Panduan Menghadiri Resepsi Pernikahan Adat Melayu di Brunei

pernikahan adat melayu

Bagi foreigner seperti saya, menghadiri acara pernikahan di negara orang bisa membuat bingung. Meski sudah 8 tahun tinggal di Brunei, bisa dibilang jarang sekali kami mendapat undangan pernikahan. Seingat saya, sampai saat ini baru 5 kali diundang ke Majlis Pernikahan Adat Melayu di Brunei. Plus suami 1 kali menghadiri Chinese Wedding. Kenapa dibedakan begitu? Karena kelompok etnis di Brunei ini terdiri dari 3 besar suku, yaitu Melayu, China dan (Dayak) Iban dengan adatnya masing-masing.

Tidak seperti pesta pernikahan di Indonesia yang biasanya megah dengan aneka hiburan dan aneka makanan yang berlimpah, majlis pernikahan adat melayu atau yang biasa disebut Majlis Bersanding (Resepsi) relatif lebih sederhana. Namun, bukan berarti menjadi tidak istimewa.

Pernikahan Adat Melayu di Brunei terdiri dari banyak upacara, yang biasanya dilakukan selama 2 minggu. Secara tradisional, ritualnya adalah sebagai berikut:

  1. Mengagai atau Berjarum-jarum
  2. Menghantar Tanda Pertunang
  3. Menghantar Berian
  4. Berbedak Mandi
  5. Akad Nikah
  6. Malam Berbedak
  7. Malam Berinai/Berpacar atau Pengganggunan
  8. Majlis Bersanding
  9. Majlis Ambil-Ambilan
  10. Muleh Tiga Hari

(Sumber: Wikipedia dan Brideculture)

Namun, konon saat ini banyak pengantin modern dan keluarganya yang hanya melaksanakan beberapa upacara saja, bahkan ada yang cukup dengan Akad Nikah dan Majlis Bersanding.

Malay Wedding

Nah, akhir pekan kemarin, salah satu teman kami sesama orang Indonesia yang tinggal di Kuala Belait (KB), Brunei Darussalam menikahkan anak gadisnya dengan pemuda Brunei dan mengundang komunitas keluarga Indonesia di KB dan Seria untuk merayakan pernikahan mereka. Meski sebelumnya pernah menghadiri Brunei Malay Wedding, saya masih suka bingung tentang apa yang harus dilakukan di tempat pesta. Secara ini di negara orang gitu lho, kalau sampai salah bersikap kan bisa bikin malu ya.

Akhirnya saya dan seorang sahabat berkonsultasi dengan sahabat kami yang lebih senior dan lebih paham urusan tata cara menghadiri pesta pernikahan di Brunei, khususnya pernikahan cara Melayu. Dan inilah panduan yang kami peroleh.

Panduan Menghadiri Majlis Pernikahan Adat Melayu di Brunei

BUSANA

Di Brunei sini orang Melayu biasanya beragama Islam, jarang sekali menemukan Melayu non Muslim. Jadi saat menghadiri majlis seperti ini tamu biasanya diharapkan berpakaian sopan. Bagi orang Brunei Melayu, umumnya yang perempuan mengenakan Baju Kurung dan yang laki-laki mengenakan Baju Cara Melayu.

Baju Kurung dan Baju Cara Melayu Anak

Oya, budaya sarimbit alias mengenakan busana senada dengan pasangan atau keluarga juga ada di sini lho. Banyak sekali suami istri yang mengenakan baju kurung dan baju cara melayu senada sekaligus dengan anak-anaknya. Kadang ada yang senada warnanya aja dan ada yang benar-benar kembaran warna kain sampai motif sinjang. Bagus-bagus deh. Senang hati ini melihat parade baju kurung dan baju cara melayu.

Tapi ini nggak wajib ya. Kalau nggak punya baju kurung atau baju cara Melayu boleh pakai baju yang sopan, seperti batik, kaftan, gamis, dress, celana panjang kain, dll. Tidak harus tertutup dari atas kepala sampai kaki kok, minimal untuk perempuan ya pakai baju dengan panjang di bawah lutut dan jangan pakai baju tanpa lengan. Seperti yang kami kenakan ini misalnya. Ada yang pakai baju kurung (saya, sementara suami pakai batik, nggak matching sama sekali hahaha), ada yang pakai gamis (atau jubah disebutnya di Brunei), ada yang pakai tunik dan rok bermotif tenun Asmat, ada yang pakai celana juga. Sekali lagi yang penting sopan yaaa. Biar cuma datang ke acara pernikahan juga tetap aja kita membawa nama negara ya, kan.

Ibu Indonesia di Brunei Darussalam
Jangan remehkan emak-emak berdaster, karena kalau mereka dandan kelar lo semua!

Baca juga: Tips Hunting Kain Seragam Pernikahan di Jembatan Merah Plaza

WAKTU KEHADIRAN

Dalam undangan biasanya tertulis lengkap itinerary atau jadwal acara, mulai dari kedatangan tamu sampai pukul berapa acara di mulai. Untuk pernikahan Melayu yang umumnya diadakan siang hari, tamu diharapkan hadir mulai pukul 11.00 – 12.00. Setelah itu, baru rangkaian acara dimulai. Ketepatan waktu ini sangat penting karena acara setelah itu nggak bisa diprediksi apakah cepat atau lama. Bisa-bisa kalau telat, kita nggak bisa lihat prosesi bersandingnya pengantin atau malah kehabisan makanan. Jadi kalau diundang ke Majlis Bersanding datanglah tepat waktu ya.

MASUK KE AREA MAJLIS

Penting untuk kita tahu yang mengundang kita dari pihak pengantin laki-laki atau perempuan. Karena saat masuk tempat majlis, kita akan mendapat pertanyaan, “Jemputan (undangan) pengantin perempuan atau laki-laki?” dari penerima tamu.

Kenapa?

Karena tempat duduk tamu dari pihak pengantin perempuan ditempatkan di bagian yang berbeda dengan tamu dari pihak pengantin laki-laki.

Pernikahan Adat Melayu

Setelah itu, penerima tamu akan mengarahkan di bagian mana kita bisa duduk. Kalau pergi bareng suami atau kerabat atau teman laki-laki jangan harap bisa duduk bareng ya, karena tempat duduk perempuan dan laki-laki dipisah. Tapi tenang, di Brunei nggak pakai sekat pemisah kok, hanya dipisah kanan dan kiri atau laki-laki di bagian depan ruangan, sedangkan yang perempuan di bagian belakang. Jadi masih bisa ngintip-ngintip ke sisi sebelah kalau perlu.

Bahkan, kalau misalnya di sisi perempuan penuh namun masih ada yang baru datang, akan diarahkan ke meja kosong di sisi tamu laki-laki. Yang jelas laki-laki dan perempuan nggak boleh duduk barengan di satu meja, meski suami istri sekalipun.

Oya, ketika disambut oleh penerima tamu, ada yang meminta kita menulis daftar hadir dan ada yang tidak. Tapi yang jelas tidak perlu mencari kotak tempat memasukkan amplop berisi uang atau hadiah ya. Karena umumnya memang tidak disediakan. Jadi setelah mengisi daftar tamu dan menerima suvenir, langsung aja ikuti penerima tamu yang akan menunjukkan tempat duduk kita.

