Anak Bungsu Lebih Disayang Oleh Orang Tua, Benarkah?

anak bungsu lebih disayang orang tua

Banyak orang bilang kalau anak bungsu lebih disayang oleh orang tua, lebih dimanja, lebih diperhatikan, dan akan selalu dianggap sebagai bayinya orang tua. Benar nggak sih?

Kira-kira 7 tahun yang lalu, saat Cinta masih umur 4 tahun dan masih menjadi satu-satunya anak saya (dan suami), budhe saya pernah berkomentar bahwa saya tuh kelihatan menikmati banget saat bersama Cinta. Beliau lantas membandingkan dengan kenalannya yang kelihatan lebih dekat dengan anak keduanya daripada anak pertamanya. Komentar tersebut langsung dijawab oleh mama saya, “Ya jelas, wong anaknya baru satu.”

Meskipun saat itu saya hanya menanggapi obrolan mereka dengan senyuman, dalam hati saya berkata bahwa berapapun anak saya nanti, kedekatan saya dengan Cinta nggak akan berubah. Gitu. Pede banget lah saya waktu itu merasa akan bisa bersikap sama dan membagi kasih sayang secara adil dan merata kepada semua anak saya. Padahal anaknya baru satu, isi galeri foto di hapenya 90% si anak satu-satunya itu, dan sebagian besar waktu dan uangnya dihabiskan untuk si kesayangan nomer satu.

Sampai negara api menyerang si adik hadir dalam perut saya dan si sulung beranjak semakin besar. Dan saya akhir-akhir ini merasa kok komentar budhe saya 7 tahun lalu itu ada benarnya ya. Saya sepertinya lebih dekat dan lebih banyak menghabiskan waktu bersama si bungsu daripada si kakak. Saya kelihatan lebih sayang kepada si adik daripada si kakak. Tapi apa iya?

anak bungsu lebih disayang oleh orang tua

Perbedaan Perlakuan Orang Tua Kepada Anak Bungsu.

Sebagai orang tua sih nggak pengen ya punya perasaan lebih sayang kepada salah satu anak. Karena saya tahu nggak enaknya merasa kurang disayang dibandingkan saudara-saudara saya. Bagi saya waktu itu adik saya sebagai anak bungsu lebih disayang oleh orang tua saya.

Sejak dulu saya tahu kalau adik bungsu saya adalah ‘gantilane ati’nya ayah tiri saya. Dan saya bisa memaklumi karena saat mama saya menikah dengan ayah tiri saya, adik bungsu saya ini masih kecil banget. Jadi mungkin bagi ayah tiri saya, si bungsu ini sudah seperti anaknya sendiri karena beliau yang mengurusi kami sejak kecil. Sedangkan si tengah yang satu-satunya lelaki di antara kami bertiga adalah kesayangan mama saya. There. And I’m nobody’s child. *self pukpuk* *ini nulisnya kok pake sedih ya hahaha*

Nah, setelah punya anak, saya berusaha untuk nggak pilih kasih. I do love both of my kids equally. Nggak ada deh ceritanya anak bungsu lebih disayang oleh orang tua, khususnya saya sebagai ibu. Tapi ternyata kok nggak segampang itu bersikap secara adil kepada lebih dari satu anak.

Coba, kepada darah daging sendiri aja rasanya susah bersikap adil. Gimana dengan para pelaku poligami. Apa iya bisa adil dengan lebih dari satu istri? Apa iya hatinya nggak akan pernah condong ke salah satu istri? Karena itulah poligami yang syarat utamanya harus bisa adil itu sebenarnya berat dijalani. Eh, kok jadi salah fokus?

Oke, kembali ke anak. Setelah punya anak dua, saya memang merasakan beberapa hal yang berbeda dalam perlakuan terhadap si bungsu ke kakaknya saat ini. Dan menurut penelitian yang dirilis oleh Telegraph.co.uk, orang tua memang cenderung memihak kepada si bungsu saat bertengkar dengan saudaranya, memberikan perhatian lebih kepada mereka, lebih santai dan lebih banyak meluangkan waktu untuk beraktivitas bersama dengan si bungsu. Intinya meskipun berat diakui, memang ada kecenderungan anak bungsu lebih dekat dengan orang tua.

Tapi, tidak otomatis berarti anak bungsu lebih disayang oleh orang tua.

Bagi saya pribadi, ada beberapa perbedaan yang saya lakukan kepada kakak dan adik saat ini. Dan mungkin juga hal ini dilakukan oleh orang tua yang lain. Namun alasannya bukan sekadar karena saya lebih sayang pada si bungsu. Ada faktor-faktor lain yang menjadi penyebabnya. Seperti:

  1. Lebih royal kepada si bungsu.

    Sebenarnya ini sebagai bentuk kompensasi karena Keenan sejak baru berusia 2 minggu selalu saya bawa kemana-mana. Maklum, saat Keenan lahir kami sudah di rantau dan nggak ada yang membantu menjaga dia di rumah. Sementara sebagian besar aktivitas saya di luar rumah adalah untuk mengantar jemput kakak dengan berbagai kegiatan sekolah dan ekstra kurikuler.

    Semakin banyak aktivitas kakak, semakin sering Keenan harus mengorbankan waktu santainya di rumah untuk mengikuti saya kemana-mana. Setelah dia bisa protes seperti sekarang, nggak jarang dia menangis karena capek sepulang sekolah dan ingin tinggal di rumah untuk bermain, sementara kami harus pergi lagi mengantar kakak Sekolah Ugama atau aktivitas lain. Akhirnya ya untuk menghibur hatinya saya belikan dia es krim lah, kue lah, buku lah atau apa saja. Iya, saya tahu ini nggak baik, but I just can’t help.

    anak bungsu lebih disayang oleh orang tua

    Faktor lain adalah karena saya merasa kakak Cinta waktu balitanya lebih beruntung daripada Keenan. Waktu kakak lahir aja yang nungguin di rumah sakit ada 5 orang. Dia juga lahir dan tumbuh di tengah-tengah kehangatan kasih sayang keluarga besar. Kakak dilimpahi banyak sekali kasih sayang dan hadiah dari orang banyak.

    Sedangkan Keenan hanya punya kami bertiga. Itupun dia harus berbagi waktu dan kasih sayang saya dengan kakaknya, papanya dan pekerjaan rumah. So yeah¸I feel like I have to overcompensate. Namun, bukan berarti karena Keenan anak bungsu lebih disayang oleh orang tua sih.

