Browsing Tag:

seminar

  • Life as Mom, Parenting

    Peran Ayah dalam Tujuan Pengasuhan

    Repost dari WA Grup Circle Moms. Thanks For Sharing, Ica

    Para Ayah dan calon Ayah.. disimak yaa

    RESUME SEMINAR : Peran Ayah dalam Tujuan Pengasuhan
    Bertempat di Sekolah Alam Cikeas, Februari 2015
    Narasumber : Elly Risman, Psi

    〰〰〰〰〰
    Ayah adalah penentu GBHK (Garis Besar Haluan Keluarga), yang bertanggungjawab :
    1. Menentukan visi misi keluarga
    2.  Menyediakan keuangan
    3. Menyediakan makanan dan pakaian
    4. Menyediakan rumah dan isinya
    5. Membimbing anak
    6. Membuat kebijakan dan peraturan
    7. Menentukan standar keberhasilan
    8. Menyediakan training dan pemantauan
    9. Menyediakan perawatan dr harta dan benda
    10. Melakukan pengontrolan
    11. Mendelegasikan tanggung jawab dan otoritas

    Survey membuktikan ayah yang terlibat aktif dalam pengasuhan, memberikan kasih sayang, perhatian dan interaksi yang cukup, akan membuat anak:
    >> Lebih sehat fisik dan mental
    >> Lebih sociable – mudah berinteraksi, berteman dan menyesuaikan diri
    >> Cenderung tumbuh menjadi orang dewasa yang pengasih
    >> Mendapat nilai yang lebih bagus di sekolah
    >> Anak lebih mendapatkan sense of independence
    >> Lebih percaya diri dan tidak cemas di tempat baru
    >> Lebih mudah beradaptasi terhadap perubahan rutinitas
    >> Lebih bisa beradaptasi dalam menghadapi kekecewaan
    >> Anak tumbuh menjadi pribadi dewasa yang suka menghibur orang lain
    >> Punya harga diri yang tinggi
    〰〰〰〰〰〰
    Apa akibat berayah ada berayah tiada? Baik ketiadaan fisik maupun emosional :
    >> mudah terlibat kriminalitas dan kekerasan
    >> Cenderung memiliki hasil tes dan prestasi rendah
    >> Remaja yang tumbuh dengan hanya ibu lebih sexually active
    >> Remaja kurang mendapat pengontrolan dan pendampingan
    >> Anak kehilangan rasa aman
    >> Anak lebih sering temper tantrum
    >> Anak 3x lebih mungkin tidak naik kelas, 4x lbh mungkin DO dari sekolah
    >> Biasanya dapat nilai lebih rendah dlm tes dan buruk dlm semua pelajaran
    >> Lebih mudah depresi
    >> Lebih antisocial — bullying or being bullied, agresif, sensitif terhadap kritik
    >> Lebih sering sakit dan buruk dalam penilaian kesehatan — emosional, fisik, psikologis, sosial.

    Hasil Riset Ibu Diah Karim, trainer senior Yayasan Kita dan Buah Hati, membuktikan bauwa kurangnya peran ayah pada :
    Anak dan remaja laki-laki, menimbulkan masalah sosial yaitu :
    ☑kenakalan remaja
    ☑agresif (kejahatan remaja)
    ☑narkoba
    ☑seks bebas
    Anak dan remaja perempuan, menimbulkan masalah :
    ☑Depresi
    ☑seks bebas

    Jika memang peran ayah sudah harus tiada, kuatkan jiwa anak dengan high quality positive parenting dengan anggota keluarga lainnya Ayah tidak aktif lebih baik daripada perceraian. Perceraian lebih baik daripada lingkungan keluarga yang selalu bertikai atau ayah yang bermasalah. Bila cerai, pertemuan dengan fisik ayah saja tidak cukup, hadirkan pula jiwanya. Perceraian itu antara ayah dengan ibu, bukan perceraian ayah dengan anak-anaknya.

    Peran kita adalah sbg BABY SITTER ALLAH, anak adalah amanah, kenikmatan, ujian & musuh. Dalam melaksanakan amanah ini, butuh perjuangan yang tidak mudah. Dibutuhkan totalitas pikir, rasa, jiwa, tenaga, waktu dan biaya.

    Miliki visi misi pengasuhan : akan lebih mudah saat akan beraksi
    – Visi pengasuhan keluarga nabi Ibrahim (QS Ibrahim: 35-37) :
    1. Penyelamatan aqidah
    2. Pembiasaan ibadah
    3. Pembentukan akhlakul qarimah
    4. Pengajaran lifeskill (kemampuan bertahan hidup dan bermanfaat bagi umat dengan profesional)

    – Visi keluarga Imran (QS Al Imran : 35) menjadi hamba Allah yang taat

    Jika anak adalah lukisan, ayah adalah penentu lukisan apa yang akan dibuat. Naturalis kah? Abstrak kah? Sketsa kah? Ayah adalah penentu tujuan pengasuhan dalam keluarga, akan dijadikan apa anak-anak dalam keluarganya. Ayah juga yang menyediakan cat, tinta, dan kuasnya. Ia yang menentukan nilai-nilai dan kultur apa saja yang disapukan pada kanvas jiwa anak-anaknya. Sesungguhnya, keindahan lukisan jiwa seseorang adalah bukti otentik amanah seorang ayah yang kelak akan dipertanggungjawabkan kepada Allah
    〰〰〰〰
    Dikembangkan dari resume volunteer Rizki Ardila, oleh Tim Yayasan Kita dan Buah Hati
    〰〰〰〰
    #GreatFather #PeranAyah.
    #fwd dari Pipi (tim YKBH)

