Karma Does Exist?

A: Kayanya aku harus makin rajin ngegym deh, pengen kurusan lagi nih. Apa muka bagian sini (tunjuk-tunjuk) dibotox aja sekalian gitu ya biar makin cantik dan disayang suami.

B: Emang kenapa? Lu takut suami lu nggak sayang trus cari bini lagi kalo lu nggak kurus dan nggak cantik? Rempong amat.

C: Ya iyalah dia takut. Punya suami juga dapet ngambil laki orang ini.

Pfffftttt…

overheard suatu pagi di sebuah salon kecantikan di Surabaya.

 People pay for what they do, and still more, for what they have allowed themselves to become. And they pay for it simply: by the lives they lead. 

Edith Wharton

Walk A Mile in His Shoes

Saat hosting akun twitter majalah parenting online tempat saya kerja dan menulis rangkumannya, saya merasa tersentil dengan saran-saran tentang mendukung karir suami. Banyak ibu yang berusaha melakukan hal terbaik untuk mendukung pasangannya dalam meraih karir. Di saat yang nyaris bersamaan, di FB saya muncul status-status bernada komplain dari beberapa teman karena suaminya terlalu sibuk bekerja sampai nyaris tak ada waktu untuk keluarga.

Jujur saja, saya dulu pun termasuk yang suka ngomel kalau suami pulang malam, tiba-tiba disuruh bekerja di hari Sabtu atau dikirim ke proyek di luar kota bahkan luar negeri. Sementara saat itu saya sedang dalam keadaan hamil. Kesal karena harus periksa kehamilan dan senam hamil sendiri, sementara ibu-ibu lain tampak bahagia didampingi suaminya.

Pun, waktu suami yang sudah ditempatkan di proyek Brunei tiba-tiba harus supervisi proyek di Cikarang selama 2 minggu, saya kesal setengah mati karena harusnya itu jatah liburnya. Bayangkan, sudahlah LDR, cuma ketemu 2 bulan sekali eee bukannya menghabiskan waktu sama keluarga malah disuruh kerja. Akhirnya saya minta dia pulang-pergi Parung – Cikarang dan ngomel setiap kali dia sampai rumah di atas jam 8 malam. Suami pun lama-lama kesal karena sudah capek-capek kerja, stres nyetir di tengah jalanan yang padat eh disambut dengan wajah cemberut instead of senyuman. Sampai akhirnya saya mencoba beberapa nasihat dari Mama dan teman-teman ini:

walk a mile in his shoes

Walk A Mile in His Shoes

Kadang Tuhan bekerja dengan cara yang lucu untuk menyadarkan kita. Suatu hari ketika ke Bandung, kami melewati rute yang dilalui suami setiap harinya, Serpong – Cikarang, pp. Ternyata selain sangat jauh juga macet. Pulang pergi harus ditempuh dalam waktu 3 jam. Bisa lebih kalau macetnya parah. Sejak itu saya berusaha untuk mengurangi keluhan atas kesibukan suami. Berusaha memahami yang ia lalui setiap harinya untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Mencari Aktivitas Yang Menyenangkan

Memang sih, rumah jadi terasa lebih menyenangkan kalau ada suami. Tapi toh nggak bisa juga terus-terusan menggantungkan kesenangan hanya pada satu orang bisa bikin kita (kitaaaa? iya iyaaa, saya maksudnya) mudah kecewa saat harapan tidak terpenuhi.

Coba cari kesibukan deh. Bikin kue, gaul sama ibu-ibu di sekolah anak, main game online, membaca, aktif di komunitas online, ikut seminar ini itu atau menulis. Aktivitas-aktivitas inilah yang mencuri waktu saya, selain mengurus anak dan rumah tentunya (pencitraan, padahal semua itu dilakukan si mbak). Selain menyenangkan, ilmu dan teman pun bertambah. Malah akhirnya saya bisa menghasilkan uang tambahan dari kegiatan itu. Meski masih hobi “absen” suami dan menanyakan kapan ia pulang, setidaknya sudah tidak lagi jarang marah-marah setiap ia sampai rumah.

Mencari Alternatif Solusi

Kesal karena suami selalu bekerja rodi? Kantornya terlalu jauh? Coba minta suami mengurangi jam kerjanya atau dukung dia untuk mencari pekerjaan baru yang lebih baik. Kalau memungkinkan coba cari rumah yang dekat dengan kantor.

