Browsing Tag:

pendidikan

  • Daily Stories, Life in Brunei, Life with My Kids

    Suka Duka Tahun Ajaran Sekolah 2017

    Alhamdulillah, tahun ajaran 2017 sudah berakhir hari ini. Kakak Cinta tahun ini menyelesaikan Year 4 dan Keenan berhasil mengikuti pelajaran di KG 2. Insya Allah, pada bulan Januari 2018, Keenan akan duduk di bangku KG 3 dan kakak akan mulai mengikuti pelajaran di kelas 5.

    Awal tahun ajaran di Brunei memang berbeda dengan di Indonesia yang mulai pada bulan Juli. Sedangkan seperti Malaysia dan Singapura, Brunei memulai tahun ajaran barunya di bulan Januari.

    Tahun 2017 ini alhamdulillah banyak sekali pengalaman menarik yang dialami oleh Cinta dan Keenan di sekolah. Baik dari segi akademis maupun non akademis. Padahal, kami mengawali tahun ini dengan penuh kekhawatiran bagi Keenan dan penuh kepasrahan untuk Kakak.

    Maklum, tahun 2016 kemarin, saya dan Keenan merasa tidak nyaman di sekolah yang lama, yang akhirnya membuat saya dan suami memutuskan untuk mengeluarkan Keenan dari sekolah itu dan memindahkannya ke sekolah yang sekarang. Ketika berdiskusi dengan kepala KG yang sekarang mengenai kondisinya Keenan, kami ragu bahwa Keenan akan mampu mengikuti pelajaran di KG2, bahkan sempat ada wacana supaya Keenan mengulang KG1. Tapi akhirnya Keenan diperkenankan untuk masuk KG2 dengan masa percobaan 1 term, lebih kurang 4 bulan, atau caturwulan kalau di Indonesia.

    Masa percobaan itu kami lalui dengan penuh kecemasan. Pindah dari sekolah yang banyak mainnya ke sekolah yang lebih serius belajarnya dengan guru yang sangat disiplin dan tegas jadi ujian berat untuk Keenan. Sampai 2 minggu pertama sekolah, Keenan masih nggak mau saya tinggal. Namun, alhamdulillah sekolahnya yang baru ini punya kebijakan untuk membiarkan anak ditemani oleh orangtua atau pengasuhnya sampai mereka merasa nyaman. Jadi, pada 1 minggu pertama, hampir semua anak di kelas Keenan dan kelas bawahnya masih ditungguin orangtua atau pengasuhnya. Pada minggu kedua, Keenan mulai mau saya tunggui di luar kelas. Sampai pada minggu ketiga dia benar-benar mau ditinggal.

    Sejak saat itu, banyak sekali kemajuan yang dicapai oleh Keenan. Mulai dari perkembangan kemampuan bahasanya, sosialisasinya sampai kemampuan akademisnya. Keenan yang tadinya sempat didiagnosa lambat bicara, sekarang alhamdulillah jadi cerewet sekali. Memang, jika dibandingkan dengan anak-anak yang tidak mengalami speech delay masih cukup tertinggal, tapi jika dibandingkan dengan tahun lalu, wah sudah jauh berbeda. Tingkat konsentrasinya perlahan-lahan mulai membaik, untuk hal-hal yang dia sukai, Keenan mulai betah untuk duduk diam dan mengerjakannya selama lebih dari 10 menit.

    Latihan-latihan rutin yang diberikan oleh guru kelasnya, membuat Keenan dapat mengenal dan menghafal angka 1-50. Penjumlahan sampai 5 dan sekitar 20 kata dalam huruf Cina. Bagi saya itu merupakan prestasi tersendiri. Keenan juga nampak menikmati bergaul dan bermain bersama teman-teman kelasnya, hafal satu per satu nama temannya di kelas dan dapat mengikuti instruksi dari gurunya.

    Satu hal yang membuat saya tenang adalah, sampai hari terakhir sekolah, meskipun seringkali dia bilang nggak mau berangkat sekolah, begitu sampai di kelas dan bertemu teman-temannya, langsung lupa dengan rewelnya dan dengan senang hati menyuruh saya pulang. Berbeda sekali dengan tahun lalu yang seringkali histeris saat tiba di depan sekolah lamanya. Sampai di bulan-bulan terakhir sekolah tahun lalu, Keenan benar-benar nggak mau turun dari mobil dan sembunyi di balik kursi pengemudi supaya saya nggak bisa memaksanya turun. Hiks.

    Sedangkan bagi kakak Cinta, tahun 2017 adalah tahun yang penuh dengan pengalaman baru. Dan hal itu berawal dari kesukaannya berbagai aktivitasnya di Year 3. Mulai dari mengikuti ICAS (International Competitions and Assessments for Schools) sejak Year 3, tahun ini kakak Cinta berhasil meraih nilai High Distinction dan mendapat Gold Medal untuk mata pelajaran ICT dan Distinction untuk pelajaran Bahasa Inggris.

    Keberaniannya mengikuti lomba menyanyi di Year 3 juga membuat kakak percaya diri mengikuti Co Curricular Activities Choir dan mengantarkannya tampil di acara 79th School Anniversary Performance dan dipercaya mendapatkan bagian menyanyi solo di lagu Greatest Love of All yang dipopulerkan oleh Whitney Houston.

    Nggak cuma itu, kakak juga berhasil memperoleh juara ke-2 untuk lomba mewarnai yang diselenggarakan sekolah bekerjasama dengan jaringan resto fastfood Jollibee dalam rangka perayaan Children Day.

    Prestasinya ini membuat kakak jadi lebih dikenal oleh para guru, sehingga ia dipilih sebagai salah satu wakil sekolah untuk mengikuti Perarakan Jubli Emas Sultan Brunei Bertahta. Meskipun ternyata kakak dan teman-temannya gagal bertemu langsung dengan Sultan, tapi pengalaman tersebut menjadi kenangan manis bagi Cinta.

    Photo Credit: CCMS Primary Seria

    Dari segi akademis tidak banyak perubahan tapi ada perbaikan di beberapa mata pelajaran yang berbahasa Melayu. Cinta mulai lebih lancar dan percaya diri berbicara dan menulis dalam Bahasa Melayu dan tulisan Jawi sehingga nilai pelajaran Ugama dan Melayu Islam Beraja (MIB)nya meningkat dari tahun lalu.

    Dari segi sosialisasi, Cinta juga mulai membuka diri untuk berteman dengan lebih banyak orang. Dari yang tadinya hanya punya 1 teman baik dari kelas 1, sekarang teman segengnya sudah lebih dari 3 orang. Begitu juga dengan teman di sekolah Ugama dan les mengaji.

    Namun, meski banyak hal baik yang dialami oleh Cinta dan Keenan di tahun ajaran 2017, banyak juga hal-hal yang membuat mereka (dan mamanya) patah hati.

    Bagi kakak, hal yang terparah adalah ketika dibully oleh teman-teman sekelasnya di Sekolah Ugama. Memang sejak masuk sekolah Ugama 3 tahun yang lalu, kakak nggak punya teman dekat. Dia selalu merasa teman-temannya menganggap dia aneh dan nggak mau berteman dengan dia. Tapi selama ini dia berusaha untuk nggak peduli meskipun beberapa kali mengadu diganggu oleh temannya.

    Rupanya tahun ini gangguannya semakin parah, beberapa teman perempuan mulai melakukan gangguan secara fisik dan verbal. Mulai dari menyebut kata-kata yang tidak pantas kepada Cinta, menarik kerudungnya sampai terakhir sebelum sekolah berakhir, hadiah ulang tahun yang dia siapkan untuk temannya dan dia simpan di tas hilang. Cukup sering saya mendapati dia menangis saat saya jemput sekolah Ugama. Namun selalu saya beri semangat dan menguatkan mentalnya. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk bicara dengan guru kelasnya.

    Alhamdulillah, cikgu cepat tanggap dan berjanji menegur para pelakunya (and she did) bahkan meminta maaf karena dia nggak tahu bahwa selama ini Cinta diganggu oleh teman-teman sekelasnya. Sejak itu, menurut Cinta, teman-temannya nggak ada yang mengganggu dia. Tapi tetap saja, dia lebih nyaman bersama teman baiknya dari kelas sebelah atau bersama kakak-kakak kelas yang nggak dia kenal saat menunggu saya menjemputnya pulang sekolah.

    Dari segi pelajaran, ada penurunan nilai yang cukup signifikan untuk pelajaran Matematika. Biang keladinya adalah kurang konsentrasi dan kurang latihan. Sehingga saat ulangan atau ujian, banyak kesalahan remeh yang dia lakukan. Untuk itu, saya berencana untuk menambah waktu belajarnya tahun depan dan mengaktifkan lagi belajar online menggunakan IXL.