  • Life as Mom, Parenting

    Komunikasi dalam Mengasuh Anak

    Mama: “Dedek, jangan loncat-loncat di tempat tidur nanti jatuh.”
    Dedek: *tetep loncat-loncat di tempat tidur*
    Mama: *suara naik 3 oktaf* “Dedek, mama bilang jangan loncat-loncat di tempat tidur! Nanti kamu jatuh!”
    Dedek: *cengar cengir* *tetep loncat-loncat di tempat tidur*
    Mama: *suara naik 10 oktaf* “Dedeeeeeeek! Dikasih tau kok nggak mau denger sih! Awas ya nanti kalo jatuh mama nggak mau nolongin! Anak kok bandel amat!”
    Dedek: *brruuukkk… jatuh* *nangis* “Huaaaaa sakit ma… Sakit”
    Mama: “Nah, kan mama bilang apa. Sudah dikasih tahu nggak boleh loncat-loncat. Salahnya sendiri nggak mau dengerin. Jatuh kan sekarang. Kualat kamu sama mama!”
    Dedek: *nangis makin kenceng* “Sakit maaaaa…”
    Mama: “Aaah, cuma gini aja kok. Nggak sakit ini. Sini mama kasih obat luka.”
    Dedek: “Nggak mau obat luka, Ma. Pediiiiih. Sakit. Nggak mauuuu.”
    Mama: “Eh, sini mama kasih. Ntar tambah parah lho lukanya. Mau kamu? Sakit sedikit. Besok juga sembuh! Makanya kalau dikasih tahu orang tua itu didengerin. Kapok kan kamu sekarang!”

    Ternyata keesokan harinya luka si Dedek belum sembuh, dia bingung karena kata mamanya besok lukanya sudah sembuh tapi kok belum. Trus katanya nggak sakit. Lalu yang sakit itu yang seperti apa. Udahlah dimarahin, diancam, dicap bandel, didoain jelek, dibohongin lagi.

    Hmmm… Familiar nggak sih sama kejadian kaya gitu? Honestly, saya juga pernah ngomong gitu ke Cinta tapi nggak pake acara kualat, sukurin lho… 2 kalimat pertama lah. Tahu nggak kalo dalam kalimat-kalimat yang diucapkan si Mama ke Dedek itu mengandung banyak sekali kesalahan komunikasi yang bisa mempengaruhi konsep diri si Dedek kelak? Serius? Iya, begitulah kata Bu Elly Risman dalam Seminar Pengasuhan Anak yang bertema “Komunikasi Pengasuhan Anak” yang diselenggarakan oleh komunitas Supermoms Indonesia, hari Sabtu, 26 Februari 2011 yang lalu.

    Selama mengasuh anak, seringkali kita melakukan kekeliruan dalam komunikasi. Mostly sih nggak sengaja, ya karena kebiasaan sehari-hari begitu, karena cara orangtua kita dulu berkomunikasi dengan kita ya seperti itu. Padahal kekeliruan itu bisa berakibat fatal terhadap perkembangan kepribadian anak. Antara lain bisa:

    • Melemahkan konsep diri
    • Membuat anak diam, melawan, menentang, tidak peduli, sulit diajak kerjasama
    • Menjatuhkan harga dan kepercayaan diri anak
    • Kemampuan berfikir menjadi rendah
    • Tidak terbiasa memilih dan mengambil keputusan bagi diri sendiri
    • Iri terus

    Kalau kita kembali ke percakapan di atas udah ada berapa banyak kesalahan komunikasi yang dibuat si Mama ya? Ada ancaman, memberi cap/label, meniadakan perasaan anak, berbohong, dll. Padahal itu baru 1 kejadian lho. Bayangkan berapa banyak hal yang kita alami selama 1 hari. Anak telat bangun tidur padahal harus sekolah, kita omelin. Anak pulang sekolah dengan muka kusut karena dibully temannya, capek, banyak PR bukannya disambut dengan senyuman, disuruh makan dulu, ditanya baik-baik eeeeh diomelin cuma karena nggak lepas sepatu dan ngotorin lantai rumah yang sudah kita pel sampe mengkilat. Ulangan anak dapat nilai 80 kita marahin karena kita pengennya dia dapet 100, lha padahal dari 20 soal itu dia betul 16 lho, cuma salah 4. Kenapa nggak kita apresiasi dulu keberhasilannya menjawab 16 soal yang mungkin kita juga belum tentu bisa jawab itu. Baru pelan-pelan ditanya 4 soal yang salah. Bila hati senang, otak menyerap lebih banyak lho. Anak yang bahagia biasanya lebih baik prestasinya, lebih bagus konsep dirinya, lebih mudah beradaptasi dengan lingkungannya.

