Browsing Tag:

family

  • Life in Brunei

    Emoji Weekend

    Akhir pekan lalu, KB Sentral Mall mengadakan event yang bertema “Emoji Weekend”. Acara ini berlangsung tanggal 3-6 September 2015.

     photo D2597485-BAE2-452F-A876-63848EA1D8D5_zpszulshnnf.jpg

    Sesuai temanya, beberapa aktivitas yang diadakan menggunakan atribut emoji yang sudah akrab dengan pengguna pesan instan di telepon pintar. Aktivitas ini antara lain adalah lomba menggambar emoji, lomba mewarnai emoji serta mini games seperti bowling, balloon pop, ring toss, emoji shooting dan guess the emoji. Kalau nggak pengen ikut lomba, pengunjung tetap bisa seseruan dengan foto-foto di photo booth menggunakan atribut emoji. Oya, bagi pengguna Instagram ada lomba foto wajah atau gaya semirip mungkin dengan emoji. 

     photo 1618B28D-D15F-464D-B2F3-E734FA54C603_zpswbyymujm.jpg

    Untuk berbagai macam lomba dan photo booth peserta tidak dikenai biaya alias gratis. Tapi bagi yang pengen seseruan main games tinggal bayar B$3 untuk setiap 2 permainan. 

    Cinta sendiri kali ini ikut lomba mewarnai emoji yang diperuntukkan anak usia 8-12 tahun. Semangat banget dia. Saking semangatnya sampai sempat kesal karena ternyata warna crayon yang dia bawa nggak lengkap. Akhirnya mama deh lari-lari ke supermarket belikan crayon disertai drama tangisan Keenan yang nggak mau keluar dari supermarket *tutup muka dan telinga*

     photo 510EC5C6-BB86-4185-8DAE-A53BC1C19FB9_zpsljkvt7dy.png

    Sambil nunggu Cinta lomba, saya dan Keenan muter-muter di arena lomba. Keenan juga sempat foto-foto sama calon mobil barunya, Mercedes Benz 1.8 *aamiin*. Eh, ketemu juga sama salah satu teman Facebook, sesama orang Indonesia yang baru tinggal di Brunei sejak awal Januari. Yaiy, tambah lagi satu orang anggota komunitas KB – Seria.

    Meski akhirnya nggak menang tapi saya senang Cinta mau ikut berpartisipasi dalam acara kompetisi seperti ini. Dan saya bangga karena kali ini dia bisa menyalurkan kekecewaannya dengan cara selain menangis dan marah, meski tetap manyun. Gapapa ya, namanya juga lagi belajar mengelola emosi. Jadi begitu tahu nggak menang dia langsung minta main games pop balloon sama emoji shooting. Lumayan dapat lollipop. Trus ikut Keenan main di playground, puas deh loncat-loncat di trampolin. Memang kadang cara terbaik menyalurkan perasaan negatif adalah dengan beraktivitas fisik ya. 

    Nah, itu cerita #weekenddimall saya. Gimana cerita akhir pekanmu? Pasti nggak kalah seru ya. Semoga bisa memberi energi untuk menjalani hari-hari sibuk minggu ini. Selamat hari Senin!

  • Family Health

    Ringankan Gejala Flu dengan Essential Oils

    Mengalami gejala flu dan selesma atau yang biasa dikenal sebagai common cold pasti bukan hal yang menyenangkan. Hidung tersumbat atau justru nggak berhenti meler, tenggorokan gatal, kadang juga disertai demam yang seringkali bikin susah tidur. Bagi orang dewasa saja kondisi ini sangat mengganggu ya apalagi jika dialami oleh batita yang ngomong aja belum lancar sehingga dia nggak bisa mengutarakan apa yang dirasakan seperti Keenan beberapa minggu yang lalu.

    Meski dia masih aktif di siang hari tapi di malam hari jadi susah tidur karena hidungnya tersumbat. Padahal supaya cepat sembuh, Keenan perlu banyak istirahat. Belum lagi virusnya bisa nularin seisi rumah yang kenyataannya terjadi hanya dua hari setelah Keenan mulai pilek, papanya pun ikut sakit.

    Seperti biasa untuk gejala flu yang disebabkan oleh virus, meski nggak tega lihat anaknya nggak nyaman, saya berusaha untuk nggak ngasih obat kecuali paracetamol ketika demam. Saat Keenan mulai pilek, suami pun menyarankan supaya saya sering-sering ngasih Keenan honey lemon suam terutama setiap bangun tidur untuk meningkatkan imunitasnya. Selain itu setiap mau tidur saya ajak Keenan berendam air hangat untuk mengeluarkan ingus dari hidungnya supaya dapat tidur lebih nyenyak.

     photo F7319C61-C239-4719-9C4E-A9BD9B6182F1_zpsphyekndw.jpg

    Sayangnya kedua hal itu masih belum bisa mengurangi gejala flunya Keenan. Akhirnya saya menggunakan diffuser Young Living yang belakangan jarang dipakai karena anak-anak sudah jarang sakit. Seperti biasa tiap ada yang mengalami gejala flu, saya meneteskan 3 oils andalan untuk pilek, yaitu lemon, peppermint dan thieves dalam diffuser tiap waktu tidur siang dan malam, masing-masing 4 tetes.

