STOP Pneumonia pada Anak Dimulai dari Keluarga

“Anak saya Zaki usianya 14 bulan. Kelihatannya normal seperti anak lain tapi selama 3 bulan berturut-turut berat badannya nggak naik-naik. Akhirnya dokter menyarankan untuk periksa dan hasilnya Zaki terkena bronkopneumonia. Kaget juga karena kelihatannya sehat dan di rumah nggak ada yang merokok. Kok bisa kena?” kisah Ibu Dzahra Fiskiyah, ibu dari survivor pneumonia.

Meski awalnya bingung, ibu Dzahra berusaha tetap tenang dan menuruti saran dokter untuk membawa Zaki berobat dan memastikan putranya minum obat selama 9 bulan sampai benar-benar sembuh. Ibu Dzahra adalah 1 dari 3 orang orang tua yang mengisahkan pengalaman mereka mendampingi putra-putri batitanya yang terkena pneumonia pada anak di acara Peringatan Hari Pneumonia Dunia 2020, Festival Anak Sehat yang diadakan oleh Yayasan Save The Children pada tanggal 12 November 2020 yang lalu.

pneumonia pada anak

Pneumonia pada Anak, Pembunuh Balita yang Terlupakan

Sudah cukup seram belum sub judulnya? Tapi ini nggak bermaksud menakut-nakuti ya, sekadar mengingatkan fakta bahwa pneumonia pada anak masih menjadi penyebab kematian nomor dua balita di Indonesia menurut Riset Kesehatan Dasar 2013 setelah kelahiran prematur. Dan bertanggungjawab atas 800ribu kematian anak di dunia setiap tahunnya.

“Faktanya pneumonia adalah pembunuh nomor satu di dunia untuk balita. Sedangkan di Indonesia sendiri, pneumonia beserta diare merupakan penyebab utama kematian balita dan anak yang dapat dicegah,” papar Selina Patta Sumbung, CEO Save The Children Indonesia saat berbicara dalam Festival Sehat Anak Indonesia. Yang diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Pneumonia Dunia 2020.

Karena efeknya yang mematikan inilah, WHO mencanangkan Hari Pneumonia Sedunia (World Pneumonia Day) setiap 12 November, agar kita nggak abai akan penyakit ini. Dan selalu waspada akan kemungkinan terjangkitnya penyakit pneumonia pada anak.

Tapi apa sih pneumonia? Yuk kenalan lebih dekat dengan penyakit yang banyak menyerang balita ini.

Menurut Prof. Dr. dr. Soedjatmiko, SpA (K), MSi, pneumonia adalah radang atau infeksi paru-paru yang disebabkan oleh kuman, bisa bakteri, virus atau jamur yang masuk ke hidung, saluran nafas dan paru-paru. Pneumonia ini mengakibatkan kantong udara atau alveoli pada paru-paru yang harusnya berisi udara menjadi berisi cairan atau nanah.

Gejala Pneumonia

Tidak seperti Zaki yang tidak menunjukkan gejala apa-apa, kebanyakan kasus pneumonia pada anak memiliki gejala sebagai berikut:

  • Batuk (berdahak berwarna putih/kekuningan/kehijauan),
  • Pilek,
  • Demam,
  • Kesulitan bernafas baik berupa nafas yang sangat cepat maupun sesak nafas.

Jika tidak ditangani dengan segera, gejala yang mirip selesma atau influenza ini dapat merusak paru dan mengakibatkan fungsi paru-paru terganggu. Akibatnya bayi dan balita kekurangan oksigen sehingga sel-sel tubuh tidak bisa bekerja optimal. Kekurangan oksigen dapat menyebarkan infeksi ke seluruh tubuh dan menyebabkan kematian.

gejala pneumonia

Faktor Penyebab dan Cara Penularan Pneumonia pada Anak

Prof. Dr. dr. Soedjatmiko, SpA (K), MSi menyebutkan bahwa faktor utama pneumonia pada anak adalah kekebalan bayi dan balita yang rendah. Rendahnya imunitas anak ini disebabkan oleh banyak hal, di antaranya:

  • Asap rokok dan asap atau debu di dalam rumah yang dapat merusak saluran nafas.
  • Asupan ASI sedikit atau sebentar.
  • Gizi kurang.
  • Imunisasi tidak lengkap.
  • Berat lahir rendah.
  • Penyakit kronis, HIV, dll
  • Terlambat berobat.