    Bukan mau nakutin nih, tapi kata Ibu Elly Risman, anak jaman sekarang itu udah kebanyakan beban yang bisa bikin mereka bored, lazy, angry/affraid, stress, tired (BLAST). Keharusan mempelajari 16 mata pelajaran di sekolah yang mungkin belum tentu ia butuhkan untuk kelak bertahan hidup, hanya dinilai berdasarkan nilai yang berupa angka adalah sedikit dari penyebab BLAST itu. Belum lagi ketidakpedulian orang tua akan perasaan dan kebutuhan anak, yang penting nilai harus bagus, peer pressure dan masih banyak lagi bisa menimbulkan banyak masalah yang tidak terpecahkan, antara lain: pacaran di usia dini, seks bebas, aborsi, putus sekolah, nikah muda, bercerai, narkoba, HIV/AIDS.

    Jadi kita musti gimana dong? Semua itu berawal dari komunikasi. Yuk, kita perbaiki gaya komunikasi kita dengan anak dan pasangan dengan cara:

    1. Bicara jangan tergesa-gesa. Ajak anak untuk belajar membuat rencana, belajar berpikir, memilih dan mengambil keputusan supaya dia bisa mandiri dan bertanggungjawab. Misalnya: tiap minggu bikin daftar menu, kakak mau sarapan pake apa, adik apa. Lalu ajak mereka untuk berbelanja, suruh pilih sendiri bahan-bahan yang mereka perlukan untuk sarapannya selama 1 minggu itu. Konsekuensinya kalau suatu hari dia nggak mau makan apa yang sudah dipilihnya ya biarin aja.
    2. Belajar untuk mengenali diri kita dan mengenali lawan bicara kita (anak, suami, ART, ortu, saudara, tetangga, teman kerja). Coba kita lihat diri kita sendiri, apakah pola asuh orangtua kita dulu memberikan efek positif atau negatif. Seandainya kita diperlakukan seperti contoh di atas, gimana perasaan kita.
    3. Ingat: setiap individu itu UNIK. Iyalah kita aja pasti nggak suka kan kalo pasangan banding-bandingin kita sama istri temennya. Nah, anak juga begitu. Jangankan sama anak tetangga, yang keluar dari rahimnya bareng alias kembar aja beda.
    4. Pahami bahwa Kebutuhan dan Kemauan: BERBEDA. Seringkali kita memaksakan kemauan kita kepada anak, padahal apa yang dia butuhkan bukan itu. Contoh sederhana ketika anak bilang,
      Anak: “Haus ma,”
      Mama: “Minum susu.”
      Anak: “Nggak mau susu, ma. Es teh aja, aku pengen yang seger-seger.”
      Mama: “Eh, mama bilang minum susu. Ntar kuntet kamu nggak mau minum susu!”
    5. Baca bahasa tubuh: ketahui bahwa action speaks louder than words dan bahasa tubuh nggak pernah bohong. Misalnya: anak pulang sekolah mukanya cemberut, buka sepatu sambil dilempar. Kita tanya, “Kenapa kak?” Dia jawab, “Nggak papa!” lantas masuk kamar sambil banting pintu. Itu bukan berarti dia beneran nggak apa-apa lho. Pasti kenapa-kenapa. Dan kita nggak boleh cuek.
    6. Dengarkanlah perasaan. Tandai pesan yang terlihat, jangkau rasa, buka komunikasi, namain perasaan yang tampak pada pesan itu. Misalnya dalam kasus no. 5: lihat anak pulang sekolah dengan wajah cemberut kita bisa bilang,
      Mama:  “Wah, anak mama udah pulang nih. Kenapa kok cemberut gitu (menandai pesan)? Kakak capek ya (menjangkau rasa)?”
      Anak: “Enggak papa!” *lempar tas*
      Mama: “Ooooh, kakak laper ya (buka komunikasi)”
      Anak: “Enggak kok. Nggak laper!”
      Mama: “Oooo, anak mama lagi kesel banget ya (menamakan perasaan)”
      Anak: “Enggak maaaaa! Aku tuh lagi benciiiiiiiii!”
      Mama: “Kakak lagi benci ya. Benci sama siapa?”
      Anak: “Tadi ya ma, PRku kan ketinggalan. Trus aku distrap di depan kelas.”
      Mama: “Wah, malu banget dong kak.”
      Anak: “Nggak cuma itu aja ma, waktu aku distrap, si Edi tuh masak julurin lidah ke aku.”
      Mama: “Kesel dong kak, digituin”
      Anak: “Iya ma… blablabla”
      Teruskan sampai anak tuntas bercerita. Jangan dipotong, disalahkan bahkan dinasehati. Pancing aja terus dengan mengungkapkan perasaan-perasaan yang tersirat dalam setiap ucapannya.
    7. Hindari 12 Gaya Populer dalam berkomunikasi yaitu: memerintah, menyalahkan, meremehkan, membandingkan, mencap/label, mengancam, menasehati, membohongi, menghibur, mengeritik, menyindir dan menganalisa. Hal-hal ini akan mengakibatkan anak tidak percaya akan perasaannya sendiri, sehingga ia bisa merasa nggak percaya diri. Konsep dirinya hancur, nggak bisa menghargai dirinya sendiri. Selain itu kalau kita berbohong, jiwa anak akan goyang alias labil yang akhirnya bisa mengakibatkan mentally breakdown.
    8. Tentukan: Masalah Siapa? Masalah anak atau ortu? Dibantu atau dibiarkan? Hidup adalah pilihan dan pilihan. Misalnya: anak ketinggalan PR -> masalah anak, dibantu atau dibiarkan -> dibiarkan. Kenapa? Supaya anak belajar konsekuensi ketinggalan PR itu apa.
    9. Mendengarkan secara aktif. To listen atau mendengarkan berbeda dengan to hear atau mendengar. Mendengarkan secara aktif berarti melibatkan perasaan. Jadilah cermin, pilih kata-kata yang menunjukkan kita mengerti apa yang dirasakan orang yang sedang bicara dengan kita. Seperti: “Oooo… gitu.” “Sedih bener dong, kamu.” “Kecewa ya?” Seringkali orang curhat itu hanya karena ia ingin didengarkan, bukan untuk dinasehati apalagi disalahkan.
    10. Sampaikan PESAN SAYA. Marah itu boleh banget, kalo enggak nanti bisa stroke. Tapi gunakan pesan “Saya”, misalnya: bilang, “Mama kesal kalau kakak pulang sekolah copot sepatu di dalam rumah karena lantai jadi kotor.” instead of “Ya ampun kakak, nggak bisa apa copot sepatu dulu! Liat deh, lantai jadi kotor! Kamu ini bandel banget, nggak tau apa mama capek ngepel lantai” Dueeeenng!