    Saya pilih ketiga oil itu karena lemon berfungsi untuk meningkatkan vitalitas dan energi jika didifuse dan dihirup. Juga mengandung antivirus yang dapat membunuh kuman-kuman dalam udara. Bermanfaat sekali saat ada anggota keluarga yang sakit kan.

    Peppermint berguna untuk melegakan pernafasan dan mengencerkan dahak. Sedangkan thieves berfugsi menjaga daya tahan tubuh serta membersihkan ruangan dari bakteri dan kuman.

    Alhamdulillah, aroma lemon, peppermint dan thieves yang didifuse sekaligus bisa membantu melegakan pernafasan dan membuat tidur lebih nyenyak. Nggak cuma untuk Keenan tapi juga mamanya hihihi.

    Selain didifuse, campuran ini juga saya oleskan di telapak kaki anak-anak terutama pada bagian bawah jari kakinya sambil dipijat lembut untuk meningkatkan kekebalan tubuh dan mengurangi demam.

    Karena campuran lemon, peppermint dan thieves paling sering saya gunakan baik didifuse atau dioles, saya mencampur ketiga oil ini ke dalam satu botol kosong yang sudah disteril dengan perbandingan 1:1:1 menggunakan pipet bersih.

    Cara ini memudahkan saya saat ingin menggunakan dan tentu lebih praktis membawa satu botol ke mana-mana daripada 3 botol sekaligus ya. Apalagi saat cuaca nggak menentu di Brunei seperti sekarang. Tiap pulang sekolah saya oles ke telapak kaki kakak Cinta untuk menjaga imunitasnya sampai Keenan benar-benar sembuh.

    Alhamdulillah dalam tiga hari, gejala selesma Keenan sudah berkurang. Meskipun memerlukan waktu hampir seminggu sampai benar-benar sembuh, setidaknya Keenan lebih nyaman dan bisa tidur nyenyak. Sayangnya saya kurang rajin ngedifuse dan mengoleskan oil-oil ini ke suami sehingga common cold yang dia alami lebih lama sembuhnya meski sudah minum obat bebas.

    Oya, essential oils ini tidak dimaksudkan sebagai pengganti obat ya. Bagi saya dan keluarga, minyak-minyak ini hanya berguna untuk meringankan gejala penyakit. Kalau sakit terus berlanjut tetap harus berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan penanganan medis yang tepat.

  • Daily Stories

    Ceroboh (Nyaris) Berakibat Fatal

    Sebagai orangtua, kadang kita melakukan kecerobohan dalam mengasuh dan menjaga anak-anak. Nggak peduli sekuat apapun kita berusaha melakukan yang terbaik bagi mereka.

     photo D8E09D79-ECCD-4D0E-90C7-BA87F89852F9_zpskfnduypx.jpg

    Hari Minggu yang lalu, saya kembali melakukan kecerobohan yang bisa saja berakibat fatal bagi keselamatan anak. Berawal dari permintaan kakak Cinta untuk main di playground Petani Mall, Tutong. Saya dan suami yang memang malas saat anak-anak main di playground karena berarti harus mengikuti kemana pun Keenan pergi, mengiyakan permintaan tersebut dengan syarat kakak harus jaga adik.

    Kebetulan beberapa bulan sebelumnya kakak Cinta sanggup melakukan hal itu di playground yang lebih besar di Bandar. Dia bermain bersama Keenan sementara kami duduk mengawasi dari luar arena permainan. Sesekali saya masuk untuk menemani Keenan bermain supaya Cinta bisa main di tempat-tempat yang nggak terjangkau oleh Keenan. But overall she did a great job.

    Kali ini saya nggak ikut masuk ke dalam arena karena lapar sekali dan ingin makan di tempat duduk yang berbatasan langsung dengan pagar arena bermain. Saya juga nggak bisa minta tolong suami untuk mengawasi anak-anak di dalam arena karena diapun sudah lelah nyetir. Selain itu kalau tiba-tiba ada mbak-mbak yang terpesona lihat suami saya momong Keenan main lalu ngebisikin kalau dalam Islam poligami itu diperbolehkan kan bisa bikin emosi jiwa ya hehehe.