    Satu lagi yang benar-benar membuat kakak patah hati adalah tahun ini dia kehilangan tiga teman baiknya sesama orang Indonesia. Mereka baru dekat sekitar setahun belakangan, ketika Cinta bergabung di grup ngaji anak-anak Indonesia. Meski berbeda sekolah, keempat anak ini (dan adik-adik mereka) cepat sekali akrabnya. Setiap selesai mengaji, biasanya mereka akan bermain bersama barang 1-2 jam sebelum pulang. Salah seorang temannya, kembali lebih dulu ke Indonesia pada bulan Mei dan menyusul 2 orang lagi di bulan November ini. Habis sudah sahabat baiknya sesama  orang Indonesia di Brunei ini. Hiks.

    Sedangkan bagi Keenan, hal yang kurang menyenangkan adalah ketika harus mengikuti kelas tambahan untuk pelajaran Bahasa Melayu dan Bahasa Inggris. Bersyukurnya kedua guru untuk mata pelajaran tersebut adalah guru-guru favoritnya sehingga dia cukup dapat beradaptasi dengan harus tinggal di sekolah lebih lama saat teman-teman lainnya boleh pulang. Namun, namanya juga anak-anak, ada saatnya dia capek dan akhirnya tantrum saat harus mengikuti kelas tambahan.

    Karena harus ikut remedial ini juga, Keenan nggak bisa ikut grup tari untuk pentas 79th School Anniversary sebab waktu latihan bentrok dengan jadwal ekstra classes. Awalnya dia sedih, tapi waktu nonton teman-temannya rehearsal, Keenan ikut semangat dan senang untuk mereka. Sayang dia nggak bisa ikut nonton grup paduan suara kakak dan grup tari teman-temannya tampil di acara 79th School Anniversary Dinner karena sakit dan harus tinggal di rumah.

    Yah, begitulah suka duka di tahun ajaran 2017 ini. Tentu masih banyak hal yang nggak saya tuliskan di sini. Tapi ini cukuplah sebagai catatan penting, kenang-kenangan dan bahan evaluasi untuk tahun ajaran berikutnya. Saya bersyukur sekali tahun ini berdampingan dengan guru-guru yang sangat komunikatif dan suportif membimbing anak-anak di sekolah. Semoga dengan berbagai prestasi di tahun ini, kakak Cinta dan Keenan semakin semangat untuk menghadapi tahun ajaran 2018.  

     

  • Daily Stories, Life in Brunei, Uncategorized

    Teacher’s Day

    Sejujurnya dulu saya ragu mengirim Keenan ke sekolahnya yang sekarang ini, karena bagi saya terlalu serius dan kompetitif.

    Cinta yang memang dasarnya mudah beradaptasi saja, dulu sempat mengalami masa-masa drama disuruh bikin PR dan belajar untuk ujian. Apalagi Keenan, yang waktu itu belum lancar bicara, susah konsentrasi dan jago kandang.

    Jadi ketika Keenan disarankan untuk sekolah di usia 3 tahun, saya pilih sekolah lain yang menurut saya lebih ‘ringan’. But it turned out to be a mistake. A big one.

    Akhirnya di tahun berikutnya, nggak pakai ragu, saya kembali ke sekolah ini. Meski sudah survey ke beberapa sekolah lain, hati saya sudah mantap di sini. Sekolah yang kami kenal sejak 5 tahun yang lalu saat baru pindah ke Brunei. 

    Seperti umumnya anak baru masuk sekolah, minggu-minggu pertama terasa berat bagi Keenan. Terutama takut dengan gurunya. Maklum, guru-guru di sekolah ini terkenal dengan kedisiplinan dan cara mengajar yang agak keras. Bukan lembut macam sekolah taman kanak-kanan di Indonesia. Tapi bukan keras yang ngawur juga. Karena cara mengajarnya menyenangkan. Sehingga lambat laun sebagai salah satu murid termuda di kelasnya dengan keterbatasannya, he’s improving.

    Anak yang tadinya bicara aja nggak jelas, sekarang bisa bicara 2 bahasa dan bisa mulai hafal huruf Cina. Dia jadi senang berhitung, berani ngomong sama gurunya, main sama teman-temannya, dan masih banyak lagi.

    Yang penting, dia nggak lagi takut pergi ke sekolah. Nggak ada drama ngumpet di antara jok mobil sambil histeris bilang takut sama teacher. Memang masih sering nangis nggak mau sekolah, tapi menurut saya lebih karena dia pengen main di rumah aja. Bukan karena sekolah dan guru menakutkan baginya.

    Nggak ada juga yang tiap hari mengeluhkan segala keburukan Keenan di hari itu tanpa sekalipun mengapresiasi pencapaiannya. Yang ada adalah guru-guru yang menyambut murid-muridnya dengan senyum meski sesekali menegur mereka dengan suara keras jika salah. Guru yang menunjukkan kemajuan Keenan sambil memberikan saran untuk memperbaiki kekurangannya.

    Happy Teacher’s Day. Thank you for helping our children to grow.

    Tentu masih banyak yang harus dikejar Keenan supaya tidak tertinggal terlalu jauh dengan teman-teman sekelas dan seangkatannya. But I don’t mind to running slow, following his pace. Sambil terus berusaha memotivasinya supaya lebih gigih berusaha, seperti yang dilakukan guru-gurunya.

    Alhamdulillah, Allah kirimkan guru-guru yang sesuai dengan kebutuhan Keenan di sekolah ini. Terima kasih, Cikgu. Xie xie, Lao tse.

    Selamat Hari Guru. Happy teacher’s day.

  • anis khoir, pendidikan usia dini, sekolah usia dini, psikologi anak, profil blogger, aniskhoir.com, lifestyle blogger
    Blogger Profiles, Parenting

    5 Hal Yang Perlu Diperhatikan Sebelum Mendaftarkan Anak ke Sekolah di Usia Dini

    Sekarang sudah bulan Oktober dan karena tahun ajaran baru di Brunei akan dimulai bulan Januari, akhir bulan ini kakak Cinta dan Keenan akan menjalani end year examination. Untuk kakak Cinta hal ini berarti mamanya harus sudah siap-siap bikin latihan soal-soal dari materi pelajaran sejak awal tahun sampai sekarang. Sedangkan untuk Keenan agak santai karena sekolahnya yang sekarang nggak ngasih ujian untuk anak KG 1, cuma ada evaluasi harian dari aktivitas dan perilaku sehari-hari aja. Setelah ujian selesai di minggu pertama bulan November nanti, siap-siap terima rapor dan kenaikan kelas deh. Dan karena berencana memindahkan Keenan ke sekolah baru, berarti harus mulai hunting sekolah dari sekarang.

    Beruntungnya tingal di Seria, meskipun nggak terlalu banyak pilihan sekolah tapi kita bisa daftar sekolah 1-2 bulan sebelum tahun ajaran dimulai, walaupun biasanya pendaftaran sudah mulai dibuka pada bulan Agustus. Berbeda dengan pengalaman saya dulu menyekolahkan kakak Cinta di sebuah kelompok bermain di dekat rumah kami di Gunung Sindur, Bogor sana. Saya harus mulai cari sekolah jauh-jauh hari bahkan pembayaran uang gedung dan lain-lain harus sudah diterima oleh sekolah beberapa bulan sebelum tahun ajaran berlangsung untuk memastikan Cinta mendapatkan tempat di sekolah tersebut. Di beberapa sekolah yang lebih ngetop di Jakarta, menurut pengalaman teman-teman saya, pendaftarannya malah bisa lebih awal lagi, ada yang harus indent 1-2 tahun sebelumnya. Jadi kalau mau masuk TK umur 4 tahun ya harus daftar mulai umur 2 tahun. 

    Soal memasukkan anak sekolah ini memang sering jadi dilema untuk orangtua ya, nggak cuma soal mencari sekolah yang seusai untuk anak dan kantong serta dekat dengan rumah, tapi juga soal kapan tepatnya anak mulai bersekolah. Bahkan hal ini merupakan salah satu keputusan penting yang kita buat dalam 5 tahun kehidupan anak. Untuk ini saya coba mencari pendapat dari seorang sahabat blogger yang pernah menjadi guru di kelompok bermain selama beberapa tahun sebelum akhirnya memutuskan untuk menjadi guru bagi putranya di rumah, Anis Khoir.

    anis khoir, pendidikan usia dini, sekolah usia dini, psikologi anak, profil blogger, aniskhoir.com, lifestyle blogger

    Menurut Anis dan beberapa ahli kesehatan anak serta parenting, ada beberapa faktor yang harus kita perhatikan sebelum memutuskan untuk menyekolahkan anak yaitu:

    1. Kesiapan Anak Untuk Bersekolah

    Kesiapan anak untuk bersekolah biasanya erat kaitannya dengan beberapa hal, yaitu berpisah dengan orangtua (atau pengasuhnya), adaptasi di lingkungan baru dan rentang konsentrasi. Jadi kalau memang anak masih belum siap, ya jangan dipaksa. Karena bagaimanapun menurut Anis, pengasuhan dan pendidikan di usia dini yang terbaik tetap dari ibu. 