  2. Lebih sering memeluk, mencium dan memangku adik.

    Ya, itu karena Keenan masih dalam masa suka dipeluk dan memeluk. Dia juga masih cukup besar untuk duduk di pangkuan saya. Sementara si kakak sudah jarang mau dipeluk apalagi dicium. Padahal dulu waktu kakak masih seumur Keenan ya sama aja, we hugged and cuddled all the time.

    anak bungsu lebih disayang oleh orang tua

    Lagipula karena kami nggak berencana untuk punya anak lagi, Keenan akhirnya menjadi bayi terakhir saya. Dan bayi itu paling menyenangkan untuk dipeluk dan dicium kan ya? Sementara kakak sudah nggak terlalu suka dipeluk atau dicium, walau ada saat dia lagi manja, lagi pengen dimanja. Ingin berduaan dengan dirimu, Sayang (yousingyoulose).

    Namun, bukan karena dia anak bungsu lebih disayang oleh orang tua yang membuat saya lebih sering memeluk dan mencium Keenan. Just simply because, mumpung Keenan masih mau digemes-gemesin, dipangku, disayang-sayang dan dipeluk-peluk ya saya nikmati semaksimal mungkin momen ini.

  3. Lebih menikmati waktu berdua si bungsu.

    Saya dan Keenan lumayan sering berduaan aja. Mulai dari nongkrong makan es krim, ke playground, ke supermarket atau sekadar leyeh leyeh ngobrol dan baca buku di rumah. Tapi bukan berarti lantas saya mengucilkan kakak lho.

    Sebagian besar aktivitas berduaan itu kami lakukan saat si kakak beraktivitas di sekolah. Biasanya kalau lagi malas bolak-balik pulang pergi sekolah – rumah atau tempat les – rumah, saya ajak aja Keenan keliling di dekat sekolah kakak.

    Walaupun nggak jarang saya stress saat bawa Keenan keluar rumah karena selalu ada aja yang bikin dia tantrum, saya berusaha menikmatinya. Karena waktu ini akan segera berlalu. Sebentar lagi anak-anak mungkin nggak akan lagi mau nongkrong bareng mamanya sekadar makan froyo atau jajan burger. Mungkin mereka akan lebih memilih tinggal di rumah nonton tv atau bermain dengan temannya (yang sudah mulai terjadi dengan kakak) daripada nemenin mama jalan sore di taman.

    anak bungsu lebih disayang oleh orang tua

    Sebelum tidur saya juga selalu membacakan buku untuk Keenan dan meluangkan waktu lebih banyak dengannya. Alasannya ya karena Keenan belum bisa baca, sementara kami sedang berusaha menstimulasinya untuk belajar baca karena tahun depan dia sudah masuk SD.

    Sedangkan kakak sudah tidur di kamarnya sendiri dan bacaannya bukan lagi buku anak dengan dua tiga kalimat sederhana. Agak jontor juga kan bibir mama kalau harus bacain Harry Potter misalnya. Tapi ya saya masih suka kok nemenin kakak baca buku di kamarnya. Kadang juga kalau ada buku yang menarik dibaca berdua ya saya masih membacakannya untuk dia. Kakak juga masih suka ngikut dengerin saya baca cerita untuk Keenan.

    Jadi kalau saya nampak lebih sering berdua dengan Keenan bukan lantas karena anak bungsu lebih disayang oleh orang tua ya. Keadaan aja yang membuatnya begitu.

  4. Lebih santai saat mengasuh si bungsu.

    Saat baru punya anak satu, saya dulu nggak punya ilmu parenting atau kesehatan anak yang cukup. Semua serba cemas. Semua bikin bingung. Cinta kolik saya panik, Cinta nggak mau makan saya kelabakan, Cinta tantrum saya ikut ngamuk. Apalagi dengan baby blues yang berkepanjangan, bagi saya mengasuh si sulung itu penuh dengan tantangan, stres dan cobaan.

    But alhamdulillah, thanks to my first born and my first parenting teacher, ketika punya Keenan saya sudah lebih tenang. Saya tahu bahwa semua fase yang tadinya bikin saya bingung itu pasti akan berlalu dengan penanganan yang tepat.

    Saya juga sudah nggak lagi merasa perlu bersaing dengan ibu-ibu lain dalam ASI, homemade food atau milestone anak. Dengan si bungsu, saya tahu bahwa anak punya pacenya sendiri dalam mencapai keahlian tertentu.

    Jadi, ketika anak tetangga sebelah sudah bisa lari di usia 9 bulan, saya santai aja menikmati langkah pertama si bungsu. Saat sepupunya sudah bisa bernyanyi lagu nasional, saya cukup bahagia mendengar adik bernyanyi lagu anak sederhana. Selama semua perkembangannya masih dinyatakan normal oleh dokter dan bidan yang rutin memeriksanya setiap 6 bulan, I’m good. I’m content. Itulah kenapa saya bisa lebih santai saat membesarkan si bungsu.

    Dengan adik, saya juga nggak lagi terlalu memberikan banyak aturan. Beda dengan si kakak. Karena saya menganggap kakak sudah lebih besar, saya punya target apa-apa saja yang seharusnya sudah bisa dia pahami dan lakukan pada usianya.

    Hal ini membuat saya keliatan lebih tegas dan disiplin kepada kakak daripada adik. Padahal ya karena si adik lebih kecil, masih belum perlu tegas dalam menerapkan peraturan. Dulu waktu kakak masih seumuran adik juga saya melakukan hal yang sama kok.

    anak bungsu lebih disayang oleh orang tua

    Lagipula, meski saya lebih santai kepada adik, kakak seolah menjadi pengganti saya untuk lebih tegas dan galak kepada adiknya. Mungkin pikirnya, “Eh, gue disuruh begini begitu kok enak banget adik gue dibiarin aja sama nyokap.” Pada gitu juga nggak sih?

  5. Galeri kamera kebanyakan berisi foto si bungsu.

    Well ya, dengan kakak yang menghabiskan sebagian besar waktunya di sekolah, tentu cuma si adik yang bisa dijadikan obyek foto kan. Apalagi semakin besar si kakak, semakin malas dia berada di depan kamera. Lagipula, pernah ada masanya juga timeline media sosial saya dipenuhi foto-foto si kakak. Bahkan album foto di akun FB saya 90% adalah foto-foto kakak sementara si adik hanya punya beberapa foto di sana.

  6. Lebih perhatian kepada si bungsu

    Posisi sebagai seorang adik biasanya kurang menguntungkan kalau punya kakak yang lebih segalanya. Biasanya bagi sebagian besar keluarga, kakak adalah kebanggaan. Sehingga adik biasanya terinspirasi untuk bisa seperti kakak dan selalu mengikuti si kakak kemana-mana bahkan mencoba untuk berteman dengan teman-teman kakaknya juga.