    Nah, dari tempat duduk itu kami bisa mengawasi bouncy castle, tempat main toddler serta pintu keluar masuk. Jadi saya pikir cukup aman membiarkan mereka bermain berdua, apalagi arenanya jauh lebih kecil daripada playground yang di Bandar.

    Lima belas menit pertama semua berjalan lancar. Kemudian Keenan terdengar menangis, dan setelah dicek suami hanya karena dia jatuh di arena mandi bola. Setelah itu kembali aman. Sampai tiba-tiba terdengar rengekan Keenan di suatu tempat.

    Suami pun langsung bangkit dari tempat duduknya, dan setelah kakak mengaku nggak tahu keberadaan Keenan, dia mencari di luar arena bermain yang memang jadi satu dengan area display mainan, stationary, kitchenwares dan benda elektronik. Ternyata Keenan sudah berjalan ke area stationary sendirian dalam keadaan sudah memakai sepatu di kaki kiri dan kesulitan memakai sepatunya di kaki kanan. Sementara salah satu SPG sudah bersiap menghadang Keenan di antara rak alat tulis dan eskalator.

    Alhamdulilah Keenan masih dilindungi. Hal yang terus saya syukuri adalah dia nggak berhasil memakai salah satu sepatunya sendiri yang membuatnya merengek kesal sehingga kami bisa tahu bahwa dia keluar dari arena bermain. Dan mbak SPG yang cepat tanggap.

    Jujur saya sempat kecewa karena Cinta tidak mengawasi adiknya sampai bisa keluar tanpa ada orang yang tahu. Padahal dari tempat keluar dan tempat penyimpanan sepatu memerlukan beberapa langkah. Belum lagi fakta bahwa Keenan sudah memakai sepatunya sendiri. Meski yang sebelah hanya masuk separuh, waktu yang dibutuhkan sampai Keenan mencapai lokasi tempat dia ditemukan untuk ukuran anak 2,5 tahun cukup lama.

    Berarti selama itu pula kami sebagai orangtuanya lalai. Tidak seharusnya tanggungjawab mengawasi anak diserahkan sepenuhnya kepada kakaknya yang baru berusia 8 tahun. Tanpa mengabaikan kenyataan bahwa kakak sayang sekali sama adiknya, mengingat kesayangan pertama saya itu masih perlu diingatkan untuk menyiapkan buku pelajaran dan seragam sekolahnya setiap hari, rasanya tanggungjawab itu terlalu besar. Apalagi ketika ditanya alasannya tidak mengawasi adik, dia menjawab, “Because I want to play something else that he can’t do.”

    Wiiii langsung tertohok rasanya. Kakak masih di bawah umur. Hak dia adalah bermain dengan bebas. Benar memang kita harus mengajarkan anak peduli pada saudaranya dan saling menjaga sejak dini. Tapi dia masih 8 tahun. Keinginan untuk bermain tentu lebih besar dari rasa tanggungjawabnya. Apalagi di tempat yang nggak setiap hari bisa ia datangi.

    Jadi pada malam hari saat kami makan bersama, kami mengucapkan terima kasih karena kakak sudah bersedia menjaga adik di playground. Saya juga berpesan kalau lain waktu kakak sedang main berdua adik dan tiba-tiba ingin main sendiri tolong bilang mama atau papa, supaya ada yang mengawasi adik.

    Semoga kejadian ini jadi pelajaran buat kami. Banyak hal yang harus diperbaiki dan diubah. Terutama rasa malas. Jadi orangtua harus mau repot demi keamanan anak-anak. Setuju?

  • Relationship

    Bisakah Pernikahan Jarak Jauh Berhasil?

    Huhuhu dari tulisan sebelumnya, kayanya berat banget ya long distance marriage itu. Hmmm, iya sih tapi positifnya pasangan suami istri jadi lebih mandiri dalam berbagai macam hal. Terutama urusan domestik seperti yang saya tulis dalam postingan sebelumnya, ibu-ibu mau nggak mau harus bisa angkat galon sendiri ke dispenser, sigap memperbaiki sendiri atau mencari tukang untuk memperbaiki genteng bocor misalnya, mengelola keuangan dengan lebih baik supaya asap dari dandang di dua dapur ini bisa mengepul.

    Sementara para bapak kalau nggak mau sering makan di luar ya jadi belajar masak, membersihkan rumah, menyuci baju sendiri. Keuntungan lainnya, saat bertemu pasangan biasanya jadi lebih mesra dan jarang bertengkar. Ayah dan ibu pun selalu berusaha menciptakan waktu berkualitas bersama pasangan dan anak-anak.

    Obviously, a long distance relationship is hard. But, like anything work having, you make it work. – Leona Lewis

    Lalu bagaimana supaya kita bisa menjalani pernikahan jarak jauh ini dengan lebih mudah?