ACARA

Begitu mendapat tempat duduk, silakan bergaul dengan teman di sebelah kanan dan kiri. Agak canggung memang kalau kita nggak kenal siapa-siapa di acara tersebut. Makanya kadang kalau yang diundang suami aja istri jarang ikut dan sebaliknya. Cuma kalau suami saya sih tiap ada jemputan Majlis Bersanding selalu ngajak saya meski saya nggak kenal sama yang punya acara. Jadinya ya main hape deh daripada bengong atau duduk manis mengikuti prosesi acara.

Untungnya acara resepsi adat Melayu di Brunei ini cenderung singkat dan sederhana. Baik yang diadakan di gedung maupun di rumah. Yah, setidaknya begitulah yang pernah saya hadiri. Seperti yang ada di foto ini:

Pernikahan Adat Melayu

Jadi kalaupun bengong ya nggak lama-lama amat. Begitu selesai makan langsung deh nelpon suami ngajak pulang hahaha. Minusnya jadi nggak bisa datang terlambat. Karena kalau kita masuk saat acara dimulai otomatis banyak mata memandang kan ya. Jadi makin canggung deh hehehe.

Berziarah

Berziarah di sini tidak sama artinya dengan di Indonesia yang berarti mendatangi tempat pemakaman atau tempat keramat. Berziarah dalam bahasa Melayu berarti mengunjungi atau pergi ke suatu tempat atau pergi melawat. Dalam konteks acara majlis bersanding, prosesi berziarah adalah ketika pihak keluarga (dipimpin ibu/bapak mempelai) mendatangi tamu-tamu yang datang dan mengucapkan terima kasih atas kehadiran para tamu.

Inilah salah satu alasan kenapa tetamu dari pengantin laki-laki dipisah dengan tamu-tamu dari pengantin perempuan. Jadi, ibu dan kerabat perempuan dari pengantin perempuan akan mendatangi tamu-tamu perempuan yang mereka undang. Begitu pula dengan ayah dan kerabat laki-laki dari pengantin perempuan akan berziarah ke meja tetamu laki-laki. Hal ini juga dilakukan oleh ibu/bapak dan kerabat dari pengantin laki-laki kepada tetamu jemputannya.

Majlis Bersanding

Setelah kedua orang tua pengantin selesai berziarah, giliran wakil dari keluarga pengantin memberikan sepatah dua patah kata menyambut para tamu dan bercerita tentang pengantin berdua. Biasanya ini nggak terlalu lama, paling 10-15 menit lah. Setelah itu masuk ke prosesi Majlis Bersanding.

Prosesi ini bisa berbeda di masing-masing keluarga, tergantung apakah mereka menggunakan upacara adat (macam di Jawa yang pakai lempar telur, cuci kaki, suap-suapan nasi kuning, dll) atau tidak. Tapi di semua acara majlis bersanding yang saya amati nggak ada yang pakai upacara adat jadi belum pernah liat adat tradisional bersanding ala Melayu Brunei huhuhu.

Prosesi Majlis Bersanding yang saya hadiri selama ini adalah ketika pasangan pengantin memasuki tempat resepsi diiringi oleh orang tua dan kerabat lalu duduk di pelaminan. Biasanya yang duduk di pelaminan hanyalah pasangan pengantin, sementara orang tua akan duduk bersama keluarga di meja prasmanan.

MENIKMATI JAMUAN

Seusai pengantin berdua duduk di pelaminan, keluarga dan tetamu akan mendoakan pengantin dipandu seorang Ustadz atau pihak keluarga yang dituakan. Dan kemudian tamu akan dipersilakan menikmati jamuan yang sudah dihidangkan di meja masing-masing.

View this post on Instagram

Sanding | 04.08.19 | 1200pax | ICC Hall

A post shared by HYS Tindulang (@hystindulang) on

Rata-rata hidangan ini terdiri dari nasi putih, 2 sampai 3 macam lauk, sayur, buah dan kue-kue. Minumannya air mineral, minuman bersoda atau sirup. Semua ini disajikan secara prasmanan di meja tempat kita duduk. Kita bisa mengambilnya sendiri sesuai dengan kemampuan kita makan. Usahakan jangan ambil terlalu banyak ya, selain harus berbagi dengan tamu yang lain, sayang banget kan kalau sampai makanan yang kita ambil bersisa.  Mending ambil secukupnya saja lah, Kalau kurang baru nambah lagi. Toh mejanya juga nggak jauh dari tempat duduk kita.

Begitu selesai makan, pihak keluarga pengantin akan memberi tahu bahwa seluruh rangkaian acara sudah selesai. Para tetamu akan dipersilakan berfoto bersama mempelai atau boleh meninggalkan ruangan.

HADIAH

“Trus gimana kita ngasih angpawnya?”

“Harus angpaw atau boleh ngasih hadiah?”

Pertanyaan ini benar-benar mengganggu saya saat pertama kali datang ke jemputan pernikahan. Saking bingungnya karena nggak ada kotak angpaw, akhirnya saya nggak ngasih sama sekali hihihi. Untungnya, pesta pertama yang saya hadiri waktu itu adalah pernikahan teman kantornya suami, dan teman-teman sekantornya sudah patungan untuk membelikan si pengantin baru peralatan rumah tangga. Jadi saya nggak terlalu merasa bersalah.

Baru di jemputan ketiga saya tahu kalau amplop berisi uang itu diberikan kepada ibu/bapak mempelai ketika mereka berziarah ke tempat kita duduk. Cara ngasihnya ya model salam tempel gitu. Saat kita salaman dan cipika cipiki dengan ibu dan kerabat mempelai, saat itu juga kita selipkan amplop ke tangan beliau. Kalau kita datang dengan suami, boleh masing-masing ngasih (suami ngasih ke bapaknya mempelai), boleh juga cuma salah satu aja.

Malah ada teman yang bilang kalau ngasih angpaw di acara pernikahan adat Melayu ini nggak wajib. Mostly mereka memang mengadakan pesta sebagai bentuk rasa syukur atas pernikahan ini. Sehingga nggak terlalu mengharap dapat hadiah dari tamu, apalagi kalau yang ngadain pesta orang kaya.

Tapi sepantasnya menghadiri undangan pesta, ya sebaiknya kita memberi hadiah. Tidak harus berupa uang kok, hadiah berupa benda juga boleh. Cuma agak repot ya kalau misalnya kita bawa misalnya bungkusan berisi sprei gitu trus dikasih ke ibu mempelai saat beliau berziarah ke meja kita. Jadi kalau kita membawa hadiah berupa barang bisa langsung dititipkan ke penerima tamu saat kita masuk ke ruangan majlis.

Begitulah sedikit panduan menghadiri Jemputan Majlis Bersanding di Brunei. Kalau teman-teman ada yang lebih paham tentang acara ini dan menemukan hal-hal yang perlu ditambahkan atau mungkin tidak tepat dari artikel ini, silakan tinggalkan pesan di kolom komentar atau hubungi saya via email.

Oya, sharing yuk pengalaman menghadiri pesta pernikahan yang paling menarik.

Credit image: Image by Janislylove from Pixabay

 

Mempersiapkan Anak Pindah Tempat Tinggal Baru

Mempersiapkan Anak Pindah Ke Tempat Baru

Pindah tempat tinggal sebenarnya bukan hal yang baru bagi keluarga kami. Sejak menikah 13 tahun yang lalu, saya sudah pindah rumah sebanyak 6 kali. Pertama adalah dari Sidoarjo ke Jakarta. Lalu pindah lagi ke Sidoarjo. Setelah itu ke Parung. Dari Parung kembali lagi ke Sidoarjo beberapa bulan sebelum pindah ke Brunei. Di Brunei sendiri kami pindah rumah sebanyak 2 kali.