    Yah, selama seminar itu saya sempat beberapa kali mau nangis sih, mengingat banyaknya kesalahan komunikasi yang saya lakukan ke Cinta. Sampai di rumah berusaha banget untuk memperbaiki hal itu. Tapi ternyata sulit. Kebiasaan selama hampir 4 tahun ternyata nggak bisa dihilangkan hanya dalam 1 malam. Bahkan selama 1 minggu ini masih harus tetap belajar untuk memperbaiki komunikasi. Asli nggak gampang, kadang kalo lagi capek ya kalimat-kalimat negatif suka keluar. Tapi ya harus konsisten, ulang dari awal lagi dan memang tantangannya di situ.

    Saya belajar tentang hal ini dan berusaha supaya berhasil, karena kepengen bisa menjalin komunikasi yang baik dengan Cinta (dan adek-adeknya kalo dikasih). Supaya kalau dia remaja nanti tetap saya yang jadi tempatnya curhat seperti Lorelai dan Rory Gilmore di serial tv favorit Gilmore Girls. Bukannya curhat ke sesama anak baru gede yang juga lagi mencari identitas diri. Doakan saya ya.

    Eh ya, menurut ibu Elly, it takes a village to raise a child. Maksudnya, untuk menghasilkan anak Indonesia yang berkepribadian tangguh, memiliki konsep diri yang baik dan tidak mudah terpengaruh hal-hal buruk dibutuhkan kerjasama dari seluruh keluarga di Indonesia. Jadi mari sama-sama belajar berkomunikasi yang baik dengan keluarga demi anak Indonesia yang sehat fisik dan mentalnya.

    Disarikan dari Seminar “Komunikasi Pengasuhan Anak” oleh Ibu Elly Risman, Psi dari Yayasan Kita dan Buah Hati yang diselenggarakan oleh Supermoms Indonesia, sebuah komunitas mommies peduli pengasuhan anak.

    *Gambar diambil dari sini*

  • Beauty & Fashion

    (Ceritanya) Belajar Dandan

    Photobucket

    Mommies Daily Beauty Workshop

    Karena sering ngikutin twitnya Cicha tentang cara-cara bermake up, jadi kepengin lagi belajar dandan. Dulu, waktu masih kerja di bank yang namanya dandan udah jadi kegiatan sehari-hari karena sebagai frontliner memang diwajibkan untuk memakai tata rias. Tapi ya nggak sampai dandan lengkap dengan foundation, concealer dan sebagainya. Cukup eyeshadow, blush on dan lipstik.

    Setelah punya anak apalagi kemudian melepas seragam kantoran, urusan dandan jadi nomer sekian. Pergi ke luar rumah (kecuali ke pesta) biasanya cuma pakai pensil alis dan lipgloss. Sampai cara memakai eyeshadow yang benar pun lupa.

    Tiba-tiba Januari kemarin (yayaya another very late posting) MommiesDaily bikin Beauty Workshop for Mommies: Brighten Your Day. Waaaa, langsung daftar deh. Dan nggak rugi banget ikut acara itu karena banyak tip dandan dari make up artist Adi Bhuana yang bagus banget plus dapet lipstik Clinique yang keren itu. Mas Adi bahkan menjelaskan fungsi dari beberapa perlengkapan lenong yang wajib dipakai supaya hasil make up bagus dan wajah keliatan flawless, seperti foundation yang berguna untuk menutup pori-pori, flek hitam dan meratakan warna kulit. Sedangkan concealer untuk menutup jerawat, kantung dan lingkar mata.