Nggak mungkin? Mari berdoa supaya diberi tempat kerja yang lebih baik, lebih banyak waktu luang bersama keluarga. And it worked for me, lho. Alhamdulillah. Setelah 4 tahun sabar menjalani long distance marriage, kami bisa berkumpul, punya rumah yang dekat dengan kantor dengan jam kerja suami yang memungkinkan untuk makan siang bersama dan sampai rumah paling lambat pukul 6 sore.

Berhenti Mengeluh di Sosial Media

Percaya deh, mengeluh tentang suami yang terlalu sibuk bekerja di status facebook, berkali-kali, tidak akan menimbulkan simpati dari orang lain. Malah tidak mungkin orang lain akan menuduh kita kurang bersyukur. Belum lagi kalau dibaca teman bahkan atasan pasangan. Bisa-bisa malah ia jadi mendapat image negatif. Kesannya kita mau duitnya aja tapi nggak mau terima konsekuensi dari pekerjaannya.

Kalau mau curhat, lebih baik cari sahabat yang bisa dipercaya, keluarga yang mau mendengarkan. Pilih yang bisa membuat kita lebih tenang.

Komunikasi

Last but not least, malah menurut saya yang paling penting nih, bicara baik-baik dengan suami dalam suasana yang tenang dan menyenangkan tentang kebutuhan kita akan kehadirannya bersama keluarga. Biasanya sih pasangan lebih mau mendengarkan saat hatinya senang dan tenang.

Kalau dia pulang cepat bisa bilang, “Seneng deh Ayah jam segini sudah di rumah. Jadi lebih banyak waktu main sama bunda dan kakak. Eh, bisa nonton balapan juga lho Yah, itu di channel olahraga bentar lagi mulai.” daripada, “Ih, tumben amat jam segini sudah sampe rumah. Nggak salah nih, Yah? Kesambet jin mana?” Eaaaa, pulang telat salah, pulang cepat dituduh kesambet jin.

Intinya, coba untuk mengurangi keluhan. Bagaimanapun juga pasangan bekerja toh untuk keluarga. Lebih bagus lagi kalau dia juga bekerja untuk kesenangannya sendiri. Kalau pasangan bahagia dalam pekerjaannya kan makin produktif dan karirnya jadi lebih bagus.

Saya tidak bermaksud menggurui sih, sekedar berbagi cerita dan saran, karena saya tahu banyak yang senasib sama saya dulu, diduakan oleh kesibukan bekerja di kantor. Kalau nggak berkenan, maaf yaaaa… Boleh kok protes atau ikutan kasih saran. Saya tunggu 🙂

Flesh and Blood

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=33MCXsXkKDI]

part of me wants to call you up and talk to you like a friend. but there’s a part of me that wants to shut you out and never see your face again. how can we be like enemies when we’re only flesh and blood? – Flesh and Blood by Wilson Phillips

Abis baca twit mbak @AlissaWahid dan postingan mamak Kopi di Ngerumpi sore ini, aku jadi sadar kalau nggak semua orang punya hubungan indah dengan orang tuanya.

Waktu kecil-remaja, wajar bila ada org yang tak suka pada orangtuanya. Wajarnya orang dewasa, tak suka itu berubah menjadi tak setuju saja. – Alissa Wahid

Bahkan aku pun saat remaja punya masa-masa nggak suka dengan orang tua. Lebih memilih dekat dengan teman yang menurutku lebih bisa memahami gejolak masa muda daripada Mama, Dad dan Papa yang suka ngelarang ini itu.

Kalau kita sudah dewasa & masih tidak suka kepada orangtua kita, ada baiknya kita tengok diri. We have a real problem.. Mengapa real problem? Ya karena ‘tidak menyukai orangtua’ menunjukkan bahwa kita tak bisa membedakan ‘tidak setuju’ dengan ‘tidak suka’. – Alissa Wahid

Tapi setelah menginjak middle 20’s apalagi setelah menikah, hidup sendiri dan punya anak, hubungan dengan orang tua jadi jauh lebih baik. Aku jadi bisa memahami kenapa mereka dulu bersikap seperti orang tua, karena sekarang aku pun begitu terhadap Cinta. Pun saat ada masalah, larinya ya ke Mama, ketika teman or they so called best friends itu menghilang karena sudah lelah mendengarkan keluh kesah tak berujungku.