    Menurut psikolog lulusan Universitas Surabaya, Fini Rahmatika, M.Psi, Psikolog yang biasa disapa Fini ini banyak yang harus dilakukan agar pernikahan jarak jauh dapat berjalan seimbang hingga mencapai suatu well being atau keselarasan di mana kedua pasangan merasa nyaman, bahagia dan sehat lahir batin dengan keadaan tersebut.

    “Menjalani LDM itu memang bukan hal yang mudah,” ujar ibu dari duo sholeh dan sholeha Firdaus dan Bilqis. “Perlu kesiapan mental, kemampuan berpikir positif, mengatur emosi, mengambil keputusan dan lain-lain untuk menghadapi tekanan-tekanan yang ada baik dari dalam maupun dari luar diri kita,” tambahnya.

    Bagaimana kita tahu bahwa kita telah mencapai kondisi keselarasan psikologi sebagai landasan mengarungi pernikahan jarak jauh? Fini yang juga menjalani pernikahan jarak jauh sejak awal menikah menjelaskan bahwa berdasarkan teori Ryff, seseorang yang memiliki psychological well being yang baik mampu merealisasikan potensi dirinya secara kontinyu, dapat menerima dirinya apa adanya, sanggup membentuk hubungan yang hangat dengan orang lain, memiliki kemandirian terhadap tekanan sosial, memiliki arti diri serta mampu mengontrol lingkungan eksternalnya.

    Jika kita sudah bisa melalui ini semua atau setidaknya dapat menjalaninya, maka akan lebih mudah untuk melakukan hal-hal di bawah ini:

    • Membuat komitmen dan menjaga kepercayaan
    • Sebisa mungkin jangan menghakimi atau menuduh hanya berdasarkan prasangka kepada pasangan saat ada masalah.
    • Mampu berpikir positif dan kompromi.
    • Mengelola perasaan . Jangan reaktif saat menerima hal yang membuat tidak nyaman, carilah cara membuat diri kita rileks.
    • Ciptakan aktivitas positif. Salah satu keuntungan LDM adalah me time yang sedikit lebih banyak loh. Misalnya merawat badan dan wajah saat anak-anak tidur atau sekolah supaya saat ketemu suami keliatan segar dan menyenangkan, baca novel, melakukan hobi, dll.
    • Tanggap mengambil keputusan. Ini adalah ketrampilan yang wajib dimiliki dan sangat dibutuhkan saat situasi gawat darurat.
    • Saat bertemu, ciptakan suasana yang menyenangkan , meskipun begitu banyak yang ingin dikeluhkan. Nanti tetap ad”Setelah berdoaa waktunya untuk bercerita (bisa setelah lepas kangen dan tubuh serta fikiran menjadi lebih rileks). Kesempatan ini bisa menjadi ajang saling menguatkan atau recharge

    Tambahan dari saya hal paling penting dilakukan dalam menjalani pernikahan jarak jauh adalah doa. Minta kepada Allah SWT untuk menjaga pasangan kita, meridhoi rumah tangga ini dan selalu diberikan yang terbaik. “Supaya hati tetap tenang, selalu ikhlas dan pasrahkan saja kepada Allah. Kita titipkan pasangan kita kepada Allah, karena DIAlah  sebaik-baiknya penjaga. Allah Maha Menjaga,” pesan Fini. Doa terbaik dari kami berdua untuk para teman dan sahabat yang sedang menjalani LDM, semoga selalu dikuatkan dalam cinta dan komitmen. Percayalah kalian pasti bisa menjalaninya.

    __________________

    Fini Rahmatika, M.Psi, Psikolog adalah ibu dari 2 anak yang selama usia pernikahannya menjalani LDM dengan suami tercinta. Di sela-sela kesibukan mengurus putra-putri tercinta, Fini yang menyelesaikan pendidikan psikologinya di almamater tercinta kami Universitas Surabaya juga bekerja sebagai independent psychologist. Fini pernah bergabung sebagai associate di beberapa lembaga konsultan di Jakarta dan Surabaya; Psikolog Keluarga, Anak, Remaja, PraNikah di Pusat Layanan Keluarga Sejahtera BKKBN Perwakilan Prov. Jatim; Psikolog pendamping anak eks Lapas di Shelter Rumah Hati Jombang, Jatim; Trainer soft skill untuk mahasiswa di Universitas Surabaya serta menjadi narasumber di berbagai talkshow dan artikel parenting.

  • Relationship

    Mudahkah Menjalani Pernikahan Jarak Jauh?

    Berdasarkan pengalaman, menjalani pernikahan jarak jauh bukanlah hal yang mudah. Bahkan mungkin bisa dibilang tantangan yang dihadapi dua kali daripada pasutri yang tinggal serumah. Salah satunya adalah saat ada masalah yang harus diselesaikan. Kalau suami istri yang tinggal serumah bisa membicarakan hal-hal penting dengan duduk semeja atau mungkin sekalian bertengkar sampai menemukan solusi lalu tidur berpelukan, kami para pelaku LDM ini nggak bisa begitu.