    Photobucket

    Dapet ilmu dandan & Lipstik

    Ketika melakukan perawatan kulit wajah di sebuah klinik kecantikan beberapa tahun lalu, dokter melarang pakai bedak supaya hasil krim-krim muka itu keliatan maksimal. Meski sekarang sudah nggak perawatan di situ lagi, saya sudah terlanjur terbiasa untuk nggak pakai bedak. Tapi ternyata pake bedak itu penting sodara-sodara, karena berfungsi untuk mengikat foundation supaya make up nggak pecah dan tahan lama. Malah supaya bedak awet di muka tapi nggak keliatan cakey, sebaiknya pakai bedak tabur dulu baru pakai bedak padat.

    Make up sendiri biasanya berpusat pada daerah mata, makanya para penata rias suka berlama-lama menghias mata. Tapi ternyata penggunaan eyeshadow itu bisa bikin sudut mata cepat keriput. Sehingga disarankan pakai eye cream 2x sehari baru pakai eye shadow base kalau mau dandan yang dilanjutkan pakai eyeshadow. Menurut mas Adi, bagi yang berkacamata kaya saya, aplikasi eyeshadow harus lebih tebal biar keliatan. Atau pakai kacamata yang frameless. Lebih bagus lagi kalau pakai softlens aja 😀

    Oya, untuk bisa menghasilkan dandanan yang bagus, perawatan kulit muka itu penting banget. Karena dengan kulit yang sehat, make up bisa menempel lebih sempurna dan cantik.

    Pulang dari situ, jadi makin rajin belajar dandan. Sampai cari-cari tutorialnya di youtube. Beberapa video jadi favorit saya seperti tutorialnya Bebexo, Elle Fowler dan Blair Fowler karena gampang diikuti. Meski sekarang belum terlalu pinter dandan apalagi pakai foundation dan bikin shading untuk menyempurnakan bagian-bagian tertentu di muka tapi setidaknya saya sudah bisa pakai eyeliner, yaaaaaiiyy.

    Photobucket

    Hasil belajar dandan

    Foto-foto koleksi MommiesDaily by Lita dan koleksi pribadi.

  • Parenting

    Menyiapkan Pendidikan Internasional dari Rumah

    “Apa sih yang terpikir dalam benak kita kalau mendengar kata SBI atau Sekolah Bertaraf Internasional?”  tanya Ibu Ines Setiawan seorang guru dan aktivis pendidikan dalam Seminar “Menimbang dan Mempersiapkan Homeschooling” di Hostel Pradana (SMK 57) Jakarta, hari Sabtu, 12 Februari 2011 yang lalu. “Mahal”, “kurikulum internasional”, “canggih”, “guru bule”, “bahasa Inggris”, “prestisius” adalah sebagian besar jawaban para peserta seminar yang diamini oleh Ibu Ines.

    Belakangan ini memang SBI sedang menjadi favorit para orangtua yang ingin menyekolahkan anak(-anak)nya. Meskipun biayanya lebih mahal daripada kelas reguler tapi menjadi kebanggaan tersendiri bila anaknya bisa masuk kelas atau sekolah tersebut. Apa sih SBI itu sebenarnya? Menurut Departemen Pendidikan Nasional, SBI adalah sekolah yang menyiapkan peserta didik berdasarkan standar nasional pendidikan (SNP) Indonesia dan tarafnya internasional sehingga lulusan memiliki kemampuan daya saing internasional. Dengan visi tersebut, Diknas pun menetapkan prinsip-prinsip tertentu dalam mengembangkan SBI di Indonesia.

    Sayangnya, pendidikan yang bagus ini hanya dapat dinikmati oleh mereka yang memiliki kemampuan finansial sangat baik alias menengah ke atas karena fasilitas-fasilitas yang diberikan dianggap bernilai lebih tinggi sehingga lantas dihargai lebih mahal. Lalu, bagaimana dengan keluarga menengah? Tidak bisakah kita memberikan bekal kepada anak-anak kita untuk bisa cerdas dan kompetitif secara internasional? Bisa! Jangan salah, pendidikan bertaraf internasional bukan hanya monopoli siswa SBI. Murid kelas reguler bahkan siswa homeschooling pun bisa disiapkan menjadi lulusan yang mampu berkompetisi di dunia luas.

    The International Baccalaureate® (IB), sebuah lembaga yang memberikan sertifikasi kepada sekolah-sekolah bertaraf internasional mendefinisikan Pendidikan Internasional sebagai berikut:

    • Developing citizens of the world in relation to culture, language and learning to live together
      Mengembangkan warga dunia untuk saling mengenal budaya, bahasa, dan belajar untuk hidup berdampingan.
    • Building and reinforcing students’ sense of identity and cultural awareness
      Membangun dan mempertahankan identitas dan kesadaran siswa akan budaya lokalnya sendiri.
    • Fostering students’ recognition and development of universal human values
      Menumbuhkan kesadaran siswa akan nilai-nilai kemanusiaan yang universal dan pengembangannya.
    • Stimulating curiosity and inquiry in order to foster a spirit of discovery and enjoyment of learning
      Merangsang rasa ingin tahu dan kemampuan bertanya supaya bisa menumbuhkan semangat penemuan dan kesenangan belajar.
    • Equipping students with the skills to learn and acquire knowledge, individually or collaboratively, and to apply these skills and knowledge accordingly across a broad range of areas
      Membekali siswa dengan kemampuan belajar dan memperoleh pengetahuan baik secara individu maupun berkelompok, dan menerapkan kemampuan dan pengetahuan tersebut dengan tepat di berbagai bidang.
    • Providing international content while responding to local requirements and interests
      Menyediakan konten internasional sembari tetap tanggap akan kebutuhan dan kepentingan lokal.
    • Encouraging diversity and flexibility in teaching methods
      Mendorong keanekaragaman dan fleksibilitas metode pengajaran.
    • Providing appropriate forms of assessment and international benchmarking
      Menyediakan bentuk penilaian yang sesuai atau tepat dan pembanding internasional

