Yuk, Imunisasi Lengkap Anak di Pekan Imunisasi Dunia

Yuk, Imunisasi Lengkap Anak di Pekan Imunisasi Dunia

Anyeong, yeorobun. Sudah siap-siap mudik lebaran, kah? Jangan lupa vaksin booster dulu, ya. Oya, teman-teman Pojokmungil yang punya anak di bawah 12 tahun coba deh cek KIA atau kartu imunisasi anak-anak. Sudahkah mereka dapat imunisasi lengkap anak?

Hayooo, ada yang terlewat enggak, nih? Yah, wajar sih kalau ada jadwal imunisasi yang terlewat di masa pandemi ini. Secara kita lebih fokus melindungi keluarga dari ancaman virus Covid-19, kan. Jadi kunjungan-kunjungan ke tempat umum termasuk Puskesmas, Posyandu atau praktik dokter pun kita kurangi kalau enggak mendesak.

Pemerintah sendiri mengakui kalau sejak pandemi tuh cakupan imunisasi menurun. Dari data yang dilaporkan oleh Kemenkes dan UNICEF, capaian imunisasi dasar lengkap baru mencapai 58,4% dari target 79,1% per Oktober 2021.

Sedihnya, kondisi ini juga berlaku secara global. Menurut data yang dirilis WHO tahun 2020, ada 23 juta anak di bawah umur satu tahun yang tidak menerima imunisasi dasar. Banyak banget, kan.

Dari mana saya tahu data-data ini? Alhamdulillah tanggal 18 April 2022 kemarin saya dapat kesempatan untuk mengikuti peringatan Pekan Imunisasi Dunia 2022 yang diadakan Kementerian Kesehatan dan GSK Indonesia. Jadi data-datanya bukan hasil ngarang, ya, Teman-teman.

Pekan Imunisasi Dunia 2022 Ajak Keluarga Lengkapi Imunisasi Anak

Dari acara kemarin, saya jadi tahu kalau menurunnya capaian imunisasi dasar lengkap pada anak itu bisa berakibat kurang baik. Yaitu ada kemungkinan munculnya risiko KLB akibat penyakit yang bisa dicegah dengan imunisasi.

Di samping sikap waspada terhadap virus Covid-19 yang terus dijaga, layanan imunisasi pada anak harus tetap diberikan untuk menghindari risiko terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB) yang diakibatkan oleh Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I).

dr. Prima Yosephine, MKM – Plt. Direktur Pengelolaan Imunisasi Kemenkes

Untuk menghindari terjadinya KLB PD3I, Kemenkes memastikan bahwa layanan imunisasi rutin tetap dapat diakses oleh masyarakat dengan protokol kesehatan yang ketat. Jadi jangan khawatir untuk datang ke Puskesmas atau layanan kesehatan lain untuk imunisasi, ya.

Lalu gimana kalau jadwal imunisasi terlewat? Nah, kita bisa manfaatkan program Imunisasi Kejar di Bulan Imunisasi Anak Nasional Mei 2022. Tapi enggak harus nunggu Mei juga, sih. Kalau mau melengkapi imunisasi lengkap anak sekarang tetap bisa.

Bulan Imunisasi Anak Nasional

Datangi aja Puskesmas atau dokter anak langganan dengan membawa KIA atau buku imunisasi anak. Nanti bisa deh dikasih imunisasi yang terlewat.

Pentingnya Imunisasi Lengkap Anak

Teman-teman tentu sudah tahu, kan, pentingnya imunisasi lengkap pada anak? Alhamdulillah anak pertama saya lengkap imunisasi wajibnya sesuai rekomendasi IDAI. Dia juga dapat imunisasi tambahan seperti cacar air.

Sedangkan si bungsu karena lahir di Brunei, dapat semua imunisasi sesuai anjuran kerajaan Brunei sampai umur 5 tahun. Setelah itu enggak ada lagi imunisasi untuk anak.

Oya, di Brunei semua anak baru lahir sampai usia 5 tahun wajib dan diberikan imunisasi gratis. Kalau terlambat orang tua akan diingatkan lewat telepon. Bahkan imunisasi lengkap anak jadi syarat masuk sekolah, lho.

Pernah dong, saya kelewatan salah satu jadwal imunisasi dan baru datang ke Klinik Ibu & Anak di jadwal imunisasi yang lain. Eh, diomelin sama bidannya hahaha. Enggak cuma itu, si bungsu pada hari itu langsung disuntik juga vaksin yang terlewat. Jadi harusnya hari itu dia cuma dapat satu suntikan eh ternyata dapat dua.

Udah gitu bidannya bilang ke si bayi dalam bahasa Melayu yang kalau diterjemahkan seperti ini, “Maaf, ya, kamu disuntik dua kali. Salahkan mama kamu tuh karena terlewat bawa vaksin. Jadi sekarang sakitnya lebih sedikit, ya.” Ya ampun, meski sudah hampir 9 tahun berlalu pengalaman itu masih membekas di ingatan saya.