    2. Usia

    Anis menyarankan supaya orangtua tidak memasukkan anak ke sekolah pada usia terlalu dini karena sebenarnya pada usia sampai 4 tahun yang dibutuhkan anak adalah lingkungan yang aman untuk menumbuhkan rasa percaya dirinya dan itu hanya didapatkan di rumah. Anak usia tersebut juga pada dasarnya belum terlalu perlu bersosialisasi dengan teman sebayanya karena mereka belum bisa bermain bersama-sama, kalaupun nampak bermain berkelompok sebenarnya mereka sedang bermain bersama, alias asik dengan mainannya sendiri dan tidak berinteraksi satu sama lain.

    anis khoir, pendidikan usia dini, sekolah usia dini, psikologi anak, profil blogger, aniskhoir.com, lifestyle blogger

    3. Kesehatan Anak

    Kalau anak kita selama ini memiliki kesehatan yang cukup baik, boleh aja masuk sekolah di usia dini. Hanya pastikan dia memiliki kekebalan tubuh yang cukup dan jumlah murid di kelas nggak terlalu banyak. Menurut Dr Anatoly Belilovski, dokter anak sekaligus direktur Belilovski Pediatric di Brooklyn, NY, semakin banyak jumlah anak di dalam kelas, semakin rentan anak tertular penyakit dari teman sekelasnya. Ini saya alami banget dengan Keenan, sejak masuk sekolah hampir setiap bulan terkena common cold. Bahkan dulu kakak Cinta ketika di KG 2 pernah juga tertular cacar air padahal sudah pernah vaksin cacar air dan saat itu 9 anak dalam 1 kelas mendapat cacar air. Karena itu, Dr. Belilovski menyarankan kalau anak pernah mengalami infeksi serius seperti infeksi telinga, bronkhitis dan lainnya, sebaiknya tunda dulu keinginan untuk menyekolahkan dia sampai kekebalannya lebih baik.

    4. Tingkat Konsentrasi

    Ini yang sering dikeluhkan oleh para guru kelompok bermain, ya setidaknya dalam kasus saya sejak Keenan masuk sekolah sering sekali mendapatkan keluhan bahwa Keenan nggak mau duduk diam di kelas. Bahkan baru saja beberapa hari yang lalu gurunya Keenan cerita kalau Keenan nggak mau belajar menulis dan lebih memilih berjalan-jalan di dalam kelas. Tapi sebenarnya memang rentang konsentrasi anak usia pra sekolah masih rendah, walaupun menurut Rachel Rudman, seorang terapis khusus okupasi anak, anak diharapkan dapat berkonsentrasi sesuai dengan usianya, misalnya Keenan sekarang umur 3,5 tahun, dia seharusnya bisa duduk dan mengerjakan sesuatu dengan tenang selama 3,5 menit. Namun, Rudman menambahkan bahwa seharusnya kesulitan konsentrasi bukan penghalang anak untuk bisa bersekolah, bahkan dalam beberapa kasus, dengan bersekolah dapat membantu meningkatkan kemampuan anak untuk berkonsentrasi. Jadi kalau anak sudah mampu fokus untuk menyelesaikan puzzle sederhana, menggambar selama beberapa menit, menyusun balok kayu atau lego, berarti dia aman untuk masuk sekolah.

    5. Choose Wisely

    Ketika anak memang harus bersekolah di usia dini, baik karena kedua orangtuanya bekerja dan nggak ada pengasuh; ibu tinggal di rumah tapi merasa nggak bisa memberikan stimulasi maksimal untuk perkembangan si anak; atau seperti kasus saya yang menjadikan sekolah sebagai pengganti terapi, maka Anis menyarankan untuk memilih sekolah yang benar-benar memahami tumbuh kembang anak, seperti:

    • Jam pelajaran tidak terlalu lama
    • Memiliki kebijakan yang lebih longgar berkaitan dengan school separation anxiety, alias mengijinkan ibu atau pengasuh untuk menemani anak di sekolah sampai ia benar-benar siap untuk ditinggal sendiri.
    • Program yang dimiliki tidak memaksa anak untuk keluar dari zona nyamannya. Artinya, ya semua aktivitas di dalam kelas benar-benar disusun dalam rangka yang menyenangkan bagi anak. Hal ini penting supaya anak memiliki pengalaman yang positif di tahun pertamanya bersekolah.

    Nah, kalau ternyata kita memutuskan untuk menunda anak bersekolah sampai usianya lebih matang tapi bingung apa saja aktivitas yang bisa kita lakukan bersama anak di rumah, main-main saja ke blog http://www.aniskhoir.com. Meskipun belum terlalu banyak, blog yang ditulis oleh ibu muda lulusan Pendidikan Matematika ini berisi beberapa permainan sederhana yang dapat kita buat untuk anak seperti ublek dan pasak konsentrasi serta tip supaya balita kita gemar membaca.

    anis khoir, pendidikan usia dini, sekolah usia dini, psikologi anak, profil blogger, aniskhoir.com, lifestyle blogger

    Blog ibu dari 1 putra bernama Hazwan ini juga berisi tentang berbagai informasi menarik seputar Tuban, kampung halaman suami saya. Sayang saya belum sempat kopdar dengan Anis saat mudik ke Tuban lebaran lalu dan karena bulan lalu rumah mertua akhirnya laku terjual dan beliau pindah ke Surabaya untuk tinggal bersama adik ipar saya, sepertinya tahun-tahun mendatang kami nggak akan mudik Tuban lagi. Jadi agak nyesel gitu baru sempat kenal dengan blog lifestyle yang mulai serius ditekuni Anis sejak bulan Juli 2016 lalu, meskipun dia sudah ngeblog mulai tahun 2009. Lebih nyesel lagi karena baru tahu di Tuban juga ada komunitas blogger Tuban, coba kalau tahu kan tiap mudik ke Tuban nggak cuma ngedekem di rumah aja ya. Masa 10 tahun jadi mantunya orang Tuban cuma tahu Bravo, Samudera, alun-alun, Gua Ngerong dan RM Kurnia Dewi sih. Bahkan ke Pantai Boom yang dekat rumah aja saya belum pernah. Zzzzz. Sungguh rugi saya.

    Tapi nggak rugi kok main ke blog milik mahmud abas kelahiran kota Kediri yang tampilannya bertema minimalis ini. Artikel-artikelnya ditulis dengan manis dalam gaya bahasa serius tapi tidak membosankan. Banyak hal-hal baru yang bisa didapat di sana, bagi saya yang menarik tentu soal parenting dan Tuban. Tapi yang lain juga tidak kalah seru. Hanya saja saya berharap Anis bisa lebih rajin lagi mengisi blognya supaya pembaca yang main ke sana bisa selalu mendapatkan bacaan segar yang menarik.

  • speech delay, perkembangan anak, lambat bicara, sekolah usia dini
    Daily Stories, Life with My Kids

    Keenan, Speech Delay dan Sekolah di Usia Dini

    2 minggu yang lalu menjelang libur Idul Adha, rumah kami kedatangan petugas sensus. Seperti biasa si petugas bertanya tentang siapa saja yang tinggal di rumah dan data-data pribadi lain. Yang nggak biasa adalah petugasnya masih muda, taksiran saya usia anak-anak baru lulus SMA gitu deh, cewek lagi. Dan seperti biasanya lagi saya yang bertugas menjawab pertanyaan mbak-mbak sensus ini.

    Nah, waktu si mbak mendata umur dan sekolah anak-anak, dia sempat tertegun waktu saya menyebut usia dan sekolah Keenan, lalu bertanya, “3 tahun sudah sekolah?” yang cuma saya jawab dengan senyuman.

    speech delay, perkembangan anak, lambat bicara, sekolah usia dini

    Sebenarnya nggak cuma sekali ini saya mendapat pertanyaan seperti itu. Rupanya menurut beberapa orang usia Keenan masih terlalu muda untuk sekolah, apalagi ketika ia memulai hari pertamanya di tahun ajaran 2016 ini, usianya masih 2 tahun 9 bulan. Nggak sedikit juga ahli parenting yang tidak setuju dengan ada anak masuk sekolah di usia dini seperti Keenan.

    “Umur segitu anak lebih baik di rumah belajar dengan ibunya.” 

    “Anak balita belum perlu bersosialisasi dengan orang lain selain orangtuanya.”

    “Jangan paksa anak untuk belajar di usia terlalu dini, nanti dia bisa stres dan mogok sekolah di tahun-tahun berikutnya.”

    Dan masih banyak lagi deretan komentar kontra pendidikan di usia dini baik dari sesama orangtua maupun dari pakar-pakar parenting.