Tapi pindahan kali ini terasa lebih spesial, karena kali ini kami akan kembali ke Indonesia setelah 8 tahun tinggal di Brunei.

Krisis minyak dunia yang melanda industri migas sejak beberapa tahun ini memang menyebabkan beberapa perusahaan yang bergerak di bidang ini terpaksa mengurangi pegawainya agar dapat bertahan. Setelah belasan teman harus kembali ke Indonesia atau pindah ke negara lain akibat krisis ini mulai 4 tahun lalu, tahun ini keluarga kami mendapat gilirannya.

Tentu ini bukan hal yang mudah ya. Brunei, khususnya Seria dan Kuala Belait sudah menjadi rumah kami selama 8 tahun ini. Meninggalkan teman-teman rasa saudara dan kenyamanan easy life di sini juga nggak akan mudah rasanya.

Meski keluarga ada di sana tapi kehangatan persaudaraan sesama orang Indonesia di Brunei yang saya rasakan jauh lebih hangat daripada hubungan antar tetangga di Parung dulu. Mungkin karena merasa senasib ya, jauh dari kampung halaman dan keluarga membuat kami menjadi dekat dan saling bergantung. Bagaimanapun juga, kalau ada apa-apa ya sahabat-sahabat saya inilah yang bisa diandalkan, bukan keluarga yang jauh di Indonesia.

Indonesia di Brunei
Ready for our next adventure. Latar belakang: Billionth Barrel Monument, Seria, Brunei Darussalam

Kalau untuk saya yang sudah dewasa saja pindah tempat tinggal itu berat, apalagi untuk anak-anak. Keenan lahir dan besar di Brunei, sedangkan Cinta menghabiskan lebih dari separuh usianya di negara ini. Pasti berat bagi mereka untuk meninggalkan rumah, sekolah, teman-teman dan segala rutinitas di Brunei untuk tinggal di Indonesia. Meski itu adalah kampung halaman kami, tapi adalah tempat baru bagi anak-anak.

Breaking the News

Karena itulah, kami berusaha berhati-hati sekali saat memberi tahu anak-anak bahwa kami harus pindah ke Indonesia untuk selamanya. Awalnya kami berencana untuk menunda pemberitahuan itu sambil menunggu suasana yang lebih baik karena Cinta si sulung akan menjalani PSR (Penilaian Sekolah Rendah). Kami tidak ingin konsentrasinya terganggu karena hal ini.

Tapi, emosi akhirnya membuat saya mengumumkan kepindahan kami dalam waktu dan cara yang tidak tepat. Akibatnya tentu fatal. Cinta terpukul sekali dan berita ini membuatnya menangis semalaman. Sedangkan Keenan berkali-kali bilang, “I don’t want to go back to Indonesia. I like Brunei. I don’t like Indonesia.” Hiks.

Malam itu kami lalui dengan suasana yang tidak menyenangkan. Kepala saya penuh dengan berbagai hal dan anak-anak tidur dengan hati yang sedih. Bahkan Cinta tidak mau keluar kamar, tidak mengizinkan kami masuk atau menghiburnya dan tertidur setelah lelah menangis.

Beberapa hari setelah insiden itu, baru kami mengajak anak-anak berbicara dari hati ke hati. Suami saya yang memimpin percakapan malam itu dengan memberikan alasan kenapa kami harus pindah, apa rencana kami ke depannya, dan bagaimana kami akan melalui masa ini bersama-sama. Anak-anak sudah tidak menangis lagi meski mereka masih nampak sedih, malah kami yang berusaha menahan air mata melihat kesedihan di wajah mereka.

moving away quote

Sungguh, bagian break the news ini merupakan salah satu hal terberat. Mungkin teman-teman pembaca Pojok Mungil yang sering mengalami mutasi pekerjaan dari satu kota ke kota tahu perasaan ini.

Setelah anak-anak diberi tahu, kami mulai mempersiapkan semua hal yang diperlukan untuk memperlancar kepindahan ini. Tapi ternyata memang tidak semudah itu bagi anak-anak untuk menerima kenyataan bahwa waktu kami untuk tinggal di Brunei tinggal sebentar lagi. Sesekali Cinta masih menangis sebelum tidur. Nggak jarang juga Keenan bilang nggak mau pindah ke Indonesia. Ya nggak apa-apa, ini adalah fase yang harus kami hadapi.

Kalau ada yang bilang anak itu mudah beradaptasi dan menyepelekan proses pindah tempat tinggal. Wah, mereka salah besar. Pindah dari tempat yang mereka kenal baik ke tempat baru yang benar-benar asing bagi anak itu cukup menakutkan. Tapi jangan khawatir, ada kok yang bisa kita lakukan untuk membantu anak beradaptasi dengan proses pindahan ini.

Mempersiapkan Anak Untuk Pindah Tempat Tinggal ke Kota atau Negara Baru

Sebagai perantau, saya mengamati kondisi anak-anak teman saya yang pindah ke Brunei atau pindah dari Brunei. Sebagian besar memiliki kesamaan, menolak untuk pindah dari tempat asal ke tempat yang baru. Memang sih, pindah tempat tinggal itu menakutkan. Mereka harus meninggalkan comfort zone mereka ke lingkungan yang benar-benar asing.

“Gimana kalau nanti teman-temanku melupakan aku?”

“Gimana kalau aku nggak bisa dapat teman baru yang sama baiknya dengan teman-teman di sini.”

“Gimana kalau rumah baru nanti nggak senyaman di sini?”

Ini hanyalah sedikit dari sekian banyak kekhawatiran anak saat harus meninggalkan rumahnya menuju tempat baru.

Mempersiapkan Anak Pindah Ke Tempat Baru

Tapi, jangan cemas. Ada kok yang bisa kita lakukan untuk membantu mempersiapkan mental mereka pindah tempat tinggal.

1. Beri Tahu Jauh-Jauh Hari

Jangan beri tahu hanya dalam hitungan hari sebelum kita pindah. Begitu kita tahu bahwa kita harus meninggalkan tempat kita tinggal saat ini, sebaiknya langsung cari waktu dan suasana yang baik untuk memberi tahu anak-anak. Dengan demikian mereka punya waktu untuk memproses kabar tersebut.

Cinta sebenarnya sudah tahu bahwa kami tidak akan selamanya tinggal di Brunei. Dia melihat sendiri teman-temannya satu per satu pergi dari Brunei untuk kembali ke Indonesia atau pindah ke negara lain. Dia dan Keenan juga mengerti bahwa kami tinggal di Brunei hanya karena ayah mereka bekerja di sini, sehingga saat pekerjaan beliau selesai ya kami harus kembali ke Indonesia.

Tapi, ketika diberi tahu bahwa kami akan segera pergi dari Brunei, Cinta dan Keenan tetap kaget, marah dan menolak. It’s oke. Itu wajar. Dengan mereka tahu kabar ini 1,5 bulan sebelum kami benar-benar pindah, anak-anak jadi bisa mempersiapkan diri dan mental mereka lebih baik.