     

    anak bungsu lebih disayang oleh orang tua

     

    Sayangnya, sekuat apapun dia mencoba, kadang nggak selalu berhasil menyamai keberhasilan kakak. Karena itulah, saya selalu berusaha lebih keras untuk mendukungnya, memberikan semangat dan membantunya meningkatkan kepercayaan diri. Hal ini kadang disalahartikan sebagai pilih kasihnya orang tua. Padahal, mungkin hanya karena orang tua terlalu fokus pada yang anak yang lebih kecil dan merasa si kakak sudah lebih bisa dan lebih mandiri sehingga nggak terlalu perlu perhatian lebih.

Begitulah. Meski faktanya anak bungsu cenderung lebih dekat dengan orang tua, bukan berarti anak bungsu lebih disayang oleh orang tua. Menurut penelitian yang ditulis oleh Telegraph.co.uk, dari 1803 responden, hanya 23% yang mau mengakui bahwa mereka memiliki anak kesayangan dalam keluarga, dan 54% dari 23% tersebut mengakui bahwa anak bungsu adalah favorit mereka.

Orang tua justru merasa memiliki lebih dekat dan memiliki banyak kesamaan serta lebih mudah berkomunikasi dengan anak sulung atau anak yang lebih besar. 60% responden juga mengatakan bahwa mereka suka membicarakan tentang anak sulung mereka dan prestasi-prestasi yang diraihnya.

Namun, apapun posisi anak dalam keluarga, yang paling penting adalah mereka dicintai sepenuh hati, diperhatikan, dipenuhi kebutuhan fisik dan emosionalnya serta diperlakukan sebagai individu yang mungkin memiliki kebutuhan yang berbeda dari saudara-saudaranya. Lagipula, sebagian besar responden mengakui bahwa ada kemungkinan mereka menyukai salah satu anak lebih daripada saudaranya, namun itu karena orang tua merasa bahwa they can get along better with them, bukan karena rasa cinta yang berbeda atau lebih besar.

Kalau menurut pendapat dan pengalaman teman-teman gimana? Benar nggak anak bungsu lebih disayang oleh orang tua?

Happy Birthday, Dear Daughter

When I held you for the first time,
my life began to shine.
I knew then this life wasn’t just mine.

I would do what it takes,
To help you correct your mistakes.
To get by the challenges you may face.

For our freedom many have fought,
Somedays will be good, others will not.
Always thank God for the life you got.

The world isn’t perfect as you will see,
Having you here made it better for me.
When you’re in need, by your side I’ll be.

For you are my daughter for eternity.

Source: https://www.familyfriendpoems.com/poem/for-you-are-my-daughter-for-eternity

 

Suka Duka Tahun Ajaran Sekolah 2017

Alhamdulillah, tahun ajaran 2017 sudah berakhir hari ini. Kakak Cinta tahun ini menyelesaikan Year 4 dan Keenan berhasil mengikuti pelajaran di KG 2. Insya Allah, pada bulan Januari 2018, Keenan akan duduk di bangku KG 3 dan kakak akan mulai mengikuti pelajaran di kelas 5.

Awal tahun ajaran di Brunei memang berbeda dengan di Indonesia yang mulai pada bulan Juli. Sedangkan seperti Malaysia dan Singapura, Brunei memulai tahun ajaran barunya di bulan Januari.

Tahun 2017 ini alhamdulillah banyak sekali pengalaman menarik yang dialami oleh Cinta dan Keenan di sekolah. Baik dari segi akademis maupun non akademis. Padahal, kami mengawali tahun ini dengan penuh kekhawatiran bagi Keenan dan penuh kepasrahan untuk Kakak.

Maklum, tahun 2016 kemarin, saya dan Keenan merasa tidak nyaman di sekolah yang lama, yang akhirnya membuat saya dan suami memutuskan untuk mengeluarkan Keenan dari sekolah itu dan memindahkannya ke sekolah yang sekarang. Ketika berdiskusi dengan kepala KG yang sekarang mengenai kondisinya Keenan, kami ragu bahwa Keenan akan mampu mengikuti pelajaran di KG2, bahkan sempat ada wacana supaya Keenan mengulang KG1. Tapi akhirnya Keenan diperkenankan untuk masuk KG2 dengan masa percobaan 1 term, lebih kurang 4 bulan, atau caturwulan kalau di Indonesia.

Masa percobaan itu kami lalui dengan penuh kecemasan. Pindah dari sekolah yang banyak mainnya ke sekolah yang lebih serius belajarnya dengan guru yang sangat disiplin dan tegas jadi ujian berat untuk Keenan. Sampai 2 minggu pertama sekolah, Keenan masih nggak mau saya tinggal. Namun, alhamdulillah sekolahnya yang baru ini punya kebijakan untuk membiarkan anak ditemani oleh orangtua atau pengasuhnya sampai mereka merasa nyaman. Jadi, pada 1 minggu pertama, hampir semua anak di kelas Keenan dan kelas bawahnya masih ditungguin orangtua atau pengasuhnya. Pada minggu kedua, Keenan mulai mau saya tunggui di luar kelas. Sampai pada minggu ketiga dia benar-benar mau ditinggal.

Sejak saat itu, banyak sekali kemajuan yang dicapai oleh Keenan. Mulai dari perkembangan kemampuan bahasanya, sosialisasinya sampai kemampuan akademisnya. Keenan yang tadinya sempat didiagnosa lambat bicara, sekarang alhamdulillah jadi cerewet sekali. Memang, jika dibandingkan dengan anak-anak yang tidak mengalami speech delay masih cukup tertinggal, tapi jika dibandingkan dengan tahun lalu, wah sudah jauh berbeda. Tingkat konsentrasinya perlahan-lahan mulai membaik, untuk hal-hal yang dia sukai, Keenan mulai betah untuk duduk diam dan mengerjakannya selama lebih dari 10 menit.

Latihan-latihan rutin yang diberikan oleh guru kelasnya, membuat Keenan dapat mengenal dan menghafal angka 1-50. Penjumlahan sampai 5 dan sekitar 20 kata dalam huruf Cina. Bagi saya itu merupakan prestasi tersendiri. Keenan juga nampak menikmati bergaul dan bermain bersama teman-teman kelasnya, hafal satu per satu nama temannya di kelas dan dapat mengikuti instruksi dari gurunya.

Satu hal yang membuat saya tenang adalah, sampai hari terakhir sekolah, meskipun seringkali dia bilang nggak mau berangkat sekolah, begitu sampai di kelas dan bertemu teman-temannya, langsung lupa dengan rewelnya dan dengan senang hati menyuruh saya pulang. Berbeda sekali dengan tahun lalu yang seringkali histeris saat tiba di depan sekolah lamanya. Sampai di bulan-bulan terakhir sekolah tahun lalu, Keenan benar-benar nggak mau turun dari mobil dan sembunyi di balik kursi pengemudi supaya saya nggak bisa memaksanya turun. Hiks.