    Saya pun tadinya ragu, antara tega dan nggak tega melepas Keenan sekolah karena menurut saya anak ini masih bayi banget hahaha. Beda gitu deh sama kakaknya yang sudah nampak lebih matang di usia sama seperti Keenan sehingga waktu itu saya mantap-mantap aja masukin Cinta ke baby school di usia 1,5 tahun.

    Tapi, setelah berkonsultasi dengan dokter yang menangani tumbuh kembangnya Keenan sejak ia lahir, kami pun sepakat untuk mendaftarkan Keenan ke sekolah sebagai pengganti terapi okupasi yang harusnya ia jalani. 

    Keenan dan Speech Delay

    Kenapa Keenan perlu terapi okupasi? Jadi gini ceritanya… 

    Sejak lahir, seperti anak-anak lain yang lahir di Brunei, Keenan diperiksa tumbuh kembangnya secara berkala oleh bidan di Pusat Kesihatan tempat saya periksa kehamilan dulu serta oleh dokter anak di RS Suri Seri Begawan tempat saya melahirkan. Alhamdulillah sejauh ini imunisasinya lengkap dan kesehatannya baik-baik saja meski berat badan yang selalu berada di bawah persentil 25. Tapi bidan dan dokter anak nggak pernah mempermasalahkan berat badannya, paling cuma disuruh nambah variasi makan, minum susu, mengurangi asupan gula dan sebagainya. Pokoknya pola makan gizi seimbang lah.

    Tapi, setelah Keenan berusia 1,5 tahun, saya mulai curiga karena untuk anak seusianya, bicaranya Keenan jauh tertinggal. Keenan baru bisa mengucapkan satu kata dan walaupun cerewet bahasanya masih bahasa planet. Sementara menurut milestone seusia Keenan harusnya menggabungkan 2 kata sederhana dan mulai membeo. Selain itu Keenan juga sepertinya belum memahami ucapan saya, papanya atau kakak. Sayang, keterlambatan ini saya anggap wajar karena pertama dia anak laki-laki yang biasanya lebih cepat berjalan daripada bicara. Dan kedua karena kami terbiasa berbicara dalam 2 bahasa di rumah, jadi mungkin Keenan mengalami kebingungan sehingga jadi lebih lambat ngomongnya.

    perkembangan bicara anak usia 18-24 bulan, speech delay, lambat bicara, milestone, perkembangan bahasa pada anak

    Bulan April 2015, ketika jadwal berkunjung ke Paediatric Clinic Suri Seri Begawan Hospital, Keenan yang biasanya diperiksa oleh dokter anak umum, karena kesalahan suster nulis lingkar kepala tiba-tiba diperiksa oleh Dr. Musheer dari Child Development Center (CDC) atau klinik tumbuh kembang gitulah. Dokter Musheer ini yang pertama kali memeriksa Keenan setelah keluar dari rumah sakit dan mengalami jaundice selama beberapa waktu. Oleh dokter Musheer, Keenan diajak ngobrol berdua sambil main lego di meja kecil, trus dites warna, gambar binatang dan diajak main lempar tangkap bola. Selama proses pemeriksaan yang berjalan santai dan seperti main-main itu, Dr. Musheer benar-benar fokus ke Keenan dan baru ngajak ngobrol saya setelah pemeriksaan selesai. Jadi Keenan benar-benar enjoy dan nyaman sekali dengan dokter (yang dari fisik dan logat bahasanya saya kira) berasal dari India ini.

    Dari hasil pemeriksaan baru deh ketahuan kalau memang ada milestone yang tertinggal. Meski demikian dokter tetap menyarankan supaya kami santai karena menganggap faktor keterlambatan bicara ini adalah efek bilingual dan kurangnya stimulasi. Akhirnya kami memutuskan untuk berbicara hanya satu bahasa dengan Keenan, yaitu bahasa Inggris, dengan pertimbangan lingkungan di sekitar kami lebih banyak berbahasa Inggris daripada bahasa Indonesia atau Melayu. Dokter juga ngasih handout yang membantu saya memahami tentang perkembangan bahasa pada anak dan stimulasinya.

    “Nggak ada stimulasi yang lebih baik dari bermain dengan ibunya.”

    – Devi Sani, M.Psi, Psi

    Setelah 5 bulan berlalu, ternyata perkembangannya masih kurang baik, mungkin karena kurang stimulasi, bisa juga karena terlalu banyak screen time atau faktor-faktor lain saya nggak tahu. Dokter Musheer pun akhirnya mendiagnosa Keenan mengalami speech delay. Tapi, sekali lagi saya hanya diminta untuk memperbanyak stimulasi di rumah dan mengajak Keenan untuk bermain dengan teman-teman sebayanya karena menurut beliau biasanya anak lebih cepat belajar dari situasi bermain bersama teman-temannya. Bersosialisasi ini juga menurut dokternya Keenan bisa membantu membentuk perilaku baik pada anak seperti berbagi mainan, bergantian, saling peduli dengan teman dan sebagainya. Karena, kalau anak cuma bermain sama orangtua, yang sering terjadi adalah orangtua akan mengalah ketika anak meminta sesuatu, atau membiarkan anak menang hanya supaya dia senang. 

    https://i0.wp.com/i736.photobucket.com/albums/xx4/pojokmungil/KeenanSpeech%20Delay%20dan%20Sekolah%20di%20Usia%20Dini%202_zpsk1wr4wc3.jpg?resize=560%2C315

    Pada pertemuan berikutnya 5 bulan kemudian, mulai ada perkembangan. Mungkin karena waktu itu saya mulai rajin ngasih dia sensory play atau permainan ala Montessori yang banyak ditemukan di internet dan instagram, mungkin juga karena dia mulai tertarik untuk berkomunikasi. Keenan mulai bisa menggabungkan 2 kata sederhana saat menginginkan sesuatu. Tapi, pengucapannya masih belum jelas, baik bahasa Inggris maupun bahasa Indonesia. Mirip seperti anak 1,5 tahun yang baru mulai bicara, sementara saat itu umur Keenan sudah 2 tahun 8 bulan. Dan ternyata saat itu Keenan juga memiliki short span attention. Sederhananya, anak kicik ini gampang bosan, jadi dia lebih suka aktif bergerak daripada mengerjakan sesuatu yang memerlukan koordinasi motorik halus seperti mewarna, memegang pensil, membaca (dibacakan buku). 

    Baca juga: Permainan Sensoris

    https://i0.wp.com/i736.photobucket.com/albums/xx4/pojokmungil/KeenanSpeech%20Delay%20dan%20Sekolah%20di%20Usia%20Dini%203_zpsx9ujhpwo.png?resize=560%2C315

    Kebetulan waktu itu sekolah-sekolah sudah mulai buka pendaftaran untuk tahun ajaran 2016 dan teman-teman mainnya Keenan di komunitas ibu-ibu KB Seria sudah mulai sekolah sehingga dia nggak punya temen main lagi kalau dibawa ke acara komunitas, saya akhirnya meminta saran dokter tentang kemungkinan Keenan bersekolah. Nggak nyangka ternyata dokter setuju, malah dia bilang kalau tadinya dia mau ngasih terapi okupasi seminggu sekali tapi sekolah justru lebih baik menurutnya. Jadi begitulah, akhirnya kami memutuskan untuk mendaftarkan Keenan masuk ke KG (Kindergarten) 1 atau setara playgroup di Indonesia.

    Keenan dan Sekolah

    Sebenarnya selain sekolah, waktu itu dokter juga mendaftarkan Keenan untuk terapi hanya saja kami diminta bersabar karena tempat terapi di Kuala Belait hanya ada 1 dan itu penuh jadi harus ada sesi wawancara untuk memastikan apakah Keenan perlu diterapi atau enggak. Sampai kunjungan berikutnya ke dokter, kami belum mendapat telepon dari tempat terapi untuk diwawancara dan dokter pun akhirnya membatalkan rencana tersebut karena melihat perkembangan bicara Keenan yang membaik.

    Iya, sejak sekolah memang perkembangan bicara Keenan mulai membaik, bahkan dia mulai bisa berinteraksi dengan teman-temannya. Sekarang Keenan sudah bisa merangkai 5 kata sederhana dalam bahasa Inggris seperti, “Mami, I want to eat.” Sudah mampu mengkomunikasikan keinginan dan perasaaannya seperti lapar, haus, marah, sedih, nggak mau sekolah, nggak mau pake sepatu, nggak mau mandi karena masih mau tidur dan kalimat sederhana sehari-hari. Dia juga mulai mengenal pagi, siang, sore dan malam. Juga aneka binatang, panas dingin, bentuk dan warna walau masih suka terbalik. 

    Tapi, semua itu nggak datang dengan mudah. Setidaknya nggak bagi saya meski saya anggap ini adalah bagian dari resiko menyekolahkan anak di usia sangat muda.