Orang yang matang bisa membedakan antara perilaku dengan orang. Terhadap orangtua, kalau kita melihat orangtua sangat buruk, itu tidak sehat. – Alissa Wahid

Mungkin karena pada usia itu, cara pandangku sudah mulai berubah dari remaja labil menjadi perempuan (lebih) dewasa yang sedang belajar bertanggungjawab akan diri dan hidupnya. Mama dan Dad sebagai orang tua juga seiring dengan bertambahnya usia dan makin banyaknya pengalaman juga berubah.

Pada usia dewasa muda itu, peran orang tua sebenarnya juga mulai berubah. Dari pendidik menjadi penyokong, pendukung anaknya. Hal ini juga yang bisa membuat kami lebih banyak bicara saat menghadapi suatu masalah. Konflik tetap ada, tapi seringkali salah satu mengalah.

Kita lebih sibuk menuntut hak kita, berusaha menjamin semua pihak lain memenuhinya. Lupa bahwa kita pun berkontribusi. Kita kadang terlalu sibuk dengan kewajiban orangtua terhadap hak kita sebagai anak. ‘Orangtuaku harusnya bla3x..’ dan melupakan sebaliknya. – Alissa Wahid

Setelah ada anak, justru kasih sayang orang tua lebih terasa. Betapa mereka begitu memperhatikan Cinta, mengurus aku yang mengalami post partum depression, menyediakan telinga dan bahu ketika butuh tempat bersandar. Dan tiba-tiba aku menyadari bahwa belum ada seujung kukupun semua kebaikan itu kubalas.

Most parents did the best, with whatever they had, for the children. If it’s wrong? They just didn’t know any better. – Alissa Wahid

Jadi orang tua itu nggak mudah, now I feel it. Lihat Cinta tantrum, membentak-bentak saat dia kesal aja aku sudah patah hati. Nah, berkonflik dengan orang tua sampai lari dan menjauh dari mereka tentu menyakitkan. Makanya aku suka sedih melihat teman-teman yang berantem sama ibunya karena nggak sepakat tentang pemberian ASI, MPASI, pengasuhan anak lalu benci sama ibu atau mertuanya. Bayangkan betapa terlukanya para nenek ini.

In the end, let’s just remember: walau tidak 100% seperti harapan, our parents did what they thought the best for their children. – Alissa Wahid

Apapun masalahnya, jangan sampai deh saat orang tua nggak ada baru kita menyesal pernah membenci mereka. Karena permintaan maaf, pelukan erat, suara tegas namun hangat itu nggak akan bisa kita dapatkan lagi.

 

Komunikasi dalam Mengasuh Anak

Mama: “Dedek, jangan loncat-loncat di tempat tidur nanti jatuh.”
Dedek: *tetep loncat-loncat di tempat tidur*
Mama: *suara naik 3 oktaf* “Dedek, mama bilang jangan loncat-loncat di tempat tidur! Nanti kamu jatuh!”
Dedek: *cengar cengir* *tetep loncat-loncat di tempat tidur*
Mama: *suara naik 10 oktaf* “Dedeeeeeeek! Dikasih tau kok nggak mau denger sih! Awas ya nanti kalo jatuh mama nggak mau nolongin! Anak kok bandel amat!”
Dedek: *brruuukkk… jatuh* *nangis* “Huaaaaa sakit ma… Sakit”
Mama: “Nah, kan mama bilang apa. Sudah dikasih tahu nggak boleh loncat-loncat. Salahnya sendiri nggak mau dengerin. Jatuh kan sekarang. Kualat kamu sama mama!”
Dedek: *nangis makin kenceng* “Sakit maaaaa…”
Mama: “Aaah, cuma gini aja kok. Nggak sakit ini. Sini mama kasih obat luka.”
Dedek: “Nggak mau obat luka, Ma. Pediiiiih. Sakit. Nggak mauuuu.”
Mama: “Eh, sini mama kasih. Ntar tambah parah lho lukanya. Mau kamu? Sakit sedikit. Besok juga sembuh! Makanya kalau dikasih tahu orang tua itu didengerin. Kapok kan kamu sekarang!”

