Browsing Tag:

movie

  • zootopia, resensi film zootopia
    Movies & Music

    Zootopia. Film Seru Sarat Makna

    Ada yang belum nonton Zootopia?

     photo 2_zpsadjnmcaw.jpg

    Saya akhirnya nonton juga minggu kemarin, padahal kakak Cinta masih ada ujian catur wulan pertama hari Senin dan Keenan sedang demam karena batuk pilek. Tapi sudah terlanjur janji karena hampir semua temannya si kakak sudah nonton, begitu pula teman-teman saya di Path. Jadi, sebagai mamak mamak yang kompetitif harus ikut nonton juga hahaha.

    Nggak ding, becanda. Akhirnya tertarik nonton karena baca cerita teman-teman yang sudah nonton duluan dan mereka bilang film ini bagus banget. Selain itu ketika saya browsing, saya mendapati informasi bahwa film yang dirilis tanggal 17 Februari 2016 di Indonesia ini sudah menjadi film no. 1 di dunia hanya 4 hari setelah penayangannya di Amerika tanggal 4 Maret 2016 lalu. Nah jadi penasaran kan. Akhirnya angkut deh anak-anak nonton. Dan alhamdulillah, kami sangat terhibur dengan film ini.

    Bagi yang sudah nonton pasti tahu lah apa yang bikin film ini merajai box office di beberapa negara, tapi buat yang masih ragu untuk nonton, yuk simak resensinya di bawah ini.

    Zootopia adalah film animasi besutan Disney yang disutradarai oleh Byron Howard (Tangled, 2010; Bolt, 2008) dan Rich Moore (Wreck-It-Ralph, 2012; The Simpson, 1989). Film ini bercerita tentang usaha seekor rubah penipu dan seekor kelinci yang baru lulus dari akademi polisi untuk mengungkap misteri hilangnya 14 ekor predator dari Zootopia, sebuah kota di mana para binatang bersifat dan memiliki kehidupan dan pekerjaan seperti manusia.

    Di Zootopia, semua orang eh binatang dapat mewujudkan apapun impian mereka, menjadi apapun yang mereka inginkan. Hal inilah yang mendorong seekor kelinci kecil, Judy Hoops (disuarakan oleh Ginnifer Goodwin) untuk berusaha keras mencapai cita-citanya menjadi polisi meskipun mendapat tantangan dari banyak pihak, termasuk dari orangtuanya sendiri. Dan ketika ia berhasil lulus dari akademi polisi pun, hambatan tidak berakhir begitu saja.

    Stereotip kelinci sebagai binatang kecil yang imut-imut, lemah dan kurang pandai membuat Judy diremehkan oleh atasannya, Chief Bogo (Idris Elba). Tapi bukan Judy namanya kalau pantang menyerah. Dari tugas awal sebagai petugas parkir, Judy didukung oleh asisten walikota, Mrs. Bellwether, berusaha mencari seekor otter yang hilang ketika tidak ada seekor polisi pun yang mau menangani kasusnya. Akibat kekurangan sokongan dari rekan-rekannya di kepolisian, Judy pun meminta dengan paksa bantuan dari seekor rubah licik, Nick Wilde untuk menuntaskan kasus tersebut dalam 48 jam.

    Selama itu, Judy dan Nick mengalami berbagai petualangan yang luar biasa. Dari yang mengesalkan bagi Judy (tapi lucu menurut kami) bersama para sloth sampai yang menegangkan dengan Mr. Big. Dan semuanya membawa mereka ke sebuah konspirasi yang lebih besar dan seru.

    zootopia, resensi film zootopia

    Film yang berdurasi 2 jam 46 menit ini benar-benar membawa anak-anak merasakan berbagai emosi. Senang, terinspirasi, kesal, sedih, senang lagi, lega, tegang, tenang, haru, tegang lagi, sampai berakhir bahagia. Juga mengajarkan anak akan banyak hal. Kalau mau mengenalkan anak pada diskriminasi gender dan stereotip budaya atau suku, nonton deh film ini. Kalau ingin mengajarkan anak untuk tidak putus asa dalam meraih cita-cita mereka, bawa mereka menyaksikan usaha Judy mewujudkan mimpinya.