Setelah kembali ke Indonesia 2 tahun lalu, seharusnya memang si bungsu dapat imunisasi booster yang enggak dikasih di Brunei. Tapi belum sempat konsultasi ke dokter, tiba-tiba pandemi melanda. Jadilah sampai di usianya ke-9 ini dia belum dapat lagi imunisasi booster.

Pekan Imunisasi Dunia

Manfaat Imunisasi

Tujuan imunisasi adalah untuk melindungi anak atau individu yang sudah diimunisasi dengan cara menimbulkan antibodinya terhadap virus tertentu. Sehingga kalaupun terkena penyakit efeknya enggak terlalu berat.

Hal itu diutarakan oleh Dokter Spesialis Anak, Prof. DR. dr. Hartono Gunardi, Sp.A(K). Beliau juga menambahkan kalau cakupan imunisasi luas diharapkan bisa menurunkan angka kejadian penyakit tertentu. Dan kalau semuanya diimunisasi, maka penyakit bisa dieradikasi alias musnah dari muka bumi.

Perjalanan imunisasi sendiri bukan hal yang singkat. Banyak sekali penyakit-penyakit mematikan 1-2 abad lalu yang sekarang sudah bisa dicegah dengan imunisasi.

Selama 2 abad imunisasi telah memberi kesempatan anak-anak tumbuh sehat dan bahagia dengan mengurangi ancaman penyakit-penyakit yang bisa dicegah seperti: polio, cacar air, tetanus, difteri, pertusis, influenza dan campak.

Ir. Budi Gunadi Sadikin, CHFC, CLU – Menteri Kesehatan RI

Lebih jauh, Prof. DR. dr. Hartono Gunardi, Sp.A(K) menjelaskan bahwa setiap tahun imunisasi sudah membantu mencegah kematian 2 sampai 3 juta anak di Indonesia.

Semakin lengkap imunisasi yang diberikan pada anak, maka semakin baik pula perlindungan kesehatan anak. Dan tentunya akan berdampak pada kualitas hidup anak di masa depan.

Jadi PR saya nih untuk sesegera mungkin membawa si bungsu untuk mendapatkan imunisasi boosternya. Karena alhamdulillah dia juga sudah dapat 2 dosis vaksin Covid-19. Masa iya anak cuma terlindungi dari Covid tapi rentan dengan penyakit yang lain?

Padahal menurut Prof. Hartono, penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi ini lebih mudah menular daripada virus SARS-COV-2. Contohnya pasien dengan virus SARS-COV-2 (yang pertama) hanya menulari 3 orang, maka pasien campak bisa menularkan ke 12-18 orang.

“Ah, campak doang!” Oh, jangan remehkan campak. Pada anak yang sudah divaksin ketika terkena campak mungkin efeknya tidak terlalu parah. Tapi, anak yang belum divaksin dapat mengalami radang otak yang berakibat pada kelumpuhan, selain pneumonia dan diare.

Amankah Imunisasi?

InsyaAllah aman, ya. Vaksin yang kita gunakan dipakai juga di puluhan negara lain. Tapi, memang ada efek samping yang ringan dan bersifat sementara yang biasa disebut dengan KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi).

KIPI adalah kejadian sakit yang terjadi setelah menerima imunisasi yang diduga disebabkan oleh imunisasi. KIPI yang biasa terjadi adalah KIPI sistemik berupa demam atau anak menangis dalam waktu lama. Juga KIPI lokal berupa nyeri pada tempat suntikan dan indurasi.

Umumnya KIPI ini ringan dan bersifat sementara. Tapi, biasanya dokter atau bidan juga menyarankan untuk observasi anak setelah diimunisasi sehingga kalau ada KIPI yang nampaknya tidak biasa bisa langsung dibawa ke layanan kesehatan untuk ditangani lebih lanjut.

Pastikan juga anak dalam kondisi sehat saat imunisasi dan tidak sedang mengkonsumsi obat-obatan yang dapat mengakibatkan kontraindikasi. Kalau anak sedang demam atau diare sebaiknya tunggu sampai sembuh. Begitu juga anak yang kontak dengan orang tua atau keluarga yang positif Covid-19 lebih baik menunggu sampai keluarga benar-benar pulih.

Imunisasi Lengkap Anak Apa Aja?

Sebenarnya jenis dan jadwal imunisasi bisa kita lihat di buku KIA yang warna pink itu, lho. Saya sih enggak punya, karena anak pertama saya lahir 15 tahun lalu dan anak bungsu saya pegang akta kelahiran Brunei. Tapi saya punya kartu imunisasi lengkap anak dari dokter mereka masing-masing.