Ternyata keesokan harinya luka si Dedek belum sembuh, dia bingung karena kata mamanya besok lukanya sudah sembuh tapi kok belum. Trus katanya nggak sakit. Lalu yang sakit itu yang seperti apa. Udahlah dimarahin, diancam, dicap bandel, didoain jelek, dibohongin lagi.

Hmmm… Familiar nggak sih sama kejadian kaya gitu? Honestly, saya juga pernah ngomong gitu ke Cinta tapi nggak pake acara kualat, sukurin lho… 2 kalimat pertama lah. Tahu nggak kalo dalam kalimat-kalimat yang diucapkan si Mama ke Dedek itu mengandung banyak sekali kesalahan komunikasi yang bisa mempengaruhi konsep diri si Dedek kelak? Serius? Iya, begitulah kata Bu Elly Risman dalam Seminar Pengasuhan Anak yang bertema “Komunikasi Pengasuhan Anak” yang diselenggarakan oleh komunitas Supermoms Indonesia, hari Sabtu, 26 Februari 2011 yang lalu.

Selama mengasuh anak, seringkali kita melakukan kekeliruan dalam komunikasi. Mostly sih nggak sengaja, ya karena kebiasaan sehari-hari begitu, karena cara orangtua kita dulu berkomunikasi dengan kita ya seperti itu. Padahal kekeliruan itu bisa berakibat fatal terhadap perkembangan kepribadian anak. Antara lain bisa:

  • Melemahkan konsep diri
  • Membuat anak diam, melawan, menentang, tidak peduli, sulit diajak kerjasama
  • Menjatuhkan harga dan kepercayaan diri anak
  • Kemampuan berfikir menjadi rendah
  • Tidak terbiasa memilih dan mengambil keputusan bagi diri sendiri
  • Iri terus

Kalau kita kembali ke percakapan di atas udah ada berapa banyak kesalahan komunikasi yang dibuat si Mama ya? Ada ancaman, memberi cap/label, meniadakan perasaan anak, berbohong, dll. Padahal itu baru 1 kejadian lho. Bayangkan berapa banyak hal yang kita alami selama 1 hari. Anak telat bangun tidur padahal harus sekolah, kita omelin. Anak pulang sekolah dengan muka kusut karena dibully temannya, capek, banyak PR bukannya disambut dengan senyuman, disuruh makan dulu, ditanya baik-baik eeeeh diomelin cuma karena nggak lepas sepatu dan ngotorin lantai rumah yang sudah kita pel sampe mengkilat. Ulangan anak dapat nilai 80 kita marahin karena kita pengennya dia dapet 100, lha padahal dari 20 soal itu dia betul 16 lho, cuma salah 4. Kenapa nggak kita apresiasi dulu keberhasilannya menjawab 16 soal yang mungkin kita juga belum tentu bisa jawab itu. Baru pelan-pelan ditanya 4 soal yang salah. Bila hati senang, otak menyerap lebih banyak lho. Anak yang bahagia biasanya lebih baik prestasinya, lebih bagus konsep dirinya, lebih mudah beradaptasi dengan lingkungannya.

Bukan mau nakutin nih, tapi kata Ibu Elly Risman, anak jaman sekarang itu udah kebanyakan beban yang bisa bikin mereka bored, lazy, angry/affraid, stress, tired (BLAST). Keharusan mempelajari 16 mata pelajaran di sekolah yang mungkin belum tentu ia butuhkan untuk kelak bertahan hidup, hanya dinilai berdasarkan nilai yang berupa angka adalah sedikit dari penyebab BLAST itu. Belum lagi ketidakpedulian orang tua akan perasaan dan kebutuhan anak, yang penting nilai harus bagus, peer pressure dan masih banyak lagi bisa menimbulkan banyak masalah yang tidak terpecahkan, antara lain: pacaran di usia dini, seks bebas, aborsi, putus sekolah, nikah muda, bercerai, narkoba, HIV/AIDS.