2. Validasi Perasaannya

Wajar sekali kalau anak merasa sedih, khawatir, marah dan kecewa saat harus pindah tempat tinggal baru. Jangan anggap remeh perasaan tersebut dengan berkata, “Nanti juga di sana dapat teman baru, nggak usah sedih.”

It’s a big NO. Sebaiknya kita katakan, “Mama ngerti kok, kamu pasti sedih nggak bisa ketemu lagi sama temen-temen kamu di sini. Kamu takut ya mereka akan ngelupain kamu?”

Untuk beberapa anak ini adalah hal yang besar dan bisa membuat mereka tidak nyaman dan stres. Dengan kita memahami perasaan mereka, anak bisa lebih nyaman.

3. Kenalkan Pada Lingkungan Baru

Salah seorang teman yang baru pindah dari Brunei ke Jakarta tahun lalu, membawa anak-anaknya untuk melihat rumah baru mereka beberapa bulan sebelum mereka pindah. Ia juga mengajak mereka survey  sekolah dan memperlihatkan hal-hal menarik yang ada di sekolah baru. Teman saya itu sering berpromosi tentang apa saja yang bisa mereka lakukan di sana. Sehingga anak-anak merasa excited dan nggak sabar untuk pindah.

Saya berusaha mengikuti yang dilakukan teman saya itu, kecuali bagian sekolah. Memang belum terlalu nampak hasilnya tapi setidaknya anak-anak punya gambaran akan apa saja yang bisa mereka lakukan di tempat baru nanti.

Kalau tidak memungkinkan membawa anak ke calon rumah barunya nanti, kita bisa lho browsing di internet tentang lingkungan baru kita nanti. Apakah di sana ada klub futsal yang bisa diikuti anak, atau di manakah kedai es krim favorit yang bisa dicoba di sana, dan masih banyak lagi.

pindah tempat tinggal

4. Keeping in Touch with Old Friends

Meninggalkan sahabat-sahabat yang sudah dikenalnya sejak kecil pastinya berat bagi anak. Tapi di zaman sekarang, bisa diatasi dengan teknologi. Memang, anak nggak bisa lagi hang out atau playdate dengan teman-temannya. Namun mereka tetap bisa ngobrol lewat whatsapp dan mengikuti perkembangan satu sama lain melalui sosial media.

Jadi, ajak anak untuk mengumpulkan alamat, no telepon dan akun media sosial teman-temannya jika ada. Dan beri mereka kesempatan untuk saling berkomunikasi, agar anak tidak terlalu merasa kehilangan.

5. Bawa Benda Favoritnya

Ajak anak untuk memilah barang-barang mana yang mau mereka bawa ke rumah baru dan mana yang bisa disumbangkan atau dijual sebelum pindah. Bila mereka memaksa untuk membawa semua mainan atau bukunya, beri batasan berapa banyak yang dapat mereka bawa.

6. Beri Waktu Beristirahat Sebelum Memulai Sekolah Baru

Menurut Psikolog Anak dan Keluarga, Anna Surti Nina, seperti yang dikutip dari lifestyle.bisnis.com, sebaiknya anak diberi kesempatan untuk beristirahat sebentar setelah pindahan. Setelah anak merasa nyaman, baru deh kita bawa mereka mengenal lingkungan dan sekolah baru.

Supaya anak tidak merasa tertekan saat mulai sekolah baru, Anna memberikan trik untuk menghindari hari pertama sekolah di awal pekan.

“Jarak dari awal pekan ke akhir pekan itu agak jauh. Kalau misalnya hari pertama masuk pada Kamis atau Jumat, besoknya kan ada libur. Nah, saat libur itu, dia masih ada waktu buat ‘ambil nafas’ dulu agar nyaman,” terangnya.

7. Pertahankan Rutinitas dalam Keseharian Anak

Perubahan lingkungan bisa membuat anak stres dan tidak nyaman. Untuk mengatasinya sebisa mungkin kita tetap mempertahankan aktivitas yang biasa kita lakukan saat di rumah lama, seperti sarapan bersama atau membaca dongeng sebelum tidur.

8. Beri Perhatian Ekstra

Pindahan itu benar-benar melelahkan dan bikin stres. Seringkali membuat kita mengabaikan anak karena sibuk mengurus berbagai hal seperti dokumen sekolah, ekspedisi barang, packing, dll. Begitu sampai di tempat baru kita akan lebih sibuk lagi cari sekolah baru, membersihkan dan menata rumah baru, unpacking, dll. Padahal di saat seperti inilah anak memerlukan perhatian kita.

Sering-sering lah ajak anak ngobrol. Tanyakan kepada mereka apa kira-kira yang bisa kita lakukan untuk membuat mereka nyaman di tempat baru. Dengarkan perkataan mereka dan beri nasihat hanya jika dibutuhkan.

Bila anak masih merasa tidak nyaman dan stres, boleh juga dicoba berkonsultasi dengan psikolog anak. Jangan malu untuk minta bantuan profesional saat dibutuhkan, ya. Namanya juga ikhtiar demi anak. Kalau anak bahagia berada di tempat baru, tentu kita juga lebih tenang beraktivitas.

Mohon doanya untuk kami ya. Semoga kami dan teman-teman yang sedang atau akan pindah ke tempat baru diberi kelancaran dan kemudahan. Mungkin ada saran supaya anak cepat beradaptasi di tempat baru? Boleh share di komen ya.

 

 

 

Naik Bus Laluan Belait, Pengalaman Baru Untuk C&K

bus laluan belait, pojokmungil, brunei darussalam

Naik bus selama tinggal di Brunei bukanlah hal yang baru bagi saya dan anak-anak. Kami pernah naik bus ke Bandar dalam rangka field trip saat kakak Cinta lulus TK. Pernah juga naik bus ke daerah Jerudong untuk mengikuti pesantren kilat saat liburan sekolah. Dan terakhir naik bus untuk field trip ke pabrik air mineral Sehat di daerah Lumut. Tapi, saat itu bus yang kami naiki adalah bus sewaan yang full AC, bersih dan tempat duduknya cukup bagus. Teman seperjalanan kami pun orang-orang yang kami kenal baik dari sekolah maupun dari komunitas Ibu-ibu Indonesia di KB Seria. Sementara itu, kami belum pernah mencoba naik kendaraan umum selama tinggal di Brunei ini.

Karena itulah, saat hari Minggu kemarin kakak Cinta tiba-tiba bilang ingin naik kendaraan umum ke Kuala Belait dari Seria, saya agak ragu. Tapi keraguan saya ditepis oleh dua bocah yang semangat banget pengen mencoba naik bus laluan Belait. Akhirnya saya turuti kemauan mereka dengan catatan nggak boleh rewel dan nggak boleh mengeluh selama dalam perjalanan.

bus laluan belait, pojokmungil, brunei darussalam
Duduk manis menunggu bus laluan Belait di depan loket tiket

Awalnya, kami nggak ada rencana untuk naik bus laluan Belait ini. Tujuan kami ke Seria di hari Minggu pagi kemarin adalah untuk sarapan roti telur di kedai CAM lalu main di Playground Seria. Sayangnya karena hujan deras di hari Sabtu malam, saat kami tiba di playground, sebagian besar alat permainannya masih basah sehingga mereka nggak bisa main. Kami pun berjalan kaki menuju ke terminal bus untuk ngasih makan burung. Eh, kok burungnya lagi pada nggak ada. Yah, penonton pun mulai kecewa.