    Dari 8 kriteria tersebut, hampir semuanya bisa dilakukan di rumah. Mengenalkan anak akan budaya internasional, cinta akan budayanya sendiri, belajar hidup dalam keanekaragaman, menumbuhkan nilai-nilai kemanusiaan, merangsang rasa ingin tahu, menumbuhkan semangat untuk meneliti dan senang belajar, memfasilitasi anak untuk memperoleh pengetahuan apapun yang dia inginkan, memiliki metode belajar yang fleksibel dan akhirnya menilai perkembangan anak secara keseluruhan bukan hanya berdasarkan nilai yang berupa angka.

    Bagaimana dengan bahasa asing yang menjadi syarat kemampuan untuk berinteraksi di dunia internasional? Saat ini sudah banyak lembaga kursus bahasa asing yang bagus. Bahkan nggak sedikit anak yang bisa bahasa asing dari rumah, karena orangtuanya terbiasa menggunakan bahasa tersebut, belajar dari tv, komputer dan sebagainya. Fasilitas untuk belajar seperti percobaan science, art, dan sebagainya bisa diperoleh dengan mengikuti klub-klub belajar seperti Klub Oase, Klub Sinau dan sebagainya. Banyak juga orang tua dan siswa yang mencoba membuat sendiri eksperimen-eksperimen atau prakarya berdasarkan video-video tutorial yang bisa diunduh dengan mudah dari internet.

    Yuk, kita siapkan pendidikan internasional untuk anak dari rumah supaya nanti ia mampu berkompetisi dan hidup berdampingan dengan warga di belahan dunia manapun ia berada. Percaya deh bahwa pendidikan terbaik itu berawal dari rumah bersama orang tua. Because education is not for sale, it’s our rights.

  • Life as Mom

    Menabung Saja Tidak Cukup

    PhotobucketPeringatan: Tulisan ini akan sangat panjang 😀

    It’s not about how much money you earn, but how much money you can save/invest every month #financiallyfit

    “Menabung saja tidak cukup!” kata Ligwina Hananto waktu membuka acara 2011: Shape Up Your Financial Future Seminar yang diselenggarakan oleh The Daily Media (yang menaungi situs dan forum Mommiesdaily.com dan Fashionessedaily.com) dan Nestle Bear Brand & Fitnesse hari Sabtu, 29 Januari 2011 yang lalu di The Bellezza. Ah, masa sih?

    Diawali dengan cerita mbak Wina yang bisa sekolah di luar negeri karena ayahnya menabung 90% dari penghasilannya. Kok bisa? Iyalah, karena beliau bekerja di daerah Sulawesi yang nggak ada mall atau pusat perbelanjaan, dapet rumah dinas dan sebagainya. Nah, kita yang hidup di kota besar ini bisa nggak menyisihkan 90% uang dari penghasilan untuk ditabung? Boro-boro mau nabung, yang ada tekor melulu karena biaya hidup yang sangat besar. Gesek deh kartu kredit untuk belanja ini itu tapi akhirnya cuma bisa bayar tagihan minimum dan kena bunga per tahunnya yang bisa mencapai 40%. Tanpa sadar, tercekik kita dengan utang yang nggak ada habisnya.

    Menurut Ligwina, golongan menengah seperti kita inilah yang termasuk golongan paling miskin. Banyak gaya aja. Keluarga muda, double income, pake BB, punya iPhone, TV plasma, liburan ke Singapore, belanja ini itu. Tapi ternyata masih punya utang kartu kredit yang menumpuk dan nggak investasi. Tahu nggak kalau kita masih punya utang di kartu kredit dan masih asik ngegesek artinya we’re living the lifestyle we don’t deserve. #jleb!

    Lalu gimana dong, supaya bisa nabung? Mulai dengan pemeriksaan keuangan pribadi. Kita breakdown dulu pengeluaran bulanan yang rutin ke dalam beberapa pos lalu dicek apakah dari gaji dan pengeluaran rutin itu masih ada sisanya atau malah minus. Cashflow yang sehat sebaiknya memiliki prosentase seperti ini:

    Photobucket

    Dengan mengikuti perhitungan itu kita bisa menabung dan tetap bisa bersenang-senang karena sudah ada budgetnya.