Sedangkan bagi kakak Cinta, tahun 2017 adalah tahun yang penuh dengan pengalaman baru. Dan hal itu berawal dari kesukaannya berbagai aktivitasnya di Year 3. Mulai dari mengikuti ICAS (International Competitions and Assessments for Schools) sejak Year 3, tahun ini kakak Cinta berhasil meraih nilai High Distinction dan mendapat Gold Medal untuk mata pelajaran ICT dan Distinction untuk pelajaran Bahasa Inggris.

Keberaniannya mengikuti lomba menyanyi di Year 3 juga membuat kakak percaya diri mengikuti Co Curricular Activities Choir dan mengantarkannya tampil di acara 79th School Anniversary Performance dan dipercaya mendapatkan bagian menyanyi solo di lagu Greatest Love of All yang dipopulerkan oleh Whitney Houston.

Nggak cuma itu, kakak juga berhasil memperoleh juara ke-2 untuk lomba mewarnai yang diselenggarakan sekolah bekerjasama dengan jaringan resto fastfood Jollibee dalam rangka perayaan Children Day.

Prestasinya ini membuat kakak jadi lebih dikenal oleh para guru, sehingga ia dipilih sebagai salah satu wakil sekolah untuk mengikuti Perarakan Jubli Emas Sultan Brunei Bertahta. Meskipun ternyata kakak dan teman-temannya gagal bertemu langsung dengan Sultan, tapi pengalaman tersebut menjadi kenangan manis bagi Cinta.

Photo Credit: CCMS Primary Seria

Dari segi akademis tidak banyak perubahan tapi ada perbaikan di beberapa mata pelajaran yang berbahasa Melayu. Cinta mulai lebih lancar dan percaya diri berbicara dan menulis dalam Bahasa Melayu dan tulisan Jawi sehingga nilai pelajaran Ugama dan Melayu Islam Beraja (MIB)nya meningkat dari tahun lalu.

Dari segi sosialisasi, Cinta juga mulai membuka diri untuk berteman dengan lebih banyak orang. Dari yang tadinya hanya punya 1 teman baik dari kelas 1, sekarang teman segengnya sudah lebih dari 3 orang. Begitu juga dengan teman di sekolah Ugama dan les mengaji.

Namun, meski banyak hal baik yang dialami oleh Cinta dan Keenan di tahun ajaran 2017, banyak juga hal-hal yang membuat mereka (dan mamanya) patah hati.

Bagi kakak, hal yang terparah adalah ketika dibully oleh teman-teman sekelasnya di Sekolah Ugama. Memang sejak masuk sekolah Ugama 3 tahun yang lalu, kakak nggak punya teman dekat. Dia selalu merasa teman-temannya menganggap dia aneh dan nggak mau berteman dengan dia. Tapi selama ini dia berusaha untuk nggak peduli meskipun beberapa kali mengadu diganggu oleh temannya.

Rupanya tahun ini gangguannya semakin parah, beberapa teman perempuan mulai melakukan gangguan secara fisik dan verbal. Mulai dari menyebut kata-kata yang tidak pantas kepada Cinta, menarik kerudungnya sampai terakhir sebelum sekolah berakhir, hadiah ulang tahun yang dia siapkan untuk temannya dan dia simpan di tas hilang. Cukup sering saya mendapati dia menangis saat saya jemput sekolah Ugama. Namun selalu saya beri semangat dan menguatkan mentalnya. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk bicara dengan guru kelasnya.

Alhamdulillah, cikgu cepat tanggap dan berjanji menegur para pelakunya (and she did) bahkan meminta maaf karena dia nggak tahu bahwa selama ini Cinta diganggu oleh teman-teman sekelasnya. Sejak itu, menurut Cinta, teman-temannya nggak ada yang mengganggu dia. Tapi tetap saja, dia lebih nyaman bersama teman baiknya dari kelas sebelah atau bersama kakak-kakak kelas yang nggak dia kenal saat menunggu saya menjemputnya pulang sekolah.

Dari segi pelajaran, ada penurunan nilai yang cukup signifikan untuk pelajaran Matematika. Biang keladinya adalah kurang konsentrasi dan kurang latihan. Sehingga saat ulangan atau ujian, banyak kesalahan remeh yang dia lakukan. Untuk itu, saya berencana untuk menambah waktu belajarnya tahun depan dan mengaktifkan lagi belajar online menggunakan IXL.

Satu lagi yang benar-benar membuat kakak patah hati adalah tahun ini dia kehilangan tiga teman baiknya sesama orang Indonesia. Mereka baru dekat sekitar setahun belakangan, ketika Cinta bergabung di grup ngaji anak-anak Indonesia. Meski berbeda sekolah, keempat anak ini (dan adik-adik mereka) cepat sekali akrabnya. Setiap selesai mengaji, biasanya mereka akan bermain bersama barang 1-2 jam sebelum pulang. Salah seorang temannya, kembali lebih dulu ke Indonesia pada bulan Mei dan menyusul 2 orang lagi di bulan November ini. Habis sudah sahabat baiknya sesama  orang Indonesia di Brunei ini. Hiks.

Sedangkan bagi Keenan, hal yang kurang menyenangkan adalah ketika harus mengikuti kelas tambahan untuk pelajaran Bahasa Melayu dan Bahasa Inggris. Bersyukurnya kedua guru untuk mata pelajaran tersebut adalah guru-guru favoritnya sehingga dia cukup dapat beradaptasi dengan harus tinggal di sekolah lebih lama saat teman-teman lainnya boleh pulang. Namun, namanya juga anak-anak, ada saatnya dia capek dan akhirnya tantrum saat harus mengikuti kelas tambahan.

Karena harus ikut remedial ini juga, Keenan nggak bisa ikut grup tari untuk pentas 79th School Anniversary sebab waktu latihan bentrok dengan jadwal ekstra classes. Awalnya dia sedih, tapi waktu nonton teman-temannya rehearsal, Keenan ikut semangat dan senang untuk mereka. Sayang dia nggak bisa ikut nonton grup paduan suara kakak dan grup tari teman-temannya tampil di acara 79th School Anniversary Dinner karena sakit dan harus tinggal di rumah.

Yah, begitulah suka duka di tahun ajaran 2017 ini. Tentu masih banyak hal yang nggak saya tuliskan di sini. Tapi ini cukuplah sebagai catatan penting, kenang-kenangan dan bahan evaluasi untuk tahun ajaran berikutnya. Saya bersyukur sekali tahun ini berdampingan dengan guru-guru yang sangat komunikatif dan suportif membimbing anak-anak di sekolah. Semoga dengan berbagai prestasi di tahun ini, kakak Cinta dan Keenan semakin semangat untuk menghadapi tahun ajaran 2018.  