Jadi kita musti gimana dong? Semua itu berawal dari komunikasi. Yuk, kita perbaiki gaya komunikasi kita dengan anak dan pasangan dengan cara:

  1. Bicara jangan tergesa-gesa. Ajak anak untuk belajar membuat rencana, belajar berpikir, memilih dan mengambil keputusan supaya dia bisa mandiri dan bertanggungjawab. Misalnya: tiap minggu bikin daftar menu, kakak mau sarapan pake apa, adik apa. Lalu ajak mereka untuk berbelanja, suruh pilih sendiri bahan-bahan yang mereka perlukan untuk sarapannya selama 1 minggu itu. Konsekuensinya kalau suatu hari dia nggak mau makan apa yang sudah dipilihnya ya biarin aja.
  2. Belajar untuk mengenali diri kita dan mengenali lawan bicara kita (anak, suami, ART, ortu, saudara, tetangga, teman kerja). Coba kita lihat diri kita sendiri, apakah pola asuh orangtua kita dulu memberikan efek positif atau negatif. Seandainya kita diperlakukan seperti contoh di atas, gimana perasaan kita.
  3. Ingat: setiap individu itu UNIK. Iyalah kita aja pasti nggak suka kan kalo pasangan banding-bandingin kita sama istri temennya. Nah, anak juga begitu. Jangankan sama anak tetangga, yang keluar dari rahimnya bareng alias kembar aja beda.
  4. Pahami bahwa Kebutuhan dan Kemauan: BERBEDA. Seringkali kita memaksakan kemauan kita kepada anak, padahal apa yang dia butuhkan bukan itu. Contoh sederhana ketika anak bilang,
    Anak: “Haus ma,”
    Mama: “Minum susu.”
    Anak: “Nggak mau susu, ma. Es teh aja, aku pengen yang seger-seger.”
    Mama: “Eh, mama bilang minum susu. Ntar kuntet kamu nggak mau minum susu!”
  5. Baca bahasa tubuh: ketahui bahwa action speaks louder than words dan bahasa tubuh nggak pernah bohong. Misalnya: anak pulang sekolah mukanya cemberut, buka sepatu sambil dilempar. Kita tanya, “Kenapa kak?” Dia jawab, “Nggak papa!” lantas masuk kamar sambil banting pintu. Itu bukan berarti dia beneran nggak apa-apa lho. Pasti kenapa-kenapa. Dan kita nggak boleh cuek.
  6. Dengarkanlah perasaan. Tandai pesan yang terlihat, jangkau rasa, buka komunikasi, namain perasaan yang tampak pada pesan itu. Misalnya dalam kasus no. 5: lihat anak pulang sekolah dengan wajah cemberut kita bisa bilang,
    Mama:  “Wah, anak mama udah pulang nih. Kenapa kok cemberut gitu (menandai pesan)? Kakak capek ya (menjangkau rasa)?”
    Anak: “Enggak papa!” *lempar tas*
    Mama: “Ooooh, kakak laper ya (buka komunikasi)”
    Anak: “Enggak kok. Nggak laper!”
    Mama: “Oooo, anak mama lagi kesel banget ya (menamakan perasaan)”
    Anak: “Enggak maaaaa! Aku tuh lagi benciiiiiiiii!”
    Mama: “Kakak lagi benci ya. Benci sama siapa?”
    Anak: “Tadi ya ma, PRku kan ketinggalan. Trus aku distrap di depan kelas.”
    Mama: “Wah, malu banget dong kak.”
    Anak: “Nggak cuma itu aja ma, waktu aku distrap, si Edi tuh masak julurin lidah ke aku.”
    Mama: “Kesel dong kak, digituin”
    Anak: “Iya ma… blablabla”
    Teruskan sampai anak tuntas bercerita. Jangan dipotong, disalahkan bahkan dinasehati. Pancing aja terus dengan mengungkapkan perasaan-perasaan yang tersirat dalam setiap ucapannya.
  7. Hindari 12 Gaya Populer dalam berkomunikasi yaitu: memerintah, menyalahkan, meremehkan, membandingkan, mencap/label, mengancam, menasehati, membohongi, menghibur, mengeritik, menyindir dan menganalisa. Hal-hal ini akan mengakibatkan anak tidak percaya akan perasaannya sendiri, sehingga ia bisa merasa nggak percaya diri. Konsep dirinya hancur, nggak bisa menghargai dirinya sendiri. Selain itu kalau kita berbohong, jiwa anak akan goyang alias labil yang akhirnya bisa mengakibatkan mentally breakdown.
  8. Tentukan: Masalah Siapa? Masalah anak atau ortu? Dibantu atau dibiarkan? Hidup adalah pilihan dan pilihan. Misalnya: anak ketinggalan PR -> masalah anak, dibantu atau dibiarkan -> dibiarkan. Kenapa? Supaya anak belajar konsekuensi ketinggalan PR itu apa.
  9. Mendengarkan secara aktif. To listen atau mendengarkan berbeda dengan to hear atau mendengar. Mendengarkan secara aktif berarti melibatkan perasaan. Jadilah cermin, pilih kata-kata yang menunjukkan kita mengerti apa yang dirasakan orang yang sedang bicara dengan kita. Seperti: “Oooo… gitu.” “Sedih bener dong, kamu.” “Kecewa ya?” Seringkali orang curhat itu hanya karena ia ingin didengarkan, bukan untuk dinasehati apalagi disalahkan.
  10. Sampaikan PESAN SAYA. Marah itu boleh banget, kalo enggak nanti bisa stroke. Tapi gunakan pesan “Saya”, misalnya: bilang, “Mama kesal kalau kakak pulang sekolah copot sepatu di dalam rumah karena lantai jadi kotor.” instead of “Ya ampun kakak, nggak bisa apa copot sepatu dulu! Liat deh, lantai jadi kotor! Kamu ini bandel banget, nggak tau apa mama capek ngepel lantai” Dueeeenng!