    Mencari waktu untuk bisa berkomunikasi dalam suasana yang tepat saja sudah menjadi kendala, belum lagi bahasa yang digunakan dalam video call, surat elektronik/sms/WA yang seringkali mudah disalahartikan. Ketika ada kesempatan untuk bertemu pun biasanya nggak tega dipakai untuk bertengkar. Akhirnya masalah pun mengendap atau ketika dibicarakan pun mungkin salah satu nggak puas tapi terpaksa mengalah karena nggak mau merusak momen langka kebersamaan. Masalah-masalah tak terselesaikan inilah yang nantinya bisa jadi api dalam sekam.

    Itu baru satu dari sekian banyak risiko pernikahan jarak jauh. Saat memilih hubungan seperti ini sebaiknya kita selalu siap akan risikonya. Kesalahan saya dulu adalah nggak mau tahu akan kendala-kendala dalam tersebut. Saya maunya meski berjauhan semua harus berjalan seperti saat bersama tanpa memahami bahwa keadaannya berbeda. Ketika terjadi masalah lantas sibuk menyalahkan sana sini termasuk diri sendiri. Bukannya menyadari bahwa, “Oke, ini adalah risiko dari pilihan kita yang seharusnya sudah diantisipasi sejak awal.”

    Membuka mata dan hati terhadap risiko-risiko ini saat memilih bentuk rumah tangga jarak jauh bisa membuat kita dan pasangan bekerja sama lebih baik dalam mengantisipasi sebelum terjadi dan mengatasi bersama-sama saat telah terjadi.

    Distance is not for the fearful, it is for the bold. It’s for those whose willing to spend a lot of time alone in exchange for a little time with the one they love. It’s for those knowing good thing when they see it, even if they don’t see it nearly enough.

    Fini Rahmatika, M.Psi, Psikolog yang telah menjalani pernikahan jarak jauh selama 10 tahun mengungkapkan beberapa hal lain yang dapat menjadi gangguan dalam menjalani long distance marriage, di antaranya:

    1. Biaya
      Suami istri yang tinggal terpisah otomatis memiliki pengeluaran rumah tangga yang lebih besar dari pasangan yang tinggal serumah. Mulai dari besarnya ongkos transportasi, biaya komunikasi  dan terutama biaya hidup dua dapur. Sementara nggak sedikit yang hanya mengandalkan satu sumber mata pencaharian. Tapi menurut Fini, kalau kita bisa menikmatinya, Insya Allah segalanya akan terasa ringan. “Ada saja kok rezekinya. Kemampuan mengelola finansial dan kreativitas untuk menjemput rezeki dari arah yang berbeda akan tercipta. Jangan lupa perbanyak sholat dhuha, banyak sedekah dan berbuat kebaikan dalam hal apapun. Niscaya Allah SWT juga akan senantiasa mempermudah urusan kita, termasuk mengatasi kendala dalam LDM ini. Kalo dihitung-hitung, suka nggak sampai logika kita dengan urusan hitungan materi yang kita pegang dengan yang Allah limpahkan. Jadi, tetap percaya dengan keajaiban dari Allah,” pesan ibu dari Firdaus dan Bilqis ini.
    1. Omongan orang.
      Nggak sedikit pasangan yang sebenarnya merasa nggak masalah dengan bentuk keluarga seperti ini tapi kemudian merasa nggak nyaman karena orang-orang di sekitarnya yang terus menerus mempertanyakan alasan mereka untuk nggak berkumpul. Apalagi pakai ancaman, “Suami yang nggak diurusin istrinya nanti selingkuh lho” atau “Nanti anak-anak nggak kenal bapaknya.” Apalagi budaya kita di Indonesia ini, suka kepo yaaaa sama urusan orang. Belum lagi jika dikaitkan dengan budaya patriarki yang menuntut perempuan harus senantiasa melayani suaminya.
    1. Merasa seperti orang tua tunggal.
      Karena pasangan nggak selalu ada di rumah, semua harus dilakukan sendiri. Iya, termasuk angkat galon air mineral ke dispenser, benerin rumah yang rusak, mobil mogok. Tapi yang paling berat biasanya saat anak sakit atau ada urusan yang mendesak namun suami/istri sulit dihubungi karena nggak ada sinyal atau sedang rapat sehingga harus mengambil keputusan sendiri .
    1. Adanya perasaan kesepian, emptyness, moody , mudah cemburu dan takut akan penghianatan.
      Kadang kala perasaan ini muncul saat kita berada dalam situasi yang tidak nyaman dan membuat sedikit tertekan (bisa karena omongan orang, saat harus pisah lagi, saat lagi kangen, saat lagi ada masalah atau lagi PMS hehehehe).
    2. Sering merasa cemas saat pasangan sulit dihubungi (kayaknya ini nggak hanya dirasakan oleh pasangan LDM yaaa…hihihihihi…).