Baca: Jumat Pagi di Sudut Seria Bersama Keenan

Naik Bus Ke Kuala Belait

Waktu mau kembali ke mobil itulah, kakak Cinta tiba-tiba mengutarakan keinginannya untuk naik bus laluan Belait. Ide ini didukung penuh oleh Keenan yang belum pengen pulang ke rumah :)) Melihat kegigihan mereka saya pun ngalah. Saya menuju loket untuk mencari informasi bus mana yang harus kami tumpangi. Dan setelah ibu penjaga loket menunjuk ke sebuah bus kecil berwarna ungu, kami pun duduk di terminal bus untuk menunggu bus laluan Belait yang sedang menanti waktu keberangkatannya.

Nggak lama, supir bus membunyikan klaksonnya sebagai penanda bus laluan Belait akan segera berangkat. Saya pun mengajak anak-anak untuk memasuki bus. Karena penumpangnya nggak banyak , kami memilih tempat nomor 2 dari belakang supir. Anak-anak duduk berdua dan saya duduk di kursi single di seberangnya. Untuk perjalanan berangkat ini saya bayar B$2 untuk 2 orang dewasa.

bus laluan belait, pojokmungil, brunei darussalam

Kalau biasanya bus yang kami naiki memiliki seat belt dengan jendela dan pintu yang tertutup, maka bus laluan Belait ini berbeda. Seperti Kopaja atau Metromini yang sering saya naiki di tahun 2007, bus laluan Belait ini tidak berAC sehingga pintu dan jendelanya terbuka. Tentu ini pengalaman baru untuk anak-anak yang senang sekali bisa merasakan angin dari luar menerpa wajah dan rambut mereka.

Rute:

Perjalanan dari terminal bus Seria di Jalan Bunga Pinang ke terminal bus Kuala Belait di Jalan MacKeron, memakan waktu sekitar 30 menit. Lebih lama 10 menit dari naik mobil pribadi tanpa ngebut. Rute yang dilalui dari Seria adalah: Jalan Bunga Pinang – Panaga G area (Jalan Tengah) – Jalan Tengah – Panaga F area (Jalan Utara) – Jalan Tengah – Jalan Singa Menteri – Pandan 8 – Jalan Maualan – Jalan Setia Pahlawan – Pandan 1 – Roundabout Tapak Perindustrian – Jalan Tengah – Jalan Sungai – Jalan MacKeron.

bus laluan belait, pojokmungil, brunei darussalam
Di dalam bus laluan Belait

Selama perjalanan hanya ada beberapa penumpang selain kami yang turun di jalan Maulana. Supir dan penumpang cukup tertib karena naik dan turun di halte bus yang sudah ditentukan. Anak-anak pun duduk tenang di kursi dengan aktivitasnya masing-masing.

Kembali Ke Seria

Rencananya, begitu sampai Kuala Belait kami akan langsung naik bus laluan Belait lagi untuk kembali ke Seria. Tapi anak-anak rupanya punya rencana lain. Karena sadar bahwa terminal bus cukup dekat dengan Jalan Pretty, pusat pertokoan di Kuala Belait, mereka meminta untuk jalan-jalan sebentar.

Setelah menghabiskan beberapa saat di toko mainan, kami pun kembali ke terminal bus dan mendapati supir dan bus yang sama akan membawa kami kembali ke Seria. Untuk perjalanan pulang, saya meminta Cinta yang membeli tiket di supir. Dan kali ini saya cukup membayar B$1 untuk tiket dewasa dan 50 sen untuk tiket anak. Keenan sepertinya digratiskan, padahal dia duduk sendiri. Entahlah.

bus laluan belait, pojokmungil, brunei darussalam
Terminal Bus Kuala Belait

Penumpang bus laluan Belait ke arah Seria cukup ramai di hari Minggu siang itu. Waktu kami naik sudah tinggal 4 baris kursi dari belakang yang kosong. Saya dan Keenan pun duduk berdua, sedangkan kakak duduk sendiri di depan kami.

Nggak seperti perjalanan berangkat yang cukup santai, perjalanan pulang ini supirnya agak ngebut. Sampai Keenan merasa pusing. Penumpang pun naik dan turun di pinggir jalan sesuka mereka. Udah sama seperti angkutan umum di Indonesia yak.

Alhamdulillah sampai di terminal bus Seria dengan selamat. Anak-anak hepi, bahkan berencana untuk naik bus ke Bandar, yang langsung saya jawab, “Nanti sama papa ya.” Hahaha. Soalnya saya malas kalau harus naik bus ke Bandar. Lama banget. Kata kakak ipar yang sudah pernah nyoba waktu berkunjung ke sini, perjalanan Seria – Bandar bisa memakan waktu 2 jam-an dengan bus tanpa AC. Beeuuh…

bus laluan belait, pojokmungil, brunei darussalam

Tapi, ini aja saya rasa sudah cukup menyenangkan untuk anak-anak. Perjalanan jarak pendek dengan waktu yang nggak terlalu lama dan rute yang sudah saya kenal bikin saya santai bawa anak-anak ke KB dan kembali ke Seria dengan bus laluan Belait. Karena saya santai, anak-anak pun jadi ikut tenang. Lumayan untuk pengalaman pertama naik bus umum di negeri orang.

Teman-teman ada yang pernah bawa anak-anak naik bus atau angkutan umum jarak jauh? Boleh dong share pengalamannya di sini. Siapa tahu bisa membantu saya saat akhirnya harus bawa mereka naik bus dengan rute yang lebih jauh.

Keenan’s Field Trip To BSP Fire Station

Pemadam Kebakaran, Field Trip, BSP Fire Station, Panaga Brunei

Tanggal 22 November 2017 yang lalu, Keenan dan teman-temannya dari KG 2 CCMS diajak jalan-jalan atau istilah bulenya Field Trip ke Brunei Shell Petroleum Co Sdn Bhd (BSP) Fire Brigade. Murid-murid dari 4 kelas KG dibagi 2 sesi, jam 8 dan jam 10. Kebetulan Keenan dapat yang sesi siang. Acara ini dilakukan setelah ujian akhir tahun 2017, sebagai reward atas kerja keras anak-anak belajar dalam satu tahun tersebut.

Pada hari H, saya, Keenan dan kakak Cinta mendatangi BSP Fire Station yang terletak di Jalan Tengah, Panaga. Sempat bingung di mana bisa parkir mobil, karena lokasinya yang persis terletak di jalan besar dan nggak nampak ada mobil parkir di pelataran depannya. Setelah mengikuti mobil lain, baru tahu kalau ada gedung-gedung kecil dan tempat parkir di belakang bomba (sebutan fire station dalam bahasa Melayu). Keenan pun antusias sekali kepingin segera masuk ke dalam area bomba dan bergabung dengan teman-temannya yang sudah lebih dahulu datang.

pemadam kebakaran, bsp fire station, panaga brunei, field trip
Duduk manis mendengarkan safety briefing dari officer BSP Fire and Emergency Response

Sesampainya di dalam, anak-anak masih harus menunggu beberapa saat sebelum sesi siang dimulai. Kakak Cinta yang sudah pernah mengikuti acara serupa di stasiun pemadam kebakaran Seria pun mulai merasa bosan karena nggak ada temannya. Untuk mengusir kebosanannya, kakak pun ikut duduk di samping Keenan dan teman-temannya serta mengikuti berbagai aktivitas yang diberikan oleh para petugas dan officer BSP Fire Station.