Pneumonia ini termasuk penyakit menular yang menyebar melalui:

  1. Udara.
  2. Percikan batuk dan bersih penderita.
  3. Benda-benda yang terkena percikan batuk dan bersin penderita.

Baca Juga: Cara Meningkatkan Imunitas Tubuh Saat di Rumah Aja

Upaya Save The Children dan Pemerintah Indonesia untuk Mencegah dan Menangani Pneumonia

Sebenarnya, penyakit pneumonia pada anak ini dapat dicegah, tapi perlu perhatian dan usaha yang besar. Terutama untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang pneumonia atau yang sering juga disebut sebagai paru-paru basah. Untuk itu Save The Children Indonesia bekerja sama dengan pemangku kepentingan di Indonesia berusaha mengatasi pneumonia, salah satunya mengadakan kampanye STOP Pnenumonia dengan webinar Peringatan Hari Pneumonia Dunia 2020, Festival Anak Sehat.

Acara yang dipandu oleh dr. Lula Kamal, Msc ini dibuka oleh sambutan dari Ibu Selina Patta Sumbung selaku CEO Yayasan Save The Children. Dan mendukung acara ini, Ibu Hj. Wury Ma’ruf Amin serta Menteri Kesehatan Letjen TNI (Purn) Dr. dr.Terawan Agus Putranto, Sp. Rad. (K) RI dan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak I Gusti Ayu Bintang Darmawati, S.E, M.Si turut pula memberikan pesan mengenai pentingnya pencegahan dan penangangan pneumonia pada anak.

webinar stop pneumonia

Ini menunjukkan komitmen Save The Children Indonesia dengan dukungan pemerintah Indonesia untuk menjalankan strategi kampanye terintegrasi mereka dalam mengatasi pneumonia. Tidak hanya itu, melalui kegiatan tim penggerak PKK di berbagai provinsi yang diwakili oleh TP PKK Jatim, NTB, Sumba Barat dan Jawa Barat, program edukasi pneumonia ini diharapkan dapat menjadi tonggak perubahan perilaku pengasuh yang mendukung anak dapat bertahan hidup, bertumbuhberkembang secara berkwalitas sejak awal kehidupannya.

Cegah Pneumonia Dimulai dari Keluarga

stop pneumonia pada anak

Perubahan perilaku pengasuhan anak memang menjadi faktor penting untuk mencegah pneumonia pada anak. Sebagaimana disampaikan oleh Save The Children, ada 3 aspek penanganan pneumonia, yaitu:

Melindungi (Protect)

Salah satu cara anak dari pneumonia adalah dengan menerapkan praktik pengasuhan baik sejak lahir dengan:

  1. Memberikan ASI Eksklusif sampai anak berusia 6 bulan.
  2. Memberikan MPASI yang tepat dan bergizi lengkap) setelah bayi berusia 6 bulan.
  3. Memberikan vitamin A yang bisa didapatkan di Posyandu 2x setahun.

Pemberian ketiga hal tersebut dapat meningkatkan kekebalan tubuh bayi dan balita yang membuat mereka terhindar dari kuman penyebab pneumonia.