    Pertama, di bulan-bulan pertama sekolah Keenan selalu menangis waktu mau saya tinggal. Ya, saya maklum, anak ini sejak lahir hampir 24 jam selalu bersama emaknya. Jadi bagi saya wajar kalau Keenan merasa nggak nyaman harus berpisah dari saya meski hanya beberapa jam di tempat yang nggak dia kenal sebelumnya.  

    Sayangnya, pihak sekolah nggak mengijinkan saya untuk menemani Keenan di kelas sampai ia siap ditinggal sendiri, guru-gurunya meminta saya untuk pergi supaya Keenan terbiasa dan teman-temannya yang lain nggak rewel ngeliat Keenan ditungguin. Jujur aja saya nggak tega, di minggu-minggu pertama juga rasanya berat sekali ngeliat Keenan nangis nggak mau sekolah. Chaos banget deh suasana kelas saat itu. Anak-anak kecil nangis-nangis, guru-guru yang nampak kebingungan juga para orangtua yang nggak tega tapi harus menegakan diri. Tapi lama-lama ya dia terbiasa sih ditinggal di sekolah meski sampai sekarang saya kadang masih merasa bersalah.

    Kedua, bulan-bulan awal sekolah Keenan nggak mau pake seragam dan cuma mau pake sandal Crocks. Jadi saya sering sekali ditegur gurunya karena masalah ini. Plus, hampir setiap kali saya menjemput Keenan gurunya laporan kalau, “Keenan nggak mau duduk diam,” “Keenan suka mukul temannya,” “Keenan nggak mau mewarna,” “Keenan nggak mau berbagi mainan,” “Keenan begini… Keenan begitu…” yang isinya jelek-jelek semua. *lap keringet*

    Sampai saya sedih lho, anak saya ini kok gitu banget ya. Jangan-jangan sebenernya saya salah nih nyekolahin Keenan semuda ini. Maklum kalau urusan anak, saya emang orangnya baperan hehehe. Tapi kebaperan ini lama-lama hilang karena ternyata bukan saya seorang yang suka dilaporin gitu hahaha. Yah, mungkin bu guru lelah.

    Ketiga, sampai sekarang pun kalau dibangunin pagi hari Keenan selalu nangis nggak mau mandi dan sekolah. Padahal kalau sudah sampai di sekolah ya dia happy aja gitu masuk ke ruang kelas dan nggak nengok-nengok mamanya lagi. Kan capek ya kalau tiap hari selalu ngadepin anak rewel gitu.

    Waktu saya konsultasikan ke dokternya bulan Juli lalu, beliau justru senang liat perkembangannya Keenan, baik dari segi bahasa maupun perilaku. Memang sih, perilaku agresifnya Keenan jadi jauh berkurang, kecuali ke kakaknya. Trus ngomongnya juga jadi lebih banyak dan jelas. Keenan sudah mulai ngerti kalau ditanya sesuatu dan bisa ngasih jawaban yang sesuai juga sesekali ngasih alasan. Misalnya kalau dulu dia bilang, “I no want shoes.” Trus ditanya kenapa, ya jawabnya hanya, “I no want shoes!” sambil jerit-jerit frustasi karena menganggap emaknya ini nggak bisa ngertiin dia. Sekarang dia bisa jawab, “Because my feet hurts. I want Light shoes.” Tinggal daya konsentrasinya ini yang masih terus dilatih.

    Soal laporan-laporan dari gurunya, pak dokter menenangkan saya dengan menjelaskan kalau tujuan kami (orangtua dan dokter) memasukkan Keenan ke sekolah kan awalnya sebagai pengganti terapi okupasi, yaitu memperbaiki lifeskillnya dan hasilnya sudah cukup baik. Tapi kita juga harus paham kalau guru punya target yang berbeda jadi ya nggak perlu sakit hati kalau dilaporin yang jelek-jelek terus. Sementara kalau dilihat dari laporan pendidikannya, sebenarnya banyak sekali peningkatan yang dialami Keenan di sekolah seperti mewarnanya mulai rapi dan di dalam garis, meski pegang pensil belum sempurna tapi sudah bisa tahan lebih lama, di rumah suka bernyanyi mengulangi lagu-lagu yang diajarin di sekolah dan dia jadi suka main sekolah-sekolahan ngikutin gaya gurunya kalau ngajar. Role play istilah kerennya mah. 

    Pak dokter juga ngasih tahu alasan kenapa Keenan sering malas bangun pagi adalah karena tidurnya nggak cukup. “Kalau anak tidur cukup, dia akan bangun dengan segar dan berangkat sekolah dengan riang. Tapi kalau tidurnya nggak cukup, ya wajar kalau mandi aja nangis, trus nggak mau sarapan sehingga akhirnya di sekolah pun jadi moody.” Dan memang setelah saya observasi kalau Keenan tidur lebih awal dan bangun pagi sendiri, lebih mudah ngajak dia mandi dan sarapan lalu berangkat sekolah.

    Jadi itulah alasan Keenan bersekolah di usia dini selain supaya emaknya punya lebih banyak me time, pasti ada plus minusnya tapi untuk saat ini buat kami lebih banyak plusnya daripada minusnya. Apalagi sekolahnya sekarang termasuk santai sebenarnya karena sedikit mengadopsi sistem Montessori yang lebih banyak mengajarkan lifeskill daripada mengejar-ngejar untuk bisa calistung. Di sekolah juga Keenan belajar untuk lebih percaya diri karena sering ada performance kelas yang disaksikan orangtua. Juga di sekolah ini ada playground yang cukup luas dan sand box untuk anak-anak bermain.

    Tapi, tahun depan karena berbagai macam alasan Keenan sepertinya nggak akan lanjut di sekolah ini dan kami sedang mencari sekolah lain yang sama atau bahkan lebih baik dari sekolahnya sekarang dan bisa menerima kondisi Keenan serta membantu kami mendidik Keenan menjadi lebih baik. Doakan yaaa. 

  • arisan link, blogger perempuan, mahasiswa psikologi, as oktriwina, aliviaawin, fakultas psikologi, remaja aktif
    Blogger Profiles, Life in Brunei

    5 Hal Yang Harus Diketahui Sebelum Masuk Fakultas Psikologi

    Akhir-akhir ini linimasa media sosial saya, khususnya Facebook, dipenuhi dengan tautan artikel tentang seorang selebgram remaja yang kontroversial. Kontroversial karena bagi followernya, gadis berusia 19 tahun itu dianggap keren dan menjadi panutan. Banyak remaja ingin menjalani kehidupan yang dibagi pemilik nilai UN Matematika SMP sempurna tahun 2013 tersebut melalui akun Youtube, Snapchat dan Instagram. Namun, kepopuleran awkarin yang sebenarnya hanya satu di antara banyak remaja sepertinya, membuat para orangtua terkejut, menghujat dan menganggap Karin sebagai perusak moral remaja.

    Mungkin kehidupan Karin adalah potret remaja di Indonesia masa kini, karena beberapa bulan lalu saya pernah membahas tentang gadis asal Riau ini di sebuah forum dan para ibu menganggap sebagai “gaya hidup masa kini anak Indonesia.” Sekolah, gaul, pacaran, tapi tetap memiliki nilai yang bagus di sekolah. 

    arisan link, blogger perempuan, mahasiswa psikologi, as oktriwina, aliviaawin, fakultas psikologi, remaja aktif

    Okelah, saat itu saya merasa sayalah yang udik. Maklum, kelamaan hidup di hutan. Tapi ternyata, saya menemukan bahwa masih banyak lho, remaja Indonesia yang mengisi hari-harinya dengan kegiatan yang lebih bermanfaat dan layak dicontoh. Seperti Alifia Seftin Oktriwina, gadis manis asal Padang yang saat ini tengah menjalani Kuliah Kerja Nyata untuk syarat kelulusannya sebagai mahasiswa Psikologi di Universitas Andalas.

    Saat ini, Awin, panggilan akrabnya memang berusia lebih tua dari Karin. Namun, saat masih duduk di bangku SMA, Awin telah memantapkan diri untuk mengakrabi dunia jurnalistik dengan bergabung sebagai reporter remaja di harian Singgalang untuk suplemen mingguan Singgalang Masuk Sekolah. Lepas dari SMS, Awin bekerja sebagai reporter pada portal inioke.com dan ekspressnews.com.

    Sebagai mahasiswa Psikologi, Awin juga aktif berorganisasi di Ikatan Lembaga Mahasiswa Psikologi Indonesia dan menjabat sebagai Koordinator Badan Informasi dan Komunikasi Wilayah I. Dan masih memiliki waktu untuk mengisi blog pribadinya Le Belle et son Hijab yang berarti Si Gadis Berhijab. 

    arisan link, blogger perempuan, mahasiswa psikologi, as oktriwina, aliviaawin, fakultas psikologi, remaja aktif

    Blog bertagline Simplified Beauty and Syar’i ini berisi kisah keseharian jurnalis muda asal Ranah Minang yang mencintai kata seperti mencintai kedua orangtuanya. Berbagai resensi buku yang pernah ia baca serta tempat makan yang pernah dikunjungi juga mengisi blog dengan tema minimalis berwarna putih. 