    Dan para orangtua, film ini bisa menjadi materi belajar parenting lho. Di sini kita bisa lihat betapa Judy bekerja keras dari kecil supaya dapat menjadi kelinci pertama dalam kesatuan Zootopia Police Department, meski kedua orangtuanya menentangnya. Bukan menentang karena mereka nggak sayang Judy, tapi justru karena mereka sayang. Bonnie dan Stu Hoops takut Judy akan kecewa jika ia keukeuh dengan cita-citanya sehingga mereka terus berkata bahwa kelinci itu takdirnya hidup dalam perkebunan dan menjadi petani. Karena sikap seperti itulah, dari 200 sekian saudara kelincinya, hanya Judy yang dapat mendobrak stereotip dumb bunny serta keluar dari Bunnyburrow untuk merantau di Zootopia. Bayangkan, Ma, Pa, kasih sayang dan kekhawatiran berlebihan kita ternyata dapat membunuh mimpi seorang anak.

    Meskipun durasinya panjang, film ini jauh dari membosankan kok. Bahkan kalau liat beberapa resensinya di IMDB, kebanyakan memberikan komentar positif. Secara keseluruhan ratingnya 8,4 dari 10. Cinta, anak saya berusia 8 tahun, sepanjang film nggak bisa melepaskan perhatiannya dari layar. Sedangkan Keenan ya lebih memilih main naik turun tangga dan berkeliling di dalam gedung bioskop bersama teman seusianya. Tapi kebanyakan anak-anak yang berusia di atas 3 tahun sudah dapat menikmati film ini dari awal sampai akhir.

    resensi film zootopia

    resensi singkat dari Cinta

    Selain skenario yang bagus dan mengaduk emosi, lagu-lagu dalam film Zootopia juga bagus-bagus. Hitnya pastilah Try Everything yang dibawakan oleh Shakira sebagai Gazelle. Semoga lagu ini bisa menjadi pengganti Let It Go yang sudah berkumandang di dalam rumah saya selama 2 tahun terakhir ini ya. Tapi mama papa generasi 80an pasti akan tersenyum mengenali potongan lagu seperti All By Myself dan Everybody Hurts.

    Jadi, kalau belum ada rencana mengisi akhir pekan ini, saya sarankan nonton Zootopia deh. Tapi tetap jangan biarkan anak-anak nonton sendiri ya. Film ini ratingnya Parental Guidance, masih perlu kehadiran orangtua untuk mendiskusikan tentang isi film supaya anak nggak salah paham, karena ada beberapa adegan di mana para binatang telanjang di sebuah klub kebugaran. Juga penampilan Gazelle yang layaknya artis masa kini dengan kostum dengan gerakan tari orang dewasa. Serta beberapa adegan kekerasan seperti ketika seekor binatang kecil dibully temannya sampai terluka dan seekor binatang diserang oleh binatang lain sampai matanya terluka.

    But overall, film ini seperti kebanyakan film Disney lain, aman bagi anak. Selama kita, sebagai orangtua mengarahkan fokus anak kepada hal-hal positif yang ada dalam film.

    Selamat menonton ya.

    Dan kalau ada yang sudah nonton, yuk, bagi kesannya di sini 🙂

  • Movies & Music

    Disney Descendants

    Sudah sebulan ini Disney Channel jor joran menayangkan iklan Disney Channel Original Movie terbaru: Descendants yang akan tayang tanggal 13 September 2015 di Disney Channel Asia. Ngeliat trailer dan cerita para pemeran utamanya sih sepertinya lumayan juga nih untuk ditonton. Cuma kok ya masih lama tayangnya.

    Tapi hari Jumat lalu waktu Cinta pulang dari playdate di rumah temannya, dia cerita abis nonton Descendants. Lha jadi penasaran kan saya. Coba nyari di filmbagus21 eh ada. Ternyata film ini memang sudah tayang tanggal 31 Juli di Amerika.

    Jadi Descendants ini bercerita tentang anak-anak para penjahat terhebatnya Disney yaitu Mal, anak perempuan dari Maleficent; Evie, putrinya The Evil Queen; Carlos, anak tunggalnya Cruella De Vil dan Jay, anaknya Jafar. Masih pada inget kan di cerita klasik Disney mana para penjahat ini muncul?