    Lho, apakah gangguan orang ketiga nggak termasuk dalam kendala berumah tangga jarak jauh. Oh, pasti. Tapi kebanyakan kehadiran orang ketiga ini disebabkan oleh faktor nomor tiga dan empat. Suami atau istri yang nggak bisa mengelola dengan baik perasaan kesepiannya atau lelah karena harus melakukan semuanya sendiri dan mendapatkan yang ia butuhkan dari orang lain yang ada di dekatnya cenderung mudah untuk mendua. Namun, to be fair gangguan orang ketiga ini tidak hanya berlaku untuk para pasangan yang menjalani LDM ya. Pada pasangan yang serumah pun seringkali terjadi hal serupa.

    Lalu dengan sekian banyaknya risiko dalam long distance marriage, apakah nggak ada kemungkinan untuk bertahan dan berhasil menjalaninya? Tentu ada. Banyak kok pasangan yang mampu mengarungi kehidupan seperti ini.

    Temukan tips-tipsnya di postingan selanjutnya ya…

    __________

    Fini Rahmatika, M.Psi, Psikolog adalah ibu dari 2 anak yang selama usia pernikahannya menjalani LDM dengan suami tercinta. Di sela-sela kesibukan mengurus putra-putri tercinta, Fini yang menyelesaikan pendidikan psikologinya di Universitas Surabaya juga bekerja sebagai independent psychologist. Fini pernah bergabung sebagai associate di beberapa lembaga konsultan di Jakarta dan Surabaya; Psikolog Keluarga, Anak, Remaja, PraNikah di Pusat Layanan Keluarga Sejahtera BKKBN Perwakilan Prov. Jatim; Psikolog pendamping anak eks Lapas di Shelter Rumah Hati Jombang, Jatim; Trainer soft skill untuk mahasiswa di Universitas Surabaya serta menjadi narasumber di berbagai talkshow dan artikel parenting.

  • Relationship

    Mengapa Memilih Long Distance Marriage?

    Menjalani kehidupan sebagai keluarga pada umumnya yaitu tinggal pada satu rumah bersama dengan anak-anak, hanya berpisah pada pagi hari saat ayah dan ibu bekerja dan anak-anak bersekolah lalu berkumpul lagi pada sore hari, mungkin merupakan hal yang didambakan oleh setiap pasangan. Dan bentuk keluarga seperti inilah yang dianggap ideal bagi sebagian besar masyarakat.

    Tapi, pada kenyataannya saat ini mulai banyak kita kenal bentuk keluarga lain yaitu anak hidup bersama orang tua tunggal baik karena perceraian maupun salah satu orang tua meninggal dunia; pasangan suami istri mengasuh anak-anak kerabat atau yatim piatu; maupun suami istri yang tinggal terpisah kota atau negara atau yang lazim dikenal menjalani Long Distance Marriage (LDM).

    True love doesn’t mean being inseparable; it means being separated and nothing changes. – Wayne Dyer

    Beberapa tahun yang lalu saya pernah menulis pengalaman beberapa mama hebat pelaku pernikahan jarak jauh ini. Tulisan tersebut dimuat di situs MomsGuideIndonesia yang sayangnya saat ini sudah nggak aktif lagi. Kebetulan saat itu sekitar awal tahun 2012 saya baru hidup bersama lagi dengan suami setelah 4 tahun menjalani long distance marriage.

    Sebenarnya pernikahan jarak jauh ini bukanlah hal yang asing, tapi entah mengapa masih banyak orang yang berpandangan miring terhadap pasangan yang memutuskan menjalani pernikahan seperti ini. Padahal seperti yang diutarakan oleh Fini Rahmatika, M.Psi. Psikolog, psikolog independen yang pernah menjadi associate di beberapa lembaga konsultan di Jakarta dan Surabaya, banyak hal yang mendasari terjadinya long distance marriage ini. Di antaranya adalah:

    • Pasangan sedang menjalani pendidikan di luar kota atau di luar negeri dan nggak bisa membawa keluarganya.
    • Pekerjaan pasangan nggak memungkinkan suami dan istri selalu tinggal bersama-sama, seperti:
      • Dinas Militer (TNI), mereka harus meninggalkan keluarganya saat harus bertugas keluar negeri, berlayar dll).
      • PNS (suami istri yang punya ikatan dinas atau harus menerima penempatan di daerah yang berbeda, ini dialami bisa dari pihak perempuan ataupun laki-laki).
      • Suami/istri yang berprofesi pelaut.
      • Suami yang bekerja di ranah tambang, kehutanan, offshore dll.
      • Suami yang bekerja di perusahaan asing dan ditempatkan di luar negeri dalam jangka waktu tertentu tanpa bisa membawa keluarga.
    • Anak
      • Memiliki anak berkebutuhan khusus (ABK), sementara daerah tempat suami bekerja tidak memiliki fasilitas untuk mengembangkan potensi anak.
      • Memiliih domisil di daerah tertentu karena memahami daerah dimana suami bekerja berpotensi merusak mental /moral anak.
    • Orangtua
      • Orangtua dari salah satu pasangan sudah lanjut usia dan membutuhkan teman.
      • Orangtua sakit.