    Meski blognya cukup menarik untuk dibaca, akan lebih memudahkan jika diberikan kategori untuk tiap tulisan yang ada atau setidaknya ada fitur search, supaya pembaca dapat mencari tulisan yang sesuai minatnya tanpa harus mengubek-ubek blog dari depan sampai belakang. Selain itu, dengan kapasitas Awin sebagai jurnalis dan mahasiswa Psikologi, sebenarnya banyak hal yang bisa dieksplorasi dan menjadi bahan tulisan menarik di blognya untuk menarik pengunjung. Seperti suka duka menjadi reporter remaja atau hal menarik yang pernah ia alami sebagai mahasiswa Psikologi.

    Stereotipe tertentu seringkali disematkan kepada mahasiswa Psikologi, setidaknya itulah yang saya alami ketika berkuliah di fakultas ini 12 tahun yang lalu. Mulai dari dituduh bisa “membaca” orang lain, diminta bocoran supaya bisa lulus tes psikologi, mencari orang untuk menjadi testee sampai menjalani live in di komunitas-komunitas tertentu sebagai syarat kelulusan sampai merasa kecele karena ternyata belajar Psikologi tidak sesuai dengan bayangan saya sebelumnya. Apa saja? 

    Ini dia 5 Hal Yang Perlu Diketahui Sebelum Masuk Fakultas Psikologi

    arisan link, blogger perempuan, mahasiswa psikologi, as oktriwina, aliviaawin, fakultas psikologi, remaja aktif

    1. Psikologi Tidak Lepas Dari Biologi dan Matematika

    Jadi jangan memilih kuliah Psikologi jika nggak mau belajar Biologi dan Matematika. Di sini kita akan menemukan mata kuliah Psikologi Faal atau biopsikologi. Pelajaran ini wajib karena kita mempelajari tentang perilaku manusia yang dipengaruhi oleh syaraf, indera, respon tubuh kita.

    Dan Matematika, hah! 2 semester kita belajar Statistik. Iya, pengolahan data mentah, tabel, kurva, grafik, sebagai syarat mengambil mata kuliah Metodologi Penelitian untuk dapat mengikuti pelajaran Psikometri pada tahun-tahun akhir kuliah. Tapi jangan khawatir, nggak seperti jaman SMA, saat kuliah kita boleh dong pakai kalkulator bahkan akan sangat akrab dengan software analisa statistik SPSS.

     2. Tidak Cukup Hanya S1 Untuk Menjadi Psikolog

    Yes, you read it right. Untuk menjadi psikolog, seorang sarjana Psikologi (S.Psi) harus menempuh jenjang pendidikan berikutnya, yaitu Magister Profesi Psikologi. Ada 2 jenis strata 2 untuk Psikologi, Magister Psikologi dan Magister Profesi Psikologi. Magister psikologi dapat ditempuh oleh semua lulusan S1 yang tertarik untuk mempelajari psikologi lebih dalam, namun magister profesi psikologi hanya untuk lulusan S1 Psikologi dan lulusannya inilah yang sering kita cari untuk berkonsultasi secara profesional baik di bidang klinis, pendidikan, industri & organisasi maupun perkembangan anak.

    Karena inilah saya terpaksa harus memendam sementara keinginan menjadi psikolog. Lulus S1 langsung kerja trus menikah, hamil, punya anak dan mengikuti suami berpindah kota membuat saya tidak sempat menempuh jenjang magister profesi. Tapi impian itu belum sirna sama sekali, masih berharap diberi kesempatan meraih gelar tersebut. Mohon doanya yaaa.

    3. Fakultas Psikologi Didominasi Oleh Perempuan

    Mulai dari dosen sampai mahasiswa kebanyakan adalah perempuan. Ini tentu menjadi keuntungan bagi sesama perempuan ya. Seperti pengalaman saya, I got my best friends for life. Bahkan seorang di antaranya jadi adik ipar saya hahaha. Kita nggak perlu takut nggak akan punya teman di program studi ini, pertama karena akan ada banyak sekali perempuan dari berbagai angkatan yang akan klik dengan kepribadian kita. Kedua, di tempat ini kita belajar mengenal perilaku manusia, belajar mengenali pribadi diri sendiri lebih baik dan tidak menghakimi orang lain sehingga meski ada grup-grup kecil, jarang sekali terjadi clash antar grup. 

    4. Mahasiswa Psikologi Bukan Cenayang

    Sungguh! Kami mempelajari perilaku dan pikiran manusia dengan berbagai metode ilmiah. Tes, observasi, eksperimen dan interview adalah sedikit di antaranya. Tidak mudah bagi mahasiswa psikologi untuk menilai kepribadian seseorang hanya dari pertemuan 3 menit. Jadi jangan pernah iseng tanya ke mahasiswa psikologi yang baru kita kenal, “Menurut kamu, aku gimana?” kecuali bersedia menjadi obyek penelitian *wink*

    5. Harus Siap Menjadi Tempat Curhat

    Begitulah, saat orang tahu kalau kita adalah mahasiswa psikologi, nggak jarang mereka langsung bercerita tentang masalah yang sedang dihadapi. Bisa jadi karena mahasiswa psikologi diajarkan teknik konseling sehingga lebih suka mendengarkan daripada menghakimi, karena sebenarnya itulah yang dibutuhkan oleh orang yang sedang curhat. Didengarkan. 

    Nah, sudah siap jadi anak Psikologi? Kalau mau tanya-tanya lebih lanjut tentang keseruan berkuliah di program studi psikologi atau asiknya menjadi reporter remaja, silakan aja ngobrol sama Awin di akun media sosialnya. Oya, sekarang Awin sudah bikin FAQ Tentang Psikologi, lho. Jadi buat teman-teman yang sedang mencari info tentang serba-serbi perkuliahan di Fakultas Psikolog langsung aja meluncur ke akun youtubenya ya. Atau email Awin di alviaawin@gmail.com.

     

  • usborne very first reading, book review, books for early reader
    Books

    Belajar Membaca Dalam Bahasa Inggris Dengan Seri Usborne Very First Reading

    Belajar membaca sendiri merupakan tantangan bagi tiap anak, terutama yang mau masuk SD. Nah, belajar membaca dalam bahasa asing bisa jadi membuat tantangan tersebut makin berat. Itulah yang dialami Cinta ketika memasuki jenjang Kindergarten (KG) 3, beberapa tahun lalu. Meskipun sudah cukup fasih berbahasa Inggris, untuk membaca dia masih mengalami kesulitan. Salah satu penyebabnya adalah cara pengucapan huruf yang berbeda saat dirangkai dalam satu kata. Misalnya huruf C, ketika berdiri sendiri, dia akan berbunyi “si” sedangkan saat dirangkai dengan huruf lain membentuk satu kata, ia dibunyikan menjadi “keh”.

    Ternyata, kesulitan itu juga dialami oleh teman-teman sekelasnya dulu. Sehingga pihak sekolah membuat program membaca bersama. Jadi, orangtua diminta membeli buku yang sudah ditunjuk oleh sekolah dan kemudian buku itu dibaca anak bersama-sama dengan gurunya di sekolah, lalu dibawa pulang untuk dibaca bersama orangtua di rumah. Setiap minggu selalu ada target halaman yang harus dibaca bersama.

    Memberatkan? Menyiksa anak? Oh enggak, sama sekali enggak. Buku yang dipilih sekolah adalah seri Very First Reading Book keluaran Usborne. Buku ini sangat children friendly karena gambarnya banyak, ukuran hurufnya besar-besar dan jumlah kata perhalamannya disesuaikan dengan level bukunya. Semakin rendah tingkatannya semakin mudah dan sedikit jumlah kata yang harus dibaca oleh anak.

    Buku ini mengajarkan membaca dengan sistem phonic yaitu membaca per suku kata, bukan mengeja tiap huruf. Dengan begini anak nggak lagi kesulitan membedakan huruf yang berbeda.

    Saat program membaca bersama ini, guru di sekolah akan mengajarkan kata yang harus dibaca oleh anak, seperti gambar di bawah ini, yaitu Pat, is dan sad. Dan dalam satu buku, anak hanyak akan belajar kata yang dikombinasikan dari 8 huruf saja, sehingga mereka mudah mengingatnya.

     

    Nah, di rumah. Orangtua tinggal mengulangi halaman yang telah dibaca oleh anak di sekolah. Biasanya perminggu anak diminta untuk membaca 1=2 halaman. Iya, cuma sedikit, jadi nggak memberatkan kan. Apalagi bentuknya adalah buku cerita dengan banyak gambar, sehingga anak pun tertarik untuk membaca hingga tuntas.