Aktivitas dimulai dengan membagi murid-murid sesi siang ini ke dalam dua kelompok. Kelompoknya Keenan diajak untuk melihat aneka peralatan yang dipakai oleh para pemadam kebakaran, mulai dari baju sampai aneka selang. Anak-anak juga diberi kesempatan untuk mengenakan seragam pemadam kebakaran. Lucu deh, ada yang semangat seperti Keenan, ada yang mau coba lebih dari sekali, ada juga yang nggak mau.

pemadam kebakaran, bsp fire station, field trip
Aneka perlengkapan yang digunakan oleh pemadam kebakaran

Setelah itu, anak-anak diajak melihat truk pemadam kebakaran dan ambulance. Ternyata banyak sekali panel dan perlengkapan di fire truck ya. Saking banyaknya sampai saya nggak bisa mengikuti satu persatu penjelasan petugas tentang fungsi panel-panel tersebut. Fix lah jadi pemadam kebakaran itu selain perlu fisik yang kuat juga perlu keahlian khusus.

fire truck, bsp fire station, panaga brunei, field trip, pemadam kebakaran
Bagian dari BSP Fire Truck

Anak-anak juga diajak duduk di dalam ambulance sambil melihat isi di dalamnya. Jadi ingat pengalaman naik ambulance waktu lagi hamil besar Keenan bareng kakak Cinta hihihi. Setelah itu, kedua kelompok anak, guru dan orangtua dikumpulkan di pelataran belakang untuk melihat demonstrasi truk pemadam kebakaran mengeluarkan air dari selangnya.

BSP Fire Truck, mobil pemadam kebakaran, pemadam kebakaran, fire station, Panaga Brunei, field trip
Demo truk pemadam kebakaran

Acara berakhir pada pukul 11 dengan pembagian snack dan minum sambil mendengarkan sedikit cerita dari officer BSP Fire Station. Terima kasih CCMS dan BSP Fire Station. We had fun. Dan terima kasih untuk Borneo Bulletin yang sudah meliput acara kunjungan ke BSP Fire Station, kami jadi punya kenang-kenangan nih. Yaiy.

field trip, ide studi wisata, studi wisata anak TK, Panaga Fire Station, Seria, brunei
Studi wisata ke Panaga Fire Station diliput oleh Borneo Bulletin

Keseruan Field Trip ke Panaga Fire Station dalam video:

Suka Duka Tahun Ajaran Sekolah 2017

Alhamdulillah, tahun ajaran 2017 sudah berakhir hari ini. Kakak Cinta tahun ini menyelesaikan Year 4 dan Keenan berhasil mengikuti pelajaran di KG 2. Insya Allah, pada bulan Januari 2018, Keenan akan duduk di bangku KG 3 dan kakak akan mulai mengikuti pelajaran di kelas 5.

Awal tahun ajaran di Brunei memang berbeda dengan di Indonesia yang mulai pada bulan Juli. Sedangkan seperti Malaysia dan Singapura, Brunei memulai tahun ajaran barunya di bulan Januari.

Tahun 2017 ini alhamdulillah banyak sekali pengalaman menarik yang dialami oleh Cinta dan Keenan di sekolah. Baik dari segi akademis maupun non akademis. Padahal, kami mengawali tahun ini dengan penuh kekhawatiran bagi Keenan dan penuh kepasrahan untuk Kakak.

Maklum, tahun 2016 kemarin, saya dan Keenan merasa tidak nyaman di sekolah yang lama, yang akhirnya membuat saya dan suami memutuskan untuk mengeluarkan Keenan dari sekolah itu dan memindahkannya ke sekolah yang sekarang. Ketika berdiskusi dengan kepala KG yang sekarang mengenai kondisinya Keenan, kami ragu bahwa Keenan akan mampu mengikuti pelajaran di KG2, bahkan sempat ada wacana supaya Keenan mengulang KG1. Tapi akhirnya Keenan diperkenankan untuk masuk KG2 dengan masa percobaan 1 term, lebih kurang 4 bulan, atau caturwulan kalau di Indonesia.

Masa percobaan itu kami lalui dengan penuh kecemasan. Pindah dari sekolah yang banyak mainnya ke sekolah yang lebih serius belajarnya dengan guru yang sangat disiplin dan tegas jadi ujian berat untuk Keenan. Sampai 2 minggu pertama sekolah, Keenan masih nggak mau saya tinggal. Namun, alhamdulillah sekolahnya yang baru ini punya kebijakan untuk membiarkan anak ditemani oleh orangtua atau pengasuhnya sampai mereka merasa nyaman. Jadi, pada 1 minggu pertama, hampir semua anak di kelas Keenan dan kelas bawahnya masih ditungguin orangtua atau pengasuhnya. Pada minggu kedua, Keenan mulai mau saya tunggui di luar kelas. Sampai pada minggu ketiga dia benar-benar mau ditinggal.

Sejak saat itu, banyak sekali kemajuan yang dicapai oleh Keenan. Mulai dari perkembangan kemampuan bahasanya, sosialisasinya sampai kemampuan akademisnya. Keenan yang tadinya sempat didiagnosa lambat bicara, sekarang alhamdulillah jadi cerewet sekali. Memang, jika dibandingkan dengan anak-anak yang tidak mengalami speech delay masih cukup tertinggal, tapi jika dibandingkan dengan tahun lalu, wah sudah jauh berbeda. Tingkat konsentrasinya perlahan-lahan mulai membaik, untuk hal-hal yang dia sukai, Keenan mulai betah untuk duduk diam dan mengerjakannya selama lebih dari 10 menit.

Latihan-latihan rutin yang diberikan oleh guru kelasnya, membuat Keenan dapat mengenal dan menghafal angka 1-50. Penjumlahan sampai 5 dan sekitar 20 kata dalam huruf Cina. Bagi saya itu merupakan prestasi tersendiri. Keenan juga nampak menikmati bergaul dan bermain bersama teman-teman kelasnya, hafal satu per satu nama temannya di kelas dan dapat mengikuti instruksi dari gurunya.

Satu hal yang membuat saya tenang adalah, sampai hari terakhir sekolah, meskipun seringkali dia bilang nggak mau berangkat sekolah, begitu sampai di kelas dan bertemu teman-temannya, langsung lupa dengan rewelnya dan dengan senang hati menyuruh saya pulang. Berbeda sekali dengan tahun lalu yang seringkali histeris saat tiba di depan sekolah lamanya. Sampai di bulan-bulan terakhir sekolah tahun lalu, Keenan benar-benar nggak mau turun dari mobil dan sembunyi di balik kursi pengemudi supaya saya nggak bisa memaksanya turun. Hiks.

Sedangkan bagi kakak Cinta, tahun 2017 adalah tahun yang penuh dengan pengalaman baru. Dan hal itu berawal dari kesukaannya berbagai aktivitasnya di Year 3. Mulai dari mengikuti ICAS (International Competitions and Assessments for Schools) sejak Year 3, tahun ini kakak Cinta berhasil meraih nilai High Distinction dan mendapat Gold Medal untuk mata pelajaran ICT dan Distinction untuk pelajaran Bahasa Inggris.

Keberaniannya mengikuti lomba menyanyi di Year 3 juga membuat kakak percaya diri mengikuti Co Curricular Activities Choir dan mengantarkannya tampil di acara 79th School Anniversary Performance dan dipercaya mendapatkan bagian menyanyi solo di lagu Greatest Love of All yang dipopulerkan oleh Whitney Houston.