 

Makna Sebuah Pelukan

hug, pelukan, hangatnya pelukan ibu, makna pelukan

Dear Kakak Cinta,

Kakak pasti masih ingat ya kejadian hari Minggu yang lalu. Waktu itu mama marah besar karena ngeliat guntingan kertas dan beberapa peralatan seperti gunting, lem berserakan di lantai sementara kakak duduk asik di depan komputer nonton Youtube.

Duh, yang bikin mama kesal sebenarnya bukan cuma karena berantakannya. Tapi kecewa karena selama ini sudah berbusa mama ngasih tahu dan nggak kurang-kurang mama kasih contoh untuk selalu merapikan barang-barang yang sudah selesai kita gunakan ke dalam tempat semestinya. Kenapa sih harus begitu? Ya supaya nanti kalau kakak, adik, papa perlu memakainya lagi nyarinya gampang karena selalu ada di tempatnya setelah dipakai. Nggak dikit-dikit teriak, “Mom, do you know where my crayon is?” Gitu lho, Kak.

Kakak juga tahu kan setelah itu mama langsung bongkar-bongkar isi lemari untuk merapikannya lagi sambil ngomel-ngomel. Tapi, ada satu hal yang kakak nggak tahu. Di antara tumpukan kertas hasil pelajaran Art di sekolah, mama menemukan 2 buah kartu bikinan kakak. Satu kartu untuk Teacher Hew dalam rangka Teacher’s Day. Satu lagi kartu untuk mama.

Kartu itu kakak buat tahun lalu, bulan Mei tahun 2015 tepatnya, memperingati Mother’s Day. Hampir setahun yang lalu. 

mothers day, handmade card, kids activities

Membaca gambar dan tulisan di kartu itu bikin tenggorokan mama tercekat, Kak. Tiba-tiba, mata mama panas dan berair seperti mau menangis. Mama terharu sekaligus sedih.

Terharu karena kakak menulis ‘I love your hugs. I love your kisses.’ Hugs and kisses. Pelukan dan ciuman. Bukan masakan mama, bukan baju atau mainan yang mama berikan. Bukan. Hanya pelukan dan ciuman. Di antara sekian hal yang banyak terjadi di antara kita, ternyata yang paling berkesan untuk kakak adalah pelukan dan ciuman. 

Mama jadi sedih karena sadar akhir-akhir ini jarang sekali memeluk kakak yang benar-benar pelukan erat sayang. Bukan sekadar pelukan ringan melepas kakak berangkat sekolah. 

Nggak tahu ya, Kak, kenapa bisa seperti itu. Mungkin karena mama merasa kakak sekarang semakin besar sehingga lebih mandiri. Kakak juga sudah jarang minta dipeluk sama mama. Mama pun lebih sering memeluk Keenan yang masih pas dalam pangkuan dan pelukan mama. 

Padahal dulu kita sering sekali berpelukan ya, Kak. Inget nggak, waktu kakak masih sekolah KB di Bukit Dago? Tiap kakak keluar kelas dan lihat mama, kakak langsung lari untuk memeluk mama. Nggak peduli meskipun banyak orang di situ ya, Kak. Sampai-sampai mama yang lain pun jadi hafal kebiasaan kakak Cinta. 

Kita juga selalu berpelukan saat mau tidur. Bahkan kakak cuma bisa tidur kalau dipeluk mama. Kalau kakak sakit, jatuh dan luka atau sekadar ingin dibacakan buku cerita pasti minta dipeluk. Pelukan selalu jadi hal istimewa buat kita. Sampai tiba-tiba aja perlahan-lahan memudar.

Tadinya mama pikir itu wajar, Kak. Mungkin anak seusia kakak memang sudah nggak terlalu suka lagi bermanja-manja dipeluk, jadi ya mama nggak ambil pusing. Sampai mama membaca tulisan ibu eh eyang Elly Risman ini dan mama jafo merasa sangat bersalah.

-Peluk-

Sering sekali di tahun-tahun terakhir ini saya berhadapan dengan ibu-ibu muda yang setelah bertanya tentang berbagai hal dalam ruangan seminar, kemudian mengikuti saya ke ruang shalat atau makan dan masih mengajukan beberapa pertanyaan. Saat saya bersiap-siap mau meninggalkan gedung dimana seminar diselenggarakan, saya masih melihat ibu muda itu berdiri di satu sudut diarah jalan saya menuju kendaraan. Pelan dia menghampiri saya dan kemudian berbisik perlahan, “Ibu bolehkah saya meminta ibu memeluk saya?”

Sedih merayap dihati saya dan segera saya menjawab sambil membuka kedua belah lengan saya selebar lebarnya, sambil mengatakan, “Oh tentu.. Sini nak!” Biasanya mereka mendekap saya dengan erat dan umumnya mereka menangis. Sayapun menangis- Hiba benar hati tua saya.

Banyak sekali peristiwa yang sama walau berbeda kisah tentu saja. Tapi yang paling menarik adalah apa yang terjadi di sebuah kota di Jawa Barat. Saya belum pernah memberikan seminar di kota itu. Karenanya, panitia di tahap awal khawatir mereka tidak akan sanggup mencapai target jumlah peserta yang sudah mereka sepakati.

Ternyata di luar dugaan, peserta membludak sehingga harus menambah banyak kursi dibelakang bahkan disamping kiri dan kanan ruangan.

Setelah seminar selesai, saya sedang menuju ke ruang makan yang berada di bangunan yang lain, ibu ketua panitia yang ternyata sudah pernah bekerjasama dengan saya sekitar 18 tahun yang lalu datang menghampiri saya dengan seorang ibu separuh baya yang bertubuh gempal. Ibu Ketua panitia ini setengah berbisik berkata kepada saya, “Ibu saya sudah mengirim pesan pendek pada staf ibu mbak N, bahwa kalau sesudah seminar, ada seorang ibu yang datang dari jauh, ingin sekali dapat pelukan Ibu.” Saya terkejut dan membelalakkan mata saya sambil berkata, ”Hah?” Tidak percaya bahwa pelukan sekarang pre order!

Sejak itu saya sering sekali berfikir, “Ada apa ya? Mengapa semakin banyak saja, baik secara berani dihadapan banyak peserta seminar lainnya atau setengah sembunyi, menunggu orang mulai sepi, ibu-ibu muda ini membutuhkan pelukan saya ? Gejala apa ini sebenarnya?”

Suatu hari, saya dijemput dan diantar pulang oleh seorang mahasiswa S2 Jurusan PAUD dari sebuah Perguruan Tinggi Negeri di Jakarta. Selama dalam perjalanan, kami membicarakan banyak sekali hal. Saya jadi mengetahui bahwa dia yang memprakarsai agar panitia mengundang saya. Dari percakapan itu juga saya mengetahui bahwa dia pengantin baru yang menikah 10 hari yang lalu. Kesan yang saya tangkap dari percakapan kami: perempuan muda ini sangat cerdas, baik dan lapang hati, suka menolong!