    Nggak sekadar membaca, di bagian akhir buku, ada  2 permainan yang bisa digunakan untuk memastikan anak memahami isi buku, seperti memasangkan gambar suatu halaman dengan kalimat yang ada di dalamnya. Orangtua bertugas membacakan kalimatnya dan anak diminta untuk menunjuk gambar yang sesuai. Selain itu juga ada mengurutkan cerita sesuai dengan isi buku.

    Seri ini juga “memaksa” orangtua untuk duduk bersama dan membantu anak membaca, karena tanpa orangtua membaca bagiannya, anak nggak bisa membaca bagian mereka. Dengan berbagi dan bergantian membaca cerita, acara membaca menjadi menyenangkan bagi anak. Aktivitas ini pada akhirnya membiasakan orangtua dan anak untuk memiliki ritual membaca bersama dan meningkatkan bonding antara kita serta meningkatkan kepercayaan diri anak dalam membaca. Asik kan.

    Buku ini bisa dipakai untuk anak usia TK, Cinta dan teman-temannya mulai menggunakan buku di KG 3 dengan range usia 4-6 tahun, dan sudah mengenal huruf dan kata dengan sistem phonic.

    Phonics is a method for teaching reading and writing of the English language by developing learners’ phonemic awareness—the ability to hear, identify, and manipulate phonemes—in order to teach the correspondence between these sounds and the spellingpatterns (graphemes) that represent them.

    The goal of phonics is to enable beginning readers to decode new written words by sounding them out, or in phonics terms, blendingthe sound-spelling patterns. Since it focuses on the spoken and written units within words, phonics is a sublexical approach and, as a result, is often contrasted with whole language, a word-level-up philosophy for teaching reading (see History and controversy below).

    Since the turn of the 20th century phonics has been widely used in primary education and in teaching literacy throughout the English-speaking world. More specifically synthetic phonics is now the accepted method of teaching reading in the education systems in the UK and Australia. – sumber Wikipedia.

    Seri ini juga dapat digunakan secara mandiri di rumah dengan orangtua sebagai pendampingnya karena ada panduan menggunakan buku Very First Reading di bagian belakang buku-buku tersebut.

    Setelah program membaca di sekolah selesai dengan satu judul di buku 1 dan satu lagi di buku 2, saya pun jatuh cinta dengan seri ini. Sampai Cinta benar-benar lancar membaca, kami menggunakan 8 buku dari buku 1-6. Kemudian dia pindah ke seri Usborne First Reading. Kenapa memilih buku keluaran Usborne? Karena paling mudah untuk dibaca bagi early reader, buku ini juga didapat. Hampir di supermarket di kota kami menjual buku ini dan harganya nggak terlalu mahal, mulai dari B$7,9 per bukunya.

    Bagi pembaca yang tinggal di luar UK dan US, mungkin bisa mendapatkan buku-buku keluaran Usborne di toko-toko buku besar atau membeli secara online seperti bookdepository.com.

    Selamat belajar membaca dan bersenang-senang.

    world book day, book review, book for children, usborne book

  • Life in Brunei

    Science Show at OGDC

    Science show at OGDC. Setiap main ke OGDC pasti ada ilmu baru yang didapat, baik dari lihat pamerannya atau pertunjukannya. Nah, hari ini kami dapat kesempatan dihibur dengan magic show ala science oleh pemandu OGDC.
     photo 87812420-C616-4460-AC68-D0198B68D358_zps9fmfqgqm.png

    Pada pertunjukan yang pertama, kakak pemandu menuangkan air ke dalam satu dari tiga gelas plastik yang tersedia. Kemudian ia menindahkan posisi gelas dan meminta anak-anak menebak gelas mana yang ada airnya. Setelah itu ia menuangkan satu per satu isi gelas ke telapak tangannya.

    Gelas pertama nggak ada airnya, begitu pun gelas kedua. Saat gelas yang ditunjuk anak-anak hendak dituang, mereka heboh berteriak, “No, don’t throw the water. We’ll get wet!” sambil melangkah mundur. Akhirnya isi gelas pun dituang ke telapak tangan kakak pemandu dan ajaib, nggak ada airnya. Wow!

     photo 17F6E958-754F-4A4B-BD89-6690A359B3B4_zpsldhqrl1x.jpg

     photo 40EB9BB3-2D88-4F44-BB64-05A134AE187A_zpsnnz0xyaa.jpg

    Setelah diperlihatkan dalamnya air yang tadi dituang ke dalam gelas sudah berubahmenjadi benda padat yang lengket. Ternyata di dalam gelas sudah ada bahan yang bisa menyerap air dan mengubahnya menjadi benda padat. Sayang saya nggak mendengarkan nama bahannya dengan jelas karena sibuk menemani Keenan main. Sementara anak-anak saking kagumnya juga lupa namanya.

    Percobaan kedua adalah menusuk balon dengan tusukan sate. Pada balon  yang pertama begitu disentuh tusuk sate langsung meletus. Tapi pada balon yang kedua, tusuk sate bisa dengan sukses masuk ke dalam balon tanpa membuatnya meletus. Magic!

     photo 3F7034A9-0ECA-4FF8-880A-0593C0A48C22_zpscwfa9gw6.jpg
     photo 4EA466D7-AAF0-4ACC-8B78-39E3D7177819_zpscjmeq3th.jpg

    Ternyata triknya adalah dengan memasukkan tusuk sate pada bagian balon yang paling tidak melar, yaitu di dekat ikatannya. Pada bagian itu balon bisa dengan lentur mengikuti tusuk sate sehingga terciptalah sate balon. Hehehe.

    Nah, pada pertunjukan ketiga, kakak pemandu mengeluarkan mainan ringan dari bulu dan benda yang terbuat dari susunan gelas styrofoam. Anak-anak ditantang untuk menerbangkan mainan bulu melalui benda tersebut yang lagi-lagi nggak saya perhatikan nama ilmiahnya. Ternyata dengan meletakkan bulu di bawah tabung itu menggoyangkan tabungnya, bulu bisa keluar dari atas tabung.

     photo CF83ED42-6207-4A6F-A6B2-2F8B582F10F3_zpsapwvdqxh.jpg

    Jadi dengan menggoyangkan tabung tersebut, terciptalah tornado skala super mini yang bisa menerbangkan benda-benda ringan. Simpel ya sebenarnya.

    Lumayan juga ilmu yang didapat hari ini. Serunya lagi, semua itu bisa dipraktikkan dengan benda-benda yang ada di rumah. Yuk, ikutan mencoba bareng anak-anak. Pasti mereka senang.

    Gambar diambil dari: Realego.com. Diedit menggunakan aplikasi PicLab HD.

  • Foods and Places, Kids Activities, Life in Brunei

    Belajar Science di OGDC

    Tanggal 18 Januari 2015 yang lalu, untuk pertama kalinya selama 3 tahun tinggal di Brunei akhirnya kami berkunjung ke Oil and Gas Discovery Centre Seria. Padahal ya, bangunan ini dilewatin minimal sehari dua kali dan playground serta jogging tracknya sempat jadi tempat main favorit kami. Cuma ya baru tergugah untuk eksplorasi yang ada di dalamnya baru-baru ini aja. Itupun hampir batal karena waktu mau berangkat hujan, untung nggak lama kemudian berhenti. Akhirnya dipaksakanlah mendung-mendung pergi daripada cuma bengong di rumah.

    Science Centre yang berada di Seria, Brunei Darussalam ini pertama kali dibuka pada tahun 2002 dengan tujuan awal memberikan edukasi kepada warga Brunei tentang pertambangan minyak dan gas bumi yang merupakan salah satu tulang punggung perekonomian negara. Namun seiring berjalannya waktu, Brunei Shell Petroleum sebagai pengelola mengembangkan OGDC sebagai sarana edukasi ilmu pengetahuan dan teknologi serta aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari.

    Biasanya saat libur sekolah, OGDC punya kegiatan menarik untuk anak-anak, mulai dari lab science activity sampai cooking class dan traffic games. Tapi sayangnya belum punya kesempatan untuk mencoba, mungkin libur sekolah Maret yang akan datang kalau ada aktivitas menarik mau daftarin Cinta ikut secara dia suka sekali segala sesuatu yang berbau science dan kebetulan nggak ada rencana pergi ke mana-mana.

    Saat kami ke sana hari Minggu, ternyata sedang ada aktivitas di exhibition hall. Sekelompok anak usia SMP asik menyaksikan salah satu petugas OGDC mendemonstrasikan serunya aplikasi science dalam berbagai permainan. Tapi cuma sempat ikut liat sebentar karena Cinta sudah nggak sabar pengen masuk ruang Oil & Gas.

    Sebenarnya setelah menulis nama di buku tamu, resepsionis menawarkan apakah kami butuh bantuan pemandu atau mau jalan-jalan sendiri. Berhubung ruangan yang hendak dieksplorasi tidak terlalu besar kami memutuskan untuk berjalan-jalan sendiri. Namun dalam praktiknya, para petugas OGDC nggak segan membantu dan menjelaskan kepada kami hal-hal yang menarik dalam setiap ruangan. Mungkin karena pada hari itu selain rombongan pelajar, pengunjungnya cuma kami sekeluarga hihihi.

