereka. Couldn’t ask for more.

  • Relationship

    Walk A Mile in His Shoes

    Saat hosting akun twitter majalah parenting online tempat saya kerja dan menulis rangkumannya, saya merasa tersentil dengan saran-saran tentang mendukung karir suami. Banyak ibu yang berusaha melakukan hal terbaik untuk mendukung pasangannya dalam meraih karir. Di saat yang nyaris bersamaan, di FB saya muncul status-status bernada komplain dari beberapa teman karena suaminya terlalu sibuk bekerja sampai nyaris tak ada waktu untuk keluarga.

    Jujur saja, saya dulu pun termasuk yang suka ngomel kalau suami pulang malam, tiba-tiba disuruh bekerja di hari Sabtu atau dikirim ke proyek di luar kota bahkan luar negeri. Sementara saat itu saya sedang dalam keadaan hamil. Kesal karena harus periksa kehamilan dan senam hamil sendiri, sementara ibu-ibu lain tampak bahagia didampingi suaminya.

    Pun, waktu suami yang sudah ditempatkan di proyek Brunei tiba-tiba harus supervisi proyek di Cikarang selama 2 minggu, saya kesal setengah mati karena harusnya itu jatah liburnya. Bayangkan, sudahlah LDR, cuma ketemu 2 bulan sekali eee bukannya menghabiskan waktu sama keluarga malah disuruh kerja. Akhirnya saya minta dia pulang-pergi Parung – Cikarang dan ngomel setiap kali dia sampai rumah di atas jam 8 malam. Suami pun lama-lama kesal karena sudah capek-capek kerja, stres nyetir di tengah jalanan yang padat eh disambut dengan wajah cemberut instead of senyuman. Sampai akhirnya saya mencoba beberapa nasihat dari Mama dan teman-teman ini:

    walk a mile in his shoes

    Walk A Mile in His Shoes

    Kadang Tuhan bekerja dengan cara yang lucu untuk menyadarkan kita. Suatu hari ketika ke Bandung, kami melewati rute yang dilalui suami setiap harinya, Serpong – Cikarang, pp. Ternyata selain sangat jauh juga macet. Pulang pergi harus ditempuh dalam waktu 3 jam. Bisa lebih kalau macetnya parah. Sejak itu saya berusaha untuk mengurangi keluhan atas kesibukan suami. Berusaha memahami yang ia lalui setiap harinya untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

    Mencari Aktivitas Yang Menyenangkan

    Memang sih, rumah jadi terasa lebih menyenangkan kalau ada suami. Tapi toh nggak bisa juga terus-terusan menggantungkan kesenangan hanya pada satu orang bisa bikin kita (kitaaaa? iya iyaaa, saya maksudnya) mudah kecewa saat harapan tidak terpenuhi.

    Coba cari kesibukan deh. Bikin kue, gaul sama ibu-ibu di sekolah anak, main game online, membaca, aktif di komunitas online, ikut seminar ini itu atau menulis. Aktivitas-aktivitas inilah yang mencuri waktu saya, selain mengurus anak dan rumah tentunya (pencitraan, padahal semua itu dilakukan si mbak). Selain menyenangkan, ilmu dan teman pun bertambah. Malah akhirnya saya bisa menghasilkan uang tambahan dari kegiatan itu. Meski masih hobi “absen” suami dan menanyakan kapan ia pulang, setidaknya sudah tidak lagi jarang marah-marah setiap ia sampai rumah.

    Mencari Alternatif Solusi

    Kesal karena suami selalu bekerja rodi? Kantornya terlalu jauh? Coba minta suami mengurangi jam kerjanya atau dukung dia untuk mencari pekerjaan baru yang lebih baik. Kalau memungkinkan coba cari rumah yang dekat dengan kantor.

    Nggak mungkin? Mari berdoa supaya diberi tempat kerja yang lebih baik, lebih banyak waktu luang bersama keluarga. And it worked for me, lho. Alhamdulillah. Setelah 4 tahun sabar menjalani long distance marriage, kami bisa berkumpul, punya rumah yang dekat dengan kantor dengan jam kerja suami yang memungkinkan untuk makan siang bersama dan sampai rumah paling lambat pukul 6 sore.

    Berhenti Mengeluh di Sosial Media

    Percaya deh, mengeluh tentang suami yang terlalu sibuk bekerja di status facebook, berkali-kali, tidak akan menimbulkan simpati dari orang lain. Malah tidak mungkin orang lain akan menuduh kita kurang bersyukur. Belum lagi kalau dibaca teman bahkan atasan pasangan. Bisa-bisa malah ia jadi mendapat image negatif. Kesannya kita mau duitnya aja tapi nggak mau terima konsekuensi dari pekerjaannya.

    Kalau mau curhat, lebih baik cari sahabat yang bisa dipercaya, keluarga yang mau mendengarkan. Pilih yang bisa membuat kita lebih tenang.

    Komunikasi

    Last but not least, malah menurut saya yang paling penting nih, bicara baik-baik dengan suami dalam suasana yang tenang dan menyenangkan tentang kebutuhan kita akan kehadirannya bersama keluarga. Biasanya sih pasangan lebih mau mendengarkan saat hatinya senang dan tenang.

    Kalau dia pulang cepat bisa bilang, “Seneng deh Ayah jam segini sudah di rumah. Jadi lebih banyak waktu main sama bunda dan kakak. Eh, bisa nonton balapan juga lho Yah, itu di channel olahraga bentar lagi mulai.” daripada, “Ih, tumben amat jam segini sudah sampe rumah. Nggak salah nih, Yah? Kesambet jin mana?” Eaaaa, pulang telat salah, pulang cepat dituduh kesambet jin.

    Intinya, coba untuk mengurangi keluhan. Bagaimanapun juga pasangan bekerja toh untuk keluarga. Lebih bagus lagi kalau dia juga bekerja untuk kesenangannya sendiri. Kalau pasangan bahagia dalam pekerjaannya kan makin produktif dan karirnya jadi lebih bagus.

    Saya tidak bermaksud menggurui sih, sekedar berbagi cerita dan saran, karena saya tahu banyak yang senasib sama saya dulu, diduakan oleh kesibukan bekerja di kantor. Kalau nggak berkenan, maaf yaaaa… Boleh kok protes atau ikutan kasih saran. Saya tunggu 🙂