5 Foto Anak Yang Sebaiknya Tidak Diunggah di Media Sosial

internet safety, media sosial untuk anak, internet sehat

Jangan sembarangan upload foto anak di media sosial. Begitu anjuran seorang psikolog dan pakar parenting di sebuah seminar parenting yang pernah saya hadiri beberapa tahun lalu. Beliau bahkan menyarankan kami, para orangtua, untuk selalu meminta ijin kepada anak saat kita akan mengunggah fotonya di media sosial. Saat itu sih saya masih cuek aja. Pikir saya untuk apa sih minta ijin ke anak, kan kita mengunggah fotonya sebagai bentuk kebanggaan karena kelucuannya, kecantikannya, kepinterannya dan apalah apalah yang lain. Lagipula anaknya waktu itu masih kecil dan belum ngerti tentang media sosial kan jadi ya masih masa bodoh lah walaupun sedikit-sedikit mulai berkurang frekuensi mengunggah foto-fotonya.

Berkurang itu dalam arti cuma yang bagus aja yang diunggah atau saat ada peristiwa yang menarik dan menurut saya perlu dibagikan ke khalayak ramai. Sebelumnya wah, hampir setiap langkahnya saya unggah ke multiply dan facebook. Mulai dari bangun tidur masih pake piyama, makan, outfit of the day, langkah pertama, lagi kelonan, ocehan pertama, lagi mandi nggak pake baju, lagi berenang, sampai akhirnya mau tidur lagi. Semua ajalah saya upload.

Defensenya adalah untuk dokumentasi pribadi. Biar kalau filenya hilang masih ada back upnya di media sosial. Pembelaan ini bertambah ketika kami tinggal jauh dari kampung halaman. Alasannya supaya kakek nenek tante paman budenya bisa tetap mengikuti perkembangan si kecil dari jauh melalui facebook. Gitu. Masuk akal kan ya.

Tapi semakin ke sini semakin banyak yang mengingatkan untuk lebih berhati-hati mengunggah foto-foto anak di media sosial. Apalagi dengan semakin maraknya kasus child shaming, penculikan, pedofilia, pencurian foto untuk hal-hal yang nggak senonoh dan masih banyak lagi deh. Akhirnya, lama-lama saya makin jarang upload foto anak-anak di media sosial, khususnya Facebook. Kalaupun upload, saya buat hanya dapat dilihat oleh circle tertentu, yaitu keluarga dan sahabat dekat. Dan yang saya unggah pun hanyalah foto-foto yang bersifat umum, misalnya sedang mengunjungi tempat tertentu atau sedang bersama keluarga besar.

Nah, ketika bikin tulisan tentang hate comments kemarin, saya menemukan beberapa tulisan yang bertema foto-foto seperti apa yang sebaiknya nggak kita unggah ke media sosial. Akhirnya saya coba rangkum dan tulis di sini untuk mengingatkan diri sendiri, ini dia:

internet safety, internet sehat, anak dan media sosial

5 Foto Anak Yang Sebaiknya Tidak Diunggah ke Media Sosial:

  1. Anak bersama teman-temannya tanpa seijin orangtua masing-masing.
    Waktu baru pindah ke sini juga seorang teman yang berkebangsaan Jepang, yang kebetulan tetangga apartemen saya dan anaknya satu sekolah dengan anak saya selalu minta ijin sebelum mengunggah foto anak-anak lagi main bareng. Dari dialah saya tahu kalau di beberapa negara, aturan ini cukup ketat ternyata. Nggak sembarangan orang bisa mengunggah foto anaknya yang lagi berpose dengan sekumpulan anak lain. Apalagi kalau anaknya nggak dia kenal baik, seperti foto lagi main bareng di taman bermain atau teman seperjalanan yang nggak saling kenal.Hal ini bertujuan melindungi privacy orang lain. Nggak semua orangtua suka foto anaknya ada di media sosial apapun alasannya. Ada yang memang supaya anaknya nggak diekspos seperti anak-anaknya artis, ada yang mungkin sedang dalam program perlindungan saksi, ada yang mungkin lagi melarikan diri dari pasangan yang abusive dan nggak mau keberadaan mereka diketahui, dan macam-macam alasan lain.
    Solusinya ketika berada di area publik ya sebaiknya hanya mengambil foto anak atau blur wajah-wajah anak lain di sekitar anak kita.