    Keempat anak yang selama ini tinggal di Isle of the Lost, pulau terasing tempat para orangtua mereka dibuang, tiba-tiba diberi kesempatan untuk sekolah dan tinggal di The United Kingdom of Auradon, kerajaan para Disney princes dan princesses. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh para evil villains untuk membalas dendam dengan memberikan misi rahasia kepada anak-anak mereka yang awalnya disambut dengan antusias.

    Ternyata setelah Mal, Evie, Carlos dan Jay tinggal di Auradon, mereka menyadari bahwa nggak mudah melaksanakan misi itu. Terutama karena kata hati mereka berperang melawan keinginan untuk membuat orangtua mereka bangga. Nah, mana yang menang? Harus liat sendiri filmnya hehehe.

    Tapi gampang ketebak kok. Ya, memang agak cheesy filmnya. Mungkin karena ditujukan untuk anak-anak ya. Karakter-karakternya juga kurang kuat kecuali Mal. Dan yang paling bikin sedih adalah those great villains look so pathetic. Hiks. Nggak ada deh sisa-sisa kepongahan dan keserakahan Jafar, kelicikan the Evil Queen dan kekejaman Cruella De Vil. Sungguh mereka tampak konyol. Karakter Maleficent agak mendingan ya meski masih kurang aura jahatnya.

    Lagi-lagi ya penonton dewasa seperti saya harus memaklumi bahwa ‘ini film anak-anak’. Meski demikian banyak kok pesan moralnya untuk para orangtua, seperti kita nggak bisa memaksakan anak untuk mengikuti jejak kita. Atau ada masa-masa di mana anak akan mengalami dilema antara mengikuti kata orangtua atau lingkungan, di saat seperti ini hubungan yang harmonis antara anak dengan ortu memegang peranan penting. Dan anak harus diberi kesempatan membuat keputusan penting, sekaligus berani menghadapi risikonya dan belajar mempertanggungjawabkan keputusannya.

    Sementara buat anak-anak film ini lumayan kok buat hiburan sekaligus memperkenalkan tokoh-tokoh film klasik Disney. Cinta bilang dia suka nontonnya, menurutnya jalan ceritanya bagus meski dia nggak kenal Cruela De Vil dan Jafar. Karakter favoritnya adalah Mal, “Because she has purple hair. No, actually because she’s the best of them all.” Lagu-lagunya juga cukup menarik terutama yang dinyanyikan solo oleh Mal. Meski kalau dibandingkan dengan High School Musical dan Teen Beach Movie masih jauh lah.

    Mungkin kalau dibuat lebih serius lagi dan dikurangi nyanyian dan tariannya (udah mirip sama film India aja gitu) film dengan jalan cerita yang unik ini bisalah tayang di bioskop. Sementara ini mumpung nontonnya nggak bayar layak kok buat tontonan di akhir pekan sambil makan popcorn rame-rame di ruang keluarga. Selamat menikmati.

  • Life in Brunei, Movies & Music

    Minions. Just Enjoy The Fun.

    [Spoiler alert]

    Sejak muncul trailernya di youtube beberapa bulan yang lalu, anak-anak terutama Cinta semangat sekali ingin nonton prekuelnya Despicable Me ini. Maklum, mereka adalah pecinta berat Gru, the girls dan para minions. Apalagi Keenan, mungkin dia sudah nonton sebanyak 77 kali film-film Despicable Me yang tersimpan di file video Galaxy Note milik papanya. Bahkan dia bisa ngomong “banana” dan “apple” saya rasa juga belajar dari para Minions ini.