    Oil & Gas Room, OGDC Seria, Brunei

    Di ruang Oil & Gas yang berisi tentang berbagai pengetahuan tentang ilmu pertambangan, anak-anak paling suka menyusun pipa-pipa dan membolak-balik kaca yang berisi bebatuan dan minyak, sementara saya membaca sejarah pertambangan di Brunei.

    Puzzle & Illusion Room, OGDC Seria, Brunei

    Kemudian kami pindah ke ruang Puzzle and Illusion. Nah, udah deh, nggak yang besar nggak yang kecil semua heboh mencoba satu per satu alat peraga yang ada di situ. Mulai dari menyalakan listrik pakai kayuhan sepeda, menyusun puzzle raksasa sampai berbagai tipuan mata yang bikin berdecak, “Kok bisa ya.”

    Meski isinya nggak terlalu banyak tapi anak-anak saya betah sekali main di sini sampai susah diajak pulang. Rencananya bulan ini kami akan ke sana lagi untuk melihat Rescue Exhibition yang diadakan di bulan Februari. Tunggu cerita seru di OGDC selanjutnya 🙂

    Informasi

    HTM/Admission Charges:

    PRE SCHOOL (5 years old and below) : Free of Charge
    CHILD (5 – 12 years old) : BND 1
    TEEN (13-17 years old) : BND 2
    ADULT (18 – 55 years old) : BND 5
    SENIOR CITIZEN (55 years old and above) : BND 3
    FAMILY PACKAGE (2 adults + 4 children) : BND 12

    Operating Hours:

    Monday to Saturday : 8:30am to 5:00pm
    Sunday : 9:30am to 6:00pm
    Public Holiday : CLOSED

  • Daily Stories, Life in Brunei, Recipe

    Food Challenge, Day 5

    Yaaaiiy. Sampai juga di hari terakhir #FoodChallenge.

    #Day5FoodChallenge

    Kemarin makan siangnya kesorean1, karena sejak jam 9.30 pagi sudah mondar mandir kaya setrikaan ngelengkapin keperluan Cinta untuk hari pertamanya masuk sekolah Ugama, hiks. Padahal masakannya sudah siap dari pagi. Bahkan kaldunya telah dimasak dari semalam pakai slow cooker. Saking singkatnya waktu, Cinta pun terpaksa makan siang di mobil antara waktu pulang sekolah pagi dan masuk sekolah Ugama.

    Sekolah Ugama ini semacam madrasah di Indonesia yang dikelola resmi oleh Kementerian Hal Ehwal Ugama di bawah Jabatan Pengajian Islam negara Brunei Darussalam. Menurut guru besar2 sekolah Ugama tempat Cinta belajar, sejak tahun 2013 yang lalu, Sultan Hassanal Bolkiah mewajibkan setiap anak yang kedua orang tua atau salah satunya merupakan penduduk atau permanent resident negara Melayu Islam Beraja Brunei Darussalam dan telah berusia 7 tahun pada bulan Januari di tiap tahun ajaran untuk mengikuti sekolah Ugama.

    Baginda Sultan berharap dengan berjalannya undang-undang ini, “insya-Allah, tidaklah akan ada lagi kanak-kanak Islam di negara ini yang akman tercicir dari memahami dan mengetahui ilmu asas pendidikan Islam. Tidak akan ada lagi orang yang tidak pandai sembahyang dan membaca Al-Qur’an”, titah baginda Sultan sempena Majlis Sambutan Hari Guru Ke-22 bagi Tahun 1433 Hijrah/2012 Masihi pada 8 Zulkaedah 1433 bersamaan 24 September 2012.3

    Foreigner seperti kami tentu tidak wajib ikut tapi tidak ada salahnya kan menambah pengetahuan tentang agama yang tidak bisa didapat di sekolah pagi maupun di rumah.

    Habis mengantar Cinta ke sekolah Ugama nggak bisa langsung pulang karena ada taklimat4 dari guru besar sekolah untuk para orang tua siswa. Setelah taklimat selesai, saya berencana makan siang di Plaza Seria saja sama Keenan sambil nunggu kakak pulang karena sekolahnya cuma berlangsung selama 2 jam. Tapi ternyata di tengah-tengah pertemuan Keenan pup dan saya nggak bawa popok ganti. Akhirnya memutuskan untuk pulang aja. Untung perjalanan dari sekolah ke rumah cuma 10 menit. Sampai rumah hanya ada waktu 30 menit sebelum sekolah selesai. Ya cuma sempat mandiin dan nyuapin Keenan trus langsung berangkat lagi deh.

    Jam 4 sore sampai rumah langsung beres-beresin barang-barang sekolah Cinta, duduk sebentar tarik nafas baru ambil makan. Menu sore ini adalah homemade risotto5 tuna keju plus honey lemon tea. Berhubung kehabisan lemon jadi ya nyoba pakai lemon essential oil6 Young Living yang baru diterima tadi pagi. Makasih ya, Anggy :* Lumayanlah buat menyegarkan badan yang mulai remek dan meredakan gejala-gejala flu yang mulai melanda.

    Risotto kali ini rasanya pas sama selera anak-anak. Cukup creamy dan cheesy tapi nggak bikin eneg. Bikinnya juga gampang. Thanks to my super rice cooker hehehe. Resepnya sederhana aja, hasil gabung-gabungin dari berbagai resep di google. Kalau mau nyoba juga, ini dia resep dengan takaran suka-suka.

     photo 65EE0762-EAD9-411C-AC64-F4C77F6D3AB1_zpsg6pxuswm.jpg

    Risotto Tuna Keju ala Mama Nia

    Bahan:
    2 cangkir beras, cuci bersih
    1/2 bagian bawang bombay, dipotong kecil-kecil
    1 siung bawang putih dicincang
    Sejumput garlic granule7 (optional)
    Sejumput mixed herbs8 (optional)
    Garam
    1 buah wortel, dipotong dadu kecil-kecil
    Brokoli sesuai selera
    500 ml kaldu ayam (atau sesuai kebutuhan)
    1 cup susu uht plain
    Tuna kaleng sesuai selera
    1 sdm Margarin untuk menumis
    75 gram keju cheddar parut

    Cara membuat:
    • Tumis bawang bombay dan bawang putih sampai harum.
    • Masukan beras yang sudah dicuci, aduk rata.
    • Tuang 3-4 sendok sayur kaldu, aduk sampai beras terendam kaldu. Masukan wortel, mixed herbs, garam dan garlic granule. Aduk sampai kaldu meresap.
    • Tuang beras ke dalam rice cooker, tambahkan kaldu sampai batas yang dibutuhkan untuk memasak nasi. Aduk dan masak di rice cooker.
    • Menjelang matang, masukan tuna, brokoli, sebagian keju dan susu uht. Aduk rata dan tutup lagi rice cooker sampai matang.
    • Sajikan dengan taburan keju parut.

    Yah, akhirnya tuntas sudah tantangan kali ini. Baru sekarang lho saya berhasil menyelesaikan lagi tantangan di sosial media kaya gini setelah 30 Day Green Smoothie Challenge-nya Simple Green Smoothies setahun yang lalu. Dan sebagai penutup saya mau ngoper tongkat estafet ke Lina Florida atau teman-teman yang berminat ikut tantangan ini. Yuk, posting foto makanan 5 hari berturut-turut. Boleh masakan sendiri atau wisata kuliner. Boleh foto lama atau baru. Asal jangan foto lontong kupang pak Misari ya. Kasian nanti saya ngences hahaha. Trus tag 1 teman setiap harinya. Selamat berkreasi!

    1. tantangan ini mulai saya upload di FB dan IG hari Minggu tanggal 5 Januari, jadi tiap postingan di blog mundur sehari []
    2. kepala sekolah []
    3. Titah “Pendidikan Ugama Wajib 2012” dikutip dari laman web Aspirasi NDP []
    4. perbuatan atau peristiwa pemberian arahan atau informasi yang tepat, KBBI []
    5. 1. rice cooked with broth and sprinkled with grated cheeseArti Kata []
    6. an oil having the odor or flavor of the plant from which it comes; used in perfume and flavorings – Arti Kata []
    7. A dried form of garlic that has been ground into granules rather than powder. Granulated garlic can be used much the same as garlic powder, but has about half the flavoring power as the same measure of garlic powder and like powder, the granules lack in providing the garlic texture of a fresh garlic. 1 teaspoon of granulated garlic equals 1/2 teaspoon of garlic powder. []
    8. Mixed herbs is a common mix of different dried herbs, ready for use without needing to measure out individual quantities. A typical mix includes equal parts of basil, marjoram, oregano, rosemary, sage, thyme []