    Tentu memilih untuk menjalani long distance marriage bukanlah hal mudah yang bisa diputuskan dalam satu malam ya. Sebagai pasangan suami istri pasti ada keinginan untuk bisa selalu berdekatan dengan keluarga. Tapi ketika itu adalah pilihan yang terbaik di antara yang terburuk, maka yang bisa dilakukan adalah meminimalkan resiko dan berusaha sekuat mungkin menjaga keutuhan rumah tangga mereka meski nggak tinggal bersama. Gimana caranya? Tunggu bagian kedua yaaa…

    ____________________

    Fini Rahmatika, M.Psi, Psikolog adalah ibu dari 2 anak yang selama usia pernikahannya menjalani LDM dengan suami tercinta. Di sela-sela kesibukan mengurus putra-putri tercinta, Fini yang menyelesaikan pendidikan psikologinya di almamater tercinta kami Universitas Surabaya juga bekerja sebagai independent psychologist. Fini pernah bergabung sebagai associate di beberapa lembaga konsultan di Jakarta dan Surabaya; Psikolog Keluarga, Anak, Remaja, PraNikah di Pusat Layanan Keluarga Sejahtera BKKBN Perwakilan Prov. Jatim; Psikolog pendamping anak eks Lapas di Shelter Rumah Hati Jombang, Jatim; Trainer soft skill untuk mahasiswa di Universitas Surabaya serta menjadi narasumber di berbagai talkshow dan artikel parenting.

  • DIY

    DIY Piring Terbang

    Hari Minggu yang lalu di rumah aja seharian, niatnya mau ngeberesin printables color matching yang sudah diunduh dari situs Indonesia Montessori sama bikin alat main berhitung es krim untuk Keenan tapi entah kenapa kok lagi nggak mood. Tapi mau nganggur aja kok nggak enak juga, eh abis cuci piring liat gelas bekas minuman pearl tea dan teringat salah satu postingan di Facebook Page Home Learning Me. Akhirnya nyoba deh bikin flying saucer ala ala buat mainan anak-anak.

    Seperti biasa, tiap bikin hastakarya (hampir) semua orang di rumah dikaryakan. Kakak Cinta dapat tugas menggambar alien dan melekatkan karton ke badan alien supaya kokoh plus mengecat badan piring terbang serta menghias gelas dengan glitter sesuai idenya. Sementara papa merekatkan mangkuk plastik ke piring kertas dengan super glue. Lumayan lho dengan bikin prakarya seperti ini kakak Cinta jadi lupa sama haus dan laparnya. Yuk ikutan membuat piring terbang, gampang kok caranya. Kali ini disertai foto step by step supaya lebih mudah dipahami.

    DIY Piring Terbang

    Bahan:

    Piring Kertas
    Mangkuk Plastik
    Gelas dengan Tutup Setengah Lingkaran (saya pakai gelas bekas pearl tea Gong Cha)
    Gambar alien yang sudah dilapisi karton atau kertas tebal supaya kokoh
    Double Tape
    Super Glue
    Cat Poster & Glitter jika perlu untuk hiasan

    Cara Membuat:

    1. Lekatkan bagian belakang gelas pada bagian belakang piring kertas dengan double tape dan lekatkan bagian atas mangkuk plastik pada bagian belakang piring kertas yang lain dengan super glue.

    2. Beri hiasan atau cat masing-masing piring kertas dan mangkuk plastik sesuai kesukaan. Saya dan Cinta memilih untuk memberi cat berwarna biru pada piring kertas dan hijau pada mangkuk plastik.

    3. Gunting gambar alien dan rekatkan pada bagian bawah mangkuk plastik lalu lekatkan tutup gelas setengah lingkaran dengan double tape.

    4. Hias bagian dalam gelas sesuai keinginan. Cinta memilih memberi lem dan glitter untuk efek sinar piring terbang yang berkilau.

    5. Lekatkan kedua bagian dalam piring kertas yang tidak berwarna dengan double tape.

    Piring terbang siap dimainkan. Selamat bermain!

  • Parenting

    Jangan Rebutan Anak.