Karena sudah hampir masuk waktu magrib, saya mengajaknya untuk singgah dan melaksanakan sholat Magrib dahulu disebuah mushalla kecil dipinggir jalan Jati Waringin. Biasa, setelah selesai sholat saya bersalaman dan tiba tiba dia mengenggam erat tangan saya dan tidak mau melepaskannya. Ditatapnya mata saya dan saya melihat air mata meliputi bola matanya yang indah. Dia berbisik perlahan, “Bu bolehkah saya minta dipeluk sama ibu?”

Saya memeluknya dan menggoyang goyangkan badannya seolah sedang mengayunnya dalam gendongan saya dan membisikkan kata kata yang biasanya dulu didendangkan ibu saya dan kemudian saya dendangkan saat mengayun ayun anak dan keenam cucu saya ketika mereka kecil, “Laa ila ha ilallah, al Malikul Haqqul mubin. Muhammad Rasul Allah, Asshadiqul wa’dul Amin…”

Setelah itu, sambil melepaskan pelukannya, dia menatap saya sendu, “Saya nyaris tidak pernah dipeluk oleh ibu saya, Bu. Beliau Kepala sekolah TK dan SD disebelah rumah kami. Dia sangat sibuk dengan anak-anak orang dan terburu-buru setiap hari. Beliau suka lupa memeluk saya, Bu. Terakhir, saya baru merasakan kembali pelukan beliau saat saya menikah!”

Saya memeluknya sekali lagi dengan hati penuh iba. Ooh, sayang…

Anda mungkin perlu bertanya pada diri sendiri, kapan terakhir kali anda memeluk erat anak anda?

Bila melihat kedalam diri sendiri, anda akan menggolongkan diri anda dulunya sebagai anak yang bagaimanakah? Yang cukup mendapatkan pelukan hangat dari kedua orang tua anda, sesekali atau yang sangat jarang bahkan tidak pernah mendapat pelukan mereka ?

hug quote, pelukan, orangtua anak, elly risman

Sekarang ini, karena hidup sangat tergesa-gesa, orangtua bicara dengan anak-anaknya sama tergesa-gesanya. Jarak terentang sehasta, sedepa atau mungkin tak bisa diukur dengan kilometer. Kata-kata yang kadang keras dengan intonasi yang tinggi tak sadar menekan jiwa. Rambut disisir, baju dibenarkan letaknya, dasi dipasang tapi… pelukan terlupakan. Merasa cukup dengan cium tangan dan lambaian serta kata-kata nasihat rutin setiap pagi .

Pengasuhan ini diturun-temurunkan tidak sengaja. Semua perilaku yang kita terima direkam otak menjadi kebiasaan. Bila situasi yang sama muncul, maka apa yang biasa kita terima itu yang kita lakukan. Yang tak pernah dipeluk, bagaimana bisa memeluk?

Seandainyalah Anda tahu bahwa pelukan itu menghangatkan dan mendamaikan jiwa, membangun perasaan positif, melengketkan hubungan orangtua anak yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, mungkin Anda segera memeluk anak anak Anda dan akan memberikannya sebanyak yang Anda bisa.

Peluklah anak Anda dengan cinta dan kasih sayang yang tulus. Jangan sampai dikemudian hari, mereka bukan saja tidak mampu memeluk anaknya sendiri, cucu Anda – tapi mereka jadi menderita “lapar pelukan”, dengan memelas mengharapkan dipeluk ibu lain…

Bayangkan kalau anak Anda itu sekarang remaja… Dalam keadaan yang seperti sekarang ini, pelukan siapakah gerangan yang menentramkan jiwanya ?

Dalam pesawat Malindo, menuju Jakarta

29 Maret 2016
Elly Risman

Mama jadi merasa bersalah, Kak. Ternyata seberapapun umurnya, seorang anak, terutama anak perempuan akan selalu membutuhkan pelukan ibunya. Wah, sudah berapa lama mama nggak memeluk kakak ya? Sudah berapa lama hati kakak rindu dipeluk? Maaf ya, Kak. 

Manfaat Pelukan Bagi Anak (3)

Kalau diingat-ingat, mama dan adik-adik pun tumbuh tanpa banyak pelukan dari ibunya mama. Kami nggak terbiasa dipeluk dan memeluk. Canggung sekali, Nak, rasanya. Saking nggak terbiasanya memeluk dan dipeluk, Granny pun sempat terkaget-kaget karena kakak suka sekali memeluk dan merebahkan diri di tangannya Granny waktu beliau menginap di rumah kita 3 tahun lalu. Makasih ya, Kak, sudah memelukkan Granny untuk mama, yang sampai sekarang pun sepertinya belum berani bermanja-manja ke beliau.

Baru setelah kakak lahir mama bertekad untuk memeluk dan mencium anak mama sesering mungkin. Kapan saja dan di mana saja. Hanya saja ternyata mama nggak mengantisipasi bahwa keadaan ini akan berubah. Dulu, waktu kita cuma berdua, semua perhatian, pelukan dan kasih sayang mama tercurah untuk kakak. Sekarang, harus dibagi 3. 

Sekarang kesibukan mama bertambah, kakak dan adik semakin besar, tuntutan mama ke kakak pun semakin tinggi tapi sayangnya kesabaran mama makin tipis. Kakak jadi sering kena marah untuk hal-hal yang seharusnya sepele. Ini mungkin yang bikin hati kita jadi berjarak ya, Kak?

Maaf ya, Kak.

Mama janji, nggak akan membiarkan kakak dan Keenan mengalami kekurangan pelukan seorang ibu. Insya Allah, mulai sekarang kita akan mulai lagi mengeratkan hati lewat pelukan dan ciuman, ya, Nak. Supaya kelak, kakak bisa banyak memberi pelukan kepada orang-orang yang kakak sayang. Biar kakak dan adek selalu merasa dicintai, meski hanya lewat pelukan dan ciuman. Karena hanya itu yang mama bisa berikan, selain doa.

 

Ketika Cinta (dan Mama) Belajar Kecewa

blogpost, belajar kecewa, anak belajar kecewa

Ketika anak terpilih untuk tampil dalam acara sekolah atau mewakili sekolah untuk mengikuti lomba, sebagai orangtua tentu kita bangga ya. Latihan demi latihan dan kerja keras yang harus dilakukan supaya anak tampil prima pada hari H baik sendiri atau berkelompok rasanya terbayar sudah ketika mereka berdiri di atas panggung dan mempersembahkan penampilan terbaiknya.