    Jadi begitu PSB Dualplex Cinema Seria mulai menayangkan film Minions sejak tanggal 18 Juni yang lalu, kami pun mulai merencanakan untuk nonton bersama. Iya, bersama dalam arti semua ikut nonton. Termasuk Keenan. Biasanya sih cuma saya dengan Cinta, Cinta dengan papanya atau saya dengan suami (yang jarang sekali terjadi sejak punya anak. Hiks). Tapi kali ini kami ingin mengajak Keenan juga. Apalagi liat ratingnya di IMDB adalah PG atau Parental Guidance yang artinya film ini bisa ditonton oleh segala umur dengan pendampingan orang tua karena ada materi-materi yang mungkin tidak cocok untuk anak-anak terutama di bawah 13 tahun seperti adegan kekerasan, humor yang kasar atau adegan telanjang1. Jadi rasanya okelah sebagai percobaan membawa Keenan nonton bioskop untuk pertama kalinya. Toh, kalau ternyata nanti dia nggak suka salah satu dari kami bisa membawa Keenan keluar studio.

    Sengaja memilih nonton jam 16.30 dengan pertimbangan durasi film selama 91 menit memberi kami cukup waktu untuk menanti buka puasa. Sekalian ngabuburit gitulah. Sayangnya, karena masih dalam waktu puasa kami nggak bisa membelikan popcorn untuk Keenan karena ada larangan bagi muslim dan non-muslim untuk makan dan minum di dalam gedung bioskop selama fasting hours. Tapi nggak apa-apalah, toh sebelum berangkat Keenan sudah sempat makan sedikit.

    Secara keseluruhan film ini menurut saya cukup menghibur meski nggak semenarik Despicable Me walaupun digarap oleh sutradara yang sama, yaitu Pierre Coffin. Hanya saja di film Minions, Pierre bekerja sama dengan Kyle Balda, co-director film The Lorax instead of Chris Renauld seperti dua film Despicable Me.

    Minions berkisah tentang para makhluk kecil berwarna kuning yang hidup sejak mula terbentuknya bumi ini memiliki tujuan hidup mengabdi para orang-orang terjahat pada jamannya. Mulai dari T-Rex, manusia prasejarah, Anubis, Count Dracula sampai Napoleon Bonaparte (eerrr, Napoleon termasuk evil villain kah?). Sayang karena kecerobohan mereka para tokoh jahat ini tidakberumur panjang sehingga pada akhirnya para minions membangun dunia mereka sendiri dalam gua es. Sampai akhirnya kehidupan terasa tidak berarti bagi mereka dan Kevin dibantu oleh Stuart dan Bob mencoba pergi dari gua untuk mencari bos terjahat pada jaman itu.

    Trivia

    These three minions (Kevin, Stuart and Bob) were designed to resemble Gru’s daughters Margo, Agnes and Edith.2

    Dalam perjalanannya mereka bertemu dengan keluarga Nelson yang berprofesi sebagai perampok bank. Keluarga inilah yang memberi tumpangan untuk mereka ke Orlando demi menghadiri villain-con dan bertemu dengan Scarlet Overkill. Long story short, Kevin, Stuart dan Bob pun bekerja untuk Scarlet dan suaminya Herb Overkill dan diberi tugas mencuri mahkota Ratu Inggris.

    Usaha mereka melaksanakan tugas tersebut pada akhirnya justru menjadi bumerang. Minions dianggap berkhianat oleh Scarlet dan diburu oleh para penjahat lain. Kevin pun berusaha untuk melindungi teman-temannya sekaligus melawan para musuh.

    Pada awal film, Keenan nampak ketakutan tapi kemudian dia mulai menikmati suasana bioskop yang gelap dan tingkah para makhluk kuning kesukaannya sambil berpindah-pindah dari pangkuan saya ke kursi sebelah yang kosong untuk duduk sendiri. Sementara kakak Cinta seperti biasa duduk tenang menikmati film ini.

    Sejujurnya bagi saya film ini agak membosankan. Keseruan dan kelucuan sudah keluar di awal film saat menceritakan sejarah hidup para minions sampai mereka bertemu Nelson family sedangkan ke belakangnya justru terasa datar. Bahkan Scarlet Overkill yang suaranya diisi oleh Sandra Bullock pun kurang memberi kesan bagi film ini, di beberapa review bahkan menyebut ia sebagai penjahat yang membosankan yang terpaksa saya setujui. Bahkan karakter Lucy Wilde di Despicable Me 2 juga karakter Queen Elizabeth dan the Nelson family lebih menarik daripada Scarlet.