    Blur foto teman karena belum minta ijin ortunya

     

  2. Sedang berada di sekolah.
    Oke, siapa yang nggak bangga kalau anak kita sekolah di sekolah yang bagus, berprestasi di sekolah atau ambil bagian dalam pentas akhir tahun. Saya rasa wajar aja kan ya kalau kita upload foto mereka lengkap dengan nama acara, prestasi yang mereka raih dan nama sekolahnya. Wajar pake banget! Kebanggaan gitu lho. Mungkin juga kebanggaan bagi pihak sekolah apalagi kalau follower IG kita ribuan orang gitu. Lumayan kan jadi dipromosikan. Tapi mungkin kita juga sudah banyak baca ya postingan viral tentang penculikan anak di sekolah hanya karena ortu iseng upload foto hari pertama sekolah lengkap dengan nama dan tag locationnya. Oke oke, artikel itu bisa jadi cuma ilustrasi, bukan kejadian beneran. Tapi nggak ada salahnya lebih berhati-hati. Kalaupun memang mau pasang foto anak di sekolah, keep it private for our children sake. Nggak perlu juga seluruh dunia tahu di mana anak kita bersekolah kan.
  3. Bath or Potty Time
    Lebih lucu foto main air kan, daripada foto berendam di bak mandi 😀

     

    Nggak ada yang lebih lucu dari foto anak lagi duduk di dalam bak mandi berbalut busa sabun sambil main rubber ducky ya. They look so cute and innocentWell, yes, until someone steal their picture and post it to some IG accounts that encourage their follower to do role playing with the pictures. Yes they exist lho. Coba cari hestek #babyrp #babyroleplay #adoptionrp #pedorp #pedophilerp #childfetish. Lagian sih, saya sendiri nggak mau kalau foto kecil saya sedang setengah telanjang tersebar di media sosial betapapun lucunya. Masa iya saya mau melakukan hal yang sama ke anak saya 😀

  4. Yang memuat Identitas Lengkap Anak
    Beberapa teman menganjurkan saya untuk nggak menulis nama lengkap anak di sekolah, bahkan banyak blogger luar negeri seringkali cuma mencantumkan nama alias atau nickname anaknya. Saya belum bisa sih, belum bisa sepenuhnya. Untuk kakak Cinta mungkin lebih mudah karena orang tahunya ya nama dia adalah Cinta, karena memang itu panggilan sayang kami sekeluarga yang akhirnya terbawa ke dunia maya. Hanya keluarga, teman dekat dan teman sekolahnya yang tahu nama lengkap Cinta. Sedangkan Keenan, kami nggak punya ide bikin nickname, paling yang bisa saya lakukan adalah nggak mempublish nama belakangnya. Emang kenapa sih?

    Gini, di dunia digital seperti sekarang mudah sekali kan orang nyari tahu tentang kita di dunia maya. Tinggal masukin nama lengkap aja bisa deh ketahuan data-data dan foto yang pernah kita post di media sosial. Nah, bayangin kan kalau kelak anak mau apply beasiswa atau mau ngelamar kerja atau ada temen onlinenya yang iseng googling terus menemukan foto-foto anak yang nggak pengen dia liatin ke orang lain. Kalau yang kita posting baik-baik aja sih nggak apa-apa, tapi kalau misalnya rapor yang kurang baik, kan kasian ya.
  5. Yang Memalukan Anak
    Nah, ini dia poin yang saya maksud di awal tulisan ini. Sebelum pasang foto anak di media sosial, mintalah ijin terlebih dahulu, terutama kalau anaknya sudah bisa diajak diskusi. Atau minimal bayangkan kita ada di posisinya, mau nggak kalau foto itu dilihat banyak orang di dunia maya. Kenal child shamming kan ya? Sekarang banyak sekali anak yang merasa dipermalukan karena orangtuanya pasang foto-foto konyol baik secara sengaja atau enggak. Coba kalau foto kita yang lagi nggak banget dipasang teman di FB misalnya, pasti juga sebal kan ya?
Kalau foto lagi cakep gini dan sudah ijin anaknya, bolehlah diupload.

Jadi orangtua di dunia digital memang nggak gampang sih. Saya sering banget pengen upload foto bocah-bocah di medsos tapi suka saya tahan. Tapi kadang ngeliat teman-teman lain posting foto-foto anaknya trus ikutan juga. Masih labil lah intinya. Akhirnya seringnya saya kirim aja ke grup wa keluarga, grup bbm atau saya buat seprivate mungkin alias cuma saya dan keluarga yang bisa liat. Kecuali foto-foto liburan di suatu tempat yang benar-benar berkesan buat kami, misalnya. Selebihnya semua foto masih tersimpan manis di folder hp dan laptop. Mungkin nanti mau bikin album foto aja sih biar bisa dibuka setiap saat. Like the old times.