Yah, selama seminar itu saya sempat beberapa kali mau nangis sih, mengingat banyaknya kesalahan komunikasi yang saya lakukan ke Cinta. Sampai di rumah berusaha banget untuk memperbaiki hal itu. Tapi ternyata sulit. Kebiasaan selama hampir 4 tahun ternyata nggak bisa dihilangkan hanya dalam 1 malam. Bahkan selama 1 minggu ini masih harus tetap belajar untuk memperbaiki komunikasi. Asli nggak gampang, kadang kalo lagi capek ya kalimat-kalimat negatif suka keluar. Tapi ya harus konsisten, ulang dari awal lagi dan memang tantangannya di situ.

Saya belajar tentang hal ini dan berusaha supaya berhasil, karena kepengen bisa menjalin komunikasi yang baik dengan Cinta (dan adek-adeknya kalo dikasih). Supaya kalau dia remaja nanti tetap saya yang jadi tempatnya curhat seperti Lorelai dan Rory Gilmore di serial tv favorit Gilmore Girls. Bukannya curhat ke sesama anak baru gede yang juga lagi mencari identitas diri. Doakan saya ya.

Eh ya, menurut ibu Elly, it takes a village to raise a child. Maksudnya, untuk menghasilkan anak Indonesia yang berkepribadian tangguh, memiliki konsep diri yang baik dan tidak mudah terpengaruh hal-hal buruk dibutuhkan kerjasama dari seluruh keluarga di Indonesia. Jadi mari sama-sama belajar berkomunikasi yang baik dengan keluarga demi anak Indonesia yang sehat fisik dan mentalnya.

Disarikan dari Seminar “Komunikasi Pengasuhan Anak” oleh Ibu Elly Risman, Psi dari Yayasan Kita dan Buah Hati yang diselenggarakan oleh Supermoms Indonesia, sebuah komunitas mommies peduli pengasuhan anak.

*Gambar diambil dari sini*

I Thought I’m a Survivor

Wounded children, broken home, divorce

Baca kultwitnya mba @AlissaWahid tentang #brokenhome seakan membuka kembali lembaran lama yang sudah saya tutup rapat-rapat.

Wounded children, broken home, divorce

Selama ini saya selalu berujar, “I was a broken home child BUT I’m proud of it coz it makes me stronger. I’m a survivor.

Saya menganggap diri saya adalah seorang survivor yang sukses karena tidak terjerumus dalam hal-hal negatif seperti menjadi pecandu obat-obatan terlarang, kabur dari rumah dan sebagainya. Saya hidup normal, mulai dari SD sampai kuliah beberapa kali memperoleh penghargaan akademis walaupun bukan yang terbaik. Mengikuti berbagai kegiatan, berprestasi dan memiliki banyak teman yang saya sayangi dan menyayangi saya. Bekerja, menikah dan memiliki anak, lalu menjadi ibu rumah tangga. Membangun keluarga kecil saya sendiri. Semua baik-baik saja, orang tua saya walaupun berpisah tetap berhubungan baik. Adik-adik saya juga tidak ada yang bermasalah. We’re aaaaaall good.