Mencegah (Prevent) dengan:

  1. Imunisasi lengkap.
    Imunisasi yang dapat mencegah pneumonia pada anak adalah: MR, DPT, HiB dan PCV. Imunisasi MR, DPT dan HiB dapat diperoleh secara gratis di puskesmas terdekat. Sedangkan imunisasi PCV atau pneumokokus hanya bisa diperoleh di klinik swasta dan berbayar, kecuali di NTB dan Bangka Belitung yang sudah menyediakan vaksin PCV gratis.

    Di masa pandemi ini, banyak orang tua khawatir jika harus melakukan imunisasi terutama di puskesmas atau rumah sakit. Tapi menurut Prof. Dr. dr. Sudjatmiko, pemberian vaksinasi wajib tidak boleh ditunda karena kita nggak tahu pandemi ini kapan akan berakhir. Penundaan imunisasi akan menurunkan kekebalan anak dan meningkatkan risiko anak terjangkit penyakit tertentu yang bisa dicegah dengan imunisasi.

    Baca Juga: 6 Tips Agar Anak Tidak Takut Disuntik Saat Imunisasi

    Supaya anak dan orangtua aman saat melakukan imunisasi bisa mengikuti tata cara berikut:
    imunisasi saat pandemi
  2. Cuci tangan pakai sabun.
  3. Pastikan sirkulasi udara yang baik dan bebas di dalam rumah.
  4. Tidak mencium bayi dan balita saat kita sedang sakit. Gunakan masker untuk mencegah penularan virus ke anak.
  5. Udara bebas asap rokok.
    Prof. dr. Sudjatmiko dan para tenaga kesehatan yang hadir di acara webinar ini berkali-kali menekankan supaya orang tua berhenti merokok. Mengapa? Pertama, untuk memberikan anak udara di rumah yang bersih bebas asap rokok. Jangan kira tidak merokok dekat anak bisa membuat anak bebas sebagai perokok pasif. Asap dan debu dari rokok yang menempel di baju, kulit dan rambut tetap dapat terhirup oleh anak dan menjadikannya third-hand smoker.

    Kedua, uang yang dikeluarkan untuk membeli 1 bungkus rokok bisa digunakan untuk membeli ayam, ikan, telur, hati ayam atau bahan makanan bergizi lain untuk dikonsumsi keluarga terutama anak. Sehingga bisa meningkatkan kekebalan tubuh dan membuat anak tumbuh dengan baik.

    “Bapaknya merokok 1 batang sehari aja, nggak usah dibakar ya!” Prof. Dr. dr. Soedjatmiko, SpA (K), MSi

Mengobati (Treat)

Segera bawa anak sakit ke Puskesmas atau rumah sakit atau dokter terdekat. Terutama jika anak mengalami gejala seperti demam, batuk, pilek dan kesulitan bernafas. Serta beri makanan bergizi untuk mempercepat pemulihannya serta ikuti anjuran dokter dalam pengobatan pneumonia pada anak.

Ketiga hal tersebut di atas adalah tanggung jawab kita sebagai orang tua untuk memenuhi salah satu hak anak yang tercakup dalam Konvensi PBB untuk Hak-Hak Anak pasal 24 versi , yaitu:

Tiap anak berhak mendapatkan standar kesehatan dan perawatan medis yang terbaik, air bersih, makanan bergizi, dan lingkungan tinggal yang bersih dan aman. Semua orang dewasa dan anak-anak perlu punya akses pada informasi kesehatan.

Dengan adanya edukasi atau penyadartahuan tentang pneumonia pada anak ke seluruh lapisan masyarakat, diharapkan keluarga dapat berperan aktif dalam pencegahan dan penanganan pneumonia. Termasuk kita. Sudah siap?

Sumber:
1. Webinar STOP Pneumonia, Peringatan Hari Pneumonia Dunia 2020, Festival Anak Sehat, 12 November 2020
2. https://www.unicef.org/indonesia/id/konvensi-hak-anak-versi-anak-anak

Posts created 363

Satu tanggapan pada “STOP Pneumonia pada Anak Dimulai dari Keluarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Pos Terkait

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.

kembali ke Atas