Tapi gimana ketika anak nggak terpilih atau nggak lulus audisi atau ditolak ketika mereka dengan sukarela dan bersemangat mengajukan dirinya? Sebagai orangtua, kita mesti gimana? Sedih, marah (-marah), ikut kecewa, menghibur, ngelabrak gurunya, nulis status peduh amarah di medsos, atau apa?

Itulah kebingungan saya setiap kali anak-anak mengalami hal yang tidak menyenangkan di sekolah. Seperti yang terjadi pada Cinta 3 tahun lalu.

Ceritanya, setiap akhir bulan Januari atau awal bulan Februari, kira-kira 1 minggu menjelang perayaan Tahun Baru Cina, sekolah Cinta selalu mengadakan acara Lion Dance Eye Opening Ceremony. Pada acara ini, selain ada lion dance yang di Indonesia lebih dikenal dengan nama Barongsai, juga ditampilkan persembahan tarian oleh murid-murid yang terpilih tiap angkatannya.

Waktu itu, Cinta baru masuk KG 3, dan dia ingin sekali ikut dalam performance, karena ketika di KG  2, hampir semua anak yang berminat selalu diberi kesempatan untuk tampil. Tapi ternyata, untuk acara ini kebijakannya berbeda. Saya sendiri nggak paham pemilihannya berdasarkan apa. Cuma berdasarkan logika saya, acara ini kan untuk merayakan Tahun Baru Cina dan sekolahnya adalah Chinese School, jadi mungkin yang diutamakan adalah anak-anak berdarah Cina. Itulah yang saya jadikan alasan ketika menghibur Cinta saat itu.

Tapi ternyata hal yang sama terulang lagi tahun lalu. Kali itu untuk perayaan ulang tahun sekolah. Dan menurut Cinta, gurunya meminta anak-anak berpartisipasi untuk tampil dalam acara tersebut. Cinta pun bersemangat mengajukan diri. Surat pemberitahuan bahwa anak akan mengikuti latihan pada waktu tertentu pun saya terima kemudian. Saya pikir semua berjalan lancar, sampai dua minggu setelah latihan pertama, saat kami mudik untuk menghadiri pemakaman mertua, Cinta ditanya papanya tentang latihan dancenya. Cinta pun hanya menjawab, “I’m fired. I can’t attend the dance practice anymore.” Jreng jreng.

Ketika saya tanya, menurut Cinta, dia nggak boleh lagi ikut dance practice karena saat latihan yang pertama dia nggak memakai baju olahraga. So she was dismissed.How do you feel?” tanya saya waktu itu. “I’m sad and angry,” jawabnya. Saya pun demikian.

Rasanya waktu itu saya sudah mau tulis status marah-marah bahwa anak saya diperlakukan nggak adil, bla bla bla. Tapi saya tahan. Saya harus ketemu dulu sama gurunya, pikir saya saat itu. Saya pun meminta ijin Cinta untuk menemui gurunya. Saya ingin tahu alasan sesungguhnya, karena nggak ada satupun pemberitahuan kepada kami bahwa anak ini, yang tadinya harus mengikuti latihan menari pada waktu tertentu, tiba-tiba diberhentikan. Untung lho, latihannya pas jam sekolah, kalau di luar itu kan, pengaruh juga sama urusan antar jemput ya.

Cinta akhirnya mengijinkan saya menemui gurunya. Sayangnya, nggak pernah ada waktu yang tepat untuk berbicara dengan beliau. Sampai akhirnya Cinta bilang, “It’s okay, Mom. I’m okay now. I’m not sad anymore. You don’t have to meet my teacher to tell her about my feeling.” Tapi kan Mama masih kesal, Kakaaaaaaak. Masih mau marah-marah ke gurunya. Cuma saya kan harus menghormati keputusan Cinta. Apalagi kemudian dia cerita sahabatnya dan teman-temannya yang lain juga banyak yang nggak tampil. I thought that was my clue to let that go. Anaknya sudah ikhlas, masa saya enggak bisa.

Apakah sejak itu Cinta kapok mengajukan diri untuk ikut performance di sekolah? Ternyata enggak. Tahun ini dia cerita kepingin ikut Lion Dance club. Duh, meskipun kagum sama determinasinya, saya mah inginnya nggak usah ajalah. Saya takut dia kecewa lagi kalau nggak terpilih. Malah kalau bisa saya inginnya dia nggak perlu merasakan kecewa atau sedih (kecuali karena nggak dibelikan mainan atau buku atau apalah oleh kami, itu nggak papa kecewa hehehe).

Tapi menurut penulis buku Raising Resilient Children, Robert Brooks, PhD, membiarkan anak belajar menghadapi kondisi yang membuatnya sedih dan kecewa itu bermanfaat ketika mereka beranjak dewasa. Justru kalau orangtua berusaha keras selalu melindungi anak dari rasa kecewa, sebenarnya secara tidak langsung telah menghambat keterampilan emosional anak.

anak belajar kecewa, how to help a child handle disappointment, psikologi, parenting, mengatasi kecewa pada anak, quote about disappointment

Hal senada juga diucapkan oleh Madeline Levine, PhD, penulis buku The Price of Privilege: How Parental Pressure and Material Advantage are Creating a Generation of Disconnected and Unhappy Kids. Menurut Madeline, saat anak mengalami kegagalan, bisa kita manfaatkan sebagai sarana mengembangkan karakteristik kunci yang dibutuhkan untuk menjadi pribadi yang sukses, seperti keterampilan coping, ketahanan emosional, berpikir kreatif dan kemampuan untuk berkolaborasi.

Parents see failure as a source of pain for their child instead of an opportunity for him to say, ‘I can deal with this. I’m strong,'” says Madeline Levine, Ph.D.

Nah, berarti yang perlu kita lakukan adalah membantu anak mengatasi emosinya (dan emosi kita sendiri tentunya) ketika mereka mengalami kegagalan. Dengan cara apa? Beberapa hal ini mungkin bisa membantu:

Beri Waktu Untuk Berduka

Beberapa anak, seperti Cinta, meskipun kelihatannya cuek, sebenarnya mereka sensitif dan lebih suka menyimpan sendiri perasaannya. Sehingga ketika dia merasa overload, kekecewaan kecil pun bisa membuatnya meledak. Tugas saya adalah harus peka melihat perubahan emosinya dan memberinya sedikit ruang untuk mengendalikan rasa sedih dan kecewanya. Kecuali untuk hal-hal yang sifatnya darurat seperti anak mengalami kecelakaan, pelecehan atau bullying, saya memilih menunggu sampai ia bisa mengendalikan perasaannya dan mau berbagi cerita.