Nggak cuma itu, kakak juga berhasil memperoleh juara ke-2 untuk lomba mewarnai yang diselenggarakan sekolah bekerjasama dengan jaringan resto fastfood Jollibee dalam rangka perayaan Children Day.

Prestasinya ini membuat kakak jadi lebih dikenal oleh para guru, sehingga ia dipilih sebagai salah satu wakil sekolah untuk mengikuti Perarakan Jubli Emas Sultan Brunei Bertahta. Meskipun ternyata kakak dan teman-temannya gagal bertemu langsung dengan Sultan, tapi pengalaman tersebut menjadi kenangan manis bagi Cinta.

Photo Credit: CCMS Primary Seria

Dari segi akademis tidak banyak perubahan tapi ada perbaikan di beberapa mata pelajaran yang berbahasa Melayu. Cinta mulai lebih lancar dan percaya diri berbicara dan menulis dalam Bahasa Melayu dan tulisan Jawi sehingga nilai pelajaran Ugama dan Melayu Islam Beraja (MIB)nya meningkat dari tahun lalu.

Dari segi sosialisasi, Cinta juga mulai membuka diri untuk berteman dengan lebih banyak orang. Dari yang tadinya hanya punya 1 teman baik dari kelas 1, sekarang teman segengnya sudah lebih dari 3 orang. Begitu juga dengan teman di sekolah Ugama dan les mengaji.

Namun, meski banyak hal baik yang dialami oleh Cinta dan Keenan di tahun ajaran 2017, banyak juga hal-hal yang membuat mereka (dan mamanya) patah hati.

Bagi kakak, hal yang terparah adalah ketika dibully oleh teman-teman sekelasnya di Sekolah Ugama. Memang sejak masuk sekolah Ugama 3 tahun yang lalu, kakak nggak punya teman dekat. Dia selalu merasa teman-temannya menganggap dia aneh dan nggak mau berteman dengan dia. Tapi selama ini dia berusaha untuk nggak peduli meskipun beberapa kali mengadu diganggu oleh temannya.

Rupanya tahun ini gangguannya semakin parah, beberapa teman perempuan mulai melakukan gangguan secara fisik dan verbal. Mulai dari menyebut kata-kata yang tidak pantas kepada Cinta, menarik kerudungnya sampai terakhir sebelum sekolah berakhir, hadiah ulang tahun yang dia siapkan untuk temannya dan dia simpan di tas hilang. Cukup sering saya mendapati dia menangis saat saya jemput sekolah Ugama. Namun selalu saya beri semangat dan menguatkan mentalnya. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk bicara dengan guru kelasnya.

Alhamdulillah, cikgu cepat tanggap dan berjanji menegur para pelakunya (and she did) bahkan meminta maaf karena dia nggak tahu bahwa selama ini Cinta diganggu oleh teman-teman sekelasnya. Sejak itu, menurut Cinta, teman-temannya nggak ada yang mengganggu dia. Tapi tetap saja, dia lebih nyaman bersama teman baiknya dari kelas sebelah atau bersama kakak-kakak kelas yang nggak dia kenal saat menunggu saya menjemputnya pulang sekolah.

Dari segi pelajaran, ada penurunan nilai yang cukup signifikan untuk pelajaran Matematika. Biang keladinya adalah kurang konsentrasi dan kurang latihan. Sehingga saat ulangan atau ujian, banyak kesalahan remeh yang dia lakukan. Untuk itu, saya berencana untuk menambah waktu belajarnya tahun depan dan mengaktifkan lagi belajar online menggunakan IXL.

Satu lagi yang benar-benar membuat kakak patah hati adalah tahun ini dia kehilangan tiga teman baiknya sesama orang Indonesia. Mereka baru dekat sekitar setahun belakangan, ketika Cinta bergabung di grup ngaji anak-anak Indonesia. Meski berbeda sekolah, keempat anak ini (dan adik-adik mereka) cepat sekali akrabnya. Setiap selesai mengaji, biasanya mereka akan bermain bersama barang 1-2 jam sebelum pulang. Salah seorang temannya, kembali lebih dulu ke Indonesia pada bulan Mei dan menyusul 2 orang lagi di bulan November ini. Habis sudah sahabat baiknya sesama  orang Indonesia di Brunei ini. Hiks.

Sedangkan bagi Keenan, hal yang kurang menyenangkan adalah ketika harus mengikuti kelas tambahan untuk pelajaran Bahasa Melayu dan Bahasa Inggris. Bersyukurnya kedua guru untuk mata pelajaran tersebut adalah guru-guru favoritnya sehingga dia cukup dapat beradaptasi dengan harus tinggal di sekolah lebih lama saat teman-teman lainnya boleh pulang. Namun, namanya juga anak-anak, ada saatnya dia capek dan akhirnya tantrum saat harus mengikuti kelas tambahan.

Karena harus ikut remedial ini juga, Keenan nggak bisa ikut grup tari untuk pentas 79th School Anniversary sebab waktu latihan bentrok dengan jadwal ekstra classes. Awalnya dia sedih, tapi waktu nonton teman-temannya rehearsal, Keenan ikut semangat dan senang untuk mereka. Sayang dia nggak bisa ikut nonton grup paduan suara kakak dan grup tari teman-temannya tampil di acara 79th School Anniversary Dinner karena sakit dan harus tinggal di rumah.

Yah, begitulah suka duka di tahun ajaran 2017 ini. Tentu masih banyak hal yang nggak saya tuliskan di sini. Tapi ini cukuplah sebagai catatan penting, kenang-kenangan dan bahan evaluasi untuk tahun ajaran berikutnya. Saya bersyukur sekali tahun ini berdampingan dengan guru-guru yang sangat komunikatif dan suportif membimbing anak-anak di sekolah. Semoga dengan berbagai prestasi di tahun ini, kakak Cinta dan Keenan semakin semangat untuk menghadapi tahun ajaran 2018.  

 

Istiadat Perarakan 50 Tahun Sultan Brunei Bertahta

Hari Kamis, 5 Oktober 2017, rakyat Brunei merayakan salah satu hari yang kelak akan tercatat dalam sebuah sejarah negara ini. Di hari itu, raja tercinta rakyat Brunei, Kebawah Duli Yang Mulia Paduka Seri Baginda Sultan Haji Hassanal Bolkiah Mu’izzadi Waddaulah ibni almarhum Sultan Haji Omar ‘Ali Saifuddien Sa’adul Khairi Waddien, genap 50 tahun bertahta sebagai Sultan dan Yang Di-Pertuan Negara Brunei Darussalam.

Tepat pada tanggal 5 Oktober 1967, Sultan Hassanal Bolkiah dinobatkan menjadi Sultan Brunei ke-69 setelah ayahandanya, almarhum Sultan Haji Omar ‘Ali Saifuddien Sa’adul Khairi Waddien turun tahta di tahun yang sama. Selama memimpin negara kecil yang kaya akan kandungan minyaknya ini, Sultan Hassanal Bolkiah sangat dicintai oleh rakyatnya. 

Kecintaan rakyat Brunei kepada pemimpinnya ini nampak dari antusiasme mereka dalam setiap perayaan hari kebangsaan, hari keputeraan (perayaan ulang tahun Sultan) dan terutama hari-hari bersejarah seperti peringatan jubli perak (25 tahun menaiki tahta).