    Dalam film ini pun ada beberapa kata yang mungkin tidak pantas didengar oleh anak-anak seperti ‘imbecile3 dan beberapa becandaan yang agak kasar. Juga ada beberapa adegan para minions telanjang dan menampakkan seluruh bagian belakang tubuhnya, adegan berpelukan antara Scarlet dan Herb, salah satu minions mandi berendam sambil memeluk hidran air. Juga adegan berantemnya minions dengan para penjahat termasuk Scarlet yang meski kurang greget tapi mungkin bisa jadi pertimbangan orangtua untuk membawa anak-anak menonton film ini.

    Salah satu yang bagus dari Minions adalah pelajaran untuk menyayangi dan melindungi serta berkorban bagi orang-orang yang kita sayangi. Bagaimana kita harus bekerja keras untuk memperbaiki bukan hanya hidup kita tapi juga orang banyak dan meski kadang nggak mudah kita nggak boleh putus asa. Juga betapa mudahnya media membuat kita mengambil asumsi dan mempercayainya tanpa berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Serta obsesi yang berlebihan seringkali membuat kita pada akhirnya kehilangan segala yang telah diusahakan bertahun-tahun.

    But however, film ini cukup menghibur terutama bagi pecinta Minions. Tapi di luar itu, saya sarankan nonton mini moviesnya aja deh. Bisa dibeli di iTunes atau nonton di youtube. Lebih lucu dan menghibur menurut saya hehehe. Enjoy!

    1. http://www.parentalguide.org/movieratingsguide.html []
    2. http://www.imdb.com/title/tt2293640/trivia?ref_=tt_trv_trv []
    3. meaning: stupid; idiotic []
  • Life in Brunei, Parenting, Traveling

    Movie Playdate

    Saking seringnya liat trailer film Wreck It Ralph di Disney Channel, Cinta pengen banget nonton film besutan Disney ini. “Seru lho Ma, lucu,” katanya. Saya sih jujur aja ragu Cinta mau nonton film seperti ini karena bukan kesukaannya. Wong Toy Story series, Brave sama TinkerBell and The Great Fairy Rescue aja dia nggak suka. Sejauh ini, film bioskop yang bisa dia tonton sampai habis itu yang banyak lagu dan nari-narinya, macam Happy Feet 2 dan Madagascar 3.

    Tapi berhubung bolak-balik minta nonton, saya pikir dicoba aja deh daripada nganggur liburan di rumah ini. Dan setelah dijanjikan harinya, Cinta seneng sekali plus minta ijin untuk ajak teman sekolahnya yang juga tinggal satu apartemen sama kita, Xing Yuan. Begitu diiyakan, dia langsung bikin rencana, “Nanti aku dibelikan 2 popcorn ya, biar bisa makan sama XingYuan sambil nonton pakai 3D glasses. Trus abis itu makan di tempat bowling. Aku pengen spaghetti carbonara. It would be fun, mama.” Okesip kakaaaaaak.

    Pas hari H, mungkin karena nggak sabar atau ngantuk sebelum berangkat Cinta agak rewel. Dia berantem terus sama temannya. Bahkan di perjalanan pun beberapa kali nanya, “Can I sleep first in the car?” Sementara si teman sibuk nyanyi-nyanyi menghibur dirinya sendiri.

    Photobucket

    Sayangnya, begitu sampai di bioskop dan film dimulai, Cinta tegang. Belum ada separuh cerita udah sibuk bilang, “I don’t like this movie“, “I don’t want to watch this“, “Can I hug you, Mama?” “I want to get out” endebre endebre. Sedangkan XingYuan masih asik nonton sambil makan popcorn. Si mama yang lagi sensitif ini mulai kesal dan nyuekin dia sampai akhirnya pasrah duduk diem sambil ikut makan popcorn.

    Setelah 1 jam, pas lagi seru-serunya film, nengok ke kedua anak kecil itu sudah duduk lesu di kursinya masing-masing. Akhirnya diputuskan keluar dari bioskop dan lanjut makan siang. Baru deh mereka mulai tenang dan happy ngider di tempat bowling liat orang-orang main.