Kalau berdasarkan rekomendasi dari IDAI, maka jadwal imunisasi anak adalah sebagai berikut:

Jadwal Imunisasi IDAI 2020

Berdasarkan tabel di atas, IDAI merekomendasikan anak usia 0-12 tahun mendapatkan imunisasi vaksin Hepatitis B, Polio, BCG, DTP, Hib, PCV, Rotavirus, Influenza, MR, JE, dan Hepatitis A. Saat anak berusia 1-2 tahun, perlu diberi vaksin MMR, Varisela, vaksin ulangan atau booster DTP-Hib-Hepatitis B. Di usia 24 bulan, waktunya anak menerima vaksin Tifoid. Setelah berusia 9 tahun, anak perempuan direkomendasikan mendapat vaksin HPV. Sedangkan anak laki dan perempuan dianjurkan mendapatkan vaksin Dengue.

Biaya Imunisasi

Tapi, kan, imunisasi itu mahal? Sebagian besar vaksin tersebut sudah masuk dalam program imunisasi nasional jadi kita bisa mendapatkannya secara gratis lewat faskes seperti Puskesmas dan Posyandu. Di pertengahan 2022 ini Kementerian Kesehatan juga akan menambahkan vaksin PCV untuk mencegah penyakit pneumonia dan rotavirus untuk mencegah diare.

Duh, kalau kedua vaksin itu bisa diperoleh gratis di Puskesmas enggak ada alasan lagi untuk enggak vaksin, sih. Karena memang keduanya tergolong mahal. Barusan juga saya baca di kalau vaksin HPV akan masuk program wajib untuk anak perempuan kelas 5-6 SD. Ini juga kalau bisa diakses gratis bersyukur banget, lho.

Kemitraan Pentahelix Untuk Meningkatkan Capaian Imunisasi

Tapi pemerintah tentu enggak bisa bergerak sendiri untuk meningkatkan capaian imunisasi yang sempat turun akibat pandemi Covid-19. Sehingga Kemenkes mengembangkan Kemitraan Pentahelix. Seperti yang dijelaskan oleh Direktur Promosi Kesehatan & Pemberdayaan Masyarakat Kemenkes, dr. Imran Agus Nurali, Sp.KO, kemitraan ini melibatkan 5 unsur dengan pendekatan Aku Tahu, Aku Mau, Aku Mampu

Lengkapi Imunisasi Anak

Kolaborasi berbagai unsur ini sangat penting. Di sektor swasta GSK Indonesia berkomitmen untuk terus mendukung upaya pemerintah dalam membangun dan memelihara kesehatan masyarakat, termasuk dalam hal imunisasi.

Kolaborasi public dan private dalam upaya untuk menyampaikan informasi ilmiah kepada petugas kesehatan dan juga masyarakat umum terkait imunisasi harus terus dilakukan agar dapat mempercepat cakupan imunisasi lengkap terhadap penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) di antaranya seperti: difteri, tetanus, pertusis, rotavirus dan pneumokokus.

dr. Deliana Permatasari, Vaccine Medical Director GSK Indonesia.

Sebagai salah satu produsen vaksin terbesar di dunia, GSK sangat mendukung pemerintah untuk meningkatkan cakupan imunisasi lengkap anak, dengan cara:

  1. Memberikan edukasi kesehatan kepada tenaga medis profesional.
  2. Menjadi scientific partner untuk Program Imunisasi Nasional.
  3. Memberikan edukasi tentang imunisasi kepada masyarakat umum.

Nah, kalau pemerintah sudah memberikan upaya terbaiknya didukung oleh GSK Indonesia, berarti giliran kita nih yang ikut meningkatkan capaian imunisasi dasar lengkap. Caranya ya dengan memastikan anak-anak kita mendapatkan imunisasi lengkap sesuai jadwal.

Kalaupun ada yang terlewat langsung dilengkapi. Jangan khawatir dengan biaya karena imunisasi dasar dapat diperoleh gratis di Puskesmas atau Posyandu.

imunisasi aman saat pandemi

Memberikan imunisasi untuk anak bukan hanya untuk kebaikannya sendiri tapi juga dapat membentuk kekebalan komunitas atau herd immunity. Sehingga anak-anak yang enggak bisa dapat imunisasi karena kondisi tertentu juga dapat terlindungi dari PD3I.

Yuk, barengan sama saya bikin janji dengan faskes atau dokter anak terdekat untuk melengkapi imunisasi anak-anak. Mari kita sehatkan keluarga, lewati pandemi dengan lengkapi imunisasi.

Suka dengan artikel ini? Yuk bagikan :)

alfakurnia

Lifestyle blogger yang suka berbagi tentang review produk, kisah sehari-hari, pengalaman parenting dan banyak lagi. Juga suka menulis resensi buku dan produk skincare di blog alfakurnia.com

2 thoughts on “Yuk, Imunisasi Lengkap Anak di Pekan Imunisasi Dunia

  1. Alhamdulillah, anak-anakku udah lengkap imunisasi dasarnya. Kemarin waktu vaksin covid di sekolah pun, sebelumnya ada vaksin MR dan DT, serempak. Jadi hampir tiap bulan ada imunisasi. Hihi, sampai anak-anak terbiasa, ngga tegang sama sekali. Semoga dengan ikhtiar ini, anak-anak terhindar dari penyakit berbahaya. Aamiin aamiin Yaa Rabbal’Aalamiin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Back to top