Photo Credit: Borneo Bulletin

Perayaan Jubli Emas kemarin pun menjadi sejarah bagi rakyat Brunei. Diperkirakan hampir 60ribu penduduk Brunei memadati jalan-jalan di Bandar Seri Begawan yang dilewati oleh Usungan Diraja. Saya dan keluarga termasuk salah satu di antaranya.

Awalnya kami nggak terlalu antusias untuk pergi, karena seperti biasa tiap ada perayaan di Bandar pasti jalanan akan ditutup, sehingga macet dan susah cari parkir. Tapi, berhubung kakak Cinta terpilih sebagai salah satu dari 47 siswa di sekolahnya yang ikut sebagai pelambai bendera di Bandar, akhirnya kami memutuskan untuk ikut menyaksikan Istiadat Perarakan Mengelilingi Bandar Seri Begawan.

Photo Credit: CCMS Primary Seria

Dari rumah kami berangkat pukul 5.15 pagi, selepas sholat Subuh. Mengantar kakak ke meeting point dulu untuk naik bus bareng teman-teman sekolahnya ke Bandar. Setelah bus kakak dan rombongan berangkat, jam 6 pagi, saya, suami dan Keenan menyusul. Kami sampai di Bandar jam 7.30 pagi dan sudah banyak orang yang memadati jalan yang akan dilalui perarakan. Sempat keliling cukup lama dan kena macet sampai akhirnya kami dapat tempat parkir di atas trotoar :)) Itupun masih harus jalan kaki cukup jauh ke lokasi perarakan.

Pukul 8.30 kami sudah sampai di Yayasan dan cuaca mulai panas. Kami berusaha untuk jalan ke Istana Nurul Iman. Tapi baru 500 meter, Keenan yang belum sarapan mulai rewel, bekal air minum mulai menipis, saya kebelet pipis dan harus antri 15 menit untuk menggunakan toilet di Masjid Omar Ali Saifuddien. Rasanya sudah pengen pulang aja.

Setelah bertanya sama teman yang sudah menunggu di Bomba BSB, tempat start perarakan, kami memutuskan untuk jalan ke arah sana aja. Nggak jauh dari Yayasan, cuma 1,5 km dan 15 menit jalan kaki. Eh, sebelum sampai di sana alhamdulillah ketemu pedagang makanan dan minuman. Saya sempat berkomentar ke suami, “Ini kalau di Indonesia, trotoar sepanjang jalan ini pasti sudah dipenuhi aneka jualan makanan dan minuman nih. Nggak sampai kepayahan cari-cari seperti ini.” Tapi ada baiknya juga pedagang minuman dan makanan dilokalisasi seperti kemarin, sehingga trotoar benar-benar dimanfaatkan sebagai tempat berjalan dan berdiri. Bahkan akhirnya kami pun memutuskan untuk duduk di trotoar bersama rombongan dari Persatuan Masyarakat Indonesia di Brunei Darussalam (PERMAI) yang berdandan dengan cantiknya memakai baju adat dan sebagian ibu memakai seragam dari kain jumputan sementara bapak-bapak berseragam batik.

brunei darussalam, indonesia family in brunei darussalam, golden jubilee brunei darussalam, hmjubliemas

Setelah menunggu cukup lama. akhirnya perarakan pun dimulai. Orang-orang yang tadinya duduk di pinggir jalan langsung memadati separator jalan agar bisa melihat rombongan Sultan dari dekat. Awalnya saya sempat nggak dapat tempat saking penuhnya orang, nggak bisa juga ikut berdesakan karena saya menggendong Keenan. Sampai seorang bapak yang berdiri di separator memberikan tempatnya untuk saya, sementara beliau turun ke depan. Alhamdulillah dari tempat saya berdiri saya bisa melihat perarakan dan mengambil video dengan cukup jelas. 

Istiadat Perarakan Mengelilingi Bandar Seri Begawan itu dimulai dari Bandar Seri Begawan Fire and Rescue Station. Baginda Sultan dan rombongan tiba di Bomba mengendarai mobil yang disambut oleh sekitar 22ribu pelajar, termasuk Cinta di antaranya, yang melambaikan bendera Brunei di pinggir jalan sepanjang Istana Nurul Iman kediaman keluarga diraja sampai ke Bomba Bandar Seri Begawan. Dari Bomba, Sultan, Raja Isteri, Pengiran Muda Mahkota Pengiran Muda Al-Muhtadee Billah, Pengiran Anak Puteri Hajah Shaleha, Pengiran Muda Abdul Malik, Pengiran Muda Haji Abdul ‘Azim, Pengiran Muda Abdul ‘Mateen dan Pengiran Muda Abdul Wakeel menaiki Usungan Diraja atau Royal Chariot yang sehari-hari disimpan dalam musium Royal Regalia. Anggota keluarga diraja yang lain mengikuti perarakan dengan menggunakan koleksi mobil mewah mereka. Oya, Prince Edward, Earl of Wessex dan istrinya Sophie, Countess of Wessex juga mengikuti perarakan sebagai wakil undangan dari Kerajaan Inggris.

Leading the Royal Procession was the Grand Chamberlain followed by marching bands from the Royal Brunei Armed Forces and Royal Brunei Police Force.

Following closely behind was a special customised vehicle carrying a Changkah (huge two-pronged spear) and guarded by a Pateh and Damong, as well as 40 bearers of Sinipit (decorated spears) and Taming (decorated shields).

Walking ahead of the Royal Chariot were two Panglimas (decorated army officers): the Panglima Raja who carried a Pemuras (a large gun), and the Panglima Asgar who carried a Kalasak (shield) and a Kampilan (dagger). There were also 16 bearers of Pedang (swords) and Perisai (shields) as well as 16 bearers of the Tombok Benderangan (gold-plated spears). Also part of the Royal Procession was the Gendang Arak-Arakan, a vehicle which carried an ensemble of royal musical instruments.

-Borneo Bulletin, Thousands line up in capital to cheer Golden Jubilee Royal Procession, Oct 6, 2017-

Saking senangnya melihat Sultan secara langsung sampai rasanya terharu sekali. Ketika usungan diraja lewat tanpa menunggu rombongan yang lain selesai melintas, saya dan suami ikut berjalan cepat mengejar kereta beliau supaya Keenan bisa melihat usungan lebih dekat. Sepanjang jalan tersebut, saya nyaris menangis dan merinding melihat suka cita rakyat berseru, “Daulat Tuan Patik!” dan melantunkan asma Allah serta salawat mendoakan pemimpinnya. Masya Allah, begitu dicintainya raja satu ini oleh rakyatnya.

Yah, alhamdulillah, saya merasa beruntung sekali bisa menjadi bagian dari sejarah negara Brunei Darussalam. Once in a lifetime moment, karena nggak banyak pemimpin yang bisa memimpin sampai 50 tahun kan. Nggak sia-sia semua pengorbanan yang harus dilalui ‘hanya’ untuk bisa menyaksikan Istiadat Perarakan Mengelilingi Bandar Seri Begawan ini, termasuk kena macet hampir 1 jam untuk bisa keluar dari Bandar dan ngebut sepanjang lebuh raya supaya nggak terlalu telat menjemput kakak di meeting point-nya di Seria. 

Daulat Kebawah Duli Tuan Patik. Kekal Qarar Memerintah Di Atas Takhta.