    Yah, ternyata memang ajak anak ke bioskop harus benar-benar pilih film yang mau ditonton ya. Kalau yang rating PG dan untuk tontonan keluarga belum tentu mereka suka, apalagi film dengan rating di atasnya, seperti Dark Night Rises, Skyfall, Breaking Dawn, dll. Pinjam istilahnya psikolog Ratih Ibrahim, film-film dengan rating PG-13, R, NC-17 cuma bikin trauma sampah kognitif pada anak-anak. Kok bisa, kan anak-anak belum ngerti apa yang dia tonton?

    Lha justru itu, fungsi kognitif anak belum matang betul untuk bisa mencerna dan paham apa yang mereka tonton. Apalagi kalau orang tua nggak berusaha menjelaskan dan mengarahkan pola pikir anak ke bagian-bagian positif dari tontonan itu. Jadi begitu liat adegan cium-ciuman, dar der dor dan berantem dengan suara keras bisa bikin trauma juga jadi sampah di kognisi mereka deh.

    Hmmm pelajaran juga pengalaman movie playdate sama anak-anak ini, harus hati-hati bawa anak ke bioskop. Yang buat kita bagus dan menghibur belum tentu bisa dinikmati anak. “You don’t know what garbage you inject to their mind,” kata mbak Ratih.

    Tapi jadi penasaran sama akhir ceritanya Wreck It Ralph nih. Apa dia beneran bisa diterima sebagai hero sama orang-orang di game Fix It Felix? Nggak sabar nunggu bisa download filmnya trus nonton sendiri deh pas Cinta tidur 😀

    Kalau anaknya suka nonton film apa, Moms di bioskop?

  • Life in Brunei, Movies & Music

    Madagascar 3: I Like To Move It Move It

    Dadadadadada circus dadadadada afro circus afro circus afro polka dot polka dot polka dot afro.. I like to move it move. I like to move it move it.

    Aaaaaaak, lagu itu seperti terngiang-ngiang terus di telinga sepanjang malam setelah kami nonton Madagascar 3.

    Petualangan Alex, Marty, GloriaMelman, King Julien, Maurice, Mort and the Penguins untuk kembali pulang ke New York Central Park Zoo kali ini penuh dengan kejutan yang seru, kocak dan romantis. Sepanjang film kita dibuat kagum, terharu dan ketawa karena cerita dan musik yang keren banget. Apalagi saya dan Cinta baru pertama kali nonton film 3D (iyaaaa, emang ndeso kok -ngaku sebelum dihina dina duluan). Cinta yang awalnya takut dan minta pangku sampai heboh sendiri di tempat duduknya karena keasikan nonton dan joget. Untung ya nontonnya film anak-anak, jadi mau ribut pun nggak ada yang protes karena semua juga begitu *grin*

    This is a must seen movie for children, mumpung liburan sekolah. Anak-anak besar mungkin senang saat adegan kejar-kejaran antara the castaways dengan para animal controllers dan saat latihan sirkus juga romantisme Alex-Gia, sedangkan yang lebih kecil akan terhibur dengan lagu-lagu dan adegan-adegan lucu dari film ini.

    Cinta sendiri sebagai penggemar berat Penguin of Madagascar nggak sabar menunggu film ini dirilis sejak liat posternya di The Mall Cineplex, Brunei beberapa bulan yang lalu. Pas banget akhirnya Madagascar 3 ini tayang di PSB (Plaza Sutera Biru) Dualplex, Seria saat libur sekolah 2 minggu yang lalu. Bertiga, sepulang pak suami kerja, kami pun menyempatkan nonton dan sekarang pengen nonton lagi 😀

  • Movies & Music

    The Chronicle of Narnia: The Voyage of the Dawn Treader

    PhotobucketSaya memang bukan fan berat Narnia bahkan belum pernah baca bukunya, tapi setelah melihat beberapa filmnya di saluran HBO, saya berniat untuk nonton sequel yang ini. Apalagi suami mau menemani, jadi inilah kesempatan untuk pacaran berdua tanpa Cinta. Itupun pakai acara nyaris terlambat dan dapat kursi di barisan nomor 2 dari depan yang lumayan bikin pegal leher dan mata. Dan ternyata saya menaruh harapan terlalu tinggi terhadap film ini, apalagi karena sebelumnya nonton Harry Potter. Saya pikir, minimal selevel dengan HarPot. Meskipun demikian banyak yang bisa dipelajari dari The Voyage of the Dawn Treader. Tapi hal yang paling menyenangkan adalah bisa nonton berdua suami setelah sekian tahun 😀

