Tentang Rapor

Sejak minggu lalu banyak teman yang menulis status tentang rapor anak-anaknya dalam sosial medianya. Sebagian ada yang mengeluh karena ketiadaan nilai dalam rapor, hanya deskripsi perilaku anak di kelas. Guru-guru pun sepertinya belum terbiasa dengan rapor tanpa nilai dan ranking ini. “Seperti rapor anak TK,” demikian komentar yang sering saya dengar dalam pembicaraan tentang bentuk rapor baru tersebut.

Iya sih, memang benar seperti rapor anak TK atau mungkin kelompok bermain. Belasan tahun yang lalu, waktu masih jadi asisten di TK yang dikelola kampus tempat saya kuliah dulu, kami terbiasa bikin rapor dengan sistem seperti itu. Jujur saja rapor seperti itu lebih menantang dan membutuhkan perhatian lebih karena kami sebagai pengajar harus benar-benar dekat dan memperhatikan anak-anak untuk bisa memberikan deskripsi yang sesuai.

2 tahun belakangan ini juga rapor anak saya enggak ada ranking, cuma berisi rata-rata nilai yang diambil dari ujian, PR dan tugas-tugas sekolah. Selain itu masing-masing guru matpel ngasih deskripsi pencapaian berdasarkan skala 1-3 untuk anak. Persis seperti yang saya bikin dulu. Namun, seperti yang dijelaskan oleh gurunya Cinta, guru tetap pegang ranking cuma nggak dikasih tahu ke orang tua murid kecuali yang ranking 1-3 dari satu angkatan. Murid-murid inilah yang akan menerima trofi saat perayaan kelulusan murid TK dan primary school yang diadakan tiap akhir tahun ajaran.

 photo C377B32C-F896-4A3F-ACF5-F5F9E224903D_zpstgknbh96.jpg

Saya pribadi lebih suka sistem seperti ini karena informatif dan membantu orang tua melihat lebih jelas kelebihan dan kekurangan anak dalam masing-masing mata pelajaran. Dengan begini ke depannya bisa lebih fokus mengawal anak memperbaiki apa yang dirasa kurang dan mengapresiasi prestasinya sekecil apapun itu.

Guru pun akan lebih memahami kekuatan dan kelemahan siswa-siswanya baik secara akademis maupun proses belajar. Sehingga dapat mendorong guru dalam mencari strategi mengajar yang lebih tepat untuk memaksimalkan potensi anak-anak. Yah, idealnya sih begitu meski saya yakin masih banyak sekolah yang belum peduli dengan hal ini *grin*.

Namun, ada anak dan orang tua yang menganggap nilai dan ranking itu penting. Dengan adanya ranking bisa memacu mereka untuk lebih semangat belajar dan meraih prestasi lebih baik. Jadi sistem rapor deskripsi seperti itu tentu tidak cocok.

Mana saja sama baiknya asal sesuai dengan kebutuhan anak dan orang tua. Asal tidak membuat anak menjadi tertekan dengan hasil yang ia peroleh. Asal tidak membuat orang tua membanding-bandingkan anaknya dengan siswa lain yang mendapat nilai lebih baik tanpa mau melihat usaha yang telah mereka lakukan. Asal tidak menjadi satu-satunya alat penilaian siswa. Karena siswa bukan karyawan yang tiap tahun perlu dinilai hasil kerjanya untuk kemudian diputuskan apakah ia layak dipertahankan sebagai karyawan, layak mendapatkan merit increase atau dipecat.

Anak adalah individu yang sedang berkembang. Mereka belajar dari mana saja, menyerap apa saja lantas mengolahnya sesuai dengan kemampuan dan minatnya. Hasil yang tertera dalam rapor bukan hanya tanggung jawab anak semata tapi juga ada peran orang tua dan guru di dalamnya.

Lalu bagaimana cara membaca nilai rapor? Apa sih makna sebenarnya yang tercantum di dalam rapor dan bagaimana sebaiknya kita menyikapi isi rapor tersebut. Silakan disimak tips dari Psikolog Anak & Remaja – Pendidikan yang juga kepala sekolah TK Bestariku, Alzena Masykouri, M.Psi dalam gambar di bawah ini. Semoga bisa membantu yaaa…

Des 20, 2014
Previous Post Next Post

Yuk baca ini juga