    Masalahnya, biasanya kita mendahulukan pengeluaran rutin daripada menabung, sehingga hasilnya kadang-kadang bisa nabung kadang bisa enggak. Supaya bisa memiliki keuangan yang sehat, pertama kita harus komitmen dulu untuk menabung minimal 10% dari penghasilan tiap bulan. Lalu buat 2 rekening yang berbeda. 1 rekening untuk arus keluar masuk uang, 1 lagi khusus untuk tabungan. Di awal bulan langsung masukan (kalau bisa autodebit lebih bagus) sejumlah uang ke rekening tabungan itu. Sayangnya, kalo lagi “kepepet” kita suka menyabotase rekening tabungan itu sendiri. Gimana dong caranya supaya kita bisa disiplin? Kembali ke langkah pertama: KOMITMEN. Berat? Banget! Tapi kita juga harus tahu TUJUAN LO, APA? untuk menabung itu.

    Kenapa nabung aja harus punya tujuan? Apa nggak bisa nabung suka-suka aja gitu?  Kalau punya tujuan, kita akan bisa menentukan mau menabung dengan cara yang efektif. Misalnya nih, menabung untuk pendidikan anak, liburan, beli rumah, menikah (dan menikahkan anak), beli mobil, beli gadget, dll. Lagipula kalo udah tahu tujuannya apa, kita jadi mikir-mikir untuk menyabotase tabungan itu karena ada risikonya, anak nggak sekolah, batal menikah, nggak bisa beli rumah, nggak jadi liburan.

    Photobucket

    Soal pendidikan anak nih, sebagai orangtua yang bertanggungjawab, kebanyakan kita suka “keblinger” dengan segala produk yang ada embel-embel pendidikan. Asuransi pendidikan, tabungan pendidikan, dll padahal setelah dihitung-hitung produk-produk tersebut nggak bisa menutupi kebutuhan akan dana pendidikan anak saat kita perlukan nanti. Coba cek deh di kalkulatornya qmfinancial.com berapa dana yang harus kita siapkan saat anak masuk SD, SMP, S1 nanti. Misalnya nih saya pengen masukin Cinta ke sebuah SD yang tahun kemarin uang pangkalnya sekitar Rp 10,000,000.00. Dengan inflasi sekitar 20% per tahun, 2 tahun lagi saya harus sudah punya uang sebesar Rp 14,400,000.00 supaya Cinta bisa sekolah di sana. Kebetulan saya dan suami ikut program Tabungan Pendidikan dan karena jangka waktunya tinggal 2 tahun lagi, tabungan biasa adalah produk terbaik dengan return sekitar 2% per tahun. Dengan menabung sekitar Rp 500,000.00 per bulan dalam jangka waktu 2 tahun kami bisa mengumpulkan kira-kira Rp 12,000,000.00. Lumayan lah tinggal nambah sedikit. Tapi gimana untuk biaya masuk SMP, SMA, S1 dan mungkin S2. Kekejar nggak tuh kalau cuma pake tabungan pendidikan?

    Ya udah ikut asuransi pendidikan aja. Bayar premi tiap tahun minimal 8 juta, nanti tahun ke-6 akan cair 10 juta. Pas kan buat anak masuk SD. Nanti tahun ke-12 dan ke-15 keluar lagi masing-masing 10 juta. Trus tahun ke-18  kita dapet 100juta. Udah termasuk  asuransi jiwa yang uang pertanggungannya 100 juta tuh, sama asuransi kesehatan yang plafon kamarnya Rp 250ribu/malam. Eh, tapi beneran bisa menutupi kebutuhan kita nggak? Yuk, mari dihitung satu-satu.

    Lihat deh kebutuhan dana pendidikan 1 orang anak di ilustrasi ini:

    Photobucket

    Kira-kira dari dana yang kita peroleh dari asuransi pendidikan itu cukup nggak untuk menutupi kebutuhan biaya yang harus kita keluarkan? Lalu bagaimana dengan asuransi jiwanya. Uang pertanggungan 100 juta itu banyak lho. Oke, sekarang pengeluaran keluarga per bulan rata-rata berapa?  Kalau 3juta/bulan berarti UP itu bisa untuk menopang hidup keluarga yang kehilangan pencari nafkah utama selama maksimal 3 tahun. Tapi masa iya sih seorang pencari nafkah “cuma” dihargai sebesar harga sebuah mobil. Lalu asuransi kesehatannya, dengan plafon Rp 250,000.00 sehari itu masuk kelas berapa? Sudah termasuk kunjungan dokter, obat dan lain-lain kah? Sehingga saat kita terpaksa rawat inap, operasi dan sebagainya nggak perlu lagi keluar uang.

    Lha, sudah terlanjur jalan nih asuransi pendidikannya. Kalau ditutup sekarang kan rugi, uangnya hilang dong. Tapi kalau diterusin akan lebih rugi lagi nggak? Okelah kalau ditutup kita akan kehilangan uang yang cukup banyak. Tapi dengan budget asuransi pendidikan yang sebesar Rp 8juta setahun itu kita bisa investasikan ke Reksadana sebesar Rp 1,033,616 sebulan untuk bisa menutupi kebutuhan dana pendidikan sampai S1, lalu ikut asuransi jiwa murni term life selama 10 tahun dengan UP sebesar Rp 1M hanya dengan premi ± Rp 3,000,000.00 setahun. Memang jatuhnya akan lebih banyak daripada asuransi pendidikan tapi toh hasilnya jauh lebih maksimal dan sesuai dengan kebutuhan kita.