    Back to Narnia, semua orang pasti punya comfort zone, sebuah tempat atau kondisi di mana kita selalu merasa nyaman dan aman. Lingkungan yang selalu menyenangkan dan membuat kita merasa terlindungi serta bisa dikendalikan. Buat saya, mungkin comfort zone itu adalah rumah mama saya, tempat yang selalu saya rindukan saat sedang gundah dan merasa keadaan terlalu berat atau menjemukan. Lucy dan Edmund Pevensie selalu punya Narnia sebagai “rumah” yang mereka rindukan. Apalagi di sequel terbaru ini mereka harus tinggal di rumah paman dan bibi bersama sepupu Eustace Scrubb yang menyebalkan.

    PhotobucketLucy, Edmund dan Eustace terlibat dalam petualangan baru bersama King Caspian X dan kapal Dawn Treader untuk mencari 7 bangsawan Narnia yang hilang. Ternyata pencarian itu membawa mereka dalam pertempuran melawan kekuatan jahat yang ada di balik Dark Island. Eustace yang awalnya adalah anak manja, usil dan menyebalkan berubah menjadi seekor naga karena keserakahannya ketika melihat tumpukan emas di Deathwater Island. Tapi perubahan itu justru membuat Eustace menjadi pribadi yang lebih baik berkat bimbingan tikus yang bisa ngomong Reepicheep.

    “Before you defeat the darkness out there, first you have to defeat the darkness inside yourself” – Coriakin

    Caspian, Lucy dan Edmund juga harus berperang melawan “kegelapan” dalam diri mereka. Caspian yang begitu ingin membanggakan ayahnya sangat khawatir ketika bayangan sang ayah berkata bahwa ia mengecewakan. Sedangkan Lucy sangat berharap bisa menjadi secantik Susan, kakaknya yang anggun, sehingga ia mencuri mantra dari kastil Coriakin. Edmund sendiri merasa lelah menjadi “orang nomor dua” dalam keluarga maupun Narnia. Dia dibayangi oleh White Witch yang berjanji menjadikannya raja di Narnia jika Edmund mau ikut dengannya.

    Kita juga pasti punya ketakutan atau sisi gelap dalam diri masing-masing, seringkali hal itu yang menghambat kita untuk melangkah ke arah yang lebih baik atau bahkan menjadikan kita pribadi yang tidak menyenangkan. Tapi ketika kita bisa mengenali ketakutan itu dan mengatasinya, change might happen, either it become better or worse but always worth taking. Pun, senyaman-nyamannya kita berada di comfort zone, untuk bisa maju mau nggak mau harus keluar dari lingkungan tersebut. Pasti dibutuhkan banyak usaha, keberanian, kepedihan untuk bisa keluar dari situ. Ketika menghadapi tantangan tersebut pun ada dua pilihan, yang pertama adalah berhenti dan terus mengeluh atas hidup yang kita jalani. Atau terus berjuang sampai bisa merasa nyaman akan diri sendiri sehingga di manapun berada, kita akan selalu bisa menemukan zona nyaman itu.

  • Movies & Music

    [Movie Review] Motherhood: Saya Banget

    Sebenarnya sudah lama banget punya DVD film Motherhood ini tapi baru hari Rabu kemarin sempat nonton itupun sambil setrika, memanfaatkan waktu luang ketika Cinta lagi di sekolah *grin*. Tertarik beli DVD ini karena tawaran mas penjaga lapak yang liat saya kerepotan pilih pilih film sambil ngawasin Cinta yang lari ke sana ke mari. Liat sinopsis di balik bungkus DVD sepertinya menarik, juga tagline filmnya yang berbunyi “There are no time-outs in Motherhood”.