Berhati-Hati Dalam Berbicara

Jangan seperti saya yang keliru memberikan alasan ketika Cinta nggak terpilih tampil dalam perayaan Tahun Baru Cina. Sebaiknya kita lebih bijaksana lagi dalam menghibur dan memilih kalimat yang membangun, bukan menyalahkan pihak lain. “Iya, Mama tahu kakak sekarang sedih karena nggak terpilih. Tapi sepertinya sekarang bukan waktu yang tepat. Tetap tekun berusaha, lain kali kita coba lagi, ya,” kedengarannya lebih baik ya?

mengatasi rasa kecewa pada anak, membantu anak mengatasi rasa kecewa, how to help a child handle disappointment, parenting, psikologi
tulisan dikutip dari parentsdotcom

Memberikan Pelukan

Nggak ada yang lebih menghangatkan hati selain pelukan erat dan usapan di punggung yang memberi isyarat bahwa kita memahami kekecewaannya dan ikut merasakan kesedihannya.

Mengajarkan Anak Untuk Menenangkan Dirinya Sendiri

Dengan cara:

  • Fisik seperti jogging, bersepeda, berenang, lompat tali atau apapun yang dapat mengeluarkan energi mereka asal nggak merugikan orang lain.
  • Bernafas dalam-dalam.
  • Berbicara dengan orang lain yang mereka percaya dan dapat mendengarkan dengan baik tanpa menghakimi atau berusaha memperbaiki segala hal seperti orangtua, guru atau nenek, tante, om.
  • Positive self-talk.
  • Mendengarkan musik.
  • Membaca buku.
  • Menggambar. Ini favorit Cinta, dalam keadaan emosi apapun biasanya dia melampiaskannya dengan menggambar karena bisa bikin dia fokus dan tenang.
  • Mandi air hangat.
  • Nonton film lucu.

Berikan Contoh Positif

Huhuhu ini nih paling susah. Saya aja kalau kecewa sering marah-marah. Tapi sepertinya memang harus diawali dari orangtua ya. Tahan diri dan tunjukkan perilaku positif. Yakinkan anak kalau kekecewaan ini akan berlalu dan keadaan akan jadi lebih baik. Bercerita tentang pengalaman kita mengatasi rasa kecewa juga mungkin bisa membantu. Sehingga anak yakin bahwa dia nggak sendirian melalui perasaan sedih dan kecewanya. Ingat, monkey see eh children see children do, Mama!

Weeew, banyak amat PR jadi orangtua, ah. Tapi kalau dipikir-pikir lagi kayanya memang lebih gampang mendampingi mereka melalui proses ini ya daripada melindungi mereka dari semua hal yang bisa menyebabkan kecewa dan sedih. Toh, belum tentu kita bisa selamanya menjadi pelindung anak-anak. Umur siapa yang tahu, kan? Lagian nggak adil juga kalau kita boleh membuat mereka kecewa tapi ketika pihak lain mengecewakan mereka trus kita jadi marah-marah, hihihi.

Buat Cinta, “Jangan menyerah ya, Nak. Mungkin sekarang kakak belum dipercaya untuk tampil di panggung sekolah. Tapi kalau terus berusaha kuat di bidang yang kakak sukai dan selalu berdoa, siapa tahu, Nak, Insya Allah, 5  atau 10 atau 15 tahun lagi kakak bisa tampil di panggung yang lebih besar dan megah. Aamiin.”

Yuk, Buat Snow Playdough Bersama Si Kecil

snow playdough, play dough, diy, children activities, essential oil, young living

“Snow playdough, hmmm apa sih itu? Jenis play dough yang seperti apalagi?” Begitu pikir saya saat membaca judul resepnya di salah satu web. Bikin play dough mungkin sudah biasa ya. Anak-anak juga sudah lumayan sering bikin play dough sendiri pakai berbagai resep yang beredar di internet, mulai dari yang cuma dicampur pakai air panas sampai yang dimasak. Buat cloud dough pun pernah juga. Jadi begitu lihat resep snow playdough ini, saya tertarik untuk mencoba. Apalagi resepnya gampang dan nggak pakai perwarna yang bisa bikin repot membersihkannya.

snow playdough, playdough, kids activities, essential oil, young living

Akhirnya hari Minggu kemarin, saya ajak Cinta untuk bikin adonan ini. Semangat banget dia, apalagi waktu tahu bahwa aktivitasnya mau divideokan, walaupun saya masih ragu untuk mengunggahnya ke youtube. Hehehe. Ternyata memang gampang banget membuat snow playdough ini. Sayangnya, resep yang saya dapatkan kurang jelas dan nggak ada fotonya. Jadi nggak tahu harusnya bentuk si snow playdough ini seperti apa, cuma dijelaskan seperti teksturnya salju. Nah, masalahnya satu-satunya salju yang pernah saya tahu adalah salju yang ada di Snow World BSD beberapa tahun lalu dan sepertinya kurang representatif untuk mengetahui tekstur salju sesuai petunjuk si resep.

Setelah mencoba resep aslinya dan menemukan bahwa hasilnya terlalu lengket sehingga nggak bisa dibentuk, saya dan Cinta pun memutuskan untuk menambahkan tepung jagung sampai teksturnya mirip playdough. Hanya saja versi ini lebih lentur dan lembut.

Oya, dalam resep asli menggunakan body lotion yang tanpa pewangi dan essential oil. Essential oil yang saya gunakan kali ini adalah Lemon dari Young Living yang berfungsi sebagai pewangi dan pembangkit mood sekaligus menenangkan anak-anak. Bisa juga menggunakan essential oil lain seperti peppermint, lavender atau apa saja yang ada di rumah. Tapi kalau nggak ada essential oil, juga bisa diskip kok. Atau diganti dengan body lotion yang harumnya disukai anak-anak.

snow playdough, playdough, kids activities, essential oil, playdough quote, quote about playdough, quotes

Setelah jadi, anak-anak senang banget mainnya, dari yang awalnya mau berbagi sampai rebutan adonan, dilanjutkan dengan tepung yang bertebaran di mana-mana dan berakhir dengan dibuangnya adonan yang mulai kering ke tempat sampah. Ih, kan sedih ya ngebuang body lotion. Tapi namapun udah nggak bisa dipakai main lagi ya buat apa juga disimpan. Yang penting sudah berani nyoba resep baru dan seseruan main bareng. Penasaran? Yuk, bikin juga. Dijamin gampang dan menyenangkan. Selamat mencoba!

snow playdough, diy playdough, playdough, kids activity, essential oil, young living

SNOW PLAY DOUGH

Bahan:

1 cangkir tepung jagung/tepung maizena
3/4 cangkir body lotion tanpa pewangi
3 tetes essential oil (optional)

Cara Membuat:

Campur semua bahan dalam mangkuk. Aduk rata sampai kalis dan bisa dibentuk.

Catatan:
Campur sedikit demi sedikit sampai mendapatkan tekstur yang diinginkan.