    Photobucket

    Kenapa harus investasi? Bukankah risikonya tinggi? Iya, tapi risiko tidak berinvestasi jauh lebih tinggi daripada berinvestasi itu sendiri. Ah, tapi kan anak ada rejekinya sendiri-sendiri. Udah diatur kok sama Tuhan. Yaaaa, so true! Tuhan emang sudah mengatur rejeki tiap anak. Tapi kita sebagai orangtua yang harus pandai mengelolanya. Yang namanya rejeki itu kan nggak selalu berupa dapat uang jebret pas kita lagi butuh. Bisa berupa kenaikan gaji tiap tahun, bonus, menang undian. Nah, yang seperti itu kalau nggak dikelola dengan baik ya belum tentu kita bisa sekolahin anak sampai setinggi yang dia inginkan. Iya kalo pas waktunya anak masuk sekolah tiba-tiba kita dapat uang sekian belas juta, kalo enggak? Masa anaknya ga sekolah?

    Lalu gimana caranya memilih investasi yang tepat?  Kembali lagi ke Tujuan Lo, Apa? Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan itu. Semakin lama jangka waktu berinvestasi, semakin tinggi risiko dan hasil investasi yang akan dihadapi. Semakin lama jangka waktu berinvestasi, semakin tinggi target hasil rata-rata, semakin rendah kebutuhan investasi yang diperlukan. Misalnya saya nih, untuk biaya Cinta masuk SD yang tinggal 2 tahun lagi paling tepat ya pakai tabungan biasa. Meski returnnya sedikit tapi risikonya juga minimal. Sedangkan untuk biaya masuk SMP yang 8 tahun lagi bisa investasi di RD Pasar Uang atau RD Pendapatan Tetap. Lalu untuk biaya masuk SMA dan kuliah dengan jangka waktu 11 dan 14 tahun sebaiknya investasi di RD Campuran atau RD Saham untuk dapat return yang lebih tinggi.

    Photobucket

    Untuk kebutuhan lain seperti dana liburan, dana pernikahan, dana beli rumah tentu penempatan investasinya beda lagi. Tergantung tingkat kepentingannya. Semakin penting dan semakin singkat kebutuhan dana itu sebaiknya ambil investasi yang risikonya rendah.

    Oke, dana pendidikan sudah siap nih. Apalagi?  Asuransi dong. Yang dianjurkan oleh Ligwina adalah asuransi jiwa dan asuransi kesehatan. Kenapa perlu asuransi? Dan siapa yang harus diasuransikan? Asuransi diperlukan untuk melindungi penghasilan yang hilang jika pencari nafkah utama nggak bisa kerja lagi karena meninggal, cacat tetap total atau sakit keras. Berarti yang perlu diasuransikan ya pencari nafkah utama, bisa suami atau istri. Yang jelas bukan anak yah, karena selama orang tua masih bekerja, jika terjadi sesuatu sama anak tentu orangtua nggak akan kehilangan sumber penghasilan kan? Dan asuransi jiwa ini dibutuhkan hanya saat kita berada dalam usia produktif karena saat kita masuk usia pensiun seharusnya sudah ada dana pensiun.

    Untuk asuransi jiwa, mbak Wina menyarankan asuransi jiwa murni dengan perhitungan uang pertanggungan: biaya hidup sebulan  X 12 bulan X 10 tahun. Jadi kalau biaya hidup sebulan 3juta minimal perlu asuransi jiwa dengan UP Rp 360,000,000.00. Pilih jangka waktu dan premi yang sesuai dengan kemampuan kita. Nanti kalau pendapatan dan biaya hidup meningkat bisa bikin asuransi jiwa yang baru.

    Sementara untuk asuransi kesehatan kalau dicover kantor nggak perlu bikin lagi asaaaaaal kebutuhan kesehatan benar-benar sudah dipenuhi oleh asuransi itu. Tapi kalau asuransinya terbatas misal cuma dapet dokter umum dan dokter gigi, obat jatahnya 200ribu, rumah sakit kelas 2, rawat inap ditanggung sekian % aja. Berarti kita perlu punya asuransi kesehatan sendiri. Pilih yang general insurance jangan yang campur dengan produk investasi karena premi akan lebih tinggi dan pertanggungan tidak maksimal. Oya, kalau ikut asuransi jangan mikir untuk cari untung ya apalagi kepikiran rugi, karena tujuan utamanya adalah proteksi bukan investasi.

    Gimana, sudah mumet? Saya sudah nih. Padahal baru dana pendidikan dan asuransi aja lho. Abis ngecek-ngecek pengeluaran bulanan aja udah terkaget-kaget karena ternyata cashflow saya nggak sehat *nangisbombay*.  PR banget untuk ngeberin cashflow supaya bisa investasi untuk dana darurat dan dana pensiun juga. Semangat! Demi financial freedom di masa depan!

    (bersambung)

    NB:

    • angka-angka di atas sekedar ilustrasi.
    • Foto-foto: koleksi pribadi, perhitungan dana pendidikan qmfinancial.com dan dari handout seminar Shape Up Your Financial Future