    movie,motherhood

    Baru liat 5 menit pertama aja udah ngerasa kalo karakter Eliza Welsh yang diperankan oleh Uma Thurman ini gue banget, urban mama (cieee ngaku ngaku lo) tanpa ART (baru beberapa minggu aja padahal) yang berkutat dengan kesibukan mengurus rumah dan anak, punya parenting blog (eh kalo saya daily blog aja sih), suami yang sibuk dengan urusannya sendiri sehingga jarang banget bisa dimintain bantuan. Bedanya Eliza tinggal di kawasan hip New York sementara saya tinggal di sebuah perumahan yang ada di pinggiran Bogor dan nyaris tak tersentuh koneksi internet (curcol), dia punya 2 anak sedangkan saya baru punya 1, suami Eliza punya pekerjaan yang waktunya fleksibel, lha saya sudah cukup bersyukur bisa ketemu suami tiap 2 bulan *jadi curhat beneran*

    Intinya sih, film ini benar-benar mengisahkan tentang kehidupan ibu rumah tangga yang super ribet, mulai dari bangun pagi, nyuri nyuri waktu untuk bisa ngeblog ketika semua anggota keluarga masih tidur di pagi hari atau sambil nemenin anak main di taman, nyiapin pesta ulang tahun anak sendiri, punya tetangga yang nyebelin, punya sahabat yang bisa diajak ngobrol tentang anak. Tepat di hari ulang tahun anaknya, Eliza pengen ikutan kontes menulis esai tentang motherhood yang berhadiah ribuan dolar dan kesempatan untuk jadi kolomnis di sebuah majalah parenting. Di sela sela kesibukannya itu, shit happened dan Eliza yang sudah kelelahan dan jenuh dengan kegiatan sehari-harinya memutuskan untuk kabur dari rumah (well, who wouldn’t?)

    Motherhood is about accepting the limitations of time and energy, which stretch behind you, even if sometimes it feels they could consume you. Search for and hold on to your own true self. If you lose that, what kind of mother can you be?

    Kalau pengen tahu akhir ceritanya harus nonton sendiri, it’s worth to see kok meski bukan termasuk salah satu film yang masuk box office. Kalau perlu ajak suami untuk nonton biar dia paham apa yang kita hadapi sehari-hari dan mengerti kalau sesekali kita butuh me time, kangen dicintai suami seperti waktu masih pengantin baru, perlu sesuatu untuk dikerjakan di luar aktivitas mommy things dan yang penting adalah kita, eh saya aja deng, juga harus bisa memahami keterbatasan saya dalam menghandle semua hal. It’s okay to pause and sit down a bit, beri waktu untuk diri sendiri bernafas dan menikmati hidup. Lakukan sesuatu yang disuka sebagai keseimbangan jiwa, entah itu bekerja di rumah, bekerja di luar rumah, sekedar menulis atau apapun lah.

    Eliza: It means mommy might get a real job.
    Clara: But I don’t want you to get a real job.
    Eliza: Why not? It’s good when mommies work. It keeps mommies happy. It keeps them from being mean, nasty, yelling mommies. What about daddies? Should daddies not work, too? Why moms and not dads, hmm? Elighten me.
    Clara: ‘Cause moms do everything. Dads only do some things. It’s different.

    Oya, jangan lupakan komunikasi dengan suami. Itu yang penting, kadang kita *eerrrr elu aja kali Fla* merasa kok kita saya aja sih yang ngerjain semuanya, kok suami ga mau bantu bantu. Ngerti gak sih dia kalo saya capek? Lha gimana mau ngerti kalau nggak bilang, cuma ngomel nggak jelas, manyun seharian. Suami bukan pembaca pikiran toh? Siapa tahu setelah ngobrol, malah dapat pencerahan kalau ternyata nggak cuma kita sebagai ibu dan istri yang sudah mengorbankan banyak hal untuk keluarga. Suami pun begitu. Seperti suami saya sering bilang, seandainya bisa, dia pengennya ya ada dekat kami setiap saat, tapi apa yang dia kerjakan sekarang sampai bela belain jauh dari keluarga, ketemu anak kesayangannya cuma 2 minggu tiap 2 bulannya ya demi kami, anak dan istrinya.