Sampai semalam membaca dampak-dampak yang dialami para “korban” broken home dan tersadar bahwa ternyata saya termasuk salah satu produk gagal. Secara kasat mata mungkin ya saya baik-baik saja, nothing’s wrong with me tapi ternyata saya selama ini gagal mengelola emosi dan memiliki ego yang tidak sehat sehingga selalu merasa insecure terhadap apapun yang saya miliki.

Dari sebelum menikah, saya selalu merasa bahwa hubungan yang saya miliki dengan pasangan tidak akan bertahan lama. Kalaupun bertahan lebih dari 2 tahun (saya pernah pacaran selama 4 tahun dan akhirnya putus) selalu punya khayalan somehow ini bakal berakhir juga. Entah karena dia yang selingkuh atau saya.

alissa wahid broken home

Saya juga selalu merasa orang lain lah yang harus bertanggung jawab atas kebahagiaan saya. Baik itu pasangan, teman, saudara dan orang tua. Padahal pribadi yang sehat seharusnya bisa bertanggungjawab atas kebahagiaannya sendiri. Happiness is only a state of mind, right? Dan itu sebenarnya melelahkan karena setiap kali keadaan mulai tidak menyenangkan, saya lari. Selingkuh dari pacar, putus dan ganti baru, pindah dari kerjaan dan masih banyak lagi.

Hurting-people hurts people.. Ungkapan ini paling pas utk menggambarkan para produk gagal dr keluarga #brokenhome – @AlissaWahid

Yes, it’s true. I do become the one who hurt people who love me. How? By being so overprotective and self oriented. Mudah marah dan emosional terhadap orang-orang terdekat. Di bawah alam sadar, I’m testing their limits, sampai sejauh mana mereka bisa bertahan. Ketika ada yang pergi saya pun merasa mereka tidak mencintai saya sepenuhnya, karena kalau benar menyayangi saya sepenuhnya seharusnya bisa menerima saya apa adanya.

Sepanjang yang saya ingat, saya tidak pernah menyalahkan orang tua saya atas apa yang terjadi. Mereka sudah cukup punya masalahnya sendiri dan sudah berjuang mengatasinya. Saya menyayangi mereka apapun kekurangannya dan keadaan keluarga kami. Tapi ternyata belum cukup. Mungkin saya masih harus berjuang lagi, lebih keras. Demi diri sendiri dan keluarga kecil saya. Sehingga suatu saat saya bisa berkata, “I was a broken home child AND I’m proud of it.

moving from Failure to Success from #brokenhome starts with focusing on the ego.. Ego kita mencari kedamaian. Damai dimulai dr titik nol

Titik nol adl titik dimana kita let go of segala hal yg telah tjd dlm kehidupan kita. Everything happens for a reason, tmsk #brokenhome kita

di titik nol, kita belajar utk memaknai #brokenhome sbg cara Tuhan menyampaikan pesan pd kita. kita terima rasa sakit itu sbg .. (1)

kita terima rasa sakit akibat #brokenhome itu sbg bagian baik dlm hidup kita, krn kita justru lbh bijak dr org2 lain karenanya

bekali diri dg lingkungan jiwa yg tepat: teman2, buku2 yg membuat kita menambah input ttg survivor yg sukses

“I never found anyone who could fill my needs, so I learned to depend on me” dr Greatest Love of All itu bener banget#brokenhome

sooner or later, all of us learn that we can only depend on ourselves. you, from #brokenhome families have the chance to learn the hard way

merelakan “kesalahan” orangtua #brokenhome.. mrk tak hendak melukai kita. mrk hanya tdk tahu bgmn memberi yg terbaik pd kita ..

stl bdamai dg diri sendiri di titiknol #brokenhome, start your journey to build a healthy ego .. Learn to love yourself. klise, tapiii

Love yourself. You are someone special, that’s why God blesses you with a burden, that is #brokenhome .. you are stronger than you think!

bcoz you have left the hurts on point zero of #brokenhome you can now focus to strengthen your character & talents..

focusing on empowering yrself instead of the hurts & confusion#brokenhome will make you feel good abt yourself. it’s good for your ego

By: @AlissaWahid