     
    Akhir-akhir ini makin banyak berita kehilangan anak di sosmed yang ternyata diambil atau dijemput atau pergi bersama ayah/ibunya tanpa sepengetahuan orang tua lainnya. Di satu sisi senang lah ya kalau si anak sehat selamat bersama orang yang sayang sama dia.

    Tapi di sisi lain miris juga melihat para orang tua yang tidak bisa berkomunikasi dengan baik sehingga anak jadi korban. Akibatnya pengguna sosmed jadi parno karena mengira makin banyaknya berita penculikan, polisi yang (mungkin juga ikut) kerepotan dan dituduh nggak bisa menemukan anak hilang.

    Perceraian memang bisa menimbulkan rasa benci, marah, sakit hati pada mantan pasangan. Mungkin juga pada diri sendiri. Tapi tolonglah, kesampingkan semua itu demi anak. Jangan jadikan mereka alat untuk melampiaskan dendam. Kasian.

    Sejelek-jeleknya mantan pasangan di mata Anda, bagi anak tetaplah sosok ayah atau ibu yang mereka cintai. Kecuali dia pernah terbukti menyiksa anak-anak, menerlantarkan, membahayakan mereka secara fisik dan psikis, rasanya nggak ada hak untuk membatasi apalagi memutus tali silaturahmi anak dan orang tuanya. Salah-salah, mereka bisa membenci ayah/ibu yang mengasuhnya karena menjauhkan anak dari orang yang mereka sayang. So, be wise, Parents.
    Foto diambil dari sini.

  • Kids Activities

    Menanam Kacang Hijau

    Awal tahun ini punya resolusi untuk lebih sering mengajak anak-anak beraktivitas di luar ruang, minimal 1 jam lah. Kadang sepulang sekolah Ugama sekitar jam 4 sore, saya bawa mereka main di taman bermain tapi seringnya sih karena capek dan masih banyak tanggungan pekerjaan rumah ya saya suruh mereka main di halaman belakang. Karena bosan cuma main-main nggak jelas, saya ajak Cinta untuk bikin science project sekaligus berkebun dengan menanam kacang hijau.

    Kenapa kacang hijau? Karena biji kacang hijau mudah sekali ditanam. Masih ingat proyek IPA jaman SD kan? Kacang hijau diletakkan dalam wadah yang sudah diberi kapas basah lalu didiamkan dalam ruangan yang terkena sinar matahari. Tak lama kemudian si kacang hijau bertunas menjadi tauge. Niat awalnya memang cuma mau bikin tauge, sekaligus membandingkan mana yang lebih subur dan cepat tumbuh antara biji yang diletakkan di ruang terang dengan yang ada di ruang gelap.

     

    Setelah si tauge tumbuh daun dan semakin besar, Cinta punya ide untuk menanamnya di halaman belakang. Dia bikin sendiri lubangnya, memindahkan tanaman dari mangkuk plastik ke dalam tanah dan menyiraminya hampir setiap hari.

    Tanaman ini tumbuh semakin subur, apalagi saat masih sering hujan. Menurut beberapa informasi yang saya peroleh dari om google, tanaman ini dapat tumbuh optimal pada struktur tanah yang gembur, memiliki curah hujan optimal dan mendapatkan sinar matahari yang cukup. Lama-lama setelah hampir nggak ada hujan, daunnya mulai menguning tapi tetap hidup. Seminggu sekali ditambah tanah yang sudah mengandung pupuk supaya tetap bertahan di antara serangan semut dan cuaca yang terlalu terik.

    Sejak bulan Maret lalu, mulai muncul polongnya. Awalnya saya nggak terlalu memperhatikan dan mengira polong yang mulai menghitam itu adalah daun yang mengering. Ternyata bukan. Karena serbuan asap dari kebakaran semak-semak di hutan dekat rumah, anak-anak saya larang main di halaman, saya pun hanya keluar untuk mencuci dan menjemur pakaian. Si kacang hijau pun sempat terlantar meski tetap disirami setiap 2 hari.

    Baru satu minggu yang lalu kami memutuskan untuk memanen kacang hijau yang sudah banyak sekali polongnya. Tadinya saya kira polong yang hitam menunjukkan kacangnya sudah rusak, eh dugaan saya salah. Justru polong yang berwarna coklat dan hijau menandakan kacang hijau sudah dapat dipanen. Sedangkan polong yang masih hijau masih belum matang benar.

    Seru juga berkebun dengan anak-anak. Cinta belajar tentang proses tumbuhnya tanaman dan merawat tanaman. Keenan asik bermain air dan tanah saat menyiram dan menambahkan tanah pada kacang hijau, saya pun mendapat pengetahuan baru tentang si kacang hijau. Abis ini mau nyoba menanam apalagi ya? Ada masukan?